NAMA : NIKO J.
W SEMBIRING
KELAS/NPP : H-5 / 29.0152
MATA PELATIHAN : GLADI MANAJEMEN PEMERINTAHAN
UJIAN AKHIR PELATIHAN
1. Sejarah Singkat Penerapan SDG’S.
PERKEMBANGAN INTERNASIONAL SUSTAINABLE DEVELOPMENT GOALS
A. Sustainable Development Goals
Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ke 70 pada bulan September 2015
di New York, Amerika Serikat, menjadi titik sejarah baru dalam pembangunan global.
Sebanyak 193 kepala negara dan pemerintahan dunia hadir untuk menyepakati agenda
pembangunan universal baru yang tertuang dalam dokumen berjudul Transforming Our
World: the 2030 Agenda for Sustainable Development—berisi 17 Tujuan dan 169 Sasaran
yang berlaku mulai tahun 2016 hingga tahun 2030. Dokumen ini dikenal dengan istilah
Sustainable Development Goals atau SDGs.
SDGs merupakan kelanjutan Millennium Development Goals (MDGs) yang
disepakati oleh negara anggota PBB pada tahun 2000 dan berakhir pada akhir tahun 2015.
Namun keduanya memiliki perbedaan yang mendasar, baik dari segi substansi maupun proses
penyusunannya. MDGs yang disepakati lebih dari 15 tahun lalu hanya berisi 8 Tujuan, 21
Sasaran, dan 60 Indikator. Sasarannya hanya bertujuan mengurangi separuh dari tiap-tiap
masalah pembangunan yang tertuang dalam tujuan dan sasaran.
MDGs memberikan tanggung jawab yang besar pada target capaian pembangunan
bagi negara berkembang dan kurang berkembang, tanpa memberikan peran yang seimbang
terhadap negara maju. Secara proses MDGs juga memiliki kelemahan karena penyusunan
hingga implementasinya eksklusif dan sangat birokratis tanpa melibatkan peran stakeholder
non-pemerintah, seperti Civil Society Organization, Universitas/Akademisi, sektor bisnis dan
swasta, serta kelompok lainnya.
Berbeda dengan pendahulunya, SDGs mengakomodasi masalah-masalah
pembangunan secara lebih komprehensif baik kualitatif (dengan mengakomodir isu
pembangunan yang tidak ada dalam MDGs) maupun kuantitatif menargetkan penyelesaian
tuntas terhadap setiap tujuan dan sasaranya. SDGs juga bersifat universal memberikan peran
yang seimbang kepada seluruh negara—baik negara maju, negara berkembang, dan negara
kurang berkembang—untuk berkontribusi penuh terhadap pembangunan, sehingga masing-
masing negara memiliki peran dan tanggung jawab yang sama antara satu dengan yang lain
dalam mencapai SDGs.
Proses perumusan SDGs juga mengedepankan proses yang partisipatif. Terbukti sejak
tahun 2013 Sekretaris Jenderal PBB memberikan ruang yang lebih luas kepada stakeholder
non-pemerintah untuk terlibat dalam proses penyusunan Agenda Pembangunan Pasca-2015.
Yakni melalui diadakannya forum konsultasi antar-stakeholder dan my world survey, yang
merupakan survey yang dilaksanakan oleh PBB sebagai bahan masukan untuk penyusunan
SDGs. My world survey adalah global survey bertujuan untuk menangkap pandangan dan
aspirasi warga untuk menentukan agenda baru yang baik untuk dunia yang lebih baik. Hasil
survey ini yang kemudian dijadikan salah satu pertimbangan untuk menentukan ke17 tujuan
yang ada di SDGs.
SDGs membawa 5 prinsip-prinsip mendasar yang menyeimbangkan dimensi
ekonomi, sosial, dan lingkungan, yaitu 1) People (manusia), 2) Planet (bumi), 3) Prosperity
(kemakmuran), 4) Peace (perdaiaman), dan 5) Partnership (kerjasama). Kelima prinsip dasar
ini dikenal dengan istilah 5 P dan menaungi 17 Tujuan dan 169 Sasaran yang tidak dapat
dipisahkan, saling terhubung, dan terintegrasi satu sama lain guna mencapai kehidupan
manusia yang lebih baik.
Kepala negara dan pemerintahan yang menyepakati SDGs telah meneguhkan
komitmen bersama untuk menghapuskan kemiskinan, menghilangkan kelaparan,
memperbaiki kualitas kesehatan, meningkatkan pendidikan, dan mengurangi ketimpangan.
Agenda pembangunan ini juga menjanjikan semangat bahwa tidak ada seorangpun yang akan
ditinggalkan. Dijelaskan bahwa setiap orang dari semua golongan akan ikut melaksanakan
dan merasakan manfaat SDGs, dengan memprioritaskan kelompokkelompok yang paling
termarginalkan.
