i
UNIVERSITAS INDONESIA
ANGKA TAHAN HIDUP PASIEN KANKER PARU
KELOMPOK BUKAN SEL KECIL NONSKUAMOSA YANG
MENDAPAT TERAPI TARGET EPIDERMAL GROWTH
FACTOR RECEPTOR-TYROSIN KINASE INHIBITOR DAN
YANG MENDAPAT KEMOTERAPI LINI PERTAMA
DI RUMAH SAKIT PERSAHABATAN
TESIS
KASUM SUPRIADI
1106755935
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS INDONESIA
PROGRAM STUDI PULMONOLOGI DAN ILMU KEDOKTERAN RESPIRASI
JAKARTA
DESEMBER 2014
Universitas Indonesia
Angka tahan..., Kasum Supriadi, FK UI, 2014
ii
UNIVERSITAS INDONESIA
ANGKA TAHAN HIDUP PASIEN KANKER PARU
KELOMPOK BUKAN SEL KECIL NONSKUAMOSA YANG
MENDAPAT TERAPI TARGET EPIDERMAL GROWTH
FACTOR RECEPTOR-TYROSIN KINASE INHIBITOR DAN
YANG MENDAPAT KEMOTERAPI LINI PERTAMA
DI RUMAH SAKIT PERSAHABATAN
TESIS
Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
DOKTER SPESIALIS I
ILMU PENYAKIT PARU
KASUM SUPRIADI
1106755935
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS INDONESIA
PROGRAM STUDI PULMONOLOGI DAN ILMU KEDOKTERAN RESPIRASI
JAKARTA
DESEMBER 2014
Universitas Indonesia
Angka tahan..., Kasum Supriadi, FK UI, 2014
iii
Universitas Indonesia
Angka tahan..., Kasum Supriadi, FK UI, 2014
iv
Penelitian ini dikerjakan di:
Departemen Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
Jakarta
Kepala Departemen : Dr. Budhi Antariksa, Ph.D, Sp.P(K)
Pembimbing I : Dr. Achmad Hudoyo, Sp.P(K)
Pembimbing II : Dr. Sita Laksmi Andarini, Ph.D, Sp.P(K)
PENELITIAN INI MILIK:
DEPARTEMEN PULMONOLOGI DAN ILMU KEDOKTERAN RESPIRASI
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS INDONESIA
Universitas Indonesia
Angka tahan..., Kasum Supriadi, FK UI, 2014
v
Universitas Indonesia
Angka tahan..., Kasum Supriadi, FK UI, 2014
vi
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah
mencurahkan cinta dan kasihNya sehingga penulis dapat menyelesaikan dengan
baik salah satu persyaratan akhir pendidikan keahlian di Departemen Pulmonologi
dan Ilmu Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa keberhasilan penulis menyelesaikan
pendidikan dan penyusunan tesis ini berkat karunia Allah yang Maha Esa dan
tidak terlepas dari bimbingan, bantuan dan pengarahan berbagai pihak terutama
guru-guru yang penulis hormati, para teman sejawat, paramedis dan nonmedis
serta keluarga. Pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih
dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada yang terhormat:
Dr. Achmad Hudoyo, Sp.P(K)
Sebagai pembimbing utama penelitian ini di Departemen Pulmonologi dan
Ilmu Kedokteran Respirasi FKUI. Beliau telah banyak meluangkan waktu
memberikan bimbingan dan konsultasi mulai pembuatan proposal penelitian,
pelaksanaan penelitian hingga penulisan hasil penelitian. Beliau dengan
kesabarannya senantiasa memberikan semangat, dorongan dan meluangkan waktu
untuk memberikan saran mengenai pelaksanaan penelitian sehingga penulis dapat
menyelesaikan penelitian ini. Beliau telah banyak memberikan bimbingan,
pengarahan, semangat dan penuh perhatian serta selalu bersedia menjadi tempat
mengadu dan memohon dukungan serta membesarkan hati penulis baik dalam
bidang akademik atau non akademik.
[Link] Laksmi Andarini, PhD, Sp.P(K)
Sebagai pembimbing kedua penelitian ini yang telah banyak meluangkan
waktu memberikan bimbingan dan konsultasi terutama saat persiapan proposal
penelitian. Beliau dengan sabar di sela-sela waktunya yang sangat padat
memberikan pengarahan bagaimana melakukan penelitian yang baik dan sesuai
kaidah, bagaimana menulis tesis yang baik dan bagaimana membuat kesimpulan
dari penelitian yang telah dilakukan.
Universitas Indonesia
Angka tahan..., Kasum Supriadi, FK UI, 2014
vii
Dr. Budi Antariksa PhD, Sp P (K)
Ketua Departemen Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi
FKUI/SMF Paru RS Persahabatan. Beliau telah banyak memberikan bimbingan
dan pengarahan, petunjuk dan pengetahuan khususnya di bidang imunologi saat
penulis mulai mengikuti pendidikan ini.
Dr. Prasenohadi PhD SpP (K)
Ketua Program Studi PPDS I Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi
FKUI. Beliau yang telah banyak membantu, membuka wawasan penulis serta
membekali ilmu pengetahuan, keterampilan dan ketelitian terutama dalam hal
pemeriksaan fisis yang bermanfaat sebagai ahli paru. Beliau senantiasa tidak jemu
memberikan bantuan, semangat dan dorongan kepada penulis untuk berkarya dan
menyelesaikan pendidikan.
Dr. Sita Laksmi Andarini, PhD, Sp.P(K)
Sebagai Sekretaris Program Studi Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran
Respirasi FKUI dan pembimbing tesis kedua beliau telah banyak memberikan
bimbingan, pengarahan, masukan, perhatian dan selalu bersedia memberikan
nasihat maupun dukungan di sela-sela kesibukannya sehingga penulis dapat
menyelesaikan tesis ini.
Prof. Dr. Hadiarto Mangunnegoro, Sp.P(K)
Guru Besar pendidikan Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi
FKUI. Beliau telah banyak memberikan bimbingan, pengarahan, petunjuk serta
pengetahuan saat penulis mulai mengikuti pendidikan ini. Beliau pertama kali
membuka pandangan dan wawasan tentang keahlian bidang Pulmonologi dan
Ilmu Kedokteran Respirasi.
Universitas Indonesia
Angka tahan..., Kasum Supriadi, FK UI, 2014
viii
Prof. Dr. Anwar Jusuf, Sp.P(K)
Guru Besar pendidikan Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi
FKUI. Beliau seorang guru yang memiliki dedikasi tinggi dalam pendidikan,
selalu menanamkan disiplin, ketelitian, berperilaku baik, pola berpikir praktis,
logis dan berdasarkan konsep serta selalu memberikan keteladanan yang akhirnya
menghasilkan perubahan perilaku sebagai salah satu ukuran keberhasilan
pendidikan.
Prof. Dr. Nirwan Arief, Sp.P(K)
Guru Besar pendidikan Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi
FKUI. Beliau telah banyak memberikan bimbingan, pengarahan, semangat,
petunjuk dan pengetahuan saat penulis mulai mengikuti pendidikan ini.
Bimbingan dan pengarahan khusus di bidang bronkoskopi dan tindakan intervensi
lainnya memberikan suatu keahlian dan kepercayaan diri yang tinggi pada penulis
kelak sebagai ahli paru.
Prof. Dr. Tjandra Tjandra Yoga Aditama, Sp.P(K), MARS, DTMH & H,
DTCE
Guru besar pendidikan Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi
FKUI. Beliau telah banyak membuka wawasan penulis dibidang ilmu
pengetahuan, keterampilan serta memberikan dorongan, semangat dan inspirasi
untuk berkiprah lebih luas di bidang kedokteran dan pelayanan kesehatan
masyarakat.
Prof. Dr. Faisal Yunus, Ph.D, Sp.P(K)
Guru Besar pendidikan Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi
FKUI. Beliau yang pertama kali memberikan kepercayaan pada penulis untuk
Universitas Indonesia
Angka tahan..., Kasum Supriadi, FK UI, 2014
ix
mengikuti pendidikan spesialis paru, mendidik dan membuka wawasan sebagai
ahli di bidang pulmonologi. Beliau senantiasa tidak jemu menanamkan disiplin,
ketelitian dan berpikir ilmiah serta selalu memberikan bantuan, semangat dan
dorongan kepada penulis untuk berkarya dan menyelesaikan pendidikan.
Prof. Dr. Menaldi Rasmin, Sp.P(K)
Guru Besar pendidikan Pulmonologi FKUI. Beliau telah banyak
memberikan bimbingan, pengarahan, semangat, petunjuk dan pengetahuan saat
penulis mulai mengikuti pendidikan ini. Beliau merupakan role model bagi
penulis mudah – mudahan penulis dapat mengikuti jejak dan sikap
profesionalitasnya sebagai seorang pendidik.
Penghargaan dan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya penulis
sampaikan kepada staf pengajar Dr. M. Arifin Nawas, Sp.P(K), MARS, [Link]
Swidarmoko, Sp.P(K), Dr. Mukhtar Ikhsan, Sp.P(K), MARS, Dr. Sardikin
Giriputro, Sp.P(K), MARS, Dr. Fachrial Harahap, Sp.P(K), Dr. Erlina Burhan,
MSc, Sp.P(K), Dr. Ratnawati, MHC, Sp.P, Ph.D, DR. dr. Wahju
Aniwidyaningsih, Sp.P(K), Dr. Agus Dwi Susanto Sp.P, Dr. Fathyah Isbaniah,
Sp.P, MpdKed (K), Dr. Dicky Soehardiman, Sp.P (K), Dr. Heidy Agustin, Sp.P
(K), Dr. Feni Fitriani Taufik, Sp.P, MpdKed, Dr. Diah Handayani Sp.P (K), Dr.
Jamal Zaini, Ph.D, Sp.P (K), Dr. Triya Damayanti [Link].D, Dr. Fahmi Alatas
Sp.P dan Dr. Andika C Putra Sp.P (K) atas segala bimbingan dan pengarahan
yang sangat berguna selama penulis mengikuti pendidikan di Departen
Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi FKUI
Penulis sampaikan juga terima kasih dan penghargaan atas kesempatan,
bimbingan dan bantuan selama penulis mengikuti pendidikan keahlian kepada
yang terhormat :
1. Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
2. Direktur RS Persahabatan Jakarta
3. Ketua Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI/RSUPNCM Jakarta
Universitas Indonesia
Angka tahan..., Kasum Supriadi, FK UI, 2014
x
4. Ketua Departemen Kardiologi dan Kedokteran Vaskular FKUI/PJNHK
Jakarta
5. Ketua Departemen Ilmu Penyakit Dalam RSPAD Gatot Soebroto Jakarta
6. Ketua Departemen Anestesi dan Terapi Intensif FKUI/RSUPNCM Jakarta
7. Kepala Instalasi Gawat Darurat RS Persahabatan Jakarta
8. Kepala Instalasi Perawatan Intensif RS Persahabatan Jakarta
9. Kepala Departemen Anestesi dan Perawatan Intensif PJNHK Jakarta
10. Kepala Departemen Anestesi dan Perawatan Intensif RSPAD Gatot
Subroto Jakarta
11. Kepala Sub Bagian Bedah Toraks RS Persahabatan Jakarta
12. Kepala SMF Radiologi RS Persahabatan Jakarta
13. Kepala Departemen Radiologi FKUI/RSUPNCM Jakarta
14. Kepala SMF Mikrobiologi dan Patologi Klinik RS Persahabatan Jakarta
15. Kepala unit Rehabilitasi Medik RS Persahabatan
16. Kepala unit Radioterapi RS Persahabatan
Beserta seluruh staf paramedis yang tidak mungkin penulis sebut satu
persatu. Penulis mengucapkan terima kasih atas kesempatan dan bimbingan yang
telah diberikan kepada penulis untuk belajar dan menimba pengalaman disemua
tempat tersebut.
Terima kasih penulis sampaikan kepada pimpinan, seluruh paramedis dan
staf di Poliklinik paru, poliklinik asma/PPOK, bangsal Soka Atas, Soka Bawah,
Anggrek Bawah RS Persahabatan dan seluruh karyawan administrasi Departemen
Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi FKUI: Apong Sulaeman, Siti
Maimunah, Hafiza Baraja, Suwondo, Paidjo Wonosemito, Sunarti, Sri Lestari
Irawan, Sri Wahyuni, Zaenal Abidin, Syahril, Syam Ali Reza dan Abdul Malik
atas kerjasamanya selama penulis menjalani pendidikan spesialis. Terima kasih
yang dalam kepada [Link] Agustin, Sp.P (K) yang telah memberikan bantuan
untuk terlaksananya penelitian dan penulisan tesis ini. Ucapan terima kasih dan
penghargaan yang setinggi-tingginya penulis sampaikan pula kepada pasien dan
keluarga pasien yang telah bersedia mengikuti penelitian ini.
Universitas Indonesia
Angka tahan..., Kasum Supriadi, FK UI, 2014
xi
Tak lupa juga penulis sampaikan rasa terima kasih untuk rekan-rekan
peserta PPDS Pulmonologi atas kerjasama, kekompakan, dukungan dan perhatian
terhadap penulis selama menempuh pendidikan ini khususnya kepada angkatan
Januari 2011 kepada Dr. Wiendo syah putra yahya, Dr. Efriadi Ismail, Dr. Herman
Suryatama, Dr. Gatut Priyo Nugroho, Dr. Dwi Handoko, Dr. Nila Kartika, Dr.
Naindra Kemala, Dr. Nurfanida Librianti, Dr. Nurnina Rosrita, Dr. Bulkis Natsir,
Dr Rineta Afgarani, Dr. Astri Indah Prameswari, Dr. Dita Kurnia sanie, Dr Taruli
Laura dan Dr Neuza OVT Lopez kenangan indah yang penulis rasakan selama
menempuh pendidikan ini, hal tersebut tak akan terlupakan sampai akhir hayat
penulis dan semoga persaudaraan ini akan tetap berlangsung selamanya dan kita
semua dapat meraih keberhasilan di tempat tugas masing-masing.
Rasa hormat dan terima kasih yang tiada terhingga penulis sampaikan
kepada orang tua H. Maman Mansyur dan Hj. Diah serta Drs.H. Winarno Msi
dan Hj. Euis Suryani dan yang telah membesarkan, mendidik, mencurahkan kasih
sayang dan memberikan dorongan serta doa yang tiada hentinya. Kepada Dr.H.
Dudung Latief Sp.P,FCCP dan (alm) Hj walis serta (alm) H. Adul Kaifan yang
menjadi inspiratif penulis dalam mengambil spesialisasi bidang ini. Terimakasih
juga saya haturkan kepada istri tercinta Dr. Fitriana Titis Perdini atas segala rasa
sayang, kesabaran dan keikhlasan yang luar biasa mengizinkan penulis kembali
melanjutkan pendidikan, memberikan semangat, dukungan, motivasi dan doa
yang tiada putusnya. Begitu pula kepada kedua permata hatiku, Fariz Marcho Joan
dan Kevin Adlizia Sakti yang merupakan harta paling berharga dan tak ternilai,
cahaya mata, penyejuk hati sekaligus sumber semangat dan inspirasi yang
senantiasa memberikan energi untuk mampu menyelesaikan penelitian dan
pendidikan ini.
