RKS Pembangunan Kantor BPN Pandeglang
RKS Pembangunan Kantor BPN Pandeglang
RKS
(RENCANA KERJA & SYARAT-SYARAT)
KEGIATAN :
PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAN RENOVASI GEDUNG DAN BANGUNAN
KANTOR PERTANAHAN KABUPATEN PANDEGLANG
LOKASI :
KABUPATEN PANDEGLANG-PROVINSI BANTEN
KONSULTAN PERENCANA:
Rencana Kerja dan Syarat-syarat (RKS)
Pembangunan Gedung Kantor BPN Pandeglang
BAB I
KETENTUAN TEKNIS
BAGIAN PERTAMA
Pasal 1
Rencana Kerja Pelaksanaan Pekerjaan
- Organisasi Kerja
- Tata cara pengaturan pelaksanaan pekerjaan
- Jadwal Pelaksanaan Pekerjaan
- Jadwal pengadaan bahan, mobilisasi peralatan dan personil
- Penyusunan rencana dan pelaksanaan pemeriksaan lapangan.
- Pendekatan kepada masyarakat dan pemerintahan daerah setempat mengenai rencana
kerja, agar kelancaran dan keamanan lebih terjamin.
- Penyusunan program mutu pekerjaan, sesuai waktu yang ada dan volume kerja sesuai
kontrak pekerjaan yang ada.
3. Pemeriksaan bersama
a. Pada tahap awal periode pada pelaksanaan pekerjaan, pengguna barang/jasa bersama-
sama dengan penyedia barang/jasa melakukan pemeriksaan bersama.
b. Untuk pemeriksaan bersama ini, pengguna barang/jasa dapat membentuk panitia peneliti
pelaksanaan kontrak.
Pasal 2
Organisasi Pelaksana Lapangan
1. Untuk melaksanakan pekerjaan/sesuai yang ditetapkan dalam surat perjanjian/kontrak, penyedia
barang jasa harus membuat organisasi pelaksana lapangan, dengan pembagian tugas, fungsi,
dan wewenang yang jelas tanggung jawabnya masing-masing.
2. Penempatan personil harus proporsional dan sesuai dengan keahlian bidang tugasnya masing-
masing, sedangkan untuk tenaga-tenaga ahlinya harus memenuhi peraturan dan perundang-
undangan yang berlaku, sesuai dengan golongan, bidang dan kualifikasi perusahaan penyedia
barang/jasa yang bersangkutan.
4. Penyedia barang/jasa tidak diperkenankan memberikan pekerjaan lain kepada wakil ataupun
para penanggung jawab lapangan, di luar pekerjaan yang bersangkutan.
5. Selama jam-jam kerja tenaga ahli/wakilnya atau penanggung jawab lapangan harus berada di
lapangan pekerjaan kecuali berhalangan/sakit dan Penyedia barang/jasa harus
menunjuk/menempatkan penggantinya apabila yang bersangkutan berhalangan.
6. Jika ternyata penanggung jawab teknis tidak memenuhi ketentuan yang telah ditetapkan, maka
Pengguna Anggaran berhak memerintahkan kepada penyedia barang/jasa supaya segera
mengganti dengan orang lain yang ahli dan berpengalaman.
Pasal 3
Tenaga Kerja Lapangan
1. Penyedia barang/jasa wajib mempekerjakan tenaga kerja yang trampil dan berpengalaman,
sesuai keahliannya dalam jumlah yang cukup sesuai dengan jumlah kompleksitas pelaksanaan
pekerjaan.
3. Penyedia barang/jasa harus meyediakan tempat tinggal yang memadai dan tidak mengganggu
lingkungan, untuk para tenaga kerja yang tinggal sementara di lokasi pekerjaan.
4. Penyediaan tenaga kerja harus dilaporkan kepada pengguna barang/jasa, dalam bentuk daftar
tenaga kerja yang dilampiri identitas diri dan tanda pengenal setiap tenaga kerja.
Pasal 4
Bahan dan Peralatan
1. Bahan, peralatan dan segala sesuatu yang diperlukan untuk melaksanakan pekerjaan sesuai
dalam Surat Perjanjian/Kontrak, adalah harus disediakan oleh penyedia barang/jasa.
3. Bahan dan peralatan yang ditolak pengguna barang/jasa harus segera disingkirkan dari
lokasi/lapangan, dalam waktu 2 hari sejak tanggal penolakan dilakukan.
4. Apabila terdapat bahan dan peralatan yang digunakan/terpasang belum atau telah mendapat
persetujuan, ternyata tidak memenuhi kualifikasi atau spesifikasi teknis sebagaimana yang
dipersyaratkan, maka penyedia barang/jasa wajib mengganti/memperbaiki dengan beban biaya
sendiri dan tidak berhak menuntut ganti rugi.
5. Apabila bahan dan peralatan yang akan digunakan ternyata tidak didapat lagi di pasaran, maka
penyedia barang/jasa segera mengajukan bahan dan peralatan pengganti yang setara dan
mendapatkan persetujuan tertulis dari pengguna barang/jasa. Prosedur penggantian harus
dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan dan perundang-undangan yang berlaku.
6. Penggantian bahan dan peralatan yang dimaksud pada ayat (5) di atas tidak dapat dijadikan
alasan untuk keterlambatan pekerjaan.
7. Penyediaan dan pengamanan bahan dan peralatan di lokasi/lapangan, adalah menjadi tanggung
jawab penyedia barang/jasa termasuk tempat dan cara penyimpanannya harus tertib dan tidak
mengganggu mobilisasi kerja di lapangan.
Pasal 5
Mobilisasi
1. Mobilisasi meliputi :
a. Mendatangkan peralatan-peralatan terkait yang diperlukan dalam pelaksanaan pekerjaan.
b. Mempersiapkan fasilitas seperti kantor Direksi, Barak Pekerja, gudang material, bengkel,
gudang dan sebagainya.
2. Mobilisasi peralatan terkait dan personil penyedia barang/jasa dapat dilakukan secara bertahap
dan sesuai dengan kebutuhan.
3. Mobilisasi paling lambat harus sudah dimulai dilaksanakan dalam waktu 7 ( tujuh) hari kalender
terhitung sejak diterbitkan SPMK oleh Pemberi Tugas.
Pasal 6
Jadwal Pelaksanaan Pekerjaan
1. Penyedia barang/jasa wajib membuat jadwal pelaksanaan pekerjaan secara rinci, yang terdiri dari
:
a Time Schedule dalam bentuk bar-chart, dilengkapi dengan perhitungan kemajuan bobot
untuk setiap minggunya.
b. Pada Time schedule dilengkapi pula dengan kurva “S”.
c. Untuk pelaksanaan pekerjaan/yang memiliki kompleksitas tinggi harus dilengkapi dengan
network planning.
2. Jangka waktu Jadwal pelaksanaan harus sesuai dengan yang dinyatakan dalam surat
perjanjian/kontrak kerjasama.
3. Perkiraan jangka waktu pelaksanaan adalah 120 (Seratus dua puluh) hari kalender
4. Jadwal pelaksanaan pekerjaan dibuat secara lengkap dan menyeluruh mencakup seluruh jenis
pekerjaan yang akan dilaksanakan, yang dapat menggambarkan antara rencana dan
realisasinya.
5. Jadwal pelaksanaan pekerjaan harus tetap berada di lokasi/lapangan selama masa pelaksanaan
pekerjaan dan salah satunya ditempel di ruangan rapat
6. Jadwal kerja berfungsi sebagai control terhadap prestasi / kemajuan kerja dilapangan.
Pasal 7
Laporan Hasil Pekerjaan
1. Laporan Harian
a. Untuk keperluan pengendalian dan pengawasan pelaksanaan pekerjaan, seluruh aktifitas
kegiatan dilapangan dicatat di dalam buku harian lapangan (BHL) sebagai laporan harian
pekerjaan berupa rencana dan realisasi pekerjaan harian.
c. Buku Harian Lapangan (BHL) disiapkan dan diisi oleh penyedia barang/jasa, dan diperiksa
oleh pengawas teknis dan dilengkapi catatan instruksi – instruksi dan petunjuk pelaksanaan
yang dianggap perlu dan disetujui oleh pengguna barang/jasa.
f. Penyedia barang/jasa harus memperbaiki atas beban biaya sendiri terhadap pekerjaan yang
tidak memenuhi syarat, tidak sempurna dalam pelaksanaannya atas kemauan inisiatif sendiri
atau yang diperintahkan oleh pengawas teknis maupun Pemimpin.
g. Penandatanganan BHL dilakukan oleh Site Manager atau yang dikuasakan dari Pihak
Kontraktor Pelaksana, dan Pengawas Harian, serta kolom Instruksi boleh diisi oleh Pemberi
Tugas, atau pihak yang berkompeten terhadap Kegiatan Pembangunan dimaksud.
2. Laporan Mingguan dibuat setiap minggu yang terdiri dari rangkuman laporan harian dan berisi hal
kemajuan fisik pekerjaan dalam periode satu minggu, serta hal – hal penting yang perlu dilaporkan,
dan ditanda tangani oleh, Kontraktor Pelaksana, Konsultan Pengawas, serta Pihak Pemberi Tugas.
3. Laporan bulanan dibuat setiap bulan yang terdiri dari rangkuman laporan mingguan dan berisi hal
kemajuan fisik pekerjaan dalam periode satu bulan,gambar – gambar perubahan yang mungkin
terjadi, serta hal – hal penting yang perlu dilaporkan.
Pasal 8
Foto Dokumentasi
1. Untuk merekam kegiatan pelaksanaan, pengguna barang/jasa dengan menugaskan kepada penyedia
barang/jasa, membuat foto-foto dokumentasi untuk tahapan–tahapan pelaksanaaan pekerjaaan
dilapangan.
2. Foto dibuat oleh penyedia barang / jasa sesuai petunjuk Pengawas Teknis, disusun dalam 4 (empat)
tahapan disesuaikan dengan tahapan pembayaran angsuran tetapi tidak termasuk masa
pemeliharaaan, yaitu sebagai berikut :
Tahap I Bobot 0%-25 % Papan nama, Persiapan lokasi, Struktur Pondasi
3. Foto tiap tahapan tersebut diatas dibuat 5 ( lima ) set dilampirkan pada saat pengambilan angsuran
sesuai dengan tahapan angsuran, yang masing – masing adalah untuk :
4 Pengambilan titik pandang dari setiap pemotretan harus tetap/sama sesuai dengan petunjuk
Pengawas Teknis atau Pengguna Anggaran.
5. Foto setiap tahapan ditempelkan pada album/map dengan keterangan singkat, dan penempatan dalam
album disahkan oleh Pejabat Pembuat Komitmen. Untuk teknis penempatan / penempatan dalam
album ditentukan oleh Pengawas Teknis.
6. Khusus untuk pemotretan pada kondisi keadaan kahar/memaksa force majeure diambil sebanyak 3
(tiga) kali.
Pasal 9
Perbedaan Ukuran
1. Jika terdapat perbedaan ukuran yang ditulis dengan angka dengan ukuran yang ditulis dengan skala,
maka ukuran yang dipakai adalah ukuran yang ditulis dengan angka
2. Jika merasa ragu – ragu tentang ukuran harus segera minta petunjuk Pengawas Teknis Lapangan
atau kepada Konsultan Perencana.
[Link] mencegah kesalahpahaman akibat perbedaan ini, lakukan penandatangan oleh pihak – pihak
terkait bilamana telah terjadi kesepakatan.
Pasal 10
Sarana Penunjang
1. Kepada penyedia barang/jasa diwajibkan membuat/mendirikan bangunan sementara seperti, los kerja
bangsal/direksi keet yang cukup luas dan lain – lain yang diperlukan penyedia barang/jasa juga harus
menyediakan perlengkapan ruang kerja Pengguna Anggaran dan Pengawas Teknis, dengan jumlah
sesuai kebutuhan.
2. Sarana Penunjang yang harus dipersiapkan oleh Penyedia Jasa termasuk didalamnya sarana
keselamatan dan kesehatan kerja, seperti P3K lengkap dengan obat – obatnya, Meja Rapat, serta
pendukung lainnya.
3. Pembuatan Bedeng kerja / Ruang Direksi dilengkapai meja kerja, sarana MCK untuk pekerja maupun
Direksi.
4. Penempatan sarana bangunan sementara harus dibuatkan perencanaannya oleh penyedia
barang/jasa, serta terlebih dahulu mendapatkan persetujuan Pemimpin
5. Sarana penunjang Direksi keet/gudang bedeng sementara pagar pengaman dan perlengkapannya
serta pompa kerja, adalah merupakan sarana penunjang dalam pelaksanaan dan merupakan barang
yang dipakai habis pada saat setelah pekerjaan selesai.
6. Pada prinsipnya penyedia barang/jasa harus menyediakan peralatan kerja pembantu (sarana
pendukung), yaitu : air, aliran listrik, pompa air, beton molen, vibrator, alat – alat pemadam kebakaran,
dan lain sebagainya.
7. Untuk segala kebutuhan/keperluan penyelesaian pelaksanaan pekerjaan, sekalipun tidak disebut dan
dinyatakan dalam peraturan dan syarat-syarat (RKS) maupun dalam gambar tetap menjadi tanggung
jawab penyedia barang/jasa.
8. Untuk pelaksanaan pekerjaan dimaksud, tanah dan halaman akan diserahkan kepada penyedia
barang/jasa dalam keadaan sedemikian rupa, dengan ketentuan jika pelaksanaan pekerjaan telah
selesai. Segala kerusakan yang terjadi diatas tanah/halaman akibat pelaksanaan seperti kerusakan
saluran/got, tanaman dan lain sebagainya harus diperbaiki kembali seperti keadaan semula atas
tanggungan penyedia barang/jasa yang bersangkutan.
9. Setelah penyedia barang/jasa mendapat batas-batas daerah kerja sebagaimana dimaksud pada ayat
5 pasal ini, maka penyedia barang/jasa harus bertanggung jawab penuh atas segala sesuatu yang
ada didaerahnya meliputi :
a. Kerusakan – kerusakan yang timbul akibat kelalaian/kecerobohan yang disengaja
maupun tidak disengaja.
b. Penggunaan sesuatu yang salah / keliru.
c. Kehilangan – kehilangan.
10. Untuk mencegah kejadian – kejadian tersebut di atas penyedia barang/jasa diizinkan untuk
mengadakan pengamanan pelaksanaan pembangunan setempat, antara lain penjagaan, penerangan
pada malam hari dan sebagainya.
11. Penyedia barang/jasa harus mengerjakan pekerjaan pembersihan yaitu membersihkan segala
macam kotoran bekas - bekas bongkaran dan alat-alat lainnya, dan harus segera diangkut keluar
lokasi atas persetujuan Pengawas Teknis/Pengguna Anggaran.
Pasal 11
Papan Nama Kegiatan (Proyek)
1. Pemasangan papan nama dilakukan pada saat dimulainya pelaksanaan pekerjaan dan dicabut
kembali setelah mendapat persetujuan dari Pemberi Tugas / Direksi Pengawas.
2. Pada papan Nama dicantuKonsultanan dengan jelas, besarnya anggaran, sumber dana, dan
Pengguna Anggaran, serta masa berlakunya Kontrak Kerja Pelaksanaan.
3. Pemasangan Papan Nama tidak boleh mengganggu keindahan dan ketertiban umum, serta harus kuat
dan kokoh.
4. Bentuk dan ukuran Papan Nama kegiatan dilapangan ditetapkan sebagai berikut :
a. Papan nama dibuat multiplek tebal 8 mm dengan ukuran lebar 150/200 cm.
b. Papan nama dipasang pada tiang kaso ukuran 5/7 cm dengan ketinggian disesuaikan kondisi
lapangan.
c. Lembar Papan nama menggunakan Banner Printing
d. Jenis tulisan memakai huruf kapital, tulisan dan garis warna hitam.
CONTOH :
BAB II
KETENTUAN TEKNIS
BAGIAN KEDUA
KETENTUAN TEKNIS PELAKSANAAN
A. KETENTUAN TEKNIS PEKERJAAN PERSIAPAN/PENDAHULUAN
Pasal 12
Pemagaran Sementara
Pasal 13
Galian Tanah dan Urugan Kembali
1. Semua pekerjaan penggalian tanah dan pengurugan tanah kembali harus dilaksanakan sesuai dengan
gambar, RKS ini dan semua petunjuk yang disampaikan oleh pengawas selama berlangsungnya
pekerjaan.
2. Semua bahan yang dipakai untuk pengurugan kembali harus merupakan bahan pilihan yang baik, yang
diseleksi air tanah hasil galian, yang bebas dari kotoran, batu – batu besar dan bahan tumbuhan atau
bahan lainnya yang dapat membusuk.
3. Pekerjaan penggalian harus dilaksanakan secara mekanis dan semua peralatan yang dibutuhkan
harus disediakan oleh Kontraktor, baik yang menyangkut peralatan untuk pekerjaan persiapannya
maupun peralatan untuk pekerjaan penggaliannya sendiri dan alat–alat bantu yang diperlukan.
a. Sebelum pekerjaan dimulai, kontraktor wajib untuk mengajukan permohonan tertulis kepada
pengawas, yang menyebutkan tanggal akan dimulainya pekerjaan penggalian.
b. Semua galian harus dilaksanakan sampai diperoleh panjang galian, kedalaman, kemiringan, dan
lengkungan yang sesuai dengan gambar.
4. Untuk pengurugan kembali harus dilaksanakan selapis demi selapis dengan ketebalan tidak lebih
dari 20 cm tiap lapisnya dan harus dipadatkan secara mekanis sampai diperoleh kepadatan yang
cukup dan disetujui oleh Pengawas.
1. Rencana kerja dan syarat – syarat pekerjaaan struktur (Spesifikasi Struktur) ini, dibuat dengan maksud
agar Konstruksi Struktur yang akan dikerjakan memenuhi kualitas/persyaratan-persyaratan yang
tertuang dalam gambar dan spesifikasi struktur ini serta Berita Acara Rapat Penjelasan, sebagaimana
yang direncanakan/dikehendaki oleh Perencana Struktur.
3. Dilain pihak Direksi Pengawas bertugas serta berkewajiban untuk mengawasi pekerjaan–pekerjaan
pemborong agar sesuai dengan spesifikasi struktur ini dan gambar–gambar struktur terlampir serta
Berita Acara penjelasan.
4. Walaupun ada Direksi Pengawas dengan tugas Pengawasannya, pemborong wajib mempunyai
bagian/team Quality Control tersendiri yang khusus mengawasi pekerja – pekerja dan produknya agar
sesuai dengan Spesifikasi dan gambar struktur serta Berita Acara Rapat Penjelasan
5. Apabila terdapat perbedaaan antara gambar-gambar yang satu dengan yang lainnya atau hal-hal
yang tidak / kurang jelas baik mengenai spesifikasi struktur ini maupun gambar–gambar struktur
terlampir, maka pemborong maupun Direksi/KONSULTAN berkewajiban untuk menanyakan
penjelasannya kepada Perencana Struktur.
Pasal 15
Pekerjaan Pendahuluan
1. Pekerjaan Stripping
a. Seluruh tapak bangunan ( bangunan pendukung ), ditambah selebar 3M dari sisi–sisi tapak
Bangunan harus dibersihkan dari humus dan Lumpur dengan cara Stripping setebal minimum 30
cm atas biaya Pemborong
b. Stripping/penebasan/pembabatan tersebut harus dilakukan terhadap semua sampah-sampah,
puing-puing, semak belukar dan tanaman kecuali apabila ada beberapa tanaman yang
dipertahankan sesuai gambar dan atau petunjuk Direksi/Pengawas.
c. Semua sisa tanaman seperti akar-akar harus dihilangkan sampai kedalaman minimum 50 cm
dibawah permukaan tanah setelah stripping.
d. Sisa hasil pekerjaan stripping harus dibuang kesekitar lokasi yang ditentukan oleh
Direksi/Pengawas atas biaya pemborong.
f. Setelah selesai pemasangan papan dasar pelaksanaan, pemborong harus melaporkan kepada
Direksi/ Pengawas.
g. Segala Pekerjaan pembuatab dan pemasangan papan nama dasar pelaksanaan menjadi
tanggung jawab pemborong.
Pasal 16
Pekerjaan Galian
1. Lingkup Pekerjaan.
a. Pekerjaan ini meliputi penyediaan tenaga kerja, bahan-bahan/peralatan-peralatan dan alat-alat
bantu yang diperlukan untuk terlaksananya pekerjaan ini dengan baik.
b. Pekerjaan ini meliputi seluruh pekerjaan galian pondasi/basement untuk pekerjaan sub struktur,
seperti yang disebutkan/ditunjukkan dalam gambar atau sesuai dengan petunjuk
Direksi/Pengawas termasuk didalamnya adalah pekerjaan galian untuk saluran-saluran, pagar
dan pekerjaan–pekerjaan lain sesuai gambar yang memerlukan adanya galian.
c. Juga termasuk pengamanan galian dan cara-cara pelaksanaannya (jika ada), terutama untuk
galian yang membahayakan bangunan eksisting dan pekerja.
d. Untuk pekerjaan pada tanah yang mudah longsor / gembur, harap diperhatikan kemiringan galian,
agar tidak terjadi pekerjaan yang berulang
e. Pembuangan sisa galian ketempat yang disetujui Direksi/Pengawas.
a. Galian tanah untuk basement, saluran air, pondasi dan galian-galian lainnya harus sesuai
dengan peil-peil yang tercantu di dalam gambar. Semua bekas-bekas pondasi bangunan lama,
batu, jaringan jalan/aspalt, akar dan pohon-pohon yang terdapat dibagian galian yang akan
dilaksanakan dibongkar dan dibuang.
b. Apabila ternyata terdapat pipa-pipa pembuangan, kabel listrik, telepon dan lain –lain yang masih
digunakan, maka pemborong harus secepatnya memberitahukan kepada Direksi/Pengawas atau
kepada Penguasa/instansi yang berwenang untuk mendapatkan petunjuk-petunjuk seperlunya.
Pemborong bertanggung jawab atas segala kerusakan-kerusakan sebagai akibat dari pekerjaan
galian tersebut.
