0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
124 tayangan16 halaman

Perbandingan PLC dan SCADA dalam Industri

Modul ini membahas tentang PLC dan SCADA. PLC adalah pengontrol berbasis mikroprosesor yang dapat diprogram untuk mengimplementasikan fungsi logika, sequencing, pewaktuan, pencacahan, dan aritmatika untuk mengontrol mesin dan proses. SCADA digunakan untuk mengawasi dan mengendalikan peralatan terdistribusi secara geografis secara real-time dan terpusat. Modul ini juga menjelaskan aplikasi PLC dalam kehidupan seh

Diunggah oleh

Geri
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
124 tayangan16 halaman

Perbandingan PLC dan SCADA dalam Industri

Modul ini membahas tentang PLC dan SCADA. PLC adalah pengontrol berbasis mikroprosesor yang dapat diprogram untuk mengimplementasikan fungsi logika, sequencing, pewaktuan, pencacahan, dan aritmatika untuk mengontrol mesin dan proses. SCADA digunakan untuk mengawasi dan mengendalikan peralatan terdistribusi secara geografis secara real-time dan terpusat. Modul ini juga menjelaskan aplikasi PLC dalam kehidupan seh

Diunggah oleh

Geri
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

MODUL V

PLC DAN SCADA


I. PENDAHULUAN
I.1. LANDASAN TEORI
Programmable Logic Control (PLC)
Programmable Logic Control merupakan suatu bentuk khusus pengontrol
berbasis microprocessor yang memanfaatkan memori yang dapat diprogram untuk
menyimpan instruksi – instruksi dan untuk mengimplementasikan fungsi – fungsi
seperti logika, sequencing, pewaktuan (timing), pencacahan (counting) dan
aritmatika guna mengontrol mesin-mesin dan proses-proses serta dirancang untuk
dioperasikan oleh para insinyur yang hanya memiliki sedikit pengetahuan
mengenai komputer dan bahasa pemrograman. Sebagian besar industri telah
menerapkan sistem otomatis dalam proses produksi. Pada umumnya sistem
otomatis yang diterapkan terdiri atas dua metode yaitu otomatisasi berbasis
kontrol relay dan otomatisasi berbasis Programmable Logic Control (PLC).
Otomatisasi berbasis relay banyak digunakan pada mesin-mesin yang memiliki
urutan-urutan (sekuens) yang sederhana, sedangkan otomatisasi PLC dapat
memiliki sekuens yang lebih kompleks dari relay. Otomatisasi berbasis PLC dapat
diintegrasikan dengan sistem monitoring. Sistem monitoring berbasis PLC adalah
suatu sistem yang berguna untuk mengontrol proses suatu kerja tertentu dimana
parameter atau inputan data diambil dan diolah oleh Personal Computer (PC) dan
melalui sebuah program tertentu.
Sesuai namanya, PLC dapat dengan mudah diprogram ulang. Keunggulan PLC
dibandingkan dengan sistem konvensional antara lain :
a. Relatif mudah untuk melakukan perubahan pada strategi kendali yang akan
diterapkan, karena logika kendali yang digunakan diwujudkan dalam bentuk
perangkat lunak.
b. Jumlah relay yang diperlukan dapat dikurangi sesuai dengan jumlah input
maupun output yang diperlukan. Lebih mudah untuk proses instalasinya
karena pengkabelan lebih sederhana.
c. Lebih mudah dalam menemukan kesalahan dan kerusakan, karena memiliki
d. fasilitas self – diagnosis.

