0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
43 tayangan13 halaman

Apendisitis: Gejala, Penyebab, dan Penanganan

Makalah ini membahas tentang apendisitis, yaitu peradangan pada usus buntu yang disebabkan oleh infeksi dan penyumbatan. Topik utama yang dibahas meliputi definisi, etiologi, patofisiologi, gejala klinis, komplikasi, dan diagnosis apendisitis. Makalah ini menyimpulkan bahwa apendisitis merupakan keadaan darurat bedah yang sering terjadi akibat radang dan penyumbatan usus buntu.

Diunggah oleh

Arini Adelia
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
43 tayangan13 halaman

Apendisitis: Gejala, Penyebab, dan Penanganan

Makalah ini membahas tentang apendisitis, yaitu peradangan pada usus buntu yang disebabkan oleh infeksi dan penyumbatan. Topik utama yang dibahas meliputi definisi, etiologi, patofisiologi, gejala klinis, komplikasi, dan diagnosis apendisitis. Makalah ini menyimpulkan bahwa apendisitis merupakan keadaan darurat bedah yang sering terjadi akibat radang dan penyumbatan usus buntu.

Diunggah oleh

Arini Adelia
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

MAKALAH

APENDISITIS

OLEH :

1. Arini adelia ( NIM : C20142011113 )


2. Cristiani mhira patadi ( NIM : C2014201106 )
3. Diana main ( NIM : C2014201116 )
4. Dina vitrianti atbar ( NIM : C2014201117 )
5. Ilma puspita sari patalle ( NIM : C2014201168 )

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN STELLA MARIS

TAHUN AJARAN 2020


TINJAUAN TEORI

A. Konsep Dasar Teori


1. Pengertian
Apendiks adalah ujung seperti jari yang kecil panjangnya kira-kira 10 cm (4
inci) ,melekat pada sekum tepat dibawah katup ileosekal. Apendiks berisi makanan dan
mengosongkan diri secara teratur ke dalam sekum. karena pengosongannya tidak efektif
dan lumenya kecil, apendiks cendrung menjadi tersumbat dan terutama rentang terhadap
infeksi (apendicitis).Apendiks yang tersumbat akan meradang dan edema dan pada
akhirnya dipenuhi nanah (pus).
Apendisitis, sebagai penyakit yang paling sering memerlukan tindakan bedah
kedaruratan, apendisitis merupakan keadaan inflamasi dan obstruksi pada apendiks
vermiformis. Apendiks vermiformis yang disebut umbai cacing atau lebih dikenal
dengan nama usus buntu ,merupakan kantong kecil yang buntu dan melekat pada sekum.
Apendisitis dapat terjadi pada segala usia dan mengenai laki-laki dan perempuan sama
[Link] tetapi pada usia antara pubertas dan 25 tahun, prevalensi apendisitis lebih
tinggi pada [Link] terdapat kemajuan dalam terapi antibiotik, insiden dan angka
kematian karena apendisitis mengalami penurunan. Apabila tidak ditangani dengan
benar, penyakit ini hamper selalu berakibat fatal.

2. Etiologi
Apendisitis akut dapat disebabkan oleh beberapa sebab terjadinya proses radang
bakteria yang dicetuskan oleh beberapa factor pencetus diantaranya hyperplasia jaringan
limfe,fecalit (massa feses), tumor apendiks dan cacing askaris yang menyumbat.
Ulserasi mukosa merupakan tahap awal dari kebanyakan penyakit ini. Namun ada
beberapa factor yang mempermudah terjadinya radang apendiks, diantaranya :
a. Faktor sumbatan
Faktor obstruksi merupakan faktor terpenting terjadinya apendisitis (90%)
yang diikuti oleh infeksi. Sekitar 60 % obstruksi disebabkan oleh hyperplasia
jaringan lymphoid sub mukosa, 35 % karena stasis fekal, 4 % karena benda asing
dan sebab lainnya 1 % diantaranya sumbatan oleh parasit dan cacing. Obstruksi
yang disebabkan oleh fecalit dapat ditemui pada bermacam-macam apendisitis
kasus sederhana, 65 % pada kasus apendisitis akut ganggrenosa tanpa rupture dan
90 % pada kasus apendisitis akut dengan rupture.

b. Faktor bakteri
Infeksi enterogen merupakan factor pathogenesis primer pada apendisitis
[Link] fecalit dalam lumen apendiks yang telah terinfeksi memperburuk
dan memperberat infeksi,karena terjadi peningkatan stagnasi feses dalam lumen
apendiks,pada kultur didapatkan terbanyak ditemukan adalah kombinasi antara
bakteriodes fragililis dan [Link], lalu splanicus. Sedangkan kuman yang
menyebabkan perforasi adalah kuman anaerob sebesar 96 % dan aerob lebih dari
10 %.