Akhirnya dengan segala kerendahan hati dan mengingat keterbatasan dalam
pengetahuan dan kemampuan, penulis menyadari bahwa tesis ini masih jauh dari
sempurna. Untuk itu segala masukan dan perbaikan terhadap tesis ini sangat
penulis harapkan. Pada kesempatan ini penulis menyampaikan permohonan maaf
yang tulus kepada semua pihak atas segala kekhilafan dan kesalahan yang telah
dilakukan selama penulis mengikuti pendidikan. Semoga ilmu yang penulis
dapatkan dapat berguna bagi sesama, agama, bangsa dan negara serta semoga
Universitas Indonesia
Angka tahan..., Kasum Supriadi, FK UI, 2014
xii
Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang selalu melimpahkan rahmat dan
karunia-Nya kepada kita semua. Amin Ya Rabbal alamin.
Jakarta, 07 November 2014
Penulis
Universitas Indonesia
Angka tahan..., Kasum Supriadi, FK UI, 2014
xiii
ABSTRAK
Nama : Kasum Supriadi
Program Studi : Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi
Judul : Angka tahan hidup pasien kangker paru kelompok bukan sel
kecil non skuamosa yang mendapat terapi target Epidermal
Growth Factor Receptor-Tyrosin Kinase Inhibitor dan yang
mendapat Kemoterapi lini pertama di Rumah sakit Persahabatan
Pendahuluan. Kanker paru jenis karsinoma bukan sel kecil (KPKBSK) terdiri
dari nonskuamosa dan skuamosa. Kanker paru jenis karsinoma bukan sel kecil
nonskuamosa adalah adenokarsinoma dan karsinoma sel besar. Saat ini terapi
kanker paru sangat berkembang dari agen kemoterapi sampai terapi target
terutama EGFR-TKI. Penelitian ini bertujuan untuk menilai angka tahan hidup
pasien KPKSBK nonskuamosa yang mendapat kemoterapi lini pertama
dibandingkan terapi EGFR-TKI di RSUP Persahabatan.
Metode. Penelitian ini adalah penelitian retrospektif antara tahun 2010 sampai
2013 dari rekam medis pasien KPKBSK non skumosa yang mendapatkan
kemoterapi lini pertama dan EGFR-TKI. Pasien dikemoterapi dengan platinum
baseddan EGFR-TKI diterapi gefitinib 1x250 mg/hari atau erlotinib 1x150
mg/hari. Angka tahan hidup dinilai dari mulai tegak diagnosis sampai pasien
meninggal atau saat penelitian dihentikan.
Hasil. Dari 96 sampel KPKBSK non skuamosa terdiri dari 48 pasien yang
mendapat kemoterapi lini pertama dan 48 pasien yang diterapi EGFR-TKI.
Berdasarkan karakteristik pasien, usia terbanyak adalah 40-60 tahun (kemoterapi
32 (66,7%) dan EGFR-TKI 31 (64,6%) dengan jenis kelamin laki-laki yang
mendominasi (kemoterapi 25(52,1%), EGFR-TKI 27 (56,2%). Pasien merokok
yang mendapat kemoterapi lini pertama 41,7% dan EGFR-TKI 56,3% dengan IB
terbanyak untuk kemoterapi (IB ringan 27,1%) dan untuk EGFR-TKI (IB sedang
22,9%). Jenis histologi adenokarsinoma 95,8% dengan dominasi stage IV 89,6%
(kemoterapi 91,7% dan EGFR-TKI 87,5%) disertai tampilan status 2 59,4%.
Angka tahan hidup pasien (ATH) 6 bulan 74%, ATH 1 tahun 22,90% dan ATH 2
tahun 6,20%. Masa tengah tahan hidup (MTTH) pasien yang mendapat EGFR-
TKI lebih lama sedikit dibandingkan yang mendapat kemoterapi lini pertama (263
hari versus 260 hari.
Kesimpulan. Masa tahan hidup 1 tahun pasien KPKBSK non skuamosa yang
diterapi EGFR-TKI sedikit lebih lama dibandingkan kemoterapi lini pertama (263
hari vs 260 hari). Sedangkan ATH 1 tahun pasien kemoterapi lini pertama lebih
besar dibandingkan EGFR-TKI (25% vs 20,8%). Faktor yang paling
mempengaruhi angka tahan hidup adalah stage dengan nilai p<0,05.
Kata kunci:
KPKBSK, non skuamosa, kemoterapi, EGFR-TKI
Universitas Indonesia
Angka tahan..., Kasum Supriadi, FK UI, 2014
xiv
ABSTRAK
Name : Kasum Supriadi
Study Programe : Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi
Title : The survival rate of nonsquamous by non small cell lung
carcinoma patiens who are given by target therapy epidermal
growth facttor receptor-tyrosin kinase inhibitors and those given
by first-line kemotheraphy treatment at Persahabatan hospital.
Introduction. Lung cancer is the type of non-small cell carcinoma (NSCLC)
consists of non-squamous and squamous. Non-small cell lung cancer of non
squamous types consist of adenocarcinoma and large cell carcinoma. Currently,
lung cancer therapy is highly developed of chemotherapeutic agents to targeted
therapy especially EGFR-TKI. This study aims to assess the survival rate of
NSCLC patients of non-squamous type who receive first line chemotherapy and
those who recieve EGFR-TKI therapy at Persahabatan hospital.
Methods. This study is a retrospective study between 2010 to 2013 from the
medical records of NSCLC patients of non-squmous type who receive first-line
chemotherapy and thise who recieve [Link] with platinum-based
chemotherapy and EGFR-TKI with gefitinib therapy 1x250 mg/day or erlotinib
1x150mg/day. Survival rate assessed from start to erect the diagnosis until the
patient dies or when the study is discontinued.
Result. From 96 subject of NSCLC patients with non-squamous type consisted of
48 patients who receive first-line chemotherapy, and 48 patients are treate with
EGFR-TKI. Based on the characteristics of the patients, most are 40-60 years old
(chemotherapy 32 (66.7%) and EGFR-TKI 31 (64.6%) with the male gender that
dominates (chemotherapy 25 (52.1%), EGFR-TKI 27 (56.2%). Smoking patients
who received first-line chemotherapy are 41.7% and 56.3% of EGFR-TKIs with
chemotherapy highest IB (mild IB 27.1%) and for EGFR-TKI (moderate IB are
22.9%). 95.8% of adenocarcinoma histology type with a predominance of stage
IV 89.6% (91.7% for chemotherapy and EGFR-TKI 87.5%) with performance
status 2 59.4% . Survival rate of patients are 74% for 6 months survival, 1 year
survival rate is 22.90% and 2 years survival rate of 6.20%. Median period of
survival rate in patients who receiving EGFR-TKI longer than they received first-
line chemotherapy (263 days versus 260 days).
Conclusion. Median survival rate of non-squamous NSCLC that treated by
EGFR-TKI is longer than first-line chemotherapy (263 days vs 260 days).
Although 1 year survival rate first-line chemotherapy in patients is greater than
EGFR-TKI (25% vs 20.8%). The factors that most influence the survival rate is
stages with p value<0.05.
Keywords:
KPKBSK, non-squamous, chemotherapy, EGFR-TKI
Universitas Indonesia
Angka tahan..., Kasum Supriadi, FK UI, 2014
xv
Universitas Indonesia
Angka tahan..., Kasum Supriadi, FK UI, 2014
xvi
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ………………………………………………………. i
HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS …………………………. iv
LEMBAR PENGESAHAN ……………………………………………….. v
LEMBAR PERSETUJUAN ………………………………………………. vi
KATA PENGANTAR …………………………………………………….. vii
LEMBAR PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH ……………. xiv
ABSTRAK …...……………………..……………………………………... xv
DAFTAR ISI ………………………………………………….……………. xvii
DAFTAR TABEL .………………………………………………………… xviii
DAFTAR GAMBAR ……………………………………………………… xix
DAFTAR LAMPIRAN …………………………………………………….. xix
1. PENDAHULUAN ………………………………………...…………. 1
1
1.1. Latar Belakang ………………………………………….………...
3
1.2. Rumusan Masalah ………………………………………………...
3
1.3. Tujuan Penelitian …………………………………………………
4
1.4. Manfaat Penelitian ………………………………………………..
5
2. TINJAUAN PUSTAKA …………………………………………......
15
3. METODOLOGI PENELITIAN …………………….………………
15
3.1 Desain Penelitian ……......………………………………………
15
3.2 Lokasi penelitian ……………………………………………......
15
3.3 Waktu penelitian …………………………..……………….........
15
3.4 Pengupulan data ………..……………………………..................
15
3.5 Sampel penelitian ………..…………………………………….....
15
3.6 Sampel penelitian …………..………………………………….....
16
3.7 Kriteria penelitian …………..……………………………...........
16
3.8 Teknik pengambilan sampel ..……………………………………
16
3.9. Besar sampel ……….……………………………………………
17
3.10. Kerangka konsep ………………………………………………...
17
3.11. Batasan Operasional …………….……………………………....
20
3.12. Bahan dan Cara kerja …………………………………………...
3.13. Alur Penelitian …………………………………………..............
21
30
4. HASIL PENELITIAN ……………………………………………….
38
5. PEMBAHASAN ……………………………………………………...
6. KESIMPULAN DAN SARAN ………………………………………
39
DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………………..
42
LAMPIRAN ……………………………………………………………….
Universitas Indonesia
Angka tahan..., Kasum Supriadi, FK UI, 2014
xvii
DAFTAR TABEL
Tabel 1.1 Regimen kemoterapi lini pertama KPKBSK …...………….. 6
Karakteristik pasien KPKBSK Nonskuamosa yang mendapat
Tabel 2.1 Kemoterapi lini I dan Terapi EGFR-TKi …….....…….......... 23
Distribusi Pasien KPKBSK Nonskuamosa yang mendapat
Tabel 2.2 EGFR-TKi dan yang mendapat kemoterapi lini I di RSUP
Persahabatan periode Januari 2010 sampai Desember 2013 24
Tabel 2.3 ……………………
Angka tahan hidup berdasarkan karakteristik pasien KPKBSK 25
Tabel 2.4 non skuamosa di RSUP Persahabatan ………………….........
Angka tahan hidup pasien KPKBSK non skuamosa di RSUP
Persahabatan periode Januari 2010 sampai Desember 26
Tabel 2.5 2013……………………………...............................................
Analisis bivariat dengan regresi Cox pasien KPKBSK Non
skuamosa yang mendapat kemoterapi lini pertama dan terapi
EGFR-TKi di RSUP Persahabatan periode Januari 2010 29
Tabel 4.6 sampai Desember 2013……...................................................... 30
Analisis multivariat dengan regresi cox model interaksi ..........
Universitas Indonesia
Angka tahan..., Kasum Supriadi, FK UI, 2014
xviii
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1 Sebaran ekson EGFR berhubungan dengan respons klinis
pemberian EGFR-TKI …………………................................ 9
Gambar 2 Ketahanan hidup dengan gefitinib sebagai paliatif ……........... 10
Gambar 3 Progression Free Survival kelompok gefitinib dan kelompok
karboplatin paklitaksel …………….......................................... 12
Gambar 4 Kerangka Konsep …………………………………………….. 17
Gambar 5 Bagan alur penelitian …………………………......................... 20
Gambar 6 Kurva Kaplan –Meier seluruh pasien KPKBSK Non
skuamosa di RSUP Persahabatan yang mendapat kemoterapi
lini pertama dan EGFR-TKI periode Januari 2010 sampai
Desember 2013 .......................................................................... 25
Gambar 7 Angka tahan hidup pasien KPKBSK Non Skuamosa yang
mendapatkan kemoterapi lini I dan yang mendapat EGFR-TKI
lini I di RSUP Persahabatan ………………………….............. 26
Gambar 8 Kurva Kaplan Meier berdasarkan faktor prediktor perempuan
yang tidak merokok dengan perempuan dan laki-laki
merokok pasien KPKBSK Non skumosa di RSUP
Persahabatan Jakarta periode Januari 2010 sampai Desember
2013............................................................................. ..............
27
Kurva Kaplan Meier berdasarkan staging pasien KPKBSK
Gambar 9
non skumosa yang mendapatkan kemoterapi lini I dan yang
mendapat EGFR-TKI lini I di RSUP Persahabatan periode
Januari 2010-Desember 2013………………………................
28
Universitas Indonesia
Angka tahan..., Kasum Supriadi, FK UI, 2014
xix
DAFTAR LAMPIRAN
Rencana kegiatan dan anggaran penelitian …………………………………. 42
Informasi penelitian .......................................................................................... 43
Pernyataan persetujuan setelah penjelasan …………………………………. 44
Dummy tabel .................................................................................................... 45
Keterangan lolos kaji etik pelitian …………………………………………… 49
Data subyek penelitian ……………………………………......……………… 50
Universitas Indonesia
Angka tahan..., Kasum Supriadi, FK UI, 2014
1
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1. LATAR BELAKANG
Kanker paru merupakan penyakit pertumbuhan sel jaringan paru yang tak
terkontrol. Pertumbuhan ini dapat menyebar kejaringan sekitarnya serta
kejaringan paru yang bersebelahan. Sebahgian besar kanker paru berupa
karsinoma paru yang berasal dari sel epitel.1 Selama 20 tahun terakhir sejumlah
percobaan telah dilakukan guna mengurangi angka kematian pada penderita
kanker paru pengunaan terapi pembedahan, radioterapi, kombinasi kemoterapi
ataupun kombinasi seluruhnya namun perbaikan kelangsungan hidup masih
kecil. Kanker paru menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi di Amerika
Serikat pada tahun 2014 dengan estimasi 28% pada laki-laki dan 26% pada
perempuan dari seluruh kasus kanker. Kanker Paru Karsinoma Bukan Sel Kecil
(KPKBSK) mewakili kira-kira 80% total keganasan pulmoner dan sebagian besar
pasien KPKBSK ini datang sudah dalam stadium lanjut dan prognosisnya buruk.1
Data karakteristik kanker paru yang didapat dari Indonesian Association for the
Study of Lung Cancer (InASLC) menunjukan kasus pada laki-laki lebih dominan
dibandingkan perempuan. Insidens kanker paru meningkat pada usia lebih 60
tahun dan lebih banyak pada tingkat lanjut.2 Penyebab kematian tertinggi dirumah
sakit kanker Dharmais Jakarta tahun 2008 menduduki urutan ketiga setelah kanker
payudara dan kanker leher rahim.
Kanker paru menjadi penyebab kematian utama akibat keganasan pada
laki – laki dan perempuan yaitu sebesar 31% dan 27% . Angka kematiaan akibat
kanker paru diseluruh dunia mencapai kurang lebih satu juta penduduk setiap
tahunnya. Buruknya prognosis kanker paru disebabkan oleh banyak faktor
terutama oleh perjalanan penyakit yang telah lanjut pada saat diagnosis dapat
ditegakan, data dari RS Persahabatan menunjukan bahwa pasien yang telah
1
terdiagnosis kanker paru rata–rata telah berada di stadium IIIB dan IV. Data
pasien kanker paru yang terdiagnosis di stadium awal (I, II dan IIIA) dan telah
Angka tahan..., Kasum Supriadi, FK UI, 2014
21
dilakukan tindakan pembedahan di RS Persahabatan tahun 2010 kurang dari 10
orang.
Terdapat dua jenis utama kanker paru yaitu kanker paru jenis sel kecil
sekitar 20% dan kanker paru kelompok bukan sel kecil (KPKBSK) sekitar 80%,
kelompok kanker paru ini antara lain jenis adenokarsinoma, karsinoma sel
skuamosa dan karsinoma sel besar. Jenis kanker paru adenokarsinoma merupakan
kelompok KPKBSK yang paling banyak di dunia.2 Penelitian epidemiologi WHO
menunjukan prevalens adenokarsinoma paru sekitar 40% dari seluruh KPKBSK.
