Definisi Isolasi Sosial dalam Psikologi
Definisi Isolasi Sosial dalam Psikologi
DISUSUN OLEH:
I IS KOMANG RENI
NIM. 2014901061
PRODI NERS
2020/2021
1
LAPORAN PENDAHULUAN
ISOLASI SOSIAL
2. Rentang respon
Adaptif maladaptive
1. Faktor Predisposisi
2
Stuart (2009), mengatakan faktor predisposisi adalah faktor resiko timbulnya stress yang akan
mempengaruhi tipe dan sumber-sumber yang dimiliki klien untuk menghadapi stress. Stuart
(2009) membagi faktor predisposisi dalam tiga domain yaitu biologis, psikososial dan sosial
kultural.
a. Biologis
Faktor biologis berhubungan dengan kondisi fisiologis yang mempengaruhi timbulnya
gangguan jiwa.
1) Kerusakan pada area otak
Menurut penelitian beberapa area dalam otak yang berperan dalam timbulnya kejadian
skizoferania antara lain sistem limbik, korteks frontal, cerebelum dan ganglia basalis.
Keempat area tersebut saling berhubungan, sehingga disfungsi pada satu area akan
mengakibatkan gangguan pada satu area akan mengakibatkan gangguan pada area
yang lain (Arief, 2009)
2) Peningkatan aktivitas neurotransmiter
Peningkatan ini disebabkan karena beberapa faktor diantaranya adalah peningkatan
pelesapan dopamine, terlalu banyaknya reseptor dopamine, turunnya nilai ambang,
hipersensitivitas reseptor dopamine, atau kombinasi dan faktor-faktor tersebut.
Videback (2006)
3) Faktor genetika
Penelitian tentang faktor genetik telah membuktikan bahwa skizoferania diturunkan
secara genetika.
b. Psikologis
1) Teori psikoanalitik
Sigmund Freud melalui teori psiko analisa menjelaskan bahwa skizoferania merupakan
hasil dari ketidakmampuan menyelesaikan masalah dan konflik yang tidak disadari
antara impuls agresif atau kepuasan libido serta pengakuan terhadap ego.
2) Teori perilaku
Teori perilaku berasumsi bahwa perilaku merupakan hasil merupakan hasil
pengalaman yang dipelajari oleh klien sepanjang daur kehidupannya, dimaan setiap
pengalaman yang dialami akan mempengaruhi perilaku klien baik yang bersifat adaptif
dan maladaptif
3) Teori Interpersonal
3
Teori Interpersonal berasumsi bahawa skizoferania terjadi karena klien mengalami
ketakutan akan penolakan intrapersonal atau trauma dan kegagalan perkembangan
yang dialami pada masa pertumbuhan seperti kehilangan, perpisahan yang
mengakibatkan seseorang menjadi tidak berdaya, tidak percaya diri, tidak mapu
membina hubungan saling percaya dengan orang lain.
c. Sosial budaya
Faktor sosial budaya menyakini bahwa penyebab skizoferania adalah pengalaman
seseorang yang mengalami kesulitan beradabtasi terhadap tuntutan sosial budaya karena
klien memiliki harga diri rendah dan mekanisme koping mal adaptif.
2. Faktor Presipitasi
Faktor presipitasi adalah stimulus normal atau eksternal yang mengancam klien antara lain
dikarenakan adanya ketegangan peran, konflik peran, peran yang tidak jelas, peran berlebihan,
perkembangan transisi, situasi transisi peran dan transisi peran sehat-sakit (Stuart, 2009)
a. Psikologis
1) Internal
Stesor yang berasal dar dalam adalah kegagalan dan perasaan bersalah yang dialami
klien
2) Eksternal
Stesor eksternal adalah kurangnya dukungan dan lingkungan serta penolakan dari
lingkungan atau keluarga.
b. Sosial Budaya
Sosial Budaya merupakan ancaman terhadap sistem diri. Ancaman terhadap sistem diri
merupakan ancaman terhadap identitas diri, harga diri, dan fungsi integritas sosial.
Ancaman sistem diri berasal dari dua sumber yaitu eksternal dan interna. Sumber eksternal
dapat disebabkan karena kehilangan orang yang sangat dicintai karena kematian,
perceraian, perubahan status pekerjaan, dilema etik, ataupun tekanan sosial dan budaya.
Sedangkan sumber internal disebabkan karena kesulitan membangun hubungan
interpersonal di lingkungan sekitar seperti di lingkungan rumah atau di tempat kerja, dan
ketidakmampuan menjalankan peran baru sebagai orang tua, pelajar atau pekerja. Penelitian
tentang faktor lingkungan sebagai salah satu penyebab isolasi sosial menyimpulkan bahwa
lingkungan memiliki andil yang cukup besar terhadap timbulnya harga diri rendah pada
klien seperti lingkungan yang tidak kondusif dan selalu memojokkan klien yang pada
akhirnya akan mempengaruhi aktifitas klien termasuk hubungan dengan orang lain.
4
3. Penilaian stresor
Penilaian terhadap stresor yang dialami klien dengan isolasi sosial meliputi kogniti, affektif,
fisiologis perilaku dan sosial
a. Kognitif
Pda klien dengan isolasi sosial kemampuan kognitif klien sangat terbatas klien lebih
berfokus pada masalah bukan bagaimana mencari alternatif pemecahan masalah yang
dihadapi.
b. Alternatif
Respons afektif pada pasien isolasi sosial adalah adanya perasaan putus asa, sedih, kecea,
merasa tidak berharga dan merasa tidak diperhatikan menurut Stuart dan Larais (2005)
perasaan yang dirasakan klien tersebut dapat mengakibatkan sikap menarik diri dari
lingkungan sekitar.
c. Fisiologis
Respon perilaku dan sosial yang ditampilkan klein merupakan hasil belajar dari
pengalaman sosial pada masa kanak-kanak dan dewasa khususnya dalam menghadapi
berbagai stresor yang mengancam harga diri rendah.
d. Perilaku
Respon isolasi sosial teridentifikasi tiga perilaku yang maladaptif yaitu sering melamun,
tidak mau bergaul dengan klien lain, tidak mau mengemukakan pendapat, mudah
menyerah dan ragu-ragu dalam mengambil keputusan atau dalam melakukan tindakan.
e. Sosial
Respon perilaku dan sosial memperlihatkan bahwa klien isolasi sosial lebih banyak
memperlihatkan respon menghindar terhadap stresor yang dialaminya.
4. Mekanisme koping
Mekanisme kopng yang biasa digunakan adalah pertahanan koping jangka panjang serta
penggunaan mekanisme pertahanan ego.
