Analisis Fisik Atlet Tinju Amatir
Analisis Fisik Atlet Tinju Amatir
KALIMANTAN BARAT
SKRIPSI
OLEH
FAKIHANI BERREZOKHY
NIM F1251151029
SKRIPSI
OLEH
FAKIHANI BERREZOKHY
NIM F1251151029
Abstrak
i
MOTTO DAN PERSEMBAHAN
Motto
Hidup
PERSEMBAHAN
Karya tulis ini saya persembahkan untuk kedua orang tua dan
Kalimantan Barat”.
2 Isti Dwi Puspita Wati, [Link] selaku dosen pembimbing kedua yang
4 Rahmad Putra Perdana, [Link] selaku dosen penguji kedua yang telah
ii
5 Comdev & Outreching Universitas Tanjungpura yang telah
binaanya
7 Cosmas Radias selaku pelatih atlet tinju Pertina KalBar yang telah
12 Kedua orang tua, saudara dan keluarga besar peneliti karena telah
materi.
iii
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih terdapat
banyak kekurangan dan masih jauh dari kata sempurna, oleh karena
iv
DAFTAR ISI
ABSTRAK ................................................................................................................ i
KATA PENGANTAR .............................................................................................ii
DAFTAR ISI ........................................................................................................... v
DAFTAR TABEL .................................................................................................vii
DAFTAR GAMBAR ........................................................................................... viii
DAFTAR LAMPIRAN .......................................................................................... ix
BAB I PENDAHULUAN........................................................................................ 1
A. Prosedur Penelitian................................................................................ 20
B. Populasi dan Sampel ............................................................................. 20
C. Teknik Pengumpulan Data .................................................................... 21
D. Instrumen (Alat Pengumpul Data) Penelitian ....................................... 21
E. Teknik Analisis Data ............................................................................. 31
v
D. Pembahasan ........................................................................................... 45
A. Kesimpulan ........................................................................................... 50
B. Keterbatasan Penelitian ......................................................................... 50
C. Saran ...................................................................................................... 51
vi
DAFTAR TABEL
Table 4.9 Nilai Rata–Rata(x̅) dan Standar Deviasi (SD) Data Pretest-Postest ..... 44
............................................................................................................... 45
vii
DAFTAR GAMBAR
Keseimbangan....................................................................... 38
Fleksibilitas ........................................................................... 39
Vo2max ................................................................................. 40
Dominan ............................................................................... 44
viii
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 8 Hasil Perolehan Skor Tes dan Pengukuran Biomotor Dominan Pretest-
Postest............................................................................................... 67
Lampiran 9 Lembar Hasil Analisis Data Test dan Pengukuran Komponen Biomotor
.......................................................................................................... 69
ix
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Olahraga tinju amatir memiliki durasi pertandingnya yang cepat yakni 3 ronde
dan 3 menit disetiap rondenya dengan waktu istirahat 1 menit disetiap ronde, hal
inilah yang menuntut seorang atlet memiliki kondisi fisik yang baik terutama
(Loda, 2017). Oleh karena itu kondisi fisik yang baik merupakan hal yang sangat
otot lengan, koordinasi gerakan, daya tahan memukul dan kecepatan reaksi
(Muis, 2016).
merupakan sistem energi utama yang dibutuhkan atlet tinju amatir untuk
1
2
sistem aerobik yang baik (Lumba, 2018). Oleh kerena itu, olahraga tinju amatir
2018).
ada beberapa hal penting yang harus dilakukan mulai dari menganalisis potensi
Mengetahui potensi awal atlet dalam sebuah proses pembinaan kondisi fisik
merupakan hal yang dapat digunakan untuk menentukan satu landasan jelas dan
latihan. Latihan fisik selama ini dilakukan berdasarkan program latihan yang
dibuat oleh pelatih, dan seluruh atlet yang dilatih dituntut untuk mengikuti
seluruh rangkaian program latihan tersebut dengan dosis dan standar yang telah
dominan atlet perindividu. Model pembinaan latihan seperti ini Pertina KalBar
mampu meraih prestasi ditingkat pon akan tetapi prestasi yang diraih selama ini
Prestasi tinju amatir kalimantan barat pada Pon Kalimatan Timur 2008
meraih 1 medali perak, pon riau 2012 meraih 1 medali perunggu. Pon Jawa Barat
3
2016 meraih 2 medali perunggu Pekan olahraga nasional yang merupakan ajang
olahraga paling bergengsi di Indonesia dan atlet yang berhak untuk mengikuti
ajang ini terlebih dahulu harus melewati ajang seleksi yakni prapon yang
merupakan ajang seleksi wajib yang harus diikuti para atlet untuk mendapatkan
tiket ke Pon.
