MAKALAH PRAKTEK KONSULTASI GIZI
“ Praktek Konsultasi Gizi Dengan Materi Gizi Diet TBC “
DISUSUN OLEH KELOMPOK 20
1. JUWITA RISKAWATI (P01031219130)
2. SHAHRINA DELI RAHMA HSB (P01031219150)
3. SONIA BR BERUTU (P01031219152)
SARJANA TERAPAN GIZI DAN DIETETIKA / 4C
DOSEN:
MINCU MANALU, [Link], M. Kes
KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
POLITEKNIK KESEHATAN MEDAN
PROGRAM STUDI SARJANA TERAPAN GIZI DAN DIETETIKA
TA. 2020/2021
1
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI.....................................................................................................................2
KATA PENGANTAR.......................................................................................................3
BAB I PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG.................................................................................................4
1.2 RUMUSAN MASALAH............................................................................................5
1.3 TUJUAN......................................................................................................................5
BAB II PEMBAHASAN
2.1. PENGERTIAN TBC…………………………………………………………………6
2.2. PENYEBAB DAN GEJALA TBC…………………………………………………..6
2.3. PENGOBATAN TUBERKULOSIS PADA PASIEN
DENGAN KEADAAN KHUSUS…………………………………………………..7
2.4. HUBUNGAN KEBUTUHAN GIZI DENGAN TUBERKULOSIS …………………10
2.5. PELAYANAN GIZI PADA TUBERKULOSIS……………………………………12
2.6. PRINSIP DIET TBC…………………………………………………………………13
2.7. SARANA ASUHAN GIZI…………………………………………………………14
BAB III PENUTUP
3.1. KESIMPULAN........................................................................................................16
3.2. SARAN.....................................................................................................................16
DAFTAR PUSTAKA......................................................................................................17
2
KATA PENGANTAR
Puji syukur alhamdulillah kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena telah
melimpahkan rahmat-Nya berupa kesempatan dan pengetahuan sehingga makalah Konsultasi
Gizi dengan judul “Praktek Konsultasi Gizi Dengan Materi Gizi Diet TBC” bisa selesai pada
waktunya.
Terima kasih juga kami ucapkan kepada teman-teman yang telah berkontribusi dengan
memberikan ide-idenya sehingga makalah Konsultasi Gizi dengan judul “Praktek Konsultasi
Gizi Dengan Materi Gizi Diet TBC” ini bisa disusun dengan baik dan rapi.
kami berharap semoga makalah ini bisa menambah pengetahuan para pembaca. Namun terlepas
dari itu, kami memahami bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna, sehingga kami
sangat mengharapkan kritik serta saran yang bersifat membangun demi terciptanya makalah
selanjutnya yang lebih baik lagi.
Lubuk Pakam, Maret 2021
3
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Penyakit Tuberkulosis (TB) adalah penyakit infeksi akibat kuman Mycobacterium
tuberculosis yang ditularkan langsung dari manusia ke manusia melalui percikan dahak.
Penyakit ini merupakan salah satu penyebab infeksi kronik menular yang masih menjadi
masalah kesehatan. Penyakit yang sudah cukup lama ada ini merupakan masalah global di dunia
dan diperkirakan sekitar sepertiga penduduk dunia telah terinfeksi oleh Mycobacterium
tuberculosis. Berdasarkan data Badan Kesehatan dunia (WHO) tahun 2012, jumlah pasien
tuberkulosis di Indonesia sekitar 450.000 dan pada saat ini Indonesia berada di urutan ke 4 dari
22 negara di dunia yang mempunyai beban Tuberkulosis tertinggi.
Penyebab utama meningkatnya beban masalah Tuberkulosis antara lain adalah
kemiskinan seperti pada negara-negara sedang berkembang; perubahan demografik karena
meningkatnya penduduk dunia dan perubahan struktur umur kependudukan serta dampak
pandemi HIV. Saat ini prevalensi TB pada pasien HIV sangat meningkat baik nasional maupun
global, sehingga penatalaksanaan gizi pada pasien TB-HIV juga perlu mendapat perhatian.
