REFERAT 2
OBSTRUCTIVE SLEEP APNEA
KAJIAN TERHADAP TERAPI
OLEH:
Bagas Wicaksono
07/270888/PKU/9974
PEMBIMBING:
dr. Sagung Rai Indrasari [Link]-KL (K)
Bagian Ilmu Kesehatan
Telinga Hidung Tenggorok – Kepala dan Leher
Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada
Yogyakarta
2013
i
Lembar Pengesahan
Referat 2
OBSTRUCTIVE SLEEP APNEA: KAJIAN TERHADAP TERAPI
Oleh:
Bagas Wicaksono
Dipresentasikan :
Disetujui :
Dosen Pembimbing,
dr. Sagung Rai Indrasari [Link]-KL (K) Tanggal:
________________________________
Ketua Program Studi,
dr. Kartono Sudarman, [Link]-KL (K) Tanggal:
_________________________________
ii
DAFTAR ISI
Judul …………………………………………………… i
Lembar Pengesahan …………………………………………………… ii
Daftar Isi …………………………………………………… Iii
BAB I. PENDAHULUAN …………………………………………………… 1
A. Latar Belakang …………………………………………………… 1
B. Perumusan Masalah …………………………………………………… 2
C. Tujuan Penulisan …………………………………………………… 3
BAB II. URAIAN …………………………………………………… 4
A. Anatomi ………………………………………………….... 4
1. Farings ……………………………………………………. 4
2. Tonsil Palatina …………………………………………………… 9
3. Tonsil Faringeal …………………………………………………… 11
B. Fisiologi Tidur …………………………………………………… 12
C. Obstructive Sleep Apnea …………………………………………………… 14
1. Definisi …………………………………………………… 14
2. Faktor Predisposisi …………………………………………………… 15
3. Tanda Dan Gejala …………………………………………………… 17
4. Patofisiologi …………………………………………………… 18
5. Diagnosis …………………………………………………… 21
6. Kategori OSA ……………………………………………………. 27
7. Penatalaksanaan ……………………………………………………. 28
BAB III. KESIMPULAN ……………………………………………………... 51
BAB IV. DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………………… 52
iii
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Tidur adalah suatu proses fundamental yang dibutuhkan oleh setiap
manusia. Proses tidur adalah keadaan fisiologis dan sikap yang bermanifestasi
sebagai penurunan kesadaran terhadap stimulus eksternal.
Waktu tidur yang cukup untuk orang dewasa sekitar 7,5 – 8,5 jam.
Variasi waktu tidur beda – beda tergantung pada individu dan aktivitas harian.
Lamanya seseorang tidur juga dipengaruhi oleh faktor – faktor genetis, ritme
circadian, dan kebiasaan individu. Bila seseorang masih ngantuk dan lelah pada
pagi hari padahal merasa cukup waktunya tidur semalam maka perlu dicurigai
sebuah proses yang abnormal (Patlak, 2005).
Gangguan tidur lebih sering terjadi pada pria, mulai dari sleep
walking, sleep paralysis, insomnia, narkolepsi, sampai sleep apnea. Bentuk
gangguan tidur yang paling sering ditemukan adalah sleep apnea dan gejala yang
paling sering timbul pada sleep apnea adalah snoring atau mendengkur.
Selain masalah kesehatan, gejala mendengkur juga merupakan
masalah sosial. Biasanya pasangan penderita sleep apnea dengan gejala
mendengkur yang pertama kali melaporkan masalah tersebut. Pendengkur berat
lebih mudah menderita hipertensi, stroke and penyakit jantung dibandingkan
orang yang tidak mendengkur dengan umur dan berat badan yang sama (Potter &
Perry, 2005).
Mendengkur dan obstructive sleep apnea (OSA) umumnya terjadi
pada orang dewasa, terutama pria, usia pertengahan, dan penderita obesitas. Di
Indonesia, jumlah penderita OSA belum diketahui secara pasti. Namun, di
Indonesia diperkirakan sebanyak 38,2% remaja yang mengalami obesitas dan
mendengkur menderita OSA. Data di Amerika Serikat menunjukkan, prevalensi
OSA meningkat setiap tahun. Sekitar 50 juta orang Amerika tidur mendengkur,
dan 20 juta orang Amerika menderita sleep apnea syndrom.
B. Perumusan Masalah
Penderita OSA akan mengalami penurunan kualitas hidup secara
signifikan terutama yang menderita OSA berat. Gejalanya akan menjadi masalah
yang mengganggu pasangan tidur, menyebabkan terganggunya pergaulan,
menurunnya produktivitas, peningkatan risiko kecelakaan lalu lintas dan
peningkatan biaya kesehatan pada penderita OSA.
Sampai saat ini terdapat berbagai macam bentuk terapi untuk penderita
OSA termasuk terapi operatif dan non – operatif. Tingkat keberhasilan terapi
tergantung pada beberapa faktor diantaranya diagnosis tingkat keparahan OSA,
ketaatan dan toleransi penderita terhadap terapi yang dijalani terutama dalam
jangka waktu yang cukup lama.
2
C. Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan referat ini adalah untuk mengetahui definisi,
patofisiologi, gejala klinis, diagnosis, komplikasi dan terapi dari obstructive sleep
apnea.
3
4
BAB II
URAIAN
A. Anatomi
1. Farings
Farings adalah suatu kantong fibromuskuler yang berbentuk
seperti corong dengan bagian atas yang besar dan bagian bawah yang
sempit. Farings merupakan ruang utama traktusresporatorius dan traktus
digestivus. Kantong fibromuskuler ini mulai dari dasar tengkorak danterus
menyambung ke esophagus hingga setinggi vertebrata servikalis ke-6.
Panjang dinding posterior farings pada orang dewasa ±14 cm
dan bagian ini merupakan bagian dinding farings yang terpanjang.
Dinding farings dibentuk oleh selaput lendir, fasiafaringsobasiler,
pembungkus otot dan sebagian fasia bukofaringseal (Pasha, 2010).
Otot-otot farings tersusun dalam lapisan melingkar (sirkular) dan
memanjang (longitudinal). Otot-otot yang sirkular terdiri dari m.
konstriktor farings superior, media daninferior. Otot-otot ini terletak ini
terletak di sebelah luar dan berbentuk seperti kipas dengan tiap bagian
bawahnya menutupi sebagian otot bagian atasnya dari belakang. Di
sebelah depan, otot-otot ini bertemu satu sama lain dan di belakang
bertemu pada jaringan ikat. Kerja otot konstriktor ini adalah untuk
mengecilkan lumen farings dan otot-otot ini dipersarafi oleh nervus vagus
(Lalwani, 2006).
Otot-otot farings yang tersusun longitudinal terdiri dari m.
stilofaringseus dan m. palatofaringseus, letak otot-otot ini di sebelah
dalam. Muskulus stilofaringseus gunanya untuk melebarkan farings dan
menarik laringss, sedangkan m. palatofaringseus mempertemukan ismus
orofaringss dan menaikkan bagian bawah farings dan larings. Kedua otot
ini bekerja sebagai elevator, kerja kedua otot ini penting pada waktu
menelan. Muskulus stilofaringseus dipersarafi oleh nervus
glossopharyngeus dan m. palatofaringseus dipersarafi oleh nervus vagus.
Pada palatum mole terdapat lima pasang otot yang dijadikan
satu dalam satu sarung fasia dari mukosa yaitu m. levator veli palatini, m.
tensor veli palatini, m. palatoglosus, m. palatofarings dan m. azigos uvula.
Muskulus levator veli palatini membentuk sebagian besar palatum mole
dan kerjanya untuk menyempitkan ismus farings dan memperlebar ostium
tuba Eustachius dan otot ini dipersarafi oleh nervus vagus. Muskulus
tensor veli palatini membentuk tenda palatum mole dan kerjanya untuk
mengencangkan bagian anterior palatum mole dan membuka tuba
Eustachius dan otot ini dipersarafi oleh nervus vagus. Muskulus
palatoglosus membentuk arkus anterior farings dan kerjanya
menyempitkan ismus farings. Muskulus palatofaringss membentuk arkus
posterior farings. Muskulus azigos uvula merupakan otot yang kecil dan
kerjanya adalah memperpendek dan menaikkan uvula ke belakang atas
(Probst, 2004).
5
Farings mendapat darah dari beberapa sumber dan kadang –
kadang tidak beraturan, yang utama berasal dari cabang arteri karotis
eksterna (cabang farings asendens dan cabang fausial) serta dari cabang
arteri maksila interna yakni cabang palatina superior.
