MINI RISET
MK. Character Building
Kelas Teologi Grup A
SKOR NILAI :
“PENGARUH PENDIDIKAN KARAKTER (BUDI PEKERTI ) TERHADAP PERILAKU
MAHASISWA DILINGKUNGAN KAMPUS”
NAMA : ENJELA ESTEFANI MANURUNG
NIM : 190201002
DOSEN PENGAMPU : MARIA WIDIASTUTI,[Link]
MATA KULIAH : CHARACTER BUILDING
FAKULTAS ILMU TELOGI
INSTITUT AGAMA KRISTEN NEGERI (IAKN) TARUTUNG
2020
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI............................................................................................................i
RINGKASAN……………………………………………………………………. ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar belakang....................................................................................................1
B. Tujuan................................................................................................................1
C. Manfaat..............................................................................................................1
BAB II PEMBAHASAN………………………………………………………...5-13
BAB III PENUTUP
DAFTAR PUSTAKA...........................................................................…………14
BAB 1
PENDAHULUAN
1. LATAR BELAKANG
Mengimplementasikan pendidikan karakter bangsa pada mahasiswa membutuh-kan strategi
khusus. Selain karena mahasiswa merupakan insan akademis yang kritis, pendidikan karakter
juga unik karena yang dibahas adalah manusia. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia
(Depdiknas, 2001), manusia adalah makhluk yang berakal budi (mampu menguasai makhluk
lain). Karena manusia dibekali pikiran, manusia juga didefinisikan sebagai makhluk hidup yang
dilengkapi dengan pikiran, yang bisa menggunakan dan memberdayakan pikirannya. Sementara,
Vashdev (2012) menyebutkan manusia adalah makhluk kebiasaan. Disebut demikian, karena
sistem kepercayaan (belief system), nilai (value), aturan (rules) atau sifat yang ada dalam diri
manusia, semuanya terbentuk dari pengalaman atau kebiasaan mereka di masa lalu. Sebagai
peserta didik di perguruan tinggi, mahasiswa telah memiliki pengalaman dan kebiasaan yang
beragam. Kondisi tersebut membentuk karakter mereka.
Di Indonesia, pendidikan karakter bangsa kembali menjadi topik hangat sejak 2010.
Pembangunan budaya dan karakter bangsa dicanangkan oleh Pemerintah dengan diawali
‘Deklarasi Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa’ sebagai gerakan nasional pada Januari
2010. Hal ini ditegaskan ulang dalam Pidato Presiden pada peringatan Hari Pendidikan Nasional,
2 Mei 2010. Sejak itu, pendidikan karakter menjadi perbincangan di tingkat nasional. Munculnya
Deklarasi tersebut disinyalir akibat kondisi bangsa kita yang menunjukkan perilaku antibudaya
dan antikarakter (Marzuki, 2013). Perilaku antibudaya bangsa tercermin di antaranya dari
memudarnya sikap kebinekaan dan kegotong-royongan bangsa Indonesia, di samping kuatnya
pengaruh budaya asing di tengah-tengah masyarakat. Adapun perilaku antikarakter bangsa di
antaranya ditunjukkan oleh hilangnya nilai-nilai luhur yang melekat pada bangsa Indonesia,
seperti kejujuran, kesantunan, dan kebersamaan, serta ditandai dengan munculnya berbagai kasus
kriminal (Marzuki, 2013).
Diperlukan upaya serius untuk menjadikan nilai-nilai luhur yang telah dikenal, kembali
menjadi budaya dan karakter bangsa. Salah satu upaya ke arah itu adalah memperbaiki sistem
pendidikan nasional dengan menitikberatkan pada pendidikan karakter. Dalam Kebijakan
Nasional Pembangunan Karakter Bangsa (Pemerintah Republik Indonesia, 2010), disebutkan
bahwa bentuk kegiatan pada program pendidikan karakter bangsa konteks mikro, dapat dibagi
menjadi empat, yakni: kegiatan belajar-mengajar; kegiatan kehidupan keseharian di satuan
pendidikan; kegiatan ekstra-kurikuler; kegiatan keseharian di rumah dan masyarakat. Mengingat
mahasiswa sebagai kelompok idealis dengan segala kelebihan dan potensinya, pemberian
pendidikan karakter bangsa kepada mereka memerlukan strategi khusus. Tulisan berikut
mengangkat praktik baik (best practices) implementasi pendidikan karakter bangsa pada
mahasiswa di perguruan tinggi yang diambil dari berbagai sumber. Pembahasan meliputi
pengertian karakter, karakter bangsa, pendidikan karakter bangsa, dan implementasi pendidikan
karakter bangsa pada kegiatan kemahasiswaan.