5. Sumber Koping
Menurut Stuart (2009), sumber koping merupakan pilihan atau strategi bantuan untuk
memutuskan mengenai apa yang dapat dilakukan dalam menghadapi suatu masalah. Dalam
menghadapi stressor klien dapat menggunakan berbagai sumber koping yang dimilikinya baik
interna atau eksterna
a. Kemampuan personal
5
Pada klien dengan isolasi sosial kemampuan personal yang harus dimiliki meliputi kemampuan
secara fisik dan mental. Kemampuan secara fisik teridentifikasi dari kondisi fisik yang sehat.
Kemampuan mental meliputi kemampuan kognitif, afektif, perilaku dan sosial. Kemampuan
kognitif meliputi kemampuan yang sudah ataupun yang belum dimiliki klien didalam
mengidentifikasi masalah, menilai dan menyelesaikan masalah, sedangkan konsep diri klien
dan kemampuan perilaku terkait dengan kemampuan melakukan tindakan yang adekuat dalam
menyelesaikan stressor yang dialami. Kurangnyadukungan, penghargaan dan kesempatan untuk
melatih kemampuan yang dimiliki klien dari lingkungan sekitar klien akan mengakibatkan
rendahnya motivasi klien untuk menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi, timbulnya rasa
rendah diri yang pada akhirnya akan mengakibatkan gangguan dalam berinteraksi dngan
lingkungan sekitar. Temuan ini sesuai dengan pendapat yang dikemukakan oleh maslim (2001),
bahwa gejala negatif pada klien dengan gangguan jiwa kronik adalah kurang atau tidak adanya
motivasi.
b. Dukungan Sosial
Taylor, dkk (2003) menyatakan bahwa dukungan social akan membantu klien untuk
meningkatkan pemahaman terhadap stressor dalam mencapai keterampilan koping yang efektif.
Pendapat lain yang mendukung pernyataan diatas mengenai pentingnya dukungan social
didalam proses penyembuhan klien adalah pernyataan yang diungkapkan oleh sarafino (2002),
yang menyatakan bahwa dukungan social merupakan perasaan caring, penghargaan yang akan
membantu klien untuk dapat menerima orang lain yang berasal dari keyakinan yang berbeda.
Pendapat senada yang diuraikan oleh Tomaras. [Link],.(2001 dalam keliat,2003) yang
mengatakan bahwa dukungan anggota keluarga didalam membantu merawat klien dengan
skizofrenia akan mengurangi frekuensi kekambuhan klien.
c. Aset Material
Asset material yang dapat diperoleh meliputi dukungan financial, system pembiayaan layanan
kesehatan seperti asuransi kesehatan ataupun program layanan kesehatan bagi masyarakat
miskin, kemudahan mendapatkan fasilitas dan layanan kesehatan serta
Keterjangkauan pe,biayaan pelayanan kesehatan dan ketersediaan sarana transportasi untuk
mencapai layanan kesehatan selama dirumah sakit maupun setelah pulang.
d. Keyakinan Positif
Keyakinan positif adalah keyakinan diri yang menimbulkan motivasi dalam menyelesaikan
segala stressor yang dihadapi. Keyakinan positif diperoleh dari keyakinan terhadap kemampuan
6
diri dalam mengatasi ketidakmampuan klien dalam beinteraksi dengan lingkungan sekitar.
Adanya keyakinan positif yang dimiliki klien akan memotivasi dan membantu klien untuk
menggunakan mekanisme koping yang adaptif, kegiatan spiritusl seperti berdoa, mengikuti
kegiatan keagamaan yang ada merupakan salah satu mekanisme koping adaptif yang dilakukan
oleh klien dalam menilai stressor yang dialami.
7
4. Tidak mau berinteraksi
5. Tampak sedih
6. Ekspresi datar dan dangkal
3. Pohon Masalah
Isolasi Sosial
D. Diagnosis
A. Diagnosa keperawatan : isolasi sosial
B. Diagnosa medis : skizoferenia
8
E. Rencana Tindakan Keperawatan (Tulis Sesuai Dengan Masalah Utama)
Dengan Diagnosa Keperawatan : Defisit Perawatan Diri
Perencanaan
No Rasional
Tujuan Kriteria Evaluasi Intervensi
1 1. Membina Setelah 3x pertemuan, SP 1
hubungan saling pasien dapat menjelaskan 1) Identifikasi penyebab isolasi sosial: 1) Untuk mencari tahu atau menggali apa
percaya pentingnya : siapa yang serumah, siapa yang dekat penyebab isolasi sosial
2. Dapat 1) Berkenalan dengan dan apa sebabnya
mengidentifikasi anggota keluarga 2) Jelaskan keuntungan punya teman 2) Memberi pengetahuan
penyebab isolasi 2) Berkenalan 2-3 orang dan bercakap-cakap
sosial: siapa tetangga atau tamu, 3) Jelaskan kerugian tidak punya teman 3) Memberi pengetahuan
yang serumah, berbicara saat dan tidak bercakap-cakap
siapa yang dekat melakukan kegiatan 4) Latih cara berkenalan dengan pasien, 4) Melatih untuk berinteraksi dengan orang
dan apa 3) Berkenalan dengan 4- perawat dan tamu lain
sebabnya 5 orang, berbicara 5) Masukan pada jadwal kegiatan untuk 5) Membiasakan kegiatan untuk latihan
3. Dapat saat melakukan 4 latihan berkenalan berkenalan
SP 2
memberitahukan kegiatan harian
1) Evaluasi kegiatan berkenalan dengan 1) Mengetahui capaian kegiatan yang
kepada klien 4) Berkenalan > 5orang
beberapa orang, beri pujian dilakukan
keuntungan baru, berbicara saat
2) Latih cara berbicara saat melakukan 2) Untuk menambah percaya diri klien
punya teman dan melakukan kegiatan
kegiatan harian (latih 2 kegiatan)
bercakap-cakap harian dan
3) Masukkan pada jadwal kegiatan 3) Untuk membiasakan kegiatan latihan
4. Dapat sosialisasidiri.
untuk latihan berkenalan dengan 2-3 berkenalan
9
memberitahukan orang pasien, perawat dan tam,
kepada klien berbicara saat melakukan kegiatan
kerugian tidak harian
SP 3
punya teman dan
tidak bercakap-
1) Evaluasi kegiatan, latih berkenalan
cakap
(beberapa orang) dan berbicara saat
5. Klien dapat
melakukan duan kegiatan harian.
berkenalan
berikan pujian
dengan pasien,
2) Latih cara berbicara saat melakukan
perawat, dan
kegiatan harian (2 kegiatan baru)
tamu.
3) Masukan dalam jadwal kegiatan
harian untuk latihan berkenalan 4-5
orang, berbicara saat melakukan 4
kegiatan harian
SP 4
1) Evaluasi kegiatan latihan berkenalan, 1) Membandingkan hasil dan harapan.
bicara saat melakukan empat
kegiatanharian. Berikan pujian 2) Memberikan latihan praktik langsung untuk
2) Latih cara bicara sosial: meminta meningkatkan kemampuan motorik klien.
sesuatu menjawab pertanyaan 3) Memberi pengetahuan
3) Masukkan pada jadwal kegiatan
untuk latihan berkenalan > 5orang, 4) Memberi pengetahuan.
