Manajemen Pelayanan Kebidanan PMB "O"
Manajemen Pelayanan Kebidanan PMB "O"
MANAJEMEN PELAYANAN
KEBIDANAN KOMPREHENSIF DI PMB “O”
SUKARAMI KOTA BENGKULU
Oleh :
TRISNANDA MARINTAN
NIM P0 5140420015
Pembimbing:
Mariati, SKM, [Link]
“MANAJEMEN PELAYANAN
KEBIDANAN KOMPREHENSIF DI PMB “O”
SUKARAMI KOTA BENGKULU”
Disusun oleh :
Trisnanda Marintan
P0 5140420015
Mengetahui,
Ketua Program Studi Pendidikan Profesi Bidan,
ii
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas
berkat dan rahmat-Nya, sehingga dapat menyelesaikan Laporan Komprehensif ini.
Penulisan laporan ini dilakukan dalam rangka memenuhi tugas Praktik
Manajemen Pelayanan Kebidanan Komprehensif Di PMB. Laporan ini terwujud
atas bimbingan, pengarahan dan bantuan dari berbagai pihak yang tidak bisa
penulis sebutkan satu persatu dan pada kesempatan ini penulis menyampaikan
ucapan terima kasih kepada :
1. Bunda Yuniarti, [Link], [Link] selaku Ketua Jurusan Kebidanan Poltekkes
Kemenkes Bengkulu,
2. Bunda Diah Eka Nugraheni, [Link], [Link] selaku Ketua Prodi Profesi Bidan
Jurusan Kebidanan Poltekkes Kemenkes Bengkulu,
3. Bunda Mariati,SKM, [Link] selaku dosen pembimbing praktik,
4. Bunda Ocik Lestari, [Link] selaku dosen pembimbing lahan,
Penyusun
iii
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL........................................................................................i
HALAMAN PENGESAHAN..........................................................................ii
KATA PENGANTAR......................................................................................iii
DAFTAR ISI....................................................................................................iv
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang......................................................................................1
B. Tujuan...................................................................................................1
C. Manfaat.................................................................................................3
BAB IV PENUTUP
A. Kesimpulan...........................................................................................46
B. Saran.....................................................................................................46
DAFTAR PUSTAKA......................................................................................47
LAMPIRAN
iv
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Bidan Praktek Mandiri (BPM) merupakan bentuk pelayanan kesehatan di
bidang kesehatan dasar. Praktek bidan adalah serangkaian kegiatan pelayanan
kesehatan yang diberikan oleh bidan kepada pasien (individu, keluarga, dan
masyarakat) sesuai dengan kewenangan dan kemampuannya. Bidan yang
menjalankan praktek harus memiliki Surat Izin Praktek Bidan (SIPB) sehingga
dapat menjalankan praktek pada saran kesehatan atau program (Imamah, 2012)
Bidan Praktek Mandiri memiliki berbagai persyaratan khusus untuk
menjalankan prakteknya, seperti tempat atau ruangan praktek, peralatan, obat-
obatan. Praktek pelayanan bidan mandiri merupakan penyedia layanan
kesehatan, yang memiliki kontribusi cukup besar dalam memberikan
pelayanan, khususnya dalam meningkatkan kesejahteraan ibu dan anak.
Supaya masyarakat pengguna jasa layanan bidan memperoleh akses
pelayanan yang bermutu, perlu adanya regulasi pelayanan praktek bidan
secara jelas persiapan sebelum bidan melaksanakan pelayanan praktek seperti
perizinan, tempat, ruangan, peralatan praktek, dan kelengkapan administrasi
semuanya harus sesuai dengan standar.
B. Tujuan
1. Untuk mengetahui identifikasi pengkajian kebutuhan organisasi
pelayanan kebidanan di PMB
2. Untuk mengetahui analisa kebutuhan manajemen pelayanan kebidanan di
PMB
3. Untuk mengetahui perencanaan manajemen pelayanan di PMB
4. Untuk mengetahui pengorganisasian pelayanan kebidanan di PMB
5. Untuk mengetahui pengelolaan pelayanan kebidanan di PMB
1
6. Untuk mengetahui pengendalian dan monitoring pelayanan kebidanan di
PMB
7. Untuk mengetahui evaluasi pelayanan kebidanan di PMB
8. Untuk mengetahui hambatan-hambatan yang terjadi dalam manajemen
pelayanan kebidanan di PMB dan cara mengatasinya
9. Untuk mengetahui pengurusan izin di PMB
10. Untuk mengetahui persyaratan pendirian PMB
11. Untuk mengetahui cara menetapkan visi misi di PMB
12. Untuk mengetahui menjalin Mitra kerja PMB
13. Untuk mengetahui pengelolaan pelayanan kebidanan di PMB
14. Untuk mengetahui langkah-Langkah dalam Manajemen Kebidanan di
PMB
15. Untuk mengetahui manajemen pengelolaan keuangan dan SDM di PMB
16. Untuk mengetahui analisis SWOT dalam pendirian PMB
17. Untuk mengetahui cara mempromosikan/ strategi pemasaran PMB
18. Untuk mengetahui sistem Pencatatan dan Pelaporan Di PMB
19. Untuk mengetahui cara Menjaga Mutu PMB
20. Untuk mengetahui pengolahan limbah di PMB dan cara PMB untuk
menjadi bidan delima
21. Untuk mengetahui apakah inovasi yang dilakukan bidan dalam
melakukan pelayanan PMB
C. Manfaat
1. Manfaat Teoritis
Meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman secara
langsung, sekaligus penanganan dalam menerapkan ilmu yang diperoleh
selama pendidikan. Selain itu, menambah wawasan dalam menerapkan
ilmu manajemen kebidanan
2
2. Manfaat Praktis
a. Bagi Mahasiswa
Memperoleh gambaran dalam pembentukan dan pengorganisasian
praktik mandiri bidan, dan cara menjadi bidan delima
b. Bagi Bidan Pelaksana di PMB
Laporan Seminar Kasus ini dapat dijadikan dokumentasi dan masukan
di Praktik Mandiri Bidan Ocik Lestari, SST
3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
4
2. Pengurusan Izin PMB
Izin PMB diatur dalam PMK RI Nomor 28 tahun 2017 tentang izin dan
penyeleenggaraan praktik bidan :
a. BAB 1 Pasal 1 ayat 5 tentang pengertian PMB adalah tempat
pelaksanaan rangkaian kegiatan pelayanan kebidanan yang dilakukan
oleh bidan secara perorangan.
b. BAB II tentang perizinan
Berikut ini kelengkapan pengurusan izin mendirikan Praktik Mandiri Bidan:
1. Bidan yang mendirikan PMB ini sudah memiliki Surat Tanda Registrasi
(STR) dan Surat Izin Praktik Bidan (SIPB) yang telah disahkan
pemerintah dan jangka waktu masih berlaku.
2. Memiliki IMB (Izin Membangun Bangunan) dan sertifikat tanah yang
lengkap.
3. Memiliki surat keterangan dari Kepala Puskesmas Wilayah Kecamatan
setempat
4. Pemilik memiliki Surat Pernyataan tidak dalam sanksi profesi dan hokum
5. Memiliki surat keterangan dari Ketua IBI Cabang/Kabupaten setempat
6. Masing-masing karyawan bidan terdaftar menjadi anggota IBI dan
memiliki SIKB.
5
6. Persiapan peralatan medis dan medis usaha praktek bidan secara
perorangan dengan pelayanan pemeriksaan pertolongan persalinan dan
perawatan
7. Membuat Surat Perjanjian sanggup mematuhi perjanjian yang tertulis.
8. Bidan dalam menjalankan praktek harus :
a. Memiliki tempat dan ruangan praktek yang memenuhi persyaratan
kesehatan
b. Menyediakan tempat tidur untuk persalinan minimal 1 dan maksimal
5 tempat tidur
c. Memiliki peralatan minimal sesuai dengan ketentuan dan
melaksanakan prosedur tetap (protap) yang berlaku
d. Menyediakan obat-obatan sesuai dengan ketentuan peralatan yang
berlaku
e. Mencantumkan izin praktek bidannya atau foto copy prakteknya
diruang praktek, atau tempat yang mudah dilihat
f. Memperkerjakan tenaga bidan yang lain, yang memiliki SIPB untuk
membantu tugas pelayanannya
g. Mempunyai peralatan minimal sesuai dengan ketentuan yang berlaku
dan peralatan harus tersedia ditempat prakteknya
h. Peralatan yang wajib dimilki dalam menjalankan praktek bidan sesuai
dengan jenis pelayanan yang diberikan.
