0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
23 tayangan58 halaman

Hubungan Gula Darah dan Cairan DM

Proposal penelitian ini membahas hubungan antara kadar gula darah puasa dengan balance cairan pada penderita diabetes melitus di Puskesmas Kendalsari Kota Malang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kadar gula darah puasa dengan balance cairan pada penderita diabetes melitus. Hasil penelitian diharapkan dapat menambah pengetahuan tentang pengelolaan diabetes melitus.

Diunggah oleh

serfasius malo muda
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
23 tayangan58 halaman

Hubungan Gula Darah dan Cairan DM

Proposal penelitian ini membahas hubungan antara kadar gula darah puasa dengan balance cairan pada penderita diabetes melitus di Puskesmas Kendalsari Kota Malang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kadar gula darah puasa dengan balance cairan pada penderita diabetes melitus. Hasil penelitian diharapkan dapat menambah pengetahuan tentang pengelolaan diabetes melitus.

Diunggah oleh

serfasius malo muda
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

HUBUNGAN KADAR GULA DARAH PUASA (GDP) DENGAN BALANCE

CAIRAN TUBUH PADA PENDERITA DIABETES MELITUS(DM) DI


PUSKESMAS KENDALSARI KOTA MALANG

PROPOSAL PENELITIAN

Oleh :

SERFASIUS MALO MUDA

2015610100

PROGRAM STUDI SARJANA KEPERAWATAN

FAKULTAS ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS TRIBHUWANA TUNGGADEWI MALANG

2019
LEMBAR PERSETUJUAN

HUBUNGAN KADAR GULA DARAH PUASA DENGAN BALANCE CAIRAN


PADA PENDERITA DIABETES MELITUS DI PUSKESMAS KENDALSARI
KOTA MALANG

PROPOSAL PENELITIAN

OLEH
SERFASIUS MALO MUDA
NIM: 2015610100

Disetujui oleh Dosen Pembimbing


Pada Tanggal:...........................

Dosen Pembimbing Dosen Pembimbing


Utama, Pendamping,

Novita Dewi. [Link]., [Link] Neni Maemunah, [Link]


NIDN. 0708048102 NIDN. 0713077604

Mengetahui,
Ketua Program Studi

Wahyu Dini Metrikayanto, [Link]., Ns.


NIDN. 0731128804

ii
LEMBAR PENGESAHAN

HUBUNGAN KADAR GULA DARAH PUASA DENGAN BALANCE CAIRAN


PADA PENDERITA DIABETES MELITUS DI PUSKESMAS KENDALSARI
KOTA MALANG

PROPOSAL PENELITIAN

OLEH:
SERFASIUS MALO MUDA
NIM: 2015610100

Telah dipertahankan di hadapan dan telah diterima Tim penguji Proposal Skripsi
Fakultas Ilmu Kesehatan
Universitas Tribhuwana Tunggadewi
Pada tanggal:.....-.........-2019

Tim Penguji:
1. Penguji I :
2. Penguji II : Novita Dewi, [Link].,Ns,[Link]
3. Penguji III : Neni Maemunah, M.,MRS

Mengesahkan,
Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan

Drs. Sugeng Rusmiwari, [Link]


NIDN. 0019095902

iii
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan
karuniaNya sehingga karya ilmiah ini yang berjudul : “Hubungan Kadar Gula
Darah Puasa Dengan Balance Cairan Pada Penderita Diabetes Melitus“ dapat
terselesaikan. Dalam kesempatan yang berbahagia ini tak lupa peneliti
menyampaikan rasa terima kasih kepada:

1. Dr. Ir. Eko Handayanto., [Link] Selaku Rektor Universitas Tribhuwana


Tunggadewi Malang.
2. Drs. Sugeng Rusmiwari, [Link]. Selaku Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan
Universitas Tribhuwana Tunggadewi Malang.
3. Novita Dewi [Link].,Ns. [Link] Selaku Dosen Pembimbing Utama dalam
penyusunan karya ilmiah ini yang telah mengorbankan waktu, tenaga, pikiran
untuk membimbing serta memberikan saran dalam menyelesaikan proposal ini.
4. Neni Maemunah, [Link]. Selaku Dosen Pembimbing Pendamping dalam
penyusunan karya ilmiah ini yang telah mengorbankan waktu, tenaga, pikiran
untuk membimbing serta memberikan saran dalam menyelesaikan proposal ini.
5. Teman-teman seperjuanganku Program Studi Sarjana Keperawatan Fakultas
Ilmu Kesehatan Universitas Tribhuwana Tunggadewi Malang.
Akhir kata peneliti berharap semoga karya ilmiah ini bermanfaat bagi kita
semua. Amin

Malang,....Maret 2019

Serfasius Malo Muda


NIM: 2015610100

iv
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL................................................................................................i
HALAMAN PERSETUJUAN.................................................................................ii
HALAMAN PENGESAHAN..................................................................................iii
KATA PENGANTAR..............................................................................................iv
DAFTAR ISI.............................................................................................................v
DAFTAR TABEL.....................................................................................................vi
DAFTAR GAMBAR................................................................................................vii
DAFTAR LAMPIRAN............................................................................................viii

BAB 1

PENDAHULUAN..............................................................................................................1
1.1 Latar Belakang............................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah.......................................................................................5
1.3 Tujuan penelitian.........................................................................................5
1.4 Manfaat penelitian.......................................................................................5
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA..........................................................................................6
2.1 Konsep kadar gula darah puasa...................................................................6
2.2 Konsep Balance Cairan............................................................................10
2.3 Konsep Teori Diabetes Melitus.................................................................14
BAB 3 KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESIS........................................................27
3.1 Kerangka teori...........................................................................................27
3.2 Konsep Teori.............................................................................................28
3.2 Hipotesis penelitian...................................................................................29
BAB 4 METODE PENELITIAN.....................................................................................30
4.1 Desain Penelitian......................................................................................31
4.2 Populasi, Sampel dan Teknik Sampling....................................................31
4.3 Kerangka Kerja Penelitian........................................................................33
4.4 Lokasi dan Waktu penelitian....................................................................34
4.5 Bahan dan Alat penelitian..........................................................................34
4.6 Variabel Penelitian....................................................................................34
4.7 Definisi Operasional.................................................................................35
4.8 Prosedur Penelitian...................................................................................35
4.9 Analisa Data..............................................................................................36
4.10 Etika penelitian........................................................................................38
DAFTAR PUSTAKA.......................................................................................................41

v
DAFTAR LAMPIRAN.....................................................................................................43

vi
DAFTAR TABEL

No. Judul Halaman


Tabel 2.3 Diagnosis DM 18
Tabel 4. Defenisi operasional 34

vi
DAFTAR GAMBAR

No. Judul Halaman


Gambar 3.1 Kerangka Konseptual 28
Gambar 4.7 Kerangka Kerja 33

vii
DAFTAR LAMPIRAN

No. Judul Halaman


Lampiran I Penjelasan penelitian 43
Lampiran II Persetujuan Responden 44
Lampiran III Lembar SOP Kadar gula darah 45
Lampiran IV Lembar chart pemantauan intake 47
output klien
Lampiran V Time line penelitian 48

viii
ix
BAB 1

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Diabetes Mellitus (DM) merupakan suatu gejala klinis yang ditandai

dengan peningkatan glukosa darah plasma atau hiperglikemia (Ferri, 2015). Pada

diabetes melitus gula yang menumpuk dalam darah sehingga gagal masuk ke

dalam sel. Kegagalan tersebut terjadi karena hormon insulin mengalami

penurunan jumlah atau fungsi. Hormon insulin merupakan hormon yang berfungsi

mengatur masuknya gula darah di dalam sel (WHO, 2016). Menurut International

Diabetes Federation tahun 2015, hormon ini diproduksi dalam pankreas sehingga

dikeluarkan untuk digunakan sebagai sumber energi bagi tubuh. Apabila di dalam

tubuh kekurangan hormon insulin maka dapat menyebabkan hiperglikemi (IDF,

2015).

Data dari studi global menyebutkan bahwa penyakit DM adalah salah satu

masalah kesehatan yang dapat mengamcam nyawa. Hal ini dikarenakan jumlah

penderita DM dari tahun ke tahun terus bertambah. Pada tahun 2015 menyebutkan

sekitar 415 juta orang dewasa terkena DM, peningkatan sebesar 4 kali lipat dari

108 juta di tahun 1980an. Apabila tidak ada pelaksanaan untuk mencegah maka

jumlah ini akan terus bertambah. Diprediksi di tahun 2040 akan bertambah

menjadi 642 juta penderita (IDF, 2015). Berdasarkan data yang didapat dari

International Diabetes Federation (IDF) prevalensi DM diseluruh dunia

berjumlah 425 juta lebih orang pada tahun 2016.