Insidens adenokarsinoma paru semakin meningkat di Asia dan Amerika Utara
terutama pada perempuan, usia muda dan laki-laki yang bukan perokok.
Adenokarsinoma paru di Amerika Serikat mencapai 31%-54% pada pasien kanker
paru laki-laki yang bukan perokok dibandingkan 25%-33% pasien kanker paru
laki-laki yang perokok. Adenokarsinoma paru mencapai 49%-74% pada pasien
kanker paru perempuan yang bukan perokok dan 33%-43% pasien kanker paru
perempuan yang perokok.3,4 Data RS Persahabatan tahun 2004-2006 menunjukan
pasien adenokarsinoma paru merupakan jenis kanker paru yang paling banyak
ditemukan sebesar 56,3%.1
Banyak perkembangan bermakna dalam terapi sistemik, radiasi onkologi
serta teknik pembedahan namun pasien kanker masih belum sepenuhnya dapat
diobati. Agen kemoterapi konvensional bekerja menghambat sel kanker secara
tidak spesifik sehingga menimbulkan toksisiti tidak hanya bagi sel kanker namun
juga bagi sel normal. Banyak agen sitotoksik mempunyai batas terapi yang sempit
sehingga cenderung memberi efek samping yang lebih besar dibandingkan
[Link] yang mengarah jalur spesifik yang menghentikan pertumbuhan
kanker dapat mengurangi toksisitas bagi sel normal sehingga meningkatkan
tolerabilitas. Paradigma terapi telah bergeser menjadi lebih rasional ke arah terapi
target dengan penemuan obat anti kanker yang baru. Terapi target menyerang
elemen sel kanker yang penting untuk pertumbuhan ataupun ketahanan hidup
serta mencegah efek samping berat karena pemberian sitotoksik konvensional.
Dua agen terapi target yang bekerja menghambat jalur sinyal Epidermal growth
factor receptor dan Tyrosin kinase inhibitor (EGFR-TKI) seperti gefitinib serta
erlotinib dan antibodi monoklonal seperti cetuximab telah mulai digunakan dan
Universitas Indonesia
Angka tahan..., Kasum Supriadi, FK UI, 2014
22
menjadi contoh pergeseran paradigma terapi.3 Perkembangan terapi target yang
dapat menghambat reseptor tirosin kinase serta pemaparan mutasi gen EGFR
menjadi peluang untuk lebih mengembangkan penatalaksanaan KPKBSK dengan
pendekatan secara personal.
Di Indonesia penatalaksanaan KPKBSK jenis adenokarsinoma dengan
menggunakan target terapi sejak tahun 2012 mulai mendapat sinyal yang positif
dari pemerintah yaitu para peserta ASKES (asuransi kesehatan) yang mengalami
sakit tumor paru jenis adenokarsinoma dengan pemeriksaan EGFR positip biaya
pelayanan penggunaan salah satu obat terapi target yaitu gefitinib ditanggung
penuh. Penelitian ini mencoba mengetahui perbandingan angka tahan hidup
pasien KPKBSK non skuamosa yang mendapat EGFR-TKI di rumah sakit
Persahabatan Jakarta dan yang mendapat kemoterapi lini pertama.
1.2. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang permasalahan di atas, maka dapat ditetapkan masalah
atau pertanyaan penelitian yaitu bagaimana angka tahan hidup pasien kanker paru
kelompok bukan sel kecil non skuamosa yang mendapat terapi target epidermal
growth factor receptor-tyrosin kinase inhibitor dan yang mendapat kemoterapi
lini pertama dan apakah terdapat perbedaan makna diantara keduanya?
[Link] PENELITIAN
1.3.1 Tujuan Umum
Mengetahui angka tahan hidup pasien KPKBSK nonskuamosa yang
mendapatkan terapi target EGFR-TKI dan yang mendapatkan
kemoterapi lini pertama.
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Mendapatkan angka tahan hidup 1 tahun paien KPKBSK yang diterapi
EGFR -TKI (gefitinib dan erlotinib).
2. Mendapatkan angka tahan hidup 1 tahun pasien KPKBSK non skuamosa
yang diterapi kemoterapi lini pertama (karboplatin dan etoposide,
karboplatin dan paklitaksel, karboplatin dan gemsitabin).
Universitas Indonesia
Angka tahan..., Kasum Supriadi, FK UI, 2014
23
3. Mengetahui karakteristik sosio demografis (umur, jenis kelamin, riwayat
merokok) pasien hidup pasien KPKBSK non skuamosa hubungannya
dengan angka tahan hidup 1 tahun.
1.4. MANFAAT PENELITIAN
1.4.1 Untuk Peneliti
1. Menambah pengetahuan dan meningkatkan kompetensi mengenai cara
berpikir ilmiah dan membuat penelitian ilmiah.
2. Memberikan pengetahuan mengenai angka tahan hidup 1 tahun pasien
pasien KPKBSK non skuamosa yang mendapat terapi target EGFR-
TKI (gefitinib dan erlotinib) dan yang mendapat kemoterapi lini pertama.
3. Mengetahui efikasi terapi target EGFR-TKI dan kemoterapi lini pertama
pada pasien pasien KPKBSK nonskuamosa.
1.4.2 Untuk Pasien
Mempertimbangkan pemilihan terapi target EGFR-TKI (gefitinib dan
erlotinib) pada pasien kanker paru kelompok bukan sel kecil
nonskuamosa.
1.4.3 Untuk Institusi
1. Mengetahui angka keberhasilan terapi target pada pasien dengan diagnosis
pasien kanker paru kelompok bukan sel kecil nonskuamosa yang di
berikan terapi target EGFR-TKI (gefitinib dan erlotinib) dengan
kemoterapi lini pertama hubungan dengan angka tahun hidup 1 tahun.
2. Sebagai data dasar untuk penelitian selanjutnya.
Universitas Indonesia
Angka tahan..., Kasum Supriadi, FK UI, 2014
24
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 KEMOTERAPI KPKBSK
Kemoterapi merupakan pilihan utama untuk KPKBSK dan diberikan
sebagai terapi paliatif pada stage lanjut. Tujuan pemberian kemoterapi paliatif
ialah mengurangi gejala yang diakibatkan oleh perkembangan sel kanker sehingga
dapat meningkatkan kualitas hidup dan angka tahan hidup pasien. Penelitian
Marlina (2010) tentang efikasi dan toksisiti regimen kemoterapi berbasis sisplatin
pada 35 pasien KPKBSK menunjukkan angka tahan hidup 1 tahun 5,2%, toksisiti
hematologi yaitu anemia (81%) dan toksisiti nonhematologi yaitu alopesia (100%)
dan mual, muntah (100%). Penelitian Syahruddin dkk (2010) tentang pemberian
regimen karboplatin dan paklitaksel terhadap 30 pasien adenokarsinoma paru
stage lanjut menunjukkan angka tahan hidup 1 tahun 30%, waktu untuk menjadi
progresif (time to progression) 4,2 bulan (95% CI, 2,9-5,4 bulan) dan toksisiti
hematologi dan nonhematologi pada umumnya ringan.1
Tabel 1.1 Regimen kemoterapi lini pertama KPKBSK
Regimen Keterangan
Etoposide dan sisplatin/karboplatin Siklus 3 mingguan
Paklitaksel dan sisplatin/karboplatin Siklus 3 mingguan
Gemsitabin dan sisplatin/karboplatin Siklus 3 mingguan
Dosetaksel dan sisplatin/karboplatin Siklus 3 mingguan
Vinorelbin dan sisplatin/karboplatin Siklus 3 mingguan
CAP II (sisplatin, adriamisin, Siklus 28 hari
siklofosfamid) Siklus 3 mingguan
PE (sisplatin/karboplatin dan etoposid)
Sumber: modifikasi daftar referensi no (1)
Pedoman diagnosis KPKBSK tahun 2011 yang dibuat oleh Perhimpunan
Dokter Paru Indonesia (PDPI) merekomendasikan pemberian regimen
Universitas Indonesia
Angka tahan..., Kasum Supriadi, FK UI, 2014
25
kemoterapi berbasis platinum dengan obat- obatan kemoterapi (paklitaksel,
gemsitabin dan dosetaksel) sebagai modaliti terapi lini pertama. Evaluasi
dilakukan setelah 3 siklus kemoterapi. Pemberian regimen kemoterapi diberikan
berturut-turut 4-6 siklus dengan masa tenggang antara satu siklus ke siklus
berikutnya 21-28 hari tergantung kepada jenis obat yang digunakan. Panduan
regimen kemoterapi untuk KPKBSK berdasarkan pedoman PDPI 2011:4
Sisplatin dan karboplatin adalah obat kemoterapi golongan platinum yang
digunakan sebagai kemoterapi lini pertama pada KPKBSK.1
Berbagai penelitian yang membandingkan efikasi dan toksisitas antara
kemoterapi berbasis platinum nonplatinum telah dilakukan meskipun di
Indonesia masalah harga masih menjadi salah satu pertimbangan sebelum
memutuskan panduan obat yang akan diberikan. Lima belas uji klinis acak dan
empat metaanalisis telah dilakukan sejak tahun 2003 yang membandingkan
efektivitas golongan platinum dan nonplatinum sebagai kemoterapi lini pertama.
Hasil penelitian dilaporkan bahwa golongan platinum memberikan respons
kemoterapiyang lebih baik dibandingkan dengan nonplatinum. Pemberian
golongan platinum juga memberikan masa tahan hidup yang lebih panjang
meskipun demikian toksisitas ternyata lebih banyak dijumpai pada penggunaan
golongan platinum. Efek samping yang biasa dijumpai adalah nefrotoksik dan
gangguan pada saluran pencernaan serta efek samping hematologi juga lebih
sering ditemukan pada golongan kemoterapi berbasis platinum.4
Pasien KPKBSK pada umumnya datang ke RS pada kondisi stage lanjut
(III dan IV) dengan tampilan klinis yang buruk sehingga tidak bisa memenuhi
syarat kemoradioterapi berbasis platinum. Angka tahan hidup pasien KPKBSK
yang tidak mendapatkan kemoradioterapi ini sekitar 3-4 bulan. Pasien KPKBSK
yang mengalami progresifitas setelah kemoterapi lini pertama disarankan untuk
mendapatkan kemoterapi lini kedua tapi penelitian menunjukkan 40% pasien
KPKBSK tidak pernah mendapatkan kemoterapi lini kedua karena tampilan klinis
yang buruk. Kemoradioterapi juga dapat menimbulkan toksisiti hematologi seperti
anemia, leukopenia dan trombositopenia dan toksisiti nonhematologi seperti
mual, muntah, alopesia dan gangguan faal hati. Penelitian terkini menunjukan
Universitas Indonesia
Angka tahan..., Kasum Supriadi, FK UI, 2014
26
terapi target yang bersifat selektif terhadap sel kanker pada pasien KPKBSK
sehingga memberikan efikasi terapi yang lebih baik dan toksisiti yang lebih
minimal. Rekomendasi non-small cell lung cancer guidelines (NCNN guidelines)
tahun 2013 tentang terapi lini pertama pada KPKBSK mutasi EGFR yang
positif.4,5
2.2 MUTASI EGFR SEBAGAI TERAPI TARGET
Menurut konsep masa kini kanker adalah penyakit gen. Sebuah sel normal
dapat menjadi sel kanker apabila oleh berbagai sebab terjadi ketidakseimbangan
antara fungsi onkogen dengan gen supresor dalam proses tumbuh dan
kembangnya sebuah sel. Perubahan atau mutasi gen yang menyebabkan terjadinya
hipersekresi onkogen dan hilangnya fungsi gen tumor supresor menyebabkan sel
tumbuh dan berkembang tak terkendaakhir ilmu kanker yaitu gen biomarker
diketahui berperan dominan secara khusus dalam pengobatan terutama setelah
dikenalnya beberapa jalur dalam kariogenesis, misalnya EGFR pengenalan jalur
ini peluang berbagai obat untuk berperan sebagai antikanker yang bekerja secara
selektif pada target tertentu. Golongan obat yang bekerja dijalur ini dikenal
dengan targeted theraphy dan hasil penelitian menunjukan respons dan hubungan
salah satu obat EGFR–TKI dikaitkan dengan faktor spesifik seperti ras, jenis
kelamin dan faktor mutasi gen EGFR.4 Jenis obat yang digunakan sebagai
inhibitor pada reseptor EGFR (EGFR–TKI) antara lain gefitinib dan erlotinib.
Golongan obat ini direkomendasikan sebagai pengobatan definitif (lini pertama)
jika pasien dengan berbagai alasan tidak dapat atau menolak tindakan kemoterapi
dalam konsensus Bukit tinggi tahun 2005.4
Reseptor EGFR merupakan salah satu termasuk dalam kelompok reseptor
ErbB. Terdapat empat jenis reseptor ErbB serta semua ligan yang dapat berikatan
secara spesifik dengan jenis reseptor. Kelompok reseptor ErbB meliputi EGFR
(HER1/ErbB-1), HER2(ErbB-2/neu), HER3 (ErbB-3) dan HER4 (ErbB-4).3
Masing-masing ligan dan reseptor ditandai dengan angka sesuai dengan kelompok
reseptor. Ligan yang dapat berikatan dengan EGFR dibagi menjadi tiga grup
Universitas Indonesia
Angka tahan..., Kasum Supriadi, FK UI, 2014
27
yakni Epidermal growth factor (EGF), Transforming growth factor- β (TGF-α)
dan amfiregulin yang akan berikatan di segmen N-terminal ekstraselular EGFR.
Ketika ligan berikatan dengan reseptor akan menyebabkan dimerisasi sehingga
domain C-terminal tirosin kinase intraseluler saling berdekatan menyebabkan
fosforilasi. Epidermal growth factor receptor (EGFR) memicu berbagai jalur
sinyal termasuk memicu jalur Ras yang mengakibatkan jalur extracellular signal
pathway regulated kinase (ERK)/mitogen-activated protein kinase (MAPK)
menjadi aktif. Hasil akhir berbagai jalur sinyal yang dipicu oleh jaring sinyal
ErbB yakni pembelahan sel dan migrasi yang keduanya berkaitan dengan
tumorigenesis, adhesi, diferensiasi dan apoptosis.5,6,7
2.3 PENELITIAN MUTASI EGFR
Dua penelitian yang dipublikasikan oleh Paez dan Lynch dkk pada tahun
2004 menjelaskan kaitan mutasi EGFR dengan sensitifitas pemberian EGFR -
TKI. Lynch dkk melaporkan delapan dari sembilan pasien yang respons terhadap
pemberian gefitinib mempunyai mutasi EGFR. Sedangkan tujuh pasien yang tidak
respons terhadap pemberian gefitinib tidak ditemukan mutasi EGFR.8,9 Hal serupa
juga ditemukan oleh Paez dkk yang menjelaskan respons pemberian gefitinib
berkorelasi dengan mutasi EGFR yang ditemukan pada pasien KPKBSK dengan
ras Asia. Pasien dengan mutasi EGFR ekson 18-24 respons terhadap pemberian
gefitinib sebaliknya pasien tanpa mutasi EGFR tidak respons terhadap pemberian
gefitinib.9
Berbagai penelitian selanjutnya mengungkapkan mutasi EGFR juga
berkaitan juga dengan respons terhadap pemberian erlotinib. Sebaran mutasi
EGFR yang berkorelasi dengan pemberian TKI dari berbagai hasil penelitian yang
telah dipublikasikan ditampilkan dalam Gambar 1. Ekson 18–21 pada domain
tirosin kinase dengan mutasi gen yang bermakna (ditampilkan dengan batang
warna biru) serta daftar mutasi pada tiap-tiap ekson yang berkaitan dengan
sensitifitas yang berkaitan dengan TKI (kotak jingga) ataupun yang resisten
(kotak merah muda). Prevalensi mutasi EGFR yakni delesi ekson 19 sebesar
Universitas Indonesia
Angka tahan..., Kasum Supriadi, FK UI, 2014
28
45%, mutasi L858R pada ekson 21 sekitar 40–45%, dan mutasi pada ekson 18
seperti G719C ataupun G719S sebanyak 3%. 10,11
Gambar 1. Sebaran ekson EGFR berhubungan dengan respons klinis
pemberian EGFR-TKI.