2. TUJUAN PENULISAN
a. Untuk memenuhi tugas mata kuliah Character Building.
b. Untuk mengetahui pengaruh pendidikan karakter terhadap mahasiswa.
3. MANFAAT PENULISAN
a. Membangun kepribadian calon penerus bangsa kearah yang lebih baik.
b. Menelaah masalah-masalah yang berkaitan dengan pendidikan karakter yang sedang
dihadapi.
c. Batu loncatan kepada pendidikan yang lebih baik.
d. Membangun cara belajar yang lebih efektif.
BAB II
PEMBAHASAN
KARAKTER
Secara etimologis, kata karakter berasal dari bahasa inggis, character, yang berarti watak
atau sifat. Karakter adalah nilai-nilai yang khas, baik watak, akhlak atau kepribadian seseorang
yang terbentuk dari hasil internalisasi berbagai kebijakan yang diyakini dan dipergunakan
sebagai cara pandang, berpikir, bersikap, berucap dan bertingkah laku dalam kehidupan sehari-
hari. Orang berkarakter berarti orang yang berkepribadian, berperilaku, bersifat, bertabiat, atau
berwatak. Dengan makna seperti itu berarti karakter identik dengan kepribadian atau akhlak.
Kepribadian merupakan ciri, karakteristik, atau sifat khas diri seseorang yang bersumber dari
bentukan-bentukan yang diterima dari lingkungan, misalnya keluarga pada masa kecil dan
bawaan sejak lahir (Koesoema, 2007).
Florence Litteur, penulis buku terlaris “Personality Plus” seperti dikutip Fauzone (2009)
menguraikan, ada empat pola watak dasar atau karakter manusia. Keempat karakter tersebut
adalah 1) sanguinis/yang populer, 2) koleris/yang kuat, 3) melankolis/yang sempurna, dan 4)
plegmatis/yang damai. Keempat karakter tersebut masing-masing memiliki nilai positif dan
negatif. Manusia jarang hanya memiliki satu model karakter, acapkali merupakan kombinasi dari
dua, tiga, atau bahkan keempat karakter tersebut. Yang membedakan antara satu dengan lainnya
adalah karakter mana yang lebih menonjol atau mendominasi. Sementara itu, Yunmar dan Phoa
(2013) menyatakan bahwa teori tentang pembagian keempat karakter atau watak atau tempramen
manusia tersebut, awalnya diciptakan oleh Hippocrates. Menurut Yunmar dan Phoa (2013)
masing-masing karakter tersebut memiliki ciri khas tersendiri, seperti diuraikan berikut.
Sanguinis: golongan ini cenderung ingin populer, ingin disenangi orang lain. Hidupnya penuh
dengan warna. Mereka senang bicara. Emosinya meledak-ledak dan transparan. Pada suatu saat
ia bisa berteriak, beberapa saat kemudian bisa menangis. Orang sanguinis sedikit pelupa, sulit
berkonsentrasi, cenderung berpikir pendek, dan hidupnya tak teratur.
Koleris: golongan ini suka mengatur dan memerintah orang. Akibat sifat ini, banyak dari mereka
yang tidak punya teman. Orang koleris senang tantangan dan petualangan. Mereka goal oriented,
tegas, kuat, cepat dan tangkas mengerjakan sesuatu. Baginya tidak ada istilah tidak mungkin.
Kalau sudah mengobarkan semangat, maka hampir dapat dipastikan apa yang akan dilakukannya
akan tercapai seperti yang diidamkan. Golongan koleris tidak mudah menyerah dan mengalah.
