Laporan Praktikum
Laboratorium Teknik Material II
Modul E Anodisasi (Anodizing)
oleh:
Nama : M. Putra Perdana Makmur
NIM : 13715033
Kelompok :4
Anggota (NIM) : Faisal Tahir Rambe (13714011)
Cahyo Widiantoro (13715019)
M. Putra Perdana M. (13715033)
Aysha Rasheeda (13715050)
Dwiki Panji Kresna (13715053)
Yuswana Azizi (13715060)
Tanggal Praktikum : 31 Oktober 2017
Tanggal Penyerahan Laporan : 6 November 2017
Nama Asisten (NIM) : Jonathan Sebastian (13713002)
Laboratorium Metalurgi dan Teknik Material
Program Studi Teknik Material
Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara
Institut Teknologi Bandung
2017
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Industri dalam bidang manufaktur saat ini mengalami perkembangan yang
sangat pesat. Salah satu contohnya adalah dalam industri otomotif untuk
pembuatan alat-alat transportasi. Pabrik-pabrik otomotif dituntut untuk membuat
berbagai komponen mesin otomotif yang memiliki kekerasan serta ketahanan
terhadap aus yang tinggi. Namun, kebanyakan komponen tersebut memiliki
kelemahan, kelemahan itu terletak pada beratnya. Untuk itu, dalam mengatasi
kelemahan ini sebaiknya kita menggunakan logam Non-Ferro seperti Alumunium.
Logam Alumunium memiliki kekerasan dan ketahanan aus yang tinggi serta
bersifat ringan dibandingkan logam yang lainnya. Untuk meningkatkan kekerasan
dan ketahanan aus dari Alumunium, perlu ditambahkan lapisan oksida pada
Alumunium tersebut. Untuk menambahkan lapisan tersebut, maka kita mengenal
proses Anodisasi (Anodizing) pada Alumunium. Selain itu, Anodisasi dapat juga
meningkatkan sifat dekoratif pada Alumunium sehingga terlihat lebih menarik.
1.2 Tujuan Praktikum
1. Membandingkan keadaan fisik Alumunium hasil Anodizing+Dyeing,
Alumunium langsung Dyeing, dan Alumunium tanpa perlakuan apapun.
2.
BAB II
TEORI DASAR
2.1 Anodisasi (Anodizing)
Proses Anodisasi (Anodizing) adalah salah satu proses pelapisan logam
dengan menggunakan proses elektrokimia agar diperoleh lapisan oksida yang
stabil pada logam alumunium. Proses Anodisasi (Anodizing) ini dapat
meningkatkan kekerasan pada material dan dapat meningkatkan ketahanan
material terhadap korosi.
Berdasarkan tujuannya, proses Anodisasi (Anodizing) dapat dibedakan
menjadi dua macam, yaitu untuk keperluan pewarnaan dan untuk keperluan
pengerasan (Hard Anodizing) dengan kekerasan awal alumunium sekitar 40 VHN
menjadi 5 sampai 10 kali lebih tinggi.[1]
2.2 Macam-Macam Jenis Anodisasi (Anodizing)
Anodisasi (Anodizing) berdasarkan tujuannya dapat dibagi menjadi 2
macam, yaitu :
1. Anodisasi Pewarnaan
Anodisasi pewarnaan merupakan proses anodisasi untuk memberikan
warna kepada logam alumunium. Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk
meningkatkan sifat dekoratif dari alumunium sehingga terlihat lebih
menarik. Adapun proses pewarnaan dalam anodisasi disebut juga dengan
dyeing.
Gambar 2.1 (Proses Pewarnaan/Dyeing)
2. Anodisasi Pengerasan
Anodisasi pengerasan merupakan proses anodisasi untuk menambah nilai
kekerasan dari logam alumunium. Penambahan nilai kekerasan ini
disebabkan oleh terbentuknya lapisan oksida selama proses anodisasi.
