0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
28 tayangan30 halaman

Keselamatan Kerja dan Alat di Kapal

Bab 2 membahas tentang optimalisasi, pelaksanaan, keselamatan kerja di atas kapal, dan alat-alat keselamatan. Optimalisasi adalah proses meningkatkan suatu pekerjaan agar lebih efektif. Pelaksanaan adalah kegiatan yang dilakukan secara terencana untuk mencapai tujuan. Keselamatan kerja di atas kapal bergantung pada lingkungan kerja dan alat pelindung digunakan untuk mencegah kecelakaan.

Diunggah oleh

Santoso Wahyudi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
28 tayangan30 halaman

Keselamatan Kerja dan Alat di Kapal

Bab 2 membahas tentang optimalisasi, pelaksanaan, keselamatan kerja di atas kapal, dan alat-alat keselamatan. Optimalisasi adalah proses meningkatkan suatu pekerjaan agar lebih efektif. Pelaksanaan adalah kegiatan yang dilakukan secara terencana untuk mencapai tujuan. Keselamatan kerja di atas kapal bergantung pada lingkungan kerja dan alat pelindung digunakan untuk mencegah kecelakaan.

Diunggah oleh

Santoso Wahyudi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB 2

TINJAUN PUSTAKA

2.1 Pengertian Optimalisasi


Pengertian Optimalisasi secara umum merupakan suatu hasil yang dicapai
sesuai dengan keinginan, jadi optimalisasi merupakan pencapain hasil sesuai
harapan secara efektif dan efesien (Ali, 2014). Optimalisasi banyak juga diartikan
untuk memaximalkan kegiatan sehingga mewujudkan keuntungan yang
diinginkan atau dikehendaki.
Menurut Machfud Sidik, (2008:1) “Optimalisasi suatu tindakan/kegiatan
untuk meningkatkan dan mengoptimalkan”. Sedangkan, menurut Andri Riski
Pratama (2013:6) Optimalisasi merupakan upaya seseorang meningkatkan suatu
kegiatan atau pekerjaan agar dapat memperkecil kerugian atau memaksimalkan
keuntungan agar tercapai tujuan sebaik-baiknya dalam batas-batas tertentu.
Dari pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa optimalisasi adalah
suatu proses kegiatan untuk meningkatkan dan mengoptimalkan suatu pekerjaan
menjadi lebih/sepenuhnya sempurna, fungsional, atau lebih efektif dan menjadi
solusi terbaik agar tercapai tujuan yang diinginkan.

2.2 Pengertian Pelaksanaan


Menurut Tjokroadmudjoyo (2014:7) , Pelaksanaan adalah Proses dalam
bentuk rangkaian kegiatan, yaitu berawal dari kebijakan guna mencapai suatu
tujuan maka kebijakan itu diturunkan dalam suatu program proyek. Pelaksanaan
diartikan sebagai suatu usaha atau kegiatan tertentu yang dilakukan untuk
mewujudkan rencana atau program dalam kenyataannya.
Menurut Wiestra (2014:151), Pelaksanaan merupakan usaha-usaha yang
dilakukan untuk melaksanakan semua rencana dan kebijakan yang telah
dirumuskan dan ditetapkan dengan melengkapi segala kebutuhan alat-alat yang
diperlukan, siapa yang akan melaksanakan, dimana tempat pelaksanaanya dan
kapan waktu dimulainya.
Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan adalah
kegiatan yang dilakukan oleh suatu badan atau wadah secara berencana, teratur
dan terarah, agar mencapai tujuan yang diharapkan, operasional, atau
kebijaksanaan menjadi kenyataan guna mencapai sasaran dari program yang
ditetapkan.

2.3 Keselamatan Kerja di Atas Kapal


Keselamatan kerja secara umum memiliki arti selamat dalam melakukan
pekerjaan apa saja dan selamat dari bahaya kecelakaan kerja. Keselamatan kerja
adalah suatu keadaan terhindar dari bahaya selama melakukan pekerjaan dan
keselamatan kerja merupakan bagian dari salah satu faktor yang harus dilakukan
selama bekerja. Tidak ada seorang pun di dunia yang menginginkan terjadinya
kecelakaan. Keselamataan kerja sangat bergantung pada jenis, , bentuk ,
lingkungan di mana pekerjaan itu dilaksanakan (Buntarto, 2015:1).
Menurut Suwardi dan Daryanto (2018:1), Keselamatan kerja adalah
keselamatan yang berkaitan dengan mesin, pesawat alat kerja, bahan dan proses
pengelolaanya, landasan tempat kerja dan lingkungannya serta cara-cara
melakukan pekerjaan. Sasaran keselamatan kerja adalah segala stempat kerja, baik
di darat , di dalam tanah, di permukaan air, maupun di udara.
Peran nahkoda sangat penting dalam memberikan pemahaman kepada
anak buah kapal mengenai tentang pentingnya keselamatan kerja. Nahkoda juga
memberikan peringatan penting kepada perwira kapal supaya memantau anak
buah kapal atau anak buahmya didalam melaksanakan suatu pekerjaan agar
bertindak sesuai dengan anturan keselamatan yang ditetapkan. Serta selalu
tanggap dan serius dalam segala hal baik pada saat latihan keadaan darurat
maupun dalam kegaiatan pekerjaan lain sehingga anak buah kapal selalu siap.