SDGs tidak dirumuskan untuk berdiri sendiri. Terdapat kesepakatan-kesepakatan lain
yang sejalan dan dapat menunjang agenda pembangunan berkelanjutan ini. Diantaranya
terdapat Sendai Framework1 – merupakan kesepakatan dari pertemuan Konferensi PBB
ketiga di Sendai, Jepang – yang menyepakati soal penanganan kebencanaan hingga tahun
2030. Juga terdapat Addis Ababa Action Agenda (AAAA)2 yakni kesepakatan antara Kepala
Negara dan Pemerintahan, serta Perwakilan dari berbagai Negara untuk mengatasi tantangan
pembiayaan dan menciptakan lingkungan yang kondusif bagi pembangunan berkelanjutan
dalam semangat kemitraan dan solidaritas global.
Satu kesepakatan lagi selain Sustainable Development Goals adalah Paris
Agreement3 . Paris Agreement adalah konvensi atau kesepakatan berbagai pihak (Negara)
yang tergabung dalam Konvensi PBB dalam hal perubahan iklim. Fokus kesepakatan ini
adalah upaya bersama untuk mengatasi perubahan iklim yang jika terjadi di satu wilayah
Negara akan memberikan dampak langsung maupun tidak langsung pada Negara lain.
PERKEMBANGAN SDGs di INDONESIA
A. Partisipasi di Tingkat Nasional
SDGs merupakan inisiatif global yang bertujuan untuk menciptakan kehidupan
manusia menjadi lebih baik dalam aspek sosial dan ekonomi serta dapat bersinergi dengan
lingkungan. Pada penyusunannya, disadari penuh bahwa inisiatif global ini tidak dapat
menampikkan adanya implementasi di tingkat regional dan nasional. SDGs di tingkat
regional dan nasional pun perlu meneguhkan kembali semangat dan nilai SDGs yang inklusif
dan partisipatif sebagaimana yang telah dibangun dalam SDGs tingkat global. Peran negara
sangat krusial dalam memastikan bahwa pelaksanaan SDGs mendasarkan pada pendekatan
dan strategi yang holistik antara pembangunan ekonomi, inklusi sosial, dan keberlanjutan
lingkungan dengan tetap mengedepankan pada karakteristik dan prioritas tiap-tiap negara.
Belajar dari pengalaman MDGs sebelumnya, Indonesia kini berusaha menghindari
keterlambatan pengimplementasian SDGs. Sebelumnya pelaksanaan MDGs di Inonesia
mengalami keterlambatan sepuluh tahun dari pengesahannya di tahun 2000. Pemerintah
Indonesia menjelaskan bahwa keterlambatan ini disebabkan karena Indonesia masih dalam
pemulihan situasi ekonomi pasca krisis 1998.
Kali ini pemerintah telah menunjukkan keseriusan pelaksanaan SDGs yang tepat
waktu, diawali dengan hadirnya Wakil Presiden Jusuf Kalla dalam Sidang Umum PBB untuk
penandatanganan SDGs pada September 2015 lalu. Pun demikian, untuk mencapai 17 Tujuan
dan 169 Sasaran SDGs pada tahun 2030 masih banyak hal lagi yang perlu dilakukan. Seperti
misalnya mengarusutamakan SDGs dalam agenda pembangunan nasional; membuat
pelaksanaan SDGs yang inklusif dan partisipatif baik di tingkat pusat maupun daerah;
memastikan SDGs dilakukan dengan semangat transformatif dan no one left behind
Stakeholder lain juga terlihat sangat aktif berpartisipasi dan mendorong pemerintah
untuk membuka ruang-ruang yang telah disediakan dalam proses SDGs global. Kelompok
masyarakat sipil misalnya, yang telah bertemu dengan beberapa stakeholder kunci
pemerintah untuk mendorong isu SDGs menjadi salah satu prioritas pembangunan nasional.
Hal yang sama mulai dilakukan oleh stakeholder lainnya seperti sektor swasta dan bisnis
serta kalangan akademisi.
B. Penyusunan Kerangka Hukum untuk Pelaksanaan SDGs
Di Indonesia SDGs dipopulerkan dengan nama Tujuan Pembangunan Berkelanjutan
atau disingkat dengan TPB (selanjutnya dalam paper ini akan tetap disebut SDGs, red). Pada
bulan Desember 2015, Koalisi Masyarakat Sipil Indonesia untuk SDGs telah bertemu
Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo. Dalam kesempatan tersebut, dalam kaitannya
dengan implementasi SDGs di Indonesia, CSO menuntut tiga hal kepada Presiden yaitu 1)
menuntut pemerintah menyusun payung hukum untuk pelaksanaan SDGs; 2) menuntut
pemerintah untuk menyusun Rencana Aksi Nasional bagi pelaksanaan SDGs; dan 3)
menuntut pemerintah untuk membentuk panitia bersama bagi pelaksanaan SDGs.
