DAFTAR ISI
Kata Pengantar ................................................................................................... i
Daftar Isi ............................................................................................................ ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang .......................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah ..................................................................................... 1
C. Tujuan Penelitian........................................................................................ 1
D. Manfaat penelitian .....................................................................................
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Imunisasi ................................................................................................... 3
1. Definisi ...............................................................................................
2. Macam-macam imunisasi ...................................................................
3. Efek yang tidak di inginkan ................................................................
4. Kontraindikasi umum, pencegahan & hal direkomendasikan .............
5. Jadwal imunisasi .................................................................................
B. Pekerjaan ................................................................................................ 4
1. Definisi .............................................................................................
C. Dukungan Keluarga ................................................................................ 6
1. Definisi ..............................................................................................
2. Bentuk-bentuk dukungan keluarga ....................................................
3. Faktor yang mempengaruhi dukungan keluarga ................................
D. Kerangka Teori .......................................................................................
BAB III KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESIS ........................................
BAB IV PENUTUP
A. Kesimpulan ............................................................................................. 32
B. Saran ....................................................................................................... 32
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ 33
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Tingkat kesehatan pada bayi perlu mendapatkan perhatian mengingat bayi
atau anak sebagai generasi penerus Bangsa. Salah satu upaya untuk menjadikan
generasi yang sehat yaitu dengan mengurangi tingkat morbiditas dan mortalitas pada
anak. Selain itu juga dibutuhkan suatu upaya kesehatan yang konsisten (Soetjiningsih,
2012).
Upaya mengurangi tingkat morbiditas dan mortalitas pada anak salah satunya
dengan pemberian imunisasi. Imunisasi merupakan salah satu strategi yang efektif
dan efisien dalam meningkatkan derajat kesehatan nasional dengan mencegah enam
penyakit mematikan, yaitu : tuberculosis, dipteri, pertusis, campak, tetanus dan polio.
WHO mencanangkan program Expanded Program on Immunization (EPI) dengan
tujuan untuk meningkatkan cakupan imunisasi pada anak-anak di seluruh dunia sejak
tahun 1974 (Ayubi, 2009).
Rata-rata angka imunisasi di Indonesia hanya 72 persen. Artinya, angka di
beberapa daerah sangat rendah. Ada sekitar 2.400 anak di Indonesia meninggal setiap
hari termasuk yang meninggal karena sebab-sebab yang seharusnya dapat dicegah.
Misalnya tuberculosis, campak, pertusis, dipteri dan tetanus. “Ini merupakan tragedi
yang mengejutkan dan tidak seharusnya terjadi. Masalah ini mencerminkan masalah-
masalah sistem dari tingkat kabupaten ke bawah. Sekaligus juga mencerminkan
perlunya pendanaan yang sesuai di tingkat nasional untuk untuk mendukung dan
mempertahankan pengawasan program imunisasi di Indonesia. Wabah polio yang
baru saja terjadi merupakan krisis kesehatan yang berdampak global. Ini merupakan
contoh yang baik mengapa beberapa program tidak boleh dibiarkan gagal karena
kurangnya dana dan kapasitas sumber daya manusia pada pelaksanaannya,” kata Dr.
Gianfranco Rotigliano, Kepala Perwakilan UNICEF di Indonesia. Survei atas dugaan
kasus polio yang dilakukan WHO menunjukkan bahwa di beberapa daerah angka
imunitas kurang dari 56 persen. Tiga tahun sebelumnya angka imunitas mencapai 70
persen. Hal ini menunjukkan turunnya layanan kesehatan di beberapa daerah miskin.
(Unicef, 2013).
Program imunisasi merupakan salah satu upaya untuk melindungi penduduk
terhadap penyakit tertentu. Program imunisasi diberikan kepada populasi yang
dianggap rentan terjangkit penyakit menular, yaitu bayi, anak usia sekolah, wanita
usia subur, dan ibu hamil. Setiap bayi wajib mendapatkan lima imunisasi dasar
lengkap (LIL) yang terdiri dari : 1 dosis BCG, 3 dosis DPT, 4 dosis polio, 3 dosis
hepatitis B, dan 1 dosis campak. Pelaksanaan Imunisasi bertujuan mencegah
terjadinya penyakit tertentu pada seseorang sekaligus menghilangkan penyakit
tertentu pada sekelompok masyarakat, seperti difteri dan tetanus. Dengan adanya
imunisasi diharapkan bisa menurunkan angka morbiditas dan mortalitas serta mampu
mengurangi kecacatan akibat penyakit. Menurut laporan yang disampaikan oleh
Medicins Sans Frontieres (MSF) atau Dokter Lintas Batas yang menyebutkan bahwa
Indonesia termasuk 1 dari 6 negara yang teridentifikasi memiliki jumlah tertinggi
anak-anak yang tidak terjangkau imunisasi. Menurut MSF sebanyak 70% dari anak-
anak yang tidak terjangkau program imunisasi rutin tersebar di Kongo, India, Nigeria,
Ethiopia, Indonesia dan Pakistan (Maya, 2012)
Imunisasi merupakan usaha memberikan kekebalan pada bayi dan anak
dengan memasukkan vaksin ke dalam tubuh agar membuat antibodi untuk mencegah
penyakit tertentu. Vaksin adalah bahan yang dipakai untuk merangsang pembentukan
zat anti yang dimasukkan kedalam tubuh melalui suntikan seperti vaksin BCG, DPT,
Hepatitis B, Campak dan melalui mulut seperti polio (Hidayat, 2012).
Penyebab timbulnya masalah imunisasi bersifat multifaktor. Pokok masalah
yang merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku pemberian imunisasi
adalah umur ibu, pendidikan ibu, pengetahuan ibu, pekerjaan ibu dan peran kader
posyandu (Reza, 2006).
Pemberian imunisasi pada anak yang mempunyai tujuan agar tubuh kebal pada
penyakit tertentu. Kekebalan tubuh juga dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor
diantaranya terdapat kadar antibodi yang tinggi pada saat dilakukan imunisasi, potensi
antigen yang disuntikan, dan waktu antara pemberian imnunisasi. Keefektifan
imunisasi tergantung dari faktor yang mempengaruhinya sehingga kekebalan tubuh
dapat diharapkan pada diri anak (Chichie, 2010).
Hasil riskesdas tahun 2013 menunjukkan bahwa data cakupan imunisasi dasar
lengkap hanya 52,9%, yang mendapat imunisasi tapi tidak lengkap 32.1% dan 6.7%
tidak pernah mendapat imunisasi sama sekali (Anonimous, 2012). Penyebab
rendahnya pencapaian imunisasi dasar lengkap tersebut adalah rendahnya kesadaran
dan pengetahuan masyarakat tentang imunisasi, manfaat, jadwal pemberian imunisasi
serta gejala ikutan imunisasi. Selain itu faktor ketersediaan fasilitas kesehatan,
dukungan keluarga dan dukungan petugas kesehatan serta kondisi sosial ekonomi juga
ikut mempengaruhi rendahnya pencapaian UCI desa/kelurahan. Menyadari akan hal
itu pemerintah menetapkan kembali melalui RPJMN dan Renstra Kemenkes 2010-
2014 bahwa target UCI desa/ kelurahan 100% akan di capai pada tahun 2014.
Usaha-usaha yang dilakukan dinas kesehatan masih banyak mengalami
kendala diantaranya kepatuhan orang tua untuk mengimunisasikan bayinya (Upn,
2011). Selain itu kesibukan orang tua, kurang sosialisasi dari pemerintah serta
budaya setempat yang masih mengandalkan dukun menjadi faktor yang
mempengaruhi kepatuhan orang tua untuk memberikan imunisasi pada bayinya.
Kepatuhan merupakan suatu permasalahan bagi semua disiplin perawatan kesehatan
(Basaria, 2007). Kepatuhan dalam mengimunisasikan anak sangatlah penting untuk
kesehatan anak dalam tahap tumbuh kembang (Arifin, 2011)
Dalam melakukan vaksinasi pada dasarnya tidak ada istilah “hangus”, karena
itu vaksinasi tidak perlu diulang dari awal apabila terlambat memberikan dosis
berikutnya. Vaksinasi yang diberikan terlambat masih dapat berfungsi baik walaupun
tidak memberikan perlindungan secara optimal (Hadinegoro dkk, 2011).
Penelitian yang dilakukan Mulyanti (2013) tentang faktor-faktor internal yang
berhubungan dengan kelengkapan imunisasi dasar balita usia 1-5 tahun di wilayah
kerja Puskesmas Situ Gintung Ciputat menunjukkan bahwa ada hubungan antara
pengetahuan, tingkat pendidikan, status pekerjaan, pendapatan keluarga, jarak rumah
ke tempat pelayanan kesehatan, sikap dengan status imunisasi dasar lengkap.
