Gangguan Pendengaran Akibat Kebisingan
Gangguan Pendengaran Akibat Kebisingan
A. Pendahuluan
2000 lebih dari 250 juta penduduk (4,2%) dan sekitar setengah dari
populasinya terdapat di Asia Tenggara dan angka ini diprediksikan akan terus
negara urutan ke-4 di Asia Tenggara dengan prevalensi ketulian yang cukup
tinggi, yaitu sekitar (4,6%), setelah negara Sri Lanka (8,8%), Myanmar
Menurut WHO pada tahun 2005 terdapat 278 juta orang menderita
oleh bising yang cukup keras dalam jangka waktu yang cukup lama dan
presbikusis.
irreversible dan merusak sel-sel rambut di dalam organ corti yang disebabkan
oleh suara bising yang intensitasnya lebih dari 85 dB, sehingga pengobatan
2
menimbulkan peningkatan ketegangan (stress), vasokonstriksi yang
menyebabkan hipertensi yang di kemudian hari dapat menyebabkan penyakit
arteri koroner (Soedarto, 2013). Menurut WHO (Word Health Organitation),
EPA (Environmental Protection Agency) dan CDC ( Centers for Disease
Control and Prevention) polusi suara menjadi masalah kesehatan masyarakat
yang semakin meningkat dan dapat menimbulkan tekanan jiwa (stress),
gangguan pendengaran, meningkatnya tekanan darah, sakit kepala,
mengganggu tidur, berakibat buruk pada hasil produksi kerja dan
menurunkan kualitas hidup pada umumnya. Dalam kehidupan sekarang ini
bising merupakan keluhan yang banyak di dengar, orang merasa kebisingan
oleh banyaknya suara yang ditimbulkan oleh ramainya lalu lintas, suara
mesin, suara radio, suara TV, dan sebagainya (JURNAL 2)
Gangguan pendengaran dapat menimbulkan sejumlah disabilitas seperti
dengan cepat dan tepat. Gangguan pendengaran yang tidak dikoreksi dapat
penyakit akibat kerja. Lingkungan kerja yang bising merupakan salah satu
dampak dari sektor industri yang menjadi penyebab tersering terjadinya gangguan
3
bising (noise induced hearing loss) adalah penurunan pendengaran atau tuli akibat
dilakukan sejak lama. Penelitian yang dilakukan pada tahun 2010 di Makasar pada
tiga pabrik dengan sumber kebisingan yang berbeda-beda ditemukan hasil bahwa
penelitian juga ditemukan bahwa beberapa sumber bising melebihi ambang batas
dengar pada beberapa karyawan sebesar 5-10 dB.3 Penelitian serupa juga
yang telah bekerja terus menerus selama 5-10 tahun. Bising industri sudah lama
merupakan masalah yang sampai sekarang belum bisa ditanggulangi secara baik
sehingga dapat menjadi ancaman serius bagi pendengaran para pekerja, karena
bagi pihak industri, bising dapat menyebabkan kerugian ekonomi karena biaya
ganti rugi. Oleh karena itu untuk mencegahnya diperlukan pengawasan terhadap
Secara umum bising adalah bunyi yang tidak diinginkan. Bising yang
atau yang lebih dikenal dengan noise induced hearing loss (NIHL) memiliki
4
gejala secara unilateral maupun bilateral, biasanya mempengharui frekuensi yang
lebih tinggi (3kHz, 4kHz atau 6kHz) dan kemudian menyebar ke frekuensi yang
lebih rendah (0,5kHz, 1kHz atau 2kHz). Dampak dari gangguan ini adalah
kedua telinga dan kesulitan untuk mengolah sumber suara, kelelahan karena
ketidakmapuan untuk memahami sumber suara secara jelas, sakit kepala juga hal
yang sering dialami pada hearing loss karena saraf yang mengatur fungsi
pendengaran tidak berfungsi dengan baik dan pengolahan sumber suara yang tidak
baik, gangguan tidur dapat dialami akibat dari sistem memori untuk berusaha
Secara umum noise induced hearing loss memang tidak dapat disembuhkan
loss adalah sebuah kegiatan ataupun proses untuk menahan atau menghindari
agar hearing loss tidak dialami. Dari hasil penelitian di Amerika didapatkan
bahwa terdapat perubahan perilaku dan angka kejadian hearing loss yang
pada salah satu perusahaan besi. Dari hasil penelitian tersebut dijelaskan
loss. Oleh karena itu sangatlah penting bagi pihak industri maupun pekerja
5
adalah gangguan pendengaran yang
disebabkan oleh kebisingan. Kebisingan
diartikan sebagai sebuah bunyi atau suara
yang didengar sebagai bentuk
rangsangan pada sel saraf pendengar
dalam telinga oleh gelombang longitudinal
yang ditimbulkan dari getaran dan
merambat lewat udara atau penghantar
lainnya yang mana tidak dikehendaki dan
timbul di luar kemauan orang yang
bersangkutan.1 (JURNAL 10)
gangguan pendengaran di Asia Tenggara adalah 156 juta orang atau 27% dari
total populasi sedangkan pada orang dewasa di bawah umur 65 tahun adalah
49 juta orang atau 9,3% yang disebabkan karena suara keras yang dihasilkan
Tenggara yaitu sekitar 36 juta orang atau 16,8% dari total populasi.