Lima belas tahun lalu, pada masa MDGs, kerangka hukum yang digunakan sebagai
dasar pelaksanaan di Indonesia adalah Instruksi Presiden Nomor 3 Tahun 2010. Inspres ini
memberikan haluan besar tentang pelaksanaan pembangunan yang berkeadilan untuk
kesinambungan serta penajaman Prioritas Pembangunan Nasional yang ditujukan kepada
beberapa kepala kepala instansi dan lembaga pemerintah serta kepala daerah. Instruksi
presiden yang bersifat himbauan individual dinilai kurang cukup kuat mengikat terhadap
perencanaan di tingkat kementerian dan lembaga pemerintahan terkait untuk kewajiban
melaksanakan MDGs serta kepala daerah tingkat II untuk mensukseskan pencapaian MDGs.
Sidang kabinet yang digelar pada akhir tahun 2015 lalu menghasilkan beberapa
keputusan, diantaranya Presiden mengintruksikan menterinya untuk segera menyiapkan draft
dokumen kerangka hukum bagi pelaksanaan SDGs dalam bentuk Peraturan Presiden. Amanat
ini diembankan kepada Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional dengan berkoordinasi
dengan Kepala Kantor Staff Presiden.
Proses penyusunan kerangka hukum untuk SDGs ini telah dimulai sejak awal tahun
2016 dengan membuka partisipasi masyarakat melalui diskusi dan konsultasi yang dilakukan
oleh Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, bersamaan dalam proses ini Koalisi
Masyarakat Sipil untuk SDGs pun telah memberikan usulan Perpres dibawah koordinasi
Kantor Staf Presiden. Perpres SDGs yang tengah disusun nantinya akan memuat dan
menghasilkan beberapa keputusan diantaranya 1) Peta Jalan Nasional Tujuan Pembangunan
Berkelanjutan, yang merupakan dokumen rencana yang memuat kebijakan strategis tahapan
dalam pencapaian Tujuan Pembangunan Nasional tahun 2016 hingga tahun 2030 yang sesuai
dengan sasaran pembangunan nasional, yang akan berlaku maksimal 12 bulan sejak
penetapan Perpres; 2) Rencana Aksi Nasional Tujuan Pembangunan Naisonal, yang
merupakan dokumen yang memuat program dan kegiatan rencana kerja lima tahunan untuk
pelaksanaan berbagai kegiatan yang secara langsung dan tidak langsung mendukung
pencapaian SDGs yang sesuai dengan sasaran pembangunan nasional, yang akan berlaku
paling lama 6 bulan sejak penetapan Perpres; dan 3) Rencana Aksi Daerah Tujuan
Pembangunan Berkelanjutan, yang merupakan dokumen rencana kerja lima tahunan untuk
pelaksanaan kegiatan yang secara langsung dan tidak langsung mendukung pencapaian
Tujuan Pembangunan Berkelanjutan yang sesuai dengan sasaran pembangunan daerah, yang
akan berlaku paling lama 12 bulan sejak penetapan Perpres.
Di luar muatan tentang strategi dan kerja yang akan dilaksanakan pemerintah dalam
pencapaian SDGs, Peraturan Presiden ini selain mengatur peran setiap Kementerian dan
Lembaga dalam pelaksanaan SDGs juga mengatur peran tiap-tiap stakeholder nonpemerintah
yang terlibat dalam pelaksanaan SDGs, seperti kelompok masyarakat sipil, akademisi,
filantropi, dan pelaku usaha. Berkaitan dengan hal ini, presiden sekaligus mengatur
pembentukan untuk pelaksanaan SDGs yang disebut Tim Koordinasi Nasional, yang akan
terdiri dari Tim Pengarah, Tim Pelaksana, Kelompok-kelompok Kerja dan Dewan Pakar.
Harapannya, stakeholder kunci yang terlibat dapat terwakili dalam tiap komponen Tim
Koordinasi Nasional.
Penyusunan indikator nasional untuk SDGs dilakukan dalam koordinasi terpusat oleh
Bappenas bersama Badan Pusat Statistik sebagai penyedia data nasional. Hingga saat ini,
proses penyusunan indikator nasional SDGs masih terus berjalan sehingga dapat diupayakan
menjadi dokumen pendukung dalam Peraturan Presiden untuk Pelaksanaan Tujuan
Pembangunan Nasional. Penyusunan indikator nasional dilakukan dalam proses diskusi dan
konsultasi publik dengan berbagai pihak, diantaranya Kementerian/Lembaga terkait,
kelompok masyarakat sipil, akademisi, filantropi, serta pelaku bisnis dan usaha.
