0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
218 tayangan85 halaman

Analisis Fisik Atlet Tinju Amatir

Skripsi ini membahas analisis kemampuan fisik atlet tinju amatir Kalimantan Barat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan kemampuan fisik atlet tinju amatir setelah mengikuti persiapan prakualifikasi PON 2019. Subjek penelitian adalah 10 atlet tinju amatir Kalimantan Barat. Metode penelitian menggunakan tes dan pengukuran terhadap komponen biomotor sebelum dan sesudah pelatihan. Hasil

Diunggah oleh

Desta Aryani
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
218 tayangan85 halaman

Analisis Fisik Atlet Tinju Amatir

Skripsi ini membahas analisis kemampuan fisik atlet tinju amatir Kalimantan Barat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan kemampuan fisik atlet tinju amatir setelah mengikuti persiapan prakualifikasi PON 2019. Subjek penelitian adalah 10 atlet tinju amatir Kalimantan Barat. Metode penelitian menggunakan tes dan pengukuran terhadap komponen biomotor sebelum dan sesudah pelatihan. Hasil

Diunggah oleh

Desta Aryani
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

ANALISIS KEMAMPUAN FISIK ATLET TINJU AMATIR

KALIMANTAN BARAT

SKRIPSI

OLEH
FAKIHANI BERREZOKHY
NIM F1251151029

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KEPELATIHAN OLAHRAGA


JURUSAN ILMU KEOLAHRAGAAN
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS TANJUNGPURA
PONTIANAK
2020
ANALISIS KEMAMPUAN FISIK ATLET TINJU AMATIR
KALIMANTAN BARAT

SKRIPSI

Diajukan sebagai syarat untuk memperoleh gelar sarjana


pada program studi pendidikan kepelatihan olahraga

OLEH
FAKIHANI BERREZOKHY
NIM F1251151029

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KEPELATIHAN OLAHRAGA


JURUSAN ILMU KEOLAHRAGAAN
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS TANJUNGPURA
PONTIANAK
2020
ANALISIS KEMAMPUAN FISIK ATLET TINJU AMATIR
KALIMANTAN BARAT

Abstrak

Fakihani Berrezokhy (2020), Analisis Kemampuan Fisik Atlet Tinju


Amatir Kalimantan Barat (Pembimbing I Uray Gustian, M. Or).
(Pembimbing II Isti Dwi Puspitawati, M. Pd).

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan kemampuan fisik atlet


tinju amatir Kalimantan Barat yang dipersiapkan untuk menghadapi ajang prakualifikasi
Pon 2019.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survey dengan teknik
pengumpulan data mengunakan tes dan pengukuran terhadap komponen biomotor
dominan. Adapun subyek dalam penelitian ini adalah seluruh atlet tinju amatir Kalimatan
Barat yang dipersiapkan untuk menghadapi PraPon tinju amatir dengan jumlah sebanyak
10 atlet.
Analisis data dalam penelitian ini munggunakan statistik deskriptip kuantitatif
dan Uji Beda (Uji T) Hasil penelitian menunjukan komponen biomotor dominan antara
sebelum dan setelah melakukan TC training centre tidak ada perbedaan yang Significant
atau dengan kata lain tidak ada perubahan yang artinya tidak terjadi peningkatan
kemampuan komponen biomotor dominan. Kesimpulannya tidak terjadi peningkatan
kemampuan fisik atlet tinju amatir Kalimantan Barat selama mengikuti persiapan
prakualifikasi Pon 2019.

Kata Kunci: Atlet Tinju, Komponen Biomotor, Tes dan Pengukuran

i
MOTTO DAN PERSEMBAHAN

Motto

Pendidikan Merupakan Seni Bela Diri Terbaik Untuk Bekal

Hidup

PERSEMBAHAN

Karya tulis ini saya persembahkan untuk kedua orang tua dan

saudara kandung saya serta seluruh pihak yang ikut membantu,

hadirnya kalian semua dalam proses penyelesaian skripsi ini

merupakan momen indah yang pantas dikenang.


KATA PENGANTAR

Alhamdulillah penulis haturkan kepada Allah SWT, karena

berkat rahmat karunianya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini

dengan judul “Analisis Kemampuan Fisik Atlet Tinju Amatir

Kalimantan Barat”.

Penyusunan Skripsi ini diajukan sebagai syarat untuk

memperoleh gelar sarjana Pendidikan Kepelatihan Olahraga, Jurusan

Ilmu Keolahragaan, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan,

Universitas Tanjungpura. Dalam penyelesaian penulisan skripsi ini

penulis mendapat bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak. Untuk

itu penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1 Uray Gustian, [Link] selaku dosen pembimbing pertama yang telah

membimbing selama penyusunan dan menyelesaikan skripsi ini.

2 Isti Dwi Puspita Wati, [Link] selaku dosen pembimbing kedua yang

telah membimbing dalam menyelesaikan penulisan skripsi ini.

3 Edi Purnomo, [Link] selaku Ketua Kaprodi Pendidikan Kepelatihan

Olahraga FKIP Universitas Tanjungpura, dan selaku dosen penguji

pertama yang telah banyak membantu memberikan masukan dalam

menyelesaikan penyusunan skripsi ini .

4 Rahmad Putra Perdana, [Link] selaku dosen penguji kedua yang telah

banyak membantu memberikan masukan dalam menyelesaikan

penyusunan skripsi ini.

ii
5 Comdev & Outreching Universitas Tanjungpura yang telah

memberikan bantuan moril maupun materi dari awal perkuliahan

hingga skripsi ini dapat terselesaikan.

6 H. Erwin Anwar [Link] selaku Sekertaris Umum Koni Prov KalBar

yang telah berkenan memberikan izin untuk peneliti melakukan

penelitian dilingkungan induk organisasi olahraga dibawah

binaanya

7 Cosmas Radias selaku pelatih atlet tinju Pertina KalBar yang telah

membantu peneliti menyelesaikan penelitianya.

8 Staf koni KalBar yang telah membantu peneliti dalam

mempersiapkan sarana dan prasarana dalam menyelesaikan

pengambilan data penelitian

9 Eka Supriatna, M. Pd selaku ketua jurusan ilmu keolahragaan Fkip


untan

10 Dosen Pendidikan kepelatihan keolahragaan, Staf Akademik, dan

Administrasi pada FKIP Universitas Tanjungpura.

11 Dr. Martono, [Link] selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu

Pendidikan Universitas Tanjungpura.

12 Kedua orang tua, saudara dan keluarga besar peneliti karena telah

memberikan banyak dukungan serta motivasi baik moril maupun

materi.

13 Sahabat, teman–teman Program Studi Pendidikan kepelatihan

olahraga Khususnya angkatan 2015 karena telah memberikan

dukungan dan semangat kepada penulis.

iii
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih terdapat

banyak kekurangan dan masih jauh dari kata sempurna, oleh karena

itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun untuk

memperbaiki skripsi ini. Akhir kata, penulis berharap semoga

skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua pihak.

Pontianak, Januari 2020


Peneliti

iv
DAFTAR ISI

ABSTRAK ................................................................................................................ i
KATA PENGANTAR .............................................................................................ii
DAFTAR ISI ........................................................................................................... v
DAFTAR TABEL .................................................................................................vii
DAFTAR GAMBAR ........................................................................................... viii
DAFTAR LAMPIRAN .......................................................................................... ix
BAB I PENDAHULUAN........................................................................................ 1

A. Latar Belakang ........................................................................................ 1


B. Rumusan Masalah ................................................................................... 4
C. Tujuan Penelitian..................................................................................... 4
D. Manfaat Penelitian................................................................................... 5
E. Ruang Lingkup Penelitian ....................................................................... 5
F. Definisi Oprasional Variabel ................................................................... 5

BAB II KAJIAN TEORI ......................................................................................... 6

A. Pengertian Tinju ...................................................................................... 6


B. Biomotor Manusia ................................................................................... 9
C. Biomotor Tinju ...................................................................................... 13
D. Penelitian Relevan ................................................................................. 16

BAB III METODE PENELITIAN ........................................................................ 20

A. Prosedur Penelitian................................................................................ 20
B. Populasi dan Sampel ............................................................................. 20
C. Teknik Pengumpulan Data .................................................................... 21
D. Instrumen (Alat Pengumpul Data) Penelitian ....................................... 21
E. Teknik Analisis Data ............................................................................. 31

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN....................................... 33

A. Deskripsi Data ....................................................................................... 33


B. Hasil Analisis Data ................................................................................ 33
C. Uji Beda ................................................................................................ 43

v
D. Pembahasan ........................................................................................... 45

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ................................................................ 50

A. Kesimpulan ........................................................................................... 50
B. Keterbatasan Penelitian ......................................................................... 50
C. Saran ...................................................................................................... 51

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................ 52

vi
DAFTAR TABEL

Table 4.1 Hasil Analisis Pretest-Posttest Biomotor Kekuatan .............................. 34

Table 4. 2 Hasil Analisis Pretest-Posttest Biomotor Response speed ................... 35

Table 4. 3 Hasil Analisis Pretest-Posttest Biomotor Agility ................................. 36

Table 4. 4 Hasil Analisis Pretest-Posttest Biomotor Keseimbangan .................... 38

Table 4. 5 Hasil Analisis Pretest- Posttest Biomotor Fleksibilitas........................ 39

Table 4. 6 Hasil Analisis Pretest-Posttest Biomotor Vo2max ............................... 40

Table 4. 7 Hasil Analisis Pretest-Posttest Komponen Biomotor Dominan .......... 42

Table 4.8 Skor Pretest-Posttest Pengukuran Komponen Biomotor Dominan Atlet

Tinju Amatir KalBar ............................................................................. 43

Table 4.9 Nilai Rata–Rata(x̅) dan Standar Deviasi (SD) Data Pretest-Postest ..... 44

Table 4. 10 Hasil Analisis Uji Beda Pretest-Posttest Komponen Biomotor Dominan

............................................................................................................... 45

vii
DAFTAR GAMBAR

Histogram 4.1 Kemampuan Pencapaian Komponen Biomotor Kekuatan Atlet

Tinju Amatir KalBar Pretest-Postest.................................... 34

Histogram 4.2 Kemampuan Pencapaian Komponen Biomotor Response

Speed Atlet Tinju Amatir Kalbar .......................................... 35

Histogram 4.3 Kemampuan Pencapaian Kategori Komponen Biomotor

Agility Pretest-Posttest ......................................................... 37

Histogram 4.4 Kemampuan Pencapain Kategori Komponen Biomotor

Keseimbangan....................................................................... 38

Histogram 4.5 Kemampuan Pencapaian Kategori Komponen Biomotor

Fleksibilitas ........................................................................... 39

Histogram 4.6 Kemampuan Pencapain Kategori Komponen Biomotor

Vo2max ................................................................................. 40

Histogram 4.7 Kemampuan Pencapaian Kategori Komponen Biomotor

Dominan Pretest- Posttest .................................................... 42

Histogram 4.8 Nilai Rata-Rata Pretest-Posttest Komponen Biomotor

Dominan ............................................................................... 44

viii
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Surat Keterangan Pembimbing Artikel ............................................. 55

Lampiran 2 Surat Keterangan Pembimbing Skripsi ............................................. 55

Lampiran 3 Surat Permohonan Bantuan Riset...................................................... 57

Lampiran 4 Surat Tugas........................................................................................ 58

Lampiran 5 Surat Balasan Dari Pertina KalBar .................................................... 59

Lampiran 6 Surat Keterangan Seminar ................................................................. 59

Lampiran 7 Lembar Hasil Perolehan Data Test dan Pengukuran Komponen

Biomotor Dominan Pretest-Postest .................................................. 61

Lampiran 8 Hasil Perolehan Skor Tes dan Pengukuran Biomotor Dominan Pretest-

Postest............................................................................................... 67

Lampiran 9 Lembar Hasil Analisis Data Test dan Pengukuran Komponen Biomotor

Dominan Pretest-Postest .................................................................. 68

Lampiran 10 Dokumentasi Test dan Pengukuran Komponen Biomotor dominan

.......................................................................................................... 69

ix
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Tinju amatir merupakan salah–satu olahraga beladiri yang berasal dari

luar negeri dan bekembang di Indonesia, setiap olahraga beladiri memiliki

karakter dan ciri khas tersendiri menyesuaikan dengan kebutuhanya. Masing–

masing yang membedakannnya dengan olahraga beladiri lainnya. Dalam

pertandingan olahraga tinju seorang petarung dituntut untuk mengumpulkan

point secepatnya dan sebanyak mungkin agar dapat mengungguli lawannya.

Olahraga tinju amatir memiliki durasi pertandingnya yang cepat yakni 3 ronde

dan 3 menit disetiap rondenya dengan waktu istirahat 1 menit disetiap ronde, hal

inilah yang menuntut seorang atlet memiliki kondisi fisik yang baik terutama

pada komponen biomotor dan sistem energi dominan (Muis, 2016).

