0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
91 tayangan24 halaman

Gangguan Pendengaran Akibat Kebisingan

1. Gangguan pendengaran akibat kebisingan di tempat kerja (NIHL) merupakan masalah kesehatan masyarakat yang sering terjadi. NIHL disebabkan oleh paparan bising intensitas di atas 85 dB selama waktu yang lama. 2. NIHL bersifat irreversible dan merusak sel-sel rambut di organ corti. Upaya pencegahan sangat diperlukan untuk mencegah terjadinya NIHL. 3. Prevalensi gangguan pendeng

Diunggah oleh

Rizqi Khairunnisa
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
91 tayangan24 halaman

Gangguan Pendengaran Akibat Kebisingan

1. Gangguan pendengaran akibat kebisingan di tempat kerja (NIHL) merupakan masalah kesehatan masyarakat yang sering terjadi. NIHL disebabkan oleh paparan bising intensitas di atas 85 dB selama waktu yang lama. 2. NIHL bersifat irreversible dan merusak sel-sel rambut di organ corti. Upaya pencegahan sangat diperlukan untuk mencegah terjadinya NIHL. 3. Prevalensi gangguan pendeng

Diunggah oleh

Rizqi Khairunnisa
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

ISE INDUCED HEARING LOSS

A. Pendahuluan

Gangguan pendengaran merupakan defisit sensorik yang paling sering

terjadi pada manusia. Populasi gangguan pendengaran di dunia pada tahun

2000 lebih dari 250 juta penduduk (4,2%) dan sekitar setengah dari

populasinya terdapat di Asia Tenggara dan angka ini diprediksikan akan terus

meningkat. Berdasarkan hasil studi WHO tahun 1998, Indonesia termasuk

negara urutan ke-4 di Asia Tenggara dengan prevalensi ketulian yang cukup

tinggi, yaitu sekitar (4,6%), setelah negara Sri Lanka (8,8%), Myanmar

(8,4%) dan India (6,3%). Berdasarkan hasil Survei Nasional 7 propinsi di

Indonesia tahun 1994- 1996, sebanyak 35,28 juta penduduk (16,8%)

mengalami gangguan pendengaran, 840.000 penduduk (0,4%) mengalami

ketulian. Berdasarkan hasil survei tersebut, salah satu penyebab timbulnya

gangguan karena terpapar kebisingan yaitu sebanyak 0,3%.

Menurut WHO pada tahun 2005 terdapat 278 juta orang menderita

gangguan pendengaran dan 80% dari mereka tinggal di negara berpenghasilan

rendah dan menengah. Gangguan pendengaran akibat bising atau Noise

Induced Hearing Loss (NIHL) adalah gangguan pendengaran akibat terpapar

oleh bising yang cukup keras dalam jangka waktu yang cukup lama dan

biasanya diakibatkan oleh bising lingkungan kerja. NIHL merupakan jenis


gangguan pendengaran sensorineural yang paling sering dijumpai setelah

presbikusis.

Kejadian NIHL berlangsung secara bertahap sehingga individu yang terkena

tidak menyadari dan gangguan pendengaran akibat bising ini bersifat

irreversible dan merusak sel-sel rambut di dalam organ corti yang disebabkan

oleh suara bising yang intensitasnya lebih dari 85 dB, sehingga pengobatan

yang efektif adalah dengan tindakan pencegahan sejak dini. (JURNAL 1)

Kesehatan merupakan kebutuhan dan modal dasar manusia untuk hidup


produktif dan berdaya guna. Kesehatan memang bukan segalanya, namun
tanpa kesehatan segalanya menjadi tidak berarti. Tujuan pembangunan
kesehatan itu sendiri adalah tercapainya kemampuan untuk hidup sehat bagi
setiap penduduk agar dapat mewujudkan derajat kesehatan yang optimal. Hal
ini sesuai dengan UU No. 36 Tahun 2009 tentang kesehatan, dimana jelas
menyebutkan bahwa setiap orang mempunyai hak yang sama dalam rangka
memperoleh derajat kesehatan yang optimal, untuk itu diselenggarakan
berbagai upaya kesehatan dengan menggunakan pemeliharaan/peningkatan
kesehatan (promotif), pencegahan penyakit (preventif), Penyembuhan
(kuratif), dan pemeliharaan kesehatan (rehabilitatif). Kebisingan merupakan
salah satu faktor lingkungan fisik yang dapat mempengaruhi kesehatan
pekerja. Kebisingan adalah suara bising yang ditimbulkan oleh orang atau
mesin yang dapat menyebabkan ketidak nyamanan dan kesakitan fisik. Polusi
suara ataupun kebisingan dapat berpengaruh baik pada kesehatan fisik
maupun kesehatan psikologis (perilaku) manusia. Kebisingan dapat
menyebabkan ketidak nyamanan hidup (annoyance) dan agresifitas,
hipertensi, meningkatkan stress, tinnitus, tuli, gangguan tidur, dan gangguan
kesehatan lainnya.
Kebisingan yang manahun, misalnya akibat transportasi atau kebisingan di
tempat kerja merupakan pemicu terjadinya hilangnya pendengaran menjadi
penyebab terjadinya kelainan kardiovaskuler dan kebisingan sedang dapat

2
menimbulkan peningkatan ketegangan (stress), vasokonstriksi yang
menyebabkan hipertensi yang di kemudian hari dapat menyebabkan penyakit
arteri koroner (Soedarto, 2013). Menurut WHO (Word Health Organitation),
EPA (Environmental Protection Agency) dan CDC ( Centers for Disease
Control and Prevention) polusi suara menjadi masalah kesehatan masyarakat
yang semakin meningkat dan dapat menimbulkan tekanan jiwa (stress),
gangguan pendengaran, meningkatnya tekanan darah, sakit kepala,
mengganggu tidur, berakibat buruk pada hasil produksi kerja dan
menurunkan kualitas hidup pada umumnya. Dalam kehidupan sekarang ini
bising merupakan keluhan yang banyak di dengar, orang merasa kebisingan
oleh banyaknya suara yang ditimbulkan oleh ramainya lalu lintas, suara
mesin, suara radio, suara TV, dan sebagainya (JURNAL 2)
Gangguan pendengaran dapat menimbulkan sejumlah disabilitas seperti

masalah dalam percakapan, terutama di lingkungan yang sulit, memberikan

sejumlah besar keluhan. Jenis lain dari disabilitas dapat menurunkan

kemampuan untuk mendeteksi, mengidentifikasi dan melokalisasi suara

dengan cepat dan tepat. Gangguan pendengaran yang tidak dikoreksi dapat

menimbulkan penurunan kualitas hidup, isolasi diri, penurunan kegiatan

sosial dan perasaan seperti tidak diikutsertakan, yang dapat meningkatkan

prevalensi gejala depresi.9(JURNAL 4)

