Pneumoperitoneum: Definisi dan Diagnosis
Pneumoperitoneum: Definisi dan Diagnosis
PNEUMOPERITONEUM
Oleh :
RatnaNurAisyah C1111327
Dewi GemalaWahab C11111376
Sinta C11111290
PembimbingResiden :
dr. Evi Silviani Gusnah
PembimbingKonsulen :
dr. Dario A. Nelwan, [Link]
1
BAB I
LAPORAN KASUS
Nama : Tn.F
Umur : 32 Tahun
No. RM : 379320
Tanggal lahir : 05-05-1983
Agama : Islam
Status Perkawinan : Sudah Menikah
Tanggal Pemeriksaan : 19 Maret 2015
1.2 Anamnesis
2
Tanda Vital
Tekanan Darah : 80 / 50 mmHg
Nadi : 80x/menit
Pernapasan : 20x/menit
Suhu : 36.5° C
a. Kepala
Bentuk mesocephal, rambut warna hitam dan tidak mudah dicabut,luka (-)
Wajah : Simetris, eritem (-), luka (-).
Mata : Konjungtiva palpebra anemis (+/+), sklera ikterik (-/-),
edema palpebra (-/-), pupil isokor (2,5mm/2,5mm), refleks cahaya
(+/+), perdarahan subkonjungtiva (-/-).
Telinga : Sekret (-), darah (-), gangguan fungsi pendengaran (-).
Hidung : Deviasi septum nasi (-), epistaksis (-), nafas cuping
hidung (-), sekret (-).
Mulut : Sianosis (-), gusi berdarah (-), lidah kandidiasis
Leher
Leher simetris, retraksi suprasternal (-), deviasi trachea (-), pembesaran
kelenjar limfe (-), pembesaran kelenjar tiroid (-).
Thoraks
Bentuk normochest, simetris, retraksi intercostal (-), pernafasan
thoracoabdominal, sela iga melebar (-), jejas (-)
Paru-Paru
Inspeksi : Normochest, sela iga tidak melebar, gerakan pernafasan
simetris kiri-kanan, retraksi intercostal (-).
Palpasi : Nyeri tekan (-), Massa tumor (-).
Perkusi : Paru kiri dan paru kanan sonor
Auskultasi : Bunyi pernapasanvesikuler, bunyi tambahanRonkhi
-/-,Wheezing -/-.
Jantung
3
1. Inspeksi : Ictus cordis tidak tampak
2. Palpasi : Thrill tidak teraba
3. Perkusi : Pekak
Batas atas jantung : ICS IIIsinistra
Batas kanan jantung : Linea parasternalis dextra
Batas kiri jantung :Linea medioclavicularis sinistra
4. Auskultasi : Bunyi jantung I/II murni regular
Abdomen
1. Inspeksi : Datar, ikut gerak napas.
2. Auskultasi : Peristaltik (+) kesan normal.
3. Palpasi : Massa Tumor (-), Nyeri Tekan (+).
Hepar : Tidak teraba.
Limpa : Tidak teraba.
Ginjal : Tidak teraba
4
Hasil pemeriksaan :
Foto abdomen 3 posisi
- Tube terpasang dari arah cranial dengan ujung caudal kesan berada pada
gaster
- Udara usus terdistribusi hingga ke distal colon
- Tampak dilatasi loop-loop usus disertai dengan fecal mass yang banyak
didalamnya
- Tampak udara bebassub diafragma pada posisi erect, dan udara bebas pada
sisi lateral dextra pada posisi LLD
- Kedua psoas line dan preperitoneal line intak
- Tulang-tulang intak
Kesan : Pneumoperitoneum
1.6 Diagnosis Sementara
5
Cefalgia ecausa Toxoplasmosis Cerebral
Peritonitis Generalisata
Hematomesis suspek stress
Ileus paralitik
1.7 Penatalaksanaan
Dexamethasone 1 amp/8jam/Iv
Ranitidin 50 mg/12jam/Iv
Farmadol 1gram/8jam/Iv
Ceftriaxone 1gram/12jam/Iv
Metronidazole 500 mg/8jam/Iv
Cloramphenicol 1gram/6jam/Iv
BAB II
6
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi
7
suatu keadaan yang emergency dan memerlukan tindakan bedah. Udara
bebas pasca operasi dapat menyebabkan perforasi visceral, kebocoran
anastomosis atau abses perikolik pecah.2
2.2 Anatomi
8
Gambar 1: Anatomi rongga peritoneum: A. Ruang paracolic kanan, B. Kantung
Morrison, C. Ruang subphrenic kanan, D. Ligamen falciformis, E. Ruang subphrenic kiri,
F. Ruang perisplenic, G. Ligamen phrenicocolic, H. Ruang paracolic kiri, I. mesenterium
root, J. Cul de sac7
Kanan Kiri
Atas Hati Hati: lobus kiri
9
Kandung Empedu Limpa