c. Kecenderungan familiar
Hal ini dihubungkan dengan terdapatnya malformasi yang henediter dari
organ, apendiks yang terlalu panjang,vaskularisasi yang tidak baik dan letaknya
yang mudah terjadi [Link] ini juga dihubungkan dengan kebiasaan
makanan dalam keluarga terutama dengan diet rendah serat dapat memudahkan
terjadinya fecalit dan menyebabkan obstruksi lumen.

d. Faktor ras dan diet


Faktor ras berhubungan dengan kebiasaan dan pola makanan sehari-hari.
Bangsa kulit putih yang dulunya pola makan rendah serat mempunyai resiko lebih
tinggi dari Negara yang pola makannya banyak serat.

e. Faktor infeksi saluran pernafasan


Setelah mendapat penyakit saluran pernafasan akut terutama epidemic
influenza dan pneumonitis, jumblah kasus apendiksitis ini meningkat. Tapi harus
hati-hati karena penyakit infeksi saluran pernafasan dapat menimbulkan seperti
gejala permulaan apendiksitis.

3. Patofisiologi
Peradangan pada apendiks dapat terjadi oleh adanya ulserasi dinding mukosa
atau obstruksi lumen (biasanya oleh fecalit/feses yang keras). Penyumbatan
pengeluaran secret mucus mengakibatkan perlengketan, infeksi dan terhambatnya
aliran [Link] keadaan hipoksia menyebabkan gangren atau dapat terjadi ruptur
dalam waktu 24-36 jam. Bila proses ini berlangsung terus menerus organ sekitar
dinding apendiks terjadi pelengketan dan akan menjadi abses (kronik). Apabila proses
infeksi sangat cepat (akut) dapat menyebabkan peritonitis. Peritonitis merupakan
komplikasi yang sangat serius. Infeksi kronis dapat terjadi pada apendiks, tetapi hal ini
tidak selalu menimbulkan nyeri di daerah abdomen.
Penyebab utama apendisitis adalah obstruksi penyumbatan yang dapat
disebabkan oleh hyperplasia dari folikel limfoid merupakan penyebab
terbanyak,adanya fecalit dalam lumen apendiks. Adanya benda asing seperti cacing,
striktura karena fibrosis akibat peradangan sebelumnya, sebab lain misalnya
keganasan (karsinoma karsinoid).

Obstruksi apendiks itu menyebabkan mucus yang diproduksi mukosa


terbendung, mungkin lama mukus yang terbendung makin banyak dan menekan
dinding apendiks oedem serta merangsang tunika serosa dan peritoneum visceral.
Mukus yang terkumpul itu lalu terinfeksi oleh bakteri menjadi nanah,
kemudian timbul gangguan aliran vena, sedangkan ateri belum terganggu, peradangan
yang timbul meluas dan mengenai peritoneum pariental setempat, sehingga
menimbulkan rasa sakit dikanan bawah, keadaan ini disebut dengan apendisitis
supuratif akut.

Bila kemudian aliran arteri terganggu maka timbul alergen dan ini disebut
dengan apendisitis gangrenosa. Bila dinding apendiks yang telah akut itu pecah,
dinamakan apendisitis perforasi. Bila omentum usus yang berdekatan dapat
mengelilingi apendiks yang meradang atau perforasi akan timbul masa lokal, keadaan
ini disebut sebagai apendisitis [Link] anak-anak karena omentum masih pendek
dan tipis, apendiks yang relative lebih panjang,dinding apendiks yang lebih tipis dan
daya tahan tubuh yang masih kurang,demikian juga pada orang tua karena telah ada
gangguan pembuluh darah, maka perforasi terjadi lebih cepat.

4. Manifestasi Klinis
Nyeri kuadran bawah terasa dan biasanya disertai oleh demam ringan, mual,
muntah dan hilangnya nafsu [Link] tekan local pada titik McBurney bil
dilakukan tekanan. Nyeri tekan lepas mungkin dijumpai. Derajat nyeri tekan, spasme
otot,dan apakah terdapat konstipasi atau diare tidak tergantung pada beratnya infeksi
dan lokasi apendiks. Bila apendiks melingkar dibelakang sekum, nyeri dan nyeri tekan
dapat terasa didaerah lumbar, bila ujungnya ada pada pelvis,tanda-tanda ini dapat
diketahui hanya pada pemeriksaan rektal. Nyeri pada defekasi menunjukkan ujung
apendiks berada dekat rectum, nyeri pada saat berkemih menunjukan bahwa ujung
apendiks dekat dengan kandung kemih atau ureter. Adanya kekakuan pada bagian
bawah otot rektus kanan dapat terjadi.
Tanda Rovsing dapat timbul dengan melakukan palpasi kuadran bawah kiri,
yang secara paradoksial menyebabkan nyeri yang terasa di kuadran kanan bawah.
Apabila apendiks telah ruptur, nyeri menjadi lebih menyebar, distensi abdomen terjadi
akibat ileus paralitik,dan kondisi pasien memburuk.