Persarafan motorik dan sensorik daerah farings berasal dari
pleksus faringseus yang ekstensif. Pleksus ini dibentuk oleh cabang
farings dari nervus vagus, cabang dari nervus glossopharyngeus dan
serabut simpatis. Cabang faringss dari nervus vagus berisi serabut
motorik. Dari pleksus faringseus yang ekstensif ini keluar cabang –
cabang untuk otot – otot faringss kecuali m. stilofaringseus yang
dipersarafi langsung oleh cabang nervus glossopharyngeus.
Aliran limfa dari dinding faringss dapat melalui 3 saluran,
yakni superior, media dan inferior. Saluran limfa superior mengalir ke
kelenjar getah bening retrofaringss dan kelenjar getah bening servikal
dalam atas. Saluran limfa media mengalir ke kelenjar getah bening jugulo-
digastrik dan kelenjar servikal dalam atas, sedangkan saluran limfa
inferior mengalir ke kelenjar getah bening servikal dalam bawah (Probst,
2004).
Berdasarkan letaknya maka farings dapat dibagi menjadi
Nasofarings, Orofarings dan Laringsofarings (Hipofarings).
Nasofarings merupakan bagian tertinggi dari farings, adapun
batas-batas dari nasofarings ini antara lain :
6
batas atas : Basis Kranii
batas bawah : Palatum mole
batas depan : rongga hidung
batas belakang : vertebra servikal
Nasofarings yang relatif kecil mengandung serta berhubungan
erat dengan beberapa struktur penting seperti adenoid, jaringan limfoid
pada dinding lateral farings dengan resesusfarings yang disebut fossa
Rosenmuller, kantong ranthke, yang merupakan invaginasi struktur
embrional hipofisis serebri, torus tubarius, suatu refleksi mukosa farings
di atas penonjolan kartilago tuba Eustachius, koana, foramen jugulare,
yang dilalui oleh nervus glossopharyngeus, nervus vagus dan nervus
asesorius spinal saraf cranial dan vena jugularis interna, bagian petrosus
os temporalis dan foramen laserum dan muara tuba Eustachius (Lalwani,
2006).
Orofarings disebut juga mesofarings, karena terletak diantara
nasofarings dan laringsofarings. Dengan batas – batas dari orofaringsss ini
antara lain, yaitu :
batas atas : palatum mole
batas bawah : tepi atas epiglottis
batas depan : rongga mulut
batas belakang : vertebra servikalis
7
Struktur yang terdapat di rongga orofarings adalah dinding
posterior faringss, tonsil palatine, fosa tonsil serta arkus faringss anterior
dan posterior, uvula, tonsil lingual dan foramen sekum (Lalwani, 2006).
Laringofarings (hipofarings) merupakan bagian terbawah dari
farings dengan batas – batas dari laringsofaringss antara lain, yaitu :
batas atas : epiglotis- batas bawah : kartilago krikodea
batas depan : larings- batas belakang : vertebra servikalis
Ada dua ruang yang berhubungan dengan farings yang secara
klinik mempunyai arti penting yaitu ruang retrofarings dan ruang
parafarings. Dinding anterior ruang retrofarings (Retropharyngeal space)
adalah dinding belakang farings yang terdiri dari mukosa farings, fasia
faringsobasilaris dan otot-otot farings. Ruang ini berisi jaringan ikat jarang
dan fasia prevetebralis. Ruang ini mulai dari dasar tengkorak di bagian
atas sampai batas paling bawah dari fasia servikalis. Serat-serat jaringan
ikat di garis tengah mengikatnya pada vertebra. Di sebelah lateral ruang
ini berbatasan dengan fosa faringsomaksila.
Ruang parafarings (fosa faringsomaksila) merupakan ruang
berbentuk kerucut dengan dasarnya terletak pada dasar tengkorak dekat
foramen jugularis dan puncaknya ada kornu mayusos hyoid. Ruang ini
dibatasi di bagian dalam oleh m. konstriktor farings superior, batas
luarnya adalah ramus asendens mandibula yang melekat dengan m.
8
pterigoid interna dan bagian posterior kelenjar parotis. Fosa ini dibagi
menjadi dua bagian yang tidak sama besarnya oleh os stiloid dengan otot
yang melekat padanya. Bagian anterior (presteloid) adalah bagian yang
lebih luas dan dapat mengalami proses supuratif. Bagian yang lebih
sempit di bagian posterior ( post stiloid ) berisi arteri karotis interna, vena
jugularis interna, Nervus vagus yang dibungkus dalam suatu sarung yang
disebut selubung karotis (carotid sheat). Bagian ini dipisahkan dari ruang
retrofarings oleh suatu lapisan fasia yang tipis (Pasha, 2010).
Gambar 1. Anatomi Farings (emedicine, 2013)
2. Tonsil Palatina
Tonsil palatina adalah suatu massa jaringan limfoid yang
terletak di dalam fosa tonsil pada kedua sudut orofarings, dan dibatasi oleh
pilar anterior (otot palatoglosus) dan pilar posterior (otot
palatofaringseus). Tonsil berbentuk oval dengan panjang 2-5 cm, masing-
9
masing tonsil mempunyai 10-30 kriptus yang meluas ke dalam jaringan
tonsil. Tonsil tidak selalu mengisi seluruh fosa tonsilaris, daerah yang
kosong diatasnya dikenal sebagai fosa supratonsilar. Tonsil terletak di
lateral orofarings dibatasi oleh muskulus konstriktor farings superior pada
sisi lateral, muskulus palatoglosus pada sisi anterior, muskulus
palatofaringseus pada sisi posterior, palatum mole pada sisi superior dan
tonsil lingua pada sisi inferior. (Wanri A, 2007).
Permukaan tonsil palatina ditutupi epitel berlapis gepeng yang
juga melapisi invaginasi atau kripti tonsila. Banyak limfanodulus terletak
di bawah jaringan ikat dan tersebar sepanjang kriptus. Limfonoduli
terbenam di dalam stroma jaringan ikat retikular dan jaringan limfatik
difus. Limfonoduli merupakan bagian penting mekanisme pertahanan
tubuh yang tersebar di seluruh tubuh sepanjang jalur pembuluh limfatik.
Noduli sering saling menyatu dan umumnya memperlihatkan pusat
germinal (Anggraini D, 2001).
Tonsila palatina mendapatkan aliran darah dari percabangan a.
fasialis masuk ke tonsila palatina di bagian inferior dan membentuk
percabangan a. tonsilaris dan a. palatina ascenden, selain itu juga
mendapat aliran darah dari [Link], a. faringseal ascenden dan a.
faringseal descenden cabang dari [Link] eksterna. Vena pada tonsila
palatina yaitu [Link] dan berakhir membentuk pleksus faringseus.
10
Gambar 2. Anatomi Tonsil Palatina (Healhtwise, 20012)
3. Tonsil Faringeal (Adenoid)
Tonsil faringeal atau adenoid merupakan masa limfoid yang
berlobus dan terdiri dari jaringan limfoid yang sama dengan yang terdapat
pada tonsil. Lobus atau segmen tersebut tersusun teratur seperti suatu
segmen terpisah dari sebuah ceruk dengan celah atau kantong diantaranya.
Lobus ini tersusun mengelilingi daerah yang lebih rendah di bagian
tengah, dikenal sebagai bursa faringeus. Adenoid tidak mempunyai
kriptus. Adenoid terletak di dinding belakang nasofarings. Jaringan
adenoid di nasofarings terutama ditemukan pada dinding atas dan
posterior, walaupun dapat meluas ke fosa Rosenmuller dan orifisium tuba
eustachius. Ukuran adenoid bervariasi pada masing-masing anak. Pada
11
umumnya adenoid akan mencapai ukuran maksimal antara usia 3-7 tahun
kemudian akan mengalami regresi (Hermani B, 2004).
Gambar 3. Tonsil Faringeal (adenoid)
B. Fisiologi Tidur
Tidur didefinisikan sebagai suatu keadaan bawah sadar dimana
seseorang masih dapat dibangunkan dengan pemberian rangsang sensorik atau
dengan rangsang lainnya (Guyton & Hall, 2011). Tidur adalah suatu proses
perubahan kesadaran yang terjadi berulang-ulang selama periode tertentu (Potter
& Perry, 2005). Menurut Chopra (2003), tidur merupakan dua keadaan yang
bertolak belakang dimana tubuh beristirahat secara tenang dan aktivitas
metabolisme juga menurun namun pada saat itu juga otak sedang bekerja lebih
keras selama periode bermimpi dibandingkan dengan ketika beraktivitas di siang
hari.
