Keanekaragaman Burung di Hutan Mangrove
Keanekaragaman Burung di Hutan Mangrove
Bird Diversity of Banyuurip Mangrove Forest Area Ujungpangkah, District Gresik Regency
Muhammad Musthofa Mubarrok*, Reni Ambarwati
Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Negeri Surabaya
Abstract
Banyuurip Ujungpangkah Gresik Mangrove forest area has the potential to support bird diversity, but
which land degradation and land use change. This research aimed to identify species of birds, analyze
the diversity and abundance of birds, and describe the environmental carrying capacity for bird
diversity. Sampling was conducted by using birdwatching approach by walking according to the
transect path that has been determined throughout ± 150 meters which was divided into three
observation points. The diversity was analyzed using Shannon-Wiener diversity index, the abundance
was analyzed based on relative abundance, and environmental carrying capacity was analyzed based
on vegetation and environmental physical factors which include temperature and humidity. The
results showed that were 35 species of birds in Banyuurip mangrove forests, which belong to 20
families, and eight orders namely Anseriformes, Apodiformes, Charadriiformes, Ciconiiformes,
Columbiformes, Coraciiformes, Passeriformes, and Piciformes with a diversity index value of 2.3
medium category. The most abundant species of birds are little eggret (Egretta garzetta) of 39.25%,
javan pond heron (Ardeola speciosa) of 14%, and cave swiftlet (Collocalia linchi) of 7.8%. There were
seven dominant species of vegetation that were utilized and supported the existence of birds, namely
Avicennia marina, Azadirachata indica, Rhizophora apiculata, R. mucronata, Calotropis gigantea,
Morinda citrifolia, and Pluchea indica. Banyuurip mangrove forest area can support the bird life,
moreover there were six species of protected birds found in this area.
How to cite: Mubarrok, M.M & Ambarwati, R. (2019). Keanekaragaman Burung di Kawasan Hutan Mangrove Banyuurip
Kecamatan Ujungpangkah Kabupaten Gresik. Jurnal Riset Biologi dan Aplikasinya. 1 (2) : 54-63.
*Correspondence Author:
Jalan Ketintang Gedung C3 Lt. 2 Surabaya 60231, Indonesia e-ISSN: 2655-9927
E-mail: mubarrokmuhammad@[Link]
Jurnal Riset Biologi dan Aplikasinya. 1(2): 54-63, September 2019 | 55
Burung-burung di Sumatera, Jawa, Bali, dan Ujungpangkah Gresik diketahui sembilan jenis
Kalimantan (MacKinnon dkk., 2010) dan identifikasi termasuk burung migran dan 26 jenis termasuk
vegetasi berdasarkan buku panduan Pengenalan burung penetap. Selain itu, diketahui terdapat enam
Mangrove di Indonesia (Noor, dkk., 2006). Status jenis burung yang termasuk dalam status dilindungi
konservasi burung diidentifikasi berdasarkan berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup
Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan dan Kehutanan (LHK) No. P. 106 Tahun 2018
Kehutanan (LHK) No. P. 106 Tahun 2018 dan (Tabel 1).
International Union for Conservation of Nature and Berdasarkan hasil pengamatan diperoleh
Natural Resources (IUCN). sembilan jenis burung migran, yaitu cerek kernyut
Analisis data burung dilakukan secara (Pluvialis fulva), dara laut kumis (Chlidonias hybrida),
deskriptif kuantitatif. Indeks keanekaragaman dara laut sayap putih (Chlidonias leucopterus), gajahan
diukur menggunakan rumus indeks penggala (Numenius phaeopus), trinil kaki hijau
keanekaragaman Shannon-Wiener (Odum, 1993). (Tringa nebularia), trinil kaki merah (Tringa totanus),
ni trinil pantai (Actitis hypoleucos), trinil rawa (Tringa
H’ = - ni ln
N N stagnatilis), dan gagang bayam timur (Himantopus
leucocephalus). Selain itu terdapat enam jenis burung
Keterangan:
H’ = Indeks keanekaragaman Shannon-Wienner di kawasan Hutan Mangrove Banyuurip
Ni = Jumlah suatu jenis Ujungpangkah Gresik dari hasil pengamatan
N = Jumlah seluruh jenis termasuk dalam status dilindungi berdasarkan
Rumus Indeks Kemelimpahan. Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan
Kehutanan No. P. 106 Tahun 2018 dan status
𝑛𝑖
𝐷1 = × 100% konservasinya menurut International Union for
𝑁
Keterangan: Conservation of Nature and Natural Resources
Di = kemelimpahan relatif (%) (IUCN), yaitu cerek jawa (Charadrius javanicus),
ni = jumlah burung setiap spesies dara laut kumis (Chlidonias hybrid), dara laut sayap
N = jumlah total semua burung yang teramati putih (Chlidonias leucopterus), gajahan penggala
(Numenius phaeopus), cangak laut (Ardea sumatrana),
Menurut Krebs (1989) analisis menggunakan dan bangau tongtong (Leptoptilos javanicus).
