Nama : Indah Dwi Putri
NIM : 08061181722024
Kelas : B
CPKB
(Cara Pembuatan Kosmetika Yang Baik)
Cara Pembuatan Kosmetika yang Baik (CPKB) merupakan seluruh aspek kegiatan
pembuatan Kosmetika yang bertujuan untuk menjamin agar produk yang dihasilkan
senantiasa memenuhi persyaratan mutu yang ditetapkan sesuai dengan tujuan
penggunaannya. Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang
kosmetika, maka Pedoman Cara Pembuatan Kosmetik yang Baik (CPKB) tahun 2013
diperbarui kembali agar dapat memberikan mutu dan kualitas yang lebih baik pada
kosmetik yang dihasilkan oleh industri komestika. Industri Kosmetika sendiri adalah
industri yang memproduksi Kosmetika yang telah memiliki izin usaha industri atau tanda
daftar industri sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.
Dalam melakukan kegiatan pembuatan Kosmetika, industri kosmetika wajib
menerapkan pedoman CPKB seperti sistem manajemen mutu; personalia; bangunan dan
fasilitas; peralatan; sanitasi dan higiene; produksi; pengawasan mutu; dokumentasi; audit
internal; penyimpanan; kontrak produksi dan pengujian; serta penanganan keluhan dan
penarikan produk. Apabila terjadi pelanggaran terhadap ketentuan CPKB dalam proses
produksi kosmetika, maka industri kosmetika tersebut akan dikenai sanksi administratif
antara lain peringatan tertulis; penghentian sementara kegiatan produksi paling lama 1
(satu) tahun; pembekuan Sertifikat CPKB; pencabutan Sertifikat CPKB atau surat
keterangan penerapan CPKB; atau dapat juga dilakukan penutupan sementara akses daring
pengajuan.
Salah satu syarat suatu industri kosmetika untuk dapat melaksanakan kegiatan
produksi adalah Sertifikat CPKB. Sertifikat Cara Pembuatan Kosmetika yang Baik (CPKB)
adalah dokumen sah yang merupakan bukti bahwa Industri Kosmetika telah memenuhi
persyaratan CPKB dalam pembuatan Kosmetika. Sertifikat CPKB akan diterbitkan sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan oleh Kepala Badan Pengawas Obat dan
Makanan (BPOM) dan berlaku untuk jangka waktu 5 (lima) tahun terhitung sejak tanggal
diterbitkan.
Cara Pembuatan Kosmetik Yang Baik ( CPKB ) ini merupakan salah satu faktor
yang penting untuk mendapatkan hasil produk kosmetik yang memenuhi standar mutu dan
keamanan produk kosmetik. Dimana penerapan CPKB ini juga merupakan persyaratan
kelayakan dasar untuk menerapkan sistem jaminan mutu dan kemanan suatu produk
sehingga dapat diakui di dunia international dan juga untuk mengantisipasi pasar bebas di
era globalisas ini, maka penerapan cara pembuatan kosmetik yang baik ini dapat
menciptakan nilai tambah bagi produk kosmetik yang dibuat di Indonesia terkhususnya
untuk bersaing dengan produk sejenis dari negara luar baik dipasaran dalam negeri maupun
luar negeri (International).
Adapun tujuan dari CPKB ini secara umum yaitu untuk melindungi masyarakat
terhadap hal-hal yang merugikan dari penggunaan kosmetik yang tidak memenuhi
persyaratan standar mutu dan keamanan, serta meningkatkan nilai tambah dan daya saing
produk kosmetik Indonesia dalam era pasar bebas. Dan juga tujuan dari CPKB secara
khususnya pada industri kosmetika adalah sebagai acuan/panduan untuk memastikan
bahwa produk secara konsisten dibuat dan dikontrol agar memenuhi spesifikasi mutu yang
ditetapkan dengan mencakup semua aspek produksi dan pengawasan mutu.
