0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
291 tayangan48 halaman

Gambar Campak pada Ibu Hamil

Dokumen ini membahas tentang imunisasi pada anak, faktor-faktor yang mempengaruhi pemberian imunisasi, dan peran dukungan keluarga. Dokumen ini terdiri dari bab pendahuluan, tinjauan pustaka, dan penutup.

Diunggah oleh

Nurhidayah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
291 tayangan48 halaman

Gambar Campak pada Ibu Hamil

Dokumen ini membahas tentang imunisasi pada anak, faktor-faktor yang mempengaruhi pemberian imunisasi, dan peran dukungan keluarga. Dokumen ini terdiri dari bab pendahuluan, tinjauan pustaka, dan penutup.

Diunggah oleh

Nurhidayah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

DAFTAR ISI

Kata Pengantar ................................................................................................... i


Daftar Isi ............................................................................................................ ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang .......................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah ..................................................................................... 1
C. Tujuan Penelitian........................................................................................ 1
D. Manfaat penelitian .....................................................................................
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Imunisasi ................................................................................................... 3
1. Definisi ...............................................................................................
2. Macam-macam imunisasi ...................................................................
3. Efek yang tidak di inginkan ................................................................
4. Kontraindikasi umum, pencegahan & hal direkomendasikan .............
5. Jadwal imunisasi .................................................................................
B. Pekerjaan ................................................................................................ 4
1. Definisi .............................................................................................
C. Dukungan Keluarga ................................................................................ 6
1. Definisi ..............................................................................................
2. Bentuk-bentuk dukungan keluarga ....................................................
3. Faktor yang mempengaruhi dukungan keluarga ................................
D. Kerangka Teori .......................................................................................

BAB III KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESIS ........................................


BAB IV PENUTUP
A. Kesimpulan ............................................................................................. 32
B. Saran ....................................................................................................... 32

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ 33


BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Tingkat kesehatan pada bayi perlu mendapatkan perhatian mengingat bayi

atau anak sebagai generasi penerus Bangsa. Salah satu upaya untuk menjadikan

generasi yang sehat yaitu dengan mengurangi tingkat morbiditas dan mortalitas pada

anak. Selain itu juga dibutuhkan suatu upaya kesehatan yang konsisten (Soetjiningsih,

2012).

Upaya mengurangi tingkat morbiditas dan mortalitas pada anak salah satunya

dengan pemberian imunisasi. Imunisasi merupakan salah satu strategi yang efektif

dan efisien dalam meningkatkan derajat kesehatan nasional dengan mencegah enam

penyakit mematikan, yaitu : tuberculosis, dipteri, pertusis, campak, tetanus dan polio.

WHO mencanangkan program Expanded Program on Immunization (EPI) dengan

tujuan untuk meningkatkan cakupan imunisasi pada anak-anak di seluruh dunia sejak

tahun 1974 (Ayubi, 2009).

Rata-rata angka imunisasi di Indonesia hanya 72 persen. Artinya, angka di

beberapa daerah sangat rendah. Ada sekitar 2.400 anak di Indonesia meninggal setiap

hari termasuk yang meninggal karena sebab-sebab yang seharusnya dapat dicegah.

Misalnya tuberculosis, campak, pertusis, dipteri dan tetanus. “Ini merupakan tragedi

yang mengejutkan dan tidak seharusnya terjadi. Masalah ini mencerminkan masalah-

masalah sistem dari tingkat kabupaten ke bawah. Sekaligus juga mencerminkan

perlunya pendanaan yang sesuai di tingkat nasional untuk untuk mendukung dan

mempertahankan pengawasan program imunisasi di Indonesia. Wabah polio yang

baru saja terjadi merupakan krisis kesehatan yang berdampak global. Ini merupakan

contoh yang baik mengapa beberapa program tidak boleh dibiarkan gagal karena
kurangnya dana dan kapasitas sumber daya manusia pada pelaksanaannya,” kata Dr.

Gianfranco Rotigliano, Kepala Perwakilan UNICEF di Indonesia. Survei atas dugaan

kasus polio yang dilakukan WHO menunjukkan bahwa di beberapa daerah angka

imunitas kurang dari 56 persen. Tiga tahun sebelumnya angka imunitas mencapai 70

persen. Hal ini menunjukkan turunnya layanan kesehatan di beberapa daerah miskin.

(Unicef, 2013).

Program imunisasi merupakan salah satu upaya untuk melindungi penduduk

terhadap penyakit tertentu. Program imunisasi diberikan kepada populasi yang

dianggap rentan terjangkit penyakit menular, yaitu bayi, anak usia sekolah, wanita

usia subur, dan ibu hamil. Setiap bayi wajib mendapatkan lima imunisasi dasar

lengkap (LIL) yang terdiri dari : 1 dosis BCG, 3 dosis DPT, 4 dosis polio, 3 dosis

hepatitis B, dan 1 dosis campak. Pelaksanaan Imunisasi bertujuan mencegah

terjadinya penyakit tertentu pada seseorang sekaligus menghilangkan penyakit

tertentu pada sekelompok masyarakat, seperti difteri dan tetanus. Dengan adanya

imunisasi diharapkan bisa menurunkan angka morbiditas dan mortalitas serta mampu

mengurangi kecacatan akibat penyakit. Menurut laporan yang disampaikan oleh

Medicins Sans Frontieres (MSF) atau Dokter Lintas Batas yang menyebutkan bahwa

Indonesia termasuk 1 dari 6 negara yang teridentifikasi memiliki jumlah tertinggi

anak-anak yang tidak terjangkau imunisasi. Menurut MSF sebanyak 70% dari anak-

anak yang tidak terjangkau program imunisasi rutin tersebar di Kongo, India, Nigeria,

Ethiopia, Indonesia dan Pakistan (Maya, 2012)

Imunisasi merupakan usaha memberikan kekebalan pada bayi dan anak

dengan memasukkan vaksin ke dalam tubuh agar membuat antibodi untuk mencegah

penyakit tertentu. Vaksin adalah bahan yang dipakai untuk merangsang pembentukan
zat anti yang dimasukkan kedalam tubuh melalui suntikan seperti vaksin BCG, DPT,

Hepatitis B, Campak dan melalui mulut seperti polio (Hidayat, 2012).

Penyebab timbulnya masalah imunisasi bersifat multifaktor. Pokok masalah

yang merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku pemberian imunisasi

adalah umur ibu, pendidikan ibu, pengetahuan ibu, pekerjaan ibu dan peran kader

posyandu (Reza, 2006).

Pemberian imunisasi pada anak yang mempunyai tujuan agar tubuh kebal pada

penyakit tertentu. Kekebalan tubuh juga dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor

diantaranya terdapat kadar antibodi yang tinggi pada saat dilakukan imunisasi, potensi

antigen yang disuntikan, dan waktu antara pemberian imnunisasi. Keefektifan

imunisasi tergantung dari faktor yang mempengaruhinya sehingga kekebalan tubuh

dapat diharapkan pada diri anak (Chichie, 2010).

Hasil riskesdas tahun 2013 menunjukkan bahwa data cakupan imunisasi dasar

lengkap hanya 52,9%, yang mendapat imunisasi tapi tidak lengkap 32.1% dan 6.7%

tidak pernah mendapat imunisasi sama sekali (Anonimous, 2012). Penyebab

rendahnya pencapaian imunisasi dasar lengkap tersebut adalah rendahnya kesadaran

dan pengetahuan masyarakat tentang imunisasi, manfaat, jadwal pemberian imunisasi

serta gejala ikutan imunisasi. Selain itu faktor ketersediaan fasilitas kesehatan,

dukungan keluarga dan dukungan petugas kesehatan serta kondisi sosial ekonomi juga

ikut mempengaruhi rendahnya pencapaian UCI desa/kelurahan. Menyadari akan hal

itu pemerintah menetapkan kembali melalui RPJMN dan Renstra Kemenkes 2010-

2014 bahwa target UCI desa/ kelurahan 100% akan di capai pada tahun 2014.

Usaha-usaha yang dilakukan dinas kesehatan masih banyak mengalami

kendala diantaranya kepatuhan orang tua untuk mengimunisasikan bayinya (Upn,

2011). Selain itu kesibukan orang tua, kurang sosialisasi dari pemerintah serta
budaya setempat yang masih mengandalkan dukun menjadi faktor yang

mempengaruhi kepatuhan orang tua untuk memberikan imunisasi pada bayinya.

Kepatuhan merupakan suatu permasalahan bagi semua disiplin perawatan kesehatan

(Basaria, 2007). Kepatuhan dalam mengimunisasikan anak sangatlah penting untuk

kesehatan anak dalam tahap tumbuh kembang (Arifin, 2011)

Dalam melakukan vaksinasi pada dasarnya tidak ada istilah “hangus”, karena

itu vaksinasi tidak perlu diulang dari awal apabila terlambat memberikan dosis

berikutnya. Vaksinasi yang diberikan terlambat masih dapat berfungsi baik walaupun

tidak memberikan perlindungan secara optimal (Hadinegoro dkk, 2011).