10
orang baru, berbicara saat melakukan
kegiatan harian dan sosialisasi
Terapi Spesialis
1. Terapi individu : Terapi perilaku : Token Ekonomi.
2. Terapi kelompok : Support Group Theraphy.
3. Terapi keluarga : Terapi Triangel.
4. Terapi komunitas : ACT
A. Individu
SP 1 :Berkenalan dengan anggota keluarga
SP 2 :Berkenalan 2-3 orang tetangga atau tamu, berbicara saat melakukan kegiatan
SP 3 :Berkenalan dengan 4-5 orang, berbicara saat melakukan 4 kegiatan harian
SP 4 :Berkenalan > 5orang baru, berbicara saat melakukan kegiatan harian dan sosialisasi
B. Keluarga
SP 1 : Diskusikan Masalah Yang Dalam Merawat Pasien
SP 2 : Evaluasi Kegiatan Keluarga Dalam Melatih Pasien Berkenalan Dan Berbicara Saat Melakukan Kegiatan Harian
SP 3 : Evaluasi Kegiatan Keluarga Dalam Merawat /Melatih Pasien Melakukan Kegiatan Harian Dan RT
SP 4 : Evaluasi Kegiatan Keluarga Dalam Merawat/Melatih Pasien Berkenalan, Berbicara Saat Melakukan Kegiatan
11
Sesi 3 : Kemampuan Bercakap- Cakap
Sesi 4 : Kemampuan Bercakap-Cakap
12
STRATEGI PELAKSANAAN ASUHAN KEPERAWATAN JIWA
PADA KLIEN DENGAN ISOLASI SOSIAL
Nama Mahasiswa :-
Hari / Tanggal :-
Pertemuan Ke : 1 (Satu)
SP. 1 : mendiskusikan keuntungan mempunyai teman dan bercakap-cakap, kerugian tidak
mempunyai teman dan tidak bercakap-cakap, cara berkenalan dengan anggota keluarga
A. PROSES KEPERAWATAN
1. Kondisi Klien
Klien mengatakan malas mengobrol dengan teman-teman sekitar, hanya mnegenal
sedikit teman-temannya, lebih suka menyendiri dan malas bergaul dengan orang
lain. Klien tampak sering melamun, tampak menyendiri, tampak kurang berinteraksi
dengan temen-teman yang lain, ekspresi wajah murung.
2. Diagnosa Keperawatan
Isolasi Sosial
3. Tujuan Keperawatan
1. Mengidentifikasi penyebab isolasi social pasien
2. Berdiskusi dengan pasien tentang keuntungan berinteraksi dengan orang lain
3. Berdiskusi dengan pasien tentang kerugian tidak berinteraksi dengan orang lain
4. Mengajarkan pasien cara berkenalan denag satu orang
5. Menganjurkan pasien memasukan kegiatan latihan berbincang-bincang dengan
orang lain dalam kegiatan harian
4. Tindakan Keperawatan
1. Membina hubungan saling percaya
2. Identifikasi penyebab isolasi sosial pasien
3. Diskusikan dengan pasien tentang keuntungan berinteraksi dengan orang lain
dan kerugian tidak berinteraksi dengan orang lain
4. Anjurkan pasien cara berkenalan dengan seseorang
5. Anjurkan pasien memasukan kegiatan latihan berbincang-bincang dengan orang
lain dalam kegiatan harian
13
B. Strategi Komunikasi Teraupetik
1. Orientasi
a. Salam terapeutik
“Selamat pagi Ibu,benar dengan ibu Y? Baik bu, perkenalkan nama saya
Reni, selama 2 minggu kedepan saya akan merawat ibu disini”
b. Evaluasi/ validasi
“Nampaknya tadi saya lihat ibu hanya duduk sendirian disini, boleh ibu
ceritakan apa yang ibu rasakan hari ini?”
c. Kontrak
Topik : “ Bagaimana jika hari ini kita mengobrol agar kita saling mengenal
lagi dan ibu bisa menceritakan masalah apa yang sedang ibu rasakan hari ini.
“baik bu, hari ini saya mengajarkan ibu cara berkenalan nanti ibu bisa
terapkan didalam jadwal kegiatan ibu dan ibu dapat berinteraksi dengan
orang lain”
Waktu : “Bagaimana jika kita mengobrol selama 15 menit?”
Tempat : “Bagaimana kalau berbincang-bincang di pondokan ini saja?”
2. Fase Kerja
“Ibu sudah berapa lama disini ? apakah selama disini ibu sudah punya banyak
teman ? Ibu, saya punya cara agar ibu bisa berinteraksi dengan orang lain jadi
begini bu, kalau ada suster atau teman disekitar ibu datang ibu langsung hampiri
mereka dan ibu ulurkan tangan untuk berkenalan sambil tersenyum lalu ibu
sebutkan nama, dan alamat ibu setelah itu ibu tanyakan nama, dan alamat pada
suster atau teman ibu. Contohnya seperti ini : selamat pagi, perkenalkan nama
saya suster Reni, saya dari Poltekkes Tanjungkarang, nama ibu siapa, dan alamat
ibu dimana? Menurut ibu melakukan perkenalan seperti ini sulit tidak, Ibu bisa
mengulang kembali apa yang sudah saya contohkan tadi? Coba ibu sekarang
praktekkan, bagus ibu sudah bisa melakukannya. Menurut ibu dengan ibu
berlatih berkenalan ibu bisa mempunyai teman banyak tidak? Jadi ya bu dengan
memiliki banyak teman kita bisa menceritakan dan bisa mengenal satu sama
lain? Coba ibu bandingkan deh menurut ibu lebih baik memiliki banyak teman
atau tidak memiliki teman?? Boleh ibu cerita kan kegiatan yang biasa ibu
lakukan selama disini apa saja? Wahh banyak juga ya bu kegiatan yang ibu
lakukan selama sehari? Kalau begitu bagaimana kalau latihan berkenalan ini ibu
masukan didalam jadwal kegiatan harian ibu? Jadi ketika ibu melakukan
14
kegiatan diselingi dengan berkenalan atau saling mengenal orang yang
disekeliling ibu?
3. Fase Terminasi
a. Evaluasi Subjektif
“Bagaimana perasaan ibu setelah mengobrol mengenai cara berkenalan
dengan orang lain tadi?”
b. Evaluasi Objektif
“Coba ibu ulangi cara berkenalan yang suster ajarkan tadi! bagus sekali, ibu
sudah bisa mengulang dengan baik seperti yang sudah suster ajarkan tadi.”
c. Rencana Tindak Lanjut
“Ibu, jika ibu ingin mempunyai banyak teman, ibu bisa mengingat dan
mempraktekkan kembali cara berkenalan dengan orang lain, suster harap ibu
dapat memasukkan kegiatan ini ke dalam jadwal kegiatan harian ibu.”
d. Kontrak yang akan datang
Topik : “Baiklah besok kita lanjutkan lagi tentang cara berkenalan dengan
dua orang ya bu.”