1
Modul. [Link] dan SCADA 2
Supervisory Control and Data Acquisition (SCADA)
Supervisory Control and Data Acquisition (SCADA) merupakan sebuah
perangkat lunak yang mengawasi dan mengendalikan peralatan proses yang
tersebar secara geografis. Alasan digunakannya SCADA adalah karena adanya
kebutuhan untuk melakukan pengawasan langsung dari penyaluran tenaga listrik,
yaitu dengan melakukan pengumpulan informasi keadaan peralatan atau perangkat
di lapangan dan mengambil tindakan atas informasi tersebut secara remote atau
jarak jauh secara real time dan terpusat.
I.2. INTEGRASI MODUL DENGAN DUNIA INDUSTRI
PLC menjadi suatu komponen pengendali yang sangat penting dalam
sistem otomasi industri sekarang ini dimana perusahaan-perusahaan besar banyak
menggunakan PLC sebagai ganti dari ramgkaian control dari relay, counter dan
timer. PLC banyak digunakan karena PLC dapat digunakan untuk rangkaian-
rangkaian yang lebih kompleks dibandingkan dengan relay. Dengan mempelajari
modul ini maka praktikan akan memahami prinsip kerja dari PLC itu sendiri dan
praktikan dapat melakukan pemrograman terhadap PLC itu sendiri. Modul ini juga
memberi pengetahuan tentang cara menggunakan software untuk merangkai PLC
sehingga praktikan dapat belajar dan mengerti dasar-dasar cara pemakaian
software tersebut.
I.3. APLIKASI DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI
Dalam kehidupan sehari-hari sistem penerangan sangat memberikan
pengaruh penting dalam aktivitas yang dikerjakan manusia. Oleh karena itu
apabila sistem penerangan dapat bekerja secara otomatis, akan lebih
mempermudah aktivitas yang dilakukan oleh manusia. Sistem yang digunakan
oleh PLC jauh lebih baik dibandingkan dengan sistem relay, dan timer yang
disetting secara manual, sebagai salah satu contoh sistem penerangan pada jalan
yang menggunakan timer yang disetting secara manual sering terjadi kerusakan,
dan bergesernya settingan waktu dari yang telah ditentukan. Sehingga di siang hari
lampu masih menyala, dengan adanya sistem kendali dari PLC, akan
menghilangkan gagalnya kerja atau bergesernya waktu setting dari yang telah
ditentukan, karena sistem didalam PLC telah diprogram.

Laporan Praktikum Sistem Otomasi Industri


Laboratorium Perancangan dan Otomasi Sistem Industri
Fakultas Teknik Program Studi Teknik Industri Unika Atma Jaya
Modul. [Link] dan SCADA 3

II. GAMBAR RANGKAIAN


II.1. RANGKAIAN PERCOBAAN PLC 1

%I0.1 %Q0.1

Gambar 5.1. Rangkaian Percobaan PLC 1


II.2. RANGKAIAN PERCOBAAN PLC 2

%I0.4 %Q0.1

Gambar 5.2. Rangkaian Percobaan PLC 2


II.3. RANGKAIAN PERCOBAAN PLC 3

%I0.1 %Q0.1

Gambar 5.3. Rangkaian Percobaan PLC 3


II.4. RANGKAIAN PERCOBAAN PLC 4

%I0.4 %Q0.1

Gambar 5.4. Rangkaian Percobaan PLC 4

Laporan Praktikum Sistem Otomasi Industri


Laboratorium Perancangan dan Otomasi Sistem Industri
Fakultas Teknik Program Studi Teknik Industri Unika Atma Jaya
Modul. [Link] dan SCADA 4
II.5. RANGKAIAN LEDDER DIAGRAM PERCOBAAN KASUS LAMPU
RUNG 0
%I0.2 %I0.2 %Q0.1

%Q0.1

RUNG 1
%I0.1 %I0.2 %M0 %Q0.4

%Q0.4

%M2

Gambar 5.5. Rangkaian Ladder Diagram Percobaan Kasus Lampu


II.6. RANGKAIAN LEDDER DIAGRAM PERCOBAAN KASUS LAMPU
(LANJUTAN)

RUNG 2
%Q0.4 %M0
%TO
IN Q
TYPE TON
TB 1 Sec
ADJ Y
%TM0.P
3

RUNG 3
%I0.1 %I0.2 %M1 %Q0.5

%Q0.5

Gambar 5.6. Rangkaian Ladder Diagram Percobaan Kasus Lampu (Lanjutan)

