Hubungan Gula Darah dan Cairan DM
Hubungan Gula Darah dan Cairan DM
PROPOSAL PENELITIAN
Oleh :
2015610100
2019
LEMBAR PERSETUJUAN
PROPOSAL PENELITIAN
OLEH
SERFASIUS MALO MUDA
NIM: 2015610100
Mengetahui,
Ketua Program Studi
ii
LEMBAR PENGESAHAN
PROPOSAL PENELITIAN
OLEH:
SERFASIUS MALO MUDA
NIM: 2015610100
Telah dipertahankan di hadapan dan telah diterima Tim penguji Proposal Skripsi
Fakultas Ilmu Kesehatan
Universitas Tribhuwana Tunggadewi
Pada tanggal:.....-.........-2019
Tim Penguji:
1. Penguji I :
2. Penguji II : Novita Dewi, [Link].,Ns,[Link]
3. Penguji III : Neni Maemunah, M.,MRS
Mengesahkan,
Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan
iii
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan
karuniaNya sehingga karya ilmiah ini yang berjudul : “Hubungan Kadar Gula
Darah Puasa Dengan Balance Cairan Pada Penderita Diabetes Melitus“ dapat
terselesaikan. Dalam kesempatan yang berbahagia ini tak lupa peneliti
menyampaikan rasa terima kasih kepada:
Malang,....Maret 2019
iv
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL................................................................................................i
HALAMAN PERSETUJUAN.................................................................................ii
HALAMAN PENGESAHAN..................................................................................iii
KATA PENGANTAR..............................................................................................iv
DAFTAR ISI.............................................................................................................v
DAFTAR TABEL.....................................................................................................vi
DAFTAR GAMBAR................................................................................................vii
DAFTAR LAMPIRAN............................................................................................viii
BAB 1
PENDAHULUAN..............................................................................................................1
1.1 Latar Belakang............................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah.......................................................................................5
1.3 Tujuan penelitian.........................................................................................5
1.4 Manfaat penelitian.......................................................................................5
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA..........................................................................................6
2.1 Konsep kadar gula darah puasa...................................................................6
2.2 Konsep Balance Cairan............................................................................10
2.3 Konsep Teori Diabetes Melitus.................................................................14
BAB 3 KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESIS........................................................27
3.1 Kerangka teori...........................................................................................27
3.2 Konsep Teori.............................................................................................28
3.2 Hipotesis penelitian...................................................................................29
BAB 4 METODE PENELITIAN.....................................................................................30
4.1 Desain Penelitian......................................................................................31
4.2 Populasi, Sampel dan Teknik Sampling....................................................31
4.3 Kerangka Kerja Penelitian........................................................................33
4.4 Lokasi dan Waktu penelitian....................................................................34
4.5 Bahan dan Alat penelitian..........................................................................34
4.6 Variabel Penelitian....................................................................................34
4.7 Definisi Operasional.................................................................................35
4.8 Prosedur Penelitian...................................................................................35
4.9 Analisa Data..............................................................................................36
4.10 Etika penelitian........................................................................................38
DAFTAR PUSTAKA.......................................................................................................41
v
DAFTAR LAMPIRAN.....................................................................................................43
vi
DAFTAR TABEL
vi
DAFTAR GAMBAR
vii
DAFTAR LAMPIRAN
viii
ix
BAB 1
PENDAHULUAN
dengan peningkatan glukosa darah plasma atau hiperglikemia (Ferri, 2015). Pada
diabetes melitus gula yang menumpuk dalam darah sehingga gagal masuk ke
penurunan jumlah atau fungsi. Hormon insulin merupakan hormon yang berfungsi
mengatur masuknya gula darah di dalam sel (WHO, 2016). Menurut International
Diabetes Federation tahun 2015, hormon ini diproduksi dalam pankreas sehingga
dikeluarkan untuk digunakan sebagai sumber energi bagi tubuh. Apabila di dalam
2015).