Tuntutan dan karakteristik dalam pertandingan tinju amatir serta juga

durasi pertandingan yang terbilang singkat, mengakibatkan seorang atlet tinju

amatir sangat membutuhkan kecepatan gerak untuk melakoni pertandinganya

(Loda, 2017). Oleh karena itu kondisi fisik yang baik merupakan hal yang sangat

penting bagi atlet tinju untuk menunjang penampilanya saat melakoni

pertandingan terutama pada komponen biomotor dominan, mulai dari kekuatan

otot lengan, koordinasi gerakan, daya tahan memukul dan kecepatan reaksi

(Muis, 2016).

Berdasarkan karakteristik tersebut predominan sistem energi anaerobik

merupakan sistem energi utama yang dibutuhkan atlet tinju amatir untuk

menunjang penampilanya saat bertanding. Hal inilah yang mengakibatkan atlet

1
2

tinju amatir membutuhkan derajat kebugaran anaerobik dan perkembangan

sistem aerobik yang baik (Lumba, 2018). Oleh kerena itu, olahraga tinju amatir

merupakan olahraga yang membutuhkan kondisi fisik yang baik (Latuheru,

2018).

Pertina KalBar yang merupakan induk organisasi yang menaungi

olahraga tinju amatir di Kalimantan Barat. Untuk meningkatkan prestasi atlet

ada beberapa hal penting yang harus dilakukan mulai dari menganalisis potensi

atlet tersebut dan mengembangkanya hingga maksimal (Fardiansah, 2015).

Mengetahui potensi awal atlet dalam sebuah proses pembinaan kondisi fisik

merupakan hal yang dapat digunakan untuk menentukan satu landasan jelas dan

kuat dari mana proses pembinaan itu harus dimulai.

Pembinaan latihan fisik yang dilakukan Pertina KalBar selama ini

dilaksanakan dengan cara dimandatkan sepenuhnya kepada pelatih dalam proses

latihan. Latihan fisik selama ini dilakukan berdasarkan program latihan yang

dibuat oleh pelatih, dan seluruh atlet yang dilatih dituntut untuk mengikuti

seluruh rangkaian program latihan tersebut dengan dosis dan standar yang telah

dibuat, tanpa mengetahui terlebih dahulu status awal komponen biomotor

dominan atlet perindividu. Model pembinaan latihan seperti ini Pertina KalBar

mampu meraih prestasi ditingkat pon akan tetapi prestasi yang diraih selama ini

dari 15 tahun terkhir di 3 kesempatan Pekan Olahraga Nasional (PON) yang

merupakan ajang pesta olahraga terbesar diIndonesia sekalipun belum pernah

meraih mendali emas.

Prestasi tinju amatir kalimantan barat pada Pon Kalimatan Timur 2008

meraih 1 medali perak, pon riau 2012 meraih 1 medali perunggu. Pon Jawa Barat
3

2016 meraih 2 medali perunggu Pekan olahraga nasional yang merupakan ajang

olahraga paling bergengsi di Indonesia dan atlet yang berhak untuk mengikuti

ajang ini terlebih dahulu harus melewati ajang seleksi yakni prapon yang

merupakan ajang seleksi wajib yang harus diikuti para atlet untuk mendapatkan

tiket ke Pon.

Pertina KalBar merupakan salah satu induk organisasi cabor dari

Kalimantan Barat yang selalu berhasil meloloskan atletnya mendapatkan tiket

untuk berlaga di pon melalui ajang prapon dengan jumlah raihan tiket yang

bervariasi disetiap disetiap kesempatan prapon yang diikuti. Prapon

dilaksanakan setahun sebelum pon dilaksanakan pada prapon 2007 KalBar

meloloskan 1 atlet untuk berlaga di pon KalTim 2008. Pada prapon 2011 KalBar

mampu meloloskan 2 atlet untuk berlaga di pon Riau 2012 dan pada pon 2015

KalBar dapat meloloskan 4 atlet yang terbagi 3 putra dan 1 putri untuk berlaga

dipon JaBar 2016, tahun 2019 merupakan tahun yang dimana prapon tinju akan

digelar kembali untuk ajang seleksi menghadapi pon Papua 2020.

Pertina KalBar melakukan seleksi atlet selama ini menggunakan sistem

lawan tanding disetiap kelas yang akan diikuti diajang Prapon, sistem ini

dijadikan l landasan keputusan dalam pembentukan tim. Apabila dalam satu

kelas hanya satu orang atlet yang datang untuk mengikuti seleksi maka otomatis

atlet tersebut tergabug dalam tim, setelah melakukan seleksi Pertina KalBar

mengadakan pemusatan latihan selama kurang lebih 6 bulan sampai ke hari

pertandingan yang langsung sepenuhnya diamanatkan kepada pelatih untuk

melakukan latihan. dalam masa proses pemusatan latihan atlet langsung dituntut

untuk mengikuti seluruh rangkain program yang telah dibuat oleh pelatih, tanpa
4

melakukan peninjauan terlebih dahulu terhadap komponen biomotor dominan

dan status kodisi fisik awal atlet perindividu.

Sistem seleksi yang diterapkan Pertina KalBar dalam pembentukan tim

selama ini memiliki persyaratan yang sangat minim, dan proses pembinaan yang

dilakukan Pertina KalBar dalam pemusatan latihan selama ini sangat minim akan

data status awal kondisi biomotor dominan perindividu. Data awal status kondisi

komponen biomotor dominan merupakan hal yang dapat dijadikan l landasan

dalam mejalankan proses pembinaan latihan fisik atlet. Dengan data tersebut

kekurangan dan kelebihan atlet dapat terpantau dengan jelas, sehingga

memudahkan pelatih dalam menganalisa kekurangan dan kelebihan atlet dengan

harapan pemberian dosis latihan dapat berjalan dengan sistematis teratur dan

tepat sasaran.

Berdasarkan latar belakang diatas perlu dilakukan penelitian tes

pengukuran status awal komponen biomotor dominan untuk atlet tinju amatir

KalBar dalam rangka persiapan menghadapi prapon 2019. Maka penelitian ini

dilakukan dengan judul: “Analisis Kemampuan Fisik Atlet Tinju Amatir

Kalimantan Barat”.

B. Rumusan masalah

Analisa peningkatan status komponen biomotor dominan atlet tinju

amatir KalBar untuk persiapan menghadapi prapon 2019.

C. Tujuan penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana peningkat status

komponen biomotor dominan atlet tinju KalBar untuk menghadapi prapon 2019.
5

D. Manfaat penelitian

Penelitian ini dapat menjadi sumbangan ilmu bagi pelatih tinju KalBar.

Sehingga dengan dilakukan tes dan pengukuran status awal komponen biomotor

dominan atlet, pelatih dapat mengetahui perkembangan kualitas fisik atlet

selama proses latihan berlangsung.

E. Ruang lingkup penelitian

Status komponen biomotor dominan atlet tinju amatir kalimantan barat

yang dipersiapkan untuk menghadapi prapon 2019 mulai daya tahan, kekuatan,

kecepatan, fleksibilitas dan koordinasi. merupakan hal yang akan diteliti,

penelitian ini terbatas dalam pembahasan status komponen biomotor dominan.

F. Definisi oprasional variabel

Biomotor merupakan kemampuan gerak manusia yang memiliki 5

komponen dasar mulai dari kekuatan, kecepatan, daya tahan, fleksibilitas dan

koordinasi adapaun komponen lainya merupakan perpaduan dari komponen–

komponen biomotor dasar, dan komponen–komponen biomotor tersebut

merupakan salah satu unsur yang besar pengaruhnya untuk menentukan

keberhasilan atlet dalam meraih prestasi.


BAB II
KAJIAN TEORI
A. Pengertian Tinju

Tinju merupakan olahraga beladiri yang berasal dari luar negeri yang

menampilkan dua petarung dengan berat badan yang sama sebagai syarat utama

bagi petarung untuk mengikuti pertandingan (Pahlevi, 2012: 62). Pertandingan

olahraga tinju pertama kali diselengarakan oleh bangsa romawi mesir serta

yunani. Pertandingan tinju yunani kuno adalah sejenis olahraga kuno dari

setidaknya abad ke–8 SM berdasarkan puisi Iliad karya Homer (Kurniawan,

2012: 59). Memenangkan pertandingan dalam olahraga ini merupakan tujuan

utama yang ingin dicapai petarung, selama pertandingan berlansung kedua

petarung akan saling memukul menggunakan tinju mereka hingga salah satunya

terjatuh (KO) ataupun menang dengan angka (Anggoro, 2011: 23).

1. Teknik Dasar Tinju

a. Pukulan

Pukulan dalam olahraga tinju merupakan senjata utama

bagi atlet untuk menunjang penampilanya saat bertanding Hal inilah

yang membedakannya dari olahraraga bela diri laianya, dengan

mengandalkan pukulan sebagai senjata utama untuk memenangkan

pertandingan. Olahraga tinju sendiri memiliki empat teknik pukulan

dasar yang dikenal degan istilah sebutan, jab straight, hook dan

uppercut.

6
7

1) Jab

Jab adalah pukulan dengan fungsi utama untuk

mengacau pertahanan lawan namun tak jarang pukulan ini juga

dijadikan andalan para petinju yang tangan kirinya lebih kuat

dibandingkan tangan kananya (Rahmani, 2014: 84). Dalam olahraga

tinju pukulan ini juga dikenal dengan istilah pukulan pembuka dengan

fungsi utama untuk mengangu konsentrasi lawan dalam pertandingan,

namun pukulan ini juga tak jarang dapat terlontar dengan keras saat

memukul dan juga dapat membuat lawan KO (Kurniawan, 2012: 60).

Pukulan ini biasanya dilakukan menggunakan tangan depan yang lebih

lemah, pukulanini selain menjadi pukulan pembuka pukulan ini juga

membantu dalam pengaturan jarak jangkauan untuk melancarkan

serangan terhadap lawan.

2) Straight

Straight merupakan pukulan lurus yang dikenal dengan

dengan cepat dan kerasnya dalam olahraga tinju pukulan straight

biasanya dilontarkan setelah pukulan jab, akan tetapi hal tersebut

tidak selalu begitu karena bisa juga dikombinasikan dengan pukulan

yang lain sesuai strategi dan kondisi saat dalam pertandingan

(Kurniawan, 2012: 60). Keras dan cepatnya pukulan straight saat

dilancarkan untuk menghantam lawan tak jarang pukulan ini

menjadi andalan para petinju untuk merobohkan lawannya

(Rahmani, 2014: 84).


8

3) Hook

Pukulan hook merupakan pukulan yang sangat efektif

untuk menghilangkan konsentrasi lawan saat dalam pertandingan

karena target utama dari pukulan ini adalah tubuh bagian atas yaitu

kepala dan rahang lawan (Rahmani, 2014: 84). Dalam bahasa

Inggris pukulan ini berarti kait. Pukulan ini dikenal sangat

mematikan karena target utamanya, pukulan ini pada dasarnya

dapat dilontarkan ke bagian tubuh lainya mulai dari kepala atau

badan lawan mana saja yang tidak terlindungi. Pukulan ini kerap

kali dikombinasikan dengan pukulan–pukulan lain (Kurniawan

2012: 60).

4) Uppercut

Uppercut merupakan pukulan pendek yang juga sangat

efektif untuk menjatuhkan lawan karena target utama dari pukulan

ini yaitu perut lawan (Rahmani, 2014: 84). Uppercut dalam tinju,

merupakan pukulan andalan untuk mengalahkan lawan dengan

KO. Pukulan uppercut dilontarkan dari bawah dengan posisi

tangan dan siku petinju membentuk huruf "V" dengan tiga

jangkauan sasaran utama mulai dari perut, ulu hati dan dagu lawan

(Muis, 2016: 79).

b. Menghindar

Menghindari pukulan merupakan hal yang harus dilakukan

oleh setiap petinju untuk mengantisipasi setiap serangan lawan sebelum


9

melakukan serangan balik, menghindari pukulan lawan merupakan

bagian dari teknik dasar dalam bertinju (Rahmani, 2014: 84).

B. Biomotor Manusia

Biomotor adalah kemampuan gerak manusia yang dipengaruhi oleh

sistem–sistem organ dalam manusia yang meliputi system kinerja otot dan

system energi yang berkaitan erat dengan keadaan fisiologi, biokimia dan fungsi

organ tubuh manusia. Dengan demikian seorang atlet akan mampu melakukan

pergerakan atau serangkaian pergerakan dengan prasyarat didalam tubuhnya

tersedia energi siap pakai (Solissa, 2016: 57). Biomotor adalah kemampuan

gerak pada manusia yang dipengaruhi oleh sistem organ dalam manusia, mulai

dari sistem neuromuskuler (syaraf), pencernaan, pernapasan, peredaran darah,

tulang, dan persendian. Seluruh sistem organ dalam manusia tersebut sangat

diperlukan oleh atlet dalam melakukan serangkaian aktivitas gerak dan berlatih

gerakan dan teknik dalam suatu cabor tertentu (Putra, 2016). Dan biomotor

memiliki 5 komponen dasar yang meliputi kekuatan, daya tahan, kecepatan,

kelentukan, dan koordinasi (Tangkudung dan Puspitorini, 2012: 70).

