Pola Makan dan Asuh Pengaruhi Stunting
Pola Makan dan Asuh Pengaruhi Stunting
INDRIYAWATI KAABA
502160001
UNIVERSITAS GORONTALO
TAHUN 2020
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
gangguan pertumbuhan linier yang disebabkan oleh adanya malnutrisi asupan zat
gizi maupun penyakit infeksi yang bersifat kronis. Kejadian tersebut terjadi secara
berulang ditunjukkan dengan nilai Z-Score tinggi badan dibanding usia (TB/U)
kurang dari standar yang telah ditentukan World Health Organization (WHO)
Stunting juga merupakan bentuk refleksi jangka panjang dari kualitas dan
kuantitas makanan yang dikonsumsi tidak memadai dan sering menderita penyakit
infeksi pada masa kanak-kanak. Masalah stunting menjadi masalah gizi yang
Tahun 2017 22,2% atau sekitar 150,8 juta balita di dunia mengalami
stunting. Namun angka ini sudah mengalami penurunan jika dibandingkan dengan
angka stunting pada tahun 2000 yaitu 32,6%. Pada tahun 2017, lebih dari setengah
balita stunting di dunia berasal dari Asia (55%) sedangkan lebih dari sepertiganya
(39%) tinggal di Afrika. Dari 83,6 juta balita stunting di Asia, proporsi terbanyak
berasal dari Asia Selatan (58,7%) dan proporsi paling sedikit di Asia Tengah
2
Data prevalensi balita stunting yang dikumpulkan World Health
(WHO, 2018).
dari tahun 2016 yaitu 27,5% menjadi 29,6% pada tahun 2017 (Riskesdas, 2017).
untuk Presentase balita stunting pada tahun 2016 di Kabupaten Gorontalo untuk
umur 0-59 bulan sebesar 37,6 % dan presentase ini pada 2017 menurun menjadi
32,3%. Presentase stunting umur 0-59 bulan di Kota Gorontalo tahun 2016
sebesar 36,9% dan menurun menjadi 36,1% pada tahun 2017. Presentase stunting
umur 0-59 bulan di Kabupaten Gorontalo Utara tahun 2016 sebesar 36,9 % dan
Boalemo sebesar 32,8% dan menurun menjadi 32,5% pada tahun 2017. Balita
stunting umur 0-59 bulan di kabupaten Bone Bolango pada tahun 2016 sebesar
34,7% dan pada tahun 2017 menjadi 25,5%. Presentase balita stunting umur 0-59
bulan di Kabupaten Pohuwato pada tahun 2017 sebesar 35,8% dan pada tahun
3
Data tersebut mendorong pemerintah Provinsi menetapkan lokasi prioritas
atau lokasi khusus stunting berdasarkan data tertinggi stunting. Lokasi khusus
adalah wilayah yang memeiliki jumlah stunting tertinggi yang menjadi pusat
perhatian pemeritah Dengan jumlah stunting yang paling tinggi untuk kabupaten
Batudaa Pantai dengan jumlah 88 balita atau sekitar 11,4 % yang mengalami
stunting, Telaga Jaya jumlah balita stunting 87 balita atau 10,1 yang mengalami
stunting, dan untuk urutan ketiga kecamatan yang mencadi Lokasi khusus
stunting berada di kecamtan Limboto Barat dengan jumlah balita stunting ada 69
2018).dalam penelitian ini peneliti mengambil salah satu wilayah lokus yang ada
disebabkan langsung oleh asupan nutrisi yang kurang memadai. Asupan nutrisi
ditentukan oleh pola pemberian makanan, bahan makanan tersedia cukup, bila
pola pemberian makan kurang baik maka asupan zat gizi yang diterima akan
kurang Pola pemberian makan kepada balita merupakan suatu upaya dan cara ibu
atau keluarga memberikan makan pada balita dengan tujuan untuk memenuhi
4
kebutuhan makanan yang baik kualitas maupun kuntitasnya (Rachmawati, Sutrani
status ekonomi rendah serta indikator dari kurang gizi kronis yang terjadi dalam
jangka waktu yang lama sehingga stunting pada anak balita khususnya pada usia 2
– 5 tahun akan terlihat dengan jelas dan merupakan salah satu indikator status gizi
hubungan antara panjang badan lahir, pola asuh makan dan keragaman pangan
dengan kejadian stunting pada balita usia 24-59 bulan di Kecamatan Bayat. Faktor
resiko kejadian stunting yang paling dominan adalah keragaman pangan. Balita
yang mempunyai asupan pangan yang tidak beragam memiliki 3,213 kali untuk
pangan yang beragam. Berdasarkan kondisi tersebut maka sejak bayi perlu
dikenalkan dengan berbagai macam macam sayur dan buah, sehingga ketika
tingkat asupan zat gizi. Kuantitas dan kualitas zat gizi yang terasup di dalam
karena itu makanan harus dapat memenuhi kebutuhan gizi balita (Widyaningsih et
al., 2018)
5
Secara umum terdapat 6 zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh yaitu
karbohidrat, lemak, protein, vitamin, mineral seperti diantaranya zat besi (Fe) dan
seng (Zn). Karbohidrat dalam tubuh manusia bermanfaat sebagai sumber energi
tubuh akan disimpan dalam bentuk lemak sebagai cadangan sumber energi.
Lemak dalam tubuh bermanfaat sebagai sumber energi dan melarutkan vitamin
sehingga dapat mudah diserap oleh usus. Protein merupakan zat yang membantu
untuk membangun sel tubuh sehingga sangat penting bagi balita yang berada
dalam tahap pertumbuhan dan perkembangan. Selain itu protein berfungsi sebagai
pengganti sel tubuh yang rusak. Mineral dan vitamin merupakan zat gizi yang
sebelumnya menyatakan bahwa semakin rendah konsumsi zat gizi pada balita,
seng pada balita dengan status gizi (TB/U), sehingga dibutuhkan asupan zat gizi
6
peningkatan resiko stunting dan masalah gizi lainya seperti overweight,
prestasi sekolah yang buruk yang ketika dewasa akan menurunkan pendapatan
Faktor lainnya adalah pengetahuan ibu yang kurang, pola asuh yang salah
pada saat praktek pemberian asi ekslusif, sanitasi dan hygiene yang buruk dan
rendahnya pelayanan kesehatan. Selaian itu status ASI eksklusif menjadi salah
satu faktor yang dapat mempengaruhi prevalensi stunting karena nutrisi yang
terkandung dalam ASI merupakan salah satu faktor penting yang menentukan
masa tumbuh kembang anak. Penyebab masalah stunting salah satunya juga
akibat dari penundaan Inisiasi Menyusui Dini (IMD), dan pemberian air susu ibu
7
intervensi pencegahan stunting terintegrasi yang melibatkan lintas kementerian
dan lembaga. Pada tahun 2018, ditetapkan 100 kabupaten di 34 provinsi sebagai
kabupaten pada tahun berikutnya. Dengan adanya kerjasama lintas sektor ini
target Sustainable Development Goals (SDGs) pada tahun 2025 yaitu penurunan
Ada atau tidaknya hubungan pola makan dan pola asuh dengan kejadian stunting
B. Rumusan masalah
C. Tujuan
1. Tujuan Umum
2. Tujuan Khusus
8
b. Menganlisis Hubungan Keanekaragaman Makanan terhadap kejadian
3. Manfaat Penelitian
Hubungan pola makan dan Pola Asuh (riwayat premberian asi ekslusif)
dengan kejadian stunting pada balita yang ada di wilayah lokus Kab Gorontalo
9
b. Bagi masyarakat
pentingnya pola makan yang baik dan Pemberian Asi Ekslusif yang tepat
c. Bagi peneliti
Gorontalo.
10
BAB II
KAJIAN PUSTAKA KARANGKA KONSEP DAN HIPOTESIS
A. Kajian Pustaka
a. Pengertian Stunting
bawah lima tahun) akibat dari kekurangan gizi kronis sehingga anak
terlalu pendek untuk usianya. Kekurangan gizi terjadi sejak bayi dalam
kandungan dan pada masa awal setelah bayi lahir akan tetapi, kondisi
stunting baru nampak setelah bayi berusia 2 tahun. Balita pendek (stunted)
dan sangat pendek (severely stunted) adalah balita dengan panjang badan
stunting adalah balita stunted apabila nilai z-scorenya kurang dari -3SD
(standar deviasi) dan severely stunted apabila – 3SD sampai dengan <-2
11
20-30%. Anak perlu makanan dan gizi yang tepat untuk mencapai potensi
disebabkan oleh faktor gizi buruk yang dialami oleh ibu hamil maupun
Pertama Kehidupan (HPK) dari anak balita. Beberapa faktor yang menjadi
Dengan Rumus :
12
Z-score = Nilai Individu Subyek – Nilai Baku Rujukan
Nilai Simpng Baku Rujukan
b. Patofisiologi Stunting
pangan. Masalah gizi pada anak balita tidak mudah dikenali oleh pemerintah,
atau masyarakat bahkan keluarga karena anak tidak tampak sakit. Terjadinya
kurang gizi tidak selalu didahului oleh terjadinya bencana kurang pangan dan
kelaparan seperti kurang gizi pada dewasa. Hal ini berarti dalam kondisi
pangan melimpah masih mungkin terjadi kasus kurang gizi pada anak balita.
