0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
24 tayangan24 halaman

Potensi Energi Geotermal di Indonesia

Energi geotermal atau panas bumi berasal dari panas yang terkandung di dalam bumi dan dapat dimanfaatkan untuk pembangkitan listrik dan aplikasi langsung lainnya. Indonesia memiliki potensi energi geotermal yang besar dan merata di seluruh wilayah, namun pemanfaatannya belum maksimal. Pemerintah berupaya meningkatkan pemanfaatan energi terbarukan ini sebagai bagian dari bauran energi untuk mengurangi ketergant

Diunggah oleh

Abu m saleh
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
24 tayangan24 halaman

Potensi Energi Geotermal di Indonesia

Energi geotermal atau panas bumi berasal dari panas yang terkandung di dalam bumi dan dapat dimanfaatkan untuk pembangkitan listrik dan aplikasi langsung lainnya. Indonesia memiliki potensi energi geotermal yang besar dan merata di seluruh wilayah, namun pemanfaatannya belum maksimal. Pemerintah berupaya meningkatkan pemanfaatan energi terbarukan ini sebagai bagian dari bauran energi untuk mengurangi ketergant

Diunggah oleh

Abu m saleh
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Energi panas bumi juga dikenal dengan nama energi geothermal yang berasal dari bahasa

Yunani. Dalam bahasa Yunani kata “geo” memiliki arti bumi dan kata “thermal” memiliki arti
panas jadi ketika digabungkan kata geothermal memiliki arti panas bumi. Energi panas bumi
sendiri dihasilkan dan disimpan di dalam inti bumi. Jika dibandingkan dengan bahan bakar fosil,
panas bumi merupakan sumber energi bersih dan hanya melepaskan sedikit gas rumah kaca.

Menurut UU No. 27 Tahun 2003 Tentang Panas Bumi, sumber daya panas bumi adalah suber
energi panas yang terkandung di dalam air panas, uap air, dan batuan bersama mineral ikutan dan
gas lainnya yang secara genetik semuanya tidak dapat dipisahkan dalam suatu sistem panas bumi
dan untuk pemanfaatannya diperlukan proses penambangan yang dapat dimanfaatkan untuk
pembangkitan tenaga listrik atau pemanfaatan langsung lainnya.

Salah satu pemanfaatan enegi panas bumi adalah untuk menghasilkan energi listrik. Pemanfaatan
energi panas bumi untuk pembangkit listrik secara garis besar dilakukan dengan cara melihat
resource dari panas bumi tersebut. Apabila suatu daerah memiliki panas bumi yang
mengeluarkan uap air (steam), maka steam tersebut langsung dapat digunakan. Steam tersebut
secara langsung diarahkan menuju turbin pembangkit listrik untuk menghasilkan energi listrik.
Setelah selesai steam tersebut diarahkan menuju condenser sehingga steam tersebut
terkondensasi menjadi air. Air ini selanjutnya di recycle untuk menjadi uap lagi secara alami.
Namun, bila panas bumi itu penghasil air panas (hot water), maka air panas tersebut harus di
ubah terlebih dahulu menjadi uap air (steam). Proses perubahan ini membutuhkan peralatan yang
disebut dengan heat exchanger, dimana air panas ini dialirkan menuju heat exchanger sehingga
terbentuk uap air.  ([Link])

Sekitar 40% cadangan energi geothermal dunia terletak di Indonesia. Diperkirakan memiliki
cadangan-cadangan energi panas bumi terbesar di dunia. Cadangan energi panas bumi yang
terbesar terletak di wilayah barat Indonesia dimana ada permintaan energi yang paling tinggi:
Sumatra, Jawa dan Bali. Sulawesi Utara adalah provinsi yang paling maju dalam penggunaan
geotermal untuk energi listrik: sekitar 40% dari pasokan listriknya didapat dari energi
geothermal. ([Link])

Pemerintah Indonesia mencanangkan bauran energi baru terbarukan mencapai 23% pada 2025
dan naik lagi 31 persen pada 2050. Sebaliknya, bauran energi dari minyak bumi pada 2050
diturunkan separuhnya dari saat ini 40%.

Di tengah rencana transisi penggunaan energi terbarukan tersebut, tidak banyak yang sadar
bahwa Indonesia memiliki potensi energi terbarukan geotermal (panas bumi) terbesar di dunia.
Sampai saat ini, pemanfaatan potensi tersebut belum maksimal.

Posisi Indonesia dalam wilayah tumbukan lempeng tektonik dan garis khatulistiwa membuat
negara ini memiliki cadangan energi yang besar. Indonesia memiliki cadangan energi fosil
seperti minyak, gas dan batu bara dan cadang energi nonfosil seperti energi geotermal, air, angin,
dan matahari. Penggunaan energi fosil bersifat merusak lingkungan dan cadangannya yang terus
menipis. Maka ketergantungan terhadap energi fosil harus dikurangi dengan menggantinya
dengan energi terbarukan dengan cadangan yang berlimpah, salah satunya geotermal.

Jumlah potensi sumber daya geotermal Indonesia sekitar 11.073 Megawatt listrik (MWe) dan
cadangannya sekitar 17.506 MWe. Kapasitas pembangkit listrik secara nasional yang pada akhir
2016 memproduksi listrik 59,6 Gigawatt (GWe) atau 59.600 MWe. Maka, jika potensi tersebut
digunakan semua sebagai pembangkit listrik, maka menambah kapasitas 18% dari total produksi
listrik saat ini.

Penyebaran sumber energi geotermal ini hampir merata, bisa ditemukan lebih dari 300 titik dari
Sabang sampai Merauke.

Energi ini dapat dimanfaatkan untuk membangkitkan energi listrik dan dapat mengurangi
ketergantungan pada bahan bakar minyak (BBM) sebagai sumber tenaga listrik. Kebijakan
pemanfaatan energi geotermal secara serius akan dapat mengatasi krisis listrik yang saat ini
sangat menghantui masyarakat Indonesia.

Dalam Road Map Pengembangan Geotermal yang disusun oleh Kementerian Energi dan Sumber
Daya Mineral, Indonesia menargetkan mengembangkan energi geotermal sekitar 7000 MW pada
2025. Sebuah program yang cukup ambisius. Karena itu dibutuhkan investasi yang besar,
penyiapan teknologi eksplorasi dan produksi, manajemen, penyediaan sumberdaya manusia yang
kompeten dengan jumlah yang cukup, serta dukungan iklim investasi yang menarik bagi
investor.

Energi raksasa bumi


Energi geotermal adalah energi panas yang terkandung dalam fluida air (bisa dalam uap, cair,
atau campuran keduanya) yang berada pada kedalaman lebih dari 1 kilometer di bawah
permukaan bumi.

Fluida panas ini memiliki temperatur dan tekanan yang tinggi. Bahkan, ada yang memiliki
temperatur lebih dari 300 derajat Celsius. Ini menjadikan geotermal sebagai penyedia energi
yang masif.

Energi geotermal ini berasal dari sistem geotermal yang ada di bumi (lihat gambar di bawah),
yaitu sistem yang terdiri dari: batuan panas (sumber panas) pada kedalaman lebih dari 3 km,
batuan rekahan yang mengandung reservoir fluida berada di atas batuan panas, dan batuan
penudung yang biasanya berupa lempung ubahan yang menyelimuti reservoir.