12
Tidur dibagi menjadi dua fase yaitu pergerakan mata yang cepat atau
Rapid Eye Movement (REM) dan pergerakan mata yang tidak cepat atau Non
Rapid Eye Movement (NREM). Tidur diawali dengan fase NREM yang terdiri
dari empat stadium, yaitu tidur stadium satu, tidur stadium dua, tidur stadium tiga
dan tidur stadium empat; lalu diikuti oleh fase REM (Patlak, 2005). Fase NREM
dan REM terjadi secara bergantian sekitar 4-6 siklus dalam semalam (Potter &
Perry, 2005).
Pada fase tidur stadium seseorang akan mengalami tidur yang dangkal
dan dapat terbangun dengan mudah oleh karena suara atau gangguan lain. Selama
tahap pertama tidur, mata akan bergerak peralahan-lahan, dan aktivitas otot
melambat (Patlak, 2005).
Fase tidur stadium dua iasanya berlangsung selama 10 hingga 25
menit. Denyut jantung melambat dan suhu tubuh menurun (Smith & Segal, 2010).
Pada tahap ini didapatkan gerakan bola mata berhenti (Patlak, 2005).
Tidur stadium tiga lebih dalam dari tahap sebelumnya (Ganong, 2005).
Pada tahap ini individu sulit untuk dibangunkan, dan jika terbangun, individu
tersebut tidak dapat segera menyesuaikan diri dan sering merasa bingung selama
beberapa menit (Smith & Segal, 2010).
Tidur stadium empat merupakan tahap tidur yang paling dalam.
Gelombang otak sangat lambat. Aliran darah diarahkan jauh dari otak dan
menuju otot, untuk memulihkan energi fisik (Smith & Segal, 2010).
13
Tahap tiga dan empat dianggap sebagai tidur dalam atau deep sleep,
dan sangat restorative bagian dari tidur yang diperlukan untuk merasa cukup
istirahat dan energik di siang hari (Patlak, 2005). Fase tidur NREM ini biasanya
berlangsung antara 70 menit sampai 100 menit, setelah itu akan masuk ke fase
REM. Pada waktu REM jam pertama prosesnya berlangsung lebih cepat dan
menjadi lebih intens dan panjang saat menjelang pagi atau bangun (Japardi,
2002).
Selama tidur REM, mata bergerak cepat ke berbagai arah, walaupun
kelopak mata tetap tertutup. Pernafasan juga menjadi lebih cepat, tidak teratur,
dan dangkal. Denyut jantung dan nadi meningkat (Patlak, 2005).
C. Obstructive Sleep Apnea
1. Definisi
Untuk memahami OSA kita harus memahami beberapa definisi
terlebih dahulu. Apnea didefinisikan sebagai berhentinya aliran udara
selama sepuluh detik yang menghasilkan suatu rangsangan. Jika dinding
dada secara mekanis terus bergerak selama waktu itu, maka hal tersebut
merupakan apnea obstruktif. Jika dinding dada tidak berupaya untuk
ventilasi, maka diduga disebabkan oleh etiologi neurologis dan disebut
sebagai apnea sentral. Kadang-kadang terdapat karakteristik dari kedua
obstruktif tersebut dan ini disebut sebagai apnea campuran. Jumlah
kejadian apnea per jam disebut indeks apnea (Antariksa Budi, 2010).
14
Hypopnea adalah sebuah proses yang kurang terdefinisi
dengan baik, tetapi biasanya dianggap sebagai penurunan aliran udara
yang mengakibatkan hipoksemia dan mengakibatkan suatu rangsangan.
Jumlah hypopnea per jam disebut indeks hypopnea (Lalwani, 2006).
Secara fungsional, ada sedikit perbedaan antara kejadian apnea
dan hypopnea, dan jumlah ventilasi per jam disebut apnea-hypopnea index
(AHI). Hal ini juga disebut sebagai respiratory disturbance index (RDI).
Pada umumnya OSA mulai terjadi ketika nilai RDI > 5.
Keparahan OSA juga dikelompokkan dengan RDI, dengan kondisi ringan
5-20 RDI, Sedang 20-40 RDI, sedang-berat 40-60 RDI, dan berat > 60
RDI (Bailey, 2006).
Mendengkur adalah tanda pernapasan abnormal yang terjadi
akibat obstruksi sebagian sehingga aliran udara yang masuk akan
menggetarkan palatum molle dan jaringan lunak sekitarnya. Keadaan ini
dipermudah dengan relaksasi lidah, uvula dan otot di saluran napas bagian
atas. Obstruksi dapat terjadi sebagian (hipopnea) atau total (apnea)
(Cahyo, 2011).
2. Faktor Predisposisi
a. Terdapat tiga faktor risiko yang diketahui:
1). Umur: prevalens dan derajat OSA meningkat sesuai dengan
bertambahnya umur.
15
2). Jenis kelamin: Risiko laki-laki untuk menderita OSA
adalah 2 kali lebih tinggi dibandingkan perempuan sampai
menopause.
3). Ukuran dan bentuk jalan napas seperti untuk struktur
kraniofasial (palatum yang bercelah, retroposisi
mandibular), Micrognathia (rahang yang kecil),
Macroglossia (lidah yang besar), pembesaran
adenotonsillar dan trakea yang kecil (jalan napas yang
sempit).
b. Faktor risiko penyakit seperti kegagalan kontrol pernapasan yang
dihubungkan dengan:
1). Emfisema dan asma.
2). Penyakit neuromuscular (polio, myasthenia gravis, dll).
3). Obstruksi nasal.
4). Hypothyroid, akromegali, amyloidosis, paralisis pita suara,
sindroma postpolio, kelainan neuromuskular, Marfan's
syndrome dan Down syndrome.
c. Risiko gaya hidup:
1). Merokok
2). Obesitas: 30-60% pasien OSA adalah orang yang berbadan
gemuk.
16
3). Penurunan berat badan akan menurunkan gejala-gejala
OSA.
4). Penurunan berat badan akan mempermudah pasien diobati
dengan menggunakan nasal CPAP (Antariksa Budi, 2010).
3. Tanda dan Gejala
American Academy of Sleep Medicine (AASM)
mengkategorikan tanda dan gejala OSA menjadi beberapa bagian.
Penderita OSA harus memenuhi kriteria A atau B, serta kriteria C, yaitu:
A. Kantuk di siang hari yang berlebihan yang tidak lebih baik
dijelaskan oleh faktor lainnya.
B. Dua atau lebih hal berikut yang tidak lebih baik dijelaskan oleh
faktor lainnya: tersedak atau terengah engah saat tidur,
berulang terjaga dari tidur, tidur tidak segar, kelelahan siang
hari, gangguan konsentrasi.
C. Pemantauan satu malam menunjukkan lima atau lebih
peristiwa obstruktif pernapasan per jam selama tidur.
Gejala lain adalah mendengkur, terlihat apnea, susah tidur,
lekas marah / perubahan kepribadian, nokturia, penurunan libido. Gejala
dominan OSA adalah kantuk yang berlebihan, gangguan konsentrasi dan
mendengkur (Denis et al, 2011).
17
4. Patofisiologi
Farings adalah struktur yang sangat lentur. Pada saat inspirasi,
otot-otot dilator farings berkontraksi 50 mili-detik sebelum kontraksi otot
pernafasan sehingga lumen farings tidak kolaps akibat tekanan intrafarings
yang negative oleh karena kontraksi otot dinding dada dan diafragma.
Pada waktu tidur aktivitas otot dilator farings relatif tertekan (relaksasi)
sehingga ada kecenderungan lumen farings menyempit pada saat inspirasi.
Hal ini terjadi hanya pada sebagian orang, terutama berhubungan dengan
ukuran farings dan faktor-faktor yang mengurangi dimensi statik lumen
sehingga menjadi lebih sempit atau menutup pada waktu tidur
(Prasenohadi, 2010).
Ada tiga faktor yang berperan pada patogenesis OSA: Faktor
pertama adalah obstruksi saluran napas daerah farings akibat pendorongan
lidah dan palatum ke belakang yang dapat menyebabkan oklusi
nasofaringss dan orofaringss, yang menyebabkan terhentinya aliran udara,
meskipun pernapasan masih berlangsung pada saat tidur. Hal ini
menyebabkan apnea, asfiksia sampai periode arousal (Antariksa Budi,
2010).
Faktor kedua adalah ukuran lumen farings yang dibentuk oleh
otot dilator farings (m. pterigoid medial, m. tensor veli palatini, m.
genioglosus, m. geniohiod, dan 4 m. sternohioid) yang berfungsi menjaga
keseimbangan tekanan farings pada saat terjadinya tekanan negatif
18
intratorakal akibat kontraksi diafragma. Kelainan fungsi kontrol
neuromuskular pada otot dilator farings berperan terhadap kolapsnya
saluran napas. Defek kontrol ventilasi di otak menyebabkan kegagalan
atau terlambatnya refleks otot dilator farings, saat pasien mengalami
periode apneahipopnea.
