Asuhan Keperawatan Diabetes Melitus
Asuhan Keperawatan Diabetes Melitus
K DENGAN MASALAH
KEPERAWATAN UTAMA GANGGUAN INTEGRITAS KULIT PADA
PASIEN DIABETES MELITUS DI RUANG MAWAR
RS PROF Dr MARGONO SOEKARJO PURWOKERTO
Disusun Oleh:
FEBRIANA NURUL DAM
A32020039
2021
HALAMAN PENGESAHAN
Disusun Oleh:
FEBRIANA NURUL DAM
A32020039
1. PENGERTIAN
Ketidakstabilan kadar glukosa darah adalah variansi kadar glukosa darah naik/
turun dari rentang normal (SDKI, 2017). Ketidakstabilan kadar glukosa darah adalah
suatu kondisi dimana nilai kadar gula didalam darah berada diatas maupun dibawah
kisaran normal. Pasien dengan Diabetes Mellitus beresiko memiliki kadar glukosa
darah yang tidak stabil, dimana glukosa yang stabil berada tidak diatas ataupun
dibawah normal (Wilkinson, 2011). Ketidakstabilan kadar glukosa darah menurut
SDKI (2016) yaitu peningkatan volume cairan intrakranial, intersisial atau intraselular.
2. ETIOLOGI
a. Hiperglikemia
1) Disfungsi pankreas
2) Resistensi insulin
3) Gangguan toleransi glukosa darah
4) Gangguan glukosa darah puasa
b. Hipoglikemia
1) Penggunaan insulin atau obat glikemik oral
2) Hiperinsulinemia
3) Endokrinopati
4) Disfungsi hati
5) Disfungsi ginjal kronik
6) Efek agen farmakologis
7) Tindakan pembedahan neoplasma
8) Gangguan metabolik bawaan (misalnya: gangguan penyimpanan lisosomal,
galaktosemia, gangguan penyimpanan glikogen)
3. MANIFESTASI KLINIS
a. Data Mayor
1) Subjektif
a) Hipoglikemia
(1) Mengantuk
(2) Pusing
b) Hiperglikemia
(1) Lelah
(2) Lesu
2) Objektif
a) Hipoglikemia
(1) Gangguan koordinasi
(2) Kadar glukosa dalam darah/ urin rendah
b) Hiperglikemia
(1) Kadar glukosa dalam darah/ urin tinggi
b. Data Minor
1) Subjektif
a) Hipoglikemia
(1) Palpitasi
(2) Mengeluh lapar
b) Hiperglikemia
(1) Mulut kering
(2) Haus meningkat
2) Objektif
a) Hipoglikemia
(1) Gemetar
(2) Kesadaran menurun
(3) Perilaku aneh
(4) Sulit bicara
(5) Berkeringat
b) Hiperglikemia
(1) Jumlah urin meningkat
4. PENATALAKSANAAN
Menurut (Wijaya, 2013 dalam Maslikah, 2018) penatalaksanaan Diabetes Mellitus
antara lain :
a. Jangka panjang : mencegah komplikasi
b. Jangka pendek: menghilangkan keluhan atau gejala Diabetes Mellitus
Penatalaksanaan Diabetes Mellitus
a. Diet
Prinsip dari pengaturan makan pada pasien dengan Diabetes Mellitus hampir sama
dengan anjuran makan paa masyarakat pada umumnya yaitu makanan yang
seimbang dan sesuai dengan kebutuhan kalori dan zat gizi masing- masing
individu. Pada kondisi ini ditekankan pentingnya keteraturan makan dalam hal
jadwal makan, jenis dan jumlah makanan yang dikonsumsi, terutama pada
penderita DM yang menggunakan obat penurun glukosa darah.
