0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
41 tayangan14 halaman

Faktor Risiko Demam Berdarah Dengue

Faktor risiko utama penyakit demam berdarah dengue (DBD) adalah faktor lingkungan seperti keberadaan tempat perindukan nyamuk Aedes seperti wadah penampungan air dan kebiasaan masyarakat menggantung pakaian di dalam rumah, serta kepadatan vektor nyamuk yang tinggi. Faktor ini memungkinkan perkembangbiakan dan pertumbuhan jumlah nyamuk Aedes sehingga risiko terinfeksi virus DBD meningkat.

Diunggah oleh

galuh
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
41 tayangan14 halaman

Faktor Risiko Demam Berdarah Dengue

Faktor risiko utama penyakit demam berdarah dengue (DBD) adalah faktor lingkungan seperti keberadaan tempat perindukan nyamuk Aedes seperti wadah penampungan air dan kebiasaan masyarakat menggantung pakaian di dalam rumah, serta kepadatan vektor nyamuk yang tinggi. Faktor ini memungkinkan perkembangbiakan dan pertumbuhan jumlah nyamuk Aedes sehingga risiko terinfeksi virus DBD meningkat.

Diunggah oleh

galuh
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Faktor Risiko DBD

1. Faktor Internal
Faktor internal meliputi ketahanan tubuh atau stamina seseorang. Jika

kondisi badan tetap bugar kemungkinannya kecil untuk terkena penyakit DBD. Hal

tersebut dikarenakan tubuh memiliki daya tahan cukup kuat dari infeksi baik yang

disebabkan oleh bakteri, parasit, atau virus seperti penyakit DBD. Oleh karena itu

sangat penting untuk meningkatkan daya tahan tubuh pada musim hujan dan

pancaroba. Pada musim itu terjadi perubahan cuaca yang mempengaruhi

pertumbuhan dan perkembangan virus dengue penyebab DBD. Hal ini menjadi

kesempatan jentik nyamuk berkembangbiak menjadi lebih banyak.

2. Faktor Eksternal
Faktor eksternal merupakan faktor yang datang dari luar tubuh manusia.

Faktor ini tidak mudah dikontrol karena berhubungan dengan pengetahuan,

lingkungan dan perilaku manusia baik di tempat tinggal, lingkungan sekolah, atau

tempat bekerja.
3.
Faktor yang memudahkan seseorang menderita DBD dapat dilihat dari

kondisi berbagai tempat berkembangbiaknya nyamuk seperti di tempat

penampungan air, karena kondisi ini memberikan kesempatan pada nyamuk untuk

hidup dan berkembangbiak. Hal ini dikarenakan tempat penampungan air

masyarakat indonesia umumnya lembab, kurang sinar matahai dan sanitasi atau

kebersihannya (Satari dan Meiliasari, 2004).

Menurut Suroso dan Umar (Tanpa tahun), nyamuk lebih menyukai benda-

benda yang tergantung di dalam rumah seperti gorden, kelambu dan baju/pakaian.

Maka dari itu pakaian yang tergantung di balik pintu sebaiknya dilipat dan

disimpan dalam almari, karena nyamuk Aedes aegypti senang hinggap dan

beristirahat di tempat-tempat gelap dan kain yang tergantung untuk

berkembangbiak, sehingga nyamuk berpotensi untuk bisa mengigit manusia (Yatim

2007).
Menurut Hadinegoro et al (2001), semakin mudah nyamuk Aedes

menularkan virusnya dari satu orang ke orang lainnya karena pertumbuhan

penduduk yang tinggi dapat meningkatkan kesempatan penyakit DBD menyebar,

urbanisasi yang tidak terencana dan tidak terkendali, tidak adanya kontrol vektor

nyamuk yang efektif di daerah endemis, peningkatan sarana transportasi.