Faktor ketiga adalah kelainan kraniofasial mulai dari hidung
sampai hipofarings yang dapat menyebabkan penyempitan pada saluran
napas atas. Kelainan daerah ini dapat menghasilkan tahanan yang tinggi.
Tahanan ini juga merupakan predisposisi kolapsnya saluran napas atas.
Kolaps nasofaringss ditemukan pada 81% dari 64 pasien OSA dan 75% di
antaranya memiliki lebih dari satu penyempitan saluran napas atas.
Periode apnea adalah terjadinya henti napas selama 10 detik
atau lebih. Periode hipopnea adalah terjadinya keadaan reduksi aliran
udara sebanyak lebih-kurang 30% selama 10 detik yang berhubungan
dengan penurunan saturasi oksigen darah sebesar 4%. Apnea terjadi
karena kolapsnya saluran napas atas secara total, sedangkan hipopnea
kolapsnya sebagian, namun jika terjadi secara terusmenerus dapat
menyebabkan apnea.
Suara mendengkur timbul akibat turbulensi aliran udara pada
saluran nafas atas akibat sumbatan. Tempat terjadinya sumbatan biasanya
di basis lidah atau palatum. Sumbatan terjadi akibat kegagalan otot-otot
dilator saluran nafas atas menstabilkan jalan nafas pada waktu tidur di
19
mana otot-otot farings berelaksasi, lidah dan palatum jatuh ke belakang
sehingga terjadi obstruksi (Lalwani, 2006).
Gambar 2. Obstruksi Jalan Nafas
Trauma pada jaringan di saluran nafas atas pada waktu
mendengkur mengakibatkan kerusakan pada serat-serat otot dan serabut-
serabut saraf perifer. Akibatnya kemampuan otot untuk menstabilkan
saluran nafas terganggu dan meningkatkan kecenderungan saluran nafas
untuk mengalami obstruksi. Obstruksi yang diperberat oleh edema karena
20
vibrasi yang terjadi pada waktu mendengkur dapat berperan pada
progresivitas mendengkur menjadi sleep apnea pada individu tertentu.
Obstructive Sleep Apnoea (OSA) ditandai dengan kolaps
berulang dari saluran nafas atas baik komplet atau parsial selama tidur.
Akibatnya aliran udara pernafasan berkurang (hipopnea) atau terhenti
(apnea) sehingga terjadi desaturasi oksigen (hipoksemia) dan penderita
berkali-kali terjaga (arousal). Kadang-kadang penderita benar-benar
terbangun pada saat apnea di mana mereka merasa tercekik. Lebih sering
penderita tidak sampai terbangun tetapi terjadi partial arousal yang
berulang, berakibat pada berkurangnya tidur dalam atau tidur gelombang
lambat. Keadaan ini menyebabkan penderita mengantuk pada siang hari,
kurang perhatian, konsentrasi dan ingatan terganggu. Kombinasi
hipoksemia dan partial arousal yang disertai dengan peningkatan aktivitas
adrenergik menyebabkan takikardi dan hipertensi sistemik. Banyak
penderita OSA tidak merasa mempunyai masalah dengan tidurnya dan
datang ke dokter hanya karena teman tidur mengeluhkan suara
mendengkur yang keras (fase preobstruktif) diselingi oleh keadaan senyap
yang lamanya bervariasi (fase apnea obstruktif) (Downy et al, 2012).
5. Diagnosis
Banyak penderita OSA tidak merasa mempunyai masalah
dengan tidurnya dan datang ke dokter hanya karena pasangannya
mengeluhkan suara mendengkur yang keras (fase pre-obstruktif) diselingi
21
oleh keadaan senyap yang lamanya bervariasi (fase apnea obstruktif).
Bahkan di negara-negara di mana OSA sudah dikenal luas, sejumlah besar
individu dengan gejala OSA tetap tidak terdiagnosis (Denis et al, 2011).
Diagnosis OSA dibuat berdasarkan gangguan nafas yang
ditemukan pada waktu tidur pada individu yang menunjukkan gejala
terutama mengantuk pada siang hari dan mendengkur.
Diagnosis OSA ditegakkan dengan melakukan anamnesis
mengenai pola tidur, pemeriksaan fisik, pemeriksaan radiologi dan
pemeriksaan penunjang khusus. Gabungan data yang akurat dari
anamnesis dan pemeriksaan fisik yang baik dapat mengarahkan kepada
indikasi untuk melakukan pemeriksaan baku emas OSA.
Kuisioner Epworth Sleepiness Scale (ESS) dan Standford
Sleepiness Scale (SSS) dapat digunakan untuk menanyakan keluhan yang
berhubungan dengan gejala OSA. Pada dasarnya, ESS digunakan untuk
menilai bagaimana kebiasan tidur dan rasa mengantuk pasien dalam
kegiatan sehari-hari, sedangkan SSS untuk mengetahui seberapa
mengantuknya pasien pada kegiatan tersebut (Antariksa Budi, 2010).
22
Table 1. Epworth sleepiness scale
Multiple sleep latency testing (MSLT) adalah pemeriksaan
yang bersifat objektif untuk mengevaluasi derajat beratnya rasa
mengantuk yang berlebihan di siang hari. Pemeriksa juga harus
menanyakan kepada pasien tentang pengalaman terbangun dari tidur
karena tersedak, mendengkur (dapat ditanyakan pada teman tidur) dan
bangun dari tidur dengan badan terasa tidak segar.
Hal-hal yang harus dinilai pada pemeriksaan fisik adalah
indeks massa tubuh (IMT), ukuran lingkar leher, keadaan rongga hidung
(deviasi septum, hipertrofi konka, polip, adenoid), perasat Mueller (untuk
menilai penyempitan veloorofaringss), penilaian Friedman tounge position
(modifikasi Mallampati), bentuk palatum mole, bentuk uvula, palatal
flutter, palatal floppy,ukuran tonsil dan penyempitan peritonsil lateral.
23
Populasi dewasa dengan IMT >30 kg/m2 memiliki prevalensi OSA >50%.
Perlu diketahui bahwa penilaian IMT dan lingkar leher tidak memiliki
predictive abilities pada wanita. Mendengkur memiliki positive predictive
value (PPV) 63% dan negative predictive value (NPV) 56% pada OSA
(Farokah, 2010).
Pemeriksaan Oksimetri pada saat tidur malam hari sebagai
skrining OSA, memiliki sensitivitas sebesar 31%. Kombinasi dari semua
faktor di atas dapat meningkatkan predictive abilities antara 60-70%.
Untuk memudahkan penilaian saluran napas atas, Friedman
membuat standar pemeriksaan daerah naso-velo-orofaringss. Ada empat
derajat Friedman tounge position. Pasien membuka mulut tanpa
mengeluarkan lidah, dilakukan observasi: derajat I, seluruh uvula
tervisualisasi; derajat II, uvula tervisualisasi tetapi tonsil tidak terlihat;
derajat III, palatum mole tervisualisasi, tetapi uvula tidak terlihat; derajat
IV, hanya palatum durum yang tervisualisasi. Pemeriksaan ini dapat
memprediksi ada tidaknya OSA (Farokah, 2010).
Pemeriksaan perasat Mueller yang dilakukan saat terjaga, dapat
mencerminkan keadaan mendengkur pasien OSA saat tidur dan dapat
digunakan untuk memprediksi keberhasilan dari operasi
uvulopalatopharyngealplasty (UPPP). Caranya adalah dalam posisi duduk,
dilakukan nasoendoskopi dan pasien diinstruksikan untuk melakukan
inspirasi kuat sambil menutup hidung dan mulut. Pada pemeriksaan ini
24
dilakukan penilaian luas saluran napas atas pada ruang retropalatal dan
retroglosal. Penyempitan pada ruang ini dapat terjadi anteroposterior,
laterolateral atau konsentrik (Cahyo, 2011).
Pemeriksaan sleep endoscopy digunakan untuk
memvisualisasikan obstruksi jalan napas saat pasien tidur. Ada lima
daerah yang perlu diperhatikan, yaitu: palatum mole, dinding farings
lateral, tonsil palatina, tonsil lingua/dasar lidah dan epiglotis. Derajat
obstruksi dibagi menjadi empat kategori. Simple palatal snoring, suara
mendengkur berasal dari getaran palatum mole, dinding sfingter
velofarings dan orofaringss bagian atas. Lateral wall collapse, penyebab
obstruksi berasal dari area orofaringss dan tonsil palatina. Tounge
base/epiglotis, fungsi sfingter velofarings baik, obstruksi terdapat pada
dasar lidah atau karena hipertrofi tonsil lingua. Epiglotis mungkin
memiliki kontribusi terhadap dengkuran. Multi segmental collapse,
tampak obstruksi pada beberapa tingkatan anatomi (Pasha, 2010).