Kita bisa mengenali keberadaan sistem geotermal dengan tanda-tanda yang tampak di
permukaan bumi, seperti mata air panas, semburan uap, lumpur panas, sublimasi belerang, dan
batuan ubahan/alterasi akibat pemanasan yang dilakukan fluida hidrotermal.
(Kiri) Ilustrasi sederhana geotermal sebagai reservoir uap. (Kanan) Sistem geotermal di bumi.
Author provided

Sistem geotermal dapat dikategorikan berdasarkan temperatur reservoirnya dan fasa (jumlah zat
homogen) fluida di reservoir. Sistem geotermal berdasarkan kisaran temperatur reservoirnya
dapat dibedakan menjadi 3 macam: sistem geotermal temperatur tinggi (>225°C), temperatur
sedang (125-225°C), dan temperatur rendah (<125°C).

Dilihat dari fasa fluidanya, ada sistem geotermal dominasi uap, dominasi air, dan campuran
kedua fasa. Indonesia memiliki semua variasi jenis sistem geotermal tersebut.

Pemanfaatannya
Energi geotermal dapat dimanfaatkan secara tidak langsung dan langsung. Pemanfaatan tidak
langsung sebagai energi listrik, sedangkan secara langsung dalam wujud pemanfaatan energi
panas untuk berbagai keperluan seperti pemanasan kolam renang, pengeringan hasil pertanian,
perkebunan, pemanasan (penghangatan) budi daya ikan, dan pemanfaatan panas untuk keperluan
yang lain. Pemanfaatan secara langsung ini dapat terus berkembang dan bervariasi tergantung
inovasi yang dibuat.

Pengembangan energi geotermal untuk pemanfaatan langsung di Indonesia dilakukan untuk


agroindustri, proses industri, dan pariwisata. Beberapa contoh pemanfaatan langsung di negeri:
tercatat untuk pemandian air panas, pengeringan kopra, pengeringan teh, budidaya jamur,
budidaya kentang, proses produksi gula aren, dan pengilangan minyak akar wangi (Astiri).

Penggunaan energi geotermal mengeluarkan emisi rendah, karena setelah energi dimanfaatkan
untuk pembangkit listrik atau pemanfaatan secara langsung. Dalam sistem pembangkit
geotermal, fluida yang telah mendingin kemudian direinjeksi ke bawah permukaan bumi menuju
ke reservoir sehingga tidak ada fluida yang dibuang yang mencemari lingkungan. Dengan
demikian, terjadi siklus pemanasan, pemanfaatan, dan reinjeksi kembali fluida di dalam
reservoir.

Di Indonesia, pengembangan energi geotermal untuk pembangkit tenaga listrik dimulai pada
1978 dengan pengembangan Monoblok 250 kW di Lapangan Kamojang, Garut, Jawa Barat,
sebagai pembangkit listrik tenaga panas bumi pertama di Indonesia. Namun, lapangan/tempat
panas bumi pertama yang beroperasi secara komersial baru dibuka pada 1983 seiring dengan
beroperasinya Unit I sebesar 30 MW di Lapangan Kamojang.

Perkembangan berikutnya adalah pengembangan lapangan panas bumi di Dieng Jawa Tengah
(60 MW), Lahendong Sumatra Utara (60 MW), Salak Sukabumi (377 MW), Darajat Garut (260
MW), Wayang Windu Bandung (227 MW) diikuti oleh pengembangan lapangan-lapangan
geotermal di Sumatra, Jawa, Sulawesi, dan Nusa Tenggara Timur.

Total kapasitas terpasang Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) saat ini sebesar 1.948
MW. Jumlah ini menjadikan Indonesia sebagai negara produsen energi geotermal terbesar kedua
setelah Amerika Serikat (3.591 MW).

Rencana ke depan
Keberadaan area-area prospek geotermal di Indonesia yang kebanyakan di wilayah pegunungan
dan pulau-pulau kecil seperti di Indonesia timur, memungkinkan pengembangan energi listrik
untuk memenuhi kebutuhan rakyat di daerah terpencil.

Selain di Pulau Jawa dan Sumatra, pengembangan energi geotermal juga dilakukan oleh
pemerintah di pulau-pulau kecil seperti di Halmahera dan Pulau Bacan (Maluku Utara), Pulau
Ambon (Maluku), Pulau Flores, Pulau Lembata (Nusa Tenggara Timur), Sumbawa (Nusa
Tenggara Barat), dan pulau-pulau kecil lain. Saat ini, pemerintah aktif menggelar survei
pendahuluan di wilayah-wilayah tersebut, baik dilakukan sendiri melalui Badan Geologi
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral maupun survei pendahuluan oleh BUMN
maupun perusahaan swasta.

Untuk mengurangi risiko pengusahaan panas bumi (misalnya gagal menemukan sumber uap
yang memadai) pada tahap eksplorasi, pemerintah menggulirkan strategi “government drilling
alias pengoboran oleh pemerintah”. Melalui program ini, daerah yang sudah dibor dan ditemukan
uap, akan dijadikan Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) yang siap ditenderkan ke publik.
Pemenangnya yang harus mengganti biaya pengeboran tersebut. Dana ini kemudian dapat
digunakan untuk program serupa di area prospek geotermal yang lain.

Jika rencana bauran energi baru terbarukan itu berhasil, akan jarang terdengar lagi terjadinya
krisis listrik di negeri ini karena sumber energi terbarukan begitu melimpah.
Energi surya adalah energi yang berupa sinar dan panas dari matahari. Energi ini dapat
dimanfaatkan dengan menggunakan serangkaian teknologi seperti pemanas surya, fotovoltaik
surya, listrik panas surya, arsitektur surya, dan fotosintesis buatan.[1][2]

Teknologi energi surya secara umum dikategorikan menjadi dua kelompok, yakni teknologi
pemanfaatan pasif dan teknologi pemanfaatan aktif. Pengelompokan ini tergantung pada proses
penyerapan, pengubahan, dan penyaluran energi surya. Contoh pemanfaatan energi surya secara
aktif adalah penggunaan panel fotovoltaik dan panel penyerap panas. Contoh pemanfaatan energi
surya secara pasif meliputi mengarahkan bangunan ke arah matahari, memilih bangunan dengan
massa termal atau kemampuan dispersi cahaya yang baik, dan merancang ruangan dengan
sirkulasi udara alami.