untuk berlaga di pon melalui ajang prapon dengan jumlah raihan tiket yang
meloloskan 1 atlet untuk berlaga di pon KalTim 2008. Pada prapon 2011 KalBar
mampu meloloskan 2 atlet untuk berlaga di pon Riau 2012 dan pada pon 2015
KalBar dapat meloloskan 4 atlet yang terbagi 3 putra dan 1 putri untuk berlaga
dipon JaBar 2016, tahun 2019 merupakan tahun yang dimana prapon tinju akan
lawan tanding disetiap kelas yang akan diikuti diajang Prapon, sistem ini
kelas hanya satu orang atlet yang datang untuk mengikuti seleksi maka otomatis
atlet tersebut tergabug dalam tim, setelah melakukan seleksi Pertina KalBar
melakukan latihan. dalam masa proses pemusatan latihan atlet langsung dituntut
untuk mengikuti seluruh rangkain program yang telah dibuat oleh pelatih, tanpa
4
selama ini memiliki persyaratan yang sangat minim, dan proses pembinaan yang
dilakukan Pertina KalBar dalam pemusatan latihan selama ini sangat minim akan
data status awal kondisi biomotor dominan perindividu. Data awal status kondisi
dalam mejalankan proses pembinaan latihan fisik atlet. Dengan data tersebut
harapan pemberian dosis latihan dapat berjalan dengan sistematis teratur dan
tepat sasaran.
pengukuran status awal komponen biomotor dominan untuk atlet tinju amatir
KalBar dalam rangka persiapan menghadapi prapon 2019. Maka penelitian ini
Kalimantan Barat”.
B. Rumusan masalah
C. Tujuan penelitian
komponen biomotor dominan atlet tinju KalBar untuk menghadapi prapon 2019.
5
D. Manfaat penelitian
Penelitian ini dapat menjadi sumbangan ilmu bagi pelatih tinju KalBar.
Sehingga dengan dilakukan tes dan pengukuran status awal komponen biomotor
yang dipersiapkan untuk menghadapi prapon 2019 mulai daya tahan, kekuatan,
komponen dasar mulai dari kekuatan, kecepatan, daya tahan, fleksibilitas dan
Tinju merupakan olahraga beladiri yang berasal dari luar negeri yang
menampilkan dua petarung dengan berat badan yang sama sebagai syarat utama
olahraga tinju pertama kali diselengarakan oleh bangsa romawi mesir serta
yunani. Pertandingan tinju yunani kuno adalah sejenis olahraga kuno dari
petarung akan saling memukul menggunakan tinju mereka hingga salah satunya
a. Pukulan
dasar yang dikenal degan istilah sebutan, jab straight, hook dan
uppercut.
6
7
1) Jab
tinju pukulan ini juga dikenal dengan istilah pukulan pembuka dengan
namun pukulan ini juga tak jarang dapat terlontar dengan keras saat
2) Straight
3) Hook
karena target utama dari pukulan ini adalah tubuh bagian atas yaitu
badan lawan mana saja yang tidak terlindungi. Pukulan ini kerap
2012: 60).
4) Uppercut
ini yaitu perut lawan (Rahmani, 2014: 84). Uppercut dalam tinju,
jangkauan sasaran utama mulai dari perut, ulu hati dan dagu lawan
b. Menghindar
B. Biomotor Manusia
sistem–sistem organ dalam manusia yang meliputi system kinerja otot dan
system energi yang berkaitan erat dengan keadaan fisiologi, biokimia dan fungsi
organ tubuh manusia. Dengan demikian seorang atlet akan mampu melakukan
tersedia energi siap pakai (Solissa, 2016: 57). Biomotor adalah kemampuan
gerak pada manusia yang dipengaruhi oleh sistem organ dalam manusia, mulai
tulang, dan persendian. Seluruh sistem organ dalam manusia tersebut sangat
diperlukan oleh atlet dalam melakukan serangkaian aktivitas gerak dan berlatih
gerakan dan teknik dalam suatu cabor tertentu (Putra, 2016). Dan biomotor
kemampuan gerak manusia yang dipengaruhi oleh seluruh sistem organ dalam
dalam tubuh manusia dengan 5 komponen biomotor dasar, mulai dari komponen
dan kemampuan perseptual (persepsi kinestetik) dan lebih cenderung pada unsur
1. Daya tahan
merupakan salah satu barometer penentu kesiapan kondisi fisik atlet dalam
berlatih (Solissa, 2016: 58). Seorang atlet dikatakan memiliki daya tahan
yang baik apabila ia mampu melewati aktivitas fisik baik berlatih maupun
Istilah daya tahan dalam dunia olahraga merupakan kondisi fisik optimal
atlet dalam melakukan aktivitasnya saat berlatih dan bertanding, daya tahan
selalu berkaitan dengan lamanya kerja (durasi) dan intensitas kerja, semakin
lama durasi latihan dan semakin tinggi intensitas kerja yang dapat dilakukan
seorang atlet berarti ia memiliki daya tahan yang baik (Solissa, 2016: 59).
olahraga yang membutuhkan daya tahan yang lama, daya tahan aerobik
(Solissa, 2016: 61). Dengan demikian sistem kerja daya tahan aerobik
2. Kekuatan
oleh setiap cabang olahraga (Solissa, 2016: 79). Kualitas komponen ini
2016: 80).
