IMPLEMENTASI E-GOVERNMENT MELALUI
QLUE DALAM PENYELENGGARAAN
LAYANAN PENGADUAN MASYARAKAT
(Studi pada Kelurahan Kelapa Dua dan Dinas Komunikasi Informatika
dan Statistik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta)
SKRIPSI
Diajukan untuk Mendapatkan Gelar Sarjana
pada Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya
DIKO BAGUS ANGGORO
NIM. 135030101111178
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
FAKULTAS ILMU ADMINISTRASI
JURUSAN ADMINISTRASI PUBLIK
MALANG
2017
MOTTO
³.DODXKLGXSKDQ\DVHNHGDUKLGXSEDELGLKXWDQMXJDKLGXS
.DODXNHUMDKDQ\DVHNHGDUNHUMDNHUDSXQMXJDEHNHUMD´
(Buya Hamka)
³+LGXSEXNDQKDQ\DVHNHGDUKLGXSWDSLKLGXSODKXQWXN
<DQJ0DKD0HQJKLGXSNDQ´'LNR%DJXV$
i
HALAMAN PERSEMBAHAN
Sementara hanya ini yang bisa kuberikan
sebuah karya yang kupersembahkan kepada Alm. Papa
Mama, Papa sambungku dan Adikku
Serta Seluruh Keluarga Yang telah membersamai,
memberikan support,
serta senantiasa memanjatkan doa
dengan seluruh keterbatasannya
dengan keringat, air mata dan sisa tenaganya
hanya untuk mengharapkan puteranya menjadi sosok
yang lebih baik dan jauh lebih bermanfaat untuk diri
sendiri dan orang di sekitarnya..
ii
iii
iv
v
RINGKASAN
Diko Bagus Anggoro, 2013, Implementasi e-Government melalui Qlue dalam
Penyelenggaraan Layanan Pengaduan Masyarakat (Studi pada Kelurahan
Kelapa Dua dan Dinas Komunikasi Informatika dan Statistik Provinsi DKI
Jakarta), Dr. Mochamad Rozikin, [Link], Rendra Eko Wismanu, [Link],
[Link], 194 hal + xviii
Praktik penyelenggaraan Pelayanan Publik yang belum berjalan dengan
baik memerlukan adanya keterlibatan masyarakat dalam proses pembenahannya
dengan membuka akses bagi masyarakat dalam memberikan kritik dan saran
melalui pengaduan masyarakat. Pengaduan masyarakat konvesional melalui
penyediaan kotak kritik dan saran di kantor pemerintahan tidak lagi efektif dan
memberikan kepuasan pada masyarakat. Qlue merupakan Aplikasi berbasis
smartphone yang disediakan Provinsi DKI Jakarta melalui kerjasamanya dengan
[Link] Performa Indonesia dan di peruntukkan bagi seluruh masyarakat untuk
melaporkan berbagai permasalahan pelayanan publik dan pembangunan yang
terjadi di DKI Jakarta.
Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif dengan pendekatan
kualitatif. Penelitian ini menggunakan analisis data model interaktif, dimulai
dengan pengumpulan data, kondensasi data, penyajian data dan penarikan
kesimpulan. Adapun yang menjadi fokus dalam penelitian ini adalah
implementasi e-Government melalui Qlue dalam Penyelenggaraan Layanan
Pengaduan Masyarakat serta faktor pendukung dan penghambat implementasi e-
Government melalui Qlue dalam Penyelenggaraan Layanan Pengaduan
Masyarakat di Kelurahan Kelapa Dua dan Dinas Komuinkasi Informatika dan
Statistik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa dalam implementasi e-
Government melalui Qlue dalam penyelenggaraan layanan pengaduan
masyarakat ditinjau dari segi support sudah baik namun terkendala dalam alokasi
sumberdaya petugas Dinas Perhubungan dan Satpol PP, ditinjau dari segi capacity
sudah baik namun masih terkendala dengan smartphone bagi admin Jakarta Smart
City dan dari segi value masyarakat dan Pemerintah merasakan manfaat dari
hadirnya Qlue. Dalam implementasi di jumpai faktor pendukung dari
implementasi e-Government melalui Qlue ini adalah komitmen pemimpin dan
petugas PPSU yang responsif. Adapun faktor penghambatnya adalah kendala
teknis Aplikasi CROP, pengembangan Aplikasi Qlue dan mis-koordinasi antar
SKPD.
Kata Kunci : E-Government, Pelayanan Publik, Pengaduan Masyarakat
vi
SUMMARY
Diko Bagus Anggoro, 2013, The Implementation of e-Government through
Qlue in Providing Social Reporting Services (Case Study On Kelurahan
KelapaDua and Department of Communication, Informatics, and Statistics
of DKI Jakarta Province), Dr. Mochamad Rozikin, [Link], Rendra
EkoWismanu, [Link], [Link], 194 page + xviii
The implementation of Public Services has not been conducted well. The
participation of society is necessary in order to fix the system. The government
needs to open the access for society to raise the criticisms and suggestions through
social report. The existance of suggestion box in the status quo is no longer
HIIHFWLYHWRJXDUDQWHHVRFLHW\¶VVDWLVIDFWLRQLQXVLQJJRYHUQPHQW¶VSXEOLFVHrvices.
Qlue is a smartphone-based application provided in DKI Jakarta, thanks to the
cooperation with Qlue Performa Indonesia Ltd., that allows society to file a report
regarding to public services and development problems in DKI Jakarta.
This study was descriptive research with qualitative approach. This study
used interactive data analysis model, start from the moment of data collection,
data condensation, data presentation and conclusion making. The research focused
on the implementation of e-Government through Qlue in providing Social
Reporting Services as well as the supportive factors and the obstacles in the
implementation of e-Government through Qlue in providing social reporting
services in KelurahanKelapa Dua and Department of Communication,
Informatics, and Statistics in DKI Jakarta Province.
The findings of the research proves that there are adequate supports
provided in on the implementation of e-Government through Qluein providing
Social Reporting Services. Yet, sthe allocation of human resources, such as in
Department of Communication and Municipal Police, impeded the
LPSOHPHQWDWLRQRIWKHDSSOLFDWLRQ(YHQWKRXJKLWLVFRQVLGHUHGµJRRG¶LQWHUPVRI
µFDSDFLW\¶RIWKHKXPDQUHVRXUFHVKRZHYHUWKHPLQLPXPVPDUWSKRQHIDFLOLW\IRU
the admin of Jakarta Smart City was enough to hinder the progress of e-
Government. Some supportive factors in the implementation of e-Government are
the high committed leaders and the responsive employee in Facility and
Infrastructure Sector. Unfortunately, the technical problem in CROP application
and problem in the development of Qlue application, let alone the incoordination
among the Regional Work Unit pretty much hinder the progress of e-Government.
Keywords : E-Government, Public Services, Social Reporting
vii
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan atas NHKDGLUDW $OODK 6XEKDQDKX :DWD¶DOD
yang telah melimpahkan Rahmat serta KaruniaNya, sehingga penulis dapat
menyelesaikan skripsi ini sebagai upaya untuk memenuhi syarat gelar sarjana
Ilmu Administrasi Publik pada Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya,
Malang.
Penulis menyadari bahwa penyusunan skripsi ini tidak akan terwujud
tanpa adanya bantuan dan dorongan dari berbagai pihak oleh karena itu, melalui
kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan dan apresiasi yang besar kepada
yang terhormat :
1 Bapak Prof. Dr. Bambang Supriyono, MS selaku Dekan Fakultas Ilmu
Administrasi Universitas Brawijaya, Malang
2 Bapak Dr. Choirul Saleh, [Link] selaku Ketua Jurusan Administrasi Publik,
Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya, Malang
3 Ibu Dr. Lely Indah Mindarti selaku Ketua Program Studi Ilmu
Administrasi Publik Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya,
Malang
4 Bapak Dr. Mochamad Rozikin, [Link] selaku Ketua Komisi Pembimbing
yang telah sabar membimbing dan memberikan ilmunya bagi penulis
sehingga skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik.
viii
5 Bapak Rendra Eko Wismanu [Link], [Link] selaku Anggota Komisi
Pembimbing yang dengan tekun dan teliti memberikan arahan kepada
penulis dalam menyelesaikan skripsi ini
6 Seluruh Dosen pengajar di Prodi Administrasi Publik Universitas
Brawijaya Malang atas ilmunya yang telah diberi dan semoga bermanfaat
bagi penulis dalam menapaki jenjang hidup selanjutnya
7 Ibu Ira Utami selaku Ketua Tim Monitoring Room Officer Unit Pelaksana
Teknis Jakarta Smart City yang telah bersedia meluangkan waktunya
kepada penulis
8 Bapak Abim selaku Staff Monitoring Evaluasi Unit Pelaksana Teknis
Jakarta Smart City yang telah bersedia meluangkan waktunya kepada
penulis
9 Bapak Fazza selaku Staff Sistem Administrator Unit Pelaksana Teknis
Jakarta Smart City yang telah bersedia meluangkan waktunya kepada
penulis
10 Bapak Adi selaku staf Komunikasi Unit Pelaksana Teknis Jakarta Smart
City yang telah bersedia meluangkan waktunya kepada penulis
11 Ibu ismi selaku Staf Bagian Anggaran Dinas Komunikasi Informatika dan
Statistik yang telah bersedia meluangkan waktunya kepada penulis
12 Ibu wise selaku Kepala Bagian Tata Usaha Unit Pelaksana Teknis Jakarta
Smart City yang telah bersedia meluangkan waktunya kepada penulis
ix
13 Bapak Kurnia Putra selaku staf bagian IT Development Unit Pelaksana
Teknis Jakarta Smart City yang telah bersedia meluangkan waktunya
kepada penulis
14 Ibu Rohmah selaku Sekretaris Lurah Kelapa Dua yang telah bersedia
meluangkan waktunya kepada penulis
15 Ibu Rohati selaku Kepala Seksi Perekonomian, Pembangunan dan
Lingkungan Hidup
16 Bapak Eka selaku staf seksi pemerintahan Kelurahan Kelapa Dua
17 Ibu Rilia Marina selaku Head of Marketing PT. Qlue Performa Indonesia
18 Bapak Santoso selaku Kepala Sub Bagian bina administrasi dan perangkat
wilayah Biro Tata Pemerintahan
19 Papa dan Mama tersayang yang selalu memberikan dukungan hingga
penulis mampu survive hingga saat ini
20 $GLNNX 5L]N\WD 1XU¶DKOLQD 3XWUL \DQJ VHODOX PHQMDGL PRWLYDVL EDJL
penulis untuk terus berjuang dan tidak mudah menyerah
21 Seluruh keluarga yang telah membantu dan memberikan dukungan bagi
penulis selama proses penulis menuntut ilmu, wabil khusus untuk
almarhuman. Noer Septianingsih dan Maharani Utami Dewi
22 Seluruh anggota Kerajaan Akamsi yang telah membersamai penulis
selama menjalani aktivitas perkuliahan di Kota Malang
23 Seluruh Teman Kontrakan yang telah membersamai dan memberikan
dukungannya kepada Penulis, Hanggar, Irul, Adi, Rifwan dan Adi
x
24 Teman-teman ceng gondok (Imran, Harun, Wafi, Teguh dan Fanny) yang
senantiasa memberikan motivasi bagi penulis untuk dapat menyelesaikan
skripsi ini.
25 Seluruh keluarga besar Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia
(KAMMI), wabil khusus KAMMI komisariat Fakultas Ilmu Administrasi
yang telah menjadi keluarga kedua penulis selama di Kota Malang dan
memberikan banyak pembelajaran yang mampu membuka cakrawala
penulis sehingga menjadi bekal untuk menapaki perjalanan hidup
selanjutnya
26 Seluruh teman-teman Kementerian Kebijakan Publik BEM FIA 2014 dan
EM UB 2015 yang telah menumbuhkan jiwa dan nilai kemahasiswaan
dalam diri penulis
27 Seluruh teman-teman penulis di program studi ilmu administrasi publik
yang tidak dapat disebutkan satu persatu.
xi
DAFTAR ISI
MOTTO ............................................................................................................................. i
HALAMAN PERSEMBAHAN................................................................................... ii
TANDA PERSETUJUAN SKRIPSI .........................................................................iii
TANDA PENGESAHAN ........................................ Error! Bookmark not defined.
PERNYATAAN ORISINALITAS SKRIPSI ........................................................... v
RINGKASAN ................................................................................................................. vi
SUMMARY ...................................................................................................................vii
KATA PENGANTAR ............................................................................................... viii
DAFTAR ISI .................................................................................................................xii
DAFTAR TABEL ....................................................................................................... xvi
DAFTAR GAMBAR ................................................................................................ xvii
DAFTAR LAMPIRAN ........................................................................................... xviii
BAB 1 PENDAHULUAN ..................................................................................... 1
A. Latar Belakang ....................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah................................................................................. 12
C. Tujuan Penelitian .................................................................................. 13
D. Kontribusi Penelitian ............................................................................ 13
E. Sistematika Penulisan ........................................................................... 15
BAB II TINJAUAN PUSTAKA......................................................................... 17
A. Admininistrasi Publik ........................................................................... 17
1. Pengertian Administrasi Publik ....................................................... 17
2. Ruang Lingkup Administrasi Publik ............................................... 18
B. Pelayanan Publik .................................................................................. 19
1. Pengertian Pelayanan Publik ........................................................... 19
2. Prinsip Penyelenggaraan Pelayanan Publik ..................................... 21
3. New Public Service .......................................................................... 23
C. Electronic Government ............................................................................... 29
1. Pengertian Electronic Government ................................................... 29
2. Manfaat dan Tujuan Electronic Government ................................... 31
3. Tipe-tipe Relasi dalam Electronic Government ............................... 32
4. Elemen Sukses Pengembangan Electronic Government .................. 34
5. Faktor dalam penerapan implementasi Electronic Government....... 37
D. Electronic Complaint.............................................................................40
1. Pengertian Electronic Complaint.......................................................40
2. Prinsip Penyelenggaraan Electronic Complaint................................41
xii
E. Konsep Aplikasi Qlue .................................................................................. 42
1. Selayang Pandang Aplikasi Qlue ..................................................... 42
2. Jumlah Pengguna dan Aduan dari masyarakat melalui Qlue ........... 43
F. Implementasi E-Government melalui Qlue dalam Penyelenggaraan
Layanan Pengaduan Masyarakat...........................................................44
BAB III METODE PENELITIAN ........................................................................... 47
A. Jenis Penelitian ............................................................................................. 47
B. Fokus Penelitian ........................................................................................... 48
C. Lokasi dan Situs Penelitian ......................................................................... 50
D. Jenis dan Sumber Data Penelitian .............................................................. 51
E. Teknik Pengumpulan Data .......................................................................... 55
F. Instrumen Penelitian ..................................................................................... 58
G. Analisis Data ................................................................................................. 58
H. Keabsahan Data ............................................................................................ 61
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN .................................................................. 64
A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian .......................................................... 64
1. Gambaran Umum Provinsi DKI Jakarta ............................................... 64
a. Sejarah Provinsi DKI Jakarta ........................................................... 64
b. Kondisi Geografis dan Kondisi Alam ......................................... 66
c. Jumlah Penduduk dan Kepadatan Penduduk di DKI Jakarta ...... 67
d. Visi dan Misi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta .......................... 68
2. Gambaran Umum Situs Penelitian ................................................... 71
a. Dinas Komunikasi Informatika dan Statistik
Provinsi DKI Jakarta ................................................................... 71
1). Lokasi Dinas Komunikasi Informatika dan Statistik
Provinsi DKI Jakarta ............................................................... 71
2). Visi dan Misi Dinas Komunikasi Informatika dan Statistik
Provinsi DKI Jakarta .............................................................. 71
3). Struktur Organisasi Dinas Komunikasi Informatika dan
Statistik Provinsi DKI Jakarta ................................................ 72
4). Tugas dan Fungsi Dinas Komunikasi Informatika dan
Statistik Provinsi DKI Jakarta ................................................ 76
5). Bidang Kegiatan Dinas Komunikasi Informatika dan
Statistik Provinsi DKI Jakarta ................................................ 78
b. Kelurahan Kelapa Dua ................................................................. 83
1). Lokasi Kelurahan Kelapa Dua ............................................... 83
2). Visi dan Misi Kelurahan Kelapa Dua ................................... 83
3). Kondisi Georgrafis dan Topografi Kelurahan
Kelapa Dua ............................................................................... 84
4). Struktur Organisasi Kelurahan Kelapa Dua .......................... 85
xiii
5). Tugas dan Fungsi Kelurahan Kelapa Dua ............................. 86
6). Bidang Kegiatan Kelurahan Kelapa Dua .............................. 87
B. Penyajian Data Fokus Penelitian .......................................................... 91
1. Implementasi E-Government melalui Qlue dalam
Penyelenggaraan Layanan Pengaduan Masyarakat........................ 91
a. Support .................................................................................... 92
1). Kepemimpinan ................................................................... 92
2). Alokasi Sumberdaya ........................................................ 100
3). Dasar Hukum ................................................................... 105
4). Sosialisasi......................................................................... 109
b. Capacity ................................................................................ 114
1). Ketersediaan Sumber Daya Infrastruktur
yang Memadai ................................................................. 115
2). Ketersediaan Sumberdaya Manusia
yang Kompeten ............................................................... 118
3). Ketersediaan Sumberdaya Finansial
yang Cukup ..................................................................... 124
c. Value ...................................................................................... 128
1). Bagi Pemerintah .............................................................. 129
2). Bagi Masyarakat ............................................................. 131
2. Faktor Pendukung dan Penghambat Implementasi
E-Government melalui Qlue dalam Penyelenggaraan
Layanan Pengaduan Masyarakat .................................................. 133
a. Faktor Pendukung.................................................................. 134
1). Komitmen Pemimpin ....................................................... 134
2). Petugas PPSU Kelurahan yang Responsif ....................... 137
b. Faktor Penghambat ................................................................ 139
1). Kendala Teknis Aplikasi CROP ...................................... 140
2). Pengembangan Aplikasi Qlue untuk IOS ........................ 143
3). Mis-Koordinasi Antar
SKPD.................................................................................146
C. Analisis Data dan Pembahasan............................................................151
1. Implementasi e-Government melalui Qlue dalam
Penyelenggaraan Layanan Pengaduan Masyaraat....................... 151
a. Support .................................................................................... 153
b. Capacity .................................................................................. 163
c. Value ........................................................................................ 171
2. Faktor Pendukung dan Penghambat Implementasi e-Government
melalui Qlue dalam Penyelenggaraan Layanan
Pengaduan Masyarakat..................................................................174
a. Faktor Pendukung.................................................................... 174
b. Faktor Penghambat .................................................................. 179
xiv
BAB V PENUTUP ............................................................................................. 185
A. Kesimpulan ............................................................................................ 184
B. Saran ...................................................................................................... 188
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ 191
LAMPIRAN ....................................................................................................... 194
xv
DAFTAR TABEL
No. Judul Halaman
1. Jumlah Penduduk Provinsi DKI Jakarta Berdasarkan Kota 68
2. Anggaran Unit Pelaksana Teknis Jakarta Smart City tahun 2015 126
3. Anggaran Suku Dinas Kominfo Jakarta Barat tahun 2016 126
4. Penanganan Tindak Lanjut Kelurahan Kelapa Dua perkategori 149
xvi
DAFTAR GAMBAR
No Judul Halaman
1. Halaman Antar Muka Aplikasi Qlue 8
2. Kategori Paling Banyak di laporkan 44
3. Komponen Analisis Data Model Interaktif 59
4. Struktur Organisasi Diskominfo DKI Jakarta 75
5. Kantor Kelurahan Kelapa Dua 83
6. Peta Wilayah Kelurahan Kelapa Dua 84
7. Scorecard Penilaian Kinerja Lurah 98
8. Sosialisasi Qlue kepada Ketua RT dan RW 110
9. Kunjungan dari Kampus melalui Wisata Balaikota 111
10 Kegiatan Sosialisasi melalui Pekan Raya Jakarta 111
11. Media Sosial sebagai Sarana Sosialisasi 114
12. Pelatihan Kepada SKPD melalui BIMTEK 121
13 SOP Follow Up Penanganan Aduan 123
xvii
DAFTAR LAMPIRAN
No. Judul Lampiran
1. Tata Cara Mengirimkan Pengaduan melalui Qlue
2. Surat-Surat Penelitian
3. Pedoman Wawancara
4. Renstra Dinas Komunikasi Informatika dan Statistik DKI Jakarta
xviii
BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Negara jika di tinjau secara filosofis memiliki tugas penting yaitu
melindungi dan menyejahterakan rakyatnya. Dalam rangka menyejahterakan
rakyat itulah, maka negara mempunyai kewajiban dalam memfasilitasi
pemenuhan kebutuhan dasar warga negaranya baik kebutuhan akan pendidikan,
air bersih, kesehatan dan kebutuhan lainnya yang menjadi hak setiap warga
negaranya. Oleh karena itulah lahirlah tugas pokok dan fungsi negara yang
dilaksanakan oleh sebuah pemerintahan yaitu memberikan pelayanan kepada
masyarakat. Di indonesia sendiri, memberikan pelayanan kepada masyarakat
dalam konteks pemenuhan kebutuhan dasar dan kesejahteraan masyarakat
merupakan hal yang di amanatkan dalam pembukaan Undang-Undang Dasar
Republik Indonesia tahun 1945 alinea ke- 4 sebagaimana berikut :
³Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu pemerintah negara
Indonesiayang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah
darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum,
mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia
yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial´
Berdasarkan amanat Undang-Undang Dasar tersebutlah Pemerintah
Indonesia menjalankan tugas dalam menyelenggarakan pelayan kepada
1
2
masyarakat, hal tersebut dapat dilihat dengan dikeluarkannya Undang-Undang
No.25 tahun 2009 tentang Pelayanan Publik. Pada dasarnya Pelayanan Publik
merupakan serangkaian proses yang dilakukan dengan tujuan memberikan
pelayanan dimana terdiri dari pemberi layanan yakni pemerintah baik pemerintah
pusat, pemerintah daerah maupun Badan Usaha yang dimilikinya dan penerima
layanan yakni seluruh elemen masyarakat Indonesia, sebagaimanaUndang-
Undang No. 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik mendefinisikan Pelayanan
Publik sebagai berikut :
³3HOD\DQDQ 3XEOLN VHEDJDL rangkaian kegiatan dalam rangka pemenuhan
kebutuhan pelayanan sesuai dengan peraturan perundang-undangan bagi
setiap warga negara dan penduduk atas barang, jasa, dan/atau pelayanan
administratif yang disediakan oleh SHQ\HOHQJJDUD3HOD\DQDQ3XEOLN´
Dalam konteks penyelenggaraan Pelayanan Publik, pemerintah adalah
aktor pertama yang bertanggung jawab dalam pemenuhan hak-hak masyarakat
sehingga penyelenggaraan Pelayanan Publik hendaknya tidak dipandang hanya
untuk memenuhi kewajiban semata namun tidak memperhatikan aspek kualitas
dan aspek keterlibatan masyarakat sebagai pengguna layanan. Penyelenggaraan
Pelayanan Publik hendaknya perlu di lakukan dengan sepenuh hati guna
terciptanya pelayanan yang responsif dan berkualitas. Hal ini menjadi perlu agar
apa yang menjadi tujuan negara ini melalui Pelayanan Publik sebagaimana yang
telah di amanatkan Undang-Undang Dasar tahun 1945 dapat tercapai.
Disamping itu perubahan paradigma dari New Public Management
menjadi New Public Service membawa implikasi terhadap penyelenggaraan
pelayan publik di Indonesia. Dengan menempatkan rakyat indonesia bukan
3
sebagai konsumen, yang dimana dalam pemberian layanan di dasarkan pada
timbal balik yang diberikan, melainkan menempatkan rakyat Indonesia sebagai
owners of government (pemilik pemerintahan) yang dimana pemberian layanan
secara cepat dan berkualitas sudah selayaknya diberikan tanpa timbal balik
ekonomis yang diberikan kepada pemberi layanan. Artinya, Pelayanan Publik
yang egaliter dan non-diskriminatif memang sudah sepatutnya menjadi ruh dalam
penyelenggaraan Pelayanan Publik yang di lakukan oleh pemerintah melalui
departemen, dinas dan badan usaha yang di milikinya. Hal ini sebagaimana yang
di ungkapkan oleh Denhardt & Denhardt (dalam Surjadi, 2003:12) yang
menegaskan bahwa Pelayanan Publik seharusnya tidak terfokus kepada
kepentingan pelanggan atau pengguna jasa (customer/client) akan tetapi harus
beriorientasi kepada kepentingan masyarakat atau warga negara (citizen).
Lewis dan Gilman (dalam Puspitosari, 2005:22) mengatakan Pelayanan
Publik adalah kepercayaan publik. Sehingga warga negara berharap Pelayanan
Publik dapat melayani dengan kejujuran dan pengelolaan sumber penghasilan
secara tepat, dan dapat dipertanggung-jawabkan kepada publik. Maka sudah
selayaknya dalam Pelayanan Publik, kepentingan publik tidak lagi dipandang
sebagai agregasi kepentingan pribadi melainkan sebagai suatu hasil dialog dan
keterlibatan publik dalam mencari nilai bersama dan mewujudkan kepentingan
bersama.
Fenomena saat ini penyelenggaraan Pelayanan Publik masih belum
maksimal dan sesuai yang di harapkan, hal ini sebagaimana yang dikatakan oleh
Asisten Deputi Koordinasi Implementasi Pemantauan dan Evaluasi Pelayanan
4
Publik I, Kementrian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi,
Noviana Adrina, sebagaimana berikut :
³.XDOLWDVOayanan publik masih rendah. Kondisi birokrasi masih rumit, dan
membuat tingkat kepuasan masyarakat pun menjadi rendah, Seperti halnya
Birokrasi itu masih gemuk lamban dan belum profesional, belum mampu
memberikan pelayanan prima pada masyarakat dan investoU´
([Link]
Selain itu rendahnya kualitas Pelayanan Publik di Indonesia dapat dilihat dengan
banyaknya laporan masyarakat ke Ombudsman Republik Indonesia selama 2014
yang sebagian besar merupakan keluhan atas buruknya Pelayanan Publik
Pemerintah Daerah. Dari 6.180 laporan yang masuk, 43,7% ialah keluhan
terhadap Pemerintah Daerah. Hal itu, menurut Ombudsman, meneruskan tradisi
dari tahun-tahun sebelumnya bahwa pemerintah daerah selalu menempati
peringkat satu terbanyak sebagai pihak terlapor. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta
sebagai Pemerintah daerah yang menjalankan tugas dalam menyelenggarakan
Pelayanan Publik berdasarkan hasil penelitian Ombudsman RI yang dirilis pada
tahun 2016 tentang tingkat kepatuhan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah
terhadap standar Pelayanan Publik menempati urutan 16 dari 34 Provinsi dan
berada pada zona kuning dan memiliki score 61.20 yang artinya kualitas
Pelayanan Publik di DKI Jakarta masih belum maksimal.
Pembenahan Pelayanan Publik perlu senantiasa dilakukan baik ditingkat
pemerintah pusat ataupun Pemerintah Daerah. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta
sebagai Ibukota Negara Republik Indonesia perlu menjadi role model atas
perbaikan Pelayanan Publik tersebut. Sejalan dengan proritas pembangunan yaitu
peningkatan kualitas Pelayanan Publik yang dimana perlu pembenahan
5
penyelenggaraan Pelayanan Publik selain dimulai dari sistem pelayanan namun
juga dimulai dari penjaringan informasi melalui keterlibatan masyarakat.
Sehingga masyarakat merupakan salah satu elemen penggerak dalam perbaikan
Pelayanan Publik di Provinsi DKI Jakarta. Masyarakat dapat berpartisipasi dan
memberikan respon atas maladministrasi ataupun inefisiensi atas penyelenggaraan
Pelayanan Publik yang terjadi, hal ini sebagaimana yang dikatakan oleh Ketua
Ombudsman Republik Indonesia, "Masyarakat sudah saatnya berperan serta
dalam pembangunan dengan melaporkan apa yang tidak baik".
([Link]
Bentuk partisipasi masyarakat secara langsung dalam penyelenggaraan
Pelayanan Publik adalah melalui pengaduan masyarakat. Pengaduan masyarakat
sebagaimana yang di amanatkan keberadaannya dalam Undang-Undang No.25
tahun 2009 tentang Pelayanan Publik, wajib disediakan dan dikelola oleh
Instansi/Lembaga penyedia layanan publik. Dengan adanya wadah pengaduan ini,
masyarakat dapat memberikan informasi atas penyelenggarakan Pelayanan Publik
yang masih belum sesuai harapan sehingga informasi tersebut dapat di jadikan
bahan evaluasi atas perbaikan penyelenggaraan Pelayanan Publik. sehingga dari
sanalah akan muncul kebijakan-kebijakan strategis dalam rangka meningkatkan
kualitas Pelayanan Publik. Hal ini bertujuan agar Pelayanan Publik dapat sesuai
dengan keinginan dan kebutuhan masyarakat sehingga terwujudnya Pelayanan
Publik yang semakin baik.
Upaya pelibatan peran serta masyarakat melalui pengaduan masyarakat
sebenarnya sudah lama di terapkan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yakni
6
melalui kotak kritik dan saran yang di sediakan pada kantor-kantor instansi
pemerintahan ataupun layanan sms, namun dalam proses pengaduan tersebut
menemui berbagai kendala-kendala yang di hadapi yakni aksesnya yang sulit di
jangkau, membutuhkan biaya dan tidak dapat di pantau tindak lanjut atas
pengaduan yang diberikan.
E-Government merupakan pemanfaatan Teknologi Informasi dan
Komunikasi (TIK) yang di arahkan dalam membantu urusan-urusan dalam
penyelenggaraan pemerintahan, salah satunya adalah pemanfaatan e-Government
untuk sarana pengaduan atas penyelenggaran Pelayanan Publik di Indonesia.
Kemajuan Teknologi Informasi dan Komunikasi menuntut Pemerintah untuk
beradaptasi dan turut memanfaaatkan Teknologi Informasi dan Komunikasi
sebagai basis pelaksanaan pemerintahan dan pelayanan kepada masyarakat,
dimana di antaranya adalah dalam penyediaan layanan pengaduan masyarakat.
Melalui e-Government masyarakat kini dapat lebih mudah menyampaikan
aspirasinya kepada pemerintah sehingga dalam memberikan pengaduan,
masyarakat tidak perlu mendatangi sejumlah kantor yang dimana perlu melewati
jalur birokrasi yang panjang, waktu yang lama, proses yang rumit dan
menghabiskan sejumlah biaya. Masyarakat kini bisa memanfaatkan kemajuan
Teknologi Informasi (TI) dalam memberikan pengaduan melalui pendekatan
yang baru dan modern.
Transformasi pemerintah melalui e-Government di tujukan untuk
memenuhi dua tuntutan masyarakat, sebagaimana yang tertuang dalam lampiran I
instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2003 yaitu :
7
a) Masyarakat menuntut Pelayanan Publik yang memenuhi kepentingan
masyarakat luas di seluruh wilayah negara, dapat diandalkan dan
terpercaya, serta mudah dijangkau secara interaktif.
b) Masyarakat menginginkan agar asiprasi mereka didengar dengan
demikian pemerintah harus memfasilitasi partisipasi dan dialog publik
di dalam perumusan kebijakan negara
Secara garis besar tujuan yang ingin dicapai melalui pemanfaatan e-Government
adalah untuk mempermudah masyarakat di dalam memberikan pengaduan dan
sebagai upaya membuka ruang keterlibatan dan dialog publik dalam Kebijakan
Publik. Adapun konsep dari e-Government pada dasarnya adalah menciptakan
interaksi yang ramah, nyaman, transparan dan murah antara pemerintah dan
masyarakat (G2C-government to citizens), pemerintah dan perusahaan bisnis
(G2B-government to business enterprises) dan hubungan antar pemerintah (G2G-
inter-agency relationship).
Dalam upaya menghadirkan kanal pengaduan yang lebih modern dengan
berbasis pada pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi melalui e-
Government tersebut, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pada tanggal 15 Desember
2014 meluncurkan Aplikasi Qlue sebagai kanal resmi pengaduannya di samping
kanal-kanal lain yang telah disediakan sebelumnya seperti kotak saran, email dan
layanan sms. Aplikasi ini diberi nama Qlue yang artinya jalan keluar, namun lalu
diplesetkan menjadi "keluhan". Aplikasi Qlue merupakan aplikasi yang
dikembangkan oleh PT. Qlue Performa Indonesia yang bekerja sama dengan
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Aplikasi Qlue merupakan layanan pengaduan
masyarakat melalui media smartphone berbasis geo-ttagging dengan sistem
operasi Android dan IOS. Melalui Aplikasi ini masyarakat dapat melaporkan
8
segala keluhan di dalam penyelenggaraan Pelayanan Publik dan pembangunan
daerah hanya dengan memfoto dan memberikan deskripsi singkat.
Gambar 1. Halaman Antar Muka Aplikasi Qlue
Sumber : Aplikasi Qlue
Jika dalam layanan pengaduan masyarakat lainnya tidak dapat di
ketahuinya bagaimana tindak lanjut dari pengaduan yang diberikan, melalui
Aplikasi Qlue ini, pengguna aplikasi dapat mengetahui bagaimana progress dari
pengaduan yang diberikannya yakni melalui userprofil dimana di dalamnya
terdapat tanda berupa warna berserta keterangannya. Warna merah adalah masih
menunggu, warna kuning berarti sedang dalam proses serta warna hijau tandanya
telah selesai menangani aduan yang telah diberikan. Apabila aduan sudah selesai
9
mendapatkan penanganan maka pihak pelapor selain mendapatkan indikator
berwarna hijau akan menerima foto atas hasil tindaklanjut dari laporan yang
diberikannya sebagai bukti. Namun apabila pelapor merasa masih belum puas atas
tindak lanjut yang diberikan, maka pelapor dapat memberikan rating beserta
komentar atas tingkat kepuasannya. Laporan akan di merahkan kembali apabila
rating yang diberikan pelapor rendah, yang artinya laporan akan ditinjau ulang
untuk di proses kembali sesuai masukkan dari pengguna.
Dalam implementasi e-Government melalui Qlue, Dinas Komunikasi
Informatika dan Statistik Provinsi DKI Jakarta sebagai Satuan Kerja Perangkat
Daerah yang menyelenggarakan urusan Pemerintahan di bidang teknologi,
informasi, komunikasi dan statistik memiliki tanggung jawab dalam pengelolaan
layanan pengaduan melalui Qlue. Dalam upayanya menyukseskan
penyelenggaraan smart city yang dimana salah satunya adalah Qlue, Gubernur
DKI Jakarta melalui Peraturan Gubernur No 280 Tahun 2014 membentuk Unit
Pelaksana Teknis Jakarta Smart City yang dimana merupakan bagian dari Dinas
Komunikasi Informatika dan Statistik yang memiliki fungsi dalam pengelolaan
dan monitoring pelaksanaan program dan Aplikasi Jakarta Smart City.
Dalam penanganan tindaklanjut aduan yang masuk dari masyarakat
melalui Qlue, proses tindaklanjut di lakukan oleh Kelurahan sebagai estate
manager. Konsep estate manager sebagai konsep yang inisiasikan oleh Gubernur
DKI Jakarta di arahkan agar Kelurahan sebagai Kepala wilayah mampu
menguasai wilayahnya secara fisik dan demografis, mampu mengidentifikasi dan
mengatasi permasalahan yang ada dengan mengelola dan menggunakan sumber
10
daya yang dimilikinya. Oleh karenanya dalam implementasi e-Government
melalui Qlue, Kelurahan memiliki tugas untuk menindaklanjuti pengaduan yang
masuk dari masyarakat atas permasalahan yang terjadi di lingkungannya. Baik
dalam bentuk tindaklanjut secara langsung ataupun tindaklanjut yang bersifat
koordinatif. Dalam pelaksanaan tugasnya, Kelurahan di bantu oleh Petugas
Penanganan Prasarana Umum (PPSU) Kelurahan. Namun dikarenakannya
kapasitas dan kewenangan Kelurahan yang terbatas maka apabila aduan yang
masuk tidak dapat di tangani dan diluar kapasitas serta kewenangan Kelurahan
maka Kelurahan akan mengkoordinasikannya dengan Kecamatan ataupun SKPD
lainnya yang berkaitan melalui sebuah Aplikasi yang disediakan oleh Unit
Pelaksana Teknis Jakarta Smart City yaitu CROP (Cepat Respon Opini Publik).
Selain digunakan dalam berkoordinasi dan disposisi, CROP juga digunakan oleh
aparatur sebagai media untuk menerima pengaduan yang dikirim oleh masyarakat
melalui Aplikasi Qlue.
Penanganan pengaduan masyarakat oleh Kelurahan tidak seluruhnya
berjalan dengan optimal, Untuk memantau kinerja Kelurahan dalam penanganan
aduan, di dalam Aplikasi Qlue telah disediakannya Ranking atas kinerja
Kelurahan dalam melakukan respon pengaduan. Kelurahan Kelapa Dua, Kota
Administasi Jakarta Barat merupakan Kelurahan yang masih belum optimal dalam
melakukan penanganan tindaklanjut melalui Qlue. Berdasarkan Ranking yang
dirilis pada Bulan Oktober hingga bulan Desember tahun 2016 melalui Aplikasi
Qlue, Kelurahan Kelapa Dua menempati posisi 168 dari 261 Kelurahan yang
dinilai dengan persentasi laporan yang selesai tertangani 65% dan pada Bulan
11
Januari dan Februari tahun 2017, Kelurahan Kelapa Dua menempati posisi 189
dari 263 Kelurahan yang dinilai dengan persentase laporan yang tertangani 47%.
Disamping masih ditemukannya ketidakoptimalan Kelurahan dalam
merespon pengaduan yang masuk dari masyarakat melalui Qlue, penggunaan
Aplikasi Qlue sebagai sarana pengaduan masyarakat masih belum termanfaatkan
dengan baik oleh warga DKI Jakarta, dimana di antaranya masih ditemukannya
masyarakat di DKI Jakarta yang belum mengetahui tentang layanan pengaduan
masyarakat melalui Qlue ini, hal ini sebagaimana yang dikatakan Laili Azka
Amelia Fadhilah, Warga Kebayoran Lama, "Qlue aplikasi dari Pemprov ? Tapi
nggak pernah ada informasi apa-apa soal itu" ([Link] Hal tersebut
juga dapat dilihat berdasarkan data dari PT. Qlue Performa Indonesia bahwa
pengguna Aplikasi Qlue di Provinsi DKI Jakarta sejak awal di rilis pada tahun
2014 sampai pada tahun 2016 memiliki 500 ribu pengguna, yang dimana apabila
dilihat dari jumlah seluruh penduduk di DKI Jakarta baru 5% warga DKI Jakarta
yang menggunakan aplikasi ini. Selain masih belum optimalnya pemanfaatan
layanan pengaduan melalui Qlue oleh seluruh warga DKI Jakarta, permasalahan
lainnya adalah berdasarkan observasi peneliti dari Playstore dan Appstore di
jumpainya pengguna yang mengeluhkan Aplikasi Qlue yang masih mengalami
bugg ataupun error.
Berdasarkan apa yang telah di paparkan, maka penulis mengangkat
penelitian ilmiah dengan judul ³,PSOHPHQWDVL e-Government melalui Qlue
GDODPSHQ\HOHQJJDUDDQOD\DQDQSHQJDGXDQPDV\DUDNDW´ untuk mencari tahu
bagaimana Implementasi e-Government melalui Qlue dalam penyelenggaraan
12
layanan pengaduan masyarakat di Dinas Komunikasi Informatika dan Statistik
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan Kelurahan Kelapa Dua. Dalam penelitian ini
pula penulis memberikan rekomendasi yang diharapkan dapat digunakan baik
dalam layanan pengaduan masyarakat melalui Qlue di Provinsi DKI Jakarta
ataupun program pemerintahan daerah lain yag berkaitan dengan layanan
pengaduan masyarakat melalui penerapan e-Government agar Pelayanan Publik
berjalan lebih baik dan mampu memberikan kepuasan pada masyarakat. Untuk
lebih lanjut mengenai ³,PSOHPHQWDVL e-Government melalui Qlue dalam
SHQ\HOHQJJDUDDQ OD\DQDQ SHQJDGXDQ PDV\DUDNDW´ (Studi pada Pemerintah
Provinsi DKI Jakarta dan Kelurahan Kelapa Dua) akan di bahas pada bab-bab
selanjutnya.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan sebelumnya, maka
rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Bagaimana implementasi e-Government melalui Qlue dalam
penyelenggaraan layanan pengaduan masyarakat ?
2. Faktor apakah yang mendukung dan menghambat implementasi e-
Government melalui Qlue dalam penyelenggaraan layanan pengaduan
masyarakat ?
