0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
13 tayangan2 halaman

Kinetika Reaksi Saponifikasi Sabun

Dokumen tersebut membahas tentang saponifikasi yang merupakan reaksi antara lemak atau minyak dengan basa untuk menghasilkan sabun dan gliserol. Juga membahas faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi seperti temperatur, konsentrasi reaktan, keberadaan katalis, tekanan, dan luas permukaan.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
13 tayangan2 halaman

Kinetika Reaksi Saponifikasi Sabun

Dokumen tersebut membahas tentang saponifikasi yang merupakan reaksi antara lemak atau minyak dengan basa untuk menghasilkan sabun dan gliserol. Juga membahas faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi seperti temperatur, konsentrasi reaktan, keberadaan katalis, tekanan, dan luas permukaan.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

DASAR TEORI

Saponifikasi adalah suatu reaksi yang menghasilkan sabun dan gliserol melalui penghidrolisaan
dengan basa, lemak atau minyak(Keenan,dkk,1990).

Reaksi penyabunan atau saponifikasi adalah proses hidrolisis basa kuat seperti KOH dan NaOH
terhadap lemak (lipid). Dimana reaksinya akan menghasilkan gliserol sebagai hasil sampingan.
Dengan reaksi sebagai berikut:

C3H5(OOCR)3 + 3 NaOH → C3H5(OH)3 + 3 NaOOCR

Gliserol Na-Stearat (sabun)

(Purba, 2006)

Menurut Keenan (1980), sabun bertindak sebagai suatu zat pengemulsi untuk mendispersikan
minyak dan sabun teradsorpsi pada butiran kotoran.

Kinetika kimia merupakan bagian dari ilmu kimia fisika yang mempelajari tentang kecepatan
ataupun laju reaksi-reaksi kimia dan mekanisme reaksi-reaksi yang terlibat didalamnya.
(Sukardjo, 2002).

Laju reaksi merupakan penambahan konsentrasi produk atau pengurangan konsentrasi reaktan
per satuan waktu. Laju reaksi hampir selalu sebanding dengan konsentrasi pereaksi. Mengubah
konsentrasi suatu zat dalam suatu reaksi dapat mengubah laju reaksinya juga. Laju reaksi dapat
ditentukan dari konsentrasi reaktan maupun konsentrasi produk suatu reaksi. Secara matematis
laju reaksi dinyatakan sebagai (Labuza ,1982)

Laju reaksi dapat pula digunakan untuk memprediksi kebutuhan bahan pereaksi tiap satuan
waktu dan dapat juga digunakan untuk menghitung kebutuhan energi untuk produksi hydrogen
(Wibowo, 2010). Seiring bertambahnya waktu dalam suatu reaksi, mka jumlah zat pereaksi akan
menjadi produk, dan sebaliknya jumlah zat hasil reaksi(produk) akan semakin bertambah. Satuan
laju reaksi adalah mol/L det atau M det-1

Untuk menentukan laju dari reaksi kimia yang diberikan, harus ditentukan seberapa cepat
perubahan konsentrasi yang terjadi pada reaktan atau produknya. Secara umum, apabila terjadi
reaksi A → B, maka mula-mula zat yang A dan zat B sama sekali belum ada. Setelah beberapa
waktu, konsentrasi B akan meningkat sementara konsentrasi zat A akan menurun (Partana,
2003 : 47). Hukum laju dapat ditentukan dengan melakukan serangkain eksperimen secara
sistematik pada reaksi A + B → C, untuk menentukan orde reaksi terhadap A maka konsentrasi
A dibuat tetap sementara konsentrasi B divariasi kemudian ditentukan laju reaksinya pada variasi
konsentrasi tersebut. Sedangkan untuk menentukan orde reaksi B, maka konsentrasi B dibuat
tetap sementara itu konsentrasi A divariasi kemudian diukur laju reaksinya pada variasi
konsentrasi tersebut (Partana, 2003 : 49).

Menurut Setiaji (2011), faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi adalah : 1) Temperatur ,
semakin tinggi suhu dalam sistem maka reaksi dalam sistem akan semakin cepat pula, 2) Katalis,
keberadaan katalis dalam suatu reakasi ini akan memperepat jalannya suatu reaksi dalam sistem
tanpa merubah komposisi, 3) Konsentrasi reaktan, semakin tinggi konsentrasi reaktan maka
semakin cepat reaksi yang terjadi, 4) Tekanan, tekanan yang dimaksud adalah tekanan gas,
semakin tinggi tekanan reaktan maka reaksi akan semakin cepat berlangsung, 5) Luas
permukaan, semakin luas permukaan suatu partikel maka reaksi akan semakin cepat
berlangsung.

Partana, Crys Fajar, dll. 2003. Common Textbook : Kimia Dasar 2. Yogyakarta : UNY
Press

Setiadji, Kartiko. 2011. Laporan Percobaan Kimia. Yogyakarta: SMA 1 Jetis.

Sukardjo. 2002. Kimia Fisika. Yogyakarta: Rineka Cipta.

Keenan, C.W,dkk. 1990. Kimia Untuk Universitas. Jakarta: Erlangga.

Wibowo, Agus. 2010. Laju Reaksi Pencampuran Minyak Jarak dan Air Pada Hydrogen
Reformer Menggunakan Pemanas dan Katalis. Prosiding Seminar Nasional Sains dan Teknologi
2010. Semarang: FT UNWAHAS Semarang.

Anda mungkin juga menyukai