Dari pendapat diatas dapat diartikan bahwa biomotor merupakan

kemampuan gerak manusia yang dipengaruhi oleh seluruh sistem organ dalam

dalam tubuh manusia dengan 5 komponen biomotor dasar, mulai dari komponen

biomotor daya tahan (endurance) kekuatan (strength) kecepatan (speed)

fleksibilitas (flexsibility) dan koordinasi (coordination) (Solissa, 2016: 60).

Kelima komponen dasar tersebut merupakan komponen dasar dalam setiap

cabang olahraga. Adapun komponen lainnya merupakan perpaduan dari

beberapa komponen dasar sehingga dikenal dengan istilah lainnya, diantaranya


10

seperti power merupakan perpaduan dari kekuatan dan kecepatan. Kelicahanhan

merupakan perpaduan dari kecepatan fleksibilitas dan koordinasi. Dan

keseimbangan merupakan perpaduan dari beberapa komponen kebugaran otot

dan kemampuan perseptual (persepsi kinestetik) dan lebih cenderung pada unsur

mekanika dalam olahraga terutama dalam mengajarkan keterampilan teknik

1. Daya tahan

Komponen biomotor daya tahan (endurance) dalam dunia olahraga

merupakan salah satu barometer penentu kesiapan kondisi fisik atlet dalam

berlatih (Solissa, 2016: 58). Seorang atlet dikatakan memiliki daya tahan

yang baik apabila ia mampu melewati aktivitas fisik baik berlatih maupun

bertanding tanpa mengalami kelelahan yang berlebihan setelah

menyelesaikan aktivitas tersebut (Tangkudung dan Puspitorini, 2012: 70).

Istilah daya tahan dalam dunia olahraga merupakan kondisi fisik optimal

atlet dalam melakukan aktivitasnya saat berlatih dan bertanding, daya tahan

selalu berkaitan dengan lamanya kerja (durasi) dan intensitas kerja, semakin

lama durasi latihan dan semakin tinggi intensitas kerja yang dapat dilakukan

seorang atlet berarti ia memiliki daya tahan yang baik (Solissa, 2016: 59).

Daya tahan pada dasarnya terbagi menjadi 3 bagian yaitu daya

tahan aerobik, anaerobik dan daya tahan otot.

a. Daya tahan aerobik

Daya tahan aerobik adalah kapasitias seseorang untuk

melawan kelelahan dan juga merupakan kebutuhan utama dalam

olahraga yang membutuhkan daya tahan yang lama, daya tahan aerobik

dalam sistem kerjanya membutuhkan oksigen (O2) yang sangat banyak


11

demi ketersediaan energi yang cukup untuk menunjang kinerja otot

(Solissa, 2016: 61). Dengan demikian sistem kerja daya tahan aerobik

sangat mengandalkan oksigen (O2) untuk menunjang kinerjanya.

b. Daya tahan anaerobik

Daya tahan anaerobik adalah aktivitas yang tidak memerlukan

oksigen (O2) untuk menunjang kinerjanya, daya tahan ini mengacu

pada sistem energi yang memungkinkan otot–otot untuk bekerja dengan

mengunakan energi yang telah tersimpan.

c. Daya tahan otot

Daya tahan otot merupakan kemampuan kerja otot atau

sekelompok otot untuk melakuan gerak atau kontraksi secara–terus

menerus dengan durasi waktu yang lama (Solissa, 2016: 61).

2. Kekuatan

Kekuatan merupakan komponen biomotor dasar yang dibutuhkan

oleh setiap cabang olahraga (Solissa, 2016: 79). Kualitas komponen ini

sangat penting guna meningkatkan kondisi fisik atlet secara keseluruhan

(Tangkudung dan Puspitorini, 2012: 68). Secara umum kekuatan

merupakan kemampuan otot dalam mengatasi beban atau tahanan (Solissa,

2016: 80).

3. Kecepatan

Kecepatan (speed) merupakan salah satu komponen dasar

biomotor yang dibutuhkan oleh setiap cabang olahraga bahkan komponen

biomotor ini dalam beberapa cabang olahraga menjadi penentu atlet dalam

mencapai prestasi (Solissa, 2016: 100). Kecepatan adalah kemampuan


12

untuk berjalan berlari dan bergerak dengan sangat cepat menurut

(Tangkudung dan Puspitorini, 2012: 71). Secara umum kecepatan

merupakan kemampuan seseorang dalam melakukan gerak atau serangkain

gerak dalam waktu yang sesingkat–singkatnya sebagai sebagai jawab atas

rangsangan (Solissa, 2016: 100).

4. Power

Power atau daya ledak merupakan komponen biomotor yang

memiliki peranan penting dalam olahraga, baik sebagai unsur pendukung

dalam suatu gerak tertentu maupun unsur utama dalam upaya dalam

pencapaian teknik gerak yang sempurna (Solissa, 2016: 111).

5. Fleksibilitas

Fleksibilitas merupakan kemampuan biomotor dasar yang

dibutuhkan oleh setiap cabang olahraga, untuk menunjang kualitas

penampilan atlet dalam melakukan pergerakan yang memerlukan gerak

sendi yang luas dan memudahkan atlet untuk melakukan pergerakan–

pergerakan yang cepat dan lincah (Solissa, 2016: 127). komponen biomotor

flexibility adalah kemampuan untuk melakukan gerakan persendian melalui

jangkauan gerak yang luas (Tangkudung dan Puspitorini, 2012: 71).

6. Koordinasi

Koordinasi merupakan komponen bimotor terpenting dalam

setiap cabang olahraga dan juga sangat kompleks dibandingkan dengan

komponen biomotor lainya, kerena komponen biomotor ini sangat erat

hubungannya kecepatan, kekuatan, daya tahan dan fleksibilitas (Solissa,

2016: 135). Koordinasi adalah kemampuan untuk melakukan gerakan


13

dengan berbagai tingkat kesukaran dengan cepat dan efisien dan penuh

ketepatan (Tangkudung dan Puspitorini, 2012: 72).

7. Kelincahan

Kelincahan (agility) merupakan kemampuan seseorang dalam

melakukan gerakan yang cepat sekaligus merubah arah tanpa terganggu

keseimbanganya (Solissa, 2016: 140).

8. Stabilitas dan keseimbangan

Menurut komponen ini secara umum merupakan kemampuan

seseorang dalam mempertahankan kesimbangan posisi tubuhnya diatas

bidang tumpu untuk menunjang efektivitas kegiatan geraknya (Solissa,

2016: 146).

C. Biomotor Tinju

Bergerak aktif dan cepat saat menyerang dan menghindari serangan

lawan dan juga memukul sekuat dan sebanyak mungkin merupakan karakteristik

khas dari olahraga tinju amatir dengan harapan dapat memenangkan

pertandingan. Untuk menunjang penampilanya pada saat bertanding seorang

atlet tinju sangat membutuhkan kondisi fisik yang baik, terutama pada kekuatan,

koordinasi, daya tahan, dan kecepatan (Muis, 2016). Selain itu atlet tinju amatir

pada saat bertanding juga membutuhkan fleksibilitas untuk menunjang kualitas

penampilanya terutama untuk teknik memukul (Abdurrojak, 2016). Berdasarkan

pendapat diatas dapat diartikan bahwa ke–5 komponen biomotor dasar

merupakan komponen penting yang dibutuhkan dalam olahraga tinju amatir

sama seperti olahraga lainya, akan tetapi tingkatan predominan biomotor dasar
14

tersebut dan kegunaanya dalam olahraga tinju yang membedakanya dengan

olahraga lainya.

1. Kekuatan

Kekuatan adalah tenaga kontraksi otot yang dicapai dalam sekali

usaha maksimal (Aryana: 2013). Kekuatan tubuh bagian atas terutama pada

bagian lengan merupakan kekuatan bagian tubuh yang sangat di andalkan

oleh petinju untuk menunjang kualitas pukulannya saat melancarkan

seranganya terhadap lawan.

2. Daya tahan

Durasi pertandingan dalam olahraga tinju yang tebilang singkat

dan juga dengan karakteristik khas dalam pertandinganya mulai dari

memukul sebanyak dan sekuat mungkin dan juga menghidari serangan

merupakan hal yang akan terjadi selama pertandingan berlangsung, oleh

karena itu atlet tinju dituntut untuk memiliki daya tahan yang baik terutama

daya tahan anaerobik, daya tahan anaerobik merukan daya tahan yang

sistem kerjanya tanpa oksigen dan mengacu pada sistem energi yang

memungkinkan otot–otot untuk bekerja dengan menggunakan energi yang

telah tersimpan di dalam tubuh (Sireger dan Sidik : 2016).

3. Kecepatan

Kecepatan reaksi berasal dari kata “kecepatan” dan “reaksi”.

Kecepatan merupakan sejumlah gerakan per waktu. Reaksi berarti kegiatan

(aksi) yang timbul karena satu perintah atau suatu peristiwa (Akbar: 2015).

Karakteristik olahraga tinju amatir mulai dari waktu dan sistem

pertandinganya, menurut setiap atlet tinju amatir untuk memiliki kecepatan


15

yang baik terutama kecepatan reaksi. Kecepatan reaksi dalam hal ini

dibutuhkan untuk menunjang kualitas penampilan atlet pada saat berlatih

maupun bertanding dalam merespon serangan lawan, menghidar dan

membaca peluang untuk melakukan serangan balik terhadap lawannya.

4. Fleksibilitas

Fleksibilitas atau kelentukan adalah kemampuan ruang gerak

sendi atau otot untuk melakukan gerakan yang efisien dan seluas luasnya

(Mulyana, 2018). Memukul merupakan senjata utama dalam dalam olahraga

tinju dan menghindari pukulan lawan merupakan hal yang harus dilakukan

pada saat bertanding, sehingga untuk menujang kualitas penampilanya

seorang atlet dituntut unutuk memiliki kualitas fleksibiltas yang baik, karena

dalam hal memukul dan menghindar diperlukan peranan sendi–sendi dan

otot untuk menunjang kualitas penampilan atlet dalam dua hal tersebut pada

saat pertandingan.

5. Kelincahan

Kelincahan adalah kemampuan seseorang merubah posisi di area

tertentu (Akbar, 2015). Dalam olahraga beladiri menghindari serangan

lawan tanpa kehilangan kesimbangan dan dengan secepat mungkin untuk

melakukan serangan balik merupakan ciri khas olahraga beladiri tarung,

sama halnya dengan olaraga tinju dimana seorang atlet selama melakoni

pertandinganya dituntut untuk menyerang dengan cepat dan menghindari

serangan secapat mungkin tanpa kehilang keseimbangan demi efektivitas

dalam melakukan serangan balik terhadap lawanya.


16

6. Koordinasi

Koordinasi merupakan komponen biomotor yang diperlukan oleh

setiap cabang olahraga sebagai pendukung efisiensi dan ketepatanya dalam

melakukan gerakan dan melancarkan tekniknya saat bertanding maupun

berlatih (Anam, Irawan dan Nurrachmad, 2018). Sama halnya dengan

olahraga tinju berdasarkan karekteristik pertandingan dalam olahraga tinju

seorang atlet dituntut untuk selalu bergerak aktif selama menjalani

pertandingan baik saat menyerang dan menghidari serangan lawan, oleh

karena itu koordinasi gerakan yang baik sangat dibutuhkan untuk

menunjang kualitas efektivitas penampilan atlet dalam pertandingan.

D. Penelitian Relevan

1. Penelitian dengan judul Tinjauan Kemampuan Kondisi Fisik Atlet Tinju

PERTINA Kabupaten Tanah Datar Tujuan penelitian ini untuk

mengungkapkan kemampuan kondisi fisik atlet tinju PERTINA Kabupaten

Tanah Datar yang terdiri dari: Daya Tahan, Kekuatan, Kecepatan, dan

Koordinasi. Jenis penelitian ini adalah bersifat deskriptif. Populasi berasal

dari 26 orang atlet tinju PERTINA Kabupaten Tanah Datar sedangkan yang

dijadikan sampel penelitian ini adalah 16 orang. Teknik pengambilan

sampel yaitu Purposive Sampling. Instrumen penelitian dikumpulkan

dengan menggunakan tes yaitu: Bleep test, kekuatan otot lengan diukur

dengan Push Up, kekuatan otot perut diukur dengan Sit Up, kecepatan

diukur dengan tes lari cepat 30, meter dan test koordinasi mata tangan.