Penelitian yang dilakukan Mulyanti (2013) tentang faktor-faktor internal yang

berhubungan dengan kelengkapan imunisasi dasar balita usia 1-5 tahun di wilayah

kerja Puskesmas Situ Gintung Ciputat menunjukkan bahwa ada hubungan antara

pengetahuan, tingkat pendidikan, status pekerjaan, pendapatan keluarga, jarak rumah

ke tempat pelayanan kesehatan, sikap dengan status imunisasi dasar lengkap.

Menurut Indriyani (2013) keluarga adalah salah satu institusi masyarakat yang

paling penting. Keluarga mengemban tanggungjawab utama yang memiliki fungsi

biologis, fungsi ekonomi, fungsi pendidikan, fungsi psikologi dan fungsi sosiobudaya.

Melalui dukungan keluarga yang positif, akan berdampak pola hubungan yang positif

dari seluruh anggota keluarga. Keluarga yang memiliki persepsi positif tentang

imunisasi pada bayi, memiliki peluang untuk membangun perilakunya sesuai dengan

pemahaman keluarga dalam memberikan dukungan. Berbagai dukungan akan

diberikan, misalnya mengingatkan jadwal, mengantar pasangan dalam kegiatan

imunisasi bayi dan lain-lain. Hal ini selaras dengan penelitian Utami dan Yasin (2014)

yang mendapatkan hasil adanya hubungan dukungan keluarga dengan motivasi ibu

dalam mendapatkan imunisasi dasar lengkap pada bayi usia 0-12 bulan di Desa
Nyabakan Barat. Selain itu juga terdapat penelitian serupa yang dilakukan oleh

Ritonga,

Syarifah dan Tukiman (2014) diperoleh hasil adanya hubungan dukungan keluarga

dengan kepatuhan ibu melaksanakan imunisasi dasar pada anak.

Penelitian yang dilakukan oleh Kurniati (2008) bahwa status perkerjaan

seorang

ibu dapat berpengaruh terhadap kesempatan dan waktu yang digunakan untuk

meningkatkan pengetahuan dengan cara menambah pengetahuan tentang imunisasi

dan perhatian terhadap kesehatan anak-anaknya. Ibu yang mempunyai pekerjaan

sebagai ibu rumah tangga mempunyai banyak waktu yang luang, ini berarti ibu-ibu

tersebut bisa mendapatkan banyak informasi dari berbagai media, antara lain:

televisi, radio, surat kabar.

Puskesmas (Pusat Kesehatan Masyarakat) Banggae II merupakan salah satu

puskesmas yang ada di kabupaten Majene yang melayani 5 desa di kecamatan

Lolayan. Di wilayah kerja Puskesmas Banggae II tingkat drop out imunisasi dasar

dari masing-masing kelurahan masih cukup tinggi yaitu lebih dari 5%. Drop

out imunisasi dasar adalah imunisasi dasar yang tidak lengkap dimana tidak

mendapat salah satu atau lebih imunisasi dasar yang meliputi imunisasi

Hepatitis B empat kali, BCG satu kali, DPT tiga kali, Polio empat kali, dan

Campak satu kali. Cakupan imunisasi lengkap di wilayah kerja Puskesmas

Banggae II secara global telah memenuhi target akan tetapi masih terdapat

beberapa kelurahan yang berada di bawah target yaitu cakupan kurang dari

95%.

Seorang anak dikatakan mendapat imunisasi lengkap bila telah menerima

imunisasi Hb-0, BCG, DPT/HB1-2-3, Polio1-2-3-4 dan Campak. Angka drop out
(DO) dinilai dari selisih anak yang mendapat imunisasi DPT/HB1 dan imunisasi

Campak sebagai imunisasi terakhir. Angka yang ditolerir pada indikator DO ini

adalah < 5 %. Artinya makin tinggi angka DO artinya makin banyak anak yang tidak

mendapat imunisasi lengkap. Kabupaten Majene tahun 2016 Drop Out (DO) DPT-HB

(1)-(3) sebesar 14,3%, Drop Out (DO) DPT-HB(1)- Campak sebesar 29,0% dan Drop

Out (DO) Polio 1-4 sebesar 13,0% artinya masih banyak bayi di wilayah kerja

Kabupaten Majene yang tidak mendapatkan imunisasi lengkap. Berdasarkan data dari

Puskesmas tahun 2016 capaian imunisasi dasar lengkap sebesar 81,1%, secara umum

cakupan imunisasi mengalami penurunan dalam tiga tahun [Link] satu faktor

yang mempengaruhi data proyeksi yang terlalu tinggi dibandingkan dengan sasaran

riil yang ada (Dinas Kesehatan, 2016)

Cakupan Imunisasi Dasar Lengkap


Kabupaten Majene 2013-2016
100

95

90

85

80

75

70
2013 2014 2015 2016

Imunisasi Dasar Lengkap


Su

mber : Data Profil Kesehatan Tahun 2016 Kab. Majene


Cakupan Imunisasi Dasar Lengkap Menurut Puskesmas

Kabupaten Majene Tahun 2016

Sumber: Data Profil Kesehatan Tahun 2016 Kab. Majene

Berdasarkan data diatas, menunjukkan bahwa Capaian tertinggi imunisasi dasar

lengkap di Puskesmas ialah pada Puskesmas Malunda sebesar 91,3% dan capaian

terendah pada Puskesmas Banggae II sebesar 67,6%.

Persentase Balita Yang Pernah Mendapat Imunisasi Menurut Kabupaten/Kota

dan Jenis Imunisasi di Provinsi Sulawesi Barat, 2017

Polio DPT
Kabupaten/Kota 1 2 3+ 1 2 3+
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)
Kabupaten/Kota

1. Majene 43,02 1,61 46,24 45,83 3,84 45,65

2. Polewali Mandar 59,53 3,68 35,38 55,68 4,61 39,71

3. Mamasa 47,31 1,55 50,59 46,27 1,52 52,21

4. Mamuju 62,90 1,74 30,83 66,05 0,94 30,51

5. Pasangkayu 69,59 2,87 20,97 68,77 0,60 29,27

6. MamujuTengah 67,85 1,77 27,46 69,97 0,00 29,41

Sulawesi Barat 56,65 2,38 35,07 58,81 2,29 37,44

Hepatitis B
Kabupaten/Kota BCG Campak
1 2 3+
(1) (8) (9) (10) (11) (12)
Kabupaten/Kota

1. Majene 81,26 50,06 44,54 1,16 44,05

2. Polewali Mandar 91,75 63,46 55,37 2,90 37,76

3. Mamasa 92,87 65,45 45,22 2,72 46,13

4. Mamuju 83,84 51,36 55,82 2,34 30,30

5. Pasangkayu 79,52 51,08 62,27 3,12 20,92

6. MamujuTengah 92,22 60,77 67,87 1,56 26,39


Sulawesi Barat 87,05 57,10 55,25 2,38 34,71
Sumber/Source: Provinsi Sulawesi Barat Dalam Angka 2018/ Sulawesi barat Province in Figures

2018

Berdasarkan data tersebut dapat dilihat bahwa Kabupaten Pasangkayu

merupakan Kabupaten dengan cakupan imunisasi paling rendah pada tahun 2017

dengan cakupan masing-masing jenis imunisasi sebagai berikut Polio1 (69,59%),

Polio2 (2,87%), Polio3+ (20,97%), DPT1 (68,77%), DPT2 (0,60%), DPT3+

(29,27%), BCG (79,52%), Campak (51,08%), Hepatitis B1(62,27%), Hepatitis B2


(3,12%), Hepatitis B3+ (20,92%). Berdasarkan data tersebut masih ada cakupan

imunisasi yang belum memenuhi target ≥80% sehingga Kota tersebut belum bisa

dikatakan sebagai Kota UCI.