Melankolis: agak berbeda dengan sanguinis. Golongan melankolis cenderung teratur, rapi,
terjadwal, tersusun sesuai pola. Umumnya mereka suka dengan fakta, data, angka dan
memikirkan segala sesuatu mendalam. Bila dalam sebuah pertemuan, orang sanguinis
mendominasi pembicaraan, orang melankolis cenderung menganalisa, memikirkan,
mempertimbangkan. Kalau berbicara apa yang ia katakan telah dipikirkan secara mendalam.
Selalu ingin serba sempurna dan tertata.
Plegmatis: kelompok ini tidak suka konflik, karena itu apa saja akan dilakukan, sekalipun
mereka tidak suka. Baginya kedamaian adalah segala-galanya. Jika timbul masalah, ia akan
berusaha mencari solusi damai. Mereka mau merugi bahkan rela sakit, asalkan masalahnya tidak
berkepanjangan. Kaum plegmatis kurang bersemangat, kurang teratur dan serba dingin.
Cenderung diam, kalem, dan bila memecahkan masalah umumnya sangat menyenangkan.
Dengan sabar ia mau menjadi pendengar yang baik, tapi kalau disuruh untuk mengambil
keputusan mereka cenderung menunda-nunda.
Kembali ke pengertian, karakter merupakan nilai-nilai yang khas, baik watak, akhlak atau
kepribadian seseorang yang terbentuk dari hasil internalisasi berbagai kebijakan yang diyakini
dan dipergunakan sebagai cara pandang, berpikir, bersikap, berucap dan bertingkah laku dalam
kehidupan sehari-hari. Dalam Kebijakan Nasional Pembangunan Karakter Bangsa, karakter
didefinisikan sebagai nilai-nilai yang khas-baik (tahu nilai kebaikan, mau berbuat baik, nyata
berkehidupan baik, dan berdampak baik terhadap lingkungan) yang terpateri dalam diri dan
terejawantahkan dalam perilaku. Karakter secara koheren memancar dari hasil olah pikir, olah
hati, olah raga, serta olah rasa dan karsa seseorang atau sekelompok orang. Karakter merupakan
ciri khas seseorang atau sekelompok orang yang mengandung nilai, kemampuan, kapasitas
moral, dan ketegaran dalam menghadapi kesulitan dan tantangan (Pemerintah Republik
Indonesia, 2010).
KARAKTER BANGSA
Karakter suatu bangsa merupakan aspek penting yang mempengaruhi perkembangan
sosial-ekonomi bangsa tersebut. Kualitas karakter yang tinggi dari masyarakatnya akan
menumbuhkan kualitas bangsa tersebut. Beberapa ahli berkeyakinan bahwa pengembangan
karakter yang terbaik adalah jika dimulai sejak usia dini. Menurut Kartadinata (2013), karakter
bangsa bukan agregasi karakter perorangan, karena karakter bangsa harus terwujud dalam rasa
kebangsaan yang kuat dalam konteks kultur yang beragam. Karakter bangsa mengandung
perekat kultural, yang harus terwujud dalam kesadaran kultural (cultural awreness) dan
kecerdasan kultural (cultural intelligence) setiap warga negara.
Pada Kebijakan Nasional Pembangunan Karakter Bangsa, disebutkan bahwa karakter
bangsa adalah kualitas perilaku kolektif kebangsaan yang khas-baik yang tecermin dalam
kesadaran, pemahaman, rasa, karsa, dan perilaku berbangsa dan bernegara sebagai hasil olah
pikir, olah hati, olah rasa dan karsa, serta olah raga seseorang atau sekelompok orang. Karakter
bangsa Indonesia akan menentukan perilaku kolektif kebangsaan Indonesia yang khas-baik yang
tecermin dalam kesadaran, pemahaman, rasa, karsa, dan perilaku berbangsa dan bernegara
Indonesia yang berdasarkan nilai-nilai Pancasila, norma UUD 1945, keberagaman dengan
prinsip Bhinneka Tunggal Ika, dan komitmen terhadap NKRI (Pemerintah Republik Indonesia,
2010).