13
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan dari penelitian ini
adalah sebagai berikut:
1. Mendeskripsikan dan menganalisis implementasi e-Government melalui
Qlue dalam penyelenggaraan layanan pengaduan masyarakat di Dinas
Komunikasi Informatika dan Statistik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta
dan Kelurahan Kelapa Dua, Jakarta Barat
2. Mendeskripsikan dan menganalisis faktor pendukung dan pengambat
dalam implementasi e-Government melalui Qlue dalam
penyelenggaraan layanan pengaduan masyarakat di Dinas Komunikasi
Informatika dan Statistik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan
Kelurahan Kelapa Dua, Jakarta Barat
D. Kontribusi Penelitian
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi positif
pada bidang akademis dan praktis sebagai berikut :
1. Kontribusi Akademis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi akademis
sebagaiberikut :
a. Bagi akademisi, penelitian ini diharapkan dapat memberikan
kontribusi bagi pengembangan Ilmu Administrasi Publik terutama
14
terkait dengan implementasi e-Government melalui Qlue dalam
penyelenggaraan layanan pengaduan masyarakat
b. Bagi peneliti lain, penelitian ini diharapkan dapat menjadi rujukan
dan sumber informasi untuk mengkaji bidang atau topik yang sama
demi pengembangan ilmu pengetahuan terkait Administrasi Publik,
yakni mengenai implementasi e-Government melalui Qlue dalam
penyelenggaraan layanan pengaduan masyarakat
2. Kontribusi Praktis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi praktis sebagai
berikut :
a. Bagi pemerintah penelitian ini diharapkan dapat memberikan
kontribusi pemikiran dari sudut akademis bagi pemerintah di semua
level pemerintahan dalam melaksanakan perannya sebagai pembuat
kebijakan atau program pembangunan, khususnya implementasi e-
Government melalui Qlue dalam penyelenggaraan layanan
pengaduan masyarakat
b. Bagi masyarakat penelitian ini diharapkan dapat memberikan
pengetahuan baru kepada masyarakat terkait dengan implementasi e-
Government melalui Qlue dalam penyelenggaraan layanan
pengaduan masyarakat. Dengan demikian, masyarakat dapat menjadi
pengawas dari kebijakan dan program tersebut.
15
E. Sistematika Penulisan
Adapun susunan dalam sistematika penelitiannya tertuang sebagai berikut :
BAB I : PENDAHULUAN
Berisikan tentang latar belakang masalah penelitian ini kemudian
terdapat rumusan masalah yang akan di bahas dalam penelitian
ini, tujuan dari penelitian, manfaat penelitian yang diharapkan dan
sistematika penulisan pada skripsi ini.
BAB II : TINJAUAN PUSTAKA
Pada bab ini diuraikan konsep dan teori yang menjadi landasan
dalam penelitian ini, diantaranya teori Administrasi Publik, teori
Pelayanan Publik, teori e-Government. konsep Aplikasi Qlue dan
konsep implementasi e-Government melalui Aplikasi Qlue
BAB III : METODE PENELITIAN
Pada bab ini menuliskan terkait dengan uraian metode penelitian
dan pendekatan yang digunakan peneliti, kemudian jenis
penelitian, fokus penelitian, lokasi dan situs penelitian, sumber
data, instrumen penelitian, teknik pengumpulan dan analisis data.
BAB IV : HASIL DAN PEMBAHASAN
Menguraikan mengenai gambaran umum, meliputi penyajian data
hasil penelitian dan pembahasan analisis data.
16
BAB V : PENUTUP
Menyajikan kesimpulan penelitian dan sejumlah saran mengenai
implementasi e-Government melalui Qlue dalam penyelenggaraan
layanan pengaduan masyarakat yang diperlukan sebagai
rekomendasi
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Admininistrasi Publik
1. Pengertian Administrasi Publik
Herbert A. Simon sebagaimana dikutip oleh Pasolong (2008:2)
mendefinisikan administrasi sebagai kegiatan-kegiatan kelompok kerjasama
untuk mencapai tujuan bersama. Sedangkan Dwight Waldo sebagaimana
dikutip oleh Pasolong (2008:3) mendefinisikan administrasi sebagai suatu daya
upaya yang kooperatif dengan tingkat rasionalitas yang tinggi. Berdasarkan dua
definisi tersebut maka administrasi dapat digambarkan sebagai suatu kegiatan
kerjasama yang dilaksanakan dengan kooperatif dan berdasarkan kesadaran
yang sama guna mewujudkan tujuan yang telah di sepakati bersama. Pasolong
(2008:3) menyatakan beberapa karakter administrasi, yakni sebagai berikut:
a. Efisien, artinya kegiatan administrasi dilakukan dengan
pertimbangan perbandingan terbaik antara hasil dan keluaran.
b. Efektifitas, artinya tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya dapat
tercapai karena adanya proses kegiatan
c. Rasional, artinya kegiatan yang dilakukan merupakan kegiatan yang
sadar dan terencana untuk mencapai manfaat atau maksud.
SedangNDQNDWDµSXEOLN¶PHQXUXW+*)UHGHULFNVRQVHEDJDLPDQDGLNXWLS
oleh Pasolong (2008:6) mendefinisikan publik dalam 4 perspektif, yaitu
a. Publik sebagai kelompok kepentingan
b. Publik sebagai pemilih rasional
17
18
c. Publik sebagai perwakilan kepentingan masyarakat
d. Publik sebagai warga negara
Jadi, bHUGDVDUNDQ GDUL NDWD µDGPLQLVWUDVL¶ GDQ µSXEOLN¶ PDND GDSDW
dipahami bahwa administrasi publik adalah upaya kerjasama yang dilakukan
oleh sekelompok orang atau lembaga dalam rangka menjalankan tugas-tugas
danfungsi pemerintahan untuk memenuhi kebutuhan publik secara efektif dan
efisien.
2. Ruang Lingkup Administrasi Publik
Pasolong (2008: 21) memberikan gambaran mengenai ruang lingkup
administrasi publik, yakni sebagai berikut:
a. Kebijakan publik, berkaitan dengan proses perumusan hingga
evaluasi kebijakan pemerintah
b. Birokrasi publik, yang berkaitan dengan model organisasi dan
perilaku organisasi.
c. Manajemen publik, yang berkaitan dengan sistem dan ilmu
manajemen, evaluasi program dan produktifitas, anggaran, dan
manajemen sumberdaya manusia
d. Kepemimpinan, yang berkaitan dengan gaya kepemimpinan dalam
pengelolaan organisasi dan kebijakan yang menekankan administrasi
sebagai suatu seni
e. Pelayanan publik, yang berkaitan dengan penyelenggaran kebutuhan
layanan kepada warga negara
f. Administrasi kepegawaian negara, yang berkaitan dengan
administrasi dan manajemen sumberdaya manusia, seperti :
g. Kinerja, yang berkaitan dengan produktifitas lembaga pemerintah
dalam implementasi tugas-tugas kepemerintahan
h. Etika administrasi publik, yang berkaitan dengan implementasi nilai,
etika, dan moral
Berdasarkan uraian di atas dapat di simpulkan bahwa administrasi
publik memiliki ruang lingkup yang dimana merupakan bagian dari aktivitas
19
dalam administrasi publik yang saling berkaitan satu dengan lainnya, yaitu :
Kebijakan Publik, Birokrasi Publik, Manajemen Publik, Kepemimpinan,
Pelayanan Publik, dan Administrasi Kepegawaian Negara
B. Pelayanan Publik
1. Pengertian Pelayanan Publik
Undang-Undang No. 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik
mendefinisikan Pelayanan Publik sebagai kegiatan atau rangkaian kegiatan
dalam rangka pemenuhan kebutuhan pelayanan sesuai dengan peraturan
perundang-undangan bagi setiap warga negara dan penduduk atas barang, jasa,
dan/atau pelayanan administratif yang disediakan oleh penyelenggara
Pelayanan Publik.
Pelayanan Publik menurut Roth (1996:1) didefinisikan sebagai layanan
yang tersedia untuk masyarakat, baik secara umum (seperti di museum) atau
secara khusus (seperti di restoran makanan).Sedangkan Lewis dan Gilman
(2005:22) mendefinisikan pelayanan publik sebagai kepercayaan publik.
Warga negara berharap pelayanan publik dapat melayani dengan kejujuran dan
pengelolaan sumber penghasilan secara tepat, dan dapat
dipertanggungjawabkan kepada publik. Pelayanan publik yang adil dan dapat
dipertanggung-jawabkan menghasilkan kepercayaan publik. Dibutuhkan etika
pelayanan publik sebagai pilar dan kepercayaan publik sebagai dasar untuk
mewujudkan pemerintah yang baik.
20
Terdapat empat unsur penting dalam proses pelayanan publik, yaitu
(Bharata, 2004:11):
a. Penyedia layanan, yaitu pihak yang dapat memberikan suatu layanan
tertentu kepada konsumen, baik berupa layanan dalam bentuk
penyediaan dan penyerahan barang (goods) atau jasa-jasa (services).
b. Penerima layanan, yaitu mereka yang disebut sebagai konsumen
(costomer) atau customer yang menerima berbagai layanan dari
penyedia layanan.
c. Jenis layanan, yaitu layanan yang dapat diberikan oleh penyedia
layanan kepada pihak yang membutuhkan layanan.
d. Kepuasan pelanggan, dalam memberikan layanan penyedia layanan
harus mengacu pada tujuan utama pelayanan, yaitu kepuasan
pelanggan. Hal ini sangat penting dilakukan karena tingkat kepuasan
yang diperoleh para pelanggan itu biasanya sangat berkaitan erat
dengan standar kualitas barang dan atau jasa yang mereka nikmati.
Ciri-ciri pelayanan publik yang baik (Kasmir, 2006:34) adalah memiliki
unsur-unsur sebagai berikut :
a. Tersedianya karyawan yang baik.
b. Tersedianya sarana dan prasarana yang baik.
c. Bertanggung jawab kepada setiap nasabah (pelanggan) sejak awal
hingga akhir.
d. Mampu melayani secara cepat dan tepat.
e. Mampu berkomunikasi.
f. Memberikan jaminan kerahasiaan setiap transaksi.
g. Memiliki pengetahuan dan kemampuan yang baik.
h. Berusaha memahami kebutuhan pelanggan.
i. Mampu memberikan kepercayaan kepada pelanggan.
21
2. Prinsip Penyelenggaraan Pelayanan Publik
Penyelenggaraan pelayanan publik juga harus memenuhi beberapa
prinsip pelayanan sebagaimana yang disebutkan dalam Kepmenpan No. 63
Tahun 2003 (Ratminto dan Winarsih, 2007:22) yang menyatakan bahwa
penyelenggaraan pelayanan publik harus memenuhi beberapa prinsip sebagai
berikut :
a. Kesederhanaan
Prosedur pelayanan publik tidak berbelit-belit, mudah dipahami dan
mudah dilaksanakan.
b. Kejelasan
Kejelasan ini mencakup kejelasan dalam hal :
1. Persyaratan teknis dan aministratif pelayanan publik.
2. Unit kerja / pejabat yang berwenang dan bertanggung jawab
dalam memberikan pelayanan dan penyelesaian
keluhan/persoalan/ sengketa dalam implementasi pelayanan
publik.
3. Rincian biaya pelayanan publik dan tata cara pembayaran.
c. Kepastian waktu
Implementasi pelayanan publik dapat diselesaikan dalam kurun
waktu yang telah ditentukan.
22
d. Akurasi
Produk pelayanan publik diterima dengan benar, tepat dan sah.
e. Keamanan
Proses dan produk pelayanan publik memberikan rasa aman dan
kepastian hukum.
f. Tanggung jawab
Pimpinan penyelenggara pelayanan publik atau pejabat yang
ditunjuk bertanggung jawab atas penyelenggaraan pelayanan dan
penyelesaian keluhan/persoalan dalam implementasi pelayanan
publik.
g. Kelengkapan sarana dan prasarana
Tersedianya sarana dan prasarana kerja, peralatan kerja dan
pendukung lainnya yang memadai termasuk penyediaan sarana
teknologi telekomunikasi dan informatika (telematika).
h. Kemudahan akses
Tempat dan lokasi serta sarana pelayanan yang memadai, mudah
dijangkau oleh masyarakat, dan dapat memanfaatkan teknologi
telekomunikasi dan informatika.
23
i. Kedisplinan, kesopanan dan keramahan
Pemberi pelayanan harus bersikap disiplin, sopan dan santun, ramah,
serta memberikan pelayanan dengan ikhlas.
j. Kenyamanan
Lingkungan pelayanan harus tertib, teratur, disediakan ruang tunggu
yang nyaman, bersih, rapi, lingkungan yang indah dan sehat serta
dilengkapi dengan fasilitas pendukung pelayanan, seperti parkir,
toilet, tempat ibadah dan lain-lain.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pelayanan publik adalah
bentuk pelayanan yang dilakukan oleh pemerintah baik yang berupa barang
maupun jasa guna memenuhi kebutuhan masyarakat ataupun dalam rangka
implementasi peraturan perundang-undangan dengan berpedoman pada asas
dan prinsip pelayanan.
3. New Public Service
Denhardt & Denhardt (2003:5-43) mengemukakan bahwa pelayanan
publik telah mengalami pergeseran paradigma, dari model administrasi publik
lama (Old Public Administration) menjadi manajemen publik baru (New
Public Management) dan akhirnya menjadi model pelayanan publik baru (New
Public Service). Paradigma ini lahir dari kritik dua paradigma sebelumnya,
yang menghendaki adanya pergeseran peran pemerintah pada konteks
Government menjadi Governance. Kita dapat mendefinisikan governance
24
sebagai keterlibatan dari otoritas publik. Kata pemerintahan acap kali
digunakan merujuk pada struktur dan institusi pemerintahan. Adapun
governance cenderung diartikan menjadi bagaimana otoritas publik dilibatkan,
bagaimana warga negara diberi suara, serta bagaimana kebijakan dibuat
berdasarkan pada isu-isu yang menjadi konsentrasi dari publik.
Jika pada paradigma Old Public Administration (OPA) mengedepankan
sisi politik, paradigma New Public Management (NPM) mengedepankan sisi
ekonomi, maka paradigma New Public Service mengedepankan pada sisi
demokrasi. Masyarakat, tidak dilihat sebagai sesuatu yang harus dikuasai
secara politis, atau dilihat sebagai konsumen yang harus dilayani berdasar
kemampuan ekonominya. Namun, masyarakat dilihat sebagai citizenship, yaitu
sebagai masyarakat yang harus dilayani tanpa harus dibedakan. Dasar teori
NPS adalah tentang Citizenship, Komunitas, Civil Society dan organisasi yang
berkemanusiaan. Seperti yang dikatakan oleh Denhart & Denhart (2007 : 45)
³Theorists of citizenship, community and civil society, organizational
humanism and the new public administration, and postmodernism have
helped to establish a climate in which it makes sense today to talk about
a New Public Service. Though we aknowledge that differences, even
substantial differences, exist in these various viewpoints, we would
suggest there are also similarities that distinguish the cluster of ideas
we call the New Public Service from those associated with the New
Public Management and the Old Public Administration´
Mengurai prinsip NPS seperti pendapat Denhart & Denhart di atas, Sri
Yuliani (2007: 3-4) menjelaskan tentang prinsip Serve Citizen, not Costumers
sebagai berikut :
25
³Dalam New Public Management, masyarakat pengguna jasa publik
GLVDPDNDQ GHQJDQ µcustomer¶ Vebagaimana istilah dunia bisnis untuk
menyebut pengguna produknya. Customer adalah konsep dalam teori
ekonomi liberal yang memahami manusia sebagai µHFRQRPLF PDQ¶
(makhluk ekonomi) yang tindakannya dimotivasi oleh dorongan untuk
memaksimalkan pemenuhan kebutuhan [Link] dilihat
sebagai individu yang dapat mengambil keputusan secara otonom dan
suka [Link] Public Management berpendapat pemerintahan yang
digerakkan oleh customer-driven menekankan akuntabilitas, inovasi,
pilihan pada pelayanan, dan pengurangan pemborosan, karena itu lebih
unggul dibanding pemerintahan birokratis. Tujuan utama administrasi
publik adalah memberikan pelayanan dengan kualitas terbaik sehingga
memuaskan customer sebagaimana dunia bisnis´
Melalui penjelasan tersebut dapat kita lihat bahwa pada dasarnya New
Public Service memandang publik sebagai µFLWL]HQ¶ atau warga negara yang
mempunyai hak dan kewajiban publik yang sama. Tidak hanya sebagai
customer yang dilihat dari kemampuannya membeli atau membayar produk
atau jasa. Citizen adalah penerima dan pengguna pelayanan publik yang di
sediakan pemerintah dan sekaligus juga subyek dari berbagai kewajiban publik
seperti mematuhi peraturan perundang-undangan, membayar pajak , membela
Negara, dan sebagainya. New Public Service melihat publik sebagai warga
negara yang mempunyai hak dan kewajiban dalam komunitas yang lebih
[Link] unsur paksaan dalam mematuhi kewajiban publik menjadikan
relasi Negara dan publik tidak bersifat sukarela.
Adapun tentang prinsip kedua menurut Denhart & Denhart (2007 :65)
yaitu Seeks the Public Interest atau mengutamakan kepentingan publik, Sri
Yuliani (2007 : 5) berpendapat :
³New Public Management melihat publik sebagai terdiri dari individu-
individu yang dapat membuat keputusan berdasarkan kepentingan
pribadinya. Pilihan atau keinginan individu lebih utama dibanding
26
pilihan atau keinginan kolekstif. Karena itu tanggungjawab administrasi
berkenaan dengan kepentingan publik menjadi tidak relevan dalam New
Public Management. Menurut paradigma yang terinspirasi oleh teori
pilihan publik ini, ³SXEOLF LQWHUHVW´ sebagai konsep atau suatu yang
ideal menjadi tidak bermakna, karena dalam ranah pasar , pilihan
individu lebih utama daripada tindakan kolektif yang berlandaskan
nilai-nilai bersama. Asumsi bahwa kepentingan pribadi merupakan
basis paling tepat bagi pengambilan keputusan membuat kepentingan
publik menjadi tidak relevan dan tidak mungkin untuk dirumuskan´
Sedangkan prinsip ketiga NPS seperti yang dirumuskan Denhart &
Denhart (2007:83) yaitu Value Citizenship over Entrepreneurship atau
Kewarganegaraan lebih berharga daripada kewirausahaan. Sri Yuliani (2007:5)
menjelaskan sebagai berikut :
³Prinsip ini berimplikasi pada peran pemerintah dan relasinya dengan
masyarakat. Peran pemerintah di masa lalu lebih bersifat mengarahkan
masyarakat melalui fungsi-fungsi yang bersifat langsung dan
pengendalian seperti fungsi pengaturan atau regulasi, pemberian
layanan, menetapkan aturan dan insentif. Kehidupan masyarakat
modern yang makin kompleks menuntut peran pemerintah bergeser dari
fungsi controlling ke agenda setting, fasilitasi, negosiasi atau
³brokering´VROXVLXQWXNPHPHFDKNDQSUREOHP-problem publiN´
Prinsip berikutnya yaitu Think Strategically, Act Democratically atau
Berpikir strategis bertindak demokratis, dijelaskan oleh Denhart&Denhart
(2007: 103) yaitu Policies and programs meeting public needs can be most
effectively and responsibly achieved through collective efforts and
collaborative processes. Hal ini berarti usaha kolektif dan proses yang
kolaboratif akan membuat kebijakan dan program yang dibuat untuk menjawab
kebutuhan publik akan lebih efektif dan efisien.
Selanjutnya prinsip RecognizH WKDW $FFRXQWDELOLW\ ,VQ¶W 6LPSOH atau
berfikir strategis bertindak demokratis, dijelaskan oleh Denhart & Denhart
27
(2007:43) yaitu :Policies and programs meeting public needs can be most
effectively and responsibly achieved through collective efforts and
collaborative processes. Hal ini berarti usaha kolektif dan proses yang
kolaboratif akan membuat kebijakan dan program yang dibuat untuk menjawab
kebutuhan publik akan lebih efektif dan efisien.
Selanjutnya prinsip 5HFRJQL]H WKDW $FFRXQWDELOLW\ ,VQ¶W 6LPSOe yaitu
tahu bahwa akuntabilitas bukan hal sederhana. Sri Yuliani (6 :2007)
mengatakan :
³Aparatur publik harus mengutamakan ketaatan pada konstitusi,hukum,
nilai masyarakat, nilai politik, standard profesional, dan kepentingan
warga negara. Pertanggungjawaban administrasi publik dalam
Administrasi Negara Lama bersifat hirarkis dan legal. Administrator
tidak boleh banyak melakukan diskresi. Mereka hanya melaksanakan
kebijakan ,aturan atau petunjuk yang telah digariskan atasan atau
pejabat yang dipilih secara politis. Karena akuntabilitas dimaksudkan
untuk menjamin bahwa administrator mematuhi standard dan
peraturan/prosedur implementasiyaitu tahu bahwa akuntabilitas bukan
hal [Link] publik harus mengutamakan ketaatan pada
konstitusi,hukum, nilai masyarakat, nilai politik, standard profesional,
dan kepentingan warga negara. Pertanggungjawaban administrasi
publik dalam Administrasi Negara Lama bersifat hirarkis dan legal.
Administrator tidak boleh banyak melakukan diskresi. Mereka hanya
melaksanakan kebijakan ,aturan atau petunjuk yang telah digariskan
atasan atau pejabat yang dipilih secara politis. Karena akuntabilitas
dimaksudkan untuk menjamin bahwa administrator mematuhi standard
dan peraturan/prosedur implementasi´
Serve rather than Steer, adalah prinsip keenam menurut Denhart &
Denhart (2007:43). Prinsip ini berarti administrator diharapkan lebih
berpandangan untuk melayani ketimbang mengarahkan. Sri Yuliani
mengatakan (2007:7) :
28
³Aparatur publik dituntut menerapkan kepemimpinan yang
berlandaskan nilai kebersamaan dalam membantu warga negara
mengartikulasikan dan memenuhi kepentingan bersama bukan sekedar
mengendalikan atau mengarahkan masyarakat menuju arah/tujuan baru´
Adapun prinsip ketujuh atau terakhir adalah Value People, Not Just
Productivity, yang berarti menghargai manusia, lebih dari sekedar
produktifitas. Denhart&Denhart (2007:43) mengatakan Public organizations
and the networks in which they participate are more likely to be successful in
the long run if they are operated through processes of collaboration and
shared leadership based on respect for all people. Terkait prinsip ini Sri
Yuliani (2007: 8-9) mengatakan :
³Organisasi publik dan jaringannya akan lebih berhasil dalam jangka
panjang jikamereka beroperasi melalui proses kolaborasi dan
kepemimpinan bersama berlandaskanpenghormatan pada semua
[Link] Negara Lama memandang penting nilai ekonomi
dan [Link], orang tidak akan produktif dan mau bekerja
keras jika tidak dipaksa untukberbuat demikian´
Menyimak prinsip-prinsip New Public Service sebagaimana yang telah
di jelaskan disimpulkan bahwa pada intinya Dernhard dan Dernhard ingin
memunculkan ide-ide yang melawan model arusutama dalam teori administrasi
publik yang sangat pro-pasar. Bagaimanapun organisasi publik mempunyai
UDLVRQG¶HWUH yang jelas berbeda dengan organisasi bisnis, sehingga tidak bisa
dikendalikan seolah-olah lembaga bisnis. Ada nilai yang lebih penting daripada
sekedar nilai ekonomi, yang harus diwujudkan organisasi publik. Sifat danmisi
publik (publicness) dari administrasi publik adalah melayani Citizen
yaknimasyarakat sebagai warga Negara, sebagai manusia yang mempunyai hak
29
dan kewajiban publik yang sama terlepas dari identitas dan kapasitas sosial,
politik maupun ekonomi.
C. Electronic Government
1. Pengertian Electronic Government
Pemerintah memiliki kewajiban memberikan pelayanan publik yang
berkualitas kepada seluruh warga negara, sehingga dalam rangka
melaksanakan kewajibannya itu, pemerintah berusaha memperbaiki
pelayanannya, dengan menggunakan teknologi informasi yang sesuai dengan
kebutuhan organisasi yang mampu mengelola data dengan cepat, efektif, dan
efisien serta menghasilkan informasi yang tepat, cepat dan akurat. Dalam
memenuhi kebutuhan tersebut pemerintah mengembangkan pelayanan berbasis
elektronik (e-Government).Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai konsep e-
Government, maka akandiuraikan definisi definisi yang terkait dengan e-
Government.
E-Government secara singkat merupakan penerapan teknologi
informasidan komunikasi untuk sektor publik agar menjadi lebih baik.
Kemudian, sejumlah lembaga internasional telah mengemukakan penjelasan
mengenai e-Government. Definisi e-Government menurut PBB (Perserikatan
Bangsa-Bangsa) dalam Indrajit (2006 : 6) adalah penggunaan teknologi
informasi dan komunikasi (TIK) dan penerapannya oleh pemerintah untuk
menyediakan informasi dan layanan publik kepada masyarakat. Definisi e-
Government menurut UNDP dalam Indrajit (2006 : 6) adalah penggunaan
30
teknologi informasi dan komunikasi (Information and Communication
Technology) oleh pihak pemerintahan.
Instruksi Presiden No. 3 Tahun 2003 tentang Kebijakan dan Strategi
Nasional Pengembangan e-Government menjelaskan bahwa pengembangan e-
government merupakan upaya untuk mengembangkan penyelenggaraan
kepemerintahan yang berbasis (menggunakan) elektronik dalam rangka
meningkatkan kualitas layanan publik secara efektif dan efisien. Melalui
pengembangan e-Government dilakukan penataan sistem manajemen dan
proseskerja di lingkungan pemerintah dengan mengoptimasikan pemanfaatan
teknologi informasi.
Dari beberapa definisi yang dijelaskan sebelumnya, maka dapat
dikatakan bahwa e-Government merupakan penerapan teknologi informasi dan
komunikasi serta sistem informasi dalam suatu pemerintahan. e-Government
merupakan sarana atau alat untuk mencapai suatu tujuan, yaitu menuju
perbaikan atau pertumbuhan ekonomi yang signifikan secara cepat, pencapaian
efisiensi kerja pemerintahdalam waktu singkat, dan pembentukan mekanisme
pemerintahan yang bersih dantransparan. Penyelenggaraan layanan pengaduan
masyarakat melalui Qlue merupakan salah satu bentuk pengaplikasian e-
Government untuk memberikan kemudahan akses bagi masyarakat untuk
memberikan pengaduan bagi masyarakat kepada Pemerintah Provinsi DKI
Jakarta dan dapat dipantau secara transparan progress tindaklanjutnya.
31
2. Manfaat dan Tujuan Electronic Government
Menurut Al Gore dan Tony Blair, menggambarkan manfaat yang
diperoleh dengan diterapkannya konsep e-Government bagi suatu negara,
antara lain:
a. Memperbaiki kualitas pelayanan pemerintah kepada para
stakeholder-nya (masyarakat, kalangan bisnis, dan industri) terutama
dalam hal kinerja efektivitas dan efisiensi di berbagai bidang
kehidupan bernegara
b. Meningkatkan transparansi, kontrol, dan akuntabilitas
penyelenggaraan pemerintahan dalam rangka penerapan konsep
Good Corporate Governance
c. Mengurangi secara signifikan total biaya administrasi, relasi, dan
interaksi yang dikeluarkan pemerintah maupun stakeholdernya untuk
keperluan aktivitas sehari-hari; Memberikan peluang bagi
pemerintah untuk mendapatkan sumber-sumber pendapatan baru
melalui interaksinya dengan pihak-pihak yang berkepentingan
d. Menciptakan suatu lingkungan masyarakat baru yang dapat secara
cepat dan tepat menjawab berbagai permasalahan yang dihadapi
sejalan dengan berbagai perubahan global dan trend yang ada
e. Memberdayakan masyarakat dan pihak-pihak lain sebagai mitra
pemerintah dalam proses pengambilan berbagai kebijakan publik
secara merata dan demokratis.
Pengadopsian konsep e-Government telah banyak digunakan dan
dimanfaatkan berbagai instansi pemerintahan di Indonesia mulai dari tingkat
pusat sampai daerah. Pada berbagai instansi pemeritah yang telah menerapkan
dan mengadopsi electronic goverment tersebut memiliki tujuan yang ingin di
capai. Berdasarkan Instruksi Presiden No.3 tahun 2003 tentang Kebijakan dan
Strategi Nasional Pengembangan e-Government, tujuan electronic government
yaitu :
a. Pembentukan jaringan informasi dan transaksi pelayanan publik
yang memiliki kualitas dan lingkup yang dapat memuaskan
masyarakat luas serta dapat terjangkau diseluruh wilayah Indonesia
32
pada setiap saat tidak terbatas oleh sekat waktu dan dengan biaya
yang terjangkau
b. Pembentukan hubungan interaktir dengan dunia usaha untuk
meningkatkan perkembangan perekonomian nasional dan
memperkuat kemampuan menghadapi perubahan dan persaingan
perdagangan internasional.
c. Pembentukan mekanisme dan saluran komunikasi dengan lembaga-
lembaga negara serta penyediaan fasilitas dialog publik bagi
masyarakat agar dapat berpartisipasi dalam perumusan kebijakan
negara
d. Pembentukan sisrem manajemen dan proses kerja yang transparan
dan efisien serta memperlancar transaksi dan layanan antar lembaga
pemerintahan dan pemerintah daerah otonom
3. Tipe-tipe Relasi dalam Electronic Government
Di dalam electronic government dikenal empat jenis klasifikasi
(Indrajit, 2006:27-29) yang dimana keempat klasifikasi tersebut sebagai berikut
a. Government to Citizens
Pada tipe ini pemerintahmembangun dan menerapkan berbagai
pemanfaatn teknologi informasi dengan tujuan utamauntuk
memperbaiki hubungan interaksi dengan masyarakat (rakyat). Dapat
di katakan tipe G-to-C adalah untuk mendekatkanpemerintah dengan
rakyatnya melalui kanal-kanal akses yang beragam agar
masyarakatdapat dengan mudah menjangkau pemerintahnya untuk
pemenuhan berbagai kebutuhanpelayanan sehari-hari.
b. Government to Business
Suatu pemerintahan perlu membangun sebuah lingkungan bisnis
yang aman dan terkendali hal ini di perlukan guna roda
perekenomian sebuah negara dapat senantiasa berjalan dengan baik.
33
Dalam aktivitas bisnis di sebuah negara, perusahaan seringkali
membutuhkan banyak informasi-informasi yang perlu digali sebagai
bahan pengambilan kebijakan bisnisnya yang dimana informasi
tersebut secara dominan oleh pemerintah. Disamping itu, perusahaan
perlu membangun komunikasi yang baik dengan berbagai badan
negara agar terciptanya kepastian hak dan kewajiban mereka sebagai
pelaku usaha yang bergerak di negara tersebut. Relasi di antara
pemerintah dan kalangan usaha sangat diperlukan demi
terbangunnya keuntungan di antara kedua belah pihak
c. Government to Governments
Terbangunnya interaksi yang aktif antar sebuah pemerintahan sangat
diperlukan. Selain interaksi seputar hal-hal yang sifatnya diplomasi,
namun lebih dari itu yakni untuk meningkatkan kerjasama antar
negara dan kerjasama antar entitas negara (masyarakat, industri,
perusahaan, dan lain-lain) dalam menyelenggarakan hal-hal yang
berkaitan dengan administrasi perdagangan, proses-proses
politik,mekanisme hubungan sosial dan budaya, dan lain sebagainya.
d. Government to Employees
Aplikasi e-Government juga diperuntukkan untuk meningkatkan
kinerja dankesejahteraan para pegawai negeri atau karyawan
pemerintahan yang bekerja di sejumlahinstitusi sebagai pelayan
masyarakat.
34
Dalam implementasi e-Government melalui Qlue dalam penyelenggaraan
layanan pengaduan masyarakat yaitu Government to Citizens (G2C). Bentuk
relasi dimana Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menggunakan Qlue sebagai
kanal pengaduannya melalui pemanfaatan TIK yaitu untuk meningkatkan
komunikasi dan peran seta masyarakatnya atas pembangunan dan pelayanan
publik
4. Elemen Sukses Pengembangan E-Government
Menurut hasil kajian dan riset dari Harvard JFK School of Government
(dalam Indrajit 2006:13), untuk menerapkankonsep-konsep digitalisasi pada
sektor publik, ada tiga elemen sukses yang harus dimiliki dandiperhatikan
dengan cermat. Masing-masing elemen sukses tersebut adalah:
Support,Capacity, dan [Link] antara elemen sukses tersebut ialah :
a. Support
Elemen pertama dan paling penting yang harus dimiliki oleh
pemerintah adalah keinginan(intent) dari berbagai kalangan pejabat publik
dan politik untuk benar-benar menerapkankonsep e-Government, bukan
hanya sekedar mengikuti perubahan zaman ataupun apa yang menjadi trend
namun berkaitan dengan prinsip-prinsip e-Government. Indrajit (2006:13)
menyatakan bahwa dukungan dalam implementasi e-Government perlu
mendapat dukungan penuh dan lebih dari sekedar omongan belaka,
dukungan yang di harapkan adalah sebagai berikut :
35
1. Kepemimpinan, Indrajit (2006:13) mengatakan berbagai inisiatif e-
Government tDQSD DGDQ\D XQVXU ³political will´ LQL EHUEDJDL
pelaksanaan dan pengembangan e-Government dapat berjalan
dengan baik dan sebagaimana yang diharaplan. Lebih lanjut lagi hal
ini dikarenakan fenomena yang ada dalam budaya birokrasi
FHQGHUXQJ EHNHUMD EHUGDVDUNDQ PRGHO PDQDMHPHQ³top down´
terlebih apabila dikaitkan dengan Qlue, inisiatif layanan pengaduan
tersebut lahir dari inisiatif Gubernur DKI Jakarta dan di laksanakan
oleh aparatur yang dibawahnya yakni Kelurahan dan dibantu dengan
SKPD lainnya. Maka dapat dipastikan dukungan implementasi e-
Government yang efektif harus dimulai dari para pimpinan
pemerintahan yang berada pada level tertinggi sebelum merambat ke
level-level di bawahnya
2. Dialokasikannya sejumlah sumber daya (manusia, finansial, tenaga,
waktu, informasi, dan lain-lain) di setiap tataran pemerintahan untuk
membangun konsep ini dengan semangat lintas sektoral
3. Dibangunnya berbagai infrastruktur dan superstruktur pendukung
agar tercipta lingkungan kondusif untuk mengembangkan e-
Government (seperti adanya Undang- Undang dan Peraturan
Pemerintah yang jelas, ditugaskannya lembaga-lembaga khusus,
misalnya kantor e-Envoy sebagai penanggung jawab utama)
4. Disosialisasikannya konsep e-Government secara merata, kontinyu,
konsisten, dan menyeluruh kepada seluruh kalangan birokrat secara
36
khusus dan masyarakat secara umum melalui berbagai cara
kampanye yang simpatik.
b. Capacity
Pada elemen kedua ini adalah adanya unsur kemampuan ataukeberdayaan
GDUL SHPHULQWDK VHWHPSDW GDODP PHZXMXGNDQ ³LPSLDQ´ terselenggaranya
inisiatif pemanfaatne-Government agar menjadi kenyataan. Ada tiga hal
minimum yang harus dimiliki oleh pemerintahsehubungan dengan elemen
ini, yaitu:
1. Ketersediaan sumber daya yang cukup untuk melaksanakan berbagai
inisiatif e-Government, terutama yang berkaitan dengan sumber daya
finansial
2. Ketersedaan infrastruktur teknologi informasi yang memadai karena
fasilitas inimerupakan 50% dari kunci keberhasilan penerapan
konsep e-Government
3. Ketersediaan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi dan
keahlian yang dibutuhkan agar penerapan e-Government dapat sesuai
dengan asas manfaat yangdiharapkan.
[Link]
Elemen pertama dan kedua adalah aspek-aspek yang ditinjau dari sisi
pemerintah sebagai pihak yang memberi jasa (supply side). Berbagai inisiatif
penerapan e-Government tidak akan ada gunanya jika tidak ada pihak yang
merasa diuntungkan dengan adanya implementasi konsep tersebut. Bukanlah
kalangan pemerintah sendiri yang merasakanmelainkan masyarakat sebagai
pihak yang berkepentingan (demand side). Perlu adanya sebuah kejelian dari
pemerintah dalam memilih prioritas jenis aplikasi e-Government apa saja yang
37
harus di dahulukan pembangunannya agar benar-benar memberikan value
(manfaat) yang secarasignifikan dirasakan oleh masyarakatnya.
Kolaborasi di antara antara ketiga elemen tersebut sebagaimana yang
telah di jelaskan di atas akan membentuk sebuah nexus ataupusat syaraf
jaringan e-Government yang akan menentukan kunci dari sebuah kesuksesan
yang utama dalam keberhasilan. Dengan kata lain, pengalaman
memperlihatkan bahwa jika elemen yang menjadi fokus sebuah pemerintah
yang berusaha menerapkan konsep e-Government beradadi luar area tersebut
(ketiga elemen pembentuk nexus) tersebut, maka probabilitas kegagalan
proyek tersebut akan tinggi.
5. Faktor dalam penerapan implementasi Electronic Government
Dewasa ini, Pemerintahan berbasis elektronik atau e-Government
menemui berbagai masalah, dinamika masalah tersebut terdiri dari beberapa
masalah yang menjadi tantangan dan juga menjadi pendorong
keberlangsungannya. Berdasarkan hasil kajian Lembaga Administrasi Negara
pada tahun 2009 ([Link] dalam kajian ini terdapat
beberapa hal penting yang menjadi faktor pendorong dalam penerapan e-
Government di Indonesia di antaranya sebagai berikut :
a. Komitmen dan dukungan pimpinan
Komitmen dan dukungan dari pimpinan (leadership commitment and
support) menjadi indikator penting bagi keberhasilan penerapan e-Government
di Indonesia. Secara teori indikator ini memberikan kepastian terhadap
38
kepemimpinan unggul dan kapabel, menjamin hubungan antar satuan kerja
yang sinergis dan terencana, kepastian penganggaran, realisasi, operasi, dan
evaluasi implementasi sistem Teknologi Informasi dan Komunikasi.
Manifestasi atas dukungan kepemimpinan secara faktual belum
bervariasi namun banyak yang berinovasi dalam pengambilan keputusan untuk
mengembangkan e-Government di daerah, antara lain dalam hal : dukungan
kebijakan yang kuat melalui pembuatan masterplan/blueprint penerapan e-
Government, pengadaan unit khusus, dukungan infrastruktur yang memadai,
dukungan penganggaran yang besar, dan berbagai inisiatif yang inovatif yang
justru menjadi best practise yang dapat dipakai oleh daerah lain.
b. SDM dan Budaya Kerja
Di dalam sistem audit yang menggunakan konsep COBIT, salah satu
indikator terpenting dari keberhasilan penyelenggaraan e-Government adalah
budaya kerja TI dan ketersediaan SDM IT yang memadai. Budaya kerja
berperan untuk memastikan adanya gaya manajemen pemerintah yang lebih
IOHNVLEHO WLGDN FHQGHUXQJ ³management by mandate and rule´ DUWLQ\D
sesorang akan bergerak setelah mendapatkan mandat dari atasannya), selalu
beradaptasi dengan berbagai perubahan kebutuhan para pelanggan, baik yang
berasal dari kalangan birokrat sendiri (internal) maupun dari luar lembaga
pemerintahan (eksternal).
Kunci sukses manajemen dengan gaya fleksibel ini terletak pada
kemampuan para birokrat bekerja secara tim (teamwork). Namun, dalam kajian
39
ini, berbagai parameter tersebut tidak diungkap secara mendalam, kajian ini
lebih banyak menyoroti IT minded untuk memastikaan terbentuknya suasana
kerja yang paperless dimana sejauh mungkin penggunaan kertas dikurangi,
penyampaian pesan langsung melalui SMS gateway, running text di TV lokal
dan aplikasi chatting. Selain budaya kerja yang dibutuhkan untuk menjamin
kesuksesan dari penerapan e-Government, hal lain adalah ketersediaan SDM
TI. Untuk hal ini, hampir semua daerah memiliki keterbatasan. Untuk
mengatasi hal ini sebagian besar daerah men-training stafnya untuk mengikuti
pelatihan teknis dalam meningkatkan kompetensinya.
Adapun tantangan dalam implementasi E-Government yang dapat
menjadi hambatan jika tidak di kajiberdasarkan hasil studi sejumlah praktisi e-
Government (dalam Indrajit, 2006:16) di berbagai negara, secara pokok ada 3
(tiga) tantangan terbesar yang di hadapi oleh pemerintah maupun masyarakat
dalam mengembangkan konsep e-Government di negaranya masing-masing,
yaitu:
1. Tantangan yang berkaitan dengan cara menciptakan dan menentukan
kanal-kanal akses digital (maupun elektronik) yang dapat secara efektif
dipergunakan oleh masyarakat maupun pemerintah
2. Tantangan yang berkaitan dengan keterlibatan lembaga-lembaga lain di
luar pemerintah (pihak komersial swasta maupun pihak-pihak non
komersial lainnya) dalam mengembangkan infrastruktur maupun
superstruktur e-Government yang dibutuhkan
3. Tantangan yang berkaitan dengan penyusunan strategi institusi terutama
yang berkaitan dengan masalah biaya investasi dan operasional
sehingga program manajemen perubahan e-Government ini dapat
berjalan dengan lancar sesuai dengan yang di inginkan.
40
D. Electronic Complaint
a. Pengertian Electronic Complaint
Dalam setiap pelayanan terlepas apakah pelayan tersebut di jalankan
dengan baik atau tidak, pasti ada rasa tidak puas dari pengguna layanan
(masyarakat). Masyarakat yang tidak puas akan pelayanan yang diterimanya
akan memberikan feedback berupa keluhan atas apa yang dirasakannya.
Keluhan-keluhan dari masyarakat yang masuk perlu mendapat tanggapan
dengan cermat oleh organisasi sehingga dapat menjadi bahan perbaikan atas
pelayanan yang diberikan.