1
2

Di Asia Tenggara yang mengalami adanya peningkatan prevalensi DM

salah satunya adalah Indonesia yang berjumlah sebanyak 10,2 juta jiwa penderita

International Diabetes Federation (IDF, 2017). Sebanyak 31 provinsi (93,9%)

menunjukkan adanya kenaikan prevalensi DM yang cukup tinggi. Menurut

diagnosis dokter atau gejala dari hasil Riskesdas tahun 2013 Prevalensi tertinggi

DM pada umur ≥ 15 tahun adalah Provinsi Sulawesi Tengah (3,7%), Sulawesi

Utara (3,6%) dan Sulawesi Selatan (3,4%), sedangkan prevalensi DM terendah

adalah Provinsi Lampung (0,8%), kemudian Bengkulu dan Kalimantan Barat

(1,0%). Terdapat empat kota di Jawa Timur yang memiliki jumlah penderita

DM terbesar yaitu Surabaya dengan jumlah penderita sebesar 14.377 orang,

Bangkalan memiliki sebesar 5.388 orang, Malang dengan penderita DM yaitu

sebesar 7.534 orang dan Lamongan sebesar 4.138 orang (RISKESDAS 2013).

DM merupakan penyakit metabolisme yang sangat ditentukan kondisinya

oleh kadar glukosa darah. Kadar gula darah merupakan kadar glukosa yang ada

dalam darah. Seseorang dapat didiagnosis DM bila memiliki kadar gula darah

sewaktu lebih dari 200 mg/dL kemudian kadar gula darah puasa melebihi 126

mg/dL. (Taylor, 1991 dalam Denny, 2014). Kadar gula darah yang dapat

menggambarkan kondisi gula darah seseorang, khususnya penderita DM tipe 2

salah satunya adalah kadar gula darah puasa. Kadar gula darah puasa merupakan

kadar gula darah seseorang yang dapat diukur atau diperiksa setelah melakukan

puasa sekitar 10-12 jam. Kadar gula darah puasa juga dapat dipakai sebagai

patokan dalam mendiagnosis DM, dan Jika hasil dari pemeriksaan gula darah

puasa didapatkan ≥ 126 mg/dl dan ada keluhan khas dari DM, maka seseorang

dapat diagnosis mengalami penyakit DM ( Fahmiyah dan Latra, 2016).


3

Keseimbangan atau balance cairan merupakan usaha mempertahankan

tekanan osmotik cairan dalam tubuh dan volume cairan tubuh total (ekstrasel dan

intrasel) yang harus selalu berada dalam keadaan yang seimbang dan diatur oleh

arginin vasopressin, ginjal, dan rasa haus. Selain mempertahankan osmolalitas,

ginjal juga organ yang pengendali utama air dan elektrolit, serta mengontrol

keseimbangan asam basa. Dalam menjalankan fungsinya, ginjal diatur oleh

sejumlah hormone antara lain hormone hypothalamus arginin vasopressin yang

disebut Antidiuretik Hormone (ADH). Agar tubuh dapat mencapai keseimbangan

cairan yang dibutuhkan maka tubuh harus mengatur agar input cairan sama

dengan output cairan (balance concept). Tubuh juga dapat mengalami perubahan

keseimbangan cairan, yaitu keseimbangan positif (input lebih banyak dari pada

ouput) atau keseimbangan negatif (input kurang dari Output). Balance cairan

dapat diatur oleh dua faktor volume dan osmolaritas cairan ekstraselular. Kedua

faktor tersebut sangat penting untuk dipertahankan keseimbangannya karena akan

mempengaruhi tekanan darah sedangkan osmolaritas cairan ekstraselular juga

penting untuk dipertahankan agar dapat mencegah sel mengerut ataupun

membengkak. Cara tubuh mempertahankan volume cairan ekstraselular yaitu

dengan cara mengatur garam (natrium), dan osmolaritas cairan ekstraselular dapat

dipertahankan dengan cara mengatur air yang ada di dalam tubuh (William, 2017).

Peningkatan osmolalitas cairan ekstraseluler disebabkan karena adanya

peningkatan kadar gula darah. Osmolalitas yang mengalami peningkatan dan

melebihi ambang batas ginjal akan mengakibatkan glukosa akan dikeluarkan

melalui urin. Glukosa tersebut akan menarik air dan elektrolit lain, sehingga

penderita sering mengeluh BAK, dengan demikian tubuh akan selalu merasa haus
4

dan mengakibatkan penderita banyak minum dan juga sering merasa lapar, hal ini

disebabkan glukosa di dalam darah tidak dapat dipakai, sehingga tubuh akan

kekurangan glukosa yang menyebabkan penderita sering makan. (Ridwan, dkk

2016).

Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan di Puskesmas Kendalsari

Kota Malang pada tanggal 19 oktober 2018 didapatkan 23 responden diantaranya

laki-laki sebanyak 7 orang dan perempuan 16 orang, yang melakukan kontrol

DM. Berdasarkan hasil lab pemeriksaan gula darah puasa tidak terkendali > 126

mg/dl didapatkan sebanyak 19 orang dengan rentan usia 32 sampai 67 tahun dan

kadar gula darah puasa terkendali (90-125 mg/dl) ada 4 responden. Dari hasil

wawancara yang dilakukan sebanyak 23 responden intake yang didapatan dari

makan, minum (6-8 gelas), kemudian outputnya dari hasil BAK (4-6 kali).

Hampir seluruhnya penderita mengalami kadar gula darah puasa tidak terkendali

dan balance cairannya mengalami hasil negatif, maka peneliti melakukan

penelitian terhadap balance cairan penderita DM di Puskesmas Kendalsari

Malang.

1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas maka peneliti

merumuskan masalah “apakah ada hubungan kadar gula darah puasa dengan

balance cairan pada pasien diabetes militus?

1.3. Tujuan penelitian

1.3.1. Tujuan umum


5

Untuk mengetahui hubungan kadar gula darah puasa dengan balance cairan pada

pasien DM.

1.3.2. Tujuan khusus

1. Mengidentifikasi kadar gula darah puasa pada penderita DM di Puskesmas

Kendalsari Kota Malang.

2. Mengidentifikasi balance cairan pada pasien DM di Puskemas Kendalsari Kota

Malang.

3. Menganalisis hubungan kadar gula darah puasa dengan balance cairan pada

penderita DM di Puskesmas Kendalsari Kota Malang.

1.4. Manfaat penelitian

1.4.1. Manfaat teoritis

Penelitian ini sebagai bahan informasi tentang hubungan kadar gula darah puasa

dengan balance cairan pada pasien DM.

1.4.2. Manfaat Praktis

1. Peneliti

Menambah pengetahuan tentang hubungan kadar gula darah dengan balance

cairan pada penderita DM, dan sebagai bahan masukan untuk penelitian

selanjutnya.

2. Institusi kesehatan
6

a. Sebagai masukan untuk perawat di Puskesmas dalam melaksanakan

tindakan perawatan kepada penderita DM dengan mempertahankan input

dan output sesuai dengan usia dan berat badan.

b. Mengobservasi kebutuhan cairan pasien DM.

c. Melakukan penyuluhan terkait balance cairan pada penderita DM.

3. Masyarakat

Penderita dapat mengetahui bahwa pentingnya melakukan kontrol kadar gula

darah secara teratur agar dapat terkontrol dengan baik dan untuk mencegah

komplikasi lebih lanjut.


BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep kadar gula darah puasa

2.1.1 Definisi

Menurut Widiyanto (2013) glukosa darah merupakan karbohidrat dari

makanan yang kemudian diserap oleh tubuh melalui serangkaian proses

metabolisme. Glukosa berfungsi sebagai sumber energi untuk sel dan sebagai

cadangan energi yang disimpan di dalam sel. Kadar gula darah puasa merupakan

kadar gula darah seseorang yang bisa dihitung atau di ukur setelah 8-10 jam

melakukan puasa (DepKes RI, 2009 dalam Eliana, 2015).

2.1.2 Faktor yang mempengaruhi kadar gula darah

Kadar glukosa merupakan pecahan dari karbohidrat yang kemudian akan

di serap oleh tubuh dalam alirah darah, peran glukosa dalam tubuh adalah sebagai

bahan bakar utama, yang berfungsi menghasilkan energi (Amir, 2015). Gula darah

dapat di pengaruhi oleh beberapa faktor sebagai pencetus antara lain pola makan

yang salah, obat, umur, dan kurangnya aktivitas dan lain sebagainya (Syauqy,

2015)

a. Pola makan yang salah

6
7

Pola makan diartikan sebagai suatu bentuk kebiasaan konsumsi makanan

pada seseorang dalam kehidupan sehari-hari, kebiasaan makan ini di bagi

menjadi 2 yaitu kebiasaan makan yang benar dan kebiasaan makan yang

salah, kebiasaan makan dapat memicu munculnya penyakit DM yaitu

kebiasaan konsumsi makanan yang salah, sehingga di perlukan adanya

intervensi makan dengan mengikuti prinsip 3J (tepat jumlah, jenis, dan

jadwal) agar kadar gula darah tetap terkendali (Syauqy, 2015).