2.4 Alat-alat Keselamatan


Alat keselamatan pada dasarnya merupakan alat yang sangat penting,
sebab alat tersebut adalah upaya terakhir dalam usaha melindungi pekerja setelah
upaya rekayasa (Hindratmo,Astria, 2016). Sebelum kapal meninggalkan
pelabuhan dan setiap waktu selama dalam pelayaran, semua alat-alat penolong
harus dalam keadaan baik dan siap untuk digunakan.
Peranan dalam penggunaan alat-alat keselamatan kerja merupakan salah
satu usaha untuk mencegah atau mengurangi adanya kecelakaan pada saat kerja.
Oleh karena itu diharapkan seluruh awak kapal atau ABK yang bekerja di kapal
agar selalu menggunakan alat-alat keselamatan pada saat kerja di dek maupun di
kamar mesin guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan terjadi seperti
kecelakaan. Semua perusahaan pelayaran memastikan bahwa kru mereka
mengikuti prosedur keamanan pribadi dan aturan untuk semua operasi yang
dibawa di atas kapal.

2.4.1 Jenis-Jenis Alat Keselamatan Kerja.


Menurut badan diklat perhubungan, 2000, hal 82.,Ada dua macam alata-lat
keselamatan:
a) Untuk mesin-mesin.
Alat sudah disediakan oleh pabrik-pabrik yang membuat dan
mengeluarkan mesin-mesin itu, misalnya kap-kap pelindung dari motor
listrik, klep-klep keamanan dari ketel-ketel uap, pompa-pompa dan
sebagainya.
b) Untuk para pekerja (safety equipment)
Alat-alat pelindung untuk para pekerja (safety equipment) adalah untuk
melindungi pekerja dari bahaya-bahaya yang mungkin menimpanya sewaktu
menjalankan tugas. Alat pelindung / keselamatan tersebut adalah:
a. Alat pelindung kepala.
b. Alat pelindung badan.
c. Alat pelindung anggota badan (lengan dan kaki).
d. Alat pelindung pernafasan.
e. Alat pelindung pendengaran.
f. Alat pencegah tenggelam.
Peralatan Pelindung Dalam buku Code of Safe Working Practice for Merchant
Seaman, dijelaskan mengenai Pakaian dan Penggunaannya.
a. Umum.
Overrall (pakaian kerja), gloves (sarung tangan), foot wear (alas kaki)
yang panas seharusnya menjadi perlengkapankerja untuk bekerja dikapal,
tapi semua tidak bisa memberikan perlindungan yang memadai terhadap
bahaya-bahaya khusus yang berkaitan dengan pekerjaan. Semua personil
yang diwajibkan untuk menggunakan peralatan pelindungan harus dilatih
dalam penggunaannya dan diberitahu keterbatasannya.
Pakaian dan perlengkapan pelindungan perorangan dikelompokan
sebagai berukut: pelindung kepala : Safety Helmets, Hair Protection.
Pelindungan pernafasan: Dust Masks, Respirators Breathing Apparatus.
Pelindungan tangan dan kaki : Gloves. Safety boots, dan Safety Shoes.
Pelindung badan : Safety Suits, Safety Belts, Harnesses, Apron.
b. Pelindung Kepala
1) Safety Helmets
Safety Helmets dapat menahan bahaya yang disebabkan oleh benda
yang jatuh dari suatu ketinggian. Bahaya lainnya termasuk panas yang
tidak normal, resiko timpukan atau pukulan yang menghancurkan, atau
percikan bahan kimia. Sejak bahaya menjadi sangat beragam bentuknya,
ini dinilai bahwa dalam banyak kasus.
Kulit helm harus dalam satu bagian konstruksinya tanpa kelim,
dibentuk untuk menahan tumbukan. Harnes atau Suspension untuk
menyokong pelindungan di kepala pemakai. Crown Straps membantu
menahan kekuatan tumbukan, dibentuk pada jarak kelayakan dari
pendekatan 25 mm antara kulit helm dengan batok kepala pemakai.
Suspensi harus bisa diatur sebelum helm digunakan.
c. Pelindung Pendengaran.
Tiap orang yang tidak terlindungi dari kebisingan tingkat tinggi
seperti dikamar mesin, harus menggunakan pelindung telinga dari tipe
yang telah direkomendasikan yang cocok untuk keadaan khusus. Menurut
(Hudak, Roberta. CDC. Hearing Protection Devices (HPD’s) Pelindung
pendengaran terdiri dari 2 bentuk yaitu : Ear Plugs (penyumbat telinga),
mempunyai 2 tipe yaitu (Foam Earplugs) dan (PVC Earplugs), dan Ear
Muff (penutup telinga).
Bentuk paling sederhana dari pelindung telinga adalah glass-down
ear plug. Bagaimanapun juga bentuk ini mempunyai kelemahan dari
terbatasnya kemanpuan untuk mengurangi tingkat kebisingan. Ear plugs.
ada yang terbuat dari foam / busa / spons, dan ada yang terbuat dari bahan
karet (rubber) juga punya keterbatasan pada suara tingkat yang sangat
tinggi atau frekwensi yang sangat rendah yang menyebabkan terjadinya
getarannya pada saluran telinga.
Pada umumnya, Ear muff merupakan bentuk yang lebih efektif. Ear
muff terdiri dari sepasang rigid cups (mangkok kaku) yang didesain untuk
melengkapi untuk penutup telinga, dipaskan dengan cincin penyegel yang
lembut agar busa dirapatkan diseputar telinga. Ear cup (mangkok telinga)
