BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Tindakan pre operasi dan pre anestesi merupakan stresor bagi pasien
yang dapat membangkitkan reaksi stres baik secara fisiologis maupun
psikologis. Respon psikologis bisa merupakan kecemasan (Priscilla, Burke &
Bauldoff, 2017). Pada umumnya kecemasan pasien pre operasi dimulai ketika
dokter menyatakan operasi dengan puncak mendekati waktu operasi dengan
tanda-tanda pasien gelisah, nadi cepat, tensi meningkat, sering bertanya-tanya,
mengulang-ulang perkataan dan bahkan sampai menangis (Maryunani, 2015).
Kondisi ini sangat membahayakan pasien, sehingga dapat dibatalkan atau
ditundanya suatu operasi, bahkan ancaman timbulnya kecacatan atau kematian
(Flora, Rejeki & Wargahadibrata, 2014).
Pasien yang baru pertama kali melakukan operasi menimbulkan
kecemasan. Penyebab kecemasan secara umum dipengaruhi oleh rasa khawatir
terhadap nyeri yang akan dialami dan tindakan anestesi (Sjamsuhidajat,
Prasetyono & Riwanto, 2017). Salah satu teknik dalam anestesi yaitu spinal
anestesi yang dapat meningkatkan kecemasan pre operasi. Menurut Affandi
(2017), hal ini disebabkan karena pasien tetap sadar selama operasi, pasien
akan melihat, mendengar semua prosedur operasi, ini bisa menyebabkan
kecemasan pasien bertambah. Faktor kurang informasi menyebabkan pasien
menjadi cemas karena tidak ada informasi sebelumnya jika dengan teknik
spinal anestesi pasien masih dalam keadaan sadar.
1
2
Undang-Undang Republik Indonesia No. 44 Tahun 2009 tentang
Rumah Sakit menyebutkan dalam pasal 29 dan 32 bahwa rumah sakit wajib
memberikan pelayanan yang aman, bermutu, antidiskriminasi, efektif dan
efisien sehingga terhidar dari kerugian fisik dan materi (Pemerintah Indonesia,
2009). Berdasarkan undang-undang tersebut dapat disimpulkan bahwa rumah
sakit dituntut untuk memberikan pelayanan bermutu, aman, efektif dan efisien
sesuai dengan kondisi pasien, salah satunya dalam pelayanan pemberian
pendidikan kesehatan pre operasi.
Peran perawat sebagai seorang edukator yang tentunya sangat
diperlukan. Perawat dalam menjalankan peran sebagai pemberi pelayanan
dapat memberikan intervensi untuk menurunkan kecemasan dengan cara
memberikan pre op teaching. Memberikan pendidikan kesehatan pre operasi
pasien akan memperoleh informasi yang jelas mengenai anestesi dan
pengalaman operasi yang dijalani (Fadli, Toalib & Kassaming, 2019). Media
yang digunakan dalam pendidikan kesehatan yaitu booklet, leaflet, flip chart,
poster, flayer, dan audio visual (Notoadmodjo, 2017). Penelitian yang
dilakukan Sukariaji, Surantana, Sutejo, dan Prayogi (2017), bahwa ada
pengaruh yang signifikan pemberia pendidikan kesehatan menggunakan
booklet spinal anestesi terhadap kecemasan pada pasien sectio caecarea di
RSUD Dr. Tjitrowardojo Purworejo.
Pendidikan kesehatan dengan menggunakan audio visual memberikan
stimulus pada penglihatan dan pendengaran, sehingga hasil yang diperoleh
lebih maksimal. Menurut Waryana (2016), daya serap pancaindera manusia
3
terhadap informasi tidaklah sama, masing-masing pancaindera manusia
memiliki karakteristik tersendiri dalam daya serap informasi pengetahuan.