Gizi terdiri dari karbohidrat merupakan sumber energi utama sebagai zat

tenaga, dalam hal ini tingginya kadar gula darah di sebabkan karena tingginya

asupan energi dari makanan. Protein merupakan senyawa kimia yang

mengandung asam amino, yang berfungsi sebagai zat pembangun, akan tetapi

protein juga bisa sebagai sumber energy setelah karbohidrat terpakai,

kemudian lemak, yang merupakan sumber energi padat dan dua kali lipat dari

karbohidrat karena konsumsi karbohidrat yang berlebihan akan di simpan di

dalam adiposa (jaringan lemak), hal ini akan berdampak pada peningkatan

lemak dalam tubuh sehingga akan meyebabkan terjadinya retensi insulin dan

menimbulkan DM.

b. Obat antidiabetik

Obat antidiabetik adalah salah satu pengobatan pada penderita DM, bila

ditemukan kadar gula darah masih tinggi atau belum memenuhi kadar sasaran

yang metabolik yang diinginkan, sehingga penderita harus minum obat (Obat

Hipoglikemik Oral atau OHO), atau bisa dilakukan dengan bantuan suntikan

insulin sesuai indikasi, untuk jenis obat antipsikotik atypical biasanya akan

berefek pada sistem metabolisme, sehingga sering dikaitkan pada peningkatan


8

berat badan, untuk mengantisipasi diperlukan kontrol akan asupan

karbohidrat, penggunaan antipsikotik juga dikaitkan dengan hiperglikemia

atau mekanismenya belum diketahui (Toharin, 2015).

c. Usia

Seiring bertambahnya usia adanya resiko untuk menderita DM yang berkisar

diatas usia 45 tahun sehingga harus dilakukan pemeriksaan gula darah

(Perkeni,2015). Berdasarkan hasil penelitian, usia yang rentan terkena

penyakit DM adalah kelompok usia 45-54 tahun lebih tinggi 2,2% bila

dibandingkan dengan kelompok usia 35-44 tahun (Fatimah, 2015).

d. Kurangnya aktivitas

Aktivitas atau latihan jasmani yang dilakukan pada penderita DM berkisar

antara 5-30 menit dapat menurunkan kadar gula darah, timbunan lemak, dan

tekanan darah, karena ketika aktivitas tubuh meningkat penggunaan glukosa

oleh otot ikut meningkat, sehingga sintesis glukosa endogen akan di

tingkatkan agar kadar gula dalam darah tetap seimbang, jadi tubuh akan

mengkompensasi kebutuhan glukosa yang tinggi akibat aktivitas yang

berlebihan maka kadar glukosa darah tubuh menjadi rendah, sebaliknya jika

kadar gula dalam darah melebihi kemampuan tubuh menyimpan maka kadar

gula darah melebihi normal.


9

2.1.3 Cara mengukur gula darah

Ada berbagai cara yang bisa dilakukan untuk pemeriksaan kadar gula dalam

darah, diantaranya :

a. Tes Glukosa darah puasa

Tes glukosa darah puasa yaitu mengukur kadar glukosa darah setelah tidak

makan atau tidak minum yang manis kecuali air putih selama 8 jam, tes ini

biasanya dilaksanakan pada pagi hari sebelum sarapan pagi (ADA, 2014).

b. Tes Glukosa Darah Sewaktu

Kadar gula darah sewaktu bisa disebut juga glukosa darah acak atau kasual,

tes ini bisa dilakukan kapan saja, karena kadar glukosa darah sewaktu bisa

dikatakan normal jika hasilnya tidak lebih dari 200 mg/dL (ADA, 2014).

c. Uji Toleransi Glukosa Oral

Tes toleransi glukosa oral merupakan cara untuk mengukur kadar glukosa

darah sebelum dan sesudah 2 jam mengkonsumsi makanan atau minuman

yang mengandung glukosa sebanyak 75 gram yang dilarutkan dalam 300 ml

air.
10

2.2 Konsep Balance Cairan

2.2.1 Definisi

Cairan tubuh merupakan saran untuk transport makanan maupun sisa-sisa

metabolisme yang membawa yang membawa nutrein (komponen makanan) mulai

dari proses absorpsi mendistribusikan sampai ke tingkat intraseluler tempat

nutrein mengalami proses metabolisme. Hasil metabolisme akan didistribusikan

ke seluruh tubuh dan ekspresinya akan dikeluarkan melalui tubuh. Cairan tubuh

dapat dibagi menjadi 2 yaitu instrasel dan ekstrasel. Cairan intrasel (CIS) cairan

yang berada didalam sel merupakan jumlah cairan terbanyak, kira-kira 70% dari

jumlah total air dalam tubuh. Sedangkan cairan ekstraseluler (CES) merupakan

cairan yang berada di luar sel, kira-kira 30% dari cairan seluruh tubuh

(Syaifuddin, 2013).

Keseimbangan (Balance) cairan merupakan bagian dari kontrol dari tubuh

untuk mempertahankan homeostatis. Homeostatis cairan dapat dipertahankan oleh

tubuh dengan cara mengukur cairan ekstraseluler, yang selanjutnya akan

mempengaruhi cairan intraseluler. Agar tubuh dapat mencapai keseimbangan

cairan yang dibutuhkan maka tubuh harus mengatur agar input cairan sama

dengan output cairan (balance concept). Tubuh juga dapat mengalami perubahan

keseimbangan cairan, yaitu keseimbangan positif (input lebih banyak dari pada

output) atau keseimbangan negatif (output lebih banyak dari pada input).
11

2.2.2 Organ yang berperan dalam keseimbangan (balance) cairan

Organ yang sangat berperan penting dalam mengatur keseimbangan cairan

dan elektrolit yaitu ginjal. Ginjal menerima sekitar 170 liter darah per hari untuk

kemudian disaring menjadi urin. Penyaring darah terjadi di dalam glomerulus,

satu liter darah yang masuk ke dalam glomerulus, 10% nya disaring keluar. Cairan

yang tersaring (filtrat glomerulus) dialirkan ke tubulus renalis. Sel-sel di dalam

tubulus renalis akan menyerap semua bahan yang dibutuhkan tubuh. Sisa cairan

yang tidak diserap akan dikeluarkan dari dalam tubuh sebagai urin Saputra,L

(2013).

2.2.3 Faktor yang mempengaruhi keseimbangan cairan

Faktor yang dapat mempengaruhi keseimbangan cairan dan elektrolit

menurut Saputra,L (2013) yaitu pertambahan usia memepengaruhi aktivitas organ

(misalnya ginjal dan paru), suhu tubuh yang tinggi dapat merangsang pengeluaran

cairan sehingga cairan akan hilang melalui keringat, keadaan sakit menimbulkan

keseimbangan sistem dalam tubuh yang dapat menggangu keseimbangan

kebutuhan cairan tubuh, stres dapat memicu pelepasan Hormone Antidiuretik

(ADH) oleh kelenjar hipofisis yang akan mengakibatkan metabolisme meningkat

dan glikoslisi otot yang dapat menimbulkan retensi natrium dan air sehingga

produksi urin menurun, serta diet akan mempengaruhi jumlah pemenuhan

kebutuhan cairan karena tubuh memerlukan asupan nutrisi yang adekuat.

Sehingga, jika asupan nutrisi tidak sesuai kebutuhan maka tubuh akan memecah

cadangan makanan akibatnya nutrisi yang dibutuhkan bergerak dari cairan

interstisial ke cairan intraselular.


12

2.2.4 Dampak dari gangguan balance cairan

Keseimbangan cairan dalam tubuh menurut Irianto (2014) dipengaruhi

oleh jumlah asupan cairan (input) dan pengeluaran (output). Asupan cairan yang

masuk dalam tubuh berasal dari sumber makanan dan minuman, cairan yang

dibutuhkan oleh tubuh dalam 24 jam antara 1800 ml-2500 ml. Sedangkan

pengeluaran (output) didapatkan dalam bentuk urin 1200 ml-2500 ml/hari,

pengeluaran feses 100 ml/hari, paru-paru mengeluarkan sekitar 300-500 ml/hari,

serta pengeluaran melalui kulit Insensible Water Loss (IWL) sekitar 600 ml-800

ml. Kekurangan Volume Cairan (FVD) merupakan ketidakseimbangan yang

ditandai dengan defisiensi cairan dan eletrolit di ruang ekstraseluler, tetapi

proporsi antara keduanya (cairan dan elektrolit) mendekati normal, hipovolume

dikenal dengan dehidrasi atau hipovolemia (Smeltzer, 2013).