C. Inisiatif Penting dari Berbagai Pihak
Perlu dicatat bahwa perkembangan SDGs di Indonesia sudah melaju dari tahap
wacana atau diskursus. Selain di tingkat nasional sedang disiapkan Peraturan Presiden yang
dapat menjadi kerangka hukum pelaksanaan SDGs di Indonesia, inisiatif yang juga baik
datang dari pihak lain, seperti pemerintah daerah, donor, media, masyarakat sipil dan lainnya
2. Apakah Konsep SDG’S dapat diterapkan dalam Penanganan Covid-19 Pada Level
Kabupaten?
Sangat dapat diterapkan, Terkhususnya pada bidang ekonomi yang dimana jika kita
lihat bahwa Pandemi virus corona (COVID-19) yang pada awalnya hanya merupakan isu di
dunia kesehatan, kini telah menghasilkan dampak ikutan yang sangat akut di bidang
ekonomi, sosial, budaya. Dari mulai PHK massal, penutupan pabrik-pabrik, goncangan
terhadap permintaan dan penawaran hingga terjadinya penurunan daya beli (konsumsi)
masyarakat yang dimana kini kian berdampak pada kehidupan di dalam masyarakat dan
jika tidak ditangani akan menyebabkan goncangan didalam masyarakat. Adapun konsep
SDG’S yang dapat diterapkan dalam penanganan COVID-19 pada level kabupaten ialah
1) Bupati Harus memangkas rencana belanja yang bukan belanja prioritas dalam
Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan Anggaran Pendapatan dan
Belanja Daerah (APBD) baik itu Anggaran perjalanan dinas, pertemuan-pertemuan
yang tidak perlu dan belanja-belanja lain yang tidak langsung dirasakan oleh
masyarakat harus dipangkas
2) pemerintah daerah untuk mengalokasikan ulang anggarannya untuk mempercepat
pengentasan dampak corona, baik dari sisi kesehatan dan ekonomi.
3) dengan memperbanyak dan dilipatgandakan program Padat Karya Tunai, dengan
catatan harus diikuti dengan kepatuhan terhadap protokol pencegahan virus corona,
yaitu menjaga jarak aman satu sama lain.
4) Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memberikan relaksasi kredit di bawah Rp 10 miliar
untuk Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Relaksasi tersebut berupa
penurunuan bunga dan penundaan cicilan selama setahun, baik dari perbankan dan
industri keuangan non bank. Selain itu, penangguhan cicilan selama setahun juga
berlaku bagi ojek, supir taksi dan nelayan yang memiliki cicilan kendaraan
5) Penerapaan Pembatasanan sosial berskala besar untuk menekan angka persebaran virus
corona di lingkungan masyarakat
6) Dengan meliburkan setiap siswa maupun siswi baik dari tingkat perguruan tinggi
hingga ke yang paling rendah.
Itulah konsep SDG’S yang dapat diterapkan dalam penanganan covid-19 pada level
kabupaten.
3. Buatkan Rancangan rapat Teleconferce Penanganan COVID-19.
Jawab :
Rapat Teleconferce Penanganan COVID-19
Hari dan Tanggal : Kamis, 30 Mei 2020
Tempat : Rumah atau kantor masing- masing
Moderator : Namira Okita ( Seketaris Daerah Prov. SUMUT)
Media : Aplikasi Online
Topik rapat : Penanganan penyebaran COVID-19 di Provinsi Sumatera Utara
Peserta : Niko J.W Sembiring [Link] (Gubernur SUMUT)
Farhan [Link] (Wakil Gubernur SUMUT)
CAPAH, [Link] ( Kepala DINKES PROV. SUMUT)
Bagus [Link] (Kepala DPRD PROV. SUMUT)
Jumlah peserta : 4 orang dan tambah 1 orang moderator
Jalannya Rapat : a. Pembukaan
b. Inti Rapat
c. Hasil Rapat
Pengalihan APBD untuk membeli perlengkapan kesehatan bagi
tenaga medis yang menangani pasien yang dinyatakan positif
COVID-19
Memberikan edukasi masyarakat mengenai bahayanya virus
corona dan menganjurkan untuk melakukan segala kegiatan di
rumah.
Meliburkan siswa dan mahasiswa di Provinsi Sumatera Utara, dan
melakukan belajar mengajar di rumah.
Kegiatan pemerintah akan dilakukan di rumah oleh staf kantor
sedangkan kepala kantor tetap bekerja di kantor demi jalan nya
pelayanan dan kinerja pemerintah agar tetap terlaksana
sebagaimana mestinya.
Menerapakan sosial distance (pembatasan sosial) di tempat umum
seperti : pasar, Dinas Penduduk Dan Catatan Sipil, Mall, dan
Tempat makan.
Larangan mudik bagi seluruh masyarakat dan PNS di Provinsi
Sumatera Utara