BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam kehidupan seni aktivitas manusia terbagi menjadi tiga bentuk, yaitu
aktivitas kreasi, aktivitas penghayatan, dan aktivitas kritik seni. Aktivitas karya
seni yaitu mengacu adanya seniman yang yang menghadirkan karya. Artinya,
dalam proses seniman bersinggungan dengan kenyataan objektif di luar dirinya
atau kenyataan dalam dirinya sendiri. Persinggungan tersebut menimbulkan
respon atau tanggapan. Tanggapan yang dimilikinya dipresentasikan ke luar
dirinya, maka lahirnya karya seni. Aktivitas penghayatan, yaitu aktivitas
seseorang dalam memahami karya seni untuk mendapatkan suatu pengalaman
batin. Artinya, penghayat merasa puas setelah menghayati karya seni dan
memperoleh kepuasan estetik.
Kepuasan estetik merupakan hasil interaksi antara karya seni dengan
penghayat. Sedangkan aktivitas kritik seni, yakni sebagai usaha pemahaman dan
penikmatan karya seni. Dalam hal ini kritik sebagai kajian rinci dan apresiatif
dengan analisis yang logis dan argumentatif untuk menafsirkan karya seni. Ketiga
aktivitas tersebut, dapat dijelaskan bahwa kreasi seni berkaitan dengan mencipta,
menghayati, dan kritik. Mencipta, yaitu proses mewujudkan suatu karya seni
sesuai dengan ide seniman. Menghayati, yakni proses menikmati suatu karya yang
diciptakan seniman. Kritik, yakni proses evaluasi untuk menentukan baik-
buruknya suatu ciptaan atau memberi penjelasan terhadap suatu karya berdasarkan
1
norma-norma tertentu. Oleh karena itu, ketiga aktivitas itu, yakni antara seniman,
penghayatan, dan kritik seni (penilaian) merupakan satu kesatuan yang tak
terpisahkan. Proses apresiasi memang menjadi satu kebutuhan dan kritik adalah
kebutuhan yang lain. Keduanya dapat berkait ketika kritik berhasil sebagai
pemandu pemahaman dan apresiasi. Kritik selalu diharapkan menjadi pembuka
kemungkinan adanya proses pemahaman antara kerja seniman dan daya apresiasi
masyarakat penikmatnya. Tugas kritik karya seni akan lebih banyak pada prioritas
masalah apresiasi, sehingga seluruh proses pendekatan dan isi paparan kritik dapat
menciptakan iklim apresiasi.
Kritik Seni dalam dunia Seni Rupa sangat penting. Malalui Kritik Seni, kita
bisa melihat kelebihan dan kekurangan yang tampak dalam sebuah karya seni.
Terjadinya kritik disebabkan adanya ketidak sesuaian, penyimpangan ataupun
lepasnya batas-batas normatif dalam pandangan obyektif pelaku kritik. Tentu
pandangan masing-masing pelaku kritik didasari dari latar belakang ilmu
pengetahuan dan pengalamannya secara menyeluruh. Artinya kritik pun bisa
bermakna subyektif bisa pula bermakna obyektif. Namun nilai kritik akan sangat
bisa diterima, tentunya, jika sudah melalui seleksi mayoritas atas pandangan yang
obyektif. Situasi kondisi dalam hal ini sangat mudah kita saksikan, baik itu di
wilayah publik, maupun dalam wilayah-wilayah yang lebih kecil. Misalnya
lingkungan sekitar. Atau bisa juga dalam sebuah komunitas tertentu.
Dalam makalah ini akan memuat tentang penjesan siapa Vincent willem van
gogh beserta pengertian, makna dan kritikan dari penulis makalah ini tentang
karya beliau.
2
1.2 Tujuan
A. Unruk mengetahui apa itu kritik seni, fungsi serta bentuk kritik seni
B. Untuk mengetahui siapa itu Vincent willem van gogh
C. Mengetahui apa saja karya Vincent willem van gogh
D. Memberikan pendapat atau kritikan tentang makna, kekurangan,
dan kelebihan yang tertuang dalam karya Vincent willem van gogh
1.3 Manfaat Penelitian
Dengan makalah ini diharapkan , dapat membrikan pengetahuan serta
pemahaman yang baik , baik kepada penulis maupun kepada pembaca tentang
KRITIK KARYA SENI RUPA VINCENT WILLEM VAN GOGH. Adapun
manfaat yang dapat diperoleh dari penyusunan makalah ini adalah pembaca dapat
mengetahui tentang pengertian, manfaat, siapa van gogh, apa karya dan maknya,
serta mengkritik karya beliau.
3
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Kritik Seni Rupa
2.1.1 Pengertian kritik seni
Istilah kritik atau critism (Inggris) berasal dari bahasa Yunani yakni
kritikos yang berhubungan dengan krinein yang berarti memisahkan,
mengamati, membandingkan dan menimbang. Di Yunani ada kata krites
yang maksudnya hakim, dengan kata kerja krinein berarti juga
menghakimi. Kritikos berarti juga hakim kesusasteraan. Istilah ini ada
semenjak abad ke IV sebelum kelahiran kristus. Menurut sejarahnya,
seorang bernama Pilatus dari pulau Kos yang pada tahun 305 Sebelum
Masehi didatangkan ke Alexandria untuk menjadi guru raja Ptolomeus II
dan dianugerahi julukan penyair dan kritikos sekaligus (Hardjana, 1981).
Pada abad pertengahan di Eropa, istilah kritik hanya muncul dalam
bidang kedokteran dengan pengertian yang menyatakan suatu keadaan
penyakit yang kritis atau sangat membahayakan jiwa penderitanya.
Selanjutnya pada masa Renaissans arti kata tersebut kembali kepada
pengertian lama dan seorang yang bernama Poliziano pada tahun 1492
mempergunakan istilah-istilah tersebut untuk membedakannya dengan
filsuf. Pada waktu itu, istilah critikus dan gramaticus dipergunakan untuk
menunjuk orang-orang yang menekuni pustaka sastra lama. Sementara itu
seorang pujangga bernama Erasmus mempergunakan istilah art critic untuk
4
Al-Kitab sebagai alat atau sarana dalam pelayanan hidup. Beberapa waktu
kemudian di kalangan penganut Humanisme berlaku pengertian yang
terbatas pada penyuntingan dan pembetulan teks-teks kuno. Pergeseran arti
kritik sehingga mencakup pembetulan edisi, pernyataan pengarang, sensor
dan penghakiman berlaku pada sekitar tahun 1600. (Wellek, 1971).
Sementara itu, di Perancis dan Amerika Serikat pada awal abad XIX
berlaku kedua pengertian itu secara luas. Istilah critique menunjuk
pembicaraan tentang seniman tertentu, sedangkan criticism menunjuk
teorinya. Dalam bahasa Inggris, istilah Critic diperuntukkan kepada
orangnya, yang bahasa Belandanya Criticus. Menurut Poerwadarminta ,
kritik berarti kemelut; keadaan genting. Kritik berarti kecaman, celaan,
gugatan. Sedangkan menurut Seodjipto (1991), arti kata kritik adalah suatu
cara atau metoda untuk membahas, menimbang, mengamati,
membandingkan, memilah-milah (menyeleksi), mengulas, mengurai,
menafsir, meninjau, komentar, menelaah, menilai, mengevaluasi dan
mengkaji. Lebih lanjut W.H. Hudson mengatakan bahwa istilah kritik
dalam arti yang tajam adalah penghakiman (judgesment). Kritikus pertama
kali dipandang sebagai seorang ahli yang memiliki kepandaian khusus dan
mengalami pendidikan untuk menelaah suatu karya. Memeriksa kebaikan
dan cacat, lalu mengatakan pendapat itu. Selanjutnya Hudson mengatakan
adanya kritikan yang mengutamakan memuji dan mencari kebaikan dan ada
yang mengutamakan mencari cacat melulu. Menurut Gayley dan Scoot
dalam Liaw Yock Fang (1970), kritik adalah: mencari kesalahan (faul-
5
finding), memuji (to praise ), menilai (to judge ), membandingkan (to
compare), dan menikmati (to appreciate ). Dari beberapa pandangan di atas,
ternyata menunjukkan adanya perbedaan dalam mendefinisikan apa kritik
itu. Namun jika dicermati lebih mendalam akan ada kesamaan, yakni: kritik
adalah komentar, biasanya normatif terhadap suatu prestasi dan seluk beluk
dengan tujuan apresiatif.
Oleh karena itu, kritik seni merupakan kegiatan menanggapi karya
seni untuk menunjukkan kelebihan dan kekurangan suatu karya seni.
