TRAINING BASIC of
Tujuan :
1. Memahami Basic Maintenance
2. Mengimplementasikan sesuai Job Functions
3. Mampu memberikan kontribusi terbaik untuk
organisasi
Content :
1. About Maintenance
2. Category of Machine & Tools
3. MTBF (Mean TiMe Betwen Failure)
4. MTTR (Mean TiMe To Repair)
5. MTTF (Mean TiMe To Failure)
6. MDT (Mean Down TiMe)
Maintenance :
Kegiatan untuk memelihara atau menjaga fasilitas atau
peralatan pabrik dan mengadakan kegiatan pemeliharaan,
perbaikan penyesuaian, maupun penggantian sebagian
peralatan yang diperlukan agar sarana fasilitas pada kondisi
yang diharapkan dan selalu dalam kondisi siap pakai.
Flow Process
Tujuan Perawatan :
1. Memperpanjang usia kegunaan aset. Hal ini terutama
penting di negara berkembang karena kurangnya
sumber daya modal untuk penggantian.
2. Menjamin ketersediaan optimum peralatan yang
dipasang untuk produksi, antara lain :
Selalu siap bila diperlukan sesuai dengan rencana
Tidak rusak selama produksi berjalan.
Dapat bekerja dengan efisien dan kapasitas yang
diinginkan.
Tujuan Perawatan :
3. Menjamin kesiapan operasional dari seluruh peralatan
yang diperlukan dalam keadaan darurat setiap waktu,
misalnya unit cadangan , unit pemadam kebakaran dan
sebagainya.
4. Menjamin keselamatan orang yang menggunakan
sarana tersebut. Menghemat waktu, biaya dan material
karena peralatan terhindar dari kerusakan besar.
5. Kerugian baik material maupun personel akibat
kerusakan dapat dihindari sedini mungkin, karena
terjadinya kerusakan da atau timbulnya kerusakan
tambahan akibat kerusakan awal dapat segera dicegah.
Maintenance in Service Industry
Hospital
Restaurants
Transport companies
Banks
Hotels and resorts
Shopping malls / retail
Gas station
Maintenance in Manufacturing Companies
Electronic
Automotive
Petrochemicals
Refinery
Furniture
Ceramics
Food and beverages
Keuntungan – keuntungan dari Maintenance yang
baik
1. Berkurangnya kemungkinan terjadinya perbaikan darurat.
2. Tenaga kerja pada bidang perawatan dapat lebih efisien.
3. Kesiapan dan kehandalan dapat lebih efisien.
4. Memberikan informasi kapan peralatan perlu diperbaiki
atau diganti.
5. Anggaran perawatan dapat dikendalikan.
Kategori Mesin/Peralatan Produksi
Ditinjau dari tingkat kerumitan, harga, peranan dan resiko dalam suatu
mata rantai produksi, mesin digolongkan atas :
1. Critical
2. Essential (Potentially critical)
3. General Purpose (Non critical)
Kategori ini untuk menentukan strategi perawatan yang cocok.
Mesin “Critical”
Kalau rusak dapat membahayakan
Kalau rusak proses produksi terganggu
Investasi mahal
Biaya perbaikannya mahal (misal: high speed
turbine)
Waktu untuk perbaikan lama
Mesin “General Purpose”
Kalau rusak tidak membahayakan
Kalau rusak tidak mengganggu proses produksi
Investasi tidak mahal
Biaya perbaikan tidak mahal
Mempunyai unit cadangan
Tidak mengakibatkan kerusakan sekunder
Mesin Essential (Potentially Critical)
Di antara mesin critical dan general purpose.
Preventive Maintenance
Salah satu komponen penting dalam aktivitas perawatan
(maintenance).
Aktivitas perawatan yang dilakukan sebelum terjadinya
kegagalan atau kerusakan pada sebuah sistem atau
komponen, dimana sebelumnya sudah dilakukan
perencanaan dengan pengawasan yang sistematik,
deteksi, dan koreksi, agar sistem atau komponen tersebut
dapat mempertahankan kapabilitas fungsionalnya.
Pekerjaan-pekerjaan Dasar Pada
Preventif Maintenance
a. Inspeksi :
Pekerjaan inspeksi dibagi atas inspeksi bagian luar dan inspeksi
bagian dalam.
1. Inspeksi bagian luar dapat ditujukan untuk mengamati dan
mendeteksi kelainan-kelainan yang terjadi pada mesin yang
sedang beroperasi, misalnya: timbul suara yang tidak normal,
getaran, panas, asap dan lain-lain.
