0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
395 tayangan115 halaman

Pola Makan dan Asuh Pengaruhi Stunting

Dokumen tersebut membahas tentang hubungan pola makan dan pola asuh dengan kejadian stunting di Kabupaten Gorontalo. Stunting merupakan masalah gizi yang disebabkan oleh asupan zat gizi dan infeksi yang kurang. Prevalensi stunting di Kabupaten Gorontalo masih tinggi dan salah satu lokasi prioritasnya adalah Kecamatan Limboto Barat. Faktor penyebab stunting antara lain pola makan dan asupan zat gizi yang kurang

Diunggah oleh

reynaldi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
395 tayangan115 halaman

Pola Makan dan Asuh Pengaruhi Stunting

Dokumen tersebut membahas tentang hubungan pola makan dan pola asuh dengan kejadian stunting di Kabupaten Gorontalo. Stunting merupakan masalah gizi yang disebabkan oleh asupan zat gizi dan infeksi yang kurang. Prevalensi stunting di Kabupaten Gorontalo masih tinggi dan salah satu lokasi prioritasnya adalah Kecamatan Limboto Barat. Faktor penyebab stunting antara lain pola makan dan asupan zat gizi yang kurang

Diunggah oleh

reynaldi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

SKRIPSI

HUBUNGAN POLA MAKAN DAN POLA ASUH


DENGAN KEJADIAN STUNTING DI DAERAH LOKUS
KABUPATEN GORONTALO
TAHUN 2019

INDRIYAWATI KAABA

502160001

PROGRAM STUDI GIZI

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

UNIVERSITAS GORONTALO

TAHUN 2020

1
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kejadian balita pendek atau biasa disebut dengan Stunting merupakan

gangguan pertumbuhan linier yang disebabkan oleh adanya malnutrisi asupan zat

gizi maupun penyakit infeksi yang bersifat kronis. Kejadian tersebut terjadi secara

berulang ditunjukkan dengan nilai Z-Score tinggi badan dibanding usia (TB/U)

kurang dari standar yang telah ditentukan World Health Organization (WHO)

yaitu sebesar -3 SD (WHO 2020).

Stunting juga merupakan bentuk refleksi jangka panjang dari kualitas dan

kuantitas makanan yang dikonsumsi tidak memadai dan sering menderita penyakit

infeksi pada masa kanak-kanak. Masalah stunting menjadi masalah gizi yang

perlu mendapatkan perhatian karena dapat mempengaruhi kualitas sumber daya

manusia (Rahman, Farah Danita., 2018).

Tahun 2017 22,2% atau sekitar 150,8 juta balita di dunia mengalami

stunting. Namun angka ini sudah mengalami penurunan jika dibandingkan dengan

angka stunting pada tahun 2000 yaitu 32,6%. Pada tahun 2017, lebih dari setengah

balita stunting di dunia berasal dari Asia (55%) sedangkan lebih dari sepertiganya

(39%) tinggal di Afrika. Dari 83,6 juta balita stunting di Asia, proporsi terbanyak

berasal dari Asia Selatan (58,7%) dan proporsi paling sedikit di Asia Tengah

(0,9%) (WHO, 2018).

2
Data prevalensi balita stunting yang dikumpulkan World Health

Organization (WHO), Indonesia termasuk ke dalam negara ketiga dengan

prevalensi tertinggi di regional Asia Tenggara/South-East Asia Regional (SEAR).

Rata-rata prevalensi balita stunting di Indonesia tahun 2005-2017 adalah 36,4%

(WHO, 2018).

Riset Kesehatan Dasar Prevalensi balita pendek mengalami peningkatan

dari tahun 2016 yaitu 27,5% menjadi 29,6% pada tahun 2017 (Riskesdas, 2017).

Penderita stunting di Provinsi Gorontalo mencapai32%(Riskesdas, 2018).

Provinsi Gorontalo terdiri 6 kabupaten dengan presentase stunting yang berbeda

untuk Presentase balita stunting pada tahun 2016 di Kabupaten Gorontalo untuk

umur 0-59 bulan sebesar 37,6 % dan presentase ini pada 2017 menurun menjadi

32,3%. Presentase stunting umur 0-59 bulan di Kota Gorontalo tahun 2016

sebesar 36,9% dan menurun menjadi 36,1% pada tahun 2017. Presentase stunting

umur 0-59 bulan di Kabupaten Gorontalo Utara tahun 2016 sebesar 36,9 % dan

menurun menjadi 27,4% pada tahun 2017.

Presentase stunting umur 0-59 bulan pada tahun 2016 di Kabupaten

Boalemo sebesar 32,8% dan menurun menjadi 32,5% pada tahun 2017. Balita

stunting umur 0-59 bulan di kabupaten Bone Bolango pada tahun 2016 sebesar

34,7% dan pada tahun 2017 menjadi 25,5%. Presentase balita stunting umur 0-59

bulan di Kabupaten Pohuwato pada tahun 2017 sebesar 35,8% dan pada tahun

2017 menurun menjadi 32,9 % (Dikes Provinsi Gorontalo, 2018).

3
Data tersebut mendorong pemerintah Provinsi menetapkan lokasi prioritas

atau lokasi khusus stunting berdasarkan data tertinggi stunting. Lokasi khusus

adalah wilayah yang memeiliki jumlah stunting tertinggi yang menjadi pusat

perhatian pemeritah Dengan jumlah stunting yang paling tinggi untuk kabupaten

Gorontalo sendiri, terdapat beberapa titik prioritas. Kabupaten Gorontalo terdiri

dari 19 kecamatan, dari 19 kecamatan tersebut adapun lokasi khusus yaitu

Batudaa Pantai dengan jumlah 88 balita atau sekitar 11,4 % yang mengalami

stunting, Telaga Jaya jumlah balita stunting 87 balita atau 10,1 yang mengalami

stunting, dan untuk urutan ketiga kecamatan yang mencadi Lokasi khusus

stunting berada di kecamtan Limboto Barat dengan jumlah balita stunting ada 69

balita atau 5,5% yang mengalami stunting (Dikes Provinsi Gorontalo,

2018).dalam penelitian ini peneliti mengambil salah satu wilayah lokus yang ada

di kabupaten Gorontalo yaitu wilayah Kerja Puskesmas Limboto Barat dengan

Jumlah populasi yang terdapat di wilayah tersebut berjumlah 1542 (Dikes

Kabupaten Gorontalo 2019).

Persoalan stunting yang merupakan masalah gizi kronik salah satunya

disebabkan langsung oleh asupan nutrisi yang kurang memadai. Asupan nutrisi

ditentukan oleh pola pemberian makanan, bahan makanan tersedia cukup, bila

pola pemberian makan kurang baik maka asupan zat gizi yang diterima akan

kurang Pola pemberian makan kepada balita merupakan suatu upaya dan cara ibu

atau keluarga memberikan makan pada balita dengan tujuan untuk memenuhi

4
kebutuhan makanan yang baik kualitas maupun kuntitasnya (Rachmawati, Sutrani

Djuwita Hatma, 2018).

Permasalahan gizi, khususnya anak stunting merupakan indikator dari

status ekonomi rendah serta indikator dari kurang gizi kronis yang terjadi dalam

jangka waktu yang lama sehingga stunting pada anak balita khususnya pada usia 2

– 5 tahun akan terlihat dengan jelas dan merupakan salah satu indikator status gizi

kronis yang dapat memberikan gambaran gangguan secara keseluruhan di masa

lampau, Dalam penelitian Widaningsi at al 2018 menyatakan bahwa terdapat

hubungan antara panjang badan lahir, pola asuh makan dan keragaman pangan

dengan kejadian stunting pada balita usia 24-59 bulan di Kecamatan Bayat. Faktor

resiko kejadian stunting yang paling dominan adalah keragaman pangan. Balita

yang mempunyai asupan pangan yang tidak beragam memiliki 3,213 kali untuk

mengalami stunting jika dibandingkan dengan balita yang mempunyai asupan

pangan yang beragam. Berdasarkan kondisi tersebut maka sejak bayi perlu

dikenalkan dengan berbagai macam macam sayur dan buah, sehingga ketika

dewasa anak tidak akan melakukan penolakan terhadap makanan tersebut

(Widyaningsih et al., 2018).

Faktor penyebab langsung terjadinya stunting adalah penyakit infeksi dan

tingkat asupan zat gizi. Kuantitas dan kualitas zat gizi yang terasup di dalam

makanan akan sangat menentukan pertumbuhan dan perkembangan balita oleh

karena itu makanan harus dapat memenuhi kebutuhan gizi balita (Widyaningsih et

al., 2018)

5
Secara umum terdapat 6 zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh yaitu

karbohidrat, lemak, protein, vitamin, mineral seperti diantaranya zat besi (Fe) dan

seng (Zn). Karbohidrat dalam tubuh manusia bermanfaat sebagai sumber energi

utama yang diperlukan untuk beraktivitas, karbohidrat yang berlebihan dalam

tubuh akan disimpan dalam bentuk lemak sebagai cadangan sumber energi.

Lemak dalam tubuh bermanfaat sebagai sumber energi dan melarutkan vitamin

sehingga dapat mudah diserap oleh usus. Protein merupakan zat yang membantu

untuk membangun sel tubuh sehingga sangat penting bagi balita yang berada

dalam tahap pertumbuhan dan perkembangan. Selain itu protein berfungsi sebagai

pengganti sel tubuh yang rusak. Mineral dan vitamin merupakan zat gizi yang

diperlukan dalam proses pertumbuhan dan perkembangan balita. Hal tersebut

menunjukkan pentingnya asupan nutrisi yang adekuat, berdasarkan penelitian

sebelumnya menyatakan bahwa semakin rendah konsumsi zat gizi pada balita,

maka semakin berisiko mengalami stunting. Dalam penelitian (Azmy et al 2018)

menyatakan Terdapat hubungan asupan energi, protein, lemak, karbohidrat, dan

seng pada balita dengan status gizi (TB/U), sehingga dibutuhkan asupan zat gizi

yang adekuat selama masa balita (Nursalam, 2013).

Keragaman pangan merupakan salah satu masalah gizi utama di negara-

negara berkembang seperti Indonesia. Pada Negara berkembang mayoritas asupan

makanannya didominasi oleh makanan sumber kalori dan kurangnya asupan

makanan hewani, buah-buahan, sayur-sayuran. Beberapa penelitian telah

melaporkan bahwa keragaman pangan yang rendah berhubungan dengan

6
peningkatan resiko stunting dan masalah gizi lainya seperti overweight,

dislipidemia, sindrom [Link] jangka panjang kejadian stunting pada

balita akan berdampak pada penurunan fungsi kognitif, gangguan memori,

prestasi sekolah yang buruk yang ketika dewasa akan menurunkan pendapatan

dan produktivitas [Link] penelitian yang dilakukan dilakukan di Kenya dan

Nigeria menyatakan bahwa keragaman pangan balita yang diukur dengan

menggunakan IDDS (Individual Dietary Diversity Score) dapat digunakan

sebagai prediktor kejadian stunting pada balita (Widyaningsih et al., 2018).

Faktor lainnya adalah pengetahuan ibu yang kurang, pola asuh yang salah

pada saat praktek pemberian asi ekslusif, sanitasi dan hygiene yang buruk dan

rendahnya pelayanan kesehatan. Selaian itu status ASI eksklusif menjadi salah

satu faktor yang dapat mempengaruhi prevalensi stunting karena nutrisi yang

terkandung dalam ASI merupakan salah satu faktor penting yang menentukan

masa tumbuh kembang anak. Penyebab masalah stunting salah satunya juga

akibat dari penundaan Inisiasi Menyusui Dini (IMD), dan pemberian air susu ibu

(ASI) tidak eksklusif (Suratman, 2017).

Meskipun ASI eksklusif sangat kuat dihubungkan dengan penurunan

resiko stunting, hal tersebut belum sepenuhnya dapat merubah persepsi

masyarakat terkait pentingnya pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan pertama

kehidupan (Ulul Azmy et al, 2018).

Salah satu Kebijakan dari pemerintah untik menanggulangi kejadian

stunting maka pemerintah dan staf terkait lainnya mencanangkan program

7
intervensi pencegahan stunting terintegrasi yang melibatkan lintas kementerian

dan lembaga. Pada tahun 2018, ditetapkan 100 kabupaten di 34 provinsi sebagai

lokasi prioritas penurunan stunting. Jumlah ini akan bertambah sebanyak 60

kabupaten pada tahun berikutnya. Dengan adanya kerjasama lintas sektor ini

diharapkan dapat menekan angka stunting di Indonesia sehingga dapat tercapai

target Sustainable Development Goals (SDGs) pada tahun 2025 yaitu penurunan

angka stunting hingga 40% (Riskesdas, 2017).

Berdasarkan data observassi awal diatas mendorong peneliti untuk melihat

Ada atau tidaknya hubungan pola makan dan pola asuh dengan kejadian stunting

di daerah lokus kabupaten Gorontalo.

B. Rumusan masalah

Berdasarkan latar belakang dan kajian masalah yang telah diuraikan

sebelumnya, maka peneliti ingin menganalisis bagaimana Hubungan Pola makan

dan Pola Asuh Terhadap Kejadian Stunting di kabupaten Gorontalo?

C. Tujuan

1. Tujuan Umum

Menganalisis hubungan pola makan dan pola asuh terhadap kejadian

stunting di wilayah lokus kabupaten Gorontalo

2. Tujuan Khusus

[Link] Hubungan Frekuensi pemberian makanan terhadap kejadian

stunting di daerah lokus kabupaten Gorontalo

8
b. Menganlisis Hubungan Keanekaragaman Makanan terhadap kejadian

stunting di daerah lokus kabupaten Gorontalo

[Link] Hubungan Asupan Energi terhadap kejadian stunting di daerah

lokus kabupaten Gorontalo

d. Menganalisis hubungan Asupan Karbohidrat terhadap kejadian

stunting di daerah lokus kabupaten Gorontalo

[Link] Hubungan Asupan Protein terhadap kejadian stunting di daerah

lokus kabupaten Gorontalo

f. Menganalisis Hubungan Asupan Lemak terhadap kejadian stunting di daerah

lokus kabupaten Gorontalo

g. Menganalisis Hubungan Asupan Zink Terhadap stunting di daerah

lokus kabupaten Gorontalo

h. Menganalisis Hubungan Asupan Kalsium Terhadap stunting di daerah

lokus kabupaten Gorontalo

i. Menganalisis hubungan Pemberian Asi Ekslusif terhadap kejadian stunting di

daerah lokus kabupaten Gorontalo

3. Manfaat Penelitian

[Link] instasi terkait

Hasil penelitian diharapkan dapat memeberikan informasi tentang

Hubungan pola makan dan Pola Asuh (riwayat premberian asi ekslusif)

dengan kejadian stunting pada balita yang ada di wilayah lokus Kab Gorontalo

dan sebagai bacaan bagi peneliti lainnya.

9
b. Bagi masyarakat

Hasil penelitian diharapkan dapat digunakan sebagai sumber informasi

pentingnya pola makan yang baik dan Pemberian Asi Ekslusif yang tepat

sehingga tercapai kualitas lebih baik.

c. Bagi peneliti

Hasil penelitian ini Dapat menambah wawasandan pengalaman serta

pemahaman peneliti tentang Pengaruh Pemebrian Makanan Tambahan

Berbasis Pangan Lokal Terhadap Stunting Di Daerah Lokus Kabupaten

Gorontalo.

10
BAB II
KAJIAN PUSTAKA KARANGKA KONSEP DAN HIPOTESIS

A. Kajian Pustaka

1. Tinjauan umum Stunting

a. Pengertian Stunting

Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita (bayi di

bawah lima tahun) akibat dari kekurangan gizi kronis sehingga anak

terlalu pendek untuk usianya. Kekurangan gizi terjadi sejak bayi dalam

kandungan dan pada masa awal setelah bayi lahir akan tetapi, kondisi

stunting baru nampak setelah bayi berusia 2 tahun. Balita pendek (stunted)

dan sangat pendek (severely stunted) adalah balita dengan panjang badan

(PB/U) atau tinggi badan (TB/U) menurut umurnya dibandingkan dengan

standar baku WHO-MGRS (Nadhiroh, et al 2015)

Definisi stunting menurut Kementerian Kesehatan (Kemenkes)

stunting adalah balita stunted apabila nilai z-scorenya kurang dari -3SD

(standar deviasi) dan severely stunted apabila – 3SD sampai dengan <-2

SD (Standar Deviasi). Stunting terutama disebabkan kekurangan gizi dan

gangguan kesehatan jangka panjang sebelum lahir, dan/atau setelah lahir.

Pengaruh faktor genetik dalam kejadian stunting hanya berperan sekitar

11
20-30%. Anak perlu makanan dan gizi yang tepat untuk mencapai potensi

seutuhnya (Kemenkes RI, 2018).

Stunting disebabkan oleh faktor multidimensi dan tidak hanya

disebabkan oleh faktor gizi buruk yang dialami oleh ibu hamil maupun

anak balita. Intervensi yang paling menentukan untuk dapat mengurangi

pervalensi stunting oleh karenanya perlu dilakukan pada 1.000 Hari

Pertama Kehidupan (HPK) dari anak balita. Beberapa faktor yang menjadi

penyebab stunting (Kemenkes RI, 2018) adalah sebagai berikut :

1) Praktek pengasuhan yang kurang baik.

2) Masih terbatasnya layanan kesehatan termasuk layanan ANC-Ante

Natal Care(pelayanan kesehatan untuk ibu selama masa kehamilan)

Post Natal Care dan pembelajaran dini yang berkualitas

3) Masih kurangnya akses rumah tangga/keluarga ke makanan bergizi.

4) Kurangnya akses ke air bersih dan sanitasi.

Tabel 2.1 Klasifikasi Status Gizi berdasarkan PB/U atau TB/U


Anak Umur 0-60 Bulan

Indeks Status Gizi Ambang batas


Panjang badan Sangat pendek <-3 SD
menurut umur Pendek -3 SD sampai
(PB/U) atau Tinggi dengan <-2 SD
badan menurut umur Normal -2 SD sampai
(TB/U) Anak umur dengan +3 SD
0-6
Tinggi >+ 3 SD
Sumber : Standar Antropometri Penilaian Status Gizi Anak Tahun 2020

Dengan Rumus :

12
Z-score = Nilai Individu Subyek – Nilai Baku Rujukan
Nilai Simpng Baku Rujukan

b. Patofisiologi Stunting

Masalah gizi merupakan masalah multidimensi, dipengaruhi oleh

berbagai faktor penyebab. Masalah gizi berkaitan erat dengan masalah

pangan. Masalah gizi pada anak balita tidak mudah dikenali oleh pemerintah,

atau masyarakat bahkan keluarga karena anak tidak tampak sakit. Terjadinya

kurang gizi tidak selalu didahului oleh terjadinya bencana kurang pangan dan

kelaparan seperti kurang gizi pada dewasa. Hal ini berarti dalam kondisi

pangan melimpah masih mungkin terjadi kasus kurang gizi pada anak balita.

Kurang gizi pada anak balita bulan sering disebut sebagai kelaparan

tersembunyi atau hidden [Link] merupakan retradasi pertumbuhan

linier dengan deficit dalam panjang atau tinggi badan sebesar -2 Z-score atau

lebih menurut buku rujukan pertumbuhan World Health

Organization/NationalCenter for Health Statistics(Larasati, 2017).

Stunting disebabkan oleh kumulasi episode stress yang sudah

berlangsung lama (misalnya infeksi dan asupan makanan yang buruk), yang

kemudian tidak terimbangi oleh catch up growth (kejar tumbuh). Dampak

dari kekurangan gizi pada awal kehidupan anak akan berlanjut dalam setiap

siklus hidup manusia. Wanita usia subur (WUS) dan ibu hamil yang

mengalami kekurangan energikronis (KEK) akan melahirkan bayi dengan

berat badan lahir rendah (BBLR). BBLR iniakan berlanjut menjadi balita gizi

13
kurang (stunting) dan berlanjut ke usia anak sekolah dengan berbagai

konsekuensinya. Kelompok ini akan menjadi generasi yang kehilangan masa

emas tumbuh kembangnya dari tanpa penanggulangan yang memadai

kelompok ini dikuatirkan lost [Link] gizi pada hidup

manusia perlu diwaspadai dengan seksama, selain dampak terhadap tumbuh

kembang anak kejadian ini biasanya tidak berdiri sendiri tetapi diikuti

masalah defisiensi zat gizi mikro(Larasati, 2017).