Laporan Praktikum Sistem Otomasi Industri


Laboratorium Perancangan dan Otomasi Sistem Industri
Fakultas Teknik Program Studi Teknik Industri Unika Atma Jaya
Modul. [Link] dan SCADA 5
II.7. RANGKAIAN LEDDER DIAGRAM PERCOBAAN KASUS LAMPU
(LANJUTAN)
RUNG 4
%Q0.5 %M1
%TO
IN Q
TYPE TON
TB 1 Sec
ADJ Y
%TM1.P
5

RUNG 5
%I0.1 %I0.2 %M2 %Q0.6

%Q0.6

RUNG 6
%Q0.6 %M2
%TO
IN Q
TYPE TON
TB 1 Sec
ADJ Y
%TM2.P
2

Gambar 5.7. Rangkaian Ladder Diagram Percobaan Kasus Lampu (Lanjutan)


III. TUGAS LAPORAN
1. Sebutkan dan jelaskan 5 bahasa pemograman pada PLC !
 Ladder Diagram
Pemrograman ini merupakan salah satu metode yang sangat umum digunakan.
Metode ini praktis dan cukup mudah dimengerti. Diagram ini sendiri terdiri atas
dua buah garis vertikal yang melambangkan daya. Komponen-komponen
rangkaian kemudian disambungkan sebagai garis-garis horizontal yang merupakan
anak tangga. Komponen yang dimaksud ditempatkan diantara kedua garis
vertikal. 
 Function Block Diagram / Function Plan 
Bahasa pemrograman ini menitikberatkan pada hubungan antara variabel input
dengan output berupa gambar blok - blok diagram dan dalam blok – blok tersebut
terdapat fungsi – fungsi tertentu.
 Structure Text

Laporan Praktikum Sistem Otomasi Industri


Laboratorium Perancangan dan Otomasi Sistem Industri
Fakultas Teknik Program Studi Teknik Industri Unika Atma Jaya
Modul. [Link] dan SCADA 6
Bahasa pemrograman ini termasuk high level language dimana biasa digunakan
untuk berberapa prosedur yang kompleks menggunakan bahasa baku untuk
menyatakan kondisi dari step yang berbeda. Bahasa yang digunakan mirip dengan
bahasa pemrograman pascal.
 Mnemoic / statement list
Bahasa pemrograman ini termasuk low level language, dimana pemrograman ini
menggunakan statement variabel (huruf) sebagai input dan sangat efektif untuk
aplikasi – aplikasi yang kecil dimana terdapat perintah – perintah yang sudah
baku. 
 Sequential Function Chart
Bahasa pemrograman ini dibuat dengan sistem chart yang mempresentasikan
setiap step ke dalam hubungan – hubungan transisi. Didalam chartnya sudah
terdapat urutan langkah – langkah, transisi dan percabangan.
2. Sebutkan dan jelaskan memori yang terdapat pada PLC selain ROM dan RAM !
 IR (Internal Relay)
Bagian memori ini digunakan untuk menyimpan status keluaran dan masukan
PLC. Untuk CPM1A/CPM2A, masing masing bit IR000 berhubungan langsung
dengan terminal masukan, misal IR000.00 (atau 000.00 saja) berhubungan
langsung dengan masukan ke-1 dan IR 000.05 (atau 000.05). Daerah IR terbagi
atas tiga macam area, yaitu area masukan, area keluaran dan area kerja. Untuk
mengakses memori ini cukup dengan angkanya saja, 000 untuk masukan, 010
untuk keluaran dan 200 untuk memori kerjanya
 SR (Special Relay)
Special relay adalah relai yang mempunyai fungsi-fungsi khusus seperti untuk
pencacah, interupsi dan status flags (misalnya pada intruksi penjumlahan terdapat
kelebihan digit pada hasilnya (carry flag), kontrol bit PLC, informasi kondisi PLC,
dan sistem clock (pulsa 1 detik; 0,2 detik dan sebagainya).
 Ar (Auxilary Relay)
Terdiri dari flags dan bit untuk tujuan-tujuan khusus. Dapat menunjukkan
kondisi PLC yang disebabkan oleh kegagalan sumber tegangan, kondisi spesial
I/O, kondisi input atau output unit, kondisi CPU PLC, kondisi memori PLC.