9. Selain itu harus memenuhi persyaratan bangunan yang meliputi :
a. Untuk membedakan setiap identitas maka setiap bentuk pelayan
medik dasar swasta harus mempunyai nama tertentu, yang dapat
diambil dari nama yang berjasa dibidang kesehatan, atau yang telah
meninggal atau nama lain yang sesuai dengan fungsinya.
b. Ukuran papan nama seluas 1 x 1,5 meter
c. Tulisan blok warna hitam, dan dasarnya warna putih
d. Pemasangan papan nama pada tempat yang mudah dan jelas mudah
terbaca oleh masyarakat.
6
j. Tata ruang
a. Setiap ruang periksa minimal memiliki diameter 2 x 3 meter
b. Setiap bangunan pelayanan minimal mempunyai ruang priksa, ruang
adsministrasi/kegiatan lain sesuai kebutuhan, ruang tunggu, dan kamar
mandi/WC masing-masing 1 buah
c. Semua ruangan mempunyai ventilasi dan penerangan/pencahayaan.
Lokasi
d. Mempunyai lokasi tersendiri yang telah disetujui oleh pemerintah
daerah setempat (tata kota), tidak berbaur dengan kegiatan umum
lainnya seperti pusat perbelanjaan, tempat hiburan dan sejenisnya.
e. Tidak dekat dengan lokasi bentuk pelayanan sejenisnya dan juga agar
sesuai fungsi sosialnya yang salah satu fungsinya adalah mendekatkan
pelayanan kesehatan kepada masyarakat.
k. Hak dan Guna Pakai
a. Mempunyai surat kepemilikan (Surat hak milik/surat hak guna pakai)
b. Mempunyai surat hak guna (surat kontrak bangunan) minimal 2 j.
Kelengkapan Administrasi, Peralatan, Sarana dan Prasarana BPM
c. Memiliki papan nama bidan praktek swasta
d. Mempunyai SIPB dan masih berlaku
e. Ada visi dan misi
f. Ada falsafah
g. Memiliki buku standar pelayanan kebidanan
h. Ada buku pelayanan KB
i. Ada buku standar pelayanan kebidanan neonatal
j. Ada buku register pasien
k. Ada format catatan medik : (Kehamilan, persalinan, nifas, bayi baru
lahir, keluarga berencana, bayi, rujukan, surat kelahiran, surat
kematian, partograf, informed consent).
l. Peralatan dan Obat-Obatan
m. Sarana dan Pra sarana asuhan rooming-in/rawat gabung: Media
Penyuluhan Kesehatan (Poster, leaflet, booklet, majalah bidan, dll)
7
4. Visi dan misi dari PMB
PMB sebaiknya memiliki visi misi dalam pelaksanaannya :
a. Visi
Menurut Aditya (2010) Visi adalah suatu pandangan jauh tentang
perusahaan, tujuan-tujuan perusahaan dan apa yang harus dilakukan
untuk mencapai tujuan tersebut pada masa yang akan datang. Menyusun
Visi Menurut Kuncoro (2006) formulasi visi sangat penting sebagai arah
strategi dan pedoman melaksanakan strategi yang diformulasikan. Visi
yang terumuskan dengan baik setidaknya harus memiliki dua unsur
utama, yaitu:
1) Ideologi inti
Ideologi inti menunjukan karakter abadi dari sebuah organisasi
dan merupakan identitas yang begitu penting, yang bahkan melebihi
model manajemen, siklus hidup barang atau pasar, dan terobosan
teknologi sebuah perusahaan. Ideologi inti memberikan sumbangan
yang paling signifikan secara terus menerus kepada siapa saja yang
akan merumuskan sebuah visi.
2) Membayangkan masa depan
Dalam menggambarkan masa depan pentingnya tujuan yang
besar, panjang dan kuat (BHAG) yang mempunyai karakteristik yang
baik pada umumnya memiliki ciri: (1) berorientasi ke depan, artinya
memberikan gambaran yang menyeluruh tentang apa yang diinginkan
oleh daerah, (2) inspiratif, artinya mendorong semua orang menuju
imajinasi atau impian yang disepakati, (3) realistis, artinya berupaya
menggambarkan realitas yang paling optimal selama kurun waktu
tertentu.
3) Kriteria
Menurut Wibisono (2006) sebuah visi yang baik memiliki
beberapa kriteria sebagai berikut:
a) Menyatakan cita-cita atau keinginan perusahaan di masa depan.
8
b) Singkat, jelas, fokus, dan merupakan standart of excellence
c) Realistis dan sesuai dengan kompetensi organisasi
d) Atraktif dan mampu menginspirasi komitmen serta antusiasme,
e) Mudah diingat dan dimengerti seluruh karyawan serta
mengesankan bagi pihak yang berkepentingan.
f) Dapat ditelusuri tingkat pencapaiannya.
b. Misi
Menurut Arman (2015), Misi adalah pernyataan-pernyataan yang
mendefinsikan apa yang sedang/ akan dilakukan atau ingin dicapai dalam
waktu (sangat) dekat atau saat ini. Misi masih merupakan sesuatu yang
memiliki arti global dan cenderung generik. Oleh karena itu, beberapa
ditentukan beberapa obyektif yang ingin dicapai dalam beberapa hal
sehubungan dengan misi yang dicanangkan tersebut (Indrajit, 2008).
Sebuah perusahaan yang memiliki misi untuk menjadi perusahaan kurir
tercepat di dunia, memiliki beberapa obyektif yang harus dicapai.
Biasanya obyektif yang ditetapkan bersifat customer oriented seperti
(Indrajit, 2008) :
1) Memberi kepuasan pelanggan individu dengan cara melakukan
pengiriman barang-barang ke seluruh dunia secara cepat dan aman
2) Memberikan fasilitas-fasilitas khusus kepada pelanggan korporat yang
secara periodik mengirimkan barang-barangnya ke seluruh penjuru
dunia.
c. Peran Visi dan Misi
Visi dan misi membuat pemiliknya terdorong untuk memfokuskan
hidupmereka. Visi dan misi yang tajam bahkan dapat ditawarkan untuk
menjadi visi dan misi bersama (shared-vision). Dengan visi bersama,
maka semakin banyak orang yang berpartisipasi untuk mencurahkan
energinya untuk mewujudkan hal tadi. Fantasi tidak akan memiliki
kekuatan untuk menggerakkan orang serupa itu karena fantasi tidak
dimulai dari kenyataan yang diterima bersama melainkan kenyataan yang
dihayati secara pribadi saja.
9
d. Merumuskan Visi dan Misi yang efektif
Lestari (2007) yang memberikan 7 kriteria mengenai kriteria visi dan
misi yang hidup dan efektif yaitu:
1) Visi-misi harus sesuai dengan roh zaman dan semangat perjuangan
organisasi
2) Visi-misi harus mampu menggambarkan sosok organisasi idaman
yang mampu memikat hati orang
3) Visi-misi harus mampu menjelaskan arah dan tujuan organisasi
4) Visi-misi harus mudah dipahami karena diungkapkan dengan elegan
sehingga mampu menjadi panduan taktis dan strategis
5) Visi-misi harus memiliki daya persuasi yang mampu mengungkapkan
harapan, aspirasi, sentimen, penderitaan para stakeholder organisasi.
6) Visi-misi harus mampu mengungkapkan keunikan organisasi dan
menyarikan kompetensi khas organisasi tersebut yang menjelaskan
jati dirinya dan apa yang mampu dilakukannya
7) Visi-misi harus ambisius, artinya ia harus mampu mengkiristalkan
keindahan, ideal kemajuan, dan sosok organisasi dambaan masa
depan, sehingga mampu meminta pengorbanan dan investasi
emosional dari segenap stakeholder organisasi.