2. Inspeksi bagian dalam ditujukan untuk pemeriksaan elemen-
elemen mesin yang dipasang pada bagian dalam seperti: roda
gigi, ring, paking, bantalan dan lain-lain.
Frekuensi inspeksi perlu ditentukan secara
sangat hati-hati :
Karena terlalu kurangnya inspeksi dapat menyebabkan mesin
kerusakan yang sulit untuk diperbaiki dengan segera.
Sedangkan terlalu sering diadakan inspeksi dapat menyebabkan
mesin kehilangan waktu produktivitasnya.
Dengan demikian frekuensi pelaksanaan inspeksi harus benar-benar
ditentukan berdasarkan pengalaman, dan jadwal program untuk
inspeksi perlu dipertimbangkan dengan matang.
b. Pelumasan.
Komponen-komponen mesin yang bergesekan seperti
roda gigi, bantalan dsb, harus diberi pelumasan secara
benar agar dapat bekerja dengan baik dan tahan lama.
Dalam pemberian pelumas yang benar perlu
diperhatikan jenis pelumasnya, jumlah pelumas, bagian
yang diberi pelumas dan waktu pemberian pelumasnya
ini.
c. Perencanaan dan Penjadwalan.
Suatu jadwal program perawatan perlu disiapkan dan
harus ditaati dengan baik. Program perawatan harus
dibuat secara lengkap dan teperinci menurut
spesifikasi yang diperlukan, seperti adanya jadwal
harian, mingguan, bulanan, tiap tiga bulan, tiap
setengah tahun, setiap tahun dan sebagainya.
d. Pencatatan dan Analisis.
Catatan-catatan yang perlu dibuat untuk membantu
kelancaran pekerjaan perawatan ini adalah:
1. Buku manual operasi.
2. Manual instruksi perawatan.
3. Kartu riwayat mesin.
4. Daftar permintaan suku cadang.
5. Kartu inspeksi.
6. Catatan kegiatan harian.
7. Catatan kerusakan, dan lain-lain.
• Catatan-catatan ini akan banyak membantu dalam menentukan perencanaan dan keputusan-keputusan yang
akan diambil.
Analisis yang dibuat berdasarkan catatan-catatan
tersebut akan membantu dalam hal:
Melakukan pencegahan kerusakan daripada
memperbaiki kerusakan yang terjadi.
Mengetahui tingkat kehandalan mesin.
Menentukan umur mesin.
Memperkirakan kerusakan mesin dan merencanakan
untuk memperbaikinya sebelum terjadi kerusakan.
Menentukan frekuensi pelaksanaan inspeksi.
Menentukan untuk pembelian mesin yang lebih baik
dan cocok berdasarkan pengalaman masa lalu.
Keuntungan-keuntungan dari Perawatan Preventif :
Waktu terhentinya produksi menjadi berkurang.
Berkurangnya pembayaran kerja lembur bagi tenaga perawatan.
Berkurangnya waktu untuk menunggu peralatan yang dibutuhkan.
Berkurangnya pengeluaran biaya untuk perbaikan.
Penggantian suku cadang yang direncanakan dapat dihemat
kebutuhannya, sehingga suku cadang selalu tersedia di gudang
setiap waktu.
Keselamatan kerja operator lebih tinggi karena berkurangnya
kerusakan.
Corective Maintenance :
Tindakan perawatan yang dilakukan untuk mengatasi
kerusakan-kerusakan atau kemacetan yang terjadi
berulang kali.
Prosedur ini diterapkan pada peralatan atau mesin yang
sewaktu-waktu dapat rusak.
Dalam kaitan ini perlu dipelajari penyebabnya-
penyebabnya, perbaikan apa yang dapat dilakukan, dan
bagaimanakah tindakan selanjutnya untuk mencegah agar
kerusakan tidak terulang lagi.
Corective Maintenance
Corective Maintenance merupakan kegiatan perwatan yang
bertujuan untuk meningkatkan Availability
Loading Time - downtime
Availability x 100%
Loading Time
MTBF
Availability x 100%
MTBF + MTTR
Corective Maintenance
Sasaran :
Peningkatan Availability dicapai melalui
1. Peningkatan kehandalan mesin (reliability)
UTAMA
2. Peningkatan kemudahan untuk merawat
(maintainability)
3. Peningkatan kemudahan Perwatan Mandiri
4. Peningkatan kemudahan operasi
5. Peningkatan keselamatan kerja
PERAWATAN KOREKTIF
Dua Jenis
• Meningkatkan Kehandalan (Reliability) : Aktifitas untuk
mencegah terulangnya kerusakan
• Meningkatkan Maintainability : Aktifitas untuk memperpendek
waktu reparasi
Usaha untuk mengatasi kerusakan :
