MODUL PERKULIAHAN
Operation &
Supply Chain
Pandangan Baru Terhadap Kemitraan
Bisnis
Fakultas Program Studi Tatap Muka Kode MK Disusun Oleh
07
Pasca Sarjana Magister Muhammad Rozahi Istambul
Manajemen
Abstract Kompetensi
Keterlibatan pihak eksternal dalam Mahasiswa memiliki kemampuan
mengenbangkan proses bisnis mengetahui dan menjelaskan
organisasi menjadi faktor utama tentang pandangn baru terhadap
dalam memenangkan kompetisi. kemitaraan bisnis.
Pandangn Baru Terhadap Kemitraan Bisnis 1
KONSEP BUSINESS PARTNERING
Di depan telah dijelaskan secara singkat mengenai 4 langkah supply chain (baseline,
functional integration, internal integration, external integration), 4 model supply chain
(suppliers, plants, distributors, retailers) dan optimalisasi supply chain. Dalam tulisan berikut
ini akan diperkenalkan suatu konsep yang dapat ikut merajut supply chain network lebih lanjut
sehingga akan merupakan jaringan utuh secara optimal. Konsep tersebut adalah business
partnering.
Di depan telah disebut istilah supplier partnering. Pada hakekatnya kedua istilah tersebut
intinya sama saja, hanya supplier partnering hanya menyangkut kemitraan ke arah hulu
(upstream) saja sedangkan business partnering dapat menyangkut kearah hilir (downstream)
dan hulu (upstream). Untuk jelasnya business partnering dapat didefinisikan sebagai berikut:
“Business partnering is a process through which the involved parties establish and
sustain a competitive advantage over similar entities, through pooling resources in
trusting atmosphere focused on continuous, mutual improvement” (Charles [Link]
& Stephen [Link])
Dalam pengertian definisi tersebut maka beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh para pihak
atau mitra adalah misalnya :
para mitra harus bersedia untuk melepaskan sebagian dari kebebasannya dalam
posisi kekuasaannya demi kesempatan memperoleh keuntungan yang lebih besar
para mitra harus mau mensharingkan secara sebanding baik investasi maupun
keuntungan
supplier perlu merubah sikapnya dari sekedar mengusahakan kepuasan pembelinya
menjadi lebih proaktif dalam memikirkan dan mengusahakan agar pembelinya lebih memiliki
kemampuan bersaing melalui proyek bersama
sebaliknya pembeli juga perlu merubah sikapnya dari sekedar berusaha membeli
dalam jumlah yang besar sehingga menekan biaya kepada sikap lebih berpartisipasi dengan
supplier dalam usaha yang dapat menguntungkan kedua belah pihak
tidak hanya investasi dan keuntungan di pikul bersama tetapi juga biaya ekstra yang
mungkin timbul harus dipikul bersama pula dan jangan dibebankan hanya pada salah satu
pihak saja
ke dua mitra harus mau bekerja sama dengan anggota rantai/ jaringan yang lain
dengan tujuan meningkatkan kemampuan jaringan supply secara keseluruhan
2021 Operation & Supply Chain Biro Akademik dan Pembelajaran
2 Muhammad Rozahi Istambul [Link]
Bandingkan hal-hal diatas dengan ‘the spirit of partnerhip’ seperti berikut ini :
mempunyai tujuan sama (have a common goal)
saling menguntungkan (mutual benefit)
saling mempercayai (mutual trust)
bersifat terbuka (transparent)
menjalin kerja sama jangka panjang (long term relationship)
terus menerus mengusahakan perbaikan dalam mutu dan biaya (continuous
improvement in quality and cost)
Dalam supply chain haruslah ada semacam perekat yang menyatukan dan memperkuat
bersama. Ingat bahwa kekuatan suatu rantai terletak pada kekuatan mata rantai yang
terlemah ! Situasi dimana salah satu mata rantai terlalu kuat dan mendominasi mata rantai
yang lain bukanlah suatu situasi yang sehat. Hal ini mungkin kurang terlihat dalam jangka
pendek, tetapi akan berakibat negatif dalam jangka panjang. Dalam situasi di mana salah satu
mata rantai terlalu mendominasi mata rantai yang lain, ada kecenderungan kuat bahwa mata
rantai yang kuat tersebut akan lebih mementingkan keuntungan sendiri dan kurang
memperhatikan mutual benefit yang justru merupakan prasarat dalam business partnering.