Pada tahun 2011, Badan Energi Internasional menyatakan bahwa "perkembangan teknologi
energi surya yang terjangkau, tidak habis, dan bersih akan memberikan keuntungan jangka
panjang yang besar. Perkembangan ini akan meningkatkan keamanan energi negara-negara
melalui pemanfaatan sumber energi yang sudah ada, tidak habis, dan tidak tergantung pada
impor, meningkatkan kesinambungan, mengurangi polusi, mengurangi biaya mitigasi perubahan
iklim, dan menjaga harga bahan bakar fosil tetap rendah dari sebelumnya. Keuntungan-
keuntungan ini berlaku global. Oleh sebab itu, biaya insentif tambahan untuk pengembangan
awal selayaknya dianggap sebagai investasi untuk pembelajaran; inventasi ini harus digunakan
secara bijak dan perlu dibagi bersama.”[1]

Energi terbarukan

Biofuel
Biomassa
Panas bumi
Energi air
Energi surya
Energi pasang surut
Energi ombak
Energi angin
 l
 b
 s

Daftar isi
 1 Energi dari matahari
 2 Penerapan teknologi surya
o 2.1 Perencanaan arsitektur dan kota
o 2.2 Pertanian dan perkebunan
o 2.3 Transportasi dan penjelajahan
o 2.4 Termal surya
 2.4.1 Pemanasan air
 2.4.2 Pemanasan, pendinginan, dan ventilasi
 2.4.3 Pengolahan air
 2.4.4 Panas proses
 2.4.5 Memasak
o 2.5 Produksi listrik
 2.5.1 Tenaga surya terpusat
 2.5.2 Fotovoltaik
 2.5.3 Lainnya
o 2.6 Produksi bahan bakar
 3 Metode penyimpanan energi
 4 Perkembangan, penggunaan, dan ekonomi
 5 Standar ISO
 6 Lihat pula
 7 Referensi
 8 Pustaka
 9 Pranala luar

Energi dari matahari

Sekitar separuh dari energi surya yang datang berhasil mencapai permukaan Bumi.

Bumi menerima 174 petawatt (PW) radiasi surya yang datang (insolasi) di bagian atas dari
atmosfer.[3] Sekitar 30% dipantulkan kembali ke luar angkasa, sedangkan sisanya diserap oleh
awan, lautan, dan daratan. Sebagian besar spektrum cahaya matahari yang sampai di permukaan
Bumi berada pada jangkauan spektrum sinar tampak dan inframerah dekat. Sebagian kecil
berada pada rentang ultraviolet dekat.[4]

Permukaan darat, samudra dan atmosfer menyerap radiasi surya, dan hal ini mengakibatkan
temperatur naik. Udara hangat yang mengandung uap air hasil penguapan air laut meningkat dan
menyebabkan sirkulasi atmosferik atau konveksi. Ketika udara tersebut mencapai posisi tinggi,
di mana temperatur lebih rendah, uap air mengalami kondensasi membentuk awan, yang
kemudian turun ke Bumi sebagai hujan dan melengkapi siklus air. Panas laten kondensasi air
menguatkan konveksi, dan menghasilkan fenomena atmosferik seperti angin, siklon, dan anti-
siklon.[5] Cahaya matahari yang diserap oleh lautan dan daratan menjaga temperatur rata-rata
permukaan pada suhu 14 °C.[6] Melalui proses fotosintesis, tanaman hijau mengubah energi surya
menjadi energi kimia, yang menghasilkan makanan, kayu, dan biomassa yang merupakan
komponen awal bahan bakar fosil.[7]

Fluks energi surya per tahun dan konsumsi energi manusia

Energi surya 3.850.000 EJ[8]

Angin 2.250 EJ[9]

Potensi biomassa 100–300 EJ[10]

Penggunaan energi utama (2010) 539 EJ[11]

Listrik (2010) 66,5 EJ[12]

Total energi surya yang diserap oleh atmosfer, lautan, dan daratan Bumi sekitar 3.850.000
eksajoule (EJ) per tahun.[8] Pada tahun 2002, jumlah energi ini dalam waktu satu jam lebih besar
dibandingkan jumlah energi yang digunakan dunia selama satu tahun.[13][14] Fotosintesis
menyerap sekitar 3.000 EJ per tahun dalam bentuk biomassa.[15] Potensi teknis yang tersedia dari
biomassa adalah 100-300 EJ per tahun.[10] Jumlah energi surya yang mencapai permukaan planet
Bumi dalam waktu satu tahun sangatlah besar. Jumlah ini diperkirakan dua kali lebih banyak
dibandingkan dengan semua sumber daya alam Bumi yang tidak terbarukan yang bisa diperoleh
digabungkan, seperti batubara, minyak bumi, gas alam, dan uranium.[16]

Energi Surya dapat dimanfaatkan pada berbagai tingkatan di seluruh dunia, yang utamanya
bergantung pada jarak dari khatulistiwa.[17]

Penerapan teknologi surya

Insolasi rata-rata menunjukkan area daratan (titik hitam kecil) yang dibutuhkan untuk menggantikan
persediaan energi utama dunia dengan listrik tenaga surya (18 TW sama dengan 568 ExaJoule, EJ, per
tahun). Insolasi untuk kebanyakan manusia sekitar 150 hingga 300 W/m 2 atau 3,5 hingga 7,0
kWh/m2/hari.

Energi surya umumnya merujuk pada penggunaan radiasi surya untuk kebutuhan praktis. Tetapi,
semua energi terbarukan, kecuali geotermal dan pasang surut, berasal dari matahari.

Teknologi surya dikategorikan secara umum menjadi: teknologi pasif dan teknologi aktif,
tergantung pada cara penyerapan, konversi, dan penyaluran cahaya matahari. Teknologi aktif
meliputi penggunaan panel fotovoltaik, pompa, dan kipas untuk mengubah energi surya ke
bentuk yang berguna. Teknologi pasif meliputi pemilihan bahan konstruksi yang memiliki sifat
termal yang bagus, perancangan ruangan dengan sirkulasi udara secara alami, dan
menghadapkan bangunan ke matahari. Teknologi aktif meningkatkan persediaan listrik dan
disebut sebagai teknologi sisi penawaran, sedangkan teknologi pasif mengurangi kebutuhan
sumber daya alam lain dan disebut sebagai teknologi sisi permintaan.[18]

Perencanaan arsitektur dan kota

Universitas Teknologi Darmstadt di Jerman memenangkan penghargaan Solar Decathlon 2007 di


Washington, D.C. dengan rancangan rumah berteknologi pasif khusus untuk iklim lembab dan subtropis
panas.[19]

Cahaya matahari telah mempengaruhi rancang bangunan sejak permulaan sejarah arsitektur.[20]
Arsitektur surya yang maju dan rencana tata ruang kota pertama kali digunakan oleh bangsa
Yunani dan Cina, yang mengarahkan bangunan mereka menghadap selatan untuk mendapatkan
cahaya dan kehangatan.[21]

Fitur umum dari arsitektur surya pasif adalah arah bangunannya terhadap matahari, ukuran
bangunan yang tepat (rasio luas permukaan dengan volume yang kecil), pemilihan penghalang
(serambi), dan penggunaan massa termal.[20] Ketika fitur-fitur ini digunakan bersama, dapat
dihasilkan ruangan yang terang dan berada pada temperatur nyaman. Rumah Megaron milik
Socrates adalah contoh klasik rancang bangunan teknologisurya pasif.[20] Perkembangan terakhir
perancangan rumah berteknologi surya menggunakan bantuan permodelan oleh komputer, yang
menggabungkan faktor pencahayan surya, pemanasan, dan sistem ventilasi dalam satu paket
rancangan surya.[22] Peralatan teknologi aktif surya seperti pompa, kipas, dan jendela buka-tutup
dapat melengkapi rancangan tekonologi pasif dan meningkatkan daya kerja sistem.