Dikutip dari (11)
2.4 FAKTOR PREDIKTIF MUTASI EGFR
Penelitian penggunaan EGFR-TKI selain gefitinib, juga telah dilakukan.
Penelitian tersebut, bertujuan menentukan apakah erlotinib meningkatkan
ketahanan hidup pada pasien KPKBSK setelah kegagalan kemoterapi lini pertama
ataupun lini kedua. Penelitian ini menunjukkan pemberian erlotinib meningkatkan
ketahanan hidup secara bermakna dengan masa tengah tahan hidup 7,9 bulan
dibandingkan pemberian regimen kemoterapi platinum. Hasil analisis multivariat
penelitian ini menunjukkan ekspresi protein EGFR dan jumlah salinan gen EGFR
merupakan faktor prediktif tingkat respons terhadap pemberian erlotinib tetapi
mutasi EGFR bukan merupakan faktor prediktif tingkat respons terhadap
pemberian erlotinib.12
Universitas Indonesia
Angka tahan..., Kasum Supriadi, FK UI, 2014
29
Rosell dkk melakukan proses seleksi berdasarkan status mutasi EGFR
pada pasien yang akan diberikan erlotinib yang dilakukan di 129 institusi di
Spanyol. Ditemukan mutasi EGFR sebesar 350 dari 2105 pasien (16,6%) dan
lebih sering ditemukan pada perempuan (69,7%), bukan perokok (66,6%) dan
histopatologi adenokarsinoma (80,9%) dengan delesi ekson 19 (62,2%) dan
mutasi ekson 21 L858R (37,8%). Terdapat peningkatan Progression Free Survival
(PFS) sebesar 14 bulan, masa tengah tahan hidup hingga 27 bulan dengan tingkat
respons sebesar 70,6% pada 217 pasien yang mendapat erlotinib. Peningkatan
ketahan hidup yang dilaporkan oleh Rosell dkk merupakan kemajuan
dibandingkan laporan sebelumnya. Mutasi EGFR pada pasien KPKBSK
merupakan faktor prediktif pemberian erlotinib. Disarankan pemeriksaan status
mutasi EGFR dilakukan pada pasien KPKBSK, perempuan dan bukan perokok.13
Gambar 2. Ketahanan hidup dengan gefitinib sebagai paliatif pada (a) penelitian
INSTEP tanpa melakukan skrining mutasi EGFR dengan masa tengah tahan hidup
3,7 bulan dan (b) penelitian Inoue dkk yang melakukan skrining mutasi EGFR
dengan masa tengah tahan hidup 17,8 bulan.
Dikutip dari (16)
Uji klinik pemberian gefitinib sebagai lini pertama penatalaksanaan
KPKBSK dilakukan oleh Niho dkk dengan populasi pasien warga negara Jepang.
Universitas Indonesia
Angka tahan..., Kasum Supriadi, FK UI, 2014
30
Pasien KPKBSK dengan stadium IIIB ataupun IV diberikan Gefitinib 250 mg/hari
dan didapatkan hasil berupa peningkatan respons sebesar 30% serta peningkatan
masa tengah tahan hidup sebesar 13,9 bulan dan angka tahan hidup 1 tahun
sebesar 55%.14 Penelitian serupa dilakukan oleh Inoue dkk untuk menetukan
efikasi dan kelayakan gefitinib sebagai lini pertama mengingat dilaporkan
insidens penyakit paru interstisial yang tinggi pada penelitian sebelumnya.
Dilaporkan tingkat respons sebesar 75% serta (PFS) sebesar 9,7 bulan.15Penelitian
lain untuk menilai apakah pemberian gefitinib sebagai tambahan dalam
penatalaksanaan paliatif pada pasien KPKBSK dengan status penampilan buruk
dapat meningkatkan PFS. Hasil penelitian IRESSA NSCLC Trial evaluating poor
performance status patients (INSTEP) menunjukkan PFS, ketahanan hidup serta
tingkat respons pada penambahan gefitinib sebagai penatalaksanaan paliatif tidak
menunjukkan perbedaan secara bermakna. Namun terdapat peningkatan PFS
secara bermakna pada pasien yang diberikan gefitinib dengan jumlah salinan
EGFR yang tinggi.16 Penelitian IPASS (Iressa pan Asian study) merupakan
penelitian yang membandingkan gefitinib dengan karboplatin dan paklitaksel
sebagai penatalaksanaan lini pertama pada pasien KPKBSK stadium lanjut yang
diseleksi secara klinik di Asia.
Hipotesis penelitian IPASS berdasarkan identifikasi karakteristik klinik
dapat memprediksi respons gefitinib dibandingkan plasebo yang diungkap dalam
penelitian ISEL. Tidak didapatkan peningkatan ketahanan hidup pada pemberian
gefitinib. Analisis sub kelompok menunjukkan gefitinib memberikan manfaat
pada kelompok mutasi EGFR dengan tingkat respons sebesar 71,2% dan
kelompok wild type EGFR sebesar 1,1%. Penelitian ini menganjurkan
pemeriksaan status mutasi EGFR sebelum penatalaksanaan KPKBSK dilakukan.
Sedangkan ras etnis, status merokok, dan jenis histologi dapat membantu
identifikasi pasien dengan kecenderungan mempunyai mutasi EGFR.17
Universitas Indonesia
Angka tahan..., Kasum Supriadi, FK UI, 2014
31
Gambar 3. Progression Free Survival kelompok gefitinib dan kelompok
karboplatin paklitaksel pada (a) penelitian IPASS (b) penelitian IPASS dengan
populasi pasien mutasi EGFR (c) penelitian Maemondo dkk yang melakukan
skrining mutasi EGFR.
Dikutip dari (17)
Penelitian IPASS menunjukkan faktor klinik dan demografik seperti ras
Asia, perempuan, status merokok dan histologi adenokarsinoma merupakan faktor
prediktif efikasi pemberian gefitinib. Penelitian serupa dilakukan oleh Maemondo
dkk dengan melakukan seleksi pasien yang akan diberikan gefitinib berdasarkan
status mutasi EGFR daripada faktor klinik. Peningkatan PFS secara bermakna
pada kelompok gefitinib sebesar 10,8 bulan dan kelompok karboplatin-paklitaksel
sebesar 5,4 bulan serta peningkatan tingkat respons pada kelompok gefitinib
sebesar 73,7% dan kelompok karboplatin-paklitaksel sebesar 30.7%. Hazard ratio
kelompok gefitinib pada penelitian IPASS sebesar 0,74, sedangkan pada sub
kelompok dengan mutasi EGFR sebesar 0,48 sedangkan pada penelitian
Maemondo dkk sebesar 0,3. 17
2.5 ANGKA TAHAN HIDUP PASIEN KPKBSK DENGAN TERAPI
TARGET DAN KEMOTERAPI
Gefitinib dan erlotinib telah direkomendasikan oleh NCCN guidelines
(2013) sebagai terapi lini pertama pada KPKBSK dengan mutasi EGFR positif.8
Penelitian IPASS fase 3 dilakukan untuk membandingkan efikasi dan toksisiti
gefitinib atau karboplatin dan paklitaksel sebagai terapi lini pertama pada pasien
Universitas Indonesia
Angka tahan..., Kasum Supriadi, FK UI, 2014
32
adenokarsinoma paru dengan ras Asia Timur dan jumlah sampel 1217 pasien.
Gefitinib (250 mg/hari) diberikan pada 609 pasien adenokarsinoma paru yang
bukan perokok atau bekas perokok ringan. Kombinasi karboplatin (5-6
mg/ml/menit) dan paklitaksel (200 mg/mm2 ) diberikan pada 608 pasien KPKBSK
nonskuamosa. Hasil penelitian menunjukkan angka tahan hidup 1 tahun ialah
24,9% pada kelompok gefitinib dan 6,7% pada kelompok karboplatin dan
paklitaksel. Tingkat respons objektif lebih tinggi pada kelompok gefitinib 43%
dan berbeda bermakna dibandingkan dengan kelompok karboplatin dan
paklitaksel 32%. Angka tengah tahan hidup pada kelompok gefitinib 18,6 bulan
dan kelompok karboplatin dan paklitaksel 17,3 bulan. Kualiti hidup kelompok
gefitinib lebih baik dan berbeda bermakna bila dibandingkan dengan kelompok
karboplatin dan paklitaksel. Efek samping yang menyebabkan kematian terjadi
pada 3,8 % kelompok gefitinib dan 2,7% kelompok karboplatin dan paklitaksel.18
Dalam analisis mutasi EGFR, direct sequencing merupakan standar baku
emas. Metode ini semua mutasi yang telah diketahui ataupun yang baru akan
terdeteksi. Dari berbagai penelitian yang dilaporkan oleh Mitsudomi dkk, Rosell
dkk, Mok dkk, serta Maemondo dkk terungkap mutasi EGFR merupakan faktor
prediktif tingkat respons dan ketahanan hidup terhadap pemberian EGFR-
TKI.,19,20 Sedangkan Shepherd dkk melaporkan status mutasi EGFR bukan
merupakan faktor prediktif tingkat respons terhadap pemberian Erlotinib.12
Walaupun deteksi mutasi EGFR sangatlah menjanjikan namun masih djumpai
beberapa tantangan dalam pelaksanaan sehari-hari seperti teknologi yang
digunakan dalam mendeteksi mutasi gen EGFR sangatlah mahal dan
membutuhkan infrastruktur dan tenaga terampil dalam menjalankannya. Sampel
yang dibutuhkan dalam deteksi mutasi gen EGFR merupakan sampel sitologi
ataupun histopatologi yang didapatkan dengan cara invasif. Walaupun telah ada
metode deteksi mutasi EGFR menggunakan sampel darah perifer namun
rekomendasi The Molecular assays in NSCLC working group mensyaratkan
sampel sitologi ataupun histopatologi dari jaringan tumor. Sehingga standarisasi
pemeriksaan menjadi penting terlebih bila berkaitan dengan uji klinik skala
besar.21
Universitas Indonesia
Angka tahan..., Kasum Supriadi, FK UI, 2014
33
Sebagai penutup, karakteristik abnormalitas gen EGFR dalam penatalaksanaan
KPKBSK nonskuamosa telah membuka cakrawala baru penatalaksanaan di masa
depan yang mengarah terapi target genotip. Faktor klinik dan demografik seperti
perempuan, bukan perokok, adenokarsinoma dan ras Asia merupakan faktor
prediktif pemberian EGFR-TKI. Pemeriksaan status mutasi EGFR sebaiknya
dilakukan dahulu sebelum diberikan EGFR-TKI. Pelajaran yang dapat dipetik dari
analisis laboratorium dan aplikasi klinik diagnostik molekular dalam memandu
penggunaan EGFR-TKI sangatlah penting dalam pengembangan agen inhibitor
jalur sinyal lain yang dapat lebih terbukti efektif.22
Universitas Indonesia
Angka tahan..., Kasum Supriadi, FK UI, 2014
34
BAB 3
METODE PENELITIAN
3.1 Desain Penelitian
Disain penelitian ini ialah kohort retrospektif berdasarkan data rekam medis
pasien KPKBSK nonskuamosa yang memenuhi kriteria penelitian.
3.2 Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian rumah sakit Persahabatan.
3.3 Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan mulai bulan Januari 2010 sampai dengan Desember
2013.
3.4 Pengumpulan Data
Data diambil melalui data sekunder (rekam medis).
3.5 Populasi Penelitian
Pasien kanker paru dengan diagnosis KPKBSK non skuamosa yang telah
diberikan terapi EGFR–TKI atau dengan kemoterapi lini pertama..
3.5.1 Populasi Target
Semua pasien KPKBSK nonskuamosa yang mendapatkan terapi EGFR-
TKI (gefitinib dan erlotinib) atau kemoterpi lini pertama di RS
Persahabatan.
3.5.2 Populasi Terjangkau
Populasi terjangkau ialah semua pasien KPKBSK nonskuamosa yang
mendapatkan terapi EGFR-TKI (gefitinib dan erlotinib) atau kemoterapi
lini pertama antara bulan Januari 2010–Desember 2013 dan memenuhi
kriteria penelitian.
3.6 Sampel Penelitian
Sampel ialah populasi terjangkau yang memenuhi kriteria penelitian dan
menyatakan setuju baik oleh pasien ataupun keluarga inti dengan
menandatangani formulir persetujuan penelitian (informed consent).
3.7. Kriteria Penelitian
3.7.1 Kriteria Inklusi
Universitas Indonesia
Angka tahan..., Kasum Supriadi, FK UI, 2014
35
1. Pasien KPKBSK nonskuamosa yang mendapatkan terapi target EGFR-
TKI pertama sejak Januari 2010–Desember 2013.
2. Pasien KPKBSK nonskuamosa yang mendapatkan terapi kemoterapi lini
pertama sejak Januari 2010-Desember 2013
3.7.2 Kriteria Eksklusi
1. Pasien yang didiagnosis KPKBSK jenis karsinoma sel skuamosa.
2. Pasien yang didiagnosis KPKBSK nonskuamosa stadium I–IIIA yang telah
dilakukan pembedahan.
3.8 Teknik pengambilan sampel
Pemilihan sampel dilakukan dengan cara mengumpulkan data rekam medik
pasien KPKBSK nonskuamosa di rumah sakit Persahabatan tahun 2010–
2013 yang mendapat terapi EGFR- TKI atau kemoterapi lini pertama dan
memenuhi kriteria penelitian.
3.9 Besar Sampel
Ditentukan dengan menggunakan rumus :
n1= n2= (Zα√2PQ + Zβ√P1Q1 + P2Q2)2
( P1-P2)2
N = besar sampel penelitian
Zα = batas kemaknaan = 1,96
Zβ = kekuatan (power) = 0,842
P1 = perkiraan proporsi angka tahan hidup 1 tahun pasien KPKBSK
nonskuamosa yang mendapat EGFR -TKi = 15= 0.15. Dari
literatur sekitar 15-30%
Q1 = 0,85
P2 = perkiraan proporsi angka tahan hidup 1 tahun pasien KPKBSK
nonskuamosa yang mendapat kemoterapi lini pertama = 6,7% =
0,06
Q2 = 0,94
P = (P1+P2) / 2 = (0,15+0,06)/2 = 0,18
Q = 1- P = 1- 0,18 =0,82
n1= n2= ( 1,96√2x0,18x0,82 + 0,842√0,15x0,85 + 0,06x0,94)2
(0,25 - 0,07)2
Universitas Indonesia
Angka tahan..., Kasum Supriadi, FK UI, 2014
36
n1= n2 = 47,5. Total n1+n2= 96
Besar sampel pada penelitian ini adalah 48 pasein KPKBSK nonskuamosa
yang mendapat EGFR-TKI dan 48 sampel pasien KPKBSK nonskuamosa
yang mendapat kemoterapi lini pertama.
