100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
320 tayangan19 halaman

Komponen dan Prinsip Computed Radiography

Makalah ini membahas tentang Computed Radiography yang meliputi definisi, komponen-komponen, dan prinsip kerjanya. Computed Radiography adalah sistem yang mengubah sistem analog pada radiografi konvensional menjadi digital dengan menggunakan photostimulable phosphor. Komponen utamanya adalah kaset dan imaging plate yang terbuat dari bahan photostimulable phosphor untuk menyimpan sinar X. Prinsip kerjanya adalah imaging plate akan menyimpan sinar X

Diunggah oleh

Randytaufiq
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
320 tayangan19 halaman

Komponen dan Prinsip Computed Radiography

Makalah ini membahas tentang Computed Radiography yang meliputi definisi, komponen-komponen, dan prinsip kerjanya. Computed Radiography adalah sistem yang mengubah sistem analog pada radiografi konvensional menjadi digital dengan menggunakan photostimulable phosphor. Komponen utamanya adalah kaset dan imaging plate yang terbuat dari bahan photostimulable phosphor untuk menyimpan sinar X. Prinsip kerjanya adalah imaging plate akan menyimpan sinar X

Diunggah oleh

Randytaufiq
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

MAKALAH KOMPUTER RADIOLOGI

COMPUTED RADIOGRAPHY

Dosen pengampu : Shelly Angella, [Link]

Disusun oleh :

Annisa Mahfuyana
NIM : 19002006

PROGRAM STUDI D-3 TEKNIK RADIOLOGI


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
AWAL BROS PEKANBARU
TAHUN AKADEMIK 2020 / 2021
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh


Puji syukur atas kehadirat Allah SWT atas segala limpahan rahmat dan karunia-Nya
sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Computed Radiography”.
Penulisan makalah ini dalam rangka memenuhi tugas dari mata kuliah Komputer Radiologi
yang di ampu oleh Ibu Shelly Angella, [Link]

Dalam penyusunan makalah ini tidak terlepas dari bantuan dan masukan dari berbagai
pihak. Untuk itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah
berpartisipasi dalam penyelesaian makalah ini.

Terlepas dari itu, penulis menyadari bahwa masih ada kekurangan, baik dari segi susunan
kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu, penulis menerima segala saran dan kritik
dari pembaca agar dapat memperbaiki makalah ini.

Penulis berharap makalah tentang “Computed Radiography” ini dapat memberikan


manfaat kepada pembaca.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Pekanbaru, 4 January 2021

Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR................................................................................................i
DAFTAR ISI...............................................................................................................ii
DAFTAR GAMBAR..................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar belakang..........................................................................................1
B. Rumusan masalah....................................................................................1
C. Tujuan......................................................................................................2
D. Manfaat Penulisan....................................................................................2
BAB II PEMBAHASAN
A. Definisi Computed Radiography (CR) ...................................................3
B. Komponen – Komponen Computed Radiography (CR).........................3
C. Prinsip Kerja Computed Radiography (CR)...........................................10
D. Persamaan dan Perbedaan antara Radiografi Konvesional dan
Computer Radiography..........................................................................12
E. Kelebihan dan Kekurangan Computed Radiography (CR).....................12
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan...............................................................................................14
B. Saran..........................................................................................................14
DAFTAR PUSTAKA

ii
DAFTAR GAMBAR

2.1 Computed Radiografi....................................................................................................3

2.2 Kontruksi Kaset IP ( Image Receptor ).........................................................................4

2.3 Komponen-komponen IP ( Image Receptor).................................................................5

2.4 Reading Imaging Plate...................................................................................................8