Pulau bahang perkotaan adalah daerah perkotaan dengan suhu yang lebih tinggi dibandingkan
dengan lingkungan sekitarnya. Temperatur yang tinggi disebabkan oleh meningkatnya
penyerapan cahaya matahari oleh materi yang ada di perkotaan, seperti aspal jalan dan beton,
yang memiliki albedo (tingkat keputihan) lebih rendah dan memiliki kapasitas panas lebih tinggi
dibandingkan dengan materi alami. Langkah langsung untuk mengatasi pulau bahang adalah
mengecat bangunan dan jalan dengan warna putih, serta menanam pepohonan. Menggunakan
langkah ini, program hipotetis "komunitas dingin" di Los Angeles telah memproyeksikan
temperatur kota dapat diturunkan sekitar 3 °C dengan biaya sekitar 1 miliar dollar Amerika
Serikat, dengan perkitaan keuntungan total tahunan 530 juta dollar dari pengurangan biaya
penggunaan pendingin udara dan penghematan biaya kesehatan.[23]

Pertanian dan perkebunan

Rumah kaca seperti ini di munisipalitas Westland, Belanda, digunakan untuk menumbuhkan sayuran,
buah, dan bunga.

Pertanian dan perkebunan berusaha mengoptimalkan penyerapan energi surya untuk


meningkatkan produktivitas tanaman. Teknik seperti siklus penanaman yang diatur waktunya,
mengatur orientasi barisan, tinggi antar barisan yang berbeda, dan pencampuran varietas
tanaman dapat meningkatkan perolehan tanaman.[24][25] Walau sinar matahari umumnya dianggap
sumber daya alam yang berlimpah, namun pentingnya matahari untuk pertanian ditunjukkan di
daerah dengan intensitas sinar matahari lebih sedikit. Selama pendeknya masa tanam pada
Zaman Es Kecil, petani Prancis dan Inggris menggunakan dinding buah untuk memaksimalkan
penyerapan energi surya. Dinding ini bertindak sebagai massa termal dan mempercepat
pematangan dengan menjaga tanaman tetap hangat. Dinding buah awalnya dibuat tegak terhadap
tanah menghadap selatan, kemudian, dinding miring berkembang karena memanfaatkan sinar
matahari lebih baik. Pada tahun 1699, Nicolas Fatio de Duiller bahkan menyarankan
penggunaakan mekanisme lacak yang dapat memutar dinding mengikuti matahari.[26] Penerapan
energi surya, selain untuk menumbuhkan tanaman, meliputi memompa air, mengeringkan panen,
beternak ayam, dan mengeringkan kotoran unggas.[27][28] Teknologi surya juga digunakan oleh
pembuat minuman anggur untuk menjalankan mesin tekan anggur.[29]

Rumah kaca menggubah energi cahaya menjadi energi panas, yang memperbolehkan produksi
sepanjang tahun dan pertumbuhan tanaman khusus (dalam lingkungan tertutup) dan tanaman lain
yang tidak cocok tumbuh untuk iklim lokal. Rumah kaca primitif pertama kali digunakan pada
zaman Romawi untuk memproduksi ketimun sepanjang tahun untuk kaisar romawi Tiberius.[30]
Rumah kaca modern pertama dibangun di Eropa pada abad ke-16 untuk tanaman eksotik yang
dibawa pulang dari wilayah yang dijelajahi.[31] Rumah kaca tetap menjadi bagian penting dari
perkebunan saat ini, dan materi plastik transparan juga telah digunakan untuk efek yang mirip
dengan terowongan plastik dan penutup barisan.
Transportasi dan penjelajahan

Australia menjadi tuan rumah World Solar Challenge. Dalam ajang tersebut, mobil surya seperti Nuna3
berpacu dari Darwin menuju Adelaide sepanjang 3.021 km (1,877 mi).

Perkembangan mobil tenaga surya telah menjadi target perteknikan sejak tahun 1980an.
Kompetisi World Solar Challenge adalah perlombaan mobil bertenaga surya yang diadakan dua
kali selama setahun, dan dalam ajang tersebut tim dari universitas dan perusahaan berlomba
sepanjang 3.021 kilometer (1.877 mil) melewati Australia tengah mulai dari Darwin menuju
Adelaide. Pada tahun 1987, saat kompetisi ini pertama kali dibuka, kecepatan rata-rata pemenang
kompetisi adalah 67 kilometer per jam (42 mph), dan pada tahun 2007, kecepatan rata-rata
pemenang naik menjadi 90,87 kilometer per jam (56,46 mph).[32] Kompetisi North American
Solar Challenge dan South African Solar Challenge yang sedang direncanakan adalah kompetisi
serupa yang menunjukkan minat internasional dalam perteknikan dan perkembangan kenderaan
bertenaga surya.[33][34]

Beberapa kendaraan menggunakan panel surya untuk tenaga pembantu, seperti untuk penyejuk
udara, sehingga menggurangi konsumsi bahan bakar.[35][36]

Pada tahun 1975, perahu bertenaga surya pertama kali dibangun di Inggris.[37] Menjelang tahun
1995, Kapal penumpang yang menggunakan panel surya mulai bermunculan, dan sekarang ini
digunakan secara luas.[38] Pada tahun 1996, Kenichi Horie melintasi samudra Pasifik
menggunakan perahu surya, dan kapal tenaga surya berlambung dua bernama sun21 melewati
samudra Atlantik pada musim dingin 2006-2007.[39] Pada Mei 2012, Tûranor PlanetSolar menjadi
kendaraan elektrik surya pertama yang mengelilingi dunia.[40]

Pesawat tanpa awak Helios UAV dalam penerbangan dengan tenaga surya.
Pada tahun 1974, pesawat tanpa awak AstroFlight Sunrise melakukan penerbangan perdana
menggunakan tenaga surya. Pada tanggal 29 April 1979, Solar Riser melakukan penerbangan
perdana menggunakan tenaga surya, dengan kendali penuh dan mampu mengangkat seseorang
mencapai ketinggian 40 kaki (12 m). Pada tahun 1980, Gossamer Penguin melakukan
penerbangan perdana bertenaga surya dengan pilot yang ditenagai hanya dengan sel fotovoltaik.
Penerbangan ini dengan cepat diikuti oleh Solar Challenger yang melintasi terusan Inggris pada
bulan Juli 1981. Pada tahun 1990, Eric Scott Raymond terbang dari California menuju Carolina
Utara mennggunakan tenaga surya.[41] Perkembangan pesawat tenaga surya kembali ke model
pesawat tanpa awak dengan model Pathfinder (tahun 1997) dan rancangan selanjutnya, yang
menghasilkan model Helios yang berhasil mengukir rekor ketinggian untuk pesawat tanpa roket
pada ketinggian 29.524 meter (96.864 kaki) pada tahun 2001.[42] Pesawat Zephyr yang
dikembangkan oleh BAE Systems adalah pesawat terbaru yang menembus rekor penerbangan
bertenaga surya, dengan terbang selama 54 jam pada tahun 2007, dan penerbangan selama
sebulan direncanakan pada tahun 2010.[43]

Balon surya adalah balon berwarna hitam yang diisi dengan udara biasa. Saat matahari menyinari
balon tersebut, udara di dalamnya memanas dan memuai, dan menimbulkan gaya apung ke atas,
seperti balon udara panas. Beberapa balon surya cukup besar untuk penerbangan dengan
manusia, namun penggunaannya umumnya terbatas pada mainan karena rasio luas permukaan
dan berat beban yang relatif besar.[44]

Termal surya

Teknologi termal surya dapat digunakan untuk memanaskan air, memanaskan ruangan,
mendinginkan ruangan, dan menghasilkan panas.[45]

Pemanasan air

Pemanas air surya menghadap matahari untuk memaksimalkan penyerapan.