Pemborong harus bertanggung jawab untuk mengambil setiap langkah apapun untuk menjamin
bahwa pekerjaan yang sedang berlangsung tersebut tidak terganggu. Sarana umum yang tidak
bekerja lagi yang mungkin ditemukan dibawah tanah dan terletak didalam lapangan pekerjaan
harus dipindahkan keluar lapangan ketempat yang disetujui oleh Direksi/Pengawas atas
tanggungan pemborong.
c. Apabila ternyata penggalian melebihi kedalaman yang telah ditentukan, maka Pemborong harus
mengisi/mengurug kembali daerah tersebut dengan bahan pondasi yang sejenis untuk daerah
yang bersangkutan. Misalnya untuk daerah pondasi batu kali, pengisian/pengurugan kelebihan
galian harus dilakukan dengan pondasi batu kali.
d. Pengurugan/pengisian kembali bekas galian harus dilakukan selapis demi selapis, dan ditumbuk
sampai padat sesuai dengan yang disyaratkan mengenai Pekerjaan urugan dan Pemadatan.
Pekerjaan pengurugan/pengisian kembali ini hanya boleh dilakukan setelah diadakan
pemeriksaan dan mendapatkan persetujuan tertulis dari Direksi/Pengawas.
e. Dasar dari semua galian harus waterpas, bilamana pada dasar galian masih terdapat akar-akar
tanaman atau bagian-bagian gembur, maka harus digali keluar sedang lubang-lubang diisi
kembali dengan pasir, disiram dan dipadatkan sehingga mendapatkan kembali dasar yang
waterpas. Pemadatan dilakukan secara berlapis-lapis dengan tebal tiap lapisan 20 cm lapisan,
dengan cara pemadatan dan pengujian sesuai dengan spesifikasi struktur .
f. Apabila terdapat air didasar galian, baik pada waktu penggalian maupun pada waktu pekerjaan
struktur harus disediakan pompa air dengan kapasitas yang memadai atau pompa lumpur yang
jika diperlukan dapat bekerja terus menerus, untuk menghindari tergenangnya air dan lumpur
pada dasar galian.
h. Pemborong akan mendapatkan laporan pumping test dari Direksi/ Pengawas/ Perencana struktur.
Permukaan air tanah pada setiap saat harus pada 50 cm dibawah muka galian yang terendah.
Pengawasan terhadap dewatering harus oleh oleh yang berpengalaman, untuk itu harus
dilakukan 24 jam dan dibuatkan daftar pengamanan yang setiap saat dapat diperiksa.
i. Pemborong harus memperhatikan pengamanan terhadap dinding tepi galian agar tidak longsor
dengan memberikan suatu dinding penahan atau penunjang sementara atau lereng yang kuat,
agar tidak membahayakan bangunan lain dan pekerja.
Sebelum pekerjaan dimulai pemborong wajib menyerahkan perhitungan struktur yang mendasari
pemilihan jenis konstruksi pengaman lereng galian tersebut disertai gambar kerja untuk
dimintakan persetujuan tertulis dari Direksi/Pengawas.
j. Semua tanah kelebihan yang berasal dari pekerjaan galian, setelah mencapai jumlah tertentu
harus segera disingkirkan dari halaman pekerja pada setiap saat yang dianggap perlu dan atas
petunjuk Direksi/Pengawas.
l. Jika terdapat kedalaman yang berbeda dari galian yang berdekatan, maka galian harus dilakukan
terlebih dahulu pada bagian yang lebih dalam dan seterusnya.
m. Kesalahan galian akibat kelalaian; kedalaman maupun lebarnya, menjadi tanggung jawab
Kontraktor Pelaksana, dan tidak dibenarkan untuk dijadikan alas an untuk mengajukan Pekerjaan
tambah.
Pasal 17
Pekerjaan Urugan Dan Pemadatan
1. Lingkup Pekerjaan
Pekerjaan ini meliputi penyediaan tenaga kerja, bahan-bahan, peralatan, dan alat-alat bantu lainnya
yang diperlukan untuk terlaksananya pekerjaan ini dengan baik.
Pekerjaan ini meliputi semua pekerjaan urugan dan pemadatan kembali untuk pekerjaan substruktur
yang ditunjukkan dalam gambar atau sesuai petunjuk Direksi/Pengawas
2. Persyaratan bahan
Bahan untuk urugan tersebut menggunakan material bekas galian atau dengan mendatangkan dari
lokasi lain dan harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :
a. Jenis tanah adalah silty Clay atau pasir urug.
b. Tanah harus bersih berarti tidak mengandung akar, kotoran seperti puing bekas bongkaran,
bekas dinding bata. beton dan bahan organis lainnya.
c. Tidak mengandung batuan yang lebih besar dari 10 cm.
d. Terlebih dahulu diadakan test Kepadatan Maksimum pada Kadar Air Optimum dan hasilnya harus
secara tertulis diserahkan kepada Direksi/Pengawas.
Direksi/Pengawas akan menolak material yang tidak memenuhi persyaratan tersebut diatas
3. Syarat-syarat pelaksanaan
a. Pelaksanaan pengurugan harus dilakukan lapis demi lapis dengan tebal max tiap-tiap lapisan 20
cm lepas dan dipadatkan sampai mencapai Kepadatan Maksimun pada Kadar Air Optimum, dan
mencapai peil permukaan tanah yang direncanakan. Test Kepadatan Optimum harus mengikuti
STM D-1557-7
b. Pada lokasi yang diurug harus diberi patok-patok, ketinggian sesuai ketinggian rencana. Untuk
daerah-daerah dengan ketinggian tertentu, dibuat patok dengan dengan warna pula.
c. Pada daerah yang basah/ada genangan air. Pemborong harus membuat saluran-saluran
sementara untuk mengeringkan lokasi–lokasi tersebut, misalnya dengan bantuan pompa air.
d. Lokasi yang akan diurug harus bebas dari lumpur atau kotoran, sampah dan sebagainya. Tentukan
titik ketinggian urugan tanah sesuai kondisi dilapangan, sehingga untuk kepadatan nantinya akan
tercapai sebagaimana yang diharapkan.
e. Jika tidak ada persetujuan tertulis sebelumnya dari Direksi/Pengawas maka pemadatan tersebut
tidak boleh dengan dibasahi air. Pemadatan urugan dilakukan dengan memakai alat
Stemper/Compactor yang disetujui /pengawas
f. Penggalian yang melebihi batas yang ditentukan, harus diurug kembali sehingga mencapai
kerataan yang ditetapkan dengan bahan urugan yang dipadatkan, kecuali untuk daerah galian
pondasi harus mengikuti pasal 03 mengenai “pekerjaan Galian”.
g. Toleransi pelaksanaan yang dapat diterima untuk penggalian dan pengurugan adalah ± 50 mm
terhadap kerataan yang ditentukan. Semua Drainase darurat harus disetujui oleh
Direksi/Pengawas. Cara kerja yang dilakukan pemborong harus disetujui oleh Direksi/Pengawas.
h. Untuk mencapai kepadatan yang optimal, bahan harus ditest di Laboratorium, untuk mendapatkan
nilai Standard Proctor/Kepadatan Maksimum pada Kadar air Optimum. Laboratorium yang
memeriksa harus laboratorium yang disetujui oleh Direksi/Pengawas
i. Untuk bahan yang sama untuk setiap lapis tanah tebal 20 cm yang sudah dipadatkan harus ditest
juga di lapangan, yaitu I (satu) test untuk tiap 750 m2, dengan hasil kepadatan harus memenuhi
ketentuan – ketentuan sebagai berikut :
1. Untuk lapisan yang dalamnya sampai 30 cm dari permukaan rencana, kepadatannya 95% dari
Standard Proctor.
2. Untuk lapisan yang dalamnya lebih dari 30 cm dari permukaan rencana kepadatannya 90 %
dari Standard Proctor.
j. Hasil test di lapangan harus tertulis dan diketahui oleh Direksi/Pengawas. Semua hasil-hasil
pekerjaan harus diperiksa kembali terhadap patok-patok referensi untuk mengetahui sampai
dimana kedudukan permukaan tanah tersebut.
k. Bagian permukaan yang telah dinyatakan padat harus dipertahankan dijaga dan dilindungi agar
jangan sampai rusak akibat pengaruh luar misalnya basah oleh air hujan, panas matahari dan
sebagainya. Perlindungan dapat dilakukan dengan menutupi permukaan dengan plastik.
Pekerjaan pemadatan dianggap cukup, setelah hasil test memenuhi syarat dan mendapat
persetujuan tertulis direksi/pengawas.
l. Gumpalan-gumpalan tanah harus digemburkan dan bahan tersebut, harus dicampur dengan cara
menggaruk atau cara sejenisnya sehingga diperoleh lapisan yang kepadatannya sama.
m. Setiap lapisan harus dikerjakan sesuai dengan kepadatan yang dibutuhkan dan diperiksa melalui
pengujian lapangan yang memadai, sebelum dimulai dengan lapisan berikutnya.
Bilamana bahan tersebut tidak mencapai kepadatan yang dikehendaki, lapisan tersebut harus
diulang 1 kembali pekerjaannya atau diganti, dengan cara-cara pelaksanaan yang telah
ditentukan, guna mendapatkan kepadatan yang dibutuhkan.
Pasal 18
Pekerjaan Urugan / Lapisan Pasir Urug / Sirtu Padat
1. Lingkup Pekerjaan
a. Pekerjaan ini meliputi penyedian tenaga kerja, bahan-bahan peralatan dan alat-alat Bantu yang
dibutuhkan dalam pelaksanaan pekerjaan ini untuk memperoleh hasil pekerjaan yang baik,
sebagaimana ketentuan yang berlaku.
b. Pekerjaan urugan pasir urug/sirtu dilakukan diatas dasar galian tanah dibawah lapisan lantai kerja
dan digunakan untuk semua struktur beton yang berhubungan dengan tanah seperti pondasi,
lantai basement, pile cap, dll.
2. Persyaratan Bahan
a. Sirtu kelas A yang digunakan harus terdiri dari butir-butir yang bersih, tajam dan erjas, bebas dari
lumpur, tanah lempung dan lain sebagainya, seperti disyaratkan dalam NI-3 (PUBI tahun 1982)
pasal 14 ayat 3.
b. Untuk air siraman digunakan air tawar yang bersih dan tidak mengandung minyak, asam alkali
dan bahan-bahan organis lainnya, serta memenuhi syarat-syarat yang ditentukan dalam NI-3
pasal 10. Apabila dipandang perlu, Direksi/Pengawas dapat diminta kepada Pemborong supaya
air yang dipakai untuk keperluan ini diperiksa dilaboratorium pemeriksaaan bahan yang resmi dan
syah, atau biaya pemborong.
c. Pengendalian seluruh pekerjaan ini harus memenuhi syarat-syarat yang ditentukan diatas dan
harus dengan persetujuan tertulis dari Direksi/Pengawas.
3. Syarat-syarat Pelaksanaan
a. lapisan sirtu dapat dilakukan lapis demi lapis maksimum setiap lapis 10 cm, hingga mencapai
tebal padat yang disyaratkan dalam gambar.
b. Setiap lapis sirtu harus diratakan, disiram air dan/atau dipadatkan dengan alat pemadat yang
disetujui Direksi/Pengawas. Pemadatan dilakukan hingga mencapai tidak kurang dari 95% dari
kepadatan optimum hasil Laboratorium
Pemadatan harus dilakukan pada kondisi galian yang kering agar dapat diperoleh hasil kepadatan
yang baik.
Kondisi galian yang kering tersebut harus dipertahankan sampai pekerjaan pemadatan yang
bersangkutan selesai dilakukan.
Pemadatan harus diulang kembali jika keadaan tersebut diatas tidak terpenuhi. (jika perlu
dibuatkan Sump pit untuk menangkap air)
c. Tebal lapisan sirtu minimum 15 cm padat atau sesuai yang ditunjukkan dalam gambar .
Ukuran tebal yang dicantuKonsultanan dalam gambar adalah ukuran tebal padat.
d. lapisan pekerjaan diatasnya, dapat dikerjakan bilamana sudah mendapat perseujuan tertulis
Direksi/Pengawas, sesuai berita acara pentahapan dan telah ditandatangani oleh pihak – pihak
terkait
Pasal 19
Pekerjaan Urugan Kembali Bekas Galian Pondasi
1. Lingkup Pekerjaan
Pekerjaan ini meliputi penyediaan tenaga kerja, bahan-bahan, peralatan dan alat-alat Bantu lainnya
yang diperlukan untuk terlaksananya pekerjaan ini dengan baik.
Pekerjaan ini meliputi semua perkerjaan urugan kembali bekas galian, yaitu bekas galian Pile Cap,
Tie Beam, Septictank dan semua pekerjaan yang ditunjukkan dalam gambar struktur atau sesuai
petunjuk Direksi/Pengawas.
2. Persyaratan Bahan
Persyaratan bahan harus sesuai dengan yang diuraikan dalam pasal terdahulu.
3. Syarat-syarat Pelaksanaan
a. Pengurugan tidak boleh dilaksanakan sebelum pondasi atau lain-lain yang dibangun yang akan
ditutup atau tersembunyi oleh tanah urugan diperiksa dahulu oleh Direksi/pengawas.
b. Bahan-bahan bekas bekisting atau lain-lain tidak boleh dibiarkan tertinggal pada waktu
pengurugan dilaksanakan, kecuali jika ada persetujuan dari Direksi/Pengawas.
c. Syarat-syarat lain harus sesuai yang diuraikan dalam pasal 4 butir 3 ayat a
Pasal 20
Pekerjaan Acuan / Bekisting
1. Lingkup Pekerjaan
Pekerjaan ini meliputi penyediaan tenaga kerja, bahan, peralatan, pengangkutan dan pelaksanaan
untuk menyelesaikan semua pekerjaan beton sesuai dengan gambar-gambar konstruksi, dengan
memperhatikan ketentuan tambahan dari arsitek dalam uraian dan syarat-syarat pelaksanaannya.
2. Persyaratan Bahan
Bahan acuan yang dipergunakan dapat dalam bentuk: beton, baja, pasangan bata yang diplester atau
bahan. Pemakaian bambu tidak diperbolehkan. Lain-lain jenis bahan yang akan dipergunakan harus
mendapat persetujuan tertulis dari Direksi/Pengawas terlebih dahulu. Acuan yang terbuat dari bahan
harus menggunakan bahan jenis meranti atau setaraf. Ukuran bahan yang digunakan tergantung dari
perencanaan struktur dengan tebal multiplek minimum 12 mm.
3. Syarat-syarat Pelaksanaan
a. Perencanaan acuan dan konstruksinya harus direncanakan untuk dapat menahan beban-beban,
tekanan lateral dan tekanan yang diizinkan seperti tercantum pada “Renommended Practice For
Concrete Formwork” (ACI 347-68) dan peninjauan terhadap beban angina dan lain-lain, peraturan
harus dikontrol terhadap Peraturan Pembangunan Pemerintah Daerah Setempat.
b. Semua ukuran-ukuran penampang struktur beton yang tercantum dalam gambar struktur adalah
ukuran bersih penampang beton, tidak termasuk plesteran/finishing.
c. Sebelum memulai pekerjaan, pemborong harus memberikan gambar dan perhitungan acuan
serta sample bahan yang akan dipakai, untuk disetujui oleh Direksi/Pengawas.
Pada dasarnya tiap-tiap bagian bekisting, harus mendapat persetujuan tertulis dari
Direksi/Pengawas. Sebelum bekisting dibuat pada bagian tersebut.
d. Acuan harus direncanakan sedemikian rupa sehingga tidak ada perubahan bentuk dan cukup
kuat menampung beban-beban sementara maupun tetap sesuai dengan jalannya pengecoran
beton.
Penyusunan acuan harus sedemikian rupa hingga pada waktu pembongkarannya tidak
menimbulkan kerusakan pada bagian beton yang bersangkutan.
f. Cetakan beton harus dibersihkan dari segala kotoran-kotoran yang melekat seperti potongan-
potongan bahan, potongan-potongan kawat, paku, tahi gergaji , tanah dan sebagainya.
g. Acuan harus dapat menghasilkan sebagian konstruksi yang ukuran, kerataan/kelurusan. Elevasi
dan posisinya sesuai dengan gambar– gambar konstruksi.
h. Bahan acuan harus bersih dan dibasahi terlebih dulu sebelum pengecoran. Harus diadakan
tindakan untuk menghindarkan terkumpulnya air pembasahan tersebut pada sisi bawah.
i. Cetakan beton harus dipasang sedimikian rupa sehingga tidak akan terjadi kebocoran atau
hilangnya air semen selama pengecoran, tetap lurus (tidak berubah bentuk) dan tidak bergoyang.
j. Sebelumnya dengan mendapat persetujuan dari Direksi/Pengawas baut-baut dan tie rod yang
diperlukan untuk ikatan-ikatan dalam beton harus diatur sedemikian, sehingga bila bekisting
dibongkar kembali, maka semua besi tulangan harus berada dalam permukaan beton.
k. Pada bagian terendah (dari setiap phase pengecoran) dari bekisting kolom atau dinding harus
ada bagian yang mudah dibuka untuk inspeksi dan pembersihan.
l. Pada prinsipnya semua penunjang bekisting harus menggunakan steger besi (scafolding).
Penggunaan dolken atau balok bahan untuk steger dapat dipertimbangkan oleh
Direksi/Pengawas selama masih memenuhi syarat.
m. Setelah pekerjaan diatas selesai. Pemborong harus meminta persetujuan dari Direksi/Pengawas
dan minimum 3 (tiga) hari sebelum pengecoran, pemborong harus mengajukan permohonan
tertulis untuk izin pengecoran kepada Direksi/Pengawas.
4. Pembongkaran:
a. Pembongkaran dilakukan sesuai dengan Peraturan Beton Indonesia, dimana bagian konstruksi
yang dibongkar cetakannya harus dapat memikul berat sendiri dan beban-beban pelaksanaan.
b. Catakan-cetakan bagian konstruksi di bawah ini boleh dilepas dalam waktu sebagai berikut:
- Sisi-sisi balok dan kolom yang tidak dibebani minimal 7 hari .
- Sisi-sisi balok dan kolom yang dibebani minimal 21 hari .
c. Setiap rencana pekerjaan pembongkaran cetakan harus diajukan terlebih dahulu secara tertulis
untuk disetujui oleh Direksi/ Pengawas.
d. Permukaan beton harus terlihat baik pada saat acuan dibuka, tidak bergelombang, berlubang,
atau retak-retak dan tidak menunjukkan gejala keropos/ tidak sempurna.
e. Acuan harus dibongkar secara cermat dan hati-hati, tidak dengan cara yang dapat menimbulkan
kerusakan pada beton dan material-material lain disekitarnya, dan pemindahan acuan harus
dilakukan sedemikian rupa sehingga tidak menimbulkan kerusakan akibat benturan pada saat
pemindahan.
f. Apabila setelah cetakan dibongkar ternyata terdapat bagian-bagian beton yang keropos atau
cacat lainnya, yang akan mempengaruhi kekuatan konstruksi tersebut, maka pemborong harus
segera memberitahukan kepada Direksi/Pengawas, untuk meminta persetujuan tertulis mengenai
cara perbaikan pengisian atau pembongkarannya.
Pemborong tidak diperbolehkan menutup/mengisi bagian beton yang keropos tanpa persetujuan
tertulis Direksi/Pengawas. Semua resiko yang terjadi sebagai akibat pekerjaan tersebut dan
biaya-biaya perbaikan, pembongkaran atau pengisian atau penutupan bagian tersebut menjadi
tanggung jawab pemborong.
g. Seluruh bahan bekas-bekas acuan yang tidak terpakai harus dibersihkan dari lokasi dan dibuang
pada tempat-tempat yang ditentukan oleh Direksi/Pengawas sehingga tidak mengganggu lahan
kerja.
5. Alternatif Acuan/Bekisting
Pemborong dapat mengusulkan alternatif jenis acuan yang akan dipakai, dengan melampirkan
brosur/gambar acuan tersebut beserta perhitungannya untuk mendapat persetujuan tertulis dari
Direksi/Pengawas. Dengan catatan bahwa alternatif acuan tersebut tidak merupakan kerja tambah
dan tidak menyebabkan kelambatan dalam pekerjaan. Sangat diharapkan agar pemborong dapat
mengajukan usulan acuan yang dapat mempersingkat waktu pelaksanaan tanpa
mengurangi/membahayakan mutu beton dan sesuai dengan peraturan-peratuaran yang berlaku.
Pasal 21
Pekerjaan Strauss Pile
1. Lingkup Pekerjaan.
Lingkup pekerjaan ini meliputi pekerjaan dibawah Pile Cap (Dasar Pondasi), Dimensi Ø30 cm
kedalaman sesuai pada gambar perencanaan
2. Setting Alat
Perakitan alat bor pile manual atau straus pile berupa mata bor, pipa, setang dan alat
pendukung lainnya.
3. Proses Penulangan
Pembuatan besi tulangan dengan cara perakitan antara besi spiral (besi beton Ø 10mm) dan
besi utama (Primer) Ø13mm yang telah dipotong dengan panjang sesuai kedalaman lobang bor
+ stek untuk nantinya diikatkan ke pile cap.
4. Proses Pengecoran
Pengecoran tahap terakhir pekerjaan strauss pile yang jadi perhatian apabila lobang bor dipenuhi
dengan air maka pengecoran harus menggunakan pipa paralon 4" yang dimasukkan ditengah
besi tulangan {fungsi sebagai pengantar cor} waktu proses pengecoran berlangsung paralon ini
diangkat perlahan hingga pengecoran selesai, tapi bila lobang bor kering maka adukan cor bisa
langsung dituang tanpa pipa paralon
Pasal 22
Pekerjaan Beton Bertulang
1. Lingkup Pekerjaan
Pekerjaan ini meliputi penyediaan tenaga kerja, bahan-bahan, peralatan, dan alat-alat bantu lainnya
serta pengangkutan yang dibutuhkan untuk menyelesaikan semua pekerjaan beton berikut
pembersihannya sesuai dengan yang tercantum dalam gambar, baik untuk pekerjaan Sub Struktur
maupun Upper Struktur.
