0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
288 tayangan18 halaman

Fisioterapi untuk Cedera Sumsum Tulang

Makalah ini membahas tentang fisioterapi pada kasus spinal cord injury. Pertama, dijelaskan definisi spinal cord injury sebagai kerusakan pada medulla spinalis yang menyebabkan gangguan sistem motorik, sensorik dan vegetatif. Kemudian diuraikan etiologi dan patologi spinal cord injury yang terjadi akibat trauma seperti kecelakaan. Terakhir dijelaskan proses assessment, rencana intervensi, dan intervensi fisioterapi untuk memulihkan fungsi pasien.

Diunggah oleh

Yulia Apriliana
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
288 tayangan18 halaman

Fisioterapi untuk Cedera Sumsum Tulang

Makalah ini membahas tentang fisioterapi pada kasus spinal cord injury. Pertama, dijelaskan definisi spinal cord injury sebagai kerusakan pada medulla spinalis yang menyebabkan gangguan sistem motorik, sensorik dan vegetatif. Kemudian diuraikan etiologi dan patologi spinal cord injury yang terjadi akibat trauma seperti kecelakaan. Terakhir dijelaskan proses assessment, rencana intervensi, dan intervensi fisioterapi untuk memulihkan fungsi pasien.

Diunggah oleh

Yulia Apriliana
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

FISIOTERAPI PADA SPINAL CORD INJURY

OLEH :

YULIA APRILIANA

2010306108

PROGRAM STUDI FISIOTERAPI PROFESI

FAKULTAS ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS AISYIYAH YOGYAKARTA


HALAMAN PENGESAHAN

KASUS SPINAL CORD INJURY

MAKALAH

Disusun oleh :

Yulia Apriliana

2010306108

Makalah Ini Dibuat Guna Menyelesaikan Tugas Stase Neuromuskular

Program Studi Profesi Fisioterapi

Fakultas Ilmu Kesehatan

di Universitas ‘Aisyiyah

Yogyakarta

Oleh :

Pembimbing :

Tanggal : 22 Januari 2021


Tanda tangan:

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala limpahan rahmat, inayah,

taufik, dan ilham-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini dalam bentuk

maupun isinya yang sangat sederhana. Makalah yang berjudul “Fisioterapi Pada kasus Spinal Cord

Injury” ini ditulis guna melengkapi tugas pada Program Studi Profesi Fisioterapi Fakultas Ilmu

Kesehatan Universitas Aisyiyah Yogyakarta.

Penyusun menyadari sepenuhnya atas keterbatasan kemampuan dan pengetahuan sehingga

makalah ini tidak akan terselesaikan tanpa bantuan dari beberapa pihak. Oleh karena itu penyusun

mengucapkan terimakasih kepada :

1. Allah SWT atas segala rahmat dan petunjuk-Nya sehingga makalah ini dapat selesai dengan tepat

waktu,

2. Bapak/Ibu pembimbing lahan RS PKU Muhammadiyah Petanahan

3. Bapak/Ibu pembimbing kampus Universitas Aisyiyah Yogyakarta.

4. Teman-teman sejawat Profesi Fisioterapi Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Aisyiyah

Yogyakarta.

Penyusun telah berusaha semaksimal mungkin untuk menyusun makalah presentasi ini,

namun penyusun menyadari bahwa dalam penyusunan masih jauh dari kesempurnaan. Semoga

makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan khususnya pada penyusun.

Kebuman, 22 Januari 2021


DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL...............................................................................................

HALAMAN PENGESAHAN................................................................................. ii

KATA PENGANTAR ............................................................................................ iii

DAFTAR ISI............................................................................................................ iv

BAB I TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi Spinal Cord Injury.........................................................1

B. Etiologi Spinal Cord Injury.........................................................2

C. Patologi Spinal Cord Injury.........................................................3

D. Tanda dan gejala Spinal Cord Injury...........................................4

BAB II PROSES FISIOTERAPI

A. Asessment Fisioterapi..................................................................

B. Rencana Intervensi.......................................................................

C. Intervensi......................................................................................

D. Diagnosis Fisioterapi....................................................................

BAB III PENUTUP

A. Implikasi Klinis...........................................................................11

DAFTAR PUSTAKA
BAB 1

TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi Spinal Cord Injury

Cedera vertebra menurut kestabilannya terbagi menjadi cedera stabil dan cedera

tidak stabil. Cedera dianggap stabil jika bagian yang terkena tekanan hanya bagian medulla