Waktu : “Bagaimana besok sekitar jam 09.00 pagi ?”
Tempat : “Bagaimana kalau tempatnya disini saja?”
15
STRATEGI PELAKSANAAN ASUHAN KEPERAWATAN JIWA
PADA KLIEN DENGAN ISOLASI SOSIAL
Nama Mahasiswa :-
Hari / Tanggal :-
Pertemuan Ke : 2 (Dua)
SP. 2 : Klien dapat berkenalan 2-3 orang disekitar, berbicara saat melakukan
kegiatan harian
A. PROSES KEPERAWATAN
1. Kondisi Klien
Klien mengatakan sudah mengenal teman seruangannya, tahu nama sebagian
teman seruangannya, mau mengisi jadwal kegiatan harian, Kontak mata kurang,
Ekspresi wajah murung, Tidak mampu memulai pembicaraan, Klien tampak
masih menyendiri
2. Diagnosa Keperawatan
Isolasi Sosial
3. Tujuan Khusus
1. Klien dapat melaksanakan hubungan sosial secara bertahap
2. Klien mampu menjelaskan perasaannya setelah berhubungan social
4. Tindakan Keperawatan
3. Evaluasi jadwal kegiatan harian
4. Berikan kesempatan kepada klien mempraktekkan cara berkenalan dengan
satu orang
5. Anjurkan klien memasukkan ke dalam jadwal harian yaitu berbincang-
bincang untuk latihan berkenalan 2-3 orang tetangga, tamu, berbicara saat
melakukan kegiatan harian
2. Fase Kerja
“ibu Y sudah mempunyai berapa teman saat ini? Sekarang saya akan
memberikan kesempatan kepada ibu untuk berkenalan dengan 2-3 orang, tetapi
perkenalan ini dilakukan sambil ibu mengerjakan kegiatan harian yang biasa ibu
lakukan. Boleh ibu tulis kegiatan apa saja yang biasa ibu lakukan disini.
Contohnya kegiatan yang bisa ibu lakukan sekarang apa? Boleh ibu kalo ibu
mau menyiram bunga dan menyapu [Link] kegiatan itu ibu lakukan
bersama siapa? Pernah tidak sebelumnya ibu saling bertegur atau berkenalan
dengan teman ibu? Baiklah bu, sekarang bagaimana kalo ibu sambil
mengerjakan kegiatan menyiram bunga sambil ibu ajak berkenalan dengan
teman ibu, caranya seperti kemarin yang sudah saya ajarkan. Apakah ibu
mengalami kesulitan? Alhamdulilah bu jika ibu mau mencobanya.”
3. Fase Terminasi
a. Evaluasi Subjektif
“Bagaimana perasaan ibu setelah berkenalan atau mengobrol dengan teman
ibu tadi?”
b. Evaluasi Objektif
“Ibu sudah bagus sekali saat berkenalan dengan teman ibu tadi. Coba ibu
ulangi yang sudah diajarkan tadi dan coba sebutkan siapa nama teman ibu
tadi?” Bagus ibu masih mengingatnya.”
17
c. Rencana Tindak Lanjut
“Saya harap ibu dapat berinteraksi dan berkenalan dengan teman-teman ibu
yang lain yang ada disini dan memasukkan kegiatan ini ke dalam jadwal
kegiatan harian ibu lainnya.”
18
STRATEGI PELAKSANAAN ASUHAN KEPERAWATAN JIWA
PADA KLIEN DENGAN ISOLASI SOSIAL
Nama Mahasiswa :-
Hari / Tanggal :-
Pertemuan Ke : 3 (Tiga)
SP 3 : melatih cara berbicara saat melakukan 2 kegiatan harin baru, masukan
pada jadwal kegiatan untuk latihan berkenalan 4-5 orang.
A. Proses Keperawatan
1. Kondisi Klien
Klien mengatakan senang berkenalan dengan suster W, sudah mengerti cara
berkenalan, akan berekanalan dengan teman lainnya, mau mengisi jadwal
kegiatan harian, Klien tampak tersenyum, Klien tampak malu untuk memulai
pembicaraan.
2. Diagnosa Keperawatan
Isolasi Sosial
3. Tujuan Khusus
Klien dapat melaksanakan hubungan sosial secara bertahap
Klien mampu menjelaskan perasaannya setelah berhubungan sosial
4. Tindakan Keperawatan
- Evaluasi jadwal kegiatan harian
- Berikan kesempatan kepada klien mempraktekkan cara berkenalan dengan dua
orang atau lebih
- Latih cara berbicara saat melakukan 2 kegiatan harian baru
- Anjurkan klien memasukkan ke dalam jadwal harian yaitu berbincang-bincang
dengan satu orang
19
c. Kontrak
Topik : “Sesuai dengan janji kita kemarin, bagaimana jika hari ini kita
akan mempraktekkan cara berbicara saat melakukan kegiatan harian
dengan 2 kegiatan baru ya bu?”
Waktu : “Waktunya 15 menit saja.”
Tempat : “Disini saja ya bu?”
Tujuan : “Tujuannya agar ibu tambah lancar berkenalannya dan agar ibu
mempunyai lebih banyak teman ya bu”.
2. Fase Kerja
“baik bu sekarang kita akan belajar cara berbicara atau mengobrol dengan 2
kegiatan baru tetapi ibu juga tidak lupa untuk mengerjakan kegiatan sebelumnya
sambil berkenalan atau bercakap-cakap, nah nanti kebetulan ada kegiatan
membersihkan disekitar lingungan rumah sakit, nanti ibu bergabung saja dengan
teman teman yang lain. Kegiatannya nanti ada mencabut rumput dan menanam
bunga, nanti ibu bisa bekerja sama dengan teman-teman yang lainnya dengan
begitu ibu bisa untuk mengobrol dan mengenal satu sama lain dan ibu menjadi
banyak teman. Bagaimana ibu bisa melakukannya. Baik bu jika ibu mau
mencoba”
3. Fase Terminasi
a. Evaluasi Subjektif
“Bagaimana perasaan ibu setelah bercakap-cakap dengan teman ibu yang
lain?
Evaluasi Objektif
“Coba ibu ulangi cara berkenalan dengan teman ibu tadi?” Bagus ibu masih
mengingatnya.”
20
Topik : “Baiklah ibu nanti suster akan kembali lagi untuk memberikan
pendidikan kesehatan tentang isolasi sosial kepada ibu sebelum
ibu pulang.”
Waktu : “Waktunya sekitar jam 11 saja ya bu sebelum makan siang?”
Tempat : “Tempatnya disini saja?”
