0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
723 tayangan21 halaman

Teori dan Pengertian Perilaku Agresi

Ringkasan dokumen tersebut adalah: 1. Dokumen tersebut membahas berbagai teori tentang perilaku agresi menurut para ahli psikologi, seperti teori insting, teori belajar sosial, dan teori penilaian kognitif. 2. Teori-teori tersebut memberikan sudut pandang yang berbeda dalam menjelaskan perilaku agresi, seperti berasal dari insting bawaan, hasil belajar dari lingkungan, atau penilaian kognitif sese

Diunggah oleh

Rhoma siregar
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
723 tayangan21 halaman

Teori dan Pengertian Perilaku Agresi

Ringkasan dokumen tersebut adalah: 1. Dokumen tersebut membahas berbagai teori tentang perilaku agresi menurut para ahli psikologi, seperti teori insting, teori belajar sosial, dan teori penilaian kognitif. 2. Teori-teori tersebut memberikan sudut pandang yang berbeda dalam menjelaskan perilaku agresi, seperti berasal dari insting bawaan, hasil belajar dari lingkungan, atau penilaian kognitif sese

Diunggah oleh

Rhoma siregar
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

LANDASAN TEORI

A. PERILAKU AGRESI

1. Pengertian Perilaku Agresi

Baron (dalam Koeswara, 1988) menyebutkan bahwa perilaku agresi merupakan tingkah
laku individu yang ditujukan untuk melukai atau mencelakakan individu lain yang tidak
menginginkan datangnya tingkah laku tersebut. Definisi perilaku agresi dari Baron ini mencakup
empat faktor: tingkah laku, tujuan untuk melukai atau mencelakakan (termasuk mematikan atau
membunuh), individu yang menjadi korban, dan ketidakinginan si korban menerima tingkah laku
si pelaku.

Freud (dalam Bailey, 1989), perilaku agresi merupakan cara pertama yang dikenal
manusia untuk mengungkapkan kemarahannya, yang dituangkan melalui serangan fisik secara
membabi-buta terhadap obyek, benda hidup maupun mati yang membangkitkan emosi itu.
Sedangkan (dalam Chaplin, 2004), perilaku agresi adalah tindakan permusuhan dari dalam diri
seseorang ditujukan pada orang lain atau benda berupa suatu tindakan menyerang, melukai orang
lain, untuk meremehkan, merugikan, mengganggu, membahayakan, merusak, menjahati,
mengejek, mencemoohkan atau menuduh secara jahat, menghukum berat atau tindakan sadis
lainnya.

Menurut Sears, Fredman & Peplau (dalam Sarwono, 2005) ada empat jenis agresi sebagai
berikut, Agresi lebih sebagai suatu bentuk perilaku dari pada dipandang sebagai emosi,
kebutuhan atau motif, Agresi dibatasi sebagai tindakan dimana aggressor atau pelakunya
mempunyai maksud untuk merugikan atau menyakiti orang lain, Suatu tindakan dipandang
sebagai agresif hanya bila tindakan itu merugikan suatu makhluk hidup. Serangan terhadap objek
atau benda mati jika merugikan individu atau makhluk hidup lain, mesikipun tidak secara
langsung dapat juga disebut agresi dan sutau agresi dikatakan terjadi atau diakui kemunculannya
hanya jika si korban termotivasi untuk berusaha menghindar dari perlakuan yang dilakukan atau
diberikan oleh aggressor.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa perilaku agresi adalah suatu tindakan
yang dimaksudkan untuk melukai dan menyakiti orang lain atau barang lainnya, baik secara fisik
maupun mental, yang tidak menginginkan datangnya perlakuan tersebut. Apabila diklasifikasi,
perilaku agresi mencerminkan empat faktor yaitu, adanya perilaku (tingkah laku), adanya tujuan
ataupun maksud untuk melukai dan menyakiti, individu sebagai aktor, dan individu menjadi
korban.

2. Teori Agresi

Banyak teori yang dikembangkan oleh para ahli psikologi sosial, tetapi secara global
terdapat ilmu pendekatan (teori) yang umum digunakan dalam disiplin ilmu ini, yaitu teori
insting, teori belajar sosial, dan teori penilaian kognitif. Masing-masing teori terebut memberikan
perspektif yang berbeda dalam menjelaskan tentang tingkah laku sosial. Tidak satupun
pendekatan (teori-teori) tersebut cukup untuk memahami semua tingkah laku kecuali bila teori-
teori tersebut digabung bersama atau digunakan secara selektif maka dapat merupakan suatu
(sekumpulan) penjelasan yang menyeluruh tentang gejala sosial. Dalam tulisan berikut ini akan
dibahas prespektif dari masing-masing teori dalam memahami tingkah laku sosial.

a. Teori insting Teori ini adalah teori paling klasik tentang prilaku agresi, dijelaskan
bahawa manusia memiliki insting bawaan secara genetis unruk berperilaku agresi (Baron
& Byrne, 1997). Robber Baron (1997) menyatakan bahwa agresi merupakan tingkah laku
individu yang ditujukan untuk melukai atau mencelakakan individu lain yang tidak
menginginkan datangnya tingkah laku tersebut. Dengan demikian ada empat unsur dalam
agresi :
1) Mempunyai tujuan untuk mencelakakan.
2) Ada individu yang menjadi pelaku
3) Ada individu yang menjadi korban.
4) Ketidakinginan korban untuk menerima tingkah laku.
Tokoh psikoanalis, Sigmund Freud mengemukakan bahwa perilaku agresi
merupakan gambaran ekspresi yang sangat kuat dari insting untuk mati (thanatos).
Dengan melakukan agresi, maka secara mekanis individu telah berhasil mengeluarkan
energi destruktifnya dalam rangka menstabilkan keseimbangan mental antara insting
mencintai (eros) dan insting kematian (thanatos) yang ada dalam dirinya. Energi
destruktif individu dapat dikeluarkan dalam bentuk perilaku yang tidak merusak, namun
yang hanya bersifat sementara. Insting kehidupan terdiri atas insting reproduksi atau
insting seksual dan insting-insting yang ditujukan untuk pemeliharaan hidup, sedangkan
insting kematian memiliki tujuan untuk menghancurkan hidup individu (Hudaniyah dan
Dayakisni, 2003). Insting inilah yang menjadi patokan untuk menjelaskan adanya
beberapa bentuk tingkah laku agresi seperti peperangan ataupun bunuh diri. (Baron dan
Byrne, 2000).
Kemudian aliran Neufreudian merevisi teori-teori tersebut. Dikemukakan oleh
Wrighsman dan Deaux (1981) menyatakan bahwa agresi adalah bagian dari ego yang
berorientasi pada kenyataan. Sehingga dorongan agresi adalah suatu yang sehat karena
bertujuan untuk menyesuaikan dengan lingkungan yang nyata dari manusia.