Kurang gizi pada anak balita bulan sering disebut sebagai kelaparan
linier dengan deficit dalam panjang atau tinggi badan sebesar -2 Z-score atau
berlangsung lama (misalnya infeksi dan asupan makanan yang buruk), yang
dari kekurangan gizi pada awal kehidupan anak akan berlanjut dalam setiap
siklus hidup manusia. Wanita usia subur (WUS) dan ibu hamil yang
berat badan lahir rendah (BBLR). BBLR iniakan berlanjut menjadi balita gizi
13
kurang (stunting) dan berlanjut ke usia anak sekolah dengan berbagai
kembang anak kejadian ini biasanya tidak berdiri sendiri tetapi diikuti
panjang(Larasati, 2017)yaitu:
kembang).
dewasa
5) Tulang tertunda.
14
6) Pertumbuhan gigi yang lambat
d. Dampak stunting
1) Anak yang mengalami stunting lebih awal yaitu sebelum usia enam
bulan, akan mengalami stunting lebih berat menjelang usia dua tahun.
Stunting yang parah pada anak, akan terjadi defisit jangka panjang
sekolah dan lebih sering absen dari sekolah dibandingkan anak dengan
perkembangan intelektual.
15
mempengaruhi secara langsung pada kesehatandan produktivitas,
kondisi buruk terjadi pada masa golden period perkembangan otak (0-
2 tahun) maka tidak dapat berkembang dan kondisi ini sulit untuk
dapat pulih kembali. Hal ini disebabkan karena 80-90% jumlah sel
e. Pencegahan stunting
saat remaja dapat mencegah terjadinya gizi yang kurang saat masa
16
kehamilan. Nutrisi yang adekuat saat kehamilan dapat mencegah
Kehidupan (HPK), yaitu pada Ibu Hamil, Ibu Menyusui, Anak 0-23 bulan.
kehidupan. Pada 1.000 HPK anak akan mengalami masa “Periode Emas”
makanan rata-rata per orang per hari yang umum dikonsumsi /dimakan
17
tidak langsung meliputi ketahanan pangan rumah tangga, pola asuh anak,
bersumber dari masalah struktur politik, ideologi, dan sosial ekonomi yang
dilandasi oleh potensi sumber daya yang ada (Aidina et al., 2010).
Pola makan balita secara umum hampir sama dengan pola makan
keluarga. Hanya saja pola makan yang baik untuk anak yaitu dengan
Pada usia balita (1-5 tahun), sudah dapat dikenalkan dengan makanan
seimbang dengan pilihan menu yang bervariasi sehingga anak tidak cepat
yang sangat pesat. Oleh karena itu, kelompok usia balita perlu mendapat
gizi. Untuk mengatasi kekurangan gizi yang terjadi pada kelompok usia
18
khas daerah yang disesuaikan dengan kondisi setempat. Mulai tahun 2011
Balita Gizi Kurang dan yang mengalami masalah gizi lainnya (Purwani,
2013).
Usia balita merupakan usia pra sekolah dimana seorang anak akan
dengan ketika masih bayi, kebutuhan zat gizi akan meningkat. Sementara
pemberian makanan juga akan lebih sering. Pada usia ini, anak sudah
makan dengan gizi yang baik pada usia dini tentunya sangat mudah
baik pada usia sebelumnya. Oleh karena itu, pola pemberian makanan
19
Pola makan yang baik perlu dibentuk sebagai upaya untuk
memenuhi kebutuhan gizi dan pola makan yang tidak sesuai akan
masuk dalam tubuh. Interaksi dapat terjadi antara suatu zat gizi dengan
yang lain, atau dengan zat non gizi. Masing-masing interaksi dapat
Makanan yang diberikan harus tepat baik jenis dan jumlahnya hingga
kandungan gizinya. Zat gizi yang dibutuhkan anak ditentukan oleh usia,
jenis kelamin, aktivitas, berat badan, dan tinggi badan. Tubuh anak tetap
20
serat, vitamin dan mineral (Marimbi, 2010 dalam penelitian Setiamy &
Deliani, 2019) adapun asupan makanan yang akan di teliti yaitu zat gizi
makro yaitu asupan energy,asupan protein dan asupan lemak, serta zat
21
1) Energi
Adapun angka kecukupan energi yang ianjurkan untuk balita usia 12-
1350 dan balita umur 4-6 tahun yaitu 1400 yang harus dipenuhi balita
zat gizi baik zat gizi mikro maupun zat gizi makro.(AKG, 2019) Untuk
22
2) Asupan Protein
3) AsupanKarbohidrat
23
Karbohidrat tersebar luas di dalam tumbuhan dan hewan. Pada
Karbohidrat dalam hal ini pati,gula atau glikogen merupakan zat gizi
4) Asupan Lemak
24
alam serta tidak larut dalam air, tetapi larut dalam pelarut organik
5).Asupan Zink
harus ada dalam tubuh,karena zink tiak bias digantikan oleh zat gizi
25
kekurangan energy protein tetapi juga defisiensi zink(Muhammad et
al., 2018).
6).Asupan Kalsium
makanan banyak terdapat pada udang kering, teri kering, tahu dan
sayuran seperti bayam, sawi, daun melinjo, daun katuk, dan daun
singkong serta susu bubuk dan susu kental manis (Almatsier, 2010).
26
Sejalan dengan penelitian sebelumnya bahwa asupan kalsium
Risiko stunting 3,93 kali lebih besar padabalita dengan asupan kalsium
et al., 2018)
yang didapat, metode survey konsumsi makanan dibagi dua yaitu yang
27
bersifat kualitatif dan kuantitatif. Metode yang bersifat kualitatif antara
lain :
3) Metode telepon
antara lain :
dari sisi kepraktisan dan kevalidtan data masih dapat diperoleh dengan
28
pelaksanaannya, murah, mudah, dan tidak memerlukan peralatan yang
dibutuhkan untuk recall 24 jam konsumsi gizi adalah satu hari (dalam
kondisi variasi konsumsi pangan dari hari ke hari tidak beragam) dan
d. Keanekaragamman makanan
pangan yang terdiri dari makanan pokok lauk pauk, sayuran dan buah-
29
menghasilkan pola pangan yang bermutu gizi seimbang (Kemenkes RI,
tinggi skor keragaman konsumsi pangan maka semakin beragam pula jenis
2017).
pangan yang dikonsumsi akan semakin baik kualitas gizinya, karena pada
gizi yang lengkap dan cukup baik dalam jumlah maupun jenisnya (Bitra,
2010).
Air susu ibu (ASI) adalah suatu emulsi lemak dalam larutan protein,
laktosa dan garam-garam organik yang disekresi oleh kedua kelenjar payudara
ibu, yang berguna sebagai makanan utama bagi bayi. Eksklusif adalah terpisah
30
dari yang lain, atau disebut khusus. Menurut pengertian lainnya, ASI
Eksklusif adalah pemberian ASI saja tanpa tambahan cairan lain seperti susu
formula, jeruk, madu, air teh, air putih dan tanpa tambahan makanan padat
seperti pisang, pepaya, bubur susu, biskuit, dan nasi tim. Pemberian ASI ini
1) Kolostrum
31
putih yang dapat membunuh kuman penyakit (Haryono, dan
Setianingsih,2014: 17).
(Marmi,2012).
keluar mungkin hanya sesendok teh saja. Pada hari pertama pada
Cl) 0.4% air 85,1% leukosit sisa-sisa epitel yang mati, dan vitamin
yang larut dalam lemak lebih banyak. Selain itu, terdapat zat yang
menghalangi hidrolisis protein sebagai zat anti yang terdiri atas protein
32
tidak rusak. Fungsi kolostrum adalah memberikan gizi dan proteksi
infeksi.
kolostrum dan air susu ibu adalah pada 7 hari pertama postpartum.
Kandungan zat besi yang rendah pada kolostrum dan air susu ibu
oleh tripsin.
33
mengandung nitrogen yaitu faktor bifidus. Faktor bifidus ini
terdapat di dalam kolostrum dan air susu ibu. Faktor bifilus tidak
terdapat di dalam kolostrum dan air susu ibu. Faktor bifilus tidak
sebelum menjadi ASI yang matang/matur. Ciri dari air susu pada masa
2) Disekresi dari hari ke-4 sampai hari ke-10 dari masa laktasi. Teori lain,
mengatakan bahwa ASI matur baru terjadi pada minggu ke-3 sampai
3) Kadar lemak, laktosa, dan vitamin larut air lebih tinggi, dan kadar
daripada kolostrum
4) Volume ASI juga akan makin meningkat dari hari ke hari (Marmi,
2012) sehingga pada waktu bayi berumur tiga bulan dapat diproduksi
34
c. Air Susu Matang (Matur)
semua nutrisi. Terjadi pda hari ke 10 sampai seterusnya. Ciri dari susu
Pada ibu yang sehat, produksi ASI untuk bayi akan tercukupi. Hal
d. Jenis–Jenis ASI
1) Foremilk
pada lima menit pertama. ASI ini lebih encer dibandingkan hindmilk,
bayi.
