Perancangan Konstruksi Jalan Rel
Perancangan Konstruksi Jalan Rel
BAB I
PENDAHULUAN
Transportasi merupakan suatu perpindahan orang atau barang dengan menggunakan alat
atau juga kendaraan dari dan ke tempat-tempat yang terpisah dengan secara geografis
(Steenbrink, 1974). Transportasi dibagi menjadi 3 yaitu transportasi darat, laut, dan udara.
Menurut Undang - Undang Nomor 23 Tahun 2007 tentang perkeretaapian, definisi dari
kereta api adalah kendaraan dengan tenaga gerak, baik berjalan sendiri maupun
dirangkaikan dengan sarana perkeretaapian lainnya, yang akan ataupun sedang bergerak di
atas jalan rel yang terkait dengan perjalanan kereta api. Kereta api sendiri terdiri dari
lokomotif, kereta, dan gerbong.
Bagian dari kereta terdapat lintas kereta api yang direncanakan untuk melewatkan berbagai
jumlah angkutan barang dan atau penumpang dalam suatu jangka waktu tertentu.
Perencanaan konstruksi jalan rel harus direncanakan sedemikian rupa sehingga dapat
dipertanggungjawabkan secara teknis dan ekonomis. Secara teknis konstruksi jalan rel
harus dapat dilalui oleh kendaraan rel dengan aman dan dengan tingkat kenyamanan tertentu
selama umur konstruksinya. Secara ekonomis diharapkan agar pembangunan dan
pemeliharaan konstruksi tersebut dapat diselenggarakan dengan biaya yang lebih ekonomis,
dimana masih memungkinkan terjaminnya keamanan dan tingkat kenyamanan. Perencanaan
konstruksi jalan rel dipengaruhi oleh jumlah beban, kecepatan maksimum, beban gandar dan
pola operasi. Atas dasar ini diadakan klasifikasi jalan rel, sehingga perencanaan dapat dibuat
secara tepat.
Rumusan masalah yang akan dikaji pada tugas ini adalah sebagai berikut :
1. Bagaimana merancang sarana perkretaapian?
2. Bagaimana merancang alinyemen jalan rel?
3. Bagaimana merancang komponen stuktural dalan rel?
4. Bagaimana merancang empalsemen jalan rel?
5. Bagaimana menghitung volume galian dan timbunan?
6. Bagaimana merancang operasional kereta api?
1.3. Tujuan
Ruang lingkup tugas yang ditinjau oleh penulis pada laporan ini adalah :
1. Perhitungan dari perancangan sarana perkeretaapian.
2. Perhitungan dari perancangan alinyemen jalan rel.
3. Perhitungan dari perancangan komponen struktural jalan rel.
4. Perhitungan dari perancangan emplasemen jalan rel.
5. Perhitungan volume galian dan timbunan.
6. Perancangan operasional kereta.
Tugas Besar SI-4122 Rekayasa Jalan Rel Kelompok 6
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Peraturan Menteri Perhubungan nomor 60 Tahun 2012 menjelaskan bahwa jalan rel
merupakan satu kesatuan konstruksi yang terbuat dari baja, beton atau konstruksi lain yang
terletak di permukaan, di bawah dan di atas tanah atau bergantung beserta perangkatnya
yang fungsinya mengarahkan jalannya kereta api. Secara teknis diartikan bahwa konstruksi
jalan rel tersebut harus dapat dilalui oleh kereta api dengan aman dan nyaman selama umur
konstruksinya. Selain itu rel juga mempunyai fungsi sebagai pijakan mengelindingnya roda
kereta api dan meneruskan beban dari roda kereta api kepada bantalan. Sedangkan jalur rel
kereta api merupakan jalur yang terdiri atas rangkaian petak jalan rel yang meliputi ruang
manfaat jalur kereta api, ruang milik jalur kereta api dan ruang pengawasan jalur kereta api
termasuk bagian atas dan bawahnya yang diperuntukan bagi lalu lintas kereta api.