Dampak yang akan ditimbulkan dari stunting dalam jangka

panjang(Larasati, 2017)yaitu:

1) Adanya stunting menunjukkan telah terjadi gangguan jumlah, kualitas

dan kerusakan sel, jaringan dan organ tubuh (gangguan tumbuh

kembang).

2) Sebagian gangguan jumlah, kualitas dan kerusakan sel, jaringan atau

organ yang tidak bisa atau sulit diperbaiki.

3) Berisiko kegemukan dan penimbunan lemak tengah tubuh di kala

dewasa

c. Tanda Klinis stunting

1) Anak berbadan lebih pendek untuk anak seusianya

2) Proporsi tubuh cenderung normal tetapi anak tampak

3) Muda /kecil untuk usianya.

4) Berat badan rendah untuk anak seusianya dan pertumbuhan

5) Tulang tertunda.

14
6) Pertumbuhan gigi yang lambat

7) Pertumbuhan tulang yang terlambat

d. Dampak stunting

Laporan UNICEF tahun 2010, beberapa fakta terkait stunting

danpengaruhnya(Derviş, 2013) adalah sebagai berikut :

1) Anak yang mengalami stunting lebih awal yaitu sebelum usia enam

bulan, akan mengalami stunting lebih berat menjelang usia dua tahun.

Stunting yang parah pada anak, akan terjadi defisit jangka panjang

dalam perkembangan fisik dan mental sehingga tidak mampu untuk

belajar secara optimal di sekolah dibandingkan anak dengan tinggi

badan normal. Anak dengan stunting cenderung lebih lama masuk

sekolah dan lebih sering absen dari sekolah dibandingkan anak dengan

status gizi baik. Hal ini memberikan konsekuensi terhadap kesuksesan

dalam kehidupannya dimasa yang akan datang. Stunting akan sangat

mempengaruhi kesehatan dan perkembangan anak. Faktor dasar yang

menyebabkan stunting dapat menganggu pertumbuhan dan

perkembangan intelektual.

2) Pengaruh gizi pada usia dini yang mengalami stunting dapat

menganggupertumbuhan dan perkembangan kognitif yang kurang.

stunting pada usialima tahun cenderung menetap sepanjang hidup,

kegagalan pertumbuhan usia dini berlanjut pada masa remaja dan

kemudian tumbuh menjadi wanita dewasa yang stunting dan

15
mempengaruhi secara langsung pada kesehatandan produktivitas,

sehingga meningkatkan peluang melahirkan BBLR.

3) Stunting terutama berbahaya pada perempuan,karena lebih cenderung

menghambat dalam proses pertumbuhan dan berisiko lebih besar

meninggal saat melahirkan. Akibat lainnya kekurangan gizi/stunting

terhadap perkembangan sangat merugikan performanceanak. Jika

kondisi buruk terjadi pada masa golden period perkembangan otak (0-

2 tahun) maka tidak dapat berkembang dan kondisi ini sulit untuk

dapat pulih kembali. Hal ini disebabkan karena 80-90% jumlah sel

otak terbentuk semenjak masa dalam kandungan sampai usia 2 (dua)

tahun. Apabila gangguan tersebut terus berlangsung maka akan terjadi

penurunan skor tes IQ sebesar 10-13 point. Penurunan perkembangan

kognitif, gangguan pemusatan perhatian dan manghambat prestasi

belajar serta produktifitas menurun sebesar 20-30%, yang akan

mengakibatkan terjadinya loss generation, artinya anak tersebut hidup

tetapi tidak bisa berbuat banyak baik dalam bidang pendidikan,

ekonomi dan lainnya.

e. Pencegahan stunting

WHO dalam upaya pencegahan pada stunting dapat dimulai sejak

remaja. Remaja putri dapat mulai diberikan pengetahuan dan pemahaman

mengenai pentingnya pemenuhan nutrisi saat remaja. Pemenuhan nutrisi

saat remaja dapat mencegah terjadinya gizi yang kurang saat masa

16
kehamilan. Nutrisi yang adekuat saat kehamilan dapat mencegah

terjadinya pertumbuhan yang terhambat pada janin yang [Link]

itu, pencegahan stuntingjuga difokuskan pada 1.000 Hari Pertama

Kehidupan (HPK), yaitu pada Ibu Hamil, Ibu Menyusui, Anak 0-23 bulan.

Periode 1.000 HPK merupakan periode yang efektif dalam mencegah

terjadinya stuntingkarena merupakan periode yang menentukan kualitas

kehidupan. Pada 1.000 HPK anak akan mengalami masa “Periode Emas”

dimana pertumbuhan anak akan berlangsung cepat,selaian Meningkatkan

praktek menyusui juga merupakan salah satu tindakan untuk mencegah

terjadinya stunting (Larasati, 2017).

2. Tinjauan tentang Pola Makan

a. Pengertian Pola Makan

Pola makanan adalah susunan makanan yang merupakan suatu

kebiasaan yang dimakan seseorang mencakup jenis dan jumlah bahan

makanan rata-rata per orang per hari yang umum dikonsumsi /dimakan

penduduk dalam jangka waktu tertentu (Nursalam, 2013).

Permasalahan stunting ditentukan oleh faktor yang

mempengaruhinya. Faktor tersebut pada setiap daerah bisa berbeda satu

sama lain. UNICEF (1998) mengemukakan bahwa pertumbuhan

dipengaruhi oleh penyebab langsung dan tidak langsung. Penyebab

langsung diantaranya adalah asupan makanan (konsumsi zat gizi makro

dan mikro) dan keadaan kesehatan (penyakit infeksi), sedangkan penyebab

17
tidak langsung meliputi ketahanan pangan rumah tangga, pola asuh anak,

sanitasi lingkungan dan pemanfaatan pelayanan kesehatan. Faktor tersebut

ditentukan oleh sumber daya manusia, ekonomi dan organisasi melalui

faktor pendidikan. Penyebab paling dasar dari tumbuh kembang

bersumber dari masalah struktur politik, ideologi, dan sosial ekonomi yang

dilandasi oleh potensi sumber daya yang ada (Aidina et al., 2010).

Pola makan balita secara umum hampir sama dengan pola makan

keluarga. Hanya saja pola makan yang baik untuk anak yaitu dengan

memperhatikan kebutuhan gizi anak dan sesuai dengan jadwal usianya.

Pada usia balita (1-5 tahun), sudah dapat dikenalkan dengan makanan

rumah atau makanan keluarga dengan variasi makanan yang lebih

beragam dengan mengolah makanan yang memenuhi standar gizi

seimbang dengan pilihan menu yang bervariasi sehingga anak tidak cepat

bosan (Aidina et al., 2010).

Usia balita merupakan periode pertumbuhan dan perkembangan

yang sangat pesat. Oleh karena itu, kelompok usia balita perlu mendapat

perhatian, karena merupakan kelompok yang rawan terhadap kekurangan

gizi. Untuk mengatasi kekurangan gizi yang terjadi pada kelompok usia

balita perlu diselenggarakan Pemberian Makanan Tambahan (PMT)

Pemulihan. PMT Pemulihan bagi anak usia 6-59 bulan dimaksudkan

sebagai tambahan, bukan sebagai pengganti makanan utama sehari-hari.

PMT Pemulihan dimaksud berbasis bahan makanan lokal dengan menu

18
khas daerah yang disesuaikan dengan kondisi setempat. Mulai tahun 2011

Kementerian Kesehatan RI menyediakan anggaran untuk kegiatan PMT

Penyuluhan dan PMT Pemulihan melalui dana Bantuan Operasional

Kesehatan (BOK). Dengan adanya dana BOK di setiap puskesmas,

kegiatan PMT Pemulihan bagi anak balita usia 6 – 59 bulan diharapkan

dapat didukung oleh pimpinan puskesmas dan jajarannya. Untuk

memperoleh pemahaman yang sama dalam melaksanakan kegiatan

dimaksud, maka disusun Panduan Penyelenggaraan PMT Pemulihan bagi

Balita Gizi Kurang dan yang mengalami masalah gizi lainnya (Purwani,

2013).

Usia balita merupakan usia pra sekolah dimana seorang anak akan

mengalami tumbuh kembang dan aktivitas yang sangat pesat dibandingkan

dengan ketika masih bayi, kebutuhan zat gizi akan meningkat. Sementara

pemberian makanan juga akan lebih sering. Pada usia ini, anak sudah

mempunyai sifat konsumen aktif, yaitu mereka sudah bisa memilih

makanan yang disukainya. Seorang ibu yang telah menanamkan kebiasaan

makan dengan gizi yang baik pada usia dini tentunya sangat mudah

mengarahkan makanan anak, karena dia telah mengenal makanan yang

baik pada usia sebelumnya. Oleh karena itu, pola pemberian makanan

sangat penting diperhatikan. Secara umum faktor yang mempengaruhi

terbentuknya pola makan adalah faktor ekonomi, sosial budaya, agama,

pendidikan, dan lingkungan.

19
Pola makan yang baik perlu dibentuk sebagai upaya untuk

memenuhi kebutuhan gizi dan pola makan yang tidak sesuai akan

menyebabkan asupan gizi berlebih atau sebaliknya kekurangan. Asupan

berlebih menyebabkan kelebihan berat badan dan penyakit lain yang

disebabkan oleh kelebihan gizi. Sebalinknya asupan yang kurang dari

yang dibutuhkan akan menyebabkan tubuh menjadi kurus dan rentan

terhadap penyakit. Sehingga pola makan yang baik juga perlu

dikembangkan untuk menghindari interaksi negatif dari zat gizi yang

masuk dalam tubuh. Interaksi dapat terjadi antara suatu zat gizi dengan

yang lain, atau dengan zat non gizi. Masing-masing interaksi dapat

bersifatpositif (sinergis), negatif (antogenesis), dan kombinasi di antara

keduanya. Interaksi disebut positif jika membawa keuntungan, sebaliknya

disebut negatif jika merugikan. Interaksi antara zat gizi dapat

meningkatkan penyerapan, atau sebaliknya menggangu penyerapan zat

gizi lain (Purwani, 2013).

Asupan zat-zat gizi yang lengkap masih terus dibutuhkan anak

selama proses tumbuh kembang masih berlanjut karena proses tumbuh

kembang ini dipengaruhi oleh makanan yang diberikan pada anak.

Makanan yang diberikan harus tepat baik jenis dan jumlahnya hingga

kandungan gizinya. Zat gizi yang dibutuhkan anak ditentukan oleh usia,

jenis kelamin, aktivitas, berat badan, dan tinggi badan. Tubuh anak tetap

membutuhkan semua zat gizi utama yaitu karbohidrat, lemak, protein,

20
serat, vitamin dan mineral (Marimbi, 2010 dalam penelitian Setiamy &

Deliani, 2019) adapun asupan makanan yang akan di teliti yaitu zat gizi

makro yaitu asupan energy,asupan protein dan asupan lemak, serta zat

gizi mikro yaitu asupan Zink dan asupan Kalsium.

21
1) Energi

Manusia membutuhkan energi untuk mempertahankan hidup,

menunjang pertumbuhan dan melakukan aktivitas [Link]

diperoleh dari karbohidrat, lemak, dan protein yang ada di dalam

bahan [Link] karbohidrat, lemak, dan protein suatu

bahan makanan menentukan nilai energinya (Almatsier, 2009).

Adapun angka kecukupan energi yang ianjurkan untuk balita usia 12-

59 bulan yakni sebanyak 1125 kkal (Permenkes RI 2013 dalam buku

Penuntun Diet Anak) dan berdasarkan AKG 2019 adapuan Angka

Kecukupan Energi yang harus di peroleh Balita umur1-3 tahun yaitu

1350 dan balita umur 4-6 tahun yaitu 1400 yang harus dipenuhi balita

setiap hari melalui konsumsi aneka ragam makanan yang mengandung

zat gizi baik zat gizi mikro maupun zat gizi makro.(AKG, 2019) Untuk

dapat memberikan Asupan energi bagi tubuh. Penelitian ini sejalan

dengan penelitian sebelumnya yaitu Anak yang asupan energi,

protein,vitamin B2, vitaminB6, Fe dan Zink kurang memiliki risiko

menjadistunting.(Hidayati, et al, 2017)

22
2) Asupan Protein

Sebagai sumber energi, protein menyediakan 4 kkal energi per

1 gram protein, sama dengan karbohidrat. Protein terdiri atas asam

amino esensial dan non-esensial, yang memiliki fungsi berbeda-

bedaHampir setengahnyadi dalam otot,seperlimanya di dalam tulang

dan kartilago,sepersepuluhnya ddalam kulit dan sisanya pada jatingan-

jaringan lain serta cairan tubuh. Asam nukleat di dalam sel,yang

bertanggung jawab terhadap transmisi genetic dalam reproduksi

sel,sering terdpat dalam bentukberkmbinasi dengan protein, yaitu

nucleoprotein. Protein menandung zat gizi yang sangat penting bagi

tubuh karena selain sebagai sumber energy,protein berfungsi sebagai

zat pembangun tubuh dan zat pengatur di dalam tubuh seperti

membentuk jaringan baru pada proses pertmbuhan anak dan

memebenuk janin pada masa kehamilan seorang ibu.

3)    AsupanKarbohidrat

Peran utama karbohidrat di dalam tubuh adalah menyediakan

glukosa bagi sel-sel tubuh. Setelah memasuki sel, enzim-enzim akan

memecahnya menjadi bagian-bagian kecil yang pada akhirnya akan

menghasilkan energi, karbon dioksida, dan air. Sebagai sumber

energy karbohidrat menyediakan 4 kkal per gram karbohidrat.

23
Karbohidrat tersebar luas di dalam tumbuhan dan hewan. Pada

tumbuhan, glukosa disintesis dari karbon dioksida dan air melalui

fotosintesis dan disimpan sebagai pati atau digunakan untuk

menyintesis selulosa sel dinding tumbuhan. Hewan juga dapat

menyintesis karbohidrat dari asam amino, tetapi sebagian besar

karbohidrat hewan terutama berasal dari tumbuhan (Almatsier,2013).

Karbohidrat dalam hal ini pati,gula atau glikogen merupakan zat gizi

sumber energy paling penting bagi mahluk hidup karena molekulnya

menyediakan unsure karbon yang siap digunakan oleh sel. (Muchtadi

Pengantar Ilmu Gizi 2013)

4) Asupan Lemak

Lemak adalah bentuk energy berrlebih yang disimpan oleh

tubuh. Lemak tersusun ari tiga elemen dasar yaitu karbon,hydrogen

dan oksigen. Peran lemak dalam tubuh adalah sebagai persediaan

energy,yang disimpan dalam jaringan adipose. Peran kedua yaitu

sebagai regulator [Link] lemak (lipid) merupakan element

esensial bagi memberan tiap-tiap sel dan merupakan precursor

prostaglandin,maka pengambilan dan eksresi nutrient oleh sel dapat

diatur oleh lemak,demikian juga beberapa fungsi tubuh yang esensial

dikontrol oleh lemak. Lemak adalah salah satu kelompok yang

termasuk pada golongan lipid, yaitu senyawa organik yang terdapat di

24
alam serta tidak larut dalam air, tetapi larut dalam pelarut organik

non-polar. Lemak terdapat pada hampir semua bahan pangan dengan

kandungan yang berbeda-beda. Lemak hewani mengandung banyak

sterol yang disebut kolesterol, sedangkan lemak nabati mengandung

fitostersol dan lebih banyak mengandung asam lemak tak jenuh

sehingga umumnya berbentuk cair. Lemak juga merupakan sumber

energi yang lebih efektif dibanding dengan karbohidrat dan protein.

Satu gram lemak dapat menghasilkan 9 kkal (Muchtadi Pengantar

Ilmu Gizi 2013).

5).Asupan Zink

Zink merupakan mikro nutrisi yang penting bagisintesa protein.

Diferensiasi sel dan pertumbuhan. Zink juga merupakan agen anti

inflamasi an antioksidan pada tubuh manusia. Zink meruopakn zat

mikronutrisi yan dibutuhkan dalam jumlah sedikit akan tetapi mutlak

harus ada dalam tubuh,karena zink tiak bias digantikan oleh zat gizi

[Link] zink kini sangat untuk individu terutama pada anak

yang mana pada anak tersebut terjadi pertumbuhan dan perkembangan.

Peran zink dalam pertubuhan erat kaitanya dengan peningkatan

konsentrasi insulin-like growth factor I (IGF I). insulin-like growth

factor I Merupakan mediator hormone pertumbuhan yang berperan

sebagai suatu growth promoting factor dalam proses pertumbuhan.

Penurunan konsentrasi IGF-I disebabkan bukan hanya karena

25
kekurangan energy protein tetapi juga defisiensi zink(Muhammad et

al., 2018).

Penelitian ini juga sejalan denganpenelitian Hidayati, pada

balita usia1-3 tahun di wilayah perkotaan kumuh Surakartayang

menyimpulkan bahwa kekurangan asupanzinc dan zat besi pada balita

menyebabkan balitamempunyai risiko lebih besar terhadap

kejadianstunting(Hidayati et al., 2017.)

6).Asupan Kalsium

Kalsium merupakan mineral denganjumlah terbesar yang

terdapat dalam tubuh. Kalsium merupakan salah satu makromineral

dan merupakan unsur mineral terbanyak dalam tubuh manusiayaitu 12

kurang lebih 100 gram. Kalsium sangat berperan dalam pembentukan

tulang dan gigi. Kebutuhan kalsium harus dipenuhi dari asupan

makanan setiap hari, dan penyerapan kalsium akan dibantu oleh

vitamin D, hormon pertumbuhan dan hormon kalsitonin. Sedangkan

faktor yang menghambat penyerapan kalsium adalah pH yang alkalis,

gangguan absorbsi lemak, fosfat dan [Link] kalsium pada

makanan banyak terdapat pada udang kering, teri kering, tahu dan

sayuran seperti bayam, sawi, daun melinjo, daun katuk, dan daun

singkong serta susu bubuk dan susu kental manis (Almatsier, 2010).

26
Sejalan dengan penelitian sebelumnya bahwa asupan kalsium

lebih rendah pada anak stuntingdibandingkan anak tidak stunting.

Ketika anak denganriwayat BBLR dieklusi, maka asupan Kalsium,

vitaminD dan riboflavin significan lebih rendah pada anakstunting.

Risiko stunting 3,93 kali lebih besar padabalita dengan asupan kalsium

rendah. Sumberkalsium utama adalah susu dan hasil susu, selain

ituikan dan makanan sumber laut juga mengandungkalsium lebih

banyak dibandingkan daging sapimaupun ayam. Kebiasaan anak

dalam mengkonsumsisusu memberikan sumbangan kalsium yang

[Link] stunting mengkonsumsi kalsium dari sususignifikan lebih

rendah dari pada anak tidak stunting,dengan rata-rata 276,17 mg/hari

pada anak stuntingdan 628,41 mg/hari pada anak tidak stunting.(Febria

et al., 2018)

b. Pengukuran Pola Konsumsi Makanan

Survey konsumsi makanan merupakan metode yang dapat

digunakan untuk menentukan status gizi perorangan atau kelompok.

Tujuan survey konsumsi makanan adalah untuk pengukuran jumlah

makanan yang dikonsumsi pada tingkat kelompok, rumah tangga dan

perorangan, sehingga diketahui kebiasaan makan dan dapat dinilai

kecukupan makanan yang dikonsumsi seseorang. Berdasarkan jenis data

yang didapat, metode survey konsumsi makanan dibagi dua yaitu yang

27
bersifat kualitatif dan kuantitatif. Metode yang bersifat kualitatif antara

lain :

1) Metode frekuensi makanan (food frequency)

2) Metode dietary history

3) Metode telepon

4) Metode pencatatan makanan (food list)Sedangkan metode kuantitatif

antara lain :

(a) Metode recall 24 jam

(b) Penimbangan makanan (food weghting)

(c) Metode food account

(d) Metode perkiraan makanan (estimate food record)

(e) Metode inventaris (intentory method)

(f) Metode pencatatan (Household food Records)

c. Metode pengukuran konsumsi makanan individu antara lain :

1) Metode food recall 24 jam

Food recall 24 jam Prinsip dari metode food recall 24 jam,

dilakukan dengan mencatat jenis dan jumlah bahan makanan yang

dikonsumsi pada periode 24 jam yang [Link] E-Siong, Dop,

Winichagoon (2004) untuk survei konsumsi gizi individu lebih

disarankan menggunakan recall 24 jam konsumsi gizi dikarenakan

dari sisi kepraktisan dan kevalidtan data masih dapat diperoleh dengan

baik selama yang melakukan [Link] ini cukup akurat, cepat

28
pelaksanaannya, murah, mudah, dan tidak memerlukan peralatan yang

mahal dan [Link] menyampaikan ukuran rumah tangga

(URT) dari pangan yang telah dikonsumsi oleh responden, serta

ketepatan pewawancara untuk menggali semua makanan dan minuman

yang dikonsumsi responden beserta ukuran rumah tangga (URT).