35
2) Hindmilk
utama setelah hidangan pembuka. Jenis air susu ini sangat kaya,
e. Kandungan ASI
mengandung sebagian besar air sebanyak 87,5%, oleh karena itu bayi yang
mendapat cukup ASI tidak perlu mendapat tambahan air walaupun berada
1) Protein
penting selama tahun pertama kehidupan bayi, karena pada saat ini
36
khusus yang dirancang untuk pertumbuhan bayi. ASI mengandung
total protein lebih rendah tetapi lebih banyak protein yang halus,
gumpalan lebih lunak yang mudah dicerna dan diserap oleh bayi.
Rasio protein ASI adalah 60:40 sedangkan rasio protein susu sapi
tinggi, kadar metiolin, tirosin, dan fenilalanin ASI lebih rendah dari
susu sapi akan tetapi kadar sistin jauh lebih tinggi. Kadar poliamin dan
2) Lemak
ASI cukup tinggi, namun senyawa lemak tersebut mudah diserap oleh
Hal ini disebabkan karena lemak didalam ASI merupakan lemak yang
sederhana struktur zatnya (jika dikaji dari sisi ilmu kimia) tidak
37
disebut susu mula (foremilk). Cairan ini kira-kira mengandung 1-2%
lebih banyak dari susu formula. Cairan ini memberikan hampir seluruh
energi.
3) Karbohidrat
sapi. Laktosa ini jika telah berada di dalam saluran pencernaa bayi
dan galaktosa). Kedua zat inilah yang nanti akan diserap oleh usus
mineral lainnya.
4) Mineral
relatif rendah tetapi cukup untuk bayi sampai umur 6 bulan. Kadar
dibandingkan dengan susu sapi, tetapi dengan jumlah itu sudah cukup
38
Kandungan mineral pada susu sapi memang cukup tinggi, tetapi hal
diserap maka akan memperberat kerja usus bayi dan akan mengganggu
lain yang terkandung di dalam ASI, yaitu senyawa seng (Zn). Senyawa
5) Vitamin
f. Manfaat ASI
39
negara berkembang. Keadaan ekonomi yang sulit, kondisi sanitasi yang
buruk, serta air bersih yang sulit didapat menyebabkan pemberian susu
dan pemberian susu formula yang tidak higienis. Laporan WHO juga
infeksi saluran pernafasan akut yang dapat dicegah dengan pemberian ASI
kematianoleh Patel. Selain itu, para dokter sepakat bahwa ASI dapat
40
4) Mengisap ASI membuat bayi mudah mengkoordinasi saraf menelan ,
mengisap dan bernafas menjadi lebih sempurna dan bayi menjadi lebih
5) Waktu menyusui yang panjang dapat melindungi bayi dan anak dari
6) Menyusui dengan waktu yang lebih panjang (lebih dari 6 bulan) dapat
7) Bayi yang diberi ASI eksklusif lebih terlindungi dari infeksi telinga
8) Bayi prematur yang memiliki berat badan lahir sangat rendah yang
Prematurnity.
gizi ASI adalah makanan alamiah yang disediakan untuk bayi dengan
41
(kolestrol baik) yang lebih rendah. LDL merupakan salah satu pemicu
12) Bayi prematur menerima ASI memiliki tekanan darah yang lebih
(dalam Monika, 2016 :9). Karies gigi pada bayi yang diberi ASI
42
16) ASI mudah dicerna dan diserap oleh pencernaan bayi yang belum
Begitupula saat bayi sakit, ASI adalah makanan yang terbaik untuk
sembuh sempurna.
hubungan psikologis ibu dan bayi menjadi semakin dekat Kontak kulit
cukup kan gizi dan pola makan yang teratur maka produksi ASI akan
menurunnya jumlah ASI dan akhirnya produksi ASI berhenti. Hal ini
43
lemak dalam tubuhnya, yang kelak akan digunakan sebagai salah satu
Isapan bayi tidak sempurna atau puting susu ibu yang sangat
3) Perawatan payudara
44
Perawatan payudara yang dimulai dari kehamilan bulan ke 7-8
45
B. Karangka Teori
1. frekuensi makan
2. keaneka ragaman
makanan
3. Asupan Karbohidrat
4. Asupan lemak
5. Asupan protein
6. Asupan zink STUNTING
7. Asupan Kalsium
Pola asuh
Keterangan
: Variabel Dependen
: Variabel Independen
46
2. Uraian Kerangka Konsep
a. Stunting
b. Pola Makan
c. Pola Asuh
anaknya. Sikap ini dapat dilihat dari berbagai segi, antara lain dari cara
dan hukuman, cara orang tua menunjukkan otoritas dan cara orang tua
demikian yang dimaksud dengan Pola Asuh Orang Tua adalah bagaimana
47
C. Hipotesis
1. Hipotesis Ha
kabupaten Gorontalo
kabupaten Gorontalo
kabupaten Gorontalo
kabupaten Gorontalo
kabupaten Gorontalo
48
2. Hipotesis H0
a. Tidak Ada Hubungan Frekuensi pemberian makanan terhadap kejadian
Kabupaten Gorontalo
Kabupaten Gorontalo
49
BAB III
METODE PENELITIAN
yang variabel sebab atau risiko dan akibat atau kasus yang terjadi pada obyek
asi ekslusif terhadap balita Stanting yag ada diwilayah Lokus Kabupaten
Gorontalo.
Populasi
Jumlah populasidiwilayah lokus
berjumlah 1542
Sampel
Sampel dalam penelitian ini
sebanyak 361
50
B. Lokasi dan waktu penelitian
1. Lokasi penelitian
2. Waktu Penelitian
1. Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah balita dengan umur 12-59 bulan
2. Sampel
bulan yang beraa di wilayah kerja Puskesmas Limboto Barat berjumlah 359
balita.
a. Kriteria Sampel
51
d) Ibu balita yang adapada saat pengambilan sampel data ada di tempat
lokasi penelitian
b. Besar Sampel
p1+rp
p= 2
1+ r
0,61+1.0,38
p=
1+r
p = 0,495 0,5
n=¿ ¿ ¿
n=¿ ¿
n=¿ ¿
n = 328 + 10 %
n = 361
Keterangan :
52
n : Jumlah Sampel Minimal
Z❑
1 −α /¿ 2 ¿ : Nilai Z pada derajat kepercayaan 95% (1,96)
(Larasati, 2017)
2 Keragaman makann Beragam 14,6 %
(Widyaningsih et
al., 2018)
3 Frekuensi Makan Sering 26,3 %
(Nabusa et al
2018)
4 Asupan Energi Cukup 23,53%
53
al., 2016)
5 Asupan Lemak Cukup 85,7 %
2012)
2016)
7 Asupan Karbohidrat Cukup 82,9% 18
Kurang 17,1 %
(Anshori, 2012)
8 Asupan Zink Cukup 38,4 % 361
et al., 2019)
9 Asupan Kalsium Cukup 16,22 44
2016)
peneliti.
D. Variabel Penelitian
1. Kalsifikasi Variabel
54
Variabel Dependen : Stunting
a. Stunting
1) Definisi Oprasional
2) Kriteria Objektif
b. Pola Makan
meliputi makan pagi, makan siang, makan malam dan makan selingan
(Depkes, 2013).
2 ) Kriteria Objektif
c. Keragaman Makanan
55
Keanekaragaman pangan adalah anekaragam kelompok
pangan yang terdiri dari makanan pokok, lauk pauk, sayuran dan
d Asupan Energi
e Asupan Karbohidrat
56
jewawut, sagu dan produk olahannya.(Peraturan Mentri Kesehatan,
2014)
f. Asupan Protein
(daging ayam, daging bebek dll), ikan termasuk seafood, telur dan
2) Kriteria Objektif
g. Asupan Lemak
57
Asupanlemak Peraturan Menteri Kesehatan nomor 30 tahun
Lemak serta Pesan Kesehatan untuk Pangan Olahan dan Pangan Siap
2) Kriteria Objektif
h. Asupan Zink
2) Kriteria Objektif
58
Cukup : asupan zink besar dari ( >70 % AKG)
i. Asupan Kalsium
2)Kriteria Objektif
j. Asi Ekslusif
1) Definisi Operasional
Cara pemberian Asi Eksklusif pada bayi dalam kurun 6 bulan
pertama setelah lahir yang diperoleh dengan data primer dengan
menggunakan kuisoner(Rahayu et al., 2019).
2) Kriteria Operasional
Tidak Ekslusif : (jiika tidak diberi asi selama 6 bulan Dan ada
tambahan Susu Formula)
Ya : (ekslusif jika daro 0-6 bulan Tanpa tambahan susu formula )
[Link] Pengumpulan Data dan InstrumenPenelitian
1. Sumber Data
59
a. Data primer
b. Data sekunder
2. Instrumen Penelitian
berikut :
a. Editing
peneliti.