iii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Computed Radiography CR) membawa perubahan yang berarti dalam proses pencitraan
dimana penggunaan film sudah ditinggalkan. CR menerapkan proses digitalisasi citra dengan
menggunakan imaging plate(IP). Di dalam IP terdapat photostimulable phosphor (PSP) yang
menangkap atenuasi sinar X. Sinyal–sinyal tersebut kemudian dikonversi dan dibaca dalam IP
reader yang kemudian dapat ditampilkan citra pada monitor.
Citra yang dihasilkan oleh CR termasuk dalam tipe citra digital. Citra digital merupakan
citra yang dihasilkan dari pengolahan dengan menggunakan komputer, dengan cara
merepresentasikan citra secara numerik. Citra tersebut ditampilkan dalam bentuk matrik
(kolom dan baris). Satu elemen matrik disebut picture element (pixel) yang menunjukkan nilai
tingkat keabuan (grey level) dari elemen citra tersebut. Citra yang dihasilkan oleh perangkat
CR dapat digunakan untuk menegakkan diagnosa. Oleh karena itu, semua perangkat CR harus
berfungsi sesuai standar yang telah ditetapkan. Keluaran citra yang buruk oleh perangkat CR
dapat mengakibatkan penyinaran ulang, yang berarti memberikan dosis radiasi tambahan dan
akan merugikan pihak terkait dalam pemeriksaan.

B. Rumusan Masalah
1. Apakah yang dimaksud dengan Computer Radiography?
2. Apa sajakah komponen-komponen Computer Radiography?
3. Bagaimana prinsip kerja Computer Radiography?
C. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui Apa yang dimaksud dengan Computed radiography
2. Untuk mengetahui Apa saja komponen – komponen Computed Radiografi
3. Untuk mengetahui bagaimana prinsip kerja Computed Radiografi
D. Manfaat Penulisan
1. Manfaaat Praktis
Memberikan pengetahuan tentang apa itu Computed Radiografi dan Kegunaannya.

1
2

2. Manfaat Teoritis
Meningkatkan pengetahuan dan menjadi sumber referensi dan informasi bagi penulis dan
pembaca agar lebih mengetahui tentang Computed Radiography.
BAB II

PEMBAHASAN

A. Definisi Computed Radiography


Computed radiography adalah suatu sistem atau proses untuk mengubah sistem analog
pada konvensional radiografi menjadi digital radiografi, dengan menggunakan
photostimulable untuk mengakuisisi data dan menampilkan parameter dari gambaran yang
akan dimanipulasi oleh komputer (Balliger, 1999:370) . Computed radiography adalah proses
merubah system analog pada konvensional radiografi menjadi digital radiografi ( Bambang
Supriyono 2003:1).
Teknologi CR menggunakan photostimulating storage phosphor (PSP) sebagai film pada
imaging plate. Imaging plate terdiri dari barium-based phosphor yang berfungsi sebagai
penyimpan energi radiasi dan dapat langsung di olah menjadi citra menggunakan optical
stimulation oleh focused laser(Olch 2005).

2.1 Gambar Computed Radiography


B. Komponen – Komponen Computed Radiography
1. KASET
Kaset pada Computed Radiography terbuat dari carbon fiber dan bagian belakang
terbuat dari almunium, kaset ini berfungsi sebagaii pelindung dari Imaging Plate. Phospor
screen (IS) pada kaset analog berfungsi mengubah sinar-x menjadi sinar tampak
(gadolinium oxysulfide atau lanthanum oxybromide). Kaset CR hanya berisi plate yang
dilapisi phospor / storage phospor screens (barium fluorohalide), bentuknya seperti IS
namun tanpa film sehingga dapat dipakai berulang-ulang.

3
4

2.2 Kontruksi Kaset IP (Image Receptor)


1.) Cara kerja kaset CR :
a. Storage phospor screen di ekspose seperti biasa.
b. Phospor menyerap radiasi pada derajat yang berbeda-beda tergantung pada area
anatomikalnya.
c. Phospor di isi oleh radiasi, besar nya isian tersebut tergantung kepada besarnya
energi sinar-x yang diserap.
d. Isian ini bertahan dalam materi phospor sampai dihapus.
2) Jenis-jenis kaset CR :
a. Kaset General Purpose
1) Terdiri dari jenis rigid screen dan flexible screen
2) Dipakai untuk radiografi konvensional
3) Memori terpakai 9 - 15 MB / Image terutama untuk aplikasi CHEST pada
MCU masal, rata" foto thorax berkapasitas 10 MB / Image
4) Rigid Screen = tidak terjadi kontak mekanikal phospor, berusia pakai lebih
lama dibanding dengan fleksibel screen, yang di transport oleh roller
5) Memakai single atau double phospor layer resolusi sekitar 70 - 115 micron
ukuran nya bervariasi : 15 x 30 cm , 18 x 24 cm, 24 x 30 cm, 35 x 35 cm, dan
35 x 43 cm
b. Kaset Panjang (Long Lenght/Full Spine)
1) Dipakai pada radiografi pada tulang panjang.
2) Pada kasus chiropratic untuk melihat tulang, studi scoliosis, dan koreksi
operasi.
3) Ukuran yang dipakai 35x84 cm (portable), 43x129 cm, atau sambungan dari 4
kaset berukuran 35x43 cm (wallfixed).
4) Memerlukan software khusus untuk menyatukan gambar.
5

c. Kaset Resolusi Tinggi( HR/EHR) :