1. Merubah proses
2. Merancang kembali komponen yang gagal
3. Mengganti dengan komponen baru atau yang lebih baik
4. Meningkatkan prosedur perawatan preventif. Sebagai contoh,
melakukan pelumasan sesuai ketentuannya atau mengatur
kembali frekuensi dan isi daripada pekerjaan inspeksi
5. Meninjau kembali dan merubah sistem pengoperasian mesin.
Misalnya dengan merubah beban unit, atau melatih operator
dengan sistem operasi yang lebih baik, terutama pada unit-unit
khusus.
• Maintenance on the Spot
Dimana pekerjaan perawatan dilakukan ketika fasilitas atau
peralatan dalam keadaan bekerja. Perawatan berjalan
diterapkan pada peralatan-peralatan yang harus beroperasi
terus dalam melayani proses produksi.
• Predictive Maintenance :
dilakukan untuk mengetahui terjadinya perubahan atau
kelainan dalam kondisi fisik maupun fungsi dari sistem
peralatan. Biasanya perawatan prediktif dilakukan dengan
bantuan panca indra atau alat-alat monitor yang canggih.
Tiga cara untuk mengantisipasi kerusakan
1. Perbaikan (repair),
2. Perbaikan secara menyeluruh (overhaul)
3. Penggantian peralatan tersebut (replacement).
Permasalahan yang paling utama dalam pengambilan keputusan
overhaul dan repair ditentukan dalam hal berikut :
Interval waktu antara setiap overhaul.
Tingkatan ketika suatu peralatan/ mesin harus memperoleh
perlakuan repair atau overhaul.
PERMASALAHAN UMUM YANG BERKAITAN
DENGAN BREAKDOWN
1. Perhatian produksi terhadap tindakan pencegahan Breakdown
masih rendah
2. Breakdown analysis tidak (cukup) dilaksanakan
3. Sistem Preventive Maintenance tidak memadai dan/atau tidak
dilaksanakan secara konsisten
4. Upaya Predictive Maintenance (CBM) lemah
MENINGKATKAN RELIABILITY
• KAIZEN untuk mengurangi kerusakan kronis
• KAIZEN untuk memperpanjang Umur mesin/Peralatan
PENINGKATAN RELIABILITY
Contoh :
1. Menekan frekuensi kerusakan (breakdown)
2. Meningkatkan stabilitas machine cycle time
3. Mengurangi frekuensi product quality defect
4. Mempermudah pengukuran
5. Menekan frekuensi adjustment
MEAN TIME BETWEEN FAILURE
MTBF adalah jarak rata-rata antar kerusakan
Kurun Waktu
MTBF
# Kerusakan yang terjadi
KONSEP UNTUK MENGURANGI BREAKDOWN
1. Klasifikasi Breakdown
2. Breakdown analysis
3. Tetapkan Kondisi Optimal Mesin
4. Pelajari kondisi mesin saat digunakan
5. Lakukan perbaikan pada penurunan (penyimpangan dari kondisi
optimum)
6. Perbaiki kelemahan desain
7. Tingkatkan ketrampilan operator dan maintenance staff
KELEMAHAN DALAM PELAKSANAAN
BREAKDOWN ANALYSIS
1. Breakdown tidak mendapat perhatian dan dipelajari dengan seksama
2. Parts yang rusak tidak dikumpulkan dan/atau dibongkar untuk
dianalisis
3. Upaya untuk mencari penyebab dari breakdown tidak dilaksanakan
dengan baik
4. Langkah pencegahan tidak diterapkan
5. Breakdown analysis di Gemba tidak dilaksanakan atau tidak ada
sistem untuk melaksanakan hal itu
Hal di atas sering disebabkan karena:
- Struktur dan fungsi mesin kurang dipahami
- Metode untuk mencari penyebab permasalahan tidak dipahami
6 KRITERIA STRATIFIKASI
Stratifikasi berdasarkan:
1. Lini dan/atau jenis mesin
2. Frekuensi kejadian
3. Jenis breakdown
4. Penyebab breakdown
5. Berulang versus tidak berulang-ulang
6. Kemungkinan dicegahnya breakdown melalui kegiatan Perawatan
Mandiri
STRATIFIKASI BERDASARKAN PENYEBAB
60 - 100%
Period: January-March
N = 58
50 -
BREAKDOWN
40 -
30 - - 50%
24
20 -
10 -
8
6 6
5
3 3
2 1
Cleaning Fluid Loss of Retooling Mis Repair Design
Wom Other
Lubricating Contami- precision errors operation errors problem
parts
And nation
Tightening
errors
Failure to notice these points
MTBF ANALYSIS CHART
Contoh 1. Tanggal pelaksanaan perbaikan
1 2 2. Dilaksanakan oleh (nama)
3 3. Nama mesin dan part
4. Detil kerusakan
4 5
5. Penjelasan pekerjaan yang
6 7 dilaksanakan (detil perawatan)
6. Manhours (jumlah orang x min.)
Isi kartu pekerjaan untuk setiap perawatan 7. Lama kerusakan (min.)