Lebih lanjut disebutkan bahwa untuk kemajuan Negara Republik Indonesia, diperlukan
karakter yang tangguh, kompetitif, berakhlak mulia, bermoral, bertoleran, bergotong royong,
patriotik, dinamis, berbudaya, dan berorientasi Ipteks berdasarkan Pancasila dan dijiwai oleh
iman dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Karakter yang berlandaskan falsafah Pancasila
artinya setiap aspek karakter harus dijiwai ke lima sila Pancasila secara utuh dan komprehensif
meliputi: 1) bangsa yang ber-Ketuhanan Yang Maha Esa, 2) bangsa yang menjunjung
kemanusiaan yang adil dan beradab, 3) bangsa yang mengedepankan persatuan dan kesatuan
bangsa, 4) bangsa yang demokratis dan menjunjung tinggi hukum dan hak asasi manusia, dan 5)
bangsa yang mengedepankan keadilan dan kesejahteraan (Pemerintah Republik Indonesia,
2010).
Oleh Kemendiknas (2011), telah diidentifikasi 18 nilai karakter yang perlu ditanamkan
kepada peserta didik yang bersumber dari Agama, Pancasila, Budaya, dan Tujuan Pendidikan
Nasional. Kedelapan belas nilai tersebut adalah: 1) religius, 2) jujur, 3) toleransi, 4) disiplin, 5)
kerja keras, 6) kreatif, 7) mandiri, 8) demokratis, 9) rasa ingin tahu, 10) semangat kebangsaan,
11) cinta tanah air, 12) menghargai prestasi, 13) bersahabat/komunikatif, 14) cinta damai, 15)
gemar membaca, 16) peduli lingkungan, 17) peduli sosial, 18) tanggungjawab. Meskipun telah
dirumuskan ada 18 nilai pembentuk karakter bangsa, disetiap satuan pendidikan dapat
menentukan prioritas pengembangannya. Pemilihan nilai-nilai tersebut berpijak dari kepentingan
dan kondisi satuan pendidikan masing-masing. Hal ini dilakukan melalui analisis konteks,
sehingga dalam implementasinya dimungkinkan terdapat perbedaan jenis nilai karakter yang
dikembangkan. Implementasi nilai-nilai karakter yang akan dikembangkan dapat dimulai dari
nilai-nilai yang esensial, sederhana, dan mudah dilaksanakan (Kemendiknas, 2011).
Kedelapan belas nilai karakter tersebut dideskripsikan oleh Sari (2013) dan Widiyanto (2013)
seperti berikut.
1. Religius: sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya,
toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain.
2. Jujur: perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu
dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan.
3. Toleransi: sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis, pendapat,
sikap, dan tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya.
4. Disiplin: tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan
peraturan.
5. Kerja Keras: perilaku yang menunjukkan upaya sungguh-sungguh dalam mengatasi berbagai
hambatan belajar dan tugas, serta menyelesaikan tugas dengan sebaik-baiknya.
6. Kreatif: berpikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara atau hasil baru dari sesuatu
yang telah dimiliki.
7. Mandiri: sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam
menyelesaikan tugas-tugas.
8. Demokratis: cara berfikir, bersikap, dan bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban
dirinya dan orang lain.
9. Rasa Ingin Tahu: sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih
mendalam dan meluas dari suatu yang dipelajarinya, dilihat, dan didengar.
10. Semangat Kebangsaan: cara berpikir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan
kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya.
11. Cinta Tanah Air: cara berfikir, bersikap, dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan,
kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap bahasa, lingkungan fisik, sosial, budaya,
ekonomi, dan politik bangsa.
12. Menghargai Prestasi: sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan
sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang
lain.
13. Bersahabat/Komunikatif: tindakan yang memperlihatkan rasa senang berbicara, bergaul,
dan bekerja sama dengan orang lain.
14. Cinta Damai: sikap perkataan, dan tindakan yang menyebabkan orang lain merasa senang
dan aman atas kehadiran dirinya.
15. Gemar Membaca: kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca berbagai bacaan yang
memberikan kebajikan bagi dirinya.
16. Peduli Lingkungan: sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada
lingkungan alam di sekitarnya, dan mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan
alam yang sudah terjadi.