b. Teori Frustasi Agresi


Dikemukakan oleh John Dollard dan Neal Miller (dalam Berkowitz ,1992). Teori
ini berpendapat bahwa agresi merupakan hasil dari dorongan untuk mengakhiri keadaan
frustasi seseorang sebagai reaksi terhadap peristiwa yang tidak menyenangkan. Dalam
hal ini frustasi adalah kendala-kendala eksternal yang menghalangi perilaku seseorang.
Dapat atau tidaknya frustasi menimbulkan reaksi agresi bergantung pada pengaruh
variabel perantara. Misalnya ketakutan terhadap hukuman karena melakukan tindakan
agresi secara nyata, atau tanda-tanda yang berhubungan dengan perilaku agresi sebagau
faktorfaktor yang memfasilitasi perilaku agresi.
Frustasi adalah gangguan atau kegagalan dalam mencapai tujuan. Bila seseorang
hendak pergi ke suatu tempat, melakukan sesuatu, atau menginginkan sesuatu dan
kemudian merasa dihalangi, dikatakan bahwa orang tersebut mengalami frustasi. Salah
satu prinsip dalam psikologi adalah frustasi cenderung membangkitkan perasaan agresi.
Pengaruh frustasi terhadap perilaku diperlihatkan dalam penelitian klasik yang dilakukan
Barker, Dembo dan Lewin (1986). Kepada sekelompok anak, ditunjukkan ruangan yang
penuh berisi banyak mainan yang menarik, tetapi mereka tidak diijinkan memasukinya.
Mereka berdiri di luar, memperhatikan mainan-mainan itu, ingin memainkannya tetapi
tidak dapat meraihnya, sesudah menunggu beberapa saat, mereka diperbolehkan untuk
bermain dengan mainan tersebut, kelompok anak lain diberi mainan tanpa dihalangi
terlebih dahulu. Anak-anak yang sudah mengalami frustasi membanting mainan ke lantai,
melemparkannya ke dinding dan pada umumnya menampilkan perilaku merusak, anak-
anak yang tidak mengalami frustasi jauh lebih tenang dan tidak menimbulkan perilaku
merusak.

c. Teori Belajar Sosial


Teori ini menjelaskan bahwa perilaku agresi sebagai perilaku yang dipelajari. Albert
Bandura menyatakan bahwa perilaku agresi merupakan hasil dari proses belajar sosial
(Stickland, 2001). Belajar sosial adalah belajar melalui mekanisme belajar pengamatan
dalam dunia sosial. Dalam memahami perilaku agresi, aliran ini mengemukakan tiga
informasi yang perlu diketahui:
1) Cara perilaku agresi diperoleh
2) Ganjaran dan hukuman yang berhubungan dengan perilaku agresi
3) Faktor-faktor sosial dan lingkungan yang memudahkan timbulnya perilaku agresi.
Dari ketiga informasi tersebut, teori belajar sosial ingin menjelaskan bahwa akar
perilaku agresi tidak sederhana berasal dari satu atau beberapa faktor, melainkan dari
hasil interaksi banyak faktor, seperti pengalaman masa lalu individu berkenaan dengan
perilaku agresi, jenis-jenis perilaku agresi yang mendapat dan hukuman, serta varabel
lingkungan dan kognitif sosial yang dapat menjadi penghambat atau fasilitator bagi
timbulnya perilaku agresi. Tindakan agresi biasanya merupakan reaksi yang dipelajari
dan penguatan atau hadiah meningkatkan kemungkinan hal tersebut akan diulang kembali
(Sears, dkk, 1995).
Motivasi individu untuk mengamati dan mengungkapkan atau mencontoh tingkah
laku model akan kuat apabila model memiliki daya Tarik dan memiliki efek yang
menyenangkan atau mendatangkan penguatan (reinforcement), (dalam Hudaniyah dan
Dayakisni, 2003).
Motivasi pengamat untuk meniru tingkah laku agresi yang ditampilkan oleh model
akan kuat apabila si model memiliki daya Tarik yang kuat dan agresi yang dilakukan oleh
model memperoleh akibat yang menyenangkan (efek positif), sebaliknya pengamat tidak
termotivasi meniru agresi yang dilakukan apabila memperoleh akibat yang tidak
menyenangkan atau hukuman.
d. Teori Penilaian Kognitif
Teori ini menjelaskan bahwa reaksi individu terhadap stimulus agresi sangat
bergantung pada cara stimulus ini diinterpretasikan oleh individu. Zillman, sebagai
pelopor model transfer eksitasi menyatakan bahwa agresi dapat dipicu oleh rangsangan
fisiologis (physicological arousal) yang berasal dari sumber-sumber yang netral atau
sumber-sumber yang sama sekali tidak berhubungan dengan atribusi rangsangan agresi
itu (Krahe, 1997).