2. Peraturan-peraturan
Kecuali ditentukan lain dalam persyaratan selanjutnya, maka sebagai dasar pelaksanaan digunakan
peraturan – peraturan sebagai berikut :
- Tata cara perhitungan Struktur beton untuk bangunan gedung (SK SNI T-15-1991-03)
- Pedoman beton 1989
- American Concrete Institute
- Peraturan Perencanaan Tahun Gempa Indonesia untuk Gedung 1983
- Pedoman Perencanaan untuk struktur beton bertulang biasa dan struktur tembok bertulang untuk
gedung 1983
- Persyaratan umum bahan bangunan di Indonesia (PUBI-1982)-NI-3
- Peraturan portaland Cement Indonesia 1972 (NI-8)
- Mutu dan cara uji semen Portland (SII 0013-81)
- Mutu dan cara uji Agregat Beton (SII 0052-80)
- ASTM C-33 Standard Specification for Concrete Aggregates
- Baja tulangan beton (SII 0136-84)
- Jaringan kawat baja las untuk tulangan beton (SII 0784 – 83)
- American Society For Testing and Material (ASTM)
- Peraturan bangunan nasional 1978
- Peraturan pembangunan pemerintah daerah setempat
- Petunjuk Perencanaan struktur bangunan untuk pencegahan bahaya kebakaran pada bangunan
rumah dan gedung (SKBI-2.3 53 1987 UDC : [Link])
Peraturan-peraturan yang diperlukan tersebut diatas harus disediakan Pemborong di “Site” sehingga
memudahkan apabila hendak digunakan, terutama pada saat pengajuan sample.
4. Persyaratan Bahan
a. Semen :
1. Semua semen yang digunakan adalah semen Portland lokal yang memenuhi syarat-syarat
dari :
- Peraturan-peraturan releven yang tercantum pada pasal ini ayat 2
- Mempunyai sertifikat uji (test sertificate) dari laboratorium yang diseetujui secara tertulis dari
Direksi / Pengawas
2. Semua semen yang akan dipakai harus dari satu merk yang sama (tidak diperkenankan
menggunakan bermacam-macam jenis/merk semen untuk satu konstruksi/struktur yang
sama), dalam keadaan baru dan asli, dikirim dalam kantong-kantong semen yang masih
disegel dan tidak pecah.
3. Dalam pengangkutan semen harus terlindung dari hujan. Semen harus diterimakan dalam zak
(kantong) asli dari pabriknya dalam keadaan tertutup rapat. Dan harus disimpan digudang
yang cukup ventilasinya dan diletakkan pada tempat yang ditinggikan paling sedikit 30 cm dari
lantai zak-zak semen tersebut tidak boleh ditumpuk sampai tingginya melampui 2 m’ atau
maksimum 10 zak. Setiap pengiriman baru harus ditandai dan dipisahkan dengan maksud
agar pemakaian semen dilakukan menurut urutan pengirimannya.
4. Untuk semen yang diragukan mutunya dan terdapat kerusakan akibat salah penyimpanan,
dianggap sudah rusak, membatu, dapat ditolak penggunaannya tanpa melalui test lagi. Bahan
yang telah ditolak harus segera dikeluarkan dari lapangan paling lambat dalam waktu 2x24
jam atas biaya pemborong.
b. Agregat (Aggregates) ;
1. Semua pemakaian batu pecah (agregat kasar) dan pasir beton, harus memenuhi syarat-syarat
:
- Peraturan-peraturan relevan yang tercantum pada pasal ini (2)
- Bebas dari tanah-tanah liat (tidak bercampur dengan tanah-tanah liat atau kotoran-kotoran
lainnya
2. Kerikil dan batu pecah (agregat kasar) yang mempunyai ukuran lebih berat dari 38 mm, untuk
penggunaannya harus mendapat persetujuan tertulis Direksi/Pengawas. Gradasi dari agregat-
agregat tersebut secara keseluruhan harus dapat menghasilkan mutu beton yang disyaratkan,
padat dan mempunyai daya kerja yang baik dengan semen dan air, dalam proporsi campuran
yang akan dipakai. Direksi/pengawas harus meminta kepada Pemborong untuk mengadakan
test kwalitas dari agregat-agregat tersebut dari tempat penimbunan yang ditunjuk oleh
Direksi/Pengawas, setiap saat di laboratorium yang disetujui Direksi/Pengawas atas biaya
Pemborong.
3. Dalam hal ini adanya perubahan sumber dari mana agregat tersebut disuplay, maka
Pemborong diwajibkan untuk memberitahukan secara tertulis kepada Direksi/Pengawas.
4. Agregat harus disimpan ditempat yang bersih, yang keras permukaannya dan dicegah supaya
tidak terjadi pencampuran dengan tanah dan terkotori.
c. Air Kerja
1. Air yang akan dipergunakan untuk semua pekerjaan-pekerjaan dilapangan adalah air bersih,
tidak berwarna, tidak mengandung bahan-bahan kimia (asam alkali) ,tidak mengandung
organisme yang dapat memberikan efek merusak beton/tulangan, minyak atau lemak dan
memenuhi syarat-syarat Peraturan Beton Indonesia serta diuji terlebih dahulu oleh
Laboratorium yang disetujui oleh Direksi/Pengawas.
2. Air yang mengandung garam (air laut) sama sekali tidak diperkenankan untuk dipakai
2. Pemakaian besi beton dari jenis yang berlainan dari ketentuan-ketentuan diatas, harus
mendapat persetujuan tertulis Perencana Struktur. Besi beton harus disuplay dari satu
sumber (manufacture) dan tidak dibenarkan untuk mencampur adukkan bermacam-macam
sumber besi beton tersebut untuk pekerjaan konstruksi .
4. Contoh besi beton yang diambil untuk pengujian tanpa kesaksian Direksi/Pengawas tidak
diperkenankan sama sekali dan hasil test yang bersangkutan tidak sah.
6. Besi beton harus dilengkapi dengan label yang memuat nomor pengecoran dan tanggal
pembuatan, dilampiri juga dengan sertifikat pabrik yang sesuai untuk besi tersebut.
7. Besi beton yang tidak memenuhi syarat-syarat karena kwalitasnya tidak sesuai dengan
spesifikasi struktur harus segera dikeluarkan dan site setelah menerima instruksi tertulis dari
Direksi/Pengawas, dalam waktu 2x24 jam atas biaya Pemborong.
e. Kualitas Beton
1. Kecuali bila ditentukan lain dalam gambar, kualitas beton adalah K-250 (tegangan tekan
hancur karakteristik untuk kubus beton ukuran 15x15cm pada usia 12 hari, atau fe=20,0 Mpa
(tegangan tekan hancur karakteristik untuk slinder beton ukuran diameter 15 cm dan tinggi
30 cm pada usia 12 hari. Evaluasi penentuan karakteristik ini digunakan ketentuan-ketentuan
yang terdapat dalam Peraturan Beton Indonesia.
2. Mutu beton K-175 digunakan pada umumnya untuk kolom-kolom praktis, dan bagian-bagian
lain yang tidak memikul beban, kecuali ditentukan lain. Untuk pengecoan pelat yang lebar/
luas, maka untuk menghindarkan/meminimalkan retak-retak akibat susut, maka pengecoran
harus dilakukan dalam pentahapan dengan pola papan catur, urutan pekerjaan harus
diusulkan oleh Pemborong untuk mendapat persetujuan tertulis dari Direksi/ Pengawas.
3. Selama pelaksanaan sebelum proses pengecoran berlangsung harus dibuat benda-benda uji
berupa selinder beton dan kubus beton, menurut ketentuan-ketentuan yang disebut dalam
Peraturan Beton Indonesia mengingat bahwa W/C factor yang sesuai disini adalah sekitar
0,25-0.55 maka pemasukan adukan kedalam cetakan benda uji dilakukan menurut Peraturan
Beton Indonesia tanpa menggunakan penggetar dan pengujian dilakukan pada tiap-tiap jenis
pekerjaan struktur, contohnya : Pondasi, Sloof/Tiebeam, Kolom, Balok, Plat Lantai, Dll
4. Pemborong harus membuat laporan tertulis atas data-data kualitas beton yang dibuat dengan
disahkan oleh Direksi/Pengawas dan laporan tersebut harus dilengkapi dengan perhitungan
tekanan beton karakteristiknya.
5. Laporan tertulis tersebut harus disertai sertifikat dari laboratorium, yang telah diakui oleh
instansi terkait atau pemilik proyek.
6. Setiap saat diadakan pengecoran atau setiap 25 m3, selama pelaksanaan harus ada
pengujian slump, dengan syarat minimum 5 cm dan maksimum 12 cm. cara pengujian slump
sebagai berikut:
Contoh: beton diambil tepat sebelum dituangkan kedalam cetakan beton (bekisting). Cetakan
slump dibasahkan dan ditempatkan diatas bahan yang rata atau plat beton. Cetakan diisi
sampai kurang lebih sepertiganya. Kemudian adukan tersebut ditusuk-tusuk 25 kali dengan
besi diameter 16 mm panjang 30 cm dengan ujung yang bulat (seperti peluru)
Pengisian dilakukan dengan cara serupa untuk dua lapisan berikutnya. Setiap lapisan
ditusuk-tusuk 25 kali dan setiap tusukan harus masuk dalam satu lapisan dibawahnya.
Setelah atasnya diratakan. Segera cetakan diangkat perlahan-lahan dan diukur
penurunannya. (nilai slump-nya).
a. Beton yang digunakan untuk pembuatan plat, kolom, sloof, balok dan pondasi pada bangunan
utama adalah Beton K-250, sedangkan untuk kolom praktis menggunakan beton K-175.
1. Pada prinsipnya semua persyaratan-persyaratan untuk yang dibuat dilapangan berlaku juga
untuk Beton Ready Mix, baik mengenai persyaratan Material Semen, Anggregat, air ataupun
Admixture, Testing Beton, Slimp dan sebagainya.
2. Disyaratkan untuk pemesanan Beton Ready Mix dilakukan pada suplier Beton Ready Mix yang
sudah terkenal mengenai Stabilitas mutunya. Kontinuitas penyediaannya dan
mempunyai/mengambil material-material dari tempat tertentu yang tetap dan bermutu baik.
jika mutu beton yang relatif sangat besar, maka selain mutu beton maka harus diperhatikan
betul-betul tentang kontinuitas pengadaan agar tidak terjadi hambatan dalam waktu
pelaksanaan .
3. Direksi/Pengawas akan menolak setiap Beton Ready Mix yang sudah mengeras dan
menggumpal untuk tidak digunakan dalam pengecoran. Usaha-usaha untuk
menghaluskan/menghancurkan Beton Ready mix yang sudah mengeras atau menggumpal
sama sekali tidak diperbolehkan.
Penambahan air dan material lainnya kedalam Beton Ready Mix yang sudah berbentuk
adukan sama sekali tidak diperbolehkan, karena akan merusak komposisi yang ada dan bisa
menurunkan mutu beton yang direncanakan
4. Pemborong harus meminta jaminan tertulis kepada Supplier Beton Ready Mix jaminan tentang
mutu beton yang digunakan.
Walaupun demikian, untuk mengechek mutu beton yang dipakai, maka baik Pemborong
maupun supplier Beton Ready Mix masing-masing harus membuat kubus beton percobaan
untuk di Test di Laboratorium yang ditunjuk/disetujui oleh Direksi/Pengawas dan jumlah
selinder atau khusus beton dibuat sesuai dengan Peraturan Beton Indonesia.
5. Beton Ready Mix yang tidak memenuhi mutu yang disyaratkan, walauipun disupply oleh
Perusahaan Beton Ready Mix, tetap merupakan tanggung jawab sepenuhnya dari pemborong.
6. Beton Ready Mix yang sudah melebihi waktu 3 (tiga) jam, yaitu terhitung sejak dituangkan air
kecampuran beton kedalam truk ready mix plant/pabrik sampai selesainya beton ready mix
tersebut dituangkan dicor, tidak dapat digunakan atau dengan perkataan lain akan ditolak.
Segala akibat biaya yang ditimbulkannya menjadi beban dan resiko Pemborong.
- Mesin pengaduk yang tidak dipakai lebih dari 30 menit harus dibersihkan lebih dulu, sebelum
adukan beton yang baru dimulai .
2. Untuk benda uji berbentuk selinder, cetakan harus berbentuk silinder dengan ukuran diameter
15 cm dan tinggi 30 cm dan memenuhi syarat dalam Peraturan Beton Indonesia. Untuk benda
uji berbentuk kubus, cetakan harus berbentuk bujur sangkar dalam segala arah dengan ukuran
15x15x15 cm dan memenuhi syarat dalam Peraturan Beton Indonesia.
3. Pengambilan adukan beton, pencetakan benda uji kubus dan curingnya harus dibawah
pengawasan [Link]. prosedurnya harus memenuhi syarat-syarat dalam Peraturan
Beton Indonesia.
4. Pengujian, pada umumnya dilakukan sesuai dengan Peraturan Beton Indonesia, termasuk juga
pengujian-pengujian susut (slump) dan pengujian tekan (Cruching Test).
Jika beton tidak memenuhi syarat-syarat pengujian slump maka kelompok adukan yang tidak
memenuhi syarat itu tidak boleh dipakai, dan pemborong harus menyingkirkannya dari tempat
pekrjaan. Jika pengujian tekanan gagal maka perbaikan-perbaikan atau langkah-langkah yang
diambil harus dilakukan dengan mengikuti procedure-prosedure Peraturan Beton Indonesia
atas biaya Pemborong.
5. Semua biaya untuk pembuatan dan percobaan benda uji kubus menjadi tanggung jawab
Pemborong.
6. Benda uji kubus harus ditandai dengan suatu kode yang menunjukkan tanggal pengecoran,
bagian struktur yang bersangkutan dan lain-lain data yang perlu dicatat.
7. Semua benda uji kubus harus di test di Laboratorium Beton yang disetujui oleh
Direksi/Pengawas.
8. Laporan asli (bukan fotocopy) hasil percobaan harus diserahkan kepada Direksi/Pengawas dan
perencana Struktur segera sesudah selesai percobaan, dengan mencantuKonsultanan
besarnya kekuatan karakteristik, deviasi standard. Percobaan/Test kubus beton dilakukan
untuk umur-umur beton 3, 7 dan 14 hari dan juga untuk umur-umur beton 28 hari
9. Apabila dalam pelaksanaan nanti kepadatan bahwa mutu beton yang dibuat seperti yang
ditunjukkan oleh benda uji kubusnya gagal memenuhi syarat spesifikasi, maka
Direksi/Pengawas berhak meminta Pemborong supaya mengadakan percobaan-percobaan
non destruktif atau kalau memungkinkan mengadakan percobaan loading atas biaya
pemborong.
Percobaan-percobaan ini harus memenuhi syarat-syarat dalam Peraturan Beton Indonesia.
Apabila gagal, maka bagian pekerjaan tersebut harus dibongkar dan dibangun baru sesuai
dengan petunjuk Direksi/Pengawas.
Semua biaya-biaya untuk percobaan dan akibat-akibat gagalnya pekerjaan tersebut menjadi
tanggung jawab Pemborong.
e. Pengecoran Beton :
- Permohonan izin pengecoran tertulis tersebut hanya boleh diajukan apabila bagian pekerjaan
yang akan dicor tersebut sudah “siap” artinya pemborong sudah mempersiapkan bagian
pekerjaan tersebut sebaik mungkin sehingga sesuai dengan gambar dan spesifikasi
- Izin pengecoran tertulis yang sudah dikeluarkan dapat menjadi batal apabila terjadi salah satu
keadaan seperti berikut :
2. Adukan beton harus secapatnya dibawah ketempat pengecoran dengan menggunakan cara
(metode) yang sepraktis mungkin, sehingga tidak memungkinkan adanya pengendapan
aggregate dan tercampurnya kotoran-kotoran atau bahan lain dari luar. Penggunaan alat-alat
pengangkut mesin haruslah mendapat persetujuan tertulis dari Direksi/Pengawas, sebelum
alat-alat tersebut didatangkan ketempat pekerjaan.
Semua alat-alat pengangkut yang digunakan, pada setiap waktu harus dibersihkan dari sisa-
sisa adukan yang mengeras.
3 Pengecoran beton tidak dibenarkan untuk dimulai sebelum pemasangan besi beton selesai
diperiksa dan mendapat persetujuan tertulis dari Direksi/Pengawas.
4. Sebelum pengecoran dimulai, maka tempat-tempat yang akan dicor terlebih dahulu harus
dibersihkan dari segala kotoran-kotoran (potongan bahan,batu,tanah dan lain sebagainya) dan
dibasahi dengan air semen.
5. Pengecoran dilakukan selapis demi selapis dan tidak dibenarkan menuangkan adukan dengan
menjatuhkan dari suatu ketinggian lebih dari 1,5 m dari begisting yang akan menyebabkan
pengedapan/pemisahan aggregate.
6. Pengecoran harus dilakukan secara terus menerus (continue/tanpa berhenti). Adukan yang
tidak dicor (ditinggalkan) dalam waktu lebih dari 15 menit setelah keluar dari mesin adukan
beton, dan juga adukan yang tumpah selama pengangkutan, tidak diperkenankan untuk dipakai
lagi.
f. Pemadatan Beton :
1. Beton harus dipadatkan dengan menggunakan vibrator dengan ukuran yang sesuai selama
pengecoran berlangsung dan dilakukan sedemikian rupa sehingga tidak merusak acuan
maupun posisi/rangkaian tulangan
2. Pekerjaan beton yang telah selesai harus bebas kropos (huney comb), yaitu memperlihatkan
permukaan yang halus bila cetakan dibuka.
3. Pemborong harus menyiapkan vibrator-vibrator untuk menjamin pemadatan yang baik dan tidak
keropos. Vibrator yang dipakai harus dari type RotaryOut of Balance dengan frekwensi tidak
kurang dari 6000 cycles permenit dan kemampuan memberikan percepatan 6 g pada beton
setelah kontak dengan beton. Pada umumnya jarum penggetar dimasukkan kedalam adukan
kira-kira vertikal, tetapi dalam keadaan-keadaan khusus boleh miring sampai 45º.
Selama penggetaran, jarum tidak boleh digerakkan kearah horizontal karena hal ini akan
menyebabkan pemisahan bahan-bahan.
Harus dijaga jarum tidak mengenai cetakan atau bagian beton yang sudah mulai mengeras.
Karena itu jarum tidak boleh dipasang lebih dekat dari 5 cm dari cetakan atau dari beton yang
sudah mengeras. Juga harus diusahakan agar tulangan tidak terkena oleh jarum, agar tulangan
tidak terlepas dari betonnya dan getaran-getaran tidak merambat ke bagian-bagian lain dimana
betonnya sudah mulai mengeras.
Lapisan yang digetarkan tidak boleh tebal dari panjang jarum dan pada umumnya tidak boleh
lebih tebal dari 30-50 cm. Berhubung dengan itu, maka pengecoran bagian-bagian konstruksi
yang sangat tebal harus dilakukan lapis demi lapis, sehingga tiap-tiap lapis dapat dipadatkan
dengan baik.
Jarum penggetar ditarik dari adukan beton apabila adukan mulai sampai mengkilap sekitar
jarum ( air semen mulai memisahkan diri dari aggregat), yang pada umumnya tercapai setelah
maksimum 30 detik. Penarikan jarum ini tidak boleh dilakukan terlalu cepat, agar rongga bekas
jarum dapt diisi penuh lagi dengan adukan.
5. Admixture pada umumnya dengan pemilihan bahan-bahan yang seksama, cara mencampur
dan mengaduk yang baik dan cara pengecoran yang cermat tidak diperlukan penggunaan
sesuatu admixture. Jika penggunaan admixture masih dianggap perlu. Pemborong diminta
terlebih dahulu mendapatkan persetujuan tertulis dari Direksi/Pengawas mengenai hal tersebut.
Sebelum pekerjaan dimulai Pemborong harus menyerahkan contoh beton dengan ukuran
10x10x20 cm3 yang telah menggunakan campuran kedap air tersebut, contoh tersebut oleh
Direksi/Pengawas akan direndam dalam cairan berwarna selama 2x24 jam dan setelah itu
contoh diangkat dan dikeringkan.
Kemudian contoh tersebut dipatahkan menjadi dua dan dilihat berapa tebal meresapnya cairan
berwarna tersebut kedalam beton.
g. Siar pelaksanaan :
1. Posisi dan pengaturan siar pelaksanaan harus sesuai dengan peraturan beton yang berlaku
dan mendapt persetujuan tertulis dari Direksi/Pengawas.
Umumnya posisi siar pelaksanaan terletak pada 1/3 bentang tengah dari suatu konstruksi.
Bentuk siar pelaksanaan harus vertical dan untuk siar pelaksanaan yang menahan gaya geser
yang besar harus diberikan besi tambahan/dowel yang sesuai untuk menahan gaya geser
tersebut.
2. Sebelum pengecoran beton baru, permukaan dari beton lama supaya dibersihkan dengan
seksama dan dikasarkan. Kotoran-kotoran disingkirkan dengan air dan menyikat sampai
aggregate kasar tampak. Setelah permukaan siar tersebut bersih,”Calbond” harus dilapiskan
merata seluruh permukaan
1. Beton harus dilindungi sejauh mungkin terhadap matahari selama berlangsungnya proses
pengerasan, pengeringan oleh angin, hujan atau aliran air dan perusakan secara mekanis atau
pengeringan sebelum waktunya.
2. Semua permukaan beton harus dijaga tetap basah terus menerus selama 14 hari. Khusus untuk
kolom, maka curing beton dapat dilakukan dengan cara menutupi dengan karung basah
sedangkan untuk lantai selama 7 hari pertama dengan cara menutupi dengan karung basah,
menyemprotkan air atau menggenangi dengan air pada permukaan beton tersebut.
3. Terutama pada pengecoran beton pada waktu cuaca panas, curing dan perlindungan atas
beton harus lebih diperhatikan. Pemborong bertanggung jawab atas retaknya beton karena
susut akibat kelalaian kegiatan ini.
1. Pembengkokan besi beton harus dilakukan dengan hati-hati dan teliti/tepat pada posisi
pembengkokan sesuai gambar dan tidak menyimpang dari Peraturan Beton Indonesia.
Pembengkokan tersebut harus dilakukan oleh tenaga ahli, dengan menggunakan alat-alat (Bar
Bender) sedemikian rupa sehingga tidak meninggalkan cacat patah, retak-retak dan
sebagainya. Semua pembengkokan tulangan harus dilakukan dalam keadaan dingin dan
pemotongan harus dengan bar cutter, tidak boleh dengan api.