parameter kerapatan relatif terdapat beberapa Berdasarkan hasil perhitungan nilai indeks
kategori, yaitu: keanekaragaman jenis burung di kawasan Hutan
- Kerapatan relatif > 5% : Dominan Mangrove Banyuurip Ujungpangkah Gresik
- Kerapatan relatif 2%-5% : Subdominan diperoleh nilai indeks keanekaragaman burung
- Kerapatan relatif < 5% : Nondominan
sebesar 2,3 yang termasuk dalam kategori sedang.
Vegetasi mangrove diidentifikasi
Setiap stasiun pengamatan di kawasan Hutan
berdasarkan Noor, dkk. (2009) dan data dianalisis
Mangrove Banyuurip Ujungpangkah Gresik
secara deskriptif.
memiliki kondisi lingkungan yang berbeda. Paling
tinggi indeks keanekaragaman adalah stasiun tiga,
HASIL DAN PEMBAHASAN namun semua stasiun memiliki keanekaragaman
Berdasarkan hasil pengamatan burung selama dengan kategori sedang (Tabel 2).
tiga hari di kawasan Hutan Mangrove Banyuurip Berdasarkan pengamatan burung di kawasan
Ujungpangkah Gresik diperoleh sebanyak 35 jenis Hutan Mangrove Banyuurip Ujungpangkah Gresik,
burung yang termasuk dalam 20 famili dan delapan diperoleh beberapa jenis burung yang memiliki
ordo, yaitu Anseriformes, Apodiformes, kemelimpahan relatif yang paling tinggi yaitu,
Charadriiformes, Ciconiiformes, Columbiformes, kuntul kecil (Egretta garzetta) dengan nilai
Coraciiformes, Passeriformes, dan Piciformes. kemelimpahan relatif sebesar 39,25% merupakan
Beberapa jenis burung dalam delapan ordo yang jenis burung yang banyak dijumpai, kemudian
ditemukan di kawasan Hutan Mangrove Banyuurip blekok sawah (Ardeola speciosa) dengan nilai
Ujungpangkah Gresik (Gambar 1). Jenis-jenis kemelimpahan relatif sebesar 14%, dan walet linci
burung yang diperoleh selama pengamatan di (Collocalia linchi) dengan nilai kemelimpahan relatif
kawasan Hutan Mangrove Banyuurip sebesar 7,8% (Gambar 2).
Ujungpangkah Gresik. Berdasarkan hasil
identifikasi dari 35 jenis burung yang ditemukan di
kawasan Hutan Mangrove Banyuurip
Jurnal Riset Biologi dan Aplikasinya. 1(2): 54-63, September 2019 | 5557
(g) (h)
Gambar 1. Beberapa jenis burung yang dijumpai di kawasan Hutan Mangrove Banyuurip Kecamatan
Ujungpangkah Kabupaten Gresik, a. Itik benjut (Anas gibberifrons), b. Walet linci (Collocalia linchi), c. Gagang-
bayam timur (Himantopus leucocephalus), d. Kokoan laut (Butorides striata), e. Tekukur biasa (Streptopelia chinensis),
f. Raja udang biru (Alcedo coerulescens), g. Kapasan kemiri (Lalage nigra), h. Caladi ulam (Dendrocopos macei)
Tabel 2. Indeks Keanekaragaman Jenis Burung Setiap Stasiun Pengamatan di Kawasan Hutan Mangrove
Banyuurip Kecamatan Ujungpangkah Kabupaten Gresik
(a) (b)
Gambar 3. a. Bangau tongtong (Leptoptilos javanicus), b. Kipasan belang (Rhipidura javanica)
Selain itu juga terdapat beberapa jenis burung telah dihitung diperoleh sebesar 2,3 yang termasuk
yang sedikit dijumpai di kawasan Hutan Mangrove dalam kategori sedang. Hal tersebut dapat
Banyuurip Ujungpangkah Gresik, yaitu bangau dinyatakan bahwa kawasan Hutan Mangrove