Menurut Reiboldt (2003), keluhan publik merupakan ungkapan yang
disebabkan oleh adanya ketidakpuasan publik atas suatu produk atau suatu
pelayanan. Meski demikian tidak setiap ketidakpuasan akan diungkap dengan
suatu keluhan. Pelanggan akan mengungkapkan keluhan manakala merasa
bahwa keluhan yang disampaikan mendapatkan tanggapan yang positif dan
tidak banyak menyita waktu serta biaya. Sebaliknya jika mekanisme
penanganan keluhan tidak praktis, pelanggan akan lebih memilih untuk tidak
mengungkapkan keluhannya (Suryadi, 2010:294). e-complaint hadir sebagai
sebuah media dalam menyampaikan keluhan berbasis online dalam rangka
memberikan kemudahan, sebagaimana yang di katakan Ferd (2008), electronic
complaint merupakan transformasi dari penjaringan aspirasi publik yang di
tangkap melalui media digital. Hikmawan (2009) menyebutkan bahwa sudah
saatnya pemerintah beradaptasi akan kemajuan TI dengan turut mengadopsi
sistem pengaduan berbasis elektronik. (Suryadi, 2010 : 300)
41
b. Prinsip Penyeleggaraan Electronic Complaint
Penanganan pengaduan melalui e-Complaint pada dasarnya adalah kegiatan
penyaluran pengaduan, pemrosesan respon atas pengaduan tersebut, umpan
balik, dan laporan penanganan pengaduan. Rangkaian kegiatan ini memiliki
elemen-elemen sebagai berikut (BAPPNENAS, 2010):
1. Sumber atau asal pengaduan
Adalah masyarakat, baik secara individu maupun kelompok, dimana
keluhan atau pengaduan berasal. Patut ditekankan disini bahwa jumlah
pengadu tidak terbatas. Sangat mungkin terjadi bahwa suatu pengaduan atas
permasalahan disampaikan oleh tokoh masyarakat, Lembaga Swadaya
Masyarakat (LSM) lokal, pers atau kelompok masyarakat lainnya.
Pengaduan masyarakat disuarakan secara formal, namun terkadang hanya
menjadi bahan gunjingan di antara mereka.
2. Isi pengaduan
Adalah permasalahan yang di adukan pihak pengadu. Keluhan dapat
menyangkut berbagai macam hal, seperti kesalahan prosedur, kesalah sikap
staff manajemen, kualitas pelayanan dan sebagainya.
3. Unit penanganan pengaduan
Adalah satuan yang disediakan oleh setiap unit institusi untuk mengelola
dan menangani pengaduan yang berasal dari manapun dan melalui saluran
manapun. Hasil olahan dari unit ini adalah respon pengaduan.
42
4. Respon pengaduan
Adalah respon yang dihasilkan dari unit penanganan pengaduan di masing-
masing institusi yang terkait dengan berbagai macam pengaduan. Respon ini
kemudian disampaikan kepada pihak pengadu.
5. Umpan balik
Adalah penilaian pengadu atas respon atau jawaban masing-masing institusi
mengenai permasalahan yang mereka ajukan.
6. Laporan penanganan pengaduan
Sesudah umpan balik dari pilihan yang mengajukan komplain diterima,
maka unit penanganan pengaduan wajib membuat laporan tentang
pengaduan dan penanganan pengaduan tersebut, termasuk umpan balik dari
pihak yang mengadu.
E. Konsep Aplikasi Qlue
a. Selayang Pandang Aplikasi Qlue
Aplikasi Qlue merupakan Aplikasi yang dikembangkan oleh PT. Qlue
Performa Indonesia dan bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi DKI
Jakarta. Aplikasi Qlue merupakan layanan pengaduan masyarakat berbasis
smartphone dengan sistem operasi Android dan IOS berbasis Geo-tagging
yang dimana melalui sistem Geo-tagging ini pengguna harus menyalakan fitur
Global Potitioning System (GPS) agar dapat mengakses aplikasi ini. Aplikasi
ini diberi nama Qlue yang artinya jalan keluar, namun lalu diplesetkan menjadi
"keluhan". Aplikasi Qluedapat diinstal/pasang di smartphone dengan
43
mengunduhnya (download) melalui Google Playstore atau Appstore. Untuk
spek teknis handphone lebih disarankan untuk menggunakan handphone
dengan ukuran layar >4 inch dan RAM >1 [Link] OS (Operating System)
minimum yang disarankan adalah 4.2 (Jellybean).
Melalui Aplikasi ini masyarakat dapat melaporkan segala keluhan di
dalam penyelenggaraan Pelayanan Publik dan pembangunan daerah. Adapun
topik/kategori yang di sediakan oleh aplikasi Qlue adalah : kemacetan, sampah,
bencana banjir, pelanggaran, kebakaran, jalan Rusak, pengemis, kaki lima liar,
kriminal, lampu jalan rusak, pohon tumbang, fasilitas umum, parkir liar,
pelanggaran izin bangunan, kawasan dilarang merokok, iklan tidak berizin,
makanan non hygienis, laporan trans jakarta, potensi teroris, fogging DBD,
narkoba, pajak kos-kosan, pencegahan banjir, RPTRA, lansia hilang dan
pelanggaran pemilu.
Setelah memberikan laporannya, pengguna akan mendapat indikator
warna atas tindak lanjut laporan yang diberikannya, dimana warna merah
adalah masih menunggu, warna kuning berarti sedang dalam proses dan warna
hijau tandanya telah selesai menangani keluhan yang telah di laporkan.
b. Jumlah Pengguna dan Kategori dalam Qlue
Aplikasi Qlue sebagai media pengaduan masyarakat yang di sediakan
oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta di harapkan dapat di manfaatkan sebaik-
baiknya oleh masyarakat di DKI Jakarta, sejak awal di rilis pada tanggal 15
Desember tahun 2014, Aplikasi Qlue sudah digunakan oleh 500 ribu
44
masyarakat di DKI Jakarta, dengan rata-rata 40 ribu laporan perhari. Dari
104.191 laporan yang masuk dari masyarakat sepanjang tahun 2016, sampah
merupakan masalah yang paling banyak di laporkan .
Gambar 2. Kategori yang paling banyak di laporkan
Sumber : PT. Qlue Performa Indonesia, 2017
E. Implementasi e-Government melalui Qlue dalam Penyelenggaraan
Layanan Pengaduan Masyarakat
Herbert A. Simon sebagaimana dikutip oleh Pasolong (2008:2)
mendefinisikan administrasi publik sebagai kegiatan-kegiatan kelompok
kerjasama untuk mencapai tujuan bersama dalam rangka mengurus urusan
publik. Pasolong (2008:21) menggambarkan salah satu ruang lingkup
Administrasi Publik adalah Pelayanan Publik. Undang-Undang No. 25 Tahun
2009 tentang Pelayanan Publik mendefinisikan Pelayanan Publik sebagai
kegiatan atau rangkaian kegiatan dalam rangka pemenuhan kebutuhan
pelayanan sesuai dengan peraturan perundang-undangan bagi setiap warga
negara dan penduduk atas barang, jasa, dan/atau pelayanan administratif yang
45
disediakan oleh penyelenggara Pelayanan Publik. Artinya bahwa pelayanan
publik merupakan tugas yang di jalankan oleh sebuah pemerintahan di
Indonesia, baik pemerintah pusat maupun daerah.
Dalam setiap penyelenggaraan Pelayanan Publik diperlukannya sebuah
sarana pengaduan atas penyelenggaraan Pelayanan Publik yang telah dilakukan
hal ini sebagaimana yang tertuang dalam Undang-Undang No.25 tahun 2009
tentang Pelayanan Publik GLPDQDEDKZD³6HWLDSSHQ\HOHQJJDUDOD\DQDQSXEOLN
wajib menyediakan sarana pengaduan untuk mengelola pengaduan pelayanan
SXEOLN´
E-Government merupakan pemanfaatan Tekhnologi Informasi (TI) yang
di arahkan dalam membantu urusan-urusan dalam penyelenggaraan
pemerintahan, salah satunya adalah pengaduan atas penyelenggaran Pelayanan
Publik di Indonesia. Dengan adanya E-Government masyarakat kini dapat lebih
mudah menyampaikan aspirasinya kepada pemerintah sehingga dalam
memberikan pengaduan masyarakat tidak perlu mendatangi sejumlah kantor
yang dimana perlu memakan waktu yang lama dan menghabiskan sejumlah
biaya.
Qlue merupakan Aplikasi milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang
bekerjasama dengan PT Qlue Performa Indonesia selaku pengembang
Aplikasi yang dipergunakan guna mewujudkan Jakarta Smart City. Aplikasi
Qlue merupakan layanan pengaduan masyarakat berbasis smartphone dengan
sistem operasi Android dan IOS. Aplikasi ini diberi nama Qlue yang artinya
46
jalan keluar, namun lalu diplesetkan menjadi "keluhan". Melalui Aplikasi ini
masyarakat dapat melaporkan segala keluhan di dalam penyelenggaraan
Pelayanan Publik dan pembangunan di Provinsi DKI Jakarta. Aplikasi Qlue
merupakan sarana pengaduan masyarakat dengan menggunakan e-Government
Terdapat 3 elemen sukses yang harus dimiliki dan diperhatikan dalam
penerapan e-Government yakni : Support, Capacity dan Value. Elemen support
berupa dukungan kepemimpinan, sumberdaya maupun dukungan berupa
regulasi. Elemen capacity berupa kapasitas sumberdaya infrastruktur, finansial
dan sumberdaya kompetensi pegawai.. Elemen value berupa manfaat bagi
pemerintah dan manfaat bagi masyarakat. Pada penelitian ini 3 elemen sukses
e-Government di jadikan sebagai fokus penelitian untuk menganalisasi
bagamaimana penerapan layanan pengaduan masyarakat melalui Aplikasi Qlue
di tinjau dari ketiga elemen tersebut. Beberapa uraian di atas adalah teori yang
digunakan oleh peneliti dalam mengkaji ³,PSOHPentasi e-Government
melalui Qlue dalam Penyelenggaraan Layanan Pengaduan Masyarakat
(Studi pada Unit Pelaksana Teknis Jakarta Smart City dan Kelurahan
Kelapa Dua)
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian
deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Pendekatan kualitatif dipilih karena
dinilai dapat menggambarkan fenomena yang terjadi secara lebih rinci melalui
rangkaian kata dalam kalimat. Hal ini sejalan dengan pendapat Bogdan dan
Taylor dalam Moleong (2011: 4) memberikan penjelasan tentang penelitian
kualitatif adalah sebagai berikut:
³0HWRGH NXDOLWDWLI VHEDJDL SURVHGXU SHQHOLWLDQ \DQJ PHQJKDVLONDQ GDWD
deskriptif berupa kata-kata tertukis atau lisan dari orang-orang dan
perilaku yang dapat diamati. Pendekatan ini diarahakan pada latar dan
individu tersebut secara holistik (utuh). Jadi dalam hal ini tidak boleh
mengisolasikan individu atau organisasi ke dalam variabel atau hipotesa,
tetapi SHUOXPHPDQGDQJQ\DVHEDJDLGDULVHVXDWXNHXWXKDQ´
Melalui pendekatan kualitatif,peneliti dapat mengetahui gambaran secara rinci
mengenai implementasi e-Government melalui Qlue dalam penyelenggaraan
layanan pengaduan masyarakat di Dinas Komunikasi Informatika dan Statistik
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan Kelurahan Kelapa Dua.. Penelitian
kualitatif dapat menggambarkan secara jelas dan mendalam hasil-hasil
penelitian mengenai topik penelitian tersebut. Hasil dari penelitian ini
merupakan satu kesatuan untuk menjawab persoalan atau fenomena sosial yang
ada.
47
48
B. Fokus Penelitian
Fokus penelitian merupakan pondasi dalam penelitian kualitatif
yangberguna sebagai pembatas ruang lingkup penelitian atau wilayah
penelitian,sehingga peneliti akan memperoleh gambaran secara menyeluruh
tentang situasiyang akan diteliti. Menurut Moleong (2011:94), dengan fokus
penelitian seorang peneliti tahu persis data mana dan data tentang apa yang
perlu dikumpulkan dandata yang tidak perlu. Melalui fokus penelitian, data
yang dibutuhkan dapatditentukan serelevan mungkin. Oleh karena pentingnya
fokus penelitian, makafokus dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Implementasi e-Government melalui Qlue dalam penyelenggaraan
layanan pengaduan masyarakat di Dinas Komunikasi Informatika dan
Statistik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan Kelurahan Kelapa Dua
yang dapat dilihat dari beberapa indikator menurut Harvard JFK
School of Government (dalam Indrajit, 2006 : 13) meliputi :
a. Support
1. Kepemimpinan
2. Dialokasikannya sumberdaya
3. Dasar Hukum
4. Sosialisasi
49
b. Capacity
1. Ketersediaan sumber daya finansial
2. Ketersediaan sumber daya infrastruktur
3. Ketersediaan sumber daya manusia
c. Value
1. Manfaat yang diperoleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta
2. Manfaat yang diperoleh Masyarakat
2. Faktor-faktor yang mendukung dan menghambat implementasi e-
Government melalui Qlue dalam penyelenggaraan layanan pengaduan
masyarakat di Dinas Komunikasi Informatika dan Statistik Pemerintah
Provinsi DKI Jakarta dan Kelurahan Kelapa [Link] terdiri dari :
a. Faktor-faktor pendukung
1. Komitmen Pemimpin
2. Petugas PPSU yang Responsif
b. Faktor-faktor penghambat
1. Kendala Teknis Aplikasi CROP
2. Terhambatnya Pengembangan Aplikasi Qlue untuk IOS
3. Mis-Koordinasi antar SKPD
50
C. Lokasi dan Situs Penelitian
1. Lokasi
Lokasi penelitian merupakan tempat peneliti melakukan penelitian
terutama dalam menangkap fenomena atau peristiwa yang sebenarnya terjadi
dari objek yang diteliti dalam rangka mendapatkan data-data penelitian yang
akurat (Moleong, 2011: 128). Sehingga, yang dimaksud dengan lokasi dalam
penelitian ini adalah Provinsi DKI Jakarta dimana fenomena berupa
implementasi e-Government melalui Qlue dalam penyelenggaraan layanan
pengaduan masyarakat di Dinas Komunikasi Informatika dan Statistik
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan Kelurahan Kelapa Dua ditangkap sebagai
objek yang diteliti. Provinsi DKI Jakarta dipilih sebagai lokasi penelitian
dikarenakan Provinsi DKI Jakarta merupakan salah satu Provinsi yang
menerapkan e-Government dalam pelayanan publik dalam menunjang kinerja
pemerintahan dengan menggunakan Aplikasi Qlue sebagai sarana pengaduan
bagi masyarakat
2. Situs
Situs penelitian adalah tempat atau peristiwa dimana di dalamnya peneliti
dapat melakukan pengamatan atas keadaan sebenarnya dari objek penelitian,
sehingga peneliti mendapatkan data yang valid dan data yang benar-benar
diperlukan dalam penelitia. Situs dalam penelitian ini adalah Dinas
Komunikasi Informatika dan Statistik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan
Kelurahan Kelapa Dua. Pemilihan situs ini di karenakan Dinas Komunikasi
51
Informatika dan Statistik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sebagai SKPD yang
bertugas dan bertanggung jawab dalam pengelolaan layanan pengaduan
melalui Aplikasi Qlue. Alasan Kelurahan Kelapa Dua, Jakarta Barat dipilih
karena Kelurahan Kelapa Dua merupakan salah satu Kelurahan yang masih
kurang optimal dalam memberikan penanganan pengaduan yang terlihat dari
ranking Kelurahan Kelapa pada Aplikasi Qlue yang hanya berada di urutan 189
dari 263 Kelurahan yang di nilai. Berdasarkan beberapa uraian di atas, penulis
mengambil lokasi dan situs penelitian untuk melihat implementasi e-
Government melalui Qlue dalam penyelenggaraan layanan pengaduan
masyarakat.
D. Jenis dan Sumber Data Penelitian
1. Jenis Data
Jenis dan sumber data diperlukan dalam memperoleh data dan informasi yang
akurat untuk menunjang penelitian. Data tersebut di gali dari sumber yang
berkaitan dengan penelitian, seperti narasumber, peristiwa dan dokumen-
dokumen. Penelitian ini menggunakan dua jenis data, berikut penjelasan dari
jenis data yang digunakan dalam penelitian, adalah :
a. Data Primer
adalah data yang diperoleh peneliti langsung tanpa melalui perantara
kemudian diolah oleh peneliti
52
b. Data sekunder
Data sekunder adalah dsta yang diperoleh peneliti secara tidak langsung
yang dapat memberi informasi pendukung bagi peneliti. Dengan kata lain,
data sekunder diperoleh melalui media perantara yang dapat menunjang data
primer
2. Sumberdata
Arikunto (2006:129) menjelaskan bahwa dalam rangka mempermudah dan
mengklasifikasikan data, sumber data di identifikasi menjadi 3, yaitu :
a. Person, yaitu sumberdata yang bisa memberikan data berupa jawaban
lisan atau jawaban tertulis melalui angket atau kuisioner
b. Paper, yaitu sumberdata yang menyajikan data-data berupa huruf, angka,
simbol dan lainnya.
c. Place, yaitu sumberdata yang menyajikan tampilan berupa keadaan diam
atau bergerak
Peneliti membagi sumberdata dalam penelitian sebagai berikut :
a. Informan, peneliti ketika melakukan penelitian melakukan pengamatan
terlebih dahulu untuk menentukan informan awal, kemudian peneliti
memilih informan secara purposive, pada subyek penelitian yang
PHQJXDVDL SHUPDVDODKDQ \DQJ GLWHOLWL ³.H\ ,QIRUPDQ´ 8QWXN
memperoleh informan selanjutnya, peneliti menentukan aktor selanjutnya
53
yang kompeten dan dapat memberikan informasi sesuai fokus penelitian.
&DUDVHSHUWLLQLGLNHQDOGHQJDQLVWLODK³VQRZEDOO´DUWLQ\DNHPXQJNLQDQ
bertambahnya jumlah informan sebagai sumberdata primer masih sangat
besar dan teknik snowball dilakukan sampai peneliti memperoleh data
hingga titik jenuh. Pada penelitian ini, peneliti menetapkan informan
kunci sesuai dengan bidang dan jumlah informan berdasarkan
pertimbangan waktu, tempat dan tingkat pemahaman informan terkait
permasalahan yang sedang diteliti. Informan pada penelitian ini adalah :
1. Ketua Tim Monitoring Room Officer Unit Pelaksana Teknis
Jakarta Smart City
2. Kepala Bagian Tata Usaha Unit Pelaksana Teknis Jakarta Smart
City
3. Staf Bagian Monitoring dan Evaluasi Unit Pelaksana Teknis
Jakarta Smart City
4. Staf Bagian IT Development Unit Pelaksana Teknis Jakarta Smart
City
5. Staf Bagian Komunikasi Unit Pelaksana Teknis Jakarta Smart City
6. Staf Bagian Sistem Administrator Unit Pelaksana Teknis Jakarta
Smart City
7. Staf Bagian Anggaran Dinas Komunikasi Informatika dan Statistik
8. Sekretaris Lurah Kelapa Dua, Jakarta Barat
9. Kepala Seksi Perekonomian, Pembangunan dan Lingkungan Hidup
10. Staf Seksi Pemerintahan Kelurahan Kelapa Dua, Jakarta Barat
54
11. Kepala Sub Bagian Bina Adminstrasi dan Perangkat Wilayah Biro
Tata Pemerintahan
12. Head Of Marketing PT. Qlue Performa Indonesia
13. Masyarakat pengguna Aplikasi Qlue
b. Dokumen, yakni teknik dokumentasi yang digunakan untuk memperoleh
data melalui bahan-bahan tertulis berupa peraturan ataupun mekanisme
yang berkaitan dengan implementasi e-Government melalui Qlue. Selain itu
peneliti juga mencari data tentang profil lokasi penelitian. Teknik ini
membantu peneliti dalam rangka melengkapi informasi yang diperlukan dan
memperoleh data yang akurat. Dokumen sekunder yang digunakan dalam
penelitian ini adalah :
1. Laporan Kegiatan Dinas Komunikasi Informatika dan Statistik
tahun 2015
2. Rencana Strategis Dinas Komunikasi Informatika dan Statistik
2013 ± 2017
3. Rencana Kerja Dinas Komunikasi Informatika dan Statistik tahun
2016
4. Jakarta dalam Angka, 2016
5. Dokumen jumlah pengguna Aplikasi Qlue dan Kategorinya
c. Tempat atau peristiwa sebagai sumberdata ketiga. Peneliti memperoleh
sumberdata melalui observasi dan pengamatan secara langsung. Tempat
yang digunakan peneliti untuk memperoleh sumberdata yakni :
55
1. Dinas Komunikasi Informatika dan Statistik Provinsi DKI Jakarta
2. Kelurahan Kelapa Dua, Jakarta Barat
E. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data berkaitan dengan bagaimana cara
penelitimendapatkan data-data penelitian. Sugiyono (2011: 225) membedakan
teknik pengumpulan data menjadi empat bagian yaitu observasi, interview,
dokumentasi,dan gabungan ketiganya (triangulasi). Berdasarkan teknik
pengumpulan datatersebut, penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan
data sebagai berikut :
1). Wawancara (Interview)
Hasan dalam Emzir (2012: 50) wawancara adalah interaksi bahasa yang
berlangsung antara dua orang dalam situasi saling berhadapan salah seorang,
yaitu yang melakukan wawancara meminta informasi atau ungkapan kepada
orang yang diteliti yang berputar di sekitar pendapat dan keyakinannya.
Pengumpulan data dalam teknik wawancara meminta informasi kepada sumber
informasi tentang apa yang di yakini dan menyimpannya sebagai sebuah data.
Wawancara yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara terstruktur.
Dalam penelitian ini wawancara dilakukan dengan beberapa narasumber,
adalah :
a. Ketua Tim Monitoring Room Officer Unit Pelaksana Teknis Jakarta
Smart City
56
b. Kepala Bagian Tata Usaha Unit Pelaksana Teknis Jakarta Smart City
c. Staf Bagian Monitoring dan Evaluasi Unit Pelaksana Teknis Jakarta
Smart City
d. Staf Bagian IT Development Unit Pelaksana Teknis Jakarta Smart
City
e. Staf Bagian Komunikasi Unit Pelaksana Teknis Jakarta Smart City
f. Staf Bagian Sistem Administrator Unit Pelaksana Teknis Jakarta
Smart City
g. Staf Bagian Anggaran Dinas Komunikasi Informatika dan Statistik
h. Sekretaris Lurah Kelapa Dua, Jakarta Barat
i. Kepala Seksi Perekonomian, Pembangunan dan Lingkungan Hidup
j. Staf Seksi Pemerintahan Kelurahan Kelapa Dua, Jakarta Barat
k. Kepala Sub Bagian Bina Adminstrasi dan Perangkat Wilayah Biro
Tata Pemerintahan
l. Head Of Marketing PT. Qlue Performa Indonesia
m. Masyarakat pengguna Aplikasi Qlue
2). Observasi
Observasi atau pengamatan dapat didefinisikan sebagai perhatian yang
terfokus terhadap kejadian, gejala, atau sesuatu (Emzir, 2012: 37). Pengamatan
dilakukan untuk melihat kondisi riil dari fenomena sosial untuk mendapatkan
peristiwa yang terkait dengan implementasi e-Government melalui Qlue dalam
penyelenggaraan layanan pengaduan masyarakat di Dinas Komunikasi
Informatika dan Statistik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan Kelurahan
57
Kelapa Dua. Observasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi
terus terang. Observasi dilakukan di Dinas Komunikasi Informatika dan Statisk
dan Kelurahan Kelapa Dua dengan mengamati secara langsung penerapan
layanan pengaduan melalui aplikasi Qlue mulai dari monitoring yang
dilakukan oleh Unit Pelaksana Teknis Jakarta Smart City, proses
pengembangan aplikasi dan penindaklanjutan pengaduan yang masuk melalui
melalui Qlue dari masyarakat. Objek yang diteliti tersebut terfokus pada
kejadian ataupun gejala yang menjadi fokus penelitian.
3). Dokumentasi
Dokumentasi merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan oleh
peneliti dengan cara mencatat dan memanfaatkan data yang tersedia di situs
penelitian dimana berkaitan dengan penelitian, baik berupa dokumen, arsip
ataupun catatan-catatan yang memiliki keterkaitan dengan topik dalam
penelitian. Adapun dokumen yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh
dari Dinas Komunikasi Informatika dan Statistik dan Kelurahan Kelapa Dua.
Dalam penelitian ini dokumen diperoleh dengan memanfaatkan dokumen
berupa foto-foto kegiatan, regulasi dan data pendukung yang dimiliki Dinas
Komunikasi Informatika dan Statistik dan Kelurahan Kelapa Dua yang
berkaitan dengan topik penelitian
58
F. Instrumen Penelitian
Sugiyono (2011: 222) menyatakan bahwa dalam penelitian
kualitatifinstrumen atau alat penelitian adalah peneliti itu sendiri. Peneliti
kualitatif sebagai human instrument, berfungsi menetapkan fokus penelitian,
memilih informan sebagai sumber data, melakukan pengumpulan data, menilai
kualitas data, analisis data, menafsirkan data dan membuat kesimpulan atas
temuannya. Berdasarkanpendapat tersebut diatas, maka instrumen dalam
penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Peneliti sendiri sebagai instrumen kunci untuk menentukan fokus dan
pengumpul databaik data primer maupun sekunder yang menentukan
hasil dari penelitian, dan melakukan analisis.
2 Pedoman-pedoman wawancara (interview guide) untuk membatasi
prosespengumpulan data agar tetap dalam wilayah fokus penelitian.
3. Peralatan penunjang, diantaranya yaitu alat perekam dan foto melalui
telepon genggam serta notes.
G. Analisis Data
Dalam penelitian kualitatif, Bodgan dalam Sugiyono (2014:332)
menyatakan bahwa analisis data adalah proses mencari data menyusun secara
sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan
bahan-bahan lain, sehingga dapat mudah dipahami, dan temuannya dapat
diinformasikan kepada orang lain. Pada penelitian kualitatif, data dapat
59
diperoleh dari berbagai sumber dengan menggunakan pengumpulan data yang
bermacam-macam dan dilakukan secara terus menerus sampai data tersebut
jenuh.
Metode analisis yang peneliti gunakan adalah deskriptif yang meliputi
analisis berdasarkan pada objek penelitian yang telah disusun. Analisis data
dalam penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dilakukan sejak pada saat
memasuki lapangan, dan setelah selesai dilapangan dalam periode tertentu.
Peneliti dalam menganalisis data pada penelitian ini menggunaakan teori yang
dikemukakan oleh Miles,Huberman,Saldana (2014:14) yang mengemukakan
bahwa aktivitas dalam analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan
berlangsung secara terus-menerus sampai tuntas, sehingga datanya sudah
jenuh. Adapun model analisa dari teori yang ada dapat dilihat pada gambar 1,
sebagai berikut :
Gambar 3. Komponen-komponen Analisis Data Model Interaktif
Sumber: Analisis Miles,Huberman,Saldana 2014:14
60
1. Data Condensation (Kondensasi Data)
Kondensasi data merujuk pada proses memilih, menyederhanakan,
memfokuskan hal-hal penting dari data yang diperoleh sesuai dengan tema
dan polanya. Adanya kondensasi data akan akan mempermudah peneliti untuk
mendapatkan gambaran dan memahami atas data yang sudah diperoleh secara
lebih jelas.
Kondensasi data yang dilakukan pada penelitian ini adalah memilah
dan mengelompokkan hasil wawancara serta data-data yang telah didapatkan
oleh peneliti berdasarkan fokus yang ada. Hal tersebut memudahkan peneliti
untuk mengolah dan mendeskripsikan data yang telah diperoleh mengenai
implementasi e-Government melalui Qlue.
2. Data Display (Penyajian Data)
Setelah tahap kondensasi data, maka yang harus dilakukan peneliti
adalah menyajikan data. Penyajian data adalah sebuah pengorganisasian dan
penyatuan dari informasi serta data yang diperoleh untuk kemudian diambil
kesimpulan. Dalam penelitian kualitatif data disajikan dalam bentuk uraian
singkat, bagan, hubungan antar kategori, flowchart dan lain-lain. Tujuan
adanya penyajian data guna mempermudah peneliti untuk memahami apa
yang terjadi dan merencanakan apa yang harus dilakukan selanjutnya
berdasarkan apa yang sudah dipahami.
Penyajian data pada penelitian ini dilakukan dengan menyajikan data
dan hasil wawancara yang telah diperoleh mengenai implementasi e-
Government melalui Qlue dan apa keterkaitannya dengan teori yang ada untuk
61
kemudian ditarik kesimpulan terkait hasil yang terjadi antara data dan teori
agar mudah dipahami oleh peneliti.
3. Conclusions Drawing/Verifying (Verifikasi/Penarikan Kesimpulan)
Penarikan kesimpulan dan verifikasi ini merupakan tahap akhir dari
proses penelitian. Tahap ini merupakan tahap yang mungkin bisa menjawab
atau belum bisa menjawab rumusan masalah yang sudah dirumuskan peneliti
sejak awal karena penelitian kualitatif masih bersifat sementara dan akan
berkembang setelah peneliti melakukan penelitian langsung di lapangan.
Penarikan kesimpulan dilakukan dengan memproses data yang telah disajikan
untuk kemudian disederhanakan dan dilanjutkan dengan melakukan deskripsi
antara prediksi dari data yang telah didapatkan. Namun kesimpulan yang
dianggap final terdapat kemungkinan tidak muncul sampai pengumpulan data
selesai, tergantung pada besarnya data yang dikumpulkan berdasarkan catatan
lapangan, pengkodean, penyimpanan, metode yang digunakan serta kecakapan
peneliti.
Penarikan kesimpulan pada penelitian ini dilakukan setelah peneliti
melakukan penyajian data dan memahami serta menganalisis apa yang ada di
penyajian data mengenai implementasi e-Government melalui Qlue
H. Keabsahan Data
Keabsahan data merupakan upaya untuk menghasilkan tanggapan dari
informan untuk merespon jawaban yang di inginkan dengan tujuan klarifikasi
dan eksplorasi lebh lanjut. Dalam penelitian kualitatif data di nyatakan valid
62
apabila tidak ada perbedaan antara apa yang di laporkan penelii dengan apa
yang sesungguhnya terjadi dengan obyek yang di teliti. Kebenerana realitas
data menurut penelitian kualitatif bersifat ganda, dinamis/selalu berubah,
sehingga tidak ada yang konsisten dan berulang seperti semula. (Sugiyono,
2014 : 268-269).
Keabsahan data dilakukan oleh peneliti dengan maksud hasil penelitian
benar-benar dapat dipertanggung jawabkan. Beberapa macam cara dapat
dilakukan untuk menguji keabsahan data dalam penelitian kualitatif (Sugiyono,
2014 : 270) di antaranya melalui perpanjangan pengamatan, peningkatan
ketekunan dalam penelitian, triangulasi, diskusi dengan teman sejawat, analisis
kasus negatif dan membercheck. 0HQXUXW 0ROHRQJ ³7ULDQJXODVL
adalah tekhnik pemeriksaan keabsahan data yang memanfatkan sesuatu yang
lain di luar data itu untuk keperluan pengecekan atau pembanding terhadap
GDWDLWX´6XJL\RQRPHPEDJLWULDQJXODVLPHQMDGL\DNQL
1. Triangulasi Sumber
Triangulasi sumber untuk menguji kredibilitas data dengan cara
mengecek data yang diperoleh melalui beberapa sumber.
2. Triangulasi Tekhnik
Triangulasi tekhnik untuk menguji kredibilitas data dilakukan
dengan cara mengecek data kepada sumber yang sama dengan
tekhnik yang berbeda.
63
3. Triangulasi Waktu
Waktu juga mempengaruhi kredibilitas data. Dalam rangka
pengujian kredibilitas data dapat dilakukan dengan melakukan
pengecekan melalui wawancara, observasi atau menggunakan
tekhnik lain dalam waktu atau situasi berbeda.
Pada penelitian ini cara yang dilakukan untuk menguji keabsahan data dengan
menggunakan tekhnik triangulasi sumber dengan cara menguj kredibilitas data
terkait fokus penelitian melalui beberapa informan.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian
1. Gambaran Umum Provinsi DKI Jakarta
a. Sejarah Provinsi DKI Jakarta
Jakarta bermula dari sebuah bandar kecil di muara Sungai Ciliwung
sekitar 500 tahun silam. Selama berabad-abad kemudian kota bandar ini
berkembang menjadi pusat perdagangan internasional yang ramai. Pengetahuan
awal mengenai Jakarta terkumpul sedikit melalui berbagai prasasti yang
ditemukan di kawasan bandar tersebut. Laporan para penulis Eropa abad ke-16
menyebutkan sebuah kota bernama Kalapa, yang tampaknya menjadi bandar
utama bagi sebuah kerajaan Hindu bernama Sunda, beribukota Pajajaran,
terletak sekitar 40 kilometer di pedalaman, dekat dengan kota Bogor sekarang.
Bangsa Portugis merupakan rombongan besar orang-orang Eropa pertama yang
datang ke bandar Kalapa. Kota ini kemudian diserang oleh seorang muda usia,
bernama Fatahillah, dari sebuah kerajaan yang berdekatan dengan Kalapa.
Fatahillah mengubah nama Sunda Kalapa menjadi Jayakarta pada 22 Juni
1527. Tanggal inilah yang kini diperingati sebagai hari lahir kota Jakarta.
Orang-orang Belanda datang pada akhir abad ke-16 dan kemudian menguasai
Jayakarta. Nama Jayakarta diganti menjadi Batavia. Keadaan alam Batavia
yang berawa-rawa mirip dengan negeri Belanda, tanah air mereka. Mereka pun
64
65
membangun kanal-kanal untuk melindungi Batavia dari ancaman banjir.
Kegiatan pemerintahan kota dipusatkan di sekitar lapangan yang terletak
sekitar 500 meter dari bandar. Mereka membangun balai kota yang anggun,
yang merupakan kedudukan pusat pemerintahan kota Batavia. Lama-kelamaan
kota Batavia berkembang ke arah selatan. Pertumbuhan yang pesat
mengakibatkan keadaan lingkungan cepat rusak, sehingga memaksa penguasa
Belanda memindahkan pusat kegiatan pemerintahan ke kawasan yang lebih
tinggi letaknya. Wilayah ini dinamakan Weltevreden. Semangat nasionalisme
Indonesia di canangkan oleh para mahasiswa di Batavia pada awal abad ke-20.
Sebuah keputusan bersejarah yang dicetuskan pada tahun 1928 yaitu itu
Sumpah Pemuda berisi tiga buah butir pernyataan , yaitu bertanah air satu,
berbangsa satu, dan menjunjung bahasa persatuan : Indonesia. Selama masa
pendudukan Jepang (1942-1945), nama Batavia diubah lagi menjadi Jakarta.
Pada tanggal 17 Agustus 1945 Ir. Soekarno membacakan Proklamasi
Kemerdekaan Indonesia di Jakarta dan Sang Saka Merah Putih untuk pertama
kalinya dikibarkan. Kedaulatan Indonesia secara resmi diakui pada tahun 1949.
Pada saat itu juga Indonesia menjadi anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa
(PBB). Pada tahun 1966, Jakarta memperoleh nama resmi Ibukota Republik
Indonesia. Hal ini mendorong laju pembangunan gedung-gedung perkantoran
pemerintah dan kedutaan negara sahabat. Perkembangan yang cepat
memerlukan sebuah rencana induk untuk mengatur pertumbuhan kota Jakarta.
Sejak tahun 1966 itu, Jakarta berkembang dengan mantap menjadi sebuah
metropolitan modern. Kekayaan budaya berikut pertumbuhannya yang dinamis
66
merupakan sumbangan penting bagi Jakarta menjadi salah satu metropolitan
terkemuka pada abad ke-21.
b. Kondisi Geografis dan Kondisi Alam
Provinsi DKI Jakarta terbagi menjadi 5 wilayah Kota administrasi dan
satu Kabupaten administratif, yakni: Kota administrasi Jakarta Pusat dengan
luas 47,90 km2, Jakarta Utara dengan luas 142,20 km2, Jakarta Barat dengan
luas 126,15 km2, Jakarta Selatan dengan luas 145,73 km2, dan Kota
administrasi Jakarta Timur dengan luas 187,73 km2, serta Kabupaten
Administratif Kepulauan Seribu dengan luas 11,81 km2. Di sebelah utara
membentang pantai sepanjang 35 km, yang menjadi tempat bermuaranya 13
buah sungai dan 2 buah kanal. Di sebelah selatan dan timur berbatasan dengan
Kota Depok, Kabupaten Bogor, Kota Bekasi dan Kabupaten Bekasi, sebelah
barat dengan Kota Tangerang dan Kabupaten Tangerang, serta di sebelah utara
dengan Laut Jawa.
Secara geologis, seluruh dataran terdiri dari endapan pleistocene yang
terdapat pada ±50 m di bawah permukaan tanah. Bagian selatan terdiri atas
lapisan alluvial, sedang dataran rendah pantai merentang ke bagian pedalaman
sekitar 10 km. Di bawahnya terdapat lapisan endapan yang lebih tua yang tidak
tampak pada permukaan tanah karena tertimbun seluruhnya oleh endapan
alluvium. Di wilayah bagian utara baru terdapat pada kedalaman 10-25 m,
makin ke selatan permukaan keras semakin dangkal 8-15 m. Pada bagian
67
tertentu juga terdapat lapisan permukaan tanah yang keras dengan kedalaman
40 m.
Keadaan Kota Jakarta umumnya beriklim panas dengan suhu udara
maksimum berkisar 32,7°C - 34,°C pada siang hari, dan suhu udara minimum
berkisar 23,8°C -25,4°C pada malam hari. Rata-rata curah hujan sepanjang
tahun 237,96 mm, selama periode 2002-2006 curah hujan terendah sebesar
122,0 mm terjadi pada tahun 2002 dan tertinggi sebesar 267,4 mm terjadi pada
tahun 2005, dengan tingkat kelembaban udara mencapai 73,0 - 78,0 persen dan
kecepatan angin rata-rata mencapai 2,2 m/detik - 2,5 m/detik.
c. Jumlah Penduduk dan Kepadatan Penduduk di DKI Jakarta
Wilayah Provinsi DKI Jakarta terdiri dari 5 wilayah Kota Administrasi, 1
Kabupaten Administrasi, 44 Kecamatan dan 268 Kelurahan dengan jumlah
penduduk pada tahun 2015 mencapai 10.177.924 Jiwa. Dengan luas wilayah
48,13 km²; maka kepadatan penduduk rata-rata adalah 15.366,87 jiwa/km².
68
Tabel 1. Jumlah Penduduk Provinsi DKI Jakarta Menurut Jenis
Kelamin Per Kota/Kabupaten Tahun 2015
Jenis Kelamin(ribu) Rasio
Sex (thousand) Jenis
Kabupaten/Kota
Regency/City Laki-Laki Perempuan Jumlah Kelamin
Male Female Total
(1) (2) (3) (4) (5)
kabupaten/Kota
regency/City
Kepulauan Seribu 11 720 11 620 23 340 100,86
Jakarta Selatan 1 096 469 1 089 242 2 185 711 100,66
Jakarta Timur 1 436 128 1 407 688 2 843 816 102,02
Jakarta Pusat 457 025 457 157 914 182 99,97
Jakarta Barat 1 246 288 1 217 272 2 463 560 102,38
Jakarta Utara 867 727 879 588 1 747 315 98,65
DKI jakarta 5 115 357 5 062 567 10 177 924 101,04
Sumber : BPS Provinsi DKI Jakarta, 2016
d. Visi dan Misi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta
Visi Pembangunan Jangka Menengah Provinsi DKI Jakarta Tahun 2013-
2017 adalah Jakarta Baru, kota modern yang tertata rapi, menjadi tempat
hunian yang layak danmanusiawi, memiliki masyarakat yang
69
berkebudayaan, dan dengan pemerintahan yang berorientasi pada
pelayanan publik.
Visi pembangunan jangka menengah diatas dapat dijelaskan bahwa Kota
Jakarta adalah:
1 Ibukota NKRI yang sejajar dengan kota lain di dunia dan berdaya saing
global.
2 Kota yang dapat menjamin kehidupan yang aman, nyaman, dan
berkelanjutan.
3 Kota berbudaya yang didukung oleh masyarakat produktif dan
sejahtera.
4 Kota yang dapat menyelenggarakan pemerintahan yang baik dan
transparan dalam rangka menyediakan pelayanan publik yang
berkualitas.
Untuk mewujudkan Visi Pembangunan Jangka Menengah Provinsi DKI
Jakarta Tahun 2013-2017, dirumuskan 5 (lima) Misi sebagai berikut :
1 Mewujudkan Jakarta sebagai kota modern yang tertata rapi serta
konsisten dengan Rencana Tata Ruang Wilayah
2 Menjadikan Jakarta sebagai kota yang bebas dari masalah-masalah
menahun seperti macet, banjir, pemukiman kumuh, sampah dan lain-
lain
3 Menjamin ketersediaan hunian dan ruang publik yang layak serta
terjangkau bagi warga kota
70
4 Membangun budaya masyarakat perkotaan yang toleran, tetapi juga
sekaligus memiliki kesadaran dalam memelihara kota
5 Membangun pemerintahan yang bersih dan transparan serta berorientasi
pada pelayanan publik.
71
2. Gambaran Umum Situs Penelitian
a. Dinas Komunikasi Informatika dan Statistik Provinsi DKI Jakarta
1. Lokasi Dinas Komunikasi Informatika dan Statistik Provinsi DKI
Jakarta
Dinas Komunikasi Informatika dan Statistik Provinsi DKI Jakarta
beralamat di [Link] Selatan, Kav.. 8-9 Blok G Lt. 13, Kota Administrasi
Jakarta Pusat, Provinsi DKI Jakarta. Kode pos 10110. Telp. 021 3822255 Fax
021-3822255 dan Email diskominfomas@[Link]
2. Visi dan Misi Dinas Komunikasi Informatika dan Statistik Provinsi
DKI Jakarta
Untuk dapat mencapai Visi dan Misi Pembangunan Provinsi DKI Jakarta
yang telahditetapkan dalam RPJMD Provinsi DKI Jakarta, Dinas Kominfomas
menetapkan Visi Dinas Kominfomas Provinsi DKI Jakarta dalam kurun waktu
2013-2017 yaitu Memberikan Layanan terbaik dibidang teknologi
informasi guna mewujudkan good governance.