10
b. Unsur-unsur SWOT
1) Strengths (Kekuatan) adalah segala hal yang dibutuhkan pada kondisi
yang sifatnya internal organisasi agar supaya kegiatan-kegiatan
organisasi berjalan maksimal. Misalnya: kekuatan keuangan, motivasi
anggota yang kuat, nama baik organisasi terkenal, memiliki
pengetahuan dan keterampilan yang lebih, anggota yang pekerja keras,
memiliki jaringan organisasi yang luas, dan lainnya.
2) Weaknesses (Kelemahan) adalah terdapatnya kekurangan pada kondisi
internal organisasi, akibatnya kegiatan-kegiatan organisasi belum
maksimal terlaksana. Misalnya; kekurangan dana, memiliki orang-
orang baru yang belum terampil, belum memiliki pengetahuan yang
cukup mengenai organisasi, anggota kurang kreatif dan malas, tidak
adanya teknologi dan sebagainya.
3) Opportunities (Peluang) adalah faktor-faktor lingkungan luar yang
positif, yang dapat dan mampu mengarahkan kegiatan organisasi
kearahnya. Misalnya: Kebutuhan lingkungan sesuai dengan tujuan
organisasi, masyarakat lagi membutuhkan perubahan, tingkat
kepercayaan masyarakat terhadap organisasi yang bagus, belum
adanya organisasi lain yang melihat peluang tersebut, banyak pemberi
dana yang berkaitan dengan isu yang dibawa oleh organisasi dan
lainnya.
4) Threats (Ancaman) adalah faktor-faktor lingkungan luar yang mampu
menghambat pergerakan organisasi. Misalnya: masyarakat sedang
dalam kondisi apatis dan pesimis terhadap organisasi tersebut,
kegiatan organisasi seperti itu lagi banyak dilakukan oleh organisasi
lainnya sehingga ada banyak competitor atau pesaing, isu yang dibawa
oleh organisasi sudah basi dan lainnya.
a) Bidan Tutik Purwani, SST merupakan seseorang yang sopan dan
ramah
b) Bidan Tutik Purwani, SST memiliki keterampilan dan konseling
yang baik
11
c) Pelayanan yang diberikan baik sesuai dengan SOP
d) Lahan parkir kurang luas
e) Belum adanya mini lab untuk pemeriksaan spesimen Opportunities
(peluang)
f) Masyarakat akan dibantu dengan adanya jaminan kesehatan untuk
ibu melahirkan
g) Lokasi PMB Tutik Purwani, SST lebih strategis dan mudah
dijangkau masyarakat Nanggulan
h) Praktek mandiri bidan mematuhi UU Kebidanan No.4 tahun 2019
tentang persyaratan ijin praktek bidan harus memiliki sertifikat
kompetensi atau sertifikat profesi
i) Meningkatnya persaingan lulusan bidan
12
7. Pengelolaan Pelayanan Kebidanan
Pelayanan kebidanan berfokus pada upaya pencegahan, promosi
kesehatan, pertolongan persalinan normal, deteksi komplikasi pada ibu dan
anak, melaksanakan tindakan asuhan sesuai dengan kewenangan atau
bantuan lain jika diperlukan, serta melakukan tindakan kegawatdaruratan.
Bidan memiliki tugas penting dalam konseling dan pendidikan kesehatan,
tidak hanya kepada perempuan, tetapi juga kepada keluarga, dan
masyarakat.
Kegiatan pelayanan mencakup pelayanan antenatal dan persiapan
menjadi orang tua, serta dapat meluas pada kesehatan perempuan, kesehatan
seksual, atau kesehatn reproduksi dan asuhan anak. Bidan dapat prktik di
berbagai tatanan pelayanan, termasuk di rumah, masyarakat, rumah sakit,
klinik, PMB atau unit kesehatan lain.
8. Pelayanan di PMB
Menurut Trianti (2016). Dalam bidan praktek mandiri memberikan
pelayanan yang meliputi :
a. Penyuluhan Kesehatan
b. Konseling KB
c. Antenatal Care (senam hamil, perawatan payudara)
d. Asuhan Persalinan
e. Perawatan Nifas (senam nifas)
f. Perawatan Bayi
g. Pelayanan KB (IUD, AKBK, Suntik, Pil)
h. Imunisasi (Ibu dan Bayi)
i. Kesehatan Reproduksi Remaja
j. Perawatan Pasca Keguguran
Bidan Praktek Mandiri selain berfungsi tempat pelayanan masyarakat
terutama ibu dan anak, hendaknya dapat pula berfungsi sebagai tempat
pemberdayaan masyarakat yang juga berperan ikut serta dalam kegiatan
13
peran serta masyarakat, misalnya menjadi ibu asuh dan menjadi anggota
organisasi kemasyarakatan (Ambarwati, 2010).
14
Perencanaan adalah proses untuk merumuskan masalah kegiatan,
menentukan kebutuhan dan sumber daya yang tersedia, menetapkan
tujuan kegiatan yang paling pokok dan menyusun langkah-langkah
untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan (landasan dasar).Contoh
perencanaan adalah :
a) Jadwal Pelayanan ANC di Posyandu, Puskesmas
b) Rencana Pelatihan untuk kader, nakes
Pengorganisasian adalah suatu langkah untuk menetapkan
menggolong-golongkan, dan mengatur berbagai kegiatan, penetapan
tugas-tugas dan wewenang seseorang dan pendelegasian wewenang
dalam rangka pencapaian tujuan layanan [Link] dari
pengorganisasian adalah merupakan alat untuk memadukan atau
sinkronisasi semua kegiatan yang berasfek personil, finansial, material
dan tata cara dalam rangka mencapai tujuan pelayanan kebidanan
yang telah di tetapkan.
a) Puskesmas
b) Puskesmas Pembantu
c) Polindes dan Pembantu
d) Balai Desa
b. Penggerakan dan pelaksanaan, pengawasan dan pengendalian (P3)
Penggerakan dan Pelaksanaan adalah suatu usaha untuk menciptakan
iklim kerjasama di antara pelaksanaan program pelayanan kebidanan
sehingga tujuan dapat tercapai secara efektif dan efisien. Fungsi
manajemen ini lebih menekankan bagaimana seseorang manajer
pelayanan kebidanan mengarahkan dan menggerakkan semua sumber
daya yang ada untuk mencapai tujuan pelayanan kebidanan yang telah di
sepakati. Contoh penggerakan dan pelaksanaan, pengawasan dan
pengendalian adalah:
1) Pencatatan dan pelaporan (SP2TP)
2) Supervisi
3) Stratifikasi Puskesmas
15
4) Survey
3) Output
Output adalah hasil dari suatu pekerjaan manajemen. Untuk
manajemen kesehatan, output dikenal dengan nama pelayanan
kesehatan (health services). Dalam kebidanan dikenal pelayanan
kebidanan. Hasil atau output adalah hasil pelaksanaan kegiatan.
Output yaitu yang menunjuk pada penampilan (perfomance)
pelayanan kesehatan Penampilan daat dibedakan atas dua macam.
Pertama, penampilan aspek medis pelayanan kesehatan. Kedua,
penampilan aspek non medis pelayanan kesehatan. Secara umum di
sebutkan apabila kedua penampilan ini tidak sesuai dengan standar
yang telah di tetapkan maka berarti pelayanan kesehatan yang
diselenggarakan bukan pelayanan kesehatan yang bermutu.
Cakupan Kegiatan Program: Jumlah kelompok masyarakat yang
sudah menerima layanan kebidanan (memerator), dibandingkan
dengan jumlah kelompok masyarakat yang menjadi sasaran program
kebidanan (denominator). Pelayanan yang diberikan sesuai dengan
standar pelayanan kebidanan (mulai dari KIE, Asuhan Kebidanan,
dsb). Contoh: Untuk BPS: Outputnya adalah Kesejahteraan ibu dan
janin, Kepuasan Pelanggan, Kepuasan bidan sebagai provider.
4) Effect
Perubahan pengetahuan, sikap, dan prilaku masyarakat yang
diukur dengan peran serta masyarakat untuk memanfaatkan pelayanan
kebidanan yang ada di sekitarnya (Posyandu, BPS, Puskesmas dsb)
yang tersedia.