3.10 Kerangka Konsep
Identitas
Umur
Jenis kelamin
Riwayat merokok
Stadium tumor
Tampilan umun
Pasien Kanker Paru
KPKBSK non
Diagnostik skuamosa dengn
Kanker paru Angka Tahan
terapi EGFR -TKI
KPKBSK Hidup 1 Tahun
dan yang mendapat
nonskuamosa Kemoterapi lini 1
Gambar. 4 Kerangka Konsep
3.11 Batasan Operasional
3.11.1 Diagnosis kanker paru jenis KKBSK nonskuamosa yang ditegakan
berdasarkan kriteria WHO tahun 2004 yaitu adenokarsinoma dan
kersinoma sel besar .
3.11.2 Umur ialah umur pasien saat diagnosis kanker paru jenis KPKBSK
nonskuamosa telah ditegakan secara sitologi dan atau histopatologi.
3.11.3 Jenis kelamin ialah keadaan tubuh responden yang dibedakan secara fisik
dan biologis berdasarkan organ eksterna. Kategori : a. Laki-laki b.
Perempuan.
3.11.4 Riwayat merokok ialah riwayat merokok pasien sampai diagnosis
ditegakkan berdasarkan Indeks Brinkmann. Kategori : [Link] merokok b.
Merokok c. Pernah merokok.
Universitas Indonesia
Angka tahan..., Kasum Supriadi, FK UI, 2014
37
3.11.5 Indeks Brinkmann ialah jumlah batang rokok dikalikan jumlah tahun.
Kategori :a. Ringan (1- 200) b. Sedang (201-600) c. Berat (>600)
3.11.6 Kemoterapi adalah pengobatan atau pengontrol kanker menggunakan obat
antikanker yang memiliki sifat toksik dan menghancurkan sel kanker
dengan menghambat proses pembelahan atau pertumbuhan sel tersebut.
3.11.7 Kemoterapi lini pertama adalah kemoterapi yang diberikan pada penderita
yang belum pernah mendapat kemoterapi sebelumnya.
3.11.8 Regimen kemoterapi adalah paduan obat atau jenis obat antikanker yang
digunakan pada kemoterapi (sesuai protokol kemoterapi)
Regimen kemoterapi lini pertama yang paling sering digunakan di rumah
sakit Persahabatan yaitu : a. Karboplatin+etoposide b.
Karboplatin+paklitaxel c. Karboplatin + gemsitabim
3.11.9 Angka tahan hidup persentase pasien yang bertahan hidup dalam periode
waktu tertentu ( 3 bulan, 6 bulan dan 1 tahun) setelah diagnosis ditegakkan
satuan dinyatakan dalam persentase terdiri dari :
Masa tengah tahan hidup (Median survival time) adalah waktu
ketika separuh jumlah pasien masih hidup setelah pengobatan.
Overall survival rate adalah periode yang berlangsung dari
diagnosis sampai pasien meninggal atau sampai penelitian selesai.
Angka tahan hidup 1 tahun (1-years survival) adalah persentase
pasien yang masih hidup dalam waktu1 tahun sejak diagnosis
ditegakkan.
Angka tahan hidup 1 tahun (one year survival) ialah nilai rata-rata seorang
penderita dapat bertahan hidup selama 1 tahun dihitung dari tanggal
penegakan diagnosis sampai 1 tahun dan satuan yang digunakan adalah
bulan.
Universitas Indonesia
Angka tahan..., Kasum Supriadi, FK UI, 2014
38
3.12 Bahan dan Cara Kerja
3.12.1 Subjek penelitian ialah semua pasien kanker paru KPKBSK non
skuamosa yang mendapatkan terapi EGFR-TKI atau kemoterpi lini
pertama di RS Persahabatan.
3.12.2 Diagnostik kanker paru ditegakkan berdasarkan hasil pemeriksaan
diagnostik berupa TTB, TBLB, bilasan bronkus, sikatan bronkus, biopsi
bronkus, biopsi jarum halus, sitologi cairan pleura dan biopsi pleura
yang telah dikonfirmasi dengan hasil pemeriksaan histopatologi. Staging
kanker paru dibuat berdasarkan klasifikasi TNM tahun 2007.
3.12.3 Pencatatan data yang dibutuhkan :
√ Pencatatan umum yang meliputi umur, jenis kelamin, ukuran tumor, jenis
histologi, stage, tindakan yang dilakukan, tanggal diagnosis, jenis
tindakan yang memberikan hasil yang positif, keadaan saat ini dan
tanggal meninggal bila penderita sudah meninggal.
√ Untuk mengetahui apakah penderita masih hidup atau meninggal dilakukan
pelacakan ke alamat melalui surat atau nomor telepon yang tertera pada
rekam medik.
√ Penderita atau keluarga yang tidak membalas surat setelah satu bulan,
dilacak langsung ke alamat masing-masing jika masih di wilayah
Jabodetabek.
3.12.4 Lama hidup penderita dihitung berdasarkan dari tanggal didiagnosis sampai
akhir penderita diketahui masih hidup atau penderita kontrol terakhir atau
sampai penderita diketahui meninggal dan satuan yang digunakan ialah hari.
3.12.5 Analisis deskriptif akan menjelaskan variabel sesuai jenis data yaitu
numerik dan kategorikal.
3.12.6 Data numerik akan dijelaskan nilai tengah dan sebaran sedangkan
kategorikal dijelaskan frekuensi dan persentase. Pengujian data hasil
penelitian dilakukan secara analitik terhadap data parametrik dan
nonparametrik. Uji parametrik dilakukan pada data yang tingkat
pengukurannya skala interval, rasio dan berdistribusi normal, sedangkan uji
nonparametrik pada data yang tingkat pengukurannya nominal, ordinal atau
data berdistribusi tidak normal. Uji kemaknaan dilakukan dengan uji Chi
Universitas Indonesia
Angka tahan..., Kasum Supriadi, FK UI, 2014
39
square. Kurva life table dibuat dengan teknik Kaplan-Meier. Nilai
kemaknaan ditetapkan dengan p < 0,05. Data deskriptif disajikan dalam
bentuk teks, tabel dan gambar.
3.13 ALUR PENELITIAN
Kanker paru jenis KPKBSK
nonskuamosa Stage
IIIB -IV
Kriteria Insklusi dan Eksklusi
Data Sekunder
Sampel
Identitas * Riwayat merokok
Umur * Stage III B IV
Jenis kelamin * Tampilan umum
Diagnostik
Kemoterapi 1 Terapi EGFR - TKi
Analisis Statistik
Gambar. 5 Bagan Alur Penelitian
Universitas Indonesia
Angka tahan..., Kasum Supriadi, FK UI, 2014
40
BAB IV
HASIL PENELITIAN
Jumlah seluruh subjek pada penelitian ini yang memenuhi kriteria sesuai
dengan perhitungan besar sampel adalah 96 orang, yang terdiri dari 48 orang yang
mendapat kemoterapi lini pertama dan 48 orang yang mendapat terapi EGFR-TKI.
Semua pasien sebelumnya mendapat premedikasi standar (pedoman
penatalaksanaan KPKBSK PDPI). Kemoterapi diberikan dalam siklu 3 mingguan
atau 21 hari sedangkan terapi EGFR-TKI (gefitinib/erlotinib) diberikan setiap
hari. Pada penelitian ini angka tahan hidup dinilai sejak pasien didiagnosis
KPKBSK nonskuamosa (adenokarsinoma dan karsinoma sel besar) hingga pasien
meninggal atau penelitian sudah selesai.
Karakteristik Pasien
Pada tabel 2.1 dapat dilihat karakteristik pasien KPKBSK nonskuamosa.
Karakteristik menunjukkan pasien yang mendapat kemoterapi lini pertama dan
terapi EGFR-TKI masing-masing terdiri dari laki-laki 27 orang (56,2%) dan
perempuan 21 orang (43,8%). Berdasarkan usia didapatkan usia produktif (40-60
tahun) yang mendapat kemoterapi lini pertama 32 orang (66,7%) dan yang
mendapat EGFR-TKI 31 orang (64,6%). Termasuk usia muda (<40 tahun)
didapatkan 3 orang (6,25%) yang mendapat kemoterapi lini pertama dan 5 orang
(10,4%) yang mendapat EGFR-TKI. Pada penelitian ini didapatkan tingkat
pendidikan pasien terbanyak yang mendapat kemoterapi lini pertama dan EFGR-
TKI adalah pasien berpendidikan SLTA masing-masing 26 orang (54,2%), diikuti
S1 11 orang (22,9%), SLTP 6 orang (12,5%) dan SD 5 orang (10,4%). Sedangkan
yang mendapat EGFR-TKI diikuti SLTP 9 orang (18,8%), SD 7 orang (14,6%)
dan S1 6 orang (12,5%). Riwayat merokok untuk pasien yang mendapat
kemoterapi lini pertama adalah merokok 20 orang (41,7%) dan yang mendapat
EGFR-TKI 27 orang (56,3%) dengan Indeks Brinkmann (IB) pasien yang
mendapat kemoterapi lini pertama (IB ringan 13 (27,1%), sedang 10 (20,8%) dan
berat 4 (8,3%), sedangkan IB pasien yang mendapat terapi EGFR-TKI adalah
ringan 8 (16,7%), sedang 11 (22,9%) dan berat 1 (2,1%). Berdasarkan stage,
Universitas Indonesia
Angka tahan..., Kasum Supriadi, FK UI, 2014
41
pasien yang mendapat kemoterapi dan EGFR-TKI terbanyak stage IV masing-
masing 44 orang (91,7%) dan 42 orang (87,5%) dengan tampilan umum (PS)
untuk pasien kemoterapi ( PS 1 14 orang (29,2% dan PS 2, 34 orang (70,8%) dan
tidak terdapat PS 3,PS 4) dan untuk pasien yang mendapat EGFR-TKI (PS 1 11
orang (22,9%), PS 2 23 orang (47,9%), PS 3 13 orang (27,1%) dan PS 4 1 orang
(2,1%). Berdasarkan jenis histologi didapatkan bahwa pasien yang mendapat
kemoterapi lini pertama adalah adenokarsinoma 44 orang (91,7%) dan karsinoma
sel besar (KSB) 4 orang (8,3%) sedangkan pasien yang diterapi EGFR-TKI
semuanya adalah jenis adenokarsinoma 48 orang (100%).
Tabel 2.1 Karakteristik pasien KPKBSK Nonskuamosa yang mendapat
Kemoterapi lini I dan Terapi EGFR-TKI
Karakteristik Kemoterapi lini I, N(%) EGFR-TKI, N(%) N (total) %
Umur n=48 n=48 n=96
<40 tahun 3 (6,25) 5 (10,4) 7 7,3
40-60 tahun 32 (66,7) 31 (64,6) 63 65,6
>60 tahun 13 (27,1) 12 (25,0) 26 27,1
Jenis kelamin
Laki-laki 27 (56,2) 27 (56,2) 54 56,25
Perempuan 21 (43,8) 21 (43,8) 42 43,75
Pendidikan
SD 5 (10,4) 7 (14,6) 12 12,5
SLTP 6 (12,5) 9 (18,8) 15 15,6
SLTA 26 (54,2) 26 (54,2) 52 54,2
S1 11 (22,9) 6 (12,5) 17 17,7
Riw. Merokok
Ya 20 (41,7) 27 (56,3) 47 49.0
Tidak 28 (58,3) 21 (43,7) 49 51.0
IB
Ringan 8 (16,7) 13 (27,1) 21 21,9
Sedang 11 (22,9) 10 (20,8) 21 21,9
Berat 1 (2,1) 4 (8,3) 5 5,2
Stage
IIIB 4 (8,3) 6 (12,5) 10 10,4
IV 44 (91,7) 42 (87,5) 86 89,6
Tampilan umum
1 14 (29,2) 11 (22,9) 25 26.0
2 34 (70,8) 23 (47,9) 57 59.4
3 0 13 (27,1) 13 13.5
4 0 1 (2,1) 1 1.0
Jenis histologi
Adenokarsinoma 44 (91,7) 48 (100) 92 95,8
KSB 4 (8,3) 0 4 4,2
Universitas Indonesia
Angka tahan..., Kasum Supriadi, FK UI, 2014
42
Pada tabel 2.2 dapat kita lihat distribusi pasien KPKBSK nonskuamosa
yang mendapat kemoterapi lini pertama dan EGFR-TKi. Pada penelitian ini
kemoterapi lini pertama yang didapatkan banyak digunakan adalah Karboplatin
dan Gemsitabin 19 orang (19,8%), Karboplatin dan Etoposid 15 orang (15,6%)
dan Karboplatin dan Paklitaksel 14 orang (14,6%). Sedangkan pasien yang
diterapi EGFR-TKI lini pertama semuanya adalah gefitinib 48 orang (50,0%).
Berdasarkan jumlah siklus kemoterapi lini pertama, dari 48 orang didapatkan
jumlah siklus 1-3, 8 orang (16,7%) dan jumlah siklus 4-6 terdapat 40 orang
(83,3%).
Tabel 2.2 Distribusi Pasien KPKBSK Nonskuamosa yang mendapat EGFR-
TKi dan yang mendapat kemoterapi lini I di RSUP Persahabatan periode
Januari 2010 sampai Desember 2013
Terapi N %
Kemo lini Pertama
Karbo+Etoposid 15 15,6
Karbo+Paklitaksel 14 14,6
Karbo +Gemsitabin 19 19,8
EGFR-TKI
Gefitinib 48 50.0
Erlotinib 0 0
Jumlah siklus kemo
1_3 8 16,7
4_6 40 83,3
Analisis Kesintasan (Kaplan-Meier)
Berdasarkan waktu dari diagnosis kanker paru sampai dengan
meninggalnya pasien atau berakhirnya penelitian, diperoleh hasil ketahanan hidup
pasien KPKBSK nonskuamosa dengan menggunakan analisis kesintasan metode
Kaplan-Meier. Pada penelitian ini pasien yang hidup sampai akhir penelitian
adalah 12 orang (12,5%) dan semua pasien adalah pasien KPKBSK nonskuamosa
yang terapi EGFR-TKI. Tabel 2.3 menunjukkan masa tengah tahan hidup
(MTTH) dan angka tahan hidup 1 tahun berdasarkan karakteristik pasien
KPKBSK non skuamosa yang mendapat kemoterapi lini pertama dan EGFR-TKI.
pada penelitian ini, hampir semua variabel yaitu berdasarkan umur, jenis kelamin,
Universitas Indonesia
Angka tahan..., Kasum Supriadi, FK UI, 2014
43
riwayat merokok, jenis histopatologi adenokarsinoma, staging, berdasarkan
kemoterapi dan terapi EGFR-TKI, tampilan status dan jumlah siklus 4-6
mempunyai MTTH antara 200-300 hari. Sedangkan jenis KSB, staging IIIB dan
jumlah siklus 1-3 masing-masing 120 hari, 336 hari dan 150 hari. Dari tabel dapat
kita lihat bahwa MTTH pasien yang mendapatkan terapi EGFR-TKI 263 hari
dengan ATH 1 tahun 20,8%, sedangkan MTTH pasien yang dikemoterapi lini
pertama 260 hari dengan ATH 1 tahun 25%.