Persentase Balita Yang Pernah Mendapat Imunisasi Menurut Kecamatan dan

Jenis Imunisasi di Kabupaten Majene, 2017

DPT
Kecamatan BCG Campak
1 2 3
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
Banggae 93,0 70,3 72,4 71,4 70,3

Banggae Timur 98,1 71,5 72,2 71,4 74,6

Pamboang 89,7 81,7 84,4 78,4 84,4

Sendana 102,1 96,8 91,8 93,3 84,4

Tammerodo 92,0 78,4 74,3 73,9 77,5

Tubo Sendana 106,4 89,0 88,7 89,7 90,8

Malunda 86,2 87,1 89,9 88,4 75,2

Ulumanda 87,0 91,4 95,5 93,7 90,5


Jumlah 2017 94,2 79,9 80,6 79,4 77,9

2016 98,4 85,7 84,9 84,7 81,6

2015 85,0 85,6 85,5 82,4 639,7

Polio Hepatitis B
Kecamatan
1 2 3 4 1 2 3
(1) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13)
Banggae 69,0 70,3 72,4 71,7 70,3 72,4 71,4

Banggae Timur 73,2 71,5 71,7 71,1 71,5 77,2 71,4

Pamboang 79,5 79,5 84,8 78,6 81,7 84,4 78,4

Sendana 93,3 97,2 91,5 92,5 96,8 91,8 93,3

Tammerodo 87,8 78,4 74,3 73,9 78,4 74,3 73,9

Tubo Sendana 89,4 88,3 90,4 85,1 89,0 88,7 89,7


Malunda 87,5 87,1 89,9 88,4 87,1 89,9 88,4

Ulumanda 81,9 95,5 94,1 91,0 91,4 95,5 93,7


Jumlah 2017 79,1 79,8 80,5 78,9 79,9 80,6 79,4

2016 83,9 84,3 84,3 85,4 85,7 84,9 84,7

2015 85,3 85,1 85,6 82,9 85,6 85,5 82,4


Sumber/Source: Kabupaten Majene Dalam Angka 2018/ Majene Regency in Figures 2018

Berdasarkan data diatas yang pernah mendapat imunisasi menurut Kecamatan dan Jenis

Imunisasi di Kabupaten Majene menunjukkan bahwa kecamatan yang paling terendah dalam

pencapaian menurut jenis imunisasi adalah Kecamatan Banggae Timur dengan cakupan

masing-masing jenis imunisasi sebagai berikut Polio1 (73,2%), Polio2 (71,5%), Polio3+

(71,4%), DPT1 (71,5%), DPT2 (72,2%), DPT3+ (71,4%), BCG (98,1%), Campak (74,6%),

Hepatitis B1(71,5%), Hepatitis B2 (77,2%), Hepatitis B3+ (71,4%).

Permasalahan tentang faktor yang berhubungan dengan status imunisasi dasar lengkap

pada bayi ialah pekerjaan ibu dan dukungan keluarga sehingga penting untuk diteliti sebab

merupakan kendala dalam pencapaian target UCI. Imunisasi sendiri itu penting sebagai

upaya pencegahan penyakit pada balita dan sudah direkomendasikan pada masyarakat sejak

lama namun kenyataannya sampai sekarang pencapaian target cakupan imunisasi masih tidak

sesuai dengan yang diharapkan. Berdasarkan uraian di atas maka penulis tertarik untuk

melaksanakan penelitian tentang hubungan pekerjaan ibu dan dukungan keluarga terhadap

pemberian imunisasi dasar lengkap pada bayi di wilayah kerja Puskesmas Banggae II

Kabupaten Majene.

B. Rumusan Masalah

Apa hubungan pekerjaan ibu dan dukungan keluarga terhadap ketepatan pemberian

imunisasi dasar lengkap ?

C. Tujuan Penelitian
a. Tujuan umum

Dapat mengetahui hubungan pekerjaan ibu dan dukungan keluarga terhadap

ketepatan bemberian imunisasi campak.

b. Tujuan khusus

1. Menganalisis hubungan dukungan keluarga terhadap ketepatan pemberian

imunisasi dasar lengkap di Puskesmas Banggae II

2. Menganalisis hubungan pekerjaan ibu terhadap ketepatan pemberian imunisasi

dasar lengkap di Puskesmas Banggae II

D. Manfaat Penelitian

1. Bagi Dinas Kesehatan Kabupaten Majene

Penelitian ini dapat memberikan informasi dan masukan untuk selalu

meningkatkan pelayanan kesehatan guna mengurangi dan mencegah

masyarakat yang terkena penyakit serta dapat menjadi tambahan

bahan masukan dalam pengambilan kebijakan dan tindakan.

2. Bagi Masyarakat

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan dan

pengetahuan masyarakat tentang pentingnya imunisasi sehingga masyakarat

dapat melakukan pemberian imunisasi dasar lengkap pada anak.

3. Bagi Peneliti lain

Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat dan dapat digunakan sebagai bahan

pustaka atau bahan perbandingan untuk penelitian selanjutnya.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Imunisasi

1. Pengertian imunisasi

Imunisasi berasal dari kata imun, kebal atau resisten. Imunisasi adalah suatu

tindakan untuk memberikan kekebalan dengan cara memasukkan vaksin ke

dalam tubuh manusia. Kebal adalah suatu keadaan dimana tubuh mempunyai

daya kemampuan mengadakan pencegahan penyakit dalam rangka menghadapi

serangan kuman tertentu, namun kebal atau resisten terhadap suatu penyakit

belum tentu kebal terhadap penyakit lain (Depkes RI, 1994).

Vaksin adalah suatu bahan yang berasal dari kuman atau virus yang

menjadi penyebab penyakit, namun telah dilemahkan atau dimatikan, atau

diambil sebgaian, atau mungkin tiruan dari kuman penyebab penyakit, yang

secara sengaja dimasukkan ke dalam tubuh seseorang atau kelompok orang

dengan tujuan merangsang timbulnya zat anti penyakit tertentu pada orang-

orang tersebut (Achmadi, 2006)

2. Tujuan Imunisasi

a. Untuk mencegah terjadinya penyakit tertentu pada seseorang, dan

menghilangkan penyakit tertentu pada sekelompok masyarakat (populasi)

atau bahkan menghilangkan penyakit tertentu dari dunia seperti pada

imunisasi cacar variola (I.G.N Ranuh, 2008 : 10).

b. Untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian dari penyakit yang

dapat dicegah dengan imunisasi. Pada saat ini penyakit-penyakit tersebut


adalah disentri, tetanus, batuk rejan (pertusis), cacar (measles), polio, dan

tuberkulosis (Soekidjo Notoatmodjo, 2007 : 46).

c. Menurut WHO (World Health Organization), program imunisasi di

Indonesia memiliki tujuan untuk menurunkan angka kejadian penyakit dan

angka kematian akibat penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi

(Umar Fahmi Achmadi, 2006 : 130).

3. Macam macam imunisasi

a. Vaksin BCG (Bacillus Calmette Guerin)

1) Pengertian

Bacillus Calmette Guerin adalah vaksin hidup yang dibuat dari

Mycobacterium bovis yang dibiak berulang selama 1-3 tahun sehingga

didapatkan hasil yang tidak virulen tetapi masih mempunyai

imunogenitas. Vaksinasi BCG menimbulkan sensitivitas terhadap

tuberkulin, tidak mencegah infeksi tuberkulosis tetapi mengurangi risiko

terjadi tuberkulosis berat seperti meningitis TB dan tuberkulosis

milier (Ranuh,2008,p.132).

2) Cara pemberian dan dosis:

a) Sebelum disuntikkan vaksin BCG harus dilarutkan terlebih dahulu.

Melarutkan dengan mengggunakan alat suntik steril Auto Distruct

Scheering (ADS) 5 ml.

b) Dosisi pemberian: 0,05 ml.

c) Disuntikkan secara intrakutan di daerah lengan kanan atas (insertion

musculus deltoideus). Dengan menggunakan Auto Distruct

Scheering (ADS) 0,05 ml.

d) Vaksin yang sudah dilarutkan harus digunakan sebelum lewat 3 jam.


3) Indikasi

Untuk pemberian kekebalan aktif terhadap tuberculosis.

4) Kontra indikasi:

a) Adanya penyakit kulit yang berat/menahun seperti: eksim,

furunkulosis dan sebagainya.

b) Mereka yang sedang menderita TBC.

5) Efek samping

Imunisasi BCG tidak menyebabkan reaksi yang bersifat umum seperti

deman. Setelah 1-2 minggu akan timbul indurasi dan kemerahan

ditempat suntikan yang berubah menjadi pustule, kemudian pecah

menjadi luka. Luka tidak perlu pengobatan, akan sembuh secara spontan

dan

meninggalkan tanda parut. Kadang-kadang terjadi pembesaran kelenjar

regional di ketiak dan atau leher, terasa padat, tidak sakit dan tidak

menimbulkan demam. Reaksi ini normal, tidak memerlukan pengobatan

dan akan menghilang dengan sendirinya (Departemen Kesehatan

RI,2006,p.21-22).

b. Vaksin DPT (Difteri Pertusis Tetanus)

1) Pengertian

Vaksin DPT (Difteri Pertusis Tetanus) adalah vaksin yang terdiri

dari toxoid difteri dan tetanus yang dimurnikan serta bakteri pertusis

yang telah diinaktivasi (Departemen Kesehatan RI,2006,p.23 ).

Difteri merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri

Corynebacterium diphtheria. Difteri bersifat ganas, mudah menular dan

menyerang terutama saluran nafas bagian atas. Penularannya bisa karena


kontak langsung dengan penderita melalui bersin atau batuk atau kontak

tidak langsung karena adanya makanan yang terkontaminasi bakteri

difteri.