Selain itu penyebab semakin meningkatnya beban masalah Tuberkulosis tersebut adalah
peningkatan potensi kegagalan program Tuberkulosis antara lain karena tatalaksana kasus yang
tidak sesuai standar. Salah satu penyebabnya adalah diagnosis dan paduan obat yang tidak
standar serta peranan terapi dietetik yang belum memadai.
Risiko komplikasi, termasuk kematian pada pasien Tuberkulosis dipengaruhi oleh status
gizi secara individual. Status gizi dan utilisasi/penggunaan zat gizi menjadi terganggu akibat
adanya infeksi. Selain itu dengan adanya infeksi, kebutuhan zat gizi menjadi meningkat karena
tubuh memerlukan energi untuk melawan penyakit. Adanya ketidakmampuan memenuhi
kebutuhan zat gizi yang meningkat akan mengakibatkan tubuh mengalami defisiensi/
kekurangan zat gizi terutama energi dan protein. Karena itulah tubuh menggunakan cadangan
energi yang menyebabkan penurunan berat badan, lemah dan status gizi menurun. Oleh karena
itu kebutuhan bahan makanan yang mengandung antioksidan seperti vitamin C, vitamin E dan
karoten meningkat. Antioksidan sangat dibutuhkan untuk melindungi paru dari proses inflamasi
4
akibat asap rokok dan polutan lainnya yang juga menjadi faktor risiko terjadinya penyakit
Tuberkulosis itu sendiri. Obat anti tuberkulosis (rimfampisin dan INH) dan beberapa obat lini
kedua dapat mengganggu absorpsi zat gizi apabila diminum bersamaan dengan makanan.
Kondisi diatas menunjukkan pentingnya perencanaan kebutuhan gizi dan pemantauan terhadap
asupan makanan serta status gizi pasien, disamping pemantauan terhadap pengobatan
Tuberkulosis. Untuk itu disusun Pedoman Pelayanan Gizi Pada Pasien Tuberkulosis, dengan
harapan dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petugas kesehatan dalam
memberikan pelayanan gizi bagi pasien Tuberkulosis untuk meningkatkan kualitas hidupnya.
1.2. RUMUSAN MASALAH
1. Apakah yng dimaksud dengan TBC ?
2. Apakah penyebab dan gejala TBC ?
3. Bagaimankah pengobatan pada pasien TBC ?
4. Apakah hubungan kebutuhan gizi dengan TBC ?
5. Bagaimanakah pelayanan gizi pada pasien TBC ?
6. Apa sajakah prinsip diet TBC ?
7. Bagaimanakah saranan asuhan gizi pada pasien TBC ?
1.3. TUJUAN
2. Untuk mengetahui pengertian TBC
3. Untuk mengetahui penyebab dan gejala TBC
4. Untuk mengetahui bagaimana pengobatan pada pasien TBC
5. Untuk mengetahui hubungan kebutuhan gizi dengan TBC
6. Untuk mengetahui bagaimana pelayanan gizi pada pasien TBC
7. Untuk mengetahui prinsip diet TBC
8. Untuk mengetahui saranan asuhan gizi pada pasien TBC
5
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. PENGERTIAN TBC
Penyakit Tuberkulosis (TB) adalah penyakit infeksi akibat kuman Mycobacterium
tuberculosis yang ditularkan langsung dari manusia ke manusia melalui percikan dahak.