5) Out come (Impact)
Di pergunakan untuk menilai perubahan atau dampak (impact)
suatu program, perkembangan jangka panjang termasuk perubahan
status kesehatan masyarakat.
16
Contoh Kasus di PMB Tutik Purwani Perencanaan Pelayanan Kebidanan
a. Input
Merujuk pada sumber-sumber yang diperlukan untuk melaksanakan
aktifitas, yang meliputi :
1) Man :
Tenaga yang dimanfaatkan di PMB Tutik Purwani, [Link] aitu 4 bidan
yang kompeten. Bidan Tutik Purwani,[Link] sebagai bidan coordinator
sekaligus pelaksana pelayanan kebidanan dalam PMB, Bidan Kornelia
Putri,[Link] dan bidan Cilfi Setia, [Link] sebagai bidan yang
bertanggung jawab pada pelaporan dalam pelayanan kebidanan di
PMB, bidan Nindi Ratna, [Link] dan bidan Bella, Amd,Keb sebaga
pelaksana d PMB.
2) Money :
Anggaran yang digunakan di PMB ini merujuk paa standar tarif
pelayanan PMB IBI sleman. Setiap pemasukan dan pengeluaran
dilakukan pelaporan setiap hari dalam pelaporan keuangan dengan
system computer. Bidan pelaksana digaji perbulan.
3) Material :
Bahan baku atau materi (sarana dan prasarana) yang dibutuhkan untuk
menunjang pelayanan kebidanan seperti obat obatan, alat dan bahan
kebidanan, rekam medis, alat kebersihan, dan lain-lain.
4) Metode :
Cara yang dipergunakan dalam bekerja atau prosedur kerja. Contoh
metode yang dipergunakan di PMB Tutik Purwani, SST adalah SOP,
SPM.
5) Minute/ Time :
Jangka waktu kegiatan program jangka waktu pelayanan PMB Tutik
Purwani, SST setiap hari pada pukul 06.00 WIB hingga 21.00 WIB
kecuali persalinan 24 jam.
17
6) Market :
Sistem pemasaran yang dipergunakan melalui organisasi profesi,
puskesmas, melalui mulut ke mulut, dan informasi melalui media
cetak (label obat, papan nama) dan media social.
b. Proses
Memonitor tugas atau kegiatan yang akan dilaksanakan meliputi :
1) P1 (Perencanaan)
Contoh kegiatan pelayanan di PMB adalah merencanakan kegiatan
pelayanan imunisasi dengan membuat jadwal imunisasi. Imunisasi
dilakukan berdasarkan jenis vaksin yang diberikan. Vaksin Hb uniject
bisa dilakukan setiap hari sesuai dengan prosedur, vaksin BCG,
Pentabio, IPV, dan MR dilakukan setiap Hari Minggu. Perencanaan
yang lain yaitu merencanakan pelayanan USG bermitra dengan dokter
SPOG dengan membuat jadwal Hari Jumat di minggu pertama dan
ketiga.
2) P2 (Pengorganisasian)
Bidan Tutik Purwani, SST memadukan atau sinkronisasi semua
kegiatan yang berasfek personil, finansial, material dan tata cara
dalam rangka mencapai tujuan pelayanan kebidanan yang telah di
tetapkan. Pengorganisasian ini sudah dilakukan dengan baik.
3) P3
Penggerakan dan Pelaksanaan adalah suatu usaha untuk menciptakan
iklim kerja sama di antara pelaksanaan program pelayanan kebidanan
sehingga tujuan dapat tercapai secara efektif dan efisien. Bidan Tutik
Purwani, SST seorang manajer pelayanan kebidanan sudah
mengarahkan dan menggerakkan semua sumber daya yang ada untuk
mencapai tujuan pelayanan kebidanan yang telah di sepakati.
Pencatatan dan pelaporan sudah tercatat dengan sistematis.
18
c. Output
Output adalah hasil dari manajemen. Pelayanan yang diberikan di
PMB Tutik Purwani, SST sudah sesuai dengan standar pelayanan
kebidanan mulai dari KIE,serta asuhan kebidanannya. Hal ini dapat
dilihat dari mutu di PMB seperti kesejahteraan ibu dan janin, kepuasan
pelanggan, kepuasan bidan sebagai provider pelayanan kebidanan.
d. Effect
Perubahan pengetahuan dan sikap masyarakat yang diukur dengan
peran serta masyarakat untuk memanfaatkan pelayanan kebidanan yang
ada disekitarnya dalam hal ini adalah PMB Tutik Purwani, [Link].
Masyarakat yang tinggal di daerah cakupan PMB dan diluar jangkauan
PMB memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan di PMB Tutik
Purwani, [Link].
e. Outcome
Meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan.
19
12. Perencanaan dan pengadaan barang baku dan habis pakai di PMB
Perencanaan dan pengadaan barang disesuaikan berdasarkan evaluasi
pelayanan kebidanan yang telah dilakukan secara sistematis. Disusun
sebagai rencana bulanan/tahunan PMB.
20
15. Sumber Dana PMB
Sumber dana dapat didapatkan melalui :
a. Dana Sendiri
Dana sendiri didapatkan dari tabungan mandiri Bidan yang dirasa
cukup untuk digunakan baik dari segi pembangunan, kelengkapan alat
dan hal-hal yang berkaitan dengan Praktik Mandiri.
b. Investor
Pada saat memulai usaha baru, sering kali pengusaha dihadapkan
kepada masalah kekurangan modal usaha. Pihak yang paling banyak
dilirik oleh pengusaha yang menjalankan usaha baru adalah investor
penyokong, yakni para investor yang berasal dari kerabat ataupun
sahabat [Link] satu kelebihan menarik dana investasi dari pihak
investor adalah bahwa kegiatan ini tidak melibatkan prosedur birokrasi
yang rumit, seperti yang harus ditempuh oleh pengusaha yang
bersangkutan apabila mereka mengajukan permintaan penyertaan modal
dari modal ventura. Adapun kelemahan utama dari penarikan dana
investasi melalui investor penyokong adalah masalah komitmen
keterikatan dana investasi mereka di dalam usaha yang dijalankan. Sering
kali terjadi penarikan dana penyertaan dari investor penyokong pada saat
dana tersebut masih diperlukan perusahaan, sehingga hal tersebut akan
mengganggu likuiditas usaha.
c. Pinjaman
Pinjaman dilakukan, apabila dari segi tabungan tidak mencukupi dan
tidak memiliki rekan investor. Pinjaman dapat diperoleh pada orang lain
ataupun dari tempat-tempat yang menyediakan dana bagi pengusaha
yang membutuhkan.
21
tajam ,tata cara kelola BPM bekerjasama dengan institussi lain..sebagai
contoh MOU dengan PT ARA ,dimana didalam MOU ada option setiap
bulan atau setiap 3 bulan atau pertahun untuk administrasinya,untuk
pengambilan bisa dikondisikan dengan BPM. PMK No 28, yaitu pada :
a. Pasal 38 ayat 1 : PMB harus melaksanakan pengelolaan limbah
medis
b. Pasal 38 ayat 2 : Pengelolaan limbah medis sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) dapat dilakukan melalui kerjasama dengan institusi dan
kerja sama dengan institusi yang memiliki instalasi pengelolaan limbah
22
18. Sistem Pencatatan dan Pelaporan Di PMB
Adapun jenis pendokumentasian yang dilakukan menggunakan:
a. Buku Register dan Rekam Medis (RM) ANC Kunjungan Awal dan
Kunjungan Ulang
b. Buku Register dan Rekam Medis Imunisasi
c. Buku Register dan Rekam Medis KB
d. Buku Register dan Rekam Medis Persalinan
e. Buku Register dan Rekam Medis Nifas
f. Buku Register MTBS/MTBM
g. Buku buku standar pelayanan kebidanan
h. Format catatan medic :
1) Antenatal
2) Persalinan
3) Nifas
4) Bayi baru lahir
5) Keluarga berencana
6) Bayi sehat
7) Rujukan
8) Laporan
9) Surat kelahiran
10) Surat kematian
11) Partograf
12) Informed consent
13) Formulir permintaan darah
23
tingkat kepuasan rata-rata penduduk penyelenggaraannya sesuai standar dan
kode etik profesi.