2) Tahapan melakukan Recall 24 jam

Konsumsi Gizi berdasarkan Recall memiliki unit analisis

terkecil selama 24 jam atau sehari. Jangka waktu minimal yang

dibutuhkan untuk recall 24 jam konsumsi gizi adalah satu hari (dalam

kondisi variasi konsumsi pangan dari hari ke hari tidak beragam) dan

maksimal 7 hari. Namunpaling ideal dilakukan dalam satu minggu

atau 7 [Link] recall dapat dilakukan untuk meningkatkan

ketepatan data zat gizi yang diperoleh. Pengulangan dapat dilakukan

pada musim berbeda, missal recall 24 jam konsumsi pangan yang

pertama selama 7 hari dilakukan saat musim kemarau, pengulangan

recall 24 jam konsumsi pangan (recall 24 jam konsumsi pangan tahap

kedua) dilakukan selama 7 hari pada musim penghujan

d. Keanekaragamman makanan

Keanekaragaman konsumsi pangan adalah aneka ragam kelompok

pangan yang terdiri dari makanan pokok lauk pauk, sayuran dan buah-

buahan dan air serta beranekaragaman dalam setiap kelompok pangan.

Pangan yang beraneka ragam merupakan persyaratan penting untuk

29
menghasilkan pola pangan yang bermutu gizi seimbang (Kemenkes RI,

2014). Keragaman konsumsi pangan (Dietary Diversity Scores)

berhubungan dengan kualitas dan kecukupan gizi pada balita. Semakin

tinggi skor keragaman konsumsi pangan maka semakin beragam pula jenis

makanan yang dikonsumsi balita. Sehingga kecukupan zat gizi tersebut

pada akhirnya berpengaruh terhadap status gizi balita (Wantina et al.,

2017).

Kualitas pangan menunjukkan adanya semua zat gizi yang

diperlukan tubuh di dalam susunan hidangan dan perbandingannya antara

satu dengan yang lain. Kualitas gizi menekankan terhadap

keanekaragaman pangan. Semakin beragam dan seimbang komposisi

pangan yang dikonsumsi akan semakin baik kualitas gizinya, karena pada

hakekatnya tidak ada satupun jenis pangan yang mempunyai kandungan

gizi yang lengkap dan cukup baik dalam jumlah maupun jenisnya (Bitra,

2010).

Penelitian yang dilakukan oleh Arimond (2004), menunjukkan

bahwa terdapat hubungan antara keragaman konsumsi dengan status gizi

TB/U pada balita usia 6-23 bulan (Wantina et al., 2017).

3. Praktek pemberian Asi Ekslusif

Air susu ibu (ASI) adalah suatu emulsi lemak dalam larutan protein,

laktosa dan garam-garam organik yang disekresi oleh kedua kelenjar payudara

ibu, yang berguna sebagai makanan utama bagi bayi. Eksklusif adalah terpisah

30
dari yang lain, atau disebut khusus. Menurut pengertian lainnya, ASI

Eksklusif adalah pemberian ASI saja tanpa tambahan cairan lain seperti susu

formula, jeruk, madu, air teh, air putih dan tanpa tambahan makanan padat

seperti pisang, pepaya, bubur susu, biskuit, dan nasi tim. Pemberian ASI ini

dianjurkan dalam jangka waktu 6 bulan (Haryono, dan Setianingsih, 2014).

Selain memenuhi segala kebutuhan makanan bayi baik gizi, imunologi

maupun lainnya, pemberian ASI memberi kesempatan bagi ibu untuk

mencurahkan cinta kasih, perlindungan kepada anaknya. Fungsi ini tidak

mungkin dialihkan kepada ayah/ suami dan merupakan kelebihan kaum

wanita (Nursalam, 2013).

a. Asi menurut stadium lakstase

1) Kolostrum

Ibu yang melahirkan normal memiliki kesempatan untuk

memberikan [Link] ibu yang melahirkan melalui operasi

caesar, tentunya diperlukan peran tenaga medis dananggota keluarga

lain agar kolostrum dapat diberikan kepada bayi (Anggraini, dan

Sutomo, 2010: 20). Kolostrum merupakan cairan piscous dengan

warna kekuning-kuningan dan lebih kuning dibandingkan susu yang

matur, Kolostrum juga dikenal dengan cairan emas yang encer

berwarna kuning (dapat pula jernih) dan lebih menyerupai darah

daripada susu karena mengandung sel hidup menyerupai sel darah

31
putih yang dapat membunuh kuman penyakit (Haryono, dan

Setianingsih,2014: 17).

Oleh karena itu, kolostrum harus diberikan pada bayi.

Kolostrum melapisi usus bayi dan melindunginya dari bakteri.

Merupakan suatu laxanif yang ideal untuk membersihkan meconeum

usus bayi yang baru lahir. Dapat dikatakan bahwa kolostrum

merupakan obat untuk membersihkan saluran pencernaan dari kotoran

bayi dan membuat saluran tersebut siap menerima makanan

(Marmi,2012).

Kolostrum disekresi oleh kelenjar payudara dari hari pertama

sampai ketiga atau keempat. Pada awal menyusui, kolostrum yang

keluar mungkin hanya sesendok teh saja. Pada hari pertama pada

kondisi normal produksi kolostrum sekitar 10 - 100 cc dan terus

meningkat setiap hari sampai sekitar 150– 300 ml / 24 jam. Kolostrum

lebih banyak mengandung protein dan zat anti infeksi 10 - 17 kali

lebih banyak dibandingkan dengan ASI matur, tetapi kadar karbohidrat

dan lemak lebih rendah. Komposisi dari kolostrum darihari ke hari

selalu berubah. Rata-rata mengandung protein 8,5%, lemak 2,5%,

karbohidrat 3,5%, corpusculum colostrums, garam mineral (K,Na, dan

Cl) 0.4% air 85,1% leukosit sisa-sisa epitel yang mati, dan vitamin

yang larut dalam lemak lebih banyak. Selain itu, terdapat zat yang

menghalangi hidrolisis protein sebagai zat anti yang terdiri atas protein

32
tidak rusak. Fungsi kolostrum adalah memberikan gizi dan proteksi

yang terdiri atas zat (Nursalam, 2013) sebagai berikut :

(a) Imunoglobulin, untuk melapisi dinding usus yang berfungsi untuk

mencegah penyerapan protein yang mungkin menyebabkan alergi.

Dibandingkan dengan ASI mature yang protein utamanya adalah

casein, pada coloustrum protein utamanya adalah globulin

sehingga dapat memberikan daya perlindungan tubuh terhadap

infeksi.

(b) Laktoferin merupakan protein yang mempunyai afinitas yang

tinggi terhadap zat besi. Kadar laktoferin yang tertinggi pada

kolostrum dan air susu ibu adalah pada 7 hari pertama postpartum.

Kandungan zat besi yang rendah pada kolostrum dan air susu ibu

akan mencegah perkembangan bakteri patogen.

(c) Lisosom berfungsi sebagai anti bakteri dan menghambat

pertumbuhan berbagai virus. Kadar lisosom pada kolostrum dan

air susu jauh lebih besar kadarnya dibanding susu sapi.

(d) Faktor antitripsin berfungsi menghambat kerja tripsin sehingga

akan menyebabkan imunoglobulin pelindung tidak akan dipecah

oleh tripsin.

(e) Lactobasillus ada di dalam usus bayi dan menghasilkan berbagai

asam yang mencegah pertumbuhan bakteri patogen. Untuk

pertumbuhannya,Lactobasillus membutuhkan gula yang

33
mengandung nitrogen yaitu faktor bifidus. Faktor bifidus ini

terdapat di dalam kolostrum dan air susu ibu. Faktor bifilus tidak

terdapat dalam susu sapi. Lactobasillus membutuhkan gula yang

mengandung nitrogen yaitu faktor bifidus. Faktor bifidus ini

terdapat di dalam kolostrum dan air susu ibu. Faktor bifilus tidak

terdapat dalam susu sapi.

b. Air Susu Masa Peralihan

ASI peralihan adalah ASI yang keluar setelah kolostrum sampai

sebelum menjadi ASI yang matang/matur. Ciri dari air susu pada masa

peralihan (Nursalam, 2013)adalah sebagai berikut :

1) Peralihan ASI dari kolostrum sampai menjadi ASI yang matur.

2) Disekresi dari hari ke-4 sampai hari ke-10 dari masa laktasi. Teori lain,

mengatakan bahwa ASI matur baru terjadi pada minggu ke-3 sampai

dengan minggu ke-5.

3) Kadar lemak, laktosa, dan vitamin larut air lebih tinggi, dan kadar

protein mineral lebih rendah serta mengandung lebih banyak kalori

daripada kolostrum

4) Volume ASI juga akan makin meningkat dari hari ke hari (Marmi,

2012) sehingga pada waktu bayi berumur tiga bulan dapat diproduksi

kurang lebih 800 ml/hr.

34
c. Air Susu Matang (Matur)

Merupakan cairan yang berwarna putih kekuningan, mengandung

semua nutrisi. Terjadi pda hari ke 10 sampai seterusnya. Ciri dari susu

matur (Nursalam, 2013)adalah sebagai berikut:

ASI yang disekresikan pada hari ke 10 dan seterusnya. Komposisi

relatif konstan. Tetapi, ada juga yangmengatakan bahwa minggu ke 3

sampai 5 ASI komposisinya baru konstan

Pada ibu yang sehat, produksi ASI untuk bayi akan tercukupi. Hal

ini dikarenakan ASI merupakan makanan satu-satunya yang paling baik

dan cukup untuk bayi sampai usia enam bulan

d. Jenis–Jenis ASI

1) Foremilk

Foremilk adalah ASI yang encer yang di produksi pada awal

proses menyusui dengan kadar air yang tinggi dan mengandung

banyak protein, laktosa, serta nutrisi lainnya tetapi rendah lemak

(Depkes RI, 2007). Foremilk disimpan pada saluran pemyimpanan dan

keluar pada awal menyusui. Foremilk merupakan ASI yang keluar

pada lima menit pertama. ASI ini lebih encer dibandingkan hindmilk,

dihasilkan sangat banyak, dan cocok untuk menghilangkan rasa haus

bayi.

35
2) Hindmilk

Hindmilk adalah ASI yang mengandung tinggi lemak yang

memberikan banyak zat tenaga/energi dan diproduksi menjelang akhir

proses menyusui. Hindmilk keluar setelah foremilk habis saat

menyusui hampir selesai, sehingga bisa dianalogikan seperti hidangan

utama setelah hidangan pembuka. Jenis air susu ini sangat kaya,

kental, dan penuh lemak dan vitamin. Hindmilk mengandung lemak 4-

5 kali dibanding foremilk. Bayi memerlukan foremilk dan hindmilk.

e. Kandungan ASI

ASI merupakan cairan nutrisi yang unik, spesifik, dan kompleks

dengan komponen imunologis dan komponen pemacu pertumbuhan. ASI

mengandung sebagian besar air sebanyak 87,5%, oleh karena itu bayi yang

mendapat cukup ASI tidak perlu mendapat tambahan air walaupun berada

di tempat sushu udara panas. Selain itu, berbagai komponen yang

terkandung dalam ASI (Nursalam, 2013)anatara lain:

1) Protein

Kadar protein didalam ASI tidak terlalu tinggi namun

mempunyai peranan yang sangat penting. Di dalam ASI protein berada

dalam bentuk senyawa-senyawa sederhana, berupa asam amino.

Protein adalah bahan baku untuk tumbuh, kualitas protein sangat

penting selama tahun pertama kehidupan bayi, karena pada saat ini

pertumbuhan bayi paling cepat. Air susu ibu mengandung protein

36
khusus yang dirancang untuk pertumbuhan bayi. ASI mengandung

total protein lebih rendah tetapi lebih banyak protein yang halus,

lembut dan mudah dicerna. Komposisi inilah yang membentuk

gumpalan lebih lunak yang mudah dicerna dan diserap oleh bayi.

Protein ASI disusun terbesar oleh laktalbumin, laktalglobulin,

lactoferrin, dsb yang digunakan untuk pembuatan enzim anti bakteri.

Rasio protein ASI adalah 60:40 sedangkan rasio protein susu sapi

hanya 20 : 80. ASI mengandung asam amino essential taurin yang

tinggi, kadar metiolin, tirosin, dan fenilalanin ASI lebih rendah dari

susu sapi akan tetapi kadar sistin jauh lebih tinggi. Kadar poliamin dan

nukleotid yang penting untuk sintesis protein.

2) Lemak

Lemak ASI adalah komponen yang dapat berubah-ubah

kadarnya kadar lemak bervariasi disesuaikan dengan kebutuhan kalori

untuk bayi yang sedang tumbuh. Merupakan sumber kalori (energi)

utama yang terkandung di dalam ASI. Meskipun kadarnya di dalam

ASI cukup tinggi, namun senyawa lemak tersebut mudah diserap oleh

saluran pencernaan bayi yang belum berkembang secara sempuurna.

Hal ini disebabkan karena lemak didalam ASI merupakan lemak yang

sederhana struktur zatnya (jika dikaji dari sisi ilmu kimia) tidak

bercabang-cabang sehingga mudah melewati saluran pencernan bayi

yang belum berfungsi secara [Link] yang pertama kali keluar

37
disebut susu mula (foremilk). Cairan ini kira-kira mengandung 1-2%

lemak dan tampak encer. ASI berikutnya disebut susu belakang

(hindmilk) yang mengandung lemak paling sedikit tiga seperempatkali

lebih banyak dari susu formula. Cairan ini memberikan hampir seluruh

energi.

3) Karbohidrat

Laktosa merupakan komponen utama karbohidrat dalam ASI.

Kandungan laktosa dalam ASI lebih banyak dibandingkan dengan susu

sapi. Laktosa ini jika telah berada di dalam saluran pencernaa bayi

akan dihidrolisis menjadi zat-zat yang lebih sederhana yaitu glukosa

dan galaktosa). Kedua zat inilah yang nanti akan diserap oleh usus

bayi, dan sebagai zat penghasil energi tinggi. Selain merupakan

sumber energi yang mudah dicerna, beberapa laktosa diubah menjadi

asam laktat, asam ini membantu mencegah pertumbuhan bakteri yang

tidak diinginkan dan membantu dalam penyerapan kalsium dan

mineral lainnya.

4) Mineral

ASI mengandung mineral yang lengkap. Walaupun kadarnya

relatif rendah tetapi cukup untuk bayi sampai umur 6 bulan. Kadar

kalsium, natrium, kalium, fosfor, dan klorida yang lebih rendah

dibandingkan dengan susu sapi, tetapi dengan jumlah itu sudah cukup

untuk memenuhi kebutuhan bayi bahkan mudah diserap tubuh.

38
Kandungan mineral pada susu sapi memang cukup tinggi, tetapi hal

tersebut justru berbahaya karena apabila sebagian besar tidak dapat

diserap maka akan memperberat kerja usus bayi dan akan mengganggu

sistem keseimbangan dalam pencernaan. Jenis mineral essensial (vital)

lain yang terkandung di dalam ASI, yaitu senyawa seng (Zn). Senyawa

ini dibutuhkan oleh tubuh bayi untuk mendukung pertumbuhan dan

perkembangan (karena senyawa yang berperan sebagai katalisator

(pemacu) pada proses-proses metabolisme didalam [Link] seng

juga berperan dalam pembentukanantibodi, sehingga meningkatka

imunitas tubuh bayi dari penyakit-penyakit tertentu.

5) Vitamin

Vitamin dalam ASI dapat dikatakan lengkap. Vitamin A,D, dan

C cukup, sedangkan golongan vitamin B kurang. Selain itu vitamin

yang terkandung di dalam ASI meliputi Vitamin E, vitamin K, karoten,

biotin kolin, asam folat, inositol, asam nikotinat (niasin), asam

pathotenat, prodoksin (Vitamin B3), riboflavin (vitamin B2), thiamin

(vitamin B1) dan sianokobalamin(vitamin B12).

f. Manfaat ASI

Bagi Bayi – Bayi mendapatkan manfaat yang besar dari ASI.

Selain mendapatkan nutrisi yang dibutuhkan bayi, ASI juga berperan

penting dalam melindungi dan meningkatkan kesehatan bayi. UNICEF

mengatakan bahwa ASI menyelamatkan jiwa bayi terutama di negara-

39
negara berkembang. Keadaan ekonomi yang sulit, kondisi sanitasi yang

buruk, serta air bersih yang sulit didapat menyebabkan pemberian susu

formula sebagai penyumbang resiko terbesar terhadap kondisi malnutrisi

dan munculnya berbagai mavam penyakit sepeti diare akibat penyiapan

dan pemberian susu formula yang tidak higienis. Laporan WHO juga

menyebutkan bahwa hampir 90% kematian balita terjadi di negara

berkembang dan lebih dari 40% kematian tersebut disebabkan diaredan

infeksi saluran pernafasan akut yang dapat dicegah dengan pemberian ASI

eksklusif. Berikut ini beberapa fakta peran ASI dalam meningkatkan

kesehatan bayi(Nursalam, 2013) :

1) Bayi yang diberi ASI 17 kali jarang menderita pneumonia/radang paru

2) Bayi yang diberi ASI lebih terlindungi dari penyakit sepsis/infeksi

dalam darah yang menyebabkan kegagalan fungsi organ tubuh hingga

kematianoleh Patel. Selain itu, para dokter sepakat bahwa ASI dapat

mengurangi resiko infeksi lambung-usus, sembelit, dan alergi.

3) ASI yang didapat bayi selama proses menyusui akan memenuhi

kebutuhan nutrisi bayi sehingga dapat menunjang perkembangan otak

bayi. Berdasarkan suatu penelitian anak yang mendapatkan ASI pada

masa bayi mempunyai IQ yang lebih tinggi dibandingkan anak yang

tidak mendapatkan ASI.

40
4) Mengisap ASI membuat bayi mudah mengkoordinasi saraf menelan ,

mengisap dan bernafas menjadi lebih sempurna dan bayi menjadi lebih

aktif dan ceria.

5) Waktu menyusui yang panjang dapat melindungi bayi dan anak dari

penyakit asma atau mengurangi terjadinya serangan asma pada anak

kecil. Resiko menderita asma meningkat apabila pemberian ASI

eksklusif dihentikan sebelum 4 bulan oleh Kull & Benner

6) Menyusui dengan waktu yang lebih panjang (lebih dari 6 bulan) dapat

melindungi bayi adan anak dari penyakit rhinitis oleh Ehlayel.

7) Bayi yang diberi ASI eksklusif lebih terlindungi dari infeksi telinga

tengah oleh sabirov.

8) Bayi prematur yang memiliki berat badan lahir sangat rendah yang

diberi ASI eksklusif dapat terhindar dari ROP Retimopathy of

Prematurnity.

9) Pemberian ASI eksklusif selama3-5 bulan mengurangi resiko obesitas

sebasar 35% di masa yang akan datang (3-5 tahun)

10) Pemberian ASI eksklusif dapat mengurangi resiko bayi kekurangan

gizi ASI adalah makanan alamiah yang disediakan untuk bayi dengan

komposisi nutrisi yang sesuai untuk perkembangan bayi.

11) Pemberian ASI ekslusif mengurangi resiko terkena penyakit jantung

dan pembuluh darah. Bayi yang menerima susu formula memiliki

konsentrasi LDL (kolestrol jahat) yang lebih tinggi daripada HDL

41
(kolestrol baik) yang lebih rendah. LDL merupakan salah satu pemicu

penyakit jantung dan pembuluh darah.

12) Bayi prematur menerima ASI memiliki tekanan darah yang lebih

rendah (13-16 tahun) kemudian dibandingkan dengan bayi yang

menerima susu formula Bayi prematur akan cepat tumbuh apabila

mereka diberikan ASI eksklusif. Komposisi ASI akan teradaptasi

sesuai dengan kebutuhan bayi, dan ASI bermanfaat untuk manaikkan

berat badan dan menumbuhkan sel otak pada bayi prematur.

13) Penyakit Necrotizing Enterecolitis / NEC ( infeksi dan peradangan

menyebabkan kerusakan usus atau bagian dari usus) yang umum di

derita oleh bayi prematur dan sering menyebabkan kematian dapat

dicegah dengan pemberian ASI.