17. Peduli Sosial: sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan pada orang lain dan
masyarakat yang membutuhkan.
18. Tanggungjawab: sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan
kewajibannya, yang seharusnya dia lakukan, terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam,
sosial dan budaya), negara dan Tuhan Yang Maha Esa.
PENDIDIKAN KARAKTER BANGSA
Untuk mewujudkan pendidikan karakter bangsa, secara umum dapat dilakukan melalui
pendidikan formal, non formal, dan informal yang saling melengkapi dan diatur dalam peraturan
perundang-undangan. Sesuai Kebijakan Nasional Pembangunan Karakter Bangsa, pendidikan
karakter dimaknai sebagai usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana serta proses
pemberdayaan potensi dan pembudayaan peserta didik guna membangun karakter pribadi
dan/atau kelompok yang unik-baik sebagai warga negara. Hal itu diharapkan mampu
memberikan kontribusi optimal dalam mewujudkan masyarakat yang ber-Ketuhanan Yang Maha
Esa, berkemanusiaan yang adil dan beradab, berjiwa persatuan Indonesia, berjiwa kerakyatan
yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, berkeadilan
sosial bagi seluruh rakyat Indonesia (Pemerintah Republik Indonesia, 2010).
Pendidikan karakter adalah pendidikan sepanjang hayat, sebagai proses kearah manusia
yang sempurna. Oleh karena itu, pendidikan karakter memerlukan keteladanan dan sentuhan
mulai sejak dini sampai dewasa. Periode yang paling sensitif dan menentukan adalah pendidikan
dalam keluarga yang menjadi tanggungjawab orang tua (Kartadinata, 2009). Di sisi lain
disebutkan bahwa pendidikan karakter harus menjadi bagian terpadu dari pendidikan alih
generasi. Pendidikan adalah persoalan kemanusiaan yang harus didekati dari perkembangan
manusia itu sendiri (Kartadinata, 2009).
Disadari pendidikan merupakan tulang punggung dalam strategi pembentukan karakter
bangsa. Strategi pembangunan karakter bangsa melalui pendidikan dapat dilakukan dengan
pendidikan, pembelajaran, dan fasilitasi. Dalam konteks makro, penyelenggaraan pendidikan
karakter mencakup keseluruhan kegiatan perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan
pengendalian mutu yang melibatkan seluruh unit utama di lingkungan pemangku kepentingan
pendidikan nasional. Peran pendidikan sangat strategis karena merupakan pembangun integrasi
nasional yang kuat. Selain dipengaruhi faktor politik dan ekonomi, pendidikan juga dipengaruhi
faktor sosial budaya, khususnya dalam aspek integrasi dan ketahanan sosial (Republik Indonesia,
2010).
Menurut Marzuki (2013), pendidikan karakter mengandung tiga unsur pokok, yaitu
mengetahui kebaikan (knowing the good), mencintai kebaikan (loving the good), dan melakukan
kebaikan (doing the good). Pendidikan Karakter tidak sekedar mengajarkan mana yang benar
dan mana yang salah kepada peserta didik, tetapi lebih dari itu pendidikan karakter menanamkan
kebiasaan (habituation) tentang yang baik sehingga peserta didik paham, mampu merasakan, dan
mau melakukan yang baik. Jadi, pendidikan karakter membawa misi yang sama dengan
Pendidikan Akhlak atau Pendidikan Moral.
Selanjutnya Marzuki (2013) menjelaskan yang menjadi persoalan penting di sini adalah
bagaimana karakter atau akhlak mulia ini bisa menjadi kultur atau budaya, khususnya bagi
peserta didik. Artinya, kajian tentang akhlak mulia ini penting, tetapi yang lebih penting lagi
adalah bagaimana nilai-nilai akhlak mulia bisa teraplikasi dalam kehidupan sehari-hari sehingga
menjadi habit peserta didik. Budaya merupakan kebiasaan atau tradisi yang sarat dengan nilai-
nilai tertentu yang tumbuh dan berkembang dalam kehidupan sehari-hari dalam berbagai aspek
kehidupan. Budaya dapat dibentuk dan dikembangkan oleh siapa pun dan di mana pun.