e. Perilaku Agresi sebagai Dorongan yang Berasal dari Luar


Pandangan tentang perilaku agresi tidak berhubungan dengan insting, namun
ditentukan oleh kejadian-kejadian eksternal, dimana kondisi tersebut akan menimbulkan
dorongan yang kuat pada seseorang untuk memicu kemunculan perilaku agresi.
Salah satu teori dari kelompok ini adalah teori frustasi-agresi yang dipelopori oleh
Dollard dkk (dalam Baron & Byrne, 2000). Teori ini menyatakan bahwa frustasi
menyebabkan berbagai kecenderungan, yang salah satunya adalah kecenderungan agresi,
dan agresi timbul karena adanya frustasi. Apabila frustasi meningkat, maka
kecenderungan perilaku agresipun akan meningkat. Perilaku agresi yang berasal dari luar
biasanya dikarenkan adanya provokasi langsung. Provokasi adalah tindakan orang lain
yang cenderung memicu agresi pada penerimanya, seringkali karena tindakan itu
dipersepsi dilatarbelakangi oleh intensi yang mengandung kebencian. Agresi seringkali
merupakan hasil provokasi atau verbal dari orang lain.
Sears, dkk (1995) mengemukakan bahwa frustasi adalah suatu gangguan atau
kegagalan dalam mencapai suatu tujuan, selanjutnya dikatakan bahwa salah satu prinsip
dasar dalam psikologi adalah frustasi cenderung membangkitkan perasaan agresi. Agresi
selalu merupakan akibat dari frustasi dan frsutasi selalu mengarah ke berbagai bentuk
agresi, berdasarkan teori ini, dorongan untuk melakukan agresi meningkat bersamaan
dengan meningkatnya frustasi.
Individu yang frustasi mungkin akan menarik diri dari situasi itu atau menjadi
depresi. Sejauh tindakan agresi mengurangi kekuatan dorongan yang mendasarinya,
tindakan itu akan bersifat menguatkan diri, kemungkinan respon agresi akan timbul
mengikuti frustasi yang dialami sebelumnya akan meningkat (Barbara, 2005).
f. Perilaku Agresi sebagai Perilaku Katarsis
Gagasan yang terakhir adalah bahwa perasaan marah dapat dikurangi melalui
pengungkapan agresi. Freud menyebut ini proses katarsis (pembersihan). Dalam istilah
umum proses ini mencakup: “pelepasan energi” atau penyingkiranya dari sistem anda.
Inti gagasan katarsis adalah bahwa orang merasa agresi, tindakan agresi yang
dilakukan akan mengurangi intensitas perasaannya. Hal ini, pada giliranya akan
mengurangi kemungkinan untuk bertindak agresi. Bila seseorang membuat kita jengkel
karena mengklakson kita, kita akan marah. Katarsis: pembersihan “pengganggu” dari
sistem diri secara lisan. Cara berbicara sendiri atau kepada orang lain yang dipercaya.
Misalnya, relaksasi berteriak dengan menyebut nama pengganggu. Tujuan perilaku agresi
menurut teori ini adalah dalam rangka katarsis (pelepasan ketegangan) terhadap
kompleks-kompleks terdesak dalam artian perasaan marah dapat dikurangi melalui
pengungkapan agresi. inti dari gagasan katrsis adalah bila seseorang merasa agresi,
tindakan agresi yang dilakukannya akan mengurangi intensitas perasaannya. Hal ini pada
giliranya akan mengurangi kemungkinanya untuk bertindak agresi (Sears, 1995).
Sesuai teori diatas dapat disimpulkan bahwa kecenderungan agresi pada partisipan
partai politik disebabkan adanya pengaruh dari luar. Selain itu kecenderungan agresi
merupakan hasil dari dorongan untuk mengakhiri keadaan frustasi seseorang sebagai
reaksi terhadap peristiwa yang tidak menyenangkan. Dalam hal ini frustasi adalah
kendala-kendala eksternal yang menghalangi perilaku seseorang.

3. Bentuk Perilaku Agresi


Menurut Medinnus dan Johnson (1976) membagi agresi dalam beberapa tipe
berdasarkan bentuk dan tindakannya, yaitu :
a. Agresi menyerang secara fisik, misalnya memukul, mendorong, melukai,
menendang, menggigit dan merampas.
b. Agresi menyerang suatu objek (benda mati atau binatang).
c. Agesi menyerang secara verbal, yaitu memburuk-burukkan orang lain, memarahi,
mengancam dan menuntut.
d. Agresi yang melanggar hak milik atau menyerang benda milik orang lain.
Pembagian agresi menurut Moyer (1971) sebagai berikut :
a. Agresi predatori adalah agresi yang dibangkitkan oleh kehadiran objek alamiah
(mangsa), yang biasanya terdapat pada organisme atau spesies hewan yang
menjadikan hewan dari spesies lain sebagai mangsa.
b. Agresi antar jantan adalah agresi yang secara tipikal dibangkitkan oleh kehadiran
sesama jantan pada suatu spesies.
c. Agresi ketakutan adalah agresi yang dibangkitkan oleh tertutupnya kesempatan untuk
menghindar dari ancaman.
d. Agresi tersinggung adalah agresi yang dibangkitkan oleh perasaan tersinggung atau
kemarahan, respon menyerang muncul terhadap stimulus yang luas (tanpa harus
memilih sasaran), baik berupa objek hidup maupun mati.
e. Agresi pertahanan (territorial) adalah agresi yang dilakukan oleh organisme dalam
rangka mempertahankan daerah kekuasaannya dari ancaman atau gangguan dari
anggota spesiesnya sendiri.
f. Agresi maternal adalah agresi yang spesifik pada spesies atau organisme betina
(induk) yang dilakukan dalam upaya melindungi anak-anaknya dari berbagai
ancaman.
g. Agresi instrumen adalah agresi yang dipelajari, diperkuat dan dilakukan untuk
mencapai tujuan-tujuan tertentu.
h. Agresi emosional, dalam hal ini aggressor di dorong oleh suatu reaksi fisiologis dan
motorik yang hebat dalam dirinya, suatu dorongan yang meletupkan usaha untuk
menyakiti sasaran.

Baron dan Richardson (Semin dan Fiedler, 1996) mendefinisikan perilaku agresi
sebagai bentuk perilaku yang diarahkan untuk tujuan merugikan, merusak, melukai dan
berbuat jahat pada makhluk hidup, padahal makhluk hidup tersebut sebenarnya tidak
ingin mendapatkan perlakuan seperti itu.