dihubungkan dengan sebuah spring loaded head band (neck band) yang
memastikan bahwa sound seal disekitar telinga tetap terjaga. Untuk itu
diperlukan saran dari ahli mengenai penggunaannya
d. Pelindung Muka dan Mata
Dalam memilih pelindungan muka dan mata, harus diperhatikan
bentuk dan tingkat bahaya yang dihadapi dan kemampuan pelindung.
Penyebab utama kecelakaan pada mata adalah:
1) Sinar infra merah- gas pengelasan.
2) Sinar ultra violet – las listrik
3) Terkena bahan kimia.
4) Terkena partikel
e. Pelindung Tangan dan Kaki
1) Gloves (sarung tangan).
Pemakaian gloves yang tepat harus memperhatikan jenis bahaya
yang dihadapi dan jenis pekerjaan yang dilakukan, misalnya leather
gloves (terbuat dari kulit) umumya untuk menangani benda yang kasar
atau tajam, hot resistant gloves yang terbuat dari karet, sintetik atau
PVC ketika menangani asam, alkalis, oli, solvent, dan bahan kimia.
Gloves dapat dengan mudah terjepit di bawah drum dan di dalam mesin.
Gloves yang basah atau berminyak bisa menjadi licin dan oleh karena
itu diperlukan perhatian khusus ketika menggunakannya dalam bekerja.
2) Footwear (Alas Kaki)
Kecelakaan pada kaki biasanya diebabkan karena pemakaian alas
kaki yang tidak cocok, meskipun begitu dirasakn kepada semua
personil yang bekerja diatas kapal untuk menggunakan Safety Footwear
yang tepat. Kecelakaan biasanya disebabkan karena tumbukan.
f. Perlindungan dari Jatuh
Setiap pelaut yang sedang bekerja diatas, diluar atau dibawah deck
atau tempat lain yang terdapat resiko terjatuh dari ketinggian 2 m atu
lebih, harus menggunakan Safety Harness (sabuk dengan penahan
goncangan) yang diikat dengan tali keselamatan. Pelatan Inertial Clamps
dapat memberikan kebebasan dalam bergerak.
g. Pelindung badan
Pakaian luar khusus bisa digunakan untuk perlindungan ketika pelaut
tidak terlindungi dari kontak dengan bahan-bahan yang kotor atau
tercemar dan zat yang berkarat.
2.5 Penyebab Kecelakaan Kerja
Suatu kecelakaan sering terjadi diakibatkan oleh lebih dari satu sebab.
Sehingga perlu adanya perhatian penting dalam masalah ini. Kecelakaan kerja
dapat dicegah dengan mematuhi setiap peraturan keselamatan kerja dan
menghilangkan hal-hal yang menyebabkan kecelakaan kerja.
Ada dua sebab utama terjadinya suatu kecelakaan. Pertama, tindakan yang
tidak aman. Kedua, Kondisi kerja yang tidak aman. Orang yang mendapatkan
kecelakaan luka-luka sering disebabkan oleh orang lain atau karena tindakannya
sendiri yang tidak menunjang keamanan. Pada kasus keselamatan kerja bahwa
85% kecelakaan disebabkan oleh perbuatan manusia yang salah (Unsafe Human
Act), walaupun pada kenyataannya terdapat sebab-sebab terjadinya kecelakaan
kerja yang tidak terlihat (Poerwanto, 1987:4).
Menurut buku Badan Diklat Perhubungan, BST, Modul 4 : Personal Safety
and Social Responsibility, Departemen Perhubungan (2000:54). Menjelaskan
bahwa terjadinya kecelakaan ditempat kerja dapat dikelompokkan secara garis
besar menjadi 3 penyebab :
a. Tindakan tidak aman dari manusia (unsafe human acts), misal:
1) Bekerja tanpa wewenang
2) Gagal untuk memberi peringatan
3) Bekerja dengan kecepatan
4) Menyebabkan alat pelindung tak berfungsi
5) Menggunakan alat yang rusak
6) Bekerja tanpa proseduryang aman
7) Tidak memakai alat-alat keselamatan kerja.
8) Menggunakan alat secara salah
9) Melanggar peraturan keselamatan kerja.
10) Bergurau di tempat kerja
11) Mabuk, ngantuk dan lain-lain.
b. Seseorang melakukan tindakan tidak aman atau keselamatan yang
mengakibatkan kecelakaan disebabkan karena :
1) Tidak tahu.
Yang bersangkutan tidak mengetahui bagaimana melakukan
pekerjaan dengan aman dan tidak tahu bahaya-bahayanya sehingga
terjadi kecelakaan.
2) Tidak mampu / tidak biasa.
Yang bersangkutan telah mengetahui cara yang aman,
bahayabahayanya, tapi karena belum mampu / kurang ahli,
akhirnya melakukan kesalahan dan gagal.
3) Tidak mau.
Walaupun telah mengetahui dengan jelas cara kerja / peraturan dan
bahaya-bahaya yang ada serta yang bersangkutan mampu / biasa
melakukannya, tapi karena kemauan tidak ada, akhirnya
melakukan kesalahan dan mengakibatkan kecelakaan.
c. Keadaan tidak aman (unsafe condition), misalnya:
1) Peralatan pengamanan yang tidak memenuhi syarat.
2) Bahan / peralatan yang rusak atau tidak dapat dipakai.
3) Ventilasi dan penerangan kurang.
4) Lingkungan yang terlalu sesak, lembab dan bising.
5) Bahaya ledakan / terbakar.
6) Kurang sarana pemberi tanda.
7) Keadaan udara beracun: gas, debu , uap.