Penyakit yang berhubungan dengan pekerjaan dapat disebabkan oleh pajanan

yang ada di lingkungan kerja.1 Gangguan pendengaran merupakan salah satu

penyakit akibat kerja. Lingkungan kerja yang bising merupakan salah satu

dampak dari sektor industri yang menjadi penyebab tersering terjadinya gangguan

pendengaran (Hearing Loss). Di seluruh dunia, 16 % hearing loss pada orang

dewasa disebabkan lingkungan kerja yang bising.2 Gangguan pendengaran akibat

3
bising (noise induced hearing loss) adalah penurunan pendengaran atau tuli akibat

bising yang melebihi nilai ambang batas (NAB) di lingkungan kerja.3

Di Indonesia penelitian tentang gangguan pendengaran akibat bising telah banyak

dilakukan sejak lama. Penelitian yang dilakukan pada tahun 2010 di Makasar pada

tiga pabrik dengan sumber kebisingan yang berbeda-beda ditemukan hasil bahwa

terdapat gangguan pendengaran pada 95 orang (35%) jumlah karyawan.3 Dalam

penelitian juga ditemukan bahwa beberapa sumber bising melebihi ambang batas

yang telah ditetapkan oleh perusahaan dan mengakibatkan kenaikan ambang

dengar pada beberapa karyawan sebesar 5-10 dB.3 Penelitian serupa juga

dilakukan pada Manufacturing Plant Pertamina dan dua pabrik es di Jakarta

mendapatkan hasil terdapat gangguan pendengaran pada 123 orang (50%

karyawan) disertai peningkatan ambang dengar sementara 5-10 dB pada karyawan

yang telah bekerja terus menerus selama 5-10 tahun. Bising industri sudah lama

merupakan masalah yang sampai sekarang belum bisa ditanggulangi secara baik

sehingga dapat menjadi ancaman serius bagi pendengaran para pekerja, karena

dapat menyebabkan kehilangan pendengaran yang sifatnya permanen. Sedangkan

bagi pihak industri, bising dapat menyebabkan kerugian ekonomi karena biaya

ganti rugi. Oleh karena itu untuk mencegahnya diperlukan pengawasan terhadap

pabrik dan pemeriksaan terhadap pendengaran para pekerja secara berkala.4

Secara umum bising adalah bunyi yang tidak diinginkan. Bising yang

intensitasnya 85 desibel (dB) atau lebih dapat menyebabkan kerusakan reseptor

pendengaran corti pada telinga dalam. Ganguan pendengaran akibat kebisingan

atau yang lebih dikenal dengan noise induced hearing loss (NIHL) memiliki

4
gejala secara unilateral maupun bilateral, biasanya mempengharui frekuensi yang

lebih tinggi (3kHz, 4kHz atau 6kHz) dan kemudian menyebar ke frekuensi yang

lebih rendah (0,5kHz, 1kHz atau 2kHz). Dampak dari gangguan ini adalah

kurangnya konsentrasi karena kurang seimbangnya sistem pendengaran antara

kedua telinga dan kesulitan untuk mengolah sumber suara, kelelahan karena

ketidakmapuan untuk memahami sumber suara secara jelas, sakit kepala juga hal

yang sering dialami pada hearing loss karena saraf yang mengatur fungsi

pendengaran tidak berfungsi dengan baik dan pengolahan sumber suara yang tidak

baik, gangguan tidur dapat dialami akibat dari sistem memori untuk berusaha

memahami sumber suara, hingga berdampak kepada kehilangan pekerjaan karena

ketidakmampuan menyesuaikan dengan standarisasi pekerjaan.

Secara umum noise induced hearing loss memang tidak dapat disembuhkan

tapi dapat dilakukan pencegahan dan tahap rehabilitasi. Pencegahan hearing

loss adalah sebuah kegiatan ataupun proses untuk menahan atau menghindari

agar hearing loss tidak dialami. Dari hasil penelitian di Amerika didapatkan

bahwa terdapat perubahan perilaku dan angka kejadian hearing loss yang

menurun secara signifikan setelah dilakukan pencegahan kepada karyawan

pada salah satu perusahaan besi. Dari hasil penelitian tersebut dijelaskan

bahwa peran pencegahan sangatlah penting terhadap angka kejadian hearing

loss. Oleh karena itu sangatlah penting bagi pihak industri maupun pekerja

memahami tentang NIHL sehingga dapat melakukan pencegahan untuk

mengatasi permasalahan ini. (JURNAL 5)

Salah satu Penyakit Akibat Kerja (PAK)


yang sering terjadi dalam dunia industri

5
adalah gangguan pendengaran yang
disebabkan oleh kebisingan. Kebisingan
diartikan sebagai sebuah bunyi atau suara
yang didengar sebagai bentuk
rangsangan pada sel saraf pendengar
dalam telinga oleh gelombang longitudinal
yang ditimbulkan dari getaran dan
merambat lewat udara atau penghantar
lainnya yang mana tidak dikehendaki dan
timbul di luar kemauan orang yang
bersangkutan.1 (JURNAL 10)

Menurut World Health Organization (WHO) pada tahun 2012 prevalensi

gangguan pendengaran di Asia Tenggara adalah 156 juta orang atau 27% dari

total populasi sedangkan pada orang dewasa di bawah umur 65 tahun adalah

49 juta orang atau 9,3% yang disebabkan karena suara keras yang dihasilkan

di tempat kerja (Taneja, 2014). Menurut Komite Nasional Penanggulangan

Gangguan Pendengaran dan Ketulian pada tahun 2014 ganggunan

pendengaran akibat bising di Indonesia termasuk yang tertinggi di Asia

Tenggara yaitu sekitar 36 juta orang atau 16,8% dari total populasi.

Berdasarkan Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No. PER

13/MEN/X/2011 tentang nilai ambang batas faktor fisik dan faktor kimia di

tempat kerja, di dalamnya ditetapkan Nilai Ambang Batas (NAB) kebisingan

sebesar 85 dBA sebagai intensitas tertinggi dan merupakan nilai yang masih

dapat diterima oleh pekerja tanpa mengakibatkan penyakit atau gangguan

pendengaran kesehatan dalam pekerjaan sehari-hari untuk waktu tidak

melebihi 8 jam sehari atau 40 jam seminggu. (JURNAL 11)

Data survei Multi Center Study di Asia Tenggara, Indonesia termasuk empat

negara dengan prevalensi ketulian yang cukup tinggi yaitu 4,6%, sedangkan

6
tiga negara lainnya yakni Sri Lanka 8,8%, Myanmar 8,4% dan India 6,3%.

Walaupun bukan yang tertinggi tetapi prevalensi 4,6% tergolong cukup

tinggi. (JURNAL 12)

Kebisingan merupakan salah satu faktor bahaya fisik yang sering dijumpai di

tempat kerja. Seiring dengan proses industrialisasi yang disertai dengan

kemajuan teknologi dan pertumbuhan ekonomi yang setiap tahun

berkembang maka ancaman risiko gangguan akibat bising juga akan semakin

bertambah. Kebisingan adalah semua suara yang tidak dikehendaki yang

bersumber dari alat-alat proses produksi atau alat-alat kerja yang pada tingkat

tertentu dapat menimbulkan gangguan pendengaran, sesuai dengan

Kepmenaker RI No. 51/MEN/1999 (Baalijas, 2015). Baalijas, JSK. [Link].