14) ASI mencegah kerusakan gigi, misalnya gigi keropos dan

maloklusi/kelainan susunan gigi geligi atas dan bawah yang

berhubungan dengan bentuk rongga mulut/rahang oleh Agalawal

(dalam Monika, 2016 :9). Karies gigi pada bayi yang diberi ASI

eksklusif tidak akanterjadi karena ASI mengandung mineral selenium.

15) ASIselalu tersedia dalam keadaan bersih dari payudara ibuSelalu

tersedia kapanpun dengan suhu yang tepat (Monika,2016: 6). ASI

selalu tersedia setiap saat bayi menginginkannya dalam keadan steril

dan suhu yang pas.

42
16) ASI mudah dicerna dan diserap oleh pencernaan bayi yang belum

Begitupula saat bayi sakit, ASI adalah makanan yang terbaik untuk

diberikan karena kemudahan dalam dicerna akan membuat bayi cepat

sembuh sempurna.

17) Mendapatkan ASI dengan mengisap dari payudara membuat kualitas

hubungan psikologis ibu dan bayi menjadi semakin dekat Kontak kulit

ibu dengan bayi saat menyusui menciptakan kedekatan/ikatan serta

perkembangan psikomotorik dan sosial yang lebih baik Bayi merasa

aman, nyaman dan terlindungi dan ini mempengaruhi kemampanan

emosi si anak di masa depan.

g. Faktor-Faktor yang mempengaruhi Produksi ASI

Berikut ini adalah faktor yang mempengaruhi produksi ASI

(Nursalam, 2013)adalah sebagai berikut :

1) Faktor Makanan Ibu

Makanan yang dikonsumsi oleh ibu menyusui sangat

berpengaruh terhadap produksi ASI. Apabila makanan yang ibu makan

cukup kan gizi dan pola makan yang teratur maka produksi ASI akan

berjalan dengan lancar.

Seorang ibu yang kekurangan gizi akan mengakibatkan

menurunnya jumlah ASI dan akhirnya produksi ASI berhenti. Hal ini

disebabkan pada masa kehamilan jumlah pangan dan gizi yang

dikonsumsi ibu tidak memungkinkan untuk menyimpan cadangan

43
lemak dalam tubuhnya, yang kelak akan digunakan sebagai salah satu

komponen ASI dan sebagai sumber energi selama menyusui. Dalam

kaitannya dengan kecukupan nutrisi maka ibu perlu memperhatikan

berat badan ibu setelah melahirkan tidak diperbolehkan melibihi 0.5

kilogram setiap minggunya.

2) Faktor isapan Bayi

Isapan mulut bayi akan menstimulus kelenjar hipotalamus pada

bagian hipofisis anterior dan posterior. Hipofisis anterior

menghasilkan rangsangan (rangsangan prolaktin) untuk meningkatkan

sekresi (pengeluaran) hormon prolaktin. Hormon prolaktin bekerja

pada kelenjar susu (alveoli) untuk memproduksi ASI.

Isapan bayi tidak sempurna atau puting susu ibu yang sangat

kecil akan mebuat produksi hormon oksitosin dan hormon prolaktin

akan terus menurun dan ASI akan berhenti.

Semakin sering bayi menyusu pada payudara ibu, maka

produksi dan pengeluaran ASI akan semakin banyak.

3) Perawatan payudara

Perawatan Payudara bermanfaat merangsang payudara

mempengaruhi hipofise untuk mengeluarkan hormon prolaktin dan

oksitosin. Prolaktin mempengaruhi jumlah produksi ASI, sedangkan

oksitosin mempengaruhi proses pengeluaran ASI.

44
Perawatan payudara yang dimulai dari kehamilan bulan ke 7-8

memegang peranan penting dalam menyusui bayi. Payudara yang

terawat akan memproduksi ASI yang cukup untuk memenuhi

kebutuhan bayi dan dengan perawatan,payudara yang baik,

makaputing tidak akan lecet sewaktu diisap bayi(Nursalam, 2013).

Perawatan fisik payudara menjelang masa laktasi perlu

dilakukan, yaitu dengan mengurut selama 6 minggu terakhir masa

kehamilan. Pengurutan tersebut diharapkan apabilaterdapat

penyumbatan pada duktus laktiferus dapat dihindarkan sehingga pada

waktunya ASI akan keluar dengan lancar(Nursalam, 2013).

Menghindari agar puting ibu tidak lecet sebaiknya ibu tidak

melepaskan puting saat menyusui, pastikan bagian payudara yang

masuk tidak hanya puting melainkan juga termasuk daerah areola,

jangan biarkan puting terkena sabun mandi, oleskan sedikit ASI

sesudah dan sebelum menyusui karena ASI mengandung zat pelembab

yang melembutkan puting dan areola serta mengandung zat

desinfektan (Nursalam, 2013).

45
B. Karangka Teori

1. Karangka Konesep Penelitian


Pola makan

1. frekuensi makan
2. keaneka ragaman
makanan
3. Asupan Karbohidrat
4. Asupan lemak
5. Asupan protein
6. Asupan zink STUNTING
7. Asupan Kalsium

Pola asuh

1. Riwayat pemberian asi


ekslusif

Keterangan

: Variabel Dependen

: Variabel Independen

46
2. Uraian Kerangka Konsep

a. Stunting

Stunting menggambarkan status gizi kurang yang bersifat kronik

pada masa pertumbuhan dan perkembangan sejak awal kehidupan.

Keadaan ini dipresentasikan dengan nilai z-score tinggi badan menurut

umur (TB/U) kurang dari -2 standar deviasi (SD) berdasarkan standar

pertumbuhan menurut WHO (WHO, 2010).

b. Pola Makan

Pengertian pola makan menurut Handajani adalah tingkah laku

manusia atau sekelompok manusia dalam memenuhi makanan yang

meliputi sikap, kepercayaan, danpilihan makanan, sedangkan

menurutSuhardjo pola makan di artikansebagai cara seseorang atau

sekelompok orang untuk memilih makanan dan mengkonsumsi makanan

terhadap pengaruh fisiologis, psikologis, budaya dan social.

c. Pola Asuh

Pola asuh merupakan sikap orang tua dalam berhubungan dengan

anaknya. Sikap ini dapat dilihat dari berbagai segi, antara lain dari cara

orang tua memberikan pengaturan kepada anak, cara memberikan hadiah

dan hukuman, cara orang tua menunjukkan otoritas dan cara orang tua

memberikan perhatian, tanggapan terhadap keinginan anak. Dengan

demikian yang dimaksud dengan Pola Asuh Orang Tua adalah bagaimana

cara mendidik anak baik secara langsung maupun tidak langsung.

47
C. Hipotesis

1. Hipotesis Ha

a. Ada Hubungan Frekuensi pemberian makanan terhadap kejadian stunting di

daerah lokus kabupaten Gorontalo

b. Ada Hubungan Keanekaragaman Makanan terhadap kejadian

stunting di daerah lokus kabupaten Gorontalo

c. Ada Hubungan Asupan energi terhadap kejadian stunting di daerah lokus

kabupaten Gorontalo

d. Ada hubungan Asupan Karbohidrat terhadap kejadian stunting di

daerah lokus kabupaten Gorontalo

e. Ada Hubungan Asupan Protein terhadap kejadian stunting di daerah lokus

kabupaten Gorontalo

f. Ada Hubungan Asupan Lemak terhadap kejadian stunting di daerah lokus

kabupaten Gorontalo

g. Ada Hubungan Asupan Zink Terhadap stunting di daerah lokus

kabupaten Gorontalo

h. Ada Hubungan Asupan Kalsium Terhadap stunting di daerah lokus

kabupaten Gorontalo

i. Ada hubungan Pemberian Asi Ekslusif terhadap kejadian stunting di daerah

lokus kabupaten Gorontalo

48
2. Hipotesis H0
a. Tidak Ada Hubungan Frekuensi pemberian makanan terhadap kejadian

stunting di daerah lokus Kabupaten Gorontalo

b. Tidak Ada Hubungan Keanekaragaman Makanan terhadap kejadian stunting

di daerah lokus Kabupaten Gorontalo

c. Tidak Ada Hubungan Asupan energi terhadap kejadian stunting di daerah

lokus Kabupaten Gorontalo

d. Tidak Ada hubungan Asupan Karbohidrat terhadap kejadian stunting di

daerah lokus kabupaten Gorontalo

e. Tidak Ada Hubungan Asupan Protein terhadap kejadian stunting di daerah

lokus Kabupaten Gorontalo

f. Tidak Ada Hubungan Asupan Lemak terhadap kejadian stunting di daerah

lokus Kabupaten Gorontalo

g. Tidak Ada Hubungan Asupan Zink Terhadap stunting di daerah lokus

Kabupaten Gorontalo

h. Tidak Ada Hubungan Asupan Kalsium Terhadap stunting di daerah lokus

Kabupaten Gorontalo

i. Tidak Ada hubungan Pemberian Asi Ekslusif terhadap kejadian stunting di

daerah lokus Kabupaten Gorontalo

49
BAB III
METODE PENELITIAN

A. Jenis dan Desain Penelitian

Penelitian yang menggunakan Observasional analitik dengan

menggunakan rancangan pendekatan cross sectional yaitu rancangan penelitian

yang variabel sebab atau risiko dan akibat atau kasus yang terjadi pada obyek

penelitian diukur atau dikumpulkan secara simultan (dalam waktu yang

bersamaan) (Notoatmodjo, 2012)Untuk melihat adanya hubungan Pola makan dan

asi ekslusif terhadap balita Stanting yag ada diwilayah Lokus Kabupaten

Gorontalo.
Populasi
Jumlah populasidiwilayah lokus
berjumlah 1542

Sampel
Sampel dalam penelitian ini
sebanyak 361

Faktor Resiko (+) Faktor Resiko (-)


- Frekuensi makanan (< 3 kali makan sehari) - Frekuensi makanan (> 3 kali makan sehari)
- Keanekaragaman makanan (Nasi +ikan) - Keanekaragaman makanan (nasi + ikan + sayur
- Asupan makanan (< 80% AKG) - Asupan makanan (>80% AKG)
- Asi ekslusif (jika tidak diberi asi selama 6 - Asi ekslusif (Diberi asi selama 6 bln tidak ada
bln dan tambahan susu formula susu fotmula

Efek (+) Efek (-) Efek (+) Efek (-)

Stunting Tidak Stunting Stunting Tidak stunting

50
B. Lokasi dan waktu penelitian

1. Lokasi penelitian

Penelitian ini akan di lakukan diwilayah kerja Puskesmas Limboto

[Link] data yang diperoleh Kecamatan Limboto Barat adalah salah

satu wilayah lokus stunting tertinggi yang ada di kabupaten Gorontalo.

2. Waktu Penelitian

Penelitian ini akan di lakukan pada bulan Februari – April 2020

C. Populasi dan Sampel Penelitian

1. Populasi

Populasi dalam penelitian ini adalah balita dengan umur 12-59 bulan

sebanyak 1542 yang berada di wilayah Kerja Puskesmas Limboto Barat

2. Sampel

Sampel dalam penelitian ini berjumlah merupakan balita usia 12-59

bulan yang beraa di wilayah kerja Puskesmas Limboto Barat berjumlah 359

balita.

a. Kriteria Sampel

1). Kriiteria inklusif

a) Ibu yang memiliki balita usia 24-59 bulan

b) Anak balita yang mengalami stunting dan tidak stunting

c) Ibu balita yang masih berdomisili di Limboto Barat

51
d) Ibu balita yang adapada saat pengambilan sampel data ada di tempat

lokasi penelitian

2). Kriteria Ekslusif

a) Ibu balita yang tidak mau diwawancarai

b) Ibu balita yang mengalami Gangguan pisikiologis

c) Ibu balita yang tidak bias membaca dan menulis

b. Besar Sampel

Penentuan besar sampel dilakukan dengan menggunakan rumus:

p1+rp
p= 2

1+ r

0,61+1.0,38
p=
1+r

p = 0,495 0,5

n=¿ ¿ ¿

n=¿ ¿

n=¿ ¿

1,96 √ 1 x 0,05+1,16 √ 0,3721+0,38(0,384 )❑


n=
0,980

n = 328 + 10 %

n = 361

Keterangan :

52
n : Jumlah Sampel Minimal

Z❑
1 −α /¿ 2 ¿ : Nilai Z pada derajat kepercayaan 95% (1,96)

Z1− β : Nilai Z berdasarkan Kekuatan uji 80% =


0,84

P1 : Proporsi hasil penderita stunting pada


kelompok berisiko

P2 : Proporsi hasil penderita stunting pada


kelompok tidak berisiko

TABEL 3.1 Perhitungan Besar Sampel Minimal


Uji Beda Dua Proporsi

No Nama Variabel Kategori Proporsi Stunting Besar Sampel

1 Asi Ekslusif Ekslusif 32,9% 24

Tidak Ekslusif 67,1%

(Larasati, 2017)
2 Keragaman makann Beragam 14,6 %

Tidak Beragam 85,4 % 16

(Widyaningsih et

al., 2018)
3 Frekuensi Makan Sering 26,3 %

Tidak sering 69,7% 44

(Nabusa et al

2018)
4 Asupan Energi Cukup 23,53%

Kurang 64,10 %(Sari et 50

53
al., 2016)
5 Asupan Lemak Cukup 85,7 %

Kurang 14,3 %(Anshori, 14

2012)

6 Asupan Protein Cukup 37,50

Kurang 70,00(Sari et al., 80

2016)
7 Asupan Karbohidrat Cukup 82,9% 18

Kurang 17,1 %

(Anshori, 2012)
8 Asupan Zink Cukup 38,4 % 361

Kurang 61,4 %(Maulidah

et al., 2019)
9 Asupan Kalsium Cukup 16,22 44

Kurang 58,49(Sari et al.,

2016)

b. Tehnik Pengambilan Sampel

Tehnik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah dengan

purposive sampling, yaitu pengambilan sampel sesuai dengan penilaian

peneliti.

D. Variabel Penelitian

1. Kalsifikasi Variabel

Variabel Independen : Pola makan dan Riwayat Pemberian Asi Ekslusif

54
Variabel Dependen : Stunting

2. Definisi Operasional Dan Kriteria Objektif

a. Stunting

1) Definisi Oprasional

Keadan status gizi seseorang berdasarkan z-skor tinggi badan

(TB) terhadap umur (U) dimana terletak pada -2 SD di peroleh dari

pengukuran. (Kemenkes RI, 2020)

2) Kriteria Objektif

Stunting : bila z- skor <-3 SD

Tidak Stunting : bila nilai z- skor -2 SD sampai dengan +3 SD

b. Pola Makan

1) Definisi Operasional Frekuensi Makan

Frekuensi makan adalah beberapa kali makan dalam sehari

meliputi makan pagi, makan siang, makan malam dan makan selingan

(Depkes, 2013).

2 ) Kriteria Objektif

Sering : > 3 x / hari

Tidak sering: < 3x / hari

c. Keragaman Makanan

1) Definisi Oprasional keragaman makan

55
Keanekaragaman pangan adalah anekaragam kelompok

pangan yang terdiri dari makanan pokok, lauk pauk, sayuran dan

buah-buahan dan air serta beranekaragam dalam setiap kelompok

pangan.(Peraturan Mentri Kesehatan, 2014)

2). Kriteria Objektif

Beragam : Nasi + Ikan + sayur + Buah

Tidak Beragam: Nasi + Ikan

d Asupan Energi

1). Definisi Oprasional asupan Energi

Asupan energi adalah total energi yang bersumber dari

makanan dan minuman yang dikonsumsi yang diperoleh dari survei

konsumsi menggunakan metode Recll 24 jam makanan, kemudian

dibandingkan dengan AKG dan dikalikan 100%(Fridawanti, 2016).

2). Kriteria Objektif

Cukup: asupan Energi besar dari ( >80 % AKG)

Kurang: Asupan Energi kurang dari ( <80% AKG)

e Asupan Karbohidrat

1) Definisi Oprasional Asupan Karbohidrat

Asupan karbohidrat merupakan makanan pokok yang sering

dikonsumsi atau telah menjadi bagian dari budaya makan dan

menjadi sumber energi paling dibutuhkan oleh tubuh. Contoh pangan

karbohidrat adalah beras, jagung, singkong, ubi, talas, garut, sorgum,

56
jewawut, sagu dan produk olahannya.(Peraturan Mentri Kesehatan,

2014)

2). Kriteria Objektif

Cukup : Asupan Karbohidrat dari ( >80 % AKG)

Kurang: Asupan Karbohidrat dari ( <80% AKG)

f. Asupan Protein

1) Definisi Oprasional Asupan Protein

Asupan protein adalah Lauk pauk terdiri dari pangan sumber

protein hewani dan pangan sumber protein nabati. Kelompok pangan

lauk pauk sumber protein hewani meliputi daging ruminansia

(daging sapi, daging kambing, daging rusa dll), daging unggas

(daging ayam, daging bebek dll), ikan termasuk seafood, telur dan

[Link] Pangan lauk pauk sumber protein nabati meliputi

kacang-kacangan dan hasil olahnya seperti kedele, tahu, tempe,

kacang hijau, kacang tanah, kacang merah, kacang hitam, kacang

tolo dan lain-lain.(Peraturan Mentri Kesehatan,2014)

2) Kriteria Objektif

Cukup : Asupan Protein besar dari ( >80 % AKG)

Kurang: Asupan Protein kurang dari ( <80% AKG)

g. Asupan Lemak

1) Definisi Oprasional Asupan Lemak

57
Asupanlemak Peraturan Menteri Kesehatan nomor 30 tahun

2013 tentang Pencantuman Informasi Kandungan Gula, Garam dan

Lemak serta Pesan Kesehatan untuk Pangan Olahan dan Pangan Siap

Saji menyebutkan bahwa Konsumsi lemak dan minyak dalam

hidangan sehari-hari dianjurkan tidak lebih dari 25% kebutuhan

energi, jika mengonsumsi lemak secara berlebihan akan

mengakibatkan berkurangnya konsumsi makanan lain. (Peraturan

Mentri Kesehatan, 2014)

2) Kriteria Objektif

Cukup : Asupan Lemak besar dari ( >80 % AKG)

Kurang: Asupan Lemak kurang dari ( <80% AKG)

h. Asupan Zink

1) Definisi Oprasional Asupan Zink

Zink merupakan bagaian dari enzim-enzim yang berperan

dalam berbagai aspek metabolism, sepertireaksi-reaksi yang

berkaitan dengan sintesis dan degradasi karbohidrat, protein, lipid

dan asam nukleat. Zink merupakan peranan penting dalam proses

pertumbuhan, fungsi kognitif, pematangan seks, fungsi kekebalan

dan pemunahan redikal bebas (Supariasa, 2012 dalam

penelitian(Setiamy & Deliani, 2019)

2) Kriteria Objektif

58
Cukup : asupan zink besar dari ( >70 % AKG)

Kurang: Asupan zink kurang dari ( <70% AKG)

i. Asupan Kalsium

1) Definisi Oprasional Asupan Kalsium

Kalsium paling banyak ditemukan dalam tulang dan gigi.

Sekitar 50% dari jumlah totalnya terionisasi, dan hanya kalsium

terionisasi dapat digunakan oleh tubuh. Protein dan albumin dalam

darah berikatan dengan kalsium sehingga mengurangi jumlah kalsium

terionisasi yang bebas.(Maulidah et al., 2019)

2)Kriteria Objektif

Cukup: Asupan Kalsium besar dari (> 70 % AKG)

Kurang : Asupan Kalsium kurang dari ( <70% AKG)

j. Asi Ekslusif
1) Definisi Operasional
Cara pemberian Asi Eksklusif pada bayi dalam kurun 6 bulan
pertama setelah lahir yang diperoleh dengan data primer dengan
menggunakan kuisoner(Rahayu et al., 2019).
2) Kriteria Operasional
Tidak Ekslusif : (jiika tidak diberi asi selama 6 bulan Dan ada
tambahan Susu Formula)
Ya : (ekslusif jika daro 0-6 bulan Tanpa tambahan susu formula )
[Link] Pengumpulan Data dan InstrumenPenelitian

1. Sumber Data

59
a. Data primer

Data primer diperoleh secara langsung dari responden dengan

melakukan wawancara menggunakan kuesioner.

b. Data sekunder

Data sekunder diperoleh dari data Stunting yang di peroleh dari

Dinas Kesehatan Kota Gorontalo dan Dinas Kabupaten Gorontalo

2. Instrumen Penelitian

Pengumpulan data dilakukan menggunakan instrumen berupa :

a. Kuesioner yang disertai lembar persetujuan penelitian (Informed Consent).