3. Kecepatan
biomotor ini dalam beberapa cabang olahraga menjadi penentu atlet dalam
4. Power
dalam suatu gerak tertentu maupun unsur utama dalam upaya dalam
5. Fleksibilitas
pergerakan yang cepat dan lincah (Solissa, 2016: 127). komponen biomotor
6. Koordinasi
dengan berbagai tingkat kesukaran dengan cepat dan efisien dan penuh
7. Kelincahan
2016: 146).
C. Biomotor Tinju
lawan dan juga memukul sekuat dan sebanyak mungkin merupakan karakteristik
atlet tinju sangat membutuhkan kondisi fisik yang baik, terutama pada kekuatan,
koordinasi, daya tahan, dan kecepatan (Muis, 2016). Selain itu atlet tinju amatir
sama seperti olahraga lainya, akan tetapi tingkatan predominan biomotor dasar
14
olahraga lainya.
1. Kekuatan
usaha maksimal (Aryana: 2013). Kekuatan tubuh bagian atas terutama pada
2. Daya tahan
karena itu atlet tinju dituntut untuk memiliki daya tahan yang baik terutama
daya tahan anaerobik, daya tahan anaerobik merukan daya tahan yang
sistem kerjanya tanpa oksigen dan mengacu pada sistem energi yang
3. Kecepatan
(aksi) yang timbul karena satu perintah atau suatu peristiwa (Akbar: 2015).
yang baik terutama kecepatan reaksi. Kecepatan reaksi dalam hal ini
4. Fleksibilitas
sendi atau otot untuk melakukan gerakan yang efisien dan seluas luasnya
tinju dan menghindari pukulan lawan merupakan hal yang harus dilakukan
seorang atlet dituntut unutuk memiliki kualitas fleksibiltas yang baik, karena
otot untuk menunjang kualitas penampilan atlet dalam dua hal tersebut pada
saat pertandingan.
5. Kelincahan
sama halnya dengan olaraga tinju dimana seorang atlet selama melakoni
6. Koordinasi
D. Penelitian Relevan
Tanah Datar yang terdiri dari: Daya Tahan, Kekuatan, Kecepatan, dan
dari 26 orang atlet tinju PERTINA Kabupaten Tanah Datar sedangkan yang
dengan menggunakan tes yaitu: Bleep test, kekuatan otot lengan diukur
dengan Push Up, kekuatan otot perut diukur dengan Sit Up, kecepatan
diukur dengan tes lari cepat 30, meter dan test koordinasi mata tangan.
data, diperoleh hasil penelitian sebagai berikut: Daya Tahan atlet tinju
17
Sedang. Kekuatan Otot Perut atlet tinju PERTINA Kabupaten Tanah Datar
nilai rata – rata 4,52 dikategorikan cukup. Koordinasi atlet tinju PERTINA
2. Penelitian dengan judul Tinjauan Vo2max Pada Atlet Tinju Putera dan
Puteri Club Denpal Boxing Camp Pekanbaru, Tujuan penelitian ini adalah
dan puteri club denpal boxing camp Pekanbaru, sampel dalam penelitian ini
adalah atlet tinju putera dan puteri club denpal boxing camp Pekanbaru
berjumlah 6 orang. Oleh karena itu untuk mengetahui daya tahan pemain
Test (MFT). Adapun hasil penelitian ini adalah rata – rata tingkat VO2Max
atlet tinju putera club denpal boxing camp pekanbaru 34,87 ml/kgBB/min
dan rata – rata tingkat VO2Max atlet tinju puteri club denpal boxing camp
tingkat VO2Max atlet tinju putera dan puteri club denpal boxing camp
Menggunakan Latihan Pull Down Pada Atlet Tinju Putri Club Histom
kekuatan otot lengan dan bahu pada atlet tinju putri club histom boxing
camp rumbai. Populasi yang digunakan adalah seluruh atlet tinju putri club
sebagai alat untuk mengukur kekuatan otot lengan dan bahu. Sebagai
variabel bebas adalah latihan pull down (x) sedangkan variabel terikatnya
adalah kekuatan (y). data penelitian diperoleh dan dikumpulkan melalui tes
awal dan tes akhir sebelum dan sesudah melakukan latihan pull down
penelitian ini adalah terdapat pengaruh latihan pull down terhadap kekuatan
otot lengan dan bahu pada atlet tinju putri club histom boxing camp rumbai.