2. IMAGING PLATE
IP Merupakan komponen utama pada sistem CR yang berfungsi menyimpan
energi sinar x, imaging plate terbuat dari bahan Photostimulabel phosphor. Dengan
menggunakan Imaging Plate memungkinkan proses gambar pada sistem komputer
radiografi untuk melakukan berbagai modifikasi. Imaging Plate (IP) merupakan lembaran
yang dapat menangkap dan menyimpan sinar-X, terdiri dari lapisan fosfor dan lapisan
pendukung. IP digunakan dengan cara recording dibaca oleh sinar laser dan dihapus
untuk dipakai kembali. Dalam penggunaanya IP berada di dalam kaset datar dengan
berbagai ukuran.

2.3 Gambar Komponen Imaging Plate


a. Lapisan IP terdiri dari :
1) Lapisan Pelindung (protective layer)
Lapisan ini berfungsi untuk melindungi IP dari benturan (Ballinger, 2003),
kerusakan saat proseshandling dan transfer seperti goresan, kontraksi, pecah
akibat temperatur dan kelembaban
2) Lapisan Fosfor (phospor layer)
Lapisan yang paling aktif dalam IP. Lapisan fosfor IP adalah lapisan
kristal Europium-doped Barium Fluorohalide (BaFX;Eu2+) atau Photostimulable
Phospor. Saat menumbuk kristal ini, BaFX;Eu2+ berubah menjadi bentuk
semistabil. Distribusi molekul semistabil ini membentuk gambar laten (Ballinger,
2003). Standar resolusi spatial dari IP kira-kira 2,5 lp/mm yang terdiri dari 150
nm lapisan BaFX;Eu2+ (Greene, 1992).
3) Reflective layer
Terdiri dari partikel yang dapat memantulkan cahaya.
6

4) Conduktive layer
Terdiri dari Kristal konduktif yang berfungsi untuk menguarangi masalah
yang disebabkan oleh electrostati. Selain itu ia juga mempunyai kemampuan
untuk menyerap cahaya dan dengan demikian hal tersebut dapat meningkatkan
ketajaman gambar.
5) Support layer
Mempunyai struktur dan dungsi yang sama seperti yang ada pada
intensifying screen.
6) Backing layer
Lapisan soft polimer untuk melindungi imaging plate selam proses
pembacaan di dalam image reader.
7) Bar code label
Digunakan untuk membrikan nomor seri dan untuk mengidentifikasi
imaging plate tertentu yang kemudian dapat dihubungkan dengan pasien.
b. Peran Imaging Plate
IP mempunyai peran yang sama seperti intensifying screen dan ditempatkan pada
kaset yang mirip dengan kaset radiografi konvensional. Sensitifitas IP kira-kira sama
dengan kombinasi film-screen yang memiliki speed 200 (Bushong, 2001).
Pada proses loading dan unloading IP, pada CR reader harus diminyaki dan
dibersihkan dengan rutin. IP harus dijaga dari kotoran dan debu untuk menghindari
artefak pada gambar akhir yang dapat mengganggu gambaran patologi. IP harus
diperiksa dari kerutan atau retakan setiap bulannya. Karena goresan, kerutan atau
retakan dapat menyebabkan artefak pada gambar yang dapat menimbulkan gambaran
seperti patologi, misalnya gambaran fraktur maupun pnemothorak (Papp, 2006).
Pembacaan gambar laten yang tersimpan dalam IP dilakukan oleh laser
optoelectronik helium neon (He-Ne), 632,8 nm yang terdapat dalam IP reader
(Greene, 1992). Kecepatan eksposi laser sekitar 14 mikrosekon per pixel (10
pixel/mm), sehingga waktu total untuk scan gambar adalah 1 menit. Emisi cahaya
(309 nm) dari IP dikumpulkan optic fiber dan ditransfer ke photo multiplier tube
(PMT) (Huang, 1999), yang sensitive terhadap cahaya biru (Carlton, 2001). PMT
mengubah cahaya tampak ke dalam bentuk sinyal analog. Sinyal analog tersebut
7