Data dari studi global menyebutkan bahwa penyakit DM adalah salah satu
masalah kesehatan yang dapat mengamcam nyawa. Hal ini dikarenakan jumlah
penderita DM dari tahun ke tahun terus bertambah. Pada tahun 2015 menyebutkan
sekitar 415 juta orang dewasa terkena DM, peningkatan sebesar 4 kali lipat dari
108 juta di tahun 1980an. Apabila tidak ada pelaksanaan untuk mencegah maka
jumlah ini akan terus bertambah. Diprediksi di tahun 2040 akan bertambah
menjadi 642 juta penderita (IDF, 2015). Berdasarkan data yang didapat dari
1
2
salah satunya adalah Indonesia yang berjumlah sebanyak 10,2 juta jiwa penderita
diagnosis dokter atau gejala dari hasil Riskesdas tahun 2013 Prevalensi tertinggi
(1,0%). Terdapat empat kota di Jawa Timur yang memiliki jumlah penderita
sebesar 7.534 orang dan Lamongan sebesar 4.138 orang (RISKESDAS 2013).
oleh kadar glukosa darah. Kadar gula darah merupakan kadar glukosa yang ada
dalam darah. Seseorang dapat didiagnosis DM bila memiliki kadar gula darah
sewaktu lebih dari 200 mg/dL kemudian kadar gula darah puasa melebihi 126
mg/dL. (Taylor, 1991 dalam Denny, 2014). Kadar gula darah yang dapat
salah satunya adalah kadar gula darah puasa. Kadar gula darah puasa merupakan
kadar gula darah seseorang yang dapat diukur atau diperiksa setelah melakukan
puasa sekitar 10-12 jam. Kadar gula darah puasa juga dapat dipakai sebagai
patokan dalam mendiagnosis DM, dan Jika hasil dari pemeriksaan gula darah
puasa didapatkan ≥ 126 mg/dl dan ada keluhan khas dari DM, maka seseorang
tekanan osmotik cairan dalam tubuh dan volume cairan tubuh total (ekstrasel dan
intrasel) yang harus selalu berada dalam keadaan yang seimbang dan diatur oleh
ginjal juga organ yang pengendali utama air dan elektrolit, serta mengontrol
cairan yang dibutuhkan maka tubuh harus mengatur agar input cairan sama
dengan output cairan (balance concept). Tubuh juga dapat mengalami perubahan
keseimbangan cairan, yaitu keseimbangan positif (input lebih banyak dari pada
ouput) atau keseimbangan negatif (input kurang dari Output). Balance cairan
dapat diatur oleh dua faktor volume dan osmolaritas cairan ekstraselular. Kedua
dengan cara mengatur garam (natrium), dan osmolaritas cairan ekstraselular dapat
dipertahankan dengan cara mengatur air yang ada di dalam tubuh (William, 2017).
melalui urin. Glukosa tersebut akan menarik air dan elektrolit lain, sehingga
penderita sering mengeluh BAK, dengan demikian tubuh akan selalu merasa haus
4
dan mengakibatkan penderita banyak minum dan juga sering merasa lapar, hal ini
disebabkan glukosa di dalam darah tidak dapat dipakai, sehingga tubuh akan
2016).
DM. Berdasarkan hasil lab pemeriksaan gula darah puasa tidak terkendali > 126
mg/dl didapatkan sebanyak 19 orang dengan rentan usia 32 sampai 67 tahun dan
kadar gula darah puasa terkendali (90-125 mg/dl) ada 4 responden. Dari hasil
makan, minum (6-8 gelas), kemudian outputnya dari hasil BAK (4-6 kali).
Hampir seluruhnya penderita mengalami kadar gula darah puasa tidak terkendali
Malang.
merumuskan masalah “apakah ada hubungan kadar gula darah puasa dengan
Untuk mengetahui hubungan kadar gula darah puasa dengan balance cairan pada
pasien DM.
Malang.
3. Menganalisis hubungan kadar gula darah puasa dengan balance cairan pada
Penelitian ini sebagai bahan informasi tentang hubungan kadar gula darah puasa
1. Peneliti
cairan pada penderita DM, dan sebagai bahan masukan untuk penelitian
selanjutnya.