2.6 Tindakan Pencegahan Kecelakaan Kerja


Tindakan pencegahan kecelakaan haruslah dilakukan, agar dapat menekan
tingkat kecelakaan tenaga kerja ditempat kerja. Umumnya kejadian kecelakaan
kerja disebabkan kesalahan manusia (human error).
Menurut Sedarmayanti (2011:129), dalam kecelakaan kerja dapat
dikelompokkan menjadi empat yaitu:
1. Kecelakaan kerja akibat langsung kerja.
2. Kecelakaan pada saat atau waktu kerja.
3. Kecelakaan diperjalanan (dari rumah ke tempat kerja dan sebaliknya,
melalui jalan yang wajar).
4. Penyakit akibat kerja.
Maka dari itu perusahaan perlu melakukan tindakan pencegahan kecelakaan
yang mungkin terjadi terhadap tenaga kerja. Tindakan pencegahan kecelakaan
bertujuan untuk mengurangi peluang terjadinya kecelakaan hingga mutlak
minimum.
Menurut Sedarmayanti (2011:138), salah satu pencegahan kecelakaan dimulai
dengan pemeliharaan lingkungan kerja, lingkungan kerja yang buruk dapat
menurunkan derajat kesehatan dan daya kerja karyawan. Dengan demikian perlu
ada upaya pengendalian untuk mencegah, mengurangi bahkan menekan agar hal
demikian tidak terjadi.
Menurut Ridley (2006:178), untuk mencegah terjadinya kecelakaan kerja
perlu dilakukan upaya menghilangkan bahaya yang ada pada tempat kerja, apabila
tidak dapat dihilangkan, tindakan pengendalian harus diimplementasikan untuk
meminimalkan resiko dari bahan-bahan kimia yang dihadapi pekerja. Tujuan
utama tindakan-tindakan pencegahan ini haruslah untuk melindungi seluruh
karyawan perusahaan. Ada beberapa prinsip pencegahan kecelakaan menurut
Ridley (2006:113), yaitu:
1. Mengidentifikasi bahaya. Dalam mengidentifikasi bahaya, meliputi teknik-
teknik yang harus dilakukan, yaitu:
a. Melakukan inspeksi
b. Melalui patrol dan inspeksi keselamatan kerja
c. Laporan dari operator
d. Laporan dalam jurnal-jurnal teknis
2. Menghilangkan bahaya.
a. Dengan sarana-sarana teknis
b. Mengubah material
c. Mengubah proses
3. Mengurangi bahaya hingga seminim mungkin jika penghilangan bahaya tidak
dapat dilakukan.
a. Dengan saran teknis dan memodifikasi perlengkapan
b. Pemberian pelindung/kumbung
c. Pemberian alat pelindung diri (personal protective equipment)
4. Melakukan penelitian resiko residual.
5. Mengendalikan resiko residual.
Beberapa upaya-upaya pencegahan kecelakaan juga dapat dilakukan dengan
berbagai cara, diantaranya adalah:
1. Memberikan penanda dan isyarat keselamatan kerja
Penanda dan isyarat digunakan agar karyawan lebih mengetahui apa saja
yang menjadi bahaya ditempat kerja. Menurut Ridley (2006:98), untuk
mencegah terjadinya kecelakaan maka perusahaan perlu memberikan
penanda dan isyarat keselamatan kerja. Penggunaan papan penanda
keselamatan yang benar di tempat kerja dapat:

a. Menggalakkan instruksi-instruksi dan aturan-aturan keselamatan kerja.


b. Memberikan informasi atas resiko dan tindakan pencegahan yang
harus diambil.
Terdapat tiga kelompok penanda keselamatan yang dapat digunakan
ditempat kerja diantaranya yaitu:
a. Penanda keselamatan kerja yang digunakan untuk memberikan
informasi dalam kondisi kerja normal.
b. Penanda peringatan bahaya digunakan untuk mengidentifikasi
c. beberapa substansi berbahaya dan perlu dimasukkan sebagai
bagian dari pelabelan substansi-substansi berbahaya.
d. Papan Hazchem digunakan untuk memberikan peringatan
dalam kondisi darurat mengenai sifat substansi-substansi yang
mungkin terlibat dalam kebakaran atau kecelakaan di jalan
raya. Untuk kendaraan transportasi telah dilengkapi dengan
sebuah kartu trem yang dipegang pengemudi.
2. Memberikan pemahaman kepada karyawan untuk selalu berhati-hati dalam
bekerja.
Perusahaan harus memberikan pemahaman kepada karyawan bahwa
pentingnya bekerja dengan hati-hati agar dapat mencegah terjadinya kecelakaan
akibat kerja. Menurut Sedarmayanti (2011:125), untuk meningkatkan kesadaran
akan pentingnya keselamatan kerja yaitu selalu berhatihati dalam bekerja dapat
dilakukan dalam beberapa cara yaitu:
a. Pengarahan singkat yang dilakukan oleh pihak perusahaan setiap hari
sebelum bekerja.
b. Memberi pengertian kepada karyawan mengenai cara bagaimana mereka
harus bekerja dengan benar, (tepat, cepat dan selamat).
c. Meyakinkan karyawan bahwa keselamatan kerja mempunyai dasar yang
sama pentingnya dengan kualitas/ mutu dan target.
d. Member pengertian kepada karyawan tentang cara pelaksanaan
pengamanan kerja tanpa disertai suatu peraturan.
e. Menginsyafkan diri sendiri beserta staf, bahwa kecelakaan kerja yang
mungkin dan telah terjadi, sebenarnya dapat dihindarkan. Jika karyawan
lebih dahulu mengetahuinya dan mau mencegah segera.
f. Perlu ditekankan bahwa cara kerja yang baik dan aman merupakan
kebiasaan dan dapat dikembangkan dengan kesadaran untuk selalu
berhati-hati dalam bekerja.
3. Memberikan Sanksi kepada karyawan yang melanggar peraturan keselamatan
dalam bekerja.
4. Memberikan pemahaman agar karyawan mematuhi standar prosedur
keselamatan kerja.
Perusahaan perlu memberikan pemahaman kepada karyawan agar
karyawan dapat lebih mengetahui dan memahami bahwa pentingnya
mengikuti standar prosedur keselamatan kerja agar dapat mencegah
terjadinya kecelakaan kerja. UU No. 1 Tahun 1970 Bab VIII pasal 13
tentang Kewajiban dan Hak Kerja yang salah satunya berbunyi: bahwa
karyawan harus memenuhi dan mentaati semua syarat-syarat keselamatan
dan kesehatan yang diwajibkan.
5. Memberikan perhatian lebih kepada karyawan yang kondisi tubuhnya
melemah.
Perusahaan harus melindungi karyawannya dari masalah kondisi
tubuh karyawan, karena apabila karyawan kondisi tubuhnya sehat maka
dapat bekerja dengan baik.
Menurut Sedarmayanti (2011:165), masalah kesehatan karyawan ada
beraneka ragam jenis dan sulit dihindari. Masalah tersebut dapat berkisar
dari keadaan sakit kecil sampai keadaan sakit serius berhubungan dengan
pekerjaan yang dilakukan. Beberapa karyawan memiliki masalah
kesehatan emosional, masalah alcohol/narkoba, masalah kronis, masalah
yang tidak permanen, tetapi semua masalah yang mempengaruhi operasi
organisasional dan produktivitas karyawan.
2.7 Peraturan Kesehatan dan Keselamatan Kerja
Menurut Badan Diklat Perhubungan (2000:64), Undang-Undang No.1
tahun 1970 tentang keselamatan kerja terdiri dari 11 Bab dan 18 pasal, walaupun
UU ini disebut UU Keselamatan Kerja, namun materi yang diaturnya mencakup
juga kesehatan kerja. Undang- undang ini mempunyai sasaran dan tujuan sebagai
berikut :
a. Tujuan secara umum :
1) Memberikan perlindungan terhadap tenaga kerja agar selalu dalam
keadaan selamat dan sehat dalam melaksanakan pekerjaan, untuk
meningkatkan kesejahteraan, produksi dan produktivitas nasional.
Memberikan perlindungan terhadap orang lain yang berada ditempat
kerja, agar selalu selamat dan sehat.
2) Memberikan perlindungan terhadap setiap sumber produksi agar selalu
dapat dipakai dan digunakan secara aman dan efisien.
b. Tujuan Secara Khusus
1) Mencegah dan atau mengurangi kecelakaan dan akibatnya
2) Mengamankan mesin, pesawat, instalasi, alat peralatan kerja, bahan dan
hasil produksi.