Perhimpunan diabetes Amerika dan persatuan Dietetik Amerika
merekomendasikan 50-60% kalori dalam tubuh berasal dari:
1) Karbohidrat 60-70%
2) Protein 12-20%
3) Lemak 20-30%
b. Latihan fisik atau olahraga
Dianjurkan kepada penderita Diabetes Mellitus untuk latihan secara teratur kurang
lebih 3 sampai 4 kali selama satu minggu selama kurang lebih 30 menit. Sebagai
contoh dengan olahraga yang ringan sesuai dengan kemampuan seperti jalan kaki
biasa selama 30 menit atau melakukan latihan terapi seperti terapi relaksasi dan
sebagainya. Lebih baik jika menghindari kebiasaan kurang bergerak atau
bermalas- malasan.
c. Pemantauan
Pemantauan kadar glukosa darah secara mandiri, dengan rutin mengecek kadar
glukosa darah dalam tubuh dan melakukan cara diantaranya dengan diet dan
latihan fisik atau olahraga.
d. Terapi jika diperlukan
Terapi bisa dilakukan kepada pasien dengan Diabetes Mellitus jika menginginkan
terapi bisa menggunakan teknik relaksakasi oto ataupun bisa dengan hidroterapy
yang bisa dilakukan untuk menurunkan kadar glukosa darah.
e. Pendidikan
Pendidikan kesehatan merupakan salah satu hal penting dalam pengelolaan.
Pendidikan kesehatan pencegah primer harus diberikan kepada kelompok
masyarakat yang beresiko tinggi. Sedangkan untuk pendidikan sekunder diberikan
kepada kelompok pasien dengan Diabetes Mellitus serta pendidikan kesehatan
untuk pencegahan tersier diberikan kepada pasien yang menderita Diabetes
Mellitus dengan penyulit yang menahun.
f. Obat: oral hipoglikemi dan insulin
Pada pasien yang telah melakukan pengaturan makan dan latihan fisik tetapi
belum bisa mengendalikan kadar glukosa darah maka akan diberikan arahan untuk
mengkonsumsi obat hipoglikemik diantaranya:
1) Antidiabetik oral
Antidiabetik oral ditunjukan untuk penanganan pada pasien Diabetes Mellitus
tipe 2 dengan gejala ringan sampai sedang, yang gagal dikendalikan sengan
pengaturan asupan energi dan karbohidrat serta olahraga.
2) Insulin
Insulin merupakan hormon yang dapat mempengaruhu metabolism
karbohidrat maupun protein dan lemak. Fungsi dari insulin sendiri untuk
menaikan pengambilan glukosa ke dalam sel- sel yang sebagian besar
jaringan, menaikan penguraian glukosa secara oksidatif, menaikan
pembentukan glikogen dalam hati dan otot serta mencegah penguraian
glikogen serta menstimulasi pembentukan protein dan lemak dari glukosa.
5. PATHWAY
6. FOKUS PENGKAJIAN
Pengkajian keperawatan menutu (Wijaya & Putri, 2013 dalam Maslikah, 2018)
a) Pengkajian keperawatan
1) Identitas klien
Berdasarkan jenis kelamin laki- laki 40- 70 dan perempuan usia antara 25-35
tahun. Terjadi pada klien dengan aktivitas kurang berolahraga dan
menyebabkan timbunan lemak, sehingga berat badan meningkat dan bisa
menyebabkan Diabetes Mellitus.
2) Keluhan utama
Klien datang kerumah sakit dengan keluhan nyeri, lemas diseluruh tubuh.
3) Riwayat kesehatan sekarang
(a) Adanya gatal pada kulit disertai luka yang tidak sembuh- sembuh.
(b) Kesemutan.
(c) Penurunan berat badan.
(d) Meningkatnya nafsu makan.
(e) Sering haus.
(f) Banyak kencing.
(g) Menurunnya ketajaman penglihatan.
4) Riwayat kesehatan dahulu
Adanya penyakit Diabetes mellitus riwayat penyakit pankreas, hipertensi
ataupun obesitas.
5) Riwayat kesehatan keluarga
Riwayat penyakit keluarga dengan Diabetes Mellitus.