Menurut Indriyani (2013) keluarga adalah salah satu institusi masyarakat yang
paling penting. Keluarga mengemban tanggungjawab utama yang memiliki fungsi
biologis, fungsi ekonomi, fungsi pendidikan, fungsi psikologi dan fungsi sosiobudaya.
Melalui dukungan keluarga yang positif, akan berdampak pola hubungan yang positif
dari seluruh anggota keluarga. Keluarga yang memiliki persepsi positif tentang
imunisasi pada bayi, memiliki peluang untuk membangun perilakunya sesuai dengan
pemahaman keluarga dalam memberikan dukungan. Berbagai dukungan akan
diberikan, misalnya mengingatkan jadwal, mengantar pasangan dalam kegiatan
imunisasi bayi dan lain-lain. Hal ini selaras dengan penelitian Utami dan Yasin (2014)
yang mendapatkan hasil adanya hubungan dukungan keluarga dengan motivasi ibu
dalam mendapatkan imunisasi dasar lengkap pada bayi usia 0-12 bulan di Desa
Nyabakan Barat. Selain itu juga terdapat penelitian serupa yang dilakukan oleh
Ritonga,
Syarifah dan Tukiman (2014) diperoleh hasil adanya hubungan dukungan keluarga
dengan kepatuhan ibu melaksanakan imunisasi dasar pada anak.
Penelitian yang dilakukan oleh Kurniati (2008) bahwa status perkerjaan
seorang
ibu dapat berpengaruh terhadap kesempatan dan waktu yang digunakan untuk
meningkatkan pengetahuan dengan cara menambah pengetahuan tentang imunisasi
dan perhatian terhadap kesehatan anak-anaknya. Ibu yang mempunyai pekerjaan
sebagai ibu rumah tangga mempunyai banyak waktu yang luang, ini berarti ibu-ibu
tersebut bisa mendapatkan banyak informasi dari berbagai media, antara lain:
televisi, radio, surat kabar.
Puskesmas (Pusat Kesehatan Masyarakat) Banggae II merupakan salah satu
puskesmas yang ada di kabupaten Majene yang melayani 5 desa di kecamatan
Lolayan. Di wilayah kerja Puskesmas Banggae II tingkat drop out imunisasi dasar
dari masing-masing kelurahan masih cukup tinggi yaitu lebih dari 5%. Drop
out imunisasi dasar adalah imunisasi dasar yang tidak lengkap dimana tidak
mendapat salah satu atau lebih imunisasi dasar yang meliputi imunisasi
Hepatitis B empat kali, BCG satu kali, DPT tiga kali, Polio empat kali, dan
Campak satu kali. Cakupan imunisasi lengkap di wilayah kerja Puskesmas
Banggae II secara global telah memenuhi target akan tetapi masih terdapat
beberapa kelurahan yang berada di bawah target yaitu cakupan kurang dari
95%.
Seorang anak dikatakan mendapat imunisasi lengkap bila telah menerima
imunisasi Hb-0, BCG, DPT/HB1-2-3, Polio1-2-3-4 dan Campak. Angka drop out
(DO) dinilai dari selisih anak yang mendapat imunisasi DPT/HB1 dan imunisasi
Campak sebagai imunisasi terakhir. Angka yang ditolerir pada indikator DO ini
adalah < 5 %. Artinya makin tinggi angka DO artinya makin banyak anak yang tidak
mendapat imunisasi lengkap. Kabupaten Majene tahun 2016 Drop Out (DO) DPT-HB
(1)-(3) sebesar 14,3%, Drop Out (DO) DPT-HB(1)- Campak sebesar 29,0% dan Drop
Out (DO) Polio 1-4 sebesar 13,0% artinya masih banyak bayi di wilayah kerja
Kabupaten Majene yang tidak mendapatkan imunisasi lengkap. Berdasarkan data dari
Puskesmas tahun 2016 capaian imunisasi dasar lengkap sebesar 81,1%, secara umum
cakupan imunisasi mengalami penurunan dalam tiga tahun [Link] satu faktor
yang mempengaruhi data proyeksi yang terlalu tinggi dibandingkan dengan sasaran
riil yang ada (Dinas Kesehatan, 2016)
Cakupan Imunisasi Dasar Lengkap
Kabupaten Majene 2013-2016
100
95
90
85
80
75
70
2013 2014 2015 2016
Imunisasi Dasar Lengkap
Su
mber : Data Profil Kesehatan Tahun 2016 Kab. Majene
Cakupan Imunisasi Dasar Lengkap Menurut Puskesmas
Kabupaten Majene Tahun 2016
Sumber: Data Profil Kesehatan Tahun 2016 Kab. Majene
Berdasarkan data diatas, menunjukkan bahwa Capaian tertinggi imunisasi dasar
lengkap di Puskesmas ialah pada Puskesmas Malunda sebesar 91,3% dan capaian
terendah pada Puskesmas Banggae II sebesar 67,6%.
Persentase Balita Yang Pernah Mendapat Imunisasi Menurut Kabupaten/Kota
dan Jenis Imunisasi di Provinsi Sulawesi Barat, 2017
Polio DPT
Kabupaten/Kota 1 2 3+ 1 2 3+
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)
Kabupaten/Kota
1. Majene 43,02 1,61 46,24 45,83 3,84 45,65
2. Polewali Mandar 59,53 3,68 35,38 55,68 4,61 39,71
3. Mamasa 47,31 1,55 50,59 46,27 1,52 52,21
4. Mamuju 62,90 1,74 30,83 66,05 0,94 30,51
5. Pasangkayu 69,59 2,87 20,97 68,77 0,60 29,27
6. MamujuTengah 67,85 1,77 27,46 69,97 0,00 29,41
Sulawesi Barat 56,65 2,38 35,07 58,81 2,29 37,44
Hepatitis B
Kabupaten/Kota BCG Campak
1 2 3+
(1) (8) (9) (10) (11) (12)
Kabupaten/Kota
1. Majene 81,26 50,06 44,54 1,16 44,05
2. Polewali Mandar 91,75 63,46 55,37 2,90 37,76
3. Mamasa 92,87 65,45 45,22 2,72 46,13
4. Mamuju 83,84 51,36 55,82 2,34 30,30
5. Pasangkayu 79,52 51,08 62,27 3,12 20,92
6. MamujuTengah 92,22 60,77 67,87 1,56 26,39
Sulawesi Barat 87,05 57,10 55,25 2,38 34,71
Sumber/Source: Provinsi Sulawesi Barat Dalam Angka 2018/ Sulawesi barat Province in Figures
2018
Berdasarkan data tersebut dapat dilihat bahwa Kabupaten Pasangkayu
merupakan Kabupaten dengan cakupan imunisasi paling rendah pada tahun 2017
dengan cakupan masing-masing jenis imunisasi sebagai berikut Polio1 (69,59%),
Polio2 (2,87%), Polio3+ (20,97%), DPT1 (68,77%), DPT2 (0,60%), DPT3+
(29,27%), BCG (79,52%), Campak (51,08%), Hepatitis B1(62,27%), Hepatitis B2
(3,12%), Hepatitis B3+ (20,92%). Berdasarkan data tersebut masih ada cakupan
imunisasi yang belum memenuhi target ≥80% sehingga Kota tersebut belum bisa
dikatakan sebagai Kota UCI.
Persentase Balita Yang Pernah Mendapat Imunisasi Menurut Kecamatan dan
Jenis Imunisasi di Kabupaten Majene, 2017
DPT
Kecamatan BCG Campak
1 2 3
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
Banggae 93,0 70,3 72,4 71,4 70,3
Banggae Timur 98,1 71,5 72,2 71,4 74,6
Pamboang 89,7 81,7 84,4 78,4 84,4
Sendana 102,1 96,8 91,8 93,3 84,4
Tammerodo 92,0 78,4 74,3 73,9 77,5
Tubo Sendana 106,4 89,0 88,7 89,7 90,8
Malunda 86,2 87,1 89,9 88,4 75,2
Ulumanda 87,0 91,4 95,5 93,7 90,5
Jumlah 2017 94,2 79,9 80,6 79,4 77,9
2016 98,4 85,7 84,9 84,7 81,6
2015 85,0 85,6 85,5 82,4 639,7
Polio Hepatitis B
Kecamatan
1 2 3 4 1 2 3
(1) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13)
Banggae 69,0 70,3 72,4 71,7 70,3 72,4 71,4
Banggae Timur 73,2 71,5 71,7 71,1 71,5 77,2 71,4
Pamboang 79,5 79,5 84,8 78,6 81,7 84,4 78,4
Sendana 93,3 97,2 91,5 92,5 96,8 91,8 93,3
Tammerodo 87,8 78,4 74,3 73,9 78,4 74,3 73,9
Tubo Sendana 89,4 88,3 90,4 85,1 89,0 88,7 89,7
Malunda 87,5 87,1 89,9 88,4 87,1 89,9 88,4
Ulumanda 81,9 95,5 94,1 91,0 91,4 95,5 93,7
Jumlah 2017 79,1 79,8 80,5 78,9 79,9 80,6 79,4
2016 83,9 84,3 84,3 85,4 85,7 84,9 84,7
2015 85,3 85,1 85,6 82,9 85,6 85,5 82,4
Sumber/Source: Kabupaten Majene Dalam Angka 2018/ Majene Regency in Figures 2018
Berdasarkan data diatas yang pernah mendapat imunisasi menurut Kecamatan dan Jenis
Imunisasi di Kabupaten Majene menunjukkan bahwa kecamatan yang paling terendah dalam
pencapaian menurut jenis imunisasi adalah Kecamatan Banggae Timur dengan cakupan
masing-masing jenis imunisasi sebagai berikut Polio1 (73,2%), Polio2 (71,5%), Polio3+
(71,4%), DPT1 (71,5%), DPT2 (72,2%), DPT3+ (71,4%), BCG (98,1%), Campak (74,6%),
Hepatitis B1(71,5%), Hepatitis B2 (77,2%), Hepatitis B3+ (71,4%).