Tabel 2.3. Angka tahan hidup berdasarkan karakteristik pasien KPKBSK
non skuamosa di RSUP Persahabatan
ATH
Variabel MTTH 95% CI 1 tahun
(hari) Min Max N %
Umur <40 thn 286 226.976 345.024 3 42,9
40-60 thn 264 215.113 312.887 14 22,2
>60 thn 243 168.044 317.956 5 19,2
Jenis kelamin Laki-laki 260 187.985 332.015 14 25,9
Perempuan 263 220.659 305.341 8 19
Merokok Ya 280 207.588 352.412 12 25,5
Tidak 259 227.451 290.549 10 20,4
IB Ringan 230 162.713 297.287 4 19
Sedang 287 245.132 328.868 6 28,6
Berat 284 155.176 412.824 2 40
Histopatologi Adenokarsinoma 264 232.041 295.959 21 22,8
KSB 120 0.000 260.140 1 25
Staging IIIB 336 224.592 360.00 5 50
IV 259 229.889 288.111 17 19,8
Terapi
Kemo I 260 196.630 323.370 12 25
Karbo+Etoposid 284 169.125 398.875 4 26,7
Karbo+Gemsitabin 290 160.604 419.396 6 31,6
Karbo+paklitaksel 215 128.830 301.170 2 14,3
EGFR-TKI 263 229.948 296.052 10 20,8
Gefitinib 263 229.948 296.052 10 20,8
Erlotinib 0 0 0 0 0
Tampilan
status ≤2 264 220.516 307.484 18 22
>2 258 241.499 274.501 4 28,6
Jumlah siklus 1_3 150 82.089 217.911 0 0
4_6 284 242.163 325.837 12 30
Universitas Indonesia
Angka tahan..., Kasum Supriadi, FK UI, 2014
44
Tabel 2.4 menunjukkan angka tahan hidup keseluruhan pasien KPKBSK
non skuamosa yang mendapatkan kemoterapi lini pertama dan terapi EGFR-TKI.
Masa tengah tahan hidup keseluruhan pada penelitian ini adalah ±264 hari, rata-
rata ATH ±283,625 hari. Persentase ATH pada penelitian ini adalah ATH 6 bulan
74%, ATH 1 tahun 22,9% dan lama tahan hidup keseluruhan (±2 tahun) pada
penelitian ini adalah 6,20% seperti yang terlihat pada gambar 6.
Tabel 2.4. Angka tahan hidup pasien KPKBSK non skuamosa di RSUP
Persahabatan periode Januari 2010 sampai Desember 2013
No Waktu tahan hidup Angka Tahan Hidup
1. 6 bulan 74%
2. 1 tahun 22,90%
3. 2 tahun 6,20%
% survival
MTTH ±264 hari, ATH 6,2%
Lama tahan hidup (Hari)
Gambar 6. Kurva Kaplan –Meier seluruh pasien KPKBSK non skuamosa di
RSUP Persahabatan yang mendapat kemoterapi lini pertama dan EGFR-TKI
periode Januari 2010 sampai Desember 2013.
Universitas Indonesia
Angka tahan..., Kasum Supriadi, FK UI, 2014
45
% survival
Kemo lini I
EGFR-TKI
Lama Tahan Hidup (Hari)
Gambar 7. Angka tahan hidup pasien KPKBSK non skuamosa yang mendapatkan
kemoterapi lini I dan yang mendapat EGFR-TKI lini I di RSUP Persahabatan.
Secara umum angka tahan hidup pasien KPKBSK non skuamosa yang
mendapatkan kemoterapi lini I dan yang mendapat EGFR-TKI tidak jauh berbeda,
seperti pada gambar 8. Berdasarkan perbandingan kemoterapi maka pasien
KPKBSK non skuamosa yang mendapat EGFR-TKI mempunyai masa tengah
tahan hidup 263 hari dengan angka tahan hidup 1 tahun 20,8%, sedangkan yang
mendapat kemoterapi lini pertama memiliki masa tengah tahan hidup 260 hari
dengan angka tahan hidup 1 tahun 25%.
Tabel 2.5. MTTH faktor selected pasien KPKBSK non skuamosa yang
mendapat terapi EGFR-TKI di RSUP Persahabatan periode Januari 2010
sampai Desember 2013
MTTH
Prediktor n (hari) Ci 95% nilai p
Perempuan,tidak merokok 17 266 233,731-298,263 0,239
perempuan, laki-laki,merokok 20 223 130,963-315,037
Universitas Indonesia
Angka tahan..., Kasum Supriadi, FK UI, 2014
46
Berdasarkan tabel 2.5 dapat kita lihat faktor prediktor perempuan yang
tidak merokok (n,17) dengan MTTH 266 hari selanjutnya disebut sebagai
kelompok selected pada subjek yang diberikan terapi target EGFR-TKI.
Sedangkan jumlah perempuan dan laki-laki merokok (n,20) diperoleh MTTH 223
hari yang selanjutnya disebut sebagai kelompok non selected, kemudian setelah
dianalisis ternyata tidak terdapat hubungan bermakna mengenai angka tahan hidup
antara perempuan tidak merokok dengan perempuan dan laki-laki yang merokok
dengan nilai p=0,239, seperti yang terlihat pada gambar 8.
% survival
Perempuan,tdk merokok
Perempuan,laki-laki,merokok
Lama Tahan Hidup (Hari)
Gambar 8. Kurva Kaplan Meier berdasarkan faktor prediktor perempuan yang
tidak merokok dengan perempuan dan laki-laki merokok pasien KPKBSK Non
skumosa di RSUP Persahabatan Jakarta periode Januari 2010 sampai Desember
2013.
Berdasarkan stage, diperoleh nilai bahwa kelompok stage IIIB mempunyai
MTTH 336 hari (± 11 bulan) dengan angka tahan hidup 1 tahun 50% (95% CI,
224.592-360.000) sedangkan pada kelompok stage IV mempunyai MTTH 259
hari (±9 bulan) dengan angka tahan hidup 1 tahun 19,8% (95% CI, 229.889-
288.111) seperti yang terlihat pada gambar 9.
Universitas Indonesia
Angka tahan..., Kasum Supriadi, FK UI, 2014
47
% survival
IIIB
IV
Lama Tahan Hidup (Hari)
Gambar 9. Kurva Kaplan Meier berdasarkan staging pasien KPKBSK Non
Skumosa yang mendapatkan kemoterapi lini I dan yang mendapat EGFR-TKi lini
I di RSUP Persahabatan periode Januari 2010-Desember 2013.
Analisis Bivariat
Pada penelitian ini, peneliti melakukan analisis bivariat untuk melihat
hubungan dan besarnya hubungan antara angka tahan hidup pasien KPKBSK non
skuamosa yang mendapat kemoterapi lini pertama dan yang mendapat terapi
EGFR-TKI dan faktor-faktor yang dianggap mempengaruhi dengan menggunakan
analisis regresi Cox. Pada tabel 2.6 dapat kita lihat bahwa faktor yang dianggap
paling berpengaruh terhadap ketahanan hidup pasien KPKBSK nonskuamosa
yang mendapat kemoterapi lini pertama dan terapi EGFR-TKI adalah jumlah
siklus dengan nilai p<0,089 terutama jumlah siklus 4-6 (hazard ratio (HR)
2,422;95%CI 0,083-3,242;nilai p<0,028) dan staging (HR 0,405;95%CI 0,290-
0,850, nilai p<0,052).
Tabel 2.6 Analisis bivariat dengan regresi Cox pasien KPKBSK Non
skuamosa yang mendapat kemoterapi lini pertama dan terapi EGFR-TKI di
RSUP Persahabatan periode Januari 2010 sampai Desember 2013
Universitas Indonesia
Angka tahan..., Kasum Supriadi, FK UI, 2014
48
Variabel bivariat HR CI 95% P
Umur 1,045 0.044-2.198 0,811
Merokok 1,037 0,036-1,490 0,863
Adenokarsinoma 1,163 0,151-1,168 0,799
PS≤2 0,893 0,113-1,146 0,74
Terapi 1,085 0,500-1,122 0,727
EGFR-TKI 0,979 0,421-1.579 0,894
Kemo lini I 1,052 0,500-1,086 0,173
Jumlah siklus <0,089
1_3 1,247 0,500-1,258 0,375
4_6 2,422 0,083-3,242 <0,028
Staging 0,405 0,290-0,850 <0,052
Analisis Multivariat
Variabel yang akan dianalisis multivariat adalah variabel yang telah
dianalisis bivariat dan mempunyai nilai P<0,25 yaitu variabel kemoterapi lini I,
jumlah siklus 4-6 dan staging. Pada penelitian ini dilakukan analisis model
stratifikasi untuk variabel tersebut, seperti pada tabel 2.6. Dari analisis model
stratifikasi ini diperoleh hasil bahwa kemoterapi lini pertama, jumlah siklus 4-6
dan staging merupakan faktor yang mempengaruhi lama ketahanan hidup pasien
KPKBSK nonskuamosa yang mendapat kemoterapi. Stage mempunyai MTTH
paling lama yaitu staging IIIB 336 hari (±11,2 bulan) sehingga faktor ini
memberikan pengaruh terbaik terhadap lama tahan hidup pasien KPKBSK non
skuamosa baik kelompok yang mendapatkan kemoterapi lini pertama maupun
yang mendapat EGFR-TKI.
Tabel 2.7. Analisis multivariat dengan regresi cox model interaksi
Variabel multivariat HR CI 95% P
Kemo lini I 0.500 0,450-1,06 0,011
jumlah siklus 4_6 0.890 0,884-2.125 0,039
Staging 0.400 0,390-0,971 0,027
Universitas Indonesia
Angka tahan..., Kasum Supriadi, FK UI, 2014
49
BAB V
PEMBAHASAN
Kendala yang dihadapi pada penelitian ini yang tidak bisa dihindari oleh
peneliti adalah desain penelitian merupakan metode retrospektif dari rekam medis
pasien kanker paru antara tahun 2010 sampai 2013 sehingga data sangat
bergantung pada kelengkapan rekam medis. Beberapa rekam medis tidak
ditemukan data-data yang lengkap. Selain itu, karena penelitian ini ingin
mengetahui angka tahan hidup pasien yang mendapat kemoterapi lini pertama dan
terapi EGFR-TKI lini pertama, maka peneliti kesulitan mencari sampel khususnya
sampel EGFR-TKI (gefitinib/erlotinib). EGFR-TKI yang sering dipakai saat itu
adalah gefitinib karena masuk dalam jaminan ASKES, sedangkan terapi erlotinib
pada penelitian ini tidak kami dapatkan. Akibatnya sampel untuk terapi EGFR-
TKI hanya gefitinib.
Karakteristik Pasien
Pada penelitian ini didapatkan data 96 pasien kanker paru jenis karsinoma
bukan sel kecil (KPKBSK) nonskuamosa sesuai dengan jumlah sampel minimal
yaitu 48 pasien yang mendapatkan kemoterapi lini pertama dan 48 pasien yang
mendapatkan EGFR-TKI lini pertama. Dalam menampilkan hasil pengamatan,
peneliti memilih satuan hari sebagai satuan waktu. Pada penelitian ini jumlah hari
terkecil adalah 18 hari dan terlama adalah 805 hari (±27 bulan). Rerata umur
pasien pada penelitian ini adalah 54,79 tahun dengan usia termuda 26 tahun dan
tertua 78 tahun. Pada penelitian ini, didapatkan terbanyak KPKBSK nonskumosa
yang dikemoterapi lini pertama dan diterapi EGFR-TKI adalah usia produktif (40-
60 tahun) dan jenis kelamin laki-laki lebih dominan. Kanker paru memang dikenal
sebagai penyakit gen yang sering terjadi pada usia di atas 40. Hal ini sesuai
dengan penelitian Goss G dkk.16 atau Kim ES dkk.23 dan juga Sandler A dkk.24
jenis kelamin laki-laki masih mendominasi pasien KPKBSK nonskuamosa
(adenokarsinoma dan karsinoma sel besar) sesuai dengan faktor risiko untuk
kanker paru adalah laki-laki dengan usia lebih dari 40 tahun. Sebaliknya
Universitas Indonesia
Angka tahan..., Kasum Supriadi, FK UI, 2014
50
penelitian Mok TS dkk.17 mendapatkan pasien KPKBSK non skuamosa yang
dikemoterapi lini pertama dan terapi EGFR-TKI (gefitinib) terbanyak adalah jenis
kelamin perempuan.
Pada penelitian ini 41,7% pasien KPKBSK non skuamosa yang mendapat
kemoterapi lini pertama dan 56,3% pasien yang mendapat EGFR-TKI adalah
perokok. Walaupun demikian subjek ini tidak dapat diidentifikasi untuk
mengetahui apakah pasien perokok aktif atau pasif karena keterbatasan rekam
medis. Di penelitian ini, semua pasien perokok adalah laki-laki sedangkan
perempuan semuanya tidak merokok. Di literatur dikatakan bahwa meskipun
perempuan tidak merokok, namun mungkin saja tinggal di dalam lingkungan
perokok aktif yang berisiko 24% lebih besar terkena kanker paru. Selain itu,
pajanan asap sekitarnya seperti asap kompor dapur, polusi udara dan lain-lain
berhubungan dengan kejadian kanker paru. Faktor seperti kerentanan genetik yang
berhubungan dengan jenis kelamin atau hormon seks mungkin berhubungan
dengan tingginya insidens kanker paru pada perempuan yang tidak merokok.
Mutasi EGFR terjadi pada sebagian besar penderita kanker paru yang tidak
merokok. Mutasi pada EGFR diikuti oleh mutasi proto-onkogen K-ras yang
terletak pada lokus sama sehingga mutasi kedua gen tersebut memperbesar risiko
terjadinya kanker paru.25 Subjek penelitian yang merokok ini mempunyai IB
sedang yang dominan yaitu 20,8% pasien yang dikemoterapi dan 22,9% yang
diterapi EGFR-TKI. Sayangnya, penelitian kami tidak dilengkapi dengan jenis
rokok yang digunakan oleh subjek. Pada penelitian kami, tingkat pendidikan
pasien KPKBSK nonskumosa terbanyak adalah SLTA yaitu 54,2%. Tingkat
pendidikan dianggap bukan faktor risiko terjadinya kanker paru sehingga peneliti
tidak membahas lebih lanjut karena hanya merupakan data tambahan.