diubah dalam bentuk digital sebelum ditampilkan di komputer oleh Analog


Digital Converter (ADC) (Carlton, 2001).
Gambar laten yang tersimpan dalam IP dapat disimpan dalam waktu yang agak
lama setelah dieksposi. Emisi cahaya dari gambar laten menurun sebanyak 25%
setelah 8 jam. Setelah IP discan untuk memperoleh gambar, maka gambar laten dapat
dihapus dengan mengeksposi IP dengan cahaya tampak dalam jumlah yang besar
untuk penggunaan selanjutnya. Untuk meminimalisasi fenomena noise, IP harus
segera dihapus setelah dieksposi (Greene, 1992)
c. Proses Pembentukan Gambar pada IP
1) Exposure
Imaging plate merupakan lembaran yang dapat menangkap dan menyimpan
bayangan laten, terdiri dari lapisan phosphor dan lapisan pendukung. Imaging
plate biasanya digunakan dengan ditempatkan ke dalam kaset imaging plate
setelah itu kita lakukan eksposi dengan menggunakan sinar x. Sinar x yang
menembus obyek akan mengalami atenulasi sehingga enersi dari sinar x tersebur
ditangkap oleh imaging plate dalam bentuk data digital.
Fungsi imaging plate sebagai penangkap gambar dari pasien yang dieksposi
seperti pada film konvensional. Struktur Imaging Plate terdiri dari; Protective
Layer,Phosphor Layer, Suporting Layer, Backing Layer,Bar Code Layer.
2) Stimulate
Stimulate Merupakan alat pengolah dari gambaran laten pada imaging plate
menjadi data digital. Gambaran laten pada Imaging plate dibaca dengan laser
scanner, setelah diubah menjadi data dapat diolah dengan bantuan komputer untuk
memberikan data baik tentang pasien maupun segi teknis. Dengan image reader
memungkinkan mendapatkan gambaran dalam waktu yang singkat, dibuat untuk
mendapatkan image yang stabil dan berkualitas serta untuk meminimal radiasi
yang dikeluarkan. Bayangan tersebut kemudian distimulasi dengan Photo
Stimulable Phosphor (PSP) yang fungsinya untuk mengubah bayangan laten pada
IP menjadi cahaya tampak.
3) Read
8

Dengan menggunakan Photo Multiplier, cahaya tampak tersebut di tangkap


dan digandakan serta diperkuat intensitasnya kemudian diubah menjadi sinyal
elektrik. kemudian sinyal-sinyal ini direkonstruksikan menjadi sebuah gambaran
yang dapat dilihat oleh layar monitor.
4) Erasure
Setelah proses pembacaan seselai, data gambar pada imaging plate secara
otomatis akan dihapus oleh Intense Light sehingga imaging plate dapat digunakan
kembali.
3. Image Reader (scanner)
Image reader berfungsi sebagai pembaca dan mengolah gambar yang diperoleh
dari Image plate. Semakin besar kapasitas memorinya maka semakin cepat waktu yang
diperlukan untuk proses pembacaan Image plate, dan mempunyai daya simpan yang
besar. Waktu tercepat yang diperlukan untuk membaca imaging plate pada image reader
yaitu selama 64 detik.
Selain tempat dalam proses pembacaan, Image reader mempunyai peranan yang
sangat penting juga dalam proses pengolahan gambar, sistem transportasi Image plate
serta penghapusan data yang ada di Image plate. Image reader sudah dilengkapi dengan
monitor yang berfungsi untuk menampilkan gambar yang sudah di baca oleh Image
reader disebut dengan image console.