Permasalahan tentang faktor yang berhubungan dengan status imunisasi dasar lengkap
pada bayi ialah pekerjaan ibu dan dukungan keluarga sehingga penting untuk diteliti sebab
merupakan kendala dalam pencapaian target UCI. Imunisasi sendiri itu penting sebagai
upaya pencegahan penyakit pada balita dan sudah direkomendasikan pada masyarakat sejak
lama namun kenyataannya sampai sekarang pencapaian target cakupan imunisasi masih tidak
sesuai dengan yang diharapkan. Berdasarkan uraian di atas maka penulis tertarik untuk
melaksanakan penelitian tentang hubungan pekerjaan ibu dan dukungan keluarga terhadap
pemberian imunisasi dasar lengkap pada bayi di wilayah kerja Puskesmas Banggae II
Kabupaten Majene.
B. Rumusan Masalah
Apa hubungan pekerjaan ibu dan dukungan keluarga terhadap ketepatan pemberian
imunisasi dasar lengkap ?
C. Tujuan Penelitian
a. Tujuan umum
Dapat mengetahui hubungan pekerjaan ibu dan dukungan keluarga terhadap
ketepatan bemberian imunisasi campak.
b. Tujuan khusus
1. Menganalisis hubungan dukungan keluarga terhadap ketepatan pemberian
imunisasi dasar lengkap di Puskesmas Banggae II
2. Menganalisis hubungan pekerjaan ibu terhadap ketepatan pemberian imunisasi
dasar lengkap di Puskesmas Banggae II
D. Manfaat Penelitian
1. Bagi Dinas Kesehatan Kabupaten Majene
Penelitian ini dapat memberikan informasi dan masukan untuk selalu
meningkatkan pelayanan kesehatan guna mengurangi dan mencegah
masyarakat yang terkena penyakit serta dapat menjadi tambahan
bahan masukan dalam pengambilan kebijakan dan tindakan.
2. Bagi Masyarakat
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan dan
pengetahuan masyarakat tentang pentingnya imunisasi sehingga masyakarat
dapat melakukan pemberian imunisasi dasar lengkap pada anak.
3. Bagi Peneliti lain
Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat dan dapat digunakan sebagai bahan
pustaka atau bahan perbandingan untuk penelitian selanjutnya.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Imunisasi
1. Pengertian imunisasi
Imunisasi berasal dari kata imun, kebal atau resisten. Imunisasi adalah suatu
tindakan untuk memberikan kekebalan dengan cara memasukkan vaksin ke
dalam tubuh manusia. Kebal adalah suatu keadaan dimana tubuh mempunyai
daya kemampuan mengadakan pencegahan penyakit dalam rangka menghadapi
serangan kuman tertentu, namun kebal atau resisten terhadap suatu penyakit
belum tentu kebal terhadap penyakit lain (Depkes RI, 1994).
Vaksin adalah suatu bahan yang berasal dari kuman atau virus yang
menjadi penyebab penyakit, namun telah dilemahkan atau dimatikan, atau
diambil sebgaian, atau mungkin tiruan dari kuman penyebab penyakit, yang
secara sengaja dimasukkan ke dalam tubuh seseorang atau kelompok orang
dengan tujuan merangsang timbulnya zat anti penyakit tertentu pada orang-
orang tersebut (Achmadi, 2006)
2. Tujuan Imunisasi
a. Untuk mencegah terjadinya penyakit tertentu pada seseorang, dan
menghilangkan penyakit tertentu pada sekelompok masyarakat (populasi)
atau bahkan menghilangkan penyakit tertentu dari dunia seperti pada
imunisasi cacar variola (I.G.N Ranuh, 2008 : 10).
b. Untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian dari penyakit yang
dapat dicegah dengan imunisasi. Pada saat ini penyakit-penyakit tersebut
adalah disentri, tetanus, batuk rejan (pertusis), cacar (measles), polio, dan
tuberkulosis (Soekidjo Notoatmodjo, 2007 : 46).
c. Menurut WHO (World Health Organization), program imunisasi di
Indonesia memiliki tujuan untuk menurunkan angka kejadian penyakit dan
angka kematian akibat penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi
(Umar Fahmi Achmadi, 2006 : 130).
3. Macam macam imunisasi
a. Vaksin BCG (Bacillus Calmette Guerin)
1) Pengertian
Bacillus Calmette Guerin adalah vaksin hidup yang dibuat dari
Mycobacterium bovis yang dibiak berulang selama 1-3 tahun sehingga
didapatkan hasil yang tidak virulen tetapi masih mempunyai
imunogenitas. Vaksinasi BCG menimbulkan sensitivitas terhadap
tuberkulin, tidak mencegah infeksi tuberkulosis tetapi mengurangi risiko
terjadi tuberkulosis berat seperti meningitis TB dan tuberkulosis
milier (Ranuh,2008,p.132).
2) Cara pemberian dan dosis:
a) Sebelum disuntikkan vaksin BCG harus dilarutkan terlebih dahulu.
Melarutkan dengan mengggunakan alat suntik steril Auto Distruct
Scheering (ADS) 5 ml.
b) Dosisi pemberian: 0,05 ml.
c) Disuntikkan secara intrakutan di daerah lengan kanan atas (insertion
musculus deltoideus). Dengan menggunakan Auto Distruct
Scheering (ADS) 0,05 ml.
d) Vaksin yang sudah dilarutkan harus digunakan sebelum lewat 3 jam.
3) Indikasi
Untuk pemberian kekebalan aktif terhadap tuberculosis.
4) Kontra indikasi:
a) Adanya penyakit kulit yang berat/menahun seperti: eksim,
furunkulosis dan sebagainya.
b) Mereka yang sedang menderita TBC.
5) Efek samping
Imunisasi BCG tidak menyebabkan reaksi yang bersifat umum seperti
deman. Setelah 1-2 minggu akan timbul indurasi dan kemerahan
ditempat suntikan yang berubah menjadi pustule, kemudian pecah
menjadi luka. Luka tidak perlu pengobatan, akan sembuh secara spontan
dan
meninggalkan tanda parut. Kadang-kadang terjadi pembesaran kelenjar
regional di ketiak dan atau leher, terasa padat, tidak sakit dan tidak
menimbulkan demam. Reaksi ini normal, tidak memerlukan pengobatan
dan akan menghilang dengan sendirinya (Departemen Kesehatan
RI,2006,p.21-22).
b. Vaksin DPT (Difteri Pertusis Tetanus)
1) Pengertian
Vaksin DPT (Difteri Pertusis Tetanus) adalah vaksin yang terdiri
dari toxoid difteri dan tetanus yang dimurnikan serta bakteri pertusis
yang telah diinaktivasi (Departemen Kesehatan RI,2006,p.23 ).
Difteri merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri
Corynebacterium diphtheria. Difteri bersifat ganas, mudah menular dan
menyerang terutama saluran nafas bagian atas. Penularannya bisa karena
kontak langsung dengan penderita melalui bersin atau batuk atau kontak
tidak langsung karena adanya makanan yang terkontaminasi bakteri
difteri.
Penderita akan mengalami beberapa gejala seperti demam lebih
kurang 38°C, mual, muntah, sakit waktu menelan dan terdapat
pseudomembran putih keabu-abuan di faring, laring, atau tonsil. Pertusis
merupakan suatu penyakit yang disebabkan oleh kuman Bordetella
Pertusis. Kuman ini mengeluarkan toksin yang menyebabkan ambang
rangsang batuk yang hebat dan lama. Serangan batuk lebih sering pada
malam hari, batuk terjadi beruntun dan akhir batuk menarik nafas
panjang, biasanya disertai muntah. Batuk bisa mencapai 1-3 bulan, oleh
karena itu pertusis disebut juga dengan “batuk seratus hari”. Tetanus
merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi kuman Clostridium
tetani. Kuman ini bersifat anaerob, sehingga dapat hidup pada
lingkungan yang tidak terdapat zat asam (oksigen).