2. Institusi kesehatan
6
3. Masyarakat
darah secara teratur agar dapat terkontrol dengan baik dan untuk mencegah
TINJAUAN PUSTAKA
2.1.1 Definisi
metabolisme. Glukosa berfungsi sebagai sumber energi untuk sel dan sebagai
cadangan energi yang disimpan di dalam sel. Kadar gula darah puasa merupakan
kadar gula darah seseorang yang bisa dihitung atau di ukur setelah 8-10 jam
di serap oleh tubuh dalam alirah darah, peran glukosa dalam tubuh adalah sebagai
bahan bakar utama, yang berfungsi menghasilkan energi (Amir, 2015). Gula darah
dapat di pengaruhi oleh beberapa faktor sebagai pencetus antara lain pola makan
yang salah, obat, umur, dan kurangnya aktivitas dan lain sebagainya (Syauqy,
2015)
6
7
menjadi 2 yaitu kebiasaan makan yang benar dan kebiasaan makan yang
Gizi terdiri dari karbohidrat merupakan sumber energi utama sebagai zat
tenaga, dalam hal ini tingginya kadar gula darah di sebabkan karena tingginya
mengandung asam amino, yang berfungsi sebagai zat pembangun, akan tetapi
kemudian lemak, yang merupakan sumber energi padat dan dua kali lipat dari
dalam adiposa (jaringan lemak), hal ini akan berdampak pada peningkatan
lemak dalam tubuh sehingga akan meyebabkan terjadinya retensi insulin dan
menimbulkan DM.
b. Obat antidiabetik
Obat antidiabetik adalah salah satu pengobatan pada penderita DM, bila
ditemukan kadar gula darah masih tinggi atau belum memenuhi kadar sasaran
yang metabolik yang diinginkan, sehingga penderita harus minum obat (Obat
Hipoglikemik Oral atau OHO), atau bisa dilakukan dengan bantuan suntikan
insulin sesuai indikasi, untuk jenis obat antipsikotik atypical biasanya akan
c. Usia
penyakit DM adalah kelompok usia 45-54 tahun lebih tinggi 2,2% bila
d. Kurangnya aktivitas
antara 5-30 menit dapat menurunkan kadar gula darah, timbunan lemak, dan
tingkatkan agar kadar gula dalam darah tetap seimbang, jadi tubuh akan
berlebihan maka kadar glukosa darah tubuh menjadi rendah, sebaliknya jika
kadar gula dalam darah melebihi kemampuan tubuh menyimpan maka kadar
Ada berbagai cara yang bisa dilakukan untuk pemeriksaan kadar gula dalam
darah, diantaranya :
Tes glukosa darah puasa yaitu mengukur kadar glukosa darah setelah tidak
makan atau tidak minum yang manis kecuali air putih selama 8 jam, tes ini
biasanya dilaksanakan pada pagi hari sebelum sarapan pagi (ADA, 2014).
Kadar gula darah sewaktu bisa disebut juga glukosa darah acak atau kasual,
tes ini bisa dilakukan kapan saja, karena kadar glukosa darah sewaktu bisa
dikatakan normal jika hasilnya tidak lebih dari 200 mg/dL (ADA, 2014).
Tes toleransi glukosa oral merupakan cara untuk mengukur kadar glukosa
air.
10
2.2.1 Definisi
ke seluruh tubuh dan ekspresinya akan dikeluarkan melalui tubuh. Cairan tubuh
dapat dibagi menjadi 2 yaitu instrasel dan ekstrasel. Cairan intrasel (CIS) cairan
yang berada didalam sel merupakan jumlah cairan terbanyak, kira-kira 70% dari
jumlah total air dalam tubuh. Sedangkan cairan ekstraseluler (CES) merupakan
cairan yang berada di luar sel, kira-kira 30% dari cairan seluruh tubuh
(Syaifuddin, 2013).
cairan yang dibutuhkan maka tubuh harus mengatur agar input cairan sama
dengan output cairan (balance concept). Tubuh juga dapat mengalami perubahan
keseimbangan cairan, yaitu keseimbangan positif (input lebih banyak dari pada
output) atau keseimbangan negatif (output lebih banyak dari pada input).
11
dan elektrolit yaitu ginjal. Ginjal menerima sekitar 170 liter darah per hari untuk
satu liter darah yang masuk ke dalam glomerulus, 10% nya disaring keluar. Cairan
tubulus renalis akan menyerap semua bahan yang dibutuhkan tubuh. Sisa cairan
yang tidak diserap akan dikeluarkan dari dalam tubuh sebagai urin Saputra,L
(2013).