Pilorus Lambung
Duodenum Pankreas: korpus
Pankreas: kaput Adrenal kiri
Adrenal Kanan Ginjal kiri: Kutub atas
Ginjal kanan: kutub atas Fleksura lienika
Fleksura Hepatika Kolon Transversum: sebagian
Kolon Asendens: Sebagian Kolon desendens: sebagian
Kolon Transversum: sebagian
Bawah Ginjal Kanan: kutub bawah Ginjal kiri: kutub bawah
Sekum Kolon sigmoid
Apendiks Kolon desendens: sebagian
Kolon asendens: sebagian Ovarium kiri
Ovarium kanan Tuba falopi kiri
Tuba falopi kanan Ureter kiri
Ureter kanan Korda spermatika kiri
Korda spermatika kanan Uterus (jika membesar)
Uterus (jika membesar) Kandung kemih (jika membesar)
Kandung kemih (jika membesar)
Tabel 1: Struktur abdomen menurut kuadran7
Pada abdomen, dapat ditarik dua garis khayal bersilangan di pusar dan
satu garis ditarik dari sternum ke tulang pubis melalui pusar, sehingga
membagi abdomen menjadi kuadran kanan atas dan kanan bawah, dan
kuadran kiri atas dan kiri bawah. Dengan demikian terbentuklah empat
kuadran pada abdomen. Selain kuadran tersebut, abdomen juga dapat dibagi
menjadi Sembilan regio, yaitu epigastrum, umbilikus,
hipogastrum/suprapubis, hipokondrium kanan, hipokondrium kiri, lumbal
kanan, dan lumbal kiri. Dua garis khayalan ditarik dengan memperpanjang
garis midklavikular sampai ke pertengahan ligamen inguinal. Garis-garis ini
10
membentuk batas lateral muskulus rektus abdominus. Dua garis sejajar
dibuat tegak lurus dengan garis-garis ini: satu pada margo costae dan lainnya
spina iliaka anterior superior.5, 6
2.3 Etiologi
11
Spontanpneumoperitoneum juga dapat disebabkan oleh masuknya
udara melalui traktus genital pada wanita setelah melakukan hubungan
seksual yang kasar.12
Pneumoperitoneum juga dapat terjadi setelah tindakan bedah
abdomen, biasanya sembuh dalam 3-6 hari setelah operasi, walaupun juga
dapat sembuh hingga 24 hari setelah [Link] 1980, dilaporkan kasus
pertama pneumoperitoneum perforasi post coital setelah histerektomi
abdominal.11,13, 14
Pneumoperitoneum dengan peritonitis dapat disebabkan oleh perforasi
viskus, necrotizing enterocolitis, infark usus, dan cedera perut. Pada 1940,
Hinkel melaporkan kasus pneumoperitoneum tanpa peritonitis. Sejak saat itu
banyak dilaporkan kasus non-surgical yang merupakan predisposisi
spontaneous pneumoperitoneum, yang tidak memerlukan laparotomi.
Terdapat beberapa faktor penyebab non-surgical yang dapat menyebabkan
pneumoperitoneum, yaitu thoracic, abdominal, gineokologi, serta berbagai
macam penyebab seperti penggunaan kokain, dental extraction, menyelam,
skleroderma, dan idiopatik.15
Sebuah literatur menyebutkan bahwa dapat juga terjadi
pneumoperitoneum tanpa perforasi. Penyebab abdominal tersering yang
menyebabkan pneumoperitoneum tanpa perforasi adalah pneumatosis
intestinalis. Pneumoperitoneum tanpa ruptur viskus juga dapat terjadi pada
bayi prematur yang sedang diberikan ventilasi mekanis untuk paru atau
penyakit jantung.16
12
produk bakteri ke daerah peritoneum. Pada pemeriksaan fisis, dapat
ditemukan kekakuan pada abdomen.17
2.5 Pencitraan
13
Gambar 5: Pneumoperitoneum. Foto posisi tegak menunjukkan adanya
pneumoperitoneum yang besar di sekitar spleen dan permukaan superior hepar.11
14
(Kanan) Foto polos abdomen posisi supine menunjukkan kumpulan udara berbentuk
lonjong di subhepatic space.11
15
1) Football sign, biasanya menggambarkan pengumpulan udara di dalam
kantung dalam jumlah besar sehingga udara tampak membungkus
seluruh kavum abdomen, mengelilingi ligamen falsiformis.