1) Pengukuran Riwayat Asi Ekslusif menggunakan kuesioner

2) Pengukuran asupan Makan menggunakan Food Recall24 Jam

3. Metode Pengolahan Data

Data yang diperoleh dilakukan pengolahan dengan tahap-tahap sebagai

berikut :

a. Editing

Pengecekan jumlah kuesioner, kelengkapan data, di antaranya

kelengkatan identitas, lembar kuesioner dan kelengkapan isian kuesioner,

sehingga apabila terdapat ketidaksesuaian dapat dilengkapi segera oleh

peneliti.

60
b. Coding

Pemberian kode berupa angka untuk memudahkan pengolahan

data.

c. Entry

Memasukkan data yang diperoleh dari hasil penelitian ke dalam

tabel-tabel sesuai dengan kriteria. Kegiatan memasukkan data dilakukan

menggunakan bantuan komputerisasi.

d. Tabulasi

Mengelompokkan data sesuai dengan tujuan penelitian kemudian

dimasukkan dalam tabel yang sudah disiapkan. Setiap pertanyaan yang

sudah diberi nilai, hasilnya dijumlahkan dan diberi kategori sesuai dengan

jumlah pertanyaan pada kuesioner.

F. Teknik Analisis data

1. Alur Penelitian
Populasi 1542

61
n = 361

Drop out 2 n utama


359

2 responden yang drop out di Karena keterbatasan waktu penelitian


karenakan dalam waktu penelitian sehingga sampel awal 361,pada saat
wilayah tersebut merupakan Zona di lapangan sampel yang di dapatkan
oleh peneliti sebanyak 359 adalah
Merah Covid-19
sampel Utama.
2. Analisis Data

a. Analisis Univariat

Analisis Univariat dilakaukan untuk medeskripsikan data yang

diperoleh dan dilengkapi dengan nilai presentasi dengan tujuan

untukmengetahui distribusi frekuensi dari semua variable yang diteliti baik

variable baebas maupun variable terikat.

b. Analisis Bivariat

Analisis bivariat digunakan untuk melihat hubungan antara variabel

bebas dan variabel terikat dengan melihat X = 0,05 atau C1 95% … Teknik

analisis data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan uji statistik

Chi-Square dengan uji x² (Chi-Square) yang bertujuan untuk menjelaskan

hipotesis hubungan variabel bebas dan variabel terikat.

62
Ketentuan-ketentuan yang berlaku pada uji Chi-square yaitu sebagai

berikut:

1) Bila tabelnya 2x2, dan tidak ada nilai Expected (harapan)/ E<5, maka

uji yang dipakai sebaiknya “(Continuity Correction (a)”

2) Bila tabelnya 2x2 dan ada nilai E<5, maka uji yang dipakai adalah

“Fisher’s Axact Test”

3) Bila tabelnya lebih dari 2x2 misalnya 2x3, 3x3, maka digunakan uji

“Person Chi Square”

Untuk memutuskan apakah terjadi hubungan yang signifikan antara

variabel bebas dan variabel terikat, dengan taraf kesalahan 5% (p value

0,05). Pengujian menggunakan tingkat kepercayaan 95% dengan

program computer.

Apabila dari perhitungan tertanya bahwa:

1) Jika nilai p > 0,05 berarti dinyatakan hubungan tidak signifikan

secara   statistik (tidak ada hubungan variabel bebas dengan variabel

terikat)

2) Jika nilai p < 0,05 berarti dinyatakan hubungan signifikan secara statistik (ada

hubungan variabel bebas dengan variabel terikat).

63
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Puskesmas Limboto Barat Kecamatan Limboto

Barat Kabupaten Gorontalo. Adapun cakupan wilayah Puskesmas Limboto Barat

terdiri dari 10 Desa namun dengan adanya Virus Covid-19 dan pemerintah

menetapkan bahwa virus tersebut adalah Pandemi serta di Berlakukannya aturan

social distancing maka peneliti hanya Sempat melakukan penelitian di 7 desa

yang ada di wilayah tersebut yaitu Desa Huidu, Desa Huidu Utara, Desa

Hutabohu, Desa Pone, Desa Haya-Haya, Desa Yosonegoro, dan Desa Padengo.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui “Hubungan Kejadian Stunting dengan

Hubungan Pola Asuh dan Pola Makan ,Di Wilayah Lokus Di Kabupaten

Gorontalo”. Penelitian ini dilakukan mulai tanggal 7 Maret sampai dengan 17

April Tahun 2020 bertempat di Puskesmas Limboto Barat dengan menggunakan

rancangan penelitian Cross sectional Study.

Populasi pada penelitian ini adalah seluruh balita dari umur 12-59 bulan

yang berada di wilayah Puskesmas Limboto Barat yaitu sebanyak 1542, dan

banyaknya sampel dalam penelitian ini diambil dengan menggunakan Teknik

Purposive Sampling yaitu sebanayak 361 sampel namun terdapat 2 sampel yang

di drop out oleh peneliti dikarenkan 2 sampel atau responden tersebut berada di

wilayah Daena yang wilayah tersebut tidak di dapat di kunjugi oleh peneliti di

64
karenakan Covid-19 yang pada saat itu Kabupaten Gorontalo Menjadi Wilayah

yang Rawan terjadi Penularan Covid-19 atau Zona Merah.

1. Karakteristik Ibu

a. Distribusi Ibu Berdasarkan Alamat

Tabel 4.1
Distribusi Responden Berdasarkan Alamat Di Wilayah
Kerja Puskesmas Limboto Barat
Tahun 2020

Alamat n %

Haya-haya 63 17,5
Huidu 66 18,4
Huidu Utara 34 9,5
Hutabohu 28 7,8
Padengo 39 10,9
Pone 60 16,7
Yosonegoro 69 19,2
Total 359 100
Sumber: Data Primer 2020

Tabel 4.1 Distribusi Ibu Berdasarkan Alamat bahwa dari 359,

paling banyak terdapat di Desa Yosonegoro yaitu ada 69 (19,2%),

sedangkan paling sedikit terdapat di Desa Hutabohu ada 28 yaitu

(7,8%).

65
b. Distribusi Ibu Berdasarkan Kelompok Umur (Tahun)

Tabel 4.2
Distribusi Ibu Berdasarkan Kelompok Umur (Tahun)
Di Wilayah Kerja Puskesmas Limboto Barat
Tahun 2020

Umur Ibu n %
≤ 25 72 20
26-35 258 71,9
36-45 28 7,8
46-55 1 0,3
Total 359 100
Sumber: Data Primer 2020

Tabel 4.2 Distribusi Ibu Berdasarkan Kelompok Umur bahwa


dari 359 ibu. Yang paling banyak yaitu berumur 26-35 (71,9%) ibu,
sedangkan paling sedikit berumur 46-55 (0,3 %) ibu.

Distribusi Ibu Berdasarkan Berat Badan (kg)


Tabel 4.3
Distribusi Ibu Berdasarkan Berat Badan (kg) Di Wilayah Kerja
Puskesmas Limboto Barat
Tahun 2020
Berat Badan n %
≤ 50 36 10
51-60 202 56,3
61-70 116 32,3
≥ 71 5 1,4
Total 359 100
Sumber: Data Primer 2020

Tabel 4.3 Distribusi Ibu Berdasarkan Berat Badan (kg) bahwa dari 359

ibu, paling banyak yang memiliki berat badan yaitu 51-60 kg (56,3 %) ibu, dan paling

sedikit yaitu ≥ 71 kg (1,4%) ibu.

66
c. Distribusi Ibu Berdasarkan Tinggi Badan (cm)
Tabel 4.4
Distribusi Ibu Berdasarkan Tinggi Badan (cm) Di Wilayah Kerja
Puskesmas Limboto Barat
Tahun 2020
Tinggi Badan n %
≤ 150 48 13,4
151-160 265 73,8
161-170 46 12,8
Total 359 100
Sumber: Data Primer 2020

Tabel 4.4 Distribusi Ibu Berdasarkan Tinggi Badan (cm) bahwa


dari 359 ibu, paling banyak yang memiliki tinggi yaitu 151-160 cm
(73,8%) ibu, dan paling sedikit yaitu 161-170 cm (12,8%) ibu.
Distribusi Ibu Berdasarkan Status Pendidikan
Tabel 4.5
Distribusi Ibu Berdasarkan Status Pendidikan Di Wilayah Kerja
Puskesmas Limboto Barat
Tahun 2020
Status Pendidikan n %
Tidak Tamat SD/MI 35 9,7
Tamat SD/MI 108 30,1
Tamat SLTP/MTS 45 12,5
Tamat SLTA/MA 151 42,1
Tamat Perguruan Tinggi 20 5,6
Total 359 100
Sumber: Data Primer 2020

Tabel 4.5 Distribusi Ibu Berdasarkan Status Pendidikan bahwa dari 359
ibu, paling banyak yaitu Tamat SLTA/MA ada 151 (42,1%) ibu sedangkan paling
sedikit Tamat Perguruan Tinggi ada 20 (5,6%) ibu.

67
d. Distribusi Ibu Berdasarkan Status Pekerjaan
Tabel 4.6
Distribusi Ibu Berdasarkan Status Pekerjaan Di Wilayah Kerja
Puskesmas Limboto Barat
Tahun 2020

Status Pekerjaan n %
URT 309 86
Pegawai Swasta 16 4,5
Wiraswasta 16 4,5
Petani/Buruh Tani 18 5
Total 359 100
Sumber: Data Primer 2020

Tabel 4.6 Distribusi Ibu Berdasarkan Status Pekerjaan bahwa dari


359 ibu, paling banyak yaitu sebagai URT ada 309 (86%) ibu, sedangkan
paling sedikit yaitu Pegawai Swasta ada 16 (4,5%) ibu.

2. Karakteristik Bayi
a. Distribusi Bayi Berdasarkan Kelompok Umur (Bulan)
Tabel 4.7
Distribusi Bayi Berdasarkan Kelompok Umur (Bulan)
Di Wilayah Kerja Puskesmas Limboto Barat
Tahun 2020
Umur Balita n %
≤ 15 24 6,7
16-25 65 18,1
26-35 98 27,3
36-45 82 22,8
46-55 63 17,5
≥ 56 27 7,6
Total 359 100
Sumber: Data Primer 2020

Tabel 4.7 Dsitribusi Bayi Berdasarkan Kelompok Umur bahwa dari 359 Bayi ,
paling banyak berumur yaitu 26-35 (27,3%). Dan paling sedikit yaitu ≤ 15 (6,7%).

68
b. Distribusi Bayi Berdasarkan Jenis Kelamin
Tabel 4.8
Distribusi Bayi Berdasarkan Jenis Kelamin Di Wilayah Kerja
Puskesmas Limboto Barat
Tahun 2020
Jenis Kelamin n %
Laki-Laki 146 40,7
Perempuan 213 59,3
Total 359 100
Sumber: Data Primer 2020

Berdasarkan Tabel 4.8 Distribusi Bayi Berdasarkan Jenis Kelamin

bahwa dari 359 bayi, laki-laki yaitu 146 (40,7%) bayi dan perempuan

yaitu 213 (59,3%) bayi.

c. Distribusi Bayi Berdasarkan Berat Badan (kg)

Tabel 4.9
Distribusi Bayi Berdasarkan Berat Badan (kg) Di Wilayah Kerja
Puskesmas Limboto Barat
Tahun 2020

Berat Badan (kg) n %


≤5 1 0,3
6-15 327 91
16-25 29 8,1
≥ 26 2 0,6
Total 359 100
Sumber: Data Primer 2020

Berdasarkan Tabel 4.9 Distribusi Bayi Berdasarkan Berat Badan

bahwa dari 359 bayi, paling banyak memiliki berat badan yaitu 6-15 kg

(91%) dan paling sedikit yaitu ≤ 5 kg (0,3 %).

69
d. Distribusi Bayi Berdasarkan Tinggi Badan (cm)

Tabel 4.10
Distribusi Bayi Berdasarkan Tinggi Badan (cm) Di Wilayah Kerja
Puskesmas Limboto Barat
Tahun 2020

Tinggi Badan (cm) n %


≤ 70 5 1,3
71-80 75 20,9
81-90 123 34,3
91-100 123 34,3
101-110 31 8,6
≥ 111 2 0,6
Total 359 100
Sumber: Data Primer 2020

Berdasarkan Tabel 4.10 Distribusi Bayi Berdasarkan Tinggi Badan

bahwa dari 359 bayi. Paling banyak yang memiliki tinggi yaitu 81-90 cm

(34,3%) dan paling sedikit yaitu ≥ 111 (0,6%).

3. Analisis Univariat

Analisis univariat bertujuan untuk mengetahui besar frekuensi masing-

masing kategori dari variabel independen yang berisiko dan variabel dependen

berisiko, dan untuk mengetahui adanya homogenitas yaitu bila salah satu

kategori dari variabel independen kurang dari 15 %.

70
a. Distribusi Kejadian Stunting Pada Bayi
Tabel 4.11
Distribusi Bayi Berdasarkan Kejadian Stunting Pada Bayi
Di Wilayah Kerja Puskesmas Limboto Barat
Tahun 2020

Status Gizi Bayi n %

Stunting 106 29,5


Tidak Stunting 253 70,5
Total 359 100
Sumber: Data Primer 2020

Tabel 4.11 distribusi bayi berdasarkan kejadian stunting pada


bayi bahwa dari 359 bayi masih terdapat 106 (29,5%) bayi yang
stunting.
b. Distribusi Bayi Berdasarkan Frekuensi Makan
Tabel 4.12
Distribusi Bayi Berdasarkan Frekuensi Makan Di Wilayah
Kerja Puskesmas Limboto Barat
Tahun 2020

Frekuensi Makan  n  % 
Sering 174  48,5
 Tidak Sering 185  51,5
Total  359  100
Sumber: Data Primer, 2020

Tabel 4.12 disribusi bayi berdasarkan frekuensi makan bahwa


dari 359 bayi (100%) paling banyak bayi yang memiliki frekuensi
makan tidak sering yaitu 185 bayi (51,5%), sedangkan yang sering
yaitu 174 bayi (48,5%).

71
c. Distribusi Bayi Berdasarkan Keanekaragaman Makanan Bayi

Tabel 4.13
Distribusi Bayi Berdasarkan Keanekaragaman Makanan Pada Bayi
Di Wilayah Kerja Puskesmas Limboto Barat
Tahun 2020

Keanekaragaman
n  % 
Makanan 
Beragam  229  63,8
 Tidak Beragam 130  36,2
Total  359  100
Sumber: Data Primer, 2020

Tabel 4.13 disribusi bayi berdasarkan keanekaragaman makanan


bahwa dari 359 bayi (100%) paling banyak bayi yang memiliki
kenekaragaman makanan yang beragam yaitu 229 (63,8%), sedangkan
yang tidak beragam yaitu 130 bayi (36,2%).
d. Distribusi Bayi Berdasarkan Asupan Energi

Tabel 4.14
Distribusi Bayi Berdasarkan Asupan Energi Di Wilayah
Kerja Puskesmas Limboto Barat
Tahun 2020

Asupan Energi  n  % 
Cukup 171  47,6
 Kurang 188  52,4
Total  359  100
Sumber: Data Primer, 2020

Tabel 4.14 disribusi bayi berdasarkan asupan energi bahwa dari


359 bayi (100%) paling banyak bayi yang memiliki asupan energi
kurang yaitu 188 bayi (52,4%), sedangkan yang cukup yaitu 171 bayi
(47,6%).

72
e. Distribusi Bayi Berdasarkan Asupan Karbohidrat
Tabel 4.15
Distribusi Bayi Berdasarkan Asupan Karbohidrat Di Wilayah
Kerja Puskesmas Limboto Barat
Tahun 2020

Asupan
n  % 
Karbohidrat 
Cukup 152  42,3
 Kurang 207  57,7

Total  359  100

Sumber: Data Primer, 2020

Tabel 4.15 disribusi bayi berdasarkan asupan karbohidrat bahwa


dari 359 bayi (100%) paling banyak bayi yang memiliki asupan
karbohidrat kurang yaitu 207 bayi (57,7%), sedangkan yang cukup
yaitu 152 bayi (42,3%).
f. Distribusi Bayi Berdasarkan Asupan Protein

Tabel 4.16
Distribusi Bayi Berdasarkan Asupan Protein Di Wilayah
Kerja Puskesmas Limboto Barat
Tahun 2020

Asupan Protein n  % 
Cukup 204  56,8
 Kurang 155  43,2
Total  359  100
Sumber: Data Primer, 2020

Tabel 4.16 disribusi bayi berdasarkan asupan protein bahwa dari


359 bayi (100%) paling banyak bayi yang memiliki asupan protein
cukup yaitu 204 bayi (56,8%), sedangkan yang kurang yaitu 155 bayi
(43,2%).

73
g. Distribusi Bayi Berdasarkan Asupan Lemak
Tabel 4.17
Distribusi Bayi Berdasarkan Asupan Lemak Di Wilayah
Kerja Puskesmas Limboto Barat
Tahun 2020

Asupan Lemak n  % 
Cukup 205  57,1
 Kurang 154  42,9
Total  359  100
Sumber: Data Primer, 2020

Tabel 4.17 disribusi bayi berdasarkan asupan lemak bahwa dari


359 bayi (100%) paling banyak bayi yang memiliki asupan lemak cukup
yaitu 205 bayi (57,1%), sedangkan yang kurang yaitu 154 bayi (42,9%).

h. Distribusi Bayi Berdasarkan Asupan Zink

Tabel 4.18
Distribusi Bayi Berdasarkan Asupan Zink Di Wilayah
Kerja Puskesmas Limboto Barat
Tahun 2020

Asupan Zink n  % 

Cukup 184  51,3


 Kurang 175  48,7
Total  359  100
Sumber: Data Primer, 2020

Tabel 4.18 disribusi bayi berdasarkan asupan zink bahwa dari


359 bayi (100%) paling banyak bayi yang memiliki asupan zink cukup
yaitu 184 bayi (51,3%), sedangkan yang kurang yaitu 175 bayi (48,7%).

74
i. Distribusi Bayi Berdasarkan Asupan Kalsium
Tabel 4.19
Distribusi Bayi Berdasarkan Asupan Kalsium Di Wilayah
Kerja Puskesmas Limboto Barat
Tahun 2020

Asupan Kalsium  n  % 
Cukup 4 1,1
 Kurang 355 98,9
Total  359  100
Sumber: Data Primer, 2020

Tabel 4.19 disribusi bayi berdasarkan asupan kalsium bahwa dari


359 bayi (100%) paling banyak bayi yang memiliki asupan calcium
kurang yaitu 355 bayi (98,9%), sedangkan yang cukup yaitu 4 bayi
(1,1%).
j. Distribusi Bayi Berdasarkan ASI Eksklusif

Tabel 4.20
Distribusi Bayi Berdasarkan ASI Eksklusif Di Wilayah Kerja
Puskesmas Limboto Barat
Tahun 2020

ASI Eksklusif  n  % 

Ya 67  18,7
 Tidak 292  81,3
Total  359  100
Sumber: Data Primer, 2020

Tabel 4.20 disribusi bayi berdasarkan ASI Eksklusif bahwa dari


359 bayi (100%) paling banyak bayi yang tidak ASI Eksklusif yaitu 292
(81,3%), sedangkan yang ASI Eksklusif yaitu 67 bayi (18,7%).

75
4. Analisis Bivariat

Analisis bivariat bertujuan untuk melihat adanya hubungan variabel

penelitian dengan kejadian stunting dapat disajikan dengan bentuk tabel

sebagai berikut:

a. Hubungan Frekuensi Makan Kejadian Stunting Di Puskesmas Limboto

Barat Tahun 2020

Tabel 4.21
Hubungan Frekuensi Makan Degan Kejadian Stunting
Di Puskesmas Limboto Barat
Tahun 2020

 Kejadian Stunting   x 2 hitung


 Tidak Total  p
Frekuensi Makan  Stunting
Stunting value
n  %  n  %  n  % 
Sering 51 29,3 123 77,7 174 100 
 Tidak Sering  55 29,7  130 77,3  185  100 0,000
1,000
 Total  106 29,5  253 70,5  359  100
Sumber: Data Primer, 2020

Tabel 4.21 dapat diketahui bahwa dari 359 bayi (100%) balita

yang memiliki frekuensi makan Sering yaitu 174 bayi (100%) paling

banyak yang tidak stunting yaitu 123 bayi (77,7%), begitupun balita

yang memiliki frekuensi makan yang tidak sering yaitu 185 (100%)

paling banyak yang tidak stunting yaitu 130 (77,3%).