Berdasarkan jenis sel, dominasi adenokarsinoma pada penelitian ini sesuai
dengan penelitian Inoue dkk.15 dan Mok TS dkk.17dan data RS persahabatan pada
penelitian ini antara 2010 sampai 2013 adalah 95,8% (91,7% yang diterapi
kemoterapi lini pertama dan 100% yang diterapi EGFR-TKI). Data ini juga lebih
tinggi dengan data di RSUP Persahabatan 2004-2006 pasien kanker paru jenis
adenokarsinoma masih mendominasi sebesar 56,3%. Berbeda dengan penelitian
White dkk26 yang mendapatkan KPKBSK non skumosa yaitu karsinoma sel besar
Universitas Indonesia
Angka tahan..., Kasum Supriadi, FK UI, 2014
51
lebih dominan (28%) dibandingkan adenokarsinoma (22%). Demikian juga
sebaran stage penyakit pasien dalam penelitian ini sesuai dengan penelitian Rossel
dkk.13 yang mendapatkan KPKBSK nonskuamosa stage lanjut (IV) 94,5% lebih
banyak dibandingkan stage III 5,5%. Penelitian Crino dkk.27 juga mendapatkan
dominasi stage IV 80% dibandingkan stage IIIB 20%. Penelitian yang dilakukan
dikutip dari 28
oleh Saouthwest Oncology Group (SWOG) hanya mendapatkan 11-
12% pasien KPKBSK stage III selebihnya adalah stage IV (88-89%) yang sesuai
dengan teori bahwa sekitar 70% pasien KPKBSK khususnya nonskuamosa sudah
dalam stage lanjut (metastasis). Sebagaimana kita ketahui bahwa tujuan
pengobatan pada kanker paru stage lanjut adalah paliatif sehingga pilihan jenis
pengobatan sebaiknya tidak menimbulkan keluhan lain yang dapat menurunkan
kualitas hidup pasien. Pada penelitian ini tampilan umum pasien KPKBSK
nonskuamosa yang mendapat kemoterapi lini pertama adalah PS 1 (29,2%) dan
PS 2 (70,8%). Hal ini sesuai dengan syarat pemberian kemoterapi adalah stage
lanjut dengan tampilan status (PS) ≤ 2. Efek samping kemoterapi yang cukup
banyak meliputi efek hematologi dan efek non hematologi menjadi alasan
mengapa pasien yang dikemoterapi harus mempunyai PS baik.29 Sementara pasien
yang mendapatkan EGFR-TKI mempunyai PS 1-4 dan yang terbanyak adalah PS
2 (47,9%). Pemberian terapi EGFR-TKI pada penelitian ini diberikan pada semua
tampilan status, oleh karena berdasarkan teori fakta bahwa pemberian EGFR-TKI
dapat diberikan pada semua pasien KPKBSK tanpa melihat tampilan statusnya.
Berdasarkan jenis terapi, pasien KPKBSK non skuamosa pada penelitian
ini mendapatkan jenis kemoterapi lini pertama adalah terbanyak
karboplatin+gemsitabin (19,8%) diikuti karboplatin+etoposid 15,6% dan
karboplatin+paklitaksel 14,6% dengan jumlah siklus kemoterapi terbanyak adalah
4-6 (83,3%). Jenis kemoterapi yang digunakan pada penelitian ini, semuanya
adalah sesuai dengan pemberian kemoterapi berdasarkan platinum based therapy.
Minimal pemberian kemoterapi adalah 2 siklus dan maksimal pemberian 6
siklus.I,4 Sedangkan pemberian EGFR-TKI pada penelitian ini semuanya
didominasi gefitinib 48 pasien. Hal ini disebabkan oleh karena mahalnya obat ini
dan saat itu yang dijamin hanya gefitinib sehingga pemakaian erlotinib masih
sangat jarang. Selain itu, pemberian EGFR-TKI pada penelitian ini tidak
Universitas Indonesia
Angka tahan..., Kasum Supriadi, FK UI, 2014
52
memperhatikan atau melihat apakah pasien diperiksakan mutasi atau tidak
sebelumnya. Namun demikian, berdasarkan guideline NCCN bahwa semua
pasien KPKBSK yang akan diberikan terapi EGFR-TKI maka harus diperiksakan
mutasi.30 Persatuan Dokter Paru Indonesia (PDPI) sendiri merekomendasikan
pemakaian EGFR-TKI lini pertama berdasarkan konsensus Bukit Tinggi tahun
2005 bahwa EGFR-TKI dapat diberikan sebagai pengobatan definitif (lini
pertama) jika pasien dengan berbagai alasan tidak dapat atau menolak
kemoterapi.4
Angka Tahan Hidup dan Faktor yang Mempengaruhi
Angka tahan hidup adalah lama pasien tahan hidup sejak didiagnosis
sampai pasien meninggal atau saat penelitian dihentikan. Ada banyak faktor yang
mempengaruhi angka tahan hidup. Faktor utama yang menentukan prognosis
kanker paru adalah stage penyakit. Karakteristik pasien kanker juga berperan pada
ketahanan hidup pasien, anatara lain usia, jenis kelamin, tampilan status (PS) dan
tipe histopatologis.31 Masa tengah tahan hidup pada penelitian ini adalah 264 hari
(±8,8 bulan) dengan ATH 6 bulan 74%, ATH 1 tahun 22,90% dan ATH 2 tahun
(overall survival) 6,20%. Berdasarkan perbandingan pemberian terapi, maka
pasien KPKBSK nonskuamosa yang mendapat EGFR-TKI mempunyai masa
tengah tahan hidup 263 hari (±8,76 bulan) dengan ATH 1 tahun 20,8%
dibandingkan pasien yang diberikan kemoterapi lini pertama mempunyai MTTH
260 hari (±8,67 bulan) dengan ATH 1 tahun 25%. Jadi sebenarnya jika melihat
range MTTH dan ATH 1 tahun maka perbandingan pemberian kedua terapi pada
pasien KPKBSK non skuamosa hampir sama. Pada saat dilakukan uji bivariat
berdasarkan perbandingan terapi mana yang lebih berpengaruh atau bermakna
pada ketahanan hidup maka baik EGFR-TKI ( HR 0,979, P=0,894) maupun
kemoterapi lini pertama (HR 1,052, p=0,173) tidak mempunyai perbedaan
bermakna. Akan tetapi syarat suatu uji bivariat bisa dilanjutkan untuk uji
multivariat yaitu nilai P<0,25 maka kemoterapi lini pertama memenuhi syarat dan
ternyata kemoterapi lini pertama dianggap salah satu faktor yang berpengaruh
terhadap ketahanan hidup pasien KPKBSK non skuamosa dengan HR 0,500 dan
nilai p<0,05 (p=0,011). Penelitian kami hampir sama dengan penelitian Kim
Universitas Indonesia
Angka tahan..., Kasum Supriadi, FK UI, 2014
53
dkk.23 bahwa tidak ada perbandingan yang lebih superior antara MTTH EGFR-
TKI (gefitinib) dengan kemoterapi platinum based yaitu 7,6 bulan versus 8 bulan.
Penelitian Mok TS dkk.17 yang mendapatkan bahwa gefitinib mempunyai masa
tengah tahan hidup lebih lama dibandingkan karboplatin+paklitaksel terhadap
pasien KPKBSK non skuamosa (adenokarsinoma) dan mempunyai lama tahan
hidup 1 tahun lebih lama dibandingkan kemoterapi karboplatin+paklitaksel
(24,9% vs 6,7%). Penelitian ini sama dengan penelitian kami per jenis obat terapi
yaitu gefitinib mempunyai MTTH (263 hari) lebih lama dibandingkan kemoterapi
karboplatin dan paklitaksel (215 hari) dengan ATH 1 tahun (gefitinib 20,8% vs
karbiplatin dan paklitaksel 14,3%).
Jumlah pemberian siklus kemoterapi memiliki pengaruh kerhadap
ketahanan hidup pasien KPKBSK non skuuamosa yang mendapat kemoterapi lini
pertama. Pada penelitian ini diperoleh rata–rata dapat menyelesaikan kemoterapi
hingga 4-6 siklus (83,3%) dan sisanya hanya bisa menyelesaikan kemoterapi 1-3
siklus yaitu 16,7%. Hal ini dikerenakan subjek yang menjalani siklus 1-3 hampir
seluruhnya stage yang sudah lanjut (86,5%). Masa tegah tahan hidup pasien yang
menyelesaikan kemoterapi 4-6 siklus 284 hari sedangkan yang menjalani 1-3
siklus kemoterapi memiliki masa tengah tahan hidup 150 hari, dan semua pasien
tersebut telah meninggal sehingga tidak bisa menyelesaikan siklus kemoterapi
selanjutnya.
Selain itu, faktor yang dianggap paling berpengaruh pada ketahanan hidup
pada penelitian ini adalah stage. Pada penelitian ini, stage juga dianggap sebagai
faktor yang berpengaruh terhadap ketahanan hidup pasien. Hampir semua pasien
berada dalam stage IV baik pasien KPKBSK non skuamosa yang mendapatkan
kemoterapi lini pertama maupun yang diterapi EGFR-TKI (91,7% vs 87,5%)
sedangkan sisanya stage IIIB yaitu kemoterapi sebanyak 8,3% vs yang diterapi
EGFR-TKI sebanyak 12,5%. Berdasarkana lama tahan hidup 1 tahun maka pasien
KPKBSK non skuamosa baik yang mendapatkan kemoterapi maupun EGFR-TKI,
stage IIIB mempunyai MTTH lebih lama 336 hari (±11,2 bulan) dengan ATH 1
tahun 50% dibandingkan stage IV 259 hari (±8,6 bulan) dengan ATH 1 tahun
19,8%. Fakta teori mengatakan bahwa faktor utama yang menentukan prognosis
kanker paru adalah stage penyakit.31 Penelitian kami hampir sama dengan
Universitas Indonesia
Angka tahan..., Kasum Supriadi, FK UI, 2014
54
penelitian Mok TS dkk.17 atau Rossel dkk.13 dan juga Kim dkk23. yang
menunjukkan bahwa pasien KPKBSK yang mendapatkan kemoterapi platinum
based dibandingkan EGFR-TKI rata-rata mempunyai stage IV saat diterapi
walaupun pada penelitian mereka tidak dijelaskan stage mana yang mempunyai
ketahanan hidup lebih lama. Secara keseluruhan, pada penelitian kami stage
dianggap salah satu yang paling mempengaruhi ketahanan hidup pasien dengan
nilai bermakna secara statistik. Uji bivariat stage mempunyai HR 0,405 dengan
nilai p<0,052 dan dengan uji multivariat stage mempunyai HR 0,400 dengan nilai
p<0,05 (p=0,027) n. Pada penelitian kami, walaupun pasien berada pada stage
lanjut tapi karena ini penelitian retrospektif maka banyak data mengenai
metastasis pasien tidak diketahui atau tidak tertulis dengan baik di rekam medis.
Sehingga peneliti tidak dapat menganalisis mengenai metastasis organ pasien
KPKBSK non skuamosa.
Kanker paru identik dengan penyakit keganasan usia tua. Penelitian Thun
dkk.32 menyebutkan bahwa umur pada saat diagnosis mempengaruhi prognosis
kanker paru. Peningkatan umur menyebabkan akumulasi zat-zat karsinogenik
dalam tubuh dan kerusakan genetik. Selain itu, peningkatan umur menyebabkan
penurunan imunitas, penurunan perbaikan DNA dan menyebabkan hilangnya
regulasi sel yang memfasilitasi terjadinya karsinogenesis dalam tubuh. Setiap
kenaikan 10 tahun akan meningkatkan 30% risiko kematian. Pada penelitian ini
terdapat kecenderungan semakin muda usia pasien maka angka tahan hidupnya
semakin lama. Masa tengah tahan hidup kelompok usia <40 tahun 286 hari,
sedangkan 40-60 tahun 264 hari dan 243 hari pada usia 60 tahun ke atas. Tetapi
pada analisis statistik terhadap lama tahan hidup, usia tidak terdapat hubungan
bermakna dengan lama tahan hidup.
Merokok telah disepakati sebagai salah satu penyebab kanker paru dan
dianggap mempunyai peranan terhadap progresivitas tumor. Masa tengah tahan
hidup pasien yang tidak merokok pada penelitian ini adalah 259 hari (±8,6 bulan)
sedangkan pada perokok 280 hari (±9,3 bulan). Terdapat beberapa alasan
mengapa ini tejadi pada penelitian kami dan salah satunya bahwa jumlah sampel
pada penelitian kami yang tidak merokok lebih dominan lebih dari 50%. Selain
itu, semua pasien yang tidak merokok adalah perempuan. Padahal jumlah sampel
Universitas Indonesia
Angka tahan..., Kasum Supriadi, FK UI, 2014
55
laki-laki lebih dominan daripada perempuan dan semuanya merokok. Sehingga
secara statistik kemungkinan hasil yang diharapkan berbeda dengan faktanya
bahwa berdasarkan teori tidak merokok mempunyai MTTH lebih lama
dibandingkan merokok. Setelah dilakukan analisis bivariat riwayat merokok
bukan dianggap sebagai faktor yang mempengaruhi ketahanan hidup pasien
KPKBSK nonskuamosa. Penelitian meta analisis di Universitas Birmingham
tentang pengaruh rokok terhadap ketahanan hidup pasien KPKBSK stage awal
menyatakan bahwa orang yang berhenti merokok setelah diagnosis kanker paru
tegak mempunyai ketahanan hidup dua kali lebih baik daripada yang tetap
melanjutkan merokok.33 Peneliti juga membagi kelompok selected yaitu
perempuan yang tidak merokok yang berdasarkan literatur memiliki
kecenderungan mutasi EGFR positif yang memiliki respons baik terhadap terapi
golongan EGFR-TKI dan non selected (perempuan dan laki-laki yang merokok)
yang merupakan kebalikannya. Hasil yang diperoleh setelah analisis secara
statistik ke dua kelompok tersebut tidak bermakna dengan nilai p> 0,05.
Penatalaksanaan kanker paru selain bedasarkan jenis histologi sel dan
stage juga tergantung pada status tampilan pasien. Pada penelitian ini, status
tampilan bagus (PS≤ 2) pada pasien KPKBSK nonskumosa yang mendapatkan
kemoterapi lini pertama dibandingkan terapi EGFR-TKI yaitu masing-masing
mempunyai MTTH lebih lama 264 hari dibandingkana pasien dengan PS ≥ 2, 258
hari. Namun pada penelitian ini, saat dianalisis dengan uji bivariat PS ≤ 2 tidak
mempunyai hubungan bermakna secara statistik dengan lama tahan hidup pasien.
Berbeda dengan penelitian Kim dkk23 dan penelitian Mok TS dkk17 yang
mendapatkan bahwa PS 1-2 bermakna mempengaruhi ketahanan hidup pada
pasien KPKBSK non skuamosa khususnya adenokarsinoma yang mendapatkan
terapi gefitinib dan yang mendapat kemoterapi platinum based. Akan tetapi
melihat karakteristik dari penelitiannya, maka terlihat perbedaan distribusi bahwa
pada penelitian kami untuk pasien KPKBSK non skumosa yang diterapi EGFR-
TKI mempunyai PS antara 1-4, sedangkan yang diberikan kemoterapi antara 1-2.
Sementara di penelitian Kim dan Mok hanya pasien dengan PS ≤2 (0-2) yang
mendapatkan kemoterapi lini pertama dan terapi EGFR-TKI sehingga secara
statistik distrubsi datanya akan lebih merata.
Universitas Indonesia
Angka tahan..., Kasum Supriadi, FK UI, 2014
56
Berdasarkan jenis histologi KPKBSK non skuamosa, jenis adenokarsinoma
mempunyai ketahanan hidup yang lebih baik jika dibandingkan karsinoma sel
besar, apalagi jika masih dalam stage awal. Masa tengah tahan hidup pasien
adenokarsinoma yang mendapatkan kemoterapi lini pertama dan EGFR-TKI
adalah 264 hari dengan ATH 1 tahun 22,8% walaupun dengan analisis bivariat
tidak bermakna secara statistik (HR 1,163; p=0,799). Berbeda dengan penelitian
Kim dkk23 yang mendapatkan pasien adenokarsinoma dengan mutasi positif
setelah mendapatkan terapi gefitinib dan kemoterapi lini pertama maka secara
statistik bermakna mempunyai progression free survival lebih (PFS) lama. Namun
demikian, pada penelitian kami pasien yang diterapi EGFR-TKI tidak kami
perhatikan apakah mutasinya positif atau negatif.