Kelas jalan rel yang ada di indonesia dapat dibagi berdasarkan lebar jalan rel yang ada di
Indonesia. Lebar jalan rel tersebut dibagi atas lebar lebar jalan rel 1067 mm dan lebar jalan
rel 1435 mm. Klasifikasi kelas jalan rel tersebut mencakup daya angkut lintas pada
masing-masing kelas jalan rel, kecepatan maksimum, beban gandar dan ketentuan lain
untuk setiap kelas jalan rel. penentuan kelas jalan rel dapat dilihat melalui Tabel 2.1.
Tabel II.1. Lebar Jalan Rel 1067 m
R.54/R.
III 5.106 - 10.107 100 18
50/R.42
R.54/R.
IV 2,5.106 – 5.106 90 18
50/R.42
Tugas Besar SI-4122 Rekayasa Jalan Rel Kelompok 6
Perencanaan konstruksi jalur kereta api harus direncanakan sesuai persyaratan teknis
sehingga dapat dipertanggungjawabkan. Secara teknis diartikan konstruksi jalur kereta api
tersebut harus aman dilalui oleh sarana perkeretaapian dengan tingkat kenyamanan tertentu
selama umur konstruksinya.
Perencanaan konstruksi jalur kereta api dipengaruhi oleh jumlah beban, kecepatan
maksimum, beban gandar dan pola operasi. Atas dasar ini diadakan klasifikasi jalur kereta
api sehingga perencanaan dapat dibuat secara cepat dan tepat. Geometrik jalan
direncanakan berdasar pada kecepatan rencana serta ukuran-ukuran kereta yang
melewatinya dengan memperhatikan faktor keamanan, kenyamanan, dan keserasian
dengan lingkungan sekitarnya.
Konstruksi jalan rel merupakan suatu sistem struktur yang menghimpun komponen-
komponennya seperti rel, bantalan, penambat dan lapisan fondasi serta tanah dasar secara
terpadu dan disusun dalam sistem konstruksi dan analisis tertentu untuk dapat dilalui
kereta api secara aman dan nyaman. Struktur jalan rel dibagi ke dalam dua bagian struktur
yang terdiri dari kumpulan komponen jalan rel, yaitu :
Tugas Besar SI-4122 Rekayasa Jalan Rel Kelompok 6
Struktur bagian atas atau dikenal sebagai superstructure, yang merupakan bagian lintasan
yang terdiri dari komponen-komponen seperti rel (rail), penambat (fastening) dan bantalan
(sleeper). Penjelasan dari struktur bagian atas tersebut adalah sebagai berikut :
1. Rel
2. Sambungan rel
3. Bantalan
4. Penambat rel
5. Wessel
Struktur bagian bawah atau yang dikenal juga dengan sebutan tubuh jalan rel terdiri dari
komponen balas, sub-balas, drainase jalan rel, tanah dasar dan tanah asli. Lapisan balas
pada dasarnya adalah terusan dari lapisan tanah dasar yang terletak di daerah yang
mengalami konsentrasi tegangan yang terbesar akibat lalu lintas kereta api pada jalan rel.
Fungsi utama balas adalah untuk meneruskan dan menyebarkan beban bantalan ke tanah
dasar, mengokohkan kedudukan bantalan dan meluluskan air sehingga tidak terjadi
penggenangan air di sekitar bantalan dan rel.
Secara garis besar struktur jalan rel yang baik, harus dapat menjamin keamanan,
kenyamanan, umur teknis dan geometri dan dapat dipelihara dengan biaya yang optimal.
Gaya ini terjadi akibat adanya gaya sentrifugal (ketika rangkaian kereta api berada di
lengkung horizontal), gerakan ular rangkaian (snake motion) dan tidak ratanya geometrik
jalan rel yang bekerja pada titik yang sama dengan gaya vertikal. Gaya ini dapat
menyebabkan tercabutnya penambat akibat gaya angkat (uplift force), pergeseran pelat
andas dan memungkinkan terjadinya derailment (anjlog atau keluarnya roda kereta dari
rel). Secara skematis gaya transversal akibat beban lintas yang terjadi dapat dilihatn pada
gambar dibawah ini:
Tugas Besar SI-4122 Rekayasa Jalan Rel Kelompok 6
1. Kecepatan rencana
Kecepatan rencana adalah kecepatan yang digunakan untuk merencanakan konstruksi pada
jalan rel. Dalam perencanaan geometri jalan rel kecepatan dibagi menjadi 3, yaitu:
a. Untuk Perencanaan Struktur Jalan Rel
Vrencana =1,2 × Vmaks
4. Kecepatan Komersial
Kecepatan komersial adalah kecepatan rata-rata kereta api yang didapat dari hasil
pembagian jarak tempuh dengan waktu tempuh pada lintasan tertentu.
