0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
221 tayangan8 halaman

Uraian dan Struktur Kimia Vitamin B6

Bab 2 memberikan tinjauan pustaka mengenai vitamin B6, efek samping, bahan baku, dan spektrofotometri. Vitamin B6 berperan dalam metabolisme protein dan aliran darah. Efek samping berlebihan dapat menyebabkan neuropati. Bahan baku harus memenuhi persyaratan mutu. Spektrofotometri digunakan untuk mengukur serapan cahaya larutan berdasarkan hukum Lambert-Beer.

Diunggah oleh

Haritsa Fn
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
221 tayangan8 halaman

Uraian dan Struktur Kimia Vitamin B6

Bab 2 memberikan tinjauan pustaka mengenai vitamin B6, efek samping, bahan baku, dan spektrofotometri. Vitamin B6 berperan dalam metabolisme protein dan aliran darah. Efek samping berlebihan dapat menyebabkan neuropati. Bahan baku harus memenuhi persyaratan mutu. Spektrofotometri digunakan untuk mengukur serapan cahaya larutan berdasarkan hukum Lambert-Beer.

Diunggah oleh

Haritsa Fn
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Uraian Umum Vitamin B6 (Piridoksin HCl)

Rumus bangun:

Nama kimia : Piridoksin Hidroklorida

Rumus Molekul : C8H11NO3HCl

Berat Molekul : 205,64

Pemerian : Hablur atau serbuk hablur putih atau hampir putih,

stabil di udara secara perlahan-lahan dipengaruhi

oleh cahaya matahari.

Kelarutan : Mudah larut dalam air, sukar larut dalam etanol,

tidak larut dalam eter. Larutan mempunyai pH lebih

kurang 3.

Identifikasi : A. Spektrum serapan inframerah zat yang dipersikan

dalam minyak mineral P, menunjukkan

maksimum hanya pada panjang gelombang yang

sama seperti pada piridoksin Hidroklorida BPFI.

: B. Menunjukkan reaksi klorida cara A, B, C seperti

yang tertera pada uji identifikasi umum <291>

4
Baku pembanding : Piridoksin Hidroklorida BPFI, pengeringan dalam

hampa udara diatas silika gel P selama 4 jam

sebelum digunakan.

2.2 Vitamin B6

Vitamin B6 adalah senyawa organik kompleks yang esensial untuk

pertumbuhan dan fungsi biologis bagi makhluk hidup. Sebagian besar vitamin B 6

disimpan dalam otot, hati, dan dalam darah. Kebutuhan vitamin B 6 meningkat

pada masa pertumbuhan meskipun sudah mencapai usia dewasa.

Vitamin B6 banyak berperan dalam metabolisme, protein, sehingga

kebutuhannya sebanding dengan kebutuhan protein, suplemen vitamin B6 dapat

memperlancar aliran darah.

Vitamin B6 dapat diperoleh dari makanan. Beberapa makanan yang

mengandung vitamin B6 tinggi seperti : daging, ikan, biji-bijian, kentang, ubi jalar

dan sayur-sayuran (Nafrialdi, 2007).

2.3 Efek Samping Vitamin B6

Efek samping vitamin B6 dapat menyebabkan neuropati sensorik atau

sindrom neuropati dalam dosis antara 50 mg – 2g per hari dalam jangka panjang.

Gejala awal dapat berupa sikap yang tidak stabil dan rasa kebas di kaki, tangan

dan sekitar mulut. Gejala berangsur-angsur hilang setelah asupan vitamin B6

dihentikan (Nafrialdi, 2007).

2.4 Bahan baku dan Syarat-syarat bahan baku

Bahan baku adalah semua bahan, baik yang berkhasiat (zat aktif) maupun

tidak berkhasiat (zat nonaktif) yang berubah maupun tidak berubah, yang

5
digunakan dalam pengolahan obat walaupun tidak semua bahan tersebut masih

terdapat di dalam produk ruahan (Siregar, 2010).

Semua bahan baku yang digunakan harus memenuhi persyaratan

farmakope atau buku lain yang disetujui oleh regulator atau oleh industri farmasi

yang bersangkutan. Selain itu, bahan-bahan yang dibeli harus sesuai dengan

spesifikasi hasil uji formulasi agar diperoleh mutu obat yang konsisten dan

memenuhi persyaratan keamanan, khasiat stabilitas, dan ketersediaan hayati

(Siregar, 2010).