Penderita akan mengalami beberapa gejala seperti demam lebih

kurang 38°C, mual, muntah, sakit waktu menelan dan terdapat

pseudomembran putih keabu-abuan di faring, laring, atau tonsil. Pertusis

merupakan suatu penyakit yang disebabkan oleh kuman Bordetella

Pertusis. Kuman ini mengeluarkan toksin yang menyebabkan ambang

rangsang batuk yang hebat dan lama. Serangan batuk lebih sering pada

malam hari, batuk terjadi beruntun dan akhir batuk menarik nafas

panjang, biasanya disertai muntah. Batuk bisa mencapai 1-3 bulan, oleh

karena itu pertusis disebut juga dengan “batuk seratus hari”. Tetanus

merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi kuman Clostridium

tetani. Kuman ini bersifat anaerob, sehingga dapat hidup pada

lingkungan yang tidak terdapat zat asam (oksigen).

Tetanus dapat menyerang bayi, anak-anak bahkan orang dewasa.

Pada bayi penularan disebabkan karena pemotongan tali pusat tanpa alat

yang steril atau dengan cara tradisional dimana alat pemotong dibubuhi

ramuan tradisional yang terkontaminasi spora kuman tetanus. Pada anak-

anak atau orang dewasa bisa terinfeksi karena luka yang kotor atau luka

terkontaminasi spora tetanus. Kuman ini paling banyak terdapat di usus

kuda berbentuk spora yang tersebar luas di tanah (Atikah,2010,pp.42-

48).

Upaya Departemen Kesehatan melaksanakan Program Eliminasi

Tetanus Neonatorum (ETN) melalui imunisasi DPT, DT atau TT


dilaksanakan berdasarkan perkiraan lama waktu perlindungan sebagai

berikut:

a) Imunisasi DPT 3x akan memberikan imunitas 1-3 tahun.

Dengan 3 dosis toksoid tetanus pada bayi dihitung setara dengan 2

dosis pada anak yang lebih besar atau dewasa.

b) Ulangan DPT pada umur 18-24 bulan (DPT 4) akan

memperpanjang imunitas 5 tahun yaitu sampai dengan umur 6-7

tahun. Dengan 4 dosis toksoid tetanus pada bayi dan anak dihitung

setara dengan 3 dosis pada dewasa (Sudarti,2010,pp.150-151).

2) Cara pemberian dan dosis:

a) Sebelum digunakan vaksin harus dikocok terlebih dahulu agar

suspensi menjadi homogen.

b) Disuntik secara intramuskuler dengan dosis pemberian 0,5 ml

sebanyak 3 dosis. Dosis pertama diberikan pada umur 2 bulan, dosis

selanjutnya diberikan dengan interval paling cepat 4 minggu (1

bulan) (Departemen Kesehatan RI,2006, p.23).

c) Cara memberikan vaksin ini, sebagai barikut:

(1) Letakkan bayi dengan posisi miring diatas pangkuan ibu dengan

seluruh kaki terlentang

(2) Orang tua sebaiknya memegang kaki bayi

(3) Pegang paha dengan ibu jari dan jari telunjuk

(4) Masukkan jarum dengan sudut 90 derajat

(5) Tekan seluruh jarum langsung ke bawah melalui kulit sehingga

masuk kedalam otot (Atikah.2010,p.48)


3) Indikasi

Untuk pemberian kekebalan secara simultan terhadap difteri, pertusis,

dan tetanus.

4) Kontra indikasi

Gejala- gejala keabnormalan otak pada periode bayi baru lahir atau

gejala serius keabnormalan pada syaraf merupakan kontraindikasi

pertusis. Anak-anak yang mengalami gejala-gejala parah pada dosis

pertama, komponen pertusis harus dihindarkan pada dosis kedua, dan

untuk meneruskan imunisasinya dapat diberikan DT.

5) Efek samping

Gejal-gejala yang bersifat sementara seperti: lemas, demam tinggi,

iritabilitas, dan meracau yang biasanya terjadi 24 jam setelah imunisasi

(Departemen Kesehatan RI,2006,p.23 )

c. Vaksin Hepatitis B

1) Pengertian

Vaksin hepatitis B adalah vaksin virus rekombinan yang telah

diinaktivasikan dan bersifat in infectious, berasal dari HBsAg yang

dihasilkan dalam sel ragi (Hansenula polymorph) menggunakan

teknologi DNA rekombinan.

2) Cara pemberian dan dosis:

a) Sebelum digunakan vaksin harus dikocok terlebih dahulu agar

suspensi menjadi homogen.

b) Vaksin disuntikkan dengan dosis 0,5 ml, pemberian suntikan secara

intramuskuler sebaiknya pada anterolateral paha.

c) Pemberian sebanyak 3 dosis.


d) Dosis pertama diberikan pada usia 0-7 hari, dosis berikutnya dengan

interval minimum 4 minggu (1 bulan)

3) Indikasi

Untuk pemberian kekebalan aktif terhadap infeksi yang disebabkan virus

hepatitis B.

4) Kontra indikasi

Hipersensitif terhadap komponen vaksin. Sama halnya seperti vaksin

vaksin lain, vaksin ini tidak boleh diberikan kepada penderita infeksi

berat disertai kejang.

5)Efek samping

Reaksi lokal seperti rasa sakit, kemerahan dancpembengkakan disekitar

tempat penyuntikan. Reaksi yangcterjadi bersifat ringan dan biasanya

hilang setelah 2 hari.(Departemen Kesehatan RI,2006,p.28)

d. Vaksin Polio (Oral Polio Vaccine)

1) Pengertian

Vaksin Oral Polio adalah vaksin yang terdiri dari suspense virus

poliomyelitis tipe 1,2,3 (Strain Sabin) yang sudah dilemahkan, dibuat

dibiakkan jaringan ginjal kera dan distabilkan dengan sukrosa.

2) Cara pemberian dan dosis:

a) Diberikan secara oral (melalui mulut), 1 dosis ada 2 (dua) tetes

sebanyak 4 kali (disis) pemberian dengan interval setiap dosis

minimal 4 minggu.

b) Setiap membuka vial baru harus menggunakan penetes (dropper)

yang baru.
3) Indikasi

Untuk pemberian kekebalan aktif terhadap poliomielitis.

4) Kontra indikasi

Pada individu yang mnderita “immune deficiency” tidak ada efek yang

berbahaya yang timbul akibat pemberian polio pada anak yang sedang

sakit. Namun jika ada keraguan, misalnya sedang menderita diare, maka

dosis ulangan dapat diberikan setelah sembuh.

5) Efek samping

Pada umumnya tidak terdapat efek samping. Efek samping berupa

paralisis yang disebabkan oleh vaksin sangat jarang terjadi. (Departemen

Kesehatan RI,2006,p.26)

e. Vaksin Campak

1) Pengertian

Vaksin Campak merupakan vaksin virus hidup yang dilemahkan. Setiap

dosis (0,5 ml) mengandung tidak kurang dari 1000 inektive unit virus

strain dan tidak lebih dari 100 mcg residu kanamycin dan 30 mcg residu

erithromycin.

2) Cara pemberian dan dosis:

a) Sebelum disuntikkan vaksin campak terlebih dahulu harus dilarutlan

dengan pelarut steril yang telah tersedia yang berisi 5 ml cairan

pelarut.

b) Dosis pemberian 0,5 ml disuntikkan secara subkutan pada lengan kiri

atas, pada usia 9-11 bulan. Dan ulangn (booster) pada usia 6-7 tahun

(kelas 1 SD) setelah catchup campaign campak pada anak Sekolah

Dasar kelas 1-6.


3) Indikasi

Untuk pemberian kekebalan aktif terhadap penyakit campak.

4) Kontra indikasi

Individu yang mengidap penyakit immune deficiency atau individu yang

diduga menderita gangguan respon imun karena leukemia, limfoma.

5)Efek samping Hingga 15% pasien dapat mengalami demam ringan dan

kemerahan selama 3 hari yang dapat terjadi 8-12 hari setelah vaksinasi

(Departemen Kesehatan RI,2006,p. 27).

4. Efek yang tidak di inginkan

Reaksi minor akibat komponen pertusis dari imunisasi Hib/DTP umum

terjadi gelisah, demam, dan menangis selama berapa jam setelah penyuntikan

dengan lokasi penyuntikan terasa sakit. Jika hal tsb terjadi setelah penyuntikan

pertama, maka berikan parasetamol pada dosis berikutnya.

BCG disuntikkan intradermal di atas insersi otot deltoid. Setelah 3-6

minggu akan terdapat eritema, indurasi, dan kadang ulserasi. Kelenjar getah

bening aksilaris mungkin membesar dan terasa nyeri. Tanda-tanda lokal

menghilang dalam 2-6 bulan. Pada anak sekolah, BCG diberikan secara rutin

hanya bila tes tuberkulin sebelumnya negatif.