Keterangan mengenai kelebihan dan kekurangan ini dipergunakan dalam
berbagai aspek, terutama sebagai bahan untuk menunjukkan kualitas dari
sebuah karya. Para ahli seni umumnya beranggapan bahwa kegiatan kritik
dimulai dari kebutuhan untuk memahami kemudian beranjak kepada
kebutuhan memperoleh kesenangan dari kegiatan memperbincangkan
berbagai hal yang berkaitan dengan karya seni tersebut. Sejalan dengan
perkembangan pemikiran dan kebutuhan masyarakat terhadap dunia seni,
kegiatan kritik kemudian berkembang memenuhi berbagai fungsi sosial
lainnya. Kritik karya seni tidak hanya meningkatkan kualitas pemahaman
dan apresiasi terhadap sebuah karya seni.
2.1.2 Fungsi Kritik Seni
Kritik seni memiliki fungsi yang sangat strategis dalam dunia
kesenirupaan dan pendidikan seni rupa. Fungsi kritik seni yang pertama dan
utama ialah menjembatani persepsi dan apresiasi artistik dan estetik karya
6
seni rupa, antara pencipta (seniman, artis), karya, dan penikmat seni.
Komunikasi antara karya yang disajikan kepada penikmat (publik) seni
membuahkan interaksi timbal-balik dan interpenetrasi keduanya.
Fungsi lain ialah menjadi dua mata yang saling dibutuhkan, baik
oleh seniman maupun penikmat. Seniman membutuhkan mata panah tajam
untuk mendeteksi kelemahan, mengupas kedalaman, serta membangun
kekurangan. Seniman memerlukan umpan-balik guna merefleksi
komunikasi-ekspresifnya, sehingga nilai dan apresiasi tergambar dalam
realita harapan idealismenya. Publik seni (masyarakat penikmat) dalam
proses apresiasinya terhadap karya seni membutuhkan tali penghubung
guna memberikan bantuan pemahaman terhadap realita artistik dan estetik
dalam karya seni. Proses apresiasi menjadi semakin terjalin lekat, manakala
kritik memberikan media komunikasi persepsi yang memadai. Kritik
dengan gaya bahasa lisan maupun tulisan yang berupaya mengupas,
menganalisis serta menciptakan sudut interpretasi karya seni, diharapkan
memudahkan bagi seniman dan penikmat untuk berkomunikasi melalui
karya seni Menurut Sudarmaji (1970) melihat kritik memiliki dua fungsi,
yakni:
a. Sebagai pemberitahuan bahwa ada penyuguhan hasil seni. Sebagai
fungsi tak langsung
b. Pembicaraan sesuatu gejala, memberikan pengantar, lalu menilai
baik buruknya suatu prestasi, serta memberikan apresiasi.
7
Berdasarkan titik tolak atau landasan yang digunakan, dikenal pula
beberapa bentuk kritik
2.1.3 Bentuk kritik
A. Kritik Instrumentalistik
Melalui pendekatan instrumentalistik sebuah karya seni cenderung
dikritisi berdasarkan kemampuananya dalam upaya mencapai tujuan,
moral, religius, politik atau psikologi. Pendekatan kritik ini tidak terlalu
mempersoalkan kualitas formal dari sebuah karya seni tetapi lebih
melihat aspek konteksnya baik saat ini maupun masa lalu. Lukisan
berjudul ”Penangkapan Pangeran Diponegoro” karya Raden Saleh
misalnya, dikritisi tidak saja berdasarkan kualitas teknis (formal) nya saja
tetapi keterkaitan antara objek, isi, tema dan tujuan serta pesan moral
yang ingin disampaikan pelukisnya atau interpretasi pengamatnya
terhadap konteks ketika karya tersebut dihadirkan.
B. Kritik Formalistik
Melalui pendekatan formalistik, kajian kritik terutama ditujukan
terhadap karya seni sebagai konfigurasi aspek-aspek formalnya atau
berkaitan dengan unsur-unsur pembentukannya. Pada sebuah karya
lukisan, maka sasaran kritik lebih tertuju kepada kualitas penyusunan
(komposisi) unsur-unsur visual seperti warna, garis, tekstur, dan
sebagainya yang terdapat dalam karya tersebut. Kritik formalistik
8
berkaitan juga dengan kualitas teknik dan bahan yang digunakan dalam
berkarya seni.
C. Kritik Ekspresivistik
Melalui pendekatan ekspresivistik dalam kritik seni, kritikus
cenderung menilai dan menanggapi kualitas gagasan dan perasaan yang
ingin dikomunikasikan oleh seniman melalui sebuah karya seni.
Kegiatan kritik ini umumnya menanggapi kesesuaian atau keterkaitan
antara judul, tema, isi dan visualisasi objek-objek yang ditampilkan
dalam sebuah karya.
2.2 Riwayat Vincent Willem Van Gogh
Vincent Willem van Gogh (30
Maret 1853 – 29 Juli 1890) adalah pelukis pasca-
impresionis Belanda yang menjadi salah satu
figur terkenal dan berpengaruh dalam sejarah seni
rupa Barat. Sepanjang satu dekade, ia membuat
sekitar 2,100 karya seni, yang meliputi sekitar
860 lukisan minyak, sebagian besar berasal dari
dua tahun terakhir masa hidupnya di Perancis,
dimana ia wafat. Karya-karya tersebut
meliputi lanskap, cuplikan kehidupan, potret dan potret diri, dan
dikarakteristikkan dengan warna yang tebal dan dramatis, karya kuas implusif dan
9
ekspresif yang berkontribusi pada pendirian seni rupa modern. Bunuh dirinya 37
tahun berikutnya adalah akibat sakit mental dan kemiskinan.
Lahir dalam sebuah keluarga kelas menengah ke atas, Van Gogh
dibesarkan menjadi seorang anak yang serius, pendiam dan telaten. Pada masa
muda, ia bekerja sebagai diler seni, sering melakukan perjalanan, namun menjadi
tertekan setelah ia pindah ke London. Ia beralih ke agama, menjalani waktu
sebagai misionaris Protestan di Belgia selatan. Ia terserang sakit sebelum mulai
melukis pada 1881, kembali pulang ke rumah orangtuanya.
Adiknya Theo mendukungnya secara finansial, dan keduanya
menjalin komunikasi jangka panjang melalui surat menyurat. Karya-karya
awalnya, kebanyakan cuplikan-cuplikan kehidupan dan penggambaran-
penggambaran dari para buruh tani, berisi beberapa tanda warna vivid yang
mengkhaskan karya berikutnya. Pada 1886, ia pindah ke Paris, dimana ia bertemu
para anggota avant-garde, yang meliputi Émile Bernard dan Paul Gauguin, yang
bereaksi melawan sensibilitas Impresionis. Saat karyanya berkembang, ia
membuat sebuah tema baru tentang cuplikan-cuplikan kehidupan dan lanskap-
lanskap lokal. Lukisan-lukisannya bertumbuh dalam pewarnaan karena ia
mengembangkan sebuah gaya yang sangat terealisasi saat ia singgah di Arles di
selatan Perancis pada 1888. Pada masa itu, ia menghimpun materi subyeknya
pada pohon zaitun, bunga mawar, ladang gandum dan bunga matahari.
Van Gogh terserang pengakit psikotik dan delusi dan ia mengkhawatirkan
stabilitas mentalnya, ia sering memeriksa kesehatan fisiknya, tidak makan
sembarangan dan banyak minum-minum. Pertemanannya dengan Gauguin
10
berakhir setelah sebuah konfrontasi yang membuatnya memotong sebagian
kuping kirinya sendiri. Ia menjalani waktu di rumah-rumah sakit psikiatris,
termasuk sebuah periode di Saint-Rémy. Setelah ia pulih dan pindah ke Auberge
Ravoux di Auvers-sur-Oise dekat Paris, ia berada di bawah perawatan
dokter homeopatik Paul Gachet. Tekanannya berlanjut dan pada 27 Juli 1890, Van
Gogh menembak dirinya sendiri di bagian dada dengan sebuah revolver. Ia wafat
akibat luka-lukanya dua hari kemudian.
Van Gogh dianggap gagal pada masa hidupnya, dan dianggap sebagai
seorang pria buruk dan gagal. Ia menjadi terkenal setelah ia bunuh diri, dan ada
dalam khayalan publik sebagai orang yang secara salah kaprah dikira jenius,
"dimana keburukan dan kreativitas berpadu". Reputasinya mulai bertumbuh pada
awal abad ke-20 karena unsur-unsur gaya lukisnya merasuk ke para Ekspresionis
Jerman dan Fauvis. Ia meraih banyak kesuksesan kritis, komerial dan populer
sepanjang berdekade-dekade selanjutnya, dan diingat seorang pelukis penting
namun tragis, yang kepribadiannya yang mengalami ketegangan mengkhaskan
gagasan romansa dari artis yang tersiksa.