Sistem air panas surya menggunakan sinar matahari untuk memanaskan air. Di daerah dengan
lintang bujur geografis rendah (di bawah 40 derajat), 60% - 70% air panas untuk keperluan
rumah tangga dengan temperatur sampai dengan 60 °C dapat diperoleh dengan menggunakan
sistem pemanasan surya.[46] Jenis pemanas air surya yang umum digunakan adalah kolektor buluh
(44%) dan plat datar dengan kaca (34%) untuk kebutuhan air panas rumah tangga; kolektor
plastik tanpa kaca (21%) digunakan untuk memanaskan kolam renang.[47]

Sampai dengan tahun 2007, kapasitas total terpasang dari sistem air panas surya adalah sekitar
154 GW.[48] Tiongkok memimpin dalam hal ini dengan kapasitas terpasang 70 GW sampai
dengan tahun 2006 dan memiliki target jangka panjang 210 GW menjelang tahun 2020.[49] Israel
dan Siprus merupakan negara dengan tingkat penggunaan sistem air panas surya per kapita
tertinggi, dengan lebih dari 90% rumah menggunakannya.[50] Di Amerika Serikat, Kanada, dan
Australia, pemanasan kolam renang adalah aplikasi utama air panas surya dengan kapasitas
terpasang 18 GW sampai dengan tahun 2005.[18]

Pemanasan, pendinginan, dan ventilasi

Rumah surya pertama Institut Teknologi Massachusetts di Amerika Serikat, dibangun pada tahun 1939,
menggunakan penyimpanan energi panas musiman untuk pemanasan sepanjang tahun.

Di Amerika Serikat, sistem pemanasan, ventilasi, dan penyejuk udara (HVAC) memakai 30%
(4,65 EJ) dari energi yang digunakan untuk bangunan komersil dan hampir 50% (10,1 EJ) energi
yang digunakan untuk perumahan.[51][52] Teknologi pemanasan, pendinginan, dan ventilasi surya
dapat digunakan untuk mengganti sebagian dari energi ini.

Massa termal adalah materi yang digunakan untuk menyimpan panas, termasuk dari Matahari.
Materi massa termal yang umum meliputi batu, semen, dan air. Menurut sejarah, materi-materi
ini telah digunakan di daerah dengan iklim kering atau hangat untuk menjaga bangunan tetap
sejuk dengan menyerap energi surya sepanjang hari dan memancarkan energi yang disimpan ke
atmosfer yang lebih dingin di malam hari. Namun, materi ini juga dapat digunakan di daerah
dingin untuk mempertahankan kehangatan. Ukuran dan penempatan massa termal tergantung
pada beberapa faktor, seperti iklim, pencahayaan, dan kondisi bayangan. Saat faktor-faktor ini
dipertimbangkan secara baik, massa termal mempertahankan temperatur ruangan dalam rentang
nyaman dan mengurangi peralatan pemanasan dan pendinginan tambahan.[53]

Cerobong surya (atau cerobong termal, dalam konteks ini) adalah sistem ventilasi surya pasif,
yang terdiri dari terowongan vertikal yang menghubungkan bagian dalam dengan bagian luar
dari bangunan. Saat cerobong mulai hangat, udara di dalamnya memanas dan menyebabkan
udara bergerak ke atas dan menarik udara melewati bangunan. Performansi dapat ditingkatkan
dengan menggunakan kaca dan materi massa termal untuk meniru rumah kaca.[54]

Pohon dan tanaman musiman telah digunakan sebagai cara mengendalikan pemanasan dan
pendinginan surya. Ketika tanaman ditanam pada bagian selatan bangunan, daun tanaman akan
berfungsi sebagai peneduh pada musim panas, dan pada musim dingin, daun tanaman akan
rontok dan cahaya dapat lewat lebih banyak.[55] Saat gugur, pohon tak berdaun menghalangi 1/3
sampai 1/2 radiasi surya yang datang, ada keseimbangan antara manfaat teduh saat musim panas
dan pemanasan akibat daun gugur saat musim dingin.[56] Di iklim dengan kebutuhan pemanasan
tinggi, pohon musiman tidak cocok ditanam di bagian selatan bangunan karena pohon akan
mengurangi ketersediaan energi surya saat musim dingin. Namun, pohon tersebut dapat
digunakan pada sisi timur dan barat untuk menyediakan tempat teduh selama musim panas tanpa
mempengaruhi perolehan energi surya selama musim dingin.[57]

Pengolahan air

Disinfeksi air surya di Indonesia.

Pengolahan air limbah tenaga surya berskala kecil.

Distilasi surya dapat digunakan untuk membuat air asin atau air payau dapat diminum.
Penggunaan pertama yang tercatat dari distilasi ini oleh alkimiawan Arab abad ke 16.[58] Proyek
distilasi surya skala besar pertama kali dibangun pada tahun 1872 di kota tambang Las Salinas di
Chile.[59] Proyek ini memiliki area pengumpulan energi surya seluas 4.700 m2 dan dapat
memproduksi hingga 22.700 L per hari dan beroperasi selama 40 tahun.[59] Jenis rancangan
penyuling meliputi miringan tunggal, miringan ganda (atau tipe rumah kaca), vertikal, kerucut,
peredam terbalik, multi sumbu dan multi efek.[58] Penyuling-penyuling ini dapat beroperasi dalam
kondisi pasif, aktif, atau gabungan. Penyuling miringan ganda paling ekonomis untuk
penggunaan rumah tangga di pelosok, sedangkan penyuling aktif multi efek lebih cocok untuk
aplikasi skala besar.[58]

Disinfeksi air surya dilakukan dengan memaparkan botol plastik polietilena tereftalat (PET)
berisikan air ke cahaya matahari selama beberapa jam.[60] Durasi pemaparan tergantung pada
cuaca dan iklim dari minimal 6 jam hingga 2 hari selama kondisi berawan.[61] Metode ini
direkomendasikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia sebagai metode yang cocok untuk
pengolahan air rumah tangga dan penyimpanan aman.[62] Lebih dari 2 juta manusia di negara
berkembang menggunakan metode ini untuk air minum sehari-hari mereka.[61]

Energi surya dapat digunakan di kolam stabilisasi air untuk mengolah air limbah tanpa
menggunakan bahan kimia ataupun listrik. Keuntungan lingkungan bertambah saat alga tumbuh
di kolam tersebut dan mengkonsumsi karbon dioksida saat melakukan fotosintesis, walau alga
mungkin memproduksi zat kimia beracun yang membuat air tidak bisa digunakan.[63][64]