6) Riwayat psikososial
Meliputi informasi mengenai perilaku, perasaan dan emosi yang dialami
penderita sehubungan dengan penyakitnya serta tanggapan keluarga terhadap
penyakit penderita.
7) Pola fungsi kesehatan
(a) Pola persepsi
Pola persepsi menggambarkan persepsi klien terhadap penyakitnya tentang
pengetahuan dan penatalaksanaan Diabetes Mellitus dengan
ketidakstabilan kadar glukosa darah.
(b) Pola nutrisi
Penderita Diabetes Mellitus sering mengeluh anoreksia, mual muntah,
haus, penggunaan diuretik dan penurunan berat badan.
(c) Pola eliminasi
Terjadi perubahan pola berkemih (poliuria, nokturia, anoria) diare.
(d) Pola aktivitas/ istirahat
Penderita sering mengalami susah tidur, letih, lemah, sulit bergerak/
berjalan, kram otot serta tonus otot menurun.
(e) Nilai dan keyakinan
Gambaran tentang penyakit Diabetes mellitus dengan penyakit yang
dideritanya menurut agama dan kepercayaan, kecemasan akan
kesembuhan, tujuan dan harapan akan sakitnya.
b) Pemeriksaan fisik
1) Keadaan umum
Secara umum meliputi baik, cukup dan berat.
2) IMT (Indek Massa Tubuh)
Penggunaan IMT hanya berlaku untuk orang dewasa yang berusia 18 tahun
keatas.
Rumus menentukan IMT:
Berat Badan(kg)
IMT :
Tinggi Badan(m2)
Pengukuran IMT lebih banyak dilakukan saat ini pada orang dengan
kelebihan berat badan atau yang gemuk yang lebih beresiko untuk menderita
penyakit Diabetes Mellitus, penyakit jantung, stroke, hipertensi, osteoarthritis
dan beberapa penyakit kanker.
3) Tanda- tanda vital
Tekanan darah jika disertai dengan hipertensi. Pernapasan regular
ataukah ireguler, adanya bunyi napas tambahan, respiratori rate (RR) normal
15-20 kali/ menit, pernapasan dalam atau dangkal. Denyut nadi regular atau
ireguler, adanya takikardi, denutan kuat atau lemah. Suhu tubuh meningkat
apabila terjadi infeksi
4) Kesadaran
(a) Composmentis (conscious) yaitu kesadaran normal, sadar sepenuhnya
dapat menjawab semua pertanyaan tentang keadaan atau kondisi di
sekelilingnya.
(b) Apatis yaitu keadaan yang segan untuk berhubungan dengan sekitarnya,
sikapnya acuh tak acuh.
(c) Delirium yaitu gelisah, disorientasi (orang, tempat, waktu), memberontak,
berteriak- teriak, berhalusinasi, kadang berhayal.
(d) Somnolen (letargi) yaitu kesadaran menurun, respon psikomotor yang
lambat, mudah tertidur, namun kesadaran dapat pulih bila dirangsang
(mudah dibangunkan) akan tetapi jatuh tertidur lagi, mampu memberikan
jawaban secara verbal.
(e) Stupor yaitu kesadaran seperti tertidur lelap, tetapi tidak ada respon
terhadap nyeri.
(f) Coma yaitu tidak bisa dibangunkan, tidak ada respon terhadap rangsangan
apapun (tidak ada respon kornea maupun reflek muntah, mungkin tidak
ada respon pupil terhadap cahaya).
5) Sistem pernafasan
Adanya sesak nafas, nyeri dada, pada penderita Diabetes Mellitus mudah
terjadi infeksi.
6) Sistem kardiovaskuler
Adanya riwayat hipertensi, kesemutan pada ekstermitas, ulkus pada kaki
dengan penyembuhan yang cukup lama, takikardi/ bradikardi, perubahan
tekanan darah.
7) Sistem neurologi
Terjadi penurunan sensori, parathesia, anastesia, mengantuk, reflek lambat,
kacau mental dan intoleransi.
8) Sistem perkemihan
Poliuri, retensi urin, rasa panas atau rasa sakit saat berkemih.