13/MEN/X/2011 tentang nilai ambang batas faktor fisik dan faktor kimia di
sebesar 85 dBA sebagai intensitas tertinggi dan merupakan nilai yang masih
Data survei Multi Center Study di Asia Tenggara, Indonesia termasuk empat
negara dengan prevalensi ketulian yang cukup tinggi yaitu 4,6%, sedangkan
6
tiga negara lainnya yakni Sri Lanka 8,8%, Myanmar 8,4% dan India 6,3%.
Kebisingan merupakan salah satu faktor bahaya fisik yang sering dijumpai di
berkembang maka ancaman risiko gangguan akibat bising juga akan semakin
bersumber dari alat-alat proses produksi atau alat-alat kerja yang pada tingkat
Tasma Puja Kecamatan Kampar Timur’, JOM FMIPA, vol. 2, no. 1, Feb.
(JURNAL 13)
B. Definisi
7
tipe sensorineural yang disebabkan oleh pajanan bising yang cukup keras
dalam jangkat waktu yang lama, biasanya akibat bising lingkungan kerja.2
Kebisingan adalah bunyi yang tidak dikehendaki yang dapat menimbulkan
gangguan kesehatan dan kenyamanan lingkungan pada tingkat dan waktu
tertentu.1 Terdapat beberapa faktor yang dapat menyebabkan penurunan
ambang dengar akibat bising, yakni lama paparan bising, frekuensi
paparan bising, tingkatan/besaran paparan, dosis paparan harian, spektrum
kebisingan, temporal pattern dan faktor internal dari dalam tubuh manusia
sendiri yang mempermudah timbulnya gangguan pendengaran (kadar gula
darah, hemoglobin, viskositas darah, masa jendal darah, kadar kolesterol,
kadar trigliserida, usia dan jenis kelamin dari penderita). Lama paparan
bising lebih dari 10 tahun akan menyebabkan peningkatan NIPTS (Noise
Induce Permanen Treshold Shift) terutama pada frekuensi 4 KHz.7,11,1
(JURNAL 4)
Gangguan pendengaran akibat bising, atau gangguan pendengaran akibat
kerja (occupational deafness/noise induced hearing loss) adalah hilangnya
sebagian atau seluruh pendengaran seseorang yang bersifat permanen,
mengenai satu atau kedua telinga yang disebabkan oleh bising terus
menerus di lingkungan tempat kerja. Dalam lingkungan industri, semakin
tinggi intensitas kebisingan dan semakin lama waktu pemaparan
kebisingan yang dialami oleh para pekerja, semakin berat gangguan
pendengaran yang ditimbulkan pada para pekerja tersebut.6 (JURNAL 5)
Kebisingan tidak selalu menyebabkan gangguan kesehatan. Terdapat Nilai
Ambang Batas (NAB) yang menjadi acuan pengendalian kebisingan agar
tidak menyebabkan risiko gangguan pendengaran. Sesuai dengan
Permenaker Nomor 5 Tahun 2018 tentang Keselamatan dan Kesehatan
Kerja Lingkungan Kerja, NAB adalah kadar atau intensitas rata-rata yang
masih bisa ditahan atau diterima tenaga kerja tanpa mengakibatkan
gangguan kesehatan, tidak melebihi 8 jam sehari atau 40 jam seminggu.