Pemeriksaan Sefalometri dan foto polos saluran napas atas
dapat digunakan untuk mengevaluasi kelainan anatomi kraniofasial.
Komputer tomografi dan magnetic resonance imaging (MRI)
juga dapat memfasilitasi untuk memahami hubungan antara kelainan
anatomi kraniofasial dengan gangguan pernapasan.
Polisomnografi (PSG) adalah pemeriksaan baku emas untuk
menegakkan diagnosis OSA. PSG merupakan uji diagnostik
25
untukmengevaluasi gangguan tidur yang dilakukan pada malam hari di
laboratorium tidur, digunakan untuk membantu pemilihan terapi dan
evaluasi hasil terapi. Ada tiga sinyal utama yang dimonitor yaitu pertama,
sinyal untuk mengkonfirmasi keadaan stadium tidur seperti
elektroensefalogram (EEG), elektrookulogram (EOG) dan submental
elektromiogram (EMG). Sinyal kedua adalah sinyal yang berhubungan
dengan irama jantung, yaitu elektrokardiogram (ECG) dan sinyal ketiga
yang berhubungan dengan respirasi seperti airflow (nasal thermistor
technique), oksimetri, mendengkur, kapnografi, EMG interkostal, balon
manometri esofageal, thoraco-abdominal effort, nasal pressure transducer,
pneumotachography face mask dan kadar PCO2 (Lalwani, 2006).
Kategori beratnya apnea tidur berdasarkan AHI terdiri dari
apnea tidur ringan dengan AHI 5–15, saturasi oksigen 86% dan keluhan
ringan, apnea tidursedang dengan AHI 15–30, saturasi oksigen 80–85%
dan keluhan mengantuk dan sulit konsentrasi, apnea tidur berat dengan
AHI 30, saturasi oksigen kurang dari 80% dan gangguan tidur.
Seseorang dikatakan menderita OSA jika terdapat semua
kriteria berikut:
i. Keadaan mengantuk berat sepanjang hari yang tidak dapat
dijelaskan karena sebab lain.
26
ii. Dua atau lebih keadaan seperti tersedak sewaktu tidur, terbangun
beberapa kali ketika tidur, tidur yang tidak menyebabkan rasa
segar, perasaan lelah sepanjang hari dan gangguan konsentrasi.
iii. Hasil PSG menunjukkan AHI ≥ 5 (jumlah total apnea ditambah
terjadi hipopnea perjam selama tidur).
iv. Hasil PSG negatif untuk gangguan tidur lainnya.
6. Kategori OSA
American Academy of Sleep Medicine (AASM)
mengklasifikasi derajat beratnya OSA berdasarkan nilai Apnea-Hypopnea
Index (AHI) menggunakan polisomnografi, yaitu Ringan (AHI 5-15),
Sedang (AHI 15-30) dan Berat (AHI > 30).
Selain itu terdapat klasifikasi yang menghubungkan
Respiratory Disturbance Index (RDI) dengan berat ringannya hipoksemi
seperti berikut:
No. RDI SaO2 (%)
1. Mild 5-20 >85
2. Moderate 21-40 65-84
3. Severe >40 <65
27
7. Penatalaksanaan
a. Terapi Non – Bedah
Perubahan gaya hidup sangat berperan dalam
mengurangi beratnya gejala. Perubahan gaya hidup ini termasuk
penurunan berat badan, mengurangi konsumsi alkohol, khususnya
sebelum tidur dan tidur dengan posisi miring (dibandingkan
supine).
i. Mengurangi Obesitas
Pada pasien obesitas, penurunan berat badan
mutlak di lakukan. Dengan penurunan berat badan dapat
menyebabkan perbaikan OSA yang nyata. Penurunan berat
badan merupakan kunci keberhasilan terapi OSA pada
penderita dengan predisposisi obesitas. Pendekatan yang
dilakukan harus bertahap karena menurunkan berat badan
secara drastis tidak dianjurkan. Perlu kesabaran dan
perhatian tenaga kesehatan lebih banyak dalam yang
menangani pasien dengan obesitas. Cara ideal adalah
menurunkan berat badan secara perlahan dan konsisten, hal
ini memerlukan waktu lama. Selain memperbaiki diet pada
obesitas, hal yang perlu diperhatkan adalah penyakit lain
yang mungkin menyertainya seperti diabetes melitus atau
hipertensi. Oleh karena itu sambil
28
menunggu berat badan turun diperlukan pemasangan
CPAP. Nasal CPAP harus digunakan sampai mencapai
penurunan berat badan yang cukup. Peningkatan berat
badan akan memperburuk OSA dan penurunan berat badan
dapat menurunkan gejala OSA. Dalam hal penanganan
obesitas termasuk di dalamnya adalah modfikasi perilaku,
terapi diet, olah raga (exercise), dan obatobatan. Pada
pasien OSA yang berat dan memberi komplikasi yang
potensial mengancam hidup memerlukan perawatan di
rumah sakit (Antariksa Budi, 2010).
ii. Mengurangi Konsumsi dan Ketergantungan Alkohol
Kadar alkohol saat tidur (0,5-0,75 mL/kg) dapat
meningkatkan resistensi inspirasi selama stage 2 non-rapid
eye movement (nREM) tidur pada laki-laki muda normal.
Efek terhadap pusat respirasi bervariasi tergantung dari
metoda pengukuran yang digunakan. Tekanan oklusi
inspirasi yang diukur dengan menilai otot-otot inspirasi,
cenderung meningkat selama tidur setelah mengkonsumsi
alkohol. Namun demikian, respons ventilasi terhadap
hiperkapnia menurun pada banyak subjek dan respons
terhadap hipoksia isokapnik bervariasi, meningkat pada
29
sebagian subjek. Mendengkur kemungkinan terjadi karena
resistensi inspirasi yang tinggi selama tidur.
iii. Mengatur Posisi Tidur
Pilihan lain terapi non - bedah untuk
mendengkur dan OSA juga termasuk alat - alat pengatur
posisi tidur (positioning devices). Sudah diketahui bahwa
intensitas mendengkur akan berkurang bila penderita tidur
dalam posisi apapun selain posisi supine. Saat in terdapat
berbagai macam alat pengatur posisi tidur tetapi salah satu
yang cukup sering digunakan adalah sebuah kaos dimana
bagian punggungnya dijahit sebuah bola tennis. Bila kaos
ini digunakan penderita OSA maka dapat mencegah
penderita tersebut tidur dalam posisi terlentang (Bailey,
2006).
Nilai Apnea - Hyponea Index (AHI) pada pasien
dengan posisi tidur apneik dianalisis dengan tahapan tidur
(sleep stage) untuk menentukan apakah perbedaan posisi
mempengaruhi nREM. Perbedaan beratnya apnea dikaitkan
dengan posisi tidur didapatkan menetap pada REM
sehingga penanganan posisi tidur perlu dipertimbangkan
(Bailey, 2006).
30
iv. Continuous Positive Airway Pressure (CPAP)
Pemberian tekanan positif merupakan
tatalaksana yang efektif dalam menangani OSA diikuti
dengan trakeostomi. CPAP sampai saat ini merupakan
teknik yang paling banyak digunakan untuk memberikan
tekanan positif. Teknik ini noninvasif/nonfarmakologik,
dengan memberikan tekanan positif ke jalan napas atas
untuk mengatasi obstruksi atau kolaps yang terjadi.
Tekanan CPAP umumnya diatur secara manual dan
dititrasi selama polisomnogram, hingga didapatkan tekanan
yang tepat untuk mengatasi episode apneik dan hipopneik
pada semua tahap tidur dan posisi tubuh, mengurangi
fragmentasi tidur, snoring dan desaturasi oksigen, yang
pada akhirnya memperbaiki kehidupan sehari-hari.
AutoPAP (AutoPAP, Self-Titrating CPAP, AutoAdjust
CPAP) dapat dapat pula digunakan untuk mendapatkan
tekanan CPAP yang efektif (Bailey, 2006).
Keberhasilan setiap pemberian tekanan positif
terutama tergantung dari penerimaan pasien, yang dapat
ditingkatkan dengan edukasi, pemilihan masker yang tepat,
pemeriksaan teratur oleh dokter dan penyedia alat.