Hasil uji statistik menggunakan uji Chi Square, diperoleh nilai x 2

hitung 0,000 < x 2 tabel=3,841 dengan niali p value (1,000) >α 0,05 ini berati

76
H0 diterima dan Ha di tolak, yang berati tidak ada hubungan Frekuensi

Makan dengan kejadian stunting di wilayah kerja Puskesmas Limboto

Barat.

b. Hubungan Keanekaragaman Makanan Dengan Kejadian Stunting Di

Puskesmas Limboto Barat Tahun 2020

Tabel 4.22
Hubungan Keanekaragaman Makanan Degan Kejadian
Stunting Di Puskesmas Limboto Barat
Tahun 2020

 Kejadian Stunting   x 2 hitung


Kenekaragaman  Tidak Total  p
 Stunting
Makanan Stunting value
n  %  n  %  n  % 
 Beragam 23 10,3 200 89,7 223 100 
 Tidak Beragam  83 61,0   53 33,0  136  100 0,163
0,687
 Total  106 29  253 70,5  359  100
Sumber: Data Primer, 2020

Tabel 4.22 dapat diketahui bahwa dari 359 bayi (100%) bayi

yang memiliki keanekaragaman makanan yang beragam yaitu 223

(100%) paling banyak yang tidak stunting yaitu 200 balita (89,7%),

begitupun balita yang memiliki keanekaragaman Tidak Beragam yaitu

183 (100%) paling banyak yang tidak stunting yaitu 53 (33,0%)

Hasil uji statistik menggunakan uji Chi Square, diperoleh nilai x 2

hitung 0,163 < x 2 tabel=3,841 dengan niali p value (0,687) >α 0,05 ini berati

H0 diterima dan Ha di tolak, yang berati tidak ada hubungan

77
keanekaragaman makanan dengan kejadian stunting di wilayah kerja

Puskesmas Limboto Barat.

c. Hubungan Asupan Energi Dengan Kejadian Stunting Di Puskesmas

Limboto Barat Tahun 2020

Tabel 4.23
Hubungan Asupan Energi Degan Kejadian Stunting
Di Puskesmas Limboto Barat
Tahun 2020

 Kejadian Stunting   x 2 hitung


 Tidak Total  p
Asupan Energi  Stunting
Stunting value
n  %  n  %  n  % 
Cukup 22 12,9 149 87,1 171 100 
 Kurang  84 44,7  104 55,3  188  100 42,045
0,000
 Total  106 29,5  253 70,5  359  100
Sumber: Data Primer, 2020

Tabel 4.23 dapat diketahui bahwa dari 359 bayi (100%) bayi

yang memiliki asupan energi cukup yaitu 171 bayi (100%) paling

banyak yang stunting yaitu 22 balita (12,9%), begitupun balita yang

memiliki asupan energi kurang yaitu 188 (100%) paling banyak yang

stunting yaitu 84 (44,7%).

Hasil uji statistik menggunakan uji Chi Square, diperoleh nilai x 2

hitung 42,045 > x 2 =3,841 dengan niali p value (0,000) <α 0,05 ini
tabel

berati H0 ditolak dan Ha di terima, yang berati ada hubungan asupan

78
energi dengan kejadian stunting di wilayah kerja Puskesmas Limboto

Barat.

d. Hubungan Asupan Karbohidrat Dengan Kejadian Stunting Di

Puskesmas Limboto Barat Tahun 2020

Tabel 4.24
Hubungan Asupan Karbohidrat Degan Kejadian Stunting
Di Puskesmas Limboto Barat
Tahun 2020

 Kejadian Stunting   x 2 hitung


Asupan  Tidak Total  p
 Stunting
Karbohidrat Stunting value
n  %  n  %  n  % 
Cukup 14 9,3 136 90,7 150 100 
 Kurang  92 44,0 117 56,0  209  100 48,837
0,000
 Total  106 29,5  253 70,5  359  100
Sumber: Data Primer, 2020

Tabel 4.24 dapat diketahui bahwa dari 359 bayi (100%) bayi

yang memiliki asupan Karbohidrat cukup yaitu 150 (100%) yang

stunting yaitu 14 balita (9,3%), begitupun balita yang memiliki asupan

Karbohidrat kurang yaitu 209 (100%) yang stunting yaitu 183 (88,4%).

Hasil uji statistik menggunakan uji Chi Square, diperoleh nilai x 2

hitung 48,837 < x 2 =3,841 dengan niali p value (0,000) <α 0,05 ini
tabel

berati H0 ditolak dan Ha di terima, yang berati ada hubungan asupan

Karbohidrat dengan kejadian stunting di wilayah kerja Puskesmas

Limboto Barat.

79
e. Hubungan Asupan Protein Dengan Kejadian Stunting Di Puskesmas

Limboto Barat Tahun 2020

Tabel 4.25
Hubungan Asupan Protein Degan Kejadian Stunting
Di Puskesmas Limboto Barat
Tahun 2020

 Kejadian Stunting   x 2 hitung


 Tidak Total  p
Asupan Protein  Stunting
Stunting value
n  %  n  %  n  % 
Cukup 24 11,8 180 88,2 204 100 
 Kurang  82 52,9 73 47,1  155  100 69,672
0,000
 Total  106 29,5  253 70,5  359  100
Sumber: Data Primer, 2020

Tabel 4.25 dapat diketahui bahwa dari 359 bayi (100%) bayi

yang memiliki asupan protein cukup yaitu 204 (100%) paling banyak

yang stunting yaitu 24 balita (11,8%), begitupun balita yang memiliki

asupan protein kurang yaitu 155 (100%) paling banyak yang stunting

yaitu 82 (52,9%).

Hasil uji statistik menggunakan uji Chi Square, diperoleh nilai x 2

hitung 69,672 > x 2 =3,841 dengan niali p value (0,000) <α 0,05 ini
tabel

berati H0 ditolak dan Ha di terima, yang berati ada hubungan asupan

protein dengan kejadian stunting di wilayah kerja Puskesmas Limboto

Barat.

80
f. Hubungan Asupan Lemak Dengan Kejadian Stunting Di Puskesmas

Limboto Barat Tahun 2020

Tabel 4.26
Hubungan Asupan Lemak Degan Kejadian Stunting
Di Puskesmas Limboto Barat
Tahun 2020

 Kejadian Stunting   x 2 hitung


 Tidak Total  p
Asupan Lemak  Stunting
Stunting value
n  %  n  %  n  % 
Cukup 28 13,7 177 86,3 205 100 
 Kurang  78 50,6 76 49,4  154  100 56,063
0,000
 Total  106 29,5  253 70,5  359  100
Sumber: Data Primer, 2020

Tabel 4.26 dapat diketahui bahwa dari 359 bayi (100%) bayi

yang memiliki asupan lemak cukup yaitu 205 (100%) paling banyak

yang stunting yaitu 28 balita (13,7%), begitupun balita yang memiliki

asupan Lemak kurang yaitu 154 (100%) paling banyak yang stunting

yaitu 78 (50,6).

Hasil uji statistik menggunakan uji Chi Square, diperoleh nilai x 2

hitung 56,063 > x 2 =3,841 dengan niali p value (0,000) <α 0,05 ini
tabel

berati H0 di tolak dan Ha di terima, yang berati ada hubungan asupan

lemak dengan kejadian stunting di wilayah kerja Puskesmas Limboto

Barat.

81
g. Hubungan Asupan Zink Dengan Kejadian Stunting Di Puskesmas

Limboto Barat Tahun 2020

Tabel 4.27
Hubungan Asupan Zink Degan Kejadian Stunting
Di Puskesmas Limboto Barat
Tahun 2020

 Kejadian Stunting   x 2 hitung


 Tidak Total  p
Asupan Zink  Stunting
Stunting value
n  %  n  %  n  % 
Cukup 41 22,3 143 77,7 184 100 
 Kurang  65 37,1 110 62,9 157  100 1,699
0,192
 Total  106 29,5  353 70,5  359  100
Sumber: Data Primer, 2020

Tabel 4.27 dapat diketahui bahwa dari 359 bayi (100%) bayi

yang memiliki asupan zink cukup yaitu 184 (100%) yang stunting yaitu

41 bayi (22,3%), begitupun balita yang memiliki asupan Zink kurang

yaitu 157 (100%) yang stunting yaitu 65 (37,1%).

Hasil uji statistik menggunakan uji Chi Square, diperoleh nilai x 2

hitung 1,699 < x 2 tabel=3,841 dengan niali p value (0,192) >α 0,05 ini berati

H0 diterima dan Ha di tolak, yang berati tidak ada hubungan asupan

zink dengan kejadian stunting di wilayah kerja Puskesmas Limboto

Barat

82
h. Hubungan Asupan Kalsium Dengan Kejadian Stunting Di Puskesmas

Limboto Barat Tahun 2020

Tabel 4.28
Hubungan Asupan Kalsium Degan Kejadian Stunting
Di Puskesmas Limboto Barat
Tahun 2020

 Kejadian Stunting   x 2 hitung


 Tidak Total  p
Asupan Kalsium  Stunting
Stunting value
n  %  n  %  n  % 
Cukup 2 50,0 2 50,0 4 100 
 Kurang  104 29,3 251 70,7 355  100 1,000
0,713
 Total  106 29,5  253 70,5  359  100
Sumber: Data Primer, 2020

Tabel 4.28 dapat diketahui bahwa dari 359 bayi (100%) bayi

yang memiliki asupan calcium cukup yaitu 4 (100%) paling banyak

yang tidak stunting yaitu 2 bayi (100%), begitupun bayi yang memiliki

asupan kalsium kurang yaitu 355 (100%) paling banyak yang tidak

stunting yaitu 104 (29,3%).

Hasil uji statistik menggunakan uji Chi Square, diperoleh nilai x 2

hitung 1,000 < x 2 tabel=3,841 dengan niali p value (0,713) >α 0,05 ini berati

H0 diterima dan Ha di tolak, yang berati tidak ada hubungan asupan

calcium dengan kejadian stunting di wilayah kerja Puskesmas Limboto

Barat.

83
i. Hubungan ASI Eksklusif Kejadian Stunting Di Puskesmas Limboto

Barat Tahun 2020

Tabel 4.29
Hubungan ASI Eksklusif Degan Kejadian Stunting
Di Puskesmas Limboto Barat
Tahun 2020

 Kejadian Stunting   x 2 hitung


 Tidak Total  p
ASI Eksklusif  Stunting
Stunting value
n  %  n  %  n  % 
Ya 17 25,4 50 74.6 67 100 
 Tidak  89 30,5  203 69.5  292  100 0,002
0,965
 Total  106 29,5  253 70,5  359  100
Sumber: Data Primer, 2020

Tabel 4.29 dapat diketahui bahwa dari 359 bayi (100%) bayi

yang ASI Eksklusif yaitu 67 (100%) paling banyak yang tidak stunting

yaitu 61 balita (91,0%), begitupun balita yang tidak ASI Ekslusif yaitu

292 (100%) paling banyak yang tidak stunting yaitu 269 (92,1%).

Hasil uji statistik menggunakan uji Chi Square, diperoleh nilai x 2

hitung 0,002 < x 2 tabel=3,841 dengan niali p value (0,965) >α 0,05 ini berati

H0 diterima dan Ha di tolak, yang berati tidak ada hubungan ASI

Eksklusif dengan kejadian stunting di wilayah kerja Puskesmas Limboto

Barat.

84
B. Pembahasan
Penelitian ini melihat Faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian

Stuntingterdiri dari, Keaneka ragaman makanan, Asi Ekslusif,Frekuensi

makan,asupan Energi, asupan Protein,asupan,Lemak,asupan Karbohidrat,Asupan

Calcium,dan asupan Zink. Untuk melihat adanya Hubungan antar Variebel

Dependen dan Independen,maka setelah dilakukan analisis dengan pengujian Uji

Hipotesis dan Uji Chi-squereMaka di uraikan sebagai beriku

1. Hubunganm Frekuensi makan dengan Kejadian Stunting

Rendahnya asupan energi pada balita stunting kemungkinan

disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya frekuensi dan jumlah pemberian

makan, nafsu makan balita berkurang, densitas energi yang rendah, dan ada

penyakit infeksi penyerta. Kejadian stunting merupakan peristiwa yang terjadi

dalam periode waktu yang lama.

Hasil penelitian di peroleh bahwa dari 359 bayi (100%) bayi yang

memiliki frekuensi makan Sering yaitu 174 bayi (100%) paling banyak yang

tidak stunting yaitu 123 bayi (77,7%), begitupun bayi yang memiliki frekuensi

makan yang tidak sering yaitu 185 (100%) paling banyak yang tidak stunting

yaitu 130 (77,3%).

Hasil uji statistik menggunakan uji Chi Square, diperoleh nilai x 2 hitung

0,000 < x 2 =3,841 dengan niali p value (1,000) >α 0,05 ini berati H0
tabel

diterima dan Ha di tolak, yang berati tidak ada hubungan Frekuensi Makan

dengan kejadian stunting di wilayah kerja Puskesmas Limboto Barat.

85
Penelitian yang dilakukan oleh Rusmin pada tahun 2019 bahwa

terdapat hubungan antara perilaku ibu dalam pemberian makanan secara

cukup yaitu >3 kali makan perhari dengan kejadian stunting. Adapun

penelitian yang dilakkan oleh Hendrayati pada tahun 2015 didapatkan hasil

bahwa praktek pemberin makanan dengan frekuensi cukup merupakan salah

satu faktor penentu kejadian stunting. (Rusmil et al., 2019) dan adapun dalam

penelitian yang dilakukan Oleh Baye di Etiopia pada tahun 2017 di dapatkan

hasil frekuensi pemberian makanan responsive berhubungan dengan kejadian

stunting serta dukungan orang tua terhadap pemberian makanan secara teratur

pada anak akan menurunkan angka kejadian stunting di wilayah Etiopia.

Karena dalam proses pemberian makanan tersebut selain memenui kebutuhan

anak dapat juga membangun hubungan emosional antara ibu dan anak. (Baye

2017) Serta dalam penelitian yang dilakukan oleh Menon di Amerika Latin

pada anak usia 12-36 bulan menunjukan bahwa praktek pemberian makanan

berhubungan dengan kejadian status gizi berdasarkan tinggi badan menurut

umur. (Menon 2002)

Asumsi peneliti anak yang mengalami stunting dengan Frekunsi

makan yang Sering yaitu > 3 kali makan/ hari Tidak Stunting hal tersebut

dikarenakan jumlah makanan balita tersebut terpenuhi dengan baik. Namun

adapun balita yang Frekuensi makana Sering yaitu > 3 kali makan /hari namun

Balita tersebut mengalami stunting. Hal ini di pengaruhi oleh status Gizi ibu

pada saat kehamilan mengalami Anemia yaitu kurangnya zat besi pada ibu

86
hamil, hal tersebut mempengaruhi proses pertumbuhan bayi dalam

kandungannya. Karena ibu yang menglami Anemia lebih beresiko melahirkan

bayi yang Stunting.

Hasil penelitian yang di lakukan di Puskesmas Limboto Barat bahwa

Tidak ada hubungan antara Frekuensi Makan dengan kejadian Stunting

dikarenakan penyebab balita menjadi stunting ini bukan hanya pengaruhi dari

jumlah atau seberapa sering balita tersebut di beri Asupan tetapi stunting

sendiri bisa pengaruhi oleh faktor lain seperti Status Gizi ibu pada saat

kehamilan, dan kandungan gizi dalam makanan yang di berikan oleh orang

tua. Hal ini diperlukan pengetahuan orang tua terhadap Asupan atau makanan

yang memiliki nilai gizi yang baik dan tepat di berikan kepada balita,untuk

mendukung dan mencukupi asupan yang dibutuhkan oleh anak dalam proses

pertumbuhan.

2. Hubungan Keaneka Ragaman Makanan dengan Kejadian stunting

Salah satu faktor yang memepengaruhi pertumbuhan anak terganggu

yang akan memepangaruhi perkembangan seluruh tubuh Kekurangan gizi,

dapat dikarenakan jumlah asupan gizi yang kurang .dikarenakan ketidak

seimbangan antara pemasukan zat gizi yang di perlukan oleh tubuh. Oleh

sebabnya dibutuhkan konsumsi makanan yang beranekaragam. Makin

beragam maknan yang di konsumsi maka makin mudah terpenuhi kebutuhan

akan berbagai zat gizi yang di butuhkan oleh tubuh.

87
Hasil penelitan yang dilakukan di Puskesmas Limboto Barat dapat

diketahui bahwa dari 359 bayi (100%) bayi yang memiliki keanekaragaman

makanan yang beragam yaitu 223 (100%) paling banyak yang tidak stunting

yaitu 200 balita (89,7%), begitupun balita yang memiliki keanekaragaman

Tidak Beragam yaitu 183 (100%) paling banyak yang tidak stunting yaitu 53

(33,0%)

Hasil uji statistik menggunakan uji Chi Square, diperoleh nilai x 2 hitung

0,163 < x 2 =3,841 dengan niali p value (0,687) >α 0,05 ini berati H0
tabel

diterima dan Ha di tolak, yang berati tidak ada hubungan keanekaragaman

makanan dengan kejadian stunting di wilayah kerja Puskesmas Limboto

Barat.

Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh

Widyaningsih pada tahun 2018 Variabel Kergaman pangan diperoleh hasil p

value sebesar 0,459 berarti tidak ada hubungan antara variasi makanan yang

diberikan dengan kejadian stunting pada balita. Berdasarkan analisis bivariat,

diketahui bahwa ibu yang memberikan makanan tidak bervariasi cenderung

mempunyai anak stunting sebesar 67,6% jika dibandingkan dengan responden

yang memberikan balita makanan bervariasi sebesar 44,4%.Kemudian dari hasil

analisis diperoleh hasil Prevalence Ratio (PR) yaitu 1,644 yang artinya tidak ada

hubungan antara pemberian makan yang bervariasi dengan kejadian stunting pada

anak balita. Selain itu pada tahun 2018 di lakukan penelitian hubungan

keragaman makanan dengan kejadian stunting yang di lakukan oleh

88
Widyanigsih dkk menunjukkan bahwa sebanyak 85,4% balita yang asupan

makannya tidak beragam mengalami stunting dan hanya 14,6% balita yang

asupan makannya beragam yang mengalami stunting.

Uji chi square menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna

antara keragaman pangan dengan kejadian stunting pada balita dengan nilai p

value (p≤0,05). Selain itu dalam hasil penelitian sebelumnya yang di lakukan

yang di lakukan di Negiria dan Cina menunjukan bahwa rata-rat skort

keragaman makanan pangan pada balita di kedua Negara tersebut lebih tinggi

jika dibandkan dengan penelitian yang dilakukan di Indoneseia hal ini

disebabkan karena adanya perbedan pola makan dan keadaan social ekonomi

antara Negara yang satu dan Negara yang lainnya. (Gonzalez dkk 2017)

Hasil Observasi dilapangan di dapatkan Bahwa anak yang Asupan

makannya Beragam yaitu balita dalam sehari makan Nasi+ ikan + sayur +buah,

dan balita tersebut tidak Stunting hal tersebut berpngaruh pada status gizi balita

semakin beragam makanan yang di konsumsi maka akan semakin terpenuhi

asupan balita tersebut. Namun dalam penelitian ini juga terdapat balita yang

Asupan makannya beragam tetapi balita tersebut stunting hal ini di karenakan

kerebragaman makanan belum bisa menjamin untuk balita tersebut tidak akan

mengalami stunting karena faktor penyebab stuting itu sendiri ada bebrapa yang

dapat mempengaruhi balita stunting salah satunya yaitu karena keturunan atau

Gen bawaan dari orang tua. Orang tua yang Pendek Akan berpeluang untuk

melahirkan bayi yang pendek juga.

89
Hasil penelitian yang di lakukan wilayah Kerja Puskesmas Limboto Barat

di peroleh Hasil bahwa Tidak ada hubungan Keanekaragaman Makanan dengan

Kejadian stunting. Hal ini di karenakan walaupun balita dengan asupan makanan

yang beragam tetapi memiliki riwayat atau keturunan Gen dari orang tua yang

pendek hal tersebut dapat mempengaruhi pertumbuhan dari anak tersebut karena

mewarisi gen dari ayah atau ibu yang pendek pula.