tongtong (Leptoptilos javanicus), Kipasan belang Banyuurip Ujungpangkah Gresik merupakan
(Rhipidura javanica) (Gambar 3), trinil rawa (Tringa kawasan yang mendukung keberadaan burung
stagnatilis), dan remetuk laut (Gerygone sulphurea) dalam menyediakan berbagai sumber makanan dan
dengan nilai kemelimpahan relatif sebesar 0,04%. tempat tinggal. Keberadaan burung dalam suatu
Dalam beraktivitas, burung memanfaatkan kawasan disebabkan karena pada kawasan tersebut
berbagai vegetasi yang terdapat di kawasan Hutan tersedia sumber makanan dan minuman yang
Mangrove Banyuurip Ujungpangkah Gresik untuk melimpah, serta memiliki manfaat bagi burung
mendukung aktivitasnya. Selama pengamatan yang untuk berlindung, istirahat dan tempat berbiak
dilakukan, tercatat 7 jenis vegetasi yang sering (Alikodra, 2002).
dimanfatkan dan mendukung keberadaan burung di Selain itu, mangrove merupakan habitat yang
kawasan tersebut, yaitu api-api putih (Avicennia penting bagi beberapa jenis burung air maupun
marina), imba (Azadirachata indica), tinjang burung darat. Habitat mangrove banyak
(Rhizophora apiculata), jankar (Rhizophora dimanfaatkan sebagai tempat mencari makan,
mucronata), biduri (Calotropis gigantea), mengkudu beristirahat maupun berbiak. Habitat mangrove
(Morinda citrifolia), dan luntas (Pluchea indica). juga memberikan ruang bagi beberapa burung air
Hasil pengukuran faktor fisik lingkungan yang dalam membuat sarang. Bagi burung migran selain
dilakukan selama pengamatan pada pagi dan siang akar mangrove yang dimanfaatkan sebagai tempat
hari, diperoleh perbedaan pengukuran faktor suhu beristirahat saat air pasang, ketersediaan hamparan
dan kelembapan udara. Hasil nilai rata-rata lumpur pada habitat mangrove merupakan tempat
pengukuran faktor fisik suhu seluruh stasiun pada yang cocok untuk mencari makan (Howes, dkk.,
pagi hari sebesar 30,3 °C dan nilai kelembapan 2003). Perbedaan kondisi lingkungan setiap stasiun
udara sebesar 67,7%. Nilai rata-rata pengukuran pengamatan memengaruhi keanekaragaman burung
faktor fisik suhu seluruh stasiun pada siang hari di setiap stasiun. Stasiun satu merupakan kawasan
sebesar 33,9 °C dan nilai kelembapan udara sebesar wisata mangrove Banyuurip dan sekitarnya, stasiun
57,1%. Pengukuran faktor fisik berupa suhu dan dua merupakan kawasan pesisir pantai sebelah
kelembapan udara dilakukan untuk mengetahui barat, stasiun tiga merupakan kawasan pertambakan
perbedaan kondisi fisik kawasan saat pengamatan dan stasiun empat merupakan kawasan pesisir
burung berlangsung pada waktu pagi dan siang pantai sebelah utara. Hal tersebut sesuai dengan
hari. pernyataan Sajithiran dkk. (2004) bahwa
Berdasarkan hasil pengamatan di Kawasan keanekaragaman spesies burung dipengaruhi oleh
Hutan Mangrove Banyuurip Ujungpangkah Gresik beberapa faktor, yaitu habitat dan faktor lingkungan
diperoleh sejumlah 35 jenis burung yang berasal yang berupa iklim yang mampu mendukung
dari 20 famili dan delapan ordo, yaitu Anseriformes, keberadaan burung pada suatu kawasan.