Hasil penelitian uji t menghasilkan thitung sebesar 5,549 dan ttabel 2,02
pada taraf signifikan 0,05. Berarti thitung > Ttabel. Dapat disimpulkan
pengaruh yang signifikan dari latihan pull down terhadap kekuatan otot
lengan dan bahu pada atlet tinju putri club histom boxing camp rumba.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Prosedur penelitian
agar data dan informasi yang diperoleh bersifat objektif. Sama halnya dengan
metode yang tepat. Metode dalam sebuah penelitian merupakan cara ilmiah
yang digunakan untuk memperoleh data dengan kegunaan dan tujuan tertentu
(Sugiyono, 2013: 3). Metode yang akan digunakan dalam penelitian ini
merupakan salah satu metode penelitian kuantitatif, metode ini bertujuan untuk
melihat keadaan yang menjadi objek penelitian apa adanya dengan melihat data
1. Populasi
2. Sampel
teknik sampling jenuh, maka sampel yang akan diambil dalam penelitian ini
adalah seluruh atlet tinju amatir kalimantan Barat yang dipersiapkan untuk
20
21
dengan teknik tes dan pengukuran. adapun tes dan pengukuran yang akan
Pengumpulan data dalam penelitian ini terbagi menjadi dua bagian dimana
bagian pertama akan dilakukan sebelum atlet menjalani program dan yang
kedua akan dilakukan setelah atlet selesai menjalani program latihan untuk
mendapat bantuan dari mahasiswa PKO untan dengan kriteria telah lulus mata
kuliah tes dan pengukuran demi optimalnya koordinasi dan kinerja kedua belah
Dalam penelitian ini, instrumen yang digunakan adalah dengan tes dan
dan keseimbangan.
1. Kecepatan Reaksi
Kecepatan waktu reaksi atlet dapat diukur dengan cara test whole
body reaction. Adapun tujuan dari tes ini untuk mengetahui kecepatan reaksi
22
dalam menerima rangsangan atau stimulus atlet dengan mengunakan alat tes
a. Alat
b. Cara Melakukan
1) Alat on
degan membuka kedua kaki atau mengeluarkan kedua kaki dari alas
tumpu test
badruzaman, 2016)
2. Kekuatan Otot
instrumen penelitian ini mulai dari kekuatan otot tangan lengan perut, togog
dan tungkai.
tes Hand grip Dynamometer, Tujuan dari tes ini adalah untuk mengukur
1) Alat
2) Cara Melakukan:
percobaan
1) Alat
a) Lakukan pemanasan
1) Alat
a) Lakukan pemanasan
1) Alat
a) Melakukan pemanasan
gerakan menghentak.
e. Togog / punggung
1) Alat
a) Melakukan pemanasan
lurus.
f. Perut/sit up
Tujuan dari tes ini adalah untuk memantau kekuatan otot perut
1) Alat:
b) Alas / tikar
2) Cara melakukan:
kembali ke lantai
76).
a. Alat:
1) Alat tulis
2) Formulir tes
28
b. Cara Melakukan:
1) Atlet duduk telunjur dengan kedua kaki menapak pada alas alat
vertikal fleksiometer.
kedepan sejauh–jauhnya.
4. Daya tahan
a. Alat:
2) Kun / penanda.
5) Asisten
5. Keseimbangan (balance)
Test ini terbagi menjadi dua bagian mulai dari dengan mata terbuka
dan mata tertutup (St daning Stork Test dan St daning Stork Test– Blind)
1) Alat:
b) Stopwatch
c) Asistent
2) Cara Melakukan:
b) Angkat satu kaki dan letakkan jari–jari kaki itu di atas lutut
kaki lainnya
c) Atas perintah dari asisten, angkat tumit dan berdiri di atas jari
kaki
keseimbangan.
1. Alat:
b) Stopwatch
c) Asisten
2. Cara Melakukan:
b) Tangan di pinggul
kaki satunya dan letakkan jari–jari kaki itu di atas lutut kaki
pilihan.
berdiri
keseimbangan.
31
a. Alat:
1) Permukaan datar
3) Stopwatch
4) Asisten
b. Cara Melakukan:
deskriptif dengan uji beda setelah semua data terkumpul langkah berikutnya
32
1. Analisis deskriptif
pengkategorian yang mengacu pada nilai mean dan standar deviasi analisis
membedakan apakah kedua data variabel yang sama atau berbeda memiliki
dilakukan sebanyak 2 kali yaitu sebelum dan sesudah atlet tinju amatir
organisasi.
BAB IV
A. Deskripsi data
biomotor dominan pada 10 atlet tinju amatir KalBar yang dipersiapkan untuk
menghadapi ajang prapon 2019, yang dilakukan oleh pihak koni KalBar
kategori cukup dengan jumlah 6 (60%) atlet pada rentang skor 3,0 – 3,9
dan 3 (30%) atlet pada kategori kurang dengan rentang skor 2,0 – 2,9
dominan berada pada kategori cukup dengan jumlah 6 (60%) atlet pada
rentang skor 3,0 – 3,9 dan 4 (40%) atlet pada kategori kurang dengan
33
34
Pretest-Posttest kekuatan
Pretest Posttest
No Norma Kriteria
Frekuensi Persentase Frekuensi Persentase
1 > 4,9 Baik sekali 0 0% 0 0%
2 4,0 s.d 4,9 Baik 1 10% 0 0%
3 3,0 s.d 3,9 Cukup 6 60% 6 60%
4 2,0 s.d 2,9 Kurang 3 30% 4 40%
5 < 1,9 Kurang sekali 0 0% 0 0%
Jumlah 10 100% 10 100%
Frekuensi
70%
60%
50%
40%
30%
20%
10%
0%
Baik Sekali Baik Cukup Kurang Kurang Sekali
Pretest Postest
berada pada kategori cukup dengan jumlah 4 (40%) atlet pada rentang
skor 3,0 – 3,9 3 (30%) atlet pada kategori kurang sekali dengan rentang
skor <1,9 2 (20%) atlet pada kategori kurang dengan rentang skor 2,0 –
35
2,9 dan 1 (10%) atlet pada kategori baik dengan rentang skor 4,0 – 4,9.