2. Sebelum penyetelan dan pemasangan besi beton dimulai. Pemborong diwajibkan memuat
gambar kerja (shop Drawing) berupa penjabaran gambar rencana Pembesian Struktur, rencana
kerja pemotongan dan pembengkokan besi beton (bending schedule) yang diserahkan kepada
Direksi/Pengawas untuk mendapatkan persetujuan tertulis.
3. Pemasangan dan penyetelan berdasarkan peil-peil, sesuai dengan gambar dan harus sudah
diperhitungkan mengenai toleransi penurunannya.
4. Pasangan selimut beton (beton decking) harus sesuai dengan gambar detail standard.
Sebagai catatan, pemasangan tulangan-tulangan utama tarik-tekan penampang beton harus
dipasang sejauh mungkin dari garis tengah penampang, sehingga pemakaian selimut beton
yang melebihi ketentuan-ketentuan tersebut diatas harus mendapat persetujuan tertulis dari
Direksi/Pengawas dan perencana.
5. Sebelum besi beton dipasang, besi beton harus bebas dari kulit besi karat, lemak, kotoran serta
bahan-bahan lain yang dapat mengurangi daya lekat.
7. Penyetelan besi beton harus dilakukan dengan teliti, terpasang pada kedudukan yang teguh untuk
menghindari pemindahan tempat, dengan menggunakan kawat yang berukuran tidak kurang
dari 16 gauge atau klip yang sesuai pada setiap tiga pertemuan. Pembesian harus ditunjang
dengan beton atau penunjang besi, spacers atau besi penggantung seperti yang ditunjuk pada
gambar atau dicantuKonsultanan pada spesifikasi ini.
Penunjang-penunjang metal tidak boleh diletakkan berhubungan dengan bekisting.
8. Ikatan kawat harus dimasukkan dalam penampang beton, sehingga tidak menonjol
kepermukaan beton.
9. Sengkang-sengkang harus diikat pada tulangan utama dan jaraknya harus sesuai dengan
gambar.
10. Precast Mortar Spacing Block harus digunakan untuk menahan jarak yang tepat pada tulangan,
dan minimum mempunyai kekuatan beton yang sama dengan beton yang akan dicor.
11. Sebelum pengecoran semua penulangan harus betul-betul bersih dari semua kotoran-kotoran.
b. Dalam hal ini dimana berdasarkan pengalaman Pemborong atau pendapatnya terdapat
kekeliruan atau kekurangan atau perlu penyempurnaan pembesian yang ada maka :
1. Pemborong harus menambah ekstra besi dengan tidak mengurangi pembesian yang
tersedia dalam gambar. Usulan pengganti tersebut harus segera dikonfirmasikan pada
perencana.
2. Jika hal tersebut diatas akan dimintakan oleh Pemborong sebagai pekerjaan lebih, maka
penambahan tersebut hanya dapat dilakukan setelah ada persetujuan tertulis dari
Perencana Konstruksi.
3. Jika diusulkan perubahan dari rangkaian pembesian maka perubahan tersebut hanya
dapat dijalankan dengan persetujuan tertulis dari Perencana Konstruksi.
4. Mengajukan usul dalam rangka tersebut diatas adalah merupakan juga keharusan dari
Pemborong.
c. Jika pemborong tidak berhasil mendapatkan diameter besi yang sesuai dengan yang
ditetapkan dalam gambar, maka dapat dilakukan penukaran diameter besi dengan diameter
besi yang terdekat dengan catatan :
2. Jumlah besi persatuan panjang atau jumlah besi ditempat tersebut tidak boleh kurang dari
yang tertera dalam gambar (dalam hal ini yang dimaksudkan adalah jumlah luas). Khusus
untuk balok induk, jumlah luas penampang besi pada tumpuan juga tidak boleh lebih besar
jauh dari pembesian aslinya.
d. Toleransi Besi :
1. Pemborong tidak dibenarkan untuk membobok, membuat lubang atau memotong konstruksi
beton yang sudah jadi tanpa sepengetahuan dan ijin tertulis dari perencana struktur
2. Ukuran dan pembuatan lubang, pemasangan alat-alat didalam beton, pemasangan sparing dan
sebagainya, harus sesuai gambar atau menurut petunjuk-petunjuk Direksi/Pengawas.
3. Perkuatan pada lobang-lobang beton untuk keperluan pekerjaan Mekanikal dan Elektrikal yang
akan dibuat kemudian oleh Perencana Struktur tetap menjadi beban Pemborong.
4. Sparing – sparing untuk keperluan air kotor / air bekas harus dipasang sebelum dilakukan
pengecoran.
1. Setiap dinding yang bertemu dengan kolom harus diadakan penjangkaran dengan jarak antara
60 mm, panjang jangkar minimum 60 cm dibagian dimana yang tertanam dalam bata 30 cm
dan berdiameter 8 mm
2. Tiap luas dinding yang lebih besar dari 9 m2 dan tingginya lebih besar atau sama dengan 3 m
harus diberi kolom-kolom praktis/ring-ring balok, dengan ukuran 15 cm x 15 cm.
Tulangan kolom praktis/ring balok adalah 4 diameter 10 mm dengan sengkang diameter 6 mm
jarak 20 cm.
3. Untuk lisplang bata dan dinding – dinding lainnya yang tingginya > 3 m harus diberi kolom
praktis setiap jarak 3 m dan bagian atasnya diberikan ring balok. Ukuran dan tulangan kolom
praktis dan ring balok seperti pada butir 2.
1. Beton kedap air terdapat pada dinding STP, semua pit, sebagian lantai yang harus kedap air
dan daerah-daeah lain yang ditunjukkan dalam gambar.
Beton kedap air harus berupa campuran 2 Pc : 3 Psr : 5 Split dan juga memenuhi mutu beton
yang disyahkan
3. Pemborong bertanggung jawab atas pekerjaan-pekerjaan pembuatan beton kedap air tersebut.
Apabila dikemudian hari (selama masa garansi water proofing), ternyata kedapatan bocor atau
rembesan, maka Pemborong harus mengadakan perbaikan-perbaikan dengan biaya dari
Pemborong sendiri.
Prosedure perbaikan tersebut harus dengan petunjuk-petunjuk Direksi/Pengawas sedemikian
rupa sehingga tidak merusak bagian-bagian lain yang sudah selesai.
Pasal 23
Pekerjaan Konstruksi Baja
1. Lingkup Pekerjaan
Pekerjaan ini meliputi seluruh pekerjaan konstruksi Baja seperti tercantum dalam gambar,
termasuk penyediaan tenaga kerja, bahan-bahan, peralatan baja dan alat-alat bantu lainnya yang
dibutuhkan untuk melaksanakan pekerjaan dengan baik.
2. Peraturan-peraturan
Kecuali ditentukan lain dalam persyaratan selanjutnya, maka sebagai dasar pelaksanaan
digunakan peraturan sebagai berikut:
4. Material Baja
a. Semua material untuk Konstruksi Baja harus menggunakan Baja yang baru merupakan “Hot Rolled
Struktural Steel” dan memenuhi mutu Baja ST 37 (PPBBI-83) atau ASTM A 36 atau SS 41 (JIS.U
3101-1970), dan ex Krakatau Steel (fy=240Mpa).
b. Keseluruhan Konstruksi rangka atap menggunakan chanel steel, dengan ukuran disesuaikan
dengan gambar rencana. Sistem sambungan menggunakan las diperkuat dengan besi plat dengan
ketebalan 10 mm.
c. Dudukan kuda – kuda diperkuat dengan baut dan mur HTB berdiameter dan dalam jumlah yang
cukup, sesuai gambar rencana.
d. Semua jenis kuda-kuda baja yang akan digunakan harus mendapat persetujuan dari Konsultan
Perencana / Pemberi Tugas. Contoh sample yang telah disetujui harap ditempel di papan Sample
dan diletakkan di Kantor Direksi, guna sebagai kwality control antara barang terkirim dengan
sample yang telah ada. Semua sample harus ditanda tangani oleh pihak – pihak terkait.
e. Pemborong harus menyerahkan sertifikat test dari pabrik pembuat Baja tersebut sebelum
pengambilan contoh, guna dilakukan test atas biaya Pemborong
Pada prinsipnya diambil 3 (tiga) buah contoh untuk masing-masing ukuran profil guna diadakan
test
Pemasangan Baja hanya boleh dilakukan setelah mendapatkan bahwa hasil test memenuhi
persyaratan.
Walaupun hasil test sudah memenuhi syarat, namun apabila Direksi/Pengawas mempunyai
keraguan terhadap hasil test tersebut dan atau keraguan terhadap mutu profil-profil yang dipakai
dilapangan/diworkshop, maka Direksi/Pengawas mempunyai hak untuk meminta diadakan test
tambahan/ulang dengan ketentuan jumlah test maksimum 3 (tiga) buah untuk masing-masing
ukuran profil.
Biaya test tersebut tetap menjadi baban Pemborong.
f. Semua material Baja harus baru, bebas/bersih dari karat, lobang-lobang dan kerusakan lainnya.
Semua material baja tersebut juga harus lurus, tidak terpuntir, tidak ada tekukan-tekukan, serta
memenuhi syarat toleransi seperti pada butir 5 dibawah ini.
g. Semua material harus disimpan rapi dan diletakkan diatas papan atau balok-balok bahan untuk
menghindari kontak langsung dengan permukaan tanah, sehingga tidak merusak material. Dalam
penumpukan material harus dijaga agar tidak rusak, bengkok.
5. Penggantian Profil/Penampang
a. Pada prinsipnya dalam tahap design, profil-profil/penampang yang digunakan adalah profil-
profil/penampang yang ada dipasaran.
b. Apabila ternyata salah satu atau beberapa profil yang tergambar dalam gambar struktur tidak ada
dipasaran, maka Pemborong dapat menggantikan profil tersebut dengan profil lain dengan
mengajukan secara tertulis kepada Direksi/Pengawas lengkap dengan perhitungan yang
menunjukkan bahwa profil pengganti tersebut sama atau lebih kuat dari profil yang digantikan.
c. Selain segi kekuatan tersebut, maka harus diperhatikan juga masalah-masalah apakah profil
pengganti tersebut menggangu design Struktur, Arsitektur, Mekanikal Elektrikal sehubungan
dengan tinggi/lebar profil pengganti. Dengan adanya perubahan profil, maka tidak ada perubahan
dalam biaya maupun Time Schedule.
6. Toleransi
a. Pada prinsipnya toleransi material yang belum difabrikasi maupun yang sudah difabrikasi dan
terpasang harus memenuhi AISC (American Instituten of Steel Construction) Bab “Standard Mill
Practice” hal 1-121.
b. Pemborong harus membaca persyaratan toleransi tersebut sebagai bagian dari spesifikasi Teknis
Konstruksi Baja ini.
Direksi/Pengawas dengan tegas akan menolek setiap profil-profil dan pekerjaan yang tidak
memenuhi persyaratan toleransi tersebut
4. Testing Material
a. Direksi/Pengawas harus memerintahkan Pemborong untuk menyediakan contoh material Baja dan
Baut untuk diadakan testing material. Instansi/tempat testing material harus mendapat persetujuan
tertulis dari Direksi/Pengawas. Segala biaya yang timbul guna keperluan testing material tersebut
menjadi tanggung jawab Pemborong.
b. Apabila dianggap perlu oleh Direksi/Pengawas, maka akan dilakukan testing pada hasil
pengelasan. Type dan jumlah test untuk pengelasan disesuaikan dengan kebutuhan sesuai AWS
serta dilakuakn atas biaya Pemborong.
c. Apabila ternyata terdapat material yang tidak memenuhi persyaratan seperti yang dikehendaki
dalam butir 3 tentang “Material Baja” diatas, maka Direksi/Pengawas berhak untuk menolak.
a. Apabila Pemborong berpendapat untuk lebih memudahkan pelaksanaan atau erection atau alasan
lainnya, maka Pemborong dimungkinkan untuk mengajukan system sambungan lain yang tidak
sama dengan Gambar rencana.
b. Usulan system sambungan tersebut harus diajukan lengkap dengan gambar dan perhitungan
system sambungan pengganti untuk diperiksa dan disetujui Konsultan Perencana Struktur (4
copy).
c. Tidak ada perubahan biaya apapun akibat perubahan system sambungan yang diusulkan
Pemborong dan Pemborong tetap mempunyai kewajiban untuk melaksanakan pekerjaan sesuai
dengan Time Schedule semula.
1 Sebelum fabrikasi dimulai. Pemborong harus membuat gambar-gambar kerja yang diperlukan
dan mengirim 3 (Tiga) copy gambar kerja yang diperiksa dan disetujui Direksi/Pengawas.
Bilamana disetujui, 1 (Satu) set gambar akan dikembalikan kepada Pemborong untuk dapat
dimulai pekerjaan fabrikasinya. Satu set gambar disimpan oleh Direksi/Pengawas dan
Perencana Struktur mendapat satu set gambar sebagai informasi.
4. Pada gambar kerja harus sudah terlihat bagian-bagian tambahan yang diperlukan untuk
keperluan montase serta cara-cara montase yang direncanakan.
b. Pabrikasi :
2. Pemborong harus memberikan fabrication Manual procedure termasuk Prosedur Quality control
kepada Direksi/Pengawas untuk disetujui.
3. Fabrikasi dari elemen-elemen konstruksi Baja harus dilaksanakan oleh tukang-tukang yang
berpengalaman dan diawasi oleh mandor-mandor yang ahli dalam konstruksi Baja
4. Semua elemen-elemen harus difabrikasi sesuai dengan ukuran-ukuran dan atau bentuk yang
diinginkan tanpa menimbulkan distorsi-distorsi atau kerusakan-kerusakan lainnya dengan
2. Semua konstruksi Baja yang telah selesai difabrikasi harus dibedakan dan diberi kode dengan
jelas sesuai bagian masing-masing agar dapat dipasang dengan mudah. Kode-kode tersebut
ditulis dengan cat agar tidak mudah terhapus.
1. Pelat-pelat sambungan dan lain-lain bagian elemen yang diperlukan untuk sambungan-
sambungan dilapangan, harus dibuat/diikat sementara dulu pada masing-masing elemen
dengan tetap diberi tanda-tanda.
d. Pengelasan :
1. Umum
a. Secara prinsip semua yang berhubungan dengan Pekerjaan pelelangan antara lain cara
pelaksanaan, teknik pengelasan, kualifikasi tukang las, operator las/tack welder,
inspection/testing, toleransi, perbaikan las dan lain-lain harus memenuhi AWS DI.1-90 serta
ketentuan-ketentuan dibawah ini.
b. AWS DI.1-90 tersebut harus selalu ada baik di Workshop Pemborong maupun di lapangan.
c. Mutu dan standard las yang dipergunakan adalah ST 37, sesuai yang dipersyaratkan.
2. Kawat Las
a. Kawat las atau electrode yang digunakan adalah Kobesteel RB 26 atau E70XX low hydrogen
electrode dengan minimum Yield strength sebesar 4150 Kgr/cm2, sedangkan Tensile
Strength minimum 4950 Kgr/cm2
b. Sebelum pemesanan kawat las, pemborong diharuskan untuk memberikan contoh kawat las
berikut brosur teknisnya untuk disetujui secara tertulis oleh Direksi/Pengawas. Kawat las
harus dikirim ke Workshop dalam bungkusan yang tertutup/tersegel dengan baik.
c. Kawat las yang sudah dibuka dari bungkusnya harus dilindungi atau disimpan sedemikian
sehingga karakteristik atau sifatnya tidak berubah.
d. Setelah bungkus dibuka, kawat las tidak diperbolehkan dibiarkan diudara terbuka melebihi
max. 4 (empat) jam. Kawat las yang dibiarkan diudara terbuka melebihi 4 (empat) jam tidak
boleh digunakan untuk pengelasan.
e. Kawat las yang berada di udara terbuka yang belum melampaui batasan 4 (empat) jam
tersebut dapat dipanaskan kembali didalam “holding oven” pada temperatur 120°C selama
min 4 (empat) jam sebelum dapat digunakan kembali. Pemanasan kembali tersebut hanya
diperbolehkan dilakukan 1 (satu) kali saja..
f. Kawat las yang basah/terkena air sama sekali tidak boleh digunakan walaupun lewat
pemanasan oven ulang.
3. 6 mm untuk root passes las sudut yang dilakukan pada posisi horizontal, groove yang
dilakukan pada posisi horizontal dengan backing plate dengan root opening 6 mm atau
lebih
4. 4 mm untuk pengelasan vertical dan overhead.
3. Mesin Las
a. Mesin las yang digunakan harus masih berfungsi dengan baik antara lain menghasilkan arus
yang kontinyu dan stabil
b. Tenaga listrik mesin las harus berasal dari Genset yang dilengkapi dengan panel pembagi
dan travo las sehingga besarnya arus/ampere dapat dikontrol/diatur sesuai kebutuhan.
Besarnya 100 KVA Genset disesuaikan dengan jumlah unit Travo las hendak digunakan.
d. Hanya welder-welder yang disetujui oleh Direksi/Pengawas saja yang boleh mengerjakan
pekerjaan pengelasan.
5. Pelaksanaan Pengelasan
a. Pengelasan tidak boleh dilakukan pada keadaan dimana permukaan/bagian yang hendak
dilas basah atau terexpose terhadap hujan,salju atau angin kencang atau keadaan dimana
tukang-tukang las/welder bekerja pada kondisi cuaca buruk.
b. Ukuran kawat las, panjang lengkungan, voltage dan ampere mesin las harus disesuaikan
dengan type groove, posisi pengelasan dan keadaan lain yang berhubungan dengan
pekerjaan pengelasan.
Besar arus harus sesuai dengan range yang diperbolehkan oleh pembuat electrode/kawat
las yang bersangkutan.
c. Bidang – bidang permukaan yang akan dilas harus rata, uniform, bebas dari sirip-sirip/fins,
bebas dari retakan dan ketidaksempurnaan lainnya yang akan mempengaruhi kualitas las
d. Bidang-bidang permukaan yang akan dilas juga harus bebas dari mill scale tebal atau mill
scale yang lepas, slag, karat, kelembapan, lemak dan material-material lainnya yang akan
menggangu proses pengelasan yang mengganggu kesehatan.
e. Dalam melakukan Thermal Cutting, peralatan harus diatur sedemikian sehingga dapat
dihindarkan pemotongan yang melewati/melampaui garis pemotongan yang seharusnya.
f. Bagian-bagian yang akan dilas dengan las sudut haru sdiletakkan sedekat mungkin,
sedangkan untuk bagian-bagian yang akan dilas dengan las Tumpul/Butt Joints harus diatur
sesuai dengan ketentuan “Root Opening” yang disyaratkan dalam AWS DI.1-90
g. Tack Weld/Las Titik harus dilaksanakan sedemikian sehingga mempunyai kualitas yang
sama dengan las akhir yang sebenarnya.
h. Dalam assembling dan penyambungan bagian-bagian yang dilas maka harus dilakukan
procedure dan urutan sedemikian sehingga dapat dihindarkan semaksimal mungkin
terjadinya distorsi dan penyusutan/shrinkage dari bagian-bagian yang dilas.
i. Toleransi dimensi dari bagian-bagian yang sudah dilas harus memenuhi AWS DI.1-90
j. Profil penampang las/weld profile dapat sedikit cekung/cembung asalkan memenuhi syarat
AWS DI.1-90
l. Bagian-bagian yang mengalami distori harus diluruskan dengan cara mekanis atau cara
pemanasan local.
Temperatur pemanasan local tersebut tidak boleh melebihi temperatur 65º.C.
n. Percikan-percikan las yang merusak permukaan pelat atau bagian-bagian lainnya harus
dicegah.
Cacat atau noda akibat percikan las harus digerinda/dihaluskan kembali
o. Sebelum melakukan pengelasan layer berikutnya. Kerak/”slag” harus serta bagian pelat
disekitarnya harus disikat sampai bersih.
Kerak juga harus dibersihkan dari semua permukaan las yang sudah selesai.
Las dan bagian sekitarnya harus dibersihkan dengan cara disikat atau cara lain yang
disetujui oleh Direksi/Pengawas.
Permukaan las yang sudah dibersihkan tidak boleh dicat sebelum mendapat persetujuan
tertulis dari Direksi/Pengawas.
p. Untuk pengelasan yang menggunakan “Backing Plate”, maka becking plate tersebut harus
dibuat menembus sepanjang las.
Ketebalan becking plate mengikuti AWS DI.1-90
q. Untuk memudahkan pelaksanaan serta mendapatkan mutu pengelasan yang baik, maka
pada dasarnya semua pekerjaan las harus dilakukan di Workshop.
Pada keadaan-keadaan khusus, pengelasan dilapangan hanya diperbolehkan setelah
mendapat persetujuan tertulis dari Direksi/Pengawas.
r. Type, tebal, panjang dan lokasi pengelasan harus mengikuti gambar rencana.
Ketebalan max, dari setiap layer root passes dari groove dan las sudut adalah sebagai
berikut :
- 3 mm untuk setip layer yang dilakukan pada posisi datar
- 5 mm untuk setip layer yang dilakukan dalam posisi vertical, overhead atau horizontal..
Ukuran max. dari single pass sudut dan root passes dari multiplepass las sudut adalah
sebagai berikut :
- 10 mm untuk pengelasan posisi datar
- 8 mm untuk posisi horizontal atau overhead
- 13 mm untuk posisi vertikal
b. Welding Inspector tersebut harus memenuhi persyaratan AWS DI.1-90 atau orang yang
mempunyai kualitas baik karena training khusus atau pengalaman dalam fabrikasi, insepsi
dan testing pekerjaan pengelasan Konstruksi Baja.
7. Test
Semua pengelasan, tanpa kecuali, harus mengalami “visual inspection” yang dilakukan oleh
weldig-welding inspector dari Direksi/Pengawas.
Visual inspection tersebut harus dilakukan pada seluruh proses pengelasan, tidak hanya
pada tahap akhir pengelasan saja.