Sumber utama paling komprehensif tentang Van Gogh adalah balasan-
balasan surat antara ia dan adiknya, Theo. Hubungan seumur hidup mereka, dan
sebagian besar apa yang diketahui dari pemikiran dan teori seni rupa Vincent,
tercantum dalam ratusan surat yang mereka balas dari 1872 sampai 1890. Theo
van Gogh adalah diler seni dan menyediakan saudaranya dengan dukungan
finansial dan emosional, dan memiliki hubungan dengan tokoh berpengaruh pada
ranah seni kontemporer. Theo menyimpan semua surat Vincent untuknya; Vincent
11
menyimpan beberapa surat yang ia dapat. Setelah keduanya wafat, janda
Theo Johanna memutuskan untuk menerbitkan beberapa surat mereka. Beberapa
muncul pada 1906 dan 1913; kebanyakan diterbitkan pada 1914. Surat-surat
Vincent bersifat elok dan ekspresif dan disebut sebagai "intimasi mirip buku
harian", dan terbaca bagian per bagian seperti autobiografi. Penerjemah Arnold
Pomerans menyatakan bahwa publikasi-publikasi mereka menambahkan sebuah
"dimensi segar untuk memahami pengabdian artistik Van Gogh, sebuah
pemahaman yang diraih kami secara virtual tidak bukan dari pelukis lainnya".
Terdapat lebih dari 600 surat dari Vincent ke Theo dan sekitar 40 dari
Theo ke Vincent. Terdapat 22 ke saudarinya Wil, 58 ke pelukis Anthon van
Rappard, 22 ke Émile Bernard serta surat-surat individual ke Paul Signac, Paul
Gauguin dan kritikus Albert Aurier. Beberapa diilustrasikan
dengan sketsa. Beberapa tak tertanggal, namun para sejarawan seni dapat
menempatkan sebagian besar dalam tatanan kronologi. Masalah-masalah dalam
transkripsi dan penanggalan masih ada, terutama dengan surat-surat yang
diposkan dari Arles. Sementara itu, Vincent menulis sekitar 200 surat dalam
bahasa Belanda, Perancis dan Inggris. Terdapat sebuah hal bersinggungan dalam
catatan saat ia tinggal di Paris karena kakak-beradik tersebut tinggal bersama dan
tak perlu surat menyurat.
2.2.1 Masa awal
Vincent Willem van Gogh lahir pada 30 Maret 1853 di Groot-Zundert, di
provinsi mayoritas Katolik Brabant Utara, selatan Belanda. Ia adalah anak sulung
dari pasangan Theodorus van Gogh, seorang pendeta Gereja Reformasi Belanda,
12
dan Anna Cornelia Carbentus. Van Gogh diberi nama dari kakeknya, dan
saudaranya mengalami lahir mati setahun sebelum kelahirannya. Vincent adalah
sebuah nama umum dalam keluarga Van Gogh: kakeknya, Vincent (1789–1874),
yang meraih sebuah gelar dalam bidang teologi di Universitas Leiden pada 1811,
memiliki enam putra, tiga diantaranya menjadi diler seni. Vincent ini mengambil
nama dari saudara kakeknya sendiri, seorang pemahat (1729–1802).
Gambar.2
Vincent willem van gogh
Ibu Van Gogh berasal dari sebuah keluarga kaya di Den Haag, dan
ayahnya adalah putra bungsu dari seorang pendeta. Keduanya bertemu saat adik
Anna, Cornelia, menikahi kakak Theodorus, Vincent (Cent). Orangtua Van Gogh
menikah pada Mei 1851 dan pindah ke Zundert. Saudaranya Theo lahir pada 1
Mei 1857. Terdapat saudara lainnya, dan tiga saudari: Elisabeth, Anna,
dan Willemina (dikenal sebagai "Wil"). Pada masa berikutnya, Van Gogh masih
hanya bersentuhan dengan Willemina dan Theo. Ibu Van Gogh adalah seorang
13
wanita relijius dan keras yang membuat pengaruh keluarga pada
titik klaustrofobia bagi orang-orang di sekitar mereka. Gaji Theodorus sangat
sedikit, namun Gereja menyuplai keluarga tersebut dengan sebuah rumah, seorang
pelayan, dua jurumasak, seorang tukang kebun, sebuah kereta kuda, dan Anna
memberikan tugas kepada anak-anak pada posisi sosial yang tinggi dari keluarga
tersebut.
Van Gogh adalah seorang anak yang serius dan berpikiran luas. Ia diajari
di rumah oleh ibunya dan seornag pengajar, dan pada 1860, dikirim ke sekolah
desa. Pada 1864, ia menempati sebuah sekolah asrama di Zevenbergen, dimana ia
merasa ditinggalkan, dan ingin pulang. Sehingga, pada 1866, orangtuanya
mengirimkannya ke sekolah menengah di Tilburg, dimana ia makin tak
bahagia. Peminatannya terhadap seni rupa dimulai pada masa muda. Ia didorong
untuk menggambar semenjak kecil oleh ibunya, dan gambar-gambar awalnya
terjual majal, namun tak sebanding dengan kemampuan dari karya
berikutnya. Constantijn C. Huysmans, yang telah menjadi artis sukses di Paris,
mengajar pada murid di Tilburg. Filsafatnya menolak teknik dalam menangkap
impresi-impresi dari suatu hal, terutama objek alam atau umum. Ketidakbahagiaan
Van Gogh terlihat membayangi pelajaran-pelajarannya, yang memiliki dampak
kecil; pada Maret 1868 ia kembali ke rumah. Ia kemudian menyatakan bahwa
masa mudanya "keras dan dingin, dan steril".
Pada Juli 1869, paman Van Gogh, Cent, memberikan sebuah posisi
untuknya di diler seni Goupil & Cie di Den Haag. Setelah menyelesaikan
pelatihannya pada 1873, ia ditransfer ke cabang London dari Goupil di
14
Southampton Street, dan mengambil penginapan di 87 Hackford
Road, Stockwell. Ini adalah masa bahagia bagi Van Gogh; ia sukses berkarya, dan
pada usia 20 tahun, menjadi melebihi ayahnya. Istri Theo kemudian menyatakan
bahwa ini adalah tahun terbaik dari kehidupan Vincent. Ia menjadi terkesima
dengan putri nyonya tanahnya, Eugénie Loyer, namun ditolak setelah
mencurahkan perasaan-perasaannya; perempuan tersebut diam-diam bertunangan
dengan seorang bekas pemilik penginapan. Ia makin terisolasi dan makin diberi
layanan keagamaan. Ayah dan pamannya mengadakan sebuah transfer ke Paris
pada 1875, dimana ia mengirim kembali keluaran-keluaran seperti gelar ke firma
yang mengurusi seni rupa, dan dikeluarkan setahun kemudian.
Gambar.3
Rumah sang maestro saat memutuskan menjadi sneiman
Pada April 1876, ia kembali ke Inggris untuk mengambil pekerjaan tak
dibayar sebagai guru suplai di sebuah sekolah asrama kecil di Ramsgate. Saat
perguruan tersebut dipindahkan ke Isleworth, Middlesex, Van Gogh juga ikut
pindah. Ia kemudian memutuskan untuk tidak melanjutkan pekerjaan tersebut dan
menjadi asisten pendeta Methodis. Orangtuanya kemudian pindah ke Etten; pada
15
1876 ia kembali ke rumah saat Natal selama enam bulan dan bekrja di sebuah
toko buku di Dordrecht. Ia merasa tak bahagia dengan pekerjaan tersebut dan
menjalani waktunya dengan menyadur atau menerjemahkan pasal-pasal dari
Alkitab ke dalam bahasa Inggris, Perancis dan Jerman. Ia memutuskan untuk
mencurahkan dirinya sendiri dalam keagamaan, dan makin menjadi saleh dan
monastik. Menurut teman se-rumah susunnya pada masa itu, Paulus van Görlitz,
Van Gogh bersikap teliti saat makan, menghindari daging.
Untuk pendukung pencurahan keagamaannya dan keinginannya untuk
menjadi pastor, pada 1877, keluarganya mengirimkan untuk tinggal dengan
pamannya Johannes Stricker, seorang teolog menonjol, di Amsterdam. Van Gogh
bersiap untuk ujian teologi besard di Universitas Amsterdam; ia gagal pada ujian
tersebut, dan meninggalkan rumah padannya pada Juli 1878. Meskipun juga
gagal, ia mengambil sebuah kursus tiga bulan di sebuah sekolah
misionaris Protestan di Laken, dekat Brussels.