24
standar layanan kesehatan yang telah disepakati yang meliputi ketepatan,
kepatuhan, kebenaran, dan konsistensi. Tidak dipenuhinya dimensi
kompetensi teknis dapat mengakibatkan berbagai hal, mulai dari
penyimpangan kecil terhadap standar layanan kesehatan, sampai pada
kesalahan fatal yang dapat menurunkan mutu layanan kesehatan dan
membahayakan jiwa pasien.
e. Dimensi Keterjangkauan atau Akses
Artinya, layanan kesehatan harus dapat dicapai dan dijangkau oleh
masyarakat, tidak terhalang oleh keadaan geografis, sosial, ekonomi,
organisasi, dan bahasa. Akses geografis diukur dengan jarak, lamanya
perjalanan, biaya perjalanan, jenis transportasi, dan/atau hambatan fisik
lain yang dapat menghalangi seseorang memperoleh layanan kesehatan.
f. Dimensi Efektivitas
Layanan kesehatan harus efektif, artinya harus mampu mengobati
atau mengurangi keluhan yang ada, mencegah terjadinya penyakit dan
berkembang luasnya penyakit yang ada. Efektivitas layanan kesehatan ini
bergantung pada bagaimana standar layanan kesehatan itu digunakan
dengan tepat, konsisten, dan sesuai dengan situasi setempat. Dimensi
efektivitas berhubungan erat dengan dimensi kompetensi teknis terutama
dalam pemilihan alternatif dalam menghadapi relative risk dan
keterampilan dalam mengikuti prosedur yang terdapat dalam standar
layanan kesehatan.
g. Dimensi Efisiensi
Sumber daya kesehatan sangat terbatas. Oleh karena itu dimensi
efisiensi kesehatan sangat penting dalam layanan kesehatan. Layanan
kesehatan yang efisien dapat melayani lebih banyak pasien dan
masyarakat. Layanan kesehatan yang tidak efisien umumnya berbiaya
mahal, kurang nyaman bagi pasien, memerlukan waktu lama, dan
menimbulkan risiko yang lebih besar pada pasien. Dengan melakukan
analisis efisiensi dan efektivitas kita dapat memilih intervensi yang
paling efisien.
25
h. Dimensi Kesinambungan
Dimensi kesinambungan layanan kesehatan artinya pasien harus
dapat dilayani sesuai dengan kebutuhannya, termasuk rujukan jika
diperlukan tanpa mengulangi prosedur diagnosis dan terapi yang tidak
perlu. Pasien harus selalu mempunyai akses ke layanan kesehatan yang
dibutuhkannya. Apabila riwayat penyakit pasien terdokumentasi dengan
lengkap, akurat, dan terkini maka layanan kesehatan rujukan yang
diperlukan pasien dapat terlaksana dengan tepat,waktu dan tempat.
i. Dimensi Keamanan
Dimensi keamanan maksudnya adalah layanan kesehatan harus aman
baik bagi pasien, pemberi layanan maupun masyarakat sekitarnya.
Layanan kesehatan yang bermutu harus aman dari risiko cidera, infeksi,
efek samping, atau bahaya lain. Oleh karena itu, harus disusun suatu
prosedur yang akan menjamin keamanan kedua belah pihak.
j. Dimensi Kenyamanan
Dimensi kenyamanan tidak berpengaruh langsung dengan efektivitas
layanan kesehatan tetapi mempengaruhi kepuasan pasien/konsumen
sehingga mendorong pasien untuk datang berobat kembali ke tempat
tersebut. Kenyamanan dan kenikmatan dapat menimbulkan kepercayaan
pasien terhadap organisasi layanan kesehatan.
k. Dimensi Informasi
Layanan kesehatan yang bermutu harus mampu memberikan
informasi yang jelas tentang apa, siapa, kapan, di mana, dan bagaimana
layanan kesehatan itu akan/atautelah dilaksanakan. Dimensi informasi ini
sangat penting pada tingkat puskesmas dan rumah sakit.
l. Dimensi Ketetapan Waktu
Agar berhasil, layanan kesehatan harus dilakukan dalam waktu dan
cara yang tepat oleh pemberi layanan yang tepat, menggunakan peralatan
dan obat yang tepat, serta biaya yang tepat (efisien).
m. Dimensi Hubungan antar Manusia
26
Hubungan antarmanusia adalah hubungan antara pemberi layanan
kesehatan (provider) dengan pasien atau masyarakat (konsumen),
pemerintah daerah, lembaga swadaya masyarakat (LSM), atau antar
sesama pemberi layanan kesehatan, (dinas kesehatan, rumah sakit,
puskesmas). Hubungan antar manusia yang baik akan menimbulkan
kepercayaan dan kredibilitas dengan cara saling menghargai, menjaga
rahasia, saling menghormati, responsif, memberi perhatian, dan lain-lain.
27
mempertahankan dan meningkatkan kualitas, dapat memuaskan
klien beserta keluarganya.
6) Jaringan yang mencakup seluruh Bidan Praktek mandiri dalam
pelayanan keluarga Berencana dan kesehatan Reproduksi.
b. Tujuan
1) Meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat
2) Meningkatkan profesionalitas Bidan
3) Mengembangkan kepemimpinan Bidan di masyarakat
4) Meningkatkan cakupan pelayanan Kesehatan reproduksi dan
Keluarga Berencana.
5) Mempercepat penurunan angka kesakitan dan kematian Ibu, Bayi
dan Anak
c. Pelayanan Yang di berikan Bidan Delima
Pelayanan yang diberikan oleh Bidan Delima sama dengan
pelayanan yang diberikan oleh Bidan Praktek Mandiri, karena Bidan
Delima itu merupakan suatu program yang ditetapkan oleh IBI untuk
meningkatkan mutu pelayanan kebidanan dan pelayanannya tersebut
sudah teruji dan terseleksi, serta mempunyai standar kualitas, unggul,
khusus, bernilai tambah, lengkap, dan memiliki hak paten. Diharapkan
mampu menciptakan pelayanan berkualitas dalam kesehatan
Reproduksi dan Keluarga Berencana yang berlandaskan kasih sayang,
sopan santun, ramah tamah, sentuhan yang manusiawi, terjangkau
dengan tindakan kebidanan sesuai standar dan kode etik profesi.
Dengan program yang diadakan tersebut diharapkan bidan-bidan
di Indonesia dapat meningkatkan pelayanannya kepada masyarakat.
Pelayanan yang diberikan misalnya untuk mendukung pembinaaan
peningkatan kualitas pelayanan bidan dalam lingkup Keluarga
Berencana (KB) dan Kesehatan Reprouksi.
Program Bidan Delima akan terus dikembangkn secara mandiri.
Sosialisasi terus dilaksanakan, yaitu memotivasi daerah atau provinsi
28
lain. Termasuk sosialisasi kepada masyarakat pemerintah daerah
untuk program ini. Dengan dukungan berbagai pihak IBI yakin
program ini akan berhasil (Farani, 2013).
29
BAB III
PELAKSANAAN MANAJEMEN PELAYANAN KEBIDANAN
30
6. Persiapan peralatan medis dan medis usaha praktek bidan secara perorangan
dengan pelayanan pemeriksaan pertolongan persalinan dan perawatan
7. Membuat Surat Perjanjian sanggup mematuhi perjanjian yang tertulis.
31
a. Setiap ruang periksa minimal memiliki diameter 2 x 3 meter
b. Setiap bangunan pelayanan minimal mempunyai ruang priksa, ruang
adsministrasi/kegiatan lain sesuai kebutuhan, ruang tunggu, dan kamar
mandi/WC masing-masing 1 buah
c. Semua ruangan mempunyai ventilasi dan penerangan/pencahayaan.
Lokasi
d. Mempunyai lokasi tersendiri yang telah disetujui oleh pemerintah daerah
setempat (tata kota), tidak berbaur dengan kegiatan umum lainnya seperti
pusat perbelanjaan, tempat hiburan dan sejenisnya.
e. Tidak dekat dengan lokasi bentuk pelayanan sejenisnya dan juga agar
sesuai fungsi sosialnya yang salah satu fungsinya adalah mendekatkan
pelayanan kesehatan kepada masyarakat.