NAB CEK TABELNYA DUBAWAH (JURNAL 7)
Noise Induced Hearing Loss (NIHL) adalah suatu kondisi terganggunya
pendengaran manusia karena terpapar suara bising di tempat kerja dalam rentang
waktu yang lama dan berkelanjutan (Salawati, 2013). NIHL merupakan golongan
ketulian sensorineural yang umumnya terjadi pada kedua telinga manusia. NIHL
diklasifikasikan menjadi 2 (Salawati, 2013), yaitu :
a. Noise Induced Temporary Treshold Shift, adalah trauma akustik yang
menyebabkan ketulian mendadak karena suara yang sangat keras seperti
dentuman bom, ledakan, atau pajanan akustik yang kuat dan tiba-tiba sehingga
menyebabkan trauma.
b. Noise Induced Permanent Treshold Shift yaitu ketulian karena paparan bising
dengan rentang waktu yang lama atau intensitasnya lebih besar sehingga
menyebabkan gangguan pendengaran permanen. Gangguan yang dialami bisa
bertahap dan tidak
dirasakan pada mulanya oleh penderita. Namun akan mulai terasa jika penderita
mengalami kesulitan berkomunikasi dengan orang lain.
8
Faktor-faktor yang mempengaruhi NIHL yaitu intensitas, frekuensi paparan, usia
serta jenis kelamin (Salawati, 2013).
Risiko NIHL dapat diturunkan dengan tindakan pengendalian dari penggunaan
Alat Pelindung Telinga, hingga program Hearing Conservation Program (HCP).
HCP adalah program yang bertujuan untuk mencegah gangguan pendengaran
yang disebabkan kebisingan dengan mengacu pada panduan National Institute for
Occupational Safety and Health. Menurut Maulana et al (2016), tahapan
penerapan HCP yaitu sebagai berikut:
1. Menentukan pengendalian secara administratif.
2. Mengidentifikasi bahaya kebisingan.
3. Menghitung paparan bahaya kebisingan terhadap pekerja.
4. Melakukan pengecekan medis terutama pendengaran pada semua pekerja yang
berpotensi terkena paparan bahaya kebisingan.
5. Menentukan program pencegahan gangguan pendengaran yang sesuai.
6. Mengatasi masalah pelindung pendengaran pekerja individu dan kelompok.
7. Melakukan pelatihan atau sosialisasi untuk pekerja.
9
tingkat kebisingan (Nilai Ambang Batas, NAB) peruntukan kawasan/lingkungan
C. Etiologi
10
Kebisingan yang sangat kuat lebih besar dari 90 dB dapat menyebabkan
gangguan fisik pada organ telinga.6Gangguan pendengaran akibat bising
menurut beberapa penelitian dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti
intensitas kebisingan, lamanya waktu paparan, usia, jenis kelamin, durasi
paparan, area tempat kerja dan penggunaan alat pelindung diri.7,8
Faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian gangguan pendengaran
Kebisingan yang sangat kuat lebih besar dari 90 dB dapat menyebabkan gangguan
fisik pada organ telinga.6 Gangguan dengar yang terjadi pada frekuensi
percakapan 500, 1000, 2000, dan 3000 Hz (berdasarkan AMA hearing handicap
scale) tergantung dari lama paparan bising maupun tingkatan/besar paparan
bising. Semakin lama dan semakin tinggi tingkatan/besar paparan bising akan
menimbulkan peningkatan NIPTS pada frekuensi percakapan.7,9,10
Semakin tua usia seseorang (>50 tahun) maka tingkat kejadian gangguan
pendengaran akan meningkat. Karena seiring meningkatnya usia, terjadi proses
degenerasi koklea yang dapat menyebabkan peningkatan ambang batas pada
orang tersebut sehingga terjadi gangguan pendengaran akibat proses
degenerative.15 Jenis kelamin juga dapat mempengaruhi kejadian gangguan
pendengaran, laki laki memiliki risiko 3 kali lebih besar dibandingkan perempuan