Indera penglihatan (visual) mencapai 82%, pendegaran (audio) 11%, peraba
3,5%, perasa 2,5% dan penciuman 1%. Hal ini dibuktikan oleh studi kualitatif
Kaur, Singh, dan Sharda (2016), bahwa pendidikan kesehatan di rumah sakit
desa di India menggunakan audio visual memberikan informasi yang efektif,
efesien, tidak tergesa-gesa, terperinci dan dapat digunakan di ruang lingkup pre
operasi dan prosedur anestesi. Mendengarkan musik klasik mozart sendiri
memiliki kekuatan yang membebaskan, mengobati dan menyembuhkan. Hal ini
sejalan penelitian Anita (2018), bahwa ada penurunan kecemasan pada pasien
pre operasi anestesi umum dengan pemberian terapi musik klasik mozart di
RSUD Sleman Yogyakarta.
Aplikasi audio visual spinal anestesi merupakan aplikasi berbasis
android dibuat untuk menyampaikan materi pendidikan kesehatan tentang
pengertian spinal anestesi, indikasi spinal anestesi, prosedur spinal anestesi,
proses spinal anestesi, kontraindikasi dan komplikasi yang terjadi setelah
dilakukan spinal anestesi. Aplikasi ini dilengkapi dengan video dan terapi
musik klasik mozart. Cherly, Lieshout, dan Schmidt (2015) mengemukakan
bahwa penggunaan terapi media audio visual dapat efektif dalam menurunkan
tingkat kecemasan pada anak-anak pre operasi di Ontari, Canada dibandingkan
terapi yang lain.
Indonesia telah memasuki revolusi industri 4.0 terutama dalam
pemanfaatan teknologi digital. Tugas-tugas dahulu yang dikerjakan manusia,
4
seiring waktu dapat digantikan oleh teknologi. Perangkat teknologi sejatinya
diciptakan untuk memudahkan dalam menjalani berbagi aktivitas kehidupan
sehingga memicu perubahan sikap, perilaku, dan cara hidup yang semakin
efisien dan produktif, serta perubahan gaya hidup yang semakin modern.
Konsekuensinya, pendekatan dan kemampuan baru diperlukan untuk
membangun sistem yang inovatif dan berkelanjutan (i-scoop, 2018). Indonesia
merupakan negara pengguna sistem operasi android terbesar di kawasan Asia
Tenggara. Perkiraan di tahun 2019 pengguna sistem operasi android di
Indonesia menjadi 92 juta pengguna, tingginya akses ini didukung oleh
populasi penduduk yang mencapai 255 juta (eMarketer, 2016).
Berdasarkan hasil studi pendahuluan yang diperoleh dari RSU PKU
Muhammadiyah Bantul, rata-rata pasien yang menjalani operasi dengan spinal
anestesi selama Juli sampai September 2019 setiap bulan terdapat 212 kasus.
(Rekam Medik RSU PKU Muhammadiyah Bantul). Pasien yang akan
dilakukan operasi dengan anestesi spinal, rata-rata masih mengalami
kecemasan dan selama ini di RSU PKU Muhammadiyah Bantul belum pernah
dilakukan penelitian menggunakan aplikasi audio visual spinal anestesi
berbasis android.
Peneliti mencoba memberikan pendidikan kesehatan menggunakan
aplikasi audio visual spinal anestesi berbasis android kepada pasien dengan
hasil, pasien lebih mengerti tentang hal-hal yang akan dihadapi dengan harapan
kecemasan pasien menurun setelah mengetahui dan mengerti tentang tindakan
yang akan dilakukan. Sehingga komplikasi dan masalah yang di timbulkan oleh
5
kecemasan dapat diatasi dengan baik. Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk
membuat sebuah penelitian tentang pengaruh pendidikan kesehatan audio
visual android terhadap kecemasan pasien pre operasi spinal anestesi di RSU
PKU Muhammadiyah Bantul.
B. Rumusan Masalah
Penggunaan spinal anestesi dari tahun ke tahun mengalami
perkembangan. Disisi lain, efek dari spinal anestesi menyebabkan berbagai
stresor yang dapat menyebabkan rasa khawatir dan kecemasan pada pasien.
Namun, seiring dengan perkembang teknologi efek dari prosedur anestesi mulai
menurun, salah satunya dengan pendidikan kesehatan pre operasi yang modern.