5. Beban Gandar
Beban gandar adalah beban yang diterima oleh jalan rel dari satu gandar. Beban gandar
untuk lebar jalan rel 1067 mm pada semua kelas jalur maksimum sebesar 18 ton. Beban
gandar untuk lebar jalan rel 1435 mm pada semua kelas jalur maksimum sebesar 22,5 ton.
Daya angkut lintas diperlukakan untuk menentukan kelas jalan rel. Daya angkut lintasan
menunjukan jenis dan beban total serta kecepatan kereta api yang melewati lintas yang
bersangkutan dalam jangka waktu satu tahun. Daya angkut lintas biasa dinyatakan dalam
tonase dengan satuan ton/tahun.
Persamaannya adalah sebagai berikut:
𝑇 = 360 𝑥 𝑆 𝑥 𝑇𝐸
𝑇𝐸 = 𝑇𝑝 + 𝐾𝑏 𝑇𝑏 + 𝐾𝑖 𝑇𝑖
Keterangan
𝑇 = Daya angkut (ton/tahun)
𝑇𝐸 = Tonase ekivalen (ton/hari)
𝑇𝑝 = Tonase penumpang dan kereta harian
𝑇𝑏 = Tonase barang dan gerbong harian
𝐾𝑏 = Koefisien yang besarnya tergantung kepadabeban gandar (1,5 untuk
beban gandar < 18 ton dan 1,3 untuk beban garndar > 18 ton).
𝐾 = Koefisien yang besarnya 1,4
𝑇𝑖 = Tonase lokomotif harian
𝑆 = Koefisien yang besarnya 1,1untuk lintas dengan kereta penumpang
kecepatan minimum 120 km/jam.
𝑆penumpang = Kofisien yang besarnya 1,0 untuk lintas tanpa kereta
Tugas Besar SI-4122 Rekayasa Jalan Rel Kelompok 6
Untuk seluruh kelas jalan rel lebar sepur adalah 1067 mm yang merupakan jarak terkecil
antara kedua sisi kepala rel, diukur pada daerah 0-14 mm di bawah permukaan teratas
kepala rel.
Alinyemen horizontal adalah proyeksi sumbu jalan rel pada bidang horizontal, alinyemen
horizontal terdiri dari garis lurus dan lengkungan.
1. Lengkung Lingkaran
Dua bagian lurus, yang perpanjangnya saling membentuk sudut harus dihubungkan dengan
lengkung yang berbentuk lingkaran, dengan atau tanpa lengkung-lengkung peralihan.
Untuk berbagai kecepatan rencana, besar jari- jari minimum yang diijinkan adalah seperti
yang tercantum dalam Tabel 2.2.
Tabel II.2. Persyaratan Perencanaan Lengkungan.
Jari-jari minimum Jari-jari minimumlengkung
Kecepatan Rencana lengkung lingkaran lingkaran yang diijinkan
(km/jam) tanpa lengkung dengan lengkung peralihan
peralihan (m) (m)
120 2370 780
110 1990 660
100 1650 550
90 1330 440
80 1050 350
70 810 270
60 600 200
Sumber: Peraturan Dinas No. 10 Tahun 1986, Bab 2 Pasal 3
2. Lengkung Peralihan
Lengkung peralihan adalah suatu lengkung dengan jari-jari yang berubah beraturan.
Lengkung peralihan dipakai sebagai peralihan antara bagian yang lurus dan bagian
lingkaran dan sebagai peralihan antara dua jari-jari lingkaran yang berbeda. Lengkung
peralihan dipergunakan pada jari-jari lengkung yang relatif kecil, lihat Tabel 2.5. Panjang
minimum dari lengkung peralihan ditetapkan dengan rumus berikut.
= 0,01 ℎ𝑣
Dengan:
Tugas Besar SI-4122 Rekayasa Jalan Rel Kelompok 6
1. Pengelompokan Lintas
Berdasarkan pada kelandaian dari sumbu jalan rel dapat dibedakan atas 4 (empat)
kelompok seperti yang tercantum dalam Tabel 2.5.