Lopa (dalam Wiadi, 1991), bahwa menurutnya agresi dapat dikelompokkan dalam
berbagai tipe, yaitu :

a. Agresi fisik aktif langsung, agresi yang dilakukan secara fisik, aktif dan langsung
dilakukan sendiri pada sasaran. Contohnya: memukul orang lain.
b. Agresi fisik aktif tidak langsung, agresi yang dilakukan secara fisik, aktif namun tidak
secara langsung pada sasaran melainkan dengan menggunakan media tertentu.
Contohnya: menyuruh orang lain untuk memukul.
c. Agresi verbal aktif langsung, agresi yang dilakukan secara verbal, aktif dan langsung
dilakukan sendiri pada sasaran. Contohnya: memaki orang lain.
d. Agresi verbal aktif tidak langsung, agresi yang dilakukan secara verbal, aktif namun
tidak dilakukan sendiri secara langsung pada sasaran. Contohnya: menggosip yang
dilakukan secara fisik.
e. Agresi fisik pasif dan langsung dilakukan sendiri. Contohnya: melakukan
demonstrasi.
f. Agresi fisik pasif tidak langsung, agresi yang dilakukan secara fisik, pasid namun
tidak dilakukan sendiri pada sasaran. Contohnya: menolak tugas penting.
g. Agresi verbal pasif langsung, agresi yang dilakukan secara verbal, pasif dan
dilakukan sendiri secara langsung pada sasaran. Contohnya: gerakan tutup mulut.
h. Agresi verbal pasif tidak langsung, agresi yang dilakukan secara verbal, pasif namun
tidak dilakukan sendiri secara langsung pada sasaran. Contohnya: mengkritik orang
lain.

Sesuai penjelasan dari para tokoh tersebut dapat disimpulkan bahwa semua tipe
tindakan agresi mengarah pada hal yang negatif serta merugikan. Selain itu perilaku
agresi dapat disebabkan oleh berbagai faktor dan diarahkan untuk tujuan merugikan,
merusak, melukai dan berbuat jahat pada mahkluk hidup.

4. Ciri-ciri Perilaku Agresi


Menurut Lee (1989) ciri-ciri berperilaku agresi dapat dilakukaan melalui dua cara
yaitu : berupa serangan fisik dan serangan verbal. Serangan fisik dapat berupa memukul,
meninju, mendorong, menendang, menggigit dan meludahi, sedangkan serangan verbal
dilakukan seperti mengejek, menggertak, menggoda, mengganggu, bertengkar, berkelahi
dan berbuat kasar.
Ciri khas perilaku agresi menurut Paterson dkk (dalam Berkowitz. 1995) yaitu
adanya unsur kesenjangan dalam berperilaku serta mempunyai tujuan tertentu dalam
mewujudkan keinginan-keinginan individu tersebut. Buss & Perry (1992), beranggapan
bahwa ciri-ciri perilaku agresi dapat dibedakan menjadi 4 jenis jika dilihat dari faktor
yang ada di dalamnya, yaitu:
a) Agresi fisik. Agresi fisik adalah bentuk agresi yang dilakukan untuk melukai orang
lain secara fisik. Misalnya menendang, memukul, menusuk, membakar hingga
membunuh.
b) Agresi verbal. Agresi verbal adalah bentuk agresi yang dilakukan untuk melukai
orang lain secara verbal, yaitu menyakiti dengan menggunakan kata-kata. Misalnya
mengumpat, memaki, dan membentak.
c) Kemarahan. Kemarahan adalah salah satu bentuk agresi yang sifatnya tersembunyi
dalam perasaan seseorang terhadap orang lain, tetapi efeknya dapat terlihat dalam
perbuatan yang menyakiti orang lain. Misalnya muka marah, tidak membalas sapaan,
mata melotot dan sebagainya.
d) Permusuhan. Permusuhan adalah sikap dan perasaan negatif terhadap seseorang yang
muncul karena perasaan tertentu. Perasaan atau sikap permusuhan tersebut dapat
muncul dalam perilaku yang menyakiti orang lain. Misalnya iri, dengki, cemburu,
memfitnah dan sebagainya.

Sedangkan Soemantri (2006), menyatakan bahwa perilaku agresi dapat dibedakan


dilihat dari bagaimana perilaku agresi tersebut terungkap, yaitu:

1) Perilaku agresi yang bersifat fisik, berupa serangan langsung pada objek agresi.
2) Ledakan agresi, berupa tingkah laku yang tidak terkontrol seperti tantrum.
3) Perilaku agresi verbal, berupa dusta, marah, mengancam, dan sebagainya.
4) Perilaku agresi tidak langsung, misalnya merusak barang milik orang lain menjadi
objek agresi.

Selanjutnya Sarwono (1999) menambahkan bahwa agresi terdiri dari dua jenis yaitu
hostile aggression dan instrumental aggression. Hostile aggression adalah tindakan agresi
yang dilakukan berdasarkan perasaan permusuhan, sedangkan instrumental aggression
adalah tindakan agresi yang ditujukan semata-mata untuk mencapai tujuan tertentu,
bahkan antara pelaku dan korban kadang-kadang tidak ada hubungan pribadi.
Berdasarkan uraian diatas, penulis dapat menarik kesimpulan bahwa perilaku agresi
memiliki beberapa jenis antara lain adalah perilaku agresi yang bersifat fisik seperti
memukul maupun menendang, perilaku agresi yang bersifat verbal seperti mencaci,
perilaku kemarahan seperti muka marah dan perilaku permusuhan seperti memfitnah, dari
kesimpulan diatas mengenai ciri-ciri perilaku agresi yang disampaikan Buss & Perry
(1992) oleh peneliti dijadikan indikator skala agresi.

5. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perilaku Agresi


Davidoff (1991) menyebutkan bahwa terdapat 5 faktor yang mempengaruhi
munculnya perilaku agresi, fakator-faktor tersebut adalah:
a) Amarah
Marah merupakan emosi yang memiliki ciri-ciri aktifitas sistem saraf parasimpatik
yang tinggi dan adanya perasaan tidak suka yang sangat kuat yang biasanya
disebabkan adanya kesalahan, yang mungkin nyata-nyata salah atau mungkin juga
tidak. Pada saat marah ada perasaan ingin menyerang, meninju, menghancurkan atau
melempar sesuatu dan biasanya timbul pikiran yang kejam. Bila hal-hal tersebut
disalurkan maka terjadilah perilaku agresi. Jadi tidak dapat dipungkiri bahwa pada
kenyataannya agresi adalah suatu respon terhadap marah. Kekecewaan, sakit fisik,
penghinaan, atau ancaman sering memancing amarah dan akhirnya memancing
agresi.
Ejekan, hinaan dan ancaman merupakan pancingan yang jitu terhadap amarah
yang akan mengarah pada agresi. Anak-anak di kota seringkali saling mengejek pada
saat bermain, begitu juga dengan remaja biasanya mereka mulai saling mengejek
dengan ringan sebagai bahan tertawaan, kemudian yang diejek ikut membalas ejekan
tersebut, lama kelamaan ejekan yang dilakukan semakin panjang dan terus- menerus
dengan intensitas ketegangan yang semakin tinggi bahkan seringkali disertai kata-
kata kotor dan buruk. Ejekan ini semakin lama- semakin seru karena rekan-rekan
yang menjadi penonton juga ikutikutan memperkeruh situasi. Pada akhirnya bila
salah satu tidak dapat menahan amarahnya maka ia mulai berupaya menyerang
lawannya.