untuk mengalami gangguan pendengaran akibat bising. Faktor kebiasaan yang
dapat berpengaruh terhadap terjadinya gangguan pendengaran antara lain seperti
hobi mendengarkan musik dengan suara keras, hobi menembak, balapan motor,
kebiasaan menelepon respoden dengan waktu yang lama dan volume yang keras.3
Lama paparan bising lebih dari 10 tahun akan menyebabkan
pendengaran yang terjadi pada frekuensi percakapan 500, 1000, 2000, dan
11
Alat pelindung diri merupakan alternatif dalam mengurangi gangguan
hanya dipakai saat terpapar bising, keadaan sumbat telinga yang tidak
baik, pemasangan sumbat telinga yang tidak benar dan sikap responden
terhadap penggunaan alat pelindung diri yang masih kurang, ukuran dan
merasa tidak perlu untuk menggunakan alat pelindung diri, tidak nyaman
bahkan tidak mengetahui alat pelindung diri apa yang digunakan untuk
mengurangi efek dari kebisingan.16 Hasil ini sejalan pula dengan hasil
yang tidak memakai alat pelindung diri saat bekerja merasa kurang
12
selalu bilateral, jarang menyebabkan tuli derajat sangat berat (profound hearing
loss), kerusakan telinga dalam mula-mula terjadi pada frekwensi 3000, 4000 dan
6000 Hz, dimana kerusakan yang paling berat terjadi pada frekwensi 4000 Hz,
dengan paparan bising yang konstan, ketulian pada frekuensi 3000, 4000 dan
6000 Hz akan mencapai tingkat yang maksimal dalam 10 – 15 tahun dan paparan
bising biasanya tidak menghasilkan gangguan pendengaran lebih dari 75dB pada
frekuensi tinggi dan 40 dB pada frekuensi rendah.12,19 Diagnosis gangguan
pendengaran akibat bising didapatkan dari pemeriksaan pendengaran
menggunakan tes berbisik dalam jarak 6 meter, audiometri nada murni dengan
waktu 16 – 36 jam bebas pajanan bising, melalui hasil pemeriksaan audiometri
apabila ambang dengar hantaran tulang dan ambang dengar hantaran udara
keduanya tidak normal dan saling berhimpit membuat takit pada frekuensi 4000
Hz. Penurunan nilai ambang dengar dilakukan pada kedua telinga14,20Derajat
gangguan pendengaran berdasarkan International Standard Organization (ISO)
adalah normal (0 – 25 dB), tuli ringan (26 – 40 dB), tuli sedang (41 – 60 dB), tuli
berat (61 – 90 dB), dan tuli sangat berat (>90 dB).5
Tuli akibat bising memiliki dampak bagi [Link] gangguan
pendengaran akibat bising ada dalam beberapa aspek yaitu aspek fungsional,
sosial dan emosional, serta aspek ekonomi. Dampak gangguan pendengaran akibat
bising pada aspek fungsional misalnya ketidakmampuan dalam berkomunikasi
dengan orang lain, kesulitan dalam menerima dan membedakan bunyi konsonan,
kemampuan untuk mendeteksi, mengidentifikasi, dan melokalisasi suara dengan
cepat dan tepat.5,9,21
Dampak pada aspek sosial dan emosional seperti merasa sendirian, isolasi diri,
frustasi, penurunan kegiatan sosial, dan perasaan seperti tidak diikutsertakan, yang
dapat meningkatkan prevalensi gejala depresi,5,9
Pada orang dewasa di negara berkembang kebanyakan tidak memiliki
[Link] orang yang memiliki pekerjaan, pekerja dengan gangguan
pendengaran memiliki persentase yang tinggi pada pekerja dengan derajat yang
rendah. Jadi dampak yang terjadi pada aspek ekonomi adalah pekerja dengan
gangguan pendengaran sebanding dengan level individu, dan memiliki dampak
pada ekonomi dan sosial orang tersebut.5
Kebisingan dapat menimbulkan gangguan bilatidak ditangani dengan baik, maka
perlu dibuatprogram pengedalian kebisingan yang komprehensif. Pengendalian
kebisingan itu antara lain, pengurangan kebisingandengan pengawasan kebisingan