(50%) atlet pada rentang skor 3,0 – 3,9 4 (40%) atlet pada kategori
kurang dengan rentang skor 2,0 – 2,9 dan 1 (10%) pada kategori baik
Frekuensi
60%
50%
40%
30%
20%
10%
0%
Baik Sekali Baik Cukup Kurang Kurang Sekali
Pretest Postest
36
Posttest
kategori cukup dengan jumlah 5 (50%) atlet pada rentang skor 3,0 – 3,9
2 (20%) atlet pada kategori baik sekali dengan rentang skor >4,9 2
(20%) atlet pada kategori kurang dengan rentang skor 2,0 – 2,9 dan 1
(10%) atlet pada kategori kurang sekali dengan rentang skor 4,0 – 4,9.
(80%) atlet pada rentang skor >4,9 1 (10%) atlet pada kategori baik
dengan rentang skor 4,0 – 4,9 dan 1 (10%) atlet pada kategori kurang
Pretest-Posttest Agility
Pretest Posttest
No Norma Kriteria
Frekuensi Persentase Frekuensi Persentase
1 > 4,9 Baik sekali 2 20% 8 80%
2 4,0 s.d 4,9 Baik 0 0% 1 10%
3 3,0 s.d 3,9 Cukup 5 50% 0 0%
4 2,0 s.d 2,9 Kurang 2 20% 0 0%
5 < 1,9 Kurang sekali 1 10% 1 10%
Jumlah 10 100% 10 100%
37
Pretest-Posttest
Frekuensi
100%
80%
60%
40%
20%
0%
Baik Sekali Baik Cukup Kurang Kurang Sekali
Pretest Postest
kategori kurang sekali dengan jumlah 9 (90%) atlet pada rentang skor
<1,9 dan 1 (10%) atlet pada kategori cukup dengan rentang skor 3,0 –
kategori masih juga lebih dominan berada pada kategori kurang sekali
dengan jumlah jumlah 6 (60%) atlet pada rentang skor <1,9 3 (30%)
atlet pada kategori kurang dengan rentang skor 2,0 – 2,9 dan 1 (10%)
atlet pada kategori cukup sekali dengan rentang skor 3,0 – 3,9.
38
Pretest-Posttest Keseimbangan
Pretest Posttest
No Norma Kriteria
Frekuensi Persentase Frekuensi Persentase
1 > 4,9 Baik sekali 0 0% 0 0%
2 4,0 s.d 4,9 Baik 0 0% 0 0%
3 3,0 s.d 3,9 Cukup 1 10% 1 10%
4 2,0 s.d 2,9 Kurang 0 0% 3 30%
5 < 1,9 Kurang sekali 9 90% 6 60%
Jumlah 10 100% 10 100%
Keseimbangan
Frekuensi
100% 90%
80%
60%
60%
40% 30%
20% 10% 10%
0% 0% 0% 0% 0%
0%
Baik Sekali Baik Cukup Kurang Kurang Sekali
Pretest Protest
kategori baik sekali dengan jumlah 6 (60%) atlet pada rentang skor >4,9
3 (30%) atlet pada kategori cukup dengan rentang skor 3,0 – 3,9 dan 1
(20%) atlet pada kategori kurang sekali dengan rentang skor 2,0 – 2,9.
39
dominan berada pada kategori baik dengan jumlah jumlah 5 (50%) atlet
pada rentang skor 4,0– 4,9 3 (30%) atlet pada kategori baik sekali
dengan rentang skor >4,9 1 (10%) atlet pada kategori cukup dengan
rentang skor 3,0 – 3,9 dan 1 (10%) atlet pada kategori kurang sekali
Fleksibilitas
Frekuensi
70%
60%
50%
40%
30%
20%
10%
0%
Baik Sekali Baik Cukup Kurang Kurang Sekali
Pretest Postest
40
kategori kurang dengan jumlah 6 (60%) atlet pada rentang skor 2,0 –
2,9 3 (30%) atlet pada kategori kurang sekali dengan rentang skor <1,9
dan 1 (10%) atlet pada kategori cukup dengan rentang skor 3,0 – 3,9.