b) Faktor Biologis
Ada beberapa faktor biologis yang mempengaruhi perilaku agresi :
1) Gen tampaknya berpengaruh pada pembentukan sistem neural otak yang
mengatur perilaku agresi. Dari penelitian yang dilakukan terhadap binatang, mulai
dari yang sulit sampai yang paling mudah dipancing amarahnya, faktor keturunan
tampaknya membuat hewan jantan yang berasal dari berbagai jenis lebih mudah
marah dibandingkan betinanya.
2) Sistem otak yang tidak terlibat dalam agresi ternyata dapat memperkuat atau
menghambat sirkuit neural yang mengendalikan agresi. Pada hewan sederhana
marah dapat dihambat atau ditingkatkan dengan merangsang sistem limbik
(daerah yang menimbulkan kenikmatan pada manusia) sehingga muncul
hubungan timbal balik antara kenikmatan dan kekejaman. Orang yang
berorientasi pada kenikmatan akan sedikit melakukan agresi sedangkan orang
yang tidak pernah mengalami kesenangan, kegembiraan atau santai cenderung
untuk melakukan kekejaman dan penghancuran (agresi). Prescott yakin bahwa
keinginan yang kuat untuk menghancurkan disebabkan oleh ketidakmampuan
untuk menikmati sesuatu hal yang disebabkan cedera otak karena kurang
rangsangan sewaktu bayi.
3) Kimia darah. Kimia darah (khususnya hormon seks yang sebagian ditentukan
faktor keturunan) juga dapat mempengaruhi perilaku agresi. Dalam suatu
eksperimen ilmuwan menyuntikan hormon testosteron pada tikus dan beberapa
hewan lain (testosteron merupakan hormon androgen utama yang memberikan
ciri kelamin jantan) maka tikus-tikus tersebut berkelahi semakin sering dan lebih
kuat. Sewaktu testosteron dikurangi hewan tersebut menjadi lembut. Kenyataan
menunjukkan bahwa anak banteng jantan yang sudah dikebiri (dipotong alat
kelaminnya) akan menjadi jinak. Sedangkan pada wanita yang sedang mengalami
masa haid, kadar hormon kewanitaan yaitu estrogen dan progresteron menurun
jumlahnya akibatnya banyak wanita melaporkan bahwa perasaan mereka mudah
tersinggung, gelisah, tegang dan bermusuhan. Selain itu banyak wanita yang
melakukan pelanggaran hukum (melakukan tindakan agresi) pada saat
berlangsungnya siklus haid ini.
c) Kesenjangan Generasi
Adanya perbedaan atau jurang pemisah (Gap) antara generasi anak dengan orang
tuanya dapat terlihat dalam bentuk hubungan komunikasi yang semakin minimal dan
seringkali tidak nyambung. Kegagalan komunikasi orang tua dan anak diyakini
sebagai salah satu penyebab timbulnya perilaku agresi pada anak. permasalahan
generation gap ini harus diatasi dengan segera, mengingat bahwa selain agresi, masih
banyak permasalahan lain yang dapat muncul seperti masalah ketergantungan
narkotik, kehamilan diluar nikah, seks bebas, dan lain-lain.

d) Peran Belajar Model Kekerasan


Tidak dapat dipungkiri bahwa pada saat ini anak-anak dan remaja banyak belajar
menyaksikan adegan kekerasan melalui Televisi dan juga "games" atau pun mainan
yang bertema kekerasan. Acara-acara yang menampilan adegan kekerasan hampir
setiap saat dapat ditemui dalam tontonan yang disajikan di televisi mulai dari film
kartun, sinetron, sampai film laga. Selain itu ada pula acara-acara TV yang
menyajikan acara khusus perkelahian yang sangat populer dikalangan remaja seperti
Smack Down, UFC (Ultimate Fighting Championship) atau sejenisnya. Walaupun
pembawa acara berulang kali mengingatkan penonton untuk tidak mencontoh apa
yang mereka saksikan namun diyakini bahwa tontonan tersebut akan berpengaruh
terhadap perkembangan jiwa penontonnya.
Model pahlawan di film-film seringkali mendapat imbalan setelah mereka
melakukan tindak kekerasan. Hal ini sudah barang tentu 17 membuat penonton akan
semakin mendapat penguatan bahwa hal tersebut merupakan hal yang menyenangka
dan dapat dijadikan suatu sistem nilai bagi dirinya. Dengan menyaksikan adegan
kekerasan tersebut terjadi proses belajar peran model kekerasan dan hal ini menjadi
sangat efektif untuk terciptanya perilaku agresi.