60
b. Coding
data.
c. Entry
d. Tabulasi
sudah diberi nilai, hasilnya dijumlahkan dan diberi kategori sesuai dengan
1. Alur Penelitian
Populasi 1542
61
n = 361
a. Analisis Univariat
b. Analisis Bivariat
bebas dan variabel terikat dengan melihat X = 0,05 atau C1 95% … Teknik
analisis data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan uji statistik
62
Ketentuan-ketentuan yang berlaku pada uji Chi-square yaitu sebagai
berikut:
1) Bila tabelnya 2x2, dan tidak ada nilai Expected (harapan)/ E<5, maka
2) Bila tabelnya 2x2 dan ada nilai E<5, maka uji yang dipakai adalah
3) Bila tabelnya lebih dari 2x2 misalnya 2x3, 3x3, maka digunakan uji
program computer.
terikat)
2) Jika nilai p < 0,05 berarti dinyatakan hubungan signifikan secara statistik (ada
63
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
terdiri dari 10 Desa namun dengan adanya Virus Covid-19 dan pemerintah
yang ada di wilayah tersebut yaitu Desa Huidu, Desa Huidu Utara, Desa
Hutabohu, Desa Pone, Desa Haya-Haya, Desa Yosonegoro, dan Desa Padengo.
Hubungan Pola Asuh dan Pola Makan ,Di Wilayah Lokus Di Kabupaten
Populasi pada penelitian ini adalah seluruh balita dari umur 12-59 bulan
yang berada di wilayah Puskesmas Limboto Barat yaitu sebanyak 1542, dan
Purposive Sampling yaitu sebanayak 361 sampel namun terdapat 2 sampel yang
di drop out oleh peneliti dikarenkan 2 sampel atau responden tersebut berada di
wilayah Daena yang wilayah tersebut tidak di dapat di kunjugi oleh peneliti di
64
karenakan Covid-19 yang pada saat itu Kabupaten Gorontalo Menjadi Wilayah
1. Karakteristik Ibu
Tabel 4.1
Distribusi Responden Berdasarkan Alamat Di Wilayah
Kerja Puskesmas Limboto Barat
Tahun 2020
Alamat n %
Haya-haya 63 17,5
Huidu 66 18,4
Huidu Utara 34 9,5
Hutabohu 28 7,8
Padengo 39 10,9
Pone 60 16,7
Yosonegoro 69 19,2
Total 359 100
Sumber: Data Primer 2020
(7,8%).
65
b. Distribusi Ibu Berdasarkan Kelompok Umur (Tahun)
Tabel 4.2
Distribusi Ibu Berdasarkan Kelompok Umur (Tahun)
Di Wilayah Kerja Puskesmas Limboto Barat
Tahun 2020
Umur Ibu n %
≤ 25 72 20
26-35 258 71,9
36-45 28 7,8
46-55 1 0,3
Total 359 100
Sumber: Data Primer 2020
Tabel 4.3 Distribusi Ibu Berdasarkan Berat Badan (kg) bahwa dari 359
ibu, paling banyak yang memiliki berat badan yaitu 51-60 kg (56,3 %) ibu, dan paling
66
c. Distribusi Ibu Berdasarkan Tinggi Badan (cm)
Tabel 4.4
Distribusi Ibu Berdasarkan Tinggi Badan (cm) Di Wilayah Kerja
Puskesmas Limboto Barat
Tahun 2020
Tinggi Badan n %
≤ 150 48 13,4
151-160 265 73,8
161-170 46 12,8
Total 359 100
Sumber: Data Primer 2020
Tabel 4.5 Distribusi Ibu Berdasarkan Status Pendidikan bahwa dari 359
ibu, paling banyak yaitu Tamat SLTA/MA ada 151 (42,1%) ibu sedangkan paling
sedikit Tamat Perguruan Tinggi ada 20 (5,6%) ibu.
67
d. Distribusi Ibu Berdasarkan Status Pekerjaan
Tabel 4.6
Distribusi Ibu Berdasarkan Status Pekerjaan Di Wilayah Kerja
Puskesmas Limboto Barat
Tahun 2020
Status Pekerjaan n %
URT 309 86
Pegawai Swasta 16 4,5
Wiraswasta 16 4,5
Petani/Buruh Tani 18 5
Total 359 100
Sumber: Data Primer 2020
2. Karakteristik Bayi
a. Distribusi Bayi Berdasarkan Kelompok Umur (Bulan)
Tabel 4.7
Distribusi Bayi Berdasarkan Kelompok Umur (Bulan)
Di Wilayah Kerja Puskesmas Limboto Barat
Tahun 2020
Umur Balita n %
≤ 15 24 6,7
16-25 65 18,1
26-35 98 27,3
36-45 82 22,8
46-55 63 17,5
≥ 56 27 7,6
Total 359 100
Sumber: Data Primer 2020
Tabel 4.7 Dsitribusi Bayi Berdasarkan Kelompok Umur bahwa dari 359 Bayi ,
paling banyak berumur yaitu 26-35 (27,3%). Dan paling sedikit yaitu ≤ 15 (6,7%).
68
b. Distribusi Bayi Berdasarkan Jenis Kelamin
Tabel 4.8
Distribusi Bayi Berdasarkan Jenis Kelamin Di Wilayah Kerja
Puskesmas Limboto Barat
Tahun 2020
Jenis Kelamin n %
Laki-Laki 146 40,7
Perempuan 213 59,3
Total 359 100
Sumber: Data Primer 2020
bahwa dari 359 bayi, laki-laki yaitu 146 (40,7%) bayi dan perempuan
Tabel 4.9
Distribusi Bayi Berdasarkan Berat Badan (kg) Di Wilayah Kerja
Puskesmas Limboto Barat
Tahun 2020
bahwa dari 359 bayi, paling banyak memiliki berat badan yaitu 6-15 kg
69
d. Distribusi Bayi Berdasarkan Tinggi Badan (cm)
Tabel 4.10
Distribusi Bayi Berdasarkan Tinggi Badan (cm) Di Wilayah Kerja
Puskesmas Limboto Barat
Tahun 2020
bahwa dari 359 bayi. Paling banyak yang memiliki tinggi yaitu 81-90 cm
3. Analisis Univariat
masing kategori dari variabel independen yang berisiko dan variabel dependen
berisiko, dan untuk mengetahui adanya homogenitas yaitu bila salah satu
70
a. Distribusi Kejadian Stunting Pada Bayi
Tabel 4.11
Distribusi Bayi Berdasarkan Kejadian Stunting Pada Bayi
Di Wilayah Kerja Puskesmas Limboto Barat
Tahun 2020
Frekuensi Makan n %
Sering 174 48,5
Tidak Sering 185 51,5
Total 359 100
Sumber: Data Primer, 2020
71
c. Distribusi Bayi Berdasarkan Keanekaragaman Makanan Bayi
Tabel 4.13
Distribusi Bayi Berdasarkan Keanekaragaman Makanan Pada Bayi
Di Wilayah Kerja Puskesmas Limboto Barat
Tahun 2020
Keanekaragaman
n %
Makanan
Beragam 229 63,8
Tidak Beragam 130 36,2
Total 359 100
Sumber: Data Primer, 2020
Tabel 4.14
Distribusi Bayi Berdasarkan Asupan Energi Di Wilayah
Kerja Puskesmas Limboto Barat
Tahun 2020
Asupan Energi n %
Cukup 171 47,6
Kurang 188 52,4
Total 359 100
Sumber: Data Primer, 2020
72
e. Distribusi Bayi Berdasarkan Asupan Karbohidrat
Tabel 4.15
Distribusi Bayi Berdasarkan Asupan Karbohidrat Di Wilayah
Kerja Puskesmas Limboto Barat
Tahun 2020
Asupan
n %
Karbohidrat
Cukup 152 42,3
Kurang 207 57,7
Tabel 4.16
Distribusi Bayi Berdasarkan Asupan Protein Di Wilayah
Kerja Puskesmas Limboto Barat
Tahun 2020
Asupan Protein n %
Cukup 204 56,8
Kurang 155 43,2
Total 359 100
Sumber: Data Primer, 2020
73
g. Distribusi Bayi Berdasarkan Asupan Lemak
Tabel 4.17
Distribusi Bayi Berdasarkan Asupan Lemak Di Wilayah
Kerja Puskesmas Limboto Barat
Tahun 2020
Asupan Lemak n %
Cukup 205 57,1
Kurang 154 42,9
Total 359 100
Sumber: Data Primer, 2020
Tabel 4.18
Distribusi Bayi Berdasarkan Asupan Zink Di Wilayah
Kerja Puskesmas Limboto Barat
Tahun 2020
Asupan Zink n %
74
i. Distribusi Bayi Berdasarkan Asupan Kalsium
Tabel 4.19
Distribusi Bayi Berdasarkan Asupan Kalsium Di Wilayah
Kerja Puskesmas Limboto Barat
Tahun 2020
Asupan Kalsium n %
Cukup 4 1,1
Kurang 355 98,9
Total 359 100
Sumber: Data Primer, 2020
Tabel 4.20
Distribusi Bayi Berdasarkan ASI Eksklusif Di Wilayah Kerja
Puskesmas Limboto Barat
Tahun 2020
ASI Eksklusif n %
Ya 67 18,7
Tidak 292 81,3
Total 359 100
Sumber: Data Primer, 2020
75
4. Analisis Bivariat
sebagai berikut:
Tabel 4.21
Hubungan Frekuensi Makan Degan Kejadian Stunting
Di Puskesmas Limboto Barat
Tahun 2020
Tabel 4.21 dapat diketahui bahwa dari 359 bayi (100%) balita
yang memiliki frekuensi makan Sering yaitu 174 bayi (100%) paling
banyak yang tidak stunting yaitu 123 bayi (77,7%), begitupun balita
yang memiliki frekuensi makan yang tidak sering yaitu 185 (100%)
hitung 0,000 < x 2 tabel=3,841 dengan niali p value (1,000) >α 0,05 ini berati
76
H0 diterima dan Ha di tolak, yang berati tidak ada hubungan Frekuensi
Barat.