Peningkatan nilai kekerasan ini juga diikuti oleh peningkatan ketahanan
material terhadap korosi dan keausan.[3]
Gambar 2.2 (Proses Pengerasan/Hard Anodizing)
2.3 Reaksi-Reaksi yang Terjadi Saat Anodisasi (Anodizing)
Reaksi-reaksi yang terjadi saat proses anodisasi antara lapisan metal/oxide
dan lapisan oxide/elektrolit adalah sebagai berikut :
1. Reaksi pada lapisan metal/oxide : 2Al + 3O2- Al2O3 + 6e-
2. Reaksi pada lapisan oxide/elektrolit : 2Al3+ + 3H2O Al2O3 + 6H+
3. Total reaksi yang terjadi pada anoda : 2Al 2Al3+ + 6e-
4. Total reaksi yang terjadi pada katoda : 6H+ + 6e- 3H2
5. Reaksi total yang terjadi selama anodisasi : 2Al + 3H2O Al2O3 + 3H2
6. Reaksi yang terjadi pada proses sealing: Al2O3+3H2O 2AlOOH*H2O
2.4 Skema Alat pada Proses Anodisasi (Anodizing)
Berikut adalah gambar skema alat-alat pada proses anodisasi (anodizing)
Gambar 2.3 (Proses Anodisasi)
2.5 Perbedaan antara Anodisasi (Anodizing) dan Electroplating[1]
No Anodisasi (Anodizing) Electroplating
1. Keterangan: Keterangan:
- Anoda (Benda Kerja/Al) - Anoda (Pb atau bahan pelapis)
- Katoda (Pb,Carbon,Platina) - Katoda (Benda Kerja)
2. Tidak ada pengendapan (No Ada pengendapan
Deposition) (electrodeposition)
2.6 Jenis-Jenis Pelapisan Logam yang Lain
Adapun metode yang lain dalam pelapisan logam adalah sebagai berikut :
1. Clading
Clading adalah metode pelapisan logam yang melibatkan sebuah pelapis
dari lembaran-lembaran logam yang diletakkan pada penggelinding.
Gambar 2.4 (Clading)
2. Hot Dip Galvanizing
Hot Dip Galvanizing adalah salah satu metode pelapisan logam dimana
logam pelapisnya yang berupa seng dipanaskan terlebih dahulu hingga mencair.
Kemudian logam yang akan dilapisi yang disebut juga dengan logam dasar
dicelupkan ke dalam bak galvanis yang telah berisi seng cair tadi,sehingga dalam
beberapa saat logam dasar akan terlapisi oleh lapisan paduan antara logam pelapis
(seng) dengan logam dasar.[4]
Gambar 2.5 (Hot Dip Galvanizing)
3. Flame Spraying
Flame spraying adalah salah satu metode pelapisan logam dimana biji
logam dipanasi dengan api atau dijadikan bubuk kemudian diluruhkan dengan api
sehingga mencair kemudian disemprotkan pada permukaan logam yang akan
dilapisi.[5]
Gambar 2.6 (Flame Spray)
BAB III
PROSEDUR PERCOBAAN
3.1 Prosedur Percobaan
Sampel pelat alumunium dicuci
(rinsing) dengan air dan detergen
Sampel dietsa selama 5 detik dengan
NaoH 12%
Lakukan proses anodisasi sekitar 45
menit dan perhatikan rapat arus yang
digunakan
Sampel diangkat lalu dilakukan proses
pewarnaan/dyeing selama 15 menit
Sampel di sealing selama 10 menit dan
dilakukan rinsing kembali
Pelat 1 : RinsingEtchingAnodizingDyeingSealing
Pelat 2 : RinsingEtchingDyeingSealing
Pelat 3 : Tanpa Perlakuan Apapun
BAB IV
DATA PERCOBAAN
4.1 Data Percobaan
Tabel 3.1 (Parameter Proses Anodisasi Tiap Pelat)
Parameter Pelat 1 Pelat 2 Pelat 3
Arus (Ampere) 1-1,5 1-1,5 -
Tegangan (Volt) 18,58 - -
Waktu Etsa 5 detik 5 detik -
Waktu Anodisasi 45 menit - -
Waktu Dyeing 15 menit 15 menit -
Waktu Sealing 10 menit 10 menit -
Waktu :
1. Etsa : 5 detik
2. Anodisasi : 45 menit
3. Dyeing : 15 menit
4. Sealing : 10 menit
Temperatur :
1. Temperatur Dyeing : 60 0C
2. Temperatur Sealing : 100 0C
Larutan Etsa : NaOH 12%
Elektrolit : Asam Oksalat 5%, Asam Sulfat 12%, Air
4.2 Hasil Penampilan Fisik Ketiga Pelat
Gambar 4.1 (Pelat 1)
Gambar 4.2 (Pelat 2)
Gambar 4.3 (Pelat 3)
Gambar 4.4 (Pelat 1,2 dan 3)
BAB V
ANALISIS DATA
Pada percobaan kali ini, kami melakukan percobaan anodisasi khususnya
pada proses anodisasi pewarnaan. Awalnya, terdapat 3 pelat alumunium yang
mempunyai keadaan yang sama. Lalu selanjutnya, Untuk pelat 1 diberikan
perlakuan berupa Anodisasi dan dyeing. Untuk pelat 2 diberikan perlakuan dyeing
langsung dan untuk pelat 3 tidak diberikan perlakuan apapun. Dari data di atas,
secara fisik kita dapat membandingkan keadaan dari ketiga plat tersebut.