atlet pada rentang skor 2,0– 2,9 2 (20%) atlet pada kategori cukup
dengan rentang skor 3.0 –3.9 dan 1 (10%) atlet pada kategori kurang
Pretest-Posttest Vo2max
Pretest Posttest
No Norma Kriteria
Frekuensi Persentase Frekuensi Persentase
1 > 4,9 Baik sekali 0 0% 0 0%
2 4,0 s.d 4,9 Baik 0 0% 0 0%
3 3,0 s.d 3,9 Cukup 1 10% 2 20%
4 2,0 s.d 2,9 Kurang 6 60% 7 70%
5 < 1,9 Kurang sekali 3 30% 1 10%
Jumlah 10 100% 10 100%
41
Vo2max
Frekuensi
80%
60%
40%
20%
0%
Baik Sekali Baik Cukup Kurang Kurang Sekali
Pretest Postest
dominan berada pada kategori cukup dengan jumlah 4 (40%) atlet pada
rentang skor 3,0 –3,9 3 (30%) atlet pada kategori kurang dengan
rentang skor 2,0 – 2.9 2 (20%) atlet pada kategori baik dengan rentang
skor 4,0 – 4,9 dan 1 (10%) Pada Kategori Kurang Sekali Dengan
jumlah 4 (40%) atlet pada rentang skor 4,0 – 4,9 4 (40%) atlet pada
kategori cukup dengan rentang skor 3.0 – 3.9 1 (10%) atlet pada
kategori baik sekali sekali dengan rentang skor >4,9 dan 1 (10%) atlet
Frekuensi
50%
40%
30%
20%
10%
0%
Baik Sekali Baik Cukup Kurang Kurang Sekali
Pretest Postest
sebanyak 2 atlet dan skor keseluruhan pada sesi ini sebesar 463.
raihan sebanyak 1 atlet dan pencapain skor keseluruhan pada sesi ini
sebesar 434.
Table 4.8 Skor Pretest dan Posttest Pengukuran Komponen Biomotor Dominan
SKOR TES
Atlet A B C D E F G H I J Jumlah
Pretest 49 45 46 46 46 49 46 48 43 44 462
Postest
43 45 47 51 44 22 46 43 49 42 434
C. Uji Beda
dominan atlet tinju amatir KalBar yang menjadi objek dalam penelitian ini.
Mulai dari data Pretest hingga Posttest yang diambil sebelum dan sesudah
Ho: Tidak ada perbedaan antra hasil data Pretest dan Posttest
Ha: Ada perbedaan antara hasil data pretest dan postest (Priyastama,
2017 : 94).
44
hasil tes dan pengukuran komponen biomotor dominan. Maka diperoleh nilai
sebelum adanya TC (pretest) yang terdiri dari 10 sampel sebesar 46,2, Skor
terendah 43, Skor tertinggi 49, dengan simpang baku atau standar deviasi 1,98.
sebesar 43,4 Skor terendah 22, Skor tertinggi 51, dengan simpang baku 8,04.
Table 4.9 Nilai Rata–Rata(x̅) dan Standar Deviasi (SD) Data Pretest-Postest
Rata– Standar
Skor Skor
Indikator rata Deviasi
Terendah Tertinggi
(x̅) (SD)
Komponen Pretest 46,2 43 49 1,98
Biomotor
Dominan Postest 43,4 22 51 8,04
465
460
455
450
445
440
435
430
425
420
Rata-Rata
Pretest Postest
menunjukan bahwa tidak ada perbedaan antara data pretest dan posttest.
45
Berdasarkan hasil analisis uji beda dari data tes kemampuan komponen
TC.
Table 4. 10 Hasil Analisis Uji Beda Pretest dan Posttest Komponen Biomotor
Dominan
D. Pembahasan
biomotor dominan atlet tinju amatir KalBar mulai dari sebelum dan setelah
Pretest dan Posttest komponen biomotor yang telah dianalisis dengan uji beda
informasi bahwa tidak ada perbedaan antara data Pretest dan Posttest dengan
kata lain tidak ada terjadi peningkatan kualitas komponen biomotor domoinan
ditempuh dengan cara melakukan latihan kondisi fisik (Harsono, 2015: 40).