Tabel 4.22
Hubungan Keanekaragaman Makanan Degan Kejadian
Stunting Di Puskesmas Limboto Barat
Tahun 2020
Tabel 4.22 dapat diketahui bahwa dari 359 bayi (100%) bayi
(100%) paling banyak yang tidak stunting yaitu 200 balita (89,7%),
hitung 0,163 < x 2 tabel=3,841 dengan niali p value (0,687) >α 0,05 ini berati
77
keanekaragaman makanan dengan kejadian stunting di wilayah kerja
Tabel 4.23
Hubungan Asupan Energi Degan Kejadian Stunting
Di Puskesmas Limboto Barat
Tahun 2020
Tabel 4.23 dapat diketahui bahwa dari 359 bayi (100%) bayi
yang memiliki asupan energi cukup yaitu 171 bayi (100%) paling
memiliki asupan energi kurang yaitu 188 (100%) paling banyak yang
hitung 42,045 > x 2 =3,841 dengan niali p value (0,000) <α 0,05 ini
tabel
78
energi dengan kejadian stunting di wilayah kerja Puskesmas Limboto
Barat.
Tabel 4.24
Hubungan Asupan Karbohidrat Degan Kejadian Stunting
Di Puskesmas Limboto Barat
Tahun 2020
Tabel 4.24 dapat diketahui bahwa dari 359 bayi (100%) bayi
Karbohidrat kurang yaitu 209 (100%) yang stunting yaitu 183 (88,4%).
hitung 48,837 < x 2 =3,841 dengan niali p value (0,000) <α 0,05 ini
tabel
Limboto Barat.
79
e. Hubungan Asupan Protein Dengan Kejadian Stunting Di Puskesmas
Tabel 4.25
Hubungan Asupan Protein Degan Kejadian Stunting
Di Puskesmas Limboto Barat
Tahun 2020
Tabel 4.25 dapat diketahui bahwa dari 359 bayi (100%) bayi
yang memiliki asupan protein cukup yaitu 204 (100%) paling banyak
asupan protein kurang yaitu 155 (100%) paling banyak yang stunting
yaitu 82 (52,9%).
hitung 69,672 > x 2 =3,841 dengan niali p value (0,000) <α 0,05 ini
tabel
Barat.
80
f. Hubungan Asupan Lemak Dengan Kejadian Stunting Di Puskesmas
Tabel 4.26
Hubungan Asupan Lemak Degan Kejadian Stunting
Di Puskesmas Limboto Barat
Tahun 2020
Tabel 4.26 dapat diketahui bahwa dari 359 bayi (100%) bayi
yang memiliki asupan lemak cukup yaitu 205 (100%) paling banyak
asupan Lemak kurang yaitu 154 (100%) paling banyak yang stunting
yaitu 78 (50,6).
hitung 56,063 > x 2 =3,841 dengan niali p value (0,000) <α 0,05 ini
tabel
Barat.
81
g. Hubungan Asupan Zink Dengan Kejadian Stunting Di Puskesmas
Tabel 4.27
Hubungan Asupan Zink Degan Kejadian Stunting
Di Puskesmas Limboto Barat
Tahun 2020
Tabel 4.27 dapat diketahui bahwa dari 359 bayi (100%) bayi
yang memiliki asupan zink cukup yaitu 184 (100%) yang stunting yaitu
hitung 1,699 < x 2 tabel=3,841 dengan niali p value (0,192) >α 0,05 ini berati
Barat
82
h. Hubungan Asupan Kalsium Dengan Kejadian Stunting Di Puskesmas
Tabel 4.28
Hubungan Asupan Kalsium Degan Kejadian Stunting
Di Puskesmas Limboto Barat
Tahun 2020
Tabel 4.28 dapat diketahui bahwa dari 359 bayi (100%) bayi
yang tidak stunting yaitu 2 bayi (100%), begitupun bayi yang memiliki
asupan kalsium kurang yaitu 355 (100%) paling banyak yang tidak
hitung 1,000 < x 2 tabel=3,841 dengan niali p value (0,713) >α 0,05 ini berati
Barat.
83
i. Hubungan ASI Eksklusif Kejadian Stunting Di Puskesmas Limboto
Tabel 4.29
Hubungan ASI Eksklusif Degan Kejadian Stunting
Di Puskesmas Limboto Barat
Tahun 2020
Tabel 4.29 dapat diketahui bahwa dari 359 bayi (100%) bayi
yang ASI Eksklusif yaitu 67 (100%) paling banyak yang tidak stunting
yaitu 61 balita (91,0%), begitupun balita yang tidak ASI Ekslusif yaitu
292 (100%) paling banyak yang tidak stunting yaitu 269 (92,1%).
hitung 0,002 < x 2 tabel=3,841 dengan niali p value (0,965) >α 0,05 ini berati
Barat.
84
B. Pembahasan
Penelitian ini melihat Faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian
makan, nafsu makan balita berkurang, densitas energi yang rendah, dan ada
Hasil penelitian di peroleh bahwa dari 359 bayi (100%) bayi yang
memiliki frekuensi makan Sering yaitu 174 bayi (100%) paling banyak yang
tidak stunting yaitu 123 bayi (77,7%), begitupun bayi yang memiliki frekuensi
makan yang tidak sering yaitu 185 (100%) paling banyak yang tidak stunting
Hasil uji statistik menggunakan uji Chi Square, diperoleh nilai x 2 hitung
0,000 < x 2 =3,841 dengan niali p value (1,000) >α 0,05 ini berati H0
tabel
diterima dan Ha di tolak, yang berati tidak ada hubungan Frekuensi Makan
85
Penelitian yang dilakukan oleh Rusmin pada tahun 2019 bahwa
cukup yaitu >3 kali makan perhari dengan kejadian stunting. Adapun
penelitian yang dilakkan oleh Hendrayati pada tahun 2015 didapatkan hasil
satu faktor penentu kejadian stunting. (Rusmil et al., 2019) dan adapun dalam
penelitian yang dilakukan Oleh Baye di Etiopia pada tahun 2017 di dapatkan
stunting serta dukungan orang tua terhadap pemberian makanan secara teratur
anak dapat juga membangun hubungan emosional antara ibu dan anak. (Baye
2017) Serta dalam penelitian yang dilakukan oleh Menon di Amerika Latin
pada anak usia 12-36 bulan menunjukan bahwa praktek pemberian makanan
makan yang Sering yaitu > 3 kali makan/ hari Tidak Stunting hal tersebut
adapun balita yang Frekuensi makana Sering yaitu > 3 kali makan /hari namun
Balita tersebut mengalami stunting. Hal ini di pengaruhi oleh status Gizi ibu
pada saat kehamilan mengalami Anemia yaitu kurangnya zat besi pada ibu
86
hamil, hal tersebut mempengaruhi proses pertumbuhan bayi dalam
dikarenakan penyebab balita menjadi stunting ini bukan hanya pengaruhi dari
jumlah atau seberapa sering balita tersebut di beri Asupan tetapi stunting
sendiri bisa pengaruhi oleh faktor lain seperti Status Gizi ibu pada saat
kehamilan, dan kandungan gizi dalam makanan yang di berikan oleh orang
tua. Hal ini diperlukan pengetahuan orang tua terhadap Asupan atau makanan
yang memiliki nilai gizi yang baik dan tepat di berikan kepada balita,untuk
mendukung dan mencukupi asupan yang dibutuhkan oleh anak dalam proses
pertumbuhan.
seimbangan antara pemasukan zat gizi yang di perlukan oleh tubuh. Oleh
87
Hasil penelitan yang dilakukan di Puskesmas Limboto Barat dapat
diketahui bahwa dari 359 bayi (100%) bayi yang memiliki keanekaragaman
makanan yang beragam yaitu 223 (100%) paling banyak yang tidak stunting
Tidak Beragam yaitu 183 (100%) paling banyak yang tidak stunting yaitu 53
(33,0%)
Hasil uji statistik menggunakan uji Chi Square, diperoleh nilai x 2 hitung
0,163 < x 2 =3,841 dengan niali p value (0,687) >α 0,05 ini berati H0
tabel
Barat.