Laporan Praktikum Sistem Otomasi Industri


Laboratorium Perancangan dan Otomasi Sistem Industri
Fakultas Teknik Program Studi Teknik Industri Unika Atma Jaya
Modul. [Link] dan SCADA 7
 LR (Link Relay)
Digunakan untuk data link pada PLC link system. Artinya untuk tukar-menukar
informasi antara dua PLC atau lebih dalam suatu sistem kontrol yang saling
berhubungan satu dengan yang lain dan menggunakan banyak PLC. Terdiri dari
16 word, LR00 hingga LR15 atau 256 bit, LR00.00 hingga LR15.15, untuk
CPM1A/CPM2A.
 HR (Holding Relay)
Holding Relay digunakan untuk mempertahankan kondisi kerja rangkaian PLC
yang sedang dioperasikan apabila terjadi gangguan pada sumber tegangan dan
akan menyimpan kondisi kerja PLC walaupun sudah dimatikan. Untuk
CPM1A/CPM2A daerah ini terdiri dari 20 word, HR00 hingga HR19 atau 320 bit.
HR000.00 hingga HR19.15. Bit-bit HR ini dapat digunakan bebas didalam
program sebagaimana bit-bit kerja (works bit).
 TR (Temporary Relay)
Berfungsi untuk penyimpanan sementara kondisi logika program pada ladder
diagram yang mempunyai titik percabangan khusus terdapat 8 bit, TR00 hingga
TR07, baik untuk CPM1A/CPM2A
 DM (Data Memory)
Berfungsi untuk penyimpanan data-data program karena isi DM tidak akan
hilang (reset) walaupun sumber tegangan PLC mati.
3. Buatlah diagram ladder untuk sistem pada kuis cerdas cermat yang terdapat pada
tugas laporan modul 3!
Tabel 5.1. Keterangan Simbol Ladder Diagram
Lambang Keterangan
%I0.0 Tombol Reset
%I0.1 Push button lampu 1
%I0.2 Push button lampu 2
%I0.3 Push button lampu 3
%Q0.1 Lampu 1
%Q0.2 Lampu 2
%Q0.3 Lampu 3

Laporan Praktikum Sistem Otomasi Industri


Laboratorium Perancangan dan Otomasi Sistem Industri
Fakultas Teknik Program Studi Teknik Industri Unika Atma Jaya
Modul. [Link] dan SCADA 8

RUNG 0
%I0.1 %I0.0 %Q0.3 %Q0.2 %Q0.1

%Q0.1

RUNG 1
%I0.2 %I0.0 %Q0.1 %Q0.3 %Q0.2

%Q0.2

RUNG 2
%I0.3 %I0.0 %Q0.1 %Q0.2 %Q0.3

%Q0.3

Gambar 5.8. Rangkaian Ladder Diagram Lomba Cerdas-Cermat


4. Buatlah diagram ladder untuk sistem berikut ini :

Gambar 5.9. Ilustrasi Sistem

Laporan Praktikum Sistem Otomasi Industri


Laboratorium Perancangan dan Otomasi Sistem Industri
Fakultas Teknik Program Studi Teknik Industri Unika Atma Jaya
Modul. [Link] dan SCADA 9

RUNG 0
%I0.0 %I0.2 %Q0.2

%Q0.2

RUNG 1
%I0.1 %I0.2 %M0 %Q0.0

%Q0.0

%M3

RUNG 2
%Q0.4 %M0
%TO
IN Q
TYPE TON
TB 1 Sec
ADJ Y
%TM0.P
4

Gambar 5.10. Rangkaian Ladder Diagram Sistem

Laporan Praktikum Sistem Otomasi Industri


Laboratorium Perancangan dan Otomasi Sistem Industri
Fakultas Teknik Program Studi Teknik Industri Unika Atma Jaya
Modul. [Link] dan SCADA 10