Beberapa ketentuan persyaratan bahan baku menurut Dirjen POM (2006),

adalah sebagai berikut :

1. Pemasok bahan awal dievaluasi dan disetujui untuk memenuhi spesifikasi

mutu yang telah ditentukan oleh perusahaan.

2. Tiap spesifikasi hendaklah disetujui dan disimpan oleh bagian Pengawas

Mutu kecuali untuk produk jadi yang harus disetujui oleh kepala bagian

Manajemen Mutu (Pemastian Mutu).

3. Revisi berkala dari tiap spesifikasi perlu dilakukan agar memenuhi

Farmakope edisi terakhir atau kompendia resmi lain.

4. Spesifikasi bahan awal yang diperlukan :

a. Deskripsi bahan termasuk :

1. Nama yang ditentukan dan kode refren (kode produk)

2. Rujukan monografi farmakope, bila ada

3. Pemasok yang disetujui dan, bila mungkin produsen bahan

4. Standar mikrobiologis, bila ada

6
b. Petunjuk pengambilan sampel dan pengujian atau prosedur rujukan

c. Persyaratan kualiatif dan kuantitatif dengan batas penerimaan

d. Kondisi penyimpanan dan tindakan pengamatan

e. Batas waktu penyimpanan sebelum dilakukan pengujian kembali

5. Identitas suatu batch bahan awal biasanya hanya dapat dipastikan apabila

sampel diambil dari tiap wadah dan dilakukan uji identitas terhadap tiap

sampel.

6. Pengambilan sampel boleh dilakukan dari sebagian wadah bila telah dibuat

prosedur tervalidasi untuk memastikan bahwa tidak satupun wadah bahan

awal yang salah label identitasnya.

7. Mutu suatu batch bahan awal dapat dinilai dengan mengambil dan menguji

sampel representatif. Sampel yang diambil untuk uji identitas dapat

digunakan untuk tujuan tersebut

8. Jumlah yang diambil untuk menyiapkan sampel representatif hendaklah

dilakukan secara statistik dan dicantumkan pada pola pengambilan sampel.

9. Jumlah sampel yang dapat dicampur menjadi satu sampel komposit

(sampel yang dicampur dua bahan atau lebih) hendaklah ditetapkan

dengan pertimbangan sifat bahan, informasi tentang pemasok dan

homogenitas sampel komposit itu.

2.5 Spektrofotometri

Spektrofotometri adalah pengukuran absorbansi energi cahaya oleh suatu

atom atau molekul pada panjang gelombang tertentu yang mencakup

7
spektrofotometri Ultra Violet (UV), Sinar Tampak (Visible), Infra merah dan

serapan atom (Day and Underwood, 2002).

Penetapan kadar kuantitatif dilakukan dengan mengukur serapan larutan

zat dalam pelarut serta panjang gelombang tertentu, pengukuran serapan biasanya

dilakukan pada panjang gelombang maksimum dan umumnya telah dicantumkan

pada monografi, namun oleh karena letak serapan maksimum dapat berbeda (Day

and Underwood, 2002).

Pada pengukuran serapan suatu larutan hampir semua digunakan blanko

yang dipakai untuk mengatur spektrofotometer, hingga pada panjang gelombang

pengukuran mempunyai serapan nol. Blanko adalah koreksi serapan yang

disebabkan oleh pelarut, pereaksi, sel atau pengukuran alat, blanko yang

digunakan adalah blanko untuk yang melarutkan zat terhadap larutan zat

pembanding kimia yang di siapkan dengan cara yang sama, dalam hal ini

pengukuran serapan dilakukan terhadap pembanding kemudian terhadap larutan

zat yang diperiksa (Rohman, 2007).

Pelarut yang digunakan dalam spektrofotometri pada daerah ultra violet

antara lain adalah air, etanol, amonia encer, larutan natrium hidroksida, asam

sulfat, dan asam klorida.

2.5.1 Prinsip-prinsip Spektrofotometri

Berkas cahaya polikromatis diubah menjadi monokromatis. Sinar

monokromatis yang dilewatkan pada suatu bahan yang dianalisa akan diabsorbsi,

dan sinar yang diabsorbsi oleh bahan yang dianalisa sebanding dengan jumlah

(konsentrasi) bahan yang dianalisa. Hukum Lambert-Beer merupakan gabungan

8
Hukum Lambert dan Beer yang menetapkan antara lain intensitas cahaya yang

masuk dengan intensitas cahaya yang keluar, merupakan fungsi dari larutan dan

kadar zat dalam larutan (Farmakope Indonesia Edisi IV Tahun 2014).

