Latar Belakang
Tanaman nilam (Pogostemon cablin Benth) merupakan salah satu tanaman
penghasil minyak atsiri yang dikenal sebagai minyak nilam (patchouly oil). Minyak
nilam banyak dipergunakan dalam industri kosmetik, parfum, sabun, dan industri
lainnya. Dengan berkembangnya pengobatan aromaterapi, minyak nilam selain
sangat bermanfaat untuk penyembuhan fisik juga mental dan emosional. Manfaat
lainnya, minyak nilam bersifat fixatif (yakni bisa mengikat minyak atsiri lainnya)
yang sampai sekarang belum ada produk substitusinya (Sarfidar et al., 2020).
Tanaman nilam mempunyai nilai ekonomi tinggi karena merupakan
komoditas ekspor nonmigas penghasilan defisa. Hal ini karena Indonesia merupakan
negara pemasok terbesar kebutuhan minyak dunia, yakni sekitar 90% dari seluruh
kebutuhan dunia. Selain itu juga minyak nilam menyumbang lebih dari 50% total
ekspor minyak atsiri di Indonesia, sehingga diharapkan dapat menjadi komoditas
minyak atsiri unggulan di pasar ekspor. Negara-negara sasaran ekspor minyak nilam
Indonesia antara lain Jepang, Belanda, Singapura, Argentina, Malaysia, Amerika
Serikat, Inggris, Prancis, Jerman, Brazil, Italia, Spanyol, Swedia India, Pakistan,
Hongkong, Saudi Arabia, Uni Emerirat Arab, Australia, Filipina, Belgia, Luxemburg,
Polandia, Korea, dan Swiss (Hasmawati, 2020).
Sebagai minyak yang bersifat fiksatif, minyak nilam dapat menahan atau
mengikat aroma wangi-wangian bahan pewangi lain sehingga bau wangi tidak cepat
hilang dan lebih tahan lama. Minyak nilam mempunyai peluang yang baik karena
permintaan selalu meningkat dan sampai sekarang belum ada produk substitusinya.
Seiring dengan jumlah penduduk yang semakin meningkat dan kebiasaan masyarakat
yang cenderung memakai kosmetika dan wewangian sebagai salah satu bentuk dari
gaya hidup masyarakat, maka kebutuhan akan minyak wangi menjadi meningkat
setiap tahunnya. Hal ini menyebabkan permintaan minyak nilam ikut meningkat.
Emmyzar dan Ferry (2004) menyatakan bahwa kebutuhan dunia akan minyak nilam
berkisar 1.200 ton/tahun dengan pertumbuhan sebesar 5 %. Sedangkan produksi
nilam Indonesia sebesar 2.382 ton, dan sebagian besar produk minyak nilam diekspor
untuk dipergunakan dalam industri parfum, kosmetik, antiseptik dan insektisida
(Hariyani et al., 2015).
Nilam merupakan tanaman herba berbentuk perdu, yang dibedakan jenisnya
berdasarkan karakter morfologi, kandungan dan kualitas minyak. Jenis-jenis nilam
yang sudah dikenal diantaranya nilam aceh (Pogostemon cablin Benth), nilam jawa
(Pogostemon heyneanus Benth), dan nilam sabun (Pogostemon hortensis Backer).
Karakter pembeda tersebut antara lain bunga, bentuk daun, bentuk permukaan daun
bagian atas dan bawah, bentuk tepi daun dan bentuk ujung daun, bentuk batang,
bentuk percabangan dan kandungan minyak atsiri (Haryudin dan Maslahah, 2011).
Semakin meningkatnya jumlah penduduk, maka lahan budidaya tanaman
nilam semakin berkurang. Sehingga untuk memenuhi permintaan minyak nilam yang
semakin meningkat diperlukan suatu teknik budidaya tanaman nilam yang tepat agar
memiliki rendemen dan kualitas minyak yang bagus. Di Indonesia tanaman nilam
telah dibudidayakan selama hampir 100 tahun di daerah penghasil utama (Aceh dan
Sumatera Utara). Sejak tahun 1998, pengembangan nilam meluas ke Jawa Barat,
Jawa Tengah, dan Jawa Timur bahkan beberapa tahun terakhir ini telah menyebar di
Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Timur (Direktorat Jenderal
Perkebunan 2007). N amun sampai sekarang rendemen dan mutu minyak yang
dihasilkan masih rendah. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain
rendahnya mutu genetik tumbuhan, teknologi budidaya yang masih sederhana,
berkembangnya berbagai penyakit, serta teknik panen dan pasca panen yang kurang
tepat.