Pembentukan budaya akhlak mulia berarti upaya untuk menumbuhkembangkan tradisi atau
kebiasaan di suatu tempat yang diisi oleh nilai-nilai akhlak mulia. Widayanto (2013)
menyebutkan secara harfiah pendidikan adalah suatu usaha yang sadar dan sistematis dalam
mengembangkan potensi peserta didik. Sedangkan budaya diartikan keseluruhan sistem berpikir,
nilai, moral, norma, dan keyakinan (belief) manusia yang dihasilkan masyarakat. Karakter
merupakan watak, tabiat, akhlak, atau kepribadian seseorang yang terbentuk dari hasil
internalisasi berbagai kebajikan (virtues) yang diyakini dan digunakan sebagai landasan untuk
cara pandang, berpikir, bersikap, dan bertindak. Oleh karena itu, Pendidikan Karakter Bangsa
disimpulkan sebagai suatu usaha sadar dan sistematis dalam mengembangkan potensi peserta
didik agar mampu melakukan proses internalisasi, menghayati nilai-nilai karakter yang baik
menjadi kepribadian mereka dalam bergaul di masyarakat, dan mengembangkan kehidupan
masyarakat yang lebih sejahtera, serta mengembangkan kehidupan bangsa yang bermartabat.
IMPLEMENTASI PADA KEGIATAN KEMAHASISWAAN
Upaya untuk mengimplementasikan pendidikan karakter sebaiknya melalui pendekatan
holistik, yaitu mengintegrasikan perkembangan karakter ke dalam setiap aspek kehidupan,
termasuk kehidupan di kampus. Menurut Suyatno (2010), mengacu pada konsep pendekatan
holistik serta berbagai upaya yang dilakukan lembaga pendidikan, perlu diyakini bahwa proses
pendidikan karakter harus dilakukan secara berkelanjutan (continually), sehingga nilai-nilai
moral yang telah tertanam dalam pribadi anak tidak sekadar sampai pada tingkatan pendidikan
tertentu atau hanya muncul di lingkungan keluarga saja. Selain itu, praktik-praktik moral yang
ditunjukannya agar tidak terkesan bersifat formalitas, melainkan memang benar-benar tertanam
dalam jiwanya.
Telah berulang kali disebutkan bahwa pendidikan merupakan tulang punggung strategi
pembentukan karakter bangsa. Salah satu strategi pembangunan karakter pada mahasiswa, dapat
dilakukan melalui kegiatan kemahasiswaan. Dalam kegiatan ko-kurikuler dan/atau kegiatan
ekstra-kurikuler, perlu dikembangkan suatu proses pembiasaan dan penguatan dalam rangka
pengembangan karakter. Kegiatan ekstra-kurikuler dapat diselenggarakan melalui kegiatan
olahraga dan seni dalam bentuk pembelajaran, pelatihan, dan kompetisi. Berbagai kegiatan
olahraga dan seni tersebut diorientasikan terutama untuk penanaman dan pembentukan sikap,
perilaku, dan kepribadian para pelaku olahraga atau seni agar menjadi manusia Indonesia
berkarakter. Kegiatan ekstra-kurikuler yang diselenggarakan oleh gerakan pramuka, misalnya,
dimaksudkan untuk mempersiapkan generasi muda sebagai calon pemimpin bangsa yang
memiliki watak, kepribadian, dan akhlak mulia serta keterampilan hidup prima.
Mengacu pada konteks mikro pengembangan karakter (Pemerintah Republik Indonesia, 2010)
dan ilustrasi yang digambarkan oleh Bendesa (2011), pelaksanaan pendidikan karakter di
perguruan tinggi, dapat diintegrasikan ke dalam kegiatan tri dharma perguruan tinggi yaitu
pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat yang berkarakter. Pembiasaan dalam
kehidupan keseharian di perguruan tinggi dapat terintegrasi ke dalam budaya perguruan tinggi
(kampus) atau budaya organisasi. Sementara, implementasi pendidikan karakter bangsa dapat
diintegrasikan ke dalam kegiatan kemahasiswaan dalam bentuk aktifitas ko-kurikuler dan/atau
ekstra-kurikuler, seperti: pramuka, olah raga, karya tulis, seni, dll. Selain itu, penerapan
pembiasaan kehidupan keseharian dalam rangka pendidikan karakter bangsa dapat disisipkan
dalam setiap interaksi di lingkungan keluarga, asrama, dan masyarakat. Perspektif nilai-nilai
karakter dalam totalitas budaya akademik pada gilirannya akan membentuk budaya akademik
yang berkualitas.