5. Komplikasi
Perforasi, peritonitis, dan abses adalah kemungkinan komplikasi dari
apendisitis [Link] jarang terjadi dalam 8 jam pertama,observasi aman untuk
dilakukan dalam masa tersebut. Perforasi ditandai oleh nyeri yang semakin meningkat
dan demam tinggi. Kondisi ini dapat menyebabkan abses kecil yang
terlokalisasi,peritonitis lokal atau peritonitis generalisata yang signifikan. Bila
perforasi dengan peritonitis umum atau pembentukan abses telah terjadi sejak pasien
pertama kali datang,diagnose dapat ditegakkan dengan pasti.
6. Pemeriksaan Diagnosis
a. Anamnesa
1) Nyeri (mula-mula di daerah epigastrium, kemudian menjalar ke titik
McBurney)
2) Muntah (rangsangan visceral)
3) Panas (infeksi akut)
b. Pemeriksaan Fisik
Ada 4 cara pemeriksaan :
1) Status generalis; tampak kesakitan, demam (≤ 37,7 °C), perbedaan suhu
rektal > ½ °C, fleksi ringan art coxae dextra.
2) Rovsing sign (+), pada penekanan perut bagian kontra McBurney (kiri) terasa
nyeri di McBurney karena tekanan tersebut merangsang peristaltik usus dan
juga udara dalam usus, sehingga bergerak dan menggerakkan peritoneum
sekitar apendiks yang sedang meradang sehingga terasa nyeri.
3) Psoas Sign
Prosedur pemeriksaan :
Pasien terlentang, tungkai kanan lurus dan di tahan oleh pemeriksa. Pasien
disuruh aktif memfleksikan articulation coxae kanan,akan terasa nyeri di
perut kanan bawah ( cara aktif). Pasien miring ke kiri, paha kanan
dihiperekstensi oleh pemeriksa, akan terasa nyeri diperut kanan bawah (cara
pasif).
4) Obturator Sign
Prosedur pemeriksaan :
Dengan gerakan fleksi dan endorotasi articulation coxae pada posisi
supine akan menimbulkan nyeri. Bila nyeri berarti kontak dengan
[Link] internus, artinya apendiks terletak di pelvis.
c. Pemeriksaan Laboratorium
Terjadi leukositosis ringan (10.000-20.000/ml ) dengan peningkatan
jumlah netrofil.
d. Pemeriksaan Radiologi
Tampak distensi sekum pada apendisitis akut.
e. USG
menunjukkan densitas kuadran kanan bawah / kadar aliran udara
terlokalisasi.

8. Penatalaksanaan Medis
Pembedahan : Apendiktomy (dilakukan bila diagnosa apendiksitis ditegakkan)
menurunkan resiko perforasi.
a. Sebelum Operasi
1) Observasi
Dalam 8 – 12 jam setelah timbulnya keluhan, tanda dan gejala apendisitis
sering kali masing kurang jelas. Dalam keadaan ini observasi ketat perlu
dilakukan. Pasien minta dilakukan tirah baring dan dipuasakan. Laksatif
tidak boleh diberikan bila dicurigai adanya apendisitis ataupun bentuk
peritonitis lainnya. Pemeriksaan abdomen dan rektal serta pemeriksaan darah
(leukosit dan hitung jenis) diulang secara periodic. Foto abdomen dan toraks
tegak dilakukan untuk mencari kemungkinan adanya penyulit lain. Pada
kebanyakan kasus,diagnosis ditegakan dengan lokalisasi nyeri di daerah
kanan bawah dalam 12 jam setelah timbulnya keluhan .
2) Intubasi bila perlu
3) Antibiotik
b. Operasi apendiktomi
c. Pascaoperasi
Perlu dilakukan observasi tanda-tanda vital untuk mengetahui terjadinya
perdarahan di dalam, syok, hipertermia, atau gangguan pernapasan. Angkat
sonde lambung bila pasien telah sadar, sehingga aspirasi cairan lambung dapat
dicegah. Baringkan pasien dalam posisi fowler. Pasien dikatakan baik bila dalam
12 jam tidak terjadi gangguan. Selama itu pasien dipuasakan. Bila tindakan
operasi lebih besar, misalnya pada perforasi atau peritonitis umum, puasakan
diteruskan sampai fungsi usus kembali normal.
Kemudian berikan minum mulai 15 ml/jam selam 4-5 jam lalu naikan
menjadi 30 ml/[Link] harinya diberikan makanan saring, dan hari
berikutnya diberikan makanan lunak.
Satu hari pascaoperasi pasien dianjurkan untuk duduk tegak ditempat tidur
selama 2x30 menit. Pada hari kedua pasien dapat berdiri dan duduk diluar
kamar. Hari ketujuh jahitan dapat diangkat dan pasien diperbolehkan pulang