11. Hak dan Guna Pakai
a. Mempunyai surat kepemilikan (Surat hak milik/surat hak guna pakai)
b. Mempunyai surat hak guna (surat kontrak bangunan) minimal 2
c. Kelengkapan Administrasi, Peralatan, Sarana dan Prasarana BPM
d. Memiliki papan nama bidan praktek swasta
e. Mempunyai SIPB dan masih berlaku
f. Ada visi dan misi
g. Ada falsafah
h. Memiliki buku standar pelayanan kebidanan
i. Ada buku pelayanan KB
j. Ada buku standar pelayanan kebidanan neonatal
k. Ada buku register pasien
l. Ada format catatan medik : (Kehamilan, persalinan, nifas, bayi baru
lahir, keluarga berencana, bayi, rujukan, surat kelahiran, surat kematian,
partograf, informed consent)
m. Peralatan dan Obat-Obatan
n. Sarana dan Pra sarana asuhan rooming-in/rawat gabung: Media
Penyuluhan Kesehatan (Poster, leaflet, booklet, majalah bidan, dll)
32
C. Visi dan Misi Praktek Bidan mandiri
Berikut merupakan visi dan Misi dari Praktek Bidan Mandiri Ocik Lestari,
[Link], yaitu :
Visi :
Mewujudkan bidan Praktik Mandiri yang profesional dengan standar pelayanan
yang modern.
Misi :
1. Meningkatkan kemampuan pribadi
2. Meningkatkan kemampuan melalui pendidikan
3. Meningkatkan mutu pelayanan dalam memberikan asuhan
4. Meningkatkan kesejahteraan kesehatan Ibu, Bayi dan Anak
5. Mewujudkan kerjasama dengan jejaring kerja
33
pendidikan kesehatan, tidak hanya kepada perempuan, tetapi juga kepada
keluarga, dan masyarakat.
Pada Kegiatan pelayanan mencakup pelayanan antenatal dan persiapan
menjadi orang tua, serta dapat meluas pada kesehatan perempuan, kesehatan
seksual, atau kesehatan reproduksi dan asuhan anak. Bidan dapat praktik di
berbagai tatanan pelayanan, termasuk di rumah, masyarakat, rumah sakit,
klinik, PMB atau unit kesehatan lain.
34
disterilkan dengan baik, rekam medis yang berbentuk register, alat
kebersihan, dan lain-lain.
d. Metode
Metode yang dipergunakan di PMB Ocik Lestari, SST adalah SOP, SPM
dan teraphy Al-Quran pada proses persalinan.
e. Minute/ Time
Jangka waktu kegiatan program jangka waktu pelayanan PMB Ocik
Lestari, SST setiap hari pada pukul 09.00 WIB hingga 22.00 WIB kecuali
persalinan 24 jam.
f. Market
Sistem pemasaran yang dipergunakan melalui organisasi profesi,
puskesmas, melalui mulut ke mulut, dan informasi melalui media cetak
(label obat, papan nama) dan media social.
2. Proses
Memonitor tugas atau kegiatan yang akan dilaksanakan meliputi :
a. P1 (Perencanaan)
Merencanakan kegiatan pelayanan imunisasi dengan membuat jadwal
imunisasi. Imunisasi dilakukan berdasarkan jenis vaksin yang diberikan.
Vaksin Hb uniject bisa dilakukan setiap hari sesuai dengan prosedur,
vaksin BCG, Pentabio, IPV, dan MR dilakukan setiap Hari Minggu.
Perencanaan yang lain yaitu merencanakan peningkatan mutu SDM
untuk mengikuti pelatihan seperti APN dan AKBK.
b. P2 (Pengorganisasian)
Bidan Ocik Lestari, SST memadukan atau sinkronisasi semua kegiatan
yang berasfek personil, finansial, material dan tata cara dalam rangka
mencapai tujuan pelayanan kebidanan yang telah di tetapkan.
Pengorganisasian ini sudah dilakukan dengan baik.
c. P3
Penggerakan dan Pelaksanaan adalah suatu usaha untuk menciptakan
iklim kerja sama di antara pelaksanaan program pelayanan kebidanan
sehingga tujuan dapat tercapai secara efektif dan efisien. Bidan Ocik
35
Lestari, SST seorang manajer pelayanan kebidanan sudah mengarahkan
dan menggerakkan semua sumber daya yang ada untuk mencapai tujuan
pelayanan kebidanan yang telah di sepakati. Pencatatan dan pelaporan
sudah tercatat dengan sistematis berupa laporan PWS KIA, KB,
Imunisasi, dan pelaporan BPJS.
3. Output
Output adalah hasil dari manajemen. Pelayanan yang diberikan di PMB
Ocik Lestari, SST sudah sesuai dengan standar pelayanan kebidanan mulai
dari KIE,serta asuhan kebidanannya. Hal ini dapat dilihat dari mutu di PMB
seperti kesejahteraan ibu dan janin, kepuasan pelanggan, kepuasan bidan
sebagai provider pelayanan kebidanan.
4. Effect
Perubahan pengetahuan dan sikap masyarakat yang diukur dengan peran
serta masyarakat untuk memanfaatkan pelayanan kebidanan yang ada
disekitarnya dalam hal ini adalah PMB Ocik Lestari, [Link]. Masyarakat yang
tinggal di daerah cakupan PMB dan diluar jangkauan PMB memanfaatkan
fasilitas pelayanan kesehatan di PMB Ocik Lestari, SST.
5. Outcome
Meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan.
36
memiliki 4 asisten yang diantaranya : 1 yang telah menyelesaikan pendidikan
Diploma D-IV dan 3 lainnya telah meyelesaikan pendidikan Diploma III
kebidanan.
Manajemen Keuangan di PMB
Menjemen pengelolaan keuangan sudah dilakukan dengan baik. Standar
tarif pelayanan PMB IBI Kota Bengkulu. Setiap pemasukan dan pengeluaran
dilakukan pelaporan setiap hari dengan konsep keterbukaan, dikelola bersama
dan dihitung untuk biaya operasional klinik dan gaji karyawan. Adapun
pemasukan dapat diperoleh terdiri dari:
1. Pelayanan ANC
2. Pelayanan KB
3. Pelayanan Persalinan
4. Pelayanan Nifas dan Neonatal
5. Pelayanan Imunisasi
6. Pelayanan Konseling
7. Pijat Bayi
8. Dagangan
Pengeluaran pada PMB biasanya digunakan untuk keperluan sebagai berikut:
1. Gaji Karyawan
2. Pembelian Obat
3. Biaya Operasional Klinik (listrik, telepon)
4. Dagangan
Sumber Dana PMB
Sumber dana dapat didapatkan melalui :
1. Dana Sendiri
Dana sendiri didapatkan dari tabungan mandiri Bidan yang dikumpukan
dari beberapa pelayanan kesehatan dan dagangan yang dirasa cukup untuk
digunakan baik dari segi pembangunan, kelengkapan alat dan hal-hal yang
berkaitan dengan Praktik Mandiri.
37
2. Investor
Pada saat memulai usaha baru, sering kali pengusaha dihadapkan
kepada masalah kekurangan modal usaha. Pihak yang paling banyak dilirik
oleh pengusaha yang menjalankan usaha baru adalah investor penyokong,
yakni para investor yang berasal dari kerabat ataupun sahabat [Link]
satu kelebihan menarik dana investasi dari pihak investor adalah bahwa
kegiatan ini tidak melibatkan prosedur birokrasi yang rumit, seperti yang
harus ditempuh oleh pengusaha yang bersangkutan apabila mereka
mengajukan permintaan penyertaan modal dari modal ventura. Adapun
kelemahan utama dari penarikan dana investasi melalui investor penyokong
adalah masalah komitmen keterikatan dana investasi mereka di dalam usaha
yang dijalankan. Sering kali terjadi penarikan dana penyertaan dari investor
penyokong pada saat dana tersebut masih diperlukan perusahaan, sehingga
hal tersebut akan mengganggu likuiditas usaha.
38
sebelumnya, serta kurangnya peran teknologi dalam penggerakan organisasi
dan sebagainya.
3. Opportunities (Peluang)
adalah faktor-faktor lingkungan luar yang positif, yang dapat dan mampu
mengarahkan kegiatan organisasi kearahnya.