Program pengembangan mahasiswa pada dasarnya merupakan kegiatan ekstra-kurikuler
sebagai penunjang kurikuler, yang dirancang sedemikan rupa agar menjadi program yang
terintegrasi. Pendekatan yang digunakan adalah berproses, terpadu dan kontinyu. Ranah
pembinaan kegiatan kemahasiswaan di perguruan tinggi biasanya terbagai ke dalam pembinaan
1) penalaran, keilmuan dan keprofesian; 2) minat, bakat dan kegemaran; 3) organisasi
mahasiswa; 4) sosial kemasyarakatan. Masing-masing ranah memiliki tujuan, seperti
menanamkan sikap ilmiah dan profesionalisme; mengaktualisasikan minat dan kegemaran serta
bakat untuk menunjang perkembangan jasmani dan rohani; mengembangkan organisasi
kemahasiswaan di lingkungan perguruan tinggi; mengaktualisasikan hasrat dan kepekaan sosial
untuk berinteraksi dengan masyarakat. Bendesa (2011) memberikan beberapa contoh
implementasi pelaksanaan pendidikan karakter pada kegiatan kemahasiswaan di perguruan
tinggi.
PENUTUP
Pendidikan pengembangan karakter adalah sebuah proses berkelanjutan dan tidak pernah
berakhir. Oleh karena itu, seperti tercantum pada Kebijakan Nasional Pengembangan Karakter,
untuk mencapai karakter bangsa yang diharapkan, diperlukan individu-individu yang berkarakter
yang terus-menurus perlu dikembangkan. Dalam membangun karakter bangsa diperlukan upaya
serius membangun karakter individu. Secara psikologis karakter individu dimaknai sebagai hasil
keterpaduan olah hati, olah pikir, olah raga, olah rasa dan karsa. Olah hati berkenaan dengan
perasaan sikap dan keyakinan/keimanan. Olah pikir berkenaan dengan proses nalar, guna
mencari dan menggunakan pengetahuan secara kritis, kreatif, dan inovatif. Olah raga berkenaan
dengan proses persepsi, kesiapan, peniruan, manipulasi, dan penciptaan aktivitas baru disertai
sportivitas. Olah rasa dan karsa berkenaan dengan kemauan dan kreativitas yang tecermin dalam
kepedulian, pencitraan, dan penciptaan kebaruan.
Menutup uraian ini, kiranya perlu diingatkan kembali bahwa transformasi nilai karakter
yang baik yang terjadi pada karakter individu, yang pada gilirannya akan menunjang karakter
bangsa yang diidamkan, tidak cukup dilakukan hanya dengan membaca, mempelajari,
mendiskusikan, ataupun berfilsafat tentang nilai-nilai karakter tersebut. Yang jauh lebih penting
adalah mengimplementasikan dalam bentuk praktik nyata pada kehidupan sehari-hari.
Hendaknya kita selalu menjadi teladan bagi orang lain, dengan melakukan apapun yang menjadi
tugas dan kewajiban kita dengan baik. Hanya dengan cara demikian, kita akan dapat mencapai
kesempurnaan akhir yang merupakan ciri manusia sejati.
DAFTAR PUSTAKA
Bendesa, K.G. 2011. Model Pendidikan Karakter di Universitas Udayana. Makalah disampikan
pada Workshop Institusional Pemantapan Sistem Penjaminan Mutu Fakultas dan ISS Universitas
Udayana Tahun Anggaran 2011. 23 Agustus 2011.
Depdiknas. 2001. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Pusat Bahasa Departemen Pendidikan
Nasional. Balai Pustaka. Jakarta.