d. Penatalaksanaan gawat darurat (non-operasi)


Bila tidak ada fasilitas bedah, berikan penatalaksanaan seperti dalam
peritonitis akut. Dengan demikian, gejala apendisitis akut akan mereda, dan
kemungkinan terjadinya komplikasi akan berkurang.
Tindakan yang dilakukan :
1) Pemasangan NGT
2) Pemberian Antibiotik yang sesuai dengan hasil kultur
3) Transfusi untuk mengatasi anemia, dan penanganan syok septik secara
intensif

2. Penatalaksanaan Keperawatan
a) Tujuan keperawatan mencakup upaya meredahkan nyeri, mencegah deficit
volume caiaran, menurunkan ansietas, mengatasi infeksi yang disebabkan oleh
gangguan potensial atau actual pada saluran GI, mempertahankan integritas kulit,
dan mencapai nutrisi yang optimal.
b) Sebelum operasi, siapkan pasien untuk menjalani pembedahan, mulai jalur IV,
berikan antibiotik, dan masukan slang nasogastric (bila terbukti ada ileus
paralitik). Jangan berika enema atau laksatif (dapat menyebabkan perforasi).
c) Setelah operasi, posisikan pasien fowler-tinggi, berikan analgesic narkotik sesuai
program, berikan caiaran oral apabila dapat ditoleransi, berikan makanan yang
disukai pasien pada hari pembedahan (jika dapat ditoleransi). Jika pasien
dehidrasi sebelum pembedahan, berikan cairan IV.
d) Jika drain terpasang pada area insisi, pantau secara ketat adanya tanda-tanda
obstruksi usus halus,hemoragi sekunder, atau abses sekunder (mis,
demam,takikardi, dan peningkatan jumlah leukosit).
APENDISITIS AKUT APENDISITIS KRONIK

Aliran limfe terhambat Jika dilakukan Sekresi mukus


karena tekanan intralumen pembedahan

Tekana intralumen
Edema, diapedesis bakteri, akan terus meningkat
MK: Cemas
dan ulserasi mukosa

MK: Nyeri di Obstruksi vena, edema


Dx: Ansietas bertambah, bakteri akan
kuadran kanan
bawah menembus dinding apendiks

Dx:Nyeri akut b.d Agen


cedera biologis MK: Nyeri di
kuadran kanan
bawah
B. Konsep Dasar Keperawatan
1. Pengkajian (Berdasarkan pola Gordon)
Data-data yang perlu dikaji pada asuhan keperawatan pasien dengan pra dan post operasi
apendiksitis ialah sebagai berikut :
a. Presepsi dan pemeliharaan kesehatan :
1) Riwayat penyakit dahulu
2) Penggunaan obat-obatan
3) Riwayat komsumsi alcohol/merokok
4) Kebersihan lingkungan

b. Pola nutrisi dan metabolik :


1) Mual dan muntah
2) Anoreksia
3) BB menurun
4) Suhu tubuh rendah
5) Turgor kulit

c. Pola eleminasi :
1) Konstipasi
2) Diare
3) Distensi abdomen
4) Nyeri tekan/ nyeri lepas
5) Nyeri saat BAK dan BAB
6) Tidak ada bising usus

d. Pola aktivitas dan latihan :