21
STRATEGI PELAKSANAAN ASUHAN KEPERAWATAN JIWA
PADA KLIEN DENGAN ISOLASI SOSIAL
Nama Mahasiswa :-
Hari / Tanggal :-
Pertemuan Ke : 4 (Empat)
SP. 4 : latih cara bicara sosial, bicara saat melakukan kegiatan harian
A. Proses Keperawatan
1. Kondisi Klien
Klien mengatakan sudah mau berinteraksi dengan orang lain, mampu
berinteraksi dengan orang lain, klien sudah mau keluar kamar, bisa melakukan
aktivitas di ruangan.
2. Diagnosa Keperawatan.
Isolasi Sosial
3. Tujuan.
a. Klien mempu berkenalan dengan 5 orang atau lebih.
b. Klien dapat memasukkan kedalam jadwal kegiatan harian.
4. Tindakan Keperawatan.
a. evaluasi kegiatan latihan berkenalan, bicara saat melakukan empat kegiatan
harian
b. latih bicara bicara sosial
c. masukan pada jadwal kegiatan untuk latihan berkenalan >5orang, berbicara
saat melakukan kegiatan harian dan sosialisasi
2. Fase Kerja
“Baiklak bu apakah bu sudah mempunyai daftar baju yang akan di ambil?
(sebaiknya sudah disipakan oleh perawat) baiklah ibu mari kita berangkat ke
ruangan laundry.
(komunikasi saat di ruangan laundry).
Nah ibu caranya yang pertama adalah ibu ucapkan salam untuk ibu siti, setelah
itu ibu bertanya kepada ibu Siti apakah pakaian untuk ruangan melati sudah ada?
Jika ada pertanyaan dari ibu siti ibu jawab ya.. setelah selesai, minta ibu siti
menghitung total pakaian dan kemudian ibu ucapkan terimakasih pada Ibu siti..
Nah sekarang coba ibu mulai ( perawat mendampingi pasien)”
3. Fase Terminasi
a. subjektif dan objektif :
Bagaimana perasaan ibu setelah bercakap-cakap saat menjemput pakaian ke
ruangan laundry? Apakah pengalaman yang menyenangkan bu?
b. RTL :
Baiklah bu, selanjutnya ibu bisa terus menambah orang yang ibu kenal dan
melakukan kegiatan menjemput pakaian ke ruangan laundry.
c. Kontrak yang akan datang :
Topik :
Baik lah bu bagaimana kalau besok kita berbincang-bincang lagi tentang
kebersihan diri. apakah ibu bersedia?
Waktu :
Ibu mau jam berapa? Bagaimana kalau jam 11:00
23
Tempat :
Ibu maunya dimana kita berbincang-bincang? Bagaimana kalau di ruang
tamu? Baiklah bu besok saya akan kesini jam 11:00 sampai jumpa besok bu.
saya permisi Assalamualaikum WR,WB.
24
STRATEGI PELAKSANAAN ASUHAN KEPERAWATAN JIWA
PADA KLIEN DENGAN ISOLASI SOSIAL
Nama Mahasiswa :-
Hari / Tanggal :-
Pertemuan Ke : 1 (satu) Keluarga
SP. 1 : Mengenal masalah dalam merawat pasien isolasi social, berkenalan
dan berkomunikasi saat melakukan kegiatan harian.
A. PROSES KEPERAWATAN
1. Kondisi Klien
- Keluarga mengatakan bingung dengan apa yang terjadi pada ibunya
- Keluarga mengatakan tidak tahu cara merawat ibunya
2. Diagnosa Keperawatan
Isolasi Sosial
3. Tujuan Keperawatan
a) Keluarga dapat membina hubungan saling percaya
b) Keluarga dapat menyebutkan penyebab isolasi social
c) Keluarga mampu menyebutkan cara merawat ibunya
d) Keluarga mampu mempragakan cara merawat ibunya
e) Keluarga mampu melanjutkan jadwal harian yang telah dibuat
f) Keluarga mampu mendukung klien dalam memperluas hubungan sosial
4. Tindakan Keperawatan
1. Membina hubungan saling percaya
2. Identifikasi penyebab isolasi sosial pasien
3. Diskusikan dengan pasien tentang keuntungan berinteraksi dengan orang lain
dan kerugian tidak berinteraksi dengan orang lain
4. Anjurkan pasien cara berkenalan dengan seseorang
5. Anjurkan pasien memasukan kegiatan latihan berbincang-bincang dengan orang
lain dalam kegiatan harian
‘’Nah seperti itu mba yeni, bisa mb T coba…! Selanjutnya jangan biarkan ibu
mba sendiri. Buat rencana kegiatan bersama antara mba T dan mba Y sehingga
mba T dan mba Y punya kesempatan bercakap-cakap. Kegiatan tersebut makan
bersama, rekreasii bersama dan lainnya.’’
26
4. Fase Terminasi
a. Evaluasi Subjektif
“Baiklah karena sudah selesai, bagaimana perasaan mba yeni setelah kita
bercakap-cakap?”
b. Evaluasi Objektif
“Coba mba yeni ulang lagi cara yang tadi kita bahas!.”
c. Rencana Tindak Lanjut
“besok kita akan diskusi tentang pengalaman bpk/ibu mempraktekan latihan
kita hari ini dan hal-hal lain yang perlu dilakukan.”
d. Kontrak yang akan datang
Topik : “Baiklah besok kita lanjutkan lagi tentang melibatkan pasien
dalam kegiatan rumah tangga dan melatih bicara.”
Waktu : “Bagaimana besok sekitar jam 09.00 pagi ?”
Tempat : “Bagaimana kalau tempatnya disini saja?”
27
STRATEGI PELAKSANAAN ASUHAN KEPERAWATAN JIWA
PADA KLIEN DENGAN ISOLASI SOSIAL
Nama Mahasiswa :-
Hari / Tanggal :-
Pertemuan Ke : 2 (dua) Keluarga
SP. 2 : melibatkan pasien dalam kegiatan rumah tangga sekaligus melatih
bicara pada kegiatan tersebut.
