Materi Bab 7
A. Pengertian Iman kepada Rasul-Rasul Allah Swt.
Iman kepada rasul berarti meyakini bahwa rasul itu benar-benar utusan Allah Swt. yang
ditugaskan untuk membimbing umatnya ke jalan yang benar agar selamat di dunia dan
akhirat. Nabi Rasul Manusia pilihan yang diberi wahyu oleh Allah Swt. untuk dirinya sendiri
dan tidak mempunyai kewajiban untuk menyampaikan pada umatnya. Manusia pilihan Allah
Swt. yang diangkat sebagai utusan untuk menyampaikan firman-firman-Nya kepada umat
manusia agar dijadikan pedoman hidup.
Mengimani rasul-rasul Allah Swt. merupakan kewajiban hakiki bagi seorang muslim karena
merupakan bagian dari rukun iman yang tidak dapat ditinggalkan. Sebagai perwujudan
iman tersebut, kita wajib menerima ajaran yang dibawa rasul-rasul Allah Swt. tersebut.
Perintah beriman kepada rasul Allah Swt.
B. Sifat Rasul-Rasul Allah Swt. Rasul sebagai utusan Allah Swt. memiliki sifat-sifat yang
melekat pada dirinya. Sifat-sifat ini sebagai bentuk kebenaran seorang rasul. Sifat-sifat
tersebut adalah sifat wajib, sifat mustahil, dan sifat jaiz.
1. Sifat Wajib Sifat wajib artinya sifat yang pasti ada pada rasul. Tidak bisa disebut seorang
rasul jika tidak memiliki sifat-sifat ini. Sifat wajib ini ada 4, yaitu seperti berikut.
a. As-shidiq
As-shiddiq, yaitu rasul selalu benar. Apa yang dikatakan Nabi Ibrahim as. kepada
bapaknya adalah perkataan yang benar. Apa yang disembah oleh bapaknya adalah
sesuatu yang tidak memberi manfaat dan mudarat, jauhilah.
b. Al-Amanah
Al-Amanah, yaitu rasul selalu dapat dipercaya. Di saat kaum Nabi Nuh as. mendustakan
apa yang dibawa olehnya. Allah Swt. pun menegaskan bahwa Nuh as., adalah orang yang
terpercaya (amanah )
c. At-Tablig
At-Tablig, yaitu rasul selalu menyampaikan wahyu. Tidak ada satu pun ayat yang
disembunyikan Nabi Muhammad saw. dan tidak disampaikan kepada umatnya. Dalam
sebuah riwayat diceritakan bahwa Ali bin Abi Talib ditanya tentang wahyu yang tidak
terdapat dalam al-Qur’an, Ali pun menegaskan bahwa: “Demi Zat yang membelah biji dan
melepas napas, tiada yang disembunyikan kecuali pemahaman seseorang terhadap al-
Qur’an.”
d. Al-Fathonah
Al-Fathonah, yaitu rasul memiliki kecerdasan yang tinggi. Ketika terjadi perselisihan antara
kelompok kabilah di Mekah, setiap kelompok memaksakan kehen dak untuk meletakkan al-
Hajar alAswad (batu hitam) di atas Ka’bah. Rasulullah saw. lalu menengahi dengan cara
semua kelompok yang bersengketa agar memegang ujung kain yang dibawa nya.
Kemudian, Nabi meletak kan batu itu di tengahnya, dan mereka semua mengangkat hingga
sampai di atas Ka’bah. Sungguh cerdas Rasulullah saw.
2. Sifat Mustahil
Sifat mustahil adalah sifat yang tidak mungkin ada pada rasul. Sifat mustahil ini lawan dari
sifat wajib, yaitu seperti berikut
a. Al-Kizzibb
Al-Kizzib, yaitu mustahil rasul itu bohong atau dusta. Semua perkataan dan perbuatan rasul
tidak pernah bohong atau dusta.
b. Al-Khianah
Al-Khianah, yaitu mustahil rasul itu khianat. Semua yang diamanatkan kepadanya pasti
dilaksanakan.
c. Al-Kitman
Al-Kitman, yaitu mustahil rasul menyembunyikan kebenaran. Setiap firman yang ia terima
dari Allah Swt. pasti ia sampaikan kepada umatnya.
d. Al-Baladah
Al-Baladah yaitu mustahil rasul itu bodoh. Meskipun Rasulullah saw. tidak bisa membaca
dan menulis (ummi) tetapi ia pandai.