3. Hubungan Asupan Energi dengan kejadian stunting

Kejadian stunting di Negara berkembang berkaitan dengan pola asuh

atau pemberian makan yang kurang tepat dan mengakibatkan penurunan

asupan yang dibutuhkan oleh anak. pada umumnya disebabkan oleh banyak

faktor yang saling berhubungan konsumsi zat gizi seperti salah satunya

adalah Asupan energi yang memiliki pengaruh langsung terhadap proses

pertumbuhan anak kurangnya asupan nutrisi untuk anak akan menyebabkan

bertambahnya anak dengan growth faltering. (Kusharisupeni 2011).dan

adapun penelitian yang dilakukan oleh Adani dan Nindia pada tahun 2017

yang melaporkan bahwa adanya hubungan asupan energi dengan kejadian

stunting di Wilayah Surabaya.(Adani & Nindya, 2017) Hal ini sejalan dengan

penelitian yang di lakukan di Mesir yaitu terdapat perbedaan yang singnifikan

asupan energy pada kelompok balita stunting dan non stunting dengan nilai p

adalah 0,001 yang berarti adanya hubungan antara asupan energy dengan

kejadian stunting di Mesir. (Abussalam 2013)

90
Hasil penelitian ini dengan melakukan recall 24 jam dapat dapat

diketahui bahwa dari 359 bayi (100%) bayi yang memiliki asupan energi

cukup yaitu 171 bayi (100%) paling banyak yang stunting yaitu 22 bayi

(12,9%), begitupun bayi yang memiliki asupan energi kurang yaitu 188

(100%) paling banyak yang stunting yaitu 84 (44,7%).

Hasil uji statistik menggunakan uji Chi Square, diperoleh nilai x 2 hitung

42,045 > x 2 =3,841 dengan niali p value (0,000) <α 0,05 ini berati H0
tabel

ditolak dan Ha di terima, yang berati ada hubungan asupan energi dengan

kejadian stunting di wilayah kerja Puskesmas Limboto Barat.

Penelitian yang di lakukan di Limboto barat sejalan dengan penelitian

sebelumnya yang di lakukan oleh Tika dwi afwar dkk yang Berdasarkan

analisa bivariat dengan uji Chi-Square didapatkan p-velue = 0,037< derajat

kemaknaan 95% (α = 0,05). Artinya terdapat hubungan yang bermakna antara

asupan energi dengan kejadian stunting pada [Link] itu penelitian yang

di lakukan oleh Eko setiwan Dkk pada tahun 2018 menunjukkan bahwa

terdapat hubungan yang bermakna antara tingkat asupan energi dengan

kejadian stunting pada anak usia 24-59 bulan di wilayah kerja Puskesmas

Andalas Kecamatan Padang Timur Kota Padang.(Setiawan et al., 2018)

Asumsi peneliti berdasarkan hasil yng di temui di lapangan Balita

yang Asupan energinya terpenuhi dan Tidak stunting hal ini di karenakan

91
salah satu faktor dariterjadinya stunting pada balita yaitu tidak tercukupinya

zat gizi baik makro maupun zat gizi mikro dan ketika asupan terpenuhi maka

hal tersebut tidak akan menyebabkan balita mengalami stunting. Namun

dalam penlitian ini juga terdapat Balita yang Asupan energinya terpenuhi atau

cukup yaitu > 80% AKG tetapi balita tersebut mengalami Stunting. Hal ini

dapat ditinjau dari segi Kelengkapan imunisasi balita tersebut Imunisasi

merupakan Hal yang sangat penting karena dapat meningkatkan daya tahan

tubuh anak.

Hasil yang di temui oleh peneliti di wailayah kerja Puskesmas

Limboto Barat Ada hubungan Asupan Energi dengan Kejadian [Link]

ini dikarenakan pada masa awal anak-anak yang di tandai dengan pertubuhan

dengan mencukupi kebutuhan energi yang adekuat merupakan hal yang sangat

penting bagi proses pertumbuhan, energi tersebut bersumber dari zat gizi

makro yaitu Karbohidrat,Protein dan Lemak dan zat gizi mikro yang di

konsumsi oleh balita.

4. Hubungan Asupan Karbohidrat dengan kejadian stunting

Status gizi pada balita dapat dipengaruhi oleh asupan zat gizi balita.

Asupan zat gizi makro berperan dalam penyediaan energi dan berhubungan

dengan status gizi balita.3 Perubahan status gizi menjadi baik atau normal

dapat dipengaruhi oleh tingkat asupan energi yang cukup.

92
Hasil penelitian dengan melakukan Recall 24 jam dapat diketahui

dapat diketahui bahwa dari 359 bayi (100%) bayi yang memiliki asupan

Karbohidrat cukup yaitu 150 (100%) yang stunting yaitu 14 bayi (9,3%),

begitupun bayi yang memiliki asupan Karbohidrat kurang yaitu 209 (100%)

yang stunting yaitu 183 (88,4%).

Hasil uji statistik menggunakan uji Chi Square, diperoleh nilai x 2 hitung

48,837 < x 2 =3,841 dengan niali p value (0,000) <α 0,05 ini berati H0
tabel

ditolak dan Ha di terima, yang berati ada hubungan asupan Karbohidrat

dengan kejadian stunting di wilayah kerja Puskesmas Limboto Barat.

Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Qamariah pada

tahun 2018 di daptkan hasil analisis yaitu hubungan antara asupan karbohidrat

dengan kejadian stunting pada balita diperoleh bahwa sebagian besar asupan

karbohidrat kurang sebesar 54,5% dan asupan karbohidrat cukup pada balita

stunting sebesar 13,9%. Di dapatkan hasil uji statistik p-value 0,003, berarti

ada hubungan yang signifikan antara tingkat asupan karbohidrat dengan

kejadian stunting.(Qamariyah & Nindya, 2018) penelitian ini sejalan dengan

penelitian yang di lakukan di wilayah Afrika barat yaitu adanya hubungan

asupan zat gizi makro terhadap kejadian stunting di wilayah Burkino faso.

Dalam peneitian (Asrar et al., 2009)

93
Asumsi peneliti Asupan Karbohidrat yang cukup yaitu > 80% AKG

menyebabkan Balita Tidak mengalami Stunting hal ini di karenakan

karbohidrat merupakan asupaan zat gizi yang penting dalam proses

pertumbuhan selain itu karbohidrat juga salah satu penghasil energy terbesar

yang di butuhkan oleh tubuh terlebih pada anak yang mengalami masa

pertubuhan. Namun dalam penelitian ini pula terdapat balita yang Asupan

Karbohidratnya terpenuhi dan balita tersebut tetap mengalami Stunting, hal ini

di sebabkan oleh faktor lain yaitu dilihat dari riwayat penyakit infeksi yang di

alami oleh balita tersebut,karena jika asupan karbohidrat atau zat gizi

makronya tercukupi namun ada bawaan penyakit infeksi hal ini dapat

mempengaruhi pertumbuhan dari balita tersebut,karena asupan yang masuk

kedalam tubuh dengan adanya penyakit infeksi tersebut, maka asupan yang

masuk kedalam tubuh tidak akan termetabolisme dengan baik keseluruh

tubuh.

Data yang di dapatkan oleh peneliti di wilayah kerja Puskesmas

Limboto Barat Ada Hubungan Asupan Karbohidrat dengan kejadian Stunting.

Hal ini disebabkan oleh asupan karbohidrat merupakan asupan zat gizi makro

yang terdiri dari 3 unsur penyusun karbohidrat yaitu Karbon (C) ,Hidrogen

(H) dan Oksigen (O). Yang ketika masuk kedalam tubuh melalui proses

metobolisme zat gizi yang akan di pecah menjadi Glukosa yang akan menjadi

94
sumber energi untuk aktifitas sel, karbohidrat sendiri menyedikan energi

untuk seluruh tubuh.

5. Hubungan Asupan Protein dengan Kejadian Stunting

Protein adalah salah satu zat gizi makro yang berfungsi sebagai

reseptor yang dapat mempengaruhi fungsi-fungsi DNA yang mengendalikan

proses pertumbuhan dengan mengatur sifat dan karater bawannya. Kualitas

dan kuantitas asupan protein yang baik dapat berfungsi sebagai Insulin growth

factor 1 (IGF-1) yang merupakan mediator dari hormon pertumbuhan dan

pembentuk matriks tulang8. Asupan protein yang kurang dapat merusak

massa mineral tulang dengan cara merusak produksi IGF-1, yang

mempengaruhi pertumbuhan tulang dengan merangsang poliferasi dan

diferensiasi kondrosit di lempeng epifisi pertumbuhan dan akan memengaruhi

osteoblas. Jika balita kekurangan asupan protein, ia dapat mengalami

gangguan pertumbuhan linier.(Alumnus et al., 2012)

Hasil penelitian dengan melakukan Recall 24 jam dapat diketahui

dapat diketahui bahwa dari 359 bayi (100%) bayi yang memiliki asupan

protein cukup yaitu 204 (100%) paling banyak yang stunting yaitu 24 bayi

(11,8%), begitupun bayi yang memiliki asupan protein kurang yaitu 155

(100%) paling banyak yang stunting yaitu 82 (52,9%).

95
Hasil uji statistik menggunakan uji Chi Square, diperoleh nilai x 2 hitung

69,672 > x 2 =3,841 dengan niali p value (0,000) <α 0,05 ini berati H0
tabel

ditolak dan Ha di terima, yang berati ada hubungan asupan protein dengan

kejadian stunting di wilayah kerja Puskesmas Limboto Barat.

Penelitian ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang di lakukan

oleh Ayunigtias pada rahun 2018 Berdasarkan uji statistik terdapat hubungan

antara asupan protein dengan kejadian stunting pada balita usia 24-59 bulan

diperoleh nilai p (0,008) p<0,05. (Ayuningtyas et al., 2018). Hal ini sejalan

dengan penelitian yang dilakukan oleh adani yang menyatakan bahwa adanya

hubungan yang singnifikan antara asupan protein dengan kejadian stunting

(Adani & Nindya, 2017)

Asumsi peneliti balita yang asupan proteinnya terpenuhi atau cukup

yaitu > 80% AKG dan Tidak mengalami stunting hal ini dikarenakan asupan

protein memiliki pengaruh terhadap proses pertumbuhan balita protein sediri

merupakan senyawa organic yang kompleks dan sala satu makro nutrient

yang berperan sebagai penyedia energy dalam tubuh. Namun adapun balita

yang asupan Protein terpenuhi tapi balita tersebut Mengalami stunting.

penyebab stunting bukan hanya disebabkan oleh Asupan zaat gizi saja,bisa

jadi asupan zat gizi balita terpenuhi tapi jika pada saat balita tersebut masih

dalam kandungan atau rahim ibunya dan pada saat kehamilan Ibu mengalami

Kekurangan Energi Kronis (KEK) hal ini dapat menyebabkan anak menjadi

96
stunting karena ibu yang mengalami KEK akan berpeluang untuk melahirkan

bayi yang stunting. Dikarenakan tidak tercukupinya asupan selama kehamilan.

Hasil yang diperoleh di lapanagan yaitu Diwilayah Kerja Puskemas

Limboto Barat Ada Hubungan Asupan Protein Dengan Kejadian Stunting. Hal

ini dikarenakan asupan Protein Merupakan salah satu asupan zat Gizi makro

yang sangat penting dan dibutuhkan oleh tubuh, Protein sendiri berfungsi

sebagai zat [Link] dibutuhkan untuk mendukung pertubuhan otak

bayi dan protein merupakaan salah satu zat gizi yang mendukung daya tahan

tubuh dari balita tersebut. Sumber protein yang diperoleh atau yang paling

banyak dikonsumsi oleh balita yang ada di wilayak kerja Puskesmas Limboto

Barat terdiri dari ikan dan telur,serta mengonsumsi susu.

6. Hubungan Asupan Lemak dengan Kejadian Stunting

Lemak adalah suatu zat yang kaya akan energi, berfungsi sebagai

sumber energy, Zat gizi lemak berperan untuk mengangkut vitamin larut

lemak yang dibutuhkan tubuh, oleh karena itu lemak merupakan salah satu

faktor pertumbuhan (Almatsier, 2009). Lemak merupakan zat yang berfungsi

sebagai pengatur pertumbuhan dan pemeliharaan, sehingga jika asupan lemak

tidak tercukupi dan kebutuhan vitamin di dalam tubuh tidak terpenuhi, maka

akan mengakibatkan terganggunya proses dalam tubuh yang dapat menganggu

pertumbuhan menjadi lambat. Penelitian di Sulawesi Selatan menunjukkan

asupan lemak berhubungan dengan stunting pada balita Hal ini dikarenakan

97
dalam lemak terkandung asam lemak esensial yang memiliki peran dalam

mengatur kesehatan. Selain itu simpanan energi dapat berasal dari konsumsi

lemak dan lemak sebagai alat pengangkut dan pelarut vitamin larut lemak

dalam tubuh dimana fungsi-fungsi tersebut sangat mempengaruhi

pertumbuhan balita (Ainy, 2010).

Hasil penelitian dengan mengunakan Recall 24 jam dapat diketahui

dapat diketahui dapat diketahui bahwa dari 359 bayi (100%) bayi yang

memiliki asupan lemak cukup yaitu 205 (100%) paling banyak yang stunting

yaitu 28 bayi (13,7%), begitupun bayi yang memiliki asupan Lemak kurang

yaitu 154 (100%) paling banyak yang stunting yaitu 78 (50,6).

Hasil uji statistik menggunakan uji Chi Square, diperoleh nilai x 2 hitung

56,063 > x 2 =3,841 dengan niali p value (0,000) <α 0,05 ini berati H0 di
tabel

tolak dan Ha di terima, yang berati ada hubungan asupan lemak dengan

kejadian stunting di wilayah kerja Puskesmas Limboto Barat.

Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Zilda

Oktarina pada tahun 2015 Hasil studi menunjukkan bahwa proporsi balita

dengan tingkat asupan lemak yang rendah meng-alami stunting lebih banyak

dibandingkan proporsi balita dengan asupan lemak cukup. Secara statistik,

dengan nilai p value 0.03 hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan

antara asupan lemak dengan kejadian stunting pada balita. Balita dengan

98
tingkat asupan lemak rendah 1.31 kali lebih berisiko mengalami stunting

diban-dingkan balita dengan tingkat asupan lemak cukup.

Asumsi Peneliti Balita yang asupan lemaknya > 80% AKG atau cukup

dan balita tidak mengalami Stunting hal ini di sebabkan oleh pentingnya

asupan lemak dalam pembentukan membrane sel saraf otak terutama asam

lemak omega 3 yang terdapat pada lemak ikan laut. Namun adapun Anak yang

Asupan lemak yang terpenuhi tetapi anak tersebut Stunting hal ini terjadi

karena Kurangnya Pengetahuan ibu terhadap Perilaku Hidup Bersih Dan

[Link] tersebut akan mempengaruhi perkembangan dari balita tersebut

karena bisa jadi karena perilaku hidup bersih dan sehatnya kurang

seperti,jarang bahkan tidak mencuci tangan sebelum makan hal tersebut dapat

memepnegaruhi asupan yang akan masuk kedalam Tubuh akan di rusak oleh

Kuman atau bakteri yang ikut masuk kedalam tubuh,sehingga bisa

menyebabakan balita tersebut mengalami Diaere.

Hasil yang di peroleh peneliti Di wilayah Kerja Puskesmas Limboto

Barat Ada Hubungan Asupan Lemak dengan kejadian stunting hal ini di

karenakan Lemak merupakan sumber energi yaitu lemak ensensial serta

asam lemak structural yang merupakan bagian penting dari pembentukan

membaran sel serabut saraf dan structural sel secara umum cadangan lemak

terutama pada jaringan adipose sebagai sumber energi jangka panjang bagi

tubuh.

99
7. Hubungan Asupan Zink dengan kejadian Stunting

Secara kimiawi seng mempunyai keunikan tersendiri karena berfungsi

pada sebagai regulator, katalitik, dan struktural yang penting pada berbagai

sistem biologi dimana seng berperan pada lebih dari 300 enzim yang terdapat

pada bermacam-macam spesies. Seng berperan dalam metabolisme

karbohidrat, lipid, dan protein serta sintesis dan degradasi asam nukleat

melalui peranannya pada enzim karbonik anhidrase (metabolisme CO2 dan

HCO3), thimidin kinase/DNA dan RNA polimerase (sintesis asam nukleat dan

protein). Seng juga berperan dalam stabilisasi struktur protein, asam nukleat,

serta integritas organella subseluler seperti proses transport, fungsi imun, dan

ekspresi informasi genetik serta perlindungan terhadap kerusakan akibat

radikal bebas. Seng penting untuk berbagai fungsi termasuk pertumbuhan dan

perkembangan, fungsi reproduksi, fungsi sensori dan kekebalan, antioksidan,

serta stabilisasi membran.

Penelitian ini di dapat diketahui bahwa dari 359 bayi (100%) bayi yang

memiliki asupan zink cukup yaitu 184 (100%) yang stunting yaitu 41 bayi

(22,3%), begitupun balita yang memiliki asupan Zink kurang yaitu 157

(100%) yang stunting yaitu 65 (37,1%).

Hasil uji statistik menggunakan uji Chi Square, diperoleh nilai x 2 hitung

1,699 < x 2 =3,841 dengan niali p value (0,192) >α 0,05 ini berati H0
tabel

100
diterima dan Ha di tolak, yang berati tidak ada hubungan asupan zink dengan

kejadian stunting di wilayah kerja Puskesmas Limboto Barat

Penelitian yang dilakukan oleh Taufiq rahman dkk diperoleh hasil

bahwa kurangnya asupan zink terhadap anak tidak memberikan pengaruh

yang sinifikan terhadap pertumbuhan anak, yang berarti bahwa penelitian ini

sejalan dengan hasil penelitian yang di dapatakan di wilayah kerja Puskesmas

Limboto Barat yakni tidak ada hubungan asupan zink dengan kejadian

stunting. Namun Adapun penelitian yang dilakkan di wilayah kota Surabaya

ada perbedaan yang signifikan antara asupan zink pada balita stunting dan

non stunting dengan nilai p yaitu 0,003. Dan hal ini pun sangat sejalan dengan

penelitian yang di lakukan di Thailand dimana terdapat hubungan yang

signifikan antara asupan zink yang kurang dengan kejadian stunting. Jika

tubuh mengalami defisiensi zink, maka akan terjadi gangguan pada reseptor

GH, sehingga resisten terhadap produksi GH, lalu berkurangnya sintesis Liver

Insulin Growth Factor (IGF-1) dan protein yang membawanya (binding

protein) yaitu IGFBP. Pada balita berisiko kekurangan zink lebih besar karena

memerlukan zink yang besar untuk proses pertumbuhan yang juga diperlukan

pada saat kehamilan, saat bayi, dan masa pubertas.

Asumsi peneliti Asupan Zink yang cukup yaitu > 70% AKG sehingga

Tidak menyebabkan balita tersebut mengalami stunting hal ini di karenakan

asupan zink yang berpengaruh terhadap pertumbuhan dan sebagai zat

101
pendukung. Namun dalam penelitian ini terdapat balita yang Asupan Zink

yang tercukupi tetapi Balita emngalami stunting hal ini di pengaruhi oleh

status gizi ibu pada saat kehamilan ibu mengalami Anemia hal ini dapat

mempengaruhi proses pertumbuhan selama kehamilan sehingga ibu yang

Anemia berseiko untuk melahirkan bayi yang stunting.

Hasil penelitian yang diperoleh Diwilayah Kerja Puskesmas Limboto

Barat Tidak ada Hubungan Asupan Zink dengan Kejadian Stunting. Hal ini

dikarenakan stunting bukan hanya disebabkan oleh asupan yang di konsumsi

oleh Balita tetapi stunting juga bisa dipengaruhi oleh Status Gizi dan

kesehatan ibu pada saat kehamilan,seperti Anemia ibu yang mengalami

anemia, pada saat kehamilan dapat mempengaruhi proses pertumbuhan janin

sehingga ibu yang mengalami anemia bersiko untuk melahirkan bayi yang

stunting.

8. Hubungan Asupan Kalsium dengan Kejadian stunting

Selama pertumbuhan mineralisasi tulang sangat tinggi, asupan

kalsium yang sangat rendah dapat menyebabkan hipokalsemia, meskipun

sekresi dari kelenjar paratiroid maksimal, yang dapat mengakibatkan

rendahnya mineralisasi matriks deposit tulang baru dan disfungsi osteoblas.

Defisiensi kalsium akan mempengaruhi pertumbuhan linier jika kandungan

kalsium dalam tulang kurang dari 50% kandungan normal. Pada bayi,

kekurangan kalsium di dalam tulang dapat menyebabkan rakitis, sedangkan

102
pada anak-anak, kekurangan deposit dapat menyebabkan terhambatnya

pertumbuhan.