Dan untuk mencapai visi tersebut, Dinas Kominfomas menetapkan 3(tiga) buah
misi yaitu
1 Mengembangkan sarana prasarana teknolgi informasi dan komunikasi
(TIK) dalam mendukung layanan publik serta pengembangan produk
ekonomi dan bisnis kota;
2 Mengembangkan system dan teknologi informasi untuk mendukung
pelayanan publik yang lebih efisien
72
3 Meningkatkan kualitas pelayanan data dan informasi dan informasi
publik.
3. Struktur Organisasi
Kedudukan Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik Provinsi DKI
Jakarta berdasarkan Peraturan Daerah Provinsi DKI Jakarta Nomor 12 tahun
2014 tentang Organisasi Perangkat Daerah dan Peraturan Gubernur No. 256
Tahun 2016 tentang Organisasi dan Tata Kerja Dinas Komunikasi, Informatika
dan Statistik adalahsebagai unsur pelaksana otonomi daerah yang bertugas
melaksanakan urusan bidang Komunikasi, Informatika dan Statistik. Dalam
pelaksanaan kedudukan tersebut, Dinas Kominfotik dipimpin oleh seorang
Kepala Dinas yang berkedudukan danbertanggungjawab kepada Gubernur
Provinsi DKI Jakarta melalui Sekretaris Daerah. Struktur organisasi Dinas
Komunikasi Informatika dan Statistik berdasarkan pergub dimaksud adalah
sebagai berikut :
a. Kepala Dinas
b. Sekretariat yang dipimpin oleh seorang sekretaris dan terdiri dari :
1. Subbagian Umum;
2. Subbagian Kepegawaian;
3. Subbagian Perencanaan dan Anggaran;
4. Subbagian Keuangan;
73
c. Bidang Kehumasan dan terdiri dari :
1. Seksi Analisa dan Monitoring Berita
2. Seksi Kemitraan dan Kerjasama Kehumasan
3. Seksi Dokumentasi dan Publikasi
d. Bidang Pengelolaan Informasi Publik dan terdiri dari :
1. Seksi Informasi Publik
2. Seksi Penerbitan dan Media Luar Ruang
3. Seksi Data dan Informasi
e. Bidang Infrastruktur Teknologi Informasi, terdiri dari :
1. Seksi Dukungan Teknis Pusat Data dan Perangkat Teknologi
Informasi
2. Seksi Operasi Pusat Data dan Perangkat Teknologi Informasi;
3. Seksi Pemeliharaan Pusat Data dan Perangkat Teknologi Informasi;
f. Bidang Sistem Informasi Manajemen, terdiri dari :
1. Seksi Sistem Informasi Manajemen Pembangunan, Lingkungan Hidup
dan Kesejahteraan rakyat
2. Seksi Sistem Informasi Manajemen Pemerintahan, Keuangan dan
Perekonomian
74
3. Seksi Basis Data dan Perangkat Lunak Aplikasi
g. Bidang Jaringan Teknologi Komunikasi, terdiri dari :
1. Seksi, Pembangunan, Pengembangan dan Pemeliharaan Jaringan
Teknologi Komunikasi
2. Seksi Layanan dan Dukungan Jaringan Teknologi Komunikasi;
3. Seksi Pengendalian dan Pengamanan Jaringan Teknologi Komunikasi
h. Bidang Pos, Telekomunikasi dan Multimedia, terdiri dari :
1. Seksi Pos dan Telekomunikasi
2. Seksi Prasarana dan Sarana Telekomunikasi
3. Seksi Multimedia
i. Suku Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik Kota Administrasi;
j. Suku Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik Kabupaten
Administrasi;
k. Unit Pengelola Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE)
l. Unit Pengelola Jakarta Smart City
m. Sekretariat Komisi Penyiaran dan Komisi Informasi Provinsi
75
Gambar 4. Struktur Organisasi Dinas Komunikasi Informatika dan Statistik
Provinsi DKI Jakarta
Sumber : Dinas Komunikasi Informtatika dan Statistik, 2016
76
4. Tugas dan Fungsi Dinas Komunikasi Informatika dan Statistik
Provinsi DKI Jakarta
Dalam Peraturan Gubernur No. 256 Tahun 2016 tentang Organisasi
danTatakerja Dinas Komunikasi, Informatika dan Kehumasan, ditetapkan
bahwa DinasKomunikasi, Informatika dan Kehumasan mempunyai fungsi
sebagai berikut :
1. Dinas Kominfo dan Statistik mempunyai tugas melaksanakanurusan
pemerintahan dibidang komunikasi dan informatika,statistik, dan
persandian.
2. Untuk menyelenggarakan tugas sebagaimana dimaksud padaayat (1),
Dinas Kominfo dan Statistik menyelenggarakan fungsi :
a. penyusunan rencana strategis dan rencana kerja dan anggaran Dinas
Kominfo dan Statistik
b. pelaksanaan rencana strategis dan dokumen pelaksanaan anggaran
Dinas Kominfo dan Statistik
c. pelaksanaan penyiapan perumusan dan pelaksanaan kebijakan di
bidang komunikasi dan informatika, statistik, dan persandian
d. penyusunan norma, standar, prosedur dan kriteria di bidang
komunikasi dan informatika, statistik, dan persandian
e. pemberian bimbingan teknis dan supervisi, serta pemaritauan,
evaluasi, dan pelaporan di bidang komunikasi dan informatika,
statistik, dan persandian
77
f. pengelolaan opini dan aspirasi publik
g. pengelolaan dan pelayanan informasi publik
h. penyediaan konten lintas sektoral dan pengelolaan media komunikasi
publik
i. pelaksanaan layanan hubungan media
j. penguatan kapasitas sumber daya komunikasi publik dan penyediaan
alcses informasi di Daerah
k. penyelenggaraan layanan infrastruktur data center, Disaster. Recovery
Center dan Teknologi Informasi dan Komunikasi Pemerintah Daerah
l. penyelenggaraan layanan pengembangan jaringan intranet dan
penggunaan akses internet
m. pelaksanaan layanan keamanan informasi e-Governinent
n. pelaksanaan layanan sistem komunikasi intra Pemerintah Daerah
o. penyelenggaraan layanan pengembangan dan pengelolaan aplikasi
generik, spesifik dan suplemen yang terintegrasi
p. penyelenggaraan ekosistem Teknologi Informasi dan Komunikasi
Smart Province
q. pelaksanaan layanan nama domain dan sub domain bagi lembaga
r. pelayanan publik dan kegiatan, penyelenggaraan Government Chief
Information Officer (GCIO) Pemerintah Daerah
s. pengembangan sumber daya TIK Pemerintah Daerah Provinsi dan
masyarakat di Daerah
t. pengkoordinasian kegiatan statistik sektoral, regional dan nasional
78
u. penetapan dan penyelenggaraan statistik dasar Pemerintah Daerah
v. pembinaan dan fasilitasi terhadap kegiatan di bidang statistik
w. penyelenggaraan pengumpulan data dan informasi melalui survei dan
jajak pendapat tentang program dan kinerja Pemerintah Daerah
Provinsi
x. penetapan, pengukuran dan penyajian statistik pemerintahan daerah
y. menghimpun, mengolah, menganalisis dan menyajikari statistik
daerah
z. memelihara dan mengembangkan statistik daerah
5. Bidang Kegiatan Dinas Komunikasi Informatika dan Statistik
Provinsi DKI Jakarta
a. Kepala Dinas mempunyai tugas pokok dan fungsi dalam memimpin
dan mengoordinasikan pelaksanaan tugas dan fungsi Dinas,
mengoordinasikan pelaksanaan tugas dan fungsi Sekretariat, Bidang,
Suku Dinas, Unit Pelaksana Teknis dan Kelompok Jabatan
Fungsional, melaksanakan koordinasi dan kerjasama dengan
SKPD/UKPD dan/atau instarisi pemerintah/swasta dalam rangka
pelaksanaan tugas dan fungsi Dinas Kominfo dan Statistik serta
melaporkan dan mempertanggungjawabkan pelaksanaan tugas dan
fungsi Dinas Kominfo dan Statistik.
79
b. Sekretariat merupakan unit kerja staf Dinas Kominfo yang mempunyai
tugas pokok dan fungsi dalam melaksanakan tugas admnistrasi seperti
penyusunan rencana strategis dan rencana kerja serta anggaran
Sekretariat, pelaksanaan monitoring, pengendalian, dan evaluasi
pelaksanaan rencana strategis, dan dokumen pelaksanaan anggaran
dinas oleh Unit Kerja Dinas Kominfo dan Statistik. Pembinaan dan
pengembangan tenaga fungsional dan tenaga teknis urusan
komunikasi dan informatika, statistik dan persandian serta
pengoordinasian penyusunan laporan keuangan, kinerja, kegiatan dan
akuntabilitas Dinas Kominfo dan Statistik
c. Subbagian Umum dan Kepegawaian merupakan Satuan Kerja
Sekretariat dalam pelaksanaan administrasi umurn dan kepegawaian
Dinas Kominfo dan Statistik, seperti menyusun bahan rencana
strategis dan rencana kerja dan anggaran sekretariat sesuai dengan
lingkup tugasnya, melaksanakan rencana strategis dan dokumen
pelaksanaan anggaran sekretariat sesuai dengan lingkup tugasnya
d. Subbagian Perencanaan dan Anggaran merupakan Satuan Kerja
Sekretariat dalam pelaksanaan tugas perencanaan dan anggaran Dinas
Kominfo dan Statistik, seperti menyusun .bahan rencana strategis dan
rencana kerja dan anggaran sekretariat sesuai dengan lingkup
tugasnya, melaksanakan rencana strategis dan dokumen pelaksanaan
anggaran sekretariat sesuai dengan lingkup tugasnya
80
e. Subbagian Keuangan merupakan Satuan Kerja Sekretariat dalam
pelaksanaan pengelolaan keuangan Dinas Kominfo dan Statistik,
seperti menyusun bahan rencana strategis dan rencana kerja dan
anggaran sekretariat sesuai dengan lingkup tugasnya, melaksanakan
kegiatan pengelolaan keuangan Dinas Kominfo dan Statistik,
menghimpun dan menyusun bahan pertanggungjawaban keuangan
Dinas Kominfo dan Statistik serta melaksanakan proses penerbitan
Surat Perintah Membayar (SPM)
f. Bidang Informasi Publik merupakan Unit Kerja lini Dinas Kominfo
dan Statistik dalam pelaksanaan pembinaan, pengelolaan dan
pengembangan informasi publik serta pengelolaan opini dan aspirasi
publik, seperti penyusunan dan pelaksanaan rencana strategis, rencana
kerja dan anggaran Bidang Informasi Publik, melakukan penyiapan
perumusan kebijakan di bidang pengelolaan opini dan aspirasi publik,
pengelolaan informasi publik, serta pelayanan informasi publik untuk
mendukung kebijakan nasional dan Pemerintah Daerah serta
pelaksanaan kebijakan di bidang pengelolaan opini dan aspirasi
publik, pengelolaan informasi publik, serta pelayanan informasi
publik untuk mendukung kebijakan nasional dan Pemerintah Daerah
G. Bidang Komunikasi Publik merupakan Unit Kerja lini Dinas Kominfo
dan Statistik dalam pelaksanaan pembinaan, penyediaan. konten lintas
sektoral dan pengelolaan media komunikasi publik, layanan hubungan
81
media serta penguatan. kapasitas sumber daya komunikasi publik dan
penyediaan akses informasi di Daerah.
H. Bidang Operasi dan Pengelolaan Pusat Data merupakan UnitKerja lini
Dinas Kominfo dan Statistik dalam pelaksanaan,pengelolaan,
pembinaan, pembangunan, pengembangan dan pemeliharaan di
bidang layanan infrastruktur Data Center (DC),Disaster Recovery
Center (DRC) dan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK).
I. Bidang Jaringan dan Komunikasi Data merupakan Unit Kerja lini
Dinas Kominfo dan Statistik dalam pelaksanaan pembinaan,
pengelolaan, pembangunan, pengembangan dan pemeliharaanserta
pengintegrasian jaringan dan komunikasi data, pengembangan intranet
dan penggunaan akses internet, layanan keamanan informasi e-
Government dan layanan sistem komunikasi intraPemerintah Daerah.
J. Bidang Sistem Informasi Manajemen dan Standarisasi Layanan e-
Government merupakan unit kerja lini Dinas Kominfo dan Statistik
dalam pelaksanaan pembangunan, pengembangan,pengelolaan teknis,
pembinaan, evaluasi Sistem Informasi,Standarisasi layanan e-
Government dan Statistik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
K Suku Dinas Kominfo dan Statistik Kota Administrasi merupakan Unit
Kerja Dinas Kominfo dan Statistik pada Kota Administrasi yang
menyelenggaran fungsi penyusunan dan pelaksanaan rencana
strategis dan rencana kerja dan anggaran Suku Dinas, pelaksanaan
82
kebijakan teknis pelaksanaan urusan komunikasi, informatika dan
statistik di wilayah Kota Administrasi serta fasilitasi bimbingan teknis
dan supervisi, serta pemantauan, evaluasi, dan pelaporan di bidang
komunikasi, informatika dan statistik di wilayah Kota Administrasi
L. Unit Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) merupakan Unit
Pelaksana Teknis Dinas Kominfomas dalampenyelenggaraan system
pelayanan pengadaan barang/jasa secara [Link]
dipimpin oleh seorang Kepala Unit LPSE yang berkedudukan di
bawah dan bertanggungjawab kepada Kepala Dinas. Unit LPSE
M. Unit Pengelola Jakarta Smart City merupakan Unit Pelaksana Teknis
Dinas Kominfomas dalam pelaksanaan pengelolaan system/aplikasi
Jakarta Smart [Link] Pengelola Jakarta Smart City dipimpin oleh
seorang Kepala Unit yang berkedudukan dibawah dan
bertanggungjawab kepada Kepala [Link] Pengelola Jakarta
Smart City mempunyai tugas melaksanakan perencanaan,
pengendalian dan pengelolaan system Jakarta Smart City.
83
b. Kelurahan Kelapa Dua
1. Lokasi Kelurahan Kelapa Dua
Kelurahan Kelapa Dua beralamat di Jl. Inpres No.17, RT.2/RW.5, Klp.
Dua, Kb. Jeruk, Kota Jakarta Barat, Provinsi DKI Jakarta. Kode pos 11550,
Telepon +6221 5481921. Email: kelapaduajb@[Link]
Gambar 5. Kantor Kelurahan Kelapa Dua, Jakarta Barat
Sumber : Kelurahan Kelapa Dua, 2016
2. Visi dan Misi Kelurahan Kelapa Dua
Visi
³7HUZXMXGQ\D pelayanan publik yang prima dan Pemberdayaan
masyarakat dalam pembangunan NRWD-DNDUWD´
84
Misi
1 Peningkatan kualitas sumber daya aparatur
2 Peningkatan kualitas sarana dan prasarana Kelurahan untuk
menunjang kegiatan perkantoran
3 Melibatkan masyarakat Kelurahan dalam perencanaan,
pelaksanaan dan pengawasan kegiatan pembangunan Kelurahan.
3. Kondisi Georgrafis dan Topografi Kelurahan Kelapa Dua, Jakarta
Barat
Gambar 6. Peta Wilayah Kelurahan Kelapa Dua
Sumber : Kelurahan Kelapa Dua
85
Kelurahan Kelapa Dua berada dalam bentuk bujur dan lintang-
6.214294, 106.769436 Letak dari permukaan laut21, 1 Km dan memiliki Luas
wilayah : ± 150,35 Ha . Adapun Kelurahan Kelapa Dua berbatasan langsung
dengan beberapa wilayah yaitu :
UTARA : Jalan E [Link], Kelurahan KebonJeruk
TIMUR : Kali Sekretaris, KelurahanSukabumi Utara
SELATAN : Jalan Raya PosPengumben, Kelurahan Sukabumi Selatan.
BARAT : Kali Pesanggrahan, Kelurahan Srengseng
Jika ditinjau secara topografi Kelurahan Kelapa Dua terdiri dari Dataran
rendah dengan ciri khas melandai pada arah selatan wilayah, di apit oleh 2
buah sungai (kali pesanggrahan dan kali sekretaris), di lintasi jalan panjang
sebagai jalan kebanggaan Adipuradan sebagian besar wilayah di peruntukkan
sebagai daerah pemukiman dan sebagian kecil adalah sebagai lokasi karya
usaha dan perkantoran mata pencaharian penduduk pada bidang pekerjaan
didominasi oleh Pedagang, PNS dan Karyawan Swasta
4. Struktur Organisasi Kelurahan Kelapa Dua, Jakarta Barat
Struktur Organisasi Kelurahan Kelapa Dua berpedoman pada Peraturan
Gubernur No. 286 tahun 2016 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kota
Administrasi, maka struktur Kelurahan Kelapa Dua, Jakarta Barat sebagai
berikut:
86
a. Lurah
b. Sekretariat Kelurahan
c. Seksi Pemerintahan, Ketertiban dan Keamanan
d. Seksi Kesejahteraan Rakyat
e. Seksi Perekonomian, Pembangunan dan Lingkungan Hidup
1. Tugas dan Fungsi Kelurahan Kelapa Dua, Jakarta Barat
Sesuai dengan Peraturan Gubernur No. 286 tahun 2016 tentang
Organisasi dan Tata Kerja Kota Administrasi, Kelurahan Kelapa Dua, Kota
Administrasi Jakarta Barat mempunyai tugas membantu Walikota
dalammelaksanakan penyelenggaraan urusan pemerintahan yangdilimpahkan
Gubernur dan mengoordinasikan pelaksanaantugas pemerintahan daerah di
wilayah Kelurahan. Dalam menjalankan tugas sebagaimana di maksud,
Kelurahan menjalan fungsi sebagai berikut :
a. penyusunan bahan rencana strategis dan rencana kerja dan
anggaran Kota Administrasi
b. pelaksanaan rencana strategis dan dokumen pelaksanaan anggaran
Kota Administrasi
c. pelaksanaan kegiatan pemerintahan Kelurahan
d. pemeliharaan dan perawatan prasarana dan sarana umum
e. pemberdayaan masyarakat Kelurahan
f. pelayanan masyarakat
87
g. penyelenggaraan ketenteraman dan ketertiban umum
h. pemeliharaan dan perawatan prasarana dan fasilitas layanan umum,
antara lain RPTRA
i. pembinaaan lembaga kemasyarakatan
j. pemeliharaan dan pengembangan lingkungan hidup dan
kebersihan, kesehatan lingkungan dan komunitas;
k. pengawasan rumah kost dan rumah kontrakan
l. pembinaan rukun warga dan rukun tetangga
m. pelaksanaan koordinasi dengan lembaga musyawarah Kelurahan
n. pengembangan dan pembinaan kesehatan masyarakat
o. penyediaan, penatausahaan, penggunaan, pemeliharaan dan
perawatan prasarana dan sarana kerja
p. pengelolaan kepegawaian, keuangan dan barang Kelurahan
q. pengelolaan ketatausahaan dan kerumahtanggaan Kelurahan
r. pengelolaan kearsipan, data dan informasi Kelurahan
s. pelaporan dan pertanggungjawaban pelaksanaan tugas dan fungsi
Kelurahan
t. perawatan taman interaktif
2. Bidang Kegiatan Kelurahan Kelapa Dua, Jakarta Barat
Berdasarkan susunan organisasi Kelurahan Kelapa Dua, Jakarta Barat di
pimpin oleh Lurah di bantu oleh Sekretariat Kelurahan dan 4 Seksi dan
masing-masing di antaranya memiliki tugas pokok dan fungsi yang berbeda, di
antaranya adalah sebagai berikut :
88
a. Lurah, dalam kedudukannya sebagai pimpinan wilayah Kelurahan,Lurah
mempunyai kewenangan mengoordinasikan, mengendalikan dan
mengevaluasi pelaksanaan operasional tugas dan fungsi seluruh
perangkat SKPD/UKPD yang ada diwilayah Kelurahan.
b. Sekretariat Kelurahan dipimpin oleh seorang Sekretaris Kelurahan yang
berkedudukan di bawah dan bertanggung jawab kepada Lurah, yang
menjalankan tugas dan fungsi sebagai seperti menyusun,
mengkoordinasikan , melaksanakan dan mengevaluasi bahan rencana
strategis dan rencana kerja dan anggaran sesuai dengan lingkup
tugasnya, menyelenggarakan musyawarah perencanaan pembangunan
Kelurahan, melaksanakan pengelolaan kepegawaian, keuangan,
penatausaah dan barang Kelurahan
c. Seksi Pemerintahan, Ketentraman dan Ketertiban, dipimpin oleh
seorang Kepala Seksi yang berkedudukan di bawah dan bertanggung
jawab kepada Lurah. Memiliki tugas dan fungsi seperti menyusun dan
melaksanakan bahan rencana strategis dan rencana kerja dan anggaran
sesuai dengan lingkup tugasnya, mernfasilitasi, memberikan bimbingan
dan konsultasi teknis lembaga kemasyarakatan termasuk Rukun
Tetangga dan Rukun Warga, melaksanakan kegiatan fasilitasi,
koordinasi dan kemitraan dengan Lembaga Musyawarah Kelurahan,
melaksanakan penanganan bencana dalam kurun waktu 1 (satu) kali
dalam 24 (dua puluh empat) jam dan melaksanakan kegiatan deteksi
89
dini terhadap potensi dan penyelesaian gangguan sosial di wilayah
Kelurahan
d. Seksi Kesejahteraan Rakyat, dipimpin oleh seorang Kepala Seksi yang
berkedudukan di bawah dan bertanggung jawab kepada Lurah,
memiliki tugas dan fungsi seperti menyusun dan melaksanakan bahan
rencana strategis dan rencana kerja dan anggaran sesuai dengan
lingkup tugasnya. memberikan fasilitasi, bimbingan dan konsultasi
pengembangan kegiatan sosial kemasyarakatan, kesetiakawanan
sosial, peduli sesama, gotong royong dan mental spiritual, melakukan
peenyusunan, pemeliharaan dan penyajian data serta informasi kondisi
dan permasalahan kesejahteraan sosial di wilayah Kelurahan
e. Seksi Perekonomian, Pembangunan dan Lingkungan Hidup dipimpin
oleh seorang Kepala Seksi yang berkedudukan dibawah Lurah dan
bertanggung jawab kepada Lurah. Memiliki tugas dan fungsi seperti
menyusun dan melaksanakan bahan rencana strategis dan rencana kerja
dan anggaran sesuai dengan lingkup tugasnya, melaksanakan
koordinasi, monitoring, pengawasan, pengendalian, pengembangan
serta pemberian bimbingan dan konsultasi terhadap industri rumah
tangga dan pelaksanaan kegiatan peningkatan dan pengembangan
perekonomian masyarakat Kelurahan, melaksanakan kegiatan
penanganan segera prasarana dan sarana umum dalam bidang jalan,
saluran, kebersihan, taman dan penerangan jalan serta melaksanakan
90
pemeliharaan dan perawatan prasarana dan sarana umum, seperti jalan
lingkungan, saluran air lingkungan, saluran tersier dan prasarana mandi
cuci kakus
.
91
B. Penyajian Data Fokus Penelitian
1. Implementasi E-Government melalui Qlue dalam Penyelenggaraan
Layanan Pengaduan Masyarakat
Di zaman yang semakin modern ini, perkembangan Teknologi
Informasi semakin mengalami perkembangan yang pesat, perkembangan
Teknologi Informasi yang semakin pesat ini memberikan dampak terhadap
berbagai sektor kehidupan salah satunya adalah sektor pemerintahan.
Pemerintah Provinsi DKI Jakata memanfaatkan perkembangan Teknologi
Informasi di sektor layanan pengaduan masyarakat dengan menggunakan
Aplikasi Qlue yang merupakan aplikasi berbasis smartphone sebagai kanal
resmi pengaduan masyarakat kepada Pemerintah Provinsi DKI Jakarta atas
permasalahan pelayanan publik dan pembangunan di DKI Jakarta.
Pemanfaataan teknologi informasi dan komunikasi di sektor layanan
pengaduan masyarakat melalui Qlue ini membawa sesuatu yang baru di
bandingkan dengan kanal-kanal pengaduan lainnya yang di harapkan dapat
memberikan kemudahan bagi masyarakat yang berada di wilayah Provinsi DKI
Jakarta dalam memberikan pengaduan.
Terdapat tiga elemen sukses e-Government dalam menerapkan konsep
digitalisasi pada sektor publik. Masing-masing elemen tersebut adalah support,
capacity dan value. Pada penelitian ini, penulis menggunakan ketiga elemen
tersebut untuk mengetahui implementasi Qlue yang merupakan konsep dari
pengembangan e-Government di Provinsi DKI Jakarta di bidang layanan
92
pengaduan masyarakat. Ketiga elemen tersebut memiliki keterkaitan satu
dengan lainnya, sehingga apabila salah satu elemen mengalami kendala bahkan
tidak berjalan maka juga akan berdampak pada elemen lainnya.
a. Support
Elemen pertama yang merupakan elemen yang sangat berpengaruh
terhadap keberhasilan implementasi e-Government di sebuah organisasi sektor
publik adalah adanya dukungan dari pemerintah itu sendiri selaku inisiator dan
eksekutor dari implementasi e-Government. Dukungan tersebut terdiri dari
berbagai aspek di antaranya adalah dukungan dari pemimpinnya itu sendiri,
dukungan alokasi sumber daya, dukungan secara regulasi dan juga upaya
sosialisasi. Dukungan-dukungan tersebut saling bersinergi satu sama lain dan
memberikan pengaruh atas implementasi e-government yang berjalan.
1). Kepemimpinan
Dalam menerapkan konsep electronic government di Provinsi DKI
Jakarta telah mendapat dukungan penuh dari Gubernur DKI Jakarta yang di
ikuti oleh keterlibatan antar aktor dengan beberapa SKPD agar implementasi
dan pengembangan electronic government mampu digunakan dalam rangka
menunjang kinerja aparatur dan meningkatkan pelayanan kepada masyarakat.
Berbagai macam program dan aplikasi dalam penerapan e-Government di DKI
Jakarta di terapkan dan di kembangkan dengan memanfaatkan Teknologi
Informasi Komunikasi (TIK). Qlue merupakan aplikasi yang di pilih oleh
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sebagai kanal resmi pengaduan masyarakat
93
yang lebih modern di DKI Jakarta dalam rangka meningkatkan partisipasi
masyarakat dalam pembangunan dan pelayanan . Hal ini seperti yang di
ungkap oleh Ibu Ira Utami selaku Koordinator Tim Monitoring Room Officer
Unit Pelaksana Teknis Jakarta Smart City Provinsi DKI Jakarta :
³4OXH GL ODXQFKLQJ dari tanggal 15 desember tahun 2014, biasanya kan
pengaduan lebih ke teks, kita nulis form terus masukkin ke kotak atau
kita mengadu lewat sms, nah terus ada pihak swasta PT. Qlue performa
indonesia atau yang dulu namanya PT. TerallogiQ, yang
mempresentasikan ke Pemprov DKI Jakarta bahwa ada kanal pengaduan
lain yang lebih modern di bandingkan kanal kanal yang dulu karena Qlue
ini kanal pengaduan yang lebih ke sosial media, kemudian mulai dari
Januari 2015 di ajarkan ke lurah-lurah ataupun SKPD tentang cara
penggunakan Qlue dan CROP, mas udah tau kan kalo Qlue itu kanal
resmi pengaduan pemprov buat masyarakat menyampaikan aduan nah
nanti di terima lurah lewat aplikasi CROP, jadi semacam tools-nya aparat
yang kita buat. Karena kan pak gubernur inginnya transparansi dan
mewujudkan smart city, nah kalo dulu dulu lewat kanal pengaduan yang
lama kita ga tau tuh mas aduan kita udah sampe mana, kalo di Qlue ini
kita bisa liat laporan kita udah sampe mana apakah menunggu apa masih
proses atau tindak lanjutnya seperti apa. Jadi bisa lebih mewujudkan
transparansi yang sesuai dengan konsep smart city yang lagi mau di
wujudkan Jakarta yang dimana kalo lewat Qlue ini menyasar kesmart
governance dan smart people´ :DZDQFDUD SDGD 6HODVD -DQXDUL
2017 di Jakarta Smart City Lounge, UPT Jakarta Smart City, Dinas
Komunikasi Informatika dan Statistik DKI Jakarta)
Berdasarkan pendapat di atas, hal yang melatarbelakangi digunakannya
Qlue sebagai kanal resmi pengaduan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta
berawal dari PT. Qlue Performa Indonesia sebagai pengembang aplikasi yang
mempresentasikan aplikasinya kepada Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mulai melaunching Qlue ke masyarakat pada
15 Desember tahun 2014 dan setelah itu intensif melakukan sosialisasi kepada
Kelurahan tentang Aplikasi Qlue dan Aplikasi CROP. Adapun Aplikasi CROP
(Cepat Respon Opini Publik) merupakan aplikasi sebagai alat bagi aparatur
94
dalam menerima aduan dari masyarakat melalui Qlue dan memberikan
tindaklanjut. Qlue dipilih sebagai kanal resmi pengaduan oleh Pemerintah
Provinsi DKI Jakarta di anggap lebih modern dan mudah di pantau progress
dari aduan yang diberikan di banding kanal-kanal yang ada sebelumnya, selain
itu penggunaan Qlue sebagai kanal resmi pengaduan masyarakat di anggap
dapat mewujudkan konsep smart city yang sedang di inisiasikan oleh Gubernur
DKI Jakarta, dimana dari konsep smart city tersebut hal yang ingin di sasar
melalui Qlue adalah agar terwujudnya smart governance dan smart people.
Dukungan dari Gubernur DKI Jakarta dalam mensukseskan
implementasi electronic government melalui Qlue dalam penyelenggaraan
layanan pengaduan masyarakat adalah dengan membentuk Unit Pelaksana
Teknis Jakarta Smart City yang secara struktur merupakan bagian dari Dinas
Komunikasi Informatika dan Statistik DKI Jakarta. Unit Pelaksana Teknis
Jakarta Smart City ini merupakan unit yang berfokus dalam menjalankan
program smart city yang dimana Qlue merupakan bagian di dalamnya. Secara
spesifik, dengan dibentuknya unit tersebut, pengaduan masyarakat yang masuk
melalui Qlue akan dapat di monitor dan di follow up tindak lanjutnya kepada
pihak Kelurahan. Hal ini seperti yang di ungkapkan Ibu Wise selaku Kepala
Bagian Tata Usaha Unit Pelaksana Teknis Jakarta Smart City DKI Jakarta :
³-HODV EDSDN *XEHUQXU PHQGXNXQJ smart city ini dimana Qlue juga di
dalamnya. Bisa di lihat dengan dibentuknya UPT Jakarta Smart City ini
yang juga masih bagian dari Diskominfo. Dibentuknya tanggal 15
Desember tahun 2014. Tujuan unit ini dibentuk untuk mensukseskan
program smart city yang ada di DKI salah satunya Qlue ini. Jadi dengan
adanya unit ini aduan masyarakat melalui Qlue akan selalu kita monitor
dan kita follow up terutama pengaduan yang masih berwarna merah atau
95
belum di tindak lanjut. Oh ya sistem Qlue itu kan ada sistem ranking,
yang dimana setiap minggunya di rapim gubernur itu selalu dilihat
ranking ranking dan aduan dari warga yang sudah dan belum di tindak
lanjut oleh pihak kelurahan karena setiap pengaduan kan masuknya ke
kelurahan dahulu. Nah itu ada rankingnya dan bisa dilihat. Selain
kelurahan ada SKPD. Nah itu selalu di monitor oleh pak gubernur. Pak
gubernur juga punya dashboard sendiri yang bisa di monitor melalui
laptopnya ataupun mobile phone nya. Juga kalo di provinsi itu kan selalui
ada rapat pimpinan setiap hari senin perwilayah yang di pimpin oleh
walikota. Pak wali juga memonitor setiap tindak lanjut pengaduan. Dari
kelurahan dari kecamatan itu di koordinasi oleh pak wali. Jadi semuanya
memonitor apa yang sudah dikerjakan. Kalau ditanya bagaimana yang
performnya kurang baik dalam menindak lanjut aduan lewat Qlue
biasanya ditegur saat Rapat pimpinan, Gubernur tegur walikota, nanti
walikota akan tegur lurah bersangkutan dan jika masih kurang baik jadi
pertimbangan untuk dipindah tugaskan karena penanganan pengaduan
PHODOXL4OXHPHQMDGLVDODKVDWXLQGLNDWRUSHQLODLDL/XUDK´:DZDQFDUD
pada Selasa, 17 Januari 2017 di Ruang Tata Usaha UPT Jakarta Smart
City, Dinas Komunikasi Informatika dan Statistik Provinsi DKI Jakarta)
Hal tersebut di perkuat oleh Ibu Rohmah selaku Sekretaris Lurah Kelapa
Dua yang mengatakan bahwa :
³/XUDK GDQ NDPL VHPXD GL GRURQJ DJDU .HOXUDKDQ ELVD EDLN GDODP
memberikan tindaklanjutnya melalui Qlue, setiap rapat pimpinan ataupun
pertemuan yang di agendakan khusus membahas Qlue selalu itu di
sampaikan oleh Walikota yang tentu atas perintah Gubernur. Kita terus
berupaya untuk itu. Kita juga koordinasiin ini ke petugas PPSU Kelurahan
ataupun Satpol PP Kecamatan. Karena kan Kelurahan tidak bisa kerja
VHQGLUL KDUXV GL EDQWX PHUHND GDQ EDKNDQ 6.3' ODLQQ\D MXJD´
(Wawancara pada Senin, 13 Februari 2017 di ruang Sekretaris Lurah
Kelapa Dua)
Berdasarkan hasil beberapa wawancara di atas, dukungan dari Gubernur
DKI Jakarta dalam mensukseskan implementasi electronic government melalui
Qlue dalam penyelenggaraan layanan pengaduan masyarakat adalah dengan
membentuk Unit Pelaksana Teknis Jakarta Smart City yang merupakan bagian
dari Dinas Komunikasi Informatika dan Statistik Provinsi DKI Jakarta yang
berfokus pada penyelenggaraan program smart city yang dimana Qlue
96
merupakan di dalamnya. Dukungan dari Gubernur DKI Jakarta lainnya adalah
dengan memonitor melalui dashboard milknya atas ranking kelurahan yang di
update pada Aplikasi Qlue setiap harinya, Gubernur DKI Jakarta selalu
mendorong Walikota melalui rapat pimpinan tingkat Provinsi agar dapat
mendorong Lurah, Camat ataupun Suku dinas di wilayahnya agar dapat bekerja
sama dalam menindak lanjuti pengaduan dari masyarakat melalui Qlue. Lurah
pun melanjutkannya dengan senantiasa berkoordinasi dengan petugas
Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) Kelurahan dan Satuan Polisi
Pamong Praja Kecamatan serta SKPD lainnya, hal ini dikarenakan Kelurahan
tidak dapat melakukan tindaklanjut sendiri, perlu adanya keterlibatan lintas
sektor.
Salah satu upaya dari Gubernur DKI Jakarta bagi Lurah, Camat ataupun
Suku dinas yang kurang baik dalam menindak lanjuti aduan dari masyarakat
melalui Qlue adalah dengan teguran lisan yang dimana teguran tersebut di
berikan kepada Walikota melalui rapat pimpinan tingkat Provinsi dan
Walikota akan memberikan teguran secara lisan melalui rapat pimpinan tingkat
Kota kepada Lurah, Camat ataupun Suku dinas yang kinerjanya kurang baik
dalam tindaklanjut aduan melalui Qlue. Apabila Kelurahan terus menerus
mengalami kinerja yang tidak baik dalam menindaklanjuti aduan melalui Qlue,
maka Lurah tersebut dapat di mungkinkan untuk di pindahtugaskan, hal di
karenakan penanganan aduan dari masyarakat melalui Qlue di jadikan sebagai
indikator penilaian kinerja Lurah,
97
hal ini sebagaimana yang di katakan oleh Bapak Santoso Biro Tata
Pemerintahan Provinsi DKI Jakarta :
³6DQNVLEDJLNHOXUDKDQ\DQJNXUDQJEDLNGDULSLPSLQDQLWXPHODOXLWHJXUDQ
lisan, di sampaikan di rapat pimpinan, di bacain ranking yang bawah
bawahnya. Di grup whatsapp pernah juga pak Gubernur tegur langsung
ke salah satu Lurah soal penanganan aduannya lewat Qlue yang masih
banyak warna merahnya. Tapi pada dasarnya Lurah walaupun tidak
ditegur akan merasa saya harus bagus performnya dalam Qlue ini karena
Qlue ini kan masuk penilaian kinerjanya mereka. Akan jadi
pertimbangan di pindahtugaskan jika kinerjanyDWLGDNEDLN´:DZDQFDUD
pada Senin, 6 Februari 2017 di Ruang Biro Tata Pemerintahan)
Berdasarkan wawancara di atas upaya yang di lakukan oleh Gubernur
dan Walikota agar penanganan tindak lanjut aduan melalui Qlue dapat berjalan
dengan baik yaitu melalui teguran lisan yang diberikan melalui rapat pimpinan
dan dengan di jadikannya indikator penanganan aduan melalui Qlue sebagai
indikator kinerja Lurah sehingga Lurah di harapkan untuk dapat terpacu untuk
meningkatkan kinerjanya.
Penilaian kinerja atas penanganan aduan melalui Qlue untuk saat ini baru
mencakup penilaian untuk Lurah saja, untuk camat dan kepala dinas penilaian
masih belum di lakukan, hal ini sebagaimana yang di katakan oleh Ibu Ira
Utami selaku Koordinator Tim Monitoring Room Officer Unit Pelaksana
Teknis Jakarta Smart City Provinsi DKI Jakarta, ³EHWXO EDUX XQWXN /XUDK
camat dan dinas untuk saat ini sepengetahuan saya masih belum di nilai
NLQHUMDQ\D GDODP WLQGDN ODQMXW 4OXH´ :DZDQFDUD SDGD 6HQLQ )HEUXDUL
2017 di Jakarta Smart City Lounge, Unit Pelaksana Teknis Jakarta Smart City)
98
Gambar 7. Scorecard Penilaian Kinerja Lurah
Sumber : Biro Tata Pemerintahan Provinsi DKI Jakarta, 2017
Pemanfaatan TIK dalam penerapan dan pengembangan electronic
government di bidang layanan pengaduan masyarakat melalui Qlue tidak hanya
mendapat dukungan dari Gubernur DKI Jakarta, Walikota dan Lurah Kelapa
Dua, namun juga mendapat dukungan dari pimpinan Kepala Dinas Komunikasi
Informatika dan Statistik Provinsi DKI Jakarta. Hal tersebut sebagaimana yang
di jelaskan oleh Ibu Ira Utami selaku Koordinator Tim Monitoring Room
Officer Unit Pelaksana Teknis Jakarta Smart City Provinsi DKI Jakarta bahwa
99
³.HSDOD 'LVNRPLQIR MXJD PHQGXNXQJ 4OXH LQL EHOLDX PHQGRURQJ VXNX
dinas kominfo di tingkat wilayah agar kooperatif membantu lurah, PPSU
ataupun SKPD lainnya di tingkat wilayah apabila ada yang mengalami
kesulitan secara teknis untuk dibantu. Selain itu juga sekarang lagi
dikembangkan CRM, Citizen Relation Management, jadi kan kalo
sekarang tools buat aparatur di lapangan dalam menerima aduan dan
memberi tindak lanjut kan lewat CROP, ya walaupun ada juga yang
menggunakan Qlue karena CROP nya sering error. Nah nanti bisa lewat
CRM. Citizen RelationManagement (CRM) Mobile adalah aplikasi untuk
Dinas dan Kelurahan agar dapat berkoordinasi dan menyelesaikan
laporan warga secara lebih mudah. CRM dibangun untuk meningkatkan
kualitas pelayanan penanganan pengaduan masyarakat dengan lebih
efektif dan efisien. Keuntungannya melalui CRM, semua pengaduan baik
lewat sosmed, email, sms ataupun website bisa keliatan semua disini.
selain itu permasalahan error di CROP juga sudah tidak ada lagi di CRM
LQL´ :DZDQFDUD SDGD 6HODVD -DQXDUL GL -DNDUWD 6PDUW &LW\
Lounge, UPT Jakarta Smart City, Dinas Komunikasi Informatika dan
Statistik Provinsi DKI Jakarta)
Sesuai dengan pernyataan yang disampaikan di atas, dapat di simpulkan
bahwa dalam mensukseskan implementasi e-Government melalui Qlue dalam
penyelenggaraan layanan pengaduan masyarakat Kepala Dinas Komunikasi
Informatika dan Statistik Provinsi DKI Jakarta dengan cara mendorong suku
dinas kominfo di setiap wilayah untuk kooperatif dalam membantu Lurah,
Camat, PPSU ataupun SKPD di wilayahnya apabila memiliki kendala secara
teknis. Selain itu, dalam rangka meningkatkan efektivitas dan efisiensi, sedang
dikembangkannya aplikasi CRM atau yang memiliki kepanjangan Citizen
Relation Management, yang nantinya aparatur di lapangan dapat lebih mudah
berkoordinasi dan memantau aduan dari masyarakat melalui berbagai kanal
yang tersedia dan juga sebagai tindaklanjut atas aplikasi CROP yang sering
dikeluhkan aparatur yang dimana sering mengalami gangguan.