2015. ‘Penentuan Tingkat Kebisingan Pada Pabrik Kelapa Sawit PT

Tasma Puja Kecamatan Kampar Timur’, JOM FMIPA, vol. 2, no. 1, Feb.

(JURNAL 13)

B. Definisi

Kebisingan adalah bunyi yang tidak dikehendaki yang dapat menimbulkan


gangguan kesehatan dan kenyamanan lingkungan pada tingkat dan waktu
tertentu.1 Gangguan pendengaran akibat bising atau Noise Induced
Hearing Loss (NIHL) adalah gangguan pendengaran tipe sensorineural
yang disebabkan oleh pajanan bising yang cukup /keras dalam jangka
waktu yang lama, biasanya akibat bising lingkungan kerja.2 kebisingan
yang tinggi ini terjadi di berbagai tempat kerja, termasuk pembuatan
makanan, kain, bahan cetak, produk logam, obat-obatan, jam tangan dan
pertambangan.3
Gangguan pendengaran adalah ketidakmampuan secara parsial atau total
untuk mendengarkan suara pada salah satu atau kedua telinga.10Gangguan
pendengaran dapat diklasifikasikan sebagai yaitu tuli konduktif, tuli
sensorineural dan tuli campuran).11Gangguan pendengaran akibat bising
atau Noise Induced Hearing Loss( NIHL) adalah gangguan pendengaran

7
tipe sensorineural yang disebabkan oleh pajanan bising yang cukup keras
dalam jangkat waktu yang lama, biasanya akibat bising lingkungan kerja.2
Kebisingan adalah bunyi yang tidak dikehendaki yang dapat menimbulkan
gangguan kesehatan dan kenyamanan lingkungan pada tingkat dan waktu
tertentu.1 Terdapat beberapa faktor yang dapat menyebabkan penurunan
ambang dengar akibat bising, yakni lama paparan bising, frekuensi
paparan bising, tingkatan/besaran paparan, dosis paparan harian, spektrum
kebisingan, temporal pattern dan faktor internal dari dalam tubuh manusia
sendiri yang mempermudah timbulnya gangguan pendengaran (kadar gula
darah, hemoglobin, viskositas darah, masa jendal darah, kadar kolesterol,
kadar trigliserida, usia dan jenis kelamin dari penderita). Lama paparan
bising lebih dari 10 tahun akan menyebabkan peningkatan NIPTS (Noise
Induce Permanen Treshold Shift) terutama pada frekuensi 4 KHz.7,11,1
(JURNAL 4)
Gangguan pendengaran akibat bising, atau gangguan pendengaran akibat
kerja (occupational deafness/noise induced hearing loss) adalah hilangnya
sebagian atau seluruh pendengaran seseorang yang bersifat permanen,
mengenai satu atau kedua telinga yang disebabkan oleh bising terus
menerus di lingkungan tempat kerja. Dalam lingkungan industri, semakin
tinggi intensitas kebisingan dan semakin lama waktu pemaparan
kebisingan yang dialami oleh para pekerja, semakin berat gangguan
pendengaran yang ditimbulkan pada para pekerja tersebut.6 (JURNAL 5)
Kebisingan tidak selalu menyebabkan gangguan kesehatan. Terdapat Nilai
Ambang Batas (NAB) yang menjadi acuan pengendalian kebisingan agar
tidak menyebabkan risiko gangguan pendengaran. Sesuai dengan
Permenaker Nomor 5 Tahun 2018 tentang Keselamatan dan Kesehatan
Kerja Lingkungan Kerja, NAB adalah kadar atau intensitas rata-rata yang
masih bisa ditahan atau diterima tenaga kerja tanpa mengakibatkan
gangguan kesehatan, tidak melebihi 8 jam sehari atau 40 jam seminggu.
NAB CEK TABELNYA DUBAWAH (JURNAL 7)
Noise Induced Hearing Loss (NIHL) adalah suatu kondisi terganggunya
pendengaran manusia karena terpapar suara bising di tempat kerja dalam rentang
waktu yang lama dan berkelanjutan (Salawati, 2013). NIHL merupakan golongan
ketulian sensorineural yang umumnya terjadi pada kedua telinga manusia. NIHL
diklasifikasikan menjadi 2 (Salawati, 2013), yaitu :
a. Noise Induced Temporary Treshold Shift, adalah trauma akustik yang
menyebabkan ketulian mendadak karena suara yang sangat keras seperti
dentuman bom, ledakan, atau pajanan akustik yang kuat dan tiba-tiba sehingga
menyebabkan trauma.
b. Noise Induced Permanent Treshold Shift yaitu ketulian karena paparan bising
dengan rentang waktu yang lama atau intensitasnya lebih besar sehingga
menyebabkan gangguan pendengaran permanen. Gangguan yang dialami bisa
bertahap dan tidak
dirasakan pada mulanya oleh penderita. Namun akan mulai terasa jika penderita
mengalami kesulitan berkomunikasi dengan orang lain.

8
Faktor-faktor yang mempengaruhi NIHL yaitu intensitas, frekuensi paparan, usia
serta jenis kelamin (Salawati, 2013).
Risiko NIHL dapat diturunkan dengan tindakan pengendalian dari penggunaan
Alat Pelindung Telinga, hingga program Hearing Conservation Program (HCP).
HCP adalah program yang bertujuan untuk mencegah gangguan pendengaran
yang disebabkan kebisingan dengan mengacu pada panduan National Institute for
Occupational Safety and Health. Menurut Maulana et al (2016), tahapan
penerapan HCP yaitu sebagai berikut:
1. Menentukan pengendalian secara administratif.
2. Mengidentifikasi bahaya kebisingan.
3. Menghitung paparan bahaya kebisingan terhadap pekerja.
4. Melakukan pengecekan medis terutama pendengaran pada semua pekerja yang
berpotensi terkena paparan bahaya kebisingan.
5. Menentukan program pencegahan gangguan pendengaran yang sesuai.
6. Mengatasi masalah pelindung pendengaran pekerja individu dan kelompok.
7. Melakukan pelatihan atau sosialisasi untuk pekerja.