value sebesar 0,459 berarti tidak ada hubungan antara variasi makanan yang
analisis diperoleh hasil Prevalence Ratio (PR) yaitu 1,644 yang artinya tidak ada
hubungan antara pemberian makan yang bervariasi dengan kejadian stunting pada
anak balita. Selain itu pada tahun 2018 di lakukan penelitian hubungan
88
Widyanigsih dkk menunjukkan bahwa sebanyak 85,4% balita yang asupan
makannya tidak beragam mengalami stunting dan hanya 14,6% balita yang
antara keragaman pangan dengan kejadian stunting pada balita dengan nilai p
value (p≤0,05). Selain itu dalam hasil penelitian sebelumnya yang di lakukan
keragaman makanan pangan pada balita di kedua Negara tersebut lebih tinggi
disebabkan karena adanya perbedan pola makan dan keadaan social ekonomi
antara Negara yang satu dan Negara yang lainnya. (Gonzalez dkk 2017)
makannya Beragam yaitu balita dalam sehari makan Nasi+ ikan + sayur +buah,
dan balita tersebut tidak Stunting hal tersebut berpngaruh pada status gizi balita
asupan balita tersebut. Namun dalam penelitian ini juga terdapat balita yang
Asupan makannya beragam tetapi balita tersebut stunting hal ini di karenakan
kerebragaman makanan belum bisa menjamin untuk balita tersebut tidak akan
mengalami stunting karena faktor penyebab stuting itu sendiri ada bebrapa yang
dapat mempengaruhi balita stunting salah satunya yaitu karena keturunan atau
Gen bawaan dari orang tua. Orang tua yang Pendek Akan berpeluang untuk
89
Hasil penelitian yang di lakukan wilayah Kerja Puskesmas Limboto Barat
Kejadian stunting. Hal ini di karenakan walaupun balita dengan asupan makanan
yang beragam tetapi memiliki riwayat atau keturunan Gen dari orang tua yang
pendek hal tersebut dapat mempengaruhi pertumbuhan dari anak tersebut karena
asupan yang dibutuhkan oleh anak. pada umumnya disebabkan oleh banyak
faktor yang saling berhubungan konsumsi zat gizi seperti salah satunya
adapun penelitian yang dilakukan oleh Adani dan Nindia pada tahun 2017
stunting di Wilayah Surabaya.(Adani & Nindya, 2017) Hal ini sejalan dengan
asupan energy pada kelompok balita stunting dan non stunting dengan nilai p
adalah 0,001 yang berarti adanya hubungan antara asupan energy dengan
90
Hasil penelitian ini dengan melakukan recall 24 jam dapat dapat
diketahui bahwa dari 359 bayi (100%) bayi yang memiliki asupan energi
cukup yaitu 171 bayi (100%) paling banyak yang stunting yaitu 22 bayi
(12,9%), begitupun bayi yang memiliki asupan energi kurang yaitu 188
Hasil uji statistik menggunakan uji Chi Square, diperoleh nilai x 2 hitung
42,045 > x 2 =3,841 dengan niali p value (0,000) <α 0,05 ini berati H0
tabel
ditolak dan Ha di terima, yang berati ada hubungan asupan energi dengan
sebelumnya yang di lakukan oleh Tika dwi afwar dkk yang Berdasarkan
asupan energi dengan kejadian stunting pada [Link] itu penelitian yang
di lakukan oleh Eko setiwan Dkk pada tahun 2018 menunjukkan bahwa
kejadian stunting pada anak usia 24-59 bulan di wilayah kerja Puskesmas
yang Asupan energinya terpenuhi dan Tidak stunting hal ini di karenakan
91
salah satu faktor dariterjadinya stunting pada balita yaitu tidak tercukupinya
zat gizi baik makro maupun zat gizi mikro dan ketika asupan terpenuhi maka
dalam penlitian ini juga terdapat Balita yang Asupan energinya terpenuhi atau
cukup yaitu > 80% AKG tetapi balita tersebut mengalami Stunting. Hal ini
merupakan Hal yang sangat penting karena dapat meningkatkan daya tahan
tubuh anak.
ini dikarenakan pada masa awal anak-anak yang di tandai dengan pertubuhan
dengan mencukupi kebutuhan energi yang adekuat merupakan hal yang sangat
penting bagi proses pertumbuhan, energi tersebut bersumber dari zat gizi
makro yaitu Karbohidrat,Protein dan Lemak dan zat gizi mikro yang di
Status gizi pada balita dapat dipengaruhi oleh asupan zat gizi balita.
Asupan zat gizi makro berperan dalam penyediaan energi dan berhubungan
dengan status gizi balita.3 Perubahan status gizi menjadi baik atau normal
92
Hasil penelitian dengan melakukan Recall 24 jam dapat diketahui
dapat diketahui bahwa dari 359 bayi (100%) bayi yang memiliki asupan
Karbohidrat cukup yaitu 150 (100%) yang stunting yaitu 14 bayi (9,3%),
begitupun bayi yang memiliki asupan Karbohidrat kurang yaitu 209 (100%)
Hasil uji statistik menggunakan uji Chi Square, diperoleh nilai x 2 hitung
48,837 < x 2 =3,841 dengan niali p value (0,000) <α 0,05 ini berati H0
tabel
tahun 2018 di daptkan hasil analisis yaitu hubungan antara asupan karbohidrat
dengan kejadian stunting pada balita diperoleh bahwa sebagian besar asupan
karbohidrat kurang sebesar 54,5% dan asupan karbohidrat cukup pada balita
stunting sebesar 13,9%. Di dapatkan hasil uji statistik p-value 0,003, berarti
asupan zat gizi makro terhadap kejadian stunting di wilayah Burkino faso.
93
Asumsi peneliti Asupan Karbohidrat yang cukup yaitu > 80% AKG
pertumbuhan selain itu karbohidrat juga salah satu penghasil energy terbesar
yang di butuhkan oleh tubuh terlebih pada anak yang mengalami masa
pertubuhan. Namun dalam penelitian ini pula terdapat balita yang Asupan
Karbohidratnya terpenuhi dan balita tersebut tetap mengalami Stunting, hal ini
di sebabkan oleh faktor lain yaitu dilihat dari riwayat penyakit infeksi yang di
alami oleh balita tersebut,karena jika asupan karbohidrat atau zat gizi
makronya tercukupi namun ada bawaan penyakit infeksi hal ini dapat
kedalam tubuh dengan adanya penyakit infeksi tersebut, maka asupan yang
tubuh.