(misalnya ginjal dan paru), suhu tubuh yang tinggi dapat merangsang pengeluaran
cairan sehingga cairan akan hilang melalui keringat, keadaan sakit menimbulkan
dan glikoslisi otot yang dapat menimbulkan retensi natrium dan air sehingga
Sehingga, jika asupan nutrisi tidak sesuai kebutuhan maka tubuh akan memecah
oleh jumlah asupan cairan (input) dan pengeluaran (output). Asupan cairan yang
masuk dalam tubuh berasal dari sumber makanan dan minuman, cairan yang
dibutuhkan oleh tubuh dalam 24 jam antara 1800 ml-2500 ml. Sedangkan
serta pengeluaran melalui kulit Insensible Water Loss (IWL) sekitar 600 ml-800
(input) dan pengeluaran (output). Asupan cairan yang masuk dalam tubuh berasal
dari sumber makanan dan minuman, cairan yang dibutuhkan oleh tubuh dalam 24
jam antara 1800 ml-2500 ml. Sedangkan pengeluaran (output) didapatkan dalam
bentuk urin 1200 ml-1500 ml, pengeluaran feses 100 ml/hari, paru-paru
pengeluaran sekitar 300 ml-500 ml/hari, serta pengeluaran melalui kulit Insesible
Menentukan air metabolisme dengan rumus (Am x kgBB). Pada usia 1-3 tahun
kebutuhan cairannya 8 cc, usia 5-7 tahun kebutuhan cairannya 8-8,5 cc, serta pada
usia 7-11 tahun air metabolik yang di butuhkan sekitar 6-7 cc, serta pada usia 12-
13
14 tahun air metabolik yang dibutuhkan 5-6 cc. Usia dapat menjadi penentu dalam
menghitung jumlah IWL dengan rumus [(30-usia dalam tahun) x kgBB], jika
terjadi kenaikan suhu tubuh dapat di rumuskan IWL sebagai berikut [(30 –usia
dalam tahun) x kgBB] + 200 (suhu tubuh yang tinggi -36,80 C ). Menghitung
balance cairan dengan rumus [(input) - (output)] dimana input didapatkan dari
makanan dan minuman, infus, injeksi, air metabolik serta output yang didapatkan
diantaranya Berat badan dan Umur, karena penghitungannya antara usia anak
dengan dewasa berbeda. Menghitung balance cairan pun harus diperhatikan mana
yang termasuk kelompok Intake cairan dan mana yang output cairan. Berdasarkan
kutipan dari Iwasa M. Kogoshi S (1995) Fluid Therapy do (PT. Otsuka Indonesia)
Intake / cairan masuk = Output / cairan keluar + IWL (Insensible Water Loss)
Intake / Cairan Masuk : mulai dari cairan infus, minum, kandungan cairan dalam
makanan pasien, volume obat-obatan, termasuk obat suntik, obat yang di drip,
albumin.
Output / Cairan keluar : urine dalam 24 jam, jika pasien dipasang kateter maka
hitung dalam ukuran di urobag, jka tidak terpasang maka pasien harus
14
IWL (insensible water loss) : jumlah cairan keluarnya tidak disadari dan sulit
RUMUS IWL
IWL = (15 x BB )
24 jam
kebutuhan insulin. Insulin itu sendiri dalam tubuh dibutuhkan untuk membantu
masuknya glukosa dalam sel dan dapat digunakan untuk proses metabolisme dan
pertumbuhan sel. Berkurang atau tidak adanya insulin dapat menjadikan glukosa
akan tertahan didalam darah dan kekurangan glukosa yang sangat dibutuhkan
Gula dalam darah yang berlebihan (hiperglikemia) yang kronis ini akan
menjadi racun bagi tubuh. Sebagai glukosa yang tertahan didalam darah itu
melimpah ke sistem urin untuk di buang melalui urin atau air kencing. Karena itu,
Bermula dari itulah istilah kencing manis diberikan bagi penderita diabetes
menggunakan klasifikasi dengan dasar yang sama seperti klasifikasi yang dibuat
sebagai berikut :
Kerusakan ini akan berakibat pada keadaan defisiensi insulin yang terjadi secara
absolut. Penyebab dari kerusakan sel beta ini antara lain autoimun dan idiopatik.