spinalis anterior, komponen vertebral tidak bergeser dengan pergerakan normal, ligament

posterior tidak rusak sehingga medulla spinalis tidak terganggu, fraktur kompresi dan burst

fraktur adalah contoh cedera stabil. Cedera tidak stabil artinya cedera yang dapat bergeser

dengan gerakan normal karena ligamen posteriornya rusak atau robek,

Fraktur medulla spinalis disebut tidak stabil jika kehilangan integritas dari ligamen

posterior. Menentukan stabil atau tidaknya fraktur membutuhkan pemeriksaan radiograf.

Pemeriksaan radiografi minimal ada 4 posisi yaitu anteroposterior, lateral, oblik kanan dan

kiri. Dalam menilai stabilitas vertebra, ada tiga unsur yamg harus dipertimbangkan yaitu

kompleks posterior (kolumna posterior), kompleks media dan kompleks anterior (kolumna

anterior) (Denis, 1983).

Pembagian bagian kolumna vertebralis adalah sebagai berikut : 1. kolumna anterior

yang terbentuk dari ligament longitudinal dan duapertiga bagian anterior dari corpus

vertebra, diskus dan annulus vertebralis 2. Kolumna media yang terbentuk dari satupertiga

bagian posterior dari corpus vertebralis, diskus dan annulus vertebralis 3. Kolumna

posterior yang terbentuk dari pedikulus, sendi-sendi permukaan, arkus tulang posterior,

ligamen interspinosa dan supraspinosa Pada Mekanisme cedera tipe pergeseran yang

penting: (1) hiperekstensi (2) fleksi (3) tekanan aksial (4) fleksi dan tekanan digabungkan

dengan distraksi posterior (5) fleksi yang digabungkan dengan rotasi dan (6) translasi

horizontal. Fraktur dapat terjadi akibat kekuatan. minimal saja pada tulang osteoporotik
atau patologik.

Spinal cord injury adalah suatu kerusakan pada medulla spinalis akibat trauma atau

non trauma yang akan menimbulkan gangguan pada sistem motorik, sistem sensorik dan

vegetatif. Kelainan motorik yang timbul berupa kelumpuhan atau gangguan gerak dan

fungsi otot-otot, gangguan sensorik berupa hilangnya sensasi pada area tertentu sesuai

dengan area yang dipersyarafi oleh level vertebra yang terkena, serta gangguan sistem

vegetatif berupa gangguan pada fungsi bladder, bowel dan juga adanya gangguan fungsi

sexual.

B. Etiologi Kasus

Penyebab dari tetraplegi kebanyakan karena kompresi aksial yang hebat sehingga

dapat menghancurkan korpus vertebra yang menyebabkan kegagalan pada kolumna

vertebralis anterior dan pertengahan dalam mempertahankan posisinya. Kompleks tidak

terjadi kerusakan tetapi kolumna vertebralis menjadi kurang stabil. Bagian posterior korpus

vertebra hancur sehingga fragmen tulang dan diskus dapat bergeser ke kanalis spinalis. Jika

vertebra berkurang lebih dari 50%, gaya mekanik pada bagian depan korpus vertebra akan

menyebabkan terjadinya kolaps yang akhirnya dapat mengganggu fungsi neurologik

(Apley,1995).

C. Patologi Kasus

Akibat suatu trauma mengenai tulang belakang, jatuh dari ketinggian, kecelakakan

lalu lintas, kecelakakan olah raga, mengakibatkan patah tulang belakang; paling banyak

cervicalis dan lumbalis. Fraktur dapat berupa patah tulang sederhana, kompresi, kominutif,

dan dislokasi, sedangkan sumsum tulang belakang dapat berupa memar, kontusio,

kerusakan melintang, laserasi dengan atau tanpa gangguan peredaran darah, blok syaraf

parasimpatis pelepasan mediator kimia, kelumpuhan otot pernapasan respon nyeri hebat

dan akut anestesi. Iskemia dan hipoksemia syok spinal gangguan fungsi rektum, kandung
kemih. Gangguan kebutuhan gangguan rasa nyaman, nyeri, oksigen dan potensial

komplikasi, hipotensi, bradikardia, gangguan eliminasi. Sebuah kejadian patofisiologis

yang kompleks yang berhubungan dengan radikal bebas, edema vasogenic, dan aliran

darah diubah rekening untuk pemburukan klinis. Oksigenasi normal, perfusi, dan asam-

basa keseimbangan yang diperlukan untuk mencegah memburuknya cedera sumsum tulang

belakang.