Analisis data digunakan teknik analisis data deskriptif. Berdasarkan analisis

data, diperoleh hasil penelitian sebagai berikut: Daya Tahan atlet tinju
17

PERTINA Kabupaten Tanah Datar diperoleh nilai rata–rata 49,58

dikategorikan Baik. Kekuatan atlet tinju PERTINA Kabupaten Tanah Datar

Kekuatan otot Lengan diperoleh nilai rata – rata 36,06 dikategorikan

Sedang. Kekuatan Otot Perut atlet tinju PERTINA Kabupaten Tanah Datar

diperoleh nilai rata – rata 37,81 dikategorikan sedang. Kecepatan diperoleh

nilai rata – rata 4,52 dikategorikan cukup. Koordinasi atlet tinju PERTINA

Kabupaten Tanah Datar diperoleh nilai rata – rata 8 dikategorikan baik

2. Penelitian dengan judul Tinjauan Vo2max Pada Atlet Tinju Putera dan

Puteri Club Denpal Boxing Camp Pekanbaru, Tujuan penelitian ini adalah

untuk mengetahui Bagaimana kemampuan VO2Max Atlet Tinju Putera dan

Puteri club denpal boxing camp Pekanbaru. VO2Max merupakan suatu

ukuran kapisitas setiap individu dalam menghasilkan energi yang

diperlukan saat aktifitas daya tahan tanpa mengalami kelelahan yang

berlebihan. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kuantitatif non

eksperimen dengan menggunakan model pendekatan deskriptif kuantitatif.

Teknik pengambilan sample yaitu keseluruhan populasi atlet tinju putera

dan puteri club denpal boxing camp Pekanbaru, sampel dalam penelitian ini

adalah atlet tinju putera dan puteri club denpal boxing camp Pekanbaru

berjumlah 6 orang. Oleh karena itu untuk mengetahui daya tahan pemain

bisa diketahui berdasarkan tingkat VO2Max melalui tes Multistage Fitness

Test (MFT). Adapun hasil penelitian ini adalah rata – rata tingkat VO2Max

atlet tinju putera club denpal boxing camp pekanbaru 34,87 ml/kgBB/min

dan rata – rata tingkat VO2Max atlet tinju puteri club denpal boxing camp

Pekanbaru 24,65 ml/kgBB/min. Maka dapat disimpulkan bahwa rata–rata


18

tingkat VO2Max atlet tinju putera dan puteri club denpal boxing camp

pekanbaru termasuk dalam kategori rendah.

3. Penelitian dengan judul Peningkatan Kekuatan Otot Lengan dan Bahu

Menggunakan Latihan Pull Down Pada Atlet Tinju Putri Club Histom

Boxing Camp Rumbai, penelitian ini adalah penelitian eksperimen yang

bertujuan untuk mengetahui peningkatan latihan pull down terhadap

kekuatan otot lengan dan bahu pada atlet tinju putri club histom boxing

camp rumbai. Populasi yang digunakan adalah seluruh atlet tinju putri club

histom boxing camp rumbai sebanyak 6 orang. Penelitian ini menggunakan

tehnik total sampling dimana jumlah keseluruhan populasi dijadikan

sampel. Tehnik pengambilan data di dapat dari Pretest dan Posttest.

Instrument dalam penelitian ini menggunakan exsp daning dynamometer

sebagai alat untuk mengukur kekuatan otot lengan dan bahu. Sebagai

variabel bebas adalah latihan pull down (x) sedangkan variabel terikatnya

adalah kekuatan (y). data penelitian diperoleh dan dikumpulkan melalui tes

awal dan tes akhir sebelum dan sesudah melakukan latihan pull down

menggunakan alat ukur kekuatan yaitu exsp daning dynamometer. Metode

pengolahan data menggunakan perhitungan– perhitungan statistic dan untuk

menguji hipotesis menggunakan uji t. hipotesis yang diajukan pada

penelitian ini adalah terdapat pengaruh latihan pull down terhadap kekuatan

otot lengan dan bahu pada atlet tinju putri club histom boxing camp rumbai.

Hasil penelitian uji t menghasilkan thitung sebesar 5,549 dan ttabel 2,02

pada taraf signifikan 0,05. Berarti thitung > Ttabel. Dapat disimpulkan

bahwa h1 diterima, hal ini memberikan kesimpulan bahwa terdapat


19

pengaruh yang signifikan dari latihan pull down terhadap kekuatan otot

lengan dan bahu pada atlet tinju putri club histom boxing camp rumba.
BAB III

METODE PENELITIAN

A. Prosedur penelitian

Permasalahan yang telah dirumuskan dan ditetapkan dalam suatu

penelitian membutuhkan cara atau metode yang tepat untuk menyelesaikanya,

agar data dan informasi yang diperoleh bersifat objektif. Sama halnya dengan

penelitian yang akan dilakukan ini, proses penyelesaianya juga membutuhkan

metode yang tepat. Metode dalam sebuah penelitian merupakan cara ilmiah

yang digunakan untuk memperoleh data dengan kegunaan dan tujuan tertentu

(Sugiyono, 2013: 3). Metode yang akan digunakan dalam penelitian ini

mengunakan metode survey dengan test dan pengukuran. Metode survey

merupakan salah satu metode penelitian kuantitatif, metode ini bertujuan untuk

melihat keadaan yang menjadi objek penelitian apa adanya dengan melihat data

dan informasi yang ada dalam sampel, tanpa memberikan perlakuan

(treatment) khusus (Indrawan dan yuniawati, 2016: 53).

B. Populasi dan sampel

1. Populasi

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh atlet tinju amatir

Kalimantan Barat Untuk prapon yang berjumlah 10 atlet.

2. Sampel

Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan

teknik sampling jenuh, maka sampel yang akan diambil dalam penelitian ini

adalah seluruh atlet tinju amatir kalimantan Barat yang dipersiapkan untuk

menghadapi prapon 2019 yang berjumlah 10 atlet.

20
21

C. Teknik pengumpulan data

Teknik pengumpulan data dalam penelitian survey ini, dilakukan

dengan teknik tes dan pengukuran. adapun tes dan pengukuran yang akan

dilakukan adalah dengan mengukur komponen biomotor dominan pada atlet

tinju amatir KalBar yang dipersiapkan untuk menghadapi prapon 2019,

Pengumpulan data dalam penelitian ini terbagi menjadi dua bagian dimana

bagian pertama akan dilakukan sebelum atlet menjalani program dan yang

kedua akan dilakukan setelah atlet selesai menjalani program latihan untuk

menghadapi prapon. Proses pengambilan data dalam penelitian ini peneliti

mendapat bantuan dari mahasiswa PKO untan dengan kriteria telah lulus mata

kuliah tes dan pengukuran demi optimalnya koordinasi dan kinerja kedua belah

pihak dalam mempersiapkan proses pengumpulan data sebelum tes

pengukuran dilakukan kedua belah pihak mengadakan koordinasi untuk

menyamakan persepsi terlebih dahulu untuk pelaksanaan tes dan pengukuran.

D. Instrumen (alat pengumpul data) penelitian

Dalam penelitian ini, instrumen yang digunakan adalah dengan tes dan

pengukuran pada komponen biomotor atlet tinju amatir KalBar yang

dipersiapkan untuk prapon 2019 adapun komponen biomotor dominan tersebut

mulai dari kecepatan, kekuatan koordinasi, fleksibilitas, daya tahan, kelincahan

dan keseimbangan.

1. Kecepatan Reaksi

Kecepatan waktu reaksi atlet dapat diukur dengan cara test whole

body reaction. Adapun tujuan dari tes ini untuk mengetahui kecepatan reaksi
22

dalam menerima rangsangan atau stimulus atlet dengan mengunakan alat tes

whole body reaction.

a. Alat

1) whole body reaction

b. Cara Melakukan

1) Alat on

2) Orang coba berdiri pada alas tumpu yang tersedia (rileks)

3) Pandangan fokus kearah sensor sumber test

4) Ketika lampu menyala. Orang coba secepatnya melakukan reaksi

degan membuka kedua kaki atau mengeluarkan kedua kaki dari alas

tumpu test

5) Satuan waktu test ini adalah detik

6) Dilakukan tiga kali diambil waktu terbaik (Syaquro dan

badruzaman, 2016)

2. Kekuatan Otot

Kekuatan otot merupakan item tes paling banyak dalam

instrumen penelitian ini mulai dari kekuatan otot tangan lengan perut, togog

dan tungkai.

a. Kekuatan Otot Tangan

Kekuatan otot tangan atlet dapat diukur dengan mengunakan

tes Hand grip Dynamometer, Tujuan dari tes ini adalah untuk mengukur

kekuatan cengkeraman tangan pada atlet (Mackenzie, 2005: 158).


23

1) Alat

a) Hand grip Dynamometer

2) Cara Melakukan:

a) Gunakan dinamometer cengkraman tangan dengan menarik

sekuat mungkin untuk mengukur kekuatan cengkraman

dengan tangan terkuat

b) Catat kemampuan terbaik maksimum (kg) dari tiga kali

percobaan

b. Kekuatan Otot Lengan Pull

Tujuan tes ini untuk mengukur kekutan otot lengan tarik

dengan mengunakan alat Exp daning dynamometer (Adiatmika dan

Santika, 2005: 13).

1) Alat

a) Exp daning dynamometer

2) Cara melakukan tes kekuatan otot lengan pull

a) Lakukan pemanasan

b) Kedua tangan memegang Exp daning dynamometer

diletakan didepan dada dengan skala berhadapan kedepan.

Lengan ditekuk, siku diangkat sejajar dengan bahu

c) Jarum atau angka pada alat Exp daning dynamometer

menunjukan pada angka nol.

d) Ambil nafas dalam dengan dengarkan aba–aba


24

e) Lakukan gerakan menarik oleh kedua tangan sekuat–

kuatnya kearah yang berlawanan berlawanan tetapi tidak

dihentak posisi badan tegak.

f) Gerakan dianggap gagal bila: Exp daning dynamometer

menyentuh dada; posisi kedua tangan tidak sejajar bahu

serta melakuakan gerakan menghentak.

c. Otot Lengan Push

Tujuan tes ini untuk mengukur kekutan otot lengan dorong

dengan mengunakan alat Exp daning dynamometer (Adiatmika dan

Santika, 2005: 13).

1) Alat

a) Exp daning dynamometer

2) Cara Melakukan Tes Kekuatan Otot Lengan Dorong:

a) Lakukan pemanasan

b) Kedua tangan memegang Exp daning dynamometer,

diletakan didepan dada dengan skala berhadapan kedepan.

Lengan ditekuk, siku diangkat sejajar dengan bahu

c) Jarum atau angka pada alat Exp daning dynamometer

menunjukan pada angka nol.

d) Ambil nafas dalam dengan dengarkan aba–aba

e) Lakukan gerakan mendoronag oleh kedua tangan sekuat–

kuatnya kearah yang berlawanan berlawanan tetapi tidak

dihentak, posisi badan tegak.


25

f) Gerakan dianggap gagal bila: Exp daning dynamometer

menyentuh dada; posisi kedua tangan tidak sejajar bahu

serta melakukan gerakan menghentak.

d. Kekuatan Otot Tungkai

Tes ini bertujuan untuk mengukur kekuatan otot tungkai

dengan mengunakan alat ukur tes back and leg Dynamometer

(Adiatmika dan Santika, 2005: 10).

1) Alat

a) Back and leg Dynamometer

2) Cara melakukan tes pengukuran otot tungkai:

a) Melakukan pemanasan

b) Berdiri diatas alat tanpa mengunakan alas kaki

c) Kedua tanagn memegang bagian tengah tongkat pengangan

Dynamometer setinggi acetebula

d) Mata rantai diatur hingga posisi punggung tetap tegak lurus

tetapi kedua lutut ditekut ditekuk membentuk sudut 115°.

e) Jarum petunjuk / angka berada pada layar angka nol.

f) Tarik nafas dalam dan dengarkan aba–aba kemudian

lakukan gerakan meluruskan kedua tungkai atas dan bawah

sekuat–kuatnya dengan gerakan perlahan, letak tongkat

pegangan tetap berada pada posisi setinggi acetebula.

g) Pengukuran dianggap tidak sah apabila: tongkat pegangan

dynamometer bergeser kearah bawah; posisi punggung


26

tidak tegak; kedua tangan ikut serta menarik; melakukan

gerakan menghentak.

e. Togog / punggung

Tes ini bertujuan untuk mengukur kekuatan otot togog /

punggung dengan mengunakan alat back dan leg Dynamometer

(Adiatmika dan Santika, 2005: 8).

1) Alat

a) Back dan leg Dynamometer

2) Cara Melakukan Tes Pengukuran Otot Punggung:

a) Melakukan pemanasan

b) Berdiri diatas alat tes dengan direnggangakan 15 cm

c) Kedua tangan masing–masing memegang ujug tongkat

pegangan alat tes.

d) Matarantai diatur sehingga posisi sehingga posisi

punggung membungkuk membentuk sudut 30° terhadap

garis vertikal dan kedua siku serta lutut dalam keadaan

lurus.

e) Pastikan posisi jarum / angka berada pada posisi nol

f) Tarik nafas dalam dan dengarkan aba–aba kemudian

lakukan melururskan punggung keatas dengan menarik

tongkat pegangan sekuat tenaga tanpa ada hentakan

g) Gerakan dianggap gagal apabila; tangan menyentuh paha;

mengadakan gerakan hentakan; punggung meleting

kebelakang; dan lutut tidak lurus.