Universitas Indonesia
Angka tahan..., Kasum Supriadi, FK UI, 2014
57
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
1.1 . Kesimpulan
1. Angka tahan hidup 1 tahun pasien KPKBSK nonskuamosa yang
diterapi EGFR-TKi (gefitinib) adalah 20,8%.
2. Angka tahan hidup 1 tahun pasien KPKBSK nonskuamosa yang
diterapi kemoterapi lini pertama adalah 25% (angka tahan hidup 1
tahun pasien kemoterapi karboplatin dan etoposide 26,7%, karboplatin
dan paklitaksel 14,6% dan angka tahan hidup 1 tahun pasien KPKBSK
nonskumosa dengan kemoterapi karboplatin dan gemsitabin lebih baik
31,6%).
3. Angka tahan hidup keseluruhan pasien KPKBSK nonskuamosa yang
mendapatkan kemoterapi dan EGFR-TKI adalah 6,20%.
4. Berdasarkan karakteristik dasar pasien, faktor yang dianggap paling
mempengaruhi lama tahan hidup pada penelitian ini adalah stage
penyakit.
1.2 . Saran
1. Perlu dilakukan penelitian lanjutan secara prospektif dengan jumlah
sampel yang lebih banyak mengenai perbandingan kemoterapi lini
pertama (platinum based) dengan terapi EGFR-TKI yang sudah
digunakan di Indonesia (erlotinib dan gefitinib).
2. Sebaiknya dicari data mengenai efikasi dan toksisiti serta respons objektif
dan subjektif pasien yang diberikan terapi target EGFR-TKI guna menilai
PFS.
Universitas Indonesia
Angka tahan..., Kasum Supriadi, FK UI, 2014
58
DAFTAR PUSTAKA
1. Syahruddin E, Hudoyo A, Jusuf A. Respons dan toleransi pasien
adenokarsinoma paru stage III dan IV untuk pemberian kemoterapi rejimen
paclitaxel plus karboplatin. J Respi Indo;2007;30:105-11.
2. Reid A, Vidal L, Shaw H, de Bono J. Dual inhibition of ErbB1 (EGFR/HER1)
and ErbB2 (HER2/neu). Eur J Cancer 2007;43:481–9.
3. Yarden Y. The EGFR family and its ligands in human cancer: signaling
mechanisms and therapeutic opportunities. Eur J Cancer 2001;37:S3–S8.
4. Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. Kanker Paru. Pedoman diagnosis dan
penatalaksanaan di Indonesia. Edisi Revisi III. PDPI;2011:1-48.
5. Yarden Y, Sliwkowski MX. Untangling the ErbB signalling network. Nat Rev
Mol Cell Biol 2001;2:127–37.
6. Irmer D, Funk JO, Blaukat A. EGFR kinase domain mutations functional
impact and relevance for lung cancer therapy. Oncogene 2007;26:5693–701.
7. Weinstein IB, Joe AK. Mechanisms of disease: oncogene addiction a
rationale for molecular targeting in cancer therapy. Nat Clin Pract Oncol
2006;3(8):448-57.
8. Lynch TJ, Bell DW, Sordella R, Gurubhagavatula S, Okimoto RA, Brannigan
BW, et al. Activating mutations in the epidermal growth factor receptor
underlying responsiveness of NSCLC to gefitinib. N Engl J Med
2004;350:2129–39.
9. Paez JG, Janne PA, Lee JC, Tracy S, Greulich H, Gabriel S, et al. EGFR
mutations in lung cancer:Correlation with clinical response to gefitinib
therapy. Science 2004;304:1497–500.
10. Pao W, Miller V, Zakowski M, Doherty J, Politi K, Sarkaria I, et al. EGF
receptor gene mutations are common in lung cancers from never smokers and
are associated with sensitivity of tumors to gefitinib and erlotinib. Proc Natl
Acad Sci 2004;101:13306-11.
11. Sharma SV, Bell DW, Settleman J, Haber DA. Epidermal growth factor
receptor mutations in lung cancer. Nat Rev Cancer 2007;7:169–81.
12. Shepherd FA, Rodrigues Pereira J, Ciuleanu T. Erlotinib in previously treated
NSCLC. N Engl J Med 2005;353(2):123–32.
Universitas Indonesia
Angka tahan..., Kasum Supriadi, FK UI, 2014
59
13. Rosell R, Moran T, Queralt C, Porta R, Cardenal F, Camps C, et al. Screening
for EGFR mutations in lung cancer. N Engl J Med 2009;361(10):958-67.
14. Niho S, Kubota K, Goto K, Yoh K, Ohmatsu H, Kakinuma R, et al. First-line
single agent treatment with gefitinib in patients with advanced NSCLC: a
phase II study. J Clin Oncol 2006;24(1):64–9.
15. Inoue A, Suzuki T, Fukuhara T, Maemondo M, Kimura Y, Morikawa N, et al.
Prospective phase II study of gefitinib for chemotherapy naivepatients with
advanced NSCLC with epidermal growth factor receptor gene mutations. J
Clin Oncol 2006;24(31):3340–6.
16. Goss G, Ferry D, Wierzbicki R, Laurie SA, Thompson J, Biesma B, et al.
Randomized phase II study of gefitinib compared with placebo in
chemotherapy naive patients with advanced NSCLC and poor performance
status. J Clin Oncol 2009;27(13):2253-60.
17. Mok TS, Wu YL, Thongprasert S, Yang CH, Chu DT, Saijo N, et al. Geftinib
or carboplatin paclitaxel in pulmonary adenocarcinoma. N Engl J Med
2009;361(10):947-57.
18. Mok TS, Thongprasert S, Yang CH, Chu DT, Saijo N. Gefitinib or carboplatin-
paclitaxel in pulmonary adenocarcinoma. N Eng J Med 2009;361:947-57.
19. Maemondo M, Inoue A, Kobayashi K, Sugawara S, Oizumi S, Isobe H, et al.
Gefitinib or chemotherapy for NSCLC with mutated EGFR. N Engl J Med
2010;362(25):2380-8.
20. Mitsudomi T, Kosaka T, Endoh H, Horio Y, Hida T, Mori S, et al. Mutations
of the epidermal growth factor receptor gene predict prolonged survival after
gefitinib treatment in patients with NSCLC with post operative recurrence. J
Clin Oncol 2005;23(11):2513-20.
21. Tsao M-S, Sakurada A, Cutz J-C, Zhu C-Q, Kamel-Reid S, Squire J, et al.
Erlotinib in lung cancer molecular and clinical predictors of outcome. N Engl
J Med 2005;353(2):133-44.
22. Sequist LV, Bell DW, Lynch TJ, Haber DA. Molecular predictors of response
to epidermal growth factor receptor antagonists in NSCLC. J Clin Oncol
2007;25(5):587-95.
Universitas Indonesia
Angka tahan..., Kasum Supriadi, FK UI, 2014
60
23. Kim ES, Hirsh V, Mok T, Socinski A, Gervais R, Wu YL. Gefitinib versus
docetaxel in previusly treated non-small cell lung cancer (INTEREST): a
roandomised phase III [Link] 2008;372:1809-17.
24. Sandler A, Gray R, Perry MC, Brhamer J, Schiller JH, Dowlati A, et al.
Paclitaxel-carboplatin or with Bevacizumab for non-small cell lung cancer.
NEJM 2006;355:2543-9.
25. Patel JD. Lung cancer in women. J Clin Oncol 2005;23:3212-8.
26. White SC, Anderson H, Jayson GC, Ashcroft L, Ranson M, Thatcher N, et al.
Randomised phase II study of cisplatin-etoposide versus infusional carboplatin
in advanced non small cell lung cancer and mesothelioma. Annals Oncol
2000;11:201-6.
27. Crino L, Dansin E, Garrido P,Griesinger F, Laskin J, Pavlakis N. Safety and
efficacy of first line bevacizumab based therapy in advanced non-squamous
non small cell lung cancer: a phase 4 study. Lancet Oncol 2010;11:733-40.
28. Arrieta O, Ortega R, Rodriquez G, Thome M, Estrada D, Romero C et al.
Association of nutritional status and serum albumin level with development of
toxicity in patients with advanced non small cell lung cancer treated with
paclitaxel-cisplatin chemotherapy: a prospective study. BMC cancer
2010;10:1-7.
29. Rawat J, Sindwani G, Gaur D, Dua R, Saini S. Clinico-phatological profile of
lung cancer in Uttharakand. Lung India 2009; 26(3):74-6.
30. National Comprehensive Cancer Network. Non-small cell lung [Link]
2013;2:13-9.
31. Radzikowska E, Glaz P, Roszkwski K. Lung cancer in women: age, smoking,
histology, performance status and stage, initial tretamnet and survival.
Population based study. Ann Oncol 2002;13:1087-93.
32. American Lung Association. State of lung disease in diverse communities
2010. New York: New York City Office;2010.p.55-62.
33. Parsons A, daley A, Begh R, Aveyard P. Influence of smoking cessation after
diagnosis of early stage lung cancer on prognosis: systematic review of
observational studies with meta analysis. BMJ 2010;340:1-7.
Universitas Indonesia
Angka tahan..., Kasum Supriadi, FK UI, 2014
61
Lampiran 1
PERENCANAAN KEGIATAN
Bulan Oktober s/d Februari s/d Mei s/d
– Januari 2013 April 2014 Agustus 2014
Pengambilan sampel
Analisis Data
Penulisan
Lampiran 2
RENCANA ANGGARAN PENELITIAN
No Jenis kegiatan Biaya (Rp) Jumlah (Rp)
1. Penelusuran literatur dan persiapan 1.000.000
proposal
2. Alat tulis, Print dan fotokopi 5.000.000
3. Persetujuan komisi etik 500.000
4. Pembelian pulsa 40 x 100.000 4.000.000
5. Penyusunan tesis 2.000.000
6. Biaya transportasi 5.000.000
7. Publikasi 2.000.000
8. Konsultasi statistic 5.000.000
TOTAL 24.500.000
Universitas Indonesia
Angka tahan..., Kasum Supriadi, FK UI, 2014
62
Lampiran 3
INFORMASI PENELITIAN
Judul : Angka tahan hidup penderita kanker paru KPKBSK
nonskuamosa yang mendapat EGFR - TKi dan yang mendapat
kemoterapi lini pertama di rumah sakit Persahabatan.
Peneliti : Dr. Kasum Supriadi
Pembimbing : Dr. Achmad Hudoyo,SpP (K)
Dr. Sita Andarini, Ph.D, Sp.P(K)
Kriteria inklusi :
A. Kriteria Inklusi
1. Pasien KPKBSK nonskuamosa yang mendapatkan terapi target EGFR -
TKi atau kemoterapi lini pertama sejak Januari 2010 - Desember 2013.
2. Pasien KPKBSK nonskuamosa yang mendapatkan kemoterapi lini pertama
sejak Januari 2010 - Desember 2013.
B. Kriteria Eksklusi
1. Pasien yang didiagnosis KPKBSK jenis sel skuamosa.
2. Pasien yang didiagnosis KPKBSK nonskuamosa stadium I – IIIa yang telah
dilakukan pembedahan.
Apabila bersedia ikut serta dalam penelitian ini, kami memohon kesediaan untuk
menandatangan surat persetujuan dalam penelitian ini. Bila terdapat hal-hal yang
belum jelas atau sewaktu-waktu memerlukan penjelasan, Anda dapat
menghubungi [Link] Supriadi Hp 08569075713. Atas kesediaan
Bapak/Ibu/Saudara/Saudari, kami ucapkan terima kasih.
Universitas Indonesia
Angka tahan..., Kasum Supriadi, FK UI, 2014
63
Lampiran 4
Lembar Persetujuan Pasien/Keluarga
Saya yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama : ………………………………………..........……………
Umur : …………….. Tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki Perempuan
Alamat lengkap :………………………………………................................
.....................................................................................................
Pendidikan :……………………………………………………………
Pekerjaan :…………………………………………………………….
[Link]. yang dapat dihubungi:…………………………………………….….....
Setelah mendapat keterangan secukupnya dan mengerti manfaat penelitian
tersebut di bawah ini yang berjudul:
ANGKA TAHAN HIDUP PASIEN KANKER PARU JENIS KARSINOMA
BUKAN SEL KECIL NONSKUAMOSA YANG MENDAPAT
EPIDERMAL GROWTH FACTOR RECEPTOR EGFR – TYROSIN KINASE
INHIBITOR TKI DAN YANG MENDAPAT KEMOTERAPI LINI
PERTAMA DI RUMAH SAKIT PERSAHABATAN
Dengan sukarela menyetujui untuk ikut serta dalam penelitian tersebut dengan
catatan apabila sewaktu-waktu dirugikan dalam bentuk apapun berhak
membatalkan persetujuan ini.
Jakarta, ..........................2013/2014
Peneliti Yang Menyetujui
Peserta penelitian
(Dr. Kasum Supriadi) (..............................................)
Universitas Indonesia
Angka tahan..., Kasum Supriadi, FK UI, 2014
64
Lampiran 5
Dummy Table
Tabel 1. Karakteristik pasien KPKBSK nonskuamosa yang mendapatkan
EGFR-TKi dan kemoterapi lini pertama
Karakteristik Jumlah
Total kasus
Jenis kelamin Laki-laki
Perempuan
Umur < 40 tahun
40-60 tahun
> 60 tahun
Riwayat merokok Ya
Indeks Brinkmann
Ringan
Sedang
Berat
Tidak merokok
Stage IIIb
IV
Tampilan umum 0
1
2
3
4
Jenis histologi
KPKBSK nonskuamosa
1. Adenokarsinoma
2. Karsinoma sel besar
Universitas Indonesia
Angka tahan..., Kasum Supriadi, FK UI, 2014
65
Tabel 2. Distribusi Pasien KPKBSK Nonskuamosa yang mendapat EGFR-
TKi lini I dan yang mendapat kemoterapi lini I di RSUP
Persahabatan periode Januari 2010 sampai Desember 2013
Terapi Jumlah %
Kemo lini Pertama
Karbo+Etoposid
Karbo+Paklitaksel
Karbo +Gemsitabin
TKI-inhibitor
Gefitinib
Erlotinib
Jumlah siklus
kemo
1_3
4_6
Tabel 3. Angka tahan hidup berdasarkan karakteristik pasien KPKBSK non
skuamosa di RSUP Persahabatan
ATH
Variabel MTTH 95% CI 1 tahun
(hari) Min Max n %
Umur <40 thn
40-60 thn
>60 thn
Jenis kelamin Laki-laki
Perempuan
Merokok Ya
Tidak
IB Ringan
Sedang
Berat
Histopatologi Adenokarsinoma
KSB
Staging IIIB
IV
Universitas Indonesia
Angka tahan..., Kasum Supriadi, FK UI, 2014
66
Terapi
Kemo I
Karbo+Etoposid
Karbo+Gemsitabin
Karbo+paklitaksel
EGFR-TKi
Gefitinib
Erlotinib
Tampilan
status ≤2
>2
Jumlah siklus 1_3
4_6
Tabel 4. Angka tahan hidup pasien KPKBSK non skuamosa di RSUP
Persahabatan periode Januari 2010 sampai Desember 2013
No Waktu tahan hidup Angka Tahan Hidup
1. 6 bulan
2. 1 tahun
3. 2 tahun
Universitas Indonesia
Angka tahan..., Kasum Supriadi, FK UI, 2014