Tetanus dapat menyerang bayi, anak-anak bahkan orang dewasa.
Pada bayi penularan disebabkan karena pemotongan tali pusat tanpa alat
yang steril atau dengan cara tradisional dimana alat pemotong dibubuhi
ramuan tradisional yang terkontaminasi spora kuman tetanus. Pada anak-
anak atau orang dewasa bisa terinfeksi karena luka yang kotor atau luka
terkontaminasi spora tetanus. Kuman ini paling banyak terdapat di usus
kuda berbentuk spora yang tersebar luas di tanah (Atikah,2010,pp.42-
48).
Upaya Departemen Kesehatan melaksanakan Program Eliminasi
Tetanus Neonatorum (ETN) melalui imunisasi DPT, DT atau TT
dilaksanakan berdasarkan perkiraan lama waktu perlindungan sebagai
berikut:
a) Imunisasi DPT 3x akan memberikan imunitas 1-3 tahun.
Dengan 3 dosis toksoid tetanus pada bayi dihitung setara dengan 2
dosis pada anak yang lebih besar atau dewasa.
b) Ulangan DPT pada umur 18-24 bulan (DPT 4) akan
memperpanjang imunitas 5 tahun yaitu sampai dengan umur 6-7
tahun. Dengan 4 dosis toksoid tetanus pada bayi dan anak dihitung
setara dengan 3 dosis pada dewasa (Sudarti,2010,pp.150-151).
2) Cara pemberian dan dosis:
a) Sebelum digunakan vaksin harus dikocok terlebih dahulu agar
suspensi menjadi homogen.
b) Disuntik secara intramuskuler dengan dosis pemberian 0,5 ml
sebanyak 3 dosis. Dosis pertama diberikan pada umur 2 bulan, dosis
selanjutnya diberikan dengan interval paling cepat 4 minggu (1
bulan) (Departemen Kesehatan RI,2006, p.23).
c) Cara memberikan vaksin ini, sebagai barikut:
(1) Letakkan bayi dengan posisi miring diatas pangkuan ibu dengan
seluruh kaki terlentang
(2) Orang tua sebaiknya memegang kaki bayi
(3) Pegang paha dengan ibu jari dan jari telunjuk
(4) Masukkan jarum dengan sudut 90 derajat
(5) Tekan seluruh jarum langsung ke bawah melalui kulit sehingga
masuk kedalam otot (Atikah.2010,p.48)
3) Indikasi
Untuk pemberian kekebalan secara simultan terhadap difteri, pertusis,
dan tetanus.
4) Kontra indikasi
Gejala- gejala keabnormalan otak pada periode bayi baru lahir atau
gejala serius keabnormalan pada syaraf merupakan kontraindikasi
pertusis. Anak-anak yang mengalami gejala-gejala parah pada dosis
pertama, komponen pertusis harus dihindarkan pada dosis kedua, dan
untuk meneruskan imunisasinya dapat diberikan DT.
5) Efek samping
Gejal-gejala yang bersifat sementara seperti: lemas, demam tinggi,
iritabilitas, dan meracau yang biasanya terjadi 24 jam setelah imunisasi
(Departemen Kesehatan RI,2006,p.23 )
c. Vaksin Hepatitis B
1) Pengertian
Vaksin hepatitis B adalah vaksin virus rekombinan yang telah
diinaktivasikan dan bersifat in infectious, berasal dari HBsAg yang
dihasilkan dalam sel ragi (Hansenula polymorph) menggunakan
teknologi DNA rekombinan.
2) Cara pemberian dan dosis:
a) Sebelum digunakan vaksin harus dikocok terlebih dahulu agar
suspensi menjadi homogen.
b) Vaksin disuntikkan dengan dosis 0,5 ml, pemberian suntikan secara
intramuskuler sebaiknya pada anterolateral paha.
c) Pemberian sebanyak 3 dosis.
d) Dosis pertama diberikan pada usia 0-7 hari, dosis berikutnya dengan
interval minimum 4 minggu (1 bulan)
3) Indikasi
Untuk pemberian kekebalan aktif terhadap infeksi yang disebabkan virus
hepatitis B.
4) Kontra indikasi
Hipersensitif terhadap komponen vaksin. Sama halnya seperti vaksin
vaksin lain, vaksin ini tidak boleh diberikan kepada penderita infeksi
berat disertai kejang.
5)Efek samping
Reaksi lokal seperti rasa sakit, kemerahan dancpembengkakan disekitar
tempat penyuntikan. Reaksi yangcterjadi bersifat ringan dan biasanya
hilang setelah 2 hari.(Departemen Kesehatan RI,2006,p.28)
d. Vaksin Polio (Oral Polio Vaccine)
1) Pengertian
Vaksin Oral Polio adalah vaksin yang terdiri dari suspense virus
poliomyelitis tipe 1,2,3 (Strain Sabin) yang sudah dilemahkan, dibuat
dibiakkan jaringan ginjal kera dan distabilkan dengan sukrosa.
2) Cara pemberian dan dosis:
a) Diberikan secara oral (melalui mulut), 1 dosis ada 2 (dua) tetes
sebanyak 4 kali (disis) pemberian dengan interval setiap dosis
minimal 4 minggu.
b) Setiap membuka vial baru harus menggunakan penetes (dropper)
yang baru.
3) Indikasi
Untuk pemberian kekebalan aktif terhadap poliomielitis.
4) Kontra indikasi
Pada individu yang mnderita “immune deficiency” tidak ada efek yang
berbahaya yang timbul akibat pemberian polio pada anak yang sedang
sakit. Namun jika ada keraguan, misalnya sedang menderita diare, maka
dosis ulangan dapat diberikan setelah sembuh.
5) Efek samping
Pada umumnya tidak terdapat efek samping. Efek samping berupa
paralisis yang disebabkan oleh vaksin sangat jarang terjadi. (Departemen
Kesehatan RI,2006,p.26)
e. Vaksin Campak
1) Pengertian
Vaksin Campak merupakan vaksin virus hidup yang dilemahkan. Setiap
dosis (0,5 ml) mengandung tidak kurang dari 1000 inektive unit virus
strain dan tidak lebih dari 100 mcg residu kanamycin dan 30 mcg residu
erithromycin.
2) Cara pemberian dan dosis:
a) Sebelum disuntikkan vaksin campak terlebih dahulu harus dilarutlan
dengan pelarut steril yang telah tersedia yang berisi 5 ml cairan
pelarut.
b) Dosis pemberian 0,5 ml disuntikkan secara subkutan pada lengan kiri
atas, pada usia 9-11 bulan. Dan ulangn (booster) pada usia 6-7 tahun
(kelas 1 SD) setelah catchup campaign campak pada anak Sekolah
Dasar kelas 1-6.
3) Indikasi
Untuk pemberian kekebalan aktif terhadap penyakit campak.
4) Kontra indikasi
Individu yang mengidap penyakit immune deficiency atau individu yang
diduga menderita gangguan respon imun karena leukemia, limfoma.
5)Efek samping Hingga 15% pasien dapat mengalami demam ringan dan
kemerahan selama 3 hari yang dapat terjadi 8-12 hari setelah vaksinasi
(Departemen Kesehatan RI,2006,p. 27).
4. Efek yang tidak di inginkan
Reaksi minor akibat komponen pertusis dari imunisasi Hib/DTP umum
terjadi gelisah, demam, dan menangis selama berapa jam setelah penyuntikan
dengan lokasi penyuntikan terasa sakit. Jika hal tsb terjadi setelah penyuntikan
pertama, maka berikan parasetamol pada dosis berikutnya.
BCG disuntikkan intradermal di atas insersi otot deltoid. Setelah 3-6
minggu akan terdapat eritema, indurasi, dan kadang ulserasi. Kelenjar getah
bening aksilaris mungkin membesar dan terasa nyeri. Tanda-tanda lokal
menghilang dalam 2-6 bulan. Pada anak sekolah, BCG diberikan secara rutin
hanya bila tes tuberkulin sebelumnya negatif.
5. Faktor Yang Mempengaruhi Kelengkapan Imunisasi
Menurut Soekidjo Notoatmodjo (2003 : 96) terdapat teori yang
mengungkapkan determinan perilaku berdasarkan analisis dari faktor-faktor
yang mempengaruhi perilaku khususnya perilaku kesehatan. Diantara teori
tersebut adalah teori Lawrence Green (1980), yang menyatakan bahwa
perilaku seseorang ditentukan oleh tiga faktor, yaitu :
a. Faktor Pemudah (Presdiposing Factors)
Faktor-faktor ini mencakup tingkat pendidikan ibu, pengetahuan ibu,
pekerjaan ibu, pendapatan keluarga, jumlah anak, dan dukungan dari pihak
keluarga.