9) Sistem pencernaan
Terdapat polifagia, polidipsi, mual, muntah, diare, kosntipasi, dehidrasi,
perubahan berat badan, peningkatan lingkar abdomen dan obesitas.
10) Sistem integument
Turgor kulit menurun, adanya luka atau warna kehitaman bekas luka,
kelembapan dan suhu kulit di daerah ulkus dan ganggren. Kemerahan pada
kulit sekitar luka dan tekstur rambut serta kuku.
11) Sistem musculoskeletal
Penderita Diabetes Mellitus akan mengalami penurunan gerak karena
kelemahan fisik, kram otot dan penurunan otot tonus yang didapatkan pada
pengkajian terjadi penurunan skor kekuatan otot pada ekstermitas. Penderita
bisa mengalami jatuh karena peurunan glukosa ada otak akan berakibat
penurunan kerja pusat keseimbangan.
c) Pemeriksaan penunjang
Kadar glukosa
1) Glukosa darah sewaktu / random > 200 mg/dl.
2) Gula darah puasa > 140 mg/dl.
3) Gula darah 2 jam pp (post pradial) > 200 mg/dl.
4) Aseton plasma hasilnya (+) mencolok.
5) Aseton lemak bebas terjadi peningakatan lipid dan kolesterol
6) Osmolaritas serum (<330 osm/l).
7) Urunalis : proteinueia, keronuria dan glukosaria.
7. DIAGNOSA KEPERAWATAN YANG MUNCUL
a. Ketidakstabilan Kadar Glukosa Darah b.d Gangguan Toleransi Glukosa Darah d.d
Kadar Glukosa Dalam Darah/Urin Tinggi
b. Risiko Infeksi b.d Penyakit Kronis d.d Diabetes Melitus
c. Gangguan Integritas Kulit/Jaringan b.d Neuropati Perifer d.d Diabetes Melitus
d. Resiko Syok b.d Kekurangan Volume Cairan
8. INTERVENSI KEPERAWATAN
DX SLKI SIKI Rasional
Ketidaksta Kestabilan Kadar -Manajemen
bilan Glukosa Darah Hiperglikemia
Kadar Kriteria hasil: (I.03115) Observasi
Glukosa Keterangan : Observasi 1) Mengetahui
Indikator
Darah A [Link] 1) Identifikasi identifikasi
Kadar Gangguan 1 4 1: Memburuk kemungkinan kemungkinan
glukosa Toleransi 2: Cukup penyebab penyebab
dalam Glukosa Memburuk hiperglikemia. hiperglikemia.
darah Darah d.d 3: Sedang 2) Identifikasi 2) Mengetahui
Kadar Kadar 2 4 4: Cukup Membaik situasi yang identifikasi situasi
glukosa Glukosa 5 : Membaik menyebabkan yang menyebabkan
dalam urin
Dalam kebutuhan insulin kebutuhan insulin
palpitasiDarah/Urin
1 4 meningkat meningkat
Perilaku Tinggi1 4 (misalnya: (misalnya:
penyakit penyakit
kambuhan). kambuhan).
3) Monitor kadar 3) Mengetahui kadar
glukosa darah. glukosa darah.
4) Monitor tanda 4) Mengetahui tanda
dan gejala dan gejala
hiperglikemia hiperglikemia
(misal: poliuria, (misal: poliuria,
polifagia, polifagia,
kelemahan, kelemahan,
malaise, malaise, pandangan
pandangan kabur kabur dan sakit
dan sakit kepala) kepala)
5) Monitor intake 5) Mengetahui intake
dan output cairan dan output cairan
6) Monitor keton 6) Mengetahui keton
urin, kadar urin, kadar analisis
analisis gas gas darah,
darah, elektrolit, elektrolit, tekanan
tekanan darah darah ortoststik dan
ortoststik dan frekuensi nadi.
frekuensi nadi.