1. Undang-Undang No.1 tahun 1970


Undang-undang ini tentang keselamatan kerja terdiri dari 11 bab
dan 18 pasal. Dalam pasal 1, dijelaskan istilah-istilah yang dipakai dalam
UU keselamatan kerja dan pengertiannya.
a. Tempat kerja ialah ruangan atau lapangan, terbuka atau tertutup,
bergerak atau tetap, yang menjadi tempat tenaga kerja bekerja atau
yang sering dimasuki tenaga kerja untuk keperluan suatu usaha dan
erdapat sumber atau sumber-sumber bahaya sebagaimana terpencil
dalam pasal-pasal Undang-Undang Keselamatan [Link]
tempat kerja ialah semua ruangan, lapangan, halaman dan
sekelilingnya yang merupakan bagian atau yang berhubungan tempat
kerja tersebut(ayat 1).
b. Pengurus ialah orang yang mempunyai tugas memimpin langsung
suatu tempat kerja atau bagiannya yang berdiri disana(ayat 2)
c. Pengusaha ialah :
1) Orang atau badan hukum yang menjalankan suatu usaha milik
sendiri dan untuk itu menggunakan ditempat kerja.
2) Orang atau badan hukum yang secara berdiri sendiri
menjalankan sesuatu usaha bukan miliknya dan untuk keperluan
itu mempergunakan tempat kerja.
3) Orang atau badan hukum yang diindonesia mewakili orang atau
bdan hukum termasuk pada 1) dan 2), jikalau yang diwakili
berkedudukan diluar negeri (ayat 3).
d. Direktur ialah pejabat yang ditunjuk Menteri Tenaga Kerja untuk
melaksanakan Undang-Undang Keselamatan Kerja (ayat 4).
e. Pegawai pengawas ialah pegawai tehnis berkeahlian khusus dari
Departemen Tenaga Kerja, yang ditunjukan oleh Menteri Tenaga
Kerja (ayat 5).
f. Ahli Keselamatan Kerja ialah tenaga tehnis berkeahlian khusus dari
luar Departemen Tenaga Kerja yang ditujuk oleh Menteri Tenaga
Kerja untuk mengawasi ditaatinya.
2. International Safety Management Code.
Menurut Sulistijo, 2006, hal 1. IMO mengeluarkan peraturan baru
ISM CODE sebagai alat untuk menstandarkan “Safe Management for
Operation of Ship and Pollution Prevention” dan menjadi bab IX SOLAS
74 / 78, yaitu “Management for the Safe Operation of Ships”. Adapun isi
dalam ISM CODE yang berupa beberapa elemen-elemen, terdiri dari:
a. Elemen 1 – Umum
1) Definisi.
a) ISM CODE adalah ketentuan internasional tentang
management untuk pengoperasian kapal secara aman,
pencegahan pencemaran, dan dapat diubah (amended)
oleh IMO .
b) Company (perusahaan) adalah pemilik / pengusaha
pencarter kapal secara pengoperasian kapal.
c) Administration (pemerintah) adalah pemerintah suatu
negara yang benderanya dikibarkan dikapal.
d) Safety Management System (Sistem Manajemen
Keselamatan) adalah system terstruktur dan
terdokumentasi dengan sistem ini semua personil
diperusahaan dan dikapal dapat melaksanakan secara
efektif kebijakan dan perlindungan lingkungan.
e) Document of Compliance – DOC (Dokumen Kesesuaian)
adalah dokumen / sertifikat yang diberikan pada
perusahaan yang telah melaksanakan persyaratan-
persyaratan ISM CODE.