Kalau dibicarakan mengenai optimalisasi dalam supply chain, maka yang dimaksud adalah
optimalisasi secara keseluruhan dan bukan sebagaimana dalam pendekatan yang lama,
optimalisasi masing-masing mata rantai saja. Memang optimalisasi masing-masing mata
rantai dapat membantu meningkatkan optimalisasi secara keseluruhan tetapi optimalisasi
keseluruhan tidak selalu dapat dicapai dengan melakukan optimalisasi masing-masing mata
rantai. Dengan perkataan lain, kadang-kadang perlu menambah biaya di satu mata rantai
(sub-optimize) untuk dapat memperoleh optimalisasi secara keseluruhan.
Misalnya mengenai inventoriy yang memerlukan perhatian dalam rangka meningkatkan
kepuasan pelanggan. Kemitraan atau partnering memerlukan pemikiran bersama bagaimana
tetap menjaga kepuasan para pelanggan ini tanpa meningkatkan penimbunan inventory yang
merupakan pengurangan kemampuan berkompetisi. Misalnya apabila biaya total dapat
dikurangi dengan cara melakukan pooling inventory di tempat yang strategis di salah satu
mata rantai, maka biaya yang timbul harus dipikul bersama dan keuntungan yang diperoleh
juga dinikmati bersama. Disini berarti biaya di satu mata rantai dapat menjadi naik tetapi biaya
keseluruhan akan menjadi lebih kecil.
2021 Operation & Supply Chain Biro Akademik dan Pembelajaran
3 Muhammad Rozahi Istambul [Link]
Pada permulaan tahun 1980an, business partnering lebih populer dilakukan antara
manufacturer dengan wholesaler dan retailer (three type model), namun sejak permulaan
tahun 1990 baru disadari bahwa melalaikan kemitraan ke arah hulu kurang memaksimalkan
supply chain. Sejak itu maka three type model berkembang menjadi four type model, dimana
supplier dan kemudian juga sub-supplier menjadi business partner juga.
PRINSIP-PRINSIP PARTNERSHIP
Di depan telah disinggung secara singkat mengenai prinsip-prinsip kemitraan yang
dikembangkan dari prinsip kemitraan pembeli-penjual. Karena hal ini penting sekali dalam
mengembangkan kemitraan bisnis, maka perlu dijelaskan lebih lanjut.
Untuk mengembangkan hubungan baru antara pembeli dan penjual tersebut, yang berlaku
juga pada hubungan ke hulu dan ke hilir, ada beberapa prinsip yang perlu dipegang dan
diusahakan secara terus menerus, yaitu harus ada semacam kesadaran bersama tentang :
common goal
mutual benefit
mutual trust
transparant
long term relationship
continuous improvement in price/cost and quality
“Mempunyai tujuan yang sama (Common goal)”
Tujuan dari semua perusahaan sebetulnya sama, yaitu dapat hidup dan berkembang (survive
and growth). Untuk itu harus terus menerus menghasilkan barang/jasa yang bermutu dengan
harga yang layak, sehingga laku terjual di pasaran dengan imbalan keuntungan tertentu.
Pembeli dan penjual harus melihat dua hal tersebut sebagai tujuan yang sama.