Menurut penelitian Fathi, et al (2005) ada peranan faktor lingkungan dan

perilaku terhadap penularan DBD, antara lain:

a. Keberadaan jentik pada kontainer

Keberadaan jentik pada container dapat dilihat dari letak, macam,

bahan, warna, bentuk volume dan penutup kontainer serta asal air yang

tersimpan dalam kontainer sangat mempengaruhi nyamuk Aedes betina

untuk menentukan pilihan tempat bertelurnya. Keberadaan kontainer

sangat berperan dalam kepadatan vektor nyamuk Aedes, karena semakin

banyak kontainer akan semakin banyak tempat perindukan dan akan

semakin padat populasi nyamuk Aedes. Semakin padat populasi

nyamuk Aedes, maka semakin tinggi pula risiko terinfeksi virus DBD

dengan waktu penyebaran lebih cepat sehingga jumlah kasus penyakit

DBD cepat meningkat yang pada akhirnya mengakibatkan terjadinya

KLB. Dengan demikian program pemerintah berupa penyuluhan

kesehatan masyarakat dalam penanggulangan penyakit DBD antara lain

dengan cara menguras, menutup, dan mengubur (3M) sangat tepat dan

perlu dukungan luas dari masyarakat dalam pelaksanaannya.

b. Kepadatan vektor

Kepadatan vektor nyamuk Aedes yang diukur dengan menggunakan

parameter ABJ yang di peroleh dari Dinas Kesehatan Kota. Hal ini

nampak peran kepadatan vektor nyamuk Aedes terhadap daerah yang

terjadi kasus KLB. Sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh
para peneliti sebelumnya yang menyatakan bahwa semakin tinggi angka

kepadatan vektor akan meningkatkan risiko penularan.

c. Tingkat pengetahuan DBD

Pengetahuan merupakan hasil proses keinginan untuk mengerti, dan

ini terjadi setelah seseorang melakukan penginderaan terutama indera

pendengaran dan pengelihatan terhadap obyek tertentu yang menarik

perhatian terhadap suatu objek.

Menurut Notoatmodjo (2003), pengetahuan merupakan respons

seseorang terhadap stimulus atau rangsangan yang masih bersifat

terselubung, sedangkan tindakan nyata seseorang yang belum terwujud

(overt behavior). Pengetahuan itu sendiri di pengaruhi oleh tingkat

pendidikan, dimana pengetahuan kesehatan akan berpengaruh kepada

perilaku sebagai hasil jangka menengah (intermediate impact) dari

pendidikan kesehatan, selanjutnya perilaku kesehatan akan berpengaruh

pada meningkatnya indikator kesehatan masyarakat sebagai keluaran

dari pendidikan.

Menurut hasil penelitian Widyana (1998), faktor-faktor risiko yang

mempengaruhi kejadian DBD adalah:

1. Kebiasaan menggatung pakaian

Kebiasaan menggantung pakaian di dalam rumah merupakan

indikasi menjadi kesenangan beristirahat nyamuk Aedes aegypti. Kegiatan

PSN dan 3M ditambahkan dengan cara menghindari kebiasaan

menggantung pakaian di dalam kamar merupakan kegiatan yang mesti

dilakukan untuk mengendalikan populasi nyamuk Aedes aegypti,

sehingga penularan penyakit DBD dapat dicegah dan dikurangi.


2. Siklus pengurasan TPA > 1 minggu sekali.

Salah satu kegiatan yang dianjurkan daelam pelaksanaan PSN

adalah pengurasan TPA sekurang-kurangnya dalam frekuensi 1 minggu

sekali.

3. TPA yang berjentik, halaman yang tidak bersih dan anak dengan

golongan umur 5-9 tahun


Patofisiologi

Walaupun demam dengue (DD) dan demam berdarah dengue(DBD) disebabkan oleh virus
yang sama, tapi mekanisme patofisiologisnya yang berbeda yang menyebabkan perbedaan
klinis. Perbedaan yang utama adalah hemokonsentrasi yang khas pada DBD yang bisa
mengarah pada kondisi renjatan. Renjatan itu disebabkan karena kebocoran plasma yang
diduga karena proses imunologi. Pada demam dengue hal ini tidak terjadi. Manifestasi klinis
demam dengue timbul akibat reaksi tubuh terhadap masuknya virus. Virus akan berkembang
di dalam peredaran darah dan akan ditangkap oleh makrofag. Segera terjadi viremia selama 2
hari sebelum timbul gejala dan berakhir setelah lima hari gejala panas mulai. Makrofag akan
segera bereaksi dengan menangkap virus dan memprosesnya sehingga makrofag menjadi
APC (Antigen Presenting Cell). Antigen yang menempel di makrofag ini akan mengaktifasi
sel T-Helper dan menarik makrofag lain untuk memfagosit lebih banyak virus. T-helper akan
mengaktifasi sel T-sitotoksik yang akan melisis makrofag yang sudah memfagosit virus. Juga
mengaktifkan sel B yang akan melepas antibodi. Ada 3 jenis antibodi yang telah dikenali
yaitu antibodi netralisasi, antibodi hemagglutinasi, antibodi fiksasi komplemen (WHO,
2009).