yang cukup namun tidak dapat bekerja secara maksimal sehingga dapat
insulin juga dapat terjadi secara relative pada penderita DM tipe 2 dan sangat
oleh defek genetik fungsi sel beta, defek genetik kerja insulin, penyakit eksokrim
pancreas, endokrinopati pancreas, obat, zat kimia, infeksi, kelainan imunologi dan
didapati pertama kali pada masa kehamilan, biasanya pada trimester 2 dan 3. DM
dalam jangka waktu 5-10 tahun setelah melahirkan. Penderita DM tipe 2 harus
memulai banyak perubahan dalam hidupnya, mulai dari olahraga, kontrol gula
darah, minum obat, dan pembatasan diet yang harus dilakukan secara rutin
menunjukan beberapa reaksi psikologis yang negatif seperti marah, merasa tidak
Keluhan dan gejala yang khas ditambah hasil pemeriksaan glukosa darah
sewaktu >200 mg/dl, glukosa darah puasa >126 mg/dl sudah cukup untuk
pada hari yang lain atau Tes Toleransi Glukosa Oral (TTGO) yang abnormal
(Fatimah, 2015).
18
Nilai kadar gula bisa di hitung dengan beberapa cara dan kriteria yang berbeda.
Berikut ini adalah tabel penggolongan kadar gula darah sebagai patokan
penyaring (KEMKES,2014).
karbohidrat, protein dan lemak karena insulin tidak dapat bekerja secara optimal,
metabolisme tersebut dapat terjadi karena 3 hal yaitu, pertama karena kerusakan
pada sel-sel beta pankreas karena pengaruh dari luar seperti zat kimia, virus dan
bakteri. Penyebab yang kedua adalah penurunan reseptor pada kelenjar pankreas
dan yang ketiga karena kerusakan reseptor insulin di jaringan perifer (Fatimah,
2015).
Insulin yang dieksresi oleh sel beta pankreas berfungsi untuk mengatur
kadar glukosa darah dalam tubuh. Kadar glukosa darah yang tinggi akan
menstimulasi sel beta pankreas untuk mengsekresi insulin (Hanun, 2013). Sel beta
pankreas yang tidak berfungsi secara optimal sehingga berakibat pada kurangnya
19
sekresi insulin menjadi penyebab kadar glukosa darah menjadi tinggi. Penyebab
dari kerusakan sel beta pankreas sangat banyak seperti penyakit autoimun dan
Kadar glukosa darah yang tinggi selanjutnya berakibat pada proses filtrasi
darah masuk kedalam urin (glukosuria) sehingga terjadi diuresis osmotic yang
yang keluar menimbulkan sensasi rasa haus (polidipsia). Glukosa yang hilang
melalui urin dan resistensi insulin menyebabkan kurangnya glukosa yang akan
mudah lelah dan mengantuk jika tidak ada kompensasi terhadap kebutuhan energi
Gejala yang muncul pada penderita DM sangat bervariasi antara satu penderita
menimbulkan gejala akut yaitu banyak minum, banyak kencing dan mudah lelah.
20
jarum, rasa tebal pada kulit, kram, kelelahan, mudah mengantuk, penglihatan
memburuk, yang ditandai dengan sering berganti lensa kacamata, gigi mudah
goyah dan mudah lepas, keguguran pada ibu hamil dan ibu melahirkan dengan
infeksi dengan akibat mudahnya terjadi infeksi kaki, kemudian dapat berkembang
dengan cara menerapkan pola hidup sehat (terapi nutrisi, medis, dan aktifitas fisik)
berikut:
21
A. Perencanaan diet
menyeluruh tenaga kesehatan seperti dokter, perawat, ahli gizi, pasien dan
a) Karbohidrat
karbohidrat yang berserat tinggi. Pembatasan karbohidrat total < 130 gr/hari tidak
tidak melebihi batas aman konsumsi harian. Penderita DM dianjurkan makan tiga
kali sehari dan perlu diberikan makanan selingan seperti buah atau makanan lain
b) Lemak
dianjurkan melebihi 30% total asupan energi. Komposisi yang dianjurkan yaitu
untuk lemak jenuh < 7% kebutuhan kalori, lemak tidak jenuh ganda < 10 %,
selebihnya dari lemak tidak jenuh tunggal. Bahan makanan yang perlu dibatasi
22
adalah makanan yang banyak mengandung lemak jenuh dan lemak trans seperti
daging berlemak dan susu fullcream, konsumsi kolesterol dianjurkan < 200
mg/hari.