Kesalahan umum adalah bahwa banyak yang menganggap 'profit' merupakan tujuan utama
perusahaan. Perusahaan yang dapat survive dan growth dengan sendirinya tentu
menghasilkan keuntungan yang layak, tetapi sebaliknya perusahaan yang memperoleh
keuntungan di tahun-tahun tertentu saja belum temtu sanggup mempertahankan hidup untuk
jangka waktu yang panjang.
Saling menguntungkan (Mutual benefit)
Dua pihak harus sadar, bahwa dalam setiap membicarakan atau melakukan negosiasi, harus
menghasilkan sesuatu yang dapat saling menguntungkan ke dua belah pihak (win win), dan
tidak boleh hanya menguntungkan satu pihak saja dan merugikan pihak yang lain. Kalau ini
terjadi, maka hubungan tidak akan lama dan kemitraan akan gagal.
2021 Operation & Supply Chain Biro Akademik dan Pembelajaran
4 Muhammad Rozahi Istambul [Link]
Saling menguntungkan adalah movitasi yang sangat kuat bahkan mungkin yang terkuat bagi
ke dua belah pihak untuk melakukan dan melanjutkan partnership. Oleh karena itu , tidak ada
satu pihakpun yang boleh merasa berada di atas pihak lain dan dapat mendiktekan
kehendaknya pada pihak lain. Semua harus merasa dan diperlakukan sejajar (equal).
Saling mempercayai (Mutual trust)
Untuk mencapai prinsip ke dua tersebut, diperlukan sikap saling percaya dan terbuka
Saling percaya di sini termasuk dalam perhitungan biaya produksi dan harga barang/jasa yang
dihasilkan. Kedua belah pihak dapat saling memberikan nasehat atau pendapat untuk
melakukan efisiensi atau penurunan biaya tertentu. Oleh karena itu perundingan dalam full
partnership sudah hampir sama dengan perundingan antar bagian dalam suatu perusahaan
saja. Saling percaya tidak hanya pada kejujuran dan itikad baik masing-masing, tetapi juga
pada kapabilitas masing-masing untuk memenuhi perjanjian dan kesepakatan bersama
misalnya dalam ketepatan waktu pembayaran, waktu penyerahan, mutu barang dan
sebagainya.
Kalau mutual benefit dapat disebut sebagai movitasi utama dalam membangun kemitraan ,
maka mutual trust merupakan bahan utama untuk membangun kemitraan yang berjangka
panjang. Mutual trust tidak hanya harus dibangun tahap demi tahap tetapi harus terbukti dan
dapat bertahan dalam jangka panjang.
Bersifat terbuka (Transparent)
Untuk itu memang dalam batas-batas tertentu yang cukup luas pula, data dari ke dua belah
pihak dapat dilihat oleh pihak lain. Tentu saja ke dua belah pihak terikat secara legal maupun
moral untuk merahasiakan data-data tertentu yang memang harus dirahasiakan.
Transparansi dapat meningkatkan saling mempercayai dan sebaliknya pula saling
mempercayai memerlukan saling keterbukaan.
Mempunyai hubungan jangka panjang (Long term relationship)
Dua pihak yang merasa saling percaya, saling menguntungkan dan mempunyai kepentingan
yang sama, cenderung akan bekerja sama dalam waktu yang panjang, tidak hanya 5 atau 10
tahun, tetapi sering kali lebih dari 20 tahun. Hubungan jangka panjang juga memungkinkan
pihak rekanan penjual untuk mau, berani dan mampu melakukan investasi yang besar untuk
keperluan R&D untuk meningkatkan mutu produknya. Ini pada gilirannya juga akan
menguntungkan penjual dan hal ini tidak mungkin dilakukan apabila hubungan hanya
berjangka pendek.