2.2.5 Menghitung balance cairan

Keseimbangan cairan dalam tubuh dipengaruhi oleh jumlah asupan cairan

(input) dan pengeluaran (output). Asupan cairan yang masuk dalam tubuh berasal

dari sumber makanan dan minuman, cairan yang dibutuhkan oleh tubuh dalam 24

jam antara 1800 ml-2500 ml. Sedangkan pengeluaran (output) didapatkan dalam

bentuk urin 1200 ml-1500 ml, pengeluaran feses 100 ml/hari, paru-paru

pengeluaran sekitar 300 ml-500 ml/hari, serta pengeluaran melalui kulit Insesible

Water Loss (IWL) 600 ml-800 ml/hari (Irianto, 2014)

Kebutuhan cairan memiliki perbedaan, tergantung pada penyesuaian usia.

Menentukan air metabolisme dengan rumus (Am x kgBB). Pada usia 1-3 tahun

kebutuhan cairannya 8 cc, usia 5-7 tahun kebutuhan cairannya 8-8,5 cc, serta pada

usia 7-11 tahun air metabolik yang di butuhkan sekitar 6-7 cc, serta pada usia 12-
13

14 tahun air metabolik yang dibutuhkan 5-6 cc. Usia dapat menjadi penentu dalam

menghitung jumlah IWL dengan rumus [(30-usia dalam tahun) x kgBB], jika

terjadi kenaikan suhu tubuh dapat di rumuskan IWL sebagai berikut [(30 –usia

dalam tahun) x kgBB] + 200 (suhu tubuh yang tinggi -36,80 C ). Menghitung

balance cairan dengan rumus [(input) - (output)] dimana input didapatkan dari

makanan dan minuman, infus, injeksi, air metabolik serta output yang didapatkan

dari BAK, BAB, muntah dan IWL (Mubarrak, 2015).

2.2.6 Rumus menghitung balance cairan

Menghitung balance cairan seseorang harus diperhatikan berbagai faktor,

diantaranya Berat badan dan Umur, karena penghitungannya antara usia anak

dengan dewasa berbeda. Menghitung balance cairan pun harus diperhatikan mana

yang termasuk kelompok Intake cairan dan mana yang output cairan. Berdasarkan

kutipan dari Iwasa M. Kogoshi S (1995) Fluid Therapy do (PT. Otsuka Indonesia)

penghitungan wajib per 24 jam bukan pershift.

Intake / cairan masuk = Output / cairan keluar + IWL (Insensible Water Loss)

Intake / Cairan Masuk : mulai dari cairan infus, minum, kandungan cairan dalam

makanan pasien, volume obat-obatan, termasuk obat suntik, obat yang di drip,

albumin.

Output / Cairan keluar : urine dalam 24 jam, jika pasien dipasang kateter maka

hitung dalam ukuran di urobag, jka tidak terpasang maka pasien harus
14

menampung urinenya sendiri, biasanya ditampung di botol air mineral dengan

ukuran 1,5 liter, kemudian feses.

IWL (insensible water loss) : jumlah cairan keluarnya tidak disadari dan sulit

dihitung, yaitu jumlah keringat.

RUMUS IWL

IWL = (15 x BB )

24 jam

Input cairan : Air (makan+Minum)=….cc

Cairan Infus =….cc

Therapi injeksi =….cc

Air Metabolisme =….cc (Hitung AM = 5 cc/kgBB/hari)

Output cairan: Urine = …cc

Feses =.....cc (kondisi normal 1 BAB feses = 100


cc)

Muntah/perdarahan cairan drainage luka/ cairan NGT terbuka


= ….cc

IWL =…..cc (hitung IWL = 15 cc/kgBB/hari)


15

2.3 Konsep Teori Diabetes Millitus

2.3.1 Defenisi Diabetes Mellitus

Diabetes mellitus (DM) merupakan penyakit pada gangguan metabolisme

kronik yang ditandai dengan adanya peningkatan glukosa dalam darah

(Hiperglikemia), yang disebabkan karena ketidakseimbangan suplai dan

kebutuhan insulin. Insulin itu sendiri dalam tubuh dibutuhkan untuk membantu

masuknya glukosa dalam sel dan dapat digunakan untuk proses metabolisme dan

pertumbuhan sel. Berkurang atau tidak adanya insulin dapat menjadikan glukosa

akan tertahan didalam darah dan kekurangan glukosa yang sangat dibutuhkan

dalam kelangsungan dan fungsi sel (Ludiana, 2017).

Gula dalam darah yang berlebihan (hiperglikemia) yang kronis ini akan

menjadi racun bagi tubuh. Sebagai glukosa yang tertahan didalam darah itu

melimpah ke sistem urin untuk di buang melalui urin atau air kencing. Karena itu,

air kencing penderita DM benar-benar manis sehingga dapat menarik semut.

Bermula dari itulah istilah kencing manis diberikan bagi penderita diabetes

mellitus (Irianto, 2014).


16

2.3.2 Klasifikasi Diabetes Mellitus

Organisasi yang berhubungan dengan DM seperti American Diabetes

Association (ADA) telah membagi jenis dari DM berdasarkan faktor

penyebabnya. PERKENI dan IDAI sebagai organisasi yang sama di Indonesia

menggunakan klasifikasi dengan dasar yang sama seperti klasifikasi yang dibuat

oleh organisasi lainnya (PERKENI, 2015).

Klasifikasi DM berdasarkan etiologinya menurut PERKENI (2015) adalah

sebagai berikut :

a. Diabetes Melitus tipe 1

DM yang terjadi karena rusaknya atau destruksi sel beta di pankreas.

Kerusakan ini akan berakibat pada keadaan defisiensi insulin yang terjadi secara

absolut. Penyebab dari kerusakan sel beta ini antara lain autoimun dan idiopatik.

b. Diabetes Melitus tipe 2

DM tipe 2 disebabkan karena resistensi insulin. Insulin dengan jumlah

yang cukup namun tidak dapat bekerja secara maksimal sehingga dapat

menyebabkan kadar gula darah menjadi tinggi di dalam tubuh. Kekurangan

insulin juga dapat terjadi secara relative pada penderita DM tipe 2 dan sangat

mungkin untuk menjadi kekurangan insulin yang absolut.

c. Diabetes Melitus tipe lain


17

Penyebab DM tipe lain sangat bervariasi. DM tipe ini dapat disebabkan

oleh defek genetik fungsi sel beta, defek genetik kerja insulin, penyakit eksokrim

pancreas, endokrinopati pancreas, obat, zat kimia, infeksi, kelainan imunologi dan

sindrom genetik lain yang berkaitan dengan DM.

d. Diabetes Melitus Gestasional

DM tipe ini terjadi selama masa kehamilan, dimana intoleransi glukosa

didapati pertama kali pada masa kehamilan, biasanya pada trimester 2 dan 3. DM

gestasional berhubungan dengan meningkatnya komplikasi prenatal. Penderita

DM gestasional memiliki resiko lebih besar untuk menderita DM yang menetap

dalam jangka waktu 5-10 tahun setelah melahirkan. Penderita DM tipe 2 harus

memulai banyak perubahan dalam hidupnya, mulai dari olahraga, kontrol gula

darah, minum obat, dan pembatasan diet yang harus dilakukan secara rutin

sepanjang hidupnya. Perubahan hidup yang mendadak membuat penderita DM

menunjukan beberapa reaksi psikologis yang negatif seperti marah, merasa tidak

berguna, kecemasan yang meningkat, dan stress.

2.3.3 Diagnosis Diabetes Mellitus

Keluhan dan gejala yang khas ditambah hasil pemeriksaan glukosa darah

sewaktu >200 mg/dl, glukosa darah puasa >126 mg/dl sudah cukup untuk

menegakkan diagnosis DM. Untuk diagnosis DM dan toleransi glukosa lainnya

diperiksa glukosa darah 2 jam setelah beban glukosa. Sekurang-kurannya

diperlukan kadar glukosa darah 2 kali abnormal untuk konfirmasi diagnosa DM

pada hari yang lain atau Tes Toleransi Glukosa Oral (TTGO) yang abnormal

(Fatimah, 2015).
18

Nilai kadar gula bisa di hitung dengan beberapa cara dan kriteria yang berbeda.

Berikut ini adalah tabel penggolongan kadar gula darah sebagai patokan

penyaring (KEMKES,2014).

Tabel 2.3 Diagnosis DM

Bukan Belum pasti DM


DM DM

Kadar gula darah Plasma vena <100 100-199 > 200


sewaktu (mg/dL )
plasma kapiler <90 90-199 > 200
Kadar gula darah Plasma vena <100 100-125 > 126
puasa (mg/dL) plasma kapiler > 100
<90 90-99

2.3.4 Patofisiologi Diabetes Mellitus

Diabetes Melitus merupakan penyakit dengan gangguan pada metabolisme

karbohidrat, protein dan lemak karena insulin tidak dapat bekerja secara optimal,

jumlah insulin yang tidak memenuhi kebutuhan atau keduanya. Gangguan

metabolisme tersebut dapat terjadi karena 3 hal yaitu, pertama karena kerusakan

pada sel-sel beta pankreas karena pengaruh dari luar seperti zat kimia, virus dan

bakteri. Penyebab yang kedua adalah penurunan reseptor pada kelenjar pankreas

dan yang ketiga karena kerusakan reseptor insulin di jaringan perifer (Fatimah,

2015).