f) Safety Management Certificate – SMC (Sertifikat
Manjemen Keselamatan) adalah sertifikat yang diberikan
kepada kapal menunjukan bahwa peruhasaan dan
manajemen kapal telah dilaksanakan sesuai dengan system
manajemen keselamatan yang telah disetujui.
g) Objektif Evidence (Bukti Objektif) adalah sejumlah
informasi tertulis atau pernyataan tentang suatu fakta
berkaitan dengan keselamatan atau pelaksanaan system
keselamtan dan didapat berdasarkan observasi, penilaian
atau pengujian / pertanyaan.
h) Observation (Observsi) adalah catatan suatu fakta yang
dibuat sewaktu dilakukan audit dan dikuatkan oleh bukti
objektif.
i) Non Conformity (Ketidaksesuaian) adalah situasi yang
diamati berdasarkan bukti objektif dan menunjukan tidak
dipenuhi suatu persyaratan.
j) Major Non Conformity (Ketidaksesuaian Besar) adalah
penyimpanan yang menimbulkan ancaman serius terhadap
keselamatan manusia atau kapal, terhadap lingkungan
disebabkan karena pelaksanaan ketentuan ISM CODE
yang tidak sistematis dan tidak efektif.
k) Anniversary Date (Ulang Tahun) adalah hari dan bulan
setiap tahun dengan berakhirnya suatu dukumen.
l) Convention (konvensi). SOLAS 1974
2) Sasaran
a) Menjamin keselamatan diatas kapal, mencegah kecelakaan
dan korban jiwa, serta mencegah pencemaran dan
kerusakan lingkungan laut dan harta benda.
b) Sasaran manajemen keselamatan di perusahaan agar
terlaksananya pengoperasian kapal secara aman dan
memberi lingkungan kerja yang aman serta menetapkan
langkah-langkah pencegahan terhadap setiap resiko yang
dapat diidentifikasikan selain itu juga meningkatkan
keterampilan para personil dalam hal manajemen
keselamatan didarat dan dikapal serta meningkatkan
kesiapan menghadapi keadaan darurat, sehubungan dengan
keselamatan dan perlindungan lingkungan
c) Safety managemen system harus menjamin dipenuhinya
aturanaturan yang wajib dilaksanakan. Memepertimbangkan
ketentuan-ketentuan, petunjuk-petunjuk, standar-standar
yang dianjurkan oleh IMO, pemerintah, Biro Klarifikasi dan
Organisasi-organisasi maritim.
3) Penerapan
ISM CODE dapat diterapkan pada setiap kapal.
4) Persyaratan-persyaratan fungsional untuk Sistem Manajemen
Keselamatan. Setiap perusahaan harus menyusun, menerapkan
dan memelihara suatu system manajemen keselamatan yang
memasukkan kedalamnya beberapa ketentuan dibawah ini :
b) Kebijakan keselamatan dan perlindungan.
c) Petunjuk–petunjuk dan prosedur-prosedur untuk menjamin
pengoperasian kapal secara aman dan perlindungan
lingkungan yang sesuai dengan peraturan perundang-
undangan internasionl dan negara bendera.
d) Tingkat kewenangan dan jalur-jalur komunikasi didarat dan
diatas kapal, serta antara darat dan kapal.
e) Prosedur pelaporan kejadian dan ketidaksesuaian terhadap
ketentuan-ketentuan ISM CODE.
f) Prosedur untuk menyiapkan dan merespon keadaan darurat.
g) Prosedur internal audit dan tinjauan manajemen.