2021 Operation & Supply Chain Biro Akademik dan Pembelajaran
5 Muhammad Rozahi Istambul [Link]
Terus menerus melakukan perbaikan dalam mutu dan harga/biaya (Continuous improvement
in quality and cost)
Salah satu prinsip yang penting dalam partnering adalah bahwa ke dua belah pihak harus
senantiasa terus menerus meningkatkan mutu barang atau jasa serta efisiensi atau biaya atau
harga barang/jasa dimaksud. Dengan demikian, perusahaan dapat bertahan dalam kompetisi
global yang makin lama makin ketat. Ketahanan dalam kompetisi menyebabkan perusahaan
dapat tetap bertahan hidup dan dapat berkembang dan ini akan menguntungkan pihak yang
lain juga. Jadi perbaikan terus-menerus dalam mutu dan harga barang merupakan
kepentingan ke dua belah pihak.
MENCARI NILAI TERSEMBUNYI DALAM NETWORK
Mencari nilai tersembunyi dalam business partnering network berarti mencari potensi
tersembunyi untuk mengurangi biaya. Seringkali nilai atau potensi ini tidak dapat dengan
mudah atau mungkin tidak dapat dikenali apabila pendekatan masih digunakan pendekatan
yang lama yaitu penghematan per perusahaan. Kesulitan menemukan potensi penghematan
ini juga seringkali muncul karena tidak cukup usaha dalam mencari dan menggali potensi ini.
Sebagai salah satu contoh adalah biaya inventory (inventory carrying cost) sebagai akibat dari
penyimpanan inventory. Makin kecil inventory makin kecil pula inventory carrying cost ini.
Kalau kita rajin menggali hal ini, maka akan tanpak bahwa biasanya nilai tersembunyi atau
potensi tersembunyi dapat ditemukan dalam tingkat atau jumlah inventory ini. Apabila
kebijakan inventory dilakukan per perusahaan atau per mata rantai (supplier, manufacturer,
wholesaler, retailer) biasanya masing-masing melakukan sendiri perhitungan :
perkiraan demand
penambahan inventory untuk safety stock
dan sebagainya
Apabila semua kebijakan tiap-tiap perusahaan ini digambarkan dalam satu peta maka akan
mudah tampak ada kemungkinan-kemungkinan antara lain sebagai berikut :
perhitungan estimasi demand yang berlainan
perhitungan safety stock yang berlainan
tingkat inventory yang berlainan
perhitungan stock replenishment yang berlainan
pengukuran kinerja pengendalian stock yang berlainan
dan sebagainya
Apabila pemetaan (mapping) inventory dan perhitungan demand serta safety stock dan
lainnya dilakukan bersama-sama maka kemungkinan besar akan tercapai penghematan di
2021 Operation & Supply Chain Biro Akademik dan Pembelajaran
6 Muhammad Rozahi Istambul [Link]
sana-sini berupa pengurangan jumlah inventory secara keseluruhan. Kebijakan inventory
tersebut harus pula dilengkapi dengan kebijakan-kebijakan penunjang, yang dilakukan
bersama-sama seperti :
penghitungan estimasi demand
cara dan jadwal pengiriman barang
perubahan kebutuhan (demand) barang
dan sebagainya
Sebagaimana diketahui inventory carrying cost sangat mahal, setiap tahun berkisar antara
20%-35% dari nilai barang, oleh sebab itu, pengurangan tingkat inventory sangat
berpengaruh dalam mengurangi biaya produksi secara keseluruhan.