Hasil penelitian dengan mengunakan Recall 24 jam dapat

diketahui bahwa dari 359 bayi (100%) bayi yang memiliki asupan calcium

cukup yaitu 4 (100%) paling banyak yang tidak stunting yaitu 2 bayi (100%),

begitupun bayi yang memiliki asupan kalsium kurang yaitu 355 (100%) paling

banyak yang tidak stunting yaitu 104 (29,3%).

Hasil uji statistik menggunakan uji Chi Square, diperoleh nilai x 2 hitung

1,000 < x 2 =3,841 dengan niali p value (0,713) >α 0,05 ini berati H0
tabel

diterima dan Ha di tolak, yang berati tidak ada hubungan asupan calcium

dengan kejadian stunting di wilayah kerja Puskesmas Limboto Barat.

Penelitian yang di lakukan di limboto barat tidak sejalan dengan

Penelitian Endah Mayang Sari Dkk,yang di dapatkan hasil bahwa Asupan

kalsium, dengan nilai p velue 0.000 signifikan lebih rendah pada anak

stunting dibandingkan pada anak tidak stunting usia 24-59 bulan di Kota

Pontianak.

Asumsi peneliti balita yang asupan kalsiumnya cukup yaitu > 70%

AKG sehingga balita tersebut tidak mengalami stunting dikarenakan asupan

kalsium berepran sebagai zat gizi mikro yang membantu dalam pembentukan

tulang terlebih pada balita yang mengalami masa pertumbuhan. Namun dalam

penelitian ini juga terdapat Balita yang Asupan Kalsiumnya terpenuhi namun

103
balita mengalami stunting hal ini karena penyebab stunting bukan hanya

dilihat dari tercukupinya asupan kalsium namun penyebab stunting lainnya

juga dapat dilihat kelengkapan Imunisasi dari balita

Hasil penelitian yang di peroleh di wilayah kerja Puskesmas Limboto

Barat, bahwa Tidak ada Hubungan Asupan Kalsium dengan Kejadian Stunting

hal ini di pengaruhi oleh faktor ekonomi orang tua yang rendah yang dapat

dilihat dari status pekerjaan orang tua hampir semua orang tua hanya bekerja

sebagai ibu rumah tangga dan menjadi buruh tani dan pegawai swasta. Hal

tersebut mempengaruhi daya beli masyarakat yang rendah terhadap makanan

yang memiliki Asupan gizi yang baik. Keluarga dengan satatus ekonomi baik

akan memperoleh pelayanan umum lebih baik seperti pendidikan,pelayanan

kesehatan sehingga dapat mempengaruhi status gizi dan kesehatan anak.

9. Hubungan Asi Ekslusif dengan kejadian stunting

Makanan pertama dan utama bayi tentu saja air susu ibu. Bayi

peminum ASI akan tumbuh dengan baik jika ia dapat mengonsumsi air susu

ibu sebanyak 150-200 cc/kg BB/hari (Arisman, 2008). WHO dan UNICEF

merekomendasikan pemberian ASI eksklusif. ASI eksklusif diartikan sebagai

tindakan untuk tidak memberikan makanan atau minuman lain (bahkan air

sekalipun) kecuali air susu ibu (ASI). Ada beberapa mekanisme yang

membuat pemberian ASI bermanfaat bagi perkembangan anak. Pertama, ASI

merupakan sumber asam lemak tak jenuh yang bukan hanya merupakan

104
sumber energi tetapi juga sangat penting bagi perkembangan otak. Yang

kedua, pemberian ASI dapat meningkatkan imunitas bayi terhadap penyakit

sebagaimana diperlihatkan dalam sejumlah penelitian ketika pemberian ASI

disertai dengan penurunan frekuensi diare, konstipasi kronis, penyakit

gastrointestinal, dan infeksi traktus respiratorius, serta infeksi telinga.

Pemberian ASI dapat membawa manfaat bagi interaksi ibu dan anak serta

memfasilitasi pembentukan ikatan yang lebih kuat sehingga menguntungkan

bagi perkembangan anak dan perilaku anak (Gibney, et al, 2009).

Berdasarkan hasil penelitian ini dapat diketahui bahwa dari 359 bayi

(100%) bayi yang ASI Eksklusif yaitu 67 (100%) paling banyak yang tidak

stunting yaitu 61 balita (91,0%), begitupun balita yang tidak ASI Ekslusif

yaitu 292 (100%) paling banyak yang tidak stunting yaitu 269 (92,1%).

Hasil uji statistik menggunakan uji Chi Square, diperoleh nilai x 2 hitung

0,002 < x 2 =3,841 dengan niali p value (0,965) >α 0,05 ini berati H0
tabel

diterima dan Ha di tolak, yang berati tidak ada hubungan ASI Eksklusif

dengan kejadian stunting di wilayah kerja Puskesmas Limboto Barat.

Hal ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang pernah dilakukan

oleh Bunga Astria Paramashanti 2015 dalam penelitiannya meyatakan bahwa

Tidak ada Hubungan Asi Ekslusif dengan Kejadian Stunting ASI eksklusif

bersifat protektif terhadap kejadian stunting pada anak, namun hasilnya tidak

105
signifi kan, baik untuk ASI eksklusif >6 bulan (OR 0,99, 95% CI 0,63–1,59)

maupun ASI eksklusif 4-<6 bulan OR 0,93, 95% .

Penelitian yang tak sejalan dilakukan oleh Endang Dewi Lestari

dengan analisis multivariate dan uji regresi logistic menunjukan bahwa adanya

korelasi yang singnifikan antara stunting dengan Asi Ekslusif dapat dilihat

dari nilai p-value 0,034. Dan adapun penelitian yang tak sejalan dalam

penelitian yang dilakukan di Nepal dan Libiya oleh Paudel pada tahun 2012

bayi yang Tidak eksulif adalah 6,9 kali lebih beresiko mengalami stunting

dengan nilai OR= 6,90 atau 95%. Studi ini menunjukan bahwa bayi yang

tidak asi ekslusif akan berseiko megalami penurunan berat badan dan

cenderung akan mengalami stunting. Penelitian ini tak sejalan dengan yang

dilakukan oleh Sri Indrawat dan Warsiti tentang hubungan Pemberian Asi

Ekslusif dengan kejadian stunting pada anak usia 2-3 tahun di desa

Karangrejek Wonosari Gunung Kidul hasil penelitian ini di dapatkan angka

kejadian stunting yang menunjukan bahwa ada hubungan pemberian Asi

ekslusif dengan kejadian stunting pada anak umur 2-3 tahun.

Asumsi peneliti hasil observasi di lapangan di dapatkan bahwa balita

yang terpenuhi Asinya selama 6 bulan Tidak mengalami Stunting karena

asupan yang dibutuhkan balita tercukupi dari Asi yang di konsumsi karena

ibunya mengonsumsi makanan yang bergizi. Namaun adapun anak yang

Asinya Terpenuhi selama 6 bulan tapi tetap mengalami stunting hal ini dapat

disebabkan oleh faktor Berat Badan lahir yang tidak normal atau BBLR. di

106
ketahui bahwa Berat badan bayi normal yaitu >2500 [Link] badan bayi saat

lahir menggambarkan pertumbuhan linear bayi selama dalam kandungan.

Ukuran linear yang rendah biasanya menunjukkan keadaan gizi yang kurang

akibat kekurangan energi dan protein yang diderita waktu lampau yang di

awali dengan perlambatan atau retardasi pertumbuhan janin. Balita yang

BBLR memiliki resiko untuk menjadi stunting di bandaingkan dengan Balita

yang Lahir dengan Berat baan Normal.

Hasil yang di peroleh di wilayah kerja Puskesmas Limboto Barat

Tidak ada Hubungan Asi Ekslusif dengan Kejadian Stunting hali ini

Dikarenakan Asi Eksulusif bukanlah satu-satunya faktor penyebab stunting.

Dikarenakan stunting di pengaruhi oleh berbagai macam faktor seperti BBLR

atau bayi berat lahir rendah merupakan faktor penyebab stunting jadi bayi

dengan berat badan lahir rendah akan beresiko mengalami stunting atau

masalh gizi lainnya.

107
BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian hubungan pola makan dan pola asuh dengan

kejadian stunting di wilayah lokus Kabupaten Gorontalo Tahun 2020 bahwa:

1. Tidak ada hubungan Frekuensi makan dengan kejadian stunting di wilayah

lokus Kabupaten Gorontalo Tahun 2020.

2. Tidak ada hubungan Keanekaragaman makanan dengan kejadian stunting di

wilayah lokus Kabupaten Gorontalo Tahun 2020.

3. Ada hubungan Asupan Energi dengan kejadian stunting di wilayah lokus

Kabupaten Gorontalo Tahun 2020.

4 Ada hubungan Asupan Karbohidrat dengan kejadian stunting di wilayah lokus

Kabupaten Gorontalo Tahun 2020.

5. Ada hubungan Asupan Protein dengan kejadian stunting di wilayah lokus

Kabupaten Gorontalo Tahun 2020.

6. Ada hubungan Asupan Lemak dengan kejadian stunting di wilayah lokus

Kabupaten Gorontalo Tahun 2020.

7. Tidak Ada hubungan Asupan zink dengan kejadian stunting di wilayah lokus

Kabupaten Gorontalo Tahun 2020.

8. Tidak ada Hubungan Asupan Kalsium dengan kejadian stunting di wilayah

lokus Kabupaten Gorontalo Tahun 2020.

108
9. Tidak ada Hubungan ASI Ekslusif dengan kejadian stunting di wilayah Lokasi

khusus ( lokus) Kabupaten Gorontalo Tahun 2020.

B. Saran

Untuk Dinas Kesehatan Kabupaten Gorontalo Di harapkan pihak Dinas

Kesehatan Kabupaten Gorontalo bisa mengupayakan agar angka stunting di

Kabupaten Gorontalo bias menurun kedepannya dengan .

109
DAFTAR PUSTAKA

2020, W. Antro. (2020). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 2


Tahun 2020 Tentang Standar Antropometri Anak. 2011(2865), 1–9.
Adani, F. Y., & Nindya, T. S. (2017). Perbedaan Asupan Energi , Protein , Zink , Dan
Perkembangan Pada Balita Stunting Dan Non Stunting The Differences Of
Energy , Protein , Zinc Intake And Development To Stunting And Non-Stunting
Toddler. Amerta Nutrition, 46–51.
Https://[Link]/10.20473/Amnt.V1.I2.2017.46-51
Aidina, C. N., Lubis, Z., & Ardiani, F. (2010). Pola Makan,Kecukupan Gizi, Dan
Status Gizi Balita Pada Keluarga Miskin, Kalurahan Kenangan Baru.
Departemen Gizi Kesehatan Masyarakat Fkm Usu, 1–8.
Ainy, A. (2010). Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat Jurnal Ilmu Kesehatan
Masyarakat. 1(01), 3–11.
Alumnus, P. A., Kesehatan, F., Undip, M., Dosen, ), Gizi, B., & Masyarakat, K.
(2012). Hubungan Tingkat Pendidikan Ibu, Pendapatan Keluarga, Kecukupan
Protein & Zinc Dengan Stunting (Pendek) Pada Balita Usia 6-35 Bulan Di
Kecamatan Tembalang Kota Semarang. 1(2), 617–626.
Http://[Link]/[Link]/Jkm
Anshori, H. Al. (2012). Faktor Risiko Kejadian Stunting Pada Balita Usia 24 – 36
Bulan Di Kecamatan Semarang Timur. 1(1), 176–184.
Asrar, M., Hadi, H., & Boediman, D. (2009). Pola Asuh, Pola Makan, Asupan Zat
Gizi Dan Hubungannya Dengan Status Gizi Anak Balita Masyarakat Suku
Nuaulu Di Kecamatan Amahai Kabupaten Maluku Tengah Provinsi Maluku. In
Jurnal Gizi Klinik Indonesia (Vol. 6, Issue 2, P. 84).
Https://[Link]/10.22146/Ijcn.17716
Ayuningtyas, A., Simbolon, D., & Rizal, A. (2018). Asupan Zat Gizi Makro Dan
Mikro Terhadap Kejadian Stunting Pada Balita. Jurnal Kesehatan, 9(3), 445.
Https://[Link]/10.26630/Jk.V9i3.960
Derviş, B. (2013). 済 無 no Title No Title. Journal Of Chemical Information And
Modeling, 53(9), 1689–1699. Https://[Link]/10.1017/Cbo9781107415324.004
Dikes Provinsi Gorontalo. (2018). Prevalensi Stunting Di Provinsi Gorontalo.
Febria, C., Masrul, M., & Chundrayetti, E. (2018). Hubungan Kadar Kalsium Dalam
Asi, Pasi Dan Mpasi Dari Asupan Bayi Dengan Panjang Badan Bayi Usia 6-12
Bulan Di Wilayah Kerja Puskesmas Lubuk Buaya Padang 2017. Jurnal
Kesehatan Andalas, 6(3), 662. Https://[Link]/10.25077/Jka.V6.I3.P662-
667.2017
Fridawanti, A. P. (2016). Hubungan Antara Asupan Energi, Karbohidrat, Protein,
Dan Lemak Terhadap Obesitas Sentral Pada Orang Dewasa Di Desa
Kepuharjo, Kecamatan Cangkringan, Yogyakarta Skripsi. 1–10.
Hidayati, L., Hadi, H., & Kumara, A. (N.D.). Kekurangan Energi Dan Zat Gizi

110
Merupakan Faktor Risiko Kejadian Stunted Pada Anak Usia 1-3 Tahun Yang.
89–104.
Hw, S.-. (2019). Angka Kecukupan Gizi 2019. Problem Set 2, 23(3), 2019.
Kemenkes Ri. (2018). Warta Kesmas - Cegah Stunting Itu Penting. Warta Kermas, 1–
27.
Larasati, N. N. (2017). Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Stunting
Pada Balita Usia 25-59 Bulan Di Posyandu Wilaya Puskesmas Wonosari Ii
Tahun 2017.
Maulidah, W. B., Rohmawati, N., & Sulistiyani, S. (2019). Faktor Yang Berhubungan
Dengan Kejadian Stunting Pada Balita Di Desa Panduman Kecamatan Jelbuk
Kabupaten Jember. Ilmu Gizi Indonesia, 2(2), 89.
Https://[Link]/10.35842/Ilgi.V2i2.87
Muhammad, F., Nurhajjah, S., & Revilla, G. (2018). Pengaruh Pemberian Suplemen
Zink Terhadap Status Gizi Anak Sekolah Dasar. Jurnal Kesehatan Andalas,
7(2), 285. Https://[Link]/10.25077/Jka.V7.I2.P285-290.2018
Nadhiroh, Siti Rahayu; Ni’mah, K. (2015). Faktor Yang Berhubungan Dengan
Kejadian. Media Gizi Indonesia, 1, 13–19.
Naranjo, J. (2014). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 41
Tahun 2014 Tentang Pedoman Gizi Seimbang. Applied Microbiology And
Biotechnology, 85(1), 2071–2079.
Https://[Link]/10.1016/[Link].2013.06.007
Notoatmodjo, S. (2012). Metodologi Penelitian Kesehatan (Ed. Rev). Pt Rineka
Cipta.
Nursalam, 2016, Metode Penelitian. (2013). Journal Of Chemical Information And
Modeling, 53(9), 1689–1699. Https://[Link]/10.1017/Cbo9781107415324.004
Nursalam, Metode Penelitian. (2013). Konsumsi Makanan Sumber Lemak Dan
Karbohidrat 1. Journal Of Chemical Information And Modeling, 53(9), 1689–
1699. Https://[Link]/10.1017/Cbo9781107415324.004
Purwani, E. (2013). Pola Pemberian Makan Dengan Status Gizi Anak Usia 1 Sampai
5 Tahun Di Kabunan Taman Pemalang. Jurnal Keperawatan Anak, 1(1), 30–36.
Http://[Link]/[Link]?Article=98477&Val=5091
Qamariyah, B., & Nindya, T. S. (2018). Hubungan Antara Asupan Energi , Zat Gizi
Makro Dan Total Energy Expenditure Dengan Status Gizi Anak Sekolah Dasar
(Correlation Between Energy Intake , Macro Nutrients And Total Energy
Expenditure And Nutritional Status Of Elementary Students). Amerta Nutr, 59–
65. Https://[Link]/10.20473/Amnt.V2.I1.2018.59-65
Rachmawati, Sutrani Djuwita Hatma, R. (2018). Hubungan Praktik Kesehatan Pada
Awal Kehidupan Dengan Kejadian Stunting Pada Balita Early Life Health
Practice And Stunting Among Children Under-Five Years Old. 120–127.
Https://[Link]/10.30597/Mkmi.V15i2.6334
Rahayu, S., Djuhaeni, H., Nugraha, G. I., & Mulyo, G. E. (2019). Hubungan
Pengetahuan, Sikap, Perilaku Dan Karakteristik Ibu Tentang Asi Eksklusif
Terhadap Status Gizi Bayi. Action: Aceh Nutrition Journal, 4(1), 28.

111
Https://[Link]/10.30867/Action.V4i1.149
Rahman, Farah Danita. (2018). Pengaruh Pola Pemberian Makanan Terhadap Angka
Kejadian Stunting Pada Balita. The Indonesian Jorunal Of Health Science,
10(1), 15–24. Https://[Link]/10.1145/3132847.3132886
Riskesdas. (2017). Prevalensi Balita Pendek Mengalami Peningkatan Dari Tahun
2016.
Riskesdas, K. (2018). Hasil Utama Riset Kesehata Dasar (Riskesdas). Journal Of
Physics A: Mathematical And Theoretical, 44(8), 1–200.
Https://[Link]/10.1088/1751-8113/44/8/085201
Rusmil, V. K., Ikhsani, R., Dhamayanti, M., & Hafsah, T. (2019). Hubungan Perilaku
Ibu Dalam Praktik Pemberian Makan Pada Anak Usia 12-23 Bulan Dengan
Kejadian. Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas
Padjadjaran/Rsup Dr. Hasan Sadikin, Bandung, 20(6), 1–5.
Https://[Link]/Publication/333169080_Hubungan_Perilaku_Ib
u_Dalam_Praktik_Pemberian_Makan_Pada_Anak_Usia_12-
23_Bulan_Dengan_Kejadian_Stunting_Di_Wilayah_Kerja_Puskesmas_Jatinang
or
Sari, E. M., Juffrie, M., Nurani, N., & Sitaresmi, M. N. (2016). Asupan Protein,
Kalsium Dan Fosfor Pada Anak Stunting Dan Tidak Stunting Usia 24-59 Bulan.
Jurnal Gizi Klinik Indonesia, 12(4), 152. Https://[Link]/10.22146/Ijcn.23111
Setiamy, A. A., & Deliani, E. (2019). Hubungan Asupan Energi, Protein Dan Zink
Terhadap Kejadian Stunting Pada Siswa Sdn 11 Kampung Jua Kecamatan
Lubuk Begalung Tahun 2019no (Vol. 2).
Setiawan, E., Machmud, R., & Masrul, M. (2018). Faktor-Faktor Yang Berhubungan
Dengan Kejadian Stunting Pada Anak Usia 24-59 Bulan Di Wilayah Kerja
Puskesmas Andalas Kecamatan Padang Timur Kota Padang Tahun 2018. Jurnal
Kesehatan Andalas, 7(2), 275. Https://[Link]/10.25077/Jka.V7i2.813
Suratman. (2017). Tabel 1.0 Daftar Nama Subjek Penelitian No Nama Usia.
Http://[Link]/28046/5/Bab [Link]
Ulul Azmy, & Luki Mundiastuti. (2018). Konsumsi Zat Gizi Pada Balita Stunting
Dan Non-Stunting Di Kabupaten Bangkalan. Amerta Nutrition, 2(3), 292–298.
Https://[Link]/10.20473/Amnt.V2.I3.2018.292-298
Wantina, M., Rahayu, L. S., & Yuliana, I. (2017). Keragaman Konsumsi Pangan
Sebagai Faktor Risiko Stunting Pada Balita Usia 6-24 Bulan. Journal Uhamka,
2(2), 89–96.
Who. (2018). Prevalensi Stunting 2018.
Widyaningsih, N. N., Kusnandar, K., & Anantanyu, S. (2018). Keragaman Pangan,
Pola Asuh Makan Dan Kejadian Stunting Pada Balita Usia 24-59 Bulan. Jurnal
Gizi Indonesia, 7(1), 22. Https://[Link]/10.14710/Jgi.7.1.22-29

112
LAMPIRAN

113
DOKUMENTASI

Pengukuran Tinggi Badan

Proses Pengisian Kuisioner dan Recall 24 Jam

114
115

Anda mungkin juga menyukai