Untuk pelat 1, alumunium yang awalnya di rinsing menggunakan
air+detergen, proses rinsing ini bertujuan untuk membersihkan permukaan
alumunium agar bebas dari kotoran-kotoran seperti debu atau lemak yang
menempel. Lalu setelah itu di etsa selama 5 detik dengan menggunakan NaOH
12%, kemudian plat dianodisasi menggunakan asam oksalat 5%, asam sulfat 12%
dan air selama 45 menit, selanjutnya di dyeing selama 15 menit dan terakhir di
lakukan proses sealing dengan air mendidih selama 10 menit. Untuk pelat 1, dapat
dilihat pada permukaannya memiliki warna yang merata serta homogen di seluruh
permukaan yang di dyeing bila dilihat secara kasat mata, Hal tersebut
menunjukkan bahwa plat alumunium yang dianodisasi akan memiliki tampak
dekoratif yang lebih baik dibandingkan dengan pelat 2 dan pelat 3. Hal itu bisa
terjadi karena pada pelat 1, saat dilakukan proses anodisasi, pada permukaan
alumunium akan terjadi reaksi oksidasi logam pada katoda dengan larutan
elektrolit dan dengan bantuan aliran listrik menghasilkan oksida logam yang
menghasilkan pori-pori yang besar pada permukaan alumunium. Pori-pori ini
nantinya berfungsi agar larutan pewarna pada proses dyeing mudah masuk ke
dalam permukaan alumunium. Dengan pori-pori tersebut, maka setelah proses
dyeing, warna alumunium tampak homogen di seluruh permukaan yang terkena
larutan pewarna. Selanjutnya, pada pelat 1 dilakukan proses sealing dengan
menggunakan air mendidih. Proses sealing ini berfungsi untuk menyumbat agar
pewarna yang telah masuk ke dalam pori-pori permukaan alumunium tadi tidak
keluar dan tetap tertahan di dalam pori. Adanya lapisan oksida dan warna pada
alumunium ini akan meningkatkan sifat dekoratif dan ketahanan terhadap korosi
dari alumunium.
Untuk pelat 2, alumunium awalnya di rinsing dengan air+detergen,
selanjutnya pelat di etsa selama 5 detik dengan menggunakan NaOH 12%, lalu
plat alumunium langsung di dyeing selama 15 menit dan selanjutnya proses
terakhir di sealing dengan menggunakan air mendidih. Untuk pelat 2, dapat dilihat
setelah proses dyeing, warna pada permukaan pelat alumunium tidak merata (tidak
homogen). Hal itu dikarenakan pada permukaan alumunium pelat 2 tidak
terbentuk pori-pori sehingga zat pewarna pada proses dyeing sulit meresap masuk
ke dalam permukaan alumunium. Sehingga akibatnya warna yang dihasilkan tidak
homogen di seluruh permukaan pelat 2 yang telah di dyeing.
Untuk pelat 3, alumunium tidak diberikan perlakuan apapun. Dapat dilihat
pada pelat 3 tidak terjadi reaksi atau fenomena apapun di permukaannya.
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1 Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diambil dari percobaan di atas adalah :
1. Pelat 1 yang telah di anodizing+dyeing memiliki warna permukaan yang lebih
homogen dan merata jika dibandingkan dengan pelat 2 yang memiliki warna
permukaan yang tidak merata dan kurang jelas karena lansung di dyeing.
Sedangkan untuk pelat 3 kita tidak menemukan fenomena apa-apa pada
permukaan pelat ini karena pelat ini tidak diberikan perlakuan apapun.