Visual inspection minimum harus antara lain :
1. Persiapan permukaan yang akan dilas (kebersihan, root face, root opening, groove
angle, groove radius dan lain-lain)
3. Pemeriksaan weld profile atau penampang las termasuk pemeriksaan apakah terjadi
porosity, undercut, kelengkungan/kecembungan yang berlebihan, overlap, crack,
inclusion dan lain-lain.
c. Baut Pengikat
1. Kecuali ditentukan lain dalam gambar Mutu baut penyambung adalah ASTM A 325
dengan tegangan tarik putus minimum 120 Ksi (fy = 825 Mpa)
Baut Penyambung harus berkualitas baik dan baru, diameter baut, panjang ulir harus
sesuai dengan yang diperluakan
2. Baut harus dilengkapi dengan 2 ring, masing-masing 1 buah pada kedua sisinya
Mutu pelat ring sesuai dengan mutu baut
5. Jumlah baut yang ditest untuk masing-masing ukuran adalah minimum 3 (tiga) buah
Walaupun tast baut tersebut memenuhi syarat, Direksi/Pengawas berhak untuk meminta
diadakan test baut lainnya dengan jumlah 1 (satu) baut dari setiap 250 baut yang
digunakan.
Biaya pengetesan baut tersebut ditanggung oleh Pemborong
6. Posisi lubang-lubang baut harus benar-benar tepat dan sesuai dengan diameternya.
Pemborong tidak boleh merubah atau membuat lubang baru dilapangan tanpa seijin
Direksi/Pengawas
7. Pembuatan lubang baut harus memakai bor. Untuk konstruksi yang tipis, maksimum 10
mm, boleh memakai mesin pons. Membuat lubang baut dengan api sama sekali tidak
diperkenankan.
9. Jarak antar lubang baut yang satu dengan yang lainnya tidak boleh mengurangi kekuatan
Konstruksi maupun mutu baja. Tidak dibenarkan adanya lubang yang ternyata tidak
terpakai akibat kesalahan atau kekeliruan, entah disengaja maupun tidak.
9. Pemasangan dan pengencangan baut harus dikerjakan dengan kunci momen torsi yang
sebelumnya sudah dikalibrasi, sebagai berikut :
TORSI
UKURAN BAUT
[Link] (KG.M)
1/2" ( Φ 12 ) 90 12,454
5/8" ( Φ 16 ) 180 24,908
3/4" ( Φ 19 ) 320 44,287
7/8" ( Φ 22 ) 470 65,038
1" ( Φ 25 ) 710 98,249
[Link] pengencangan baut harus diawasi dan disaksikan secara langsung oleh
Direksi/Pengawas.
[Link] baut harus sedemikian rupa, sehingga setelah dikencangkan masih dapat
paling sedikit 3 (tiga) ulir yang menonjol pada permukaan, tanpa menimbulkan
kerusakan pada ulir baut tersebut. Panjang baut yang tidak memenuhi syarat ini harus
diganti dan tidak boleh digunakan.
[Link] menghindarkan adanya baut yang belum dikencangkan maka baut-baut yang
sudah dikencangkan harus diberi tanda/kode dengan cat. Lakukan pengecekkan secara
menyeluruh sehingga tidak ada yang tertinggal.
a. Untuk memudahkan erection Konstruksi Baja dilapangan, maka disyaratkan agar dilakukan
percobaan Erection di Pabrik (Worshop Assembly), sehingga dapat diketahui dengan jelas
mengenai ketepatan/keakuratan elemen-elemen Konstruksi Baja yang terpasang berikut
sambungan-sambungan.
c. Siapkan berita acara pentahapan, untuk keperluan proses pekerjaan ini untuk ditanda tangani oleh
pihak – pihak terkait bilamana telah diakukan percobaan dan hasilnya sesuai yang diharapkan.
9. Erection Achedule/Method.
b. Pemborong harus memberitahukan terlebih dahulu setiap akan ada pengiriman dari pebrik ke
lapangan guna pengechekan Direksi/Pengawas.
Workshop apabila pengiriman tersebut belum dicheck dan mendapat persetujuan dari
Direksi/Pengawas.
c. Penempatan elemen Konstruksi Baja dilapangan harus ditempat yang kering/cukup terlindung
sehingga tidak merusak elemen-elemen tersebut. Direksi/Pengawas berhak untuk menolak
elemen-elemen konstruksi baja yang rusak karena salah penempatan atau rusak
e. Sebelum erection dimulai, Pemborong harus memeriksa kembali kedudukan angkur-angkur Baja
dan memberitahukan kepada Direksi/Pengawas metode dan urutan pelaksanaan erection.
Perhatian khusus dalam pemasangan angkur-angkur untuk rangka baja dimana jarak-
jarak/kedudukan angkur-angkur harus tetap dan akurat untuk mencegah ketidak cocokan dalam
erection, untuk ini harus dijaga agar selama pengecoran angkur-angkur tersebut tidak bergeser,
misalnya dengan mengelas pada tulangan kolom/balok atap.
g. Kegagalan dalam erection ini menjadi tanggung jawab Penmborong sepenuhnya, oleh sebab itu
Pemborong diminta untuk memberi perhatian khusus pada masalah erection ini.
i. Semua pelat-pelat atau elemen yang rusak setelah difabrikasi, tidak akan diperbolehkan dipakai
untuk erection.
k. Untuk pekerjaan erection dilapangan, Pemborong harus menyediakan tenaga ahli dalam bidang
konstruksi baja yang senantiasa mengawasi dan bertanggung jawab atas pekerjaan erection.
Tenaga ahli untuk mengawasi pekerjaan erection tersebut harus mendapat persetujuan tertulis
dari Direksi/Pengawas.
10. Pengecatan
a. Persiapan pengecatan
Semua permukaan konstruksi sebelum dicat harus bebas dari :
- Lapisan mill, yaitu lapisan tipis mengkilap yang berasal dari Rolling Mill
- Karet
- Minyak Oil
- Dan lain-lain kotoran yang akan mengganggu melekatnya cat pada permukaan
b. Pengecatan
Setelah diadakan persiapan pengecatan seperti tersebut diatas, maka elemen Konstruksi dicat
dasar I dilakukan sebagai berikut :
Type Cat : Ex. Dulux
Ketebalan : 35 Micron
Cat dasar I tersebut minimal I lapis atau sampai memperoleh hasil pengecatan yang rata sama
tebalnya.
Cat dasar II dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut :
Type cat : Ex. Dulux
Ketebalan : 35 Micron.
Cat dasar II baru boleh dilakukan setelah cat dasar I betul-betul kering dan di amplas, minimal I
lapis atau sampai memperoleh hasil pengecatan yang rata sama tebalnya. Apabila Cat dasar II
dilakukan sebelum Cat Dasar I mongering dengan baik sehingga timbul bentolan-bentolan pada
permukaan Cat, maka Direksi/Pengawas akan memerintahkan Pengawas agar Cat Dasar II
tersebut diamplas dan dilakukan lagi pengecatan Cat Dasar II atas beban Pemborong.
c. Cat Finish
d. Khusus untuk bagian permukaan Baja yang akan dibungkus beton (kalau ada), maka bagian
permukaan tersebut tidak perlu dicat dasar maupun finish.
e. Pengecatan primer maupun finish harus dilakukan dengan cara spray, bukan dengan cara kuas.
f. Pengecatan finising dilakukan terhadap semua titik las sambungan, setelah selesai pemasangan
/ perakitan. Dibenarkan ada bekas titik las yang tertinggal tanpa di cat.
g. Lakukan koreksi menyeluruh terhadap rangka konstruksi atap setelah selesai terpasang,
termasuk mur dan baut apakah sudah dilakukan pengecatan dengan rapi dan keseluruhan.
1. Ketentuan umum
Pekerjaan yang perlu mock-up (dibuat contoh untuk disetujui Direksi) adalah pekerjaan :
a. Pasangan dan plesteran dinding.
b. Pengecatan dinding, plafond, pintu dan lain-lain.
c. Pasangan plafond
d. Pasangan kusen pintu dan jendela
e. Pasangan keramik lantai maupun dinding
f. Pasangan Aluminium Composite Panel (ACP)
g. Pasangan batu alam susun sirih
h. Dan Item Lainya yang mempunyai Texture Visual
2. Sistem kerja
Sebelum pekerjaan tersebut dimulai, pemborong harus melakukan contoh hasil pekerjaan (mock-
up) pada satu ruang, Direksi akan menilai mock-up yang ada dan sebelum mock-up disetujui oleh
Direksi, Pemborong tidak dibenarkan untuk melanjutkan pekerjaan sejenis pada ruang lainnya.
Bahan yang akan di buat untuk mock-up harus terlebih dahulu mendapatkan persetujuan / ACC dari
pihak Konsultan Perencana.
Pekerjaan finishing harus rapih dan kwalitas yang sesuai dengan yang diharapkan. Penyelesain
pekerjaan ini merupakan tolok ukur utama apakah pengejaan Proyek ini berhasil atau tidak, sesuai
atau tidak. Akan sangat terlihat baik oleh masyarakat umum maupun oleh pihak – pihak terkait.
Kerapihan merupakan hal utama, sehingga dalam pengerjaannya diperlukan tenaga – tenaga yang
ahli dan terampil dibidangnya. Pergunakan alat – alat yang sesuai dengan karakter bahan yang
dipakai ataupun spesifikasinya. Hal ini diperlukan untuk mencegah adanya kerusakan bahan karena
alat yang tidak sesuai. Termasuk alat – alat bantu yang dipergunakan, harus benar – benar dalam
kondisi baik.
Pasal 25
Pekerjaan Pasangan dan Plesteran
1. Lingkup pekerjaan
Yang dimaksud dengan pasangan dan plesteran dinding adalah segala macam pasangan dinding
untuk dinding penyekat, baik terhadap dinding luar maupun dalam ruangan.
2. Persyaratan bahan
Bahan untuk dinding ruangan kering adalah bata Ringan (Hebel) dengan ukuran:
panjang 60cm , lebar 20 cm, dan tebal 10 cm, untuk penyekat ruangan basah batu abata merah,
dengan kwalitas baik. Kontraktor pelaksana harus mengajukan sample terlebih dahulu, guna
mendapatkan persetujuan dari konsultan Perencana.
3. Peralatan penunjang
Sarana yang harus dipersiapkan dalam pelaksanaan pekerjaan ini , antara lain :
- Waterpas
- Sendok tembok
- Martil karet
- Meteran
- Steger besi maupun kayu/bambu dan lain – lain.
1. Lingkup pekerjaan
Yang dimaksud dengan plesteran adalah segala macam pekerjaan untuk perapihan penutupan
pasangan dinding agar lebih rapi dan halus. Dilaksanakan pada keseluruhan pasangan dinding bata
lain – lain, untuk kedua permukaan dinding penyekat, baik terhadap dinding luar maupun dalam
ruangan.
2. Persyaratan bahan
Bahan untuk plesteran dan acian adalah semen kwalitas baik, setara tiga roda dan pasir pasang
kwalitas baik. Dengan ketentuan bahan sebagai berikut :
- Pasir tidak boleh tercampur dengan lumpur (digunakan pasir pasang) sesuai dengan
sample yang telah disetujui.
- Penggunaan air untuk adukan tidak boleh menggunakan air got (harus air yang telah
lulus uji, sesuai dengan ketentuan yang berlaku ).
3. Peralatan penunjang
Sarana yang harus dipersiapkan dalam pelaksanaan pekerjaan ini , antara lain :
- Waterpas
- Sendok tembok
- Martil karet
- Benang, dan lain sebagainya.
2. Persyaratan bahan
Matrial yang layak untuk dipasang sebagai lantai maupun dinding adalah :
Penutup Lantai 1 & 2 : Homogenous 60x60 (ex. Indogress/Setara)
Penutup Lantai KM/Toilet : Homogenous 60x60 (ex. Indogress/Setara)
Penutup Dinding KM/Toilet : Homogenous 30x60 (ex. Indogress/Setara)
3. Peralatan penunjang
Sarana yang harus dipersiapkan dalam pemasangan lantai keramik antara lain :
- Waterpas
- Sendok tembok
- Martil karet
- Meteran
- Mesin potong keramik,
- Dan lain – lain.
Baik di atas tanah maupun di atas plat beton sebelum adukan yang merupakan perekat pasangan
keramik terlebih dahulu harus dihamparkan pasir pasang dengan tebal 5 cm yang berfungsi sebagai
media peralatan lahan di samping untuk keperluan lalu lintas udara.
Di atas hamparan adukan dengan perbandingan 1:4 keramik sudah dapat ditata sebagai kepala
dengan ketentuan as ruangan. Kepala dipasang di areal kiri dan kanan ruangan, dengan bantuan
acuan ini pemasangan keramik bagian tengah dapat dilakukan dengan bantuan tarikan benang.
Untuk meratakan ketinggian permukaan keramik gunakan martil berkepala karet akan tidak
membuat cacat permukaan keramik.
Naat untuk keramik dibuat sama dengan ukuran 1 s/d 3 mm sebagai pengikat antara satu dengan
lainnya, dengan naat sebesar 3/5 mm tadi,
diisi dengan bubuk semen sesuai warna keramik. Lantai beton harus dibersihkan dari sampah,
kemudian diurug pasir setinggi 5 cm dan dibatasi stereo form ukuran 5x2 cm dengan jarak 100x100
cm. Homogenous sebelum dipasang harus disortir untuk menentukan ukuran dan warna yang sama,
agar didapat hasil yang baik, pemasangan keramik dilakukan paling akhir.
Pemasangan plint keramik menggunakan ukuran 10 x 60 cm, dipasang rata tembok, sehingga pada
saat pekerjaan plesteran harus disisakan untuk pemasangan plint.
Pasal 26
Pekerjaan Pengecatan dan Laburan
1. Lingkup Pekerjaan
- Pengecatan dinding dilakukan pada bagian luar dan dalam serta pada seluruh detail yang
disebutkan/ditunjukkan dalam gambar.
- Pengecatan dak beton dan kolom.
2. Syarat-syarat bahan
a. Jenis, merk dan warna cat harus mendapat persetujuan dari Konsultan Perencana, atau Pemberi
Tugas dalam hal ini adalah KANTAH BPN PANDEGLANG
3. Syarat-syarat Pelaksanaan
a. Semua bidang pengecatan harus betul-betul rata, tidak terdapat cacat (retak, lubang, dan pecah-
pecah).
b. Pengecatan tidak dapat dilakukan selama masih adanya perbaikan pekerjaan pada bidang
pengecatan.
c. Bidang pengecatan harus bebas dari debu, lemak, minyak, dan kotoran-kotoran lain yang dapat
merusak atau mengurangi mutu pengecatan.
d. Seluruh bidang pengecatan diplamur dahulu sebelum dilapis dengan cat dasar, bahan plamur
dari produk yang sama dengan cat yang digunakan.
e. Pengecatan dilakukan setelah mendapat persetujuan dari Direksi Pengawas serta pekerjaan
instansi di dalamnya telah selesai dengan sempurna
f. Contoh bahan yang digunakan harus lengkap dengan label pabrik pembuatannya.
g. Contoh bahan yang telah disetujui dipakai sebagai standard untuk pemeriksaan/penerimaan
bahan yang dikirim oleh kontraktor ke tempat pekerjaan.
h. Hasil pekerjaan harus baik, warna dan pola textur merata, tidak terdapat noda-noda pada
permukaan pengecatan. Harus dihindarkan terjadinya kerusakan akibat dari pekerjaan-
pekerjaan lain.
i. Kontraktor harus bertanggung jawab atas kesempurnaan dalam pekerjaan dan
perawatan/keberhasilan pekerjaan sampai penyerahan pekerjaan.
j. Bila terjadi ketidak sempurnaan dalam pengerjaan, atau kerusakan, kontraktor harus
memperbaiki/mengganti dengan bahan yang sama mutunya tanpa adanya tambahan biaya.
k. Kontraktor harus menggunakan tenaga-tenaga kerja terampil / berpengalaman dalam
pelaksanaan pekerjaan pengecatan tersebut, sehingga dapat tercapainya mutu pekerjaan yang
baik dan sempurna.
l. Semua bahan yang akan dicat harus diamplas terrlebih dahulu dan diplamur dengan plamur
bahan yang sesuai, diamplas halus kemudian dicat dengan cat dasar satu kali sapu dan dicat
penutup (warna) dua kali sapu.
Pasal 27
Pekerjaan kusen, pintu dan jendela ALUMINIUM
1. Lingkup Pekerjaan
a. menyediakan tenaga kerja, bahan-bahan, peralatan dan alat Bantu lainnya untuk
melaksanakan pekerjaan sehingga dapat dicapai hasil pekerjaan yang baik dan sempurna.
b. Pekerjaan ini meliputi seluruh kusen pintu, kusen jendela, kusen
bovenlicht seperti yang dinyatakan/ditunjukkan dalam gambar serta shop drawing dari
Kontraktor.
2. Persyaratan Bahan
a. Kusen ALUMINIUM yang digunakan :
-Bahan : Dari bahan ALUMINIUM Warna polos/Putih.
-Bentuk Profil : Sesuai shop drawing yang disetujui Perencana/ Konsultan
Pengawas..
b. Persyaratan bahan yang digunakan harus memenuhi uraian dan syarat-syarat dari
pekerjaan ALUMINIUM serta memenuhi ketentuan-ketentuan dari pabrik yang
bersangkutan.
c. Konstruksi kusen ALUMINIUM yang dikerjakan seperti yang ditunjukkan dalam detail
gambar termasuk bentuk dan ukurannya.
d. Bahan yang akan diproses fabrikasi harus diseleksi terlebih dahulu sesuai dengan bentuk
toleransi ukuran, ketebalan, kesi-kuan, kelengkungan dan pewarnaan yang dipersyaratkan.
e. Untuk keseragaman warna disyaratkan, sebelum proses fabrikasi warna profil-profil harus
diseleksi secermat mungkin. Kemudian pada waktu pabrikasi unit-unit, jendela, pintu partisi
dll, profil harus diseleksi lagi warnanya sehingga dalam tiap unit didapatkan warna yang
sama.
Pekerjaan pemotongan, punch dan drill, dengan mesin harus sedemikian rupa sehingga
diperoleh hasil yang telah dirangkai untuk jendela, dinding dan pintu mempunyai toleransi
ukuran sebagai berikut :
- Untuk tinggi dan lebar 1 mm
- Untuk diagonal 2 mm
f. Accessories
Sekrup dari stainless steel galvanized kepala tertanam weather strip dari vinyl, pengikat alat
penggantung yang dihubungkan dengan ALUMINIUM terbuat dari steel plate tebal 2 – 3
mm, dengan lapisan zink tidak kurang dari (13) micron sehingga dapat bergeser.
g. Bahan Finishing
Treatment untuk permukaan kusen jendela dan daun pintu yang bersentuhan dengan
bahan alkaline seperti beton, aduk atau plester dan bahan lainnya harus diberi lapisan finish
dari laquer yang jernih atau anti corrosive treatment dengan insulating war-nish seperti
asphaltic varnish atau bahan insulation lainnya.
3. Syarat-Syarat Pelaksanaan
Pasal 28
Pekerjaan Pintu, Jendela kaca Rangka ALUMINIUM
1. Lingkup Pekerjaan
a. Menyediakan tenaga kerja, bahan-bahan, peralatan dan alat-alat bantu lainnya untuk
melaksanakan pekerjaan sehingga dapat tercapai hasil pekerjaan yang baik dan
sempurna.
b. Pekerjaan ini meliputi pembuatan daun pintu dan jendela panil kaca seperti yang
ditunjukkan dalam gambar.
2. Persyaratan Bahan
a. Bahan Rangka
- Dari bahan ALUMINIUM framing system, dari produk dalam negeri yang ex. Alcan,
latalan atau setaraf disetujui Perencana/Konsultan Pengawas. Type yang
dipergunakan untuk rangka kaca luar adalah jenis frameless.
- Bentuk dan ukuran profil disesuaikan terhadap shop drawing yang telah disetujui
Perencana/Konsultan Pengawas.
- Warna profil ALUMINIUM polos.
- Bahan yang diproses pabrikan harus diseleksi terlebih dahulu dengan seksama
sesuai dengan bentuk toleransi, ukuran, ketebalan, kesikuan, kelengkungan
pewarnaan yang disyaratkan oleh Perencana/Konsultan pengawas.
- Persyaratan bahan yang digunakan harus memenuhi uraian dan syarat-syarat dari
pekerjaan ALUMINIUM serta memenuhi ketentuan-ketentuan dari pabrik yang
bersangkutan.
- Daun pintu dengan konstruksi panel kaca rangka ALUMINIUM, seperti yang
ditunjukan dalam gambar, termasuk bentuk dan ukurannya.
b. Penjepit Kaca
Digunakan penjepit kaca dari bahan karet yang bermutu baik dan memenuhi persyaratan
yang ditentukan dari pabrik, pemasangan disyaratkan hanya 1(satu) sambungan serta
harus kedap air dan bersifat structural seal.
3. Syarat-Syarat Pelaksanaan
a. Sebelum melaksanakan pekerjaan, Kontraktor diwajibkan untuk meneliti gambar-gambar
yang ada dan kondisi dilapangan (ukuran dan lubang-lubang), termasuk mempelajari
bentuk, pola, lay-out/penempatan, cara pemasangan, mekanisme dan detail-detail sesuai
gambar.
b. Sebelum pemasangan, penembunan bahan-bahan pintu, ditempat pekerjaan harus
ditempatkan pada ruang/tempat dengan sirkulasi udara yang baik, tidak terkena cuaca
langsung dan terlindung dari kerusakan dan kelembaban.
c. Harus diperhatikan semua sambungan siku untuk rangka ALUMINIUM dan penguat lain
yang diperlukan hingga terjamin kekuatannya dengan memperhatikan/menjaga kerapian
terutama untuk bidang-bidang tampak tidak boleh cacat bekas penyetelan.
d. Semua ukuran harus sesuai gambar dan merupakan ukuran jadi.
e. Daun pintu
1. Jika diperlukan, harus menggunakan sekrup galvanized atas persetujuan
Perencana/Konsultan Pengawas tanpa meninggalkan bekas cacat pada permukaan
yang tampak.
Untuk daun pintu panel kaca setelah dipasang harus rata dan tidak bergelombang dan
tidak melintir.
Pasal 29
Pekerjaan Alat-alat Gantung dan Kunci.