Misalnya: Kebutuhan lingkungan sesuai dengan tujuan organisasi,
masyarakat lagi membutuhkan perubahan, tingkat kepercayaan masyarakat
terhadap organisasi yang bagus, belum adanya organisasi lain yang melihat
peluang tersebut, banyak pemberi dana yang berkaitan dengan isu yang
dibawa oleh organisasi dan lainnya.
4. Threats (Ancaman)
Adalah faktor-faktor lingkungan luar yang mampu menghambat pergerakan
organisasi.
Misalnya: masyarakat sedang dalam kondisi apatis dan pesimis terhadap
organisasi tersebut, kegiatan organisasi seperti itu lagi banyak dilakukan
oleh organisasi lainnya sehingga ada banyak competitor atau pesaing, isu
yang dibawa oleh organisasi sudah basi dan lainnya.
a. Bidan Ocik Lestari, [Link] merupakan seseorang yang sopan dan ramah
b. Bidan Ocik Lestari, [Link] memiliki keterampilan dan konseling yang baik
c. Pelayanan yang diberikan baik sesuai dengan SOP
d. Tempat cuci tangan bagi pasien kurang strategis
e. Durasi waktu dalam pemberian pelayanan kepada pasien
f. Masyarakat akan dibantu dengan adanya jaminan kesehatan untuk ibu
melahirkan
g. Lokasi PMB Ocik Lestari, [Link] cukup strategis karena terletak di tengah
pemukiman penduduk
h. Praktek mandiri bidan mematuhi UU Kebidanan No.4 tahun 2019 tentang
persyaratan ijin praktek bidan harus memiliki sertifikat kompetensi atau
sertifikat profesi
39
i. Praktek Mandiri Bidan Ocik Lestari, SST menggunakan metode teraphy
murottal Al-Quran pada proses persalinan sehingga membuat pasien
menjadi tenang dan nyaman.
40
a. Tempat yang strategis (place)
Berada di tengah pemukiman penduduk
b. Produk yang bermutu (product)
Brand produk yang di pasarkan sudah ternama dan sudah memenuhi
standar kelayakan dalam penjualan dan pemakaian
c. Harga yang kompetitif (price)
Adanya pertimbangan dalam pemilihan produk yang akan ditawarkan
dan memperhatikan harga atau tarif pasaran sehingga harga yang
ditetapkan masih bisa dijangau oleh masyarakat
d. Promosi yang gencar (promotion)
Harus tetap dilakukan terutama melalui media sosial, karena dapat
dengan mudah menyebar di khalayak ramai.
2. Dari sudut pandang pembeli/customer, yaitu (4C)
a. Kebutuhan dan keinginan pelanggan (customer needs and wants)
Penyediaan pelayaan dan produk yang kemungkinan dibutuhkan oleh
pasien/klien
b. Biaya pembeli (cost to the customer)
Sesuai dengan harga pasaran
c. Kenyamanan (convenience)
Selain keterampilan yang professional, kenyamanan merupakan hal
pokok yang harus diciptakan anggota kepada pasien. Agar klien/pasien
mendapatkan kepuasanan dalam pelayanan kesehatan
d. Komunikasi (communication)
Anggota dapat melakukan komunikasi yang baik dan mudah dimengerti
oleh pasien/klien sehingga memudahkan dalam proses pelayanan
terutama pada konseling.
41
1. Buku Register dan Rekam Medis (RM) ANC Kunjungan Awal dan
Kunjungan Ulang
2. Buku Register dan Rekam Medis Imunisasi
3. Buku Register dan Rekam Medis KB
4. Buku Register dan Rekam Medis Persalinan
5. Buku Register dan Rekam Medis Nifas
6. Buku Register MTBS/MTBM
7. Buku buku standar pelayanan kebidanan
8. Format catatan medic :
a. Antenatal
b. Persalinan
c. Nifas
d. Bayi baru lahir
e. Keluarga berencana
f. Bayi sehat
g. Rujukan
h. Laporan
i. Surat kelahiran
j. Surat kematian
k. Partograf
l. Informed consent
m. Formulir permintaan darah
42
2. Dari dimensi penyedia layanan
Seperti : Anggota dituntut memberikan pelayanan secara professional
kepada pasien, hal ini dapat diwujudkan dengan melakukan berbagai cara
salah satunya itu seperti dengan pelatihan agar dapat meningkatkan
keterampilan baik bidan ataupun asisten bidan lainnya sehingga ilmu
pengetahuan dan ketrampilan lebih maju, mutu peralatan yang baik, dan
memenuhi standar yang baik.
3. Dimensi Mutu Pelayanan Kesehatan
Menurut Lori Di Pete Brown, et al., dalam bukunya Quality Assurance of
Health Care in Developing Countries, mutu merupakan fenomena yang
komprehensif. Kegiatan menjaga mutu dapat menyangkut satu atau
beberapa dimensi yang tepat untuk pelayanan klinis maupun manajemen
pelayanan kesehatan. Delapan dimensi mutu ini juga dapat membantu pola
pikir dalam menetapkan dan menganalisa masalah untuk mengukur sejauh
mana telah mencapai standar pelayanan kesehatan.
1. Dimensi Kompetensi teknis:
Seperti : Anggota melakukan pelayanan kesehatan dan setiap tindakan
harus sesuai dengan SOP yang telah ditentukan agar mencegah terjadinya
penyimpangan kecil terhadap standar layanan kesehatan, sampai pada
kesalahan fatal yang dapat menurunkan mutu layanan kesehatan dan
membahayakan jiwa pasien.
2. Dimensi Keterjangkauan atau Akses:
Seperti : Penempatan lokasi Praktek Bidan Mandiri Ocik Lestari, [Link]
dibangun di pertengahan pemukiman penduduk serta akses jalan sudah
baik dan mudah di jangkau baik menggunakan transportasi roda empat
ataupun tranportasi roda dua serta wilayah parkir yang cukup luas
sehingga memberikan kenyamanan bagi setiap pasien untuk datang.
3. Dimensi Efektivitas:
Seperti : Di Praktek Mandiri Bidan Ocik Lestari,[Link] juga mampu
mengobati atau mengurangi keluhan yang ada, mencegah terjadinya
penyakit dan berkembangluasnya penyakit yang ada. Dan pada saat ini
pelayanan umum dilakukan dengan berkolaborasi dengan dokter umum.
43
4. Dimensi Efisiensi:
Seperti : Pada layanan persalinan di Praktek Mandiri Bidan Ocik
Lestari,[Link] juga sudah bekerja sama dengan pihak Asuransi kesehatan
seperti BPJS,KIS hal ini dilakukan untuk membantu pasien untuk
mengurani beban biaya dalam mendapatkan layanan, sehingga ibu
bersalin tetap bisa mendapatkan pelayanan yang baik dengan sesuai
standar tanpa harus pusing memikirkan biaya yang mahal dalam bersalin.
5. Dimensi Kesinambungan:
Seperti : Pada Praktek Mandiri Bidan Ocik Lestari,[Link] pelayanan
diberikan sesuai dengan prosedur kebutuhan pasien dan jika terdapat
kasus kasien yang patofisiologi yang bukan merupakan kebijakan bidan
maka diharuskan pasien untuk di rujuk, hal ini berguna agar
mendapatkan penanganan pelayanan yang tepat serrta meminimalisir
terjadinya kecelakaan yang dapat merugikan pasien ataupun bidan.
44
4. Belajar dari buku kajian mandiri dan mendapat bimbingan fasilitator
5. Divalidasi oleh fasilitator dan diberi umpan balik
6. Prosedur validasi standar dilakukan terhadap semua jenis pelayanan yang
diberikan oleh Bidan Praktek Mandiri yang besangkutan. Bagi yang lulus,
yaitu yang telah memenuhi seluruh persyaratan minimal dan prosedur
standar, diberikan sertifikat yang berlaku selama 5 tahun dan tanda
pengenal pin, apron (celemek) dan buku-buku. Bagi yang lulus, fasilitator
terus memantau sampai berhasil lulus jadi Bidan Delima.
45
BAB IV
PEMBAHASAN
46
[Link] yang wajib dimilki dalam menjalankan praktek bidan sesuai
dengan jenis pelayanan yang diberikan.