8. Review dan pembaruan program setiap tahunnya.


(JURNAL 7)

National Institute on Deafness and


Other Communication Disorders (NIDCD,
2013) menjelaskan bahwa gangguan
pendengaran akibat bising (Noise-Induced
Hearing Loss/NIHL) adalah hilangnya
pendengaran secara bertahap yang disebabkan
oleh paparan suara keras selama jangka waktu
tertentu. Ambang suara minimal yang
dianggap dapat menurunkan fungsi
pendengaran adalah 85 dB dengan paparan
lebih dari delapan jam per hari,
Jika intensitas suara lebih dari
dosis yang diperkenankan, maka akan terjadi
gangguan pada rumah siput (cochlea), dimana
disini terjadi proses perubahan energi
mekanik menjadi energi listrik. Sel-sel rambut
getar yang seharusnya mentransmisi suara
mekanik menjadi rusak (JURNAL 8)
Baku tingkat kebisingan adalah batas maksimal tingkat kebisingan yang

diperbolehkan dibuang ke lingkungan dari usaha atau kegiatan sehingga tidak

menimbulkan gangguan kesehatan manusia dan kenyamanan lingkungan. Baku

9
tingkat kebisingan (Nilai Ambang Batas, NAB) peruntukan kawasan/lingkungan

dapat dilihat pada tabel dibawah ini. (16) :

Peruntukan kawasan / lingkungan Tingkat kebisingan


kegiatan (dB)
Peruntukan Kawasan
1. Perumahan dan pemukiman 55
2. Perdagangan dan jasa 70
3. Perkantoran dan perdagangan 65
4. Ruang terbuka hijau 50
5. Industri 70
6. Pemerintahan dan fasilitas umum 60
7. Rekreasi 70
8. Khusus :- Bandar udara- Stasiun
Kereta Api - Pelabuhan Laut- Cagar 70
Budaya 
Lingkungan Kegiatan
1. Rumah Sakit atau sejenisnya 55
2. Sekolah dan sejenisnya 55
3. Tempat ibadah dan sejenisnya 55
Tabel 2.1 Baku tingkat kebisingan (Nilai Ambang Batas, NAB)
peruntukan kawasan/lingkungan (BUKU 5)

Gangguan pendengaran diakibatkan dari paparan


kebisingan keras yang berasal dari lingkungan kerja
dengan intensitas tinggi, frekuensi tinggi serta terpapar
dalam waktu yang lama, kepekaan individu dan faktor
lain dapat menyebabkan ketulian yang mempengaruhi
kualitas pendengaran[1][2]. Nilai Ambang Batas (NAB)
kebisingan di tempat kerja adalah 85dB. Paparan Bising
yang melebihi NAB dapat merusak pendengaran yaitu
pada reseptorcorti di telinga dalam. Salah satu akibat
dari gangguan pendengaran yaitu sifat ketuliannya yang
terdapat pada saraf cochlea yang biasanya terjadi
dikedua telinga[1][3]. (JURNAL 9)

C. Etiologi

10
Kebisingan yang sangat kuat lebih besar dari 90 dB dapat menyebabkan
gangguan fisik pada organ telinga.6Gangguan pendengaran akibat bising
menurut beberapa penelitian dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti
intensitas kebisingan, lamanya waktu paparan, usia, jenis kelamin, durasi
paparan, area tempat kerja dan penggunaan alat pelindung diri.7,8
Faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian gangguan pendengaran

akibat bising antara lain intensitas kebisingan, frekuensi kebisingan,

lamanya waktu pemaparan bising, kerentanan individu, jenis kelamin, usia,

kelainan di telinga tengah, area tempat kerja, lamanya bekerja dan

penggunaan Alat Pelindung Diri (APD).9,10,14

Kebisingan yang sangat kuat lebih besar dari 90 dB dapat menyebabkan gangguan
fisik pada organ telinga.6 Gangguan dengar yang terjadi pada frekuensi
percakapan 500, 1000, 2000, dan 3000 Hz (berdasarkan AMA hearing handicap
scale) tergantung dari lama paparan bising maupun tingkatan/besar paparan
bising. Semakin lama dan semakin tinggi tingkatan/besar paparan bising akan
menimbulkan peningkatan NIPTS pada frekuensi percakapan.7,9,10
Semakin tua usia seseorang (>50 tahun) maka tingkat kejadian gangguan
pendengaran akan meningkat. Karena seiring meningkatnya usia, terjadi proses
degenerasi koklea yang dapat menyebabkan peningkatan ambang batas pada
orang tersebut sehingga terjadi gangguan pendengaran akibat proses
degenerative.15 Jenis kelamin juga dapat mempengaruhi kejadian gangguan
pendengaran, laki laki memiliki risiko 3 kali lebih besar dibandingkan perempuan
untuk mengalami gangguan pendengaran akibat bising. Faktor kebiasaan yang
dapat berpengaruh terhadap terjadinya gangguan pendengaran antara lain seperti
hobi mendengarkan musik dengan suara keras, hobi menembak, balapan motor,
kebiasaan menelepon respoden dengan waktu yang lama dan volume yang keras.3
Lama paparan bising lebih dari 10 tahun akan menyebabkan

peningkatan NIPTS (Noise Induce Permanen Treshold Shift). Gangguan

pendengaran yang terjadi pada frekuensi percakapan 500, 1000, 2000, dan

3000 Hz (berdasarkan AMA hearing handicap scale) tergantung dari lama

paparan bising maupun tingkatan/besar paparan bising. Semakin lama dan

semakin tinggi tingkatan/besar paparan bising akan menimbulkan

peningkatan gangguan pendengaran akibat bising tipe sensorineural.7,11,1

11
Alat pelindung diri merupakan alternatif dalam mengurangi gangguan

pendengaran akibat bising yang mungkin, namun pada penelitian di

Semarang, tidak terdapat hubungan yang bermakna antara penggunaan alat

pelindung diri dengan gangguan pendengaran akibat bising. Hal tersebut

dapat dipengaruhi dapat disebabkan oleh berbagai faktor seperti

penggunaan sumbat telinga yang tidak sesuai seperti penggunaan yang

hanya dipakai saat terpapar bising, keadaan sumbat telinga yang tidak

baik, pemasangan sumbat telinga yang tidak benar dan sikap responden

terhadap penggunaan alat pelindung diri yang masih kurang, ukuran dan

bentuk sumbat telinga tidak sesuai dengan penggunanya.7Menurut

penelitian di Afrika Selatan yang menunjukan bahwa banyak pekerja yang

merasa tidak perlu untuk menggunakan alat pelindung diri, tidak nyaman

bahkan tidak mengetahui alat pelindung diri apa yang digunakan untuk

mengurangi efek dari kebisingan.16 Hasil ini sejalan pula dengan hasil

penelitian yang dilakukan tahun 2011 yang mengemukakan bahwa pekerja

yang tidak memakai alat pelindung diri saat bekerja merasa kurang

nyaman dan membuat pekerjaan menjadi terhambat.