Terapeutik Terapeutik
1) Berikan asupan 1) Memenuhi
cairan oral. kebutuhan asupan
2) Konsultasi cairan oral.
dengan media 2) Mengetahui gejala
jika tanda dan hiperglikemia tetap
gejala ada atau
hiperglikemia memburuk.
tetap ada atau 3) Membantu
memburuk. ambulasi jika
3) Fasilitasi hipotensi
ambulasi jika ortostatik.
hipotensi
ortostatik.
Edukasi
Edukasi 1) Menjaga kadar
1) Anjurkan untuk glukosa darah lebih
menghindari dari 250 mg/dl.
olahraga saat 2) Memonitor kadar
kadar glukosa glukosa darah
darah lebih dari secara mandiri.
250 mg/dl. 3) Menganjurkan
2) Anjurkan terhadap diet dan
memonitor kadar olahraga.
glukosa darah 4) Mengetahui
secara mandiri. pentingnya keton
3) Anjurkan urin.
kepatuhan 5) Mengelolaan
terhadap diet dan diabetes (Misalnya:
olahraga. penggunaan
4) Ajarkan indikasi insulin, obat oral,
dan peningnya monitor asupan
keton urin. cairan, pengganti
5) Ajarkan karbohidrat dan
pengelolaan bantuan
diabetes professional
(Misalnya: kesehatan).
penggunaan
insulin, obat oral,
monitor asupan
cairan, pengganti
karbohidrat dan
bantuan Kolaborasi
professional 1) Memberikan
kesehatan). insulin untuk
menurunkan gula
Kolaborasi darah.
1) Kolaborasi 2) Memenuhi
pemberian kebutuhan cairan
insulin. 3) Memenuhi
2) Kolaborasi kebutuhan kalium.
pemberian cairan
IV.
3) Kolaborasi
pemberian
kalium.
BAB II
TINJAUAN KASUS
A. PEMERIKSAAN LABORATORIUM
PEMERIKSAAN HASIL SATUAN NILAI
RUJUKAN
Hematokrit 37 % 35-47
C. ANALISA DATA
Terapeutik Terapeutik
- Berikan - Untuk
teknik meminimalkan
nonfarmakolo rasa myeri,
gi untuk ,memurunkan
menurangi nyero
rasa nyeri - Untuk mengetahui
(missal penyebab nyeri
hypnosis), - Mencukupi
guided kebutuhan
imagery istirahat
- kontrol
lingkungan
yang
memperberat
rasa nyeri
- Fasilitasi
Istirahat dan
tidur
Eduksi
Edukasi
- Mengetahui
- Jelaskan
penyebab nyeri
penyebab
dan pemicu nyeri
nyeri dan
- untuk
pemicu nyeri
pengeobatan
- Ajarkan
terapi non
tehnik non
farmakologi untuk
farmakologi
menurunkan nyeri
untuk
mengurangi
nyeri
F. IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
G. EVALUASI KEPERAWATAN
3 S: Febriana
- Klien mengatakan selama di rumah sakit klien
selalu memperhatikan apapun yang dikonsumsinya
- Klien mengatakan akan berhati hati dalam menjaga
pola makannya
O: Glukosa sewaktu: 225 mg/dl
A:Masalah keperawatan ketidakstabilan kadar
glukosa darah belum teratasi
P : lanjutkan intervensi
- Identifikasi kemungkinan penyebab hiperglikemia
- Monitor kadar glukosa darah
- Kolaborasi pemberian insulin
BAB III
PEMBAHASAN
Diabetes adalah penyakit kronik yang terjadi ketika pankreas tidak bisa memproduksi
cukup insulin, hormon pengatur kadar gula darah atau tubuh tidak bisa menggunakan insulin
yang diproduksi secara efektif. Hiperglikemia atau peningkatan kadar gula darah akibat
diabetes yang tidak terkontrol dapat mengakibatkan kerusakan sistem tubuh, utamanya syaraf
dan pembuluh darah. Diabetes juga membuat penderitanya sering mengalami gangguan atau
luka pada kaki, yakni mulai dari penebalan jaringan kulit dan kuku, luka ringan sampai luka
berat atau gangren (luka yang sudah membusuk dan bisa melebar) (Waspadji, 2011).