Pada Januari 1879, ia diberi tugas menjadi misionaris di Petit-Wasmes. di
pertambangan batubara Borinage di Belgia. Untuk menunjukkan dukungannya
atas kongregasinya, ia memberikan penginapannya di sebuah toko roti kepada
seorang tuna wisma, dan pindah ke sebuah gubuk kecil dimana ia tidur di jerami.
Kondisi hidupnya simpangh siur tak membuat ia renggang dengan otoritas gereja,
yang menyatakan bahwa ia "memahami pendirian keimanan". Ia kemudian
berjalan sejauh 75 kilometer (47 mi) ke Brussels, kembali ke Cuesmes di
Borinage, diminta orangtuanya untuk kembali ke Etten. Ia singgah disana sampai
sekitar Maret 1880, yang menyebabkan tekanan dan frustasi bagi orangtuanya.
16
Ayahnya sendiri frustasi dan menasehati agar putranya harus mengajukan suaka
di Geel.
Van Gogh kembali ke Cuesmes pada Agustus 1880, dimana ia tinggal
dengan seorang penambang sampai Oktober Ia menjadi meminati masyarakat dan
pemandangan di sekitarnya, dan mencatatnya dalam gambar-gambar setelah Theo
menyarankan agar ia mengambil bidang seni rupa. Ia pergi ke Brussels setahun
kemudian, untuk mengikuti saran Theo agar ia belajar dengan seniman
Belanda Willem Roelofs, yang membujuknya – meskipun ia tidak menyukai
sekolah seni rupa formal – untuk masuk Académie Royale des Beaux-Arts. Ia
mendaftar di Académie pada November 1880, dimana ia belajar anatomi dan
aturan-aturan standar dari peragaan dan perspektif.
Gambar.4
Wajah van gogh saat umur 35 tahun
17
Van Gogh kembali ke Etten pada April 1881 untuk singgah dengan
orangtuanya. Ia masih menggambar, seringkali memakai para tetangganya sebagai
subyek. Pada Agustus 1881, sepupunya yang telah menjanda, Cornelia "Kee"
Vos-Stricker, putri kakak ibunya Willemina dan Johannes Stricker, datang
berkunjung. Ia sering bercerita dan berjalan-jalan dengannya. Kee berusia tujuh
tahun lebih tua darinya, dan memiliki seorang putra berusia delapan tahun. Van
Gogh mengejutkan setiap orang dengan mendeklarasikan cintanya kepadanya dan
mengusulkan pernikahan. Ia menolak dengan berkata "Tidak, tidak mau, tidak
akan" ("nooit, neen, nimmer"). Setelah Kee kembali ke Amsterdam, Van Gogh
datang ke Den Haag untuk menjual lukisan-lukisan dan bertemu sepupu
keduanya, Anton Mauve. Mauve adalah seniman sukses yang Van Gogh
sanjung. Mauve mengundangnya untuk kembali dalam beberapa bulan, dan
menyarankan agar ia menjalani waktu dengan berkarya memakai arang dan pastel;
Van Gogh kembali ke Etten dan mengikuti nasehatnya.
Kemudian pada November 1881, Van Gogh menulis sebuah surat kepada
Johannes Stricker, dimana ia menyebut Theo sebagai sebuah serangan. Selama
berhari-hari, ia pergi ke Amsterdam. Kee tak menemuinya, dan orangtuanya
menyatakan bahwa "persistensinya adalah hal yang tak boleh
diganggu". Disamping itu, ia memakai tangan kirinya saat memasang lampu,
dengan berkata: "Agar aku menyaksikannya selama aku bisa menjaga tanganku di
wadah." Ia juga tak menghiraukan peristiwa apapun, namun kemudian
menyatakan bahwa pamannya merusak wadah tersebut. Ayahnya Kee secara jelas
18
menyatakan bahwa penolakannya diharuskan dan keduanya tak boleh menikah,
terutama karena ketidakmampuan Van Gogh untuk mendukung dirinya sendiri.
Mauve mengambil Van Gogh sebagai murid dan mengenalkannya pada
warna cair, yang ia pakai selama sebulan berikutnya sebelum pulang pada masa
Natal. Ia berseteru dengan ayahnya, menolak pergi ke gereja, dan pergi ke Den
Haag. Dalam sebulan, Van Gogh dan Mauve menjalani waktu dengan
menggambar dari pemasangan plaster. Van Gogh hanya mengundang orang-orang
dari jalanan sebagai model, sebuah praktik yang tampaknya tak disepakati Mauve.
Pada Juni, Van Gogh terserang kencing nanah dan menjalani tiga pekan di rumah
sakit. Setelah itu, ia mula-mula melukis memakai minyak, memakai uang yang
dipinjam dari Theo. Ia menyukai median tersebut, dan makin meliberalkan
lukisannya, menorehkannya di kanvas dan berkarya dengan kuas. Ia menyatakan
bahwa ia terkejut terhadap kebaikan dari hasilnya.
Pada Maret 1882, Mauve tampak mendingin dengan Van Gogh, dan
berhenti membalas surat-suratnya. Ia memahami aransemen domestik baru Van
Gogh dengan seorang tuna susila alkoholik, Clasina Maria "Sien" Hoornik (1850–
1904), dan putri mudanya. Van Gogh telah bertemu Sien menjelang akhir Januari
1882, saat ia memiliki seorang putri berusia lima tahun dan mengandung. Ia
sebelumnya melahirkan dua anak yang sudah wafat, namun Van Gogh tak
menyadarinya; pada 2 Juli, ia melahirkan seorang bayi laki-laki, Willem. Saat
ayah Van Gogh menyadari detail dari hubungan mereka, ia membujuk agar
putranya meninggalkan Sien dan dua anaknya. Vincent mula-mula
19
menolaknya, dan menghiraukan keluarganya di kota tersebut, namun pada akhir
1883, ia meninggalkan Sien dan anak-anaknya.
Kemiskinan telah menekan Sien kembali ke prostitusi; rumah tersebut
menjadi kurang bahagia dan Van Gogh merasa kehidupan keluarganya tak sejalan
dengan pengembangan artistiknya. Sien memberikan putrinya kepada ibunya, dan
bayi Willen kepada saudaranya. Willem mengunjungi Rotterdam saat ia berusia
sekitar 12 tahun, saat pamannya membujuk Siem untuk menikah dalam rangka
mensahkan anak-anaknya. Ia meyakini Van Gogh adalah ayahnya, namun waktu
kelahirannya tampak tak meyakinkan. Sien menenggelamkan dirinya sendiri
ke Sungai Scheldt pada 1904.
Pada September 1883, Van Gogh pindah ke Drenthe di utara Belanda.
Pada Desember, didorong oleh kesendirian, ia ingin tinggal dengan orangtuanya,
yang pada masa itu berada di Nuenen, Brabant Utara.
2.2.2 Menjadi seniman
Di Nuenen, Van Gogh berfokus pada lukisan dan gambar. Bekerja di luar
ruangan dan sangat cepat, ia menyelesaikan sketsa-sketsa dan lukisan para
penenun dan gubuk mereka. Dari Agustus 1884, Margot Begemann, seorang putri
tetangga yang lebih tua sepuluh tahun darinya, bergabung dengannya pada
pengerjaannya; Margot jatuh cinta dan Gogh pun demikian, meskipun kurang
antusias. Mereka ingin menikah, namun pihak keluarga mereka tak
menyetujuinya. Margot tertekan dan meracuni dirinya sendiri dengan striknin,
20
namun selamat setelah Van Gogh melarikannya ke rumah sakit terdekat. Pada 26
Maret 1885, ayah Gogh wafat akibat serangan jantung.
Van Gogh melukis beberapa kelompok dari cuplikan kehidupan pada
1885. Selama dua tahun ia singgah di Nuenen, ia menyelesaikan sejumlah gambar
dan lukisan warna cair, dan hampir sekitar 200 lukisan minyak. Paletnya
utamanya terdiri dari lapisan tanah sombre, terutama coklat tua, dan tak
menunjukkan warna-warna vivid yang membedakan karya berikutnya.