Insulin yang dieksresi oleh sel beta pankreas berfungsi untuk mengatur

kadar glukosa darah dalam tubuh. Kadar glukosa darah yang tinggi akan

menstimulasi sel beta pankreas untuk mengsekresi insulin (Hanun, 2013). Sel beta

pankreas yang tidak berfungsi secara optimal sehingga berakibat pada kurangnya
19

sekresi insulin menjadi penyebab kadar glukosa darah menjadi tinggi. Penyebab

dari kerusakan sel beta pankreas sangat banyak seperti penyakit autoimun dan

idiopatik (NIDDK, 2014).

Kadar glukosa darah yang tinggi selanjutnya berakibat pada proses filtrasi

yang melebihi transport maksimum. Keadaan ini mengakibatkan glukosa dalam

darah masuk kedalam urin (glukosuria) sehingga terjadi diuresis osmotic yang

ditandai dengan pengeluaran urin yang berlebihan (polyuria). Banyaknya cairan

yang keluar menimbulkan sensasi rasa haus (polidipsia). Glukosa yang hilang

melalui urin dan resistensi insulin menyebabkan kurangnya glukosa yang akan

diubah menjadi energi sehingga menimbulkan rasa lapar yang meningkat

(polifagia) sebagai kompensasi terhadap kebutuhan energi. Penderita akan merasa

mudah lelah dan mengantuk jika tidak ada kompensasi terhadap kebutuhan energi

tersebut (Hanum, 2013).

2.3.5 Gejala Diabetes Mellitus

Penyakit DM dapat menimbulkan berbagai gejala-gejala pada penderita.

Gejala yang muncul pada penderita DM sangat bervariasi antara satu penderita

dengan penderita lainnya bahkan, ada penderita DM yang tidak menunjukan

gejala yang khas penyakit DM sampai saat tertentu. Gejala-gejala DM tersebut

telah dikategorikan menjadi gejala akut dan kronis (Fitriyani, 2015).

Gejala akut DM pada permulaan perkembangan yang muncul adalah

banyak makan (poliphagia), banyak minum (polidipsi), dan banyak kencing

(polyuria). Keadaan DM pada permulaan yang tidak segera diobati akan

menimbulkan gejala akut yaitu banyak minum, banyak kencing dan mudah lelah.
20

Gejala kronik DM adalah kulit terasa panas,kebas, seperti tertusuk-tusuk

jarum, rasa tebal pada kulit, kram, kelelahan, mudah mengantuk, penglihatan

memburuk, yang ditandai dengan sering berganti lensa kacamata, gigi mudah

goyah dan mudah lepas, keguguran pada ibu hamil dan ibu melahirkan dengan

berat badan bayi yang lebih dari 4 kilogram.

2.3.6 Komplikasi Diabetes Mellitus

Kontrol DM yang buruk dapat mengakibatkan hiperglikemia dalam jangka

panjang, yang menjadi pemicu beberapa komplikasi yang serius. Manifestasi

komplikasi kronik dapat terjadi pada tingkat pembuluh darah kecil

(mikrovaskuler) dan pembuluh darah besar (makrovaskuler). Pada tingkat

mikrovaskuler, maka manifestasi komplikasi kronik DM dapat terjadi pada retina

mata (retinopati diabetik) dan glomerulus ginjal (nefropati diabetik). Pada

pembuluh darah besar (makrovaskular) dapat ditemukan komplikasi pada otak

(stroke), jantung (penyakit jantung koroner) dan pembuluh darah kaki.

Komplikasi lain DM dapat berupa neuropati dan kerentanan berlebih terhadap

infeksi dengan akibat mudahnya terjadi infeksi kaki, kemudian dapat berkembang

menjadi ulkus/gangren diabetes.

2.3.7 Penatalaksanaan Diabetes Mellitus

Menurut PERKENI (2016), penatalaksanaan DM dimulai dari diri pasien

dengan cara menerapkan pola hidup sehat (terapi nutrisi, medis, dan aktifitas fisik)

bersamaan dengan intervensi farmakologis dengan obat anti hiperglikemia secara

oral maupun suntikan. Penatalaksanaan diet DM dilakukan dengan cara sebagai

berikut:
21

A. Perencanaan diet

Kunci keberhasilan penatalaksanaan DM tipe 2 adalah keterlibatan secara

menyeluruh tenaga kesehatan seperti dokter, perawat, ahli gizi, pasien dan

keluarganya untuk mencapai sasaran terapi nutrisi medis. Penyandang perlu

diberikan penekanan terkait dengan pentingnya jadwal makan yang

teratur,jenis dan jumlah kandungan kalori, terutama bagi mereka yang

mengkonsumsi obat yang meningkatkan sekresi insulin atau terapi insulin

1) Komposisi makanan yang dianjurkan terdiri dari :

a) Karbohidrat

Karbohidrat yang dianjurkan sebesar 45-65% total asupan energi. Terutama

karbohidrat yang berserat tinggi. Pembatasan karbohidrat total < 130 gr/hari tidak

dianjurkan. Pemanis alternatif dapat digunakan sebagai penggganti glukosa, asal

tidak melebihi batas aman konsumsi harian. Penderita DM dianjurkan makan tiga

kali sehari dan perlu diberikan makanan selingan seperti buah atau makanan lain

sebagai bagian dari kebutuhan kalori sehari.

b) Lemak

Asupan lemak dianjurkan sekitar 20-25% kebutuhan kalori dan tidak

dianjurkan melebihi 30% total asupan energi. Komposisi yang dianjurkan yaitu

untuk lemak jenuh < 7% kebutuhan kalori, lemak tidak jenuh ganda < 10 %,

selebihnya dari lemak tidak jenuh tunggal. Bahan makanan yang perlu dibatasi
22

adalah makanan yang banyak mengandung lemak jenuh dan lemak trans seperti

daging berlemak dan susu fullcream, konsumsi kolesterol dianjurkan < 200

mg/hari.

c) Protein

Kebutuhan protein yang diperlukan pada pasien DM adalah sebesar 10-20%

total asupan energi. Sumber protein yang baik diantaranya meliputi ikan, udang,

cumi-cumi, daging tanpa lemak, ayam tanpa kulit, produk susu dengan rendah

lemak, kacang–kacangan, tempe dan tahu.

2) Kebutuhan kalori

Terdapat beberapa cara yang dapat dilakukan untuk menentukan jumlah

kalori yng dibutuhkan oleh penderita DM yaitu dengan cara memperhitungkan

kebutuhan kalori basal yang besarnya 25-30 kal/kg BB ideal. Jumlah kebutuhan

tersebut dikurangi atau ditambah bergantung oleh beberapa faktor yaitu jenis

kelamin, umur aktivitas, berat badan, dan lain-lain.

B. Latihan Jasmani

Latihan jasmani merupakan salah satu pilar dalam pengelolaan DM. Kegiatan

jasmani sehari-hari dan latihan jasmani dilakukan secara teratur sebanyak 3-5 kali

dalam seminggu, waktunya sekitar 30-45 menit, dengan total waktu 150 menit per

minggu. Dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan kadar glukosa darah sebelum


23

latihan jasmani jika kadar glukosa darah <100 mg/dL pasien harus mengkonsumsi

karbohidrat terlebih dahulu dan bila kadar glukosa darah >250 mg/dL dianjurkan

untuk menunda latihan jasmani. Latihan jasmani yang dianjurkan yaitu latihan

jasmani yang bersifat aerobik dengan intensitas sedang seperti jalan cepat,

bersepeda santai, jogging dan berenang.

C. Pengelolaan Terapi Farmakologis

Pemberian terapi farmakologi bersamaan dengan pengaturan diet dan latihan

jasmani. Terapi farmakologis terdiri dari obat oral dan bentuk suntikan.