Proses diatas menyebabkan terlepasnya mediator-mediator yang merangsang terjadinya


gejala sistemik seperti demam, nyeri sendi, otot, malaise dan gejala lainnya. Dapat terjadi
manifetasi perdarahan karena terjadi agregasi trombosit yang menyebabkan trombositopenia,
tetapi trombositopenia ini bersifat ringan (WHO, 2009). Imunopatogenesis DBD dan DSS
masih merupakan masalah yang kontroversial. Dua teori yang digunakan untuk menjelaskan
perubahan patogenesis pada DBD dan DSS yaitu teori virulensi dan hipotesis infeksi
sekunder (secondary heterologous infection theory).

Teori virulensi dapat dihipotesiskan sebagai berikut : Virus dengue seperti juga virus
binatang yang lain, dapat mengalami perubahan genetik akibat tekanan sewaktu virus
mengadakan replikasi baik pada tubuh manusia maupun pada tubuh nyamuk. Ekspresi
fenotipik dari perubahan genetik dalam genom virus dapat menyebabkan peningkatan
replikasi virus dan viremia, peningkatan virulensi, dan mempunyai potensi untuk
menimbulkan wabah. Renjatan yang dapat menyebabkan kematian terjadi sebagai akibat
serotipe virus yang paling virulen (Hadinegoro, 2011).

Secara umum hipotesis secondary heterologous infection menjelaskan bahwa jika terdapat
antibodi yang spesifik terhadap jenis virus tertentu maka antibodi tersebut dapat mencegah
penyakit, tetapi sebaliknya apabila antibodi terdapat dalam tubuh merupakan antibodi yang
tidak dapat menetralisasi virus, justru dapat menimbulkan penyakit yang berat. Antibodi
heterolog yang telah ada sebelumnya akan mengenai virus lain yang akan menginfeksi dan
kemudian membentuk kompleks antigen-antibodi yang akan berikatan dengan Fc reseptor
dari membran sel leukosit terutama makrofag. Dihipotesiskan juga mengenai antibody
dependent enhancement (ADE), suatu proses yang akan meningkatkan infeksi dan replikasi
virus dengue di dalam sel mononuklear. Sebagai respon terhadap infeksi tersebut, terjadi
sekresi mediator vasoaktif yang kemudian menyebabkan peningkatan permeabilitas
pembuluh darah, sehingga mengakibatkan keadaan hipovolemia dan syok (Hadinegoro,
2011).

Patogenesis terjadinya syok berdasarkan hipotesis infeksi sekunder (teori secondary


heterologous infection) dapat dilihat pada Gambar 1.1 . Sebagai akibat infeksi sekunder oleh
tipe virus dengue yang berlainan pada seorang pasien, respon antibodi anamnestik yang akan
terjadi dalam waktu beberapa hari mengakibatkan proliferasi dan transformasi limfosit
dengan menghasilkan titer tinggi antibodi IgG antidengue. Disamping itu, replikasi virus
dengue terjadi juga di dalam limfosit yang bertransformasi dengan akibat terdapatnya virus
dalam jumlah banyak. Hal ini akan mengakibatkan terbentuknya kompleks antigen-antibodi
(virus antibody complex) yang selanjutnya akan mengakibatkan aktivasi sistem komplemen.