Terdapat peminatan dari seorang diler di Paris pada awal 1885. Theo
menanyai Vincent jika ia memiliki lukisan-lukisan yang siap untuk
dipamerkan. Pada Mei, Van Gogh menjawabnya dengan karya besar
pertamanya, The Potato Eaters, dan sebuah serial dari "studi karakter petani" yang
meraih ketenaran selama beberapa tahun berkarya.]Saat ia mempermasalahkan
bahwa Theo tak membuat usaha untuk menjual lukisan-lukisannya di Paris,
saudaranya menjawabnya dengan menyatakan bahwa lukisan-lukisan tersebut
terlalu berwarna tua, dan tidak sejalan dengan gaya Impresionisme. Pada bulan
Agustus, karyanya secara umum dipamerkan untuk pertama kalinya, di jendela-
jendela toko diler Leurs di Den Haag. Salah satu petani muda yang sedang
duduk yang ia lukis menjadi mengandung pada September 1885; Van Gogh
dituduh membuatnya demikian, dan imam desa melarang pihak paroki untuk
melayaninya.
Ia pindah ke Antwerp pada bulan November, dan menyewa sebuah kamar
di atas toko diler lukisan di rue des Images (Lange Beeldekensstraat). Ia hidup
dalam kemiskinan dan makan seadanya, hidup dari yang Theo kirim pada material
21
dan model lukisan. Roti, kopi dan tembakau menjadi bagian dari pola makannya.
Pada Februari 1886, ia menulis kepada Theo bahwa ia hanya ingat menyantap
hidangan hangat sejak Mei sebelumnya. Giginya menjadi buruk dan luka-luka. Di
Antwerp, ia mencurahkan dirinya sendiri untuk mempelajari teori warna dan
menjalani waktu di museum-museum — terutama mempelajari karya Peter Paul
Rubens – dan memakai paletnya dengan warna-warna yang meliputi karmin, biru
kobalt dan hijau permata. Van Gogh membawa cukil-cukil kayu ukiyo-e Jepang di
lahan dok, kemudian memasukkan unsur-unsur dari gaya mereka ke dalam latar
belakang beberapa lukisannya. Ia kembali menjadi peminum berat, dan berada di
rumah sakit antara Februari dan Maret 1886, dimana ia juga diyakini diobati
untuk penyakit sifilis.
Setelah ia pulih, dan disamping ia antipati dengan pengajaran akademik, ia
mengambil ujian pemasukan tingkat tinggi di Akademi Seni Rupa Murni di
Antwerp, dan pada Januari 1886, bermatrikulasi dalam bidang melukisan dan
menggambar. Ia jatuh sakit dan kesehatannya menurun akibat kerja berlebihan,
pola makan rendah dan terlalu banyak merokok. Ia mulai menghadiri kelas-kelas
menggambar dari model-model plaster di Akademi Antwerp pada 18 Januari
1886. Ia kemudian berseteru dengan Charles Verlat, direktur Akademi dan guru
kelas lukis, karena gaya lukisnya yang tak biasa. Van Gogh juga berseteru dengan
pengajar kelas gambar Franz Vinck. Van Gogh akhirnya mulai masuk kelas
gambar setelah model-model plaster antik diberikan oleh Eugène Siberdt.
Kemudian Siberdt dan van Gogh berkonflik saat van Gogh tak memenuhi
permintaan Siberdt untuk melukis kontur dan berkonsentrasi pada garis. Saat van
22
Gogh diminta untuk menggambar Venus dari Milo pada kelas gambar, ia
membuat gambar seorang wanita petani Flemish telanjang dan tak bertangan.
Siberdt menganggapnya bertentangan dengan paduan artistiknya dan membuat
koreksi kepada gambar van Gogh dengan krayonnya sehingga menodai kertas
tersebut. Van Gogh kemudian melakukan kecaman dan berteriak kepada Siberdt:
'Kau benar-benar tak mengetahui seperti apa seorang wanita
muda, Persetan! Seorang wanita harus memiliki pinggul, pantat, panggul dimana
ia dapat menggendong seorang bayi!' Menurut beberapa catatan, ini menjadi
terakhir kalinya van Gogh menghadiri kelas-kelas di Akademi tersebut dan
kemudian ia pergi ke Paris. Pada 31 Maret 1886, sekitar sebulan setelah berseteru
dengan Siberdt, para guru Akademi memutuskan agar 17 murid, termasuk van
Gogh, mengulang setahun. Cerita bahwa van Gogh dikeluarkan dari Akademi
oleh Siberdt masih tak jelas.
Gambar.5
Henri de Toulouse-Lautrec, Potret Vincent van Gogh, 1887, gambar pastel, Museum Van
Gogh, Amsterdam
23
Van Gogh pindah ke Paris pada Maret 1886 dimana ia berbagi rumah
susun rue Laval dengan Theo di Montmartre, dan belajar di studio Fernand
Cormon. Pada bulan Juni, kakak beradik tersebut mengambil sebuah rumah susun
yang lebih besar di 54 rue Lepic. Di Paris, Vincent melukis potret-potret para
teman dan pemandangan, lukisan cuplikan kehidupan, pemandangan Le Moulin
de la Galette, pemandangan di Montmartre, Asnières dan sepanjang Seine. Pada
1885 di Antwerp, ia menjadi berminat dengan cetakan blok kayu ukiyo-e Jepang,
dan memakainya untuk menghias tembok studionya; saat di Paris, ia
mengumpulkan ratusan dari mereka. Ia berupaya membuat Japonaiserie,
menempatkan sebuah figur dari sebuah reproduksi pada sampul majalah Paris
Illustre, The Courtesan or Oiran (1887), dari Keisai Eisen, yang kemudian ia
perbesar dalam sebuah lukisan.
Setelah menyaksikan potret Adolphe Monticelli di Galerie Delareybarette,
Van Gogh mengadopsi palet yang lebih besar dan lebih tebal, terutama dalam
lukisan-lukisan seperti Pemandangan Laut di Saintes-Maries (1888). Dua tahun
kemudian, Vincent dan Theo dibayar untuk publikasi sebuah buku tentang
lukisan-lukisan Monticelli, dan Vincent membawa beberapa karya Monticelli
untuk menambah koleksinya.
Van Gogh mempelajari tentang atelier buatan Fernand Cormon dari Theo.
Ia berkarya di studio tersebut pada April dan Mei 1886, dimana ia menjalin
hubungan dengan seniman Australia John Peter Russell, dan bertemu murid
sejawatnya Émile Bernard, Louis Anquetin dan Henri de Toulouse-Lautrec – yang
melukis potretnya memakai pastel. Mereka bertemu di toko alat lukis Julien
24
"Père" Tanguy, (yang pada masa itu merupakan satu-satunya tempat dimana
lukisan-lukisan buatan Paul Cézanne disimpan). Pada 1886, dua pameran besar
diadakan disana, menampilkan Pointillisme dan Neo-impresionisme untuk
pertama kalinya, dan mengirim perhatian kepada Georges Seurat dan Paul Signac.
Theo menyimpan stok lukisan Impresionis di galerinya di jalan Montmartre,
namun Van Gogh terlambat dalam memahami perkembangan baru dalam seni
rupa tersebut.
Konflik berkembang antar kakak adik tersebut. Pada akhir 1886, Theo
menganggap tinggal bersama dengan Vincent merupakan hal yang "hampir tak
merasuk". Pada akhir 1887, mereka kembali berdamai, dan Vincent pindah
ke Asnières, sebuah anak perkotaan barat laut Paris, dimana ia memahami Signac.
Ia mengadopsi unsur-unsur Pointillisme, sebuah teknik dimana sejumlah titik
berwarna kecil ditorehkan di kanvas yang saat dilihat dari kejauhan mereka
membentuk sebuah campuran optik dari perwujudan. Gaya tersebut menekankan
kemampuan warna komplementer – yang meliputi biru dan jingga – untuk
membentuk vibran yang kontras.
termasuk Jembatan di sepanjang Seine, Asnières. Pada November 1887,
Theo dan Vincent berteman dengan Paul Gauguin yang sedang datang ke Paris.
Menjelang akhir tahun, Vincent mengadakan sebuah pameran di sepanjang
Bernard, Anquetin, dan mungkin Toulouse-Lautrec, di Restoran Grand-Bouillon,
du Chalet, nomor 43 jalan de Clichy, Montmartre. Dalam catatan kontemporer,
Bernard menyatakan bahwa pameran tersebut mendorong hal lainnya di
Paris. Disana, Bernard dan Anquetin menjual lukisan-lukisan pertama mereka,
25
dan Van Gogh bertukar karya dengan Gauguin. Diskusi tentang seni rupa,
seniman, dan keadaan sosial mereka dimulai saat pameran tersebut, berlanjut dan
meluas dengan meliputkan para pengunjung ke acara tersebut, seperti Camille
Pissarrodan putranya Lucien, Signac dan Seurat. Pada Februari 1888, merasa puas
tinggal di Paris, Van Gogh hengkang, yang telah melukis lebih dari 200 lukisan
selama dua tahun disana. Berjam-jam sebelum keberangkatannya, ditemani oleh
Theo, ia menjalani kunjungan pertama dan satu-satunya ke Seurat di studionya.