16
berjalan dari kubah vesika urinaria ke arah kranial. Dasar urachus
tampak sedikit lebih tebal daripada apeks.
17
7) Cupola sign mengacu pada akumulasi udara dibawah tendon sentral
diafragma
Gambar 15: Lesser sac gas sign (panah hitam) dan cupola sign (panah putih)11
18
Diagnosis banding biasanya meliputi kolesistisis akut, pancreatitis, dan
perforasi ulkus. Sebagai tambahan pemeriksaan, sekitar 50 ml kontras
terlarut air diberikan secara oral atau lewat NGT pada pasien dengan
posisi berbaring miring ke kanan.11
19
Pneumoperitoneum dapat terlihat sebagai area dengan intensitas
rendah pada semua potongan. Pneumoperitoneum dapat secara tidak
sengaja ditemukan dengan MRI, karena MRI bukan modalitas pencitraan
pertama. Adanya peristaltik usus dapat mengaburkan dinding abdomen.11
4. USG
Pada pemeriksaan USG, pneumoperitoneum tampak sebagai daerah
linier dengan peningkatan ekogenisitas disertai artifak “reverberasi” atau
distal “ring down”. Pengumpulan udara terlokalisir berkaitan dengan
perforasi usus dapat dideteksi, terutama jika berdekatan dengan
abnormalitas lainnya, seperti penebalan dinding usus. Dibandingkan
dengan foto polos abdomen, ultrasonografi memiliki keuntungan dalam
mendeteksi kelainan lain, seperti cairan bebas intraabdomen dan massa
inflamasi.11
USG tersedia hampir di semua center, lebih murah dibanding CT,
dan sangat penting terutama pada pasien yang rentan terhadap radiasi
menjadi masalah seperti pada anak-anak, wanita hamil, dan usia
reproduktif. Namun, USG sangat tergantung pada kepandaian operator,
dan terbatas peenggunaannya pada orang obesitas dan yang memiliki
udara intraabdomen dalam jumlah besar. USG dipertimbangkan sebagai
pemeriksaan definitif untuk menyingkirkan pneumoperitoneum.11
Gambaran yang dapat mengimitasi pneumoperitoneum meliputi
bayangan sebuah costae, artifak “ring-down” dari paru yang terisi udara,
dan udara kolon anterior yang interposisi terhadap liver. Udara di kuadran
kanan atas dapat keliru dengan kolestisitis emfisematosa, kalsifikasi mural,
kalsifikasi vesika fellea, udara di dalam abses, tumor atau udara di dalam
vena porta, udara intraperitoneal sering sulit dideteksi daripada udara
dilokasi abnormal karena udara intralumen di sekitar. Namun, bahkan
sejumlah kecil udara bebas dapat dideteksi secara anterior atau
anterolateral di antara dinding abdomen dan dekat liver, dimana lingkaran
usus biasanya tidak ditemukan. Sulit untuk membedakan udara
ekstralumen dengan udara intramural atau intraluminal dengan USG.11
20
Gambar 17: Pneumoperitoneum pada USG.11
2.6 Penatalaksanaan
Metode yang biasa digunakan pada pengobatan pneumoperitoneum
adalah pembedahan. Namun, pada kelompok pasien tertentu, bisa dilakukan
pengobatan konservatif. Pneumoperitoneum tanpa peritonitis merupakan
kasus langka yang menimbulkan masalah manajemen pada ahli bedah.16
Manajemen awal pada perforasi viskus berfokus pada resusitasi,
pemilihan antibiotik yang sesuai, dan segera konsultasi ke bagian bedah.