e) Proses Pendisiplinan yang Keliru


Pendidikan disiplin yang otoriter dengan penerapan yang keras terutama
dilakukan dengan memberikan hukuman fisik, dapat menimbulkan berbagai pengaruh
yang buruk bagi remaja. Pendidikan disiplin seperti itu akan membuat remaja menjadi
seorang penakut, tidak ramah dengan orang lain, dan membeci orang yang memberi
hukuman, kehilangan spontanitas serta inisiatif dan pada akhirnya melampiaskan
kemarahannya dalam bentuk agresi kepada orang lain. Hubungan dengan lingkungan
sosial berorientasi kepada kekuasaan dan ketakutan. Siapa yang lebih berkuasa dapat
berbuatsekehendak hatinya. Sedangkan yang tidak berkuasa menjadi tunduk. Pola
pendisiplinan tersebut dapat pula menimbulkan pemberontakan, terutama bila
larangan-larangan yang bersangsi hukuman tidak diimbangi dengan alternatif lain
yang dapat memenuhi kebutuhan yang mendasar (contoh: dilarang untuk keluar main,
tetapi di dalam rumah tidak diperhatikan oleh kedua orang tuanya karena kesibukan
mereka).
Sedangkan menurut Koeswara (1988), faktor-faktor yang menjadi pencetus
kemunculan perilaku agresif, yaitu :
1) Frustrasi Yang dimaksud dengan frustrasi itu sendiri adalah situasi di mana
individu terhambat atau gagal dalam usaha mencapai tujuan tertentu yang
diinginkannya atau mengalami hambatan untuk bebas bertindak dalam rangka
mencapai tujuan. Frustrasi bisa mengarahkan individu pada perilaku agresi karena
frustrasi bagi individu merupakan situasi yang tidak menyenangkan dan dia ingin
mengatasi atau menghindarinya dengan berbagai cara, termasuk cara agresi.
Individu akan memilih tindakan agresif sebagai reaksi atau cara untuk mengatasi
frustrasi yang dialaminya apabila terdapat stimulus-stimulus yang menunjangnya
ke arah tindakan agresi itu.
2) Stres Stres merupakan reaksi, respons atau adaptasi psikologis terhadap stimulus
eksternal atau perubahan lingkungan.
 Stres eksternal, stres eksternal dapat ditimbulkan oleh perubahan-
perubahan sosial dan memburuknya kondisi perekonomian. Hal- hal
tersebut memberikan andil terhadap peningkatan kriminalitas, termasuk di
dalamnya tindakan-tindakan kekerasan dan perilaku agresi.
 Stres internal, stres internal menimbulkan ketegangan yang secara
perlahan memuncak, yang akhirnya dicoba untuk diatasi oleh individu
dengan melakukan perilaku agresi. Tingkah laku yang tidak terkendali,
termasuk di dalamnya perilaku agresi, adalah akibat dari kegagalan ego
untuk mengadaptasi hambatan- hambatan, sekaligus sebagai upaya untuk
memelihara keseimbangan intrapsikis.

c) Deindividuasi
Deindividuasi merupakan satu keadaan dimana ciri-ciri karakteristik orang tidak
diketahui. Deindividuasi memperbesar kemungkinan terjadinya perilaku agresi, karena
deindividuasi menyingkirkan atau mengurangi peranan beberapa aspek yang terdapat
pada individu, yakni identitas diri atau personalitas individu pelaku maupun identitas diri
korban dari pelaku agresi, dan keterlibatan emosional individu pelaku agresif terhadap
korbannya.

d) Kekuasaan dan Kepatuhan


Kekuasaan menjadi pencetus terjadinya perilaku agresi karena kekuasaan seseorang
atau sekelompok orang memiliki kemampuan untuk mempengaruhi dan mengendalikan
tingkah laku orang lain dan merealisasikan segenap keinginannya. Sedangkan kepatuhan
menjadi pencetus terjadinya perilaku agresi karena dalam situasi kepatuhan individu
kehilangan tanggung jawab atas tindakan-tindakannya serta meletakkan tanggung jawab
pada penguasa.

e) Efek Senjata
Senjata memainkan peran dalam terjadinya perilaku agresi tidak saja karena
fungsinya mengefektifkan dan mengefisienkan pelaksanaan agresi, tetapi juga karena
efek kehadirannya. Misalkan seseorang yang mempersepsikan kehadiran senjata api
sebagai benda yang berbahaya dan mengancam keselamatan dirinya, kemungkinan
menghasilkan efek kecemasan dalam diri orang tersebut. Kecemasan tersebutlah yang
mendorong terjadinya perilaku agresi.

f) Provokasi
Provokasi dapat mencetuskan perilaku agresi karena provokasi itu oleh pelaku agresi
dilihat sebagai ancaman yang harus dihadapi dengan respons agresi untuk meniadakan
bahaya yang diisyaratkan oleh ancaman itu.
g) Alkohol
Terdapat dugaan bahwa alkohol berpengaruh mengarahkan individu kepada perilaku
agresi dan tingkah laku antisosial lainnya. Karena alkohol dapat melemahkan kendali diri
dan melemahkan aktivitas sistem saraf pusat.

h) Suhu Udara
Suhu udara yang tinggi akan mempengaruhi naiknya kadar agresi seseorang.
Contohnya saja pada musim panas terjadi lebih banyak tingkah laku agresi karena pada
musim panas hari-hari lebih panjang serta individu memiliki keleluasaan bertindak yang
lebih besar ketimbang musim-musim lain.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa faktor penyebab perilaku agresi
diantaranya adalah faktor amarah, biologis, kesenjangangenerasi, perab belajar model kekerasan,
proses pendisiplinan yang keliru, frustasi, stres, deindividuasi, kekuasaan & kepatuhan, efek
senjata, provokasi, alkohol dan suhu udara.

B. REMAJA

1. Pengertian Remaja

Menurut Hurlock (2003) Remaja adalah usia transisi, seorang individu telah
meninggalkan usia kanak-kanak yang lemah dan penuh ketergantungan, akan tetapi belum
mampu ke usia yang kuat dan penuh tanggung jawab, baik terhadap dirinya maupun masyarakat.
Semakin maju masyarakat semakin panjang usia remaja karena ia harus mempersiapkan diri
untuk menyesuaikan dirinya dengan masyarakat yang banyak dan tuntutannya Hurlock (2003).

Remaja menurut Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas, 2002) adalah usia muda
atau mulai dewasa, sedangkan remaja menurut William (2002) merupakan masa peralihan dari
masa kanak-kanak ke masa dewasa, batasan usia remaja berbeda-beda sesuai dengan sosial
budaya setempat (2002).
Remaja menurut Hurlock (2003) dibagi atas tiga kelompok usia tahap perkembangan,
yaitu :

a. Early adolescence (remaja awal) Berada pada rentang usia 12-15 tahun, merupakan masa
negatif, karena pada masa ini terdapat sikap dan sifat negatif yang belum terlihat dalam
masa kanak-kanak, individu merasa bingung, cemas, takut dan gelisah Hurlock (2003).
b. Middle adolescence (remaja pertengahan) Dengan rentang usia 15-18 tahun, pada masa
ini individu menginginkan atau menandakan sesuatu dan mencari-cari sesuatu, merasa
sunyi dan merasa tidak dapat dimengerti oleh orang lain Hurlock (2003).
c. Late adolescence (remaja akhir) Berkisar pada usia 18-21 tahun. Pada masa ini individu
mulai stabil dan mulai memahami arah hidup dan menyadari dari tujuan hidupnya.
Mempunyai pendirian tertentu berdasarkan satu pola yang jelas Hurlock (2003).