Berdasarkan uraian di atas, maka disusunlah makalah mengenai budidaya
tanaman nilam untuk mengetahui syarat tumbuh, tekhnik budidaya, permasalahan
saat budidaya dan solusinya, serta analisis usaha tani tanaman nilam.
Tujuan
1. Mengetahui syarat tumbuh tanaman nilam.
2. Mengetahui tekhnik budidaya tanaman nilam, mulai dari persiapan lahan,
perawatan, panen, hingga pasca panen.
4. Mengetahui permasalahan yang ada pada budidaya tanaman nilam dan solusinya.
5. Mengetahui analisis usaha tani tanaman nilam.
A. Taksonomi Tanaman Nilam
Menurut Rukmana (2003), berdasarkan taksonominya, kedudukan tanaman
nilam diklasifikasikan sebagai berikut:
Kingdom : Plantae
Divisi : Sprematophyta
Subdivisi : Angiospermae
Ordo : Labiatales
Famili : Labiatae
Genus : Pogostemon
Spesies : Pogostemon cablin Benth
B. Morfologi Tanaman Nilam
Tanaman nilam adalah tanaman yang memiliki akar serabut yang wangi,
memiliki daun halus beludru dan membulat lonjong, melebar ke tengah, meruncing
ke ujung dan tepinya bergerigi, seperti jantung serta berwarna pucat. Bagian bawah
daun dan rangting berbulu halus, serta sebagian besar daun yang melekat pada ranting
hampir selalu berpasangan satu sama lain. Batang tanaman nilam lunak dan berbuku-
buku, warna batangnya hijau kecokelatan dengan diameter 10- 20 mm membentuk
segi empat, Jumlah cabang yang banyak dan bertingkat mengelilingi batang antara 3-
5 cabang per tingkat. Tumbuhan ini dapat tumbuh mencapai 1 meter. Di alam bebas
tumbuhnya menggeliat-geliat tidak teratur dan cenderung mengarah kedatangnya
sinar matahari, namun di kebun pertanaman nilam tumbuhnya dapat tegak ke atas
atau merumpun pendek bila diberi penegak bambu (Firmanto, 2009). Menyukai
suasana teduh, hangat dan lembab. Mudah layu jika terkena sinar mata hari langsung
atau kekurangan air. Tanaman nilam tidak selalu berbunga, tergantung pada
jenisnnya. Bunganya menyebarkan bau wangi yang kuat, biji kecil dan perbanyakan
biasanya dilakukan secara vegetatif. Nilam yang berbunga, berwarna putih dan
tersusun di tangkai. Jenis nilam yang berbunga ini menjadi indikator bahwa nilam
tersebut tidak layak dikembangkan, karena kadar minyaknya rendah dan komposisi
minyaknya juga jelek (Firmanto, 2009).
C. Jenis-Jenis Tanaman Nilam
A. Pogostemon cablin,Benth.
Ciri-ciri :
1. Biasa terdapat di Filipina, Brazilia, Paraguai, Madagaskar dan Indonesia.
2. Daunnya agak membulat seperti jantung.
3. Bagian bawah daun terdapat bulu-bulu rambut sehingga warnanya pucat.
4. Jarang sekali berbunga.
5. Kadar minyak 2,5 – 5 % dan komposisinya bagus.
6. Kualitas minyaknya sangat tinggi .
B. Pogostemon heyneanus Benth.
Ciri-ciri :
1. Tumbuh secara liar di pekaranganpekarangan rumah.
2. Disebut nilam hutan atau nilam jawa.
3. Daunnya lebih tipis dari pada Pogostemon cablin, ujung daun agak runcing.
4. Nilam ini berbunga
5. Kadar minyak 0,5 – 1,5 % dari berat daun kering, komposisi minyak jelek.
C. Pogostemon hortensis Backer.
Ciri-ciri :
1. Nilam ini digunakan sebagai sabun.
2. Daun tipis, ujungnya agak runcing dan tidak berbunga
3. Kadar minyaknya rendah 0,5 – 1,5 % dari berat daun kering, komposisinya jelek
Diantara ketiga jenis nilam tersebut yang banyak dibudidayakan yaitu P.