5. Faktor Yang Mempengaruhi Kelengkapan Imunisasi

Menurut Soekidjo Notoatmodjo (2003 : 96) terdapat teori yang

mengungkapkan determinan perilaku berdasarkan analisis dari faktor-faktor

yang mempengaruhi perilaku khususnya perilaku kesehatan. Diantara teori

tersebut adalah teori Lawrence Green (1980), yang menyatakan bahwa

perilaku seseorang ditentukan oleh tiga faktor, yaitu :

a. Faktor Pemudah (Presdiposing Factors)


Faktor-faktor ini mencakup tingkat pendidikan ibu, pengetahuan ibu,

pekerjaan ibu, pendapatan keluarga, jumlah anak, dan dukungan dari pihak

keluarga.

1) Tingkat Pendidikan Ibu Bayi

Pendidikan adalah proses seseorang mengembangkan kemampuan,

sikap, dan bentuk-bentuk tingkah laku manusia di dalam masyarakat

tempat ia hidup, proses sosial, yakni orang dihadapkan pada pengaruh

lingkungan yang terpilih dan terkontrol (khususnya yang datang dari

sekolah), sehingga dia dapat memperoleh atau mengalami

perkembangan kemampuan sosial, dan kemampuan individu yang

optimal (Achmad Munib, dkk, 2006 : 32).

Wanita sangat berperan dalam pendidikan di dalam rumah tangga.

Mereka menanamkan kebiasaan dan menjadi panutan bagi generasi

yang akan datang tentang perlakuan terhadap lingkungannya. Dengan

demikian, wanita ikut menentukan kualitas lingkungan hidup ini.

Untuk

dapat melaksanakan pendidikan ini dengan baik, para wanita juga perlu

berpendidikan baik formal maupun tidak formal. Akan tetapi pada

kenyataan taraf, pendidikan wanita masih jauh lebih rendah daripada

kaum pria. Seseorang ibu dapat memelihara dan mendidik anaknya

dengan baik apabila ia sendiri berpendidikan (Juli Soemirat Slamet,

2000 : 208).

2) Tingkat Pengetahuan Ibu Bayi

Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan itu terjadi setelah

orang melakukan pengindraan terhadap suatu obyek tertentu.

Pengindraan terjadi melalui pancaindra manusia, yakni indra


penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa, dan raba. Sebagian besar

pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. Pengetahuan

atau kognitif

merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan

seseorang (over behavior). Sebelum orang mengadopsi perilaku baru

(berperilaku baru), di dalam diri orang tersebut terjadi proses yang

berurutan, yakni : awareness (kesadaran), interest (tertarik), evaluation

(menimbang-nimbang baik dan tidaknya stimulus tersebut bagi

dirinya).

Trial (orang telah mulai mencoba prilaku baru), adoption (subyek telah

berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan, kesadaran, dan sikapnya

terhadap stimulus) (Soekidjo Notoatmodjo, 2003 : 127 -128).

Pengetahuan diperoleh dari pengalaman sendiri atau pengalaman

orang lain. Seseorang ibu akan mengimunisasikan anaknya setelah

melihat anak tetangganya kena penyakit polio sehingga cacat karena

anak tersebut belum pernah memperoleh imunisasi polio.

3) Status Pekerjaan Ibu Bayi

Pekerjaan menurut kamus besar Bahasa Indonesia adalah mata

pencaharian, apa yang dijadikan pokok kehidupan, sesuatu yang

dilakukan untuk mendapatkan nafkah (Pandji Anoraga, 2005 : 11).

Ibu yang bekerja mempunyai waktu kerja sama seperti dengan pekerja

lainnya. Adapun waktu kerja bagi pekerja yang dikerjakan yaitu waktu

siang 7 jam satu hari dan 40 jam satu minggu untuk 6 hari kerja

dalam satu minggu, atau dengan 8 jam satu hari dan 40 jam satu

minggu

untuk 5 hari kerja dalam satu minggu. Sedangkan waktu malam hari
yaitu 6 jam satu hari dan 35 jam satu minggu untuk 6 hari kerja dalam

minggu (Pandji Anoraga, 2005 : 60).

Bertambah luasnya lapangan kerja, semakin mendorong

banyaknya kaum wanita yang bekerja, terutama di sektor swasta. Di

satu sisi berdampak positif bagi pertambahan pendapatan, namun di

sisi lain

berdampak negatif terhadap pembinaan dan pemeliharaan anak (Panji

Anoraga, 2005 : 120).

Hubungan antara pekerjaan ibu dengan kelengkapan imunisasi

dasar bayi adalah jika ibu bekerja untuk mencari nafkah maka akan

berkurang kesempatan waktu dan perhatian untuk membawa bayinya

ke

tempat pelayanan imunisasi, sehingga akan mengakibatkan bayinya

tidak mendapatkan pelayanan imunisasi.

4) Pendapatan Keluarga

Pendapatan adalah hasil pencarian atau perolehan usaha

(Depertemen Pendidikan Nasional, 2002:236). Menurut Mulyanto

Sumardi dan Hans Dieter Evers (1982:20), pendapatan yaitu

keseluruhan penerimaan baik berupa uang maupun barang baik dari

pihak lain maupun dari hasil sendiri. Jadi yang dimaksud pendapatan

adalah suatu tingkat penghasilan yang diperoleh dari pekerjaan pokok

dan pekerjaan sampingan dari orang tua dan anggota keluarga lainya.

Pendapatan keluarga yang memadai akan menunjang tumbuh kembang

anak, karena orang tua dapat menyediakan semua kebutuhan anak baik

yang primer maupun yang sekunder (Soetjiningsih, 1995 : 10).


5) Jumlah Anak

Berdasarkan penelitian Suparmanto (1990) dalam Nuri

Handayani

(2008), jumlah anak sebagai salah satu aspek demografi yang akan

berpengaruh pada partisipasi masyarakat. Hal ini dapat terjadi karena

jika seorang ibu mempunyai anak lebih dari satu biasanya ibu semakin

berpengalaman dan sering memperoleh informasi tentang imunisasi,

sehingga anaknya akan di imunisasi (Nuri Handayani, 2008 : 36).

6) Dukungan Keluarga

Dukungan sosial secara psikologis dipandang sebagai hal yang

kompleks. Wortman dan Dunkell-Scheffer (1987) mengidentifikasikan

beberapa jenis dukungan yang meliputi ekspresi perasaan positif,

termasuk menunjukkan bahwa seseorang diperlukan dengan rasa

penghargaan yang tinggi, ekspresi persetujuan dengan atau

pemberitahuan tentang ketepatan keyakinan dan perasaan seseorang.

Ajakan untuk membuka diri dan mendiskusikan keyakinan dan

sumbersumber juga merupakan bentuk dukungan sosial (Charles

Abraham, 1997 : 126).

Untuk mewujudkan sikap menjadi suatu perbuatan yang nyata

diperlukan faktor pendukung atau suatu kondisi yang memungkinkan,

antara lain adalah fasilitas. Sikap ibu yang positif terhadap imunisasi

harus mendapat konfirmasi dari suaminya dan ada fasilitas imunisasi

yang mudah dicapai, agar ibu tersebut mengimunisasi anaknya.

Disamping faktor fasilitas, juga diperlukan dukungan/support dari

pihak

lain, misalnya suami/istri/orang tua/mertua.


b. Faktor Pendukung (Enabling Factors)

Faktor pemungkin atau pendukung (enabling) perilaku adalah

fasilitas,

sarana dan prasarana atau sumber daya atau fasilitas kesehatan yang

memfasilitasi terjadinya perilaku seseorang atau masyarakat, termasuk

juga fasilitas pelayanan kesehatan seperti pukesmas, posyandu, polindes,

pos obat desa, dokter atau bidan swasta, dan sebagainya, serta kelengkapan

alat imunisasi, uang, waktu, tenaga, dan sebagainya (Soekidjo

Notoatmodjo, 2005: 27).

1) Ketersedian Sarana dan Prasarana

Ketersedian sarana dan prasarana atau fasilitas bagi masyarakat,

termasuk juga fasilitas pelayanan kesehatan seperti pukesmas,

rumah

sakit, poliklinik, posyandu, polindes, pos obat desa, dokter, atau

bidan

praktek desa. Fasilitas ini pada hakikatnya mendukung atau

memungkinkan terwujudnya perilaku kesehatan, maka faktor-faktor

ini disebut faktor pendukung atau faktor pemungkinan.

2) Peralatan Imunisasi

Setiap obat yang berasal dari bahan biologik harus dilindungi

terhadap sinar matahari, panas, suhu beku, termasuk juga vaksin.

Untuk sarana rantai vaksin dibuat secara khusus untuk menjaga

potensi vaksin. Di bawah ini merupakan kebutuhan dan peralatan

yang digunakan sebagai sarana penyimpanan dan pembawa vaksin.

a) Lemari Es
Setiap puskesmas harus mempunyai 1 lemari es standart

program. Setiap lemari es sebaiknya mempunyai 1 stop kontak

tersendiri. Jarak lemari es dengan dinding belakang 10-15 cm,

kanan kiri 15 cm, sirkulasi udara di sekitarnya harus baik.