2.4 Gambar reading Imaging Plate


Cara kerja scanner :
a) Kaset yang akan dibaca ditandai dengan barcode terlebih dahulu agar sesuai dengan
pasien dan pemeriksaan.
9

b) Di dalamnya terdapat rektor laser (optical), dengan bantuan sinar laser untuk
merangsang aktifasi phospor (stimulate) dan deteltor (PMT) untuk menangkap emisi
phospor sebagai informasi yang akan diolah menjadi data.
c) Data tersebut diolah dan divisualisasikan dalam format digital
d) Setelah selesai proses scan, informasi yang ada pada plate kemudian dihapus dengan
memaparkan sinar intensitas tinggi supaya plate bisa dipergunakan kembali.
e) Seluruh sistem itu digerakkan secara motorik/mekanik. Scanning dilakukan selama 20
ms/garis, sinyal yang diterima PMT masih berwujud analog lalu didigitalisasi oleh
digitizer.
4. Image Console
Console pada CR adalah perangkat keras dan lunak seperti halnya perangkat
komputer di rumah atau yang biasa kita sebut sebagai Personal Computer (PC) yang
terdiri dari :
a. Monitor
b. CPU
c. Cassette ID Scanner-Barcode reader
d. DICOM store/server

Pada perangkat lunaknya memilki bermacam pilihan sesuai dengan kebutuhan CR


seperti mamografi, longlenght image, Enchancement, dsb. Semakin lengkap fitur yang
dimiliki CR, semakin mahal juga harga dari CR tersebut. Sedangkan DICOM (Digital
Imaging and Communication on Medicine) adalah sistem penyimpanan image dalam
kapasitas medis yang memerlukan ketelitian sehingga kapasitasnya besar (MB/Image)

Image console berfungsi sebagai media pengolahan data, berupa computer khusus
untuk medical imaging dengan touch screen monitor. Image console dilengkapi oleh
bebagai macam menu yang menunjang dalam proses editing dan pengolahan gambar
sesuai dengan anatomi tubuh, seperti kondisi hasil gambaran organ tubuh, kondisi tulang
dan kondisi soft tissue. Terdapat menu yang sangat diperlukan dalam teknik
10

radiofotografi yaitu kita bisa mempertinggi atau mengurangi densitas, ketajaman,


kontras dan detail dari suatu gambaran radiografi yang diperoleh. Fungsi console :

a. Memasukkan data pasien


b. Menentukan alur kerja radiologi
c. Mengolah data dan image pasien sesuai dengan jenis pemeriksaannya.
d. Melakukan quality control image sebelum didistribusikan
e. Melakukan pendistribusian image untuk pencetakan image, pada printer, kepentingan
back up, CD/DVD, untuk share ke RIS/HIS.
5. Image Recorder
Image recorder mempunyai fungsi sebagai proses akhir dari suatu pemeriksaan
yaitu media pencetakan hasil gambaran yang sudah diproses dari awal penangkapan
sinar-X oleh image plate kemudian di baca oleh image reader dan diolah oleh image
console terus dikirim ke image recorder untuk dilakukan proses output dapat berupa
media compact disc sebagai media [Link] dengan printer laser yang berupa
laser imaging film.
Ada beberapa istilah untuk menyebutkan alat ini, antara lain laser imager, film
processor, image recorder, dan laser printer. Merupakan alat pengolah gambar dan
memprosesnya di atas film. Laser printer dilengkapi dengan multi formater main features
yang memungkinkan untuk memformat gambar dan mengolah gambar lebih tajam dan
fungsi-fungsi yang terus berkembang. Dapat juga mengolah radiograf dengan kecepatan
tinggi dan kualitas yang bagus serta stabil.
Film yang digunakan adalah photothermographic yang tidak menggunakan
butiran perak halida, namun butiran perak behenate (AgC22H43O2). Film yang telah
dieksposi kemudian discan dengan laser. Setelah dilaser, film dipanaskan pada
temperatur 1200 C selama 24 detik untuk memproses gambar (Papp, 2006)
C. Prinsip Kerja Computer Radiography
a. Pembacaan Bayangan Pada Imaging Plate
IP dieksposi dengan sinar-X, maka akan menghasilkan gambar laten pada IP. IP
yang telah dieksposi ini dimasukkan dalam slot pada IP reader device yang akan
memindahkan IP. IP kemudian discan dengan helium-neon laser (emisi cahaya merah
dengan panjang gelombang 633 nm) sehingga kristal pada IP menghasilkan cahaya
11