1) Spasme otot
2) Malaise
3) Ketidakmampuan beraktivitas

e. Pola aktivitas dan tidur


1) Susah tidur karena nyeri abdomen kuardan kanan bawah
2) Ekspresi wajah mengantuk

f. Pola presepsi dan kognitif


1) Nyeri abdomen kuardan kanan bawah
2) Ekspresi wajah meringis

g. Pola presepsi dan konsep diri


1) Timbul rasa tidak percaya diri
2) Ansietas
3) Perubahan penampilan, menarik diri dari lingkungan
4) Distensi
h. Pola peranan dan hubungan dengan sesame
1) Meninggalkan pekerjaan, pengurangan jam kerja, perubahan hubungan dengan
sesame
2) Pasien terlihat menutup diri dari lingkingan

i. Pola reproduksi dan seksualitas


1) Keterbatasan gerak
2) Penurunan frekuensi hubungan seksual, penurunan kepercayaan diri dalam
melakukan hubungan seksual

j. Pola mekanisme koping dan toleransi terhadap stress


1) Menutup diri
2) Tampak murung
k. Pola nilai dan kepercayaan
1) Tergantung dalam melakukan ibadah, mengganggap penyakit adalah kutukan,
pantangan terhadap makanan tertentu dan tindakan keperawatan.

2. Diagnosa Keperawatan
a. Hipertermia b.d proses penyakit
Intervensi :

1) Identifikasi penyebab hipertermia (mis. Dehidrasi,terpapar lingkungan panas,


penggunaan incubator)
2) Monitor suhu tubuh
3) Sediakan lingkungn yang dingin
4) Longgarkan atau lepaskan pakaian
5) Berikan cairan oral
6) Anjurkan tirah baring
7) Kolaborasi pemberian cairan dan elektrolit intravena, jika perlu

b. Nyeri akut b.d agen pencedera fisiologi


Intevensi :

1) Identifikasi lokasi, karakteristik,durasi,frekuensi,kualitas, intensitas nyeri


2) Identifikasi skala nyeri
3) Berikan Teknik nonfarmakologi untuk mengurangi rasa nyeri
([Link],akupresur,terpi music,biofeedback,terapi
pijat,aromaterapi,Teknik imjinasi terbimbing,kompres hangat/dingin,terapi
bermain)
4) Jelaskan penyebab periode dan pemicu nyeri
5) Jelaskan strategi meredakan nyeri
6) Kolaborasi pemberian analgetic, jika perlu

c. Deficit nutrisi b.d ketidakmampuan mengabsorbsi nutrient


Intervensi:

1) Identifikasi sttus nutrisi


2) Identifikasi alergi dan intoleransi makanan
3) Lakukan oral hygiene sebelum makan, jika perlu
4) Fasilitasi menentukan pedoman diet
5) Berikan makanan tinggi kalori dan tinggi protein
6) Ajarkan diet yang diprogramkan
7) Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan jenis nutrient
yang dibutuhkan, jika perlu

d. Konstipasi b.d ketidakcukupan asupan serat


Intervensi :

1) Periksa tanda dan gejala konstipasi


2) Monitor tanda dan gejala ruptur usus dan peritonitis
3) Anjurkan diit tinggi serat
4) Lakukan massase abdomen jika perlu
5) Jelaskan etiologi masalah dan alas an Tindakan
6) Anjurkan peningkatan asupan cairan, jika tidak ada kontraindikasi
7) Konsultasi penggunaan obat pencahar

e. Intoleransi aktivitas b/d kelemahan


Intervensi :

1) Identifikasi defisit tingkat aktifitas


2) Identifikasi kemampuan berpartisipasi dalam aktivitas tertentu
3) Fasilitas focus pada kemampuan, bukan deficit yang dialami
4) Berikan penguatan positif atas partisipasi dalam aktivitas
5) Jelaskan metode aktivitas fisik sehari-hari, jika perlu
6) Anjurkan melakukan aktivitas fisik,social,spiritual dan kognitif dalam menjaga
fungsi dan kesehatan

f. Ansietas b.d kurang terpapar informasi


Intervensi :
1) Identifikasi saat tingkat ansietas berubah (mis. Kondisi,waktu,stressor)
2) Monitor tanda-tanda ansietas
3) Ciptakan suasana terapeutik untuk menumbuhkan kepercayaan
4) Temani pasien untuk mengurangi kecemasan
5) Motivasi mengidentifikasi situasi yang memicu kecemasan
6) Jelaskan prosedur, termasuk sensasi yang mengenai diagnosis, pengobtatan dan
prognosis
7) Latih kegiatan pengalihan untuk mengurangi ketegangan
8) Kolaborasi pemberian obat antiansietas, jika perlu

3. Discharge Planning
Pada apendiksitis akut, pengobatan yang paling baik adalah operasi apendiks.
Dalam waktu 48 jam harus dilakukan.
Pada penderita setelah melakukan pembedahan :
a. Diobservasi
b. Berikan pasien posisi istirahat dalam posisi fowler
c. Diberikan antibiotic dan diberikan makanan yang tidak merangsang peristaltic
d. Jika terjadi perforasi diberikan drain di perut kanan bawah.

Anda mungkin juga menyukai