MULAI DARI DALAM SECARA INTERNAL
Untuk memulai suatu sistem yang berdasarkan pada business partnering, cara yang paling
baik adalah mulai dari dalam artinya dari dalam organisasi suatu perusahaan sendiri. Kerja
sama harus dimulai dari dalam perusahaan sendiri, diantara fungsi-fungsi yang terkait lebih-
lebih fungsi-fungsi yang justru kurang dapat bekerja sama selama ini. Kecenderungan yang
umum adalah bahwa setiap kelompok para ahli atau para pemegang profesi tertentu akan
membentuk semacam ‘silo’ atau ‘enclave’ atau ‘kelompok tersendiri’ sedemikiana rupa
sehingga enggan dan tidak suka membagi pengalaman dan informasi dengan kelompok dari
departemen lain. Kecenderungan ini timbul lebih sebagai semacam ‘defence mechanism’
spontan untuk melindungi ‘daerahnya’ daripada untuk mencapai kesempatan lebih baik dalam
perusahaan. Oleh karena itu tantangan pertama yang harus ditaklukkan dalam program
kemitraan bisnis adalah mengubah hal tersebut. Baru dari sini dapat berkembang ke arah
yang lebih luas. Dalam hal ini, sekurang-kurangnya perkembangannya dapat dipetakan
sebagai berikut :
Mulai dari dalam organisasi perusahaan
Kemudian dari apa yang sudah dilaksanakan, selanjutnya
Berkembang ke arah hulu atau hilir
Mulai dari dalam organisasi perusahaan
Kerjasama intern yang dimaksud tidak sekedar bekerja sama saling membantu, tetapi
bersama-sama melihat proses perusahaan sebagai tanggung jawab bersama sehinga perlu
memikirkan bersama demi kepentingan bersama pula. Ini berlawanan dengan memikirkan
departemen masing-masing. Oleh karena itu, pengertian bekerja sama disini termasuk hal-
hal sebagai berikut :
2021 Operation & Supply Chain Biro Akademik dan Pembelajaran
7 Muhammad Rozahi Istambul [Link]
Bersama melihat tantangan dan kelemahan yang dihadapi perusahaan pada
umumnya, khususnya berkaitan dengan kemampuan untuk bersaing dengan perusahaan lain
Bersama merumuskan dan melakukan langkah-langkah perbaikan
Juga dapat dilakukan dengan cara bahwa masing-masing bagian menyusun siapa
yang termasuk dalam ‘internal customer’ dan siapa yang termasuk ‘external customer’
Dari pihak internal customers dapat dimintakan pendapat mengenai layanan yang
dilakukan oleh bagian yang bersangkutan dan umumnya lebih dari 40% dari proses yang ada
perlu diperbaiki karena tidak mempunyai dampak dalam memberikan nilai tambah
Kerja sama tidak hanya perlu dihayati betul-betul, tetapi perlu dilaksanakan dan ini
untuk ini diperlukan latihan pula. Latihan kerja sama semacam ini memerlukan kesabaran dan
waktu sebelum mulai kelihatan manfaatnya, namun jang pasti bahwa pengaruh positifnya
adalah pengertian kerjasama tim.
Latihan kerjasama di dalam perusahaan merupakan modal untuk nanti pada waktunya
mengembangkan kerja sama eksternal. Sulit dibayangkan bahwa kerjasama eksternal dapat
dikembangkan apabila kerjasama internal tidak dapat atau belum dapat dilakukan.
Kemudian dari apa yang sudah dilaksanakan
Langkah selanjutnya adalah mengembangkan pengertian tentang kekuatan dari organisasi
yang perlu dipertahankan. Untuk ini perlu dibuat daftar mengenai hal-hal sebagai berikut:
Kemampuan yang diperlukan untuk mencapai dan mempertahankan kemajuan lebih
lanjut
Sumber daya yang diperlukan untuk mencapai sukses
Bagian-bagian yang kurang memberikan nilai tambah dan bagian-bagian yang
memberikan nilai tambah yang besar
Berdasarkan daftar tersebut di atas maka dapat dilakukan langkah-langkah sebagai
berikut :
Melakukan realokasi sumber daya dimana diperlukan. Artinya bagian yang paling
memberikan nilai tambah misalnya mengalami kekurangan sumber daya, maka perlu
diberikan dari bagian lain yang kurang memberikan nilai tambah
Ini perlu didahulukan karena umumnya sumber daya perusahaan selalu terbatas
Melakukan pemilihan proses mana yang perlu dirubah dan proses mana yang perlu
dipertahankan
Berkembang ke arah hulu atau hilir
Apabila secara internal kerjasama sudah dapat mengubah kebiasaan yang lama untuk
bekerja sendiri-sendiri ke tingkat kerja sama yang tinggi, maka tiba masanya untuk
2021 Operation & Supply Chain Biro Akademik dan Pembelajaran
8 Muhammad Rozahi Istambul [Link]
meningkatkan kerja sama tersebut ke arah luar, baik hilir ataupun hulu. Supplier misalnya
merupakan salah satu potensi besar untuk diajak bekerja sama kearah hasil yang lebih saling
menguntungkan. Lebih dari yang biasa diperkirakan, supplier biasanya mempunyai potensi
kemampuan yang tinggi dalam hal mengembangkan kerja sama ini. Mereka umumnya tidak
hanya mempunyai kemampuan yang besar tetapi juga mau dan bergairah bekerja sama
untuk keuntungan kedua belah pihak.