biruviolet (panjang gelombang 390-400 nm). Cahaya ini kemudian dideteksi oleh
photosensor dan dikirim melalui analog digital converter (ADC) ke komputer untuk
diproses. Setelah gambar diperoleh, IP ditransfer ke bagian lain dari IP reader device
untuk menghapus sisa-sisa gambar agar IP dapat digunakan kembali (Papp, 2006).
b. Tampilan Gambar Pada CR
Tampilan citra pada dasarnya merupakan hasil respon frekuensi spasial dan proses
gradasi. Respon frekuensi spasial mengontrol kontras antara dua struktur pada densitas
yang berbeda. Proses gradasi mengontrol range densitas yang digunakan untuk
menampilkan struktur pada gambar, ini sama denganwindows setting yang digunakan
pada tampilan Computed Tomography (CT Scan).
Dua karakteristik yang berbeda, kontras dan densitas dioptimalkan dengan digital
image processor untuk bagian anatomi spesifik yang dipelajari (Ballinger, 2003). Jika
gambar ditampilkan dalam monitor, maka karakteristik gambar dapat diatur
(dimagnifikasi, dirotasi, dibalik) oleh pengguna untuk mendapat hasil yang terbaik
(Ballinger, 2003). Fungsi ini dilakukan oleh komponen yang disebut workstation.
Workstation terdiri dari konsul komputer di mana gambar dapat dimanipulasi setelah
data dimasukkan dalam memori komputer. Fungsi workstation antara lain (Papp,
2006)
1) Meningkatkan gradasi atau kontras gambar.
2) Meningkatkan frekuensi spasial (recorded detail). Pengaturan ini dapat
meningkatkan resolusi spasial atas meningkatnya noise dan artefak.
3) Mengeliminasi pixel-pexel hitam dan putih yang memiliki kontribusi kecil terhadap
informasi diagnostik
4) Subtraksi gambar dengan menghapus struktur tulang atau mengurangi efek
hamburan untuk meningkatkan kontras gambar.
5) Magnifikasi gambar v Menampakkan daerah Region of Intereset (ROI).
6) Sebagai analisa statistik, yang menghitung area permukaan dan mengestimasi
volume atau mengubah densitas gambar.
7) Subtraksi energi pada radiografi thoraks dengan mengurangi struktur tulang untuk
mendapatkan gambaran paru dan jaringan lunak.
12

Karena gambar CR dalam bentuk digital, maka gambar primer yang dihasilkan
dapat dimanipulasi untuk menekan fitur-fitur yang bervariasi untuk menampakkan
struktur yang lebih spesifik. Gambar yang ditampilkan atau dicetak sedapat
mungkin sesuai dengan ukuran yang sebenarnya (Greene, 1992)

D. Kelebihan dan Kekurangan CR Computed Radiography


a) Kelebihan Computed Radiography
Computed Radiography Mempunyai beberapa kelebihan dibandingkan dengan
radiografi konvensial, antara lain:
1) Angka pengulangan yang lebih rendah karena kesalahan-kesalahan faktor teknis.
2) Resolusi kontras yang lebih tinggi dan latitude eksposi yang lebih luas
dibandingkan emulsi film radiografi.
3) Tidak memerlukan kamar gelap atau biaya untuk film ( jika gambar tidak
ditampilkan dalam hard copy).
4) Kualitas gambar dapat ditingkatkan.
5) Penyimpanan gambar lebih mudah baik dengan hard copy maupun penyimpanan
elektronik. ( Papp, 2006).
b) Keterbatasan Computed Radiography
Keterbatasan dari Computed Radiography antara lain :
1) Biaya yang cukup tinggi untuk IP, unit CR reader, hardware dan software untuk
workstation.
2) Resolusi spatial rendah.
3) Pasien potensial untuk menerima radiasi yang overexposed. Computed
Radiography (CR) dapat mengkompensasi overeksposure, sehingga radiografer
terkadang member eksposi yang berlebih pada pasien.
4) Adanya artefak pada gambar akibat proses penghapusan IP yang kurang baik.
( Papp, 2006).
E. Perbedaan Antara Radiologi Konvensional Dengan Computer Radiography
1. RADIOLOGI KONVENSIONAL.
Pemeriksaan konvensional tanpa kontras, yaitu pemeriksaan sederhana
menggunakan sinar-x. Konvensional disebut juga automatic processing merupakan
cara pemrosesan film secara konvensional dangan alat yang memerlukan langkah-
13