31
Pemberian pelembab hangat (heated humidifier) sangat
dianjurkan pada pasien yang mengalami :
1. Pasien dengan riwayat pemberian drying
medications
2. Riwayat pembedahan THT
3. Kongesti hidung kronik
CPAP fleksibel merupakan pilihan lain yang
dapat digunakan untuk menemperbaiki kepatuhan pasien
yang memiliki kesulitan dengan CPAP.
Penelitian retrospektif, bukan acak, menunjukan
bahwa angka kematian lebih tinggi pada pasien OSA yang
tidak menggunakan PAP dibandingkan yang menggunakan
PAP (Bailey, 2006).
Gambar 4. Continuous Positive Airway Pressure (Mayo Clinic, 2012)
32
v. Bilevel Positive Airway Pressure
Bi-level PAP merupakan suatu alat Bantu
resprasi noninvasif yang mengalirkan tekanan inspirasi
(IPAP) dan ekspirasi (EPAP) yang berbeda kepada pasien
yang bernapas spontan untuk menjaga jalan napas atas
tetap terbuka. Dengan mengalirkan tekanan rendah selama
fase ekspirasi, tekanan total yang ada di jalan napas
kemudian dapat diturunkan sehingga mendekati pernapasan
normal. Bi-level memiliki aliran tambahan untuk
mendapatkan ventilasi yang diingingkan pada pasien
dengan berbagai masalah respirasi dan telah digunakan
pada terapi OSA. Keuntungan metode ini adalah
menurunkan kerja pernapasan (work of breathing),
menurunkan rerata tekanan.
Karenanya bilevel dapat digunakan pada pasien
OSA yang tidak toleran terhadap CPAP atau AutoPAP.
Metode ini baik untuk pasien PPOK eksaserbasi berulang
atau PPOK berat atau sindroma hipoventilasi, terutama
yang menglamai hiperkapnia. Biarpun demikian pengunaan
bi-level sebagai terapi awal OSA tidak dianjurkan, karena
metoda ini tidak lebih baik dibandingkan CPAP. Kalaupun
33
digunakan, tekanan IPAP dan EPAP harus diatur secara
manual selama pemeriksaaan polisomnogram dan
kebanyakan pasien dapat CPAP ini jika titrasi bertulang
ternyata memperbaiki sleep-disordered breathing dengan
mengatur tekanan (Bailey, 2006).
vi. Oral Appliances
Oral appliances merupakan terapi alternatif
bagi pasien - pasien OSA yang tidak mau ataupun tidak
dapat menggunakan terapi CPAP atau terapi PAP yang
lain. Alat - alat yang memajukan mandibula merupakan
alat yang paling sering diteliti dan memberi hasil yang
paling efektif. Alat ini dipasang pada dentisi maxila dan
mandibula sehingga rahang bawah (dan lidah) akan
terdorong kedepan dan peningkatkan volume daerah
farings dan menurunkan instabilitas saluran pernafasan.
Hasil beberapa studi menunjukan bahwa
penggunaan alat - alat mandibular advancement dapat
menurunkan skor AHI dan rasa kantuk pada siang hari.
Alat - alat ini juga dapat menurunkan tekanan darah.
Beberapa keluhan pasien saat menggunakan alat - alat ini
adalah salivasi yang berlebihan, ketidaknyamanan sendi
temporomandibular, dan pergeseran letak gigi. Efek
34
samping jangka panjang alat - alat ini sampai saat ini belum
terdokumentasi. Walaupun kurang efektif dibandingkan
CPAP, alat - alat oral lebih disukai beberapa pasien
sehingga dapat meningkatkan ketaatan pasien dan memiliki
hasil yang cukup baik.
Alat intra oral yang lain termasuk alat penahan
lidah yang menggunakan tekanan penghisap untuk
menahan lidah pada posisi potrusi saat tidur. Alat ini
memiliki beberapa kelebihan bila dibandingkan dengan alat
- alat mandibular advancement tetapi belum diteliti lebih
lanjut.
Saat ini AASM merekomendasi penggunaan
alat - alat intraoral pada pasien - pasien yang mederita OSA
ringan sampai sedang yang merasa kurang nyaman
menggunakan CPAP.
Gambar 4. Oral Appliance
35
b. Terapi Bedah
Terapi pembedahan dapat menjadi pilihan terpenting
bahkan terbaik untuk penderita OSA. Sampai saat ini CPAP
maupun BiPAP nasal cukup efektif untuk mengatasi OSA tetapi
masih terdapat kekhawatiran mengenai ketaatan jangka panjang
pasien yang tidak melebihi 75%. Bagi pasien yang merasa kurang
nyaman menggunakan CPAP maupun BiPAP terutama untuk
jangka waktu yang panjang maka tindakan operatif untuk OSA
harus dipertimbangkan.
Saat mempertimbangkan terapi pembedahan untuk
penderita OSA, sangat penting untuk mengingat bahwa cukup
banyak penderita OSA mengalami penyempitan saluran pernafasan
karena kelainan anatomis mapuan pembesaran jaringan. Sering,
seorang pasien menderita hipertrofi tonsil yang dapat disembuhkan
dengan tonsilektomi. Selain itu, cukup sering penderita OSA juga
memiliki kelainan anatomi pada saluran pernafasan atas sehingga
tujuan operasi pada pasien seperti ini adalah untuk memperlancar
aliran nafas. Secara umum, pembesaran pada daerah retropalatal,
retrolingual atau bahkan dua-duanya dapat mempengaruhi airflow.
Tindakan operatif dapat melakukan modifikasi pada struktur
jaringan lunak dan juga pada tulang skeletal.
36
i. Pembedahan Palatal
Terdapat tiga tipe pembedahan palatal pada
penderita OSA yaitu, Uvulopalatopharyngoplasty (UPPP),
uvuolopalatoplasti, dan transpalatal advancement
pharyngoplasty.
Uvulopalatopharyngoplasty merupakan
tindakan pembedahan yang paling sering dilakukan pada
penderita OSA. Uvulopalatopharyngoplasty adalah
prosedur di mana jaringan dari bagian belakang rongga
mulut dan tenggorokan bagian atas dibuang. Selain itu
tonsil dan adenoid biasanya dibuang juga.
Kandidat pembedahan UPPP ideal memiliki
kolaps retropalatal yang terisolir dan menderita tingkat
apnea sedang. Tindakan ini cukup efektif untuk penderita
OSA yang merasa kurang nyaman menggunakan CPAP
maupun BiPAP untuk jangka waktu yang lama. Selain itu,
pasien – pasien OSA dengan refleks muntah kuat sebaiknya
dilakukan tindakan UPPP.
Beberapa kontraindikasi dilakukannya UPPP
termasuk insufisiensi velofaringseal, submucous cleft
palate, dan pasien-pasien dengan kelainan wicara atau
proses menelan. Komplikasi berhubungan dengan tindakan
37
UPPP termasuk perdarahan, insufisiensi velofaringseal,
perubahan suara, sensasi benda asing di faringss, stenosis
nasofaringsseal, respiratory distress hingga kematian.
Selain itu, karena UPPP dilakukan di kamar operasi dan
memerlukan rawat inap, biayanya lebih tinggi dibanding
prosedur UPPP.
Walaupun UPPP memiliki komplikasi yang
lebih banyak, lebih mahal dan memiliki efikasi sama
dengan prosedur uvulopalatoplasti, UPPP perlu dilakukan
pada beberapa pasien. Uvulopalatoplasty hanya dapat
dilakukan pada pasien-pasien yang memiliki kadar oksigen
mendekati normal berdasarkan polisomnografi.
Sher et al., telah mempublikasi sebuah review
komprehensif mengenai UPPP. Review tersebut
mengemukakan beberapa kesimpulan dan diantaranya
adalah angka keberhasialn UPPP adalah sebesar 41%.
Angka keberhasil tindakan UPPP juga tergantung beberapa
faktor lain seperti berat badan yang normal, hanya
menderita kolaps retropalatal, dan disertai atau tidak
dengan tonsilektomi.