1) Obat Anti Hiperglikemia Oral

Berdasarkan cara kerjanya, obat anti hiperglikemia dibagi menjadi 5 golongan

yaitu :

a) Pemacu Sekresi Insulin

Obat pemacu sekresi insulin meliputi sulfonylurea adalah obat golongan ini

mempunyai efek untuk meningkatkan sekresi insulin ke pankreas, glinid

merupakan obat yang kerjanya sama dengan obat sulfonilurea dapat melakukan

respon penekanan pada peningkatan insulin fase pertama. Obat ini diabsorpsi

dengan cepat dengan pemberian secara oral dan di sekresi dengan cepat oleh hati,

obat ini dapat mengatasi hiperglikemia post prandial.

b) Peningkatan Sensitivitas Terhadap Insulin

Metformin mempunyai efek untuk mengurangi produksi glukosa hati dan

memperbaiki glukosa dijaringan perifer. Pasien DM yang mengalami gangguan

fungsi ginjal dosisnya diturunkan 30-60 ml/menit/1,73 m². Metformin tidak boleh

diberikan pada beberapa keadaan seperti adanya gangguan hati berat, serta pasien-
24

pasien dengan kecenderungan hiposemia seperti penyakit serebrovaskular, sepsis,

PPOK. Efek samping berupa gangguan saluran pecernaan seperti dyspepsia.

c) Penghambat Absorpsi Glukosa di Saluran Pencernaan

Obat Penghambat Alfa Glukosidase, jenis obat ini bekerja dengan

memperlambat glukosa darah dalam usus halus sehingga mempunyai efek

menurunkan kadar glukosa darah sesudah makan. Efek samping obat yang timbul

berupa bloating (penumpukan gas dalam usus) sehingga sering menimbulkan

flaktus.

d) Penghambat DPP-IV( Dipeptidyl Peptidase-IV)

Obat golongan ini bekerja dengan menghambat kinerja enzim DPP-IV

sehingga GLP-I tetap dalam konsentrasi yang tinggi dalam bentuk aktif. Aktivitas

GLP-I untuk meningkatkan sekresi insulin dan menekan sekresi glukagon yang

bergantung pada kadar glukosa darah. Contoh obat golongan ini adalah Sitagliptin

dan Linagliptin.

e) Penghambat SGLT-2 (Sodium Glucocase ).

Obat golongan penghambat SGLT-2 merupakan jenis obat diabetes oral jenis

baru yang menghambat penyerapan kembali glukosa di tubuli distal ginjal dengan

cara menghambat kinerja transporter glukosa SGLT-2. Obat yang termasuk dalam

golongan ini adalah Canagliflozin, Dapagliflozin, Dapagliflozin.

2) Obat Anti Hiperglikemia Suntik

a) Insulin

Insulin diberikan dalam keadaan penurunan berat badan dengan cepat, stress

berat, hiperglikemia berat disertai ketosis. Efek samping pada terapi insulin adalah

terjadinya hipoglikemi, reaksi alergi terhadap insulin.


25

b) Agonis GLP-1

Bekerja di sel beta sehingga terjadi peningkatan pelepasan insulin,

mempunyai efek menurunkan berat badan, menghambat pelepasan glukagon dan

menghambat nafsu makan.

D. Edukasi

Tim kesehatan mendampingi pasien dalam perubahan perilaku sehat yang

memerlukan partisipasi aktif dari pasien dan keluarga pasien. Upaya edukasi

dilakukan secara komphrehensif dan berupaya meningkatkan motivasi pasien

untuk memiliki perilaku sehat. Tujuan dari edukasi diabetes adalah mendukung

usaha pasien penyandang diabetes untuk mengerti perjalanan alami penyakitnya

dan pengelolaannya, mengenali masalah kesehatan dan komplikasi yang mungkin

timbul secara dini atau saat masih reversible, ketaatan perilaku pemantauan dan

pengelolaan penyakit secara mandiri, dan perubahan perilaku atau kebiasaan

kesehatan yang diperlukan. Edukasi pada penyandang diabetes meliputi

pemantauan glukosa mandiri, perawatan kaki, ketaatan pengunaan obat-obatan,

berhenti merokok, meningkatkan aktifitas fisik, dan mengurangi asupan kalori dan

diet tinggi lemak.


26
BAB 3

KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESIS

3.1 Kerangka teori

Faktor- Faktor yang


Kadar Gula Darah Balance Cairan memepengaruhi BC
Hiperglikemik
puasa tubuh negatif
1. Usia

2. Suhu Tubuh yang


Hiperosmolaritas
Faktor yang
mempengaruhi Glukosuria
GDP : (Osmotik Diuresis)
1. Kekurangan
jumlah dan Menarik air dan
fungsi eletrolit
hormone
insulin Poliuria

Polidipsi

Keterangan:

Diteliti

Tidak diteliti

Hubungan

1
2

Pengaruh
3.1 Kerangka konsep hubungan kadar gula darah Puasa dengan balance cairan
tubuh pada penderita Diabetes Melitus
3.2 Konsep Teori

Kadar gula darah puasa merupakan glukosa darah yang di ukur setelah

seseorang melakukan puasa 10-12 jam. Glukosa di alirkan melalui darah dan

merupakan sumber utama energi untuk sel-sel tubuh. Faktor yang mempengaruhi

kadar gula darah yaitu ketidakmampuan insulin dalam menjalankan fungsinya

sehingga gula akan menumpuk di dalam darah sehingga dan tidak dapat masuk ke

dalam sel yang akan meyebankan peningkatan gula darah (Hiperglikemik).

Komplikasi yang terjadi akibat hiperglikemik adalah kerusakan pada ginjal

sebagai pengatur keseimbangan cairan dalam tubuh. Keseimbangan (balance)

cairan merupakan bagian dari kontrol dari tubuh untuk mempertahankan

homeostatis. Homeostatis cairan dapat dipertahankan oleh tubuh dengan cara

mengukur cairan ekstraseluler, yang selanjutnya akan mempengaruhi cairan

intraseluler. Peningkatan osmolalitas yang melebihi ambang batas ginjal akan

menyebabkan glukosa dikeluarkan melalui air kemih. Glukosa yang ada akan

menarik air dan elektrolit lain, sehingga penderita sering mengeluh BAK (Poliuri),

dengan demikian tubuh akan selalu merasa haus dan mengakibatkan penderita

banyak minum (Polidipsi).

3.2 Hipotesis penelitian

Hipotesis kerja dalam penelitian ini adalah :


3

H1 = Ada hubungan kadar gula darah dengan belance cairan pada penderita

diabetes melitus
BAB 4

METODE PENELITIAN

4.1 Desain Penelitian

Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah cross

sectional, yaitu suatu metode penelitian dengan cara mengukur variable

independen dan dependen pada waktu yang bersamaan saat penelitian.

4.2 Populasi, Sampel dan Teknik Sampling

4.2.1 Populasi

Populasi dalam penelitian ini adalah semua penderita diabetes mellitus

yang ada di Puskesmas Kendalsari Kota Malang yang berjumlah 127 orang.

4.2.2 Sampel

Sampel pada penelitian ini adalah penderita diabetes melitus di puskesmas

kendalsari kota Malang yang telah memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi

peneliti. Rumus yang dapat dipergunakan untuk menentukan besar sampel dari

Slovin (Nursalam, 2015) sebagai berikut:

N
n
1  N (d ) 2

Keterangan:

n = Besar sampel

N= Besar populasi

30
31

d = Tingkat signifikan (p)

Dari rumus di atas, dapat ditampilkan perhitungan sebagai berikut:

127
n=
1+ 127(0,05)2

127
n= = 96,39 = 96 orang
1,3175

Berdasarkan perhitungan di atas maka sampel pada penelitian ini sebanyak 96

orang penderita DM di Puskesmas Kendalsari Kota Malang

Kriteria inklusi dan eksklusi

a) Kriteria inklusi :

1. Bersedia mengikuti penelitian dan menandatangani inform consent sebagai

responden.

2. Pasien yang berobat di wilayah Puskesmas Kendalsari Kecamatan

Lowokwaru Malang.

3. Pasien yang menderita diabetes melitus di Puskesmas Kendalsari

Kecamatan Lowokwaru Malang

b) Kriteria eksklusi:

1) Pasien yang mengalami komplikasi ginjal dan paru.

2) Pasien yang tidak hadir saat penelitian.

4.2.3 Teknik sampling

Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah simple

random sampling dengan populasi 127 orang, diambil 31 orang yang dikeluarkan

melalui kocok dadu, kemudian tersisa 96 sampel.


32

4.3 Kerangka Kerja Penelitian

Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah semua penderita diabetes melitus di Puskesmas
Kendalsari Kecamatan Lowokwaru Malang yang berjumlah 127 orang

Sampel
Sampel dalam penelitian ini adalah sebagian penderita diabetes melitus di
Puskesmas Kendalsari Kecamatan Lowokwaru Malang yang berjumlah 96 orang

Teknik Sampling
Teknik Pengambilan Sampel dilakukan dengan simple random sampling
dengan menggunakan kocok dadu dan memakai 96 sampel

Pengumpulan
data
Variabel independen Variabel dependen
kadar glukosa darah balance cairan diukur
puasa diukur dengan dengan Observasi
glukotes

Pengolahan data
Uji statistik menggunakan independent T test dengan α = 0,05

Hasil penelitian
H1 diterima jika p ≤ 0,05 dan H1 ditolak jika p > 0,05

Kesimpulan
33

Gambar 4.1 Kerangka kerja hubungan kadar gula darah puasa dengan balance
cairan pada penderita diabetes melitus di Puskesmas Kendalsari
Kecamatan Lowokwaru Malang.

4.4 Lokasi dan Waktu penelitian

4.4.1 Lokasi

Penelitian ini berlokasi di Puskesmas Kendalsari Kota Malang.