Penyakit ini merupakan salah satu penyebab infeksi kronik menular yang masih menjadi
masalah kesehatan. Penyakit yang sudah cukup lama ada ini merupakan masalah global di
dunia dan diperkirakan sekitar sepertiga penduduk dunia telah terinfeksi oleh Mycobacterium
tuberculosis. Berdasarkan data Badan Kesehatan dunia (WHO) tahun 2012, jumlah pasien
tuberkulosis di Indonesia sekitar 450.000 dan pada saat ini Indonesia berada di urutan ke 4
dari 22 negara di dunia yang mempunyai beban Tuberkulosis tertinggi.
Penyebab utama meningkatnya beban masalah Tuberkulosis antara lain adalah
kemiskinan seperti pada negara-negara sedang berkembang; perubahan demografik karena
meningkatnya penduduk dunia dan perubahan struktur umur kependudukan serta dampak
pandemi HIV.
2.2. PENYEBAB DAN GEJALA TBC
Penyebab penyakit Tuberkulosis adalah kuman Tuberkulosis yang disebut Mycobacterium
Tuberculosis, dimana sebagian besar menyerang paru yang disebut Tuberkulosis paru, selain
itu dapat juga mengenai organ tubuh lainnya diluar paru atau disebut Tuberkulosis
ekstraparu. Gejala yang ditemukan pada pasien Tuberkulosis adalah:
1. Gejala utama adalah batuk berdahak selama 2 minggu atau lebih.
2. Gejala tambahan yang sering dijumpai dahak bercampur darah, batuk darah, sesak
napas, nafsu makan menurun, berat badan turun, rasa kurang enak badan (malaise),
berkeringat pada malam hari walaupun tanpa kegiatan, demam yang berulang lebih
dari sebulan.
6
3. Seseorang yang menderita Tuberkulosis ekstraparu mempunyai keluhan/gejala terkait
dengan organ yang terkena, misalnya: a. Pembesaran pada kelenjar getah bening
(limfadenitis) yang kadang juga mengeluarkan pus atau nanah. b. Nyeri dan
pembengkakan sendi yang terkena Tuberkulosis. c. Sakit kepala, demam, kaku kuduk
dan gangguan kesadaran apabila selaput otak atau otak terkena Tuberkulosis.
4. Gejala dan tanda Tuberkulosis pada anak:
a. Nafsu makan tidak ada atau kurang/menurun (anoreksia)
b. Masalah Berat Badan (BB), berupa:
BB turun tanpa sebab yang jelas, atau
BB tidak naik dalam 1 bulan dengan tatalaksana gizi yang adekuat,
atau
BB naik tetapi tidak sesuai dengan grafik tumbuh kembang.
c. Malaise, letargi, anak tampak lemah dan lesu, tidak bergairah seperti anak yang
sehat. d. Demam lama (≥ 2 minggu) dan atau berulang tanpa sebab yang jelas;
dapat disertai keringat malam dengan demam yang umumnya tidak tinggi
(subfebris)
e. Batuk menetap ≥ 3 minggu dan sebab lain telah disingkirkan
f. Pembesaran kelenjar limfe superfisialis yang biasanya multipel, saling melekat
dan tidak nyeri tekan
g. Diare persisten yang tidak sembuh dengan tatalaksana diare yang baku.
2.3. PENGOBATAN TUBERKULOSIS PADA PASIEN DENGAN KEADAAN
KHUSUS
Semua orang dengan daya tahan tubuh rendah (lanjut usia, pasien diabetes melitus, HIV, gizi
buruk, dan lain-lain) yang kontak dengan pasien Tuberkulosis perlu mendapat perhatian, kondisi
komorbid tersebut lebih mudah tertular Tuberkulosis dibandingkan populasi umum. Dalam hal
lain, kondisi komorbid tersebut dapat mempengaruhi respons atau hasil pengobatan
7
Tuberkulosis. Keadaan khusus pada pasien Tuberkulosis yang perlu diperhatikan adalah sebagai
berikut:
1. Ibu hamil
Pada prinsipnya pengobatan Tuberkulosis pada ibu hamil tidak berbeda dengan
pengobatan Tuberkulosis pada umumnya. Semua jenis OAT aman untuk ibu hamil,
kecuali golongan aminoglikosida (streptomisin dan kanamisin). Streptomisin tidak dapat
dipakai pada ibu hamil karena bersifat permanent ototoxic dan dapat menembus barier
plasenta. Keadaan ini akan mengakibatkan terjadinya gangguan pendengaran dan
keseimbangan yang menetap pada bayi yang akan dilahirkannya. Perlu dijelaskan kepada
ibu hamil bahwa keberhasilan pengobatan sangat penting artinya supaya proses kelahiran
dapat berjalan lancar dan bayi yang akan dilahirkan terhindar dari kemungkinan
penularan Tuberkulosis.