dapat berupa kegiatan sebagai berikut pemeriksaan kebisingan secara berkala baik
di lapangan maupun di laboratorium, menganalisis hasil pemeriksaan
merumuskan saran dan pemecahan masalah berdasarkan pemeriksaan dan analisis
hasil, penempatan penghalang pada jalan transmisi dengan isolasi mesin
menggunakan bahan-bahan yang mampu menyerap suara, proteksi dengan alat
pelindung diri (sumbat atau tutup telinga)dan memberikan motivasi dan
pendidikan kesehatan serta melakukan evaluasi dan audit program.22,23 APD
adalah suatu alat yang mempunyai kemampuan untuk melindungi seseorang yang
fungsinya mengisolasi sebagian atau seluruh tubuh dari potensi bahaya di tempat
kerja. Alat pelindung diri (APD) yang baik adalah APD yang memenuhi standar
keamanan dan kenyamanan bagi pekerja (Safety and Acceptation), apabila pekerja
13
memakai APD yang tidak nyaman dan tidak bermanfaat maka pekerja enggan
memakai, hanya berpura-pura sebagai syarat agar masih diperbolehkan untuk
bekerja atau menghindari sanksi perusahaan.12
Jenis alat pelindung diri berdasarkan Peraturan Menteri Tenaga Kerja
alat pelindung mata dan muka, alat pelindung pernapasan, alat pelindung
4)
Faktor risiko yang berpengaruh pada derajat parahnya NIHL ialah intesitas bising,
frekuensi, lama pajanan perhari, masa kerja, kepekaan individu, umur dan faktor
lain yang dapat menimbulkan ketulian. Berdasarkan hal tersebut dapat dimengerti
bahwa jumlah pajanan energi bising yang diterima akan sebanding dengan
kerusakan yang didapat.4 Dalam terjadinya NIHL biasanya bising tidak muncul
sebagai faktor pajanan tunggal, tetapi dapat juga dipengaruhi oleh pajanan lain.
Beberapa faktor yang berinteraksi dengan bising adalah:3,4
Faktor internal: usia, aterosklerosis, hipertensi, gangguan telinga tenga dan
proses penuaan.
Faktor eksternal: suhu abnormal, getaran, obat atau zat ototoksik.
(JURNAL 5)
satu atau kedua telinga.4 Kondisi NIHL dapat disebabkan oleh pemaparan
14
satu kali terhadap suara yang intens, seperti ledakan, atau oleh paparan
terus menerus terhadap suara keras selama periode waktu yang lama.5
(JURNAL 6)
D. Epidemiologi
tiga terbanyak.8 Laporan WHO tahun 2018 mengenai ketulian dan gangguan
pendengaran menyatakan bahwa 1,1 miliar orang berusia antara 12-35 tahun
rekreasi. (JURNAL 6)
15
lain dapat menyebabkan ketulian yang mempengaruhi
kualitas pendengaran[1][2]. Nilai Ambang Batas (NAB)
kebisingan di tempat kerja adalah 85dB. Paparan Bising
yang melebihi NAB dapat merusak pendengaran yaitu
pada reseptorcorti di telinga dalam. Salah satu akibat
dari gangguan pendengaran yaitu sifat ketuliannya yang
terdapat pada saraf cochlea yang biasanya terjadi
dikedua telinga[1][3].(JURNAL 9)
E. Patofisiologi
INTENSITAS BISING : Hal ini terjadi karena perubahan ambang dengar yang
diakibatkanoleh paparan bising terjadi berawal dari
beradaptasinya telinga yang terpapar oleh
bising. Pada pemaparan awal, akan terjadi
kenaikan ambang pendengaran
sementara yang secara perlahan akan
kembali seperti semula. Keadaan ini
berlangsung beberapa menit sampai
beberapa jam bahkan sampai beberapa
minggu setelah pemaparan. Kenaikan
ambang pendengaran sementara ini mulamula
terjadi pada frekuensi 4000 Hz,
tetapi bila pemaparan berlangsung lama
maka kenaikan nilai ambang pendengaran
sementara akan menyebar pada frekuensi
sekitarnya. Makin tinggi intensitas dan
lama waktu pemaparan makin besar
perubahan nilai ambang pendengarannya.