4.4.2 Waktu penelitian

Penelitian di puskesmas Kendalsari Kota Malang dilakukan dari bulan

Oktober 2018 sampai bulan Juni 2019.

4.5 Bahan dan Alat penelitian

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

1. Chart pemantauan intake dan output cairan.

Berupa tabel yang digunakan untuk mengobservasi inteke output cairan

klien.

2. Botol penampung urin

Digunakan untuk menampung urin responden dalam waktu 1x24 jam.

3. Timbangan berat badan

Merupakan alat untuk mengukur berat badan responden.

4.6 Variabel Penelitian

4.6.1 Variabel bebas (independen)


34

Variable bebas dalam penelitian ini adalah kadar gula darah puasa.

4.6.2 Variabel terikat (dependen)

Variabel terikat dalam penelitian ini adalah balance cairan.

4.7 Definisi Operasional

Table 4.7 Definisi operasional hubungan kadar gula darah puasa dengan balance
cairan pada penderita diabetes melitus di Puskesmas Kendalsari kota Malang.

No Variabel Definisi Parameter Alat Ukur Skala Kategori


Operasional

1 Variabel Kadar gula Kadar Rekam medik Rasio Kadar gula darah
independen dalam darah gula darah puskesmas tidak terkendali >
kadar gula yang dapat puasa kendalsari 126 mm/dl
darah diukur atau tidak
dihitung terkendali
setelah >126 Kadar gula darah
melakukan mg/dl puasa terkendali <
puasa sekitar 16 mg/dl.
10-12 jam.
(Indah Fahmiyah,
I Nyoman Latra,
2016)

2 Variabel Keseimbangan 1. Intake 1. Observasi Rasio Input > Output


dependen (balance) Minum 2. Botol
cairan tubuh Makan Penampun
antara input (Sayur) g urin (Positif)
Balance dan output 2. Output 3. Timbanga
cairan yang di ukur BAK n BB
Input < Output
atau di hitung IWL
dalam 24 jam
(Negatif)

(William, 2017)
35

4.8 Prosedur Penelitian

Langkah-langkah yang dilakukan peneliti untuk mendapatkan data dan

melakukan penelitian sebagai berikut :

1. Calon peneliti mengurus surat permohonan ijin penelitian di BAA Universitas

Tribhuwana Tunggadewi Malang dan mendapatkan surat ijin tersebut 3 hari

kemudian dengan tujuan instansi surat tersebut adalah Bankesbangpol,

Dinkes Kota Malang, dan Puskemas Kendalsari.

2. Setelah itu calon peneliti mengurus surat permohonan ijin penelitian di

Bankesbangpol Kota Malang, 1 hari kemudian baru mendapatkan surat ijin

tersebut untuk di lanjutkan ke Dinas Kesehatan Kota Malang.

3. Setelah dari Bankesbangpol calon peneliti melanjutkan ke Dinkes Kota

Malang untuk mengambil data prevalensi terbanyak penyakit diabetes

melitus.

4. Calon peneliti mengurus surat ijin penelitian dari Dinkes kota Malang untuk

mengambil data di puskesmas kendalsari.

5. Meminta ijin kepala puskesmas untuk penelitian.

6. Melakukan wawancara kepada pasien yang telah selesai kontrol.

7. Cek gula darah di laboratorium

8. Penyusunan proposal

4.9 Analisa Data

4.9.1 Analisa Univariat

Analisa ini digunakan untuk menentukan distribusi frekuensi variable

bebas dan variabel terkait pada sampel.


36

4.9.2 Analisa Bivariat

Analisis yang digunakan untuk mengetahui hubungan antara variable

bebas dengan variabel terikat dengan menggunakan uji statistik :

1). Uji normalitas data

Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui sebaran distribusi suatu data apakah

normal atau tidak. Uji normalitas data berupa uji Kolmogorov-Smirnov digunakan

apabila besar sampel > 50 sedangkan uji Shapiro-Wilk digunakan apabila besar

sampel ≤ 50 . Distribusi normal baku adalah data yang telah ditransformasikan ke

dalam bentuk p dan diasumsikan normal. Jika nilainya di atas 0,05 maka distribusi

data dinyatakan memenuhi asumsi normalitas, dan jika nilainya di bawah 0,05

maka diinterpretasikan sebagai tidak normal.

2). Uji Korelasi

Uji Pearson merupakan uji parametrik (distribusi data normal) yang digunakan

untuk mencari hubungan dua variabel atau lebih, namun bila distribusi data tidak

normal dapat digunakan uji statistik non parametrik Uji spearman. Adapun syarat

untuk uji Pearson adalah :

a. Data harus berdistribusi normal (wajib)

b. Varians data boleh sama, boleh juga tidak sama.

Pengujian analisis dilakukan menggunakan program Software Statistik pada

komputer dengan tingkat kesalahan 5%. Apabila didapatkan nilai p < 0,05 maka
37

Ho ditolak dan Ha diterima. Dari koefisien korelasi yang didapatkan, dapat

digunakan untuk mengukur tingkat korelasi antara kedua variabel.

3) Uji Komparatif

a. Uji chi square

Uji chi square merupakan uji komparatif yang digunakan dalam data di penelitian

ini. Uji signifikan antara data yang diobservasi dengan data yang diharapkan

dilakukan dengan batas kemaknaan (α < 0,1) yang artinya apabila diperoleh p < α,

berarti ada perbandingan yang signifikan antara variable independent dengan

variabel dependent dan bila nilai p > α, berarti tidak ada perbandingan yang

signifikan antara variable independent dengan variabel dependent.

b. Uji T Independent

Uji T independent merupakan uji parametrik (distribusi data normal) yang

digunakan untuk membandingkan dua mean populasi yang berasal dari populasi

yang sama. Dalam hal ini uji tersebut digunakan untuk mengetahui perbandingan

kadar gula darah puasa dengan balance cairan. Namun, bila distribusi data tidak

normal dapat digunakan uji U Mann –Whitney sebagai alternative.

Adapun syarat untuk uji T tidak berpasangan adalah :

a. Data harus berdistribusi normal (wajib)

b. Varians data boleh sama, boleh juga tidak sama.


38

4.10 Etika penelitian

a. Informed Consent

Informed consent merupakan bentuk persetujuan antara peneliti dengan

responden, penelitian dengan memberikan lembar persetujuan sebelum

dilakukan penelitian. Peneliti menjelaskan maksud dan tujuan penelitian

yang dilakukan. Jika responden penelitian bersedia untuk diteliti maka

mereka harus menandatangani lembar persetujuan tersebut. Jika menolak

untuk diteliti maka peneliti tidak memaksa dan menghormati hak – hak

responden.

b. Anonimity (tanpa nama)

Nama responden tidak akan dicantumkan pada lembar kuesioner, dan untuk

mengetahui keikutsertaan responden maka peneliti akan memberi kode

pada lembar kuesioner.

c. Confidentiality (kerahasiaan)

Kerahasiaan informasi dijamin oleh peneliti dengan cara hanya menyajikan

/ melaporkan data tertentu

d. Prinsip Manfaat

1. Bebas dari penderitaan


39

Peneliti harus dilaksanakan tanpa mengakibatkan penderitaan kepada

subjek, khususnya jika menggunakan tindakan khusus. Penelitian yang

dilakukan harus menjamin bahwa tidak akan mengalami efek yang

merugikan bagi responden.

2. Bebas dari eksploitasi

Partisipasi subjek dalam penelitian, harus dihindarkan dari keadaan

yang tidak menguntungkan. Subjek harus diyakinkan bahwa

partisipasinya dalam penelitian atau informasi yang telah diberikan,

tidak akan dipergunakan dalam hal-hal yang dapat merugikan subjek

dalam bentuk apapun. Data responden yang diperoleh tidak akan

disebarluaskan untuk kepentingan pribadi.

3. Resiko

Peneliti harus hati-hati dalam mempertimbangkan resiko dan

keuntungan yang akan berakibat kepada subjek pada setiap tindakan.

Berkaitan dengan poin pertama sebelumnya bahwa apabila penelitian

yang dilakukan adalah berupa tindakan (eksperimen) maka responden

dijamin bahwa tidak akan mengalami efek yang merugikan.

e. Keadilan (Justice)

Responden harus diperlakukan secara adil baik sebelum, selama dan

sesudah keikutsertaannya dalam penelitian tanpa adanya diskriminasi

apabila ternyata mereka tidak bersedia atau dikeluarkan dari penelitian.

Sampel yang bersedia menjadi sampel maupun yang tidak bersedia tetap

mendapatkan perlakuan yang adil, dalam hal ini tetap melakukan


40

komunikasi dengan sampel yang tidak bersedia mengambil bagian dalam

proses pengambilan data.