Pasien sakit akut dengan dugaan perforasi viskus harus segera dibawa ke
bagian resusitasi gawat darurat. Sebagian besar pasien akan memerlukan
laparotomi di kamar operasi dengan eksplorasi lengkap pada traktus
gastrointestinal. Pada kasus perforasi dilakukan penutupan primer dari
perforasi baik dengan beberapa jahitan atau reseksi dan anastomosis primer
merupakan prosedur pilihan.16,.17
Secara umum, perforasi viskus harus diberikan antibiotik. Beberapa
pilihan yang tepat seperti ciprofloxacin dan metronidazole,
piperasilin/Tazobactam, atau imipenem.17
BAB III
DISKUSI KASUS
21
Seorang laki-laki umur 32 tahun, dengan keluhan sakit perut dan nyeri
kepala. Keluhan sakit kepala sejak 10 hari yang lalu sebelum masuk rumah sakit,
dirasakan terus menerus di bagian kepala belakang. Namun nyeri kepala kadang
berpindah-pindah, ke bagian depan kepala dan bahkan dirasakan seluruh bagian
kepala, nyeri kepala dirasakan semakin memberat. Sedangkan keluhan sakit perut
dialami sejak kurang lebih 5 hari yang lalu disertai mual dan muntah. 10 hari
terakhir pasien dirawat dengan keluhan chepalgia di perawatan saraf. Pasien
memiliki riwayat telah menjalani operasi laparotomi. Pada pemeriksaan fisis,
keadaan umum yaitu sakit sedang, kesadaran compos mentis (GCS 15), pasien
mengalami hipotensi, tanda vital lainnya dalam batas normal, status gizi baik,
pada palpasi abdomen tidak ditemukan massa tumor, namun terdapat nyeri tekan
pada abdomen. Hepar, limpa, dan ginjal tidak teraba pada palpasi abdomen.
Pada pemeriksaan radiologi (foto abdomen 3 posisi), tampak dilatasi loop-
loop usus disertai faecal mass yang banyak didalamnya. Tampak udara bebas sub
diafragma pada posisi erect, dan udara bebas pada sisi lateral dextra pada posisi
LLD.
Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisis, belum dapat ditentukan
diagnosis pasti pada pasien ini. Namun berdasarkan gambaran radiologi,
ditemukan tanda-tanda pneumoperitoneum yaitu adanya udara di bawah
diafragma pada posisi erect dan posisi lateral dekubitus kiri.
DAFTAR PUSTAKA
22
1. Frkovic M, Klapan T, Moscatello I, Frkovic M. Diagnostic Value of
Pneumoperitoneum on Plain Abdominal Film. Radiol Oncol
2001;35(4):237-42.
2. Spinelli N, Nfonsam V, Marcet J, Velanovich V, Frattini JC.
Postoperative Pneumoperitoneum After Colorectal Surgery Expectant Vs
Surgicalmanagement. World Journal of Gastrointestinal Surgery
2012;4(6):147-151.
3. Bleibel W. Peritoneal Cancer. Available at: URL:
[Link]
Accessed.
4. Knipe H, Jones J. Peritoneum. Available at: URL:
[Link] Accessed.
5. Swartz MH. Buku Ajar Diagnostik Fisik. In. Jakarta: EGC; 1995. p. 239-
41.
6. Wijayagoonawardana PA. Abdominal Surface Anatomy. Available at:
URL: [Link]
Accessed.
7. Anatomy of Peritoneum. Available at: URL:[Link]
[Link]/courses/rad/gi/peritoneum/[Link]. Accessed.
8. Shetty A, Knipr H. Retroperitoneal [Link] at:
URL:[Link]
Accessed.
9. Bickle I, Jones J. Pneumoperitoneum. Available at: URL:
[Link] Accessed.
10. Gupta R, Sharma SB, Golash P, Yadav R, Gandhi D. Pneumoperitoneum
in the Newborn: Is Surgical Intervention Always Indicated? Journal of
Neonatal Surgery 2014;3(3):32.
11. Khan AN. Pneumoperitoneum Imaging. Available at: URL:
[Link]
Accessed.
12. Pitiakoudis M, Zezos P, Oikonomou A, Kirmanidis M, Kouklakis G,
Simopoulos C. Spontaneous Idiopathic Pneumoperitoneum Presenting as
An Acute Abdomen: A Case Report. JOURNAL OF MEDICAL CASE
REPORTS 2011.
13. Howe CL. Pneumoperitoneum: What Does Free Air Under the
Diaphragm Really Mean in the Older Adult? ARIZONA GERIATRICS
SOCIETY 2007;13.
14. Selvakumari N, Simons A, Ahmad G. A Rare Cause of
Pneumoperitoneum. JSCR 2011;11:8.
15. Ponomarenko O, Sibirsky O, Susmallian S. Pneumoperitoneum is Not
Always An Indication for laparotomy: A Case Report. IJCRI 2012;3.
16. Khan RA, Mahajan JK, Rao KLN. Spontaneous Intestinal Perforation In
Neonates: Is Surgery Always Indicated? African Journal of Paediatric
Surgery 2011;8(2).
17. Dermark JV. Perforated Viscus. CDEM Student Portal.
23
18. Patel PR. In: Lecture Notes Radiologi. 2nd ed: Erlangga; 2005. p. 31.
24