Selain itu dalam pemilihan jenis latihan sistem energi utama (predominan
system energi) yang dipakai dalam latihan dan saat bertanding merupakan
prasyarat utama yang harus dilakukan agar latihan yang dilakukan dapat
dan Sukirno, 2011: 103). Proses latihan yang dilakukan agar dapat
prestasinya, oleh kerena itu dalam mengambil keputusan untuk kedua hal
tersbut harus mengacu pada periodesasi latihan dimana setiap fase latihan
memiliki karakter dan kebutuhan tersendiri (Lubis, 2013: 4). Intensitas latihan
dan juga harus selalu ditingkatkan hingga sampai fase kompetisi utama, hal
dapat memicu terjadinya kelelahan pada atlet dan berdampak pada penurunan
(Harsono, 2015: 79). Disamping itu intensitas latihan yang semakin berat dan
selalu ditingkatkan disetiap peralihan fase latihan merupakan salah satu faktor
Terjadinya cedera mulai dari sistem energi otot dan fraktur dalam
dunia olahraga adalah hal yang sering terjadi dan sangat erat hubungnya
47
dengan kesiapan kondisi fisik atlet untuk berlatih, hal ini dapat mengakibatkan
menurunya performa atlet dalm berlatih yang pada akhirnya dapat berdampak
pada penurunan prestasi atlet (Putri, 2019). Intensitas latihan yang selalu
faktor utama penjamin tercapainya peningkatkan prestasin atlet, bahkan hal ini
mengatasi kelelahan tubuh dan kerusakan otot yang diakibatkan oleh tingginya
intensitas latihan tersebut (Harsono, 2015: 89). Oleh kerena itu seorang atlet
ototnya yang telah mengalami kerusakan akibat dari proses latihan yang
recovery aktif dan pasif dimana keduanya memiliki tujuan dan fungsi khusus
untuk membantu otot membersihkan asam laktat yang dihasilkan dari aktivitas
fisik dengan intensitas tinggi, yang dapat dilakukan dengan cara joging dengan
dengan cara mengistirahatkan tubuh dari aktivitas fisik yang dapat dilakukan
hal yang harus dilakukan oleh atlet guna menghasilkan latihan berkualitas agar
48
energi dalam tubuh yang diperoleh dari asupan nutrisi dari makanan yang
dikonsumsi atlet (Arsani, 2014). Gizi merupakan salah satu faktor biologis
2017). Gizi yang baik bagi atlet selain dari kualitas makanan itu sendiri juga
harus mengacu pada kebutuhan kondisi fisik atlet perindividu, selain itu juga
kemampuan fisik atlet tinju amatir kalimantan barat, yang dilakukan dengan
cara menguji beda data dari hasil tes dan pengukuran kemampuan fisik yang
dilakukan mulai dari sebelum dan sesudah melakukan TC. Berdasarkan hasil
analisis uji beda dari data Pretest-Posttest didapat nilai sig sebesar 0,368 yang
artinya >0,005, berdasarkan hasil analisis uji beda didapat informasi bahwa
komponen biomotor.
satu faktor terjadinya peningkatan dari hasil latihan, akan tetapi hal tersebut
Faktor yang lain seperti recovery, cedera dan gizi juga memiliki peranan
peningktan prestasi.
berdasarkan data tes dan pengukuran yang telah dianalisis mengunakan uji
melainkan ada beberapa faktor yang mengakibatkan atlet pada saat mengikuti
maksimalnya, hal tersebut mulai dari atlet yang mengalami cedera dan juga
ada yang lagi proses penurunan berat badan sehingga atlet tidak bisa
perbedaan dari hasil analisis uji beda atau dengan kata lain tidak ada
A. Kesimpulan
didapat nilai sig sebesar 0,368 yang berarti >0,005, sehingga dapat ditarik
kesimpulan bahwa tidak terjadi peningkatan dari hasil tes dan pengukuran
Terjadinya hal tersebut diakibatkan oleh kondisi atlet yang kurang prima saat
mengikuti tes karena faktor cedera yang belum sembuh dan penurunan berat
badan yang masih belum selesai hingga tahap sesi Posttest dilaksanakan.
B. Keterbatasan penelitian
TC berlangsung.
50
51
C. Saran
diperhatikan.
4. Faktor–faktor penentu lain seperti recovery, cedera dan gizi bagi atlet
peningkatan prestasi
meningkatkan prestasi.
DAFTAR PUSTAKA
Abdurrojak Hanif, Imanudin Iman. 2016. “Hubungan Antara Reaction Time Dan
Kekuatan Maksimal Otot Lengan Dengan Kecepatan Pukulan Pada Cabang
Olahraga Tinju.” jurnal Terapan Ilmu Keolahragaan 01(02).
[Link]
Adiatmika, I P G, and IGPNA Santika. 2015. “Bahan Ajar Tes Dan Pengukuran
Olahraga.”
Akbar, Ali. 2015. “Evaluasi Unsur Kelincahan Dan Kecepatan Reaksi Otot Tangan
Atlet Tarung Derajat Binaan Satlat Unsyiah Tahun 2013.” Jurnal Ilmiah
Mahasiswa Pendidikan Jasmani, Kesehatan dan Rekreasi 1(1).
Anam, Khoiril, Fajar Awang Irawan, and Limpad Nurrachmad. 2018. “Pengaruh
Metode Latihan Dan Koordinasi Mata–Kaki Terhadap Ketepatan Tendangan
Jarak Jauh.” Media Ilmu Keolahragaan Indonesia 8(2): 57–62.
Arsani, Ni Luh Kadek Alit. 2014. “Manajemen Gizi Atlet Cabang Olahraga
Unggulan Di Kabupaten Buleleng.” JST (Jurnal Sains dan Teknologi) 3(1).
Bagaswara, Yoga, and Bambang Priyonoadi. 2015. “Frekuensi Cedera Atlet Pelatda
Sepatu Roda (Perserosi Diy).” Medikora 14(2).
Https://[Link]/[Link]/Medikora/Article/View/7932 . Diakses
10 November 2019
Al Faruq, Muhammad Mukhdor, and Sri Adiningsih. 2017. “Pola Konsumsi Energi,
Protein, Persen Lemak Tubuh Dan Aerobic Endurance Atlet Renang Remaja.”