27

f. Perut/sit up

Tujuan dari tes ini adalah untuk memantau kekuatan otot perut

atlet (Mackenzie, 2005: 117).

1) Alat:

a) Permukaan / lantai datar

b) Alas / tikar

c) partner untuk menahan kaki

2) Cara melakukan:

a) Berbaringlah di atas mat dengan lutut ditekuk, kaki rata di

lantai dan lengan dilipat di dada

b) Mulailah setiap duduk dengan punggung di lantai.

c) Naikkan diri dana ke posisi 90 derajat dan kemudian

kembali ke lantai

d) Kaki dapat dipegang oleh pasangan atau panitia

e) Catat jumlah duduk selesai dalam 30 detik.

3. Fleksibilitas / Sit and Reach Test

Kelentukan atlet dapat diukur dengan menggunakan tes sit and

reach dengan tujuan untuk mengukur kelentukan atlet (Mackenzie, 2005:

76).

a. Alat:

1) Alat tulis

2) Formulir tes
28

b. Cara Melakukan:

1) Atlet duduk telunjur dengan kedua kaki menapak pada alas alat

vertikal fleksiometer.

2) Atlet menjulurkan kedua ujung jari tangan menelusuri alat ukur

kedepan sejauh–jauhnya.

3) Setiap atlet melakukan 2 kali kesempatan dengan hasil yang

diambil adalah jangkauan terjauh.

4. Daya tahan

Tujuan test ini adalah untuk memantau kapasitas penyerapan

oksigen maksimum atlet (VO2max) (Mackenzie, 2005: 28).

a. Alat:

1) Lintasan datar, tidak licin, dengan panjang lintasan 20 m

2) Kun / penanda.

3) Rekaman audio atau rekaman CD

4) Lembar level tes

5) Asisten

b. Cara Melakukan Tes Daya Tahan (VO2max):

1) Berlari bolak–balik di lintasan dengan panjang 20 meter

2) Peserta tes diintruksikan untuk berlari bolak balik dengan aba–aba

bunyi dari audio CD.


29

5. Keseimbangan (balance)

Test ini terbagi menjadi dua bagian mulai dari dengan mata terbuka

dan mata tertutup (St daning Stork Test dan St daning Stork Test– Blind)

a. Standing Stork Test

Tujuan dari tes ini adalah untuk mengukur kemampuan untuk

mempertahankan keadaan keseimbangan (keseimbangan) dalam posisi

statis (Mackenzie, 2005: 91).

1) Alat:

a) Permukaan lantai datar dan kering

b) Stopwatch

c) Asistent

2) Cara Melakukan:

a) Berdiri dengan nyaman di kedua kaki. Tangan di pinggul

b) Angkat satu kaki dan letakkan jari–jari kaki itu di atas lutut

kaki lainnya

c) Atas perintah dari asisten, angkat tumit dan berdiri di atas jari

kaki

d) Asisten memulai stopwatch. Seimbangkan selama mungkin

tanpa membiarkan tumit menyentuh tanah atau kaki lainnya

menjauh dari lutut.

e) Coach mencatat waktu dan dapat mempertahankan

keseimbangan.

f) Ulangi tes untuk kaki lainnya.

g) Standing stork test


30

b. Standing Stork Test– Blind

Tujuan dari tes ini adalah untuk mengukur kemampuan untuk

mempertahankan keadaan keseimbangan (keseimbangan) dalam posisi

statis dengan mata tertutup (Mackenzie, 2005: 93).

1. Alat:

a) Permukaan lantai datar dan kering

b) Stopwatch

c) Asisten

2. Cara Melakukan:

a) Berdiri dengan nyaman di kedua kaki

b) Tangan di pinggul

c) Berdirilah di kaki pilihan dan dengan kaki rata di tanah, angkat

kaki satunya dan letakkan jari–jari kaki itu di atas lutut kaki

pilihan.

d) Atas perintah dari asisten, tutup mata dana

e) Asisten memulai Stopwatch

f) Pertahankan keseimbangan selama mungkin

g) Waktu akan berhenti ketika membuka mata, memindahkan

tangan, melepaskan kaki, dari lutut atau gerakkan kaki yang

berdiri

h) Asisten mencatat waktu dan dapat mempertahankan

keseimbangan.
31

6. Kelincahan (Quick Feet Test)

Tujuan tes ini umtuk mengukur kualitas kecepatan gerakan

kaki dalam melakukan perpindahan dengan cepat dan merubah arah

tanpa terganggu keseimbanganya (Mackenzie, 2005: 66).

a. Alat:

1) Permukaan datar

2) 20 batang panjang dua kaki atau tangga tali 20–anak tangga

3) Stopwatch

4) Asisten

b. Cara Melakukan:

1) Tempatkan 20 tongkat panjang dua kaki 18 inci terpisah atau

tangga tali 20–tangga di lintasan rumput atau atletik.

2) Para atlet harus memompa lengan mereka dengan kuat dalam

gerakan lengan sprint dan menggunakan sedikit sekali angkat

lutut saat berlari menuruni tangga tanpa menyentuh tangga.

tongkat / anak tangga

3) Pelatih memulai stopwatch ketika kaki atlet pertama kali

menyentuh tanah antara tongkat / anak tangga pertama dan

kedua dan menghentikan arloji ketika kontak pertama kali

dilakukan dengan tanah di luar tongkat / anak tangga terakhir

4) Catat lebih baik dari dua percobaan.

E. Teknik Analisis data


Teknik analisis data dalam penelitian ini mengunakan analisis

deskriptif dengan uji beda setelah semua data terkumpul langkah berikutnya
32

adalah menganalisa data tersebut untuk dijadikan l landasan dalam menarik

sebuah kesimpulan dalam penelitian ini.

1. Analisis deskriptif

Analisis deskriptif berfungsi untuk mendeskripsikan hasil dari

penelitian yang dilakukan berdasarkan variabel–variabel dalam penelitian

yang dilakukan statistik yang berkenaan dengan bagaimana cara

mendeskripsikan, mengambarkan, menjabarkan, dan menguraikan data

sehingga dapat mudah dipahami (Saifudin, 2016: 126 ). Dalam penelitian

ini setelah semua data terkumpul langkah berikutnya menganalisa data

tersebut sehingga dapat dijadikan dasar menarik sebuah kesimpulan dalam

pengkategorian yang mengacu pada nilai mean dan standar deviasi analisis

data komponen biomotor dominan atlet tinju KalBar yang dipersiapkan

menghadapi prapon 2019.

2. Uji T untuk satu sampel

Uji Beda T–test bertujuan untuk membandingkan atau

membedakan apakah kedua data variabel yang sama atau berbeda memiliki

perbedaan (Priyastama, 2017: 92). Pengambilan data dalam penelitian ini

dilakukan sebanyak 2 kali yaitu sebelum dan sesudah atlet tinju amatir

KalBar menjalani TC yang diadakan oleh Pertina KalBar selaku induk

organisasi.
BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi data

Berdasarkan data yang berhasil dikumpulkan dalam penelitian ini, yang

diperoleh dengan cara melakukan tes dan pengukuran kemampuan komponen

biomotor dominan pada 10 atlet tinju amatir KalBar yang dipersiapkan untuk

menghadapi ajang prapon 2019, yang dilakukan oleh pihak koni KalBar

sebanyak dua kali yaitu sebelum dan sesudah training-Centre (TC),

pengambilan tes dan pengukuran sebelum TC dilakukan pada tanggal 20 juli

2019 dan sesudah TC pada tanggal 14 september 2019.

B. Hasil analisis data

1. Data penelitian tes dan pengukuran komponen biomotor kekuatan atlet

tinju amatir KalBar Pretest dan Posttest.

Hasil analisis kemampuan komponen biomotor kekuatan sebelum

menjalani TC Pretest pencapain kategori lebih dominan berada pada

kategori cukup dengan jumlah 6 (60%) atlet pada rentang skor 3,0 – 3,9

dan 3 (30%) atlet pada kategori kurang dengan rentang skor 2,0 – 2,9

sedangkan hasil analisis kemampuan komponen biomotor kekuatan

setelah menjalani menjalani TC Posttest pencapain kategori juga lebih

dominan berada pada kategori cukup dengan jumlah 6 (60%) atlet pada

rentang skor 3,0 – 3,9 dan 4 (40%) atlet pada kategori kurang dengan

rentangskor 2,0 – 2,9.

33
34

Table 4.1 Hasil Analisis Pretest-Posttest Biomotor Kekuatan

Pretest-Posttest kekuatan
Pretest Posttest
No Norma Kriteria
Frekuensi Persentase Frekuensi Persentase
1 > 4,9 Baik sekali 0 0% 0 0%
2 4,0 s.d 4,9 Baik 1 10% 0 0%
3 3,0 s.d 3,9 Cukup 6 60% 6 60%
4 2,0 s.d 2,9 Kurang 3 30% 4 40%
5 < 1,9 Kurang sekali 0 0% 0 0%
Jumlah 10 100% 10 100%

Histogram 4.1 Kemampuan Pencapaian Komponen Biomotor Kekuatan Atlet

Tinju Amatir KalBar Pretest-Postest

Frekuensi
70%
60%
50%
40%
30%
20%
10%
0%
Baik Sekali Baik Cukup Kurang Kurang Sekali

Pretest Postest

2. Data penelitian tes dan pengukuran komponen biomotor Response

speed atlet tinju amatir KalBar Pretest dan Posttest.

Hasil analisis kemampuan komponen biomotor Response speed

sebelum menjalani TC Pretest pencapain kategori lebih dominan

berada pada kategori cukup dengan jumlah 4 (40%) atlet pada rentang

skor 3,0 – 3,9 3 (30%) atlet pada kategori kurang sekali dengan rentang

skor <1,9 2 (20%) atlet pada kategori kurang dengan rentang skor 2,0 –
35

2,9 dan 1 (10%) atlet pada kategori baik dengan rentang skor 4,0 – 4,9.

Sedangkan hasil analisis kemampuan komponen biomotor response

speed setelah menjalani menjalani TC Posttest pencapain kategori juga

lebih dominan berada pada kategori cukup dengan jumlah jumlah 5

(50%) atlet pada rentang skor 3,0 – 3,9 4 (40%) atlet pada kategori

kurang dengan rentang skor 2,0 – 2,9 dan 1 (10%) pada kategori baik

atlet dengan rentang skor 4,0 – 4,9.

Table 4. 2 Hasil Analisis Pretest-Posttest Biomotor Response speed

Pretest-Posttest Rsponse Speed


Pretest Posttest
No Norma Kriteria
Frekuensi Persentase Frekuensi Persentase
1 > 4,9 Baik sekali 0 0% 0 0%
2 4,0 s.d 4,9 Baik 1 10% 10 10%
3 3,0 s.d 3,9 Cukup 4 40% 5 50%
4 2,0 s.d 2,9 Kurang 2 20% 4 40%
5 < 1,9 Kurang sekali 3 30% 0 0%
Jumlah 10 100% 10 100%

Histogram 4.2 Kemampuan Pencapaian Komponen Biomotor Response Speed

Atlet Tinju Amatir Kalbar

Frekuensi
60%
50%
40%
30%
20%
10%
0%
Baik Sekali Baik Cukup Kurang Kurang Sekali

Pretest Postest
36

3. Data penelitian tes dan pengukuran komponen biomotor agility Pretest-

Posttest

Hasil analisis kemampuan komponen biomotor agility sebelum

menjalani TC Pretest pencapain kategori lebih dominan berada pada

kategori cukup dengan jumlah 5 (50%) atlet pada rentang skor 3,0 – 3,9

2 (20%) atlet pada kategori baik sekali dengan rentang skor >4,9 2

(20%) atlet pada kategori kurang dengan rentang skor 2,0 – 2,9 dan 1

(10%) atlet pada kategori kurang sekali dengan rentang skor 4,0 – 4,9.

Sedangkan Hasil analisis kemampuan komponen biomotor agility

setelah menjalani menjalani TC Posttest pencapain kategori lebih

dominan berada pada kategori baik sekali dengan jumlah jumlah 8

(80%) atlet pada rentang skor >4,9 1 (10%) atlet pada kategori baik

dengan rentang skor 4,0 – 4,9 dan 1 (10%) atlet pada kategori kurang

sekali dengan rentang skor <1,9.