A. PROSES KEPERAWATAN
1. Kondisi Klien
- Keluarga sudah tahu dengan apa yang terjadi pada ibunya
- Keluarga mengatakan masih bingung cara merawatnya
2. Diagnosa Keperawatan
Isolasi Sosial
3. Tujuan Keperawatan
a) Keluarga dapat membina hubungan saling percaya
b) Keluarga dapat menyebutkan penyebab isolasi social
c) Keluarga mampu menyebutkan cara merawat ibunya
d) Keluarga mampu mempragakan cara merawat ibunya
e) Keluarga mampu melanjutkan jadwal harian yang telah dibuat
f) Keluarga mampu mendukung klien dalam memperluas hubungan sosial
4. Tindakan Keperawatan
1. Membina hubungan saling percaya
2. Identifikasi penyebab isolasi sosial pasien
3. Diskusikan dengan pasien tentang keuntungan berinteraksi dengan orang lain
dan kerugian tidak berinteraksi dengan orang lain
4. Anjurkan pasien cara berkenalan dengan seseorang
5. Anjurkan pasien memasukan kegiatan latihan berbincang-bincang dengan orang
lain dalam kegiatan harian
4. Fase Terminasi
a. Evaluasi Subjektif
“Baiklah karena sudah selesai, bagaimana perasaan mba T setelah kita
bercakap-cakap sambil merapihkan tempat tidur ibu mba T?”.
b. Evaluasi Objektif
“bisa mba sebutkan apa saja yang harus diperhatikan dalam berkomunikasi
dengan ibu mba T. Baiklah sebaiknya mba T terus damping ibu mba T dalam
melaksanakan kegiatan hariannya, dan tetap bantu berkenalan dengan orang
baru atau bercakap-cakap dengan orang yang sudah dikenal
c. Rencana Tindak Lanjut
“besok kita berdiskusi lagi mba T.”
d. Kontrak yang akan datang
29
Topik : “besok kita akan diskusi tentang mengembangkan kemampuan
komunikasi ibu mba T dalam kegiatan social seperti berbelanja.”
Waktu : “Bagaimana besok sekitar jam 09.00 pagi ?”
Tempat : “Bagaimana kalau tempatnya disini saja lagi?”
30
STRATEGI PELAKSANAAN ASUHAN KEPERAWATAN JIWA
PADA KLIEN DENGAN ISOLASI SOSIAL
Nama Mahasiswa :-
Hari / Tanggal :-
Pertemuan Ke : 3 (Tiga) Keluarga
SP. 3 : Melatih cara merawat dengan melatih berkomunikasi saat melakukan kegiatan sosial.
A. PROSES KEPERAWATAN
1. Kondisi Klien
- Keluarga mengatakan sudah tahu cara merawat ibunya
- Keluarga mengatakan bingung bila gejala muncul lagi
2. Diagnosa Keperawatan
Isolasi Sosial
3. Tujuan Keperawatan
a) Keluarga dapat membina hubungan saling percaya
b) Keluarga dapat menyebutkan penyebab isolasi social
c) Keluarga mampu menyebutkan cara merawat ibunya
d) Keluarga mampu mempragakan cara merawat ibunya
e) Keluarga mampu melanjutkan jadwal harian yang telah dibuat
f) Keluarga mampu mendukung klien dalam memperluas hubungan sosial
4. Tindakan Keperawatan
1. Membina hubungan saling percaya
2. Identifikasi penyebab isolasi sosial pasien
3. Diskusikan dengan pasien tentang keuntungan berinteraksi dengan orang lain
dan kerugian tidak berinteraksi dengan orang lain
4. Anjurkan pasien cara berkenalan dengan seseorang
5. Anjurkan pasien memasukan kegiatan latihan berbincang-bincang dengan orang
lain dalam kegiatan harian
2. Kontrak
Topik : diskusi mengatasi isolasi social yang dialami ibu mba T melalui
komunikasi saat melakukan kegiatan social berbelanja
Waktu : “Bagaimana jika kita mengobrol selama 45 menit?”
Tempat : “Bagaimana kalau berbincang-bincang di sini saja?”
3. Fase Kerja
‘nah mba T, ibu mba yeni kan sudah mulai nyaman berkenalan dengan orang
baru, bercakap-cakap saat melakukan kegiatan harian. Nah sekarang saatnya ibu
mba yeni memperluas kemampuan bersosialisasiya dengan lingkungan sekitar,
misalnya bersosialisasi saat menabung di bank, belanja di pasar, atau pergi ke
kantor pos. untuk hari ini kita akan melatih ibu mba yeni berbelanja ke warung.
Kebetulan ada warung didepan rumah sakit. Ada beberapa hal yang perlu
diperhatikan, diantaranya sebaiknya ibu mba T sudah punya daftar barang yang
dibutuhkan beserta berapa banyak barang tersebut dibutuhkan. Saat berbelanja
ibu mba T harus memiliki kemampuan meminta sesuatu, dan menjawab
pertanyaan pemilik warung. Nah bagaimana mba T? Bisa kita latih ibu mba T
sekarang… (perawat dan keluarga menemui bu Y dan bersama-sama berlatih
berbelanja ke warung)
4. Fase Terminasi
a. Evaluasi Subjektif
“bagaimana prasaan mba T setelah malatih ibu mba T berbelanja?
b. Evaluasi Objektif
“Coba mba T sebutkan kembali apa saja yang harus diperhatikan dalam
melatih ibu mba T berkomunikasi dalam kegiatan social? Dan tetap bantu
ibu mba T berkenalan dengan orang baru atau bercakap-cakap dengan orang
yang sudah di kenal !.”
c. Rencana Tindak Lanjut
32
“besok kita saya datang lagi untuk memberikan penjelasan perawatan
terhadap ibu mba T setelah perawat tidak lagi mengunjungi ibu mba T ke
rumah.”
d. Kontrak yang akan datang
Topik : “penjelasan perawatan setelah perawat tidak lagi mengunjungi
rumah pasien.”
Waktu : “Bagaimana besok sekitar jam 09.00 pagi ?”
Tempat : “Bagaimana kalau tempatnya disini saja?”
33
STRATEGI PELAKSANAAN ASUHAN KEPERAWATAN JIWA
PADA KLIEN DENGAN ISOLASI SOSIAL
Nama Mahasiswa :-
Hari / Tanggal :-
Pertemuan Ke : Empat (4) Keluarga
SP. 4 : Mengenal masalah dalam merawat pasien isolasi social, berkenalan dan berkomunikasi
saat melakukan kegiatan harian.
A. PROSES KEPERAWATAN
1. Kondisi Klien
- Keluarga mengatakan sudah tahu cara merawat ibunya
- Keluarga mampu menyebutkan dengan kondisi ibunya
- Keluarga mampu mempraktekkan cara merawat anaknya
2. Diagnosa Keperawatan
Isolasi Sosial
3. Tujuan Keperawatan
a) Keluarga dapat membina hubungan saling percaya
b) Keluarga dapat menyebutkan penyebab isolasi social
c) Keluarga mampu menyebutkan cara merawat ibunya
d) Keluarga mampu mempragakan cara merawat ibunya
e) Keluarga mampu melanjutkan jadwal harian yang telah dibuat
f) Keluarga mampu mendukung klien dalam memperluas hubungan sosial
4. Tindakan Keperawatan
1. Membina hubungan saling percaya
2. Identifikasi penyebab isolasi sosial pasien
3. Diskusikan dengan pasien tentang keuntungan berinteraksi dengan orang lain
dan kerugian tidak berinteraksi dengan orang lain
4. Anjurkan pasien cara berkenalan dengan seseorang
5. Anjurkan pasien memasukan kegiatan latihan berbincang-bincang dengan orang
lain dalam kegiatan harian
34
“selamat pagi mba T, bagiamana perasaan mba hari ini? Mba, masih ingat
yang kita bicarakan tentang tentang pertemuan yang lalu? Benar sekali
bagaimana membantu ibu mba T berkenalan, bercakap-cakap, saat
melakukan aktifitas harian dan bercakap-cakap saat melakukan kegiatan
social. Apa yang sudah ibu lakukan? Bagus sekali mba… masih ingat apa
yang akan kita bicarakan pada hari ini mba? Iya benar… persiapan
perawatan dirumah, tindak lanjut ke puskesmas, tanda kekambuhan.