Tentu saja tidak semua supplier diharapkan dan diajak untuk meningkatkan kerja sama
kearah business partnering, karena ini mungkin malah akan menimbulkan kekacauan. Yang
perlu adalah memilih beberapa supplier yang handal dan menjual barang-barang atau proyek
strategis. Suatu perusahaan yang mempunyai misalnya 3000an supplier dapat membaginya
menjadi 3 bagian, yaitu :
Traditional sources/suppliers
Mereka yang telah memperoleh sertifikat dan berstatus ‘preferred supplier”
Mereka, mungkin hanya 100an, yang mau dan dipilih untuk menjadi mitra; Supplier
yang 100 inilah yang mulai digarap dan dipersiapkan menjadi business partner.
MENGGUNAKAN LOGISTIK SEBAGAI KATALISATOR
Setelah business partner ditentukan dan telah mulai memberikan hasil berupa perbaikan
dalam kinerja supply secara keseluruhan, maka langkah berikutnya yang dapat dilakukan
adalah menggunakan bidang logistik sebagai sumber utama dalam mencari penghematan
yang berharga yang ada dalam mata rantai supply dari pangkal penyediaan barang baku
sampai tangan konsumen. Hal ini disebabkan karena di logistiklah biasanya diperoleh peluang
paling besar untuk memanfaatkan business partnering ini untuk mendapatkan penghematan
biaya.
Sebagai contoh dapat diamati apa yang dilakukan oleh Toyota Motor Manufacturing
Corporation di Georgetown, Kentucky, USA sebagai berikut :
Di assembly factory, Toyota menggunakan pendekatan ini (menggunakan logistik
sebagai katalisator) dengan bantuan service provider Ryder Dedicated Logistics
Dan disini Ryder diberi ruangan besar sebagai kantornya di lingkungan pabrik dimana
seakan-akan pegawainya bekerja di kantornya sendiri atau pegawai Toyota yang bekerja
Koordinasi ternyata dapat dilakukan seoptimal mungkin
Di lokasi ini, Toyota melakukan outsourcing fungsi logistik kepada para ahli yaitu Ryder
sehingga mampu memfokuskan diri para core businessnya, yaitu automobile assembling
Setiap hari, bertruk-truk barang assembly datang ke pabrik tersebut tanpa instruksi
khusus dari pihak pabrik.
2021 Operation & Supply Chain Biro Akademik dan Pembelajaran
9 Muhammad Rozahi Istambul [Link]
Mereka bergerak atas perintah elektronis dari tempat asal barang untuk merespons
kebutuhan yang diminta dan dalam urutan yang diminta pula
Inspeksi di tempat barang diterima tidak perlu dilakukan karena para sopir truk telah
menginspeksinya di tempat pemuatan
Pembongkaran dilakukan secara sistematis oleh robot, discan dan selanjutnya
ditempatkan diurutan tertentu dalam assembly line untuk selanjutnya dipasang dalam
koordinasi yang sempurna
Ketika dalam pengamatan ditanyakan berapa kali terdapat kesalahan, baik para
pekerja maupun wakil dari Ryder mengatakan belum pernah ada, karena kesalahan dapat
mempengaruhi partnership dan semua pihak bekerja atas kepercayaan penuh.