Table 4. 3 Hasil Analisis Pretest-Posttest Biomotor Agility

Pretest-Posttest Agility
Pretest Posttest
No Norma Kriteria
Frekuensi Persentase Frekuensi Persentase
1 > 4,9 Baik sekali 2 20% 8 80%
2 4,0 s.d 4,9 Baik 0 0% 1 10%
3 3,0 s.d 3,9 Cukup 5 50% 0 0%
4 2,0 s.d 2,9 Kurang 2 20% 0 0%
5 < 1,9 Kurang sekali 1 10% 1 10%
Jumlah 10 100% 10 100%
37

Histogram 4.3 Kemampuan Pencapaian Kategori Komponen Biomotor Agility

Pretest-Posttest

Frekuensi
100%
80%
60%
40%
20%
0%
Baik Sekali Baik Cukup Kurang Kurang Sekali

Pretest Postest

4. Data penelitian test dan pengukuran komponen biomotor keseimbangan

atlet tinju amatir KalBar Pretest dan Posttest.

Hasil analisis kemampuan komponen biomotor keseimbangan sebelum

menjalani TC Pretest pencapain kategori lebih dominan berada pada

kategori kurang sekali dengan jumlah 9 (90%) atlet pada rentang skor

<1,9 dan 1 (10%) atlet pada kategori cukup dengan rentang skor 3,0 –

3,9. Sedangkan Hasil analisis kemampuan komponen biomotor

keseimbangan setelah menjalani menjalani TC Posttest pencapain

kategori masih juga lebih dominan berada pada kategori kurang sekali

dengan jumlah jumlah 6 (60%) atlet pada rentang skor <1,9 3 (30%)

atlet pada kategori kurang dengan rentang skor 2,0 – 2,9 dan 1 (10%)

atlet pada kategori cukup sekali dengan rentang skor 3,0 – 3,9.
38

Table 4. 4 Hasil Analisis Pretest-Posttest Biomotor Keseimbangan

Pretest-Posttest Keseimbangan
Pretest Posttest
No Norma Kriteria
Frekuensi Persentase Frekuensi Persentase
1 > 4,9 Baik sekali 0 0% 0 0%
2 4,0 s.d 4,9 Baik 0 0% 0 0%
3 3,0 s.d 3,9 Cukup 1 10% 1 10%
4 2,0 s.d 2,9 Kurang 0 0% 3 30%
5 < 1,9 Kurang sekali 9 90% 6 60%
Jumlah 10 100% 10 100%

Histogram 4.4 Kemampuan Pencapain Kategori Komponen Biomotor

Keseimbangan

Frekuensi
100% 90%
80%
60%
60%
40% 30%
20% 10% 10%
0% 0% 0% 0% 0%
0%
Baik Sekali Baik Cukup Kurang Kurang Sekali

Pretest Protest

5. Data penelitian tes dan pengukuran komponen biomotor fleksibilitas

atlet tinju amatir KalBar Pretest dan Posttest.

Hasil analisis kemampuan komponen biomotor fleksibilitas sebelum

menjalani TC Pretest pencapain kategori lebih dominan berada pada

kategori baik sekali dengan jumlah 6 (60%) atlet pada rentang skor >4,9

3 (30%) atlet pada kategori cukup dengan rentang skor 3,0 – 3,9 dan 1

(20%) atlet pada kategori kurang sekali dengan rentang skor 2,0 – 2,9.
39

Sedangkan Hasil analisis kemampuan komponen biomotor fleksibilitas

setelah menjalani menjalani TC Posttest pencapain kategori lebih

dominan berada pada kategori baik dengan jumlah jumlah 5 (50%) atlet

pada rentang skor 4,0– 4,9 3 (30%) atlet pada kategori baik sekali

dengan rentang skor >4,9 1 (10%) atlet pada kategori cukup dengan

rentang skor 3,0 – 3,9 dan 1 (10%) atlet pada kategori kurang sekali

dengan rentang skor <1,9

Table 4. 5 Hasil Analisis Pretest- Posttest Biomotor Fleksibilitas


Pretest-Posttest Fleksibitas
Pretest Posttest
No Norma Kriteria
Frekuensi Persentase Frekuensi Persentase
1 > 4,9 Baik sekali 6 60% 3 50%
2 4,0 s.d 4,9 Baik 0 0% 5 50%
3 3,0 s.d 3,9 Cukup 3 30% 1 10%
4 2,0 s.d 2,9 Kurang 1 10% 0 0%
5 < 1,9 Kurang sekali 0 0% 6 60%
Jumlah 10 100% 10 100%

Histogram 4.5 Kemampuan Pencapaian Kategori Komponen Biomotor

Fleksibilitas

Frekuensi
70%
60%
50%
40%
30%
20%
10%
0%
Baik Sekali Baik Cukup Kurang Kurang Sekali

Pretest Postest
40

6. Data penelitian test dan pengukuran komponen biomotor vo2max atlet

tinju amatir KalBar Pretest dan Posttest

Hasil analisis kemampuan komponen biomotor daya tahan sebelum

menjalani TC Pretest pencapain kategori lebih dominan berada pada

kategori kurang dengan jumlah 6 (60%) atlet pada rentang skor 2,0 –

2,9 3 (30%) atlet pada kategori kurang sekali dengan rentang skor <1,9

dan 1 (10%) atlet pada kategori cukup dengan rentang skor 3,0 – 3,9.

Sedangkan Hasil analisis kemampuan komponen biomotor daya tahan

setelah menjalani menjalani TC Posttest pencapain kategori lebih

dominan berada pada kategori kurang dengan jumlah jumlah 7 (70%)

atlet pada rentang skor 2,0– 2,9 2 (20%) atlet pada kategori cukup

dengan rentang skor 3.0 –3.9 dan 1 (10%) atlet pada kategori kurang

sekali dengan rentang skor <1,9

Table 4. 6 Hasil Analisis Pretest-Posttest Biomotor Vo2max

Pretest-Posttest Vo2max
Pretest Posttest
No Norma Kriteria
Frekuensi Persentase Frekuensi Persentase
1 > 4,9 Baik sekali 0 0% 0 0%
2 4,0 s.d 4,9 Baik 0 0% 0 0%
3 3,0 s.d 3,9 Cukup 1 10% 2 20%
4 2,0 s.d 2,9 Kurang 6 60% 7 70%
5 < 1,9 Kurang sekali 3 30% 1 10%
Jumlah 10 100% 10 100%
41

Histogram 4.6 Kemampuan Pencapaian Kategori Komponen Biomotor

Vo2max

Frekuensi
80%

60%

40%

20%

0%
Baik Sekali Baik Cukup Kurang Kurang Sekali

Pretest Postest

7. Data penelitian tes dan pengukuran komponen biomotor keseluruhan

atlet tinju amatir KalBar Pretest dan Posttest.

Hasil analisis kemampuan komponen biomotor dominan secara

keseluruahan sebelum menjalani TC Pretest pencapain kategori lebih

dominan berada pada kategori cukup dengan jumlah 4 (40%) atlet pada

rentang skor 3,0 –3,9 3 (30%) atlet pada kategori kurang dengan

rentang skor 2,0 – 2.9 2 (20%) atlet pada kategori baik dengan rentang

skor 4,0 – 4,9 dan 1 (10%) Pada Kategori Kurang Sekali Dengan

Rentang Skor <1.9 Sedangkan Hasil analisis kemampuan komponen

biomotor daya tahan setelah menjalani menjalani TC Posttest

pencapain kategori lebih dominan berada pada kategori Baik dengan

jumlah 4 (40%) atlet pada rentang skor 4,0 – 4,9 4 (40%) atlet pada

kategori cukup dengan rentang skor 3.0 – 3.9 1 (10%) atlet pada

kategori baik sekali sekali dengan rentang skor >4,9 dan 1 (10%) atlet

pada kategori kurang sekali dengan rentang skor <1,9.


42

Table 4. 7 Hasil Analisis Pretest-Posttest Komponen Biomotor Dominan

Pretest-Posttest Komponen Biomotor


Pretest Posttest
No Norma Kriteria
Frekuensi Persentase Frekuensi Persentase
1 > 4,9 Baik sekali 0 0% 1 10%
2 4,0 s.d 4,9 Baik 2 20% 4 40%
3 3,0 s.d 3,9 Cukup 4 40% 4 40%
4 2,0 s.d 2,9 Kurang 3 30% 0 0%
5 < 1,9 Kurang sekali 1 10% 1 10%
Jumlah 10 100% 10 100%

Histogram 4.7 Kemampuan Pencapaian Kategori Komponen Biomotor

Dominan Pretest- Posttest

Frekuensi
50%
40%
30%
20%
10%
0%
Baik Sekali Baik Cukup Kurang Kurang Sekali

Pretest Postest

8. Berdasarkan hasil rekapitulasi skor tes dan pengukuran komponen

biomor dominan Pretest dan postest secara keseluruhan pada sesi

sebelum TC Pretest nilai terendah dengan skor 43 dengan total raihan

sebanyak 1 atlet, nilai tertinggi dengan skor 49 dengan total raihan

sebanyak 2 atlet dan skor keseluruhan pada sesi ini sebesar 463.

sedangkan pada sesi pos-tes setelah menjalani TC nilai terendah dengan

skor 22 sebanyak 1 atlet, nilai tertinggi dengan skor 51 dengan total


43

raihan sebanyak 1 atlet dan pencapain skor keseluruhan pada sesi ini

sebesar 434.

Table 4.8 Skor Pretest dan Posttest Pengukuran Komponen Biomotor Dominan

Atlet Tinju Amatir KalBar

SKOR TES
Atlet A B C D E F G H I J Jumlah
Pretest 49 45 46 46 46 49 46 48 43 44 462
Postest
43 45 47 51 44 22 46 43 49 42 434

C. Uji Beda

Uji beda dalam penelitian ini digunakan untuk mengetahui perbedaan

atau peningkatan kemampuan komponen biomotor dominan atlet tinju amatir

KalBar secara menyeluruh, setelah data kemampuan komponen biomotor

dominan atlet tinju amatir KalBar yang menjadi objek dalam penelitian ini.

Mulai dari data Pretest hingga Posttest yang diambil sebelum dan sesudah

mendapatkan TC yang diadakan Pertina KalBar dalam rangka menghadapi

prapon tinju 2019. berikut tabel skor Pretest dan Posttest.

Pengambilan keputusan dalam uji beda berdasarkan pada nilai

significansi dari analisis uji beda

Jika signifikansi > 0,05, maka ho diterima dan ha ditolak

Jika signifikansi < 0,05, maka ho ditolak dan ha diterima

Ho: Tidak ada perbedaan antra hasil data Pretest dan Posttest

Ha: Ada perbedaan antara hasil data pretest dan postest (Priyastama,

2017 : 94).
44

Berdasarkan hasil nilai rata–rata dan standar deviasi secara keseluruhan

hasil tes dan pengukuran komponen biomotor dominan. Maka diperoleh nilai

sebelum adanya TC (pretest) yang terdiri dari 10 sampel sebesar 46,2, Skor

terendah 43, Skor tertinggi 49, dengan simpang baku atau standar deviasi 1,98.

tes dan pengukuran setalah TC (postest) diperoleh nilai rata–rata keseluruhan

sebesar 43,4 Skor terendah 22, Skor tertinggi 51, dengan simpang baku 8,04.

Table 4.9 Nilai Rata–Rata(x̅) dan Standar Deviasi (SD) Data Pretest-Postest

Rata– Standar
Skor Skor
Indikator rata Deviasi
Terendah Tertinggi
(x̅) (SD)
Komponen Pretest 46,2 43 49 1,98
Biomotor
Dominan Postest 43,4 22 51 8,04

Histogram 4.8 Nilai Rata-Rata Pretest-Posttest Komponen Biomotor Dominan

465
460
455
450
445
440
435
430
425
420
Rata-Rata
Pretest Postest

9. Berdasarkan hasil analisis Uji T Pretest dan postest komponen

biomotor dominan dengan jumlah sampel 10 atlat didapat nilai

signifikansi sebesar 0,368 yang berarti >0,005, mengacu pada pedoman

pengambilan keputusan Uji T, hasil analisis dari penelitian ini

menunjukan bahwa tidak ada perbedaan antara data pretest dan posttest.
45

Berdasarkan hasil analisis uji beda dari data tes kemampuan komponen

biomotor dominan atlet tinju amatir KalBar yang dipersiapkan untuk

menghadapi ajang prapon tinju 2019 tidak terjadi perubahan atau

peningkatan yang signifikan dari sebelum hingga seseudah mengikuti

TC.

Table 4. 10 Hasil Analisis Uji Beda Pretest dan Posttest Komponen Biomotor

Dominan

Variabel Sig Level of significant


Pretets & Posttes Komponen
0.368 0.005
Biomotor Dominan
N: 10

D. Pembahasan

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan komponen

biomotor dominan atlet tinju amatir KalBar mulai dari sebelum dan setelah

menjalani TC yang diadakan Pertina KalBar dalam rangka persiapan

menghadapi ajang prapon tinju adapun hasil penelitian berdasarkan data

Pretest dan Posttest komponen biomotor yang telah dianalisis dengan uji beda

menunjukan hasil dangan signifikansi 0,368 dengan hasil signifikasi tersebut

mengacu pada pedoman pengambilan keputusan dalam uji beda didapat

informasi bahwa tidak ada perbedaan antara data Pretest dan Posttest dengan

kata lain tidak ada terjadi peningkatan kualitas komponen biomotor domoinan

dari data Pretest dan Posttest peningkatan komponen biomotor.