langkah dalam pencucian film yakni : Film – Developing – Rinsing – Fixing –


Washing – Drying.
Pada Proses radiografi konvensional
a) Harus menunggu beberapa waktu untuk mencetak film
b) Harus menunggu lagi untuk mengirimkan film kepada dokter
c) Menunggu hasil expertise kepada dokter penunjuk
d) Waktu tunggu menjadi lama
e) Dalam situasi darurat tidak dapat langsung membaca film
f) Biaya yang cukup besar untuk pembuatan film, bahan kimia, jasa pengiriman,
ruang penyimpanan.
g) Adanya limbah.
2. COMPUTED RADIOGRAPHY (CR)
Computed radiography adalah proses merubah sistem analog pada radiologi
konvensional menjadi radiografi digital. KOMPONEN COMPUTED
RADIOGRAPHY (CR) :
a) Kaset o Imaging plate
b) Image Reader
c) Image Console
d) Image Recorder

Pada Proses Computed Radiography

a) Hasil foto dapat di simpan dalam bentuk file.


b) Tidak menggunakan processing film seperti developer dan fixer.
c) Tidak memerlukan kamar gelap, karena kaset sudah di lengkapi image plate.
d) Foto dapat di edit sebelum di cetak
e) Waktu processing lebih cepat
f) Kerusakan film karena terbakar bisa di hindari
g) Mengurangi dari jumlah reject film.
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Computed radiography adalah suatu sistem atau proses untuk mengubah sistem analog
pada konvensional radiografi menjadi digital radiografi, dengan menggunakan
photostimulable untuk mengakuisisi data dan menampilkan parameter dari gambaran yang
akan dimanipulasi oleh komputer.
Komponen-komponen computed radiografi adalah antara lain : Kaset pada Computed
Radiography terbuat dari carbon fiber dan bagian belakang terbuat dari almunium, kaset ini
berfungsi sebagaii pelindung dari Imaging Plate. Imaging Plate Merupakan komponen utama
pada sistem CR yang berfungsi menyimpan energi sinar x, imaging plate terbuat dari bahan
Photostimulabel phosphor. Image reader berfungsi sebagai pembaca dan mengolah gambar
yang diperoleh dari Image plate. Console pada CR adalah perangkat keras dan lunak seperti
halnya perangkat komputer di rumah atau yang biasa kita sebut sebagai Personal Computer
(PC) yang terdiri dari : Monitor, CPU, Cassette ID Scanner-Barcode reader dab DICOM
store/server. Image recorder mempunyai fungsi sebagai proses akhir dari suatu pemeriksaan
yaitu media pencetakan hasil gambaran yang sudah diproses dari awal penangkapan sinar-X
oleh image plate.
Prinsip kerja computed radiografi ada dua yaitu Pembacaan Bayangan Pada Imaging
Plate IP dieksposi dengan sinar-X, maka akan menghasilkan gambar laten pada IP. Dan
Tampilan Gambar Pada CR, tampilan citra pada dasarnya merupakan hasil respon frekuensi
spasial dan proses gradasi.
B. Saran
Penulis tentunya masih menyadari jika makalah diatas masih terdapat kesalahan dan jauh
dari kesempurnaan. Penulis akan memperbaiki makalah tersebut dengan berpedoman pada
banyak sumber serta kritik yang membangun dari para pembaca.

14
DAFTAR PUSTAKA

Ballinger, Philip W. dan Eugene D. Frank. 2003. Merrill’s Atlas of Radiographic Positions and
Radiologic Prosedures, Tenth Edition, Volume Three. Saint Louis : Mosby.

Bushong, Steward C. 2001. Radiologic Science for Technologists, Physics, Biology and


Protection. Saint Louis Mosby.

Carlton, Richard R. dan Arlene M. Adler. 2001. Principles of Radiographic Imaging : An Art


and Science. USA: Thomson Learning.

Greene, E. Reginald dan Jorg Wilhelm Oestmann. 1992. Computed Digital Radiography in


Clinical Practice. New York : Thieme Medical Publishers.

Papp, Jeffrey. 2006. Quality Management in The Imaging Science, Thrid Edition. Saint Louis :
Mosby.

Anda mungkin juga menyukai