Lemari

es tidak boleh terkena panas matahari langsung. Suhu di dalam

lemari es harus berkisar + 20 C s/d + 80 C, sedangkan di dalam

freezer berkisar antara -250 C s/d -150C (I.G.N Ranuh, 2008 :

32).

b) Vaccine Carrrier (termos)

Vaccine carrier adalah alat untuk mengirim atau membawa

vaksin dari puskesmas ke posyandu atau tempat pelayanan

imunisasi lainnya yang dapat mempertahankan suhu +2 0 C –

+80C

c) Cold Box

Cold box di tingkat puskesmas digunakan penyimpanan

vaksin sementara apabila dalam keadaan darurat seperti listrik

padam untuk waktu cukup lama, atau lemari es sedang rusak

yang bila diperbaiki memakan waktu lama. Cold box berukuran

besar,

dengan ukuran 40-70 liter, dengan penyekat suhu dari

poliuretan.

d) Freeze Tag

Freeze tag digunakan untuk memantau suhu dari kabupaten

ke pukesmas pada waktu membawa vaksin, serta dari pukesmas


sampai ke lapangan atau posyandu dalam upaya peningkatan

kualitas rantai vaksin (Ditjen PP dan PL Depkes RI, 2005 : 23).

3) Keterjangkauan Tempat Pelayanan Imunisasi

Salah satu faktor yang mempengaruhi pencapaian derajat

kesehatan, termasuk status kelengkapan imunisasi dasar adalah

adanya keterjangkauan tempat pelayanan kesehatan oleh

masyarakat. Kemudahan untuk mencapai pelayanan kesehatan ini

antara lain ditentukan oleh adanya transportasi yang tersedia

sehingga dapat memperkecil jarak tempuh, hal ini akan

menimbulkan motivasi ibu untuk datang ketempat pelayanan

imunisasi. Menurut Lawrence W. Green (1980), Ketersediaan dan

keterjangkauan sumber daya kesehatan termasuk tenaga kesehatan

yang ada dan mudah dijangkau merupakan salah satu faktor yang

member kontribusi terhadap perilaku dalam mendapatkan pelayanan

kesehatan. Faktor pendukung lain menurut Djoko Wiyono (1997 :

236) adalah akses terhadap pelayanan kesehatan yang berarti bahwa

pelayanan kesehatan tidak terhalang oleh keadaan geografis,

keadaan geografis ini dapat diukur dengan jenis transportasi, jarak,

waktu perjalanan dan hambatan fisik lain yang dapat menghalangi

seseorang mendapat pelayanan kesehatan.

Semakin kecil jarak jangkauan masyarakat terhadap suatu

tempat

pelayanan kesehatan, maka akan semakin sedikit pula waktu yang

diperlukan sehingga tingkat pemanfaatan pelayanan kesehatan

meningkat.

c. Faktor Penguat (Reinforcing Factors)


Faktor ini meliputi faktor sikap dan perilaku para petugas termasuk

petugas kesehatan (Soekidjo Notoatmodjo, 2003 : 13). Menurut Lawrence

W. Green, ketersediaan dan keterjangkauan sumber daya kesehatan

termasuk tenaga kesehatan yang ada dan mudah dijangkau merupakan

salah satu faktor yang member kontribusi terhadap perilaku sehat dalam

mendapatkan pelayanan kesehatan.

1) Petugas Imunisasi

Petugas kesehatan untuk program imunisasi biasanya dikirim dari

pihak puskesmas, biasanya dokter atau bidan, lebih khususnya bidan

desa. Menurut Djoko Wiyono (2000:33) pasien atau masyarakat

menilai

mutu pelayanan kesehatan yang baik adalah pelayanan kesehatan yang

empati, respek dan tanggap terhadap kebutuhannya, pelayanan yang

diberikan harus sesuai dengan kebutuhan masyarakat, diberikan

dengan

cara yang ramah pada waktu berkunjung. Dalam melaksanakan

tugasnya petugas kesehatan harus sesuaidengan mutu pelayanan.

Pengertian mutu pelayanan untuk petugas kesehatan berarti bebas

melakukan segala sesuatu secara professional untuk meningkatkan

derajat kesehatan pasien dan masyarakat sesuai dengan ilmu

pengetahuan dan keterampilan yang maju, mutu peralatan yang baik

dan memenuhi standar yang baik, komitmen dan motivasi petugas

tergantung dari kemampuan mereka untuk melaksanakan tugas mereka

dengan cara yang optimal (Djoko Wiyono, 2000 : 34). Perilaku

seseorang atau masyarakat tentaang kesehatan ditentukan oleh

pengetahuan, sikap, kepercayaan, tradisi dan sebagainya dari orang


atau masyarakat yang bersangkutan. Di samping itu, ketersediaan

fasilitas, sikap dan perilaku para petugas kesehatan terhadap kesehatan

juga akan mendukung dan memperkuat terbentuknya perilaku

(Soekidjo

Notoatmodjo, 2003 : 165).

2) Kader Kesehatan

Kader kesehatan masyarakat adalah laki-laki atau wanita yang dipilih

oleh masyarakat untuk menangani masalah-masalah kesehatan

perseorangan maupun masyarakat serta untuk bekerja dalam hubungan

yang amat dekat dengan tempat-tempat pemberian pelayanan

kesehatan

(The Community Health Worker, 1995 : 1). Secara umum peran kader

kesehatan adalah melaksanakan kegiatan pelayanan kesehatan terpadu

bersama masyarakat dalam rangka pengembangan PKMD

Secara khisus peran kader adalah :

a) Persiapan

Persiapan yang dilakukan oleh kader sebelum pelaksanaan kegiatan

posyandu adalah memotivasi masyarakat untuk memanfaatkan

pelayanan kesehatan terpadu dan berperan serta dalam

mensukseskannya, bersama dengan masyarakat merencanakan

kegiatan pelayanan kesehatan terpadu ditingkat desa.

b) Pelaksanaan

Pelaksanaan yang dilakukan oleh kader saat kegiatan imunisasi

adalah melaksanakan penyuluhan kesehatan secara terpadu,

mengelola kegiatan seperti penimbangan bulanan, distribusi oralit,


vitamin A/Fe, distribusi alat kontrasepsi, PMT, Pelayanan

kesehatan sederhana, pencatatan dan pelaporan serta rujukan.

c) Pembinaan

Pembinaan yang dilakukan oleh kader berupa : menyelenggarakan

pertemuan bulanan dengan masyarakat untuk membicarakan

perkembangan program kesehatan, melakukan kunjungan rumah

pada keluarga binaannya, membina kemampuan diri melalui

pertukaran pengalaman antar kader.

6. Jadwal pemberian imunisasi

1. Bayi lahir dirumah

Table 1. Waktu pemberian imunisasi bayi lahir di rumah

HB 1 Dirumah
BCG,Polio 1 Posyandu
DPT 1, HB 2, Polio 2 Posyandu
DPT 2, HB 3, Polio 3 Posyandu
DPT 3, Polio 4 Posyandu
Campak Posyandu
(Depkes, 2009)

2. Bayi lahir di RS/RB/Bidan Praktek.

Tabel 2. Waktu pemberian imunisasi bayi lahir di RS/RB/Bidan Praktek.\


HB 1, Polio 1, BCG RS, RB, Bidan
DPT 1, HB 2, Polio 2 RS, RB, Bidan
DPT 2, HB 3, Polio 3 RS, RB, Bidan
DPT 3, Polio 4 RS, RB, Bidan
Campak RS, RB, Bidan

(Depkes, 2009)
B. Konsep dukungan keluarga

1. Definisi

Dukungan keluarga menurut Fridman (2010) adalah sikap, tindakan

penerimaan keluarga terhadap anggota keluargannya, berupa dukungan

informasional, dukungan penilaian, dukungan instrumental dan dukungan

emosional. Jadi dukunan keluarga adalah suatu bentuk hubungan interpersonal

yang meliputi sikap, tindakan dan penerimaan terhadap anggota keluarga,

sehingga anggota keluarga merasa ada yang memperhatikannya. Jadi dukungan

sosial keluarga mengacu kepada dukungan-dukungan sosial yang dipandang oleh

anggota keluarga sebagai sesuatu yang dapat diakses atau diadakan untuk keluarga

yang selalu siap memberikan pertolongan dan bantuan jika diperlukan (Erdiana,

2015).

2. Bentuk-bentuk dukungan keluarga

Menurut Friedman (1998), menyatakan bahwa keluarga berfungsi sebagai

sistem pendukung bagi anggotanya. Anggota keluarga memandang bahwa orang

yang bersifat mendukung, selalu siap memberikan pertolongan dan bantuan jika

diperlukan. Terdapat empat dimensi dari dukungan keluarga yaitu:

a. Dukungan Emosional (Emosional Support)

Keluarga sebagai sebuah tempat yang aman dan damai untuk istirahat dan

pemulihan serta membantu penguasaan terhadap emosi. Meliputi ungkapan

empati, kepedulian dan perhatian terhadap anggota keluarga yang menderita

kusta (misalnya: umpan balik, penegasan) (Marlyn, 1998).

b. Dukungan Penghargaan (Apprasial Assistance)

Keluarga bertindak sebagai sebuah bimbingan umpan balik, membimbing dan

menengahi pemecahan masalah dan sebagai sumber dan validator identitas


anggota. Terjadi lewat ungkapan hormat (penghargan) positif untuk penderita

kusta, persetujuan dengan gagasan atau perasaan individu dan perbandingan

positif penderita kusta dengan penderita lainnya seperti orang-orang yang

kurang mampu atau lebih buruk keadaannya (menambah harga diri) (Marlyn,

1998).

c. Dukungan Materi (Tangibile Assistance).