Respon tiap individu terhadap kebisingan
16
tidak sama tergantung dari sensitivitas
masing-masing individu. Apabila
seseorang terpapar intensitas kebisingan
yang tinggi dan secara terus menerus,
maka akan terjadi kenaikan ambang
pendengaran yang akan bersifat
permanen dan tidak dapat disembuhkan
(pulih). Frekuensi pendengaran yang
mengalami penurunan intensitas adalah
antara 3000 – 6000 Hz dan kerusakan alat
Corti untuk reseptor bunyi yang terberat
terjadi pada frekwensi 4000 Hz (4 K
notch).9
Tuli akibat bising mempengaruhi
organ Corti di koklea terutama sel-sel
rambut. Daerah yang pertama terkena
adalah sel-sel rambut luar yang menunjukkan adanya degenerasi yang
meningkat sesuai dengan intensitas dan
lama paparan. Stereosilia pada sel-sel
rambut luar menjadi kurang kaku sehingga
mengurangi respon terhadap stimulasi.
Dengan bertambahnya intensitas dan
durasi paparan akan dijumpai lebih
banyak kerusakan seperti hilangnya
stereosilia.
Sedangkan, pertambahan usia pada
manusia akan meningkatkan
kemungkinan terjadinya degenerasi yang
semakin tinggi sehingga fungsinya akan
menurun termasuk pada organ
pendengaran. Khususnya pada telinga
bagian dalam, terjadi perubahan pada
bagian sensor saraf, pembuluh darah,
jaringan penunjang maupun sinaps saraf.
Organ corti merupakan bagian dari koklea
yang paling rentan terhadap perubahan
akibat proses degenerasi yang biasa
terjadi pada sel-sel rambut luar. Hal inilah
yang menyebabkan gangguan
pendengaran pada seseorang dengan
usia di atas 40 tahun khususnya jenis
gangguan pendengaran sensorineural.10
Hipertensi pada seseorang dapat
menyebabkan penurunan aliran darah
kapiler dan transpor oksigen pada organ
pendengaran. Hal tersebut mengakibatkan
17
terjadinya kerusakan sel-sel auditori dan
proses transmisi sinyal yang dapat
menimbulkan penurunan pendengaran di
telinga bagian dalam. Hipertensi yang
berlangsung lama dapat memperberat
tahanan vaskuler yang mengakibatkan
disfungsi sel endotel pembuluh darah.
Patogenesis sistem sirkulatorik dapat
terjadi pada pembuluh darah organ telinga
dalam disertai peningkatan viskositas
darah, penurunan aliran darah kapiler dan
transpor oksigen. Akibatnya terjadi
kerusakan sel-sel auditori, dan proses
transmisi sinyal yang dapat menimbulkan
gangguan komunikasi. (JURNAL 10)
F. PATOGENESIS
rambut. Daerah yang pertama terkena adalah sel-sel rambut luar yang
dan lama paparan. Stereosilia pada sel-sel rambut luar menjadi kurang
adalah daerah basal. Dengan hilangnya stereosilia, sel-sel rambut mati dan
sel-sel rambut dalam dan sel-sel penunjang juga rusak. Dengan semakin
luasnya kerusakan pada sel-sel rambut, dapat timbul degenerasi pada saraf
(BUKU 1)
G. Gejala Klinis
18
Kebisingan dapat menimbulkan gangguan pada manusia, seperti gangguan
(JURNAL 4)
Secara klinis pajanan bising pada organ pendengaran dapat menimbulkan reaksi
adaptasi, peningkatan ambang dengar sementara (temporary threshold shift) dan
peningkatan ambang dengar menetap (permanent threshold shift). Gejala yang
dapat ditemukan pada NIHL antara lain:1
Tinitius (telinga berdenging)
Susah menangkap percakapan
Penurunan pendengaran
19
Hearing Loss) yang banyak terjadi pada
pekerja di berbagai belahan dunia
dilaporkan termasuk dalam jenis
gangguan pendengaran sensorineural
yang khas sebagai lesi koklea dan lebih
jelas terlihat pada daerah frekuensi tinggi
audiogram antara 3 kHz dan 6 kHz,
konfigurasi audiometri ini disebut