Tabel II.5. Pengelompokan Lintas Berdasarkan pada Kelandaian
Tugas Besar SI-4122 Rekayasa Jalan Rel Kelompok 6
Kelompok Kelandaian
Emplasemen 0 sampai 1,5 %
Lintas datar 0 sampai 10 %
Lintas pegunungan 10 % sampai 40 5
Lintas dengan rel gigi 40 % sampai 80 %
Sumber: Peraturan Dinas No. 10 Tahun 1986, Bab 2 Pasal 4
2. Landai Penentu
pada suatu lintas lurus. Besar landai penentu berpengaruh pada kombinasi daya tarik
lokomotif dan rangkaian yang dioperasikan. Untuk masing-masing kelas jalan rel, besar
landai penentu adalah seperti yang tercantum dalam Tabel 2.6.
Tabel II.6. Landai Penentu Maksimum
Kelas Jalan Rel Landai Penentu
1 10 ‰
2 10 ‰
3 20 ‰
4 25 ‰
5 25 ‰
Sumber: Peraturan Dinas No. 10 Tahun 1986, Bab 2 Pasal 4
3. Landai Curam
Dalam keadaan yang memaksa kelandaian (Pendakian) dari lintas lurus dapat melebihi
landai penentu. Kelandaian ini disebut landai curam; panjang maksimum landai curam
dapat ditentukan melalui rumus pendekatan sebagai berikut :
Va2 - Vb 2
t=
2 g Sk-sm
keterangan:
t = Panjang maximum landai curam (m)
va = Kecepatan minimum yang diijinkan dikaki landai curam m/detik
Vb = Kecepatan minimum dipuncak landai curam (m/detik) vb ≥ ½ va
g = Percepatan gravitasi
Sk = Besar landai curam ( % )
Sm = Besar landai penentu ( % )
4. Lengkung Vertikal
Lengkung vertikal merupakan proyeksi sumbu jalan rel pada bidang vertikal yang melalui
sumbu jalan rel. Besar jari-jari minimum lengkung vertikal bergantung pada kecepatan
rencana. Sebagaimana dinyatakan dalam tabel dibawah.
Tabel II.7. Jari-jari Minimum Lengkung Vertikal
Tugas Besar SI-4122 Rekayasa Jalan Rel Kelompok 6
Penampang melintang jalan rel adalah potongan pada jalan rel, dengan arah tegak lurus
sumbu jalan rel, di mana terlihat bagian-bagian dan ukuran- ukuran jalan rel dalam arah
melintang. Ukuran-ukuran penampang melintang jalan rel berlajur tunggal dan ganda
tercanum pada Tabel 2.8.
Pada tempat-tempat khusus, seperti di perlintasan, penampang melintang akan
menyesuaikan dengan keadaan setempat.
Gambar II.4. Penampang Melintang Jalan Rel pada Bagian Lurus Jalur Tunggal
Gambar II.5. Penampang Melintang Jalan Rel pada Bagian Lengkung Jalur Tunggal
Tugas Besar SI-4122 Rekayasa Jalan Rel Kelompok 6
Gambar II.6. Penampang Melintang Jalan Rel pada Bagian Lurus Jalur Ganda
Gambar II.7. Penampang Melintang Jalan Rel pada Bagian Lengkung Jalur Ganda
Menurut KBBI, kereta api adalah sarana transportasi atau kendaraan umum yang terdiri
atas rangkaian gerbong dengan ditarik oleh lokomotif yang dijalankan dengan tenaga uap
atau listrik dan berjalan di atas rel.