Cedera tulang belakang dapat dipertahankan melalui mekanisme yang berbeda,

dengan 3 kelainan umum berikut yang menyebabkan kerusakan jaringan:

1. Penghancuran dari trauma langsung.

2. Kompresi oleh fragmen tulang, hematoma, atau bahan disk yang.

3. Iskemia dari kerusakan atau pelampiasan pada arteri spinalis Edema bisa terjadi setelah

salah satu jenis kerusakan.

Trauma dapat mengakibatkan cedera pada medula spinalis secara langsung dan tidak

langsung. Fraktur pada tulang belakang yang menyebabkan instabilitas pada tulang

belakang adalah penyebab cedera pada medula spinalis secara tidak langsung. Apabila

trauma terjadi dibawah segmen cervical dan medula spinalis tersebut mengalami kerusakan

sehingga akan berakibat terganggunya distribusi persarafan pada otot-otot yang dsarafi

dengan manifestasi kelumpuhan otot-otot intercostal, kelumpuhan pada otot-otot abdomen

dan otot-otot pada kedua anggota gerak bawah serta paralisis sfingter pada uretra dan

rektum. Distribusi persarafan yang terganggu mengakibatkan terjadinya gangguan sensoris

pada regio yang disarafi oleh segmen yang cedera tersebut.

Klasifikasi derajat kerusakan medulla spinalis :

1. Frankel A = Complete, fungsi motoris dan sensoris hilang sama sekali di bawah level

lesi.

2. Frankel B = Incomplete, fungsi motoris hilang sama sekali, sensoris masih tersisa di
bawah level lesi.

3. Frankel C = Incomplete, fungsi motris dan sensoris masih terpelihara tetapi tidak

fungsional.

4. Frankel D = Incomplete, fungsi sensorik dan motorik masih terpelihara dan fungsional.

5. Frankel E = Normal, fungsi sensoris dan motorisnya normal tanpa deficit

neurologisnya.

D. Tanda Dan Gejala Kasus

a. Gambaran klinik tergantung pada lokasi dan besarnya kerusakan yang [Link]

meningitis lintang memberikan gambaran berupa hilangnya fungsi motorik maupun

sensorik kaudal dari tempat kerusakan disertai shock spinal. Shock spinal terjadi pada

kerusakan mendadak sumsum tulang belakang karena hilangnya rangsang yang berasal

dari pusat. Peristiwa ini umumnya berlangsung selama 1-6 minggu, kadang lebih lama,

tandanya adalah kelumpuhan flassid, anastesia, refleksi, hilangnya fersfirasi, gangguan

fungsi rectum dan kandung kemih, triafismus, bradikardia dan hipotensi. Setelah shock

spinal pulih kembali, akan terdapat hiperrefleksi terlihat pula pada tanda gangguan

fungsi otonom, berupa kulit kering karena tidak berkeringat dan hipotensi ortostatik

serta gangguan fungsi kandung kemih dan gangguan defekasi (Price &Wilson (1995).

b. Sindrom sumsum belakang bagian depan menunjukkan kelumpuhan otot lurik dibawah

tempat kerusakan disertai hilangnya rasa nyeri dan suhu pada kedua sisinya, sedangkan

rasa raba dan posisi tidak terganggu (Price &Wilson (1995).

c. Kerusakan tulang belakang setinggi vertebra lumbal 1&2 mengakibatkan anaestesia

perianal, gangguan fungsi defekasi, miksi, impotensi serta hilangnya refleks anal dan

refleks bulbokafernosa (Aston. J.N, 1998).


BAB II

PROSES FISIOTERAPI

A. Assesment Fisioterapi

1. Anamnesis Pada kasus ini

Anamnesis dilakukan secara langsung kepada pasien (auto anamnesis). Anamnesis

dikelompokkan menjadi :

a. Anamnesis umum Pada anamnesis umum didapatkan data berupa ; (1) Nama (2)

Umur : (3) Agama (4) Pekerjaan (5) Alamat (6) [Link] Medik

b. Anamnesis khusus Informasi yang diperoleh dari anamnesis khusus berupa :

1) Keluhan Utama

Keluhan utama pasien pada kasus ini adalah adanya odeam pada bagian yang

mengalami luka bakar, nyeri dan dalam beberapa kasus terjadi kontraktur.