Hal ini disebabkan oleh asupan karbohidrat merupakan asupan zat gizi makro
yang terdiri dari 3 unsur penyusun karbohidrat yaitu Karbon (C) ,Hidrogen
(H) dan Oksigen (O). Yang ketika masuk kedalam tubuh melalui proses
metobolisme zat gizi yang akan di pecah menjadi Glukosa yang akan menjadi
94
sumber energi untuk aktifitas sel, karbohidrat sendiri menyedikan energi
Protein adalah salah satu zat gizi makro yang berfungsi sebagai
dan kuantitas asupan protein yang baik dapat berfungsi sebagai Insulin growth
dapat diketahui bahwa dari 359 bayi (100%) bayi yang memiliki asupan
protein cukup yaitu 204 (100%) paling banyak yang stunting yaitu 24 bayi
(11,8%), begitupun bayi yang memiliki asupan protein kurang yaitu 155
95
Hasil uji statistik menggunakan uji Chi Square, diperoleh nilai x 2 hitung
69,672 > x 2 =3,841 dengan niali p value (0,000) <α 0,05 ini berati H0
tabel
ditolak dan Ha di terima, yang berati ada hubungan asupan protein dengan
oleh Ayunigtias pada rahun 2018 Berdasarkan uji statistik terdapat hubungan
antara asupan protein dengan kejadian stunting pada balita usia 24-59 bulan
diperoleh nilai p (0,008) p<0,05. (Ayuningtyas et al., 2018). Hal ini sejalan
dengan penelitian yang dilakukan oleh adani yang menyatakan bahwa adanya
yaitu > 80% AKG dan Tidak mengalami stunting hal ini dikarenakan asupan
merupakan senyawa organic yang kompleks dan sala satu makro nutrient
yang berperan sebagai penyedia energy dalam tubuh. Namun adapun balita
penyebab stunting bukan hanya disebabkan oleh Asupan zaat gizi saja,bisa
jadi asupan zat gizi balita terpenuhi tapi jika pada saat balita tersebut masih
dalam kandungan atau rahim ibunya dan pada saat kehamilan Ibu mengalami
Kekurangan Energi Kronis (KEK) hal ini dapat menyebabkan anak menjadi
96
stunting karena ibu yang mengalami KEK akan berpeluang untuk melahirkan
Limboto Barat Ada Hubungan Asupan Protein Dengan Kejadian Stunting. Hal
ini dikarenakan asupan Protein Merupakan salah satu asupan zat Gizi makro
yang sangat penting dan dibutuhkan oleh tubuh, Protein sendiri berfungsi
bayi dan protein merupakaan salah satu zat gizi yang mendukung daya tahan
tubuh dari balita tersebut. Sumber protein yang diperoleh atau yang paling
banyak dikonsumsi oleh balita yang ada di wilayak kerja Puskesmas Limboto
Lemak adalah suatu zat yang kaya akan energi, berfungsi sebagai
sumber energy, Zat gizi lemak berperan untuk mengangkut vitamin larut
lemak yang dibutuhkan tubuh, oleh karena itu lemak merupakan salah satu
tidak tercukupi dan kebutuhan vitamin di dalam tubuh tidak terpenuhi, maka
asupan lemak berhubungan dengan stunting pada balita Hal ini dikarenakan
97
dalam lemak terkandung asam lemak esensial yang memiliki peran dalam
mengatur kesehatan. Selain itu simpanan energi dapat berasal dari konsumsi
lemak dan lemak sebagai alat pengangkut dan pelarut vitamin larut lemak
dapat diketahui dapat diketahui bahwa dari 359 bayi (100%) bayi yang
memiliki asupan lemak cukup yaitu 205 (100%) paling banyak yang stunting
yaitu 28 bayi (13,7%), begitupun bayi yang memiliki asupan Lemak kurang
Hasil uji statistik menggunakan uji Chi Square, diperoleh nilai x 2 hitung
56,063 > x 2 =3,841 dengan niali p value (0,000) <α 0,05 ini berati H0 di
tabel
tolak dan Ha di terima, yang berati ada hubungan asupan lemak dengan
Oktarina pada tahun 2015 Hasil studi menunjukkan bahwa proporsi balita
dengan tingkat asupan lemak yang rendah meng-alami stunting lebih banyak
antara asupan lemak dengan kejadian stunting pada balita. Balita dengan
98
tingkat asupan lemak rendah 1.31 kali lebih berisiko mengalami stunting
Asumsi Peneliti Balita yang asupan lemaknya > 80% AKG atau cukup
dan balita tidak mengalami Stunting hal ini di sebabkan oleh pentingnya
asupan lemak dalam pembentukan membrane sel saraf otak terutama asam
lemak omega 3 yang terdapat pada lemak ikan laut. Namun adapun Anak yang
Asupan lemak yang terpenuhi tetapi anak tersebut Stunting hal ini terjadi
karena bisa jadi karena perilaku hidup bersih dan sehatnya kurang
seperti,jarang bahkan tidak mencuci tangan sebelum makan hal tersebut dapat
memepnegaruhi asupan yang akan masuk kedalam Tubuh akan di rusak oleh
Barat Ada Hubungan Asupan Lemak dengan kejadian stunting hal ini di
membaran sel serabut saraf dan structural sel secara umum cadangan lemak
terutama pada jaringan adipose sebagai sumber energi jangka panjang bagi
tubuh.
99
7. Hubungan Asupan Zink dengan kejadian Stunting
pada sebagai regulator, katalitik, dan struktural yang penting pada berbagai
sistem biologi dimana seng berperan pada lebih dari 300 enzim yang terdapat
karbohidrat, lipid, dan protein serta sintesis dan degradasi asam nukleat
HCO3), thimidin kinase/DNA dan RNA polimerase (sintesis asam nukleat dan
protein). Seng juga berperan dalam stabilisasi struktur protein, asam nukleat,
serta integritas organella subseluler seperti proses transport, fungsi imun, dan
radikal bebas. Seng penting untuk berbagai fungsi termasuk pertumbuhan dan
Penelitian ini di dapat diketahui bahwa dari 359 bayi (100%) bayi yang
memiliki asupan zink cukup yaitu 184 (100%) yang stunting yaitu 41 bayi
(22,3%), begitupun balita yang memiliki asupan Zink kurang yaitu 157
Hasil uji statistik menggunakan uji Chi Square, diperoleh nilai x 2 hitung
1,699 < x 2 =3,841 dengan niali p value (0,192) >α 0,05 ini berati H0
tabel
100
diterima dan Ha di tolak, yang berati tidak ada hubungan asupan zink dengan
yang sinifikan terhadap pertumbuhan anak, yang berarti bahwa penelitian ini
Limboto Barat yakni tidak ada hubungan asupan zink dengan kejadian
ada perbedaan yang signifikan antara asupan zink pada balita stunting dan
non stunting dengan nilai p yaitu 0,003. Dan hal ini pun sangat sejalan dengan
signifikan antara asupan zink yang kurang dengan kejadian stunting. Jika
tubuh mengalami defisiensi zink, maka akan terjadi gangguan pada reseptor
GH, sehingga resisten terhadap produksi GH, lalu berkurangnya sintesis Liver
protein) yaitu IGFBP. Pada balita berisiko kekurangan zink lebih besar karena
memerlukan zink yang besar untuk proses pertumbuhan yang juga diperlukan
Asumsi peneliti Asupan Zink yang cukup yaitu > 70% AKG sehingga
101
pendukung. Namun dalam penelitian ini terdapat balita yang Asupan Zink
yang tercukupi tetapi Balita emngalami stunting hal ini di pengaruhi oleh
status gizi ibu pada saat kehamilan ibu mengalami Anemia hal ini dapat
Barat Tidak ada Hubungan Asupan Zink dengan Kejadian Stunting. Hal ini
oleh Balita tetapi stunting juga bisa dipengaruhi oleh Status Gizi dan
sehingga ibu yang mengalami anemia bersiko untuk melahirkan bayi yang
stunting.
kalsium dalam tulang kurang dari 50% kandungan normal. Pada bayi,
102
pada anak-anak, kekurangan deposit dapat menyebabkan terhambatnya
pertumbuhan.
diketahui bahwa dari 359 bayi (100%) bayi yang memiliki asupan calcium
cukup yaitu 4 (100%) paling banyak yang tidak stunting yaitu 2 bayi (100%),
begitupun bayi yang memiliki asupan kalsium kurang yaitu 355 (100%) paling
Hasil uji statistik menggunakan uji Chi Square, diperoleh nilai x 2 hitung
1,000 < x 2 =3,841 dengan niali p value (0,713) >α 0,05 ini berati H0
tabel
diterima dan Ha di tolak, yang berati tidak ada hubungan asupan calcium
kalsium, dengan nilai p velue 0.000 signifikan lebih rendah pada anak
stunting dibandingkan pada anak tidak stunting usia 24-59 bulan di Kota
Pontianak.
Asumsi peneliti balita yang asupan kalsiumnya cukup yaitu > 70%
kalsium berepran sebagai zat gizi mikro yang membantu dalam pembentukan
tulang terlebih pada balita yang mengalami masa pertumbuhan. Namun dalam
penelitian ini juga terdapat Balita yang Asupan Kalsiumnya terpenuhi namun
103
balita mengalami stunting hal ini karena penyebab stunting bukan hanya
Barat, bahwa Tidak ada Hubungan Asupan Kalsium dengan Kejadian Stunting
hal ini di pengaruhi oleh faktor ekonomi orang tua yang rendah yang dapat
dilihat dari status pekerjaan orang tua hampir semua orang tua hanya bekerja
sebagai ibu rumah tangga dan menjadi buruh tani dan pegawai swasta. Hal
yang memiliki Asupan gizi yang baik. Keluarga dengan satatus ekonomi baik
Makanan pertama dan utama bayi tentu saja air susu ibu. Bayi
peminum ASI akan tumbuh dengan baik jika ia dapat mengonsumsi air susu
ibu sebanyak 150-200 cc/kg BB/hari (Arisman, 2008). WHO dan UNICEF
tindakan untuk tidak memberikan makanan atau minuman lain (bahkan air
sekalipun) kecuali air susu ibu (ASI). Ada beberapa mekanisme yang
merupakan sumber asam lemak tak jenuh yang bukan hanya merupakan
104
sumber energi tetapi juga sangat penting bagi perkembangan otak. Yang
Pemberian ASI dapat membawa manfaat bagi interaksi ibu dan anak serta
Berdasarkan hasil penelitian ini dapat diketahui bahwa dari 359 bayi
(100%) bayi yang ASI Eksklusif yaitu 67 (100%) paling banyak yang tidak
stunting yaitu 61 balita (91,0%), begitupun balita yang tidak ASI Ekslusif
yaitu 292 (100%) paling banyak yang tidak stunting yaitu 269 (92,1%).