Hal ini di dukung dengan perkembangan ilmu teknologi di bidang keperawatan
yang semakin maju. Pendidikan kesehatan pre operasi menggunakan aplikasi
audio visual spinal anestesi berbasis android sangat jarang dipakai.
Berdasarkan dari uraian dalam latar belakang masalah diatas, dapat
dirumuskan pertanyaan peneliti sebagai berikut “Apakah ada pengaruh
pendidikan kesehatan audio visual android terhadap kecemasan pasien pre
operasi spinal anestesi di RSU PKU Muhammadiyah Bantul?”
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Mengetahui pengaruh pendidikan kesehatan audio visual android terhadap
kecemasan pasien pre operasi spinal anestesi di RSU PKU Muhammadiyah
Bantul.
6
2. Tujuan Khusus
a. Diketahuinya tingkat kecemasan pasien sebelum dan sesudah diberikan
aplikasi audio visual spinal anestesi pada kelompok intervensi di RSU
PKU Muhammadiyah Bantul.
b. Diketahuinya tingkat kecemasan pasien sebelum dan sesudah pada
kelompok kontrol di RSU PKU Muhammadiyah Bantul.
c. Diketahuinya perbedaan kecemasan pada pasien diberikan aplikasi
audio visual spinal anestesi dan kelompok kontrol di RSU PKU
Muhammadiyah Bantul.
D. Ruang Lingkup
Ruang lingkup penelitian ini pada keperawatan anestesi, untuk
mengetahui pengaruh pendidikan kesehatan audio visual android terhadap
kecemasan pasien pre operasi spinal anestesi di RSU PKU Muhammadiyah
Bantul.
E. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat untuk
kemajuan di bidang ilmu keperawatan terutama tentang pengaruh
pendidikan kesehatan audio visual android terhadap kecemasan pasien pre
operasi spinal anestesi.
7
2. Manfaat Praktis
a. Pasien Spinal Anestesi
Diharapkan mampu mengurangi tingkat kecemasan pada pasien
pre operasi dengan teknik spinal anestesi dan memberikan kepuasan
terhadap pelayanan asuhan keperawatan.
b. Perawat Anestesi RSU PKU Muhammadiyah Bantul
Perawat anestesi dapat meningkatkan peran dengan menerapkan
pendidikan kesehatan menggunakan audio visual berbasis android
terhadap kecemasan pada pasien pre operasi dengan tindakan spinal
anestesi untuk menumbuhkan semangat dan menciptakan kenyamanan
pada pasien.
c. RSU PKU Muhammadiyah Bantul
Dapat menjadi pertimbangan sebagai standar operating
prosedur (SOP) untuk intervensi kepenataan mandiri dalam
menurunkan kecemasan pada pasien pre operasi dengan tindakan spinal
anestesi.
d. Prodi Sarjana Terapan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
Hasil penelitian ini dapat menjadi bahan masukan penelitian
selanjutnya dan juga dapat menjadi bahan referensi materi dalam
pembelajaran bagi kemajuan pendidikan terutama yang berkaitan
tentang pendidikan kesehatan menggunakan audio visual android
terhadap kecemasan pasien pre operasi spinal anestesi.
8
F. Keaslian Penelitian
1. Zakaria, Harmilah, dan Ermawan (2017) meneliti tentang “Pengaruh
Pendidikan Kesehatan Menggunakan Media Video Terhadap Kecemasan
pada Pasien Pre Anestesi dengan Tindakan Spinal Anestesi di RSU PKU
Muhammadiyah Yogyakarta”.
Persamaan dengan peneliti adalah merupakan penelitian quasy
experiment dengan desain penelitian pre test and post test with control
group. Populasi penelitian pasien pre operasi dengan spinal anestesi.
Teknik pengambilan sampel penelitian ini adalah consecutive sampling.