38
Gambar 5. Uvulopalatopharyngoplasty (Won, 2008)
Uvulopalatoplasti merupakan tindakan rawat
jalan dimana tindakannya pada umumnya menggunakan
laser (LAUP). Selain itu, dapat dilakukan menggunakan
elektrokauter atau skalpel. LAUP biasanya memerlukan
beberapa sesi tetapi tindakan uvulopalatoplasti lain hanya
memerlukan satu tahap. Tindakan uvulopalatoplasti
melakukan perbaikan pada struktur soft palate dan uvula
akan tetapi UPPP dapat melakukan perbaikan pada
struktur-strukter ini ditambah dengan bangunan dinding
lateral faringss dan tonsil. Pada awalnya, tindakan
uvulopalatoplasti digunakan untuk penanganan snoring
tetapi sekarang cukup sering digunakan untuk menangani
OSA. Mickelson melaporkan terapi LAUP pada 13 pasien
memiliki response rate sebesar 53.8%. Walker et al.,
melakukan evaluasi terhadap 38 pasien OSA yang telah
39
diterapi dengan LAUP dan melaporkan response rate
sebesar 47.7%. Response diartikan sebagai penurunan RDI
post operatif lebih dari 50% pada masing-masing
penelitian. Bila ukuran keberhasilan post operatif adalah
kejadian RDI dibawah 20 kali per jam, pada penelitian
Walker angka keberhasil LAUP sebesar 65.8%. Sebagian
besar pasien yang menjalani LAUP menderita apnea ringan
sehingga RDI sebelum terapi biasanya dibawah 20 kejadian
per jam dimana angka tersebut juga digunakan untuk
mengukur angka keberhasilan. Menurut sebuah studi,
angka keberhasilan UPPP menurun seiring bertambahnya
umur pasien. Selain itu terdapat data bahwa UPPP dengan
tonsilektomi lebih efektif.
Evaluasi dan seleksi pasien sangat penting
untuk keberhasilan dan keamanan pasien yang akan
menjalani LAUP. LAUP Practice Parameters
menyarankan semua pasien dinilai secara efektif sebelum
terapi dan observasi post operatif sangat diperlukan. LAUP
dapat dilakukan sebagai sebuah terapi alternatif terhadap
UPPP bila hasil polisomnografi menunjukan kejadian RDI
kurang dari 20 kali per jam tidur dan bila saturasi oksigen
tidak kurang dari 85%. Bila kejadian apnea lebih berat dan
40
pasien lebih memilih menjalani LAUP dibanding UPPP
maka pasien tersebut harus menjalani terapi CPAP secara
rutin dengan titrasi polisomnografi terbaru. Kontraindikasi
LAUP adalah pada pasien yang memiliki refleks muntah
yang berlebihan, retrognathia mandibula dengan
makroglossia sedang, insufisiensi velofaringseal, kelainan
darah, atau submucous cleft palate. Komplikasi tindakan
ini termasuk perdarahan ringan, kandidiasis oral, dan
insufisiensi velofaringseal temporer.
Transpalatal advancement pharingoplasty
merupakan sebuah tindakan palatal advancement yang
dapat dilakukan bila UPPP tidak berhasil atau bersamaan
dengan UPPP. Pendektannya menggabungkan UPPP
konservatif dengan advancement palatum molle dan
mempertahankan palatum molle ke arah anterior. Woodson
dan Toohil pada tahun 1993 melaporkan sebanyak 11
pasien, enam di antaranya hanya menjalani tindakan
transpalatal advancement. Response rate yang diartikan
sebagai kurang dari 20 kejadian RDI setiap jam adalah
67% pada pasien-pasien yang hanya menjalani tindakan ini.
Komplikasinya termasuk fistula oronasal, nekrosis flap,
dan kesulitan penyembuhan luka (Bailey, 2006).
41
ii. Operasi Lidah
Berbagai macam tindakan telah dikembangkan
untuk menangani obstruksi pada level dasar lidah
(retrolingual space) termasuk tonsilektomi lingual, laser
midline glossectomy (LMG), lingualplasti, RFTA lidah dan
tongue base suspension suture. Laser midline glossectomy
dan lingualpasti sekarang cukup jarang dilakukan karena
tingkat morbiditas tindakan-tindakan ini. Saat ini RFTA
lidah dan tongue base suspension suture merupakan
tindakan yang paling sering dilakukan.
Ablasio radiofrekuensi jaringan lidah
merupakan tindakan yang kurang invasif dan dapat
dilakukan di kamar operasi maupun di poliklinik. Jarum
elektroda dimasukan kedalam otot lidah beberapa kali dan
dinyalakan. Sebagian besar pasien memerlukan beberapa
sesi untuk keberhasilan terapi ini. Li et al., melaporkan
hasil jangka panjang 18 pasien yang telah menjalani RFTA
lidah. Jumlah sesi perawatan rata-rata sekitar 5,5 per pasien
dan energi total rata-rata yang diberikan selama terapi
sebesar 8,500 J. Mereka menyimpulkan bahwa
keberhasilan awal yang terlihat dapat berkurang dengan
waktu, kekambuhan jangka panjang terutama terlihat pada
42
indeks Hypopnea, bukan indeks apnea atau skala kualitas
hidup. Komplikasi tindakan ini termasuk formasi abses,
sellulitis, hematoma, paralisis nervous hipoglossus dan
ulserasi mukosa.
Tongue base suspension suture merupakan
teknik invasif minimal yang telah dikembangkan untuk
menangani obstruksi pada retrolingual space. Sistem
Repose (INfluENT Inc. Herzalia, Israel) menggunakan
scrup titanium yang dipasang pada bagian dalam korteks
mandibula dan sebuah jahitan permanen dibuat pada bagian
posterior dasar lidah yang difiksasi secara anterior
mengelilingi skrup tersebut. Keuntungan pada teknik ini
adalah merupakan pendekatan dengan infasi minimal dan
reversible. Komplikasi pendekatan ini termasuk
sialadenitis, disfagia, disarthria, globus sensation dan
lepasnya jahitan (Bailey, 2006).
iii. Pendekatan Maksilomandibular
Prinsip operasi maksilomandibula pada OSA
adalah untuk memajukan tulang-tulang yang menopang
jaringan lunak yang mengalami kolaps saat tidur.
Ketidakberhasilan UPPP biasanya disebabkan oleh
obstruksi persisten pada daerah dasar lidah. Untuk
43
menangani obstruksi pada beberapa lokasi saluran
pernafasan, Riely et al., meneliti penggunaan pembedahan
maksilomandibula yang digabungkan dengan UPPP dan
menyarankan sebuah protokol operasi dua fase untuk
rekonstruksi saluran pernafasan bagian atas pada pasien
dengan OSA. Pasien-pasien yang telah menjalani protokol
ini memiliki angka keberhasilan sebesar 97% dan
merupakan nilai angka keberhasilan lebih tinggi bila
dibandingkan dengan CPAP. Laporan ini yang pertama kali
diterbitkan pada tahun 1992, menunjukkan bahwa
penggunaan protokol bedah logis dalam pengobatan pasien
dengan OSA menghasilkan keberhasilan jangka panjang.
Pembedahan Maxillomandibular terdiri atas
berbagai teknik untuk memajukan tulang kerangka
penopang lidah dan farings. Prosedur ini paling umum
dilakukan setelah prosedur yang lebih konservatif lainnya
telah gagal atau kurang memuaskan. Pada pasien yang
memiliki OSA berat dan defisiensi maxillomandibular,
operasi maksilofasial dapat dilakukan dikombinasikan
dengan prosedur jaringan lunak sebagai penanganan awal.
Pembedahan maxillomandibular termasuk pemajuan
mandibula dengan pemajuan genioglossus, myotomy dan
44
suspensi os hyoid , dan osteotomy maxillomandibular dan
pemajuan (MMO). Prosedur gabungan osteotomi
mandibula sagital inferior dan pemajuan genioglossal
dengan myotomy dan suspensi hyoid (GAHM) dengan atau
tanpa UPPP diklasifikasikan sebagai tahap I operasi. Jika
tahap I gagal, hal ini diikuti oleh fase II pembedahan 6
bulan atau lebih setelah menyelesaikan fase I. Tahap
pembedahan fase II terdiri dari MMO, yang juga dikenal
sebagai pemajuan bimaxillary (Bailey, 2006).
iv. Mandibular Osteotomy with Genioglossus Advancement
Sejumlah teknik telah dijelaskan untuk
memajukan mandibula. Tujuan dari prosedur ini adalah
untuk memperbesar dan menstabilkan saluran napas
retrolingual dengan memajukan penyisipan otot
genioglossus atau geniohyoid tanpa memindahkan seluruh
rahang atau gigi.
Osteotomi mandibular terbatas dengan
pemajuan genioglossus telah terbukti efektif dan dikaitkan
dengan morbiditas minimal. Teknik ini dilakukan dengan
membuat sebuah osteotomi bikortikal persegi panjang pada
daerah geniotubercle mandibula. Tulang persegi panjang
ini, termasuk geniotubercle, dimajukan secara anterior and
45
diputar 90 derajat. Prosedur ini memajukan penyisipan otot
Genioglossus 10 sampai 14 mm kearah anterior dan
meningkatkan ketegangan yang ditempatkan pada lidah.
Anterior mandibular osteotomy (AMO) saat ini lebih
disukai dari pada prosedur pemajuan genioglossus (Bailey,
2006).