Keluarga merupakan sebuah sumber pertolongan praktis dan konkrit,

mencakup bantuan langsung seperti dalam bentuk uang, peralatan,

waktu, modifikasi lingkungan maupun menolong dengan pekerjaan waktu

mengalami stress (Marlyn, 1998)

d. Dukungan Informasi (informasi support)

Keluarga berfungsi sebagai sebuah koletor dan disse minator (penyebar)

informasi tentang dunia, mencakup memberri nasehat, petunjuk-petunjuk,

saran atau umpan balik. Bentuk dukungan keluarga yang diberikan oleh

keluarga adalah dorongan semangat, pemberian nasehat atau mengawasi

tentang pola makan sehari-hari dan pengobatan. Dukungan keluarga

juga merupakan perasaan individu yang mendapat perhatian, disenangi,

dihargai dan termasuk bagian dari masyarakat (Utami, 2003).

3. Faktor-faktor yang mempengaruhi dukungan keluarga

Menurut Purnawan (2008) dalam Rahayu (2008) faktor-faktor yang

mempengaruhi dukungan keluarga adalah:

a. Faktor internal

1) Tahap perkembangan

Artinya dukungan dapat ditentukan oleh faktor usia dalam hal ini

adalah pertumbuhan dan perkembangan, dengan demikian setiap


rentang usia (bayi-lansia) memiliki pemahaman dan respon terhadap

perubahan kesehatan yang berbeda-beda.

2) Pendidikan atau tingkat pengetahuan

Keyakinan seseorang terhadap adanya dukungan terbentuk oleh

variabel intelektual yang terdiri dari pengetahuan, latar belakang

pendidikan dan pengalaman masa lalu. Kemampuan kognitif akan

membentuk cara berfikir seseorang termasuk kemampuan untuk

memahami faktor-faktor yang berhubungan dengan penyakit dan

menggunakan pengetahuan tentang kesehatan untuk menjaga

kesehatan dirinya.

3) Faktor emosi

Faktor emosional juga mempengaruhi keyakinan terhadap adanya

dukungan dan cara melakukannya. Seseorang yang mengalami respon

stress dalam setiap perubahan hidupnya cenderung berespon terhadap

berbagai tanda sakit, mungkin dilakukan dengan cara

mengkhawatirkan bahwa penyakit tersebut dapat mengancam

kehidupannya. Seseorang yang secara umum terlihat sangat tenang

mungkin mempunyai respon

emosional yang kecil selama ia sakit. Seorang individu yang tidak

mampu melakukan koping secara emosional terhadapancaman

penyakit mungkin.

4) Spiritual

Aspek spiritual dapat terlihat dari bagaimana seseorang menjalani

kehidupannya, mencakup nilai dan keyakinan yang dilaksanakan,


hubungan dengan keluarga atau teman, dan kemampuan mencari

harapan dan arti dalam hidup.

b. Eksternal

1) Praktik di keluarga

Cara bagaimana keluarga memberikan dukungan biasanya

mempengaruhi penderita dalam melaksanakan kesehatannya.

Misalnya, klien juga kemungkinan besar akan melakukan tindakan

pencegahan jika keluarga melakukan hal yang sama.

2) Faktor sosio-ekonomi

Faktor sosial dan psikososial dapat meningkatkan resiko terjadinya

penyakit dan mempengaruhi cara seseorang mendefinisikan dan

bereaksi terhadap penyakitnya. Variabel psikososial mencakup:

stabilitas perkawinan, gaya hidup, dan lingkungan [Link]

biasanya akan mencari dukungan dan persetujuan dari kelompok

sosialnya, hal ini akan mempengaruhi keyakinan kesehatan dan cara

pelaksanaannya. Semakin tinggi tingkat ekonomi seseorang biasanya ia

akan lebih cepat tanggap terhadap gejala penyakit yang dirasakan.

Sehingga ia akan segera mencari pertolongan ketika merasa ada

gangguan pada kesehatannya.

3) Latar belakang budaya

Latar belakang budaya mempengaruhi keyakinan, nilai dan kebiasaan

individu, dalam memberikan dukungan termasuk cara pelaksanaan

kesehatan pribadi.
A. MATRIKS PENELITIAN

METODE
NO JUDUL TUJUAN VARIABEL HASIL
PENELITIAN
1 Hubungan Status Untuk 1. Status Penelitian ini Penelitian ini

Pekerjaan Ibu mengetahui Pekerjaan merupakan menunjukkan

dengan Hubungan Ibu survey analitik. bahwa status

Kelengkapan Status 2. Imunisasi Sedangkan pekerjaan ibu

Imunisasi Pada Bayi Pekerjaan Ibu 3. Kelengkapan pengumpulan tidak

Di Puskesmas dengan data dengan berhubungan

Kraton Yogyakarta Kelengkapan pendekatan dengan

(Nanda Ari Imunisasi waktu cross kelengkapan

Nugraheni, Pada Bayi sectional. pemberian

imunisasi.
Mufdlillah & Yuli

Isnaeni, 2009)
2 Hubungan Tingkat untuk 1. Tingkat Jenis penelitian Hasil penelitian

pengetahuan, usia mengetahui pengetahuan ini adalah ini

dan pekerjaan ibu hubungan 2. Usia observasional menunjukkan

dengan status antara tingkat 3. Pekerjaan ibu dengan ada hubungan

imunisasi Dasar pengetahuan, 4. Imunisasi pendekatan antara

Bayi Di Desa usia dan dasar rancangan case pengetahuan ibu

Japanan Kecamatan pekerjaan ibu control (p = 0,02, OR =

Cawas Kabupaten dengan 3,51; 95%CI

Klaten status = 1,31 - 9,36),

(PRATAMADHITA imunisasi pekerjaan

JANU NUGROHO, dasar bayi di (p=0,04, OR =


2012) Desa 2,68; 95%CI

Japanan. =1,09 - 6,46)

dengan

kelengkapan

status imunisasi

dasar bayi dan

tidak ada

hubungan antara

usia ibu

dengan

kelengkapan

status imunisasi

dasar bayi.
3 Dukunga Keluarga Untuk 1. Dukungan Jenis penelitian Setiap ibu yang

Terhadap Ibu dalam mengetahui Keluarga deskriptif dan tidak lengkap

imunisasi ada
Melaksanakan dukungan 2. Balita, desain
kaitanya dengan
Imunisasi Pada keluarga 3. Imunisasi penelitian cross
dukungan
Balita (Yuni terhadap ibu sectional
keluarga
Azzahra & Suryane dalam

Sulistiana Susanti, melaksanaka

2014) n imunisasi

pada balita.
4 Hubungan untuk 1. Dukungan Jenis penelitian Dukungan

Dukungan Keluarga mengetahui Keluarga analitik dengan keluarga dengan

dengan motivasi ibu Hubungan 2. Motivasi Ibu menggunakan motivasi ibu

dalam mendapatkan Dukungan 3. Imunisasi pendekatan dalam

Imunisasi Dasar Keluarga Dasar Lengkap “Analitik mendapatkan

Lengkap Pada Bayi dengan Korelasional imunisasi dasar

Usia 0-12 Bulan Di motivasi ibu Cross Sectional lengkap pada

Desa Nyabakan dalam Study” bayi

Barat (dr. Rifmi mendapatkan usia 0-12 bulan

Utami, M. Kes & Imunisasi di desa

Zakiyah Yasin , S. Dasar Nyabakan

Kep,, Ns., M. Kep., Lengkap Barat tahun

2015) Pada Bayi 2015 kelompok

Usia 0-12 ibu

Bulan mempunyai

hubungan yang

sangat erat
5. Hubungan Tingkat untuk 1. Pendidikan Jenis penelitian Hasil penelitian

Pendidikan, mengetahui 2. Dukungan ini merupakan menunjukkan

Dukungan Keluarga Hubungan Keluarga penelitian bahwa,

dan Peran Tenaga Tingkat 3. Peran Tenaga Deskriptif sebanyak 30

Kesehatan dengan Pendidikan, Kesehatan Analitik dengan responden

Riwayat Pemberian Dukungan 4. Imunisasi pendekatan (50,8%)