Panas proses

Teknologi pemusatan energi surya seperti piringan parabola, cekung parabola, dan pemantul
Scheffler dapat menyediakan panas proses untuk aplikasi komersil dan industri. Sistem komersil
pertama adalah proyek Solar Total Energy Project (STEP) di Shenodoah, Georgia, Amerika
Serikat. Dalam proyek tersebut, satu lapangan berisikan 114 piringan parabola menyedikan 50%
kebutuhan energi untuk pemanasan proses, penyejuk udara, dan listrik untuk pabrik kain. Sistem
kogenerasi yang terhubung dengan saluran listrik ini menyediakan 400 kW listrik ditambah
energi termal dalam bentuk uap 401 kW dan air dingjn 468 kW, dan memiliki penyimpanan
termal untuk beban puncak selama satu jam.[65]

Kolam evaporasi adalah kolam dangkal yang meningkatkankan kadar padatan terlarut melalui
penguapan. Penggunaan kolam evaporasi untuk memperoleh garam dari air laut adalah contoh
aplikasi tertua dari energi surya. Penggunaan modern meliputi peningkatkan kadar larutan garam
yang digunakan dalam penambangan ekstraksi dan memisahkan padatan terlarut dari aliran
limbah.[66]

Jemuran berbentuk tali, penyangga, atau rak mengeringkan pakaian tanpa menggunakan listrik
atau gas. Di beberapa negara bagian Amerika Serikat, "hak menjemur pakaian" dilindungi.[67]

Kolektor udara panas tak berkaca (unglazed transpired collectors/UTC) adalah dinding
berlubang yang menghadap matahari yang digunakan untuk memanaskan dulu udara ventilasi.
UTC dapat digunakan untuk menaikkan temperatur udara yang masuk hingga 22 °C dan
menghasilkan temperatur keluaran 45–60 °C.[68] Periode balik modal yang singkat dari kolektor
udara panas ini adalah alternatif yang lebih efektif dari segi biaya dibandingkan dengan sistem
kolektor berkaca.[68] Sampai tahun 2003, lebih dari 80 sistem dengan total luas permukaan
kolektor 35.000 m2 telah dipasang di seluruh dunia, termasuk kolektor seluas 860 m2 di Kosta
Rika yang digunakan untuk menggeringkan biji kopi dan kolektor seluas 1.300 m2 di
Coimbatore, India yang digunakan untuk mengeringkan marigold.[28]
Memasak

Mangkuk surya di Auroville, India yang mengkonsentrasikan cahaya matahari ke penerima yang bisa
digerakkan untuk memproduksi uap untuk memasak.

Pemasak surya menggunakan cahaya matahari untuk memasak, mengeringkan, dan proses
pasteurisasi. Pemasak surya dapat digolongkan menjadi 3 kategori umum: pemasak berbentuk
kotak, pemasak berbentuk papan, dan pemasak dengan pemantul.[69] Pemasak surya paling
sederhana adalah pemasak berbentuk kotak yang dibuat oleh Horace de Saussure pada tahun
1767.[70] Pemasak berbentuk kotak sederhana terdiri dari wadah yang terisolasi dengan penutup
transparan. Pemasak ini dapat digunakan secara efektif pada langit berawan sebagian, dan
biasanya akan mencapai temperatur 90-150 °C.[71] Pemasak berbentuk papan menggunakan
papan pemantul untuk mengarahkan cahaya matahari ke wadah terisolasi dan mencapai
temperatur setara dengan pemasak berbentuk kotak. Pemasak dengan pemantul menggunakan
berbagai bentuk geometri (piringan, cekungan, cermin Fresnel) yang memusatkan cahaya ke
wadah masak. Pemasak jenis ini dapat mencapai temperatur 315 °C dan lebih, namun perlu
diarahkan cahayanya biar berfungsi baik dan harus diposisikan kembali untuk mengikuti
Matahari.[72]

Produksi listrik
Pemandangan Sistem Pembangkit Listrik Surya Ivanpah dari jalan Yates Well, wilayah San Bernadino,
California. Barisan pegunungan Clark bisa dilihat di kejauhan.

Artikel utama: Tenaga surya

Tenaga surya adalah proses pengubahan cahaya matahari menjadi listrik, baik secara langsung
menggunakan fotovoltaik, atau secara tak langsung menggunakan tenaga surya terpusat
(concentrated solar power, CSP). Sistem CSP menggunakan lensa atau cermin dan sistem lacak
untuk memfokuskan paparan cahaya matahari yang luas menjadi seberkas sinar yang kecil. PV
mengubah cahaya menjadi aliran listrik menggunakan efek fotolistrik.

Pembangkit CSP komersial pertama kali dikembangkan pada tahun 1980an. Sejak tahun 1985,
pemasangan SEGS CSP berkapasitas 354 MW di gurun Mojave, California adalah pembangkit
listrik surya terbesar di dunia. Pembangkit listrik CSP lain meliputi pembangkit listrik tenaga
surya Solnova berkapasitas 150 MW dan pembangkit listrik tenaga surya Andasol berkapasitas
100 MW; keduanya berada di Spanyol. Proyek Surya Agua Caliente berkapasitas 250 MW di
Amerika Serikat dan Lahan Surya Charanka berkapasitas 221 MW di India adalah pembangkit
fotovoltaik terbesar di dunia. Proyek surya melebihi 1 GW sedang dikerjakan, tapi kebanyakan
fotovoltaik dipasang di atap-atap dengan ukuran kapasitas kecil, yakni kurang dari 5 kW, yang
terhubung dengan saluran listrik menggunakan meteran net dan/atau tarif feed-in.[73]

Tenaga surya terpusat

Sistem tenaga surya terpusat (concentrated surya power, CSP) menggunakan lensa atau cermin
dan sistem lacak untuk memfokuskan paparan sinar matahari yang luas menjadi seberkas cahaya
kecil. Seberkas cahaya tersebut kemudian digunakan sebagai sumber panas untuk pembangkit
listrik konvensional. Terdapat sejumlah besar teknologi pemusatan; yang paling berkembang
adalah cekungan parabola, pemantul fresnel linear, piringan Stirling, dan menara tenaga surya.
Di sistem-sistem ini, fluida kerja dipanaskan oleh cahaya matahari yang dipusatkan, dan fluida
kerja ini kemudian digunakan untuk membangkitkan listrik atau sebagai penyimpan energi.[74]

Fotovoltaik

Lahan surya 19 MW di Jerman.


Kompilasi NREL mengenai penelitian efisiensi sel surya terbaik sejak 1976 hingga sekarang.