Upaya meningkatan komponen biomotor ketingkat yang setinggi–

tingginya dengan harapan atlet dapat meraih prestasi tertingginya dapat


46

ditempuh dengan cara melakukan latihan kondisi fisik (Harsono, 2015: 40).

Selain itu dalam pemilihan jenis latihan sistem energi utama (predominan

system energi) yang dipakai dalam latihan dan saat bertanding merupakan

prasyarat utama yang harus dilakukan agar latihan yang dilakukan dapat

menghasilkan sebuah peningkatan dan efektivitas latihan dapat tercapai (Kurdi

dan Sukirno, 2011: 103). Proses latihan yang dilakukan agar dapat

menghasilkan sebuah peningkatan, prinsip pembebanan berlebih merupakan

prasyarat yang harus dilakukan untuk menghasilkan peningkatan dari proses

latihan yang dilakukan tersebut (Lubis, 2013: 17).

Pembagian waktu dan pemberian porsi (intensitas) latihan

merupakan salah satu faktor penunjang keberhasilan atlet dalam meningkatkan

prestasinya, oleh kerena itu dalam mengambil keputusan untuk kedua hal

tersbut harus mengacu pada periodesasi latihan dimana setiap fase latihan

memiliki karakter dan kebutuhan tersendiri (Lubis, 2013: 4). Intensitas latihan

akan menghasilkan sebuah peningkatan ketika intensitas yang dipakai saat

latihan minimal intensitas pembebanan latihan 60% dari kamampuan maksimal

dan juga harus selalu ditingkatkan hingga sampai fase kompetisi utama, hal

dapat memicu terjadinya kelelahan pada atlet dan berdampak pada penurunan

performa dan optimalisasi kesiapan atlet untuk mengikuti latihan berikutnya

(Harsono, 2015: 79). Disamping itu intensitas latihan yang semakin berat dan

selalu ditingkatkan disetiap peralihan fase latihan merupakan salah satu faktor

penyebab terjadinya cedera pada atlet (Bagaswara dan Priyonoadi, 2015).

Terjadinya cedera mulai dari sistem energi otot dan fraktur dalam

dunia olahraga adalah hal yang sering terjadi dan sangat erat hubungnya
47

dengan kesiapan kondisi fisik atlet untuk berlatih, hal ini dapat mengakibatkan

menurunya performa atlet dalm berlatih yang pada akhirnya dapat berdampak

pada penurunan prestasi atlet (Putri, 2019). Intensitas latihan yang selalu

ditingkatkan disetiap peralihan fase latihan hingga kompetisi utama bukanlah

faktor utama penjamin tercapainya peningkatkan prestasin atlet, bahkan hal ini

dapat berbanding terbalik hasilnya ketika tanpa adanya recovery untuk

mengatasi kelelahan tubuh dan kerusakan otot yang diakibatkan oleh tingginya

intensitas latihan tersebut (Harsono, 2015: 89). Oleh kerena itu seorang atlet

yang sedang berlatih memerlukan istirahat (recovery) untuk mengatasi

kelelahannya, yang dapat berdampak baik pada pemulihan dan perkembangan

ototnya yang telah mengalami kerusakan akibat dari proses latihan yang

dilakukan (Bafirman, 2013).

Dilihat dari jenisnya recovery terbagi menjadi dua jenis yaitu

recovery aktif dan pasif dimana keduanya memiliki tujuan dan fungsi khusus

tersendiri, meskipun pada dasarnya memiliki fungsi yang sama yaitu

pemulihkan kondisi fisik dan meminimalisir terjadinya cedera (Parwata, 2015).

Recovery aktif merupakan latihan pemulihan kondisi fisik yang bertujuan

untuk membantu otot membersihkan asam laktat yang dihasilkan dari aktivitas

fisik dengan intensitas tinggi, yang dapat dilakukan dengan cara joging dengan

intensitas rendah (Lubis, 2013: 87). Recovery pasif merupakan pemulihan

dengan cara mengistirahatkan tubuh dari aktivitas fisik yang dapat dilakukan

dengan cara alternatif seperti massage (Widhiyanti, 2019).

Berlatih dengan kedisiplinan tingkat tinggi dan terprogram adalah

hal yang harus dilakukan oleh atlet guna menghasilkan latihan berkualitas agar
48

dapat mempertahankan kondisi fisik sebagai penunjang peningkatan prestasi,

tercapainya latihan yang berkualitas berbanding lurus dengan ketersediaan

energi dalam tubuh yang diperoleh dari asupan nutrisi dari makanan yang

dikonsumsi atlet (Arsani, 2014). Gizi merupakan salah satu faktor biologis

yang berpengaruh dalam menunjang prestasi atlet (Faruq dan Adiningsih,

2017). Gizi yang baik bagi atlet selain dari kualitas makanan itu sendiri juga

harus mengacu pada kebutuhan kondisi fisik atlet perindividu, selain itu juga

harus menyesuaikan dengan pereodesasi latihan yang sedang berjalan demi

efektivitas penyerapan nutrisi sesuai dengan kebutuhan demi tercapainya

peningkatan prestasi yang diharapkan (Hasbullah dkk, 2017).

Pembahasan hasil dari penelitian ini bertujuan untuk

memyampaikan informasi dan pemahaman akan hasil dari penelitian analisis

kemampuan fisik atlet tinju amatir kalimantan barat, yang dilakukan dengan

cara menguji beda data dari hasil tes dan pengukuran kemampuan fisik yang

dilakukan mulai dari sebelum dan sesudah melakukan TC. Berdasarkan hasil

analisis uji beda dari data Pretest-Posttest didapat nilai sig sebesar 0,368 yang

artinya >0,005, berdasarkan hasil analisis uji beda didapat informasi bahwa

seteleh melakukan TC tidak ada perubahan atau peningkatan kemampuan

komponen biomotor.

TC merupakan upaya yang telah tersusun dan terencana dengan rapi

oleh pihak penanggung jawab yang akan melaksanakannya, dengan tujuan

memfokuskan atlet untuk berlatih dengan program latihan yang telah

dipersiapkan dan juga untuk mempermudah dalam pemantauan hasil

perkembangan dari latihan yang dilakukan. Program latihan merupakan salah


49

satu faktor terjadinya peningkatan dari hasil latihan, akan tetapi hal tersebut

bukanlah satu–satunya faktor penentu tercapainya peningkatan prestasi atlet.

Faktor yang lain seperti recovery, cedera dan gizi juga memiliki peranan

penting yang harus diperhatikan kualitasnya demi tercapainya keberhasilan

peningktan prestasi.

Peningkatan komponen biomotor atlet tinju amatir KalBar

berdasarkan data tes dan pengukuran yang telah dianalisis mengunakan uji

beda. Tidak terjadinya peningkatan antara hasil Pretest dan Posttest

sebenarnya tidak murni hanya karena efektivitas program latihan saja

melainkan ada beberapa faktor yang mengakibatkan atlet pada saat mengikuti

tes dan pengukuran dilakukan tidak mampu menampilkan kemapuan

maksimalnya, hal tersebut mulai dari atlet yang mengalami cedera dan juga

ada yang lagi proses penurunan berat badan sehingga atlet tidak bisa

menampilkan kemampuan maksimalnya, yang berakibat pada tidak adanya

perbedaan dari hasil analisis uji beda atau dengan kata lain tidak ada

peningkatan kemampuan komponen biomotor antara Pretest dan Posttest.


BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis data penelitian dengan mengunakan uji beda

didapat nilai sig sebesar 0,368 yang berarti >0,005, sehingga dapat ditarik

kesimpulan bahwa tidak terjadi peningkatan dari hasil tes dan pengukuran

kemampuan komponen biomotor dominan yang dilakukan mulai dari sebelum

dan sesudah menjalani TC dalam rangka menghadapi ajang prapon 2019.

Terjadinya hal tersebut diakibatkan oleh kondisi atlet yang kurang prima saat

mengikuti tes karena faktor cedera yang belum sembuh dan penurunan berat

badan yang masih belum selesai hingga tahap sesi Posttest dilaksanakan.

B. Keterbatasan penelitian

Maksud dan tujuan dalam penelitian ini telah diupayakan semaksimal

mungkin dalam pelaksanaanya, akan tetapi masih ada kelemahan dan

keterbatasan yang tak bisa terhindarkan dalam prosesnya antara lain.

1. Peneliti tidak bisa mengontrol aktivitas latihan yang dilakukan selama

TC berlangsung.

2. Jumlah peserta tes yang merupakan wewenang pihak penyelegara TC

yang tidak bisa diinterfensi oleh peneliti.

50
51

C. Saran

Ada beberapa saran yang mesti disampaikan yang berhubungan dengan

penelitian ini antara lain:

1. Perlu dipahami bagi pihak penyelenggara TC dan atlet bahwa banwa

komponen–komponen atau faktor–faktor dalam latihan yang perlu

diperhatikan.

2. Perlu diketahui dalam upaya meningkatkan prestasi atlet program

latihan merupakan hal penting yang perlu diperhatikan

3. Perlu disadari bahwa program latihan bukanlah satu–satunya faktor

penentu keberhasilan dalam meningkatkan prestasi atlet

4. Faktor–faktor penentu lain seperti recovery, cedera dan gizi bagi atlet

tak kalah pentingnya untuk diperhatikan kualitas demi tercapainya

peningkatan prestasi

5. Adanya penelitian ini diharapkan bagi pihak penyelenggara TC yang

bersangkutan dan atlet sama–sama dapat memahami bahwa program

latihan bukanlah penentu utama keberhasilan dalam uapaya

meningkatkan prestasi.
DAFTAR PUSTAKA

Abdurrojak Hanif, Imanudin Iman. 2016. “Hubungan Antara Reaction Time Dan
Kekuatan Maksimal Otot Lengan Dengan Kecepatan Pukulan Pada Cabang
Olahraga Tinju.” jurnal Terapan Ilmu Keolahragaan 01(02).
[Link]

Adiatmika, I P G, and IGPNA Santika. 2015. “Bahan Ajar Tes Dan Pengukuran
Olahraga.”

Akbar, Ali. 2015. “Evaluasi Unsur Kelincahan Dan Kecepatan Reaksi Otot Tangan
Atlet Tarung Derajat Binaan Satlat Unsyiah Tahun 2013.” Jurnal Ilmiah
Mahasiswa Pendidikan Jasmani, Kesehatan dan Rekreasi 1(1).

Anam, Khoiril, Fajar Awang Irawan, and Limpad Nurrachmad. 2018. “Pengaruh
Metode Latihan Dan Koordinasi Mata–Kaki Terhadap Ketepatan Tendangan
Jarak Jauh.” Media Ilmu Keolahragaan Indonesia 8(2): 57–62.

Anggoro, Dwi. 2011. Top 10 Di Dunia Olahraga. BE CHAMPION.

Arsani, Ni Luh Kadek Alit. 2014. “Manajemen Gizi Atlet Cabang Olahraga
Unggulan Di Kabupaten Buleleng.” JST (Jurnal Sains dan Teknologi) 3(1).

Aryana, Gede. 2013. “Pengaruh Pelatihan Push–Up Terhadap Peningkatan


Kekuatan Menarik Dan Mendorong Otot Lengan.” Jurnal Ilmu Keolahragaan
Undiksha 1(1).

Bafirman, H B. 2013. “Kontribusi Fisiologi Olahraga Mengatasi Resiko Menuju


Prestasi Optimal.” Media Ilmu Keolahragaan Indonesia 3(1).
Https://[Link]/[Link]/Medikora/Article/View/7932 . Diakses
10 November 2019

Bagaswara, Yoga, and Bambang Priyonoadi. 2015. “Frekuensi Cedera Atlet Pelatda
Sepatu Roda (Perserosi Diy).” Medikora 14(2).
Https://[Link]/[Link]/Medikora/Article/View/7932 . Diakses
10 November 2019

Fardiansah, Dewantoro. 2015. “Pembinaan Olahraga Tinju Amatir Di Sasana Delta


Boxing Camp Kabupaten Tegal Dan Sasana Pertina Kota Tegal Tahun 2013.”
Active: Journal of Physical Education, Sport, Health and Recreation 4(4).

Al Faruq, Muhammad Mukhdor, and Sri Adiningsih. 2017. “Pola Konsumsi Energi,
Protein, Persen Lemak Tubuh Dan Aerobic Endurance Atlet Renang Remaja.”
Media Gizi Indonesia 10(2): 117–22.