Sears, Roebuck & Co juga menggunakan logistik ini untuk memulai melakukan penghematan.
Bekerja sama dengan strategic supplier untuk membuat model yang aplikasinya lebih
universal, mereka melakukan hal-hal sebagai berikut :
Menyempurnakan cara pembelian dan pembayaran dengan mekanisnya shipping
notice yang canggih khususnya untuk barang-barang yang turn overnya tinggi
Setiap strategic supplier dihubungkan secara langsung dengan toko retailer mengenai
pergerakan pembelian dan stock dan setiap kali stock toko mencapati tingkat yang disepakati,
langsung dikirim penggantinya atau bahan penggantinya
Jadi tidak diperlukan surat pesanan secara tertulis lagi karena telah dilakukan secara
otomatis
Demikian juga, pengiriman penggantian stock secara otomatis akan memberitahukan
mengenai barang apa yang sedang dikirim dan sekaligus mengingatkan Sears bahwa tagihan
baru telah timbul dan perlu dibayar, jadi tidak perlu ada surat tagihan tertulis lagi
Dengan sistem canggih ini, terbukti dapat menurunkan secara drastis tingkat inventory
di semua tingkat supply dan di toko retailer dan juga menurunkan lead time
Disamping itu, proses pembayaran dapat lebih cepat dilakukan sehingga cash
discount juga akan dapat diperoleh
MENGANGGAP SEBAGAI TOTAL ENTERPRISE
Tujuan utama dari business partnering haruslah mengfokuskan diri pada optimalisasi. Dalam
model yang telah dijelaskan di atas, business partnering mulai dari di dalam perusahaan
sendiri (secara internal) lalu dikembangkan ke perusahaan-perusahaan luar dalam rangkaian
rantai aktivitas (secara eksternal) dan dengan cara mencari peluang-peluang secara
sungguh-sungguh pada jaringan keseluruhan (total network) sebagai suatu kesempatan.
2021 Operation & Supply Chain Biro Akademik dan Pembelajaran
10 Muhammad Rozahi Istambul [Link]
Cerita-cerita sukses (success stories) termasuk dalam tipe-tipe perbaikan sebagai berikut
adalah tipikal sebagai hasil yang dicapai dari proses business partnering :
Pengurangan persediaan (inventory reduction)
Persediaan barang dapat dikurangi antara 40% sampai 60% dengan cara memperbaiki
hubungan dan kerja sama,
Mengurangi safety stock dan dengan
Mengembangkan sistem ‘just in time delivery’
Mempercepat perputaran persediaan barang (increasing inventory turn over)
Kenaikan dari 5%-7% menjadi 25%-30% karena meningkatkan sistem ‘pull-through’ dan
Dengan mengurangi stock out (kehabisan persediaan)
Perbaikan waktu peredaran (improving cycle time)
Waktu perputaran dapat diperbaiki menjadi 50%-60% dengan cara
Mapping dan analyzing flowchart bersama-sama dan
Menghilangkan langkah-langkah atau kegiatan- kegiatan yang tidak mempunyai nilai tambah
(added value)
Kenaikan penjualan (increase sales)
Sales akan naik antara 35%-55% dengan cara
Bersama-sama meningkatkan sistem yang paling responsif
Peningkatan pangsa pasar (improve market shares)
Demikian juga meningkatkan pangsa pasar sebesar antara 35%-55% dengan cara
Yang sama seperti di atas, yaitu bersama-sama menciptakan sistem yang paling responsif
dan
Merangsang pelanggan berbelanja di dalam jaringan
Perbaikan keuntungan (profit improvement)
Keuntungan dapat ditingkatkan sebesar antara 15%-30% dengan cara
Mengurangi dan menghilangkan pemborosan dan biaya tinggi dengan memperbaiki desain
dari proses yang digunakan.