2. Ibu menyusui dan bayinya
Pada prinsipnya pengobatan Tuberkulosis pada ibu menyusui tidak berbeda dengan
pengobatan pada umumnya. Semua jenis OAT aman untuk ibu menyusui. Seorang ibu
menyusui yang menderita Tuberkulosis harus mendapat paduan OAT secara adekuat.
Pemberian OAT yang tepat merupakan cara terbaik untuk mencegah penularan kuman
Tuberkulosis kepada bayinya. Ibu dan bayi tidak perlu dipisahkan dan bayi tersebut dapat
terus disusui dengan memperhatikan pencegahan dan pengendalian infeksi (PPI). Ibu
memakai masker selama masih berpotensi menularkan dan bayi diberi obat profilaksis
(INH). Pengobatan pencegahan dengan INH diberikan kepada bayi tersebut sesuai
dengan berat badannya.
3. Pasien Tuberkulosis
Perempuan pengguna kontrasepsi Rifampisin berinteraksi dengan kontrasepsi hormonal
(pil KB, suntik KB, susuk KB), sehingga dapat menurunkan efektivitas kontrasepsi
tersebut. Seorang perempuan pasien Tuberkulosis sebaiknya menggunakan kontrasepsi
non-hormonal atau kontrasepsi yang mengandung estrogen dosis tinggi (50 mcg).
4. Pasien Tuberkulosis dengan HIV/AIDS Dalam pengobatan pasien koinfeksi TB-HIV
perlu diketahui beberapa hal diantaranya; saat pemberian OAT dan ARV, paduan obat
8
yang tepat, efek samping OAT dan ARV, kemungkinan timbulnya reaksi sindrom pulih
imun, monitoring yang baik dan teliti, serta meyakinkan kepatuhan pasien dan mampu
menatalaksana pasien yang kepatuhannya buruk. Prinsip pengobatan TB-HIV adalah
OAT disegerakan dan ARV diberikan dalam waktu 2-8 minggu setelah toleransi OAT
baik tanpa melihat nilai CD4. Pemberian OAT pada pasien Tuberkulosis dengan HIV
sama dengan pasien Tuberkulosis umumnya.
5. Pasien Tuberkulosis dengan hepatitis akut
Pemberian OAT pada pasien Tuberkulosis dengan hepatitis akut dan atau ikterus klinis
ditunda sampai hepatitis akutnya mengalami penyembuhan. Bila pengobatan
Tuberkulosis sangat diperlukan dapat diberikan streptomisin (S) dan Etambutol (E)
maksimal 3 bulan sampai hepatitisnya menyembuh dan dilanjutkan dengan Rifampisin
(R) dan Isoniasid (H) selama 6 bulan.
6. Pasien Tuberkulosis dengan kelainan hati kronik
Bila ada kecurigaan gangguan faal hati, dianjurkan pemeriksaan faal hati sebelum
pengobatan Tuberkulosis. Kalau SGOT dan SGPT meningkat lebih dari 3 kali OAT tidak
diberikan dan bila pengobatan telah berlangsung, harus dihentikan. Kalau
peningkatannya kurang dari 3 kali, pengobatan dapat dilaksanakan atau diteruskan
dengan pengawasan ketat. Pada pasien dengan kelainan hati, Pirazinamid (Z) tidak boleh
digunakan. Paduan OAT yang dapat dianjurkan adalah 2 RHES/ 6 RH atau 2 HES/ 10
HE.