Hasil uji statistik menggunakan uji Chi Square, diperoleh nilai x 2 hitung
0,002 < x 2 =3,841 dengan niali p value (0,965) >α 0,05 ini berati H0
tabel
diterima dan Ha di tolak, yang berati tidak ada hubungan ASI Eksklusif
Tidak ada Hubungan Asi Ekslusif dengan Kejadian Stunting ASI eksklusif
bersifat protektif terhadap kejadian stunting pada anak, namun hasilnya tidak
105
signifi kan, baik untuk ASI eksklusif >6 bulan (OR 0,99, 95% CI 0,63–1,59)
dengan analisis multivariate dan uji regresi logistic menunjukan bahwa adanya
korelasi yang singnifikan antara stunting dengan Asi Ekslusif dapat dilihat
dari nilai p-value 0,034. Dan adapun penelitian yang tak sejalan dalam
penelitian yang dilakukan di Nepal dan Libiya oleh Paudel pada tahun 2012
bayi yang Tidak eksulif adalah 6,9 kali lebih beresiko mengalami stunting
dengan nilai OR= 6,90 atau 95%. Studi ini menunjukan bahwa bayi yang
tidak asi ekslusif akan berseiko megalami penurunan berat badan dan
cenderung akan mengalami stunting. Penelitian ini tak sejalan dengan yang
dilakukan oleh Sri Indrawat dan Warsiti tentang hubungan Pemberian Asi
Ekslusif dengan kejadian stunting pada anak usia 2-3 tahun di desa
asupan yang dibutuhkan balita tercukupi dari Asi yang di konsumsi karena
Asinya Terpenuhi selama 6 bulan tapi tetap mengalami stunting hal ini dapat
disebabkan oleh faktor Berat Badan lahir yang tidak normal atau BBLR. di
106
ketahui bahwa Berat badan bayi normal yaitu >2500 [Link] badan bayi saat
Ukuran linear yang rendah biasanya menunjukkan keadaan gizi yang kurang
akibat kekurangan energi dan protein yang diderita waktu lampau yang di
Tidak ada Hubungan Asi Ekslusif dengan Kejadian Stunting hali ini
atau bayi berat lahir rendah merupakan faktor penyebab stunting jadi bayi
dengan berat badan lahir rendah akan beresiko mengalami stunting atau
107
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian hubungan pola makan dan pola asuh dengan
7. Tidak Ada hubungan Asupan zink dengan kejadian stunting di wilayah lokus
108
9. Tidak ada Hubungan ASI Ekslusif dengan kejadian stunting di wilayah Lokasi
B. Saran
109
DAFTAR PUSTAKA
110
Merupakan Faktor Risiko Kejadian Stunted Pada Anak Usia 1-3 Tahun Yang.
89–104.
Hw, S.-. (2019). Angka Kecukupan Gizi 2019. Problem Set 2, 23(3), 2019.
Kemenkes Ri. (2018). Warta Kesmas - Cegah Stunting Itu Penting. Warta Kermas, 1–
27.
Larasati, N. N. (2017). Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Stunting
Pada Balita Usia 25-59 Bulan Di Posyandu Wilaya Puskesmas Wonosari Ii
Tahun 2017.
Maulidah, W. B., Rohmawati, N., & Sulistiyani, S. (2019). Faktor Yang Berhubungan
Dengan Kejadian Stunting Pada Balita Di Desa Panduman Kecamatan Jelbuk
Kabupaten Jember. Ilmu Gizi Indonesia, 2(2), 89.
Https://[Link]/10.35842/Ilgi.V2i2.87
Muhammad, F., Nurhajjah, S., & Revilla, G. (2018). Pengaruh Pemberian Suplemen
Zink Terhadap Status Gizi Anak Sekolah Dasar. Jurnal Kesehatan Andalas,
7(2), 285. Https://[Link]/10.25077/Jka.V7.I2.P285-290.2018
Nadhiroh, Siti Rahayu; Ni’mah, K. (2015). Faktor Yang Berhubungan Dengan
Kejadian. Media Gizi Indonesia, 1, 13–19.
Naranjo, J. (2014). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 41
Tahun 2014 Tentang Pedoman Gizi Seimbang. Applied Microbiology And
Biotechnology, 85(1), 2071–2079.
Https://[Link]/10.1016/[Link].2013.06.007
Notoatmodjo, S. (2012). Metodologi Penelitian Kesehatan (Ed. Rev). Pt Rineka
Cipta.
Nursalam, 2016, Metode Penelitian. (2013). Journal Of Chemical Information And
Modeling, 53(9), 1689–1699. Https://[Link]/10.1017/Cbo9781107415324.004
Nursalam, Metode Penelitian. (2013). Konsumsi Makanan Sumber Lemak Dan
Karbohidrat 1. Journal Of Chemical Information And Modeling, 53(9), 1689–
1699. Https://[Link]/10.1017/Cbo9781107415324.004
Purwani, E. (2013). Pola Pemberian Makan Dengan Status Gizi Anak Usia 1 Sampai
5 Tahun Di Kabunan Taman Pemalang. Jurnal Keperawatan Anak, 1(1), 30–36.
Http://[Link]/[Link]?Article=98477&Val=5091
Qamariyah, B., & Nindya, T. S. (2018). Hubungan Antara Asupan Energi , Zat Gizi
Makro Dan Total Energy Expenditure Dengan Status Gizi Anak Sekolah Dasar
(Correlation Between Energy Intake , Macro Nutrients And Total Energy
Expenditure And Nutritional Status Of Elementary Students). Amerta Nutr, 59–
65. Https://[Link]/10.20473/Amnt.V2.I1.2018.59-65
Rachmawati, Sutrani Djuwita Hatma, R. (2018). Hubungan Praktik Kesehatan Pada
Awal Kehidupan Dengan Kejadian Stunting Pada Balita Early Life Health
Practice And Stunting Among Children Under-Five Years Old. 120–127.
Https://[Link]/10.30597/Mkmi.V15i2.6334
Rahayu, S., Djuhaeni, H., Nugraha, G. I., & Mulyo, G. E. (2019). Hubungan
Pengetahuan, Sikap, Perilaku Dan Karakteristik Ibu Tentang Asi Eksklusif
Terhadap Status Gizi Bayi. Action: Aceh Nutrition Journal, 4(1), 28.
111
Https://[Link]/10.30867/Action.V4i1.149
Rahman, Farah Danita. (2018). Pengaruh Pola Pemberian Makanan Terhadap Angka
Kejadian Stunting Pada Balita. The Indonesian Jorunal Of Health Science,
10(1), 15–24. Https://[Link]/10.1145/3132847.3132886
Riskesdas. (2017). Prevalensi Balita Pendek Mengalami Peningkatan Dari Tahun
2016.
Riskesdas, K. (2018). Hasil Utama Riset Kesehata Dasar (Riskesdas). Journal Of
Physics A: Mathematical And Theoretical, 44(8), 1–200.
Https://[Link]/10.1088/1751-8113/44/8/085201
Rusmil, V. K., Ikhsani, R., Dhamayanti, M., & Hafsah, T. (2019). Hubungan Perilaku
Ibu Dalam Praktik Pemberian Makan Pada Anak Usia 12-23 Bulan Dengan
Kejadian. Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas
Padjadjaran/Rsup Dr. Hasan Sadikin, Bandung, 20(6), 1–5.
Https://[Link]/Publication/333169080_Hubungan_Perilaku_Ib
u_Dalam_Praktik_Pemberian_Makan_Pada_Anak_Usia_12-
23_Bulan_Dengan_Kejadian_Stunting_Di_Wilayah_Kerja_Puskesmas_Jatinang
or
Sari, E. M., Juffrie, M., Nurani, N., & Sitaresmi, M. N. (2016). Asupan Protein,
Kalsium Dan Fosfor Pada Anak Stunting Dan Tidak Stunting Usia 24-59 Bulan.
Jurnal Gizi Klinik Indonesia, 12(4), 152. Https://[Link]/10.22146/Ijcn.23111
Setiamy, A. A., & Deliani, E. (2019). Hubungan Asupan Energi, Protein Dan Zink
Terhadap Kejadian Stunting Pada Siswa Sdn 11 Kampung Jua Kecamatan
Lubuk Begalung Tahun 2019no (Vol. 2).
Setiawan, E., Machmud, R., & Masrul, M. (2018). Faktor-Faktor Yang Berhubungan
Dengan Kejadian Stunting Pada Anak Usia 24-59 Bulan Di Wilayah Kerja
Puskesmas Andalas Kecamatan Padang Timur Kota Padang Tahun 2018. Jurnal
Kesehatan Andalas, 7(2), 275. Https://[Link]/10.25077/Jka.V7i2.813
Suratman. (2017). Tabel 1.0 Daftar Nama Subjek Penelitian No Nama Usia.
Http://[Link]/28046/5/Bab [Link]
Ulul Azmy, & Luki Mundiastuti. (2018). Konsumsi Zat Gizi Pada Balita Stunting
Dan Non-Stunting Di Kabupaten Bangkalan. Amerta Nutrition, 2(3), 292–298.
Https://[Link]/10.20473/Amnt.V2.I3.2018.292-298
Wantina, M., Rahayu, L. S., & Yuliana, I. (2017). Keragaman Konsumsi Pangan
Sebagai Faktor Risiko Stunting Pada Balita Usia 6-24 Bulan. Journal Uhamka,
2(2), 89–96.
Who. (2018). Prevalensi Stunting 2018.
Widyaningsih, N. N., Kusnandar, K., & Anantanyu, S. (2018). Keragaman Pangan,
Pola Asuh Makan Dan Kejadian Stunting Pada Balita Usia 24-59 Bulan. Jurnal
Gizi Indonesia, 7(1), 22. Https://[Link]/10.14710/Jgi.7.1.22-29
112
LAMPIRAN
113
DOKUMENTASI
114
115