Pelepasan C3a dan C5a akibat aktivasi C3 dan C5 menyebabkan peningkatan permeabilitas
dinding pembuluh darah dan merembesnya plasma dari ruang intravaskuler ke ruang
ekstravaskuler. Pada pasien dengan syok berat, volume plasma dapat berkurang sampai lebih
dari 30% dan berlangsung selama 24 – 48 jam. Perembesan plasma yang erat hubungannya
dengan kenaikan permeabilitas dinding pembuluh darah ini terbukti dengan adanya
peningkatan kadar hematokrit, penurunan kadar natrium dan terdapatnya cairan di dalam
rongga serosa (efusi pleura dan asites). Syok yang tidak tertanggulangi secara adekuat akan
menyebabkan asidosis dan anoksia, yang dapat berakibat fatal, oleh karena itu pengobatan
syok sangat penting guna mencegah kematian (Hadinegoro, 2011).
Secondary heterologous dengue infection
Replikasi virusAnamnestic antibody response

KompleksAnafilatoksin
Virus-Antibody Aktivasi Komplemen
(C3a, Komplemen
Permeabilitas kapiler HistaminHt
C5a) dalam urin
>30% pd meningkat
Perembesan meningkat Meningkat
kasus Hipovole
Plasma Natrium
syok 24-48 mia
SYOK Menurun
jam Anoks Asidos
MENINGGA is Cairan dalam
ia
L rongga serosa
Gambar 1.1 Patogenesis Terjadinya Syok Pada DBD. (Hadinegoro, 2011)
DAFTAR PUSTAKA

World Health Organization. DENGUE Guidelines for diagnosis, treatment, prevention and
control. New Edition 2009.
Hadinegoro, [Link] Rezeki (2011). Tata Laksana Demam Berdarah Dengue di Indonesia.
Terbitan Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Edisi Ketiga. Jakarta.
Arsin AA dan Wahiduddin. 2004. Faktor-faktor yang Berpengaruh Terhadap Kejadian
Demam Berdarah Dengue Di Kota Makasar. Jurnal Kedokteran Yarsi. ISSN: 0854-
1159 Vol. 12 No. 2. Mei-Agustus 2004: 23.
Duma N., Darmawansyah, Arsin AA. 2007. Analisis Faktor Yang Berhubungan Dengan
Kejadian Demam Berdarah Dengue Di Kecamatan Baruga Kota Kendari 2007. Vol. 4
No. 2. September 2007: 91-100.
Fathi, Keman S., Wahyuni CU. 2005. Peran Faktor Lingkungan dan Perilaku terhadap
Penularan Demam Berdarah Dengue di Kota Mataram. Jurnal Kesehatan
Lingkungan. Vol. 2. No. 1. Juli 2005: 1-10.
Hadinegoro S., Soegijanto S., Wuryadi S., Seroso T. 2001. Tatalaksana Demam Berdarah
Dengue Di Indonesia. Jakarta: Depkes RI.
Hadinegoro dan Satari. 2002. Demam Berdarah Dengue Naskah Lengkap Pelatihan bagi
Pelatih Dokter Spesialis Anak & Dokter Spesialis Penyakit Dalam dalam
Tatalaksana Kasus DBD. Jakarta: FK UI.
Notoatmodja, S. 2003. Ilmu Kesehatan Masyarakat Prinsip-
[Link]: Rineka Cipta.
Nugroho B. 1999. Tinjauan Tentang Keadaan Lingkungan dan Kepadatan Hunian
Rumah pada Kejadian Penyakit Demam Berdarah Dengue di Wilayah Verja
Puskesmas Mangkang Tahun 1999. (Skripsi) Semarang: FKM UNDIP.
Sumekar DW. 2007. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Keberadaan Jentik
Nyamuk Aedes di Kelurahan RajaBasa. Seminar Hasil Penelitian dan Pengabdian
kepada Masyarakat. Unila.
Satari HI dan Meiliasari M. 2004. Demam Berdarah. Jakarta: Puspa Swara.
Widyana. 1998. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kejadian DBD Di Kabupaten Bantul.
Jurnal Epidemiologi Indonesia. Vol. 2 Edisi 1-1988: 7.
Yatim, Faisal. 2007. Macam-Macam Penyakit Menular dan Cara Pencegahannya. Jilid
2. Jakarta: Pustaka Obor Populer.

Anda mungkin juga menyukai