7. Pasien Tuberkulosis dengan gagal ginjal
Isoniazid (H), Rifampisin (R) dan Pirazinamid (Z) dapat di ekskresi melalui empedu dan
dapat dicerna menjadi senyawa yang tidak toksik. OAT jenis ini dapat diberikan dengan
dosis standar pada pasien-pasien dengan gangguan ginjal. Streptomisin dan etambutol
diekskresi melalui ginjal, oleh karena itu hindari penggunaannya pada pasien dengan
gangguan ginjal. Apabila fasilitas pemantauan faal ginjal tersedia, etambutol dan
streptomisin tetap dapat diberikan dengan dosis yang sesuai dengan faal ginjal.
8. Pasien Tuberkulosis dengan Diabetes Melitus (DM) Pasien Tuberkulosis dengan DM,
harus dilakukan regulasi gula darah secara baik. Perlu diperhatikan bahwa penggunaan
Rifampisin akan mengurangi efektivitas obat anti diabetes oral, misalnya sulfonil urea
sehingga dosis obat anti diabetes perlu ditingkatkan. Pada pasien diabetes melitus sering
9
terjadi komplikasi retinopati diabetik, oleh karena itu hati-hati memberikan etambutol,
karena dapat memperberat kelainan tersebut.
9. Pasien Tuberkulosis yang membutuhkan kortikosteroid
Kortikosteroid hanya digunakan pada keadaan khusus atau yang membahayakan jiwa
pasien seperti: a. Meningitis Tuberkulosis, b. Tuberkulosis milier dengan atau tanpa
gejala-gejala meningitis, c. Tuberkulosis dengan pleuritis eksudativa, d. Tuberkulosis
dengan perikarditis konstriktiva. Prednison diberikan dengan dosis 30-40 mg per hari,
kemudian diturunkan secara bertahap. Lama pemberian disesuaikan dengan jenis
penyakit dan kemajuan pengobatan.
10. Indikasi operasi
a. Tuberkulosis paru Reseksi paru perlu dipikirkan pada:
1) Pasien batuk darah berat yang tidak dapat diatasi dengan cara konservatif,
2) Pasien dengan fistula bronkopleura dan empiema yang tidak dapat diatasi secara
konservatif,
3) Pasien Tuberkulosis MDR dengan kelainan paru yang terlokalisasi.
b. Tuberkulosis ekstraparu Pasien Tuberkulosis ekstraparu dengan komplikasi,
2.4. HUBUNGAN KEBUTUHAN GIZI DENGAN TUBERKULOSIS
Pada orang terinfeksi kuman Mycobacterium Tuberculosis terjadi gangguan sistem
kekebalan pada tubuh. Gangguan sistem kekebalan tubuh pada kondisi yang parah akan
menyebabkan penurunan status gizi yang dapat disebabkan oleh karena kurangnya asupan
makanan yang disebabkan oleh anoreksia, malabsorpsi, dan meningkatnya penggunaan zat gizi
dalam tubuh.
Status gizi yang menurun sering dijumpai pada pasien Tuberkulosis termasuk kehilangan
lean body mass yang ditandai dengan penurunan berat badan. Penyakit Tuberkulosis biasanya
berhubungan dengan rendahnya kadar mikronutrient serum seperti Zinc, Vitamin A, Vitamin C,
Vitamin D, Vitamin E.