6.2 Saran
Saran pada praktikum ini adalah sebaiknya dilakukan juga pengamatan di
bawah mikroskop agar praktikan dapat juga melihat langsung struktur lapisan
oksida atau pori yang terbentuk selama proses anodisasi. Selain itu, mungkin bisa
juga dilakukan uji keras pada spesimen untuk membandingkan nilai kekerasan
spesimen sebelum dan sesudah proses anodisasi.
DAFTAR PUSTAKA
[1] Modul Praktikum MT 3103 Laboratorium Teknik Material 2
[2] ASM International 2002, Anodizing
[3] [Link] diakses pada 4
November (21.35)
[4] [Link]
hot-dip-galvanizing/ diakses pada 4 November (21.40
[5] [Link]
diakses pada 4 November (21.50)
LAMPIRAN A
TUGAS SETELAH PRAKTIKUM
1. Apakah semua material dapat dilakukan proses anodisasi ? Jelaskan
apasaja aplikasi dari proses anodisasi !
2. Apakah perbedaan dari surface treatment dengan surface hardening ?
3. Jelaskan kelebihan alumunium yang telah dianodisasi dibandingkan
dengan stainless steel?
JAWAB =
1. Tidak semua material dapat dilakukan proses anodisasi, adapun aplikasi
dari anodisasi adalah dapat diterapkan dalam industry otomotif, bagian
pesawat terbang, arsitektur, dan bagian komponen komputer.
2. -Surface treatment adalah perlakuan yang diberikaan pada permukaan
logam yang tidak merubah fasa dari permukaan logam tersebut dan
memiliki tujuan selain mengeraskan dapat juga meningkatkan sifat
dekoratif logam tersebut. Contoh surface treatment adalah anodisasi
(anidizing).
-Surface hardening adalah perlakuan yang diberikan pada permukaan
logam yang dapat merubah fasa dari permukaan logam tersebut. Surface
hardening ini memiliki tujuan utama adalah meningkatkan nilai kekerasan
dari logam tersebut. Contoh dari surface hardening adalah carburizing dan
nitriding.
3. Kelebihan alumunium yang telah dianodisasi daripada stainless steel
adalah alumunium lebih memiliki warna yang menarik dan logam
alumunium lebih mampu menyebarkan panas dari stainless steel jika
diaplikasikan pada peralatan di dapur. Selain itu, alumunium memiliki
berat yang ringan dibandingkan dengan stainless steel sehingga lebih
banyak digunakan untuk keperluan aircraft.
LAMPIRAN B
TUGAS TAMBAHAN
1. Jelaskan proses pembuatan alumunium foil dan kaitannya dengan
anodisasi!
2. Apa saja pewarna pada Alumunium dan ion apa yang berkaitan?
JAWAB =
1. Proses pembuatan Alumunium foil :
- Peleburan bahan mentah (raw material) yang terdiri dari batangan
alumunium dan scrap (produk cacat) di dalam tungku dengan temperature
8000C.
- Penambahan unsur paduan seperti Fe dan Si, kemudian dibersihkan
(skimming) dari kotoran berupa kerak dan debu.
- Masuk ke dalam holding furnace pada temperature 7500C lalu ke degasser
untuk pelepasan hydrogen dari kandungan alumunium.
- Setelah itu alumunium disaring dengan filter dari bahan keramik baru
masuk ke mesin casting dan berjalan kontinu.
- Alumunium yang sudah casting digulung dalam coil menjadi alumunium
strip. Fari situ di roll dalam mesin roughing mill sampai ketebalan tertentu
lalu di homogenizing.
- Kemudian di roll lagi untuk masuk tahap intermediate annealing.
Kemudian di roll lagi hingga ketebalan 65 μm lalu dipindahkan ke mesin
foil mill. Dalam mesin foil mill alumunium di roll sampai dengan
ketebalan 7 μm.
Hubungan proses pembuatan alumunium foil dengan proses
anodisasi pada umumnya tidak ada karena manfaat dari proses anodisasi
ini tidak diterapkan pada fungsi alumunium foil yang hanya sebagai
pembungkus makanan.
2. Pewarna pada alumunium memiliki banyak jenis dan banyak warna.
Pewarna yang digunakan bisa dari pewarna organik dan anorganik.
Tabel 6.1 (Warna dan Ion yang berkaitan)[2]
Ion Logam yang Berkaitan Warna
Iron oxide Emas
Copper Kuning
Chromium Hijau
Manganese Abu-abu
Silicon Hitam
Tin, Nickle,Cobalt Perunggu, Hitam