DAFTAR PUSTAKA

Amir, Suci M.J. Kadar Glukosa darah Sewaktu pada pasien Diabetes
Melitus Tipe 2 di puskesmas Bahu Kota Manado. Jurnal e-Biomeik (eBm),
Volume 3, Nomor 1, Januari-April 2015.
Denny,O. Kepatuhan minum obat diabetes pada pasien diabetes
mellitus tipe 2. Skripsi. Fakultas ilmu keperawatan. Universitas
Indonesia.2014
Fatimah, R.N. (2015). Diabetes Melitus Tipe 2. Fakultas Kedokteran
Universitas Lampung, 4, 93-101. [Link]
Ferri, FF. 2015. Ferri's Clinical Advisor 2015. Diabetes Mellitus
Elsevier Inc Husain (2010)
IDF Diabetes Atlas Sixth Edition, International Diabetes
Federation. 2013 diakses tanggal 15 November 2016.
[Link]
IDF. 2017. IDF Diabetes Atlas Sixth Edition. International Diabetes Federation.
Irianto, Ferli. 2014. Gizi Seimbang Dalam Kesehatan Reproduksi (Balance
Nutriont In Repproductive Health). Bandung: ALFABETA
Janitra, F.E 2018. Hubungan Kontrol Glukosa DarahDengan Penurunan
Vaskularisasi Perifer Pada Pasien Diabetes Mellitus. [Link]
Keperawatan Pemikiran Ilmiah.4 (3). 18-22
Ludiana, 2017. Hubungan Kecemasan Dengan Kadar Glukosa Darah
Pada Penderita Diabetes Mellitus Di Wilayah Kerja Puskesmas
Sumbersari Bantul Kec. Metro Selatan Kota Metro.
[Link]
9. Diakses 24 Maret 2018.
Mubarak, I.W., Nurul Chayatin., & Joko Susanto. (2015). Standart Asuhan
Keperawatan Dan Prosedur Tetap Dalam Praktik Keperawatan: Konsep Dan
Aplikasi Dalam Klinik, Jakarta: Salemba MedikaNursalam. (2015). ILMU
KEPERAWATAN Pendekatan Praktis.
Perkumpulan Endrokrinologi Indonesia (PERKENI). (2015). Pengelolaan
dan pencegahan diabetes melitus di Indonesia.
[Link]

Shauqy, Ahmad. Perbedaan Kadar Glukosa Darah Puasa Pasien


Diabetes Melitus Berdasarkan Pengetahuan Gizi, Sikap, dan Tindakan di
Poli Penyakit Dalam Rumah Sakit Islam Jakarta. Jurnal Gizi Indonesia,
Vol. 3. No. 2; 2015

40
41

Smeltzer, Susan C. 2013. Keperawatan Medikal-Bedah Brunner &


Suddarth ; Alih Bahasa, Devi Yulianti, Amelia Kimin ; editor edisi bahasa
Indonesia, Eka Anisa Mardella. – Ed. 12. Jakarta : EGC
Syaifuddin. (2013). Fisiologi Tubuh ManusiaUntuk Mahasiswa
Keperawatan. Edisi: 2. Jakarta: Salemba Medika
Saputra, Lyndon. (2013). Pengantar Kebutuhan Dasar Manusia.
Tangerang: Banirupa Aksara
Toharin, S,N., Cahyati, W.H., Zainafree,I.(2015). Hubungan
Modifikasi gaya hidup dengan kepatuhan konsumsi obat antidiabetik
dengan kadar gula darah pada penderita diabetes mellitus tipe 2 di RS
QIM Batang Tahun 2015. Unnes Journal Of Public Health. [Link].2
Tahun 2015.
Widiyanto. (2013). Glukosa darah sebagai sumber energi. Jurusan
Pendidikan Kesehatan Dan Rekreasi Fakultas Ilmu Keolahragaan
Universitas Yogyakarta,1, 1-17 Retrieved from uny .[Link]

Lampiran 1

PENJELASAN PENELITIAN

HUBUNGAN KADAR GULA DARAH PUASA DENGAN BALANCE

CAIRAN PADA PENDERITA DIABETES MELITUS

1. Tujuan
42

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kadar gula darah

dengan balance cairan pada penderita diabetes mellitus di Puskesmas

Kendalsari kota Malang.

2. Manfaat

Manfaat yang didapatkan oleh responden adalah informasi terkait

pencegahan penyakit diabetes melitus dan dapat mengenali faktor resiko

dari diabetes melitus.

3. Kerugian

Dalam penelitian ini tidak memiliki resiko yang berbahaya, namun

masing-masing responden akan merasa kehilangan sedikit waktu kerja.

4. Jaminan Kerahasiaan Data

Dalam penelitian ini semua data informasi identitas subyek penelitian

dijaga kerahasiaannya yaitu dengan tidak mencantumkan identitas secara

jelas dan pada laporan penelitian nama subyek penelitian dibuat dalam

bentuk kode.

Peneliti

Serfasius malo muda


NIM : 2105610100

Lampiran 2

FORMULIR INFORMAD CONSENT

(KESEDIAAN MENGIKUTI PENELITIAN)

Dengan ini saya,


Nama :
Umur :
43

Jenis kelamin :
Agama :
Suku :
Pendidikan :
Pekerjaan :
Alamat :

Mengatakan mengerti penjelasan yang telah diberikan dan bersedia

mengikuti kegiatan penelitian berjudul “hubungan kadar gula darah

dengan balance cairan pada penderita diabetes melitus di Puskesmas

Kendalsari Kecamatan Lowokwaru Malang” dengan ketentuan apabila ada

hal-hal yang tidak berkenan pada saya, maka saya berhak mengajukan

pengunduran diri dari kegiatan penelitian ini.

Malang, 2018

Peneliti Responden
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 3
Serfasius malo muda
SOP PEMERIKSAAN GULA DARAH

PEMERIKSAAN GULA DARAH


No. Dokumen : Ditetapkan Oleh
No. Revisi : Kepala Puskesmas Matani
SOP Tanggal Revisi :
Halaman :
dr. Christine M. N. Emor, Mkes.
1. Pengertian Pemeriksaan gula darah digunakan untuk mengetahui kadar gula darah seseorang.
44

Macam- macam pemeriksaan gula darah:


Kriteria diagnostik WHO untuk diabetes mellitus pada sedikitnya 2 kali
pemeriksaan :
1. Glukosa plasma sewaktu ≤ 200 mg/dl (11,1 mmol/L)
2. Glukosa plasma puasa ≤ 140 mg/dl (7,8 mmol/L)
3. Glukosa plasma dari sampel yang diambil 2 jam kemudian  sesudah
mengkonsumsi 75 gr karbohidrat (2 jam post prandial (pp) ≤ 200 mg/dl
2. Tujuan Sebagai acuan dalam rangkah-rangkah untuk mengetahui kadar Gula Darah
pasien dan menggunggkap tentang proses penyakit dan pengobatangnya

3. Kebijakan SK Kepala Puskesmas No. / / Tentang jenis-jenis pemeriksaan


laboratorium

4. Referensi Permenkes No. 37 Tahun 2012


Permenkes Nomor 75 Tahun 2014
5. Alat dan 1. Alat
Bahan a. Meja
b. Kursi
c. Alat Gula Darah set
2. Bahan
a. Lancet
b. Handscoen
c. Strip Gula Darah
d. Kapas alcohol
6. Langkah - A. Langkah-langkah
langkah 1. Petugas menyapa pasien atau keluarga pasien dengan senyum,salam & sapa
2. Petugas menjelaskan prosedur tindakan yang akna dilakukan kepada pasien
3. Petugas mencuci tangan.
4. Petugas memakai handscoen
5. Atur posisi pasien senyaman mungkin
6. Dekatkan alat didekat pasien
7. Pastikan alat bisa digunakan
8. Pasang strip GDA pada glukometer
9. Menusuk lancet dijari tangan pasien
10. Menghidupkan alat glukometer yang sudah terpasang strip Gula Darah
11. Meletetakkan strip GDA dijari tangan pasien
12. Menutup bekas tusukan lanset menggunakan alkohol
13. Alat glukometer akan berbunyi dan hasilnya sudah di baca.
14. Petugas melepaskan sarung tangan dan masker

7. Unit a. Laboratorium
Terkait b. Poli Umum
c. Poli KIA
d. UGD

8. Dokumen a. Form Hasil Pemeriksaan Laboratorium


Terkait b. Catatan registrasi
45

Lampiran 4

Tabel 1 Chart Pemantauan Intake Output Cairan Klien

Tanggal :
Berat Badan:
Cairan Masuk (ml) Cairan Keluar (ml)
Waktu Minum Makanan Muntah Urin BAB Keterangan
(WIB)
46

01.00
02.00
03.00
04.00
05.00
06.00
07.00
SUB
TOTAL
08.00
09.00
10.00
11.00
12.00
13.00
14.00
SUB
TOTAL
15.00
16.00
17.00
18.00
19.00
20.00
21.00
22.00
23.00
24.00
SUB
TOTAL
TOTAL /
24 Jam

Anda mungkin juga menyukai