Cablin Benth (nilam Aceh), karena kadar dan kualitas minyaknya lebih tinggi dari
varietas lainnya. Nilam Aceh diperkirakan daerah asalnya Filipina atau Semenanjung
Malaya. Setelah sekian lama berkembang di Indonesia, tidak tertutup kemungkinan
terjadi perubahan-perubahan dari sifat dasarnya. Dari hasil eksplorasi ditemukan
bermacam-macam tipe yang berbeda baik karakteristik morfologinya, kandungan
minyak, sifat kimia minyak dan sifat ketahanannya terhadap penyakit dan
[Link] Aceh berkadar minyak tinggi (> 2,5%) sedangkan nilam Jawa
rendah (< 2%).
Disamping nilam Aceh, di beberapa daerah di Jawa Tengah dan Jawa Timur
petani mengusahakan juga nilam Jawa. Nilam Jawa berasal dari India, disebut juga
nilam kembang karena dapat berbunga. Ciri-ciri spesifik yang dapat membedakan
nilam Jawa dan nilam Aceh secara visual yaitu pada daunnya. Permukaan daun nilam
Aceh halus sedangkan nilam Jawa kasar. Tepi daun nilam Aceh bergerigi tumpul,
pada nilam Jawa bergerigi runcing, ujung daun nilam Aceh runcing, nilam Jawa
meruncing. Nilam jawa lebih toleran terhadap nematoda dan penyakit layu bakteri
dibandingkan nilam Aceh, karena antara lain disebabkan oleh kandungan fenol dan
ligninnya lebih tinggi dari pada nilam Aceh (Nuryani et al., 2001).
Direktorat Jenderal Perkebunan. 2007. Statistik Perkebunan Indonesia 2006- 2008
Nilam (Patchouli). Departemen Pertanian. Jakarta.
Emmyzar dan Y. Ferry. 2004. Pola budidaya untuk peningkatan produktivitas dan
mutu minyak nilam (Pogostemon cablin Benth.). Perkembangan Teknologi
TRO 16(2): 52-61.
Firmanto, B. H. 2009. Budidaya Tanaman Industri Wewangian Nilam. CV. Walatra.
Bandung.
Hariyani, E. Widaryanto, dan N. Herlina. 2015. Pengaruh umur panen terhadap
rendemen dan kualitas minyak atsiri tanaman nilam (Pogostemon cablin
Benth.). Jurnal Produksi Tanaman 3(3): 205-211.
Haryudin, W. dan N. Maslahah. 2011. Karakteristik morfologi, anatomi dan produksi
terna aksesi nilam asal Aceh dan Sumatera Utara. Bul. Litro 22(2): 115-126.
Hasmawati, W. 2020. Dampak tanaman nilam terhadap sosial ekonomi petani di desa
katangana Kecamatan Tiworo Selatan Kabupaten Muna Barat. Jurnal
Penelitian Pendidikan Sejarah UHO 5(1): 17-26.
Nuryani, Y., I. Mustika, C. Syukur. 2001. Kandungan fenol dan lignin tanaman nilam
hibrida (Pogostemon sp.) hasil fusi protoplas. Jurnal Litri 7(4): 104-107.
Rukmana, I. H. R. 2003. Cabai Jawa, Potensi dan Khasiatnya Bagi Kesehatan.
Kanisius. Yogyakarta.
Sarfidar, E., L. O. Restele, J. Harimuddin. 2020. Analisis kesesuaian lahan tanaman
nilam di Kecamatan Bonegunu Kabupaten Buton Utara. Physical and Social
Geography Research Journal 2(1): 21-28.