Apodiformes, Charadriiformes, Ciconiiformes, Stasiun satu merupakan kawasan wisata Hutan
Columbiformes, Coraciiformes, Passeriformes, Mangrove Banyuurip dan kawasan tambak. Pada
Piciformes yang terdiri dari jenis burung hutan, stasiun satu dijumpai sebanyak 23 jenis burung
burung air, burung pantai. Nilai indeks dengan nilai indeks keanekaragaman 1,96. Di area
keanekaragaman (H’) burung di kawasan Hutan tersebut dijumpai berbagai macam vegetasi yang
Mangrove Banyuurip Ujungpangkah Gresik yang didominasi oleh api-api putih (Avicennia marina),
60
59 | Mubarok & Ambarwati; Keanekaragaman Burung di Kawasan Hutan Mangrove Banyuurip
jankar (Rhizophora mucronata), dan luntas (Plucea vegetasi yang terdapat di lokasi seperti biduri dan
indica) yang dimanfaatkan oleh berbagai jenis luntas yang dimanfaatkan oleh berbagai jenis
burung untuk bersarang dan beristirahat seperti burung terutama bagi burung yang memiliki
bondol peking dan layang-layang loreng. ukuran tubuh kecil sebagai tempat berlindung baik
Keberadaan vegetasi mangrove yang dominan di dari pemangsa, dingin dan hembusan angin kencang
stasiun satu memberikan manfaat burung sebagai (Rusmendro, dkk., 2009). Lokasi pertambakan dapat
tempat bersarang maupun istirahat mendukung keberadaan berbagai jenis burung,
(Swastikaningrum dkk., 2012). terutama burung air dikarenakan memiliki habitat
Stasiun dua merupakan area pesisir pantai. berupa lahan basah serta kondisi yang dekat
Pada stasiun dua dijumpai sebanyak 19 jenis burung dengan laut, selain itu disebabkan karena pada
dengan nilai indeks keanekaragaman 2,20. Di area tambak terdapat oulet atau kanal pembuangan air
tersebut dijumpai berbagai macam vegetasi yang di tambak terdapat sumber makanan yang banyak
dominasi oleh api-api putih (A. marina) dan imba (A. seperti udang dan ikan yang merupakan pakan bagi
indica). Keberadaan vegetasi di sepanjang pesisir burung air (Master dkk., 2016).
pantai mendukung keberadaan burung–burung, Pada stasiun empat yang merupakan area
selain itu kondisi substrat pantai yang berupa pasir pesisir pantai yang memiliki nilai indeks
dan lumpur merupakan tempat yang memiliki keanekaragaman burung terendah dengan nilai
banyak sumber makanan bagi burung air maupun sebesar 1,26 dengan jumlah burung yang teramati
burung pantai. Saat surut banyak dijumpai berbagai sebanyak 15 jenis burung. Rendahnya nilai
jenis burung pantai maupun burung air seperti keanekaragaman pada stasiun tersebut dikarenakan
blekok sawah, kuntul kecil, dara laut sayap putih, saat proses pengamatan sering dijumpai aktivitas
dara laut kumis, gajahan penggala, cerek jawa dan nelayan di sekitar area pengamatan serta hanya
trinil kaki merah yang sedang mencari makan. terdapat dua vegetasi mendominasi, yaitu api-api
Daerah pasang surut merupakan area untuk putih (Avicennia marina) dan jankar (Rhizophora
mencari makan bagi burung pantai, sehingga mucronata). Kondisi habitat yang baik bagi burung
burung pantai hanya mencari makan pada saat air yakni menyimpan berbagai macam sumber makanan
pantai surut (Arbi, 2008). Pada substrat lumpur dan habitat tersebut jauh dari gangguan atau
dijumpai berbagai jenis hewan invertebrata seperti aktivitas manusia, sehingga memungkinkan
moluska dan krustasea sehingga saat kondisi pasang banyaknya spesies burung yang singgah di lokasi
merupakan tempat yang baik bagi burung air dan tersebut (Widodo dkk., 2009). Keberadaan aktivitas
burung pantai untuk mencari makan (Elfidasari, manusia pada suatu kawasan dapat berpengaruh
2006). terhadap komposisi jenis burung di kawasan
Nilai indeks keanekaragaman tertinggi tedapat tersebut (Wasito & Yuliana, 2007).