100
2). Alokasi Sumberdaya
Dukungan alokasi sumberdaya di setiap tataran pemerintahan yang ada
dengan semangat lintas sektor dalam pengimplementasian Qlue merupakan
aspek yang dibutuhkan dalam menunjang implementasi e-Government melalui
Qlue agar dapat berjalan dengan baik. Sumberdaya yang perlu alokasikan
tersebut berupa sumberdaya manusia, sumberdaya finansial maupun
sumberdaya yang bersifat teknis seperti perangkat penunjang. Berdasarkan
hasil wawancara dengan Ibu Ira Utami selaku Koordinator Tim Monitoring
Room Officer Unit Pelaksana Teknis Jakarta Smart City Provinsi DKI Jakarta
´6XPEHUGD\D\DQJDGD\DPDVDGD6'0NDOR6'0SLKDN\DQJWHUOLEDW
langsung Diskominfo utamanya JSC ini sebagai yang memonitoring dan
memfasilitasi, ada dari kelurahan, kecamatan dan semua dinas di provinsi
DKI selaku pihak yang berwenang menindak lanjuti aduan masyarakat
yang masuk melalui Qlue. terus ada juga dari PT Qlue Performa
Indonesia selaku pengembang aplikasi. Terus selain SDM ada
infrastruktur kayak server, jaringan, gadget, hyperwall sama perangkat
komputer. Nah kalau untuk anggaran gini, Qlue ini kan kita di kasih free
berdasarkan perjanjian kerjasama dengan PT. Qlue Performa Indonesia
jadi ya kita ga keluar uang sepeserpun. Cuma paling keluar anggaran
untuk kalo JSC selenggarain event event sosialisasi diluar dan sumbernya
GDUL $3%' 6HFDUD NHVHOXUXK VXPEHUGD\D \DQJ DGD VXGDK PHPDGDL´
(Wawancara pada 17 Januari 2017 di Jakarta Smart City lounge, UPT
Jakarta Smart City, Dinas Komunikasi Informatika dan Statistik, Provinsi
DKI Jakarta)
Berdasarkan wawancara di atas bahwa sumberdaya yang digunakan dan
sudah teralokasi di antaranya sumberdaya manusia yang dimana adalah
sumberdaya manusia dari UPT Jakarta Smart City sebagai pihak yang
mengelola aplikasi dan melakukan monitoring, sumberdaya manusia dari
Kelurahan, Kecamatan dan dinas dinas di wilayah Pemerintahan Provinsi DKI
Jakarta selaku pihak yang menindaklanjuti pengaduan dan sumberdaya
101
manusia dari PT. Qlue performa indonesia selaku pembuat dan pengembang
Aplikasi yang bekerja sama dengan UPT Jakarta Smart City. Selain
sumberdaya manusia, sumberdaya yang digunakan dan tersedia adalah sumber
daya infrastruktur dimana di antaranya adalah server, jaringan, gadget dan
perangkat komputer. Disamping sumberdaya manusia dan infrastruktur,
terdapat sumberdaya anggaran yang dimana berasal dari APBD dan
penggunaanya untuk kegiatan sosialisasi Qlue. Secara keseluruhan sumberdaya
yang sudah teralokasi di Unit Pelaksana Teknis Jakarta Smart City sudah
memadai.
Pendapat terkait dukungan alokasi sumberdaya dalam mendukung
implementasi Qlue diperkuat dengan pendapat Bapak Fazza selaku Staff
Sistem Administrator Unit Pelaksana Teknis Jakarta Smart City menyatakan
bahwa :
³GL-6&VHQGLULMDULQJDQVRIWZDUHKDUGZDUHGDQJDGJHWVLKVXPEHUGD\D
infrastruktur yang ada dan kita gunakan. SDM yang terlibat dari
Diskominfo ini dari UPT Jakarta Smart City dengan keterlibatan semua
divisi. Selain itu ada dari kelurahan dan kecamatan yang pegang
aplikasinya ada lurah, sekel, kasie, sama 70 PPSU. Kita bikin sih 90
akun. Cuma setiap kelurahan atau kecamatan biasanya sih punya 3
operator yang aktif. Dan spesifikasi siapa yang megang terserah mereka.´
(Wawancara pada Selasa, 18 Januari 2017 di ruang Staff UPT Jakarta
Smart City, Dinas Komunikasi Informatika dan Statistik Provinsi DKI
Jakarta)
Hal serupa juga disampaikan oleh Bapak Abim selaku Staff Monitoring
dan Evaluasi UPT Jakarta Smart City Provinsi DKI Jakarta mengatakan bahwa
³.HWHUlibatan Diskominfo melalui JSC adalah memonitoring,
mensosialisasikan dan menjalin kerjasama dengan PT. Qlue Performa
Indonesia. Perihal pembuatan aplikasi itu PT Qlue Performa Indonesia
102
itu sama pengembangannya juga, tapi kita bisa kasih masukan lewat
koordinasi di grup whatsapp. Terkait bidang yang bertanggung jawab
pada dasarnya semua bertanggung jawab di JSC ini. Ada divisi
komunikasi yang melakukan sosialiasi dan menjalin koordinasi dengan
stakeholder terkait, ada divisi field and operational yang terdiri dari tim
command center, tim respon opini publik, dan tim lapangan. Nah mereka
tugasnya pengelolaan aspirasi masyarakat seperti Qlue itu sama observasi
lapangan berdasarkan aspirasi masyarakat. Ada divisi data dan analis
yang bagian analisa data atas kebijakan Jakarta Smart City. Terus ada
divisi monitoring dan evaluasi yang bagian memonitor dan mengevaluasi
WHUNDLWGHQJDQVPDUWFLW\LQL´:DZDQFDUDSDGD5DEX-DQXDULGL
Ruang Staff UPT Jakarta Smart City, Dinas Komunikasi Informatika dan
Statistik, Provinsi DKI Jakarta)
Berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa narasumber di atas dapat
disimpulkan bahwa sumberdaya manusia dalam implementasi e-Government
melalui Qlue telah di alokasikan dengan keterlibatan lintas sektor. Sumberdaya
yang memiliki lintas sektor tersebut di antaranya sumberdaya manusia yang
saling berkaitan sesuai tupoksinya seperti dari UPT Jakarta Smart City dengan
keterlibatan seluruh divisi, dibantu dengan sumberdaya manusia dari PT. Qlue
Performa Indonesia serta sumberdaya manusia dari Lurah dan SKPD terkait.
Ketiga stakeholder tersebut memiliki tugas pokok dan fungsi yang berbeda dan
saling bekerja sama satu sama lainnya. Unit Pelaksana Teknis Jakarta Smart
bertindak sebagai pihak yang memonitoring aduan dari masyarakat agar dapat
tertangani dengan baik, serta pengelolaan aplikasi. Pengelolaan yang dimaksud
adalah memastikan Aplikasi di Jakarta Smart City dalam hal ini adalah Qlue
berjalan dengan baik dan melakukan pengembangan Aplikasi CROP yang
digunakan oleh aparatur dalam menerima dan menindaklanjuti aduan. PT. Qlue
performa indonesia bertindak sebagai pemilik Aplikasi Qlue dan melakukan
pengembangan terhadap Aplikasi Qlue agar senantiasa berjalan dengan baik.
103
Dalam pengembangan, UPT Jakarta Smart City terlibat di dalam pemberian
input berupa masukan di dalam proses pengembangan dan Kelurahan beserta
SKPD lainnya bertindak sebagai pihak yang menangani aduan.
Dalam alokasi sumberdaya yang digunakan, terdapat alokasi
sumberdaya yang masih belum maksimal sehingga membuat penanganan
aduan oleh pihak Kelurahan menjadi tidak maksimal, hal ini sebagaimana yang
di sampaikan oleh Ibu Rohati selaku Kepala Perekonomian, Pembangunan dan
Lingkungan Hidup Kelurahan Kelapa Dua mengungkapkan bahwa :
³MDGLJLQL, yang harus diketahui terlebih dahulu kelurahan itu kan perannya
sebagai pihak yang menindaklanjuti apabila memang sesuai tupoksinya
atau mengkoordinasikannya ke sudin, jadi aduan masuk pertama kali ke
kelurahan, kalo yang kelurahan bisa tangani, kelurahan tangani, Yang bisa
kelurahan tangani sendiri yang temanya tentang ketertiban umum dan
lingkungan hidup misal saluran, sampah-sampah, PKL liar , rumah kost,
parkir liar atau memtoppingan pohon tapi memang sekedar topping bukan
penebangan. Kalo penebangan kan dinas [Link] ga kita
koordinasi dengan kecamatan sama suku dinas terkait. Yang belum
teralokasi itu kelurahan belum punya petugas dinas perhubungan dan
satpol pp di kecamatan yang terbatas. Kalau petugas PPSU kita sudah
memadai. Selain itu terkait infrastruktur yang kita gunain ya hp aja yang
udah di install aplikasi Qlue sama CROP dan internet. Nah yang pegang
Qlue dan CROP ada lurah, sekel, semua kepala seksi dan dibantu PPSU
agar bisa membantu mem TL Qlue, sampah sampah saluran, apabila ada
laporan mereka yang turun dan membantu menghijaukan. Kalo PPSU
yang pegang per regu. Per regu 5 orang. Di setiap regu ada 2 orang yang
pegang´:DZDQFDUDSDGD6HODVD-DQXDULGLUXDQJ.HSDOD6HNVL
Kelurahan Kelapa Dua)
Berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa narasumber di atas dapat
disimpulkan bahwa sumberdaya yang terlibat di kelurahan adalah Lurah,
Kepala Seksi dan Petugas Prasarana Umum yang bertugas untuk memberi
tindak lanjut atas aduan yang masuk melalui Qlue. Namun dikarenakan tidak
semua aduan dapat di selesaikan pihak kelurahan, oleh karenanya kelurahan
104
memerlukan pihak kecamatan dan suku dinas di wilayahnya sehingga
sumberdaya dinas-dinas tersebut juga diperlukan. Namun dalam proses
penanganan aduan yang merupakan tupoksi Kelurahan, pihak Kelurahan
Kelapa Dua Jakarta Barat memiliki kendala dalam alokasi sumberdaya, yang
dimana ketiadaan petugas Dinas Perhubungan baik di tingkat Kelurahan
ataupun Kecamatan, membuat pengaduan yang masuk menjadi tidak optimal.
Berangkat dari beberapa hasil wawancara narasumber yang disebutkan di
atas, dapat di simpulkan bahwa instansi yang memiliki keterlibatan terkait
berjalannya implementasi Qlue adalah sebagai berikut :
a). SKPD penanggung jawab kegiatan yaitu Dinas Komunikasi
Informatika dan Statistik melalui Unit Pelaksana Teknis Jakarta
Smart City berperan sebagai pengelola, memonitoring, pengembang
sistem dan mengevaluasi implementasi Qlue dalam penyelenggaraan
layanan pengaduan masyarakat
b). PT. Qlue Performa Indonesia selaku pembuat aplikasi
c). SKPD Kelurahan sebagai estate manager yang menerima aduan dan
menindaklanjuti atau mengkoordinasikan aduan masyarakat atas
permasalahan di lingkungannya.
d). SKPD Kecamatan sebagai pihak yang membantu atas pelaksanaan
tindak lanjut aduan masyarakat atas permasalahan di lingkungannya
105
e). SKPD Dinas-Dinas di wilayah Provinsi DKI Jakarta araupun Suku
Dinas di tingkat Kota sebagai pihak yang membantu atas
pelaksanaan tindak lanjut aduan masyarakat melalui Kelurahan atas
permasalahan di lingkungannya
3). Dasar Hukum
Digitalisasi pada sektor publik harus terus di dorong dan di kembangkan
untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas dalam penyelenggaraan
pelayanan publik oleh karenanya pengembangan Teknologi Informasi perlu di
lakukan guna mencapai hal tersebut. Provinsi DKI Jakarta sebagai aktor yang
memanfaatkan penggunaan Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam
penyelenggaraan Pemerintahan dan Pelayanan Publik berbasis komputerisasi.
Salah satu pemanfaatan TIK di Provinsi DKI Jakarta adalah melalui layanan
pengaduan masyarakat melalui Qlue yang dimana dasar hukum yang
digunakan adalah Instruksi Presiden No.3 tahun 2003 tentang Kebijakan dan
Strategi Nasional Pengembangan Electronic Government, Peraturan Gubernur
Nomor 16 Tahun 2008 tentang Rencana Induk Teknologi Informasi dan
Komunikasi serta Instruksi Gubernur Nomor 223 Tahun 2015 tentang
Penggunaan Aplikasi Jakarta Smart City di Lingkungan Pemerintah Provinsi
DKI Jakarta. Hal tersebut berdasarkan hasil wawancara yang di ungkapkan
Bapak Abim selaku Staff Monitoring dan Evaluasi UPT Jakarta Smart City
Provinsi DKI Jakarta:
³-DGL4OXHLQLSD\XQJQ\D Inpres No. 3 tahun 2003 tentang Kebijakan dan
Strategi Nasional Pengembangan e-Govenment karena Qlue ini kan
106
bentuk pengembangan e-Government dalam bidang layanan pengaduan,
terus ke Pergub No. 16 Tahun 2008 tentang Rencana Induk Teknologi
Informasi dan Komunikasi, Instruksi Gubernur No. 223 tahun 2015
tentang Penggunaan Aplikasi Jakarta Smart City di Lingkungan
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sama Pergub No.7 tahun 2017 tentang
Pedoman Teknis Penanganan Prasarana dan Sarana Umum Tingkat
.HOXUDKDQ´:DZDQFDUDSDGD5DEX-DQXDULGL5XDQJ6WDII837
Jakarta Smart City, Dinas Komunikasi Informatika dan Statistik, Provinsi
DKI Jakarta)
Berdasarkan wawancara di atas dapat di simpulkan bahwa Qlue memiliki
berbagai dasar hukum sebagai pondasinya dimana di antaranya adalah Instruksi
Presiden No.3 Tahun 2003 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional
Pengembangan e-Govenmentdan Peraturan Gubernur No. 16 tahun 2008
tentang Rencana Induk Teknologi Informasi dan Komunikasi. Selain itu secara
spesifik dasar hukum yang menjadi pondasi dari implementasi Qlue adalah
Instruksi Gubernur No. 223 tahun 2015 tentang Penggunaan Aplikasi Jakarta
Smart City di Lingkungan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, melalui Instruksi
Gubernur tersebut di Instruksikan Kepala Badan Provinsi DKI Jakarta, Kepala
Dinas Provinsi DKI Jakarta, Walikota di wilayah Provinsi DKI Jakarta, Bupati
Kepulauan Seribu, Camat dan Lurah di wilayah Provinsi DKI Jakarta untuk
mengunduh, mengoperasionalkan dan memanfaatkan Aplikasi Jakarta Smart
City. Disamping itu ada pula Peraturan Gubernur No.7 Tahun 2017 tentang
Pedoman Teknis Penanganan Prasarana dan Sarana Umum Tingkat Kelurahan
yang dimana melalui Peraturan Gubernur tersebut tertuang bahwa laporan dari
Aplikasi Qlue merupakan salah satu dasar dari dasar pelaksanaan penanganan
prasarana dan sarana umum di tingkat Kelurahan.
107
Qlue pada dasarnya adalah sebuah layanan pengaduan masyarakat yang
di kemas dengan sesuatu yang baru melalui pemanfaatan teknologi. Namun
sebelumnya Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pada dasarnya sudah
menyediakan kanal kanal pengaduan lainnya misalnya melalui sms, media
sosial seperti facebook dan twitter ataupun website. Layanan pengaduan
masyarakat yang telah disediakan Pemerintah Provinsi DKI Jakata ini
sebenarnya adalah amanat undang-undang karena DKI Jakarta adalah sebuah
pemerintahan yang menyelenggarakan pelayanan publik sehingga perlu di
kelolanya sebuah sistem pengelolaan pengaduan masyarakat. Berdasarkan hasil
wawancara dengan Ibu Ira Utami selaku Koordinator Tim Monitoring Room
Officer Unit Pelaksana Teknis Jakarta Smart City Provinsi DKI Jakarta :
³NDOR NLWD WDULN OHELK MDXK ODJL 4OXH LWX NDQ VHEHQDUQ\D EDJLDQ GDUL
pengelolaan pengaduan masyarakat yang merupakan amanat Undang-
Undang No.25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik. Jadi memang
Pemerintah wajib mengelola pengaduan masyarakat ini. Terus juga Qlue
ini terintegrasi ke dalam RENSTRA Diskominfo nomenklaturnya
Pengembangan Mekanisme Pengaduan berbasis sistem informasi yang
5HDO 7LPH´ :DZDQFDUD SDGD Januari 2017 di Jakarta Smart City
lounge, UPT Jakarta Smart City, Dinas Komunikasi Informatika dan
Statistik, Provinsi DKI Jakarta)
Berdasarkan wawancara di atas layanan pengaduan masyarakat melalui
Qlue di jalankan dalam rangka melaksanakan amanat Undang-Undang No.25
Tahun 2009 Tentang Pelayanan Publik. Di dalam Undang-Undang tersebut
mengamanatkan bahwa penyelenggara Pelayanan Publik dalam hal ini adalah
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memiliki tanggung jawab untuk mengelola
pengaduan masyarakat. Qlue dalam Rencana Strategis Dinas Komunikasi
Informatika dan Statistik tahun 2013 ± 2017 masuk pada nomenklatur
108
Pengembangan Mekanisme Pengaduan berbasis Sistem Informasi yang Real
Time.
Berdasarkan hasil wawancara beberapa informan di atas dapat di
simpulkan bahwa Qlue memiliki landasan secara regulasi yang mendukung,
regulasi tersebut di antaranya sebagai berikut :
a). Instruksi Presiden No. 3 Tahun 2003 tentang Kebijakan dan Strategi
Nasional Pengembangan electronic government
b). Undang-Undang No. 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik
c). Peraturan Gubernur No. 16 Tahun 2008 tentang Rencana Induk
Teknologi Informasi dan Komunikasi
d). Instruksi Gubernur No. 223 tahun 2015 tentang Penggunaan Aplikasi
Jakarta Smart City di Lingkungan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta
e). Peraturan Gubernur No 280 Tahun 2014 Pembentukan Organisasi dan
Tata Kerja Unit Pengelola Jakarta Smart City
f). Peraturan No.7 tahun 2017 tentang Pedoman Teknis Penanganan
Prasarana dan Sarana Umum Tingkat Kelurahan
109
4). Sosialisasi
Salah satu elemen penunjang dalam implementasi e-Government adalah
sosialisasi. Sosialisasi merupakan suatu kegiatan yang di laksanakan dalam
rangka memberikan informasi dan edukasi kepada pihak yang memiliki andil
dalam implementasi e-Government melalui Qlue dan masyarakat sebagai
sasaran dari kegiatan. Dinas Komunikasi Informatika dan Statistik melalui
Unit Pelaksana Teknis Jakarta Smart City sudah memberikan sosialisasi
kepada pihak Kelurahan, Kecamatan, dan perwakilan RT/RW. Hal ini
sebagaimana yang di ungkapkan oleh Ibu Ira Utami selaku Koordinator Tim
Monitoring Room Officer Unit Pelaksana Teknis Jakarta Smart City Provinsi
DKI Jakarta :
³Soal sosialisasi dulu awal ada ke SKPD kayak lurah, camat sama suku
dinas wilayah lewat bimtek di kantor walikota masing-masing, Kalo
waktunya setelah Qlue sama Jakarta Smart City di launching. Kalo ke
masyarakat sosialisasinya kita ada program wisata balaikota, nah disitu di
kenalin. Apa itu Jakarta Smart City, apa itu Qlue,apa aja keunggulannya.
Atau melalui event event yang di selenggarakan JSC. Misalnya kita buka
stand di pekan raya jakarta sama di acara Kota Cerdas dalam Kreasi Seni
Budaya Betawi, tapi ini sifatnya sewaktu-waktu aja. Nah kalo wisata
balai kota itu mas jadi masyarakat bisa keliling balaikota sama kantor
UPT JSC setiap sabtu minggu free atau ga dikenakan biaya. Udah banyak
masyarakat yang kunjungan kesini baik masyarakat umum, sekolah dan
kampus kampus. Kita juga sosialisasi lewat media sosial seperti
facebook, twitter dan channel youtube´ (Wawancara pada 18 Januari
2017 di Jakarta Smart City Lounge, UPT Jakarta Smart City, Dinas
Komunikasi Informatika dan Statistik, Provinsi DKI Jakarta)
Perihal sosialisasi Qlue juga dikemukakan oleh Bapak Adi divisi
komunikasi Unit Pelaksana Teknis Jakarta Smart City Provinsi DKI Jakarta
yang mengatakan bahwa :
110
³L\DGLVRVLDOLVDVLNDQSDVWLQ\DNDODXNH6.3'LWXOHZDW%LPWHN6RVLDOLVDVL
ke masyarakat umum ada lewat wisata balaikota. mereka masyarakat luas,
sekolah dan kampus biasanya sering ada kunjungan kesini setiap sabtu dan
minggu. Kalau ke eksternalnya, kita ada event tapi ga rutin sepert buka
stand. Nah yang bertugas itu adalah divisi komunikasi karena divisi ini kan
bertugas mengelola atau ikut serta dalam event-event yang berkaitan
dengan Jakarta Smart City. Kita juga melakukan sosialisasi lewat medsos
seperti facebook, twitter dan youtube. Untuk sosialisasi ke RT/RW itu
KDUXVQ\DWXJDVQ\DNHOXUDKDQ´:DZDQFDUDSDGD-DQXDULGL5XDQJ
Staff, UPT Jakarta Smart City, Dinas Komunikasi Informatika dan
Statistik, Provinsi DKI Jakarta)
Gambar 8. Sosialisasi Qlue kepada Ketua RT dan RW
Sumber : Dokumentasi Kelurahan Kelapa Dua
111
Gambar 9. Kunjungan dari Kampus melalui Wisata Balaikota di JSC
Lounge
Sumber : Dokumentasi Unit Pelaksana Teknis Jakarta Smart City, 2016
Gambar 10. Kegiatan Sosialisasi Melalui Pekan Raya Jakarta
Sumber : Dokumentasi Unit Pelaksana Teknis Jakarta Smart City,
2016
112
Pelaksanaan sosialisasi Qlue kepada masyarakat luas hanya di lakukan
oleh Unit Pelaksana Teknis Jakarta Smart City melalui keikutsertaan dalam
pameran dan event yang diselenggarakan sewaktu-waktu seperti Pekan Raya
Jakarta, keikutsertaan pada pameran di bidang teknologi, pendidikan dan
kesenian, serta memanfaatkan program wisata balaikota untuk melakukan
sosialisasi, di samping itu sosialisasi juga diberikan melalui media sosial
seperti facebook, twitter dan youtube. sedangkan pihak kelurahan kelapa dua
tidak terlibat melakukan sosialisasi kepada masyarakat luas. Hanya saja, pihak
kelurahan kelapa dua telah melakukan sosialisasi kepada Ketua RT dan RW di
wilayahnya hal ini dilakukan menyusul di berlakukannya SK Gubernur No.903
tahun 2016 yang kemudian di cabut dengan Keputusan Gubernur No.2432
tahun 2016. Dimana sebelumnya melalui SK Gubernur No.903 tahun 2016
Ketua RT dan Ketua RW memiliki kewajiban untuk melaporkan permasalahan
dan kegiatan di lingkungannya melalui Qlue. Hal ini sebagaimana yang di
ungkapkan oleh Ibu Rohati selaku Kepala Seksi Perekonomian, Pembangunan
dan Lingkungan Hidup Kelurahan Kelapa Dua mengungkapkan bahwa :
³NDODX sosialisasi ke masyarakat luas mengenalkan Qlue itu kelurahan
tidak melakukan. UPT JSC yang sosialisasi sosialisasi gitu. Tapi
kelurahan kelapa dua melakukan sosialisasi ke Ketua RT dan Ketua RW
sekaligus mengajarkan mereka cara memberikan aduan melalui Qlue, hal
ini kita lakukan semenjak ada surat keputusan gubernur no.903 tahun
2016 yang kemudian di cabut dengan Keputusan Gubernur No.2432
tahun 2016 yang intinya dulu pernah diwajibkan ketua RT/RW
memberikan aduan melalui Qlue, jadi dulu kita sosialisasii ke Ketua
575:´ :DZDQFDUD SDGD 6HODVD -DQXDUL GL UXDQJ .HSDOD
Seksi Kelurahan Kelapa Dua)
Berdasarkan beberapa hasil wawancara yang sudah disebutkan di atas
dan dokumentasi yang sudah di sajikan dapat di simpulkan bahwa sosialisasi
113
merupakan kegiatan penting untuk di lakukan guna mensukseskan
implementasi electronic government melalui Qlue dalam penyelenggaraan
layanan pengaduan masyarakat. Sosialisasi yang sudah di lakukan adalah
sosialisasi dan pelatihan kepada kelurahan, kecamatan, dan suku dinas wilayah
melalui Bimbingan Teknis (BIMTEK). Sosialisasi di lakukan setelah Aplikasi
Qlue di launching sebagai bagian dari Jakarta Smart City, adapun pelaksanaan
BIMTEK pertama kali di laksana pada bulan Januari dan Februari tahun 2015.
Selain sosialisasi kepada kelurahan, kecamatan, dan suku dinas wilayah, di
selenggarakan pula sosialisasi kepada masyarakat yaitu melalui acara Pekan
Raya Jakarta (PRJ) yang di selenggarakan oleh Pemerintah Provinsi DKI
Jakarta, acara Kota Cerdas dalam Kreasi Seni Budaya Kelurahan Betawi yang
di selenggarakan oleh Unit Pelaksana Teknis Jakarta Smart City dan selain itu
juga melalui program wisata Balaikota. Sosialisasi yang di lakukan Unit
Pelaksana Teknis Jakarta Smart City ini bersifat sewaktu-waktu. Selain itu
berdasarkan hasil wawancara, pelaksanaan sosialisasi kepada masyarakat
umum hanya di lakukan Unit Pelaksana Teknis Jakarta Smart City, sedangkan
pihak Kelurahan Kelapa Dua tidak terlibat dalam mensosialisasikan Qlue
kepada masyarakat namun sosialisasi yang diberikan Kelurahan Kelapa Dua
adalah sosialisasi yang diberikan kepada Ketua RT/RW di wilayahnya hal ini
dilakukan sebagai langkah atas diberlakukannya wajib memberikan laporan
kepada Ketua RT dan RW atas permasalahan di lingkungannya yang di atur
melalui SK Gubernur No.903 tahun 2016, yang kemudian peraturan tersebut
telah dicabut melalui Keputusan Gubernur No.2432 tahun 2016.
114
Gambar 11. Media Sosial sebagai Sarana Sosialisasi Qlue
Sumber : [Link]
b. Capacity
Dalam membangun dan mengembangkan electronic government perlu
adanya suatu kemampuan dan kapasitas yang harus di miliki. Apabila
kemampuan dan kapasitas yang di miliki oleh pemerintah masih belum di
miliki, maka implementasi electronic governmentdapat dipastikan tidak akan
berjalan dengan baik. Unsur kapasitas yang harus di miliki ialah ketersediaan
sumberdaya infrastruktur, sumberdaya manusia yang memiliki kompetensi dan
sumberdaya finansial. Ketiga sumberdaya ini setidaknya harus di miliki oleh
Pemerintah. Apabila salah satu unsur tidak di miliki atau di miliki namun
masih belum maksimal, pemerintah perlu mengambil langkah strategis guna
mengoptimalkan sumberdaya tersebut dalam rangka menunjang kapasitas
115
pemerintah dalam implementasi elctronic government. Langkah strategis yang
dapat di ambil oleh pemerintah dapat melalui kerjasama antar Pemerintah
Daerah, kerjasama dengan pihak swasta ataupun merekrut Sumber Daya
Manusia yang kompeten atas bidang yang dibutuhkan. Unsur-unsur tersebut
yang harus di miliki oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam proses
pembangunan dan pengembangan electronic government.
1). Ketersediaan Sumber Daya Infrastruktur yang Memadai
Peralatan penunjang merupakan sesuatu hal yang harus di miliiki dalam
rangka implementasi Qlue, peralatan yang memadai akan sangat dapat
berdampak pada berjalannya proses implementasi sehingga dapat berjalan
dengan baik. Sumberdaya infrastruktur yang digunakan dalam implementasi
Qlue berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak Fazza selaku Staff Sistem
Administrator Unit Pelaksana Teknis Jakarta Smart City menyatakan bahwa :
³,QIUDVWUXNWXU \DQJ GL JXQDLQ GLVLQL \D " DGD VHUYHU VDPD NRPSXWHU ,WX
yang ada di kantor ya. Tambahannya ada gadgettapi ini pribadi punya
pegawai. Nah kalau komputer itu jumlahnya ada 84 semua pegawai
pegang. Nah kalo server kita punya 2. Dan itu semua miliknya Pemprov
'.,PDV´(Wawancara pada Selasa, 7 Februari 2017 di ruang Staff UPT
Jakarta Smart City, Dinas Komunikasi Informatika dan Statistik Provinsi
DKI Jakarta)
Pendapat tersebut diperkuat oleh ibu Ira Utami selaku Koordinator Tim
Monitoring Room Officer Unit Pelaksana Teknis Jakarta Smart City Provinsi
DKI Jakarta menambahkan
³3HUDODWDQSenunjang implementasi Qlue ada komputer jumlahnya ada 84,
server ada 2 dan itu milik Pemprov. Dan di tambah handphone pribadi
pegawai juga penunjang implementasi Qlue ini yang setiap hari ganti
gantian dari bagian room officer bertindak sebagai admin. Terus ada juga
116
hyperwall buat menampilkan Qlue chart sama Cloud semacam website
buat kita memantau kondisi penanganan aduan di wilayah di tambah
software yang digunakan untuk mengembangkan CROP dan CRM. Semua
peralatan tadi sampai saat ini lancar dan tidak ada NHQGDOD´ :DZDQFDUD
pada 7 Februari 2017 di Jakarta Smart City lounge, UPT Jakarta Smart
City, Dinas Komunikasi Informatika dan Statistik, Provinsi DKI Jakarta)
Berdasarkan beberapa wawancara di atas dapat kita lihat bahwa
spesifikasi perangkat keras dan perangkat lunak yang digunakan Unit
Pelaksana Teknis Jakarta Smart City dalam menunjang implementasi Qlue dan
pengembangannya, yaitu terdiri dari :
1. Hardware (Perangkat Keras)
a). Server utama 2 unit dengan spesifikasi sebagai berikut :
Sever 1
Spec : Type HP ProLiant XL230a Gen9 Server
Processor : Intel Xeon Quad Core E5-2637v3 3.5GHz
Memory : 6 x 8GB
Internal Disk : 2 x 1.2TB 12G SAS 10K (RAID 1)
Operating System : CentOS 6.5
File System : LVM
Server 2
Spec : Type HP ProLiant XL230 gen9 Server
Processor ; Intel Xeon Quad Core E5-2637v3 3.5GHz
Memory : 4 x 8Gb
117
Internal Disk : 2 x 1.2TB 12G SAS 10k (RAID 1)
Operating System ; CenOS 6.5
File System : LVM
b). Komputer yang tersedia di Unit Pelaksana Teknis Jakarta Smart City dan
digunakan dalam implementasi Qlue memilki spesifikasi sebagai berikut :
Spec : HP 14 Inch
Ram : 2 GB
Processor : Intel i5
VGA Card : Intel Grapich HD 3000
Operating System : Windows 7 64bit
2. Software (Perangkat Lunak)
a. Nude JS : API
b. Android Studio Ionic (Javascript) : Mobile Developer
c. Bootstrap : WIB developer
d. Hyperwall : Cloud
Infrastruktur yang digunakan Unit Pelaksana Teknis Jakarta Smart City
saat ini dalam kondisi baik dan sudah dapat menunjang implementasi Qlue.
Selain itu infrastrutur yang di gunakan Kelurahan dalam implementasi Qlue
adalah Smartphone, Jaringan Internet dan Aplikasi Qlue serta Crop, hal
tersebut sebagaimana yang di ungkap oleh Ibu Rohati selaku Kepala Seksi
118
Perekonomian, Pembangunan dan Lingkungan Hidup Kelurahan Kelapa Dua
mengungkapkan bahwa :
³DSD \D \DQJ NLWD JXQDNDQ FXPD smartphone yang udah terinstall
aplikasi Qlue sama jaringan internet. itu android semua operasi sistem hp
nya. Terus internet di kelurahan kan ada wifi gratis yang di sediain
Pemprov DKI. Cuma kan kalo Wifi cuma bisa di kantor sedangkan kalo
ada aduan kita kan penanganannya di lapangan, kalau udah selesai kita
tindak lanjut kan harus langsung di hijaukan di aplikasinya nah itu harus
VHGLD SDNHW GDWD SULEDGL´ (Wawancara pada Selasa, 31 Januari 2017 di
ruang Kepala Seksi Kelurahan Kelapa Dua)
Berdasarkan paparan hasil wawancara di atas, infrastruktur yang
digunakan kelurahan dalam implementasi Qlue adalah Smartphone dengan
operasi sistem Android dan ditunjang dengan koneksi internet. Adapun untuk
kondisi smartphone yang digunakan sudah dapat menunjang berjalannya
aplikasi yang ada, untuk internet yang digunakan adalah Wifi kelurahan yang
disediakan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Namun diikarenakan proses
penindak lanjutan aduan yang memerlukan penanganan di luar kelurahan
sehingga pegawai yang bertugas menindaklanjuti memerlukan internet
tambahan di luar dari Wifi yang disediakan di Kelurahan oleh pihak
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
2). Ketersediaan Sumberdaya Manusia yang Kompeten
Salah satu komponen penting dalam menunjang berhasilnya suatu
inisatif e-Government adalah sumberdaya manusia. Kompetensi SDM dalam
suatu organisasi memberi pengaruh terhadap tercapainya tujuan dan sasaran
sebagaimana yang telah di rancang dalam suatu program. Oleh karenanya
SDM di dalam suatu organisasi di tuntut untuk memiliki pengetahuan dan
119
kemampuan secara teknis yang berkaitan dengan program ataupun kegiatan
yang sedang di jalankan, hal ini menjadi dibutuhkan agar dalam pelaksanaan
dapat berjalan dengan baik. Sebelum suatu program ataupun kegiatan di
laksanakan hendaknya suatu organisasi mampu menyiapkan kualifikasi seperti
apa yang di perlukan oleh implementator di lapangan, dan menyiapkan agar
SDM yang ada dapat bertugas dan melaksanakannya sesuai dengan kualifikasi
yang diperlukan.
Dinas Komunikasi Informatika dan Statistika Provinsi DKI Jakarta
telah melakukan persiapan dalam rangka memenuhi kualifikasi SDM yang
digunakan dalam implementasi Qlue. Upaya persiapan tersebut ditempuh
melalui pelatihan dalam kegiatan Bimbingan Teknis kepada pegawai
kelurahan, kecamatan dan suku dinas wilayah. Hal tersebut sebagaimana yang
di ungkapkan oleh Ibu Ira Utami selaku Koordinator Tim Monitoring Room
Officer Unit Pelaksana Teknis Jakarta Smart City Provinsi DKI Jakarta :
³6RDO SHODWLKDQ DGD NH SHUZDNLODQ .HOXUDKDQ Kecamatan, dan Suku
Dinas di wilayah di Januari 2015 dan masih berkesinambungan sampe
sekarang tapi ketika ada pembaruan aplikasi aja, dan itu lewat bimtek. Itu
VHPXD GL IDVLOLWDVL VXNX GLQDV NRPLQIR XQWXN SHODWLKDQ OHZDW ELPWHN´
(Wawancara pada kamis 7 Februari 2017 di Jakarta Smart City lounge,
UPT Jakarta Smart City, Dinas Komunikasi Informatika dan Statistik,
Provinsi DKI Jakarta)
Berdasarkan hasil wawancara di atas bahwa Dinas Komunikasi
Informatika dan Statistik bersama dengan Unit Pelaksana Teknis Jakarta Smart
City telah melakukan pelatihan kepada perwakilan Kelurahan, Kecamatan dan
Suku dinas wilayah melalui Bimbingan Teknis. Bimbingan Teknis kepada
perwakilan Kelurahan, Kecamatan dan Suku dinas wilayah masih di
120
selenggarakan secara berkesinambungan hanya saja penyelenggaraannya tidak
menentu, disesuaikan dengan kebutuhan apabila ada pembaruan dan
memerlukan keterampilan baru untuk menggunakannya. Hal tersebut diperkuat
hasil wawancara yang di sampaikan oleh Bapak Eka selaku Staff Seksi
Pemerintahan Kelurahan Kelapa Dua terkait pelatihan, menyatakan bahwa :
³3LKDN NHOXUDKDQ PHODOXL SHUZDNLODQQ\D VDDW LWX GLEHUL SHODWLKDQ ROHK
Dinas Kominfo Pemprov dan UPT Jakarta Smart City, intinya kita diberi
bimbingan tentang cara penggunaan aplikasi, tata cara melakukan
tindaklanjut, untuk kegiatan BIMTEK nya itu sendiri di Kantor Walikota.
Kan ga semuanya datang, untuk yang ga datang saya bantu ajarin juga ke
Kasie sama Petugas PPSU atau Satpol PP yang ga dateng. Secara
penggunaan aplikasi, bagaimana cara melakukan Tindak Lanjut saya rasa
udah pada IDKDP´ :DZDQFDUD SDGD NDPLV Februari 2017 di Ruang
Tunggu Kelurahan Kelapa Dua)
Berdasarkan hasil wawancara diatas dapat di simpulkan bahwa Dinas
Komunikasi Informatika dan Statistik bersama Unit Pelaksana Teknis Jakarta
Smart City Provinsi DKI Jakarta telah memberikan pelatihan berupa
Bimbingan Teknis atas penggunaan Qlue dan CROP serta tata cara melakukan
tindak lanjut atas pengaduan yang masuk kepada pihak Kelurahan melalui
Qlue. Petugas kelurahan yang menjadi operator dalam layanan pengaduan
melalui Qlue seperti Lurah, Sekretaris Lurah, Petugas PPSU dan Satpol PP
kelurahan tidak merasa kesulitan dengan penggunaan aplikasi dan sudah
mengerti tentang tata cara melakukan penindaklanjutan laporan.
121
Gambar 12. Pelatihan Kepada Petugas Kelurahan, Kecamatan,
dan Suku Dinas Wilayah Melalui BIMTEK
Sumber: Dokumentasi Unit Pelaksana Teknis Jakarta Smart City
Unit Pelaksana Teknis Jakarta Smart City selaku bagian dari Dinas
Komunikasi Informatika dan Statistik Provinsi DKI Jakarta yang dimana
memiliki peran dalam mengelola dan memonitor program smart city dimana
salah satunya layanan pengaduan masyarakat melalui Qlue, juga harus
memiliki SDM yang memadai. Terkait kompetensi SDM Ibu Wise selaku
Kepala Sub Bagian Tata Usaha Unit Pelaksana Teknis Jakarta Smart City
menyampaikan bahwa :
³7HUNDLW SHJDZDL GLVLQL WLGDN DGD PDVDODK 6HFDUD NRPSHWHQVL PHreka
semua sudah sesuai dan ditempatkan di bidangnya. Mereka di awal sudah
melalui serangkaian test sehingga mampu menunjang apa yang
dibutuhkan disini. Walaupun tidak semua kita rekrut yang berbackground
IT, mreka juga dituntut kemampuan IT nya agar dapat menjalankan
WXJDVQ\D GHQJDQ EDLN´ (Wawancara pada Kamis, 9 Februari 2017 di
Ruang Tata Usaha UPT Jakarta Smart City, Dinas Komunikasi
Informatika dan Statistik Provinsi DKI Jakarta)
122
Berdasarkan hasil wawancara di atas dapat di simpulkan bahwa
kompetensi pegawai di Unit Pelaksana Teknis Jakarta Smart City sudah sesuai
kompetensi yang di butuhkan. Pegawai yang memiliki kompetensi sesuai
bidangnya tersebut diperoleh melalui proses seleksi dan sesuai dengan analisis
kebutuhan penempatan pegawai. Seluruh pegawai di tuntut untuk mampu
menguasai IT agar dapat menjalankan tugasnya dengan baik.
Dalam penerapan e-Governemnt ke dalam layanan pengaduan
masyarakat, selain diperlukannya pengetahuan dan kemampuan penguasaan
teknis, diperlukannya juga responsifitas aparatur pelaksana penanganan aduan.
Oleh karenanya perlu upaya guna mendorong agar hal tersebut dapat terwujud.
Dalam menjalankan tugas monitoring agar penanganan aduan yang
dilaksanakan oleh pihak Kelurahan berjalan dengan baik, Unit Pelaksana
Teknis Jakarta Smart City melalui sumberdaya manusia yang di miliki pada
tim monitoring room ofiicer menjalankan tugas berdasarkan SOP follow up
aduan Qlue, hal ini sebagaimana yang di katakan oleh Ibu Ira Utami selaku
Koordinator Tim Monitoring Room Officer Unit Pelaksana Teknis Jakarta
Smart City :
³837-DNDUWD6PDUW&LW\PHODOXLWLPPRQLWRULQJURRPRIILFHULQL\DQJ
melakukan monitor atas penanganan pengaduan yang di lakukan oleh
Kelurahan. Untuk monitoring pengaduan yang masuk melalui Qlue,
pengaduan yang lambat tindaklanjutnya per 2 hari akan di rekap setiap
harinya, namun dikoordinasikan ke Lurah melalui telepon setiap hari
senin, rabu dan jumat. Lewat koordinasi itu biasanya kita telpon
OXUDKQ\D NLWD WDQ\D NHQGDODQ\D´ (Wawancara pada 7 Februari 2017 di
Jakarta Smart City lounge, UPT Jakarta Smart City, Dinas Komunikasi
Informatika dan Statistik, Provinsi DKI Jakarta)
123
Berdasarkan wawancara di atas dapat di simpulkan Unit Pelaksana
Teknis Jakarta Smart City dalam upaya nya agar penanganan aduan yang di
laksanakan oleh pihak Kelurahan berjalan dengan baik, melakukan monitoring
atas tindak lanjut yang masih berwarna merah atau belum di proses dengan
cara melakukan rekapitulasi data atas penanganan aduan yang masih belum
mendapat tindaklanjut selama 2 hari yang dimana proses rekapitulasi dilakukan
setiap hari oleh Unit Pelaksana Teknis Jakarta Smart City dan setelah itu
berkoordinasi kepada Lurah melalui sambungan telepon, hal tersebut di
lakukan guna meminimalisir tindak lanjut yang berwarna merah berangsur
berlarut-larut tanpa kejelasan.