1. Ketentuan bahan
a. Semua daun pintu harus dipasang kunci jenis silinder double slaag dengan 3 buah
kunci di chrome warna darkbrown setara dengan logo.
b. Setiap daun pintu dilengkapi dengan 3 (tiga) buah engsel steinlees ukuran 15 cm
dengan finish chrome, warna dark brown.
Jenis, merk dan ukuran semua alat-alat gantung dan kunci sebelum dipasang harus
mendapat persetujuan Pemberi Tugas. Dalam hal ini adalah KANTAH BPN
PANDEGLANG.
2. Sistem kerja
a. Pemasangan lubang dudukan kunci maupun grendel tanam harus pas besarnya,
tidak longgar dan lubang anak kunci dan grendael tersebut harus tepat.
b. Setelah lubang dudukan kunci dibuat, kunci tidak boleh langsung dipasang, tetapi
manunggu setelah pintu dicat baru kunci boleh dipasang.
1. Lingkup Pekerjaan
- Meliputi keseluruhan penutup langit – langit, baik yang langsung dakting maupun yang
menggunakan plafond lainnya. Area pemasangan adalah dari lantai satu hingga lantai tiga. Atau
sesuai dengan gambar Rencana yang telah ada.
- Pekerjaan meliputi pembuatan rangka dan penutup rangka, juga termasuk perkuatan atau
penggantung. secara menyeluruh, termasuk finising dan perapihan.
- Seluruh overstek tanpa terkecuali dari lantai satu hingga lantai tiga, dengan jenis dan bahan sesuai
dalam gambar rencana.
2. Syarat-syarat bahan
a. Jenis, merk, dan ukuran rangka plafond harus mendapat persetujuan dari Konsultan Perencana
ataupun Pemberi Tugas. Dalam hal ini adalah KANTAH BPN PANDEGLANG.
b. Rangka plafond bahan Hollow ukuran 20x40mm, 40x40mm, kwalitas baik, lurus dan tidak
bengkok – bengkok. Sebelum dipasang rangka harus terlebih dahulu dicat dasar, untuk
mencegah berkaratnya rangka plafond ini. Untuk bahan – bahan pekerjaan ini, kepada
Kontraktor Pelaksana diharapkan untuk mengajukan terlebih dahulu sample sebelum dilakukan
pemesanan dan pemasangan.
c. Penutup langit – langit menggunakan gypsum ketebalan 9 mm, utuk penutup plafond kamar mandi
menggunakan calsiboard ukuran 6 mm kwalitas baik sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
3. Syarat-syarat Pelaksanaan
a. Bentuk rangka plafond dalam ukuran 120 x 60 cm, dengan perkuatan dan gantungan
secukupnya. Gunakan waterpass dan benang agar tercapai hasil kerja yang benar dan bagus.
Tingkat kevertikalannya harus benar – benar diperhatikan.
b. Pergunakan paku ramset yang sesuai ukuran pada tiap –tiap sudut pertemuan hollow.
c. Pemasangan terlebih dahulu dengan cara pembuatan mal / acuan, ukur luas dan kesikuan
bangunan lalu bagi dan perhatikan arah posisi plafond, seusia ruangan yang ada. Hal ini
dimaksudkan untuk menghindarkan adanya potongan yang tidak seimbang.
d. Pasang rangka secara keseluruhan dalam satu ruangan sampai selesai, dan cek posisinya sekali
lagi apakah sudah waterpass atau belum. Periksa semua titik pertemuan dan gantugan, pastikan
sudah terpasang dalam jumlah yang cukup.
e. Tutup rangka plafond dengan gypsum polos dengan ketebalan 9 mm dengan rapi. Perhatikan
sambungan, agar ditutup dengan kompon dan lakukan pengamplasan supaya benar – benar
halus dan rata.
f. Hasil pekerjaan harus baik dan rapi, serta kuat. Tidak dibenarkan adanya pasangan plafond yang
bergelombang atau tidak waterpass.
h. Bila terjadi ketidak sempurnaan dalam pengerjaan, atau kerusakan, kontraktor harus
memperbaiki/mengganti dengan bahan yang sama mutunya tanpa adanya tambahan biaya.
Pasal 31
Pekerjaan Taman dan Halaman
1. Lingkup Pekerjaan
- Meliputi keseluruhan pekerjaan luar bangunan, termasuk pembuatan jembatan beton, pembuatan
pagar, pemasangan paving blok, beton kansteen, saluran dan lain – lainnya. Area kerja
sebagaimana terlihat dalam gambar rencana. Atau sesuai dengan gambar Rencana yang telah
ada.
- Pembentukan area parkir dan penempatan titik – titik sumur resapan, sesuai dengan kebutuhan.
Sesuai dengan gambar rencana.
2. Syarat-syarat bahan
a. pavingblock yang dipergunakan, ukuran ketebalan 8 cm kwalitas baik, dengan bentuk empat
persegi panjang.
b. Beton kansteen yang dipergunakan ukuran 15 x 30 cm kwalitas baik, dengan sistem pasangan
dengan adukan 1:4. Termasuk pasir urug setebal 10 cm di bawah beton kansteen.
c. Pembersihan dan pembuangan sampah, termasuk kebersihan area kerja tetap menjadi tanggung
jawab Kontraktor Pelaksana, juga penyiraman selama dalam masa penanaman.
3. Syarat-syarat Pelaksanaan
a. Tentukan peninggian dan kontur taman sesuai yang di rencanakan. Pergunakan waterpass dan
meteran agar dapat terbentuk tanaman sesuia yang diharapkan.
b. Pergunakan tanah merah yang baik, agar tanaman mudah tumbuh. Lakukan pendangiran
dengan baik dan benar, termasuk pemupukan dan penyiraman.
c. Pilih Pohon dan rumput yang sehat sebelum di lakukan penanaman, ganti rumput yang telah busuk
/ kering dengan rumput atau pohon yang mati / kering.
Pasal 32
Pekerjaan Aluminium Composite (ACP)
1. Lingkup Pekerjaan
- Pekerjaan ini meliputi tenaga kerja, bahan-bahan dan peralatan yang dipergunakan untuk
melaksanakan pekerjaan pemasangan panel aluminium composite seperti yang diajukan dalam
gambar rencana.
- Pekerjaan ini dilaksanankan pada tempat-tempat seperti yang dianjurkan dalam gambar.
2. Pengendalian pekerjaan
- Semua pekerjaan yang disebutkan dalam bab ini harus dikerjakan sesuai dengan standart dan
spesifikasi dari pabrik.
- Bahan – bahan yang harus memenuhi standart antara lain :
− AA The aluminium Association
− AAMA Architectural Aluminium Manufactures Association
− ASTM E84 American Standart for Testing Materials
− DIN 4109 Isolasi udara
− DIN 52212 Penyerapan Sura
− DIN 53440 Pengurangan getaran
− DIN 17611/BS 1615 Proses anoda
− DIN 476 Panel Kerangka
− AS. 1530 Hasil Indikasif
3. Komponen
- Bracket/angkur galvanis atau material aluminium ekstrussion.
- Rangka vertikal dan horizontal dari material aluminium ekstrussion
- Rangka tepi panel aluminium composite dan reinforoe dari material dari material
aluminium ekstrussion.
- Wrana akan ditentukan oleh Perencana atau Sesuai Keingingan Owner Kegiatan
- Warna Sealant yang dipakai disesuaikan dengan warna ACP, dengan lebar tidak
lebih dari 5 mm
4. Bahan - bahan
Bahan : Aluminium composite panel
Tebal : 4 mm
Length (mm) : 2440, 4880 or custum
Width (mm) : 1220 or custom
Bending Strengh : 45-50kg/4mm
Heat Deformation : 200 0C
Sound Insulation : 24-39 Db
Finished : Flouracarbond factory firished/PVdF Coating
Warna : Sesuai gambar Rencana
Merek : Seven atau setara
Sampel Matrial : Kontraktor diharuskan menyerahkan contoh-contoh bahan kepada direksi
lapangan untuk mendapatkan persetujuan Pemberi Tugas
PASAL 33
PEKERJAAN MEKANIKAL, ELEKTRIKAL & PLUMBING (MEP)
1. Lingkup Pekerjaan
1.1.1 Pekerjaan Mekanikal dan Plumbing
a. Sistem Penyediaan dan Distribusi Air-Bersih
b. Sistem Drainase
c. Sistem Pembuangan Limbah Cair dan Padat
d. Sistem Perlawanan Kebakaran (Fire Extinguisher)
e. Sistem Tata-Udara dan Ventilasi
f. Sistem Daya Cadangan (Back Up) Genset Pekerjaan Elektrikal
1.3 Gambar-Gambar
1.3.1 Gambar Perancangan
[Link] Yang dimaksud dengan gambar perancangan adalah gambar- gambar yang
menyertai/baglan dari buku ini, gambar-gambar penjelas dan segala gambar-
gambar addendumnya yang merupakan kesatuan dari gambar perancangan.
[Link] Kontraktor harus mempelajari gambar-gambar perancangan dan secepatnya
melaporkan, kepada DIREKSI PENGAWAS/KONSULTAN apabila terdapat hal-
hal yang dianggap kurang jelas, dalam waktu tidak lebih dari 3 (tiga) minggu
setelah diadakannya rapat pra-pelaksanaan.
[Link] Gambar-gambar dalam perancangan ini adalah merupakan sebuah system
yang harus bekerja/berfungsi dengan baik, dan apabila dalam perancangan tidak
mencantuKonsultanan semua detail konstruksi seperti detail pemasangan, detail
penumpu, detail pengikat dan detail lainnya terutama yang berhubungan dengan
peralatan yang akan disediakan/ dipasang oleh Kontraktor.
[Link] Walaupun demikian, Kontraktor tetap harus memasang instalasi tersebut sesuai
dengan praktek pelaksanaan terbaik yang memberikan hasil terbaik karena
dalam perancangan yang ditawarkan adalah sebuah sistem, untuk itu kontraktor
diharuskan membuat shop drawing yang terinci untuk menjelaskan hal-hal
tersebut di atas.
[Link] Dalam hal ada keraguan yang ditimbulkan oleh kesalahan penggambaran
dan/atau ketidaksesuaian lain maka Kontraktor harus mengajukan pertanyaah
untuk mendapat penjelasan selambat-lambatnya 2 (dua) minggu sebelum
masalah tersebut berakibat di lapangan baik dalam arti "pemasangan" atau
"pemesanan barang".
[Link] Barang/ peralatan yang diserahkan adalah dari kualitas yang baik.
[Link] Bahwa barang-barang dan unit mesin di dalam instalasi yang diserah-kannya
seluruhnya merupakan barang baru dan diperkuat dengan surat pemyataan
keaslian atau "Letter of Origin".
[Link] Cara pelaksanaan dan pekerjaan dilakukan dengan wajar dan baik.
[Link] Instalasi yang diserahkannya dapat bekerja dengan baik tanpa mengu-rangi atau
menghilangkan bahan-bahan atau peralatan-peralatan yang seharusnya
disediakan walaupun tidak disebutkan secara nyata dalam Buku ini atau tidak
dinyatakan secara tegas dalam Gambar-gambar yang menyertai Buku ini.
1.4.4 Klaim atau Tuntutan,
[Link] Untuk segala macam pengadaan barang dan cara pemasangannya, PEMBERI
TUGAS harus bebas dari segala tuntutan/claim atas hak-hak khusus seperti hak
patent, lisensi dan sebagainya.
[Link] Bila ada hal-hal seperti tersebut di atas, Kontraktor wajib mengurus dalam artian
meyelesaikan segala sesuatu perijinan/ biaya/lisensi yang berhubungan dengan
hal tersebut dan dilakukan atas beban biaya Kontraktor.
1.5 Koordinasi Kerja
1.5.1 Mengingat bahwa pekerjaan satu dan lainnya sangat erat kaitannya terhadap jadwal
pdaksanaan, maka pekerjaan harus dilaksanakan dan diselesaikan sesuai dengan jadwal
yang telah disetujui bersama antara Kontraktor dengan DIREKSI PENGAWAS/KONSULTAN.
1.5.2 Dalam membuat rencana serta gambar-gambar kerja, Kontraktor harus sudah
memperhitungkan unsur-unsur kerjasama dengan Kontraktor/ sub-Kontraktor pekerjaan lain
dan/atau instansi-instansi lain yang berkaitan dengan pekerjaan tersebut
1.5.3 Selama pekerjaan beriangsung Kontraktor diwajibkan melakukan koordinasi dengan
Kontraktor/sub Kontraktor lain, dalam pengertian bahwa apabila urutan/rangkaian proses dan
atau kerja dari sistem yang dikerjakan oleh Kontraktor tersebut di atas melibatkan beberapa
Kontraktor lain dengan paket pekerjaannya masing-masing, atas petunjuk DIREKSI
PENGAWAS/KONSULTAN.
1.14.5 Mengamankan jaringan instalasi listrik yang sudah terpasang dengan mengisolasi
ujung kabel dan memutuskan dari MCB agar jaringan kabel tersebut tidak
bertegangan.
1.14.6 Melindungi unit mesin/pompa yang sudah terpasang dari pengaruhcuaca, kotoran
dan kemungkinan lainnya.
1.15 Kondisi Cuaca/Lingkungan
1.15.1 Seluruh peralatan dan unit mesin yang disediakan dan dipasang oleh Kontraktor
harus dapat beroperasi dengan kondisi cuaca sebagai berikut:
a. Suhu di udara terbuka : 55°C maksimum
b. Suhu dalam ruangan non-AC : 40°C maksimum
c. Kelembaban nisbi : 95% maksimum
d. Kecerahan matahari : 95%
1.15.2 Apabila peralatan dan unit mesin yang hendak disediakan/dipasang oleh
Kontraktor ternyata tidak dapat beroperasi pada kondisi cuaca diatas maka
Kontraktor harus mengganti peralatan/unitmesin tersebut dengan yang sesuai dan
melaporkan kepada KONSULTAN untuk mendapat penjelasan seperlunya.
1.16 Ketentuan Keseragaman Merk
1.16.1 Selama tidak ditentukan lain, Kontraktor harus memasang peralatan dengan merk
yang sama untuk seluruh peralatan yang sejenis, misalnya katup, pompa,
pressure gage, pipa dan lainnya, pada seluruh pekerjaan pada proyek ini dengan
standard yang telah ditetapkan/ persetujuan DIREKSI
PENGAWAS/KONSULTAN.
1.16.2 Kekecualian terhadap butir diatas adalah peralatan yang didatangkan bersama
dengan peralatan lain, dalam arti peralatan tersebut merupakan suatu komponen
dari suatu peralatan yang lebih besar.
1.16.3 Perbedaan merk untuk suatu peralatan yang sejenis hanya dapat dilakukan
apabila terjadi kondisi keterbatasan variasi produksi yang ada, dan hal ini hanya
boleh dilakukan apabila ada ijin tertulis dari DIREKSI PENGAWAS/KONSULTAN.
2. PEKERJ AAN STTEM AIR & BERSIH, AIR KOTOR & DRAINASE TAPAK
2.1 Lingkup Pekenan
Kontraktor harus menawarkan lingkup pekerjaan yang dijelaskan baik dalam spesifikasi tekrtsini
ataupun yang tertera dalam gambar perancangan. Bila temyata terdapat pertedaan antara spesifikasi
bahan dan atau peralatan yang dipasang dengan spesiflkasj teknis yang dipersyatatkan pada pasal
ini, merupakan kewajiban Kontraktor untuk mengganti bahan atau peralatan tersebut atas persetujuan
WREKSI PENGAWAS/KONSULTAN, sehngga sesuai dengan ketentuan pada pasal ini tanpa adanya
ketentuan tambahan biaya. Lingkup pekerjaan yang dimaksud adalah sebagai berikut
2.1.1 Instatesi Air-B ersih dari deep well menuju bangunan.
2.1.2 Instatesi Air-kotor dafam bangunan sampai Septic Tank.
2.1.3 Instalasi Drainase Bangunan dan Halaman.
2.1.4 Pekerjaan Instalas Daya Listrik Peralatan Pompa.
2.1.5 Peralatan bantu dan pendukung lainnya yang diperiukan untuk kesem-purnaan kerja sistem,
meskipun peralatan tersebut tidak disebutkan secara jelas/ terinci dalam Gambar rancangan
dan Persyaratan Teknis.
2.1.6 Testing dan Commissioning seluruh system hingga berjalan dengan baik
dan sempurna sesuai dengan spesifikasi teknis
a. Alat-alat yang digunakan harus dalam keadaan baik dan dari konstruksi yang mutakhir.
b. Peralatan utama yang diperlukan dan harus disediakan adalah,
• Alat bor mesin
• Pompa air
• Peralatan pengukur ketinggian muka air
• Meteran air (Water-meter)
• Pengukur waktu (Stop-watch)
• Generator
• Tool-kit secukupnya
• Temporary casing
c Untuk pemasangan pipa raising 50mm dan screen, lubang pengeboran harus 100 mm dan
dipasang temporary casing 100 mm.
d. Harus dibuat laporan dan diserahkan kepada DIREKSI PENGAWAS/ KONSULTAN
sebelum pemasangan pipa-pipa sumur tentang :
• Logging test,
• Formation sample,
• Konstruksi sumur.
4. Pengujian
a. Draw down test,
Dilakukan dengan mengatur pumping flow rate pada posisi laju aliran yang konstan,
kemudian dilakukan pengukuran dan pencatatan dari sejak pompa dijalankan sampai
dengan 1440 menit, dandisebut sebagai lembaran 'pumping test.
b. Recording test,
Dilakukan pengukuran ketinggian muka air dari sejak pompa dimatikan sampai dengan
180 menit, disebut sebagai lembaran 'recovery test'.
c. Kurva Pumping Test,
Hasil dari 'Draw down test' dan 'Recovery test' kemudian diplot (digambar dalam bentuk
kurva) sebagai kurva dari 'pumping test' dan 'recovery test' sheet.
5. Pompa Sumur
a. Sumur harus dilengkapi dengan sebuah pompa.
b. Pompa harus memenuhi persyaratan berikut,
• Jenis : submersible pump
• Tinggi tekan : disesuaikan dengan muka air terendah
• Kapasrtas isap : sesuai dengan gambar perencanaan.
• Daya listrik : sesuai dengan gambar perencanaan.
• Panel control : Mati-hidup pompa diatur oleh floating valve pada ground
reservoir, dilengkapi pressure switch control.
- Dengan demikian pompa akan bekerja secara otomatis bila muka air
dalam ground reservoir mencapai titik setting tertentu.
6. Panel Kontrol Start-Stop Dan Monitor Kontruksi Panel
a. Panel harus terbuat dari pelat baja dengan ketebalan minimal 2 mm, rangka plat baja
kontruksi las dicat meni tahan karat dan cat finish (cat bakar) warna abuabu.
b. Tekukan-tekukan dan sambungan-sambungan antara pelat satu dengan lainnya harus
dibuat rapi sehingga tidak terdapat tonjolan-tonjolan bekas las.
c. Panel dilengkapi dengan pintu luar, pintu dalam, kunci dan handle sehingga aman tetapi
mudah pemeliharaan.
d. Komponen-komponen panel harus semerk.
e. Motor motor listrik yang mempunyai rating 5,5 HP keatas harus dilengkapi dengan 'wye-
delta starting unit.
f. Hal tersebut diatas tidak berlaku bagi mesin mesin yang telah memiliki built-in starting
device.
g. Pemasangan komponen-komponen panel harus diatur rapi dan diperkuat sehingga
tahan oleh gangguan mekanis.
h. Kabel yang digunakan dari jenis NYAF dan harus mempunyai kemampuan hantar arus
setingkat lebih besar dari rating pengaman rangkaian dimana kabel digunakan.
i. Pemasangan kabel instalasi harus menggunakan sepatu kabel.
j. Komponen-komponen switching pada panel seperti magnetic contactor timer switch,
disconnecting switch dan lain lain harus mempunyai rating setingkat lebih tinggi dari
rating pengaman rangkaian komponen-komponen tersebut.
k. Untuk pemasangan kabel instalasi di dalam panel harus disediakan terminal
penyambungan yang disusun rapi dan ditempatkan pada lokasi yang tepat dalam arti
kata pada bagian panel dimana kabel instalasi tersebut masuk dan keluar dari terminal
penyambungan.
I. Pada setiap komponen panel, sepatu kabel, kabel instalasi serta terminal penyambungan
kabel harus diberi indikasi/ label/ sign plates mengenai nama terminal/ peralatan yang
diatur instalasi listriknya. Label itu harus terbuat dari plat alumunium atau sesuai standard
DIN 4070.
Kemampuan Operasi
1. Panel Kontrol Start-stop dan Monitor Pompa Air Bersih
a. Panel kontrol pompa harus dapat beroperasi untuk:
- Menjalankan dan mematikan pompa.
- Mengatur pengoperasian sistem pompa distribusi air bersih secara bergantian.
- Pengaturan seperti tersebut di atas harus dapat dilakukan baik secara otomatis
ataupun secara manual.
- Pemilihan tersebut harus dapat dilakukan melalui saklar pilih (selector switch).
- Panel kontrol harus dilengkapi dengan alat peraga visual (wiring diagram yang
dilengkapi dengan indicator lamp), sehingga dari panel kontrol tersebut dapat
dimonitor operasi sistem pompa distribusi air bersih.
- Dari panel kontrol harus dapat diketahui bila kondisi air di dalam ground reservoir
telah mencapai level yang paling rendah
b. Operasi start-stop sistem Pompa Distribusi Air Bersih secara manual dilakukan
dengan menggunakan push-button normally open dan normally close dimana posisi
selector switch pada posisi normal.
c. Operasi otomatis dilakukan dengan menggunakan sensor switch WLC (water level
control) yang dipasang pada tank atas sehingga muka air menurun sampai dengan
batas setting - WLC (ON), maka salah satu pompa akan beroperasi sebaliknya
bila air telah mencapai batas level maksimum tertentu setting WLC (OFF),
maka pompa yang sedang beroperasi akan berhenti.
d. Operasi sistem pompa distribusi air bersih seperti tersebut di atas
akan terus bertangsung selama persediaan air di dalam ground reservoir berada
pada batasbatas maximum level, sedangkan apabila level air di dalam ground
reservoir telah mencapai batas-batas minimum level, maka pompa akan berhenti
secara otomatis. Pengaturan tersebut dilakukan dengan menggunakan alat
pengatur “water level control uni”’yang dilengkapi dengan elektroda.
e. Kondisi air yang paling rendah seperti disebutkan di atas harus dapat dimonitor pada
panel kontrol secara visual berupa diagram instalasi yang dilengkapi dengan lampu
indikator.