Media Gizi Indonesia 10(2): 117–22.
Feri, Kurniawan. 2012. Buku Pintar Pengetahuan Olahraga. ed. Kadir A. jakarta:
52
53
laskar aksara.
Johansyah, Lubis. 2013. Panduan Praktis Penyusunan Program Latihan. 1st ed.
jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Jonas, Solissa. 2016. Teori Dan Metodelogi Latihan Fisik. 1st Ed. Jakarta:
Rajagrafindo Persada.
Mackenzie, Brian. 2005. 101 Performance Evaluation Test. ed. Brian mackenzie.
london: electric word plc.
Muis, Joni. 2016. “Interaksi Metode Latihan Dan Kecepatan Reaksi Terhadap
Kemampuan Pukulan Atlet Tinju Kategori Youth.” Publikasi Pendidikan 6(1).
Mulyana, Fegie Rizkia. 2018. “Hubungan Fleksibilitas Panggul Dan Power Otot
Lengan Dengan Keterampilan Stut Pada Senam Lantai.” Journal of SPORT
2(1).
Parwata, I Made Yoga. 2015. “Kelelahan Dan Recovery Dalam Olahraga.” Jurnal
Pendidikan Kesehatan Rekreasi 1(1).
Poppy, Rully &. 2016. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan Campuran
Untuk Menejemen Pembangunan Dan Pendidikan. ed. atif falah Nurul.
Bandung: Refika Aditama.
Priyastama romie. 2017. Buku Sakti Kuasai Spss. yogyakarta: star up.
54
Putra, Roy Tri. 2016. “Analisis Faktor Biomotor Dan Psikomotor Dominan Penentu
Kemampuan Groundstroke Forehand Tenis Lapangan.” sport sciance jurnal
6(2).
Putri, Mega Widya. 2019. “Hubungan Strenght, Endurance, Dribbling, Passing Dan
Shooting Terhadap Resiko Cedera Olahraga.” In Prosiding Seminar Nasional
Fakultas Ilmu Kesehatan Dan Sains,.
Rahmani Mikanda. 2014. Buku Super Lengkap Olahraga. ed. Latif Abdul. jakarta:
dunia cerdas.
Sireger, Yunita Lasma, and Hasan Sidik. 2016. “Pengaruh Metode Latihan Triangle
Run Terhadap Daya Tahan (Vo2max) Pada Anggota Ekstrakulikuler
Sepakbola Sma Negeri 1 Cabangbungin.” Motion: Journal Research of
Physical Education 7(1)
Syaquro dan badruzaman. 2016. “Perbandingan Whole Body Reaction Time Dan
Anticipation Reaction Time Antara Atlet Kata Dan Kumite Cabang Olahraga
Karate.” Jurnal Terapan Ilmu Keolahragaan 1(2): 30–36.
Widhiyanti, Komang Ayu Tri. 2019. “Teknik Massage Effleurage Pada Ekstremitas
Inferior Sebagai Pemulihan Pasif Dalam Meningkatkan Kelincahan.” Jurnal
Pendidikan Kesehatan Rekreasi 3(1): 9–17.
55
1 A1 3 3
2 A2 4 4
3 A3 4 4
4 A4 3 3
5 A5 4 4
6 A6 2 2
7 A7 4 4
8 A8 4 4
9 A9 5 5
10 A10 5 5
Mean 4
SD 1
1 A1 5 5
2 A2 5 5
3 A3 5 5
4 A4 4 4
5 A5 5 5
6 A6 0 0
7 A7 5 5
8 A8 5 5
9 A9 5 5
10 A10 5 5
Mean 4
SD 1.49666
64
1 A1 5 5
2 A2 5 5
3 A3 5 5
4 A4 5 5
5 A5 5 5
6 A6 5 5
7 A7 5 5
8 A8 5 5
9 A9 5 5
10 A10 5 5
Mean 5
SD 0
1 A1 4 4
2 A2 4 4
3 A3 5 5
4 A4 4 4
5 A5 5 5
6 A6 0 0
7 A7 5 5
8 A8 4 4
9 A9 4 4
10 A10 3 3
Mean 3.8
SD 1.47573
66
1 A1 1 1
2 A2 1 1
3 A3 4 4
4 A4 4 4
5 A5 2 2
6 A6 2 2
7 A7 5 5
8 A8 4 4
9 A9 4 4
10 A10 4 4
Mean 3.1
SD 1.44914
1 A1 2 2
2 A2 2 2
3 A3 2 2
4 A4 2 2
5 A5 2 2
6 A6 0 0
7 A7 3 3
8 A8 2 2
9 A9 3 3
10 A10 2 2
Mean 2
SD 0.7746
67
Pretest-Postest
Skor Tes
Nama A1 A2 A3 A4 A5 A6 A7 A8 A9 A10 Jumlah
Pretest 49 45 46 46 46 49 46 48 43 44 462
Posttest 43 47 47 51 44 22 46 43 49 42 434
68
dominan (Pribadi)
70