Perbaikan hubungan dengan pelanggan (customer relation improvement)
Meningkatkan hubungan dengan pelanggan sebesar antara 20%-40% dengan cara
2021 Operation & Supply Chain Biro Akademik dan Pembelajaran
11 Muhammad Rozahi Istambul [Link]
Mencari dan menanggapi kebutuhan nyata mereka dan menciptakan cara-cara untuk
memuaskan mereka.
Kunci dari semua itu adalah bahwa semua harus menganggap dan memperlakukan semua
perusahaan dalam jaringan atau rangkaian rantai sebagai suatu totalitas yang satu, atau
sebagai ‘total enterprise’. Total enterprise ini sekarang menjadi semacam filosofi baru yang
dianut oleh mereka yang mau dan berhasil dalam kompetisi. Kompetisi tidak lagi dianggap
antara satu perusahaan dengan perusahaan yang lain, tetapi antara ‘total enterprise’ satu
dengan ‘total enterprise’ yang lain. Kesadaran baru ini dapat memacu lagi perusahaan untuk
meningkatkan kerja sama dalam business partnering tersebut.
2021 Operation & Supply Chain Biro Akademik dan Pembelajaran
12 Muhammad Rozahi Istambul [Link]
Kesimpulan
Sebagai kesimpulan dapat disampaikan bahwa di dunia dimana siklus hidup barang makin
cepat, permintaan berubah-ubah dan tekanan kompetisi terus menerus dialami, kemampuan
untuk bergerak cepat sangatlah penting dan menentukan. Yang penting bukan saja waktu
untuk memproses pembuatan barang tetapi menanggapi permintaan pasar dari para
pelanggan. Sifat pasar sekarang tidak hanya ‘price-sensitive’ tetapi juga ‘time-sensitive’
sehingga diperlukan pemecahan masalah logistik yang lebih responsif namun dengan biaya
yang tetap rendah. Pengurangan waktu proses di logistics pipeline mempunyai potensi besar
untuk membantu dalam hal tidak saja mempercepat proses di seluruh supply chain, tetapi
juga dalam menekan biaya. Kunci untuk dapat mencapai dua tujuan tersebut ialah dengan
memfokuskan pada pengurangan lead time untuk non-value adding time, khususnya waktu
yang digunakan selama barang disimpan. Dengan perkataan lain perlu inventory control yang
baik. Kalau dahulu logistik sangat tergantung pada ketepatan forecasting yang dalam
pengalaman sering kali tidak akurat, maka fokus baru ialah tergantung dari pengurangan lead
time. Namun betapa pentingnya lead time, masalah fundamental ialah bagaimana barang
tersedia pada waktu diperlukan oleh pelanggan. Untuk itu, maka usaha pengendalian lead
time dapat dibantu dengan usaha-usaha lainnya juga seperti pengadaan safety stock,
memperbaiki strategi pembelian dan sebagainya.
2021 Operation & Supply Chain Biro Akademik dan Pembelajaran
13 Muhammad Rozahi Istambul [Link]
Disclaimer : Semua tulisan dalam modul ini sudah memperoleh izin dari penulis (Prof.
Richardus Eko Indrajit) untuk digunakan, termasuk jika ada penambahan atau pengurangan
kalimat.
Daftar Pustaka
1. Richardus Eko Indrajit, Richardus Djokopranoto, “Strategi Mengelola Manajemen Rantai
Pasokan Bagi Perusahaan Modern di Indonesia”, 2015
2021 Operation & Supply Chain Biro Akademik dan Pembelajaran
14 Muhammad Rozahi Istambul [Link]