Artikel utama: Fotovoltaik

Sel surya, atau sel fotovoltaik, adalah peralatan yang menggubah cahaya menjadi aliran listrik
dengan menggunakan efek fotovoltaik. Sel fotovoltaik pertama dibuat oleh Charles Fritts pada
tahun 1880an.[75] Pada tahun 1931, seorang insinyur Jerman, Dr. Bruno Lange, membuat sel
fotovoltaik menggunakan perak selenida ketimbang tembaga oksida.[76] Walaupun sel selenium
purwa rupa ini mengubah kurang dari 1% cahaya yang masuk menjadi listrik, Ernst Werner von
Siemens dan James Clerk Maxwell melihat pentingnya penemuan ini.[77] Dengan mengikuti kerja
Russel Ohl pada tahun 1940an, peneliti Gerald Pearson, Calvin Fuller, dan Daryl Chapin
membuat sel surya silikon pada tahun 1954.[78] Biaya sel surya ini 286 dollar AS per watt dan
mencapai efisiensi 4,5 - 6 %.[79] Menjelang tahun 2012, efisiensi yang tersedia melebihi 20% dan
efisiensi maksimum fotovoltaik penelitian melebihi 40%.[80]

Lainnya

Selain tenaga surya terpusat dan fotovoltaik, ada teknik lain yang dapat digunakan untuk
menghasilkan listrik menggunakan tenaga surya. Teknik ini meliputi:

 Sel surya dengan pigmen sensitif


 Pemusat surya dengan pemendar (sejenis teknologi pemusatan forovoltaik)
 Sel surya biohibrid
 Sistem emisi termionik foton yang ditingkatkan

Produksi bahan bakar

Proses kimia surya menggunakan energi surya untuk menjalankan reaksi kimia. Proses ini
mengurangi kebutuhan energi yang berasal dari sumber bahan bakar fosil dan juga dapat
mengubah energi surya menjadi bahan bakar yang dapat disimpan dan dipindahkan. Reaksi
kimia yang dipengaruhi oleh surya dapat digolongkan menjadi termokimia atau fotokimia.[81]
Sejumlah besar bahan bakar dapat diproduksi dengan menggunakan fotosintesis buatan.[82] Kimia
katalisis multielektron yang digunakan untuk membuat bahan bakar dengan dasar karbon (seperti
metanol) dari reduksi karbon dioksida merupakan suatu tantangan; alternatif yang lebih mudah
adalah produksi gas hidrogen dari proton, namun menggunakan air sebagai sumber elektron
(sebagaimana yang dilakukan tanaman) membutuhkan penguasaan oksidasi multielektron dua
molekul air ke satu molekul oksigen.[83] Beberapa ahli meramalkan akan adanya pabrik bahan
bakar surya di kota besar yang berada di tepi laut menjelang tahun 2050 - pemecahan molekul air
laut untuk menghasilkan gas hidrogen yang digunakan untuk pembangkit listrik di sekitarnya dan
produk samping air murni yang akan disalurkan untuk kebutuhan air permukiman.[84] Visi yang
lain adalah bangunan buatan manusia menutupi seluruh permukaan Bumi (seperti jalan,
kendaraan, dan bangunan) melakukan fotosintesis lebih efisien dibandingkan tanaman.[85]

Teknologi produksi gas hidrogen telah menjadi sasaran penting dalam penelitian kimia surya
sejak tahun 1970an. Selain elektrolisis menggunakan fotovoltaik atau sel fotokimia, beberapa
proses termokimia juga dikembangkan. Salah satu proses tersebut menggunakan pemusat surya
untuk memecah molekul air pada temperatur tinggi (2300-2600 °C).[86] Proses yang lain
menggunakan panas dari pemusat surya untuk menghasilkan uap untuk proses reformasi gas
alam, sehingga meningkatkan perolehan gas hidrogen dibandingkan dengan metode reformasi
konvensional.[87] Siklus termokimia yang melibatkan dekomposisi dan regenerasi reaktan dapat
digunakan sebagai alternatif produksi gas hidrogen. Proses Solzinc yang sedang dikembangkan
di Institut Weizmann menggunakan tungku surya 1 MW untuk dekomposisi seng oksida (ZnO)
pada suhu di atas 1200 °C. Permulaan reaksi membutuhkan seng murni, yang digunakan untuk
bereaksi dengan air dan menghasilkan gas hidrogen.[88]

Metode penyimpanan energi

Pembangkit listrik tenaga surya Andasol yang berkapasitas 150 MW adalah pembangkit listrik termal
surya komersil berlokasi di Spanyol yang menggunakan cekungan parabola. Pembangkit Andasol
menggunakan lelehan garam untuk menyimpan energi surya agar pembangkit tetap dapat memproduksi
listrik saat matahari tidak tampak.[89]

Sistem massa termal dapat menyimpan energi surya dalam bentuk panas pada temperatur yang
cocok untuk penggunaan sehari-hari atau musiman. Sistem penyimpanan panas umumnya
menggunakan materi yang sudah tersedia dengan kapasitas panas tinggi seperti air, tanah, dan
batu. Sistem yang dirancang dengan baik dapat menurunkan kebutuhan puncak, menggeser
waktu penggunaan ke waktu senggang, dan mengurangi kebutuhan pemanasan dan pendinginan.
[90][91]

Materi ubah fase seperti lilin parafin dan garam Glauber adalah contoh media penyimpan panas.
Media ini tidak mahal, tersedia, dan dapat menghasilkan temperatur yang cocok untuk
penggunaan di rumah (sekitar 64 °C). Rumah Dover (di Dover, Massachusetts) adalah rumah
pertama yang menggunakan sistem pemanasan garam Glauber pada tahun 1948.[92]

Energi surya dapat disimpan pada temperatur tinggi dengan menggunakan lelehan garam. Garam
adalah media penyimpan yang efektif karena harganya murah, memiliki kapasitas panas yang
tinggi, dan dapat menghasilkan panas pada temperatur yang cocok dengan sistem pembangkit
konvensional. Solar Two menggunakan metode penyimpanan ini dan dapat menyimpan 1,44 TJ
di tangki penyimpanan sebesar 68 m3 dengan efisiensi penyimpanan tahunan sekitar 99%.[93]

Sistem fotovoltaik yang tidak terhubung dengan saluran listrik biasanya menggunakan baterei
yang bisa diisi ulang untuk menyimpan listrik berlebih. Dengan sistem yang terhubung dengan
saluran listrik, listrik berlebih dapat dikirimkan ke transmisi listrik. Saat produksi listrik kurang,
listrik dari saluran listrik dapat digunakan. Program meteran net memberikan kredit untuk rumah
tangga yang menyalurkan listrik ke saluran listrik. Hal ini dilakukan dengan memutar terbalik
meteran listrik saat rumah memproduksi lebih banyak listrik ketimbang menggunakannya. Jika
penggunaan netto listrik di bawah nol, maka kredit yang dihasilkan akan dilimpahkan ke bulan
depan.[94] Cara lain menggunakan dua meteran, satu untuk mengukur listrik yang digunakan, satu
lagi untuk mengukur listrik yang diproduksi. Cara ini tidak umum digunakan karena biaya
tambahan akibat pemasangan meteran listrik kedua. Kebanyakan meteran baku secara akurat
mengukur di kedua arah sehingga meteran kedua tidak diperlukan.

Penyimpanan energi dengan pompa di pembangkit listrik tenaga air menyimpan energi dalam
bentuk potensial ketinggian, yaitu dengan memompa air dari tempat rendah ke tempat tinggi.
Energi dapat diambil kembali saat dibutuhkan dengan mengalirkan air ke pembangkit listrik.[95]

Perkembangan, penggunaan, dan ekonomi

Peserta dalam sebuah lokakarya perkembangan berkelanjutan memeriksa papan surya di Institut
Teknologi dan Pendidikan Tinggi Monterrey, Ciudad de Mexico di atas bangunan kampus.