Berdasarkan Peraturan Menteri Nomor 32 Tahun 2011, kereta api adalah sarana
perkeretaapian dengan tenaga gerak, baik berjalan sendiri maupun dirangkaikan dengan
sarana perkeretaapian lainnya yang akan ataupun sedang bergerak di jalan rel yang terkait
dengan perjalanan kereta api. Kereta api terdiri atas berbagai macam, sebagai berikut:
a. Kereta api penumpang
b. Kereta api barang
c. Kereta api campuran
d. Kereta api kerja
e. Kereta api pertolongan
Menurut Undang-undang Nomor 23 Tahun 2007, perkeretaapian sebagai salah satu moda
transportasi memiliki karakteristik dan keunggulan khusus terutama dalam kemampuannya
untuk mengangkut, baik orang maupun barang secara massal, menghemat energi,
menghemat penggunaan ruang, mempunyai faktor keamanan yang tinggi, memiliki tingkat
pencemaran yang rendah, serta lebih efisien dibandingkan dengan moda transportasi jalan
untuk angkutan jarak jauh dan untuk daerah yang padat lalu lintasnya, seperti angkutan
perkotaan. Dan menurut jenisnya, kereta api terdiri dari:
a. Kereta api kecepatan normal
b. Kereta api kecepatan tinggi
Tugas Besar SI-4122 Rekayasa Jalan Rel Kelompok 6
Lapisan balas dan sub-balas pada dasarnya adalah terusan dari lapisan tanah dasar dan
terletak di daerah yang mengalami konsentrasi tegangan yang terbesar akibat lalu lintas
kereta pada jalan rel, oleh karena itu material pembentuknya harus sangat terpilih.
Fungsi utama balas dan sub-balas adalah sebagai berikut:
a. Meneruskan dan menyebarkan beban bantalan ke tanah dasar.
b. Mengokohkan kedudukan bantalan
c. Meluruskan air sehingga tidak terjadi penggenangan air di sekitar batalan rel
2.9.1 Balas
Tugas Besar SI-4122 Rekayasa Jalan Rel Kelompok 6
Lapisan balas pada dasarnya adalah terusan dari lapisan tanah dasar, dan terletak di daerah
yang mengalami konsentrasi tegangan yang terbesar akibat lalu lintas kereta pada jalan rel,
oleh karena itu material pembentukanya harus sangat terpilih. Fungsi utama balas adalah
untuk meneruskan dan menyebarkan beban bantalan dan meluluskan air sehingga tidak
terjadi penggenangan air disekitar bantalan dan rel. Kemiringan lereng lapisan balas atas
tidak boleh lebih curam dari 1:2. Bahan balas atas dihampar hingga mencapai sama dengan
elevasi bantalan.
2.9.2. Sub-Balas
1. Lapisan sub-balas berfungsi sebagai lapisan penyaring antara tanah dasar dan lapisan
balas dan harus dapat mengalirkan air dengan baik. Tebal minimum lapisan balas bawah
adalah 15 cm. Lapisan sub-balas terdiri dari kerikil halus,kerikil sedang atau pasir kasar
yang memenuhi syarat.
2. Sub-balas harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:
Material sub-balas dapat berupa campuran kerikil (gravel) atau kumpulan agregat
pecah dan pasir
Material sub-balas tidak boleh memiliki kandungan material organik lebih dari 5%
Untuk material sub-balas yang merupakan kumpulan agregat pecah dan pasir, maka
harus mengandung sekurang-kurangnya 30% agregat pecah
Lapisan sub-balas harus didapatkan sampai mencapai 100% Yd menurut percobaan
ASTM D 698.
2.10 Bantalan
Bantalan berfungsi untuk meneruskan beban kereta api dan berat konstruksi jalan rel ke
balas, mempertahankan lebar jalan rel dan stabilitas ke arah luar jalan rel. Bantalan dapat
dibuat dari kayu,baja/besi, ataupun [Link] jenis bantalan didasarkan pada kelas
dan kondisi lapangan serta ketersedian. Spesifikasi masing-masing tipe bantalan harus
mengacu kepada persyaratan teknis yang berlaku. Bantalan terdiri dari bantalan
beton,kayu,dan besi. Bantalan harus memenuhi persyaratan berikut:
1. Bantalan beton merupakan struktur prategang :
Tugas Besar SI-4122 Rekayasa Jalan Rel Kelompok 6
Untuk lebar jalan rel 1067 mm dengan kuat tekan karateristik beton tidak kurang
dari 500 kg/cm2. Bantalan beton harus mampu memikul momen minimum sebesar
+1500 kg m pada bagian dudukan rel dan - 930 kg m pada bagian tengah bantalan.