2.2.3 Puncak artistik
Sakit akibat minum-minum dan kecanduan merokok, pada Februari 1888,
Van Gogh mengungsi ke Arles. Ia tampaknya berpindah atas alasan mendirikan
sebuah koloni seni rupa. Seniman Denmark Christian Mourier-Petersen menjadi
pengikutnya selama dua bulan, dan yang mula-mula membuat Arles tampak
eksotis. Dalam sebuah surat, ia menyebutnya sebagai desa asing: "para Zouave,
rumah-rumah bordil, anak-anak kecil Arlésienne mengikuti Komuni Pertamanya,
imam melayaninya, yang tampak seperti badak berbahaya, orang-orang
meminum absinthe, semuanya menampakkanku makhluk-makhluk dari dunia
lainnya."
Masa di Arles menjadi salah satu masa paling berharga bagi Van Gogh" ia
menyelesaikan 200 lukisan, dan lebih dari 100 gambar dan warna cair. Ia
ditunjang oleh pemandangan lokal dan sinar; karya-karyanya pada masa itu kaya
akan warna kuning, ultramarine dan mauve. Lukisan-lukisannya meliputi kegiatan
panen, ladang gandum dan pemandangan desa secara umum dari kawasan
tersebut, yang meliputi Pabrik Tua (1888), sebuah struktur indah yang membatasi
26
ladang-ladang gandum. Ini adalah salah satu dari tujuh kanvas yang dikirim
ke Pont-Aven pada 4 Oktober 1888 dalam sebuah barter karya dengan Paul
Gauguin, Émile Bernard, Charles Laval dan lain-lain.
Lukisan-lukisan pemandangan Arles diberitahukan oleh pemberitahuan
berbahasa Belanda buatan Van Gogh; karya-karya dari ladang dan jalanan tampak
datar dan kurang perspektif, namun bagus dalam pemakaian warna
mereka. Apresiasi barunya terlihat dalam rangkaian dan cangkupan karyanya.
Pada Maret 1888, ia melukis pemandangan-pemandangan memakai "wadah
perspektif"; tiga karya ditampilkan di pameran tahunan Société des Artistes
Indépendants. Pada April, ia dikunjungi oleh seniman Amerika Dodge
MacKnight, yang tinggal di dekat Fontvieille. Pada 1 Mei 1888, untuk
15 franc per bulan, ia menandatangani penyewaan untuk salap timur Rumah
Kuning di 2 place Lamartine. Kamar-kamarnya tak memiliki perabotan dan telah
tak didiami selama berbulan-bulan.
Pada 7 Mei, Van Gogh pindah dari Hôtel Carrel ke Café de la
Gare, bertema dengan para pengurus properti, Joseph dan Marie Ginoux. Rumah
Kuning diberikan perabotan sebelum ia benar-benar berpindah kesana, namun ia
dapat memakainya sebagai sebuah studio. Ia ingin sebuah galeri untuk
menyimpan karyanya, dan memulai serangkaian lukisan yang kemudian
meliputi Kursi Van Gogh (1888), Kamar Tidur di Arles (1888), Kafé
Malam (1888), Teras Kafé di Malam Hari (September 1888), Malam Berbintang
di Atas Rhone (1888), dan Cuplikan Kehidupan: Vas dengan Dua Belas Bunga
Matahari (1888), semuanya ditujukan untuk dékorasi untuk Rumah Kuning.
27
Van Gogh menulis bahwa dengan Kafé Malam, ia berusaha "untuk
mengekspreksikan gagasan bahwa kafe adalah sebuah tempat dimana orang dapat
menjatuhkan dirinya sendiri, menjadi jahat, atau melakukan kejahatan". Saat ia
mengunjungi Saintes-Maries-de-la-Mer pada bulan Juni, ia memberikan pelajaran
kepada seorang letnan kedua Zouave – Paul-Eugène Milliet] – dan
melukis perahu-perahu di laut dan desa. MacKnight mengenalkan Van Gogh
dengan Eugène Boch, seorang pelukis Belgia yang terkadang singgah di
Fontvieille, dan keduanya saling berbalas kunjungan pada bulan Juli.
Van Gogh masuk suaka Saint-Paul-de-Mausole pada 8 Mei 1889, ditemani
oleh perawatnya, Frédéric Salles, seorang rohaniwan Protestan. Saint-Paul adalah
sebuah bekas biara di Saint-Rémy, yang berjarak kurang dari 30 kilometer (19 mi)
dari Arles, dan dijalankan oleh bekas dokter angkatan laut, Théophile Peyron. Van
Gogh memiliki dua sel dengan batas jendela, salah satunya ia pakai sebagai
sebuah studio. Klinik dan tamannya menjadi subyek utama dari lukisan-
lukisannya. Ia membuat beberapa studi dalam ruangan rumah sakit tersebut,
seperti Vestibul Suaka dan Saint-Rémy (September 1889). Beberapa karyanya
dari masa ini dikarakteristikkan dengan bentuk putaran obat nyamuk,
seperti Malam Berbintang. Ia diperbolehkan sedikit berjalan-jalan, dimana ia
melukis sipres dan pohon zaitun, yang meliputi Pohon Zaitun dengan Pegunungan
di Latar Belakang 1889, Sipres 1889, Ladang Jagung dengan Sipres (1889), Jalan
Desa di Provence pada Malam Hari (1890). Pada September 1889 ia membuat dua
versi berikutnya dari Kamar Tidur di Arles.
28
Akses terbatas untuk hdiup di luar klinik tersebut mengakibatkan
penipisan materi subyek. Van Gogh sebagai gantinya mengerjakan tafsiran-
tafsiran dari lukisan seniman lainnya, seperti Sang Penabur dan Pemandangan
Siang Hari karya Millet, dan ragam-ragam pada karyanya sendiri dari masa
sebelumnya. Van Gogh adalah seorang pengikut Realisme dari Jules
Breton, Gustave Courbet dan Millet, dan ia membandingkan salinan-salinannya
dengan Beethoven saat menafsirkan seorang musisi.
Putaran Para Tahanan (1890) buatannya dilukis berdasarkan pada
sebuah engravir karya Gustave Doré (1832–1883). Tralbaut berpendapat bahwa
wajah tahanan di bagian tengah lukisan yang menghadap penonton adalah Van
Gogh sendiri; Jan Hulsker menentangnya.
Antara Februari dan April 1890, sakit Van Gogh makin parah. Tertekan
dan tak dapat menulis, ia masih dapat melukis dan sedikit menggambar pada masa
itu, dan ia kemudian menulis kepada Theo bahwa ia membuat beberapa kanvas
kecil "dari kenangan ... Ingatan di Utara". Salah satu diantaranya adalah Dua
Petani Wanita Membungkuk di sebuah Ladang Terselimuti Salju saat Senja.
Hulsker meyakini bahwa kelompok kecil lukisan ini membentuk nukleus dari
beberapa gambar dan lembar studi yang menggambarkan lanskap dan figur yang
Van Gogh kerjakan pada masa itu. Ia menyatakan bahwa masa pendek tersebut
adalah satu-satunya masa dimana sakit Van Gogh memiliki dampak signifikan
pada karyanya. Van Gogh membujuk ibunya dan saudaranya untuk mengirim
gambar-gambarnya dan dilaksanakan pada awal 1880an sehingga ia dapat
mengerjakan lukisan-lukisan baru dari sketsa-sketsa lamanya. Salah satu karya
29
buatannya pada masa ini adalah Pria Tua yang Bersedih ("Di Gerbang
Keabadian"), sebuah studi warna yang Hulsker sebut sebagai "kenangan tak
terlupakan lainnya dari masa lampau yang panjang". Lukisan-lukisan berikutnya
menampilkan seorang seniman pada puncak kemampuannya, yang menurut
kritikus seni Robert Hughes, "disertai dengan kepercayaan diri dan kerahmatan".
Albert Aurier memuji karyanya dalam Mercure de France pada Januari
1890, dan menyebutnya sebagai "orang pintar". Pada Februari, Van Gogh melukis
lima versi dari L'Arlésienne (Madame Ginoux), berdasarkan pada sebuah sketsa
kekacauan yang Gauguin buat saat ia membimbing kedua seniman tersebut pada
November 1888.[174][note 10]
Selain itu pada bulan Februari, Van Gogh diundang
oleh Les XX, sebuah perhimpunan dari para pelukis avant-garde di Brussels,
untuk ikut serta dalam pameran tahunan mereka. Di makan malam pembukaan,
seorang anggota Les XX, Henry de Groux, menghina karya Van Gogh. Toulouse-
Lautrec menuntut satisfaksi, dan Signac mendeklarasikan bahwa ia akan
melanjutkan pertarungan bagi kehormatan Van Gogh jika Lautrec menyerah. De
Groux meminta maaf atas kejadian tersebut dan meninggalkan grup tersebut.