Berikut ini merupakan aspek-aspek pokok yang memuat CPKB antara lain :
1. Sistem Manajemen Mutu
Sistem Manajemen Mutu ini prinsipnya adalah Industri kosmetik harus membuat
produk sedemikian rupa agar sesuai dengan tujuan penggunaanya, memenuhi persyaratan
dan tidak menimbulkan resko yang membahayakan penggunanya karena tidak aman,
mutu rendah atau tidak efektif. Manajemen bertanggung jawab untuk pencapaian tujuan
ini melalui suatu “Kebijakan Mutu” yang memerlukan partisipasi dan komitmen dari
semua jajaran di semua departemen di dalam perusahaan. Untuk mencapai tujuan
konsisten dan dapat diandalkan, diperlukan manajemen mutu yang di desain secara
manyeluruh dan deterapkan secara benar. Biasanya sistem mutu tiap industri akan
dibentuk dan disesuaikan dengan kegiatan perusahaan, karakteristik produk, dan unsur-
unsur terkait yang ditetapkan.
Berikut unsur dasar dalam memanajemen mutu yaitu ;
a. Dijabarkannya struktur organisasi, tugas dan fungsi, tanggungjawab, prosedur-
prosedur, instruksi-instruksi, proses dan sumber daya untuk menerapkan manajemen
mutu.
b. Sistem mutu harus dibentuk dan disesuaikan dengan kegiatan perusahaan, sifat dasar
produk-produknya, dan hendaknya diperhatikan elemen-elemen penting yang
ditetapkan dalam pedoman.
c. Pelaksanaan sistem mutu harus menjamin bahwa apabila diperlukan, dilakukan
pengambilan contoh bahan awal, produk antara dan produk jadi, serta dilakukan
pengujian terhadapnya untuk menentukan diluluskan atau ditolak, yang didasarkan atas
hasil uji dan kenyataan-kenyataan yang dijumpai yang berkaitan dengan mutu.
2. Ketentuan Umum
Dalam ketentuan umum ini akan dilakukan Audit Internal yang merupakan
kegiatan yang dilakukan untuk menilai semua aspek, mulai dari pengadaan bahan sampai
pengemasan dan penetapan tindakan perbaikan yang dilakukan sehingga seluruh aspek
produksi tersebut selalu memenuhi Cara Pembuatan Kosmetik yang Baik.
Adapun ketentuan umum daripada CPKB ini adalah :
a. Bahan Awal : Mencakup bahan baku dan bahan pengemas yang digunakan dalam
pembuatan suatu produk.
b. Bahan Baku : Mencakup semua bahan utama dan bahan tambahan yang digunakan
dalam pembuatan produk kosmetik.
c. Bahan Pengemas : Suatu bahan yang digunakan dalam pengemasan produk ruahan
untuk menjadi produk jadi.
d. Bahan Pengawet : Bahan yang ditambahkan pada produk dengan tujuan untuk dapat
menghambat pertumbuhan jasad renik.
e. Bets : Sejumlah produk kosmetik yang diproduksi dalam satu siklus pembuatan yang
mempunyai sifat dan mutu yang seragam.
f. Dokumentasi : Seluruh prosedur tertulis, instruksi, dan catatan yang terkait dalam
pembuatan dan pemeriksaan mutu produk.
g. Kalibrasi : Kombinasi pemeriksaan dan penyetelan suatu instrument untuk dapat
menjadikannya memenuhi syarat batas keakuratan menurut standar yang diakui.
h. Karantina : Status suatu bahan atau produk yang dipisahkan baik secara fisik maupun
secara sistem, sementara menunggu keputusan pelulusan atau penolakan untuk diproses,
dikemas atau didistribusikan.
i. Nomor Bets : Suatu rancangan nomor dan atau huruf atau kombinasi keduanya yang
menjadi tanda riwayat suatu bets secara lengkap, termasuk pemeriksaan mutu dan
pendistribusiannya.