Gambar 6. Mandibular Osteotomy with Genioglossus Advancement
(Won, 2008)
v. Hyoid Myotomy and Suspension
Miotomi dan suspensi os hyiod telah digunakan
bersamaan dengan teknik pemajuan mandibula untuk
memperbesar ruang saluran napas posterior. Prosedur ini
memajukan os hyoid kearah anterior sehingga memajukan
epiglotis serta dasar lidah. Awalnya, prosedur ini dilakukan
dengan menopang os hyoid ke atas dan anterior pada aspek
inferior mandibula. Berbagai teknik telah digunakan untuk
46
menstabilkan tulang hyoid, seperti jahitan permanen, fasia
lata, atau stainless-steel kawat. Pada tahun 1992, sebuah
teknik modifikasi di mana os hyoid ditopang pada tulang
rawan tiroid mulai diadopsi, dan hasilnya terlihat
menjanjikan.
Riley et al., melaporkan pada 55 pasien yang
menjalani osteotomi mandibula sagital rendah dan GAHM.
Dari 55 pasien, 49 menjalani UPPP dan GAHM, kemudian
enam pasien dianggap memiliki obstruksi hanya pada
tingkat retrolingual dan oleh karena itu menjalani GAHM
saja. Penelitian ini menunjukkan bahwa 65,3% dari pasien
merespon terhadap intervensi bedah. Definisi respon adalah
RDI bawah 20, pengurangan 50% atau lebih dari RDI
praoperasi, dan desaturasi oksigen [Link]
termasuk satu fraktur mandibula yang terkait dengan
infeksi luka, anestesi transien dari gigi seri, dan dua kasus
cedera permanen pada gigi seri (Bailey, 2006).
47
Gambar 7. Hyoid Myotomy and Suspension
vi. Maxillomandibular Osteotomy and Advancement
Maxillomandibular osteotomy and advancement
(MMO), juga disebut sebagai pembedahan bimaxillary,
merupakan alternatif untuk trakeostomi permanen pada
pasien yang telah dinyatakan gagal dengan alternatif
pembedahan secara konservatif. Secara umum, pasien yang
menjalani prosedur ini memiliki OSA berat dan obesitas
walaupun dan walaupun secara keseluruhan cukup sehat.
Tujuan dari prosedur ini adalah untuk memajukan maksila
dan mandible sejauh anterior mungkin. Prosedur ini
dibatasi oleh kemampuan untuk menstabilkan segmen dan
perubahan wajah estetika terkait dengan prosedur ini.
Prosedur ini adalah tahap II dari protokol bedah dijelaskan
48
oleh Riley dan rekan untuk memperbaiki OSA. Anestesi
Transient dari wajah dan aritmia jantung telah dilaporkan
sebagai komplikasi yang terkait dengan prosedur ini
(Bailey, 2006).
Gambar 8. Maxillomandibular Osteotomy and Advancement (Won,
2008)
vii. Trakeotomi
Sebuah tracheotomy permanen paling umum
dilakukan pada pasien dengan OSA berat yang tidak bisa
mentoleransi CPAP hidung dan telah gagal prosedur bedah
lainnya. Trakeotomi permanen sering dilakukan dengan
flap kulit leher dijahit ke fenestra trakea. Penutupan jenis
trakeotomi ini memerlukan proses pembedahan.
Trakeostomi pada pasien OSA cukup sulit
karena pasien sering memiliki kegemukan leher yang
signifikan, leher yang pendek, dan letak larings dan trakea
49
yang rendah. Indikasi untuk tracheostomy permanen
biasanya termasuk obesitas morbid, aritmia jantung yang
signifikan terkait dengan peristiwa apneic, apnea parah
dengan desaturation oksigen di bawah 40% sampai 50%
didokumentasikan pada polysomnography, cor pulmonale,
dan somnolen melumpuhkan. Tentu saja, hidung kegagalan
CPAP merupakan prasyarat pada semua pasien yang
prosedur ini dianjurkan. Tracheotomy mengurangi
morbiditas dan mortalitas yang terkait dengan OSA.
Sebagian besar pasien tercatat mengalami
penyembuhan signifikan pada keluhan somnolen berat,
aritmia kardiak, dan cor pulmonale. Terdapat perbaikan
pada hipertensi, pola tidur, dan kemampuan kerja harian
pada sebagian besar pasien. Komplikasi termasuk jaringan
granulasi stomal, infeksi, dan masalah psikososial yang
terkait dengan tracheotomy permanen. Kemajuan terbaru
pada pilihan tracheotomy cannulae untuk pasien dengan
trakeotomi permanen telah memungkinkan kenyamanan
pasien lebih dan telah menurunkan perawatan pemeliharaan
tinggi yang diperlukan oleh pasien dengan tracheotomy.
Tracheotomy Sebuah prosedur tetap menyelamatkan jiwa
dan diperlukan pada pasien tertentu yang memiliki apnea
parah (Bailey, 2006).
50
51
BAB III
KESIMPULAN
Obstructive Sleep Apnea (OSA) merupakan penyakit yang disebabkan
kolaps dan obstruksi saluran nafas atas yang terjadi saat tidur. Gejala yang
ditimbulkan oleh OSA adalah gejala nokturnal (mendengkur, apnea, rasa tercekik
yang membuat penderita terbangun, gelisah) dan gejala diurnal (perasaan tidak segar,
sakit kepala, kantuk yang berlebihan, kelelahan, iritabilitas, gangguan konsentrasi,
dan penurunan daya ingat).
Untuk mengetahui letak sumbatan pada saluran nafas atas dilakukan
pemeriksaan endoskopi serat optik pada hidung, nasofaring sampai hipofaring.
Penting sekali untuk mengetahui tempat terjadinya sumbatan guna menentukan
pilihan terapi bedah atau nonbedah yang tepat sesuai dengan derajat berat ringannya
OSA yang diketahui melalui pemeriksaan baku emas polisomnografi.
Pengetahuan mengenai mendengkur dan OSA ini perlu
disosialisasikan kepada dokter dan masyarakat awam karena terbukti merupakan
penyebab terjadinya penurunan kualitas hidup, meningkatkan risiko terjadinya
penyakit hipertensi, jantung koroner, stroke yang menyebabkan kematian mendadak.
52
BAB IV
DAFTAR PUSTAKA
1. Antariksa Budi. 2010. Pathogenesis, Diagnostik, dan Skrining OSA. Jakarta: FK
UI.
2. Bailey. 2006. Head & Neck Surgery – Otolaryngology. 4th Edition. Lippincott
Williams & Wilkins
3. Cahyono Ari. 2011. Hubungan Obstructive Sleep Apnea dengan Penyakit Sistem
Kardiovaskuler. Jakarta: FK UI – RS [Link] Mangunkusumo.
4. Denis Hadjiliadis et al. 2011. Obstructive Sleep Apnea. Division of Pulmonary,
Allergy and Critical Care, University of Pennsylvania, Philadelphia, PA.
5. Downy R., et al. 2012. Obstructive Sleep Apnea.
[Link]
6. Farokah. 2010. OSAS pada Kasus – kasus THT Anak. Semarang: SMF THT –
KL RSUP dr. Kariadi.
7. Febriani Debi, et al. 2011. Relationship Between OSA and Cardiovasculer.
Jakarta: FK UI – RS Harapan Kita.
8. Ganong. 2005. Review of Medical Physiology. A Lange Medical Book. McGraw
Hill. New York, USA
9. Guyton and Hall. 2011. Textbook of Medical Physiology. International Edition.
Saunders. Philadelphia, PA.
10. Lalwani AK. 2006. Current Diagnosis & Treatment in Otolaryngology—Head &
Neck Surgery. The McGraw-Hill Companies.
11. Pasha. 2010. Otolaryngology Head & Neck Surgery – Clinical Reference Guide.
Singular – Thomson Learning
12. Patlak. 2005. Your Guide to Healthy Sleep. National Institute of Health. US
Department of Health and Human Services.
13. Prasenohadi. 2010. Penatalaksanaan Obstructive Sleep Apnea. Jakarta: FK UI –
RS Persahabatan.
14. Potter & Perry. 2005. Fundamentals of Nursing. Elsevier. Australia.
15. Probst. 2004. Basic Otorhinolaryngology: A Step by Step Guide. Thieme.
Stuttgard, Germany
16. Smith & Segal. 2010. The Essential Guide to Health and Wellness. First Edition.
Simon & Schuster Inc. Australia.
17. Won. C. 2008. Surgical Treatment of Obstructive Sleep Apnea. Proc Am Thorac
Soc Vol 5. pp 193–199. Stanford
53