Untuk lebar jalan rel 1435 mm dengan kuat tekan karakteristik beton tidak kurang
dari 600 kg/cm2, dan mutu baja prategang dengan tegangan putus (tensile strength)
minimum sebesar 16.876 kg/cm2 (1.655 Mpa). Bantalan harus mampu memikul
momen minimum sesuai dengan desain beban gandar dan kecepatan.
2. Bantalan kayu, harus memnuhi persyaratan kayu mutu A kelas 1 dengan modulus
elastisitas ( E ) minimum 125.000 kg/cm2. Harus mampu menahan momen maksimum
sebesar 800 kg-m, lentur absolute tidak boleh kurang dari 46 kg/cm2. Berat jenis kayu
minimum = 0,9, kadar air maksimum 15%, tanpa mata kayu, retak tidak boleh sepanjang
230 mm dari ujung kayu.
3. Bantalan besi harus memiliki kandungan carbon manganese steel kelas 900 A, pada
bagian tengah bantalan maupun pada bagian bawah rel, mampu menahan momen
maksimum sebesar 650 kg m, tegangan tarik 88– 103 kg m. Elongation A1 > 10%
BAB III
PERANCANGAN SARANA PERKERETAAPIAN
Penentuan Rolling Stock dapat ditentukan berdaasarkan data pada soal terlampir. Dalam
kasus ini kami memperoleh data tugas yang mencakup lintasan kereta api, jenis sinyal,
jenis prasarana, jarak stasiun, kecepatan, waktu, kapasitas lintas dan jumlah kereta api yang
melintasi jalur tersebut sesuai dengan GAPEKA 2017. Dalam kasus ini kami memperoleh
Tugas Besar SI-4122 Rekayasa Jalan Rel Kelompok 6
daerah lintas Stasiun Kereta Palu Raja – Rantau Prapat dengan lebar jalur 1435 mm, peta
topografi 1, kelas jalan rel III, kecepatan maksimum 100 km/jam, dan jenis rel 50 (R).
Perhitungan beban tonase kereta barang dapat dihitung menggunakan rumus berikut.
No Gerbong = Tb x Kb = ∑(Muatan BBM/Semen/Batu) x Kb
= ∑((Jumlah gerbong x Berat Kereta Siap) + Beban Muatan) x Kb
Tb : Tonase barang dan gerbong harian
Kb : Koefisien (1,5 untuk gandar < 18 ton)
Gerbong 2812 = ((15 x 57)+96) x 1,5 = 951
Tugas Besar SI-4122 Rekayasa Jalan Rel Kelompok 6
Perhitungan beban tonase lokomotif dapat dihitung menggunakan rumus sebagai berikut.
No Lokomotif = K1 x T 1 = ∑(1,4 x Tonase Lokomotif harian)
CC 204 U49 = (1,4 x 84) = 117,6
CC 204 U50 = (1,4 x 84) = 117,6
CC 201 2812 = (1,4 x 84) = 117,6
CC 201 2814 = (1,4 x 84) = 117,6
CC 201 2816 = (1,4 x 84) = 117,6
CC 204 U43 = (1,4 x 84) = 117,6
CC 204 U44 = (1,4 x 84) = 117,6
CC 206 2828F = (1,4 x 84) = 117,6
CC 204 U45 = (1,4 x 84) = 117,6
CC 204 U46 = (1,4 x 84) = 117,6
CC 204 U47 = (1,4 x 84) = 117,6
CC 204 U48 = (1,4 x 84) = 117,6
CC 201 2811 = (1,4 x 84) = 117,6
CC 201 2813 = (1,4 x 84) = 117,6
CC 201 2815 = (1,4 x 84) = 117,6
CC 201 2827F = (1,4 x 84) = 117,6
K1 x T1 = 1893 ton/hari
Berikut ini merupakan table hasil perhitungan tonase penumpang, barang, dan lokomotif.