Kurun Waktu
MTBF analysis chart
Mulai:_______ Akhir:_______
Nama part Kegiatan perawatan yang dilaksanakan
A-a
A-b
A-c
B-a
Letakkan kartu pekerjaan perawatan pada MTBF analysis chart
PENGGUNAAN MTBF ANALYSIS
Tahapan
1. Fokus pada mesin dan lini produksi yang
diprioritaskan
2. Fokus pada mesin sejenis
3. Fokus pada part sejenis
Berdasarkan part yang sama pada jenis mesin tertentu
Berdasarkan part yang sejenis di semua jenis mesin
KLASIFIKASI MESIN PM
MESIN
Diatur oleh TIDAK
Hukum?
Production Quality Cost
Skor:
ps : Production score
qs : Quality score Delivery Safety/
YA
cs : cost score environment
ds : delivery score
ss : safety/environment score
Total score:
s: ps + qs + cs + ds + ss
Proses pemilihan
dilakukan bersama oleh
s 50 departemen prosuksi
s 40 dan perawatan
s 25
s 30
Rank L Rank A Rank B Rank C
MESIN PM
KRITERIA KLASIFIKASI MESIN PM
FAKTOR KRITERIA EVALUASI RANK
Kerusakan memiliki resiko terjadi ledakan dan hazzards lain A
Safety: Kerusakan menyebabkan polusi yang serius
Dampak kerusakan pada Kerusakan mesin kemungkinan berdampak pada lingkungan B
manusia dan lingkungan
Mesin lain C
Kerusakan mesin akan berdampak besar pada mutu produk dapat mengakibatkan kontaminasi A
Quality: pada produk atau produk di luar spesifikasi
Dampak kerusakan pada Kerusakan mesin mengakibatkan variasi mutu produk yang dapat ditanggulangi oleh operator B
mutu produk dengan mudah
Mesin lain C
Mesin dengan dampak besar pada produksi, tanpa mesin cadangan yang kalau terjadi kerusakan A
Operation: menyebabkan proses sebelum atau sesudah berhenti total
Dampak kerusakan pada Kerusakan mesin akan berakibat berhenti sebagian B
barang
Kerusakan mesin hanya berdampak kecil atau tidak berdampak sama sekali C
Mesin membutuhkan 4+ jam atau biaya 2400 dollar untuk mereparasinya, atau rusak tiga kali A
Maintenance: sebulan atau lebih
Waktu dan biaya Mesin dapat direparasi kurang dari 4jam dengan biaya antara 240 dollar dan 2400 dollar atau rusak B
reparasi tiga kali sebulan atau kurang
Biaya reparasi kurang dari 240 dollar atau reparasi dapat ditangguhkan sampai dengan C
kesempatan berikut
PENINGKATAN MAINTAINABILITY
Contoh :
1. Mempercepat pendeteksian breakdown
2. Mempercepat pendeteksian penyimpangan (deterioration)
3. Mempercepat penggantian spare parts
4. Mempermudah penggantian pelumas
5. Mempercepat konfirmasi penyelesaian breakdown
MEMPERPENDEK WAKTU REPARASI
1. Diagnosa Reparasi
2. Mempelajari metoda penggantian parts
3. Manajemen spare parts
MEAN TIME TO REPAIR
MTTR adalah waktu rata-rata reparasi
Waktu Reparasi
MTTR # Reparasi
MEAN TIME TO FAIL
MTTF adalah waktu rata-rata kerusakan
Waktu Kerusakan
MTTF # Kerusakan
Khusus untuk barang atau alat yang tidak dapat diperbaiki
msl : Bearing, Transistor dsb.
MEAN DOWN TIME
MDT adalah lama downtime total / jumlah
downtime
Down Time (menit)
MDT # Down Time (x)
Khusus untuk barang atau alat yang tidak dapat diperbaiki
msl : Bearing, Transistor dsb.