Gangguan pendengaran dapat diklasifikasikan sebagai tuli konduktif, tuli


sensorineural dan tuli [Link] sensorineural terjadi ketika terdapat
kerusakan pada telinga bagian dalam (koklea) atau saraf dari telinga dalam
menuju ke [Link] tuli ini merupakan tipe tuli yang biasanya bersifat
[Link] tuli sensorineural terjadi penurunan kemampuan untuk mendengar
suara [Link] suara yang sudah cukup keras tetapI masih terdengar tidak jelas
atau redup. Beberapa penyebab yang mungkin dapat menyebabkan tuli
sensorineural antara lain: obat yang toksik terhadap pendengaran, genetik,
penuaan, trauma kepala, malformasi telinga bagian dalam dan paparan terhadap
bising.9
Secara umum gambaran ketulian pada Noise Induced Hearing Loss (NIHL)
adalah bersifat sensorineural (mengenai rambut silia di telinga dalam), hampir

12
selalu bilateral, jarang menyebabkan tuli derajat sangat berat (profound hearing
loss), kerusakan telinga dalam mula-mula terjadi pada frekwensi 3000, 4000 dan
6000 Hz, dimana kerusakan yang paling berat terjadi pada frekwensi 4000 Hz,
dengan paparan bising yang konstan, ketulian pada frekuensi 3000, 4000 dan
6000 Hz akan mencapai tingkat yang maksimal dalam 10 – 15 tahun dan paparan
bising biasanya tidak menghasilkan gangguan pendengaran lebih dari 75dB pada
frekuensi tinggi dan 40 dB pada frekuensi rendah.12,19 Diagnosis gangguan
pendengaran akibat bising didapatkan dari pemeriksaan pendengaran
menggunakan tes berbisik dalam jarak 6 meter, audiometri nada murni dengan
waktu 16 – 36 jam bebas pajanan bising, melalui hasil pemeriksaan audiometri
apabila ambang dengar hantaran tulang dan ambang dengar hantaran udara
keduanya tidak normal dan saling berhimpit membuat takit pada frekuensi 4000
Hz. Penurunan nilai ambang dengar dilakukan pada kedua telinga14,20Derajat
gangguan pendengaran berdasarkan International Standard Organization (ISO)
adalah normal (0 – 25 dB), tuli ringan (26 – 40 dB), tuli sedang (41 – 60 dB), tuli
berat (61 – 90 dB), dan tuli sangat berat (>90 dB).5
Tuli akibat bising memiliki dampak bagi [Link] gangguan
pendengaran akibat bising ada dalam beberapa aspek yaitu aspek fungsional,
sosial dan emosional, serta aspek ekonomi. Dampak gangguan pendengaran akibat
bising pada aspek fungsional misalnya ketidakmampuan dalam berkomunikasi
dengan orang lain, kesulitan dalam menerima dan membedakan bunyi konsonan,
kemampuan untuk mendeteksi, mengidentifikasi, dan melokalisasi suara dengan
cepat dan tepat.5,9,21
Dampak pada aspek sosial dan emosional seperti merasa sendirian, isolasi diri,
frustasi, penurunan kegiatan sosial, dan perasaan seperti tidak diikutsertakan, yang
dapat meningkatkan prevalensi gejala depresi,5,9
Pada orang dewasa di negara berkembang kebanyakan tidak memiliki
[Link] orang yang memiliki pekerjaan, pekerja dengan gangguan
pendengaran memiliki persentase yang tinggi pada pekerja dengan derajat yang
rendah. Jadi dampak yang terjadi pada aspek ekonomi adalah pekerja dengan
gangguan pendengaran sebanding dengan level individu, dan memiliki dampak
pada ekonomi dan sosial orang tersebut.5
Kebisingan dapat menimbulkan gangguan bilatidak ditangani dengan baik, maka
perlu dibuatprogram pengedalian kebisingan yang komprehensif. Pengendalian
kebisingan itu antara lain, pengurangan kebisingandengan pengawasan kebisingan
dapat berupa kegiatan sebagai berikut pemeriksaan kebisingan secara berkala baik
di lapangan maupun di laboratorium, menganalisis hasil pemeriksaan
merumuskan saran dan pemecahan masalah berdasarkan pemeriksaan dan analisis
hasil, penempatan penghalang pada jalan transmisi dengan isolasi mesin
menggunakan bahan-bahan yang mampu menyerap suara, proteksi dengan alat
pelindung diri (sumbat atau tutup telinga)dan memberikan motivasi dan
pendidikan kesehatan serta melakukan evaluasi dan audit program.22,23 APD
adalah suatu alat yang mempunyai kemampuan untuk melindungi seseorang yang
fungsinya mengisolasi sebagian atau seluruh tubuh dari potensi bahaya di tempat
kerja. Alat pelindung diri (APD) yang baik adalah APD yang memenuhi standar
keamanan dan kenyamanan bagi pekerja (Safety and Acceptation), apabila pekerja

13
memakai APD yang tidak nyaman dan tidak bermanfaat maka pekerja enggan
memakai, hanya berpura-pura sebagai syarat agar masih diperbolehkan untuk
bekerja atau menghindari sanksi perusahaan.12
Jenis alat pelindung diri berdasarkan Peraturan Menteri Tenaga Kerja

dan Transmigrasi Republik Indonesia antara lain: alat pelindung kepala,

alat pelindung mata dan muka, alat pelindung pernapasan, alat pelindung

tangan, alat pelindung kaki dan alat pelindung jatuh perorangan.(JURNAL

4)

Faktor risiko yang berpengaruh pada derajat parahnya NIHL ialah intesitas bising,
frekuensi, lama pajanan perhari, masa kerja, kepekaan individu, umur dan faktor
lain yang dapat menimbulkan ketulian. Berdasarkan hal tersebut dapat dimengerti
bahwa jumlah pajanan energi bising yang diterima akan sebanding dengan
kerusakan yang didapat.4 Dalam terjadinya NIHL biasanya bising tidak muncul
sebagai faktor pajanan tunggal, tetapi dapat juga dipengaruhi oleh pajanan lain.
Beberapa faktor yang berinteraksi dengan bising adalah:3,4
 Faktor internal: usia, aterosklerosis, hipertensi, gangguan telinga tenga dan
proses penuaan.
 Faktor eksternal: suhu abnormal, getaran, obat atau zat ototoksik.

Beberapa jenis pekerjaan yang berhubungan dengan bising antara lain:

Konstruksi (pekerja bangunan), pertambangan (pekerja pengeboran

minyak, pekerja tambang), transportasi (pengemudi angkutan umum,

petugas dilapangan terbang), industri manufaktur (pekerja industri garmen,

tekstil, sepatu, elektronik, otomotif, dan lain-lain), laundry, katering.

(JURNAL 5)

Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 71 8/Menkes/Per/XI/1987,


kebisingan adalah terjadinya bunyi yang tidak diinginkan sehingga mengganggu
atau dapat membahayakan kesehatan.2 Bising dengan intensitas 85 desibel (dB)
atau lebih dapat merusak reseptor pendengaran corti di telinga dalam.3
Noise-Induced Hearing Loss (NIHL) adalah gangguan pendengaran

yang disebabkan kebisingan, bisa bersifat sementara atau permanen pada

satu atau kedua telinga.4 Kondisi NIHL dapat disebabkan oleh pemaparan

14
satu kali terhadap suara yang intens, seperti ledakan, atau oleh paparan

terus menerus terhadap suara keras selama periode waktu yang lama.5

Pekerjaan dengan risiko tinggi untuk NIHL termasuk manufaktur,

transportasi, pertambangan, konstruksi, pilot, pertanian, dan militer.6,7

(JURNAL 6)