Gambar 13. SOP Follow Up Penanganan Aduan Qlue
Sumber : Unit Pelaksana Teknis Jakarta Smary City, 2017
124
3). Ketersediaan Sumberdaya Finansial yang Cukup
Dalam suatu program ataupun kegiatan, anggaran menjadi suatu hal yang
sangat krusial. Anggaran yang memadai menjadi komponen yang dapat
memberi pengaruh atas keberhasilan berjalannya suatu program ataupun
kegiatan. Pada penerapan Qlue, anggaran yang digunakan sebagai penunjang
bersumber dari APBD yang sebelumnya dirumuskan terlebih dahulu kedalam
RKA (Rencana Kerja Anggaran). Anggaran tersebut digunakan untuk
penyelenggaraan Bimbingan Teknis dan penyelenggaraan event Jakarta Smart
City namun untuk penggunaan Aplikasi Qlue itu sendiri, Pemerintah Provinsi
DKI Jakarta berdasarkan Perjanjian Kerja Sama dengan PT. Qlue Performa
Indonesia, tidak mengeluarkan biaya atau dengan kata lain Aplikasi Qlue di
gunakan secara gratis oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Hal tersebut
sebagaimana yang di paparkan oleh Ibu Ismi selaku bagian anggaran Dinas
Komunikasi Informatika dan Statistik DKI Jakarta :
³.DODX XQWXN DSOLNDVLQ\D NLWD free berdasarkan perjanjian kerjasama
dengan PT. Qlue Performa Indonesia. Jadi Pemerintah DKI tidak
mengeluarkan uang sama sekali. Hanya saja Pemerintah keluar anggaran
untuk bimbingan teknis, pengembangan aplikasi dan penyelenggaraan
event event. Kalau untuk bimbingan teknis menggunakan anggaran Suku
Dinas Kominfo di masing-masing Kota Administratif dan kalau untuk
penyelenggaraan event di Jakarta Smart City menggunakan anggaran
RSHUDVLRQDO -DNDUWD 6PDUW &LW\ \DQJ EHUDVDO GDUL $3%'´ :DZDQFDUD
pada Selasa, 13 Februari 2017 di Ruang Kerja Bagian Anggaran, Dinas
Komunikasi Informatika dan Statistik Provinsi DKI Jakarta)
Hal serupa juga diperkuat oleh Ibu Ira Utami Koordinator Tim
Monitoring Room Officer Unit Pelaksana Teknis Jakarta Smart City Provinsi
DKI Jakarta :
125
³$QJJDUDQ GDODP PHQGXNXQJ LPSOHPHQWDVL 4OXH LQL EHUDVDO GDUL $3%'
Provinsi DKI Jakarta. Anggaran tersebut diperuntukkan untuk pengelolaan
dan pengembangan aplikasi yang ada di Jakarta Smart City salah satunya
Qlue, pengembangan infrastruktur TIK Aplikasi Jakarta Smart City,
Partisipasi Jakarta Smart City pada pameran, dan kegiatan penunjangan
lainnya dan untuk bimbingan teknis di alokasikan melalui sudin kominfo
setiap wilayah´ (Wawancara pada Selasa, 18 Februari 2017 di Jakarta
Smart City lounge, UPT Jakarta Smart City, Dinas Komunikasi
Informatika dan Statistik, Provinsi DKI Jakarta)
Berdasarkan hasil wawancara di atas bahwa Aplikasi Qlue di pergunakan
secara gratis oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Perjanjian Kerja
Sama yang di sepakati oleh PT. Qlue Performa Indonesia dan Dinas
Komunikasi Informatika dan Statistik Provinsi DKI Jakarta sehingga dalam
pengunaan aplikasi Qlue sebagai sarana pengaduan masyarakat Pemerintah
Provinsi DKI Jakarta tidak menganggarkan dalam APBD untuk
mempergunakan aplikasi tersebut. Hanya saja anggaran yang dikeluarkan oleh
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta diperuntukkan untuk operasional dan
kegiatan yang sifatnya menunjang implementasi Qlue seperti penyelenggaraan
Pengembangan Aplikasi dan Pengembangan TIK serta Kegiatan Sosialisasi
yang di alokasikan pada Unit Pelaksana Teknis Jakarta Smart City sedangkan
untuk kegiatan bimbingan teknis di alokasikan kepada sudin kominfo di setiap
wilayah.
126
Tabel 2. Anggaran Unit Pelaksana Teknis Jakarta Smart City
Tahun 2015
%
Kegiatan Anggaran Penyerapan (dr Anggaran Pelaksanaan
Sekretariat/BID)
Pengelolaan [Link],00 [Link],00 79,81% 65,50%
JSC
Pembuatan 137.682.600,00 137.602.000,00 99,94% 100%
SOP JSC
Pengadaan JSC 822.471.472,00 664.298.360,00 80,77% 100%
Total Anggaran [Link],00 [Link],00 79,92%
Sumber: Dinas Komunikasi Informatika dan Statistik DKI Jakarta, 2016
Tabel 3. Anggaran Suku Dinas Komunikasi Informatika dan Statistik Kota
Administrasi Jakarta Barat Tahun 2016
%
Kegiatan Anggaran Penyerapan (dr Anggaran Pelaksanaan
sub
bagian/seksi)
Bimbingan
Teknis
Aplikasi Qlue, Rp. 134.400.000 Rp. 124.861.200 92.90% 100%
CROP, Email
Client dan
Sametime
Sumber: Dinas Komunikasi Informatika dan Statistik DKI Jakarta, 2016
127
Dalam penanganan tindak lanjut aduan melalui Qlue, Kelurahan Kelapa
Dua tidak mengeluarkan anggaran hal ini di karenakan tindak lanjut aduan
yang di lakukan Kelurahan Kelapa Dua merupakan tindak lanjut aduan yang
bersifat aksi lapangan, hal ini sebagaimana yang di ungkap oleh Ibu Rohati
selaku Kepala Seksi Perekonomian, Pembangunan dan Lingkungan Hidup :
³$QJJDUDQ \DQJ GLJXQDNDQ .HOXUDKDQ GDODP WLQGDNODQMXW WLGDN DGD
karena kan penanganan yang bisa kita lakukan disini sifatnya koordinatif
ke SKPD ataupun yang bisa kita lakuin itu sifatnya langsung terjun ke
lapangan, jadi tidak mengeluarkan uang. Misalnya penanganan aduan
yang di lakukan Kelurahan seperti masalah Kebersihan, Saluran Air,
Pentopingan pohon dan masalah Pedagang Kaki Lima Liar. Selebihnya
itu SKPD lain seperti hal hal yang sifatnya memperbaiki ataupun
menambah infrastruktur publik, dan menggunakan anggaran mereka
sesuai tupoksinya. Kalau anggaran untuk hal tersebut tersedia langsung
dikerjakan biasanya, apabila tidak maka akan di alokasikan pada periode
DQJJDUDQ PHQGDWDQJ GDQ VL SHODSRU DNDQ GL 7/ EHUZDUQD NXQLQJ´
(Wawancara pada 6 Februari 2017 di ruang Kepala Seksi Kelurahan
Kelapa Dua)
Berdasarkan wawancara di atas, terkait anggaran, Kelurahan Kelapa Dua
tidak mengalokasikan anggaran untuk tindak lanjut Qlue hal ini dikarenakan
penanganan aduan yang dilakukan Kelurahan merupakan penanganan yang
bersifat langsung terjun ke lapangan dan adapun untuk hal-hal yang sifatnya
harus memperbaiki ataupun penambahan fasilitas publik menggunakan
anggaran SKPD terkait sesuai tugas pokok dan fungsi dari SKPD tersebut.
Penanganan tindak lanjut yang masuk pada SKPD tersebut akan menyesuaikan
ketersediaan anggaran, apabila anggaran atas permasalahan yang di adukan
sudah tersedia maka akan di tangani namun apabila tidak, maka akan di
alokasikan pada periode anggaran mendatang dan si pelapor tersebut akan
mendapat tindaklanjut berwarna kuning pada aplikasi yang berarti di proses.
128
Perihal anggaran, yang menjadi tantangan adalah saat mendapatkan
pengaduan terkait infrastruktur publik baik terutama seperti penambahan atau
perbaikan jalan dan jembatan, Bapak Eka selaku Staf Seksi Pemerintahan
Kelurahan Kelapa Dua mengatakan :
³VXVDKQ\DWXK VDDW PHQGDSDWNDQODSRUDQWHQWDQJ MDODQGDQMHPEDWDQNDQ
untuk menangani seperti itu ga bisa langsung, kita koordinasi ke sudin,
nanti di lihat dulu jalan nasional apa provinsi, kalau jalan provinsi dilihat
dulu apa sudah di anggarkan, kalau belum berarti kan harus menunggu
periode anggaran selanjutnya. Tapi masyarakat kan maunya cepDW DMD´
(Wawancara pada 13 Februari 2017 di Ruang tunggu Kelurahan Kelapa
Dua)
Berdasarkan wawancara di atas dapat di simpulkan pengaduan yang
berkaitan dengan perbaikan infrastruktur publik menjadi tantangan tersendiri
bagi Kelurahan Kelapa Dua apabila ditinjau dari aspek anggaran hal ini
dikarenakan untuk mengeksekusi pengaduan yang berkaitan dengan hal
tersebut memperlukan proses yang panjang dan lama namun di satu sisi
masyarakat menuntut penanganan aduan agar dapat selalu cepat.
c. Value
Dalam berbagai inisiatif e-Government tidak ada gunanya jika tidak ada
pihak yang merasa di untungkan dengan adanya implementasi konsep tersebut.
Pada konteks impementasi Qlue dalam penyelenggaraan layanan pengaduan
masyarakat, yang menentukan besar tidaknya manfaat yang diperoleh dengan
adanya inisiatif e-Government ini, selain kalangan pemerintah sendiri,
melainkan masyarakat atau mereka yang berkepentingan (demand side),
129
sehingga inisiatif e-Government yang di jalankan dapat membawa value bagi
kedua belah pihak dalam hal ini pemerintah dan masyarakat.
1). Bagi Pemerintah
Implementasi Qlue dalam penyelenggaraan layanan pengaduan
masyarakat membawa manfaat bagi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Melalui
Qlue Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dapat mengetahui permasalahan-
permasalahan yang terjadi di lingkungan. Hal tersebut sebagaimana yang di
ungkapkan oleh Ibu Ira Utami selaku Koordinator Tim Monitoring Room
Officer, Unit Pelaksana Teknis Jakarta Smart City Provinsi DKI Jakarta :
³'HQJDQ GLMDGLNDQQ\D 4OXH VHEDJDL NDQDO Uesmi pengaduan Pemprov
DKI mas, Pemerintah jadi tau mas setiap permasalahan yang ada di
setiap sudut Kota Jakarta ini, karena Qlue Aplikasi berbasis Geotagging.
Tinggal foto kasih deksripsi sedikit nah nanti orang kelurahan bisa tau,
oh di jalan ini nomor sekian ada sampah berserakan atau di jalan ini
jalannya banyak berlubang. Nanti orang kelurahan turun atau
mengkoordinasikan dengan dinas terkait untuk menindak-lanjutinya.
Kalo kanal lain kan kayak facebook, twitter ataupun sms, susah buat tau
lokasi pastinya dari masalah yang di aduin masyarakat. Di Qlue karena
basisnya GeotaggingORNDVLQ\DMDGLWHUGHWHNVLMHODV´ (Wawancara pada
17 Januari 2017 di Jakarta Smart City lounge, UPT Jakarta Smart City,
Dinas Komunikasi Informatika dan Statistik, Provinsi DKI Jakarta)
Berdasarkan wawancara di atas dapat diketahui bahwa salah satu
manfaat dari di implementasikannya Qlue sebagai kanal resmi pengaduan
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta adalah di antaranya, Pemerintah Provinsi
DKI Jakarta dapat mengetahui setiap permasalahan yang terjadi di setiap sudut
Kota. Melalui Qlue, aduan dari masyarakat dapat di petakan dengan spesifik
tentang lokasi dan kondisi dari masalah yang di adukan sehingga Pemerintah
130
dapat mengetahui dengan jelas dan mempermudah dalam proses penindak
lanjutan.
Manfaat lain dari hadirnya Qlue sebagai sarana pengaduan masyarakat
kepada Pemerintah Provinsi DKI Jakarta adalah sebagai sarana dalam
melibatkan masyarakat dalam mengontrol dan mengawasi apa yang terjadi di
lingkungannya, hal ini sebagaimana yang di ungkapkan oleh Bapak Abim
selaku Staf Monitoring dan Evaluasi Unit Pelaksana Teknis Jakarta Smart City
Provinsi DKI Jakarta mengatakan bahwa :
³MDGL 4OXH LQL VHEHQDUQ\D VXDWX VDUDQD \DQJ 3HPSURY VHGLDNDQ NHSDGD
masyarakat sekaligus rangsangan bagi mereka agar bisa lebih aktif lagi
dalam mengontrol dan mengawasi apa apa yang terjadi di lingkungan
entah yang sifatnya kerusakan atau pelanggaran misalnya pungutan liar.
Apalagi Qlue ini menggunakan media yang saya rasa hampir tiap hari
kita pegang yaitu smartphone. Jadi lebih cepat dan mudah digunakan
(Wawancara pada Rabu, 18 Januari 2017 di Ruang Staff UPT Jakarta
Smart City, Dinas Komunikasi Informatika dan Statistik, Provinsi DKI
Jakarta)
Berdasarkan hasil wawancara di atas, manfaat dari Qlue bagi Pemerintah
Provinsi DKI Jakarta adalah sebagai sarana untuk melibatkan peran masyarakat
dalam pengawasan dan controlling atas segala fenomena yang terjadi di
lingkungannya seperti hal nya kerusakan yang sifatnya infrastruktur publik
ataupun yang sifatnya pelanggaran yang dilakukan aparatur seperti pungutan
liar.
Qlue sebagai sarana pengaduan masyarakat bagi kelurahan juga
membawa manfaat, di antaranya adalah sebagai wadah sosialisasi antar
masyarakat, hal ini sebagaimana yang di ungkapkan oleh Ibu Rohati selaku
131
Kepala Seksi Perekonomian, Pembangunan dan Lingkungan Hidup Kelurahan
Kelapa Dua mengungkapkan bahwa :
³0DQIDDW 4OXH EDJL NHOXUDKDQ MDGL ELVD PHQLQJNDWNDQ NRPXQLNDVL
masyarakat kepada kelurahan, kalau dulu kan orang yg sering ke
kelurahan aja yang mengetahui info info kegiatan di kelurahan ataupun di
lingkungan sekitar kelurahan kelapa dua, sekarang masyarakat jadi lebih
aktif saling share foto ada kegiatan apa lewat fitur obrolan lingkungan
yang ada di Qlue. Walaupun minim interaksi, minimal mereka tahu info
kelurahan atau info di lingkungan lewat share IRWRLWXWDGL´ (Wawancara
pada Selasa, 31 Januari 2017 di ruang Kepala Seksi Kelurahan Kelapa
Dua)
Berdasarkan apa yang di paparkan di atas dapat di simpulkan bahwa
manfaat dari digunakannya Qlue sebagai kanal resmi pengaduan yaitu melalui
fitur obrolan lingkingan yang di sediakan di Qlue, Kelurahan dapat
menjadikannya sebagai wadah sosialisasi, baik atas kegiatan yang dilakukan
oleh Kelurahan ataupun kegiatan yang di laksanakan oleh masyarakat melalui
foto yang dapat di share melalui fitur tersebut.
2). Bagi Masyarakat
Inisiatif e-Government harus lah membawa manfaat bagi masyarakat,
apabila masyarakat selaku target sasaran dari inisiatif e-Government tidak
merasa mendapat manfaat maka berbagai inisiatif e-Government menjadi suatu
hal yang sia-sia. Pada implementasi e-Government melalui Qlue, masyarakat
merasa hadirnya Qlue sebagai sarana pengaduan masyarakat membawa
manfaat yang positive, hal tersebut sebagaimana yang di ungkapkan oleh
Bapak Arif selaku masyarakat DKI Jakarta pengguna Aplikasi Qlue :
³0HQXUXW VD\D PDQIDDWQ\D VHNDUDQJ NDODX PHQJDGX NH SHPHUintah jadi
lebih mudah, cukup buka aplikasinya, kita foto masalah yang kita mau
132
aduin terus kasih deskripsinya, udah selesai. Setau saya kan kalau kasih
pengaduan gitu gitu ribet lah harus email lah segala macem, sekarang
MDGLOHELKPXGDKDMDPHQXUXWVD\D´ (Wawancara pada 9 Februari 2017 di
Pejaten Village)
Pendapat serupa juga di sampaikan oleh Bapak Bahar selaku Masyarakat
DKI Jakarta pengguna Aplikasi Qlue :
³0DQIDDWQ\D EHGD \D SHQJDGXDQ NLWD VHNDUDQJ MDGL ELVD GL OLKDW VXGDK
sampai mana dengan indikator warna yang ada, merah kuning hijau. Saya
pernah mengadu ke Instansi melalui email dan itu tidak ada
tanggapannya, saya ga tau pengaduan saya sudah di proses atau belum,
kalau di Qlue kita bisa tau merah belum di proses, kuning sedang di
proses dan hijau VXGDKVHOHVDLGLWDQJDQL´:DZDQFDUDSDGD)HEUXDUL
2017 di ITC Roxy Mas)
Berdasarkan beberapa wawancara di atas dapat di simpulkan bahwa Qlue
sebagai layanan pengaduan masyarakat membawa berbagai manfaat di
antaranya adalah memberi kemudahan bagi masyarakat dalam memberikan
pengaduannya kepada Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Hanya melalui
smartphone masyarakat dapat memberikan foto dan deskripsi pengaduannya.
Selain itu berdasarkan wawancara di atas, manfaat yang diperoleh masyarakat
adalah masyarakat dapat mengetahui bagaimana proses dari pengaduan yang
telah diberikan sehingga menimbulkan kepastian bahwa pengaduan yang di
berikannya tidak sia-sia.
Masyarakat berharap respon atas penanganan tindak lanjut dapat lebih
ditingkatkan kembali, hal ini sebagaimana yang di ungkap oleh Bapak Wahyu
selaku masyarakat di lingkungan Kelurahan Kelapa Dua pengguna Aplikasi
Qlue,
³VRDO 4OXH VHEHQDUQ\D EDJXV kita bisa ikut terlibat mengawasi
pemerintah dengan cara melapor, tapi lebih bagus lagi penanganan tindak
133
lanjutnya lebih ditingkatkan lagi, saya liat kadang cepat kadang lambat
ditangani. Sosialisasinya juga perlu. Masih ada teman saya yang belum
tau soal Qlue ´:DZDQFDUDSDGD Februari 2017 di Kelurahan Kelapa
Dua)
Hal serupa juga di ungkapkan oleh Bapak Fahad sebagai pengguna
Aplikasi Qlue:
³ya bagus mas, jadi gampang kita menyampaikan aspirasi bisa langsung
lewat hp dan bisa tau apa tanggapannya, hanya saja saran saya
aplikasinya ditingkatkan lagi agar lancar saat digunain dan tindaklanjut
laporan dari warga bisa lebih baik lagi´ :DZDQFDUD SDda 14 Februari
2017 di Kelurahan Kelapa Dua)
Berdasarkan beberapa wawancara di atas dapat di simpulkan bahwa
penggunaan Qlue sebagai sarana pengaduan masyarakat membawa manfaat
dan mendapatkan apresiasi dari penggunanya. Namun masyarakat
mengharapkan dilakukannya beberapa perbaikan agar layanan pengaduan
melalui Qlue dapat selalu memberi manfaat dan value bagi masyarakat, di
antaranya adalah penanganan tindaklanjut agar selalu ditingkatkan, sosialisasi
yang perlu selalu di intensifkan dan peningkatan kualitas aplikasi.
2. Faktor Pendukung dan Penghambat Implementasi E-Government
melalui Qlue dalam Penyelenggaraan Layanan Pengaduan Masyarakat
Dalam suatu inisiatif e-Goverment dapat di pastikan akan di warnai
dengan berbagai macam faktor yang mempengaruhi pelaksanaan di dalamnya,
faktor faktor tersebut di antaranya adalah faktor pendukung dan faktor
penghambat. Implementasi e-Government melalui Qlue dalam
penyelenggaraan layanan pengaduan masyarakat memiliki faktor pendukung
sebagai hal yang mendukung dan menjadi dorongan dari implementasinya
134
sekaligus memiliki faktor penghambat yang menjadi suatu hambatan di dalam
implementasinya. Faktor pendukung implementasi e-Government melalui Qlue
dalam penyelenggaraan layanan pengaduan masyarakat di antaranya adalah
komitmen pemimpin dalam implementasi Qlue, dan Petugas PPSU yang
responsif. Sedangkan di samping faktor pendukung, terdapat pula faktor faktor
yang menjadi penghambat implementasi e-Government melalui Qlue dalam
penyelenggaraan layanan pengaduan masyarakat di antaranya adalah hambatan
dalam berkoordinasi dengan SKPD terkait, Aplikasi CROP yang sering error
dan Pengembangan Aplikasi Qlue.
a. Faktor Pendukung
Faktor pendukung dalam Implementasi e-Government melalui Qlue
dalam penyelenggaraan layanan pengaduan masyarakat merupakan hal-hal
yang dapat mendorong sehingga dalam pelaksanaannya dapat berjalan dengan
baik dan lancar. Dalam implementasi di Dinas Komunikasi Informatika dan
Statistik Provinsi DKI Jakarta dan Kelurahan Kelapa Dua, terdapat beberapa
hal yang menjadi faktor pendukung tersebut, dimana di antaranya adalah
komitmen pemimpin dalam implementasi Qlue dan Petugas Penanganan
Prasarana Sarana Umum (PPSU) yang Responsif.
1). Komitmen Pemimpin dalam Implementasi Qlue
Menurut Cheema dan Rodineli (dalam Subarsono, 2005:101), dukungan
pemimpin sebagai salah faktor yang mempengaruhi implementasi kebijakan
program-program pemerintah yang bersifat desentralis. Selain itu berdasarkan
135
hasil kajian Lembaga Administrasi Negara pada tahun 2009 terdapat beberapa
hal penting yang menjadi faktor pendorong dalam penerapan e-Government di
Indonesia di antaranya komitmen dan dukungan pimpinan. Komitmen dan
dukungan dari pimpinan (leadership commitment and support) menjadi
indikator penting bagi keberhasilan penerapan e-Government di Indonesia.
Secara teori, indikator ini memberikan kepastian terhadap kepemimpinan
unggul dan kapabel, menjamin hubungan antar satuan kerja yang sinergis dan
terencana, kepastian penganggaran, realisasi, operasi, dan evaluasi
implementasi sistem Teknologi Informasi dan Komunikasi.
Dalam hal ini komitmen pemimpin memiliki andil penting dalam
digitalisasi pada sektor publik dimana mulai dari level Gubernur, Walikota,
Kepala Dinas bahkan hingga level Lurah perlu menjadi motor penggerak
sehingga pelaksanaannya dapat berjalan dengan baik. Oleh karenanya
komitmen pemimpin seringkali menjadi pendukung atau bahkan penghambat
dalam pelaksanaan suatu konsep e-Government.
Dalam implementasi e-Government melalui Qlue dalam
penyelenggaraan layananan pengaduan masyarakat telah di dukung dan
mendapatkan dorongan dari pemimpin dalam hal ini Gubernur Provinsi DKI
Jakarta, Kepala Dinas Komunikasi Informatika dan Statistik DKI Jakarta dan
Walikota. Berbagai pencapaian positif dalam implementasi Qlue hingga saat
ini tidak lain di antaranya adalah karena dukungan dan dorongan tersebut. Hal
tersebut sebagaimana yang di ungkapkan oleh Ibu Ira Utami selaku
136
Koordinator Tim Monitoring Room Officer, Unit Pelaksana Teknis Jakarta
Smart City Provinsi DKI Jakarta
³3DVWLQ\DWHUGDSDWEHUEDJDLIDNWRUSHQGXNXQJGDQSHQJKDPEDWQDKNDOR
faktor pendukungnya itu komitmen pemimpin. Kan emang awalnya Qlue
dipilih bapak Gubernur sebagai kanal resmi pengaduan karena sesuai
dengan keinginan beliau untuk mewujudkan smart city dan mewujudkan
pemerintah yang transparan. Berangkat dari sana beliau sudah komitmen
untuk menyukseskan ini, dimana bisa dilihat dengan beliau melaunching
dan membentuk Unit Pelaksana Teknis Jakarta Smart City ini. Membuat
berbagai macam regulasi sebagai pendukungnya, mendorong walikota
setiap kali rapat pimpinan untuk lebih responsif dalam menindaklanjuti
SHQJDGXDQ GDUL PDV\DUDNDW \DQJ PDVXN GL ZLOD\DKQ\D´ (Wawancara
pada Rabu, 8 Februari 2017 di Jakarta Smart City lounge, UPT Jakarta
Smart City, Dinas Komunikasi Informatika dan Statistik, Provinsi DKI
Jakarta)
Tidak hanya itu saja, komitmen untuk menyukseskan implementasi Qlue
datang dari Kepala Dinas Komunikasi Informatika dan Kehumasan serta
Kepala Unit Pelaksana Teknis Jakarta Smart City, hal ini sebagaimana yang di
jelaskan oleh Ibu Wise selaku Kepala Sub Bagian Tata Usaha Unit Pelaksana
Teknis Jakarta Smart City, mengatakan bahwa :
³)DNWRU SHQGXNXQJQ\D DGD GDUL SLPSLQDQ NDPL NDUHQD 4OXH LQL GDODP
penerapannya memang melibatkan Unit Pelaksana Teknis Jakarta Smart
City dan Dinas Komunikasi Informatika dan Statistik Provinsi DKI
Jakarta, karenanya peran pemimpin akan kelihatan sekali. Kedua
pimpinan ini perannya sangat terlihat sekali sehingga boleh saya bilang
menjadi faktor pendukungnya, seperti Kepala Dinas Komunikasi
Informatika dan Statistik yang selalu mendorong Suku Dinas Kominfo di
setiap wilayah untuk turun dan membantu Kelurahan yang mengalami
kendala secara teknis. Kepala Unit Pelaksana Teknis Jakarta Smart City
juga demikian. Di unit ini kami selalu melakukan pengembangan agar
implementasi Qlue berjalan baik. Seperti kemarin kan aplikasi CROP
dikeluhkan banyak masalah, nah dikembangkannya CRM sehingga nanti
VHOXUXK 6.3' ELVD PHQJJXQDNDQ &50 LQL VHEDJDL SHQJJDQWL &523´
(Wawancara pada Rabu, 8 Februari 2017 di Ruang Tata Usaha UPT
Jakarta Smart City, Dinas Komunikasi Informatika dan Statistik Provinsi
DKI Jakarta)
137
Berdasarkan wawancara di atas dapat disimpulkan bahwa Gubernur DKI
Jakarta dan Kepala Dinas Komunikasi Informatika dan Statistik serta Kepala
Unit Pelaksana Teknis Jakarta Smart City Provinsi DKI Jakarta menjadi faktor
pendukung dalam Implementasi e-Government melalui Qlue dalam
penyelenggaraan layanan pengaduan masyarakat. Hal tersebut dapat dilihat
dari komitmen yang ditunjukkan. Komitmen untuk mensukseskan
implementasi Qlue dapat dilihat dengan dibentuknya Unit Pelaksana Teknis
Jakarta Smart City, dibuatnya beberapa regulasi sebagai pondasi dalam
implementasi Qlue dan dorongan yang di lakukan kepada setiap walikota agar
aduan dari masyarakat di wilayahnya agar di tangani secara responsif. Selain
itu komitmen yang ditunjukkan oleh Kepala Dinas Komunikasi Informatika
dan Statistik serta Kepala Unit Pelaksana Teknis Jakarta Smart City dapat di
lihat dengan koordinasi yang di lakukan dengan Suku Dinas Komunikasi dan
Informatika di setiap wilaya Kota Administratif agar dapat terus membantu
Kelurahan jika ada kendala teknis penggunaan aplikasi. Selain itu dapat dilihat
dengan upaya pengembangan-pengembangan Aplikasi penunjang Qlue seperti
CRM agar aparatur di lapangan dapat lebih nyaman dan tidak mengalami
kendala dalam proses penindaklanjutan.
2). Petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum Kelurahan
yang Responsif
Dalam implementasi berbagai kebijakan ataupun program, diperlukannya
responsifitas dari aktor di lapangan dalam mengeksekusi apa yang sudah di
rencanakan dan targetkan. Dalam implementasi berbagai kebijakan ataupun
138
program, diperlukannya responsifitas dari aktor di lapangan dalam
mengeksekusi apa yang sudah di rencanakan dan targetkan. Di dalam sistem
audit yang menggunakan konsep COBIT (LAN,2009), salah satu indikator
terpenting dari keberhasilan penyelenggaraan e-Government adalah budaya
kerja. Budaya kerja berperan untuk memastikan adanya gaya manajemen
SHPHULQWDK \DQJ OHELK IOHNVLEHO WLGDN FHQGHUXQJ ³management by mandate
and rule´ DUWLQ\D VHVRUDQJ DNDQ EHUJHUDN VHWHODK PHQGDSDWNDQ PDQGDW GDUL
atasannya), selalu beradaptasi dengan berbagai perubahan kebutuhan para
pelanggan, baik yang berasal dari kalangan birokrat sendiri (internal) maupun
dari luar lembaga pemerintahan (eksternal).
Dalam konteks implementasi e-government melalui Qlue dalam
penyelenggaraan layanan pengaduan masyarakat, maka Kelurahan berada di
garda terdepan dalam menindaklanjuti aduan yang masuk dari masyarakat di
lingkungannya. Secanggih apapun aplikasi pengaduan di buat, tanpa adanya
respon yang baik atas aduan yang masuk maka akan di rasa percuma. Dalam
implementasi Qlue di Kelurahan Kelapa Dua, tim orangeatau yang disebut
dengan Petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum Kelurahan
merupakan sebagai faktor pendukung dalam implementasi Qlue di Kelurahan
Kelapa Dua. Hal tersebut berdasarkan hasil wawancara dengan Ibu Rohati
selaku Kepala Seksi Sarana dan Prasarana Kelurahan Kelapa Dua
mengungkapkan bahwa
³3HQGXNXQJ LPSOHPHQWDVL 4OXH GLVLQL LWX SHWXJDV 3368 Q\D PHUHND
cepet respon. kalau ada aduan dari masyarakat yang berkaitan dengan
tugasnya mereka. Misalnya sampah. Mereka setiap dapat aduan,
139
langsung hari itu juga langsung turun ke lokasi terus menindaklanjuti. Itu
kita terbantu banget dengan hadirnya mereka, jadi meringankan kerja kita
MXJD´:DZDQFDUDSDGD6HODVD-DQXDULGLUXDQJ.HSDOD Seksi
Kelurahan Kelapa Dua)
Pernyataan tersebut diperkuat dengan hasil wawancara yang di
sampaikan Bapak eka selaku Staf Seksi Pemerintahan Kelurahan Kelapa Dua
yang mengatakan bahwa :
³,\DGLVLQLVHWLDSDGDDGXDQGDULPDV\DUDNDWPHODOXL4OXHWHUXWDPDVRDO
sampah kita termasuk cepat soalnya dari orang-orang PPSU nya bagus.
Dapet aduan dia tinjau lokasi, tiap dapet aduan dia langsung tinjau lokasi.
Disamping tanpa ada aduan juga mereka memang selalu di lapangan ya
PDV PHPEHUVLKNDQ OLQJNXQJDQ´ :DZDQFDUD SDGa Kamis, 2 Februari
2017 di Ruang Tunggu Kelurahan Kelapa Dua)
Berdasarkan hasil wawancara yang di sampaikan dapat disimpulkan
bahwa kecepatan dan responsifitas tim orange atau Petugas Penanganan
Prasarana dan Sarana Umum di Kelurahan Kelapa Dua merupakan faktor
pendukung dari Implementasi Qlue di Kelurahan Kelapa Dua sehingga
penanganan aduan dalam kategori sampah yang masuk melalui Kelurahan
Kelapa Dua dapat dengan cepat di respon dan tindak lanjuti oleh Kelurahan
Kelapa Dua.
b. Faktor Penghambat
Faktor penghambat implementasi Qlue merupakan hal-hal yang dapat
memberikan hambatan dalam berjalannya implementasi Qlue dalam
penyelenggaraan layanan pengaduan masyarakat. Dalam implementasi di
Dinas Komunikasi Informatika dan Statistik Provinsi DKI Jakarta dan
Kelurahan Kelapa Dua, terdapat beberapa hal yang menjadi faktor penghambat
tersebut, dimana di antaranya adalah Pengembangan Aplikasi dan Koordinasi
140
Antar SKPD dalam Penangan Aduan. Adapun penjabaran lebih lanjut dari
faktor penghambat tersebut sebagai berikut :
1). Kendala Teknis Aplikasi CROP
Tantangan dalam implementasi E-Government yang dapat menjadi
hambatan jika tidak di perhatikan, berdasarkan hasil studi sejumlah praktisi e-
Government (dalam Indrajit, 2006:16) di berbagai negara, salah satunya adalah
tantangan yang berkaitan dengan cara menciptakan dan menentukan kanal-
kanal akses digital (maupun elektronik) yang dapat secara efektif dipergunakan
oleh masyarakat maupun pemerintah
Dalam pengembangan e-government perlu dikembangkannya teknologi
dan sistem yang mendukung sebagai media dari penerapan e-government itu
sendiri. Apabila teknologi dan sistem yang di bangun sudah baik, maka
penerapan e-governmentjuga akan turut berjalan dengan baik dan sebaliknya.
Aplikasi Qlue merupakan aplikasi berbasis Android dan IOS yang digunakan
sebagai media yang di sediakan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bagi
masyarakat dalam memberikan aduan. Aplikasi CROP atau Cepat Respon
Opini Publik merupakan media yang di sediakan oleh Pemerintah Provinsi DKI
Jakarta bagi aparatur dalam menerima aduan dan mendisposisikan pengaduan
dari masyarakat ke SKPD terkait.
Berdasarkan penelitian di lapangan, Aplikasi CROP yang merupakan
media bagi aparatur di lapangan untuk menerima aduan dan memberikan
respon tindak lanjut seringkali mengalami error. Hal tersebut sebagaimana
141
yang di ungkapkan oleh Ibu Rohati selaku Kepala Seksi Perekonomian,
Pembangunan dan Lingkungan Hidup Kelurahan Kelapa Dua yang mengatakan
bahwa :
³$SOLNDVL &523 VXND gangguan. Kadang suka ga masuk aduan dari
masyarakat. Kadang juga udah kasih tindak lanjut tapi belum masuk
sebagai tindak lanjut. Kadang kita mau disposisi ke SKPD melalui CROP
tapi ga bisa. Kita udah kasih tindak lanjut semua tapi ranking kita masih
rendah aja. Makanya seringnya kita sekarang pakainya Qlue jarang pakai
CROP, walaupun kalau CROP nya bisa enak, kita koordinasi ke SKPD
ga usah pakai surat tapi bisa langsung di aplikasi dan langsung masuk
tanggung jawab mereka´ (Wawancara pada Selasa, 31 Januari 2017 di
ruang Kepala Seksi Kelurahan Kelapa Dua)
Pendapat tersebut diperkuat dengan paparan yang disampaikan oleh Ibu
Rohmah selaku Sekretaris Lurah Kelurahan Kelapa Dua yang mengatakan
bahwa
³Aplikasi CROP yang sering error jadi Kelurahan buat tindaklanjut
menggunakan Qlue. Enaknya kan di CROP ada fitur Disposisi jadi kalau
aduan yang masuk itu diluar wewenang Kelurahan, kita tinggal klik
disposisi ke SKPD yang berwenang. Udah tanggung jawab kita selesai
selanjutnya tanggung jawab SKPD yang bersangkutan. Karena Aplikasi
CROP nya sering gangguan kita udah lama pakainya Qlue´:DZDQFDUD
pada 13 Februari 2017)
Berdasarkan hasil wawancara di atas Aplikasi CROP yang merupakan
media bagi aparatur Kelurahan dalam menindaklanjuti dan mendisposisikan
laporan sering mengalami gangguan teknis yang menyebabkan
ketidakefektifan dan ketidakefisienan proses penindaklanjutan aduan dari
masyarakat. Aplikasi CROP yang sering mengalami gangguan membuat
Kelurahan Kelapa Dua memilih menggunakan Qlue sebagai media dalam
menindaklanjutinya dengan konsekuensinya disposisi aduan kepada SKPD
dilakukan secara manual.
142
Pada dasarnya pembuatan Aplikasi CROP dan penggunaannya adalah
karena Pemerintah Provinsi DKI Jakarta ingin melakukan proteksi data
sehingga data tindaklanjut tidak di miliki oleh pihak swasta yang memiliki
lisensi atas Aplikasi Qlue hal ini sebagaimana yang di jelaskan oleh Ibu Ira
Utami selaku Koordinator Tim Monitoring Room Officer, Unit Pelaksana
Teknis Jakarta Smart City Provinsi DKI Jakarta :
³.HQGDODQ\D PHPDQJ DGD GL 4OXH GDQ &523 MDGL NDQ VHWLDS DGXan
masyarakat masuk ke hp orang orang kelurahan lewat Aplikasi CROP
dan masuk juga ke Qlue sebenarnya ke Aplikasi Qlue ke akun pegawai
yang sudah di daftarkan tadi. Hanya saja kita kenapa kita membuat
Aplikasi CROP dan menyarankannya untuk menggunakan CROP kepada
Kelurahan karena kan kalau Qlue lisensinya ada di swasta, kita tidak
menginginkan data tindak lanjut di miliki swasta. CROP itu lisensi di
Pemprov. Selain itu secara kemudahan dalam koordinasi sebenarnya bisa
ODQJVXQJNRRUGLQDVLGL&523´(Wawancara pada Rabu, 8 Februari 2017
di Jakarta Smart City lounge, UPT Jakarta Smart City, Dinas Komunikasi
Informatika dan Statistik, Provinsi DKI Jakarta)
Berdasarkan hasil wawancara tersebut dapat di simpulkan pada dasarnya
alasan di buat dan digunakannya Aplikasi CROP selain untuk mempermudah
aparatur dilapangan dalam menindaklanjuti dan mendisposisikannya, alasannya
adalah untuk menjaga privacydata agar data tindaklanjut tidak dimiliki oleh
pihak swasta selaku pemilik dari lisensi Aplikasi Qlue. Melalui CROP, yang
diharapkan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yaitu data tindaklanjut
berupa foto dan data lainnya di cegah penyalahgunaannya
Sulitnya menyatukan Aplikasi Qlue dan CROP, menjadi masalah dan
berdampak pada gangguan yang terjadi pada Aplikasi CROP, hal ini
sebagaimana yang dikatakan Bapak Kurnia Putra selaku Staff IT Development,
yang menjelaskan :
143
³kendalanya Qlue dan CROP susah di satukan, sulit sinkron. kita udah
coba berbagai cara, tapi ada beberapa hal yang memang sulit di ubah dari
CROP ini. Arsitektur kedua Aplikasi ini berbeda oleh karenanya kita lagi
kembangkan Aplikasi baru bernama CRM atau yang kepanjangannya
Citizen Relation Management. Intinya sama seperti Qlue bahkan ada
pHQDPEDKDQILWXU´:DZDQFDUDSDGDRabu, 8 Februari 2017 di ruang staf
unit pelaksana teknis jakarta smat city)
Berdasarkan hasil wawancara di atas dapat disimpulkan bahwa yang
menjadi penghambat dalam implementasi Qlue adalah Aplikasi CROP yang
menjadi media bagi aparatur dalam menindaklanjuti aduan sering mengalami
error. Hal tersebut dikarenakan sulitnya dalam melakukan sinkronisasi antara
Aplikasi Qlue dan Aplikasi CROP oleh karenanya seringkali data yang masuk
melalui Aplikasi Qlue tidak masuk di Aplikasi CROP atau sebaliknya, data
yang dikirim dari Aplikasi CROP tidak masuk pula di Aplikasi Qlue. Sebagai
upaya penanganannya saat ini sedang dikembangkannya Aplikasi yang lebih
baik bernama CRM atau Citizen Relation Management dengan peningkatan
diberbagai aspek.
2). Terhambatnya pengembangan Aplikasi Qlue untuk IOS
Permasalahan lain dari kendala teknis Aplikasi selain dari Aplikasi
CROP adalah sulitnya melakukan pengembangan Aplikasi Qlue di IOS,
sehingga banyak pengguna smartphone iphone yang mengeluhkan buggdan
aplikasi yang tidak stabil, yang pada akhirnya pihak PT. Qlue Performa
Indonesia sudah 2x menarik sementara Aplikasi Qlue dari IOS Store. Hal ini
sebagaimana yang di ungkap oleh Ibu Ira Utami selaku Koordinator Tim
Monitoring Room Officer :
144
³.HQGDOD $SOLNDVL 4OXH WHUEHVDU GDUL ,26 XGDK [ GL WDULN VHPHQWDUD
karena banyak bugg nya, di bulan November 2016 dan Januari 2017.
Untuk pengembangan itu PT. Qlue Performa Indonesia, hanya saja kita
koordinasi seperti kasih masukkan dan menanyakan kapan dirilis lagi.