cekungan atau tukik di frekuensi 4 kHz.3
Gangguan pendengaran sensorineural
speech discrimination ) dan fungsi sosial. Gangguan pada frekwensi tinggi dapat
Bunyi dengan nada tinggi, seperti suara bayi menangis atau deringan telepon
dapat tidak didengar sama sekali. Ketulian biasanya bilateral. Selain itu tinitus
pada tuli akibat bising ( noise induced hearing loss ) adalah bersifat sensorineural,
hampir selalu bilateral, jarang menyebabkan tuli derajat sangat berat ( profound
20
Secara klinis pajanan bising pada organ pendengaran dapat menimbulkan
pada saraf telinga yang terpajan bising. Peningkatan ambang dengar sementara,
bising dengan intensitas yang cukup tinggi. Pemulihan dapat terjadi dalam
beberapa menit atau jam. Jarang terjadi pemulihan dalam satuan hari. Peningkatan
dengar menetap akibat pajanan bising dengan intensitas sangat tinggi (explosif)
koklea, antara lain kerusakan organ Corti, sel-sel rambut, stria vaskularis, dan
lainnya(BUKU 3 DAN 6)
21
penurunan konsentrasi, peningkatan biaya produksi, penurunan
kualitas kerja, produksi dan gangguan komunikasi. Kebisingan juga
dapat berdampak terjadinya gangguan kenyamanan (annoyance)
bagi orang yang terpajan. Berbagai reaksi psikologis akan timbul
pada orang yang mengalami gangguan bising, biasanya reaksi yang
timbul bergantung pada status fisik, perilaku dan motivasi pribadi
seseorang (National Safety council, 2010).
Sulit untuk memprediksi terjadinya gangguan kenyamanan
karena persepsi dalam penerimaan bising seseorang dengan yang
lainnya berbeda. Seseorang mungkin dapat menikmati bising
sedangkan orang lainnya tidak menghendaki. Umumnya suara
terputus-putus (intermittent), dengan intensitas dan frekuensi bising
yang tinggi sangat mengganggu.
b. Dampak auditori
Dampak auditori akibat bising adalah terjadinya gangguan
pendengaran. Gangguan pendengaran akibat bising (NIHL) adalah
gangguan pendengaran yang berkembang secara perlahan dalam
jangka waktu yang cukup lama (beberapa tahun) diakibatkan oleh
karena terpajan kebisingan yang keras secara terus- menerus atau
terputus-putus.
Ciri khas NIHL antara lain sebagai berikut: (The American
23
College of Ocupational and Environmental Medicine (ACOEM),
2014)
1) Kerusakan bersifat sensori-neural, mempengaruhi sel-sel rambut
telinga bagian dalam.
2) Gangguan pendengaran terjadi secara bilateral (pada kedua
telinga).
3) Gambaran audiogram terdapat takik (dip/notch) di frekuensi
3000, 4000 atau 6000 Hz dan membaik pada frekuensi 8000 Hz.
4) Pajanan kebisingan saja tidak menyebabkan gangguan
pendengaran yang lebih besar dari pada 75 dB pada frekuensi
tinggi dan 40 dB pada frekuensi rendah.
5) Pada umumnya, pajanan kebisingan yang terus-menerus selama
beberapa tahun lebih destruktif daripada pajanan kebisingan yang
terputus-putus. (BUKU 7)
22
25
Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan dan Keputusan
Direktur Jenderal PPM & PLP tentang Persyaratan Kesehatan
Lingkungan Kerja, tingkat kebisingan maksimal selama satu hari
adalah 85 dBA untuk lama pajanan 8 jam.
Noise induced hearing loss utamanya disebabkan oleh karena
bising. Impuls suara bising yang terus menerus pada beberapa
penelitian terbukti dapat menyebabkan adanya perubahan ion pada
sitoplasma, salah satu contohnya adalah peningkatan ion Ca 2+ ada
outer hair cell. Hal tersebut menginduksi terjadinya mekanisme cell
death yang dapat mengarah ke apoptosis dan nekrosis dari hair cell.