2. Kontrak
Topik : persiapan perawatan dirumah/tindak lanjut
Waktu : “Bagaimana jika kita mengobrol selama 45 menit?”
Tempat : “Bagaimana kalau berbincang-bincang di sini lagi saja?”
3. Fase Kerja
“mba T, saat ini ibu mba T sudah mampu untuk berkenalan dengan orang lain,
bercakap-cakap dengan keluarga saat melakukan kegiatan harian, dan
melakukan kegiatan social. Untuk saat ini, bu Y sudah direncanakan pulang,
untuk selanjutnya mba T harap bisa mendampingi ibu mba T berobat ke
puskesmas seminggu sekali. Nah, mba T juga perlu memahami tanda
kekambuhan pada ibu mba T seperti tidak mau berinteraksi, enggan melakukan
kegiatan harian, dan kegiatan social atau kalau kemampuan berkomunikasi mulai
menurun. Jika ini terjadi maka mba harus segera membawa ibu mba yeni ke
puskesmas walaupun belum jadwal control. Jika kondisi ibu mba yeni menurun
seperti sikap mematung, kontak mata tidak ada sama sekali, dan tidak bisa
diatasi di tingkat puskesmas, maka ibu mba T akan kami rujuk ke rumah sakit
jiwa.
4. Fase Terminasi
a. Evaluasi Subjektif
“Bagaimana perasaan mba T setelah kita diskusi?’’
b. Evaluasi Objektif
1) Evaluasi subyektif
- Bagaimana perasaan mba T setelah kita membahas cara perawatan ibu Y?
Dan bagaimana perasaan mb karena akhirnya ibu Y bisa pulang ke
rumah?
35
2) Evaluasi obyektif
- Coba mba T sebutkan kembali cara perawatan ibu Y dirumah?
- Nah sekarang coba mba T praktikkan lagi caranya?
36
ANALISA PROSES INTERAKSI
A. Pengertian
Analisa proses interaksi (API) (the interactional process analysis) merupakan alat kerja yang
dipakai perawat (mahasiswa) untuk memahami interaksi yang terjadi antara perawat dan klien.
B. Tujuan API
1. Pencatatan dan pelaporan merupakan alat komunikasi antar tim keperawatan dan tim kesehatan
2. Aspek yang penting dicatat dan dilaporkan dalam keperawatan jiwa adalah pola perilaku dan
Catatan resum
Catatan hubungan P-K adalah interaksi yang terjadi selama perawat berhubung
individual klien, kelompok klien, pada terapi modalitas keperawatan.
5. Catatan interaksi
Analisa proses interaksi merupakan alat kerja yang dipakai perawat (mahasiswa) untuk
memahami interaksi yang terjadi antara perawat dan klien.
D. Komponen API
37
2. Analisa dan identifikasi perasaan perawat serta kemungkinan komunikasi yang dapat
dilakukan perawat
3. Analisa dan identifikasi persepsi perawat terhadap emosi dan komunikasi klien
5. Kesan atau evaluasi terhadap efektivitas dari komunikasi berdasarkan data 1 sampai
dengan 4
Analisa
Komunikasi Komunikasi Non Analisa berpusat
berpusat pada Rasional
Verbal Verbal pada klien
perawat
P P P ………
………………… ………………… …………….
K K
……………….. …………………
K K K
………………….. ………................ …………………
P P
……………….. ……………..
P ………………. P P ………… ………..
………………..
K
………………. K ………………
Dst …………….
Keterangan :
1. Inisial klien : tulis inisial bukan nama lengkap
3. ingkungan :
Tempat interaksi
5. Tujuan :
7. Komunikasi non verbal : non verbal klien dan perawat pada saat bicara atau saat
mendengaR
Perawat waspada tentang respon perasaan sendiri & menunjukkan peningkatan kemampuan
untuk menjelaskan riwayat / latar belakang dan analisa, apa dan mengapa perasaan itu muncul.
b. Tingkah laku non verbal
Cari / kenali, diskusikan dan analisa tingkah laku non verbal diri sendiri
c. Isi pembicaraan yang muncul dan terselubung
Bagaimana proses ?
Cari / kenali, diskusikan dan analisa tingkah laku non verbal klien
b. Isi pembicaraan yang muncul dan terselubung (latent)
Temukan / cari arti tingkah laku klien, identifikasi dan diskusikan keadaan perasaan klien,
bagaimana perasaan klien dipengaruhi oleh perawat
d. Kebutuhan klien
39
Cari kebutuhan klien dengan menggunakan data dari interkasi yang baru terjadi, interaksi
sebelumnya, riwayat klien dari teori.
Sintesa dan terapan teori pada proses interpersonal : berikan alasan teoritis intervensi anda
atau intervensi lain dan tunjukkan peningkatan kemampuan dalam mendiskusikan tingkah
laku klien dalam rangka teori psikodinamika, teori adaptasi, setiap teori-teori lain yang
dikenal.
40
ANALISA PROSES INTERAKSI
41
pembica-raan
P : “Perkenalkan nama P : Tampak rileks, terse- Perawat merasa bahwa Klien masih Memperkenalkan diri
saya Nora Mas, saya nyum ke arah klien klien harus diberikan memberikan tanggapan dapat menciptakan rasa
mahasiswa yang praktek K : Tampak rileks penjelasan tentang secara ragu-ragu percaya klien terhadap
disini selama 2 minggu ke kedatangan perawat perawat
depan”
K : Kontak mata cukup
K : (diam) P : Kontak mata baik,
per-hatian penuh pada
klien
P : “Bagaimana kalau kita P : Fokus, kontak mata Perawat memulai Klien menunjukkan Kontrak awal sangat
ngobrol-ngobrol mas? baik pembicaraan dengan kesedi-annya untuk penting dalam interaksi
Sekitar 20 menit K : Mendengar dengan klien disertai kontrak terbuka dan berinteraksi. untuk menunjang hubu-
bagaimana?” seksama terlebih dahulu. ngan saling percaya.