Kemudian, saat pajangan Van Gogh disimpan di Artistes Indépendants,
Paris, Claude Monet berkata bahwa karyanya adalah hal terbaik dalam acara
tersebut. Setelah kelahiran keponakannya, Van Gogh menulis, "Aku memulai
menjauhi pembuatan sebuah gambar baginya, untuk digantung di kamar tidur
mereka, cabang-cabang kembang almond putih melawan sebuah langit biru."
Van Gogh menggambar, dan melukis dengan warna cair saat di sekolah,
namun hanya beberapa contoh yang masih ada dan kepengarangan dari beberapa
30
karya telah dipertentangkan. Saat ia memasuki kesenian pada masa dewasa, ia
mulai pada tingkat dasar. Pada awal 1882, pamannya, Cornelis Marinus, pemilik
sebuah galeri seni rupa kontemporer terkenal di Amsterdam, membujuknya untuk
menggambar Den Haag. Karya Van Gogh tak berminat. Marinus menawarkan
sebuah komisi kedua, menspesifikasikan materi subyek secara detail, namun
kembali ditolak. Van Gogh beralasan; ia bereskperimentasi dengan pencahayaan
di studionya memakai beragam bahan, dan dengan alat gambar berbeda. Selama
lebih dari setahun, ia berkarya pada figur-figur tunggal – studi tingkat tinggi
dalam hitam-putih, yang pada masa itu hanya meraih kritikan. Kemudian, karya-
karyanya dianggap sebagai adikarya-adikarya awal.
Pada Agustus 1882, Theo memberikan uang kepada Vincent untuk
membeli bahan-bahan untuk mengerjakan en plein air. Vincent menyatakan
bahwa ia sekarang "melukis dengan semangat baru". Dari awal 1883, ia berkarya
pada komposisi multi-figur. Ia memiliki beberapa dari mereka yang difoto, namun
saat saudaranya menyatakan bahwa mereka kurang hidup dan segar, ia
menghancurkannya dan beralih ke lukisan minyak. Van Gogh beralih ke para
seniman Aliran Den Haag terkenal seperti Weissenbruch dan Blommers, dan
meraih nasehat teknikal dari mereka, serta dari para pelukis seperti De
Bock dan Van der Weele, keduanya adalah generasi kedua dari Aliran Den
Haag. Saat ia pindah ke Nuenen setelah masa-masa di Drenthe, ia memulai
beberapa lukisan besar namun kebanyakan dihancurkan. Pemakan Kentang dan
karya-karya yang menyertainya adalah beberapa karya yang masih ada. Setelah
berkunjung ke Rijksmuseum, Van Gogh menulis ajuannya untuk karya kuas
31
ekonomis dan cepat dari Para Master Belanda, khususnya Rembrandt dan Frans
Hals. Ia menyadari bahwa beberapa kelemahannya adalah kurang berpengalaman
dan keahlian teknis sehingga pada November 1885, ia berkunjung ke Antwerp dan
kemudian Paris untuk mendalami dan mengembangkan keterampilannya.
Theo mengkritik Pemakan Kentang karena palet berwarna tuanya, yang ia
anggap tak sesuai dengan gaya modern. Saat Van Gogh singgah di Paris antara
1886 dan 1887, ia berusaha untuk memajukan palet yang baru dan berwarna lebih
muda. Potret Père Tanguy (1887) buatannya menunjukkan kesuksesannya dengan
palet yang lebih besarm dab nerupakan bukti dari sebuah gaya kepribadian yang
berubah. Risalah berwarna Charles Blanc sangat mempengaruhinya, dan
membuatnya berkarya dengan warna-warna komplementer. Van Gogh meyakini
bahwa dampak warna lebih deskriptif; ia menyatakan bahwa "warna
mengekspresikan beberapa hal dalam hal itu sendiri". Menurut Hughes, Van Gogh
menganggap warna memiliki "berat psikologi dan moral", seperti yang tertuang
dalam warna merah dan hijau dari Kafe Malam, sebuah karya yang ingin ia
"tunjukkan semangat besar dari kemanusiaan".Kuning berarti banyak baginya,
karena menyimbolkan rasa emosional. Ia memakai warna kuning sebagai simbol
sinar matahari, kehidupan dan Allah.
Van Gogh kemudian menjadi pelukis kehidupan dan alam pedesaan, dan
pada musim panas pertamanya di Arles, ia memakai palet barunya untuk
menggambar pemandangan dan kehidupan pedesaan tradisional. Keyakinannya
bahwa sebuah kekuatan berdiri di balik alam membuatnya berusaha untuk
mengabadikan sebuah esensi dari kekuatan tersebut, atau esensi alam dalam seni
32
rupanya, terkadang melalui pemakaian simbol. Pencantuman penabur yang ia
lakukan, mula-mula dijiplak dari Jean-François Millet, merefleksikan keyakinan
agama Van Gogh: penabur sebagai Yesus yang menaburkan kehidupan di bawah
kehangatan matahari. Ini adalah tema dan motif yang ia sering tuangkan pada
pengerjaan ulang dan pengembangan. Lukisan-lukisan bunga buatannya diisi
dengan simbolisme, namun lebih memakai ikonografi Kristen tradisional yang ia
buat sendiri, dimana kehidupan berada di bawah matahari dan keryanya adalah
sebuah alegori dari kehidupan. Di Arles, dimana ia meraih kepercayaan diri
setelah melukis kembang-kembang musim dingin dan belajar untuk
mengabadikan sinar matahari, ia melukis Sang Penabur
Van Gogh singgah di apa yang ia sebut "penunjukan kenyataan",dan
mekritik karya-karya yang terlalu bergaya. Setelah itu, ia menulis bahwa
abstraksi Malam Berbintang telah terlalu jauh dan bahwa realitasnya "terlalu jauh
dalam latar belakang". Hughes menyebutnya sebagai sebuah momen dari gairah
visioner ekstrim: bintang-bintangnya sangat besar, mengingatkan pada Arus
Besar karya Hokusai, gerakan di surga di bagian atas terefleksi oleh sipres di bumi
yang ada di bawahnya, dan penglihatan pelukis tersebut "diterjemahkan dalam
sebuah plasma lukisan yang sangat tegas".
Antara 1885 dan kematiannya pada 1890, Van Gogh tampaknya
membangun sebuah oeuvre, sebuah koleksi yang merefleksikan penglihatan
pribadinya, dan kemudian sukses secara komersial. Ia terpengaruhi oleh definisi
gaya menurut Blanc, bahwa sebuah lukisan yang sebenarnya mengharuskan
pemakaian warna optimal, perspektif dan penekanan kuas. Van Gogh menerapkan
33
kata "keperluan" untuk lukisan-lukisan yang ia anggap telah sempurna,
berlawanan dengan hal-hal yang ia pikirkan saat belajar. Ia melukis beberapa
serial studi; kebanyakan adalah cuplikan kehidupan, beberapa dieksekusi dengan
eksperimen warna atau sebagai hadiah-hadiah kepada para teman. Karya di Arles
dianggap berkontribusi kepada oeuvre-nya: karya-karya yang ia anggap sangat
berpengaruh dari masa itu adalah Sang Penabur, Kafe Malam, Kenangan Taman
di Etten dan Malam Berbintang. Dengan penekanan kuas yangbesar, perspektif
intensif, warna, kontur dan rancangan, lukisan-lukisan tersebut mewakili gaya
yang ia majukan.
2.3 Karya Vincent Willem Van Gogh
Gambar.6
(The Potato Eaters , cat Minyak, kanvas, 1885)
34
Gambar.7
(Bedroom in Arles, Cat Minyak, kanvas)
Gambar.8
(The Starry Night, cat minyak, kanvas, 1889)
35
Gambar.9
(Irises, cat minyak, kanvas, 1987)
gambar. 10
(Vase With 12 Sunflowers, cat minyak, kanvas, 1870 )
36
2.4 Mengkritik Karya Vincent Willem Van Gogh
A. Potato eaters
Gamabar.11
Bahan Ukuran Unsur rupa : 1885 Vincent van gogh cat Minyak di kanvas
82 × 114 cm dalam lukisan ini terdapat unsur rupa yang menonjol yaitu
pemakaian gelap terang yang dipakai untuk menonjolkan bentuk dan tekstur dari
lukisan tersebut, sang pelukis bertujuan agar para penikmat lukisan ini dapat
merasakan betapa kuatnya fenomena yang tergambar pada figur manusia di
lukisan di samping. Pelukis yang bertujuan betapa beratnya para buruh menjalani
kehidupan tiap harinya di samping kehidupan yang mewah yang di alami orang
orang borjuis pada masa itu.