RUNG 3
%M0 %I0.2 %M1 %Q0.1

%Q0.1

RUNG 4
%Q0.1 %M1
%TO
IN Q
TYPE TON
TB 1 Sec
ADJ Y
%TM1.P
5

RUNG 5
%M1 %I0.2 %M2 %Q0.4

%Q0.4

RUNG 6
%Q0.4 %M2
%TO
IN Q
TYPE TON
TB 1 Sec
ADJ Y
%TM2.P
7

Gambar 5.11. Rangkaian Ladder Diagram Sistem (Lanjutan)

Laporan Praktikum Sistem Otomasi Industri


Laboratorium Perancangan dan Otomasi Sistem Industri
Fakultas Teknik Program Studi Teknik Industri Unika Atma Jaya
Modul. [Link] dan SCADA 11

RUNG 7
%M2 %I0.2 %M3 %Q0.3

%Q0.3

RUNG 8
%Q0.3 %M3
%TO
IN Q
TYPE TON
TB 1 Sec
ADJ Y
%TM2.P
10

Gambar 5.12. Rangkaian Ladder Diagram Sistem (Lanjutan)


IV. ANALISA PRAKTIKUM
Pada praktikum kali ini materi yang dipelajari adalah tentan PLC. PLC adalah
suatu Programmable Logic Control merupakan suatu bentuk khusus pengontrol berbasis
microprocessor yang memanfaatkan memori yang dapat diprogram untuk menyimpan
instruksi – instruksi dan untuk mengimplementasikan fungsi – fungsi seperti logika,
sequencing, pewaktuan (timing), pencacahan (counting) dan aritmatika guna mengontrol
mesin-mesin dan proses-proses. Pada praktikum kali ini percobaan yang dilakukan adalah
merangkai sebuah PLC menggunakan sebuah software yang bernama Twidosoft. Dengan
software ini rangkaian PLC dibuat dengan bahasa pemograman dengan ladder diagram.
Pada ladder diagram PLC terdapat logika yang harus dimengerti yaitu logika positif dan
negatif. Jika dalam kondisi normally open maka akan bernilai positif dan pada kondisi
normally close akan bernilai negatif. Begitu pula pada pemograman PLC. Q0.0 – Q0.3
adalah lampu dalam kondisi normally open, Q0.4 – Q0.7 adalah lampu dalam kondisi
normally close, %I0.0 – I0.3 adalah push button dalam kondisi normally open, %I0.4 –
I0.7 adalah push button dalam kondisi normally close dan %I0.8 – I0.11 adalah switch.