Bagi penyandang diabetes, luka kaki yang sukar sembuh merupakan komplikasi kronis
yang bisa muncul bila kadar gula darah tidak dikontrol dengan baik. Klien diabetes sangat
beresiko terhadap kejadian luka kaki (Ekaputra, 2013). Menurut WHO, saat ini di seluruh
dunia terdapat 346 juta penderita diabetes melitus dimana 80 persennya di Negara
berkembang. WHO juga menyebutjkan jumlah tersebut akan naik dua kali lipat di tahun 2030
sesuai perkiraan federasi diabetes internasional. Bahkan WHO menyebutkan, jumlah
penderita DM di indonesia menduduki ranking 4 setelah India, China dan Amerika Serikat.
Federasi diabetes internasional memprediksi sedikitnya 1 dari 10 orang dewasa akan
menderita diabetes melitus tahun 2030 (Maryunani, 2013).
Sedangkan data diabetes pada kaki Amarican Diabetes Assosiation dalam Maryunani
(2013) menegaskan bahwa setiap 20 detik satu diagnosa baru ditemukan. Setiap 30 detik
terjadi amputasi pada kaki diabetic diseluruh dunia, 60- 80% amputasi kaki non traumatic
disebabkan oleh diabetes. Menurut Divisi Endokrin Metabolik Departemen Penyakit Dalam
FKUI, penyandang diabetes di Indonesia yang harus menjalani amputasi jumlahnya sekitar
25%, dari seluruh pasien yang dirawat karena kakinya bermasalah (Waspadji, 2011).
Menurut Tjahjadi (2009), Diabetik foot adalah gangguan pada kaki penderita diabetes.
Penderita diabetes cenderung mengalami gangguan kaki yang bisa saja berujung pada
amputasi, kaki bisa saja menjadi begitu lemah karena tugasnya untuk menanggung berat
badan kita. pada penderita diabetes, kaki mengalami kerusakan tanpa disadari. Menurut
Tambunan (2007), Ulkus/luka diabetik adalah luka yang terjadi pada pasien diabetes, yang
melibatkan gangguan pada saraf perifer dan otonom. Klien diabetik sangat beresiko terjadi
luka kaki, yang merupakan luka kronis yang sulit penyembuhannya. Para ahli diabetes
memperkirakan ½ sampai ¾ kejadian amputasi dapat dihindarkan dengan perawatan kaki
yang baik.
Menurut Sutedjo (2010), Faktor resiko yang menyebabkan ulkus pada kaki penderita
diabetes melitus adalah, kurangnya perawatan kaki dan kuku yang baik, kegemukan dan usia
lanjut, gangguan penglihatan yang berisiko untuk cedera, kurang pengendalian kadar gula
darah, penggunaan sepatu dan kaos kaki angtidak tepat, sudah ada riwayat ulkus pada kaki
sebelumnya, dan tingkat pengetahuan diabetes melitus kurang sehingga kepatuhan kurang.
Ada banyak alasan mengapa pasien diabetik beresiko terhadap kejadian luka kaki
diantaranya, masalah kaki diabetes diakibatkan karena kaki sulit bergerak terutama jika
pasien obesitas atau neuropati sensorik, sehingga tidak sadar kakinya terluka, atau
diakibatkan karena iskemia terutama jika perokok sejati sehingga proses penyembuhan
terhambat akibat konstriksi pembuluh darah. Adanya gangguan sistem imunitas pada pasien
diabetik menyebabkan luka kaki mudah terinfeksi dan menjadi gangren sehingga makin sulit
dalam perawatannya serta beresiko terhadap tindakan amputasi. Dengan demikian, masalah
kaki pada penderita diabetes merupakan sekelompok gejala neuropati (kerusakan serabut
saraf), iskemik (kekurangan oksigen dan nutrisi), dan infeksi karena jaringan rusak atau
perlukaan dan amputasi. Jadi tiga faktor penyebab utama masalah kaki pada penderita
diabetes adalah neuropati, buruknya sirkulasi, dan menurunnya resistensi terhadap infeksi.