10
A. KURANG ENERGI DAN ZAT GIZI MAKRO
Kurang energi dan zat gizi makro (protein, lemak, dan karbohidrat) merupakan faktor
risiko berkembangnya Tuberkulosis Laten menjadi Tuberkulosis Aktif yang berkaitan
dengan sistem imunitas tubuh dan status gizi, serta mempermudah terjadinya infeksi
Tuberkulosis Primer/baru. Beberapa tanda dan gejala utama antara lain kelaparan,
anemia, hilangnya protein dan jaringan otot serta lemak tubuh. Anoreksia, kaheksia dan
tubuh yang lemah dapat meningkatkan risiko Tuberkulosis dan sebaliknya Tuberkulosis
dapat memperburuk status gizi. Pada pasien dengan TB-HIV sering disertai diare yang
dapat menyebabkan kehilangan zat gizi makro dan mikro. Kurang energi dan protein
akan menurunkan imunitas sehingga dapat merusak efektivitas protektif vaksin BCG.
B. KURANG ZAT GIZI MIKRO
Kekurangan energi dan zat gizi makro menyebabkan defisiensi Zinc, vitamin A, vitamin
C, vitamin D dan Fe, serta mengakibatkan kerusakan imunitas sel yang sangat kritis
untuk melawan Tuberkulosis. Zat gizi mikro tersebut juga sangat penting pada
pencegahan resistensi OAT. Pada pasien Tuberkulosis umumnya ditemukan gejala
anemia, namun pemberian Fe tidak dianjurkan. Beberapa penelitian melaporkan bahwa
pemberian Fe dapat menyebabkan multiplikasi kuman Tuberkulosis, sehingga
memperberat penyakit.
C. PERAN GIZI DALAM PENYEMBUHAN PASIEN TUBERKULOSIS
Pada Tuberkulosis terjadi peningkatan Resting Energy Expenditure (REE) karena
metabolisme meningkat, sehingga kebutuhan energi, protein dan zat gizi mikro akan
meningkat. Pemenuhan energi, protein dan zat gizi mikro tersebut perlu diperhatikan,
mengingat pada pasien Tuberkulosis seringkali terjadi gangguan gastrointestinal, baik
karena penyakitnya maupun efek dari OAT serta penurunan nafsu makan yang akan
berdampak pada asupan makanan. Selain itu penurunan konsentrasi zat gizi mikro akan
berdampak pula terhadap imunitas pasien Tuberkulosis, sehingga pasien lebih rentan
terhadap reaktivasi penyakit dan risiko komplikasi.
11
2.5. PELAYANAN GIZI PADA TUBERKULOSIS
Pada dasarnya pelayanan gizi yang diberikan kepada pasien tuberkulosis
prosesnya sama dengan pasien lainnya yaitu melalui Proses Asuhan Gizi Terstandar
(PAGT). PAGT akan disesuaikan dengan fasilitas pelayanan kesehatan yang melayani
pasien tuberkulosis, komorbid dan masalah gizi. Pelayanan gizi pasien tuberkulosis dapat
dilakukan di fasilitas pelayanan kesehatan :
1. Puskesmas
Pelayanan gizi pasien tuberkulosis yang dilakukan di Puskesmas meliputi pengkajian
gizi, diagnosis gizi, intervensi berupa edukasi dan konseling gizi dan monitoring evaluasi
asuhan gizi. Berdasarkan hasil skrining gizi bila ditemukan pasien tuberkulosis dengan
kondisi status gizi normal intervensi gizi diberikan dalam bentuk penyuluhan. Apabila di
fasilitas pelayanan kesehatan belum ada tenaga gizi maka penyuluhan dapat diberikan
oleh tenaga kesehatan lainnya. Bila dari hasil skrining ditemukan pasien tuberkulosis
dengan kondisi status gizi kurang dan buruk, penurunan berat badan, asupan makan
kurang, MDR, HIV, DM, penyakit ginjal kronik, hepatitis, lansia, kehamilan/menyusui,
anak dan balita maka pasien tersebut harus di kirim ke fasilitas pelayanan kesehatan yang
memiliki tenaga gizi untuk mendapatkan Asuhan Gizi lebih lanjut.