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa remaja adalah usia transisi, seorang
individu telah meninggalkan usia kanak-kanak yang lemah dan penuh ketergantungan, akan
tetapi belum mampu ke usia yang kuat dan penuh tanggung jawab, baik terhadap dirinya maupun
masyarakat. Remaja terbagi atas tiga kelompok usia; remaja awal berusia 12-15 tahun, remaja
pertengahan berusia 15-18 tahun, dan remaja akhir berusia 18-21 tahun.

2. Ciri-ciri Masa Remaja

Menurut Hurlock (1999), masa remaja mempunyai ciri-ciri tertentu yang membedakan
dengan periode sebelum dan sesudahnya. Ciri-ciri tersebut antara lain :

a. Masa remaja sebagai periode yang penting


Walaupun semua periode dalam rentang kehidupan adalah penting,namun kadarnya
berbeda-beda. Ada periode penting karena akibat fisik dan ada lagi karena akibat
psikologis. Akibat fisik dan psikologis mempunyai persepsi yang sangat penting.
Perkembangan fisik yang cepat dan penting disertai dengan cepatnya perkembangan
mental yang cepat, terutama pada awal masa remaja. Semua perkembangan itu
menimbulkan perlunya penyesuaian mental dan perlunya membentuk sikap, nilai dan
minat baru (Hurlock, 1999).
b. Masa remaja sebagai periode peralihan
Peralihan tidak berarti terputus atau berubah dari apa yang terjadi sebelumnya, tetapi
peralihan yang di maksud adalah dari satu tahap perkembangan ke tahap berikutnya.
Artinya, apa yang terjadi sebelumnya akan meninggalkan bekasnya pada apa yang terjadi
sekarang dan akan datang. Bila anak beralih dari masa kanak-kanak ke masa dewasa,
anak harus meninggalkan segala sesuatu yang bersifat kekanak-kanakan dan juga harus
mempelajari pola perilaku dan sikap baru untuk menggantikan perilaku dan sikap yang
sudah ditinggalkan (Hurlock, 1999).

c. Masa remaja sebagai periode perubahan


Tingkat perubahan dalam sikap dan perilaku selama masa remaja sejajar dengan tingkat
perubahan fisik. Selama awal masa remaja, ketika perubahan fisik terjadi dengan pesat
maka perubahan perilaku dan sikap juga berlangsung pesat. Kalau perubahan fisik
menurun, maka perubahan sikap dan perilaku juga menurun. Ada empat perubahan yang
sama dan hampir bersifat universal. Pertama, meningginya emosi yang intensitasnya
tergantung pada tingkat perubahan fisik dan psikologis. Kedua perubahan tubuh, minat
dan peran yang diharapkan oleh kelompok. Ketiga, dengan berubahnya minat dan pola
perilaku maka nilai-nilai juga berubah. Keempat, sebagian besar remaja bersikap
ambivalen terhadap setiap perubahan (Hurlock, 1999).

d. Masa remaja sebagai usia bermasalah


Masalah pada masa remaja sering menjadi masalah yang sulit diatasi baik oleh anak laki-
laki maupun anak perempuan. Terdapat dua alasan bagi kesulitan itu, yaitu sepanjang
masa kanak-kanak, masalah anak-anak sebagian diselesaikan oleh orangtua dan guru-
guru, sehingga kebanyakan remaja tidak berpengalaman dalam mengatasi masalah, serta
para remaja merasa mandiri, sehingga mereka ingin mengatasi masalahnya sendiri,
menolak bantuan orangtua dan guru. Ketidakmampuan remaja untuk mengatasi sendiri
masalahnya, maka memakai menurut cara yang mereka yakini. Banyak remaja akhirnya
menemukan bahwa penyelesaian tidak selalu sesuai dengan harapan mereka (Hurlock,
1999).
e. Masa remaja sebagai masa mencari identitas
Identitas diri yang dicari remaja berupa usaha untuk menjelaskan siapa dirinya, apa
peranannya dalam masyarakat, apakah ia seorang anak atau dewasa, apakah ia mampu
percaya diri sekalipun latar belakang ras atau agama atau nasionalnya membuat beberapa
orang merendahkannya. Secara keseluruhan, apakah ia berhasil atau akan gagal (Hurlock,
1999).

f. Masa remaja sebagai usia yang menimbulkan ketakutan


Anggapan stereotip bahwa remaja adalah anak-anak yang tidak rapi, yang tidak dapat
dipercaya dan cenderung merusak dan berperilaku merusak, menyebabkan orang dewasa
yang harus membimbing dan mengawasi kehidupan remaja yang takut bertanggung
jawab dan bertindak simpatik terhadap perilaku remaja yang normal (Hurlock, 1999).

g. Masa remaja sebagai masa yang tidak realistik


Remaja cenderung memandang kehidupan melalui kaca berwarna merah jambu. Ia
melihat dirinya sendiri dan orang lain sebagaimana adanya, terlebih dalam hal cita-cita.
Cita-cita yang tidak realistik ini, tidak hanya bagi dirinya sendiri tetapi juga bagi keluarga
dan temantemannya,menyebabkan meningkatnya emosi yang merupakan ciri dari awal
masa remaja. Semakin tidak realistik cita-citanya semakin ia menjadi marah. Remaja
akan sakit hati dan kecewa apabila orang lain mengecewakannya atau kalau ia tidak
berhasil mencapai tujuan yang ditetapkannya sendiri (Hurlock, 1999).

h. Masa remaja sebagai ambang masa dewasa


Dengan semakin mendekatnya usia kematangan yang sah, para remaja menjadi gelisah
untuk meninggalkan stereotip belasan tahun dan untuk memberikan kesan bahwa mereka
sudah hampir dewasa. Berpakaian dan bertindak seperti orang dewasa ternyata belumlah
cukup. Oleh karena itu, remaja mulai memusatkan diri pada perilaku yang dihubungkan
dengan status dewasa, yaitu merokok, minum minuman keras, menggunakan obat obatan
dan terlibat dalam perbuatan seks. Mereka mengganggap bahwa perilaku ini akan
memberikan citra yang mereka inginkan (Hurlock, 1999).
Dari uraian di atas dapat di simpulkan bahwa ciri-ciri masa remaja adalah : masa remaja
sebagai periode yang penting, masa remaja sebagai periode peralihan, masa remaja sebagai
periode perubahan, masa remaja sebagai usia bermasalah, masa remaja sebagai masa mencari
identitas, masa remaja sebagai masa yang menimbulkan ketakutan, masa remaja sebagai masa
yang tidak realistik, masa remaja sebagai masa ambang dewasa.