3. Sifat Jais
Selain rasul memiliki sifat wajib dan juga lawannya, yaitu sifat mustahil, rasul juga memiliki
sifat jaiz. Akan tetapi sifat jaiz rasul dengan sifat jaiz Allah Swt. sangat berbeda. Rasul juga
memiliki sifat-sifat yang tidak terdapat pada selain rasul, yaitu seperti berikut:
1. Ishmaturrasµl adalah orang yang ma’shum, terlindung dari dosa dan salah dalam
kemampuan pemahaman agama, ketaatan, dan menyampaikan wahyu Allah Swt. Oleh
karena itu, seorang Rasul selalu siaga dalam menghadapi tantangan dan tugas apa pun
2. Iltizamurrasµl adalah orang-orang yang selalu komitmen dengan apa pun yang mereka
ajarkan. Mereka bekerja dan berdakwah sesuai dengan arahan dan perintah Allah Swt.
meskipun untuk menjalankan perintah Allah Swt. harus berhadapan dengan tantangan-
tantangan yang berat baik dari dalam diri pribadinya maupun dari para musuhnya. Rasul
tidak pernah sejengkal pun menghindar atau mundur dari perintah Allah Swt.
C. Tugas Rasul-Rasul Allah Swt.
Para rasul dipilih oleh Allah Swt. dengan mengemban tugas yang tidak ringan. Di antara
tugas-tugas rasul itu sebagai berikut:
1. Menyampaikan risalah dari Allah Swt
2. Mengajak kepada tauhid, yaitu mengajak umatnya untuk meng-esa-kan Allah Swt. dan
menjauhi perilaku musyrik (menyekutukan Allah)
3. Memberi kabar gembira kepada orang mukmin dan memberi peringatan kepada orang
kafir
4. Menunjukkan jalan yang lurus
5. Membersihkan dan menyucikan jiwa manusia serta mengajarkan kepada mereka kitab
dan hikmah. 6. Sebagai hujjah bagi manusia.
D. Hikmah Beriman kepada Rasul-Rasul Allah Swt.
Pentingnya orang Islam beriman kepada rasul bukan tanpa alasan. Selain karena
diperintahkan oleh Allah Swt., juga ada manfaat dan hikmah yang dapat diambil dari
beriman kepada rasul. Di antara manfaat dan hikmah beriman kepada rasul sebagai berikut
1. Makin sempurna imannya
2. Terdorong untuk menjadikan contoh dalam hidupnya
3. Terdorong untuk melakukan perilaku sosial yang baik
4. Memiliki teladan dalam hidupnya.
5. Mencintai para rasul dengan cara mengikuti dan mengamalkan ajarannya
6. Mengetahui hakikat dirinya bahwa ia diciptakan Allah Swt. untuk mengabdi kepada-Nya.
Perilaku mulia yang dicerminkan oleh orang yang beriman kepada rasul seperti
berikut:
1. Menjunjung tinggi risalah (ajaran Allah Swt. yang disampaikan rasul-Nya).
2. Melaksanakan seruannya untuk beribadah hanya kepada Allah Swt
3. Giat dan rajin bekerja mencari rezeki yang halal, sesuai dengan keahliannya. Orang-
orang yang beriman kepada rasul tidak akan menjadi orang-orang yang malas bekerja,
duduk berpangku tangan, tidak mau berusaha sehingga hidupnya menjadi beban orang
lain. Mereka menyadari bahwa memenuhi kebutuhan diri sendiri jauh lebih terhormat
daripada karena belas kasihan dan pertolongan orang lain.
4. Selalu mengingat, memahami, dan berperilaku sesuai dengan tuntunan Rasulullah saw.
5. Melakukan usaha-usaha agar kualitas hidupnya meningkat ke derajat yang lebih tinggi.
Usaha-usaha itu, misalnya seperti berikut:
a. Memelihara dan meningkatkan iman dan takwa kepada Allah Swt
b. Memelihara dan meningkatkan kesehatan jasmani dan rohani
c. Meningkatkan ilmu pengetahuan yang bermanfaat. Misalnya, ilmu pengetahuan tentang
pertanian, perikanan, peternakan, teknologi, kedokteran, perdagangan, industri,
transportasi, dan ekonomi. Ilmu-ilmu pengetahuan tersebut hendaknya digunakan sebagai
bekal dalam beribadah dan usaha menyejahterakan umat manusia.
6. Terus berdakwah agar ajaran yang dibawa rasul tidak sirna.