pada stasiun tiga yang merupakan area Jenis burung yang paling banyak dijumpai
pertambakan dengan nilai sebesar 2,57. Kondisi selama pengamatan di kawasan Hutan Mangrove
kawasan pertambakan pada stasiun tiga dapat Banyuurip Ujungpangkah Gresik adalah kuntul
dilihat pada Gambar 4.6, pada stasiun ini jumlah kecil (Egretta garzetta) dengan nilai kemelimpahan
burung yang dijumpai sama dengan satsiun satu, relatif tertinggi sebesar 39,25%. Selain itu blekok
yaitu sebanyak 23 jenis burung selama pengamatan. sawah (Ardeola speciosa) dengan nilai kemelimpahan
Tingginya keanekaragaman burung pada stasiun 14% dan walet linci (Collocalia linchi) juga banyak
tersebut dikarenakan banyaknya sumber makanan dijumpai dengan nilai kemelimpahan 7,8%.
dan air di area pertambakan serta banyak vegetasi Kemelimpahan burung pada suatu kawasan dapat
yang mendominasi di area tersebut adalah api-api disebabkan karena ketersediaannya sumber
putih (Avicennia marina), biduri (Calotropis gigantea), makanan bagi burung. Selain itu keberhasilan dalam
dan luntas (Pluchea indica). Keberadaan vegetasi membuat relung bagi burung, menyebabkan
tersebut sangat mendukung keberadaan burung di beberapa kelompok burung dapat bertahan hidup
stasiun tiga, sehingga sering dimanfaatkan sebagian pada kawasan tersebut karena berkurangnya
besar burung untuk bertengger dan berlindung. kompetisi dalam memenuhi kebutuhan sumber daya
Tingginya nilai indeks keanekaragaman pada serta sebagai proses adaptasi pada kondisi
stasiun tiga disebabkan karena lokasi tersebut lingkungan di kawasan tersebut (Elfidasari &
menyediakan banyak sumber makanan bagi Jurnardi, 2006).
berbagai jenis burung, terutama bagi burung air Kuntul kecil (Egretta garzetta) merupakan salah
(Swastikaningrum dkk., 2012). Selain itu banyaknya satu burung air yang sering terlihat hidup dan
61
Jurnal Riset Biologi dan Aplikasinya. 1(2): 54-63, September 2019 | 55
mencari makan secara berkelompok. Keberadaan diketahui beberapa vegetasi yang dimanfaatkan oleh
kuntul kecil yang mendominasi di kawasan Hutan burung adalah api-api putih (Avicennia marina), imba
Mangrove Banyuurip Ujungpangkah Gresik dengan (Azadirachata indica), tinjang (Rhizophora apiculata),
nilai kemelimpahan 39,25%, selain itu juga jankar (Rhizophora mucronata), biduri (Calotropis
mendominasi pada stasiun 1, 2 dan 4 dengan nilai gigantea), mengkudu (Morinda citrifolia), dan luntas
kemelimpahan relatif secara berturut-turut sebesar (Pluchea indica). Keberadaan jenis burung pada
48,05%; 26,05%; dan 59,07%. Hal tersebut suatu kawasan dapat dipengarauhi oleh kondisi
dikarenakan Hutan Mangrove Banyuurip lingkungan seperti jenis vegetasi, habitat
Ujungpangkah Gresik merupakan kawasan yang pendukung dan kenyamanan (Hadinoto, dkk., 2012).
menyediakan sumber makanan yang berlimpah Keberadaan api-api putih yang hampir ada di setiap
khususnya bagi berbagai burung. Salah satu sumber stasiun pengamatan sering dimanfaatkan oleh
makanan berasal dari area pertambakan yang berbagai jenis burung seperti remetuk laut, merbah
menyediakan sumber makanan berupa air dan hasil cerukcuk, cucak kutilang, madu sriganti, gereja
tambak seperti udang maupun ikan yang mati. erasia, bondol peking, bondol jawa, cekakak sungai,
Kegagalan panen hasil tambak seperti udang dan raja udang biru untuk bertengger maupun
ikan memberikan keuntungan besar bagi berbagai beristirahat. Keberadaan vegetasi maupun
jenis burung, sehingga dengan kondisi pertambakan komposisi tumbuhan berpengaruh terhadap
tersebut burung mendapatkan banyak makanan. keanekaragaman dan kemelimpahan burung di
Kegagalan panen tersebut menyebabkan keberadaan suatu kawasan karena terkait dengan ketersediaan
kuntul kecil sangat melimpah dibandingkan dengan sumber makanan, tempat tinggal, dan tempat
jenis burung yang lain. Hal tersebut sesuai dengan berlindung (Gafur, dkk., 2016; Kuswanda, 2010).