Lambert : Serapan (absorbansi) cahaya berbanding lurus terhadap

ketebalan kuvet yang disinari. Jika tebal kuvet yang disinari bertambah maka

serapan akan bertambah. Sehingga dapat beberapa persamaan: A= a x b.

Beer: serapan (absorbansi) berbanding lurus dengan konsentrasi bahan

yang disinari. Jika konsentrasi bertambah, jumlah molekul yang dilalui berkas

sinar akan bertambah, sehingga serapan juga bertambah. Sehingga didapat

persamaan: A= a x c. Kedua persamaan ini digabungkan maka diperoleh bahwa

serapan berbanding lurus dengan konsentrasi dan ketebalan sel yang dapat ditulis

dengan persamaan sebagai berikut:

A= a x b x c.

Keterangan : A : Absorbansi

a : Absorbstivitas (mol/liter)

b : Ketebalan Sel

c : Konsentrasi zat (gram/liter)

A=εxbxc

Keterangan : A : Absorbansi

ε : Absorptivitas molar

b : Ketebalan sel

c : Konsentrasi zat (mol/liter)

9
Absorptivitas spesifik dapat juga sering digunakan untuk menggantikan

absorptivitas. Absorptivitas spesifik adalah serapan yang dihasilkan oleh larutan

1% (b/v) dengan ketebalan sel 1 cm, sehingga satuan c (konsentrasi) bahan yang

diukur dalam % (g/100ml), dapat diperoleh persamaan:

A = A11.b.c

Keterangan : A : Absorbansi

A11 : Absorptivitas spesifik

b : Ketebalan sel

c : Konsentrasi zat (gram/100ml)

Hukum Lambert-Beer menjadi dasar aspek kuantitatif spektrofotometri

yaitu konsentrasi dapat dihitung berdasarkan berdasarkan rumus diatas.

Absorptivitas (a) merupakan konstanta yang tidak tergantung pada konsentrasi

tebal kuvet dan intensitas radiasi yang mengenai larutan sampel. Absorbtivitas

tergantung pada suhu, pelarut, struktur molekul, dan panjang gelombang radiasi

(Rohman, 2007).

Alat spektrofotometer pada dasarnya terdiri dari sumber monokromator,

tempat sel untuk zat yang diperiksa, detektor, penguat arus, dan alat ukur atau

pencatat. Spektrofotometer bisa bekerja secara otomatik ataupun manual, dapat

mempunyai sinar tunggal ataupun ganda. Sel serap yang digunakan untuk

pengukuran dibuat dari kaca, umumnya mempunyai ketebalan 1 cm. Sel serap

yang digunakan untuk larutan uji dan blanko harus mempunyai transmita yang

sama (Farmakope Indonesia Edisi IV Tahun 1995).

Langkah-langkah yang dilakukan dalam analisa secara spektrofotometri

adalah:

10
1. Pembuatan larutan baku pembanding.

2. Pemilihan panjang gelombang maksimum

3. Pembuatan kurva kalibrasi. Suatu zat yang dapat dilakukan dengan

menggunakan persamaan garis regresi. Persamaan garis regresi ini

didapatkan dengan cara membuat kurva kalibrasi yaitu dengan pengukuran

absorbansi bahan baku pembanding dalam berbagai konsentrasi, sehingga

diperoleh konsentrasi dan pengukuran radiasi penetapan kadar.

4. Pengukuran absorbansi sampel. Sampel yang telah dipersiapkan diukur

pada panjang gelombang yang sama dengan larutan baku pembanding,

sehingga kadarnya dapat dihitung menggunakan persamaan garis regresi

atau perbandingan pendekatan.

2.5.2 Cara perhitungan kadar pada Spektrofotometri

Setelah diperoleh absorbansi sampel, dapat dihitung konsentrasi sampel

dengan dua cara yaitu:

1. Menggunakan persamaan garis regresi : Y = Ax + b

X = Konsentrasi sampel

2. Menggunakan perbandingan pendekatan : Cs = [Link]/Ab

Keterangan : As = serapan sempel

Ab = serapan standar

Cb = konsentrasi standar

Cs = konsentrasi sempel

Setelah diperoleh konsentrasi sampel dilanjutkan perhitungan kadarnya

menggunakan :

x Faktor pengenceran x 100 %

11

Anda mungkin juga menyukai