Dimulai dengan penggunaan batubara besar-besaran selama Revolusi Industri, konsumsi energi
secara berangsur berubah dari menggunakan kayu dan biomassa menjadi bahan bakar fosil.
Perkembangan awal teknologi surya dimulai pada tahun 1860an yang didorong oleh perkiraan
bahwa persediaan batu bara akan menipis. Namun, perkembangan teknologi surya berhenti pada
awal abad ke 20 dikarenakan meningkatnya persediaan, nilai ekonomis, dan kegunaan batubara
dan minyak bumi.[96]

Embargo minyak pada tahun 1973 dan krisis energi pada tahun 1979 menyebabkan perubahan
kebijakan energi di dunia dan teknologi surya kembali dilirik.[97][98] Strategi pemasangan
difokuskan pada program insentif seperti program pengunaan fotovoltaik di Amerika Serikat dan
program Sunshine di Jepang. Usaha lain yang dilakukan meliputi pembentukan fasilitas riset di
Amerika Serikat (SERI, sekarang NREL), Jepang (NEDO), dan Jerman (Institut Fraunhofer
untuk sistem energi surya).[99]

Pemanas air surya komersil mulai dipasarkan di Amerika Serikat pada tahun 1890an.[100]
Penggunaan pemanas ini meningkat sampai dengan tahun 1920 tapi kemudian digantikan oleh
pemanas berbahan bakar yang lebih murah dan diandalkan.[101] Seperti fotovoltaik, pemanas air
surya kembali dilirik setalah krisis minyak tahun 1970, namun permintaan menurun pada tahun
1980an dikarenakan menurunnya harga minyak Bumi. Perkembangan pemanasan air surya
berkembang secara berangsur selama tahun 1990an dan laju pertumbuhan sekitar 20% per tahun
sejak 1999.[48] Walaupun umumnya diremehkan, pemanas dan pendingin air surya adalah
teknologi surya yang paling banyak digunakan dengan perkiraan kapasitas 154 GW pada tahun
2007.[48]

Badan Energi Internasional mengatakan energi surya dapat membantu menyelesaikan


permasalahan penting dunia:[1]

Perkembangan teknologi energi surya yang terjangkau, tidak habis, dan bersih akan memberikan
keuntungan jangka panjang yang besar. Perkembangan ini akan meningkatkan keamanan energi
negara-negara melalui pemanfaatan sumber energi yang sudah ada, tidak habis, dan tidak
tergantung pada impor, meningkatkan kesinambungan, mengurangi polusi, mengurangi biaya
mitigasi perubahan iklim, dan menjaga harga bahan bakar fosil tetap rendah dari sebelumnya.
Keuntungan-keuntungan ini berlaku global. Oleh sebab itu, biaya insentif tambahan untuk
pengembangan awal selayaknya dianggap sebagai investasi untuk pembelajaran; inventasi ini
harus digunakan secara bijak dan perlu dibagi bersama.[1]

Pada tahun 2011, Badan Energi Internasional mengatakan teknologi energi surya seperti papan
fotovoltaik, pemanas air surya, dan pembangkit listrik dengan cermin dapat menyediakan
sepertiga energi dunia pada tahun 2060 jika politikus mau mengatasi perubahan iklim. Energi
dari matahari dapat memainkan peran penting dalam de-karbonisasi ekonomi global bersamaan
dengan pengembangan efisiensi energi dan menerapkan biaya pada produsen gas rumah kaca.
"Kekuatan dari teknologi surya adalah varietasnya yang luas dan fleksibilitas dari aplikasinya,
mulai dari skala kecil hingga ke skala besar".[102]

Kita telah buktikan... bahwa setelah persediaan minyak dan batubara kita habis, manusia dapat
menerima energi tak terbatas dari sinar matahari.

Pemanfaatan energi panas matahari (Energi Solar Thermal) untuk sistem pendingin
Oleh: Tri Ayodha Ajiwiguna

Energi panas matahari (Solar Thermal Energy) ternyata dapat pula digunakan untuk sistem pendingin.
Prinsip kerja dar sistem ini menggunakan sistem refrgerasi absorpsi. Pembahasan sistem refrigerasi
absorpsi sendiri telah dibahas di sini: Sistem Refrigerasi Absorpsi.
 
Jika dibandingkan dengan sistem refrigerasi kompresi uap (sistem yang umum digunakan saat ini),
sistem refrigerasi absorpsi memang memiliki koefisien kinerja (COP) yang jauh lebih rendah, namun
sistem ini lebih unggul jika energi panas tersedia secara gratis seperti panas matahari atau panas
buangan sistem lain (contoh: panas buangan pembangkit listrik). 

Untuk memanfaatkan panas matahari pada sistem ini, energi panas matahari harus diserap pada
medium tertentu (biasanya dalam bentuk fluida) dengan menggunakan solar collector, kemudian energi
panas ini ditransfer untuk digunakan pada generator. Medium yang digunakan dapat berupa uap air
panas (steam) atau air panas. Panas (kalor) yang dimiliki oleh medium ini kemudian diberikan ke
generator dengan menggunakan penukar kalor (heat exchanger). Dengan memanfaatkan panas
matahari, maka energi listrik yang butuhkan hanyalah untuk keperluan pompa dimana konsumsi
energinya jauh lebih kecil dari pada kompresor pada sistem refrigerasi kompresi uap.
Gambar 5. Sistem Refrigerasi Absorpsi menggunakan energi panas matahari

Pada gambar 5 terlihat siklus ABCD dan BCEF sama dengan sistem refrigerasi absorpsi yang sebelumnya.
Perbedaan disini hanyalah memanfaatkan panas matahari untuk keperluan generatornya. Pemanfaatan
panas matahari ditunjukkan oleh siklus 1-2-3. Fluida (air) pada titik 1 dialirkan ke solar thermal collector
untuk menyerap energi panas. Setelah keluar dari solar thermal collector, temperatur fluida tersebut
menjadi tinggi (Titik 2). Kemudian fuida ini dialirka generator untuk mentransferkan energi kalornya
dengan menggunakan penukaar kalor (haet exchanger).

Sistem Ammonia-air lebih rumit karena dapat mencapai temperatur dibawah titik beku air, ini artinya
perlu ada sistem yang menjaga agar tidak ada uap air yang masuk ke dalam evaporator sehingga tidak
terjadi kristal es yang dapat menyumbat aliran. Disamping itu, temperatur generator yang dibutuhkan
cukup tinggi yaitu 95 – 125 oC. Kelebihan sistem ini adalah dapat mencapai temperatur yang sangat
rendah yaitu dibawah titik beku air. Untuk sistem H2O-LiBr, generatornya dapat menggunakan
temperatur yang lebih rendah yaitu 70–90 oC dan memiliki koefisien kinerja (COP) yang sedikit lebih baik
dari pada sistem Ammonia-air. Namun kelemahannya adalah temperatur pada evaporatornya tidak
dapat kurang dari 5 oC.

Beberapa penelitian tentang pemanfaatan panas matahari untuk keperluan sistem pendingin telah
dilaporkan dalam jurnal. Salah satunya adalah dengan menggunakan solar sollector seluas 11 x 11 m2,
sistem H2O-LiBr dapat menghasilkan kapasitas pendinginan sebsesar 31 sampai dengan 72 kW.

Anda mungkin juga menyukai