2) Riwayat Penyakit Sekarang

Riwayat penyakit sekarang yaitu gambaran singkat perjalanan pasien saat

mengalami kasus tersebut hingga treatment yang sudah di jalankan.

3) Riwayat Penyakit Dahulu

Gambaran singkat mengenai pasien apakah pernah mengalami kasus yang

sama di masa lampau atau adakah riwayat medis lain.

4) Riwayat penyakit penyerta.

Gambaran singkat mengenai riwayat penyakit penyerta pasien apakah pasien

sedang mengalami peyakit lainnya.


5) Riwayat Pribadi

Gambaran mengenai identitas pasien baik pekerjaan, aktifitas atau

lingkungan tempat tinggal.

6) Riwayat Keluarga

Gambaran mengenai keluarga apakah menderita penyakit yang sama

c. Anamnesis system

Dilakukan untuk mengetahui tentang ada tidaknya keluhan atau gangguan

yang berhubungan dengan system yang lain didalam tubuh.

1) Kepala dan leher Dalam anamnesis pasien apakah ada mengeluh pusing dan

kaku leher.

2) Kardiovaskuler Dalam anamnesis pasien apakah ada keluhan nyeri dada dan

jantung berdebardebar.

3) Respirasi apakah ada keluhan sesak napas dan batuk.

4) Gastrointestinalis apakah ada keluhan mual, muntah, BAB lancar dan terkontrol.

5) Urogenetalis BAK apkah lancar atau terkontrol.

6) Muskuloskeletal apakah mengalami pengecilan, penurunan kekuatan otot

penggerak dan keterbatasan pada area yang terkena atau anggota gerak lainnya

7) Nervorum apakah ada keluhan kesemutan

2. Pemeriksaan Obyektif

Pemeriksaan fisik yang dilakukan meliputi :

a. Vital sign terdiri dari ; (1) Tekanan darah, (2) Nadi,(3) Pernapasan, (3) Temperatur,
(4) Tinggi badan, (5) Berat badan.

b. Inspeksi Dari pemeriksaan inspeksi statis apakah ada atropi pada tungkai atau

kontraktur, Sedangkan inspeksi secara dinamis dapat diamati bahwa pada saat

berjalan tidak normal/pincang dan badan membungkuk.

c. Palpasi Palpasi pada kasus ini untuk menentukan apakah ada odeam, spasme, nyeri

dan suhu local pada sisi yang

d. Perkusi Pada kondisi ini perkusi tidak dilakukan.

e. Auskultasi Pada kasus ini auskultasi tidak dilakukan.

3. Pemeriksaan gerak Pemeriksaan gerak ini meliputi pemeriksaan gerak aktif dan

pemeriksaan gerak pasif.

a. Pemeriksaan gerak aktif Pada kasus ini pemeriksaan gerak aktif dilakukan mandiri

oleh pasien dengan posisi ternyaman pasien.

b. Pemeriksaan gerak pasif Pada kasus ini mengukur ROM pada anggota gerak atas

maupun bawah dengan endfeel

c. Pemeriksaan gerak isometrik melawan tahanan Pada kasus ini pasien di minta

untuk menggerakan anggota gerak dengan di beri tahanan pada bagian distal

dengan tahanan minimal maupun maksimal oleh trapis.

4. Pemeriksaan kognitif, intrapersonal dan interpersonal Pemeriksaan kognitif apakah

memori pasien bagus, pasien mampu memahami dan mengikuti instruksi terapis

dengan baik. Pemeriksaan intrapersonal apakah mempunyai semangat untuk cepat

sembuh. Pemeriksaan interpersonal apakah pasien mampu berkomunikasi dan

berinteraksi dengan terapis dan lingkungan asrama.

5. Pemeriksaan fungsional dan lingkungan aktivitas Pemeriksaan fungsional dan aktivitas


meliputi :

a. Fungsional dasar Pada kasus ini apakah pasien mengalami kesulitan atau gangguan

saat melakukan aktifitas fungsional dasar seperti berdiri keduduk serta duduk

keberdiri.

b. Aktivitas Fungsional : Pada kasus ini, apakah pasien mampu berjalan dan naik

turun tangga meski dengan atau tanpa bantuan.