Perbedaan dengan peneliti adalah peneliti menggunakan aplikasi audio
visual berbasis android yang berisi musik mozart dan video tentang spinal
anestesi, sedangkan penelitian ini hanya video spinal anestesi saja tanpa
adanya musik mozart. Peneliti memberikan terapi di ruang rawat inap
dilakukan dua sesi saat kunjungan pre visit anestesi dan 2 jam sebelum
dipindahkan ke kamar operasi dengan durasi pemberian selama 20 menit
setiap sesi, sedangkan penelitian ini diberikan pendidikan kesehatan video
selama 15 menit dan waktu pemberian 1 hari sebelum pasien masuk kamar
operasi.
Peneliti menggunakan instrumen modifikasi Amsterdam
Preoperative anxiety and information scale (APAIS), sedangkan penelitian
ini menggunakan Amsterdam Preoperative Anxiety and Information Scale
(APAIS). Lokasi penelitian ini di RSU PKU Muhammadiyah Yogyakarta,
sedangkan peneliti di RSU PKU Muhammadiyah Bantul.
9
2. Sukariaji, Surantana, Sutejo dan Prayogi (2017) meneliti tentang “Pengaruh
Pemberian Pendidikan Kesehatan Menggunakan Booklet Spinal Anestesi
terhadap Kecemasan pada pasien Sectio Caecarea di RSUD Dr.
Tjitrowardojo Purworejo”.
Persamaan dengan peneliti adalah merupakan penelitian quasy
experiment dengan desain penelitian pre test and post test with control
group. Perbedaan dengan peneliti adalah peneliti menggunakan aplikasi
audio visual berbasis android yang berisi musik mozart dan video tentang
spinal anestesi, sedangkan penelitian ini hanya booklet saja. Peneliti
memberikan terapi di ruang rawat inap dilakukan dua sesi saat kunjungan
pre visit anestesi dan 2 jam sebelum dipindahkan ke kamar operasi dengan
durasi pemberian selama 20 menit setiap sesi, sedangkan penelitian ini
dilakukan dua sesi, 9 jam sebelum operasi dan 2 jam sebelum operasi
dengan durasi pemberian 30 menit setiap sesi. Populasi penelitian ini adalah
pasien sectio caecarea sedangkan peneliti adalah pasien pre operasi dengan
spinal anestesi.
Teknik pengambilan sampel peneliti adalah consecutive sampling
sedangkan penelitian ini adalah purposive sampling. Peneliti menggunakan
instrumen modifikasi Amsterdam Preoperative Anxiety and Information
Scale (APAIS), sedangkan penelitian ini menggunakan Amsterdam
Preoperative Anxiety and Information Scale (APAIS). Lokasi penelitian ini
di RSUD Dr. Tjitrowardojo, Purworejo sedangkan peneliti di RSU PKU
Muhammadiyah Bantul.
10
3. Anita (2018) meneliti tentang “Pengaruh Pemberian Terapi Musik Klasik
Mozart terhadap Kecemasan Pasien Pre Operasi dengan Anestesi Umum di
RSUD Sleman Yogyakarta”.
Persamaan dengan peneliti adalah merupakan penelitian quasy
experiment dengan desain penelitian pre test and post test with control
group dan teknik pengambilan sampel dengan consecutive sampling.
Perbedaan dengan peneliti adalah peneliti menggunakan aplikasi audio
visual berbasis android yang berisi musik mozart dan video tentang spinal
anestesi, sedangkan penelitian ini hanya musik klasik Mozart saja. Peneliti
memberikan terapi di ruang rawat inap dilakukan dua sesi saat kunjungan
pre visit anestesi dan 2 jam sebelum dipindahkan ke kamar operasi dengan
durasi pemberian selama 20 menit setiap sesi, sedangkan penelitian ini 2
jam sebelum operasi dengan durasi pemberian selama 30 menit.
Populasi penelitian ini adalah pasien pasien pre operasi dengan
anestesi umum sedangkan peneliti adalah pasien pre operasi dengan spinal
anestesi. Peneliti menggunakan instrumen modifikasi Amsterdam
Preoperative Anxiety and Information Scale (APAIS), sedangkan penelitian
ini menggunakan Amsterdam Preoperative Anxiety and Information Scale
(APAIS). Lokasi penelitian ini di RSUD Sleman sedangkan peneliti di RSU
PKU Muhammadiyah Bantul.