c) Protein
total asupan energi. Sumber protein yang baik diantaranya meliputi ikan, udang,
cumi-cumi, daging tanpa lemak, ayam tanpa kulit, produk susu dengan rendah
2) Kebutuhan kalori
kebutuhan kalori basal yang besarnya 25-30 kal/kg BB ideal. Jumlah kebutuhan
tersebut dikurangi atau ditambah bergantung oleh beberapa faktor yaitu jenis
B. Latihan Jasmani
Latihan jasmani merupakan salah satu pilar dalam pengelolaan DM. Kegiatan
jasmani sehari-hari dan latihan jasmani dilakukan secara teratur sebanyak 3-5 kali
dalam seminggu, waktunya sekitar 30-45 menit, dengan total waktu 150 menit per
latihan jasmani jika kadar glukosa darah <100 mg/dL pasien harus mengkonsumsi
karbohidrat terlebih dahulu dan bila kadar glukosa darah >250 mg/dL dianjurkan
untuk menunda latihan jasmani. Latihan jasmani yang dianjurkan yaitu latihan
jasmani yang bersifat aerobik dengan intensitas sedang seperti jalan cepat,
jasmani. Terapi farmakologis terdiri dari obat oral dan bentuk suntikan.
yaitu :
Obat pemacu sekresi insulin meliputi sulfonylurea adalah obat golongan ini
merupakan obat yang kerjanya sama dengan obat sulfonilurea dapat melakukan
respon penekanan pada peningkatan insulin fase pertama. Obat ini diabsorpsi
dengan cepat dengan pemberian secara oral dan di sekresi dengan cepat oleh hati,
fungsi ginjal dosisnya diturunkan 30-60 ml/menit/1,73 m². Metformin tidak boleh
diberikan pada beberapa keadaan seperti adanya gangguan hati berat, serta pasien-
24
menurunkan kadar glukosa darah sesudah makan. Efek samping obat yang timbul
flaktus.
sehingga GLP-I tetap dalam konsentrasi yang tinggi dalam bentuk aktif. Aktivitas
GLP-I untuk meningkatkan sekresi insulin dan menekan sekresi glukagon yang
bergantung pada kadar glukosa darah. Contoh obat golongan ini adalah Sitagliptin
dan Linagliptin.
Obat golongan penghambat SGLT-2 merupakan jenis obat diabetes oral jenis
baru yang menghambat penyerapan kembali glukosa di tubuli distal ginjal dengan
cara menghambat kinerja transporter glukosa SGLT-2. Obat yang termasuk dalam
a) Insulin
Insulin diberikan dalam keadaan penurunan berat badan dengan cepat, stress
berat, hiperglikemia berat disertai ketosis. Efek samping pada terapi insulin adalah
b) Agonis GLP-1
D. Edukasi
memerlukan partisipasi aktif dari pasien dan keluarga pasien. Upaya edukasi
untuk memiliki perilaku sehat. Tujuan dari edukasi diabetes adalah mendukung
timbul secara dini atau saat masih reversible, ketaatan perilaku pemantauan dan
berhenti merokok, meningkatkan aktifitas fisik, dan mengurangi asupan kalori dan
Polidipsi
Keterangan:
Diteliti
Tidak diteliti
Hubungan
1
2
Pengaruh
3.1 Kerangka konsep hubungan kadar gula darah Puasa dengan balance cairan
tubuh pada penderita Diabetes Melitus
3.2 Konsep Teori
Kadar gula darah puasa merupakan glukosa darah yang di ukur setelah
seseorang melakukan puasa 10-12 jam. Glukosa di alirkan melalui darah dan
merupakan sumber utama energi untuk sel-sel tubuh. Faktor yang mempengaruhi
sehingga gula akan menumpuk di dalam darah sehingga dan tidak dapat masuk ke
menyebabkan glukosa dikeluarkan melalui air kemih. Glukosa yang ada akan
menarik air dan elektrolit lain, sehingga penderita sering mengeluh BAK (Poliuri),
dengan demikian tubuh akan selalu merasa haus dan mengakibatkan penderita
H1 = Ada hubungan kadar gula darah dengan belance cairan pada penderita
diabetes melitus
BAB 4
METODE PENELITIAN
4.2.1 Populasi
yang ada di Puskesmas Kendalsari Kota Malang yang berjumlah 127 orang.