Laporan Praktikum Sistem Otomasi Industri


Laboratorium Perancangan dan Otomasi Sistem Industri
Fakultas Teknik Program Studi Teknik Industri Unika Atma Jaya
Modul. [Link] dan SCADA 12
Pada percobaan pertama digunakan %I0.1 yaitu push button normally open dan
pada lambing diagaram juga menggunakan push button normally open dan untuk output
digunakan %Q0.1. Berdasarkan pengamatan secara aktual maka jika lampu ditekan lampu
akan menyala dan jika tidak ditekan lampu akan mati. %I0.1 bernilai positif dan lambing
push button normally open bernilai positif maka pada intput bernilai positif sama halnya
dengan output yang memiliki nilai positif juga dan membuat lampu tidak bisa menyala
karena jika arus positif bertemu dengan arus positif maka akan saling tolak-menolak
sehingga arus tidak bisa sampai ke output dan lampu tidak menyala. Namun jika push
button ditekan maka push button secara ladder menjadi push button normally close dan
akan menghasilkan nilai negatif. Oleh karena itu input akan menghasilkan nilai negatif
dan output yang bernilai positif akan dapat menerima arus sehingga lampu dapat menyala.
Jika dilihat secara ladder diagram lampu tidak menya karena push button pada
kondisi normally open sehingga arus listrik tidak dapat mengalir ke output dan lampu
tidak menyala. Namun, ketika push button ditekan maka akan berubah menjadi kondisi
normally close dan listrik dapat mengalir ke output dan lampu menyala.
Pada gambar rangkaian kedua push button secara aktual dalam kondisi normally
close maka bernilai negatif dan secara ladder dalam kondisi normally open maka bernilai
positif sehingga output akan bernilai negatif. Output bernilai positif maka akan membuat
output dapat menerima arus listrik dari output dan lampu dapat menyala secara aktual
walaupun push button tidak ditekan. Sedangkan jika push button ditekan maka akan
berubah menjadi kondisi normally close dan jika negatif bertemu negatif akan
menghasilkan nilai positif pada input dan output tidak dapat menerima yang sama
sehingga lampu tidak menyala secara aktual. Namun jika diperhatikan secara ladder
lampu tidak akan menyala karena kondisi awal push button pada kondisi normally open
dan arus listrik tidak dapat mengalir ke output dan ketika push button ditekan akan
berubah menjadi normally close dan listik dapat mengalir ke output dan lampu menyala.
Pada gambar ketiga, secara aktual lampu akan menyala jika push button tidak
ditekan karena pada input nilai positif bertemu dengan negatif akan menghasilkan nilai
negatif pada input sehingga output yang bernilai positif akan dapat menerima arus dari
input. Namun jika push button ditekan maka akan lampu akan mati karena input dan
output sama-sama bernilai positif. Sama halnya dengan aktual, jika secara ladder pun

Laporan Praktikum Sistem Otomasi Industri


Laboratorium Perancangan dan Otomasi Sistem Industri
Fakultas Teknik Program Studi Teknik Industri Unika Atma Jaya
Modul. [Link] dan SCADA 13
lampu tetap dapat menyala jika push button tidak ditekan karerna push button dalam
kondisi normally close sehingga arus listrik dapat mengalir ke output sedangkan jika push
button ditekan maka akan berubah menjadi kondisi normally open sehingga arus listrik
tidak dapat mengalir ke output dan lampu tidak menyala.
Pada gambar rangkaian keempat, secara aktual lampu akan mati jika push button
tidak ditekan karena pada input bernilai positif sehingga output yang bernilai positif juga
tidak dapat menerima arus listrik dari output. Namun jika push button ditekan maka input
akan bernilai negatif sehingga output yang bernilai positif dapat menerima arus listrik dan
lampu akan menyala. Namun jika diperhatikan secara ladder lampu akan tetap menyala
karena push button awal dalam kondisi normally close dan arus listrik dapat mengalir.
sedangkan jika push button ditekan maka akan berubah menjadi kondisi normally open
sehingga arus listrik tidak dapat mengalir ke output dan lampu tidak menyala.
Percobaan berikutnya adalah percobaan untuk menyalakan bola lampu. Terdapat 4
bola lampu yang akan dinyalakan dengan syarat-syarat tersendiri. Pada software
rangkaian digambarakan berdasarkan rung seperti pada gambar diatas. Untuk lampu
%Q0.1 memiliki syarat lampu tersebut harus menyala terus sebagai lampu indikator.
Sehingga seperti pada gambar di rung 0 rangkaian dibuat secara self holding supaya
lampu bisa tetap menyala setelah push button ditekan karena hasil input dari %Q0.1
diparalelkan ke rangkaian awal sehingga arus akan terus mengalir dirangkaian dan akan
mati jika %I0.2 ditekan. Untuk bola kedua yaitu %Q0.4 akan menyala bersama dengan
lampu 1 namun hanya menyala selama tiga detik. Pada kasus seperti ini harus digunakan
timer untuk membuat lampu menyala dengan jangka waktu tertentu. Pada rung 1 untuk
rangkaian lampu 2 tetap menggunakan rangkaian self holding agar lampu tetap menyala.
Dan untuk mematikan lampu maka digunakan rangkaian timer seperti pada rung 2 dimana
menggunakan jenis timer on delay. Pada rangkaian timer di rung 2 input yang digunakan
adalah input dari lampu 2 dimana ketika lampu 2 menerima arus di output dan akan
menghasilkan arus pada input juga yang kemudian mengalir ke timer on delay. Timer on
delay akan menahan arus semala 3 detik dan kemudia arus akan kembali mengalir ke
output timer. Pada rangkaian lampu 2 setelah %I0.2 dipasang, akan dipasang input timer
dalam kondisi normally close sehingga setelah 3 detik lampu menyala output timer akan