2. Rumah Sakit Pelayanan pasien tuberkulosis di rumah sakit meliputi pelayanan rawat
jalan dan rawat inap. Pada Pelayanan rawat jalan bila hasil skrining gizi ditemukan pasien
tuberkulosis dengan kondisi status gizi normal intervensi gizi diberikan dalam bentuk
penyuluhan dan edukasi gizi. Bila hasil skrining ditemukan pasien tuberkulosis dengan
kondisi status gizi kurang dan buruk, dan kondisi khusus seperti penurunan berat badan,
asupan makan kurang, TB-MDR, HIV,diabetes melitus, penyakit ginjal kronik, hepatitis,
lanjut usia, kehamilan/menyusui, anak dan balita maka pasien dirujuk ke pusat pelayanan
konseling dan edukasi gizi untuk mendapatkan Asuhan Gizi lebih lanjut.
3. PROSES ASUHAN GIZI TERSTANDAR (PAGT)
Sebelum melakukan asuhan gizi terstandar terlebih dahulu dilakukan skrining gizi.
Skrining gizi pada pasien tuberkulosis pada umumnya sama dengan penyakit infeksi
lainnya dimana dilakukan untuk menapis masalah gizi yang ada atau berisiko
menimbulkan malnutrisi. Skrining gizi dilaksanakan oleh perawat, bidan atau tenaga
12
kesehatan lain yang ada di fasilitas pelayanan kesehatan setempat. Apabila didapatkan
pasien tuberkulosis dengan malnutrisi atau risiko malnutrisi maka harus diprioritaskan
untuk dilakukan pengkajian gizi lebih lanjut oleh Dietisien/Nutrisionis dengan proses
asuhan gizi terstandar.
2.6. PRINSIP DIET TBC
a) Makanan yang diberikan mengandung energi dan protein tinggi (Tinggi Energi Tinggi
Protein).
b) Bentuk makanan disesuaikan dengan kemampuan makan pasien, misalnya saat mengalami
batuk yang terus menerus dianjurkan diberi makanan dalam bentuk makanan lunak.
c) Apabila asupan kurang dari 50% kebutuhan, perlu kombinasi pemberian makanan, misalnya
bentuk makanan lunak dan makanan cair (enteral).
d) Frekuensi makan dapat sampai 6 kali makanan utama dengan porsi kecil yang padat gizi.
Makanan padat gizi dapat dibuat dengan menambahkan susu, telur, tepung, minyak, santan, dll
dalam makanan.
e) Makanan berkuah atau banyak cairan.
f) Utamakan sumber karbohidrat kompleks misalnya nasi, kentang, mi, bihun, roti.
g) Hidangan makanan menarik dan mengundang selera makan.
h) Bila memungkinkan konsumsi susu 2 – 3 gelas/hari.
i) Konsumsi sayur dan buah sebanyak 5 – 6 porsi/hari.
j) Hindari pengolahan makanan dengan digoreng, terlalu manis (gula dan sirup), terlalu asam, es
dan pedas atau merangsang lainnya seperti teh dan kopi karena akan merangsang batuk.
k) Hindari alkohol.
l) Memenuhi prinsip keamanan pangan, antara lain :
13
(1). Hindari makanan mentah dan kurang matang
(2). Gunakan air bersih dan air mengalir untuk mencuci makanan dan peralatan makan
(3) Masak air minum sampai mendidih sebelum dikonsumsi, hindari mengkonsumsi air mentah /
batu es dari air yang tidak matang
(4). Cucilah tangan dengan sabun dan air mengalir saat mengolah makanan, sebelum dan
sesudah makan, setelah kontak dengan binatang, keluar dari toilet, setelah bersin dan batuk
(5). Jika membeli makanan, pilih makanan yang segar, perhatikan keutuhan kemasan dan tanggal
kadaluarsa pada produk makanan jadi/pabrikan
(6). Menyimpan makanan matang dalam kondisi tertutup paling lama 3 jam atau dihangatkan
kembali.