2. Panel Kontrol Start-stop Fuel Transfer Pump.
Panel kontrol pompa-pompa tersebut masing-masing harus dapat beroperasi untuk :
- Menjalankan dan mematikan pompa.
- Dari panel kontrol harus dapat memonitor operasi pompa yang dikontrolnya.
2.3 Pekerjaan Air Kotor
2.3.1 Lingkup Pekerjaan
Pemipaan air kotor dari dalam bangunan sampai buangan akhir septic tank
dengan sistem sesuai gambar perencanaan.
2.3.2 Persyaratan Bahan dan Peralatan
1. Pipa dan Riting
a. Untuk sistem pemipaan tegak, Pipa dan fitting yang digunakan dalam sistem pemipaan
ini harus dari jenis PVC dan berasal dari satu merk serta mengikuti SII1246-85 , SII 1448-
85 dan JIS.
b. Fitting dapat juga dari merk lain selama ada jaminan dari pabrik pembuat pipa bahwa
pipa yang diproduksi oleh pabrik itu menggunakan fitting standard ukuran yang
diproduksi oleh pabrik lain yang ditentukan olah pabrik pembuat pipa tersebut
c. Untuk hal tersebut diatas Kontraktor harus menyediakan potongan pipa dari berbagai
ukuran yang akan digunakan dan membuat contoh sambungan (mock up) antara pipa
dengan pipa dan pipa dengan fitting untuk ditunjukkan kepada DIREKSI
PENGAWAS/KONSULTAN dan mendapat persetujuan untuk penggunaan pipa dan
fitting tersebut serta memberikan jaminan purna jual untuk pipa dan fitting tersebut
d. Persyaratan material (kelas standard dan lainnya), ketentuan cara pemasangan seperti
yang dicantuKonsultanan pada bab terdahulu.
2. Sambungan
a. Untuk pipa kelas S-12.5 dengan diameter 50 mm atau lebih kecil menggunakan perekat
solvent cement.
b. Untuk pipa kelas S-16 dengan diameter lebih besar dari 50 mm menggunakan
sambungan dengan rubber-ring bell and spigot.
3. Persyaratan Pelaksanaan
2.3.3 Pemipaan
a. Semua pipa dan fitting yang dipakai dalam pekerjaan ini harus dari satu merk dan
standad yang sama.
b. Fitting harus terbuat dari bahan yang sama dengan bahan pipa.
c. Fitting harus dari jenis "injection moulded", sedangkan "Welded fitting" sama sekali tidak
diperkenankan untuk dipergunakan dalam sistem pemipaan.
d. Setiap sambungan berubah arah dibuat dengan WYE-45, TEE Sanitair atau
COMBINATION WYE-45 atau LONG RADIUS BEND dengan dean out dan untuk luar
bangunan harus dilengkapi dengan bak control.
e. Pipa vent service harus dipasang tidak kurang 15 cm di atas muka banjir alat sanitair
tertinggi dan dibuat dengan kemiringan minimum sebesar 1%.
f. Kemiringan pipa dibuat sesuai dengan yang dinyatakan dalarn gambar dan sesuai dengan
ketentuan yang berlaku.
g. Pipa vent yang menembus atap harus dipasang sekurang-kurangnya 15 cm di atas atap
dan tidak boleh digunakan untuk keperluan lain.
h. Untuk pipa vent mendatar, jarak tumpuan sama dengan jarak tumpuan pada pipa air kotor.
i. Dalam pemasangan jaringan pemipaan ini, harus diadakan koordinasi dengan
pekerjaan struktur mengingat adanya penembusan betonan/struktur lantai maupun
dinding.
j. Pemasangan dan penempatan pipa-pipa ini disesuaikan dengan gambar pelaksanaan
dan dimensi dari masing-masing pipa tercakup pula dalam gambar tersebut.
k. Di setiap floor drain dilengkapi dengan U Trap, untuk mencegah masuknya gas yang
berbau kedalam ruangan.
l. Pada saluran buangan dari prepation area dapur, sebelum masuk keinlet, sistem
permipaan air kotor bangunan, harus dipasang penyaring kotoran dari bahan
stainless steel untuk mencegah penyumbatan di dalam pipa.
m. Pada jalur perpipaan air kotor yang mengandung lemak dipasang clean out di setiap
belokan dan pada pipa vertikal utama (di setiap pintu shaft),
n. Persyaratan material (kelas, standard dan lainnya), ketentuan cara pemasangan seperti
diuraikan pada bab sebelumnya.
2.3.4 Pengujian Sistem
a. Semua lubang pada pipa pembuangan ditutup.
b. Sistem pemipaan diisi air sampai ke lubang vent teftinggi.
c. Pengujian dinyatakan berhasil dan selesai bila tidak terjadi penurunan muka-air
setelah lewat 6 (enam) jam dan atas sepengetahuan /persetujuan DIREKSI
PENGAWAS/KONSULTAN.
2.4 Pekerjaan Talang dan Drainase Tapak
2.4.1 Lingkup Pekerjaan
a. Pembuatan instalasi titik buangan air hujan pada bangunan sesuai yang ditunjukkan
dalam gam bar perencanaan.
b. Pembuatan saluran tambahan ke saluran drainase luar bangunan (saluran air hujan
tapak) yang saling terinterkoneksi dengan saluran yang sudah ada.
c. Setiap titik buangan yang keluar dari bangunan harus dilengkapi dengan bak control dan
pompa sumpit dengan ukuran sesuai gambar detail perencangan.
2.4.2 Pekerjaan Talang Air Hujan
[Link] Persyaratan Bahan dan Peralatan Bantu
a. Bahan pipa talang,
Jenis : pipa PVC,
Kelas : 10 kg/cm2 atau S 12.5, JIS
Fitting : AW
b. Roof drain,
Jenis : aluminium cor,
Konstruksi : sesuai gambar,
[Link] Persyaratan Pelaksanaan
[Link].1 Pemipaan
a. Pipa tegak
b. Pekerjaan lain yang masih termasuk dalam pekerjaan ini sesuai dengan Persyaratan
Teknis dan gambar perencanaan.
c. Peralatan bantu/pendukung lainnya yang diperlukan untuk kesempurnaan kerja
sistem, meskipun peralatan tersebut tidak
disebutkan secara jelas atau rinci didalam Gambar Perencanaan dan Persyaratan
Teknis.
d. Penyelesaian segala perijinan ke instansi yang berwenang/ lingkungan
setempat (bila diperlukan) untuk penyambungan/ pembuangan ke saluran kota.
e. Testing dan Commissioning dari sistem yang dikerjakan hingga berfungsi dengan baik
dan sempurna sesuai perencanaan.
2.5.2 Persyaratan Pelaksanaan
a. Pelaksanaan pekerjaan septic tank yang menyangkut kapasitas, sistem instalasi dan
pembuangan seusai gambar perencanaan.
b. Pekerjaan yang terkait dengan konstruksi septic tank, kontraktor harus mengikuti
ketentuan yang dipersyaratkan oleh perencana struktur.
c. Dalam pelaksanaan pekerjaan septic tank, kontraktor harus berkoordinasi
dengan pekerjaan lain (arsitektur dan struktur) atas sepengetahuan DIREKSI
PENGAWAS/KONSULTAN.
• Semua pipa, fitting dan material lainnya yang digunakan dalam pekerjaan ini harus
berupa barang-barang baru. Dimensi pada gambar, standard dan metoda
pelaksanaan harus sesuai dengan yang diminta dalam buku spesifikasi ini,
maupun yang dinyatakan secara khusus pada gambar.
b. Interkoneksi
Tidak diperkenankan adanya hubungan antara sistem pemipaan Distribusi airbersih
(domestic water) dengan sistem pemipaan air yang terkena polusi atau air kotor seperti
pemipaan drainase sanitair, drain AC dan lainnya yang dapat mengakibatkan back flow
atau back-siphonage dari air yang terkena polusi ke sistem pemipaan air-bersih.
c. Tata letak pipa
Ketinggian langit-langit, ukuran balok/kolom dan ukuran shaft tegak pipa
dicantuKonsultanan secara jelas pada gambar RNISHING dan gambar
STRUKTUR.
Bila oleh suatu sebab tidak diperoleh ruangan yang cukup untuk jalur pipa di atas
rangka langit-langit maupun pada shaft tegak pipa, maka Kontraktor harus segera
melaporkan kepada KONSULTAN.
d. Instalasi
Pipa harus dipotong secara tegak lurus terhadap sumbu pipa dengan alat potong
pipa yang sesungguhnya seperti hack saw atau alat lainnya sehingga tidak
menyebabkan perubahan diameter pipa. Pipa-pipa hanya boleh disambung antara
satu dengan lainnya setelah chip dan scraps hasil pemotongan dibersihkan.
Ulir harus mengikuti segala ketentuan pada Standard Taper Pipe Threads BS .21
atau ANSI B2. 1, kecuali bila ditentukan lain pada pasalpasai selanjutnya,
dan/dibuat dengan alat khusus pembuat ulir dengan menggunakan pelumas red-
lead dan linseed oil atau minyak jenis lain yang tidak beracun.
Sambungan dengan fitting berulir harus menggunakan teflon sealing tape atau
sejenis.
Pada sambungan flange, harus menggunakan packing untuk flange dengan tebal
minimum 3 mm yang dicat pada kedua sisinya dengan campuran minyak nabati
dan red-lead atau ketentuan pada pasal terdahulu.
Pembersihan dari/terhadap welding slag, kotoran-kotoran di dalam dan di bagian
luar ujung pipa dan lainnya harus dilakukan sebelum sambungan dipasang.
e. Kelengkapan yang harus dipasang
Pemipaan pada peralatan/unit mesin seperti: tanki, penukar kalor, generator,
pompa dan lainnya, harus ditopang secara terpisah sehingga tidak membebani
unit mesta/peralatan tersebut, dan jika diperiukan harus disertai peredarc getaran.
Harus dilengkapi dengan katup-katup penutup dan union atau flange pada setiap
cabang dan pada setiap pipa masuk dan pipa keluardari uttit mesin/peralatan
seperti pompa, tanki, penukar kalor, coil, traps, katup otomatis dan ainnya dengan
tujuan untuk mengisolasi peralatan/unit mesn tersebut atau cabang petnipaan
tersebut pada saat terjadi kerusakan atau untuk pemeriksaan / pemeliharaan.
Harus dilengkapi katup penutup dan cap atau plug pada setiap titik yang disiapkan
untuk perluasan, sesuai dengan sesuai dengan indikasi gambar.
Harus dilengkapi dengan pemipaan ke saluran air hujan terdekat untuk
penyaluran cairan dari katup pengaman pelepas tekan katup /glands cop dan
sejenis.
Kelengkapan – kelengkapan lainnya sesuai dengan yang dinyatakan pada gambar
dan yang diperlukan untuk sistem
Kelengkapan – kelengkapan lainnya sesuai dengan yang dinyatakan pada gambar
dan yang diperlukan untuk sistem yang bersangkutan sesuai dengan praktek
pelaksanaan system operasi terbaik.
3.7.2. Pekerjaan isolasi Thermal, akustik dan pemipaan
a. Persyaratan bahan
Pipa Refrigerant
- Material : Copper Tube
- Kelas/Type : L
Pipa Drain
- Material : PPr
- Kelas/Type : Khusus Chiled Pipes
b. Penggunaan Isolasi
Pekerjaan Isolasi dilakukan pada system Pemipaan sebagai berikut :
Sistem pemipaan Refrijerant
3.9 Pembersihan
3.9.1 Setiap pemipaan dan saluran udara atau bagian dari pemipaan dan saluran udara harus
dibersihkan sesuai dengan ketentuan pada pasal berikut ini, sebelum pegujian dilakukan.
3.9.2 Sistem Pemipaan Refrigerant
a. Harus dibersihkan dengan larutan Anhydrous Trisodium Phos-phate 0.45 kG setiap 190
liter air dalam sistem pemipaan.
b. Kontraktor harus menghitung jumlah/volume air dalam sistem untuk mendapatkan jumlah
zat kimia yang diperlukan.
c. Kemudian air sistem harus disirkulasikan selama 8 (delapan) jam berturut-turut dengan
me sin AC dioperasikan.
d. Selanjutnya dilakukan pengurasan dan pembersihan strainer dan diisi ulang dengan air
bersih dan disirkulasikan kembali selama 4 (empat) jam dengan mesin-mesin AC
dioperasikan.
e. Selanjutnya dilakukan pemeriksaan PH air tersebut dan harus diperoleh angka antara
7-8, bila perlu ditambah dengan zat pem-bersih lainnya untuk memperoleh PH sesuai
yang disyaratkan.
f. Pada saat pembersihan, seluruh rangkaian sistem Water Treatment harus dilepas/di
“bypass” dalam arti tidak difungsikan.
a. Untuk setiap instalasi yang telah selesai dikerjakan dan siap untuk digunakan, harus
dijalankan (trial-run) oleh Tenaga Ahli dari Perwakilan atau agen mesin yang
bersangkutan untuk selanjutnya dilakukan pengujian dan pemeriksaan dihadapan
Wakil dari Instansi/ Badan yang berwenang.
b. Dilakukan/ dilaksanakan oleh Kontraktor yang bersangkutan dan dengan disaksikan
oleh Tenaga Ahli yang ditunjuk oleh KONSULTAN, Pemberi Tugas dan pihak-pihak lain
yang berwenang.
c. Keputusan yang dikeluarkan oleh Ahli tersebut adalah mengikat, apabila keputusan
tersebut menyatakan bahwa terdapat hal-hal yang tidak sesuai dengan Buku ini dan
Spesifikasi Teknis yang dikeluarkan oleh pabrik pembuat (Manufacturer), maka
Kontraktor bertanggung jawab untuk mengganti/ memperbaiki sistem/ peralatan
tersebut.
d. Apabila terjadi hal seperti tersebut di atas, maka setelah perbaikan selesai dilakukan,
pengujian ulang harus dilakukan kembali sesuai prosedur.
e. Segala keperluan yang dibutuhkan untuk keperluan Commissioning dan Pengujian
harus disediakan sendiri oleh Kontraktor yang bersangkutan termasuk segala
penyedian daya listrik, air dan lainnya.
4.4.2 Harus mampu beroperasi sebagai continuous duty, untuk itu harus mampu dibebani 10%
diatas ratingnya selama 1 (satu) jam pada kecepatan nominal tanpa terjadi "overheating"
pada engine maupun altenator dan mampu beroperasi pada beban nominal terus menerus
selama 24 jam.
4.4.3 Diutamakan dari jenis mesin dengan jumlah silinder lebih dari 6 (enam) buah.
4.4.4 Mampu dibebani sebesar nominal daya outputnya dan PF=0.8 pada waktu 10 (sepuluh) detik
setelah cranking yang berhasil.
4.4.5 Dilengkapi "starting aids" sesuai standard / ketentuan manufacturer sehingga persyaratan
tersebut di atas dapat dipenuhi.
6.1.2 Kontraktor harus menawarkan seluruh lingkup pekerjaan yang dijelas-kan baik dalam
spesifikasi teknis ini ataupun yang tertera dalam gambar-gambar perencanaan, dimana
bahan dan peralatan yang digunakan sesuaf dengan ketentuan pada spesifikasi teknis ini.
Biia ternyata terdapat perbedaan antara spesifikasi bahan dan atau peralatan yang dipasang
dengan spesifikasi teknis yang dipersyaratkan pada pasal ini, merupakan kewajiban
Kontraktor untuk mengganti bahan atau peralatan £ersebut sehingga sesuai dengan
ketentuan pada pasal ini tanpa adanya ketentuan tambahan biaya. Lingkup pekerjaan yang
dimaksud adalah sebagai berikut:
a. Panel-Panel Daya Tegangan Rendah,
Pekerjaan ini meliputi Low Voitage Main Distribution Panel, Sub distribution Panel,
Panel Daya dan Panel-panel Penerangan termasuk seluruh peralatan peralatan bantu
yang dibutuhkan untuk kesempurnaan sistem instalasi listrik.
b. Kabel-Kabel Daya Tegangan Rendah
Pekerjaan ini meliputi kabel utama dari Panel Genset ke panel MDP, kemudian kabel-
kabel yang digunakan untuk meng-hubungkan panef satu dengan panel lainnya serta
harus termasuk seluruh peralatan-peralatan bantu yang dibutuhkan untuk
kesempumaan sistem instalasi listrik.
c. Kabel-Kabel Daya
Pekerjaan ini meliputi kabeJ utama SDP bangunan, Pompa Air Bersih, dan dari SDP
ke panef (PP/LP. PP-AQ) setiap lantai dan panel lainnya. Juga sudah termasuk seluruh
peralatan-peralatan bantu yang dibutuhkan untuk kesempumaan sistem jaringan
instalasi listrik.
d. Instalasi Daya
Pekerjaan ini meliputi seluruh instalasi listrik yang digunakan untuk menghubungkan
panel-panel daya dengan outlet-outlet daya dan perafatanperalatan listrik, seperti
Exhaust Fan, Motor-motor Listrik pada perafatan Sistem Mekanikal serta peralatan lain
sesuai dengan Gambar rancangan dan Buku Persyaratan Teknis.
e. Instalasi Penerangan/Pekerjaan ini meliputi seluruh instalasi listrik yang meng-
hubungkan panel-panel penerangan dengan fixture lampu dalam ruang.
f. Fixture Lampu,
Yang termasuk di dalam pekerjaan ini adalah armature lampu, dengan fitting, ballast,
starter dengan system elektronik, capasitor, lampu-lampu dan peralatan-bantu lainnya
yang berhubungan dengan item pekerjaan sesuai dengan standard pabrik yang
dipilihdan sesuai gambar rancangan.
g. Sistem Pembumian Pengaman,
Yang termasuk di dalam pekerjaan sistem pengebumian meliputi batang elektroda
pengebumian yang dirancang khusus dan bare copper conductor atau kabel yang
menghubungkan peralatan yang harus dikebumikan dengan elektroda pembumian
termasuk seluruh peralatan-peralatan bantu yang dibutuhkan untuk kesempurnaan
sistem ini sesuai gambar perencanaan.
h. Peralatan Penunjang Instalasi,
Pekerjaan ini meliputi junction box, conduit, sparing, doos outlet daya, doos saklar,
doos penyambungan, doos pencabangan, elbow, flexible conduit, klem dan peralatan-
peralatan lain yang dibutuhkan untuk kesempurnaan jaringan instalasi yang terpasang
meskipun peralatan-peralatan ini tidak disebutkan dan digambarkan dengan jelas di
dalam Gambar rancangan.
i. Peralatan bantu/pendukung lainnya yang diperlukan untuk kesempurnaan kerja sistem,
meskipun peralatan tersebut tidak disebutkan secara jelas atau terinci di dalam Gambar
Rancangan dan Persyaratan Teknis.
a. Yang melaksanakan pembuatan panel hams sub Kontraktor panel (panelmaker) yang
telah berpengalaman dalam pembuatan/ pabrikasi panel dengan menunjukkan bukti
sertifikat yang telah diakui oleh Badan terkait dalam hal ini PLN dan mempunyai
workshop yang terkait dengan pabrikasi panel. ,
b. Panel terbuat dari plat baja dengan rangka terbuat dari besi siku dengan ukuran
minimal 600 x 400 x 400 mm (free standing) atau plat besi yang terbentuk (wall
mounted).
c. Rangka utama harus diberi tutup dari bahan plat baja dengan dengan ketebalan
sebagai berikut:
Panel Dinding Pintu
SDP 20mm 3,0 mm
PP-AC, LP, PP/LP 1,6 mm 2,0mm
d. Plat tutup harus dikerjakan dengan baik dan setiap siku dari plat tutup ini harus benar-
benar 90o. Plat penutup kerangka panel harus disekrup dengan rapi yang dilengkapi
cincin plastic sebelum cincin besi terhadap kerangka panel. Plat penutup ini harus
dapat dilepas-lepas.
e. Panel dilengkapi dengan tutup atas atau tutup bawah yang dapat dilepas-lepas dan
harus disiapkan lubang serta Compression Cable Glad untuk setiap incoming dan
outgoing feeder.
f. Pada dinding belakang atau/dan samping diperlukan membuat lubang-lubang ventilasi
yang cukup. Lubang ventilasi ini harus dibuat dengan cara punch dan rapi. Pada bagian
dalam dari dinding yang diberi ventilasi harus dilengkapi tambahan dinding yang diberi
lubang punch, hal ini untuk menjaga masuknya benda-benda/binatang bagian yang
bertegangan dari peralatan panel.
g. Antara badan panel tempat dudukan peralatan listrik yang bertegangan
dengan pintu panel harus dilengkapi dengan dinding pengaman pelindung peralatan
listrik dengan material yang sama, sehingga pada saat pintupanel dibuka yang tampak
hanfa tuas - tuas peralatan listrik, sedangkan jaringan/montase kabel taffndung oleh
dinding pengaman tersebut.
h. Engsel yang digunakan harus kuat dan tidak menonjol dan harus tersembunyi serta
rapi. Kunci dan handle pintu harus dari type Spagnolet dengan tungkai penguat bawah
dan atas dan dari bahan yang dilapisi vemikel. Kontraktor/subkon./ Panel harus
dilengkapi "master key" yang bisa membuka seluruh panel yang terapung.
i. Rangka, penutup, cover plate dan pintu seluruhn „ harus diberi cat dasar dan dilapisi
dengan powder coating warna abu-abu atau warna yang dipilih oleh Pemberi Tugas
melalui DIREKSI PENGAWAS/KONSULTAN ; Kontraktor sebelum pekerjaan
pengecatan dilaksanakan harus terlebih dahulu menyerahkan contoh wama dan
metode pelaksanaan pada DIREKSI PENGAWAS/KONSULTAN untuk dimintakan
persetujuan.
j. Panel yang berada di luar bangunan harus mempunyai index protection (IP)
53, sedangkan untuk dalam bangunan IP 540 sesuai standad yang dipersyaratkan.
k. Ukuran panel diusahakan standart ukuran panel dan disediakan ruang yang cukup
apabila terdapat penambahan peralatan.
l. Dalam box panel harus disediakan sarana pendukurg kabel yang diketanahkan
(grounding) dan busbar pentanahan, yang berfungsi untuk dudukan ujung kabel
pentanahan sehingga pada saat pintu panel dibuka dalam keadaan aktif
kemungkinan adanya muatan kapasitif dapat dihindari.
m. Pada circuit breaker, sepatu kabel, kabel incoming dan outgoing serta terminal
penyamburgan kabel harus diberi indikasi/frtel/ sign plater mengenai nama beban
atau kelompok beban /ang dicatu daya listriknya. Petunjuk tersebut berupa diagram
s-stem satu garis dan label ini harus terbuat dari plat aluminium sesuai standard DIN
4070.
n. Pada bagian atas panel (dari ambang atas sampai dengan 12 Cm dibawah ambang
atas panel atau disesuaikan dengan kebutuhan harus disediakan tempat untuk
pemasanjan lampu indikator, fuse dan alat-alat ukur. Bagian tersebut merupakan
bagian yang terpisah dari pintu. panel dan kedudukannya menetap (fixed).