j. Pelulusan (released) : Status bahan atau produk yang boleh digunakan untuk diproses,
dikemas atau didistribusikan.
k. Pembuatan : Satu rangkaian kegiatan untuk membuat produk, meliputi kegiatan
pengadaan bahan awal, pengolahan dan pengawasan mutu serta pelulusan produk jadi.
l. Pengawasan Dalam Proses : Pemeriksaan dan pengujian yang ditetapkan dan dilakukan
dalam suatu rangkaian pembuatan produk termasuk pemeriksaan dan pengujian yang
dilakukan terhadap lingkungan dan peralatan dalam rangka menjamin bahwa produk
akhir (jadi) memenuhi spesifikasinya.
m. Pengawasan Mutu (Quality Control) : Semua upaya yang diambil selama pembuatan
untuk menjamin kesesuaian produk yang dihasilkan terhadap spesifikasi yang
ditetapkan.
n. Pengemasan : Adalah bagian dari siklus produksi yang dilakukan terhadap produk
ruahan untuk menjadi produk jadi .
o. Pengolahan : Bagian dari siklus produksi dimulai dari penimbangan bahan baku sampai
dengan menjadi produk ruahan.
p. Penolakan (rejected) : Status bahan atau produk yang tidak boleh digunakan untuk
diolah, dikemas atau didistribusikan .
q. Produk (kosmetik) : Suatu bahan atau sediaan yang dimaksud untuk digunakan pada
berbagai bagian dari badan (epidermis, rambut, kuku, bibir, dan organ genital
eksternal) atau gigi dan selaput lendir di rongga mulut dengan maksud untuk
membersihkannya, membuat wangi atau melindungi supaya tetap dalam keadaan baik,
mengubah penampakan atau memperbaiki bau badan.
r. Produksi : Semua kegiatan dimulai dari pengolahan sampai dengan pengemasan untuk
menjadi produk jadi.
s. Produk Antara : Suatu bahan atau campuran bahan yang telah melalui satu atau lebih
tahap pengolahan namun masih membutuhkan tahap selanjutnya.
t. Produk Jadi : Suatu produk yang telah melalui semua tahap proses pembuatan.
u. Produk Kembalian : Produk jadi yang dikirim kembali kepada produsen.
v. Produk Ruahan : Suatu produk yang sudah melalui proses pengolahan dan sedang menanti
pelaksanaan pengemasan untuk menjadi produk jadi.
w. Sanitasi : Kontrol kebersihan terhadap sarana pembuatan, personil, peralatan dan bahan yang
ditangani.
x. Spesifikasi Bahan : Deskripsi bahan atau produk yang meliputi sifat fisik, kimiawi dan biologi,
yang menggambarkan standar dan penyimpangan yang ditoleransi.
y. Tanggal Pembuatan : Tanggal pembuatan suatu batch produk tertentu
3. Personalia
Prinsip dari personalia dalam CPKB ini adalah dimana sumber daya manusia sangat
penting dalam pembentukan dan penerapan sistem pemastian mutu yang memuaskan dan
pembuatan kosmetik yang benar. Oleh sebab itu industri kosmetik bertanggung jawab untuk
menyediakan personel berkualitas dalam jumlah yang memadai untuk melaksanakan semua
tugas. Tiap personil hendaklah memahami tanggung jawab masing–masing. Seluruh personil
hendaklah memahami prinsip CPKB dan memperoleh pelatihan awal dan berkesinambungan,
termasuk instruksi mengenai hygiene yang berkaitan dengan pekerjaan.