4.2.2 Sampel
kendalsari kota Malang yang telah memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi
peneliti. Rumus yang dapat dipergunakan untuk menentukan besar sampel dari
N
n
1 N (d ) 2
Keterangan:
n = Besar sampel
N= Besar populasi
30
31
127
n=
1+ 127(0,05)2
127
n= = 96,39 = 96 orang
1,3175
a) Kriteria inklusi :
responden.
Lowokwaru Malang.
b) Kriteria eksklusi:
random sampling dengan populasi 127 orang, diambil 31 orang yang dikeluarkan
Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah semua penderita diabetes melitus di Puskesmas
Kendalsari Kecamatan Lowokwaru Malang yang berjumlah 127 orang
Sampel
Sampel dalam penelitian ini adalah sebagian penderita diabetes melitus di
Puskesmas Kendalsari Kecamatan Lowokwaru Malang yang berjumlah 96 orang
Teknik Sampling
Teknik Pengambilan Sampel dilakukan dengan simple random sampling
dengan menggunakan kocok dadu dan memakai 96 sampel
Pengumpulan
data
Variabel independen Variabel dependen
kadar glukosa darah balance cairan diukur
puasa diukur dengan dengan Observasi
glukotes
Pengolahan data
Uji statistik menggunakan independent T test dengan α = 0,05
Hasil penelitian
H1 diterima jika p ≤ 0,05 dan H1 ditolak jika p > 0,05
Kesimpulan
33
Gambar 4.1 Kerangka kerja hubungan kadar gula darah puasa dengan balance
cairan pada penderita diabetes melitus di Puskesmas Kendalsari
Kecamatan Lowokwaru Malang.
4.4.1 Lokasi
klien.
Variable bebas dalam penelitian ini adalah kadar gula darah puasa.
Table 4.7 Definisi operasional hubungan kadar gula darah puasa dengan balance
cairan pada penderita diabetes melitus di Puskesmas Kendalsari kota Malang.
1 Variabel Kadar gula Kadar Rekam medik Rasio Kadar gula darah
independen dalam darah gula darah puskesmas tidak terkendali >
kadar gula yang dapat puasa kendalsari 126 mm/dl
darah diukur atau tidak
dihitung terkendali
setelah >126 Kadar gula darah
melakukan mg/dl puasa terkendali <
puasa sekitar 16 mg/dl.
10-12 jam.
(Indah Fahmiyah,
I Nyoman Latra,
2016)
(William, 2017)
35
melitus.
4. Calon peneliti mengurus surat ijin penelitian dari Dinkes kota Malang untuk
8. Penyusunan proposal
Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui sebaran distribusi suatu data apakah
normal atau tidak. Uji normalitas data berupa uji Kolmogorov-Smirnov digunakan
apabila besar sampel > 50 sedangkan uji Shapiro-Wilk digunakan apabila besar
dalam bentuk p dan diasumsikan normal. Jika nilainya di atas 0,05 maka distribusi
data dinyatakan memenuhi asumsi normalitas, dan jika nilainya di bawah 0,05
Uji Pearson merupakan uji parametrik (distribusi data normal) yang digunakan
untuk mencari hubungan dua variabel atau lebih, namun bila distribusi data tidak
normal dapat digunakan uji statistik non parametrik Uji spearman. Adapun syarat
komputer dengan tingkat kesalahan 5%. Apabila didapatkan nilai p < 0,05 maka
37
3) Uji Komparatif
Uji chi square merupakan uji komparatif yang digunakan dalam data di penelitian
ini. Uji signifikan antara data yang diobservasi dengan data yang diharapkan
dilakukan dengan batas kemaknaan (α < 0,1) yang artinya apabila diperoleh p < α,
variabel dependent dan bila nilai p > α, berarti tidak ada perbandingan yang
b. Uji T Independent
digunakan untuk membandingkan dua mean populasi yang berasal dari populasi
yang sama. Dalam hal ini uji tersebut digunakan untuk mengetahui perbandingan
kadar gula darah puasa dengan balance cairan. Namun, bila distribusi data tidak
a. Informed Consent
untuk diteliti maka peneliti tidak memaksa dan menghormati hak – hak
responden.