Imunisasi Dasar Keluarga dan dasar pada Cross mempunyai

Pada Bayi Di Peran Tenaga bayi Sectional riwayat

Wilayah Kerja Kesehatan imunisasi

Puskesmas Paal V dengan lengkap pada

Kota Jambi (Devi Riwayat bayi, 31

Arista & Hozana, Pemberian responden

2016) Imunisasi mempunyai

Dasar Pada pendidikan

Bayi tinggi, 31

responden

(52,5%)

mempunyai

dukungan

keluarga tinggi

dan 33

responden

(55,9%)

mempunyai

peran tenaga
kesehatan

tinggi. Ada

hubungan antara

tingkat

pendidikan ibu,

dukungan

keluarga ibu dan

peran tenaga

kesehatan

dengan

riwayat

pemberian

imunisasi dasar

pada bayi di

wilayah kerja

Puskesmas Paal

V Kota Jambi

Tahun

2016.
6 Hubungan Antara Untuk 1. Dukungan Penelitian ini Ada hubungan

Tingkat mengetahui keluarga menggunakan antara tngkat

Pengetahuan Ibu Hubungan 2. Pengetahuan metode pengetahuan ibu

dan Dukungan Antara ibu kuantitatif dengan

Keluarga dengan Tingkat 3. Imunisasi dengan kelengkapan

kelengkapan Pengetahuan dasar rancangan pemberan

pemberian Ibu dan observasional munisasi dasar


Imunisasi Dasar Dukungan analitik melalui dan tdak ada

Pada Baduta Keluarga pendekatan hubungan antara

(Hermayanti, dengan cross-sectional. dukungan

Fahrini Yulidasari kelengkapan keluarga dengan

& Nita Pujianti, pemberian kelengkapan

2016) Imunisasi imunsas dasar

Dasar Pada

Baduta.
7 Hubungan Untuk 1. Dukungan Penelitian ini Tidak terdapat

dukungan keluarga mengetahui keluarga merupakan hubungan antara

dengan kepatuhan hubungan 2. Imunisasi penelitian dukungan

ibu dalam dukungan Dasar kuantitatif keluarga dengan

melaksanakan keluarga dengan kepatuhan ibu

imunisasi dasar dengan menggunakan dalam

lengkap pada bayi kepatuhan ibu desain melaksanakan

(Ilham, 2017) dalam penelitian survei imunisasi dasar

melaksanaka analitik dengan lengkap pada

n imunisasi pendekatan bayi di

dasar lengkap Cross Sectional. Puskesmas

pada bayi Pemangkat.


B. Keranga Teori

\ Status Pekerjaan Ibu (Nanda Ari


Nugraheni, Mufdlillah & Yuli
Isnaeni, 2009)

Tingkat pengetahuan, usia dan


pekerjaan ibu (Pratamadhita Janu
Nugroho, 2012)

Dukunga Keluarga Terhadap Ibu


(Yuni Azzahra & Suryane Sulistiana
Susanti, 2014)

Kelengkapan Imunisasi
Dukungan Keluarga dengan motivasi ibu
(dr. Rifmi Utami, M. Kes & Zakiyah Yasin Dasar
, S. Kep,, Ns., M. Kep., 2015)

Tingkat Pendidikan, Dukungan


Keluarga dan Peran Tenaga
Kesehatan (Devi Arista & Hozana,
2016)

Tingkat Pengetahuan Ibu dan


Dukungan Keluarga (Hermayanti,
Fahrini Yulidasari & Nita Pujianti,
2016)
BAB III

KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESIS

C. KERANGKA KONSEP

Penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi adanya hubungan antara

pekerjaan ibu dan dukungan keluerga dengan kelengkapan imunisasi dasar pada anak.

Dalam penelitian ini kerangka konsep terdiri dari Variabel Independen (Pekerjaan ibu

dan Dukungan Keluarga) dan Variabel Dependen (Kelengkapan Imunisasi Dasar).

Secara sistematis uraian dalam pemikirian tersebut terdapat dalam gambar sebagai

berikut :
Variabel Independen Variabel Dependen

1. Pekerjaan Ibu Kelengkapan


imunisasi Dasar
2. Dukungan Keluarga

D. HIPOTESIS

Hipotesis adalah jawaban sementara dari rumusan masalah atau pertanyaan

penelitian (Nursalam, 2008). Sedangkan menurut Notoatmodjo (2011) hipotesis

adalah jawaban sementara dari suatu penelitian, patokan duga, atau dalil sementara,

yang kebenarannya akan dibuktikan dalam penelitian tersebut. Setelah melalui

pembuktian dari hasil penelitian. Maka hipotesis dapat benar atau salah, dapat

diterima atau ditolak.

Hipotesis dalam penelitian ini adalah:

H : Ada hubungan antara pekerjaan ibu dengan kelengkapan imunisasi bayi

H0 : Tidak ada hubungan antara pekerjaan ibu dengan kelengkapan imunisasi bayi

H : Ada hubungan antara dukungan keluarga dengan kelengkapan imunisasi pada

bayi

H0 : Tidak ada hubungan antara dukungan keluarga dengan kelengkapan imunisasi

bayi

No Variabel Definisi Teori Definisi Operasional


1 Pekerjaan
2 Dukungan Menurut Friedman Dukungan keluarga

Keluarga (2010) dukungan adalah kondisi responden

keluarga adalah sikap, yang telah mendapatkan


tindakan penerimaan dukungan meliputi :

keluarga terhadap - Dukungan

anggota keluargannya, informasional

berupa dukungan - Dukungan penilaian

informasional, dukungan - Dukungan

penilaian, dukungan instrumental

instrumental dan - Dukungan emosional

dukungan emosional.
3. Imunisasi Imunisasi merupakan Kelengkapan imunisasi yang

usaha memberikan dilihat dari sudut lengkap

kekebalan pada bayi dan tidaknya imunisasi dasar

anak dengan dengan ketentuan bayi telah

memasukkan vaksin ke mendapatkan vaksin BCG

dalam tubuh agar 1x, DPT 3x, polio 4x, HB 3x,

membuat antibodi untuk campak 1x

mencegah penyakit

tertentu. Vaksin adalah

bahan yang dipakai untuk

merangsang

pembentukan zat anti

yang dimasukkan

kedalam tubuh melalui

suntikan seperti vaksin

BCG, DPT, Hepatitis B,

Campak dan melalui

mulut seperti polio


(Hidayat, 2012).

C. Jenis Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif menggunakan observasional deskriptif

dengan menggunakan pendekatan Cross Sectional yaitu melakukan pengukuran

variable penelitian dukungan keluarga, hanya satu kali waktu . Populasi

penelitian adalah seluruh keluarga yang memiliki balita (usia 2-24 bulan) di Buttu

Baruga Kecamatan Banggae Kabupaten Majene yang tercatat dan terdata di Wilayah

Kerja Puskesmas Banggae II Tahun 2017. Pengambilan sampel penelitian

menggunakan teknik probability sampling yaitu dengan Multistage Random

Sampling sehingga sampel sebanyak 95 responden sesuai dengan kriteria yang

ditetapkan. Data primer penelitian ini adalah nilai yang diperoleh dari kuesioner

peran ayah di keluarga yang dikategorikan peran aktif dan peran pasif. Uji

validitas dan reliabilitas menggunakan Pearson Product Moment dan uji Alpha

Cronbach. Analisa data menggunakan uji chi square dengan nilai α yang
digunakan adalah 0,05.

Indikator pengukuran dukungan keluarga terkait imunisasi adalah

perlindungan dari resiko/bahaya, pemberi dukungan dan motivasi, serta pemberian

perawatan kesehatan. Perawat dapat memberikan motivasi dan ajakan kepada

keluarga khususnya ayah dari balita supaya lebih berperan aktif dalam perlindungan

resiko yaitu

mengimunisasikan balitanya.

DAFTAR PUSTAKA

1. Meadow, Sir Ry & J. Newell, Simon. 2005 “Lecture Notes Pediatrika”. Edisi

Ketujuh. Jakarta : Erlangga.

2. Williams, Lippincott & Wilkins. 2001 “Panduan Belajar : Keperawatan Pediatrik”.

Edisi 3. Jakarta: Buku Kedokteran EGC.

3. Mulianti, Yanti. 2013. “Faktor-faktor Internal yang berhubungan dengan

kelengkapan Imunisasi Dasar Balita Usia 1-5 tahun di Wilayah Kerja Puskesmas Situ

Gitung Ciputat”

4. Pratamadhita Janu Nugroho, 2012. “Hubungan Tingkat Pengetahuan, usia dan

pekerjaan Ibu dengan status imunisasi dasar bayi di Desa Japanan”

5. Nanda Ari Nugraheni, dkk, 2009 “Hubungan Status Pekerjaan Ibu dengan

kelengkapan imunisasi pada bayi di Puskesmas Kraton Yogyakarta”.

6. Fundhora C. Mokodompir. 2015 “Faktor-faktor yang berhubungan dengan status

imunisasi dasar Lengkap Pada Bayi Di Wilayah Puskesmas Tungoni”.


7.

Anda mungkin juga menyukai