pernyataan Elfidasari (2005) bahwa jenis mangsa Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di
yang biasa ditangkap kuntul kecil adalah ikan, kawasan hutan Mangrove Banyuurip
katak, kepiting, udang, kerang, moluska, cacing Ujungpangkah Gresik dapat diketahui bahwa
tanah dan serangga. Kuntul kecil banyak dijumpai kawasan tersebut mendukung keberadaan burung
mencari makan di daerah berlumpur dan tambak dan dapat dijadikan sebagai kawasan konservasi.
dikarenakan ketinggian air yang sedang dan Selain itu perlunya peran serta masyarakat dalam
banyaknya sumber makanan serta kondisi perairan mendukung kegiatan konservasi burung di kawasan
yang tenang (Elfidasari, 2006). Hutan Mangrove Banyuurip Kecamatan
Bangau tongtong (Leptoptilos javanicus) Ujungpangkah Kabupaten Gresik. Oleh karena itu,
merupakan salah satu jenis burung yang teramati dengan adanya program konservasi burung di
sekali selama pengamatan dan memiliki nilai indeks kawasan tersebut, maka dukungan masyarakat
kemelimpahan terendah, yaitu sebesar 0,04%. setempat sangat diperlukan seperti menjadikan
Perjumpaan dengan bangau tongtong terjadi di kawasan mangrove sabagai kawasan edukasi,
stasiun tiga sedang terbang berputar. Menurut membantu dalam melarang adanya kegiatan
Peraturan Menteri LH dan Kehutanan No. 106 berburu burung, dan penanaman serta perawatan
Tahun 2018, bangau tongtong merupakan salah kawasan mangrove sehingga dapat terus
satu jenis burung yang memiliki status dilindungi. mendukung keberadaan burung di kawasan
Menurunnya populasi burung ini yang salah satu tersebut. Hal tersebut sesuai dengan Prasenja
faktor penyebabnya adalah degradasi dan konversi (2018) yang menyatakan bahwa peran serta
hutan (Sutiawan dan Hernowo, 2016). Sehingga masyarakat dalam pengelolaan hutan mangrove
menurut IUCN berada dalam status vulnerable. sangatlah penting untuk dapat mencapai tujuan
Habitat sebaran bangau tongtong biasanya di lahan pengelolaan berkelanjutan dalam mengkonservasi
basah seperti tanah berlumpur dan genangan air, kawasan hutan mangrove.
hal tersebut berkaitan dengan ketersediaan sumber
makan, tempat istirahat dan tempat berlindung. SIMPULAN
Karakter habitat bangau tongtong dalam mencari Berdasarkan hasil penelitian di Kawasan Hutan
makanan adalah area terbuka dengan substrat Mangrove Banyuurip Kecamatan Ujungpangkah
berlumpur. Jenis pakan bangau tongtong di area Kabupaten Gresik diperoleh sejumlah 35 jenis
lahan basah berupa ikan dan kepiting (Sutiawan dan burung yang termasuk dalam 20 famili dan delapan
Hernowo, 2016). ordo, yaitu Anseriformes, Apodiformes,
Selama pengamatan di kawasan Hutan Charadriiformes, Ciconiiformes, Columbiformes,
Mangrove Banyuurip Ujungpangkah Gresik, Coraciiformes, Passeriformes, dan Piciformes
6261 | Mubarok & Ambarwati; Keanekaragaman Burung di Kawasan Hutan Mangrove Banyuurip
dengan nilai indeks keanekaragaman sebesar 2,3 Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Jawa
yang termasuk dalam kategori sedang. Jenis burung Timur. 2009. Kerusakan Mangrove di Pantura
yang paling melimpah adalah kuntul kecil (Egretta Gresik Harus Dikonservasi. Online. Diakses 02
garzetta) sebesar 39,25%, blekok sawah (Ardeola Oktober 2018, dari
speciosa) sebesar 14%, dan wallet linci (Collocalia [Link]
linchi) sebesar 7,8%. Daya dukung lingkungan [Link]/read/umum/ 19294-luas-hutan-
berdasarkan vegetasi diperoleh tujuh jenis vegetasi mangrove.