Fauziah, Sukirno . 2011. Dasar–Dasar Fisiologi Olahraga. 1st ed. Palembang.

Feri, Kurniawan. 2012. Buku Pintar Pengetahuan Olahraga. ed. Kadir A. jakarta:

52
53

laskar aksara.

Harsono. 2015. Kepelatihan Olahraga. ed. kamsyah adriyani. bandung: pt remaja


rosdakarya.

Hasbullah, dkk2017. “Sistem Penyelenggaraan Dan Pengelolaan Makanan Bagi


Atlet Sepak Bola.” Jendela Olahraga 2(1).

Johansyah, Lubis. 2013. Panduan Praktis Penyusunan Program Latihan. 1st ed.
jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Jonas, Solissa. 2016. Teori Dan Metodelogi Latihan Fisik. 1st Ed. Jakarta:
Rajagrafindo Persada.

Latuheru. 2018. “Pengaruh Latihan Pushup Dan Beban Dumbell Ditinjau


Konsentrasi Terhadap Kecepatan Pukulan Straight Pada Atlet Tinju Amatir
PPLP Provinsi Maluku.”

Loda, Imakulata Magi. 2017. “Pelatihan Memukul Dengan Beban Meningkatkan


Kecepatan Pukulan Lurus Kiri–Kanan Dari Pada Pelatihan Mendorong Katrol
Dengan Beban.” Jurnal Edukasi Sumba (JES) 1(2).

Lumba, Andreas J F. 2018. “Peningkatan Kualitas Latihan Daya Tahan Atlet


Tinju.” In Prosiding Seminar Nasional IPTEK Olahraga,.

Mackenzie, Brian. 2005. 101 Performance Evaluation Test. ed. Brian mackenzie.
london: electric word plc.

Muis, Joni. 2016. “Interaksi Metode Latihan Dan Kecepatan Reaksi Terhadap
Kemampuan Pukulan Atlet Tinju Kategori Youth.” Publikasi Pendidikan 6(1).

Mulyana, Fegie Rizkia. 2018. “Hubungan Fleksibilitas Panggul Dan Power Otot
Lengan Dengan Keterampilan Stut Pada Senam Lantai.” Journal of SPORT
2(1).

Pahlevi, R, and P T B Pustaka. 2012. Dr. Olahraga Menjelaskan Jenis Olahraga


Olimpiade. PT Balai Pustaka (Persero).
[Link]

Parwata, I Made Yoga. 2015. “Kelelahan Dan Recovery Dalam Olahraga.” Jurnal
Pendidikan Kesehatan Rekreasi 1(1).

Poppy, Rully &. 2016. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan Campuran
Untuk Menejemen Pembangunan Dan Pendidikan. ed. atif falah Nurul.
Bandung: Refika Aditama.

Priyastama romie. 2017. Buku Sakti Kuasai Spss. yogyakarta: star up.
54

Putra, Roy Tri. 2016. “Analisis Faktor Biomotor Dan Psikomotor Dominan Penentu
Kemampuan Groundstroke Forehand Tenis Lapangan.” sport sciance jurnal
6(2).

Putri, Mega Widya. 2019. “Hubungan Strenght, Endurance, Dribbling, Passing Dan
Shooting Terhadap Resiko Cedera Olahraga.” In Prosiding Seminar Nasional
Fakultas Ilmu Kesehatan Dan Sains,.

Rahmani Mikanda. 2014. Buku Super Lengkap Olahraga. ed. Latif Abdul. jakarta:
dunia cerdas.

Saifudin, Azwar. 2016. Metode Penelitian. yogyakarta: pustaka pelajar.

Sireger, Yunita Lasma, and Hasan Sidik. 2016. “Pengaruh Metode Latihan Triangle
Run Terhadap Daya Tahan (Vo2max) Pada Anggota Ekstrakulikuler
Sepakbola Sma Negeri 1 Cabangbungin.” Motion: Journal Research of
Physical Education 7(1)

Sugiyono. 2013. Metode Penelitian Pendidikan. bandung: alfabeta.

Syaquro dan badruzaman. 2016. “Perbandingan Whole Body Reaction Time Dan
Anticipation Reaction Time Antara Atlet Kata Dan Kumite Cabang Olahraga
Karate.” Jurnal Terapan Ilmu Keolahragaan 1(2): 30–36.

Tangkudung, James. 2012. Kepelatihan Olahraga “Pembinaan Prestasi


Olahraga” Edisi II,. II. ed. Dewi Yulianti. jakarta: cerdas jaya.

Widhiyanti, Komang Ayu Tri. 2019. “Teknik Massage Effleurage Pada Ekstremitas
Inferior Sebagai Pemulihan Pasif Dalam Meningkatkan Kelincahan.” Jurnal
Pendidikan Kesehatan Rekreasi 3(1): 9–17.
55

Lampiran 1 Surat Keterangan Pembimbing Artikel


56

Lampiran 2 Surat Keterangan Pembimbing Skripsi


57

Lampiran 3 Surat Permohonan Bantuan Riset


58

Lampiran 4 Surat Tugas


59

Lampiran 5 Surat Balasan Dari Pertina KalBar


60

Lampiran 6 Surat Keterangan Seminar


61

Lampiran 7 Lembar Hasil Perolehan Data Test dan Pengukuran Komponen

Biomotor Dominan Pretest-Postest

Pretest Biomotor Kekutan


No Nama Lengan Jumlah
Tangan Tungkai Togog Perut
Pull Push
1 A1 2 5 4 1 3 5 20
2 A2 5 4 3 1 3 5 21
3 A3 3 3 3 2 4 5 20
4 A4 3 3 3 2 3 5 19
5 A5 4 2 3 2 4 5 20
6 A6 5 5 5 3 4 5 27
7 A7 3 2 1 2 3 5 16
8 A8 3 3 3 2 3 5 19
9 A9 3 3 1 2 3 5 17
10 A10 3 3 3 2 3 5 19
Mean 19.8
SD 2.93636

Posttest Biomotor Kekutan


No Nama Lengan Jumlah
Tangan Tungkai Togog Perut
Pull Push
1 A1 5 2 4 1 3 5 20
2 A2 4 4 2 1 3 5 19
3 A3 1 3 3 2 3 5 17
4 A4 3 4 4 2 4 5 22
5 A5 3 4 2 3 4 3 19
6 A6 3 4 5 0 0 0 12
7 A7 2 3 1 2 3 5 16
8 A8 3 3 1 2 3 5 17
9 A9 3 3 2 2 3 5 18
10 A10 3 4 4 1 3 5 20
Mean 18
SD 2.74874
62

Pretest Biomotor Response Speed


Anticipation Whole Body
No Nama Jumlah
Reaction Time Reaction Time
Suara Warna Suara Warna
1 A1 4 4 5 4 17
2 A2 1 4 2 3 10
3 A3 3 4 1 4 12
4 A4 3 4 2 2 11
5 A5 3 5 1 4 13
6 A6 3 2 3 3 11
7 A7 2 5 3 4 14
8 A8 2 4 2 4 12
9 A9 2 3 1 4 10
10 A10 4 1 4 3 12
Mean 12.2
SD 2.09762

Posttest Biomotor Response Speed


Anticipation Whole Body Jumlah
No Nama
Reaction Time Reaktion Time
Suara Warna Suara Warna
1 A1 1 1 3 3 8
2 A2 1 4 4 4 13
3 A3 3 4 5 3 15
4 A4 4 3 2 3 12
5 A5 1 2 3 5 11
6 A6 1 4 1 2 8
7 A7 1 3 4 4 12
8 A8 2 3 3 4 12
9 A9 4 4 4 4 16
10 A10 1 4 2 3 10
Mean 11.7
SD 2.62679
63

No Nama Pretest Biomotor Kelincahan Jumlah

1 A1 3 3
2 A2 4 4
3 A3 4 4
4 A4 3 3
5 A5 4 4
6 A6 2 2
7 A7 4 4
8 A8 4 4
9 A9 5 5
10 A10 5 5
Mean 4
SD 1

No Nama Posttest Biomotor Kelincahan Jumlah

1 A1 5 5
2 A2 5 5
3 A3 5 5
4 A4 4 4
5 A5 5 5
6 A6 0 0
7 A7 5 5
8 A8 5 5
9 A9 5 5
10 A10 5 5
Mean 4
SD 1.49666
64

Pretest Biomotor Keseimbangan


No Nama Jumlah
Buka Mata Tutup Mata
1 A1 1 2 3
2 A2 2 2 4
3 A3 1 1 2
4 A4 4 1 5
5 A5 1 1 2
6 A6 1 1 2
7 A7 1 1 2
8 A8 5 1 6
9 A9 1 1 2
10 A10 1 1 2
Mean 3
SD 1.41421

Posttest Biomotor Keseimbangan


No Nama Jumlah
Buka Mata Tutup Mata
1 A1 2 2 4
2 A2 2 2 4
3 A3 2 1 3
4 A4 5 2 7
5 A5 1 1 2
6 A6 1 1 2
7 A7 1 4 5
8 A8 2 1 3
9 A9 2 1 3
10 A10 1 1 2
Mean 3.5
SD 1.58114
65

No Nama Pretest Biomotor Kelenturan Jumlah

1 A1 5 5
2 A2 5 5
3 A3 5 5
4 A4 5 5
5 A5 5 5
6 A6 5 5
7 A7 5 5
8 A8 5 5
9 A9 5 5
10 A10 5 5
Mean 5
SD 0

No. Nama Posttest Biomotor Kelenturan Jumlah

1 A1 4 4
2 A2 4 4
3 A3 5 5
4 A4 4 4
5 A5 5 5
6 A6 0 0
7 A7 5 5
8 A8 4 4
9 A9 4 4
10 A10 3 3
Mean 3.8
SD 1.47573
66

No Nama Pretest Biomotor Daya Tahan Jumlah

1 A1 1 1
2 A2 1 1
3 A3 4 4
4 A4 4 4
5 A5 2 2
6 A6 2 2
7 A7 5 5
8 A8 4 4
9 A9 4 4
10 A10 4 4
Mean 3.1
SD 1.44914

No Nama Posttest Biomotor Daya Tahan Jumlah

1 A1 2 2
2 A2 2 2
3 A3 2 2
4 A4 2 2
5 A5 2 2
6 A6 0 0
7 A7 3 3
8 A8 2 2
9 A9 3 3
10 A10 2 2
Mean 2
SD 0.7746
67

Lampiran 8 Hasil Perolehan Skor Tes dan Pengukuran Biomotor Dominan

Pretest-Postest

Skor Tes
Nama A1 A2 A3 A4 A5 A6 A7 A8 A9 A10 Jumlah
Pretest 49 45 46 46 46 49 46 48 43 44 462
Posttest 43 47 47 51 44 22 46 43 49 42 434
68

Lampiran 9 Lembar Hasil Analisis Data Test dan Pengukuran Komponen

Biomotor Dominan Pretest-Postest

Pretest Komponen Jumlah / Item


Jumlah
No Nama Biomotor Dominan Biomotor
1 2 3 4 5 6
1 A1 3.3 4.25 3 1.5 5 1 18.05 3.008333333
2 A2 3.5 2.5 4 2 5 1 18 3
3 A3 3.3 3 4 1 5 4 20.3 3.383333333
4 A4 31 2.75 3 2.5 5 4 48.25 8.041666667
5 A5 3.1 3.75 4 1 5 2 18.85 3.141666667
6 A6 4.5 2.75 2 1 5 2 17.25 2.875
7 A7 2.6 3.75 3 1 5 5 20.35 3.391666667
8 A8 3.1 3 0 3 5 4 18.1 3.016666667
9 A9 2.8 3.75 5 1 5 4 21.55 3.591666667
10 A10 3.1 3 5 1 5 4 21.1 3.516666667
Jumlah 36.96666667
Mean 3.696666667
SD 1.546262918

Posttest Komponen Jumlah / Item


Jumlah
No Nama Biomotor Dominan Biomotor
1 2 3 4 5 6
1 A1 3.3 2 5 2 4 2 18.3 3.05
2 A2 3.1 3.25 5 2 4 2 19.35 3.225
3 A3 2.8 3.75 5 1.5 5 2 20.05 3.341666667
4 A4 3.6 3 4 3.5 4 2 20.1 3.35
5 A5 3.1 2.75 5 1 5 2 18.85 3.141666667
6 A6 2 2 0 1 0 0 5 0.833333333
7 A7 2.6 3 5 2.5 5 3 21.1 3.516666667
8 A8 2.8 3 5 1.5 4 2 18.3 3.05
9 A9 3 4 5 1.5 4 3 20.5 3.416666667
10 A10 3.3 2.5 5 1 3 2 16.8 2.8
Jumlah 29.725
Mean 2.9725
SD 0.780481906
69

Lampiran 10 Dokumentasi Test dan Pengukuran Komponen Biomotor

dominan (Pribadi)
70

Anda mungkin juga menyukai