Selain itu Praktek Mandiri Bidan Ocik Lestari, [Link] sudah memenuhi
syarat sebagaimana seperti pada peraturan perundang-undangan No.4 Tahun
2019 tentang Kebidanan, dalam :
Pasal 21
1. Setiap Bidan yang akan menjalankan Praktik Kebidanan wajib memiliki
STR
2. STR sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan oleh Konsil kepada
Bidan yang memenuhi persyaratan
3. Persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) meliputi:
a. Memiliki Ijazah dari perguruan tinggi yang menyelenggarakan
pendidikan Kebidanan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan;
b. Memiliki Sertifikat Kompetensi atau Sertifikat Profesi;
c. Memiliki surat keterangan sehat fisik dan mental;
d. Memiliki surat pernyataan telah mengucapkan sumpah/janji profesi; dan
e. Membuat pernyataan tertulis untuk mematuhi dan melaksanakan
ketentuan etika profesi.
Pasal 25
1. Bidan yang akan menjalankan Praktik Kebidanan wajib memiliki izin
praktik
2. lzin praktik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan dalam bentuk
SIPB
3. SIPB sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diberikan oleh Pemerintah
Daerah kabupaten/kota atas rekomendasi pejabat kesehatan yang berwenang
di kabupaten/kota tempat Bidan menjalankan praktiknya.
47
Pasal 26
1. Bidan paling banyak mendapatkan 2 (dua) SIPB
2. SIPB sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berlaku untuk:
a. (satu) di Tempat Praktik Mandiri Bidan dan 1 (satu) di Fasilitas
Pelayanan Kesehatan selain dr Tempat Praktik Mandiri Bidan; atau
b. 2 (dua) Praktik Kebidanan di Fasilitas pelayanan Kesehatan selain di
Tempat Praktik Mandiri Bidan.
Pasal 30
1. Penyelenggara Fasilitas Pelayanan Kesehatan harus mendayagunakan Bidan
yang memiliki STR dan SIPB
2. Penyelenggara Fasilitas Pelayanan Kesehatan yang mendayagunakan Bidan
yang tidak memiliki STR dan SIPB sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dikenai sanksi administratif berupa:
a. Teguran tertulis
b. Penghentian sementara kegiatan, atau
c. Pencabutan izin
Pasal 43
1. Bidan lulusan pendidikan diploma tiga hanya dapat melakukan Praktik
Kebidanan di Fasilitas pelayanan Kesehatan
2. Bidan lulusan pendidikan profesi dapat melakukan Praktik Kebidanan di
Tempat Praktik Mandiri Bidan dan di Fasilitas Pelayanan Kesehatan
lainnya
3. Praktik Mandiri Bidan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan
hanya pada 1 (satu) Tempat Praktik Mandiri Bidan
Pasal 44
1. Bidan lulusan pendidikan profesi yang menjalankan Praktik Kebidanan di
Tempat Praktik Mandiri Bidan wajib memasang papan nama praktik
2. Ketentuan mengenai papan nama praktik sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan
48
3. Bidan yang tidak memasang papan nama praktik sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) dikenai sanksi administratif berupa:
a. Teguran lisan
b. Peringatan tertulis
c. Denda administratif; dan/atau
d. Pencabutan izin
e. Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pengenaan sanksi administratif
sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diatur dengan Peraturan Menteri
Pasal 45
1. Bidan yang menjalankan Praktik Kebidanan di Tempat Praktik Mandiri
Bidan wajib melengkapi sarana dan prasarana pelayanan sesuai dengan
standar pelayanan dan ketentuan peraturan perundang-undangan
2. Bidan yang tidak melengkapi sarana dan prasarana pelayanan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) dikenai sanksi administratif berupa:
a. Teguran lisan
b. Peringatan tertulis
c. Denda administratif; dan/atau
d. Pencabutan izin
49
Pasal 33
1. Selain persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32, bangunan
Praktik Mandiri Bidan harus bersifat permanen dan tidak bergabung fisik
bangunan lainnya
2. Ketentuan tidak bergabung fisik bangunan lainnya sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) tidak termasuk rumah tinggal perorangan, apartemen, rumah
toko, rumah kantor, rumah susun, dan bangunan yang sejenis
3. Dalam hal praktik mandiri berada di rumah tinggal perorangan, akses pintu
keluar masuk tempat praktik harus terpisah dari tempat tinggal perorangan
4. Bangunan praktik mandiri Bidan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus
memperhatikan fungsi, keamanan, kenyamanan dan kemudahan dalam
pemberian pelayanan serta perlindungan keselamatan dan kesehatan bagi
semua orang termasuk penyandang cacat, anak-anak dan orang usia lanjut.
Pasal 34
Persyaratan prasarana Praktik Mandiri Bidan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 30 ayat (2) paling sedikit memiliki:
1. Sistem air bersih
2. Sistem kelistrikan atau pencahayaan yang cukup
3. Ventilasi/sirkulasi udara yang baik; dan
4. Prasarana lain sesuai kebutuhan.
Pasal 35
Persyaratan peralatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 ayat (2) berupa
peralatan Praktik Mandiri Bidan harus dalam keadaan terpelihara dan berfungsi
dengan baik untuk menyelenggarakan pelayanan.
Pasal 36
1. Persyaratan obat dan bahan habis pakai Praktik Mandiri Bidan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 ayat (2) meliputi pengelolaan obat
dan bahan habis pakai yang diperlukan untuk pelayanan antenatal,
persalinan normal, penatalaksanaan bayi baru lahir, nifas, keluarga
50
berencana, dan penanganan awal kasus kedaruratan kebidanan dan bayi
baru lahir
2. Obat dan bahan habis pakai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya
diperoleh dari apotek melalui surat pesanan kebutuhan obat dan bahan
habis pakai
3. Bidan yang melakukan praktik mandiri harus melakukan
pendokumentasian surat pesanan kebutuhan obat dan bahan habis pakai
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) serta melakukan pengelolaan obat
yang baik sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
51
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Praktek Mandiri Bidan (PMB) erupakan bentu pelayanan kesehatan
dibidang kesehatan dasar. Praktek bidan adalah serangkaian kegiatan pelayanan
kesehatan angdiberikan oleh bidan kepada pasien (individu, keluarga dan
masyarakat) sesuai dengan kewenangan dan kemampuannya. Bidan yang
menjalankan praktek harus memiliki Surat Izin Praktek Bidan (SIPB) sehingga
dapat menjalankan praktek pada sarana kesehatan atau program. Persyaratan
pendirian juga perlu diperhatikan, agar bidan dapat memberikan pelayanan
bermutu kepada setiap pasien.
Dalam pelaksanaan organisasi ini sudah cukup baik memenuhi persyaratan
sebagaimana yang telah diteteapkan. Dan harapannya mudah-mudahan
organisasi ini lebih dapat berkembang dan menjadi tempat pelayanan kesehatan
yang lebih baik.
B. Saran
1. Bagi anggota
a. Diharapkan untuk lebih mengetahui berbagai hal-hal tentang Praktek
Mandiri bidan dari pelayanan, manajemen, serta persyaratan pendirian
PMB
b. Diharapkan untuk lebih ditingkatkan lagi dalam aspek memberikan
pelayanan, terutama pada mutu pelayanannya
c. Diharapkan untuk lebih sering mengikuti pelatihan atau seminar agar
dapat meningkatkan keterampilan serta bisa bertukar pikiran/berbagi
pengalaman.
52
2. Bagi Institusi
Diharapkan institusi untuk dapat berbagi ilmu, kerjasama, bimbingan dan
dukungan terutama hal-hal yang berkaitan tentang Praktek Mandiri Bidan
sehingga PMB lebih berkembang dan maju lagi.
53
DAFTAR PUSTAKA
Arman, S.2008, Visi Dan Misi Perusahaan, The Global Source for Summaries
& Reviews.
Dr. Suryanto, SE., [Link] dalam Modul Pengertian, Kedudukan, Hakikat, dan
Ciri Rencana Bisnis, Kategori Bisnis,serta Bentuk Bisnis.
Sujianti dan Susanti. 2009. Buku Ajar Konsep Kebidanan Teori dan Aplikasi.
Bengkulu: Nuha Medika
54