Salah satu komplikasi yang sering terjadi pada pasien diabetes mellitus adalah masalah
kaki. Misalnya luka pada kaki yang tidak kunjung sembuh, dan pembusukan jaringan
sehingga perlu dilakukan amputasi. Masalah pada kaki penderita diabetes mellitus
disebabkan oleh dua hal, yaitu aliran darah yang buruk. Hal ini terjadi karena kerusakan
pembuluh darah yang disebabkan oleh kadar gula darah yang tinggi dalam waktu lama.
Aliran darah yang terganggu menyebabkan kaki tidak mendapatkan nutrisi yang cukup,
sehingga kulit kaki menjadi lemah, mudah luka dan sukar sembuh jika terjadi luka.
Kerusakan saraf, hal ini juga terjadi karena kadar gula darah yang tinggi dalam waktu lama.
Kerusakan saraf menyebabkan kepekaan seseorang pasien diabetes mellitus terhadap rasa
nyeri menjadi berkurang, sehingga pasien tidak sadar kakinya terluka.
Ulkus diabetes menjadi masalah di bidang sosial dan ekonomi yang mempengaruhi
kualitas hidup penderitanya. Neuropati perifer, penyakit vaskular perifer, deformitas struktur
kaki menjadi faktor utama penyebab ulkus diabetes. Perawatan ulkus diabetes pada dasarnya
terdiri dari 3 komponen utama, yaitu debridement, pengurangan beban tekanan pada kaki,
dan penanganan infeksi. Balutan yang efektif dan tepat membantu penanganan optimal.
Keadaan sekitar luka harus dijaga kebersihan dan kelembapannya. Diagnosis dini dan
penanganan tepat merupakan hal yang penting untuk mencegah amputasi dan menjaga
kualitas hidup penderita.
DAFTAR PUSTAKA
Aspadji, Sarwono [Link] ( 2013 ). Penatalaksanaan Diabetes Terpadu. Edisi Kedua. Jakarta.
FKUI. Yogyakarta. Kansius. Yogyakarta. Nuha Medika.
Ekaputra E. ( 2013 ). Evolusi Manajemen Luka. Jakarta. TIM
Maryunani, Anik ( 2013 ). Step By Step Perawatan Luka Diabetes Dengan Metode Perawatan
Luka Modern. In Media.
Maslikah, N. (2018). Asuhan Keperawatan Pada Klien Diabetes Mellitus Tipe 2 Dengan
Masalah Resiko Ketidakstabilan Kadar Glukosa Darah. KTI: STIKES Jombang.
Ronald W. Kartika. 2017. Pengelolaan Gangren Kaki Diabetik. Jakarta. Fakultas Kedokteran
Universitas Kristen Krida Wacana
SDKI, DPP & PPNI (2016). Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia: Definisi dan
Indikator Diagnostik Edisi: 1. Jakarta: EGC.
SDKI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia: Definisi Dan Indikator
Diagnostik Edisi 1 Cetakan III (Revisi). Jakarta: DPP PPNI.
SIKI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia : Definisi Dan Tindakan
Keperawatan, Edisi 1 cetakan II. Jakarta: DPP PPNI.
SLKI. (2019). Stander Luaran Keperawatan Indonesia : Definisi Dan Kriteria Hasil
Keperawatan, Edisi 1 Cetakan II. Jakarta: DPP PPNI.
Sutedjo A.Y ( 2010 ). Lima Strategi Penderita Diabetes Melitus Berusia Panjang Tjahjadi V.
( 2009 ). Mengenal, Mencegah, Mengatasi Silent Killer. Pustaka Widyamara.
Wilkinson, Judith, M. & Ahern, N.R. (2011). Buku Saku Diagnosis Keperawatan Edisi 9
Nanda NIC NOC. Jakarta : EGC.