1) Tingkat Pendidikan Ibu Bayi
Pendidikan adalah proses seseorang mengembangkan kemampuan,
sikap, dan bentuk-bentuk tingkah laku manusia di dalam masyarakat
tempat ia hidup, proses sosial, yakni orang dihadapkan pada pengaruh
lingkungan yang terpilih dan terkontrol (khususnya yang datang dari
sekolah), sehingga dia dapat memperoleh atau mengalami
perkembangan kemampuan sosial, dan kemampuan individu yang
optimal (Achmad Munib, dkk, 2006 : 32).
Wanita sangat berperan dalam pendidikan di dalam rumah tangga.
Mereka menanamkan kebiasaan dan menjadi panutan bagi generasi
yang akan datang tentang perlakuan terhadap lingkungannya. Dengan
demikian, wanita ikut menentukan kualitas lingkungan hidup ini.
Untuk
dapat melaksanakan pendidikan ini dengan baik, para wanita juga perlu
berpendidikan baik formal maupun tidak formal. Akan tetapi pada
kenyataan taraf, pendidikan wanita masih jauh lebih rendah daripada
kaum pria. Seseorang ibu dapat memelihara dan mendidik anaknya
dengan baik apabila ia sendiri berpendidikan (Juli Soemirat Slamet,
2000 : 208).
2) Tingkat Pengetahuan Ibu Bayi
Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan itu terjadi setelah
orang melakukan pengindraan terhadap suatu obyek tertentu.
Pengindraan terjadi melalui pancaindra manusia, yakni indra
penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa, dan raba. Sebagian besar
pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. Pengetahuan
atau kognitif
merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan
seseorang (over behavior). Sebelum orang mengadopsi perilaku baru
(berperilaku baru), di dalam diri orang tersebut terjadi proses yang
berurutan, yakni : awareness (kesadaran), interest (tertarik), evaluation
(menimbang-nimbang baik dan tidaknya stimulus tersebut bagi
dirinya).
Trial (orang telah mulai mencoba prilaku baru), adoption (subyek telah
berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan, kesadaran, dan sikapnya
terhadap stimulus) (Soekidjo Notoatmodjo, 2003 : 127 -128).
Pengetahuan diperoleh dari pengalaman sendiri atau pengalaman
orang lain. Seseorang ibu akan mengimunisasikan anaknya setelah
melihat anak tetangganya kena penyakit polio sehingga cacat karena
anak tersebut belum pernah memperoleh imunisasi polio.
3) Status Pekerjaan Ibu Bayi
Pekerjaan menurut kamus besar Bahasa Indonesia adalah mata
pencaharian, apa yang dijadikan pokok kehidupan, sesuatu yang
dilakukan untuk mendapatkan nafkah (Pandji Anoraga, 2005 : 11).
Ibu yang bekerja mempunyai waktu kerja sama seperti dengan pekerja
lainnya. Adapun waktu kerja bagi pekerja yang dikerjakan yaitu waktu
siang 7 jam satu hari dan 40 jam satu minggu untuk 6 hari kerja
dalam satu minggu, atau dengan 8 jam satu hari dan 40 jam satu
minggu
untuk 5 hari kerja dalam satu minggu. Sedangkan waktu malam hari
yaitu 6 jam satu hari dan 35 jam satu minggu untuk 6 hari kerja dalam
minggu (Pandji Anoraga, 2005 : 60).
Bertambah luasnya lapangan kerja, semakin mendorong
banyaknya kaum wanita yang bekerja, terutama di sektor swasta. Di
satu sisi berdampak positif bagi pertambahan pendapatan, namun di
sisi lain
berdampak negatif terhadap pembinaan dan pemeliharaan anak (Panji
Anoraga, 2005 : 120).
Hubungan antara pekerjaan ibu dengan kelengkapan imunisasi
dasar bayi adalah jika ibu bekerja untuk mencari nafkah maka akan
berkurang kesempatan waktu dan perhatian untuk membawa bayinya
ke
tempat pelayanan imunisasi, sehingga akan mengakibatkan bayinya
tidak mendapatkan pelayanan imunisasi.
4) Pendapatan Keluarga
Pendapatan adalah hasil pencarian atau perolehan usaha
(Depertemen Pendidikan Nasional, 2002:236). Menurut Mulyanto
Sumardi dan Hans Dieter Evers (1982:20), pendapatan yaitu
keseluruhan penerimaan baik berupa uang maupun barang baik dari
pihak lain maupun dari hasil sendiri. Jadi yang dimaksud pendapatan
adalah suatu tingkat penghasilan yang diperoleh dari pekerjaan pokok
dan pekerjaan sampingan dari orang tua dan anggota keluarga lainya.
Pendapatan keluarga yang memadai akan menunjang tumbuh kembang
anak, karena orang tua dapat menyediakan semua kebutuhan anak baik
yang primer maupun yang sekunder (Soetjiningsih, 1995 : 10).
5) Jumlah Anak
Berdasarkan penelitian Suparmanto (1990) dalam Nuri
Handayani
(2008), jumlah anak sebagai salah satu aspek demografi yang akan
berpengaruh pada partisipasi masyarakat. Hal ini dapat terjadi karena
jika seorang ibu mempunyai anak lebih dari satu biasanya ibu semakin
berpengalaman dan sering memperoleh informasi tentang imunisasi,
sehingga anaknya akan di imunisasi (Nuri Handayani, 2008 : 36).
6) Dukungan Keluarga
Dukungan sosial secara psikologis dipandang sebagai hal yang
kompleks. Wortman dan Dunkell-Scheffer (1987) mengidentifikasikan
beberapa jenis dukungan yang meliputi ekspresi perasaan positif,
termasuk menunjukkan bahwa seseorang diperlukan dengan rasa
penghargaan yang tinggi, ekspresi persetujuan dengan atau
pemberitahuan tentang ketepatan keyakinan dan perasaan seseorang.
Ajakan untuk membuka diri dan mendiskusikan keyakinan dan
sumbersumber juga merupakan bentuk dukungan sosial (Charles
Abraham, 1997 : 126).
Untuk mewujudkan sikap menjadi suatu perbuatan yang nyata
diperlukan faktor pendukung atau suatu kondisi yang memungkinkan,
antara lain adalah fasilitas. Sikap ibu yang positif terhadap imunisasi
harus mendapat konfirmasi dari suaminya dan ada fasilitas imunisasi
yang mudah dicapai, agar ibu tersebut mengimunisasi anaknya.
Disamping faktor fasilitas, juga diperlukan dukungan/support dari
pihak
lain, misalnya suami/istri/orang tua/mertua.
b. Faktor Pendukung (Enabling Factors)
Faktor pemungkin atau pendukung (enabling) perilaku adalah
fasilitas,
sarana dan prasarana atau sumber daya atau fasilitas kesehatan yang
memfasilitasi terjadinya perilaku seseorang atau masyarakat, termasuk
juga fasilitas pelayanan kesehatan seperti pukesmas, posyandu, polindes,
pos obat desa, dokter atau bidan swasta, dan sebagainya, serta kelengkapan
alat imunisasi, uang, waktu, tenaga, dan sebagainya (Soekidjo
Notoatmodjo, 2005: 27).
1) Ketersedian Sarana dan Prasarana
Ketersedian sarana dan prasarana atau fasilitas bagi masyarakat,
termasuk juga fasilitas pelayanan kesehatan seperti pukesmas,
rumah
sakit, poliklinik, posyandu, polindes, pos obat desa, dokter, atau
bidan
praktek desa. Fasilitas ini pada hakikatnya mendukung atau
memungkinkan terwujudnya perilaku kesehatan, maka faktor-faktor
ini disebut faktor pendukung atau faktor pemungkinan.
2) Peralatan Imunisasi
Setiap obat yang berasal dari bahan biologik harus dilindungi
terhadap sinar matahari, panas, suhu beku, termasuk juga vaksin.
Untuk sarana rantai vaksin dibuat secara khusus untuk menjaga
potensi vaksin. Di bawah ini merupakan kebutuhan dan peralatan
yang digunakan sebagai sarana penyimpanan dan pembawa vaksin.
a) Lemari Es
Setiap puskesmas harus mempunyai 1 lemari es standart
program. Setiap lemari es sebaiknya mempunyai 1 stop kontak
tersendiri. Jarak lemari es dengan dinding belakang 10-15 cm,
kanan kiri 15 cm, sirkulasi udara di sekitarnya harus baik.