6. Pemeriksaan spesifik Pemeriksaan fisik ini meliputi :

a. Pemeriksaan lingkup gerak sendi

b. Pemeriksaan panjang tungkai

c. Akivitas fungsional berupa Makan, Berpindah dari kursi roda ketempat tidur dan

sebaliknya/termasuk duduk ditempat tidur, Kebersihan diri (mencuci muka, menyisir,

mencukur dan menggosok gigi), Aktifitas ditoilet (menyemprot, mengelap), Mandi,

Berjalan ditempat datar (jika tidak mampu jalan melakukannya dengan kursi roda),

Naik turun tangga , Berpakaian (termasuk mengenakan sepatu), Mengontrol BAB,

Mengontrol BAK.

7. Pemeriksaan penunjang.

Berdasarkan patofisiologi di atas, maka sangat penting dilakukan

pemeriksaan diagnostik SCI yang dapat meliputi, sbb:

1. Sinar x spinal : menentukan lokasi dan jenis cedera tulang (fraktur atau dislokasi )

2. CT scan : untuk menentukan tempat luka/jejas

3. MRI : untuk mengidentifikasi kerusakan syaraf spinal.

4. Foto rongent thorak : mengetahui keadaan paru.


5. AGD : menunjukkan keefektifan pertukaran gas dan upaya ventilasi Cedera tulang

belakang diklasifikasikan oleh Cedera Spinal klasifikasi American Association

(ASIA). Skala nilai ASIA pasien berdasarkan gangguan fungsional mereka sebagai

akibat dari cedera.

B. Diagnosis Fisioterapi

Diagnosis adalah penentuan suatu jenis penyakit berdasarkan tanda dan gejala

yangditemukan dalam proses pemeriksaan. Diagnosis merupakan kesimpulan dari

anamnesis,pemeriksaan klinis, dan pemeriksaan penunjang [Link] fisioterapi

adalah hasil proses kajian klinis yang menghasilkan identifikasiadanya gangguan ataupun

potensi timbulnya gangguan, keterbatasan fungsi danketidakmampuan atau kecacatan.

Diagnosis ft dihasikan dari pemeriksaan dan evaluasiyang dapat menunjukkan adanya

disfungsi gerak dan dapat mencangkup.

1. Gangguan/kelemahan (impairment)

2. Limitasi fungsi (functional limitations)

3. Ketidakmampuan(disabilities )

4. Sindrom( syndromes ).

Pada penegakan diagnosis, fisioterapis terkadang membutuhkan informasitambahan

(informasi yang diluar dari pengetahuan, pengalaman, dan kemampuanfisioterapis) yang

berupa kerjasama dengan profesi lain, misalnya dengan bagian radiologi. Adapun

tujuan dari penegakan diagnosis dalam proses ft ini adalah :

6. Untuk membantu menggambarkan kondisi atau jenis penyakit yang diderita

olehpasien.

7. Untuk menuntun menentukan prognosis

8. Sebagai acuan pemeriksa dalam menentukan intervensi yang baik, benar, dan

bermanfaat.
berikut adalah beberapa jenis diagnosis, yaitu :

1. Diagnosis topik : diagnosis ini mencakup topik apa yang mengalami

[Link] : muskulo, neuro, dll.

2. Diagnosis klinik : diagnosis ini mencakup gejala dan keluhan seperti apa

yangtimbul. Misalnya : nyeri, stiffness, iritasi, dll.

3. Diagnosis kerja : diagnosis ini mencakup kegiatan atau pekerjaan apa

yangmenyebabkan timbulnya masalah. Misalnya : kecelakaan lalu lintas,

olahraga,trauma, dll.

4. Diagnosis fungsi : diagnosis ini mencakup mengenai fungsi apa yang

[Link] : gangguan fungsi gerak knee, gangguan adl, gangguan

koordinasi, dll.