Nanti kalau sudah di rilis kita dikasih kabar lagi biaVDQ\D´ (Wawancara
pada Jumat, 10 Februari 2017 di Jakarta Smart City Lounge UPT Jakarta
Smart City)
Hal serupa juga disampaikan oleh Bapak Kurnia Putra selaku Staff IT
Development Unit Pelaksana Teknis Jakarta Smart City Provinsi DKI Jakarta :
³+DPEDWDQQ\D pihak pengembang sedang kesulitan mengembangkan
Aplikasi Qlue untuk operasi sistem IOS. Dengan pertimbangan banyak
gangguan dan sebagainya akhirnya di februari ini di tarik dulu sementara
Aplikasi Qlue dari IOS Store sampai proses pengembaQJDQ VHOHVDL´
(Wawancara pada Jumat, 10 Februari 2017 di Ruang Staf UPT Jakarta
Smart City, Dinas Komunikasi Informatika dan Statistik, Provinsi DKI
Jakarta)
Berdasarkan wawancara di atas dapat di simpulkan Aplikasi Qlue untuk
smarphone dengan sistem operasi IOS masih belum stabil dapat dilihat masih
seringnya di jumpai Bugg. Untuk menghindari user baru yang kecewa oleh
karenanya untuk sementara Aplikasi Qlue di IOS store di tarik sampai proses
pengembangan selesai. Proses pengembangan di lakukan oleh PT. Qlue
Performa Indonesia dan dibantu Unit Pelaksana Teknis Jakarta Smart City
berupa pemberian masukan secara teknis dan non teknis dalam proses
pengembangan
Terkait pengembangan Aplikasi Qlue Ibu Rilia Marina selaku Head Of
Marketing PT. Qlue Performa Indonesia yang mengatakan bahwa :
³-DGL $SOLNDVL 4OXH NLWD WDULN VHPHQWDUD GDUL ,26 NDUHQD SHQJHPEDQJDQ
aplikasi melalui IOS terbilang rumit, minimnya developer yang ada, jadi
dengan pertimbangan kepuasan konsumen menurun karena bugg dalam
aplikasi jadi kita tarik dulu. Adapun yang udah terlanjur download tetap
bisa gunakan namun dengan resiko bugg di aplikasi tadi. Untuk di android
145
bukan berarti tanpa keluhan bugg. tapi sebenarnya keluhan bugg itu
banyak datang dari user yang handphonenya tidak sesuai spesifikasi
minimum yang kita sarankan. Makanya jadi tantangan juga buat kita,
bagaimana mengembakan aplikasi Qlue ini dengan baik namun tetap bisa
digunakan smartphone EHUVSHVLILNDVL UHQGDK ´ :DZDQFDUD SDGD
Januari 2017 di Kantor PT. Qlue Performa Indonesia)
Berdasarkan wawancara di atas dapat di simpulkan hambatan muncul
dalam pengembangan Aplikasi Qlue untuk operasi sistem IOS disebabkan
developer yang terbatas sehingga pengembangan Aplikasi Qlue untuk sistem
operasi IOS menjadi tantangan tersendiri, oleh karenanya Aplikasi Qlue di
tarik sementara, dari IOS Store sampai perbaikan dan pengembangan selesai di
lakukan hal ini dengan pertimbangan untuk menghindari pengguna baru
aplikasi yang tidak puas karena bugg yang terjadi, namun bagi pengguna IOS
yang sudah terlanjur melakukan download, aplikasi tetap dapat digunakan
namun dengan resiko bugg yang masih sering ditemukan. Tidak hanya IOS,
smartphone dengan sistem operasi Android terdapat kendala, yaitu kendala
dalam melakukan pengembangan aplikasi. Yakni bagaimana Aplikasi Qlue
bisa dapat terus mengalami peningkatan dan penambahan fitur namun di satu
sisi tetap dapat digunakan semua smartphone baik spesifikasi rendah ataupun
tinggi. sering munculnya keluhan bugg merupakan di sebabkan spesifikasi
smartphone sebagian pengguna yang tidak sesuai spesifikasi minimum yang
disarankan
146
3. Mis-Koordinasi Antar SKPD dalam Tindak Lanjut Pengaduan
Dalam inisiatif digitalisasi pada sektor publik khususnya dalam bidang
penyelenggaraan layanan pengaduan masyarakat, disamping perlu adanya
sebuah sistem canggih yang menunjang, perlu pula di iringi pula dengan
tindaklanjut dari aduan masuk yang di berikan masyarakat. Secanggih apapun
sistem aplikasi di bangun namun tanpa adanya tindak lanjut yang baik maka
hal tersebut tidak banyak berguna dan memberikan kepuasan pada masyarakat,
karena pada dasarnya hal utama yang di inginkan user atau pengguna aplikasi
atau dalam hal ini masyarakat Jakarta, adalah bagaimana keluhan dan suara
mereka dapat di dengar dan di realisasikan.
Oleh karenanya dalam Implementasi e-Government melalui Qlue dalam
penyelenggaraan layanan pengaduan masyarakat selain harus di bangunnya
aplikasi yang berkualitas sebagai medianya, namun juga di iringi dengan
kualitas tindak lanjut dari aduan yang masuk melalui aplikasi tersebut sehingga
dapat memberikan kepuasan kepada masyarakat. Dalam mewujudkan hal
tersebut hubungan antar organisasi merupakan kata kunci. Van Meter dan Van
Horn (1975) menyebutkan, seringkali hubungan antar organisasi yang
terhambat menjadi penghalang dalam eksekusi kebijakan ataupun program
yang sedang berjalan. Padahal dalam banyak program implementasi kebijakan,
sebagai realitas dari program kebijakan perlu hubungan yang baik antar
instansi yang terkait, yaitu dukungan komunikasi dan koordinasi. Untuk itu,
diperlukan koordinasi dan kerjasama antar instansi bagi keberhasilan suatu
program tersebut. Komunikasi dan koordinasi merupakan salah satu urat nadi
147
dari sebuah organisasi agar program-programnya tersebut dapat direalisasikan
dengan tujuan serta sasarannya. (Sadhana, 2011:269)
Dalam implementasi Qlue di Kelurahan Kelapa Dua memiliki hambatan
dimana sulitnya melakukan koordinasi dengan Suku Dinas Wilayah terkait.
Koordinasi ini merupakan suatu hal yang penting dalam tindak lanjut hal ini
dikarenakan tidak semua aduan yang masuk bisa di tangani oleh pihak
Kelurahan dalam hal ini adalah Kelurahan Kelapa Dua, hal ini sebagaimana
yang di jelaskan Ibu Rohmah selaku Sekretaris Lurah Kelurahan Kelapa Dua,
Jakarta Barat :
³3HQJKDPEDWQ\DDGDODKNRRUGLQDVLGHQJDQ6.3'WDSLVHEHQDUQ\DEXQWXW
dari masalah ini Aplikasi CROP yang sering error jadi Kelurahan buat
tindaklanjut menggunakan Qlue. Enaknya kan di CROP ada fitur
Disposisi jadi kalau aduan yang masuk itu diluar wewenang Kelurahan,
kita tinggal klik disposisi ke SKPD yang berwenang. Udah tanggung
jawab kita selesai selanjutnya tanggung jawab SKPD yang bersangkutan.
Karena Aplikasi CROP nya sering gangguan kita udah lama pakainya
Qlue, otomatis koordinasi yang kita lakukan manual dan lama di
UHVSRQQ\DGDULPHUHND´:DZDQFDUDSDGD Senin, 13 Februari 2017)
Berdasarkan wawancara di atas faktor yang menjadi penghambat dalam
implementasi e-Government melalui Qlue adalah sulitnya koordinasi dengan
SKPD lain. Sulitnya koordinasi dengan SKPD lain di latarbelakangi Aplikasi
CROP sebagai media bagi Kelurahan dalam menindaklanjuti aduan sering
mengalami gangguan, hal tersebutlah yang membuat akhirnya Kelurahan
Kelapa Dua lebih memililih untuk tidak menggunakan CROP sebagai
medianya dan menggunakan media melalui Aplikasi Qlue. Akibatnya, jika
dalam Aplikasi CROP tersedianya fitur untuk mendisposisikan aduan ke
SKPD yang berkaitan sehingga koordinasi lebih mudah dan tanggungjawab
148
Kelurahan menjadi hilang setelah di disposisikan, hal tersebut tidak berlaku
dan tersedia di Aplikasi Qlue. Fitur disposisi laporan belum tersedia. Sehingga
konsekuensinya, koordinasi dilakukan dengan manual dan tanggungjawab
Kelurahan masih terus ada sampai SKPD tersebut menangani tindaklanjut dari
masyarakat yang di koordinasikan tersebut.
Bentuk koordinasi yang biasa dilakukan oleh Kelurahan Kelapa Dua
adalah melalui surat, telepon dan pesan whatsapp. Kendala yang sering ditemui
adalah lambatnya respon dari SKPD sehingga aduan yang masuk lambat di
tangani dan menjadi catatan kurang baik bagi Kelurahan Kelapa Dua karena
Qlue mempunyai sistem ranking dan juga masuk pada indikator Kinerja Lurah.
hal serupa di jelaskan oleh Ibu Rohati selaku Kepala Seksi Sarana dan
Prasarana Kelurahan Kelapa Dua mengungkapkan bahwa :
³3HQJKDPEDWQ\DNLWDVXVDKNRRUGLQDVLGHQJDQVXNXGLQDVODLQQ\DYang
bisa kelurahan tangani sendiri kan soal Lingkungan hidup dan ketertiban
umum misal saluran, sampah-sampah, PKL liar, pengawasan rumah kos,
atau pentoppingan pohon tapi memang sekedar topping bukan
penebangan, kalau penebangan kan Dinas Pertamanan. Nah berarti kan
butuh peran suku dinas wilayah buat menangani, nah itu kendalanya.
paling susah koordinasi sama dinas dinas terkait. Kita udah kirim surat
tapi lama sekali tindak lanjutnya, kita telpon atau chat lewat WA katanya
iya iya aja sedangkan di satu sisi kita di tuntut cepat kan selama belum
ditangani masih tanggungjawab kita. berpengaruh ke ranking dan kinerja
lurah. Beda kalo di CROP kan udah di disposisi udah langsung hilang
dari tanggung jawab kita dan kita terhitungnya sudah tindaklanjut.
Karena sering gangguan kita pakainya Qlue tapi itu kenGDODQ\D´
(Wawancara pada Senin, 13 Februari 2017 di ruang Kepala Seksi
Kelurahan Kelapa Dua)
149
Pendapat serupa juga di sampaikan oleh Bapak Eka selaku Staff
Pemerintahan Kelurahan Kelapa Dua yang mengatakan bahwa :
³-DGL NDQ DGXDQ \DQJ PDVXN GDUL PDV\DUDNDW PDFHP-macem mas
kategori permasalahannya. itu semua tidak bisa kelurahan tangani
sendiri, perlu dinas dinas lain. Misal jalanan berlubang kita perlu dinas
pekerjaan umum. Masalah parkir liar, angkutan umum, perlu dinas
perhubungan. Jadi kendalanya koordinasi dengan merekanya itu. Kalo
saya boleh bilang yang paling susah itu sama dishub, karena aduan yang
masuk sering yang berkaitan dengan kewenangan dia dan responnya
lDPEDW´ :DZDQFDUD SDGD 6HQLQ Februari 2017 di Ruang Tunggu
Kelurahan Kelapa Dua)
Tabel 3. Data Penanganan Tindak Lanjut Kelurahan Kelapa Dua Periode 1
Desember 2016 ± 31 Januari 2017
No. Keterangan Wait Proses Complete Total
1 Kemacetan 1 0 0 1
2 Sampah 0 0 21 21
3 Pelanggaran 5 3 8 16
4 Kebakaran 0 0 0 0
5 Jalan Rusak 0 0 0 0
6 Pengemis 0 0 0 0
7 Kaki Lima Liar 0 1 0 1
8 Kriminal 0 0 0 0
9 Lampu Jalan Rusak 2 0 0 2
10 Pohon Tumbang 0 0 4 4
11 Fasilitas Umum 2 3 6 11
12 Parkir Liar 20 2 7 29
13 Pajak Abnormal 0 0 0 0
Pelanggaran Izin
14 2 0 0 2
Bangunan
15 Pelanggaran Merokok 1 0 0 1
16 Makanan Non Hygienis 0 0 0 0
17 Iklan Tak Berizin 1 0 47 48
18 Teroris 0 0 0 0
19 Bencana Banjir 2 0 0 2
20 Pajak Kos-Kosan 0 0 0 0
21 Narkoba 0 0 0 0
22 Fogging BDB 0 0 0 0
23 Pencegahan Banjir 1 0 0 1
24 RPTRA 0 0 0 0
25 Lansia Hilang 0 0 0 0
Sumber : PT. Qlue Performa Indonesia, 2017
150
Berdasarkan wawancara dan data berupa tabel penanganan tindak lanjut
di atas dapat diketahui bahwa dalam implementasi e-government melalui Qlue
dalam penyelenggaraan layanan pengaduan masyarakat memiliki kendala
dimana kendala tersebut ialah sulitnya koordinasi antar SKPD yang dimana
dalam hal ini pihak Kelurahan Kelapa Dua dengan Dinas Dinas teknis terkait,
melalui tabel di atas dapat dilihat pengaduan yang merupakan bukan
kewenangan Kelurahan seperti parkir liar dan kemacetan merupakan
pengaduan yang masih berstatus wait dan proses sedangkan pengaduan yang
masih merupakan kewenangan Kelurahan seluruhnya dapat terselesaikan
dengan baik. Upaya yang dilakukan Kelurahan Kelapa Dua dalam koordinasi
kepada SKPD terkait adalah melalui surat, telepon dan melalui pesan
whatsapp. Namun respon yang diberikan seringkali lambat. padahal di satu sisi
Koordinasi ini merupakan hal yang penting dalam implementasi Qlue hal ini
mengingat bahwa peran Kelurahan yang terbatas sehingga tidak semua aduan
yang masuk dapat di tangani oleh pihak Kelurahan sehingga perlu peran serta
Suku Dinas di tingkat wilayah lainnya.
151
C. Analisis Data dan Pembahasan
1. Implementasi e-Government melalui Qlue dalam Penyelenggaran
Layanan Pengaduan Masyarakat
Keberhasilan pembangunan tidak lepas dari peran dan fungsi organisasi
pemerintah di setiap level dalam mengemban tugas-tugas pemerintahan dimana
di antara tugas tersebut adalah Pelayanan Publik. Penyelenggaraan Pelayanan
Publik yang berkualitas adalah kewajiban dan harus menjadi fokus utama.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Misi nya sebagaimana yang tertera
dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah tahun 2013 ± 2017
yakni membangun Pemerintahan yang bersih dan transparan serta berorientasi
pada Pelayanan Publik, berupaya untuk menjadikan Pelayanan Publik yang
berkualitas sebagai prioritas utama. Upaya membangun Pemerintahan yang
bersih dan transparan serta beriorientasi pada Pelayanan Publik ini dilakukan
dengan berbagai strategi, di antara strategi untuk mewujudkan hal tersebut
adalah melalui pengembangan mekanisme pengaduan berbasis sistem
informasi yang realtime.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam menunjang tercapainya
pengembangan mekanisme pengaduan berbasis sistem informasi yang realtime
turut memanfaatan perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK).
Sebelumnya, pemanfaataan Teknologi Informasi dan Komunikasi ini seringkali
di gunakan oleh Pemerintah Pusat maupun Daerah guna tercapainya efesiensi
dan efektifitas penyelenggaraan Pemerintahan. Kemajuan dan kecanggihan
teknologi kini terus mendorong Pemerintah untuk beradaptasi dan
152
meningkatkan layanannya serta meninggalkan hambatan hambatan dalam
penyelenggaraan layanan berbasis metode tradisional. Pemerintahan secara
elektronik (electronic government) juga turut di adopsi oleh Pemerintah
Provinsi DKI Jakarta dalam mengembangkan mekanisme pengaduan berbasis
sistem informasi yang real time. Dalam penerapan e-Governmentmenurut
Indrajit (2006:15) memiliki tiga elemen sukses yang harus di perhatikan,
elemen tersebut yaitu Support, Capacity dan Value.
Aplikasi Qlue merupakan aplikasi yang di pilih oleh Pemerintah Provinsi
DKI Jakarta sebagai media yang di sediakan untuk masyarakat dalam
memberikan pengaduan disamping media media lainnya yang sudah di
sediakan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta seperti sms, twitter, ataupun
melalui website. Digunakannya Qlue sebagai media pengaduan oleh
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta di harapkan dapat meningkatkan pelayanan
bagi masyarakat yang ingin mengadu dan menyampaikan aspirasinya melalui
sebuah sistem di dalam aplikasi yang memungkinkan setiap aduan dapat
dipantau progress tindaklanjutnya dan dapat menyajikan informasi seperti
gambar dan lokasi yang realtime atas pengaduan yang masuk dari masyarakat
berbasis teknologi geo-spasial sehingga diharapkan dapat memberikan
kemudahan bagi aparatur dilapangan untuk mengetahui detail permasalahan
dan pemetaan lokasi.
153
a. Support
Salah satu elemen sukses e-govermentmenurut Indrajit (2006:13) adalah
support. Elemen ini merupakan salah satu penentu dalam keberhasilan
implementasi e-government. Inisiatif e-government sudah sepatutnya mendapat
dukungan mulai dari level pimpinan tertinggi sampai ke level pemerintahan
paling bawah, dukungan ini tidak hanya sebatas kata-kata namun juga
diharapkan dalam implementasi e-government adanya hal-hal sebagai berikut :
1. Disepakatinya kerangka e-Government sebagai salah satu kunci sukses
negara dalammencapai visi dan misi bangsanya melalui pimpinan
mulai dari level atas hingga pada level di bawahnya, sehingga harus
diberikan prioritas tinggisebagaimana kunci-kunci sukses lain
diperlakukan
2. Dialokasikannya sejumlah sumber daya (manusia, finansial, tenaga,
waktu, informasi,dan lain-lain) di setiap tataran pemerintahan untuk
membangun konsep ini dengan semangat lintas sektoral
3. Dibangunnya berbagai infrastruktur dan superstruktur pendukung agar
terciptalingkungan kondusif untuk mengembangkan e-Government
(seperti adanya Undang-Undang dan Peraturan Pemerintah yang jelas,
ditugaskannya lembaga-lembaga khusus, misalnya kantor e-
Envoysebagai penanggung jawab utama, disusunnya aturanmain kerja
sama dengan swasta, dan lain sebagainya)
4. Disosialisasikannya konsep e-Government secara merata, kontinyu,
konsisten, danmenyeluruh kepada seluruh kalangan birokrat secara
khusus dan masyarakat secaraumum melalui berbagai cara kampanye
yang simpatik.
Berkaitan pada indikator pertama yakni kepemimpinan, menurut Indrajit
(2006, 13) dalam kunci sukses e-Government yaitu disepakatinya kerangka e-
Government sebagai salah satu kunci sukses negara dalam mencapai visi dan
misi bangsanya melalui pimpinan mulai dari level atas hingga pada level di
bawahnya, sehingga harus diberikan prioritas tinggi sebagaimana kunci-kunci
154
sukses lain diperlakukan. Berdasarkan hasil penelitian, implementasi Qlue
sudah mendapat dukungan dari pimpinan, dalam hal ini adalah Gubernur,
Kepala Dinas Komunikasi Informatika dan Statistika Provinsi DKI Jakarta,
Walikota dan di ikuti pula dengan dukungan dari Lurah.
Digunakannya Qlue sebagai kanal resmi pengaduan Pemerintah Provinsi
DKI Jakarta berawal dari PT. Qlue Performa Indonesia sebagai pengembang
aplikasi yang mempresentasikan aplikasinya kepada Pemerintah Provinsi DKI
Jakarta. Aplikasi Qlue dipilih sebagai kanal resmi pengaduan oleh Pemerintah
Provinsi DKI Jakarta di anggap lebih modern dan mudah di pantau progress
dari aduan yang diberikan di banding kanal-kanal yang ada sebelumnya, selain
itu penggunaan Qlue sebagai kanal resmi pengaduan masyarakat di anggap
dapat lebih transparan dan dapat mewujudkan konsep smart city yang sedang
ingin di bangun oleh Gubernur DKI Jakarta.
Dalam mensukseskan implementasi electronic government melalui Qlue
dalam penyelenggaraan layanan pengaduan masyarakat, Gubernur DKI Jakarta
membentuk Unit Pelaksana Teknis Jakarta Smart City yang merupakan bagian
dari Dinas Komunikasi Informatika dan Statistik Provinsi DKI Jakarta yang
berfokus pada penyelenggaraan program smart city yang dimana salah satunya
adalah Qlue. Secara spesifik, dengan dibentuknya unit tersebut, pengaduan
masyarakat yang masuk melalui Qlue akan dapat di monitor dan di follow up
tindak lanjutnya atas pihak Kelurahan hal ini guna mencegah aduan yang
masuk dari masyarakat masih berindikator berwarna merah ataupun tidak di
proses.
155
Dukungan dari Gubernur DKI Jakarta lainnya adalah dengan memonitor
melalui dashboard miliknya atas ranking kelurahan yang di update pada
aplikasi Qlue setiap harinya, Gubernur DKI Jakarta selalu mendorong Walikota
melalui rapat pimpinan tingkat Provinsi agar dapat mendorong Lurah agar
lebih kooperatif dalam menindaklanjuti pengaduan yang masuk dari
masyarakat di wilayahnya dan juga mendorong Camat ataupun Suku dinas di
wilayahnya untuk membantu Kelurahan dalam menindaklanjuti aduan terutama
aduan yang merupakan bagian dari tugas pokok dan fungsi instansinya
sehingga dapat bekerja sama dalam menindak lanjuti pengaduan dari
masyarakat melalui Qlue. Salah satu upaya dari Gubernur DKI Jakarta bagi
Lurah, Camat ataupun Suku dinas yang kurang baik dalam menindak lanjuti
aduan dari masyarakat melalui Qlue adalah dengan teguran lisan yang dimana
teguran tersebut di berikan kepada Walikota melalui rapat pimpinan tingkat
Provinsi dan Walikota akan menyampaikan teguran tersebut melalui rapat
pimpinan tingkat Kota kepada Lurah, Camat ataupun Suku dinas yang
kinerjanya kurang baik.
Lurah Kelapa Dua berdasarkan hasil penelitian senantiasa mendorong
Kepala Seksi, Petugas PPSU dan Satpol PP untuk menindaklanjuti aduan yang
masuk dari masyarakat serta mengkoordinasikannya kepada SKPD terkait
apabila aduan yang masuk di luar kapasitas Kelurahan. Upaya yang di lakukan
Gubernur DKI Jakata untuk mendorong Lurah agar responsif dalam tindak
lanjut aduan melalui Qlue yaitu dengan menjadikan penanganan aduan
masyarakat melalui Qlue sebagai indikator penilaiain kinerja Lurah sehingga
156
melalui indikator tersebut kinerja lurah dalam penanganan aduan melalui Qlue
dapat senantiasa di pantau dan di jadikan pertimbangan dalam
pemindahtugasan apabila kinerjanya tidak baik. Namun hal yang perlu di soroti
disini adalah, untuk indikator kinerja penanganan pengaduan melalui Qlue
untuk saat ini masih belum di masukkan ke dalam indikator penilaian kinerja
Camat dan Kepala SKPD, padahal di satu sisi SKPD pun juga terlibat dalam
penanganan aduan melalui Qlue.
Tidak hanya dari Gubernur DKI Jakarta, dukungan dalam implementasi
e-Government melalui Qlue juga dapat dilihat dari dukungan Kepala Dinas
Komunikasi Informatika dan Statistik Provinsi DKI Jakarta. Dalam
mensukseskan implementasi e-Government melalui Qlue dalam
penyelenggaraan layanan pengaduan masyarakat, Kepala Dinas Komunikasi
Informatika dan Statistik Provinsi DKI Jakarta dengan cara mendorong suku
dinas kominfo di setiap wilayah untuk kooperatif dalam membantu lurah,
camat, PPSU ataupun SKPD di wilayahnya apabila memiliki kendala secara
teknis. Selain itu, dalam rangka meningkatkan efektivitas dan efisiensi, sedang
dikembangkannya aplikasi CRM atau yang memiliki kepanjangan Citizen
Relation Management, yang nantinya aparatur di lapangan dapat lebih mudah
berkoordinasi dan memantau aduan dari masyarakat melalui berbagai kanal
yang tersedia dan juga sebagai solusi atas aplikasi CROP (Cepat Respon Opini
Publik) yang sering mengalami gangguan.
Dukungan elemen sukses e-Governmentmenurut Indrajit (2006:13) pada
poin kedua yaitu dialokasikannya sejumlah sumber daya (manusia, finansial,
157
tenaga, waktu, informasi, dan lain-lain) di setiap tataran pemerintahan untuk
membangun konsep ini dengan semangat lintas sektoral. Dalam hal ini
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah mengalokasikan berbagai sumberdaya
untuk menunjang implementasi Qlue. Sumberdaya yang digunakan di
antaranya sumberdaya manusia yang memiliki kompetensi sesuai dengan tugas
pokok dan fungsi, infrastruktur yang terdiri dari hardware dan software, dan
anggaran yang bersumber dari APBD Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
Seluruh dukungan sumberdaya saling melibatkan kerjasama lintas sektor.
SKPD yang terlibat dalam implementasi e-government melalui Qlue
dalam penyelenggaraan layanan pengaduan masyarakat yaitu Dinas
Komunikasi Informatika dan Statistik melalui Unit Pelaksana Teknis Jakarta
Smart City dan Kelurahan yang di bantu dengan Kecamatan serta Suku Dinas
di tingkat Kota. Dalam pelaksanaan, Dinas Komunikasi Informatika dan
Statistik melalui Unit Pelaksana Teknis Jakarta Smart City berperan sebagai
pihak yang memonitor dan melakukan follow up atas tindak lanjut pengaduan
yang masuk melalui Aplikasi Qlue kepada Kelurahan serta melakukan
pengembangan Aplikasi CROP (Cepat Respon Opini Publik) yang merupakan
sebagai tools bagi aparatur di lapangan dalam menerima laporan dari
masyarakat dan memberikan konfirmasi atasi tindaklanjutnya. PT. Qlue
Performa Indonesia bertindak sebagai pemilik paten Aplikasi dan
pengembangan Aplikasi Qlue yang bekerja sama dengan UPT Jakarta Smart
City. Selain itu dalam hal pelaksanaan, pihak Kelurahan berperan sebagai
pihak yang bertanggung jawab untuk menindaklanjuti aduan yang masuk dari
158
masyarakat atas permasalahan di lingkungannya serta memberi penanganan
apabila aduan yang masuk dapat di tangani dan mengkoordinasikannya kepada
Kecamatan ataupun Suku Dinas di tingkat Kota jika aduan yang di berikan
merupakan aduan yang merupakan kewenangannya. Adapun aduan yang dapat
di tangani Kelurahan sendiri misalnya saluran, sampah-sampah, PKL liar atau
pentoppingan pohon.
Fakta di lapangan menunjukkan bahwa dukungan sumberdaya manusia
di Dinas Komunikasi Informatika dan Statistik Provinsi DKI Jakarta melalui
Unit Pelaksana Teknis Jakarta Smart City sudah memadai dan sesuai dengan
kompetensinya. Sedangkan sumberdaya manusia dalam implementasi Qlue di
Kelurahan Kelapa Dua sudah sesuai dengan kompetensinya namun masih
belum memadai. Jumlah petugas Satpol PP yang bertugas di Kecamatan
jumlahnya dirasa kurang dan ditengah kekurangan jumlah tersebut petugas
Satpol PP tersebut masih harus berpindah dari satu Kecamatan ke Kecamatan
lainnya sehingga seringkali aduan yang masuk melalui Qlue yang dimana
memerlukan penanganan Satpol PP seperti penertiban pedagang kaki lima
seringkali menjadi terhambat. Selain itu ketidaktersediaannya petugas Dinas
Perhubungan baik di tingkat Kelurahan ataupun Kecamatan menjadi hambatan
bagi Kelurahan Kelapa Dua saat mendapatkan aduan yang berkaitan dengan
kewenangannya seperti parkir liar, sehingga Kelurahan Kelapa Dua perlu
melakukan koordinasi dengan Suku Dinas Perhubungan sehingga memerlukan
waktu yang panjang dalam penindaklanjutan.
159
Elemen sukses e-government lainnya menurut Indrajit (2006:13) ialah
dibangunnya berbagai suprastruktur pendukung agar tercipta lingkungan
kondusif untuk mengembangkan e-Governmentseperti adanya Undang-Undang
dan Peraturan Pemerintah yang jelas. Pengaduan masyarakat melalui Qlue di
jalankan dalam rangka melaksanakan amanat Undang-Undang No.25 Tahun
2009 tentang Pelayanan Publik. Melalui Undang-Undang tersebut di
amanatkan bahwa penyelenggara pelayanan publik. Pemerintah Provinsi DKI
Jakarta sebagai Pemerintahan di tingkat daerah yang menyelenggarakan fungsi
pelayanan publik memiliki tanggung jawab untuk mengelola pengaduan
masyarakat. Qlue dipilih oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sebagai
langkah inisiatif guna menambah alternatif kanal pengaduan bagi masyarakat
dengan pendekatan yang baru. Dalam pengelolaannya, Qlue di limpahkan
kepada SKPD yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang TIK
dalam hal ini Dinas Komunikasi Informatika dan Statistik Provinsi DKI Jakarta
Dalam menunjang implementasi e-Government melalui Qlue dalam
penyelenggaraan layanan pengaduan masyarakat, dibentuknya suprastruktrur
pendukung dan berbagai dasar hukum yang menjadi landasannya. Adapun
suprastruktur yang di bangun guna mensukseskan implementasi yaitu dengan
dibentuknya Unit Pelaksana Teknis Jakarta Smart City yang merupakan bagian
dari Dinas Komunikasi Informatika dan Statistik Provinsi DKI Jakarta
sebagaimana yang tertuang melalui Peraturan Gubernur No 280 Tahun 2014
tentang Pembentukan Organisasi dan Tata Kerja Unit Pengelola Jakarta Smart
City.
160
Disamping Unit Pelaksana Teknis Jakarta Smart City, pihak dilapangan
yang ikut berperan langsung dalam memberikan ataupun mengkoordinasi
tindak lanjut aduan melalui Qlue yaitu Kelurahan, secara spesifik dasar hukum
yang menjadi landasan Kelurahan dalam melaksanakan kewajibannya dalam
memberikan tindaklanjut melalui Qlue yaitu berdasarkan Instruksi Gubernur
No. 223 tahun 2015 tentang Penggunaan Aplikasi Jakarta Smart City di
Lingkungan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta,. Dalam memberikan
tindaklanjut, Kelurahan di bantu oleh petugas Penanganan Prasaranan dan
Sarana Umum, adapun hal tersebut di atur melalui Peraturan Gubernur No.7
Tahun 2017 tentang Pedoman Teknis Penanganan Prasarana dan Sarana Umum
Tingkat Kelurahan yang dimana melalui Peraturan Gubernur tersebut tertuang
bahwa laporan dari Aplikasi Qlue merupakan salah satu dasar dari dasar
pelaksanaan petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum di tingkat
Kelurahan.
Berdasarkan apa yang telah di uraikan tentang dasar hukum yang
dijadikan landasan dalam implementasi e-Government melalui Qlue dalam
Penyelenggaraan Layanan Pengaduan Masyarakat, maka dasar hukum yang
digunakan adalah sebagai berikut :
a. Undang-Undang No. 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik
b. Instruksi Gubernur No. 223 tahun 2015 tentang Penggunaan Aplikasi
Jakarta Smart City di Lingkungan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta
161
c. Peraturan Gubernur No 280 Tahun 2014 Pembentukan Organisasi dan
Tata Kerja Unit Pengelola Jakarta Smart City
d. Peraturan No.7 tahun 2017 tentang Pedoman Teknis Penanganan
Prasarana dan Sarana Umum Tingkat Kelurahan
Dukungan elemen sukses electronic governmentmenurut Indrajit
(2006:13) pada poin ke 4 yaitu sosialisasi, dimana dalam mensukseskan
berbagai inisiatif e-Government perlu disosialisasikannya konsep e-
Government secara merata, kontinyu, konsisten, dan menyeluruh kepada
seluruh kalangan birokrat secara khusus dan masyarakat secara umum melalui
berbagai cara kampanye yang simpatik. Dalam implementas e-Government
melalui Qlue, sosialisasi diberikan dengan tiga target sasaran yakni SKPD,
Ketua RT dan RW serta masyarakat umum. Adapun sosialisasi di tingkat
SKPD sudah dilakukan dan berjalan dengan baik. Sosialisasi kepada tingkat
SKPD diberikan oleh Suku Dinas Kominfo kepada Lurah, Camat dan
perwakilan Suku Dinas wilayah yang terkait. Konten sosialisasi yang berikan
yaitu memberikan informasi tentang Qlue, kewajiban setiap SKPD dalam
implementasi Qlue, tata cara penggunaan aplikasi dan tata cara dalam
memberikan tindak lanjut. Berdasarkan fakta di lapangan, pihak Kelurahan
Kelapa Dua sudah mampu menangkap konten dari sosialisasi tersebut, apabila
terdapat kendala dan berbagai update pada aplikasi, sosialisasi di lanjutkan
melalui bimbingan teknis yang sampai saat ini masih di laksanakan secara
berkesinambungan.
162
Sosialisasi juga dilakukan kepada Ketua RT/RW oleh pihak Kelurahan
Kelapa Dua menyusul diberlakukannya SK Gubernur No.903 tahun 2016 yang
mewajibkan Ketua RT/RW memberikan laporan atas permasalahan ataupun
kegiatan yang ada dilingkungannya yang kemudian di cabut melalui Keputusan
Gubernur no. 2432 tahun 2016. Adapun keberhasilan sosialisasi tersebut tidak
dapat di ukur namun berdasarkan fakta di lapangan bahwa tidak semua Ketua
RT dan Ketua RW hadir dan mengikuti sosialisasi. Daya tangkap dan
kemampuan penguasaan teknologi dari Ketua RT/RW yang hadir juga berbeda
sehingga menjadi hambatan saat sosialisasi diberikan namun sosialisasi yang
diberikan pihak Kelurahan Kelapa Dua sudah di lakukan dengan baik dan
menyesuaikan daya tangkap serta penguasaan teknologi Ketua RT/RW yang
hadir.
Sosialisasi kepada masyarakat umum juga di berikan oleh Dinas
Komunikasi Informatika dan Statistik Provinsi DKI Jakarta melalui Unit
Pelaksana Teknis Jakarta Smart City. Pelaksanaan sosialisasi Qlue kepada
masyarakat luas di lakukan oleh Unit Pelaksana Teknis Jakarta Smart City
melalui keikutsertaan dalam pameran dan event yang diselenggarakan sewaktu-
waktu seperti Pekan Raya Jakarta (PRJ), keikutsertaan pada pameran di bidang
teknologi, pendidikan dan kesenian serta memanfaatkan program wisata
balaikota untuk melakukan sosialisasi. Selain itu sosialisasi juga diberikan
melalui media sosial seperti facebook, twitter dan youtube.
163
b. Capacity
Elemen sukses kedua adalah capacity atau kapasitas. Dalam membangun
dan mengembangkan electronic government perlu adanya suatu kemampuan
dan kapasitas yang harus di miliki. Terdapat tiga hal yang harus dimiliki oleh
Pemerintah sehubungan dengan elemen ini (Indrajit, 2006:13), yaitu :
1. Ketersediaan sumber daya yang cukup untuk melaksanakan berbagi
inisiatif e- Government, terutama yang berkaitan dengan sumber daya
finansial
2. Ketersedaan infrastruktur teknologi informasi yang memadai karena
fasilitas inimerupakan 50% dari kunci keberhasilan penerapan konsep
e-Government
3. Ketersediaan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi dan
keahlian yangdibutuhkan agar penerapan e-Government dapat sesuai
dengan asas manfaat yangdiharapkan.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam membangun dan mewujudkan
pengembangan e-government diperlukan beberapa unsur yang harus di
persiapkan guna menunjang kapasitasnya, yakni berupa ketersediaan
sumberdaya finansial, ketersediaan sumberdaya manusia yang memiliki
kompetensi dan ketersedian sarana dan prasarana.
Berkaitan dengan point pertama pada elemen ini yaitu sumberdaya
finansial, dalam melakukan implementasi e-Government melalui Qlue dalam
penyelenggaraan layanan pengaduan masyarakat, Dinas Komunikasi
Informatika dan Statistik sudah mempersiapkan ketersediaan anggaran yang
diperlukan. Anggaran yang telah disediakan oleh Dinas Komunikasi
Informatika dan Statistik Provinsi DKI Jakarta tersebut bersumber dari APBD
Provinsi DKI Jakarta. Mengacu pada aspek ini Pemerintah Provinsi DKI
164
Jakarta telah menunjukan komitmen untuk terus melakukan peningkatan dan
pengembangan e-Government melalui Qlue sebagai kanal pengaduan
masyarakat yang di wujudkan dalam pengalokasian angggaran.
Untuk penggunaan Aplikasi Qlue itu sendiri, di pergunakan secara gratis
oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Perjanjian Kerja Sama yang di
sepakati oleh PT. Qlue Performa Indonesia dan Dinas Komunikasi Informatika
dan Statistik Provinsi DKI Jakarta sehingga dalam pengunaan Aplikasi Qlue
sebagai sarana pengaduan masyarakat Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tidak
menganggarkan dalam APBD untuk mempergunakan aplikasi tersebut namun
Pemerintah Provinsi DKI jakarta sudah mengalokasikan anggaran untuk
menunjang implementasi e-Government melalui Qlue. Anggaran yang
disediakan oleh Dinas Komunikasi Informatika dan Statistik Provinsi DKI
Jakarta yang dimana bersumber dari APBD tersebut di alokasikan untuk
menunjang implementasi di Unit Pelaksana Teknis Jakarta Smart City.
Anggaran tersebut di alokasikan diperuntukkan untuk operasional dan kegiatan
yang sifatnya menunjang seperti Pengembangan Aplikasi dan Pengembangan
infrastruktur TIK serta Kegiatan Sosialisasi yang di alokasikan pada Unit
Pelaksana Teknis Jakarta Smart City. Untuk kegiatan bimbingan teknis, juga
telah di anggarkan pada Suku Dinas Komunikasi Informatika dan Statistik
Kota Administrasi Jakarta Barat.
Disamping itu, dalam tindaklanjut pengaduan, Kelurahan Kelapa Dua
tidak mengalokasikan anggaran untuk tindak lanjut pengaduan melalui Qlue
hal ini dikarenakan penanganan aduan yang dilakukan Kelurahan merupakan
165
penanganan yang bersifat langsung terjun ke lapangan dan adapun untuk hal-
hal yang sifatnya harus memperbaiki ataupun penambahan fasilitas publik
menggunakan anggaran SKPD terkait sesuai tugas pokok dan fungsi dari
SKPD tersebut. Penanganan tindak lanjut yang masuk pada SKPD tersebut
akan menyesuaikan ketersediaan anggaran, apabila anggaran atas permasalahan
yang di adukan sudah tersedia maka akan di tangani namun apabila tidak, maka
akan di alokasikan pada periode anggaran mendatang dan si pelapor tersebut
akan mendapat tindaklanjut berwarna kuning pada aplikasi yang berarti di
proses.
Berdasarkan hasil penelitian,, pengaduan yang berkaitan dengan
perbaikan infrastruktur publik menjadi tantangan tersendiri bagi Kelurahan
Kelapa Dua apabila ditinjau dari aspek anggaran hal ini dikarenakan untuk
mengeksekusi pengaduan yang berkaitan dengan hal tersebut memperlukan
proses yang panjang dan lama namun di satu sisi masyarakat menuntut
penanganan aduan agar dapat selalu cepat.