42
depan, mendengarkan
perawat dengan
seksama
K : “Biasa aja. Tadi pagi
bangun jam setengah 5 K : Fokus pada
mandi trus bersih-bersih, pembicara-an
makan, tidur-tiduran, P : Diam sejenak
makan kajang ijo, makan memikir-kan bagaimana
siang kemudian santai- cara me-nyampaikan
santai di tempat tidur” pada klien
P : “Oh begitu. Coba mas P : Fokus pada klien Perawat berusaha me- Klien tampak terbuka Daya ingat pasien dapat
ceritakan awal mula Mas K : Kontak mata baik nggali alasan masuk dan mau dikaji dengan
masuk sini?” klien dan menggali daya mengungkapkan menanyakan data-data
ingat klien kronologi klien masuk pasien yang sederhana
K : “Saya di rumah K : Berbicara ke RS
ngamuk-ngamuk, saya menghadap perawat
melempar ceret plastik sambil membena-hi
terus saya langsung posisi duduk
dibawa ke RS sama bapak P : Badan condong ke
saya” depan, ekspresi wajah
tenang, sikap terbuka
P : “Mas, ingat sekarang P : Eskpresi tenang, Perawat mencoba Klien dapat Daya ingat pasien dapat
dimana dan tanggal tetap mempertahankan mengorientasikan waktu menyebutkan tempat dikaji dengan
43
berapa? kontak mata dengan dan tempat terhadap dimana ia sekarang tapi menanyakan data-data
klien, tersenyum klien klien tampak kesulitan pasien yang sederhana
K : badan condong ke saat akan menyebutkan
arah perawat, fokus waktu
pada pembicaraan
K : Serius memandang
K : “Ini di RS Jiwa mbak perawat sambil
ya. Ehmm, lupa mbak mengung-kapkan
sekarang tanggal berapa.” keinginannya
P : Mendengarkan apa
yang di ungkapkan klien
P : ”Sekarang itu hari P : Menjelaskan kepada Perawat mencoba Klien berusaha Umur mempengaruhi
Senin tanggal 8 Oktober klien dengan penuh mengkaji daya ingat mengingat-ingat daya ingat klien
2012 mas. Mas ingat perha-tian sambil klien
sekarang umur berapa?” menggerak-gerakkan
tangannya
K : Mengangguk-
anggukan kepala
mendegarkan penjelasan
K : “Ehhmmm, saya umur perawat
27 mbak”
K : Menjawab
44
pertanyaan sambil
menunduk
P : Fokus pada
pembicaraan
P : “Apa yang P : Tersenyum, Perawat mencoba Klien dapat menjawab Menggali alasan dari
menyebabkan Mas sering memper-tahankan menggali penyebab alas an dari perilaku perilaku amuk sangat
melempar barang- kontak mata dengan klien melakukan amuknya penting untuk
barang?” klien perilaku kekerasan menentukan penyebab
K : Menunduk, klien dan menentukan
tam-pak lelah intervensi
45
melamun sendirian di perawat
rumah kemudian saya P : Kontak mata baik
menuruti suara-suara itu.”
P : “Menurut Mas, bagian P : tersenyum, melihat Perawat menggali Klien tampak terbuka Konsep diri
tubuh mana yang disukai, jam tangan, badan gambaran diri klien menyampaikan hal-hal menunjukkan gambaran
Mas anak keberapa, dan terbuka yang ditanya oleh diri klien yang meliputi
apa yang mas K : sedikit tersenyum perawat citra tubuh, identitas
inginkan/harapkan dan memperhatikan diri, peran, ideal diri,
sekarang? Kalau dirumah perawat dan harga diri klien
Mas dekat dengan siapa?”
K : “Saya menyukai
semua bagian tubuh saya,
saya bersyukur atas K : Memandang
semuanya. Saya ini anak perawat
kedua dari 3 bersaudara, P : Fokus pada klien
kakak dan adik saya ada
di Batam. Saya dirumah
hanya tinggal dengan
bapak saya. Saat ini saya
ingin cepat sembuh dan
pulang. Kalau dirumah
saya dekat dengan bapak
46
Saya”
P : “Mas agamanya apa? P : Menunjukkan Perawat menggal nilai Klien dapat Nilai dan keyakinan
Biasanya dirumah sholat? perhatian dan keyakinan klien menyebutkan kegiatan sangat penting untuk
Kalau disini sholatmys K : Menunduk sambil terkait spiritual serta ibadah yang biasa menentukan apakah
bagaimana? memandang kakinya kegiatan ibadah yang dilakukan baik pada saat terdapat masalah terkait
biasa dilakukan di rumah atupun di RS dengan spiritual klien
K : “Saya Islam mbak,
kalau dirumah saya K : Masih menunduk
sholatnya kadang-kadang, P : Memperhatikan
kalau disini malah jarang
sholat mbak…”
P : “Masnya ingat disini P : Memandang klien Perawat mengkaji data Klien berpikir dan Lama rawat menentukan
sudah berapa hari?” sambil tersenyum umum dan daya ingat berusaha mengingat apakah klien kronis atau
K : Menunduk pasien akut
47
makan, mana yang Mas K : focus pada yang sederhana sederhana menunjukkan adanya
pilih?” pembicaraan gangguan atau tidak.
K : Memandang
K : “Saya milih mandi perawat
dulu Mbak” P : Kontak mata baik
P : “Wah, Masnya P : badan condong ke Perawat mencoba Klien tampak Penguatan terhadap
pintar… Oya, Mas kan arah klien, kontak mata menggali harapan klien bersemangat segera klien atas
tau kalau sekarang Mas baik untuk memberikan ingin pulang kemampuannya sa-ngat
ini di RS, berarti mas tau K : Tampak lelah dan semangat cepat sembuh membantu untuk
kalau Mas sakit, terus mengantuk meningkatkan
bagaimana perasaan Mas? kemampuan dirinya.
48
K : “Saya kadang merasa K : Masih menunduk
malu Mbak, tapi P : Memperhatikan
sebenarnya saya lebih
senang kalau punya
teman”
P : “Baik Mas, ini sudah P : tersenyum, melihat Perawat mengakhiri Klien tampak Penguatan terhadap
20 menit kita berbincang- jam tangan, badan kontrak dan membuat memahami apa yang klien atas
bincang jadi kita akhiri terbuka kontrak baru disampaikan perawat. kemampuannya sa-ngat
saja ya? Besok kita K : sedikit tersenyum membantu untuk
bertemu lagi bagaimana?” dan memperhatikan meningkatkan
perawat kemampuan dirinya.
K : “Iya”
K : Menganggukkan
kepala
P : Fokus pada klien
P : “Baiklah saya permisi P : Tersenyum, jabat ta- Perawat mengakhiri Klien berespon untuk Klien sepakat untuk
dulu. Mas bisa ngan inte-raksi dengan baik. mengakhiri interaksi menindaklanjuti
beristirahat lagi. K : Menerima jabat dengan baik. pertemu-an. Hal ini
Terimakasih mas” tangan dari perawat menunjukkan bahwa
antara klien dan perawat
K : Berdiri telah terjadi trust. Hal
K : “Iya sama-sama” P : Berdiri sambil ini sesuai dengan teori
49
memper-silahkan klien bahwa aspek utama
untuk ber-istirahat untuk mempertahankan
kembali hubu-ngan adalah
adanya hubungan saling
percaya.
50