yang dominan dimanfaatkan dan mendukung Elfidasari, D. (2005). Pengaruh Perbedaan Lokasi
keberadaan burung di kawasan tersebut, yaitu api- Mencari Makan Terhadap Keragaman Mangsa
api putih (Avicennia marina), imba/mimba Tiga Jenis Kuntul di Cagar Alam Pulau Dua
(Azadirachata indica), tinjang (Rhizophora apiculata), Serang: Casmerodius albus, Egretta garzetta,
jankar (R. mucronata), biduri/widuri (Calotropis Bubulcus ibis. Makara, Sains. 9 (1): 7-12. Diakses
gigantea), Mengkudu (Morinda citrifolia), dan luntas dari
(Pluchea indica). Faktor fisik lingkungan yang [Link]
mendukung keberadaan burung pada pagi dan siang 416687.
hari suhu rata-rata 30,3-33,9°C dan kelembapan Elfidasari, D. (2006). Lokasi Makan Tiga Jenis
udara rata-rata 57,1-67,7%. Kuntul Casmerodius albus, Egretta garzetta, dan
Bubulcus ibis di Sekitar Cagar Alam Pulau Dua
UCAPAN TERIMA KASIH Serang, Propinsi Banten. Biodiversitas, 7(2):
Penulis mengucapkan terimakasih kepada 187-190. DOI:
pengelola kawasan Hutan Mangrove Banyuurip 10.13057/biodiv/d070220.
Ujungpangkah Gresik, serta kepada rekan-rekan Elfidasari, D. & Junardi. (2006). Keragaman Burung
yang turut berkontribusi selama penelitian Air di Kawasan Hutan Mangrove Peniti,
berlangsung. Kabupaten Pontianak. Biodiversitas. Vol. 7(1):
63-66. DOI: 13057/biodiv/d070116.
DAFTAR PUSTAKA Fahrudin, A., M. Arsyad A. A., Taryono K., Andan
Alikodra. (2002). Pengelolaan Satwa Liar Jilid 1. H., Andy A., & Arif T. (2015). Pemetaan Sosial
Bogor: Yayasan Penerbit Fakultas Kehutanan (Social Mapping). Bogor: Working Paper
IPB. PKSPL-IPB. 6 (2) : 1-50. Diakses dari
Arbi, U. Y. (2008).Burung Pantai Pemangsa [Link]
Krustasea. Oseana. 13 (2): 1-8. Diakses dari sosial-social-mapping-di-wilayah-pesisir-
[Link] kabupaten-gresik.
_xxxiii(2)[Link]. Gafur, A., Labiro, E., & Ihsan, M. (2016). Asosiasi
Aristides, Y., Purnomo, A. & Samekso, F. A. (2016. Jenis Burung pada Kawasan Hutan Mangrove
Perlindungan Satwa Langka Di Indonesia Dari di Anjungan Kota Palu. Warta Rimba. 4(1): 42-
Perspektif Convention On International Trade In 48. Diakses
Endangered Species Of Flora And Fauna dari[Link]
(CITES). Diponegoro Law Jurnal. 5 (4): 1-17. /WartaRimba/article/view/7069/5688.
Diakses dari Hadinoto, Mulyadi, A., Siregar, Y.I. (2012).
[Link] Keanekaragaman Jenis Burung di Hutan Kota
[Link]. Pekanbaru. Jurnal Ilmu Lingkungan. 6(1): 25-
Bismark, M. (2011). Prosedur Operasi Standar (SOP) 42. Diakses dari
untuk Survei Keragaman Jenis pada Kawasan [Link]
Konservasi. Bogor: Pusat Penelitian dan Keanekaragaman-jenis-burung-di-hutan-kota-
Pengembangan Perubahan Iklim dan [Link].
Kebijakan Badan Penelitian dan Hidayah, N. (2018). Studi Penurunan Luasan Lahan
Pengembangan Kehutanan. Mangrove di Kecamatan Ujungpangkah,
Burung Indonesia. (2018, 31 Mei). Burung Khas Kabupaten Gresik. Jurnal Swara Bumi. 5(61):
Indonesia Bertambah Lagi. Online. Diakses 13 162-169. Diakses dari
November 2019, dari [Link]
[Link] /swara-bhumi/article/view/24134/22061.
pers-jenis-burung-khas-indonesia-bertambah- Hidayat, O. (2013). Keanekaragaman Spesies
lagi/. Avifauna di KDHTK Hambala Nusa Tenggara
Jurnal Riset Biologi dan Aplikasinya. 1(2): 54-63, September 2019 | 5563