3. Tugas Perkembangan Pada Masa Remaja

Remaja memiliki beberapa tugas perkembangan yang akan dijalani selama masa remaja.
Tugas perkembangannya menurut Hurlock (1991) antara lain :

a. Menerima citra tubuh


Seringkali sulit bagi remaja untuk menerima keadaan fisiknya bila sejak kanak-kanak
mereka telah mengagungkaan konsep mereka tentang penampilan diri pada waktu dewasa
nantinya. Diperlukan waktu untuk memperbaiki konsep ini dan untuk mempelajari cara-
cara memperbaiki penampilan diri sehingga lebih sesuai dengan apa yang dicita-citakan
(Hurlock, 1999).

b. Menerima identitas seksual


Menerima peran seks dewasa yang diakui masyarakat tidaklah mempunyai banyak
kesulitan bagi anak laki-laki, mereka telah didorong dan diarahkan sejak awal masa
kanak-kanak. Tetapi berbeda bagi anak perempuan,mereka didorong untuk memainkan
peran sederajat sehingga usaha untuk mempelajari peran feminim dewasa memerlukan
penyesuaian diri selama bertahun-tahun (Hurlock, 1999).

c. Mengembangkan sistem nilai personal


Remaja mengembangkan sistem nilai yang baru misalnya remaja mempelajari hubungan
baru dengan lawan jenis berarti harus mulai dari nol dengan tujuan untuk mengetahui
bagaimana harus bergaul dengan mereka (Hurlock, 1999).

d. Membuat persiapan untuk hidup mandiri


Bagi remaja yang sangat mendambakan kemandirian, usaha untuk mandiri harus di
dukung oleh orang terdekat (Hurlock, 1999).
e. Menjadi mandiri atau bebas dari orang tua
Kemandirian emosi berbeda dengan kemandirian perilaku. Banyak remaja yang ingin
mandiri, tetapi juga membutuhkan rasa aman yang diperoleh dari orangtua atau orang
dewasa lain. Hal ini menonjol pada remaja yang statusnya dalam kelompok sebaya yang
mempunyai hubungan akrab dengan anggota kelompok dapat mengurangi
ketergantungan remaja pada orangtua (Hurlock, 1999).

f. Mengembangkan keterampilan mengambil keputusan


Keterampilan mengambil keputusan dipengaruhi oleh perkembangan keterampilan
intelektual remaja itu sendiri, misal dalam mengambil keputusan untuk menikah di usia
remaja (Hurlock, 1999).

g. Mengembangkan identitas seseorang yang dewasa


Remaja erat hubungannya dengan masalah pengembangan nilai-nilai yang selaras dengan
dunia orang dewasa yang akan dimasuki, salah satunya tugas untuk mengembangkan
perilaku sosial yang bertanggung jawab (Hurlock, 1999).

Dari uraian di atas, maka dapat disimpulkan tugas perkembangan masa remaja adalah :
menerima citra tubuh, menerima identitas seksual, mengembangkan sistem nilai personal,
membuat persiapan untuk mandiri, menjadi mandiri atau bebas dari orangtua, mengembangkan
keterampilan mengambil keputusan, mengembangkan identitas seseorang yang dewasa.

4. Karakteristik Remaja

Menurut Yusuf (2001) karakteristik remaja yaitu :

a. Perkembangan fisik
Masa remaja merupakan salah satu di antara dua masa tantangan kehidupan individu, di
mana terjadi pertumbuhan fisik yang sangat pesat (Yusuf, 2001).

b. Perkembangan kognitif
Menurut Piaget, masa remaja sudah mencapai tahap operasional formal (operasi kegiatan
mental tentang berbagai gagasan). Remaja secara mental telah dapat berpikir logis
tentang berbagai gagasan yang abstrak. Dengan kata lain berpikir operasi formal lebih
bersifat hipotesis dan abstrak, serta sistematis dan ilmiah dalam memecahkan masalah
daripada berpikir konkret (Yusuf, 2001).

c. Perkembangan emosi
Masa remaja merupakan puncak emosionalitas, yaitu perkembangan emosi yang tinggi
pada masa remaja awal, perkembangan emosinya menunjukkan sifat yang sensitif dan
reaktif yang sangat kuat terhadap berbagai peristiwa atau situasi sosial, emosinya bersifat
negatif dan temperamental (mudah tersinggung, kecewa, marah, sedih, murung),
sedangkan pada remaja akhir sudah mampu mengendalikan emosinya (Yusuf, 2001).

d. Perkembangan moral
Pada masa ini muncul dorongan untuk melakukan perubahan-perubahan yang dapat
dinilai baik oleh orang lain. Remaja berperilaku bukan hanya untuk memenuhi kepuasan
fisiknya saja, tetapi juga psikologisnya (rasa bangga,puas dengan penilaian positif dari
orang lain), (Yusuf, 2001).

e. Perkembangan kepribadian
Masa remaja merupakan saat berkembangnya jati diri. Perkembangan jati diri merupakan
isu sentral pada masa remaja yang memberikan dasar bagi masa dewasa (Yusuf, 2001).

f. Perkembangan kesadaran beragama


Kemampuan berpikir abstrak memungkinkannya untuk dapat memformulasikan
keyakinan beragamanya. Dia dapat mengekspresikan kualitas Tuhan sebagai Yang Maha
Adil, Yang Maha Kuasa, Maha Kasih Sayang (Yusuf, 2001).

Anda mungkin juga menyukai