6.3.2 Busbar dan Terminal Penyambungan.
a. Panel harus sesuai untuk sistem 3 phasa, 4 kawat dan mem-punyai 5
busbar dimana busbar pentanahan terpisah.
b. Busbar dari bahan tembaga yang digalvanisasi dengan bahan perak. Galvanisasi ini,
termasuk pula bagian-bagian yang menempel pada busbar, seperti sepatu kabel dan
peralatan Bantu lainnya.
c. Pemasangan kabel (untuk semua ukuran luas penampang kabel) pada busbar dan
terminal penyambungan harus menggunakan seperti kabel.
d. Busbar dan terminal penyambungan harus disusun dan dipegang oleh isolator dengan
baik, sehingga mampu menahan electro mechanical force akibat arus hubung singkat
terbesar yang mungkin terjadi.
6.3.3 Circuit Breaker.
a. Circuit breaker yang digunakan dari jenis MCB, MCCB, yang dilengkapi dengan thermal
overcurrent release dan electromagnetic overcurrent release yang rating ampere trip-
nya dari type idjustable dari salah satu bagian jaringan untuk jarak jaringan kabel yang
pendek, sedangkan untuk jaringan kabel yan panjjng kedua belah sisi pengamannya
harus dari type adjustable ata'. seperti yang ditunjukan gambar rancangan.
b. Outgoing circuit breaker dari Panel khusus untuk motor-motor harus dilengkapi dengan
proteksi kehilangan arus satu phasa. Dan system jaringan yang dilengkapi DOL atau Y
- " atau seperti gambar rancangan tergantung besar - kecilnya beban daya listrik. Jika
dalam gambar rancangan tidak terindikasi sudah merupakan kewajiban Kontraktor
untuk melengkapinya seperti yang dipersyaratkan oleh standard yang berlaku tanpa
mengakibatkan adanya biaya tambah.
c. Circuit Breaker untuk proteksi motor-motor listrik harus meng-gunakan Circuit Breaker
yang dirancang khusus untuk penga-man motor (Circuit Breaker tipe M).
d. Breaking capacity dan rating CB yang digunakan harus sebesar yang tercantum dalam
Gambar rancangan.
e. Tipe Circuit Breaker yang digunakan adalah,
• 32 Ampere tipe MCB,
• Arus Short Circuit (Ics) = Arus Ultimate
• 40 ~ sampai dengan 63 A tipe MCCB Rxed/adjustable,
• 80 Ampere tipe MCCB Adjustable.
f. Pemasangan MCB harus menggunakan Omega Rail sedangkan pemasangan
MCCB dan komponen komponen lain, seperti magnetic contactor, time switch dan
lainnya harus menggunakan dudukan plat. Pemasangan komponen-komponen
tersebut harus rapi dan kokoh sehingga tidak akan epas oleh gangguan mekanis.
g. Jika di dalam Gambar rancangan dinyatakan ada spare, maka spare tersebut harus
terpasang secara lengkap atau sesuai, dengan keterangan gambar rancangan.
h. Semua Circuit Breaker harus diberi label/signplate yang terbuat dari Alumunium
mengenai nama beban atau kelompok beban yang dicatu daya listriknya. Label itu
harus terbuat dari plat alumunium atau sesuai standard DIN 4070
metal flexible conduit dan peralatan-peralatan bantu lainnya yang dibutuhkan untuk
kesempurnaan sistem instalasi penerangan buatan.
6.5.2 Jenis Kabel.
a. Kabel listrik yang digunakan harus sesuai dengan standard SII dan SPIN atau standard-
standard lain yang diakui di negara Republ/k Indonesia serta mendapat rekomendasi
dari LKONSULTAN.
b. Ukuran luas penampang kabel untuk jaringan instalasi listrik Tegangan Rendah
yang digunakan minimal harus sesuai dengan Gambar rancangan.
c. Kabel listrik yang digunakan harus mempunyai rated voltage sebesar 600 Volt/1000
Volt.
d. Tahanan isolasi kabel yang digunakan harus sedemikian rupa sehingga arus bocor
yang terjadi tidak melebihi 1 mA untuk setiap 100 M panjang kabel.
e. Kecuali untuk instalasi yang harus beroperasi pada keadaan darurat (seperti lift dan
lain-lain seperti ditunjukkan di dalam Gambar Perencanaan) kabel - kabel yang
digunakan adalah kabel PVC dengan jenis kabel yang sesuai dengan fungsi dan lokasi
pemasangannya
seperti tabet di bawah ini:
No. Pemakaian Jenis Kabel
1. Ins. Penerangan dalam bangunan NYM
2. Ins. Penerangan luar bangunan NYY/NYFGbY
3. Ins. Dan kabel daya dalam bangunan NYY
4. Ins. Daya luar bangunan NYFGbY
f. Pada kabel instalasi harus dapat dibaca mengenai merk, jenis, ukuran luas
penampang, rating tegangan kerja dan standard yang digunakan.
g. Pada ujung kabel-kabel daya utama harus diberi label/sign-plate yang terbuat dan"
alumunium mengenai nama beban yang dicatu daya listriknya atau nama sumber
yang mencatu daya kabel/beban tersebut.
6.5.3 Persyaratan Pemasangan.
a. Pemasangan kabel instalasi tegangan rendah harus memenuhi peraturan PLN
dan PUIL 2000 atau peraturan lain yang diakui di negara Republik Indonesia.
b. Kabel harus diatur dengan rapi dan terpasang dengan kokoh sehingga tidak akan lepas
atau rusak oleh gangguan gangguan mekanis.
c. Pembelokan kabel harus diatur sedemikian rupa sehingga jari-jari pembelokan tidak
boleh kurang dari 15 kali diameter luar kabel tersebut atau harus sesuai. dengan
rekomendasi dari pabrik pembuat kabel.
d. Setiap ujung kabel harus dilengkapi dengan sepatu kabel tipe press, ukuran sesuai
dengan ukuran luas penampang kabel serta dililit dengan "excelcior tape" dan difinish
dengan bahan isolasi ciut panas yang sesuai.
e. Penyambungan kabel pada kabel daya, kabel instalasi daya dan instalasi penerangan
tidak diperkenankan kecuali untuk pencabangan pada kabel instalasi daya dan instalasi
penerangan. Penyambungan kabel untuk pencabangan harus dilakukan di dalam
junction box atau doos sesuai dengan persyaratan.
f. Penarikan kabel harus menggunakan peralatan-peralatan bantu yang sesuai dan tidak
boleh melebihi strength dan stress maximum yang direkomendasjkan oleh pabrik
pembuat kabel.
g. Sebelum dilakukan pemasangan/penyambungan, bagian ujung awal dan ujung akhir
dari kabel daya harus dilindungi dengan 'sealing end cable, sehingga bagian konduktor
maupun bagian isolasi kabel tidak rusak.
h. Pemasangan kabel di dalam tanah dilakukan dengan dua cara, yaitu :
- Ditanam langsung di dalam tanah
- Ditanam di dalam tanah dengan dilindungi pipa GIP.
- Kabel daya listrik yang ditanam langsung di dalam tanah harus mempunyai
kedalaman minimal 70 Cm di bawah permukaan tanah dengan cara penanaman
kabel sebagai berikut :
- Disediakan galian kabel dengan kedalaman minimal 80 Cm dan lebar galian
sesuai dengan jumlah kabel yapg akan ditanam.
- Diberi alas pasir setebal 10 Cm.
- Gelarkan kabel yang akan ditanam dan disusun serapih mungkin.
- Timbuni lagi dengan pasir setebal 10 Cm dan di atas pasiri. tersebut diberi bata
pelindung sebanyak 6 (enam) buah per meter.
- Timbuni dengan tartan urug halus serta tanah galian dan usahakan
tanh galian yang digunakan bebas dari kerikil yang dapat merusak isolasi
kabel.
i. Kabel listrik yang ditanami di dalam tanah dengan menggunakan pipa GIP sebagai
pelindung harus dilengkapi .dengan bak kontrol berukuran sesuai Gambar rancangan.
Bak kontrol tersebut dipasang pada setiap pembelokan, pencafaangpn atau daerah
daerah tertentu lainnya sesuai dengan modul pipa.
j. Setiap pipa hanya digunakan untuksebuah kabel berinti banyak untuk sistem 3 phasa
atau empat kabd berinti tunggal unfuk sistem 3 phasa
k. Pipa tersebut harus mempunyai diameter dalam 1,5 kali total
diameter luar kabel yang dilindunginya.
l. Apabila kabel sistem 3 phasa yang ditanam dalam tanari lebih dari satu buah, maka
kabel tersebut harus disusun sejajar dengan jarak satu sama lain minimal sebesar 7
Cm.
m. Bak kontrol yang digunakan harus terbuat dari beton dan dilengkapi
dengan tutup yang memakai handle dan harus mudah dibuka.
n. Pada ujung pfpa pelindung kabel harus dibentuk seperti corong, dihaluskan sehingga
bebas dari hal-hal yang dapat merusak kabel. Setelah kabel dipasang lubang ujung
kabel tersebut harus disumbat dengan bahan karet atau bahan bahan lain yang tidak
merusak kabel dan tidak mudah rusak.
o. Pemasangan kabel di dalam bangunan dapat dilakukan,
• Pada rak kabel,
• Di dalam dinding yang dilengkapi conduit
• Di plat lantai atap yang dilengkapi conduit.
p. Pemasangan kabel pada rak kabel harus diperhatikan hal-hal,sebagai berikut:
• Kabel harus diatur rapi
• Kabel harus diperkuat dengan klem pada setiap jarak 40 Cm dengan perkuatan
mur baut pada dudukan rak.
• Untuk kabel instalasi daya dan penerangan harus dilindungi dengan conduit PVC
type High Impact.
• Tidak diperkenankan adanya sambungan kabel di dalam conduit kecuali di dalam
kotak sambung atau kotak cabang.
q. Pemasangan kabel dalam dinding harus memperhatikan hal hal sebagai berikut :
• Kabel harus dilindungi dengan sparing.
• Sparing (pipa pelindung kabel yang ditanam dalam High Impact Conduit) sebelum
ditutup tembok harus disusun rapi dan diklem pada setiap jarak 60 Cm. Jika
sparing tersebut berjumlah cukup banyak, maka perkuatan tersebut harus
dilakukan dengan menggunakan kombinasi antara klem dan kawat ayam
sehingga tersusun rapi dan kokoh.
• Kabel instalasi yang datang dari conduit menuju sparing harus dilindungi dengan
'metal flexible conduit' serta pertemuan antara conduit/sparing dengan metal
flexible conduit harus dilakukan dengan cara klem.
• Untuk instalasi kabel expose harus di dalam RSC (Rigid Steel Conduit)
f. Dalam hal jalur pipa conduit pada gambar rancangan diper-kirakan tidak mungkin lagi
untuk dilaksanakan,maka Kontraktor wajib mencari jalur lain sehingga pelaksanaan
mudah dan tidak mengganggu utilitas lain, tetapi tetap harus sesuai dengan
persyaratan.
g. Pertemuan antara pipa sparing yang muncul dari dalam dinding dengan pipa conduit
di atas plafond harus menggunakan doos dan diantara doos tersebut dipasang flexible
conduit. Pemasangan flexible conduit tersebut harus dilakukan dengan cara klem.
h. Setiap sparing maupun conduit maximum hanya dapat diisi dengan 1 (satu) kabel
berinti banyak atau satu pasang kabel untuk phasa, netral dan grounding/ baik untuk
kabel daya maupun untuk kabel lain.
i. Conduit untuk instalasi listrik harus berjarak minimum 50 Cm dari pipa air panas.
j. Jumlah sparing (conduit yang ditanam di dalam beton) harus disediakan minimum
sebanyak 120 % dari jumlah kabel yang akan melewatinya atau minimum mempunyai
satu buah sparing lebih banyak dari jumlah kabel yang akan melewatinya.
6.7.2 Trench Kabel, Kabel Ladder dan Rak Kabel.
a. Trendch kabel digunakan untuk jalur kabel yang menghubungkan sumber daya listrik
yang berada dibangunan pembantu menuju kebangunan utama. Persyaratan teknis
trench kabel sesuai gambar perencanaan.
b. Kabel ladder dan tray serta rak kabel yang digunakan untuk menyanggqa kabel-
kabel daya kabel instalasi daya dari lantai ke lantai dan , penerangan serta kabel
instalasi arus lemah diatas plafond.
c. Kabel ladder dan tray serta rak kabel terbuat dari plat baja dengan ketebalan 2 mm
yang dilapisi Hot Dipped Galvanised dengan ketebalan lapisan minimum 50 M dan
disesuiakan dengan standart BS 729 (dalam shaft).
d. Penggantung dan dudukan dipasang pada plat beton dengan anchor bolt dan harus
kuat untuk menyangga rak kabel beserta isiannya serta harus tahan pula menahan
gangguan-gangguan mekanis.
e. Harus mempunyai penggantung yang dapat diatur (adjustable) yang terbuat dari bahan
besi.
f. Rak kabel yang dipergunakan arus kuat dan arus lemah harus dipisahkan untuk
menghindari kemungkinan adanya induksi yang akan mengganggu fungsi system
operasi. Jarak rak kabel arus kuat dan arus lemah adalah 1 meter yang dipasang
sejajar, sedangkan yang bersilangan 30 Cm.
[Link] Kabel instalasi dipasang didalam pipa sparing/conduit yang diklem pada rak kabel
atau ditanam didalam dinding serta di bawah lantai (didalam saluran
penghubung under floor duct system).
[Link] Konduktor kabel instalasi telepon mempunyai inti splid yang terbuat dari bahan
tembaga yang dilapisi perak dan pelindung induksi medan magnit.
[Link] Pipa-pipa pelindung kabel instalasi telepon harus dibedakan dari pipa-pipa
pelindung kabei untuk keperluan instalasi yang lain dengan cara menandai
dengan cat finish berwarna hijau atas persetujuan DIREKSI
PENGAWAS/KONSULTAN.
[Link] Persyaratan teknis mengenai instalasi penunjang seperti conduit, sparing,
rak kabel dan lainnya sama dengan persyaratan penunjang untuk instalasi
sistem catu daya listrik dan penerangan.
7.1.4 Outlet Telepon
[Link] Outlet telepon dipasang pada dinding dengan ketinggian pemasangan 30
cm dari permukaan lantai atau mengikuti ketentuan dalam gambar rancangan.
Jika dalam gambar dan spesifikasi teknis terdapat informasi yang
bertentangan Kontraktor agar menghubungi DIREKSI
PENGAWAS/KONSULTAN untuk mendapatkan persetujuan dan solusi
pemasangan.
[Link] Outlet telepon dipasang pada dinding dengan menggunakan square metal box
dan outlet telepon harus dibedakan dari outlet daya dan outlet data computer.
[Link] Pemasawgan outlet telepon harus diperkuat sehingga tidak mudah lepas oleh
gangguan mekanis walaupun dalam gambar rancangan dan spesifikasi teknis
tidak menjelaskan secara rinci.
Dari pusat kontrol harus dapat dimonitor kondisi air dalam ground
reservoir. Pelaksanaan monitoring ini dilakukan dengan pemasangan
water level control di ground reservoir.
7.2.5 Pusat Kontrol
[Link] Ketentuan Dasar
a. Pusat kontrol dan annunciator panel yang digunakan adalah Multi Zonk Solid
State Micro Processor dengan Presignal type
yang bekerja pada sistem tegangan rendah (24 Volt DC) dan tetap beroperasi
dengan normal pada operating temp. 0 - 40°C.
b. Digunakan peralatan-peralatan dengan system module (standard) yang
ditempatkan di dalam Enclosure/Box. Kabel untuk merangkai module
harus Factory Made dan hubungannya secara solderless .
c. Pusat Kontrol dan annuniator panel dapat bekerja secara 'silenceable'
maupun 'non silenceable1 untuk Alarm Signal Output dan Trouble Signal
Output.
d. Wiring ke semua Initiating Devices (Monitor Point), Alarm Devices dan
Releasing Devices (Control Point) harus dilengkapi dengan alat-alat supervisi
secara elektris, untuk melihat adanya troubles yang terjadi melalui Pusat
Kontrol dan interface unit. Trouble yang perlu dideteksi yaitu Short Circuit,
Open Circuit dan Ground Fault.
e. Pusat Kontrol harus dilengkapi dengan switchswitch kontrol untuk reset silence
switch, alarm lamp test switch, AC power failure switch, batere equalizer
normal switch dan beberapa switch kontrol yang tidak disebutkan di sini
(sesuai dengan produk terpilih).
[Link] Power Supply
a. Catu Daya Primer menggunakan sistem tegangan 220V - AC, 50 Hz, 1 phasa,
sistem 3 kawat dan dilengkapi dengan 'Electronics Voltage Stabilizer 1
sehingga fluktuasi tegangan sumber berada pada batas kerja Pusat Kontrol
dan interface unit.
b. Pusat Kontrol dan interface unit dilengkapi dengan standby battery unit (24V-
DC) jenis Sealed Acid Battery, rechargeable yang dilengkapi dengan
Chargernya.
c. Jika Primary Supply mengalami kegagalan, maka secara otomatis beban akan
dilayani oleh Stand by Battery.
d. Stand by Battery harus mampu melayani sistem selama 24 jam dalam Normal
Operation dan ditambah 30 menit dalam keadaan alarm (terjadi bahaya
kebakaran).
[Link] Peralatan Indikasi Alarm
[Link].1 FACE harus mempunyai lampu-lampu indicator untuk
memberitahukan kepada Operator tentang apa yang terjadi.
[Link].2 Indikator True Alarm
a. Lampu indikator berwarna merah
• Menandakan adanya initiating device yang aktif. Dari lampu
indikator yang menyala, juga dapat diketahui initiating
device dari zone mana yang sedang aktif.
• Menandakan bahwa alarm devices pada zone yang sedang
aktif tersebut juga telah berbunyi/menyala.
• Menandakan bahwa pemutusan daya listrik telah
beroperasi.
• Menandakan bahwa Smoke Vestibule Ventilator telah
bekerja.
• Menandakan bahwa fire hydrant pump telah bekerja.
• Indikasi False Alarm,
b. Lampu indikator berwarna kuning
• Menandakan adanya trouble seperti: short circuit, open
circuit dan Iain-lain. Dalam kondisi seperti ini juga harus
dapat diketahui mengenai wiring pada bagian mana yang
mengalami trouble.
• Menandakan tegangan stand by battery lebih rendah dari
harga yang diijinkan.
• Menandakan catu daya primer mengalami kegagalan.
[Link].3 Indikasi Power Supply On
SPESIFIKASI TEKNIS
PEMBANGUNAN GEDUNG KANTOR BPN PANDEGLANG
URAIAN/TYPE MERK/SPEK
STRUKTUR
- Kualitas Beton Struktur Utam Gedung Ready Mix K.250
- Besi Tulangan SNI
ARSITEKTURE
-Penutup Lantai/Dinding Garuda Tile 60/60, 30/30
-ACP Seven
-Kusen Aluminium Alexindo
-Engsel, Kunci, Hendel Dekkson
-Kaca Fasad Reflektive 8 mm, Asahimas
-Kaca Pintu Tempered 10mm, Asahimas
-Finishing Pengecatan Dulux Watershield (eksterior)
-Finishing Pengecatan Dulux (interior)
-Dinding Kering Hebel 10x20x60cm
-Dinding Basah Bata Merah
LAMPU
-Fitting Lampu PHILIPS
-Lampu Panel 30x120, Downlight PHILIPS
-Lampu Baret PHILIPS
-Fitting PHILIPS
-Starter PHILIPS
-Capasitor PHILIPS
ASSESORIES
-Celling Fan PANASONIC Panasonic seri FV-25TGU5
-Stop Kontak Broco
-Saklar Ganda Broco seri 2G GALLEO G162-55S WHITE
-Saklar Tunggal Broco seri 1G GALLEO G161-55S WHITE
-Gried switch Broco
-Inbow Does CLIPSAL / EGA
SANITARY
-Closed TOTO
-Wastafel TOTO
-Jet Washer INA/ Setara
-Tissue Holder INA/ Setara
-Kran Dinding TOTO
-Shower TOTO
Pasal 35
Penutup
Kontraktor Pelaksana harus melaksanakan tugasnya sesuai dengan ketentuan – ketentuan pada
Dokumen Engineering Estimate (EE) dan Rencana Kerja Syarat-syarat Pembangunan Gedung
Kantor BPN Pandeglang, Owner KANTAH BPN PANDEGLANG, yaitu rencana ketentuan teknis,
rencana anggaran biaya dan gambar perencanaan yang saling mendukung dan melengkapi.
Kekurangan dan permasalahan-permasalahan pada dokumen tersebut, baik yang terjadi didalamnya
maupun ketidak cocokan antar dokumen atau dengan peraturan – peraturan yang terkait, harus
diselesaikan pada rapat monitoring yang dihadiri oleh Pemberi tugas, Perencana, Pengawas teknis dan
Pelaksana ( Kontraktor ) yang bertempat di Direksi Keet dengan saling mendukung untuk mendapatkan
hasil yang maksimal sehingga gedung yang akan dibangun dapat berfungsi sesuai dengan yang
direncanakan.