2.7. SARANA ASUHAN GIZI
Kegiatan asuhan gizi akan memberikan hasil yang optimal ukung oleh sarana yang
memadai antara lain meliputi :
1) Formulir skrining, Recall, Food Frequency, pencatatan asuhan gizi
2) Timbangan berat badan
3) Alat ukur tinggi badan dan panjang badan
4) Pita LiLA
5) Food model
6) Brosur informasi gizi tuberkulosis
7) Materi KIE seperti brosur, poster, booklet, lembar balik, dll
8) Perangkat komputer dan NutriClin
9) Ruang konseling dengan ventilasi yang memadai
10) Masker
14
Monitoring dan Evaluasi Monitoring dan evaluasi gizi untuk melihat respon pasien
terhadap intervensi gizi yang diberikan. Aspek yang perlu dimonitor dan evaluasi adalah :
a. Asupan Makanan dengan indikator perbaikan asupan makanan mencapai > 80% kebutuhan.
b. Status gizi dengan indikator perubahan berat badan dan mencapai status gizi normal
c. Perilaku makan dengan indikator perubahan pola makan dan variasi pemilihan bahan
makanan. Apabila dari hasil monitoring dan evaluasi ternyata pasien belum mencapai target yang
diharapkan, maka perlu dilakukan pengkajian ulang berkaitan dengan masalah gizinya. Pada
fasilitas pelayanan kesehatan yang belum memiliki tenaga gizi, maka prioritas indikator untuk di
lakukan monitoring dan evaluasi adalah perubahan berat badan.
15
BAB III
PENUTUP
1.1. Kesimpulan
Penyakit Tuberkulosis (TB) adalah penyakit infeksi akibat kuman Mycobacterium
tuberculosis yang ditularkan langsung dari manusia ke manusia melalui percikan
dahak. Penyakit ini merupakan salah satu penyebab infeksi kronik menular yang
masih menjadi masalah kesehatan.
Gejala yang ditemukan pada pasien Tuberkulosis adalah:
1) Gejala utama adalah batuk berdahak selama 2 minggu atau lebih.
2) Gejala tambahan yang sering dijumpai dahak bercampur darah, batuk darah, sesak
napas, nafsu makan menurun, berat badan turun, rasa kurang enak badan (malaise),
berkeringat pada malam hari.
3) Mempunyai keluhan/gejala terkait dengan organ yang terkena
4) Gejala dan tanda Tuberkulosis pada anak:
Nafsu makan tidak ada atau kurang/menurun (anoreksia), Masalah Berat Badan
(BB), Malaise, letargi, anak tampak lemah dan lesu, tidak bergairah seperti anak yang
sehat. Demam lama (≥ 2 minggu) dan atau berulang tanpa sebab yang jelas; dapat
disertai keringat malam dengan demam yang umumnya tidak tinggi (subfebris).
Batuk menetap ≥ 3 minggu dan sebab lain telah disingkirkan. Pembesaran kelenjar
limfe superfisialis yang biasanya multipel, saling melekat dan tidak nyeri tekan.
Diare persisten yang tidak sembuh dengan tatalaksana diare yang baku.
1.2. Saran
Ada banyak sekali hal-hal yang berpengaruh terhadap keadaan gizi dan kesehatan
seseorang, terutama prilaku dari orang tersebut. Sebagai ahli gizi, selain dituntut untuk
memahami metabolisme tubuh, gizi seimbang, penyakit-penyakit yang berhubungan dengan
metabolisme, ahli gizi juga dituntut untuk melakukan pendekatan dengan masyarakat dengan
cara memahami perilaku dari setiap individu dan kelompok masyarakat itu sendiri.
16
DAFTAR PUSTAKA
[Link]
Pangan_SC.pdf
[Link]
17