Berikut ini persyaratan umum dari personalia, antara lain :
a. Semua personil harus memenuhi persyaratan kesehatan, baik fisik maupun mental, serta
mengenakan pakaian kerja yang bersih.
b. Personil yang bekerja di area produksi hendaklah tidak berpenyakit kulit, penyakit menular
atau memiliki luka terbuka, memakai pakaian kerja, penutup rambut dan alas kaki yang
sesuai dan memakai sarung tangan serta masker apabila diperlukan.
c. Personil harus tersedia dalam jumlah yang memadai, mempunyai pengalaman praktis sesuai
dengan prosedur, proses dan peralatan.
d. Personil di Bagian Pengolahan, Produksi dan Pengawasan Mutu setidak-tidaknya
berpendidikan minimal setara dengan Sekolah Menengah Tingkat Atas.
e. Semua personil harus memahami prinsip Cara Pembuatan Kosmetik yang Baik (CPKB),
mempunyai sikap dan kesadaran yang tinggi untuk melaksanakannya melalui pelatihan
berkala dan berkelanjutan.
Setelah persyaratan umum dari personalia telah terpenuhi, maka dapat diterapkan
Organisasi, Kualifikasi, Tanggung Jawab serta melakukan pelatihan untuk para personil.
Organisasi, Kualifikasi dan Tanggung Jawab
a. Dalam struktur organisasi perusahaan, bagian produksi dan pengawasan mutu dipimpin oleh
orang yang berbeda dan tidak bertanggung jawab satu kepada yang lain.
b. Kepala Bagian Produksi dapat dijabat oleh seorang Apoteker, Sarjana Farmasi, Sarjana Kimia atau
tenaga lain yang memperoleh pendidikan khusus di bidang produksi kosmetik dan mempunyai
pengalaman dan keterampilan dalam kepemimpinan sehingga memungkinkan melaksanakan tugas
sebagai profesional. Kepala Bagian Produksi hendaklah independen, memiliki wewenang serta
tanggung jawab penuh untuk mengelola produksi kosmetik mencakup tugas operasional produksi,
peralatan, personil, area produksi dan dokumentasi.
c. Kepala Bagian Pengawasan Mutu dapat dijabat oleh seorang Apoteker, Sarjana Farmasi,
Sarjana Kimia atau tenaga lain yang memperoleh pendidikan khusus di bidang pengawasan
mutu produk kosmetik. Kepala Bagian Pengawasan Mutu hendaklah mempunyai wewenang
dan tanggung jawab penuh dalam semua aspek pengawasan mutu seperti penyusunan, verifi
kasi dan penerapan prosedur pengawasan mutu dan mempunyai wewenang (bila diperlukan)
menunjuk personil untuk memeriksa, meloloskan dan menolak bahan awal, produk antara,
produk ruahan, dan produk jadi yang dibuat sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan dan
disetujui.
d. Tanggung jawab dan kewenangan dari personil inti ditetapkan dengan jelas.
e. Personil terlatih dalam jumlah yang cukup ditugaskan untuk melaksanakan supervisi langsung
pada tiap bagian produksi dan pengawasan mutu.
Pelatihan
Dimana Semua personil yang langsung terlibat dalam kegiatan pembuatan harus dilatih
dalam pelaksanaan pembuatan sesuai dengan prinsip-prinsip Cara Pembuatan yang Baik.
Pelatihan khusus juga harus diberikan untuk melatih personil yang bekerja dengan material
berbahaya. Program pelatihan ini akan diberikan secara berkesinambungan paling sedikit sekali
dalam setahun untuk menjamin agar personil terbiasa dengan persyaratan CPKB yang berkaitan
dengan tugasnya. Pelatihan hendaklah dilakukan menurut program tertulis yang telah disetujui
oleh Kepala Bagian Produksi dan atau Kepala Bagian Pengawasan Mutu atau Bagian lain yang
terkait. Pelatihan CPKB dapat diberikan oleh atasan yang bersangkutan, tenaga ahli atau oleh
pelatih dari luar perusahaan. Materi pelatihan dapat berupa pengenalan CPKB secara umum
untuk semua personil di pabrik dan materi khusus untuk bagian tertentu, misalnya Bagian
Produksi atau Pengawasan Mutu. Selain itu catatan hasil pelatihan harus dipelihara dan
keefektifannya harus dievaluasi secara periodik.
4. Bangunan Dan Fasilitas