Terjadinya mekanisme tersebut menyebabkan kerusakan pada hair
cell yang memiliki peran penting dalam pendengaran.
b) Umur
Sensitivitas pendengaran seseorang akan berkurang dengan
bertambahnya umur. Semakin tua umur, semakin besar terjadi
gangguan pendengaran. Pada umur tua relatif akan mengalami
penurunan kepekaan rangsangan suara karena adanya faktor proses
penuaan (presbikusis) yaitu proses degeneratif organ pendengaran
yang umumnya dimulai sejak usia 40 tahun ke atas, dan ambang
pendengaran turun 0.5 dBA per tahun. Orang yang berumur 30 tahun
mampu mendengar suara 4 dB pada frekuensi 8000 Hz, sedangkan
pada umur 60 tahun hanya mampu mendengar suara minimal 40 dB
pada frekuensi 8000 Hz. Penurunan kemampuan pendengaran karena
bertambahnya umur disebut dengan presbikus.
c) Tingkat pendidikan
Pekerja dengan tingkat pendidikan yang rendah lebih
berpotensi mengalami gangguan pendengaran daripada tingkat
pendidikan yang lebih tinggi. Training tentang keselamatan (Safety
Training) adalah komponen penting dalam program keselamatan
untuk menyakinkan bahwa semua pekerja telah memahami dan
bertindak sesuai persyaratan keselamatan serta terhindar dari potensi
26
bahaya di tempat kerja ( Roughton JE dan Mercurio JJ, 2012).
Persepsi seseorang pekerja terhadap faktor risiko bahaya yang ada di
lingkungannya (termasuk bahaya bising) banyak dipengaruhi oleh
pengalaman maupun tingkat pengetahuan yang dimiliki seseorang
yang selanjutnya ditunjukkan melalui sikap dan perilaku.
Training akan berpengaruh terhadap aspek kognitif para pekerja
dalam bersikap dan berperilaku (termasuk perilaku bekerja yang
aman serta perilaku dalam menggunakan alat pelindung diri/telinga).
d) Status kesehatan
Status kesehatan yang buruk lebih berpotensi terjadi gangguan
pendengaran, diantaranya adalah, kejadian cedera/trauma pada kepala
atau telinga yang pernah dialaminya, terjadinya penyakit infeksi
(TBC, sifilis, otitis media) yang disebabkan oleh virus (campak,
23
cacar), penyakit pada organ telinga bagian dalam atau pada saraf
pendengaran, penyakit metabolik seperti DM dan hipertensi/stroke.
Di samping itu, riwayat pemakaian obat-obat yang bersifat ototoksik
seperti aspirin, antibiotik kina, kebiasaan minum dan merokok serta
lain-lainnya juga dapat mempengaruhi sel-sel saraf pendengaran
(National Safety Council , 2010).
e) Riwayat gangguan pendengaran pada keluarga
Para pekerja yang memiliki keluarga (ayah, ibu, kakak, nenek
dan saudara) dengan riwayat gangguan kesehatan pendengaran
sebelum usia 50 tahun lebih berpotensi terjadi gangguan pendengaran
dibandingkan para pekerja yang keluarganya tidak memiliki riwayat
gangguan kesehatan pendengaran. Hal tersebut terkait dengan
gangguan pendengaran yang berhubungan dengan faktor keturunan
(National Safety Council, 2010).
f) Hobi
Beberapa hobi/aktivitas para pekerja dapat mempengaruhi
terjadinya gangguan pendengaran, misalnya hobi yang berkaitan
dengan lingkungan bertekanan tinggi misalnya menyelam
27
(hiperbarik) hobi yang berkaitan dengan pajanan bising tinggi
misalnya menembak dengan senjata api, balap motor/mobil,
mendengarkan musik keras dan lain-lain. Makin banyak hobi yang
berhubungan dengan bising makin besar terjadinya risiko gangguan
pendengaran (National Safety Council ,2010).
g) Masa kerja
Makin lama masa kerja di tempat bising, makin besar risiko
terjadinya gangguan pendengaran. Gangguan pendengaran terjadi 5-
10 tahun setelah pekerja bekerja di tempat bising (Dobie, 2006).
h) Penggunaan alat pelindung telinga (APT)
Alat pelindung telinga merupakan suatu alat yang digunakan
untuk melindungi organ pendengaran (telinga) manusia dari bahaya
pajanan bising yang tinggi. Semakin sering seseorang tidak
menggunakan APT saat bekerja di tempat bising yang tinggi,
semakin besar risiko terjadinya gangguan pendengaran (National
Safety Council ,2010). (BUKU 7)
24