37
B. Badroom in arles
GAMBAR.12
Kamar tidur di Arles (Cat Minyak di atas kanvas, 72.4 cm x 91.3 cm)
Bedroom in Arles adalah judul 3 buah lukisan yang mirip satu sama lain karya
pelukis abad 19 Post-Impresionis Belanda Vincent van Gogh. Van Gogh sendiri
memberi judul lukisannya ini The Bedroom in Arles. Ada tiga versi asli lukisan
ini yang dijelaskan dalam suratnya dan dapat dibedakan dari foto-foto yang
digantung di dinding sebelah [Link] ini menggambarkan kamar tidur Van
Gogh di 2 Place Lamartine di Arles, Bouches-du-Rhône, Perancis, yang dikenal
juga dengan nama Yellow House.
Pintu di sebelah kanan adalah jalan menuju lantai atas dan tangga, sedangkan
pintu di sebelah kiri adalah ruang kamar tamu yang dia sediakan untuk Gauguin.
Pemandangan dari jendela di dinding depan adalah jalan Place Lamartine dan
38
taman umumnya. Kamar ini tidak berbentuk persegi, melainkan trapezoid, dengan
sudut tumpul di sebelah kiri jendela dan sudut siku-siku di sebelah kanannya. Dua
lukisan yang menggantung di kamarnya adalah pelukis Eugène Boch dan prajurit
Paul-Eugène Milliet.
Lukisan ini identik dengan bentuk, sehingga bentuknya dapat dikenali seperti
kursi, meja, tempat tidur, kasur, lukisan, bantal dan seprei. Kesan warna yang
sederhana dari perpaduan warna biru, coklat, hitam dan putih. Selain unsur warna
pada lukisan ini juga terdapat unsur garis dan tekstur. Dalam lukisan ini Vincent
Willem van berusaha menampilkan suasana kamar miliknya yang Pintu di sebelah
kanan adalah jalan menuju lantai atas dan tangga, sedangkan pintu di sebelah kiri
adalah ruang kamar tamu yang dia sediakan untuk Gauguin. Pemandangan dari
jendela di dinding depan adalah jalan Place Lamartine dan taman umumnya.
Kamar ini tidak berbentuk persegi, melainkan trapezoid, dengan sudut tumpul di
sebelah kiri jendela dan sudut siku-siku di sebelah kanannya. Lukisan yang
menggantung di kamarnya. Dua potret yang tergantung di kamarnya adalah
pelukis Eugène Boch dan prajurit Paul-Eugène Milliet.
Warna-warna cerah dan interior yuang sederhana dimaksudkan untuk memberi
kesan "istirahat". Harapan van Gogh adalah lukisannya bisa memberikan dirinya
dan orang lain ketenangan. Dalam suratnya kepada Theo dia berkata " Ketika aku
melihat kanvas-kanvasku lagi setelah sakit, apa yang kulihat pertama kali adalah
"the Bedroom". Lukisan ini memberi kesan luas pada ruangan, kesejukan, dingin
damai, dan menenangkan fikiran, yaitu warna biru pada dinding. Sedangkan
Warna coklat pada lantai menumbuhkan kesan tua, sederhana, kaya, dan hangat.
39
Secara keseluruhan tampak pada garis sebagai identitas bentuk, pengorganisasian unsur
seni dan warna seimbang, menyatu dan [Link] ini didukung dengan kemampuan
pelukis memadukan antara media, teknik, pengorganisasian struktur rupa, dan isi.
C. The starry night
Gambar.13
Starry Night (1889), 73,7 cm x 92,1 cm ( 29 x 36 ¼ di dalam) Bintang-
bintang di langit malam dengan bola mereka sendiri cahaya. Refleksi cahaya
buatan (dari jangka waktu) dari Arles di sungaimembuat mata seseorang bergerak
di sekitar lukisan itu; sehingga menjagapenampil secara visual.
Ada struktur di jauh dalam cahaya hangat cahaya. Starry Night atas Rhone
berisi satu aspek akhir yang tidak ada dalampotongan Starry Night; manusia. Di
sudut kanan bawah lukisan itu ada beberapaberjalan di sepanjang sungai. Hal ini
memberikan sebuah lukisan turun ke bumimerasa dengan kualitas alami. Meski
lukisan ini tidak sepopuler diperbantukanbagian Starry Night, masih menciptakan
40
menyenangkan dan hidup seperti lingkungan untuk melihat. Hal ini juga menjadi
sangat diinginkan sekali saat ditaruh dengan Starry Night dan lukisan berikut
untuk membuat karya Van GoghStarry Night bekerja.
D. Irries
Gambar. 14
bunga iris, warna kebiruanlah yang paling sering ditemui. Minyak dari
jenis tumbuhan ini digunakan sebagai aroma-terapi dan parfum.
Menurut saya inilah yang mendasari dari pembuatan lukisan Iris, iris
dalam bahasa Yunani berartp Pelangi, dan bunga ini telah memiliki berbagai arti
penting yaitu kesetiaan, terima, kesejahteraan, persahabatan dan harapan. Karena
hari valentine jatuh pada bulan Februari maka dari itu bulan kedua itu dianggap
sebagai bulan asmara dan bunga iris yang sebagian orang sebagai bunga yang
cocok untuk mewakilinya. Bunga Iris juga merupakan bunga yang dilukis oleh
pelukis Vincent van Gogh yang diberi nama "Bunga-bunga Iris" dan merupakan
satu dari sekian karyanya pada saat-saat terakhir menjelang kematiannya tahun
41
1890. Tahun 1987, lukisan tersebut menjadi lukisan yang termahal yang pernah
dijual.
Vase With 12 Sunflowers
Gambar. 15
keduanya adalah karya asli seniman yang lahir di tahun 1853 tersebut.
Lukisan bergambar bunga matahari ini pertama dilukisnya awal 1870-an di
Inggris, saat itu ia bekerja sebagai agen seni. Setahun kemudian, ia kembali
melukisnya. Karyanya yang pertama bergambar bunga matahari dengan warna
kuning menyala bersama dengan latar warna di belakangnya. Satunya lagi hanya
warna kuning yang tampak kepucatan. Menurut Galeri Nasional seperti kutipan
dari Telegraph, rencananya Van Gogh akan melukis 12 gambar bunga matahari
yang akan digantung di tempat tinggalnya.
Dalam lukisan dengan bunga matahari yang menyala kuning, pelukis
Gauguin mengatakan pekerjaan Van Gogh berharga bagus.
42
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Kritik seni merupakan kegiatan menanggapi karya seni untuk
mempertumbuhkan kelebihan dan kekurangan suatu karya seni. Kegiatan kritik
berawal dari kebutuhan untuk memahami kemudian beranjak kepada kebutuhan
memperoleh kesenangan dari kegiatan berbincang-bincang tentang karya seni.
Menurut Feldman (1967) terdapat 4 (empat) jenis kritik seni, yaitu kritik
jurnalistik (journalistic criticism), kritik populer (popular criticism), kritik
pedagogik (pedagogical criticism), dan kritik akademik (scholarly criticism). Dan
juga van gogh menggunakan gaya melukis sacara expresionisme yang berarti
aliran seni lukis yang penggambarannya sesuai dengan keadaan jiwa sang pelukis
yang spontan saat melihat objek karyanya.
3.2 Saran
Setelah mengetahui apa saja yang dibahas didalam makalah ini, para
pembaca diharapkan dapat mengetahui dan memahami isi makalah ini yang
berjudul “KRITIK SENI RUPA VINCENT WILLEM VAN GOGH” yang
mencakup pengertian, manfaat, siapakah van gogh , dan menjelaskan karya –
karyanya dalam kritik seni. Selain itu, para pembaca diharapkan dapat
memperoleh pengetahuan tentang seni tidak hanya dari makalah ini saja, akan
43
tetapi para pembaca juga diharapkan untuk menambah pengetahuannya melalui
sumber-sumber yang lain, sehingga setiap sumber dapat saling melengkapi satu
sama lain.
DARTAR PUSTAKA
Glewean,[Link] kritik seni pengertian, jenis dan fungsi,
(online),( [Link]
[Link]?m=1),diakses 30 November 2015
[Link] kritik seni,(online),
( [Link] 30
November 2015
Soo,[Link],ruang lingkup dan jenis kritik seni,(online),
( [Link]
[Link]?m=1),diakses 30 November 2015
44