Tabel III.1. Hasil Perhitungan Tonase
Tugas Besar SI-4122 Rekayasa Jalan Rel Kelompok 6
K1 x Muatan, Kb (ton)
Berat Berat K x Tb
Σ kereta / Berat Kereta T1 BBM Semen Batu Bara b
NO Tujuan Jenis Kereta Kelas No KA Lokomotif Lokomotif, T 1 Gandar K1 Kb Tp
gerbong Siap (ton) 1000000 1000000 750000
(ton) (ton)
1.4 96 96 72 1.5
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 13 14
1 Palu Raja Penumpang Bisnis U 49 CC 204 12 84 37 14 117.6 - - - - 444
2 Rantau Prapat Penumpang Bisnis U 50 CC 204 12 84 37 14 117.6 - - - - 444
3 Rantau Prapat Barang Brg. Semen 2812 CC 201 15 84 57 14 117.6 - 951 - 1426.5 -
4 Rantau Prapat Barang Brg. Batu 2814 CC 201 15 84 57 14 117.6 - - 927 1390.5 -
5 Rantau Prapat Barang Brg. BBM 2816 CC 201 15 84 44 14 117.6 756 - 1134 -
6 Palu Raja Penumpang Bisnis U 43 CC 204 12 84 37 14 117.6 - - - - 444
7 Rantau Prapat Penumpang Bisnis U 44 CC 204 12 84 37 14 117.6 - - - - 444
8 Rantau Prapat Fakultatif Ekskutif 2828F CC 206 12 88 37 14 123.2 - - - - 444
9 Palu Raja Penumpang Ekonomi U 45 CC 204 12 84 37 14 117.6 - - - - 444
10 Rantau Prapat Penumpang Ekonomi U 46 CC 204 12 84 37 14 117.6 - - - - 444
11 Palu Raja Penumpang Ekonomi U 47 CC 204 12 84 37 14 117.6 - - - - 444
12 Rantau Prapat Penumpang Ekonomi U 48 CC 204 12 84 37 14 117.6 - - - - 444
Brg. Semen
13 Palu Raja Barang 2811 CC 201 15 84 57 14 117.6 855 - 1282.5 -
Brg. Batu
14 Palu Raja Barang Bara 2813 CC 201 15 84 57 14 117.6 - - 855 1282.5 -
15 Palu Raja Barang Brg. BBM 2815 CC 201 15 84 44 14 117.6 660 - - 990 -
16 Palu Raja Fakultatif Ekskutif 2827F CC 206 12 88 37 14 123.2 - - 444
Semakin tinggi beban tonase angkut lintas maka kapasitas lintas juga semakin tinggi. Daya
angkut lintas dan serta keadaan karakteristik tanah pada suatu lingkup lintas sangat
menentukan teknologi sarana dan prasarana yang perlu diterapkan pada sistem operasi
tersebut. Perhitungan kapasitas angkut lintas dapat dicari menggunakan rumus berikut.
T = 360 x S x TE
TE = TP + (Kb x Tb)+ (Ki x Ti)
Keterangan :
T = kapasitas angkut lintas (ton/tahun)
TE = kapasitas angkut lintas (ton/hari)
S = 1,1 untuk lintas dengan kereta penumpang dengan kecepatan
maksimum 120 km/jam
S = 1,0 untuk lalu lintas tanpa kereta penumpang
TP = tonase penumpang dan kereta harian
Ti = tonase lokomotif harian
Tb = tonase barang dan gerbong harian
Kb = koefisien yang besarnya bergantung pada beban gandar, yaitu kb = 1,5 untuk
beban gandar <18 ton, kb = 1,3 untuk beban gandar >18 ton
Ki = koefisien yang besarnya ditentukan sebesar 1,4
Sehingga :
T = 360 x 1,1 x (4440 + 7506 + 1893) = 5480164,8 ton/tahun.
Penentuan kelas jalan rel yang digunakan dapat mengacu pada tabel berikut.
Tugas Besar SI-4122 Rekayasa Jalan Rel Kelompok 6
Dari data tugas yang diberikan untuk kelompok 6 adalah jalan rel kelas III dengan
kecepatan maksimum adalah 100 km/jam dan menggunakan jenis rel R-50. Namun, kami
mengacu pada peraturan menteri no.60 tahun 2012 sehingga kami menggunakan kecepatan
maksimum yang sesuai untuk kelas jalan III adalah 120 km/jam dengan jenis rel R.54,
beban maksimum gandar 22,5 ton, jenis bantalan beton, jarak antar sumbu bantalan 60 cm,
jenis penambat elastis ganda, tebal batas atas 30 cm, dan lebar bahu balas 40 cm.