Lemari
es tidak boleh terkena panas matahari langsung. Suhu di dalam
lemari es harus berkisar + 20 C s/d + 80 C, sedangkan di dalam
freezer berkisar antara -250 C s/d -150C (I.G.N Ranuh, 2008 :
32).
b) Vaccine Carrrier (termos)
Vaccine carrier adalah alat untuk mengirim atau membawa
vaksin dari puskesmas ke posyandu atau tempat pelayanan
imunisasi lainnya yang dapat mempertahankan suhu +2 0 C –
+80C
c) Cold Box
Cold box di tingkat puskesmas digunakan penyimpanan
vaksin sementara apabila dalam keadaan darurat seperti listrik
padam untuk waktu cukup lama, atau lemari es sedang rusak
yang bila diperbaiki memakan waktu lama. Cold box berukuran
besar,
dengan ukuran 40-70 liter, dengan penyekat suhu dari
poliuretan.
d) Freeze Tag
Freeze tag digunakan untuk memantau suhu dari kabupaten
ke pukesmas pada waktu membawa vaksin, serta dari pukesmas
sampai ke lapangan atau posyandu dalam upaya peningkatan
kualitas rantai vaksin (Ditjen PP dan PL Depkes RI, 2005 : 23).
3) Keterjangkauan Tempat Pelayanan Imunisasi
Salah satu faktor yang mempengaruhi pencapaian derajat
kesehatan, termasuk status kelengkapan imunisasi dasar adalah
adanya keterjangkauan tempat pelayanan kesehatan oleh
masyarakat. Kemudahan untuk mencapai pelayanan kesehatan ini
antara lain ditentukan oleh adanya transportasi yang tersedia
sehingga dapat memperkecil jarak tempuh, hal ini akan
menimbulkan motivasi ibu untuk datang ketempat pelayanan
imunisasi. Menurut Lawrence W. Green (1980), Ketersediaan dan
keterjangkauan sumber daya kesehatan termasuk tenaga kesehatan
yang ada dan mudah dijangkau merupakan salah satu faktor yang
member kontribusi terhadap perilaku dalam mendapatkan pelayanan
kesehatan. Faktor pendukung lain menurut Djoko Wiyono (1997 :
236) adalah akses terhadap pelayanan kesehatan yang berarti bahwa
pelayanan kesehatan tidak terhalang oleh keadaan geografis,
keadaan geografis ini dapat diukur dengan jenis transportasi, jarak,
waktu perjalanan dan hambatan fisik lain yang dapat menghalangi
seseorang mendapat pelayanan kesehatan.
Semakin kecil jarak jangkauan masyarakat terhadap suatu
tempat
pelayanan kesehatan, maka akan semakin sedikit pula waktu yang
diperlukan sehingga tingkat pemanfaatan pelayanan kesehatan
meningkat.
c. Faktor Penguat (Reinforcing Factors)
Faktor ini meliputi faktor sikap dan perilaku para petugas termasuk
petugas kesehatan (Soekidjo Notoatmodjo, 2003 : 13). Menurut Lawrence
W. Green, ketersediaan dan keterjangkauan sumber daya kesehatan
termasuk tenaga kesehatan yang ada dan mudah dijangkau merupakan
salah satu faktor yang member kontribusi terhadap perilaku sehat dalam
mendapatkan pelayanan kesehatan.
1) Petugas Imunisasi
Petugas kesehatan untuk program imunisasi biasanya dikirim dari
pihak puskesmas, biasanya dokter atau bidan, lebih khususnya bidan
desa. Menurut Djoko Wiyono (2000:33) pasien atau masyarakat
menilai
mutu pelayanan kesehatan yang baik adalah pelayanan kesehatan yang
empati, respek dan tanggap terhadap kebutuhannya, pelayanan yang
diberikan harus sesuai dengan kebutuhan masyarakat, diberikan
dengan
cara yang ramah pada waktu berkunjung. Dalam melaksanakan
tugasnya petugas kesehatan harus sesuaidengan mutu pelayanan.
Pengertian mutu pelayanan untuk petugas kesehatan berarti bebas
melakukan segala sesuatu secara professional untuk meningkatkan
derajat kesehatan pasien dan masyarakat sesuai dengan ilmu
pengetahuan dan keterampilan yang maju, mutu peralatan yang baik
dan memenuhi standar yang baik, komitmen dan motivasi petugas
tergantung dari kemampuan mereka untuk melaksanakan tugas mereka
dengan cara yang optimal (Djoko Wiyono, 2000 : 34). Perilaku
seseorang atau masyarakat tentaang kesehatan ditentukan oleh
pengetahuan, sikap, kepercayaan, tradisi dan sebagainya dari orang
atau masyarakat yang bersangkutan. Di samping itu, ketersediaan
fasilitas, sikap dan perilaku para petugas kesehatan terhadap kesehatan
juga akan mendukung dan memperkuat terbentuknya perilaku
(Soekidjo
Notoatmodjo, 2003 : 165).
2) Kader Kesehatan
Kader kesehatan masyarakat adalah laki-laki atau wanita yang dipilih
oleh masyarakat untuk menangani masalah-masalah kesehatan
perseorangan maupun masyarakat serta untuk bekerja dalam hubungan
yang amat dekat dengan tempat-tempat pemberian pelayanan
kesehatan
(The Community Health Worker, 1995 : 1). Secara umum peran kader
kesehatan adalah melaksanakan kegiatan pelayanan kesehatan terpadu
bersama masyarakat dalam rangka pengembangan PKMD
Secara khisus peran kader adalah :
a) Persiapan
Persiapan yang dilakukan oleh kader sebelum pelaksanaan kegiatan
posyandu adalah memotivasi masyarakat untuk memanfaatkan
pelayanan kesehatan terpadu dan berperan serta dalam
mensukseskannya, bersama dengan masyarakat merencanakan
kegiatan pelayanan kesehatan terpadu ditingkat desa.
b) Pelaksanaan
Pelaksanaan yang dilakukan oleh kader saat kegiatan imunisasi
adalah melaksanakan penyuluhan kesehatan secara terpadu,
mengelola kegiatan seperti penimbangan bulanan, distribusi oralit,
vitamin A/Fe, distribusi alat kontrasepsi, PMT, Pelayanan
kesehatan sederhana, pencatatan dan pelaporan serta rujukan.
c) Pembinaan
Pembinaan yang dilakukan oleh kader berupa : menyelenggarakan
pertemuan bulanan dengan masyarakat untuk membicarakan
perkembangan program kesehatan, melakukan kunjungan rumah
pada keluarga binaannya, membina kemampuan diri melalui
pertukaran pengalaman antar kader.
6. Jadwal pemberian imunisasi
1. Bayi lahir dirumah
Table 1. Waktu pemberian imunisasi bayi lahir di rumah
HB 1 Dirumah
BCG,Polio 1 Posyandu
DPT 1, HB 2, Polio 2 Posyandu
DPT 2, HB 3, Polio 3 Posyandu
DPT 3, Polio 4 Posyandu
Campak Posyandu
(Depkes, 2009)
2. Bayi lahir di RS/RB/Bidan Praktek.
Tabel 2. Waktu pemberian imunisasi bayi lahir di RS/RB/Bidan Praktek.\
HB 1, Polio 1, BCG RS, RB, Bidan
DPT 1, HB 2, Polio 2 RS, RB, Bidan
DPT 2, HB 3, Polio 3 RS, RB, Bidan
DPT 3, Polio 4 RS, RB, Bidan
Campak RS, RB, Bidan
(Depkes, 2009)
B. Konsep dukungan keluarga
1. Definisi
Dukungan keluarga menurut Fridman (2010) adalah sikap, tindakan
penerimaan keluarga terhadap anggota keluargannya, berupa dukungan
informasional, dukungan penilaian, dukungan instrumental dan dukungan
emosional. Jadi dukunan keluarga adalah suatu bentuk hubungan interpersonal
yang meliputi sikap, tindakan dan penerimaan terhadap anggota keluarga,
sehingga anggota keluarga merasa ada yang memperhatikannya. Jadi dukungan
sosial keluarga mengacu kepada dukungan-dukungan sosial yang dipandang oleh
anggota keluarga sebagai sesuatu yang dapat diakses atau diadakan untuk keluarga
yang selalu siap memberikan pertolongan dan bantuan jika diperlukan (Erdiana,
2015).
2. Bentuk-bentuk dukungan keluarga
Menurut Friedman (1998), menyatakan bahwa keluarga berfungsi sebagai
sistem pendukung bagi anggotanya. Anggota keluarga memandang bahwa orang
yang bersifat mendukung, selalu siap memberikan pertolongan dan bantuan jika
diperlukan. Terdapat empat dimensi dari dukungan keluarga yaitu:
a. Dukungan Emosional (Emosional Support)
Keluarga sebagai sebuah tempat yang aman dan damai untuk istirahat dan
pemulihan serta membantu penguasaan terhadap emosi. Meliputi ungkapan
empati, kepedulian dan perhatian terhadap anggota keluarga yang menderita
kusta (misalnya: umpan balik, penegasan) (Marlyn, 1998).
b. Dukungan Penghargaan (Apprasial Assistance)
Keluarga bertindak sebagai sebuah bimbingan umpan balik, membimbing dan
menengahi pemecahan masalah dan sebagai sumber dan validator identitas
anggota. Terjadi lewat ungkapan hormat (penghargan) positif untuk penderita
kusta, persetujuan dengan gagasan atau perasaan individu dan perbandingan
positif penderita kusta dengan penderita lainnya seperti orang-orang yang
kurang mampu atau lebih buruk keadaannya (menambah harga diri) (Marlyn,
1998).
c. Dukungan Materi (Tangibile Assistance).