Sumber bising dapat berasal dari mesin-mesin


produksi pabrik. Contoh pabrik-pabrik tersebut antara
lain pabrik tekstil, penggergajian kayu, industri mebel,
produk-produk yang menggunakan bahan baku logam
dan industri otomotif. Pabrik tersebut dapat
menghasilkan pajanan bising 90 dBA atau lebih[5].
Banyak faktor yang berhubungan dengan
kualitas pendengaran diantaranya: dosis kebisingan[6],
usia7, penggunaan APT (Alat Pelindung Telinga)[8],
dan riwayat gangguan pendengaran[9]. Dosis
kebisingan merupakan salah satu yang dapat
menyebabkan masalah kualitas pendengaran. (JURNAL 9)

D. Epidemiologi

Pada pertemuan konsultasi WHO-SEARO (South East Asia Regional Office)

Intercountry Meeting mengenai pencegahan dan pengendalian ketulian dan

gangguan pendengaran, disampaikan bahwa di Indonesia, gangguan

pendengaran akibat bising merupakan penyebab gangguan pendengaran ke

tiga terbanyak.8 Laporan WHO tahun 2018 mengenai ketulian dan gangguan

pendengaran menyatakan bahwa 1,1 miliar orang berusia antara 12-35 tahun

berisiko kehilangan pendengaran karena paparan kebisingan di tempat

rekreasi. (JURNAL 6)

Gangguan pendengaran diakibatkan dari paparan


kebisingan keras yang berasal dari lingkungan kerja
dengan intensitas tinggi, frekuensi tinggi serta terpapar
dalam waktu yang lama, kepekaan individu dan faktor

15
lain dapat menyebabkan ketulian yang mempengaruhi
kualitas pendengaran[1][2]. Nilai Ambang Batas (NAB)
kebisingan di tempat kerja adalah 85dB. Paparan Bising
yang melebihi NAB dapat merusak pendengaran yaitu
pada reseptorcorti di telinga dalam. Salah satu akibat
dari gangguan pendengaran yaitu sifat ketuliannya yang
terdapat pada saraf cochlea yang biasanya terjadi
dikedua telinga[1][3].(JURNAL 9)

WHO juga menyebutkan bahwa pada


tahun 2014 ada 360 juta orang di dunia
JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT (e-Journal)
Volume 4, Nomor 1, Januari 2016 (ISSN: 2356-3346)
[Link]
360
(328 juta dewasa dan 32 juta anak-anak)
yang memiliki gangguan pendengaran
yang diakibatkan oleh beberapa faktor
termasuk akibat pajanan kebisingan yang
berlebihan. World Health
Organization(WHO) tahun 2007
menyatakan bahwa prevalensi ketulian
mencapai 4,2% di Indonesia.(JURNAL 10)

E. Patofisiologi

INTENSITAS BISING : Hal ini terjadi karena perubahan ambang dengar yang
diakibatkanoleh paparan bising terjadi berawal dari
beradaptasinya telinga yang terpapar oleh
bising. Pada pemaparan awal, akan terjadi
kenaikan ambang pendengaran
sementara yang secara perlahan akan
kembali seperti semula. Keadaan ini
berlangsung beberapa menit sampai
beberapa jam bahkan sampai beberapa
minggu setelah pemaparan. Kenaikan
ambang pendengaran sementara ini mulamula
terjadi pada frekuensi 4000 Hz,
tetapi bila pemaparan berlangsung lama
maka kenaikan nilai ambang pendengaran
sementara akan menyebar pada frekuensi
sekitarnya. Makin tinggi intensitas dan
lama waktu pemaparan makin besar
perubahan nilai ambang pendengarannya.
Respon tiap individu terhadap kebisingan

16
tidak sama tergantung dari sensitivitas
masing-masing individu. Apabila
seseorang terpapar intensitas kebisingan
yang tinggi dan secara terus menerus,
maka akan terjadi kenaikan ambang
pendengaran yang akan bersifat
permanen dan tidak dapat disembuhkan
(pulih). Frekuensi pendengaran yang
mengalami penurunan intensitas adalah
antara 3000 – 6000 Hz dan kerusakan alat
Corti untuk reseptor bunyi yang terberat
terjadi pada frekwensi 4000 Hz (4 K
notch).9
Tuli akibat bising mempengaruhi
organ Corti di koklea terutama sel-sel
rambut. Daerah yang pertama terkena
adalah sel-sel rambut luar yang menunjukkan adanya degenerasi yang
meningkat sesuai dengan intensitas dan
lama paparan. Stereosilia pada sel-sel
rambut luar menjadi kurang kaku sehingga
mengurangi respon terhadap stimulasi.
Dengan bertambahnya intensitas dan
durasi paparan akan dijumpai lebih
banyak kerusakan seperti hilangnya
stereosilia.
Sedangkan, pertambahan usia pada
manusia akan meningkatkan
kemungkinan terjadinya degenerasi yang
semakin tinggi sehingga fungsinya akan
menurun termasuk pada organ
pendengaran. Khususnya pada telinga
bagian dalam, terjadi perubahan pada
bagian sensor saraf, pembuluh darah,
jaringan penunjang maupun sinaps saraf.
Organ corti merupakan bagian dari koklea
yang paling rentan terhadap perubahan
akibat proses degenerasi yang biasa
terjadi pada sel-sel rambut luar. Hal inilah
yang menyebabkan gangguan
pendengaran pada seseorang dengan
usia di atas 40 tahun khususnya jenis
gangguan pendengaran sensorineural.10
Hipertensi pada seseorang dapat
menyebabkan penurunan aliran darah
kapiler dan transpor oksigen pada organ
pendengaran. Hal tersebut mengakibatkan

17
terjadinya kerusakan sel-sel auditori dan
proses transmisi sinyal yang dapat
menimbulkan penurunan pendengaran di
telinga bagian dalam. Hipertensi yang
berlangsung lama dapat memperberat
tahanan vaskuler yang mengakibatkan
disfungsi sel endotel pembuluh darah.
Patogenesis sistem sirkulatorik dapat
terjadi pada pembuluh darah organ telinga
dalam disertai peningkatan viskositas
darah, penurunan aliran darah kapiler dan
transpor oksigen. Akibatnya terjadi
kerusakan sel-sel auditori, dan proses
transmisi sinyal yang dapat menimbulkan
gangguan komunikasi. (JURNAL 10)

F. PATOGENESIS

Tuli akibat bising mempengaruhi organ Corti di koklea terutama sel-sel

rambut. Daerah yang pertama terkena adalah sel-sel rambut luar yang

menunjukkan adanya degenerasi yang meningkat sesuai dengan intensitas

dan lama paparan. Stereosilia pada sel-sel rambut luar menjadi kurang

kaku sehingga mengurangi respon terhadap stimulasi. Dengan

bertambahnya intensitas dan durasi paparan akan dijumpai lebih banyak

kerusakan seperti hilangnya stereosilia. Daerah yang pertama kali terkena

adalah daerah basal. Dengan hilangnya stereosilia, sel-sel rambut mati dan

digantikan oleh jaringan parut. Semakin tinggi intensitas paparan bunyi,

sel-sel rambut dalam dan sel-sel penunjang juga rusak. Dengan semakin

luasnya kerusakan pada sel-sel rambut, dapat timbul degenerasi pada saraf

yang juga dapat dijumpai di nukleus pendengaran pada batang otak.