Nama responden tidak akan dicantumkan pada lembar kuesioner, dan untuk
c. Confidentiality (kerahasiaan)
d. Prinsip Manfaat
3. Resiko
e. Keadilan (Justice)
Sampel yang bersedia menjadi sampel maupun yang tidak bersedia tetap
Amir, Suci M.J. Kadar Glukosa darah Sewaktu pada pasien Diabetes
Melitus Tipe 2 di puskesmas Bahu Kota Manado. Jurnal e-Biomeik (eBm),
Volume 3, Nomor 1, Januari-April 2015.
Denny,O. Kepatuhan minum obat diabetes pada pasien diabetes
mellitus tipe 2. Skripsi. Fakultas ilmu keperawatan. Universitas
Indonesia.2014
Fatimah, R.N. (2015). Diabetes Melitus Tipe 2. Fakultas Kedokteran
Universitas Lampung, 4, 93-101. [Link]
Ferri, FF. 2015. Ferri's Clinical Advisor 2015. Diabetes Mellitus
Elsevier Inc Husain (2010)
IDF Diabetes Atlas Sixth Edition, International Diabetes
Federation. 2013 diakses tanggal 15 November 2016.
[Link]
IDF. 2017. IDF Diabetes Atlas Sixth Edition. International Diabetes Federation.
Irianto, Ferli. 2014. Gizi Seimbang Dalam Kesehatan Reproduksi (Balance
Nutriont In Repproductive Health). Bandung: ALFABETA
Janitra, F.E 2018. Hubungan Kontrol Glukosa DarahDengan Penurunan
Vaskularisasi Perifer Pada Pasien Diabetes Mellitus. [Link]
Keperawatan Pemikiran Ilmiah.4 (3). 18-22
Ludiana, 2017. Hubungan Kecemasan Dengan Kadar Glukosa Darah
Pada Penderita Diabetes Mellitus Di Wilayah Kerja Puskesmas
Sumbersari Bantul Kec. Metro Selatan Kota Metro.
[Link]
9. Diakses 24 Maret 2018.
Mubarak, I.W., Nurul Chayatin., & Joko Susanto. (2015). Standart Asuhan
Keperawatan Dan Prosedur Tetap Dalam Praktik Keperawatan: Konsep Dan
Aplikasi Dalam Klinik, Jakarta: Salemba MedikaNursalam. (2015). ILMU
KEPERAWATAN Pendekatan Praktis.
Perkumpulan Endrokrinologi Indonesia (PERKENI). (2015). Pengelolaan
dan pencegahan diabetes melitus di Indonesia.
[Link]
40
41
Lampiran 1
PENJELASAN PENELITIAN
1. Tujuan
42
2. Manfaat
3. Kerugian
jelas dan pada laporan penelitian nama subyek penelitian dibuat dalam
bentuk kode.
Peneliti
Lampiran 2
Jenis kelamin :
Agama :
Suku :
Pendidikan :
Pekerjaan :
Alamat :
hal-hal yang tidak berkenan pada saya, maka saya berhak mengajukan
Malang, 2018
Peneliti Responden
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 3
Serfasius malo muda
SOP PEMERIKSAAN GULA DARAH
7. Unit a. Laboratorium
Terkait b. Poli Umum
c. Poli KIA
d. UGD
Lampiran 4
Tanggal :
Berat Badan:
Cairan Masuk (ml) Cairan Keluar (ml)
Waktu Minum Makanan Muntah Urin BAB Keterangan
(WIB)
46
01.00
02.00
03.00
04.00
05.00
06.00
07.00
SUB
TOTAL
08.00
09.00
10.00
11.00
12.00
13.00
14.00
SUB
TOTAL
15.00
16.00
17.00
18.00
19.00
20.00
21.00
22.00
23.00
24.00
SUB
TOTAL
TOTAL /
24 Jam