MTTR ANALYSIS
Misalkan kita memiliki data historis sebuah mesin sebagai berikut :
a.. Hari ke 0 s.d ke 100: up-time
b.. Hari ke 100 s.d ke 107: down-time
c.. Hari ke 107 s.d 197: up-time
d.. Hari ke 197 s.d 200: down-time
e.. Hari ke 200 s.d 290: up-time
f.. Hari ke 290 s.d 291: down-time
g.. Hari ke 291 s.d 390: up-time
Berapa Nilai MTBF, MTTF, MDT & MTTR
Dari data di atas diperoleh:
a) Jumlah kejadian up-time adalah 4.
b) Lama up-time total = 100 + 90 + 90 + 99 = 379 hari.
c) Mean Time Between Failures (MTBF) = (lama uptime total)/(jumlah kegagalan) = 379/4 = 94.75
hari.
Formula untuk menghitung Mean Time to Fail (MTTF) sama dengan MTBF. Bedanya terletak pada
penggunaannya. MTBF untuk item yang bisa di-repair, sedangkan MTTF untuk item yang tidak di-
repair seperti bearing dan transistor.
MTTR ANALYSIS
Formula MTBF tersebut di atas hanya untuk estimasi saja.
Formula tersebut hanya berlaku bila diasumsikan laju kegagalannya konstan.
Bila diinginkan perhitungan yang lebih tepat dapat menggunakan grafik Weibull.
Kita lanjutkan ke perhitungan Mean Down Time (MDT) dan Mean Time to Repair (MTTR).
Dari data di atas, dapat dihitung :
a) Jumlah kejadian down-time adalah 3.
b) Lama down-time total = 7 + 3 + 1 = 11 hari.
c) MDT = (lama down-time total)/(jumlah down-time) = 11/3 = 3.67 hari.
d) MTTR = (lama repair-time total)/(jumlah repair).
Beberapa literatur membedakan antara MDT dan MTTR, karena down-time tidak sama dengan repair-
time.
MTTR ANALYSIS
Number of occurrences by repair time
Target: Period: From YY-MM-DD to YY-MM-DD
Reduction in number of occurrences
-
-
Keep on going records
Number of occurrences
- Reduce occurences
as indicated by the target line
-
Direction of
Improvement
-
-
Reduction in repair
-
- Target line
0.5 1.0 2.0 3.0 4.0 5.0 10.0 20.0
Repair time/occurrences
MTTR ANALYSIS
MTTR by equipment and components and their variation
Target: Period: From YY-MM-DD to YY-MM-DD
20.0 -
Maximum Value
Special motor
10.0 -
Pump
(Mean Value)
Repair Time
5.0 -
4.0 -
Bearing
Direction of
3.0 - Improvement
Minimum Value
2.0 -
1.0 -
Working Pump Limiter Switch
0.5 -
Failure rate or number of failure occurrences
PENINGKATAN KEGIATAN REPARASI
POST TEST
1. Kegiatan untuk memelihara atau menjaga fasilitas atau peralatan pabrik dan mengadakan
kegiatan pemeliharaan, perbaikan penyesuaian, maupun penggantian sebagian peralatan yang
diperlukan agar sarana fasilitas pada kondisi yang diharapkan dan selalu dalam kondisi siap
pakai merupakan kegiatan :
a) Perawatan
b) Perbaikan
c) Perubahan
d) Penggantian
2. Tindakan perawatan yang dilakukan untuk mengatasi kerusakan-kerusakan atau kemacetan
yang terjadi berulang kali merupakan tindakan :
a) Preventive Maintenance
b) Corective Maintenance
c) Maintenance on The Spot
d) Total Productive Maintenance
3. Waktu rata-rata dalam melakukan perbaikan disebut dengan :
a) MTTF (Mean Time Betwen Failure)
b) MTTR (Mean Time To Repair)
c) MTBF (Mean Time to Failure)
d) MDT (Mean Down Time)
POST TEST
4. Kegiatan untuk mengurangi terjadinya breakdown :
a) Melakukan Diagnosa
b) Tetapkan Kondisi Optimal Mesin
c) Pelajari kondisi mesin saat digunakan
d) Lakukan perbaikan pada penurunan (penyimpangan dari kondisi optimum)
5. Berikut ini adalah tindakan yang bertujuan untuk diperoleh peningkatan Maintainability, kecuali :
a) Mempercepat pendeteksian penyimpangan (deterioration)
b) Mempercepat penggantian spare parts
c) Mempermudah penggantian pelumas
d) Breakdown analysis
Thanks’ for your attention