(BUKU 1)

G. Gejala Klinis

18
Kebisingan dapat menimbulkan gangguan pada manusia, seperti gangguan

fisiologis, psikologis, komunikasi, gangguan tidur dan gangguan pendengaran

Gangguan yang ditimbulkan oleh kebisingan pada fungsi pendengaran dapat

dibedakan menjadi tiga golongan yaitu traumaakustik, temporary treshold

shiff (Ketulian sementara) dan Permanent Treshold Shiff (Ketulian menetap)

(JURNAL 4)

Secara klinis pajanan bising pada organ pendengaran dapat menimbulkan reaksi
adaptasi, peningkatan ambang dengar sementara (temporary threshold shift) dan
peningkatan ambang dengar menetap (permanent threshold shift). Gejala yang
dapat ditemukan pada NIHL antara lain:1
 Tinitius (telinga berdenging)
 Susah menangkap percakapan
 Penurunan pendengaran

Selain pengaruh terhadap pendengaran (auditory), bising yang berlebihan

juga mempunyai pengaruh non auditory seperti pengaruh terhadap

komunikasi wicara, gangguan konsentrasi, gangguan tidur sampai memicu

stress akibat gangguan pendengaran yang terjadi.7(JURNAL 5)

Telinga yang terpapar bising dalam


jangka waktu yang lama dapat terusak
bagian dalamnya sehingga kemampuan
untuk mendengar suara berfrekuensi
tinggi akan hilang bahkan kerusakan
dapat meningkat hingga suara
berfrekuensi rendah tidak dapat didengar.2
Efek bising terhadap pendengaran
mungkin terjadi semenatara atau
menetap. Apabila perubahan ambang
batas pendengaran bersifat reversibel
maka disebut pergeseran ambang batas
pendengaran sementara dan bila
berkurangnya pendengaran bersifat
ireversibel maka disebut pergeseran
ambang batas pendengaran permanen (JURNAL 10)

Dalam kasus NIHL (Noise Induced

19
Hearing Loss) yang banyak terjadi pada
pekerja di berbagai belahan dunia
dilaporkan termasuk dalam jenis
gangguan pendengaran sensorineural
yang khas sebagai lesi koklea dan lebih
jelas terlihat pada daerah frekuensi tinggi
audiogram antara 3 kHz dan 6 kHz,
konfigurasi audiometri ini disebut
cekungan atau tukik di frekuensi 4 kHz.3
Gangguan pendengaran sensorineural

merupakan merupakan gangguan pada


sistem sensor yang letak masalahnya
terdapat pada bagian dalam telinga
terutama pada koklea. Sensorineural
hearing loss merupakan gangguan
penurunan pendengaran sensorineural
yang dimulai pada frekuensi yang lebih
tinggi (3000 Hz sampai 6000 Hz) dan
bertambah parah secara berangsurangsur
yang diakibatkan oleh paparan
kronis dari intensitas bising yang
berlebihan dalam jangka waktu yang
lama.4 (JURNAL 10)

Tuli akibat bising dapat mempengaruhi diskriminasi dalam berbicara (

speech discrimination ) dan fungsi sosial. Gangguan pada frekwensi tinggi dapat

menyebabkan kesulitan dalam menerima dan membedakan bunyi konsonan.

Bunyi dengan nada tinggi, seperti suara bayi menangis atau deringan telepon

dapat tidak didengar sama sekali. Ketulian biasanya bilateral. Selain itu tinitus

merupakan gejala yang sering dikeluhkan dan akhirnya dapat mengganggu


(5, 10)
ketajaman pendengaran dan konsentrasi. Secara umum gambaran ketulian

pada tuli akibat bising ( noise induced hearing loss ) adalah bersifat sensorineural,

hampir selalu bilateral, jarang menyebabkan tuli derajat sangat berat ( profound

hearing loss ).(BUKU 1)

20
Secara klinis pajanan bising pada organ pendengaran dapat menimbulkan

reaksi adaptasi, peningkatan ambang dengar sementara (temporary threshold shift)

dan peningkatan ambang dengar menetap ( permanent threshold shift). Reaksi

adaptasi merupakan respons kelelahan akibat rangsangan oleh bunyi dengan

intensitas 70 dB SPL atau kurang, keadaan ini merupakan fenomena fisiologis

pada saraf telinga yang terpajan bising. Peningkatan ambang dengar sementara,

merupakan keadaan terdapatnya peningkatan ambang dengar akibat pajanan

bising dengan intensitas yang cukup tinggi. Pemulihan dapat terjadi dalam

beberapa menit atau jam. Jarang terjadi pemulihan dalam satuan hari. Peningkatan

ambang dengar menetap, merupakan keadaan dimana terjadi peningkatan ambang

dengar menetap akibat pajanan bising dengan intensitas sangat tinggi (explosif)

atau berlangsung lama yang menyebabkan kerusakan pada berbagai struktur

koklea, antara lain kerusakan organ Corti, sel-sel rambut, stria vaskularis, dan

lainnya(BUKU 3 DAN 6)

Dampak kebisingan pada manusia dapat dibedakan menjadi dua


golongan yaitu dampak non-auditori (non auditory effects) dan dampak
auditori (auditory effects) ( National Safety Council, 2010 ).
a. Dampak non-auditori
Akibat pajanan kebisingan, pada sepuluh menit pertama tubuh
manusia akan melakukan penyesuaian fungsi biologi dengan cara
meningkatkan denyut jantung, yang akan mengakibatkan terjadinya nyeri atau
sakit kepala, peningkatan tekanan darah dan frekuensi
pernapasan. Selain itu hormon adrenalin dan kortisol juga meningkat,
sehingga meningkatkan kadar gula dan lemak dalam darah. Dapat
terjadinya berbagai macam stress seperti mudah marah, penurunan
tingkat konsentrasi, kelelahan, depresi dan gangguan tidur. Juga
terjadi peningkatan peristaltik sistem gastrointestinal. Beberapa hasil
penelitian telah membuktikan bahwa kebisingan di atas 55 dBA
selain terasa mengganggu, juga mengakibatkan penurunan kinerja.
Dampak lain akibat pajanan bising adalah meningkatnya
abseinteisme, penurunan tingkat produktivitas karena kelelahan dan