Laporan Praktikum Sistem Otomasi Industri


Laboratorium Perancangan dan Otomasi Sistem Industri
Fakultas Teknik Program Studi Teknik Industri Unika Atma Jaya
Modul. [Link] dan SCADA 14
diisi oleh arus listrik dan mengakibatkan input timer yang dalam kondisi normali close
berubah menjadi normally open dan arus listrik terputus dan lampu 2 akan mati.
Sama halnya untuk lampu 3 dan 4 memiliki prinsip kerja dan rangkaian yang
sama dengan lampu 2. Hanya saja rung 4 untuk timer on delay lampu tiga digunakan
waktu selama 5 detik setelah lampu 2 mati. Oleh karena itu input untuk menghidupkan
lampu 3 adalah input dari timer untuk lampu 2 pada kondisi normally open. Kondisi
normally open digunakan agar pada saat setelah 2 detik lampu menyala dan listik
mengalir ke output timer lampu 2 akan menghasilkan membuat lampu 2 mati karena input
timer pada rangkaian lampu 2 berubah menjadi kondisi normally close sedangkan pada
rangkaian tiga timer untuk lampu 2 akan berubah menjadi kondisi normally close
sehingga lampu 3 dapat menyala. Begitu juga dengan lampu 4, input yang digunakan
untuk menghidupkan lampu 4 adalah input dari timer 3 yang dimana setelah lampu ketiga
menyala selama 5 detik kemudia lampu 4 akan menyala selama 2 detik yang diatur oleh
timer on delay lampu 4.
Namun pada kasus ini syarat terakhir adalah lampu harus menyala secara
berulang. Oleh karena itu, input dari timer 4 harus diparalelkan ke salah satu rangkaian
dari ke 4 lampu tersebut. Berdasarkan praktikum yang sudah dilakukan input timer lampu
4 yang dalam kondisi normally close diparalelkan di rangkaian lampu 2 sehingga ketika
arus listrik mengalir ke output timer lampu 4 membuat input timer pada lampu 4 akan pda
rangkaian lampu 2 berubah menjadi kondisi normally close dan mengalirkan listrik
kembali ke output lampu 2 sehingga proses akan kembali berulang. Timer lampu 4 tidak
diletakkan dilampu 1 karena lampu 1 sebagai indikator yang selalu menyala sehingga
input timer lampu 4 tidak bisa diletakan di rangkaian lampu satu. Dan jika ingin
mematikan semua lampu makan digunakan push button %I0.2 yang terpasang pada
semua rangkaian lampu dan bertugas memutuskan aliran listrik ke lampu.
Pada rangkaian untuk bel cerdas cermat rangkaian dibuat hanya satu dari tiga
tombol yang dapat menyalakan output ketika ketiga tombol ditekan secara bersamaan
dimana tombol yang terlebih dahulu ditekan akan mengalirkan listrik terlebih dahulu ke
output. Pada rangkaian diatas dapat dianalisa ketika tombol 1 terlebih dahulu ditekan
makan akan mengalirkan listrik ke ouput 1 (lampu 1) dan kedua lampu yang lain tidak
dapat menyala. Hal tersebut dikarenakan ketika aliran listrik mengalir ke output 1 akan