Keluarga merupakan sebuah sumber pertolongan praktis dan konkrit,
mencakup bantuan langsung seperti dalam bentuk uang, peralatan,
waktu, modifikasi lingkungan maupun menolong dengan pekerjaan waktu
mengalami stress (Marlyn, 1998)
d. Dukungan Informasi (informasi support)
Keluarga berfungsi sebagai sebuah koletor dan disse minator (penyebar)
informasi tentang dunia, mencakup memberri nasehat, petunjuk-petunjuk,
saran atau umpan balik. Bentuk dukungan keluarga yang diberikan oleh
keluarga adalah dorongan semangat, pemberian nasehat atau mengawasi
tentang pola makan sehari-hari dan pengobatan. Dukungan keluarga
juga merupakan perasaan individu yang mendapat perhatian, disenangi,
dihargai dan termasuk bagian dari masyarakat (Utami, 2003).
3. Faktor-faktor yang mempengaruhi dukungan keluarga
Menurut Purnawan (2008) dalam Rahayu (2008) faktor-faktor yang
mempengaruhi dukungan keluarga adalah:
a. Faktor internal
1) Tahap perkembangan
Artinya dukungan dapat ditentukan oleh faktor usia dalam hal ini
adalah pertumbuhan dan perkembangan, dengan demikian setiap
rentang usia (bayi-lansia) memiliki pemahaman dan respon terhadap
perubahan kesehatan yang berbeda-beda.
2) Pendidikan atau tingkat pengetahuan
Keyakinan seseorang terhadap adanya dukungan terbentuk oleh
variabel intelektual yang terdiri dari pengetahuan, latar belakang
pendidikan dan pengalaman masa lalu. Kemampuan kognitif akan
membentuk cara berfikir seseorang termasuk kemampuan untuk
memahami faktor-faktor yang berhubungan dengan penyakit dan
menggunakan pengetahuan tentang kesehatan untuk menjaga
kesehatan dirinya.
3) Faktor emosi
Faktor emosional juga mempengaruhi keyakinan terhadap adanya
dukungan dan cara melakukannya. Seseorang yang mengalami respon
stress dalam setiap perubahan hidupnya cenderung berespon terhadap
berbagai tanda sakit, mungkin dilakukan dengan cara
mengkhawatirkan bahwa penyakit tersebut dapat mengancam
kehidupannya. Seseorang yang secara umum terlihat sangat tenang
mungkin mempunyai respon
emosional yang kecil selama ia sakit. Seorang individu yang tidak
mampu melakukan koping secara emosional terhadapancaman
penyakit mungkin.
4) Spiritual
Aspek spiritual dapat terlihat dari bagaimana seseorang menjalani
kehidupannya, mencakup nilai dan keyakinan yang dilaksanakan,
hubungan dengan keluarga atau teman, dan kemampuan mencari
harapan dan arti dalam hidup.
b. Eksternal
1) Praktik di keluarga
Cara bagaimana keluarga memberikan dukungan biasanya
mempengaruhi penderita dalam melaksanakan kesehatannya.
Misalnya, klien juga kemungkinan besar akan melakukan tindakan
pencegahan jika keluarga melakukan hal yang sama.
2) Faktor sosio-ekonomi
Faktor sosial dan psikososial dapat meningkatkan resiko terjadinya
penyakit dan mempengaruhi cara seseorang mendefinisikan dan
bereaksi terhadap penyakitnya. Variabel psikososial mencakup:
stabilitas perkawinan, gaya hidup, dan lingkungan [Link]
biasanya akan mencari dukungan dan persetujuan dari kelompok
sosialnya, hal ini akan mempengaruhi keyakinan kesehatan dan cara
pelaksanaannya. Semakin tinggi tingkat ekonomi seseorang biasanya ia
akan lebih cepat tanggap terhadap gejala penyakit yang dirasakan.
Sehingga ia akan segera mencari pertolongan ketika merasa ada
gangguan pada kesehatannya.
3) Latar belakang budaya
Latar belakang budaya mempengaruhi keyakinan, nilai dan kebiasaan
individu, dalam memberikan dukungan termasuk cara pelaksanaan
kesehatan pribadi.
A. MATRIKS PENELITIAN
METODE
NO JUDUL TUJUAN VARIABEL HASIL
PENELITIAN
1 Hubungan Status Untuk 1. Status Penelitian ini Penelitian ini
Pekerjaan Ibu mengetahui Pekerjaan merupakan menunjukkan
dengan Hubungan Ibu survey analitik. bahwa status
Kelengkapan Status 2. Imunisasi Sedangkan pekerjaan ibu
Imunisasi Pada Bayi Pekerjaan Ibu 3. Kelengkapan pengumpulan tidak
Di Puskesmas dengan data dengan berhubungan
Kraton Yogyakarta Kelengkapan pendekatan dengan
(Nanda Ari Imunisasi waktu cross kelengkapan
Nugraheni, Pada Bayi sectional. pemberian
imunisasi.
Mufdlillah & Yuli
Isnaeni, 2009)
2 Hubungan Tingkat untuk 1. Tingkat Jenis penelitian Hasil penelitian
pengetahuan, usia mengetahui pengetahuan ini adalah ini
dan pekerjaan ibu hubungan 2. Usia observasional menunjukkan
dengan status antara tingkat 3. Pekerjaan ibu dengan ada hubungan
imunisasi Dasar pengetahuan, 4. Imunisasi pendekatan antara
Bayi Di Desa usia dan dasar rancangan case pengetahuan ibu
Japanan Kecamatan pekerjaan ibu control (p = 0,02, OR =
Cawas Kabupaten dengan 3,51; 95%CI
Klaten status = 1,31 - 9,36),
(PRATAMADHITA imunisasi pekerjaan
JANU NUGROHO, dasar bayi di (p=0,04, OR =
2012) Desa 2,68; 95%CI
Japanan. =1,09 - 6,46)
dengan
kelengkapan
status imunisasi
dasar bayi dan
tidak ada
hubungan antara
usia ibu
dengan
kelengkapan
status imunisasi
dasar bayi.
3 Dukunga Keluarga Untuk 1. Dukungan Jenis penelitian Setiap ibu yang
Terhadap Ibu dalam mengetahui Keluarga deskriptif dan tidak lengkap
imunisasi ada
Melaksanakan dukungan 2. Balita, desain
kaitanya dengan
Imunisasi Pada keluarga 3. Imunisasi penelitian cross
dukungan
Balita (Yuni terhadap ibu sectional
keluarga
Azzahra & Suryane dalam
Sulistiana Susanti, melaksanaka
2014) n imunisasi
pada balita.
4 Hubungan untuk 1. Dukungan Jenis penelitian Dukungan
Dukungan Keluarga mengetahui Keluarga analitik dengan keluarga dengan
dengan motivasi ibu Hubungan 2. Motivasi Ibu menggunakan motivasi ibu
dalam mendapatkan Dukungan 3. Imunisasi pendekatan dalam
Imunisasi Dasar Keluarga Dasar Lengkap “Analitik mendapatkan
Lengkap Pada Bayi dengan Korelasional imunisasi dasar
Usia 0-12 Bulan Di motivasi ibu Cross Sectional lengkap pada
Desa Nyabakan dalam Study” bayi
Barat (dr. Rifmi mendapatkan usia 0-12 bulan
Utami, M. Kes & Imunisasi di desa
Zakiyah Yasin , S. Dasar Nyabakan
Kep,, Ns., M. Kep., Lengkap Barat tahun
2015) Pada Bayi 2015 kelompok
Usia 0-12 ibu
Bulan mempunyai
hubungan yang
sangat erat
5. Hubungan Tingkat untuk 1. Pendidikan Jenis penelitian Hasil penelitian
Pendidikan, mengetahui 2. Dukungan ini merupakan menunjukkan
Dukungan Keluarga Hubungan Keluarga penelitian bahwa,
dan Peran Tenaga Tingkat 3. Peran Tenaga Deskriptif sebanyak 30
Kesehatan dengan Pendidikan, Kesehatan Analitik dengan responden
Riwayat Pemberian Dukungan 4. Imunisasi pendekatan (50,8%)
Imunisasi Dasar Keluarga dan dasar pada Cross mempunyai
Pada Bayi Di Peran Tenaga bayi Sectional riwayat
Wilayah Kerja Kesehatan imunisasi
Puskesmas Paal V dengan lengkap pada
Kota Jambi (Devi Riwayat bayi, 31
Arista & Hozana, Pemberian responden
2016) Imunisasi mempunyai
Dasar Pada pendidikan
Bayi tinggi, 31
responden
(52,5%)
mempunyai
dukungan
keluarga tinggi
dan 33
responden
(55,9%)
mempunyai
peran tenaga
kesehatan
tinggi. Ada
hubungan antara
tingkat
pendidikan ibu,
dukungan
keluarga ibu dan
peran tenaga
kesehatan
dengan
riwayat
pemberian
imunisasi dasar
pada bayi di
wilayah kerja
Puskesmas Paal
V Kota Jambi
Tahun
2016.