21
penurunan konsentrasi, peningkatan biaya produksi, penurunan
kualitas kerja, produksi dan gangguan komunikasi. Kebisingan juga
dapat berdampak terjadinya gangguan kenyamanan (annoyance)
bagi orang yang terpajan. Berbagai reaksi psikologis akan timbul
pada orang yang mengalami gangguan bising, biasanya reaksi yang
timbul bergantung pada status fisik, perilaku dan motivasi pribadi
seseorang (National Safety council, 2010).
Sulit untuk memprediksi terjadinya gangguan kenyamanan
karena persepsi dalam penerimaan bising seseorang dengan yang
lainnya berbeda. Seseorang mungkin dapat menikmati bising
sedangkan orang lainnya tidak menghendaki. Umumnya suara
terputus-putus (intermittent), dengan intensitas dan frekuensi bising
yang tinggi sangat mengganggu.
b. Dampak auditori
Dampak auditori akibat bising adalah terjadinya gangguan
pendengaran. Gangguan pendengaran akibat bising (NIHL) adalah
gangguan pendengaran yang berkembang secara perlahan dalam
jangka waktu yang cukup lama (beberapa tahun) diakibatkan oleh
karena terpajan kebisingan yang keras secara terus- menerus atau
terputus-putus.
Ciri khas NIHL antara lain sebagai berikut: (The American
23
College of Ocupational and Environmental Medicine (ACOEM),
2014)
1) Kerusakan bersifat sensori-neural, mempengaruhi sel-sel rambut
telinga bagian dalam.
2) Gangguan pendengaran terjadi secara bilateral (pada kedua
telinga).
3) Gambaran audiogram terdapat takik (dip/notch) di frekuensi
3000, 4000 atau 6000 Hz dan membaik pada frekuensi 8000 Hz.
4) Pajanan kebisingan saja tidak menyebabkan gangguan
pendengaran yang lebih besar dari pada 75 dB pada frekuensi
tinggi dan 40 dB pada frekuensi rendah.
5) Pada umumnya, pajanan kebisingan yang terus-menerus selama
beberapa tahun lebih destruktif daripada pajanan kebisingan yang
terputus-putus. (BUKU 7)

Faktor-faktor yang berperan


Fungsi pendengaran dipengaruhi beberapa faktor antara lain
tingkat kebisingan, umur, pendidikan, status kesehatan, riwayat
gangguan kesehatan pendengaran pada keluarga, hobi, masa kerja dan
penggunaan alat pelindung telinga (National Safety Council ,2010).
a) Tingkat kebisingan
Semakin besar dosis bising yang diterima seseorang (pekerja),
semakin besar potensi terjadi gangguan pendengaran.

22
25
Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan dan Keputusan
Direktur Jenderal PPM & PLP tentang Persyaratan Kesehatan
Lingkungan Kerja, tingkat kebisingan maksimal selama satu hari
adalah 85 dBA untuk lama pajanan 8 jam.
Noise induced hearing loss utamanya disebabkan oleh karena
bising. Impuls suara bising yang terus menerus pada beberapa
penelitian terbukti dapat menyebabkan adanya perubahan ion pada
sitoplasma, salah satu contohnya adalah peningkatan ion Ca 2+ ada
outer hair cell. Hal tersebut menginduksi terjadinya mekanisme cell
death yang dapat mengarah ke apoptosis dan nekrosis dari hair cell.
Terjadinya mekanisme tersebut menyebabkan kerusakan pada hair
cell yang memiliki peran penting dalam pendengaran.
b) Umur
Sensitivitas pendengaran seseorang akan berkurang dengan
bertambahnya umur. Semakin tua umur, semakin besar terjadi
gangguan pendengaran. Pada umur tua relatif akan mengalami
penurunan kepekaan rangsangan suara karena adanya faktor proses
penuaan (presbikusis) yaitu proses degeneratif organ pendengaran
yang umumnya dimulai sejak usia 40 tahun ke atas, dan ambang
pendengaran turun 0.5 dBA per tahun. Orang yang berumur 30 tahun
mampu mendengar suara 4 dB pada frekuensi 8000 Hz, sedangkan
pada umur 60 tahun hanya mampu mendengar suara minimal 40 dB
pada frekuensi 8000 Hz. Penurunan kemampuan pendengaran karena
bertambahnya umur disebut dengan presbikus.
c) Tingkat pendidikan
Pekerja dengan tingkat pendidikan yang rendah lebih
berpotensi mengalami gangguan pendengaran daripada tingkat
pendidikan yang lebih tinggi. Training tentang keselamatan (Safety
Training) adalah komponen penting dalam program keselamatan
untuk menyakinkan bahwa semua pekerja telah memahami dan
bertindak sesuai persyaratan keselamatan serta terhindar dari potensi
26
bahaya di tempat kerja ( Roughton JE dan Mercurio JJ, 2012).
Persepsi seseorang pekerja terhadap faktor risiko bahaya yang ada di
lingkungannya (termasuk bahaya bising) banyak dipengaruhi oleh
pengalaman maupun tingkat pengetahuan yang dimiliki seseorang
yang selanjutnya ditunjukkan melalui sikap dan perilaku.
Training akan berpengaruh terhadap aspek kognitif para pekerja
dalam bersikap dan berperilaku (termasuk perilaku bekerja yang
aman serta perilaku dalam menggunakan alat pelindung diri/telinga).
d) Status kesehatan
Status kesehatan yang buruk lebih berpotensi terjadi gangguan
pendengaran, diantaranya adalah, kejadian cedera/trauma pada kepala
atau telinga yang pernah dialaminya, terjadinya penyakit infeksi
(TBC, sifilis, otitis media) yang disebabkan oleh virus (campak,

23
cacar), penyakit pada organ telinga bagian dalam atau pada saraf
pendengaran, penyakit metabolik seperti DM dan hipertensi/stroke.
Di samping itu, riwayat pemakaian obat-obat yang bersifat ototoksik
seperti aspirin, antibiotik kina, kebiasaan minum dan merokok serta
lain-lainnya juga dapat mempengaruhi sel-sel saraf pendengaran
(National Safety Council , 2010).
e) Riwayat gangguan pendengaran pada keluarga
Para pekerja yang memiliki keluarga (ayah, ibu, kakak, nenek
dan saudara) dengan riwayat gangguan kesehatan pendengaran
sebelum usia 50 tahun lebih berpotensi terjadi gangguan pendengaran
dibandingkan para pekerja yang keluarganya tidak memiliki riwayat
gangguan kesehatan pendengaran. Hal tersebut terkait dengan
gangguan pendengaran yang berhubungan dengan faktor keturunan
(National Safety Council, 2010).
f) Hobi
Beberapa hobi/aktivitas para pekerja dapat mempengaruhi
terjadinya gangguan pendengaran, misalnya hobi yang berkaitan
dengan lingkungan bertekanan tinggi misalnya menyelam
27
(hiperbarik) hobi yang berkaitan dengan pajanan bising tinggi
misalnya menembak dengan senjata api, balap motor/mobil,
mendengarkan musik keras dan lain-lain. Makin banyak hobi yang
berhubungan dengan bising makin besar terjadinya risiko gangguan
pendengaran (National Safety Council ,2010).
g) Masa kerja
Makin lama masa kerja di tempat bising, makin besar risiko
terjadinya gangguan pendengaran. Gangguan pendengaran terjadi 5-
10 tahun setelah pekerja bekerja di tempat bising (Dobie, 2006).
h) Penggunaan alat pelindung telinga (APT)
Alat pelindung telinga merupakan suatu alat yang digunakan
untuk melindungi organ pendengaran (telinga) manusia dari bahaya
pajanan bising yang tinggi. Semakin sering seseorang tidak
menggunakan APT saat bekerja di tempat bising yang tinggi,
semakin besar risiko terjadinya gangguan pendengaran (National
Safety Council ,2010). (BUKU 7)

24

Anda mungkin juga menyukai