Laporan Praktikum Sistem Otomasi Industri


Laboratorium Perancangan dan Otomasi Sistem Industri
Fakultas Teknik Program Studi Teknik Industri Unika Atma Jaya
Modul. [Link] dan SCADA 15
membuat input 1 yang terletak pada rangkain lampu 2 dan 3 dalam kondisi normally
close berubah menjadi kondisi normally open sehingga listrik tidak dapat mengalir ke
output 2 dan output 3. Ketika tombol reset ditekan oleh juri maka semua lampu akan
kembali ke kondisi normal atau mati karena aliran listrik akan terputus disebabkan tombol
reset yang pada awalnya pada kondisi normally close berubah menjadi kondisi normally
open yang kemudian memutuskan aliran listrik ke output.
Untuk kasus sistem pencampuran 2 bahan kima memiliki rangkaian yang sama
dengan kasus 4 lampu dan memiliki rangkaian yang sama. Percobaan berikutnya adalah
percobaan untuk menyalakan bola lampu. Terdapat 4 bola lampu yang akan dinyalakan
dengan syarat-syarat tersendiri. Pada software rangkaian digambarakan berdasarkan rung
seperti pada gambar diatas. Untuk lampu %Q0.1 memiliki syarat lampu tersebut harus
menyala terus sebagai lampu indikator. Sehingga seperti pada gambar di rung 0 rangkaian
dibuat secara self holding supaya lampu bisa tetap menyala setelah push button ditekan
karena hasil input dari %Q0.1 diparalelkan ke rangkaian awal sehingga arus akan terus
mengalir dirangkaian dan akan mati jika %I0.2 ditekan. Untuk bola kedua yaitu %Q0.4
akan menyala bersama dengan lampu 1 namun hanya menyala selama tiga detik. Pada
kasus seperti ini harus digunakan timer untuk membuat lampu menyala dengan jangka
waktu tertentu. Pada rung 1 untuk rangkaian lampu 2 tetap menggunakan rangkaian self
holding agar lampu tetap menyala. Dan untuk mematikan lampu maka digunakan
rangkaian timer seperti pada rung 2 dimana menggunakan jenis timer on delay. Pada
rangkaian timer di rung 2 input yang digunakan adalah input dari lampu 2 dimana ketika
lampu 2 menerima arus di output dan akan menghasilkan arus pada input juga yang
kemudian mengalir ke timer on delay. Timer on delay akan menahan arus semala 3 detik
dan kemudia arus akan kembali mengalir ke output timer. Pada rangkaian lampu 2 setelah
%I0.2 dipasang, akan dipasang input timer dalam kondisi normally close sehingga setelah
3 detik lampu menyala output timer akan diisi oleh arus listrik dan mengakibatkan input
timer yang dalam kondisi normali close berubah menjadi normally open dan arus listrik
terputus dan lampu 2 akan mati.

Laporan Praktikum Sistem Otomasi Industri


Laboratorium Perancangan dan Otomasi Sistem Industri
Fakultas Teknik Program Studi Teknik Industri Unika Atma Jaya
Modul. [Link] dan SCADA 16

V. DAFTAR PUSTA
 Rohman, Fatur. 2014. Dasar-dasar PLC. [Link]
[Link]/2014/05/[Link]. Diakses 4
Maret 2017
 Admin. 2016. Bahasa Pemrograman Pada PLC.
[Link]
plc#.WLmTC2-GPIU. Diakses 5 Maret 2017
 Raharjo, Mulyo. 2013. Memori PLC.
[Link] Diakses 5 Maret 2017
VI. LAMPIRAN

Gambar 5.13. Gambar Kit Praktikum PLC

Laporan Praktikum Sistem Otomasi Industri


Laboratorium Perancangan dan Otomasi Sistem Industri
Fakultas Teknik Program Studi Teknik Industri Unika Atma Jaya

Anda mungkin juga menyukai