6 Hubungan Antara Untuk 1. Dukungan Penelitian ini Ada hubungan
Tingkat mengetahui keluarga menggunakan antara tngkat
Pengetahuan Ibu Hubungan 2. Pengetahuan metode pengetahuan ibu
dan Dukungan Antara ibu kuantitatif dengan
Keluarga dengan Tingkat 3. Imunisasi dengan kelengkapan
kelengkapan Pengetahuan dasar rancangan pemberan
pemberian Ibu dan observasional munisasi dasar
Imunisasi Dasar Dukungan analitik melalui dan tdak ada
Pada Baduta Keluarga pendekatan hubungan antara
(Hermayanti, dengan cross-sectional. dukungan
Fahrini Yulidasari kelengkapan keluarga dengan
& Nita Pujianti, pemberian kelengkapan
2016) Imunisasi imunsas dasar
Dasar Pada
Baduta.
7 Hubungan Untuk 1. Dukungan Penelitian ini Tidak terdapat
dukungan keluarga mengetahui keluarga merupakan hubungan antara
dengan kepatuhan hubungan 2. Imunisasi penelitian dukungan
ibu dalam dukungan Dasar kuantitatif keluarga dengan
melaksanakan keluarga dengan kepatuhan ibu
imunisasi dasar dengan menggunakan dalam
lengkap pada bayi kepatuhan ibu desain melaksanakan
(Ilham, 2017) dalam penelitian survei imunisasi dasar
melaksanaka analitik dengan lengkap pada
n imunisasi pendekatan bayi di
dasar lengkap Cross Sectional. Puskesmas
pada bayi Pemangkat.
B. Keranga Teori
\ Status Pekerjaan Ibu (Nanda Ari
Nugraheni, Mufdlillah & Yuli
Isnaeni, 2009)
Tingkat pengetahuan, usia dan
pekerjaan ibu (Pratamadhita Janu
Nugroho, 2012)
Dukunga Keluarga Terhadap Ibu
(Yuni Azzahra & Suryane Sulistiana
Susanti, 2014)
Kelengkapan Imunisasi
Dukungan Keluarga dengan motivasi ibu
(dr. Rifmi Utami, M. Kes & Zakiyah Yasin Dasar
, S. Kep,, Ns., M. Kep., 2015)
Tingkat Pendidikan, Dukungan
Keluarga dan Peran Tenaga
Kesehatan (Devi Arista & Hozana,
2016)
Tingkat Pengetahuan Ibu dan
Dukungan Keluarga (Hermayanti,
Fahrini Yulidasari & Nita Pujianti,
2016)
BAB III
KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESIS
C. KERANGKA KONSEP
Penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi adanya hubungan antara
pekerjaan ibu dan dukungan keluerga dengan kelengkapan imunisasi dasar pada anak.
Dalam penelitian ini kerangka konsep terdiri dari Variabel Independen (Pekerjaan ibu
dan Dukungan Keluarga) dan Variabel Dependen (Kelengkapan Imunisasi Dasar).
Secara sistematis uraian dalam pemikirian tersebut terdapat dalam gambar sebagai
berikut :
Variabel Independen Variabel Dependen
1. Pekerjaan Ibu Kelengkapan
imunisasi Dasar
2. Dukungan Keluarga
D. HIPOTESIS
Hipotesis adalah jawaban sementara dari rumusan masalah atau pertanyaan
penelitian (Nursalam, 2008). Sedangkan menurut Notoatmodjo (2011) hipotesis
adalah jawaban sementara dari suatu penelitian, patokan duga, atau dalil sementara,
yang kebenarannya akan dibuktikan dalam penelitian tersebut. Setelah melalui
pembuktian dari hasil penelitian. Maka hipotesis dapat benar atau salah, dapat
diterima atau ditolak.
Hipotesis dalam penelitian ini adalah:
H : Ada hubungan antara pekerjaan ibu dengan kelengkapan imunisasi bayi
H0 : Tidak ada hubungan antara pekerjaan ibu dengan kelengkapan imunisasi bayi
H : Ada hubungan antara dukungan keluarga dengan kelengkapan imunisasi pada
bayi
H0 : Tidak ada hubungan antara dukungan keluarga dengan kelengkapan imunisasi
bayi
No Variabel Definisi Teori Definisi Operasional
1 Pekerjaan
2 Dukungan Menurut Friedman Dukungan keluarga
Keluarga (2010) dukungan adalah kondisi responden
keluarga adalah sikap, yang telah mendapatkan
tindakan penerimaan dukungan meliputi :
keluarga terhadap - Dukungan
anggota keluargannya, informasional
berupa dukungan - Dukungan penilaian
informasional, dukungan - Dukungan
penilaian, dukungan instrumental
instrumental dan - Dukungan emosional
dukungan emosional.
3. Imunisasi Imunisasi merupakan Kelengkapan imunisasi yang
usaha memberikan dilihat dari sudut lengkap
kekebalan pada bayi dan tidaknya imunisasi dasar
anak dengan dengan ketentuan bayi telah
memasukkan vaksin ke mendapatkan vaksin BCG
dalam tubuh agar 1x, DPT 3x, polio 4x, HB 3x,
membuat antibodi untuk campak 1x
mencegah penyakit
tertentu. Vaksin adalah
bahan yang dipakai untuk
merangsang
pembentukan zat anti
yang dimasukkan
kedalam tubuh melalui
suntikan seperti vaksin
BCG, DPT, Hepatitis B,
Campak dan melalui
mulut seperti polio
(Hidayat, 2012).
C. Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif menggunakan observasional deskriptif
dengan menggunakan pendekatan Cross Sectional yaitu melakukan pengukuran
variable penelitian dukungan keluarga, hanya satu kali waktu . Populasi
penelitian adalah seluruh keluarga yang memiliki balita (usia 2-24 bulan) di Buttu
Baruga Kecamatan Banggae Kabupaten Majene yang tercatat dan terdata di Wilayah
Kerja Puskesmas Banggae II Tahun 2017. Pengambilan sampel penelitian
menggunakan teknik probability sampling yaitu dengan Multistage Random
Sampling sehingga sampel sebanyak 95 responden sesuai dengan kriteria yang
ditetapkan. Data primer penelitian ini adalah nilai yang diperoleh dari kuesioner
peran ayah di keluarga yang dikategorikan peran aktif dan peran pasif. Uji
validitas dan reliabilitas menggunakan Pearson Product Moment dan uji Alpha
Cronbach. Analisa data menggunakan uji chi square dengan nilai α yang
digunakan adalah 0,05.
Indikator pengukuran dukungan keluarga terkait imunisasi adalah
perlindungan dari resiko/bahaya, pemberi dukungan dan motivasi, serta pemberian
perawatan kesehatan. Perawat dapat memberikan motivasi dan ajakan kepada
keluarga khususnya ayah dari balita supaya lebih berperan aktif dalam perlindungan
resiko yaitu
mengimunisasikan balitanya.
DAFTAR PUSTAKA
1. Meadow, Sir Ry & J. Newell, Simon. 2005 “Lecture Notes Pediatrika”. Edisi
Ketujuh. Jakarta : Erlangga.
2. Williams, Lippincott & Wilkins. 2001 “Panduan Belajar : Keperawatan Pediatrik”.
Edisi 3. Jakarta: Buku Kedokteran EGC.
3. Mulianti, Yanti. 2013. “Faktor-faktor Internal yang berhubungan dengan
kelengkapan Imunisasi Dasar Balita Usia 1-5 tahun di Wilayah Kerja Puskesmas Situ
Gitung Ciputat”
4. Pratamadhita Janu Nugroho, 2012. “Hubungan Tingkat Pengetahuan, usia dan
pekerjaan Ibu dengan status imunisasi dasar bayi di Desa Japanan”
5. Nanda Ari Nugraheni, dkk, 2009 “Hubungan Status Pekerjaan Ibu dengan
kelengkapan imunisasi pada bayi di Puskesmas Kraton Yogyakarta”.
6. Fundhora C. Mokodompir. 2015 “Faktor-faktor yang berhubungan dengan status
imunisasi dasar Lengkap Pada Bayi Di Wilayah Puskesmas Tungoni”.
7.