Poin berikutnya dari elemen capacity ini adalah ketersedaan
infrastruktur teknologi informasi. Indrajit (2006:13) menyebutkan bahwa yang
memadai karena fasilitas ini merupakan 50% dari kunci keberhasilan
penerapan konsep e-Government. Penggunaan Aplikasi Qlue sebagai media
pengaduan masyarakat yang merupakan wujud dari pengembangan konsep e-
Government dipergunakan untuk memberi kemudahan baik bagi masyarakat
ataupun pemerintah itu sendiri, sehingga infrastruktur yang menunjang guna
mendukung hal tersebut perlu menjadi prioritas bagi Pemerintah Provinsi DKI
166
Jakarta. Adapun Infrastruktur yang digunakan dalam menunjang implementasi
e-Government melalui Qlue adalah sebagai berikut :
a. Jaringan Internet
Jaringan internet merupakan salah satu komponen infrastruktur pendukung
dalam implementasi e-Government melalui Qlue. Berdasarkan fakta di
lapangan, infrastruktur penunjang berupa jaringan internet telah di sediakan
oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berupa Wifi yang di sambungkan
melalui Router. Jaringan internet berupa wifi yang tersedia di Unit
Pelaksana Teknis Jakarta Smart City sudah memadai dan berjalan dengan
baik, begitu juga jaringan internet berupa wifi yang tersedia di Kelurahan
Kelapa Dua. Hanya saja kendala ditemukan bahwa penggunaan jaringan
internet seringkali dibutuhkan di luar Kelurahan, misalnya saat
penindaklanjutan di lapangan, sehingga petugas PPSU dan aparat Kelurahan
yang terkait harus menyiapkan jaringan internet pribadi melalui smartphone
miliknya.
b. Hardware
Salah satu perangkat penting yang dibutuhkan dalam implementasi e-
Government melalui Qlue adalah hardware. Perangkat keras yang tersedia
dan digunakan oleh Kelurahan adalah smartphone yang kepemilikannya
adalah milik pribadi pegawai. Smartphone yang digunakan oleh Kelurahan
sudah cukup memadai dengan minimal RAM 1 GB, dan beroperasi sistem
Android Jelly Bean. Perangkat keras yang tersedia dan digunakan oleh Unit
167
Pelaksana Teknis Jakarta Smart City adalah 1 unit smartphone yang
digunakan tim monitoring room officer sebagai admin dan secara
kepemilikan adalah milik pribadi pegawai dan dipergunakan secara
bergantian. Disamping smartphone, perangkat keras yang digunakan Unit
Pelaksana Teknis Jakarta Smart City adalah perangkat komputer sejumlah
84 unit milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Perangkat komputer tersebut
tersebar ke dalam beberapa bagian dan mendukung implementasi e-
government melalui Qlue, baik dalam monitoring, pengembangan tools
tindak lanjut penanganan, pendataan sampai pada evaluasi. Selain itu
digunakan juga 2 perangkat server yang juga sebagai perangkat pendukung
selain komputer. Adapun spesifikasi komputer dan server yang digunakan
sebagai berikut :
a). Server utama 2 unit dengan spesifikasi sebagai berikut :
Sever 1
Spec : Type HP ProLiant XL230a Gen9 Server
Processor : Intel Xeon Quad Core E5-2637v3 3.5GHz
Memory : 6 x 8GB
Internal Disk : 2 x 1.2TB 12G SAS 10K (RAID 1)
Operating System : CentOS 6.5
File System : LVM
168
Server 2
Spec : Type HP ProLiant XL230 gen9 Server
Processor : Intel Xeon Quad Core E5-2637v3 3.5GHz
Memory : 4 x 8Gb
Internal Disk : 2 x 1.2TB 12G SAS 10k (RAID 1)
Operating System : CenOS 6.5
File System : LVM
b). Komputer yang tersedia di Unit Pelaksana Teknis Jakarta Smart City dan
digunakan dalam implementasi Qlue memilki spesifikasi sebagai berikut :
Spec : HP 14 Inch
Ram : 2 GB
Processor : Intel i5
VGA Card : Intel Grapich HD 3000
Operating System : Windows 7 64bit
2. Software (Perangkat Lunak)
Aplikasi Qlue dibangun dan di desain oleh PT Qlue Performa Indonesia yang
bekerja sama dengan Unit Pelaksana Teknis Jakarta Smart City. Selain
Aplikasi Qlue ditunjang pula dengan Aplikasi CROP yang dimana digunakan
169
sebagai tools aparatur di lapangan dalam menerima dan memberikan
keterangan tindak lanjut. Dimana untuk menjalankan proses pengembangan
Aplikasi tersebut dipergunakan berbagai perangkat lunak sebagai
pendukungnya. Oleh karenanya berbagai software yang telah tersedia adalah
sebagai berikut :
a. Nude JS : API
b. Android Studio Ionic (Javascript) : Mobile Developer
c. Bootstrap : WIB developer
d. Hyperwall : Cloud
Berdasarkan uraian terkait infrastruktur penunjang implementasi e-
Government melalui Qlue, Dinas Komunikasi Informatika dan Statistik
Provinsi DKI Jakarta telah menyediakan beberapa infrastruktur pendukung dan
kinerja infrastruktur yang saat ini tersedia sudah berjalan dengan baik. Adapun
infrastruktur yang saat ini masih belum tersedia adalah smartphone untuk
admin di bagian monitoring room officer dan pihak Kelurahan, namun
ketidatersediaan tersebut di antisipasi dengan menggunakan smartphone milik
pribadi pegawai yang bersangkutan.
Poin ketiga dari elemen capacity ini adalah ketersediaan sumberdaya
manusia. Sumberdaya manusia yang memiliki kompetensi menjadi unsur yang
dapat mendukung kapasitas Pemerintah dalam implementasi e-Government.
Ketersediaan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi dan keahlian
170
yang dibutuhkan agar penerapan e-Government dapat sesuai dengan asas
manfaat yang diharapkan. (Indrajit, 2006:13).
Dalam implementasi e-Government melalui Qlue dalam penyelenggaraan
layanan pengaduan masyarakat terdapat 2 aktor yang menjadi lini penting,
yaitu Dinas Komunikasi Informatika dan Statistik melalui Unit Pelaksana
Teknis Jakarta Smart City dan Kelurahan. Berdasarkan hasil penelitian, Dinas
Komunikasi Informatika dan Statistika Provinsi DKI Jakarta telah melakukan
persiapan dalam rangka memenuhi kualifikasi SDM yang digunakan dalam
implementasi e-Government melalui Qlue. Upaya persiapan SDM kepada
pihak Kelurahan tersebut ditempuh melalui pelatihan dalam kegiatan BIMTEK
(Bimbingan Teknis). Bimbingan teknis diberikan selain kepada pegawai
kelurahan, namun juga di berikan kepada pegawai kecamatan dan suku dinas
wilayah sebagai aktor yang mendukung Kelurahan dalam menangani aduan
yang masuk melalui Qlue. Bimbingan Teknis kepada perwakilan Kelurahan,
Kecamatan dan Suku dinas wilayah masih di selenggarakan secara
berkesinambungan hanya saja penyelenggaraannya tidak menentu, disesuaikan
dengan kebutuhan apabila ada pembaruan dan memerlukan keterampilan baru
untuk menggunakannya.
Disamping SDM kelurahan dan SKPD terkait harus di pastikan sudah
memahami dan memiliki kompetensi, kompetensi pegawai di Unit Pelaksana
Teknis Jakarta Smart City juga harus di pastikan sudah memadai dan sesuai
kompetensi. Berdasarkan hasil penelitian, pegawai di Unit Pelaksana Teknis
Jakarta Smart City sudah sesuai kompetensi yang di butuhkan. Pegawai yang
171
memiliki kompetensi sesuai bidangnya tersebut diperoleh melalui proses
seleksi dan sesuai dengan analisis kebutuhan penempatan pegawai. Seluruh
pegawai di tuntut untuk mampu menguasai IT agar dapat menjalankan
tugasnya dengan baik.
Tidak hanya pengetahuan dan pemahaman teknis, dalam penerapan e-
Government kedalam layanan pengaduan masyarakat, perlu adanya
responsifitas dari aparatur pelaksananya. Unit Pelaksana Teknis Jakarta Smart
City dalam upaya nya agar penanganan aduan yang di laksanakan oleh pihak
Kelurahan berjalan dengan baik, melakukan monitoring atas tindak lanjut yang
masih berwarna merah atau belum di proses dengan cara melakukan
rekapitulasi data atas penanganan aduan yang masih belum mendapat
tindaklanjut selama 2 hari yang dimana proses rekapitulasi dilakukan setiap
hari oleh Unit Pelaksana Teknis Jakarta Smart City dan setelah itu
berkoordinasi kepada Lurah melalui sambungan telepon, hal tersebut di
lakukan guna meminimalisir tindak lanjut yang berwarna merah berangsur
berlarut-larut tanpa kejelasan.
c. Value
Berbagai konsep digitalisasi pada sektor publik melalui e-Government
tidak akan berguna jika tidak ada pihak yang merasa diuntungkan. Besar atau
tidaknya manfaat dari penerapan e-Government tidak hanya berasal dari
kalangan Pemerintah itu sendiri, akan tetapi juga turut ditentukan oleh
masyarakat sebagai pihak yang berkepentingan (demand side). (Indrajit,
172
2006:13). Dalam hal ini, hadirnya Qlue sebagai kanal pengaduan masyarakat
memberi keuntungan berupa manfaat bagi Pemerintah dan juga memberi
keuntungan dan manfaat bagi masyarakat.
Impelementasi e-Government melalui Qlue dalam penyelenggaraan
layanan pengaduan masyarakat membawa manfaat bagi Pemerintah Provinsi
DKI Jakarta. Melalui Qlue Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dapat mengetahui
permasalahan-permasalahan yang terjadi di lingkungannya. Salah satu manfaat
dari di implementasikannya Qlue sebagai kanal resmi pengaduan Pemerintah
Provinsi DKI Jakarta adalah di antaranya, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta
dapat mengetahui setiap permasalahan yang terjadi di setiap sudut Kota
Jakarta. Melalui Qlue, aduan dari masyarakat dapat di petakan dengan spesifik
melalui sistem geotagging tentang lokasi dan kondisi dari masalah yang di
adukan sehingga Pemerintah dapat mengetahui dengan jelas dan
mempermudah dalam proses penindak lanjutan.
Manfaat lain dari hadirnya Qlue sebagai sarana pengaduan masyarakat
kepada Pemerintah Provinsi DKI Jakarta adalah sebagai sarana dalam
melibatkan masyarakat dalam mengontrol dan mengawasi apa yang terjadi di
lingkungannya, sehingga akan memunculkan rasa perduli masyarakat terhadap
lingkungan, dengan melibatkan peran masyarakat dalam pengawasan dan
controlling atas segala fenomena yang terjadi di lingkungannya seperti hal nya
kerusakan infrastruktur publik ataupun yang sifatnya pelanggaran yang
dilakukan aparatur seperti pungutan liar.
173
Qlue sebagai sarana pengaduan masyarakat bagi kelurahan juga
membawa manfaat, di antaranya adalah melalui fitur obrolan lingkungan yang
di sediakan di Qlue, Kelurahan dapat menjadikannya sebagai wadah sosialisasi,
baik atas kegiatan yang dilakukan oleh Kelurahan ataupun kegiatan yang di
laksanakan oleh masyarakat melalui foto yang dapat di share melalui fitur
tersebut. Selain dari sisi Pemerintah, implementasi e-Government melalui Qlue
haruslah membawa manfaat bagi masyarakat. Indrajit (2006:13) mengatakan
inisiatif e-Government harus lah membawa manfaat, berbagai inisiatif e-
Government tidak akan ada gunanya jika tidak ada pihak yang merasa
diuntungkan dengan adanya implementasi konsep tersebutdan dalam hal ini,
yang menentukan besar tidaknya manfaat yang diperoleh denganadanya e-
Government bukanlah kalangan pemerintah sendiri, melainkan masyarakat
danmereka yang berkepentingan (demand side) bagi masyarakat, apabila
masyarakat selaku target sasaran dari inisiatif e-Government tidak merasa
mendapat manfaat maka berbagai inisiatif e-Government menjadi suatu hal
yang sia-sia. Pada implementasi e-Government melalui Qlue masyarakat
merasa hadirnya Qlue sebagai sarana pengaduan masyarakat membawa
manfaat yang positive.
Dampak positive yang dibawa Qlue sebagai layanan pengaduan
masyarakat membawa berbagai manfaat di antaranya adalah memberi
kemudahan bagi masyarakat dalam memberikan pengaduannya kepada
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Hanya melalui smartphone masyarakat dapat
memberikan foto dan deskripsi pengaduannya. Selain itu berdasarkan
174
wawancara di atas, manfaat yang diperoleh masyarakat adalah masyarakat
dapat mengetahui bagaimana proses dari pengaduan yang telah diberikan
sehingga menimbulkan kepastian bahwa pengaduan yang di berikannya tidak
sia-sia.
Selain itu, masyarakat berharap penanganan tindaklanjut senantiasa
ditingkatkan, masyarakat mengharapkan dilakukannya beberapa perbaikan agar
layanan pengaduan melalui Qlue dapat selalu memberi manfaat dan value bagi
masyarakat, di antaranya adalah penanganan tindaklanjut agar selalu
ditingkatkan, sosialisasi yang perlu selalu di intensifkan dan peningkatan
kualitas aplikasi.
2. Faktor Pendukung dan Penghambat Implementasi E-Government
melalui Qlue dalam Penyelenggaraan Layanan Pengaduan
Masyarakat pada Dinas Komunikasi Informatika dan Statistik
Provinsi DKI Jakarta dan Kelurahan Kelapa Dua
Dalam suatu inisiatif e-Goverment dapat di pastikan akan di warnai
dengan berbagai macam faktor yang mempengaruhi pelaksanaan di dalamnya,
faktor faktor tersebut di antaranya adalah faktor pendukung dan faktor
penghambat. Implementasi e-Government melalui Qlue dalam
penyelenggaraan layanan pengaduan masyarakat memiliki faktor pendukung
sebagai hal yang mendukung dan menjadi dorongan dari implementasinya
sekaligus memiliki faktor penghambat yang menjadi suatu hambatan di dalam
implementasinya.
175
Faktor pendukung implementasi e-Government melalui Qlue dalam
penyelenggaraan layanan pengaduan masyarakat di antaranya adalah
Komitmen Pemimpin dalam Implementasi Qlue, dan Sistem pendukung yang
telah dibangun. Sedangkan di samping faktor pendukung, terdapat pula faktor
faktor yang menjadi penghambat implementasi e-Government melalui Qlue
dalam penyelenggaraan layanan pengaduan masyarakat di Kelurahan Kelapa
Dua di antaranya adalah sulitnya berkoordinasi dengan suku dinas terkait,
Aplikasi CROP yang sering error dan masih banyaknya masyarakat yang
belum mengetahui tentang layanan pengaduan melalui Qlue.
a. Faktor Pendukung
Faktor pendukung dalam Implementasi e-Government melalui Qlue
dalam penyelenggaraan layanan pengaduan masyarakat merupakan hal-hal
yang dapat mendorong sehingga dalam pelaksanaannya dapat berjalan dengan
baik dan lancar. Dalam implementasi di Dinas Komunikasi Informatika dan
Statistik Provinsi DKI Jakarta dan Kelurahan Kelapa Dua, terdapat beberapa
hal yang menjadi faktor pendukung tersebut, dimana di antaranya adalah
Komitmen Pemimpin dalam Implementasi Qlue dan Sistem pendukung yang
telah di bangun.
1. Komitmen Pemimpin
Menurut Cheema dan Rodineli (dalam Subarsono, 2005:101), dukungan
pemimpin sebagai salah faktor yang mempengaruhi implementasi kebijakan
program-program pemerintah yang bersifat desentralis. Selain itu berdasarkan
176
hasil kajian Lembaga Administrasi Negara pada tahun 2009 terdapat beberapa
hal penting yang menjadi faktor pendorong dalam penerapan e-Government di
Indonesia di antaranya komitmen dan dukungan pimpinan. Komitmen dan
dukungan dari pimpinan (leadership commitment and support) menjadi
indikator penting bagi keberhasilan penerapan e-Government di Indonesia.
Secara teori indikator ini memberikan kepastian terhadap kepemimpinan
unggul dan kapabel, menjamin hubungan antar satuan kerja yang sinergis dan
terencana, kepastian penganggaran, realisasi, operasi, dan evaluasi
implementasi sistem Teknologi Informasi dan Komunikasi.
Dalam hal ini komitmen pemimpin memiliki andil penting dalam
digitalisasi pada sektor publik dimana mulai dari level Gubernur, Walikota,
Kepala Dinas bahkan hingga level Lurah perlu menjadi motor penggerak
sehingga pelaksanaannya dapat berjalan dengan baik. Oleh karenanya
komitmen pemimpin seringkali menjadi pendukung atau bahkan penghambat
dalam pelaksanaan suatu konsep e-Government.
Dalam implementasi e-Government melalui Qlue dalam
penyelenggaraan layananan pengaduan masyarakat telah di dukung dan
mendapatkan dorongan dari pemimpin dalam hal ini Gubernur Provinsi DKI
Jakarta, Kepala Dinas Komunikasi Informatika dan Statistik DKI Jakarta dan
Walikota. Keberlangsungan implementasi Qlue hingga saat ini tidak lain di
antaranya adalah karena dukungan dan dorongan tersebut. Komitmen untuk
mensukseskan implementasi e-Government melalui Qlue dapat dilihat dengan
dibentuknya Unit Pelaksana Teknis Jakarta Smart City, sebagai unit yang
177
berfokus pada pengelolaan pelaksanaan program Jakarta Smart City yang
dimana salah satunya adalah Qlue. Selain itu telah dibuatnya beberapa regulasi
sebagai pondasi dalam implementasi Qlue sebagai political will Gubernur DKI
Jakarta dalam menunjang implementasi e-Government.
Komitmen pemimpin berikutnya dapat dilihat dengan berbagai dorongan
yang di lakukan Gubernur kepada setiap Walikota melalui rapat pimpinan
tingkat Provinsi agar aduan dari masyarakat di wilayahnya agar di tangani
secara responsif. Kemudian Walikota juga selalu mendorong Lurah, Camat dan
SKPD lainnya agar dapat menyelesaikan aduan yang masuk dari masyarakat
melalui Qlue di setiap rapat pimpinan tingkat Kota. Tidak hanya itu komitmen
pemimpin juga hadir dari Dinas Komunikasi Informatika dan Statistik Provinsi
DKI Jakarta serta Kepala Unit Pelaksana Teknis Jakarta Smart City hal
tersebut dapat di lihat dengan koordinasi yang di lakukan dengan Suku Dinas
Komunikasi dan Informatika di setiap wilayah Kota Administratif agar dapat
terus membantu Kelurahan jika ada kendala teknis penggunaan aplikasi. Selain
itu dapat dilihat dengan upaya pengembangan-pengembangan Aplikasi
penunjang Qlue seperti CRM (Citizen Relation Management) agar aparatur di
lapangan dapat lebih nyaman dan tidak mengalami kendala dalam proses
penindaklanjutan sebagaimana yang di alami saat ini melalaui Aplikasi CROP.
178
2. Petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum Kelurahan yang
Responsif
Dalam implementasi berbagai kebijakan ataupun program,
diperlukannya responsifitas dari aktor di lapangan dalam mengeksekusi apa
yang sudah di rencanakan dan targetkan. Di dalam sistem audit yang
menggunakan konsep COBIT (LAN,2009), salah satu indikator terpenting dari
keberhasilan penyelenggaraan e-Government adalah budaya kerja. Budaya
kerja berperan untuk memastikan adanya gaya manajemen pemerintah yang
OHELK IOHNVLEHO WLGDN FHQGHUXQJ ³management by mandate and rule´ DUWLQ\D
sesorang akan bergerak setelah mendapatkan mandat dari atasannya), selalu
beradaptasi dengan berbagai perubahan kebutuhan para pelanggan, baik yang
berasal dari kalangan birokrat sendiri (internal) maupun dari luar lembaga
pemerintahan (eksternal).
Dalam konteks implementasi e-government melalui Qlue dalam
penyelenggaraan layanan pengaduan masyarakat, maka Kelurahan berada di
garda terdepan dalam menindaklanjuti aduan yang masuk dari masyarakat di
lingkungannya. Secanggih apapun aplikasi pengaduan di buat, tanpa adanya
respon yang baik atas aduan yang masuk maka akan di rasa percuma. Dalam
implementasi Qlue di Kelurahan Kelapa Dua, tim orange atau yang disebut
dengan Petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum Kelurahan
merupakan sebagai faktor pendukung dalam implementasi Qlue di Kelurahan
Kelapa Dua.
179
Kesigapan dan responsifitas tim orange atau Petugas Penanganan
Prasarana dan Sarana Umum di Kelurahan Kelapa Dua merupakan faktor
pendukung dari Implementasi Qlue di Kelurahan Kelapa Dua sehingga
penanganan aduan dalam kategori sampah, saluran dan pentoppingan pohon
yang masuk melalui Kelurahan Kelapa Dua dapat dengan cepat di respon dan
tindak lanjuti oleh Kelurahan Kelapa Dua.
a. Faktor Penghambat
Faktor penghambat implementasi Qlue merupakan hal-hal yang dapat
memberikan hambatan dalam berjalannya implementasi Qlue dalam
penyelenggaraan layanan pengaduan masyarakat. Dalam implementasi di
Dinas Komunikasi Informatika dan Statistik Provinsi DKI Jakarta dan
Kelurahan Kelapa Dua, terdapat beberapa hal yang menjadi faktor penghambat
tersebut, dimana di antaranya adalah Pengembangan Aplikasi dan Koordinasi
Antar SKPD dalam Penangan Aduan. Adapun penjabaran lebih lanjut dari
faktor penghambat tersebut sebagai berikut :
1. Kendala Teknis Aplikasi CROP
Tantangan dalam implementasi E-Government yang dapat menjadi
hambatan jika tidak di perhatikan, berdasarkan hasil studi sejumlah praktisi e-
Government (dalam Indrajit, 2006:16) di berbagai negara, salah satunya adalah
tantangan yang berkaitan dengan cara menciptakan dan menentukan kanal-
kanal akses digital (maupun elektronik) yang dapat secara efektif dipergunakan
oleh masyarakat maupun pemerintah
180
Dalam pengembangan e-government perlu dikembangkannya teknologi
dan sistem yang mendukung sebagai media dari penerapan e-government itu
sendiri. Apabila teknologi dan sistem yang di bangun sudah baik, maka
penerapan e-government juga akan turut berjalan dengan baik dan sebaliknya.
Aplikasi Qlue merupakan aplikasi berbasis Android dan IOS yang
digunakan sebagai media yang di sediakan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta
bagi masyarakat dalam memberikan aduan. Aplikasi CROP atau Cepat Respon
Opini Publik merupakan media yang di sediakan oleh Pemerintah Provinsi DKI
Jakarta bagi aparatur dalam menerima aduan dan mendisposisikan pengaduan
dari masyarakat ke SKPD terkait.
Berdasarkan penelitian di lapangan, Aplikasi CROP yang merupakan
media bagi aparatur di lapangan untuk menerima aduan dan memberikan
respon tindak lanjut seringkali mengalami error yang menyebabkan
ketidakefektifan dan ketidakefisienan proses penindaklanjutan aduan dari
masyarakat. Aplikasi CROP yang sering mengalami gangguan membuat
Kelurahan Kelapa Dua memilih menggunakan Qlue sebagai media dalam
menindaklanjutinya dengan konsekuensinya disposisi aduan kepada SKPD
dilakukan secara manual.
Pada dasarnya pembuatan Aplikasi CROP dan penggunaannya adalah
karena Pemerintah Provinsi DKI Jakarta ingin melakukan proteksi data
sehingga data tindaklanjut berupa foto tidak di miliki oleh pihak swasta yang
memiliki lisensi atas Aplikasi Qlue. Selain itu, untuk Aplikasi CROP dibuat
181
dan digunakan untuk mempermudah aparatur dilapangan. Sulitnya menyatukan
Aplikasi Qlue dan CROP, menjadi masalah dan berdampak pada gangguan
yang terjadi pada Aplikasi CROP, Hal tersebut dikarenakan sulitnya dalam
melakukan sinkronisasi antara Aplikasi Qlue dan Aplikasi CROP oleh
karenanya seringkali data yang masuk melalui Aplikasi Qlue tidak masuk di
Aplikasi CROP atau sebaliknya, data yang dikirim dari Aplikasi CROP tidak
masuk pula di Aplikasi Qlue. Sebagai upaya penanganannya saat ini sedang
dikembangkannya Aplikasi yang lebih baik bernama CRM atau Citizen
Relation Management dengan peningkatan diberbagai aspek.
2. Terhambatnya pengembangan Aplikasi Qlue untuk IOS
Permasalahan lain dari kendala teknis Aplikasi selain dari Aplikasi
CROP adalah sulitnya melakukan pengembangan Aplikasi Qlue di IOS,
sehingga banyak pengguna smartphone dengan sistem operasi IOS yang
mengeluhkan bugg dan aplikasi yang tidak stabil, yang pada akhirnya pihak
PT. Qlue Performa Indonesia sudah 2x menarik sementara Aplikasi Qlue dari
IOS Store yakni di bulan November 2016 dan Januari 2017. Penarikan Aplikasi
Qlue dari IOS Store dilakukan untuk menghindari user baru yang kecewa oleh
karenanya untuk sementara Aplikasi Qlue di IOS store di tarik sampai proses
pengembangan selesai. Proses pengembangan di lakukan oleh PT. Qlue
Performa Indonesia dan dibantu Unit Pelaksana Teknis Jakarta Smart City
berupa pemberian masukan berupa saran dalam proses pengembangan.
Kendala dalam pengembangan IOS adalah source yang masih terbatas.
182
Selain hambatan dalam pengembangan Aplikasi Qlue untuk operasi
sistem IOS,smartphone dengan sistem operasi Android terdapat kendala, yaitu
kendala dalam melakukan pengembangan aplikasi. Kendala dalam
pengembangan aplikasi yaitu agar bagaimana aplikasi Qlue dapat semakin baik
lagi namun tetap dapat digunakan semua smartphone baik spesifikasi rendah
ataupun tinggi. sering munculnya keluhan bugg merupakan di sebabkan
spesifikasi smartphone yang tidak sesuai spesifikasi minimum aplikasi yang
disarankan.
3. Mis-Koordinasi Antar SKPD dalam Penanganan Aduan
Dalam inisiatif digitalisasi pada sektor publik khususnya dalam bidang
penyelenggaraan layanan pengaduan masyarakat, disamping perlu adanya
sebuah sistem canggih yang menunjang, perlu pula di iringi pula dengan
tindaklanjut dari aduan masuk yang di berikan masyarakat. Secanggih apapun
sistem aplikasi di bangun namun tanpa adanya tindak lanjut yang baik maka
hal tersebut tidak banyak berguna dan memberikan kepuasan pada masyarakat,
karena pada dasarnya hal utama yang di inginkan user atau pengguna aplikasi
atau dalam hal ini masyarakat Jakarta, adalah bagaimana keluhan dan suara
mereka dapat di dengar dan di realisasikan. Oleh karenanya dalam
Implementasi e-Government melalui Qlue dalam penyelenggaraan layanan
pengaduan masyarakat selain harus di bangunnya aplikasi yang berkualitas
sebagai medianya, namun juga di iringi dengan kualitas tindak lanjut dari
aduan yang masuk melalui aplikasi tersebut sehingga dapat memberikan
kepuasan kepada masyarakat. Dalam mewujudkan hal tersebut hubungan antar
183
organisasi merupakan kata kunci. Van Meter dan Van Horn (1975)
menyebutkan, seringkali hubungan antar organisasi yang terhambat menjadi
penghalang dalam eksekusi kebijakan ataupun program yang sedang berjalan.
Padahal dalam banyak program implementasi kebijakan, sebagai realitas dari
program kebijakan perlu hubungan yang baik antar instansi yang terkait, yaitu
dukungan komunikasi dan koordinasi. Untuk itu, diperlukan koordinasi dan
kerjasama antar instansi bagi keberhasilan suatu program tersebut.
Komunikasi dan koordinasi merupakan salah satu urat nadi dari sebuah
organisasi agar program-programnya tersebut dapat direalisasikan dengan
tujuan serta sasarannya. (Sadhana, 2011:269)
Dalam implementasi Qlue di Kelurahan Kelapa Dua memiliki hambatan
dimana sulitnya melakukan koordinasi dengan Suku Dinas Wilayah terkait.
Koordinasi ini merupakan suatu hal yang penting dalam tindak lanjut hal ini
dikarenakan tidak semua aduan yang masuk bisa di tangani oleh pihak
Kelurahan dalam hal ini adalah Kelurahan Kelapa Dua, Jakarta Barat. Sulitnya
koordinasi dengan SKPD ini di latarbelakangi Aplikasi CROP sebagai media
bagi Kelurahan dalam menindaklanjuti aduan sering mengalami gangguan, hal
tersebutlah yang membuat akhirnya Kelurahan Kelapa Dua lebih memililih
untuk tidak menggunakan CROP sebagai medianya dan menggunakan media
melalui Aplikasi Qlue. Akibatnya, jika dalam Aplikasi CROP tersedianya fitur
untuk mendisposisikan aduan ke SKPD yang berkaitan sehingga koordinasi
lebih mudah dan tanggungjawab Kelurahan menjadi hilang setelah di
disposisikan, hal tersebut tidak berlaku dan tersedia di Aplikasi Qlue. Fitur
184
disposisi laporan belum tersedia. Sehingga konsekuensinya, koordinasi
dilakukan dengan manual dan tanggungjawab Kelurahan masih terus ada
sampai SKPD tersebut menangani tindaklanjut dari masyarakat yang di
koordinasikan tersebut.
Berdasarkan data dan hasil wawancara, dapat dilihat pengaduan yang
merupakan bukan kewenangan Kelurahan merupakan pengaduan yang masih
berstatus wait dan proses sedangkan pengaduan yang masih merupakan
kewenangan Kelurahan seluruhnya dapat terselesaikan dengan baik oleh
Kelurahan Kelapa Dua. Bentuk koordinasi yang biasa dilakukan oleh
Kelurahan Kelapa Dua adalah melalui surat, telepon dan pesan whatsapp.
Kendala yang sering ditemui adalah lambatnya respon dari SKPD sehingga
aduan yang masuk lambat di tangani dan menjadi catatan kurang baik bagi
Kelurahan Kelapa Dua karena Qlue mempunyai sistem ranking dan juga masuk
pada indikator Kinerja Lurah. padahal di satu sisi Koordinasi ini merupakan hal
yang penting dalam implementasi Qlue hal ini mengingat bahwa peran
Kelurahan yang terbatas sehingga tidak semua aduan yang masuk dapat di
tangani oleh pihak Kelurahan sehingga perlu peran serta Suku Dinas di tingkat
wilayah lainnya. SKPD yang menjadi sorotan bagi Kelurahan Kelapa Dua
adalah Dinas Perhubungan, hal ini dikarenakan seringnya aduan dari
masyarakat terkait permasalahan yang menjadi kewenangannya namun
lambatnya dalam merespon.
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Penyelenggaraan layanan pengaduan masyarakat melalui Qlue merupakan
penerapan dari e-Government dalam bidang pengaduan masyarakat.
Komponen e-Government tersebut yang perlu di perhatikan adalah support,
capacity dan value. (Indrajit, 2006:13). Adapun implementasi e-Government
melalui Qlue dalam penyelenggaraan layanan pengaduan masyarakat di Dinas
Komunikasi, Infromatika dan Statistik Provinsi DKI Jakarta dan Kelurahan
Kelapa Dua, Jakarta Barat, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1. Implementasi e-Government melalui Qlue dalam penyelenggaraan
layanan pengaduan masyarakat jika ditinjau dari segi support sudah
baik dengan adanya dukungan dan dorongan dari pemimpin dari level
atas sampai level bawah, telah di masukkannya penanganan aduan
melalui Qlue sebagai indikator kinerja Lurah merupakan instrumen
yang digunakan Gubernur DKI Jakarta untuk memacu Lurah agar dapat
menangani dan mengkoordinasikan aduan yang masuk di laksanakan
dengan serius, namun untuk SKPD instrumen serupa belum digunakan.
Selain itu dukungan secara alokasi sumberdaya baik manusia, anggaran
dan infrastruktur juga sudah di alokasikan oleh Pemerintah Provinsi
185
186
DKI Jakarta namun masih belum optimal dimana di antaranya dalam
alokasi sumberdaya di Kelurahan masih terkendala dengan petugas
satuan polisi pamong praja yang terbatas dan ketiadaan petugas dinas
perhubungan membuat penanganan tindak lanjut menjadi tidak optimal,
sumberdaya infrastruktur juga sudah di alokasikan dengan berbagai
peralatan yang digunakan di Unit Pelaksana Teknis Jakarta Smart City
namun belum optimal dengan masih belum teralokasinya smartphone
bagi admin unit pelaksana teknis jakarta smart city dan jaringan internet
untuk petugas yang menindaklanjuti Qlue di Kelurahan. Aplikasi CROP
yang merupalan tools bagi aparat kelurahan seringkali mengalami error
juga membuat proses koordinasi menjadi manual dan tidak efisien.
Selain itu ditinjau secara sumberdaya anggaran, sudah optimal terlihat
dengan di alokasikannya melalui APBD. Dilihat dari aspek sosialisasi,
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan Kelurahan Kelapa Dua sudah
melakukan sosialisasi. Sosialisasi yang dilakukan kurang optimal
dikarenakan sosialisasi yang dilakukan hanya bersifat insidentil dan
tidak terjadwal. Ditinjau secara regulasi dan landasan normative
implementasi e-Government melalui Qlue sudah di dukung dengan
berbagai landasan hukum dan regulasi.
2. Jika di tinjau secara Capacity dilihat dari aspek sumberdaya manusia
sumberdaya yang terlibat dalam implementasi dalam hal ini
sumberdaya manusia di Unit Pelaksana Teknis Jakarta Smart City
sudah memiliki kompetensi yang baik, begitu juga sumberdaya manusia
187
di Kelurahan, sudah memahami cara penggunaan aplikasi dan tata cara
melakukan tindaklanjut, pengembangan kompotensi sumberdaya
manusia dilakukan melalui bimbingan teknis yang dilakukan secara
berkesinambungan. Upaya yang dilakukan agar penindaklanjutan
pengaduan oleh aparatur Kelurahan berjalan responsif dilakukan
melalui monitoring. Disamping itu ditinjau dari aspek infrastruktur,
sudah memadai dan berjalan dengan baik, adapun infrastruktur yang
digunakan terdiri dari hardware dan software. Dari aspek anggaran,
anggaran yang tersedia sudah memadai dan digunakan untuk
pengelolaan aplikasi dan infrastruktur TIK yang dikelola oleh Unit
Pelaksana Teknis Jakarta Smart City, sedangkan Kelurahan tidak
mengeluarkan anggaran di dalam pelaksanaan karena tindak lanjut yang
dilakukan oleh kelurahan bersifat aksi lapangan dan koordinatif.
Anggaran yang digunakan SKPD menggunakan dana yang sudah di
alokasikan sebelumnya sesuai tupoksi SKPD bersangkutan, apabila
anggaran tidak tersedia, permasalahan yang masuk dan tidak dapat
ditangani, akan di anggarkan pada periode anggaran mendatang.
3. Jika ditinjau secara value, pengaduan masyarakat melalui Qlue
membawa manfaat baik bagi pemerintah dan masyarakat. Masyarakat
berharap Aplikasi Qlue dapat mengalami peningkatan pada aspek
kelancaran aplikasi, peningkatan sosialisasi dan responsifitas
penanganan pengaduan.
188
4. Faktor pendukung dan penghambat turut mempengaruhi implementasi
e-Government melalui Qlue dalam penyelenggaraan layanan pengaduan
masyarakat. Di antara faktor pendukung tersebut adalah komitmen
pemimpin yang dapat dilihat dari dorongan dan political will . Petugas
Penanganan Prasarana dan Sarana Umum yang responsif juga
merupakan faktor pendukung lain dalam implementasi e-Government
melalui Qlue. Faktor yang menjadi penghambat dalam implementasi e-
Government melalui Qlue di antaranya adalah kendala teknis Aplikasi
CROP, terhambatnya pengembangan Aplikasi Qlue untuk IOS dan Mis-
koordinasi dengan SKPD terkait.
B. Saran
Di dalam implementasi e-Government melalui Qlue dalam penyelenggaraan
layanan pengaduan masyarakat masih ditemukannya berbagai kendala yang
dihadapi. Oleh karenanya perlu hadirnya sebuah solusi agar implementasi e-
Government melalui Qlue dapat terus mengalami perbaikan sehingga kedepan
dapat berjalan dengan baik. Berikut beberapa saran yang dapat peneliti berikan,
di antaranya :
1. Optimalisasi kegiatan sosialisasi yang dilakukan oleh Unit Pelaksana
Teknis Jakarta Smart City kepada masyarakat di Provinsi DKI Jakarta
melalui kegiatan sosialisasi yang terjadwal dan terukur.
2. Menjadikannya penanganan aduan melalui Qlue tidak hanya sebagai
indikator kinerja Lurah namun juga kepala SKPD lainnya sehingga
189
tidak hanya Lurah, namun Kepala SKPD terkait turut terpacu
kinerjanya dalam merespon aduan dari masyarakat.
3. Percepatan pengembangan dan penggunaan Aplikasi CRM (Citizen
Relation Management) sebagai langkah strategis atas tidak optimalnya
Aplikasi CROP (Cepat Respon Opini Publik) dan menjadikan evaluasi
tidak optimalnya Aplikasi CROP sebagai landasan pengembangan
Aplikasi CRM
4. Melakukan penugasan terhadap petugas Dinas Perhubungan untuk di
sebar dan ditugaskan minimal di setiap Kecamatan agar mempermudah
penanganan tindaklanjut melalui Qlue sesuai dengan tupoksinya
5. Menambah petugas Satuan Polisi Pamong Praja di setiap Kecamatan
sehingga mempermudah Kelurahan dalam penanganan tindaklanjut
melalui Qlue sesuai dengan tupoksi Satuan Polisi Pamong Praja.
6. Menambah fitur pada Aplikasi Qlue berupa keterangan informasi proses
tindak lanjut di samping indikator berupa warna yang saat ini telah
tersedia. (Sebagai contoh : status penanganan aduan berwarna kuning =
Keterangan : Anggaran tidak tersedia dan akan di anggarkan pada
periode mendatang)
7. Membuat standar waktu penanganan aduan setiap kategori sebagai
acuan bagi Kelurahan, SKPD terkait dan juga masyarakat
190
8. Membuat kategorisasi berupa keterangan atas ranking Kelurahan yang
di rilis melalui Aplikasi Qlue. Hal ini diperlukan untuk memacu
Kelurahan untuk selalu berada di ranking dengan kategori baik dan
diperlukan sebagai informasi untuk masyarakat untuk tidak hanya
sekedar mengetahui ranking yang di rilis namun juga dapat mengetahui
pemaknaan dibalik ranking tersebut. (Misal ranking 1 ± 90 berkategori
baik, 90 ± 180 berkategori sedang, dan 180 ± 263 berkategori tidak
baik)
DAFTAR PUSTAKA
Badan Pusat Statistik. 2016. Jakarta dalam Angka. BPS : Jakarta
Emzir. 2010. Metodologi Penelitian Kualitatif: Analisis Data. Jakarta: Raja
Grafindo.
Gala Media News. Kualitas Pelayanan Publik Pemerintah Daerah Masih
Rendah.. 7 Mei 2015. Tersedia pada.
[Link]
publik-pemerintah-daerah-masih-rendah. Di akses tanggal 10 Oktober
2016
Ibrahim, Amin. 2008. Teori dan Konsep Pelayanan Publik serta Implementasinya
Bandung: Mandar Maju
Indrajit, Richardus Eko. 2006. Electronic Government:Strategi Pembangunan dan
Pengembangan Sistem Pelayanan Publik berbasis Teknologi Digital.
Yogyakarta : Andi.
Indrajit, Richardus Eko dkk. 2005. E-Government In Action. Yogyakarta : Andi.
Kabupaten Malang. Kajian Kebijakan e-Government dalam Mendukung
Reformasi Birokrasi. [Online] melalui
[Link] Di akses tanggal 24
Oktober 2016 pukul 19.00 WIB
Kalbar Antara News. 2013. Ketua ORI : Masyarakat Jangan Diam dan Pasrah.
[Online] melalui [Link]
masyarakat-jangan-diam-dan-pasrah. Di akses tanggal 9 Oktober 2016
pukul 12.00 WIB
Keban, Yeremias. 2008. Enam Dimensi Strategis Administrasi Publik Konsep,
Teori dan Isu. Yogyakarta: Gaya Media
Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia. Direktorat Jendral Otonomi
Daerah. [Online] melalui [Link]
210/2185-menjadi-kota-nyaman . Diakses tanggal 8 September 2015
pukul 11.00 WIB
Mcleod Jr, Raymond dan Schell P, George. Sistem Informasi Manajemen.
Jakarta : Salemba Empat
191
192
Moleong, Lexy J. 2011. Metode Penelitian Kualitatif (Edisi Revisi). Bandung:
Remaja Rosdakarya.
Miles, Huberman dan Saldana. 2014. Qualitative Data Analysis: A Methods
Sourcebook. [PDF]. SAGE Publication, Inc.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. 2008. Sejarah Jakarta. [Online] melalui
[Link]
Jakarta#.WL0P7fLPzIU. Di akses pada 04 Maret 2017 pukul 14.30 WIB
Puspitosari Hesti [Link] Pelayanan Publik. Malang : SETARA Press
Republik Indonesia.2003. Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 3 tahun
2003. Tentang Kebijakan dan Strategi Nasional Pengembangan E-
Government. (PDF). Jakarta : Pemerintah Republik Indonesia
_______________. 1945. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia.
(PDF). Jakarta : Pemerintah Republik Indonesia
_______________. 2009. Undang-Undang No. 25 tahun 2009 tentang Pelayanan
Publik. (PDF). Jakarta : Pemerintah Republik Indonesia
Sadhana [Link] Kebijakan Publik. Malang : UM Press
Sirajudin.,et [Link] Pelayanan Publik. Malang : UB Press
Suaedi Falih dan Wardiyanto B Bintoro.2010. Revitalisasi Administrasi Negara
Reformasi Birokrasi dan e-Governance. Surabaya : Graha Ilmu
Sugiyono. 2014. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung:
Alfabeta
Surjadi. [Link] Kinerja Pelayanan Publik. Malang : Refika
Aditama
Techinasia. 2016. Aplikasi Laporan Masyarakat Qlue Terima Ribuan Laporan
Tiap Harinya. [Online] melalui [Link]
aplikasi-qlue-2016 . Di akses tanggal 10 Oktober 2016 pukul 13.10 WIB
Thoha, Miftah. 2010. Ilmu Administrasi Publik Kontemporer. Jakarta : Kencana
Prenada Media Group.
Tim Bidang Penelitian dan Pengembangan OMBUDSMAN Republik Indonesia.
2015. Hasil Penelitian Kepatuhan Pemerintah Pusat dan Daerah tentang
Standar Pelayanan Publik sesuai UU. No. 25 tahun 2009 tentang
Pelayanan Publik. Jakarta : OMBUDSMAN Republik Indonesia
193
Viva News. Berkat Aplikasi Qlue Publik Makin Percaya Pada Pemda DKI. 31
Mei 2016. Tersedia pada [Link]
2016 . Di akses tanggal 10 Oktober 2016
:3XUQRPRZDWLGDQ,VPLQL³Konsep smart city dan pengembangan pariwisata
Di Kota Malang´-XUQDO-,%(.$YROQRSS-71, Februari 2014.
Zauhar [Link] Birokrasi di Nusantara.2013. Malang : UB Press