Pada umumnya, diagnosis ft hanya terkait pada diagnosis fungsi. Namun,

agar terciptanya kemandirian dan kemitraan profesi fisioterapi maka harus dilengkapi

dengan diagnosis topik, diagnosis klinik, dan diagnosis kerja. Diagnosis fungsi ft dapat saja

berubah dalam topik dan klinik yang sama karena adanya perubahan patofisiologi

C. Rencana Intervensi

1. Mengurangi nyeri

2. Meningkatkan kekuatan otot-otot tungkai.

3. Mencegah atrofi dan kontraktur pada otot-otot tungkai.

4. Meningkatkan ROM tungkai

5. Merangsang dan mengembalikan rasa sensasi

6. Mengembalikan ke ADL yang mandiri

D. Intervensi

Exercise therapy menurut [ CITATION ACR15 \l 1033 ]


Intensitas sedang: agak keras tetapi dapat dipertahankan untuk waktu yang lama

tanpa mengalami kelelahan yang berlebihan; Intensitas yang kuat: sangat keras, mendekati

maksimum dan tidak dapat dipertahankan dalam waktu lama tanpa mengalami kelelahan

yang berlebihan.
BAB 3

PENUTUP

A. Implikasi Klinis

Kekuatan dan Daya Tahan Otot e Kekuatan otot mengacu pada kemampuan sebuah

otot atau kelompok otot untuk menghasilkan kekuatan yang maksimal. Daya tahan otot

mengacu pada kemampuan otot atau kelompok otot untuk menghasilkan kekuatan selama

beberapa pengulangan. Ini adalah komponen penting dari kebugaran dan memainkan peran

penting dalam meningkatkan atau mempertahankan kepadatan mineral tulang, massa otot,

laju metabolisme istirahat, produksi tenaga dan tenaga, kesehatan otot dan tendon, serta

metabolisme glukosa. 

Individu dengan SCI mengandalkan berat di bahu dan otot lengan untuk mobilitas

dan untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Program pelatihan ketahanan harus

komprehensif, tetapi penekanan harus ditempatkan pada peningkatan kekuatan dan daya

tahan otot yang mendukung skapula (tulang belikat) dan bahu posterior. 

Otot apa pun yang dapat diaktifkan secara sukarela berpotensi mendapatkan

manfaat dari latihan ketahanan. Namun, latihan berikut dapat berdampak positif langsung

pada otot-otot utama yang diperlukan untuk aktivitas sehari-hari: Bicep Curl, Triceps

Press, Shoulder Press, Latissimus Pull-Down, Chest Fly, dan Seated Row. Untuk individu

dengan batang tubuh dan bahu yang kurang stabil dan kuat, penyangga eksternal seperti

lumbar roll atau chest strap dapat ditambahkan untuk memperbaiki postur tubuh dan

mengurangi risiko cedera saat berolahraga. 

Fleksibilitas dan Jangkauan Gerak Fleksibilitas dan jangkauan gerak sendi yang

memadai penting untuk menjaga mobilitas dan mengurangi risiko cedera. Perhatian ekstra

harus diarahkan pada peregangan dada, bahu, dan bisep, karena otot-otot ini kemungkinan

besar digunakan secara ekstensif untuk mobilitas dan mungkin menegang setelah SCI.
Peregangan tubuh bagian bawah juga harus disertakan, tetapi hati-hati jangan sampai

meregangkan anggota tubuh secara berlebihan jika ada gangguan sensasi, karena hal ini

dapat menyebabkan peregangan yang berlebihan dan tekanan yang berlebihan pada

struktur sendi. Otot khusus yang akan diregangkan harus berdasarkan kebutuhan individu

dan dapat dikenali dengan bantuan dokter terlatih atau ahli olahraga.
DAFTAR PUSTAKA

Acrm. (2015). Exercise Recommendations And Considerations For. Archives Of Physical

Medicine And Rehabilitation.

Laura Teeter1, J. G. (2012). Relationship Of Physical Therapy Inpatient Rehabilitation

Interventions And Patient Characteristics To Outcomes Following Spinal Cord Injury:

The Scirehab Project. The Journal Of Spinal Cord Medicine Vol. 35 No. 6 Doi

10.1179/2045772312y.0000000058.

Natàlia Gómara-Toldrà1, M. S. (2014). Physical Therapy After Spinal Cord Injury: A Systematic

Review Of Treatments Focused On Participation. The Journal Of Spinal Cord Medicine

Vol. 37 No.4 Doi 10.1179/2045772314y.0000000194 .

Wahyudi, L. (2012). Penatalaksanaan Terapi Latihan Pada Post Fraktur Kompresi Vertebra

Servikal V Frenkel A Di Rso Prof. Dr. R. Soeharso Surakarta. Naskah Publikasi .

Anda mungkin juga menyukai