b. Elemen 2 - Kebijakan Keselamatan dan Perlindungan Lingkungan


1) Menjamin keselamatan dilaut, mencegah dan hilangnya
jiwamanusia serta menghindarkan kerusakan lingkungan.
2) Melengkapi alat kerja dan lingkungan kerja yang aman
dalam pengoperasian kapal, menciptakan perlindungan
terhadap segala resiko yang sudah dilengkapi dan mungkin
terjadi dan secara terus menerus meningkat kecakapan
manajemen keselamatan seluruh personil, bagi darat
maupun dikapal. Kebijaksanaan tersebut diterapkan dan
dilaksanakan diseluruh jajaran organisasi baik dikapal
maupun di darat.

c. Elemen 3- Tanggung jawab dan kewenangan perusahaan


1) Jika yang bertanggung jawab terhadap pengoperasian kapal
adalah bukan pemilik (telah dilimpahkan kepada pihak lain)
pemilik harus melaporkan nama lengkap dan data dari pihak
yang tanggung jawab tersebut.
2) Menetapkan dan mendokumentasikan wewenang, tanggung
jawab dan hubungan kerja antar seluruh karyawan yang
mengatur, melaksanakan dan memeriksa pekerjaan yang
berhubungan, serta dapat mempengaruhi keselamatan dan
perlindungan lingkungan.
3) Tersedianya sarana dan dukungan yang cukup dari darat agar
pelaksana dapat menjalankan tugasnya.
d. Elemen 4 - Orang yang ditunjuk
Perusahaan harus menunjuk seseorang atau beberapa sebagai
[Link] menjamin agar pengoperasian kapal secara aman dan
membuat jalur hubungan antara darat dan kapal harus diberi akses
langsung ke puncak pimpinan, wajib dan berwenang memantau
pengoperasian kapal dalam aspek keselamatan dan pencegahan
pencemaran, serta menjamin bahwa sumber daya dan bantuan dari
darat dapat diberikan sesuai kebutuhan.
e. Elemen 5 - Tanggung Jawab dan kewenangan nakhoda
1) Perusahaan harus menetapkan dan mendokumentasikan
tanggung jawab nakhoda berkaitan dengan :
a) Melaksanakan kebijaksanaan perusahaan dalan hal
keselamatan dan lindungan lingkungan.
b) Memotifasi awak kapal dalam melaksanakan kebijakan.
c) Mengeluarkan perintah-perintah dan instruksi yang tepat,
jelas dan sederhana.
d) Memeriksa bahwa persyaratan tersebut diatas
dilaksanakan.
e) Meninjau pelaksanaan SMS dan melaporkan
kekurangankekurangan pada manajemen didarat.
2) Perusahaan harus menjamin bahwa SMK yang digunakan
diatas kapal memuat kewenangan nakhoda dengan jelas dalam
mengambil keputusan demi keselamatan dan pencegahan
pencemaran dan meminta dukungan perusahaan jika
diperlukan.
g. Elemen 6 - Sumber daya dan personal
1) Nakhoda dipilih dengan teliti, memahami SMS dan diberikan
dukungan seperlunya agar tugas-tugasnya dapat dilaksanakan
dengan aman.
2) Awak kapal harus berkualitas, bersertifikat dan sehat secara
medis sesuai dengan persyaratan nasional dan internasional.
3) Membuat prosedur bagi personil baru atau personil yang
dipindahkan pada tugas baru agar dapat menyesuaikan tugas-
tugasnya.
4) Personil yang terlibat dengan SMS, memiliki pengetahuan
dengan baik mengenai hukum, peraturan, kode, dan petunjuk
yang baik.
5) Membuat prosedur untuk menetapkan jenis latihan ynag
diperlukan dan memberikan pelatihan kepada karyawan yang
memerlukan.
6) Membuat prosedur dengan bahasan yang dimengerti oleh
awak kapal.
7) Menjamin awak kapal dapat berkomunikasi secara efektif
dalam melaksanakan tugasnya.
h. Elemen 7 - Penyusunan rencana operasi diatas kapal
Membuat prosedur untuk mempersiapkan rencana dan instruksi
yang dapat menjamin keselamatan kapal dan pencegahan
pencemaran. Berbagai jenis tugas yang terkait dan diserahkan
kepada personil yang memahami kualifikasi untuk
melaksanakannya.
i. Elemen 8 - Kesiapan menghadapi keadaan darurat
1) Perusahaan harus membuat prosedur yang dapat menunjukan,
menggambarkan dan menanggulangi potensi keadaan darurat.
2) Perusahaan harus membuat rencana latihan untuk
menanggulangi keadaan darurat.
j. Elemen 9 - Laporan dan analisa ketidaksesuaian,kecelakaan dan
kejadian berbahaya.
1) SMS mencantumkan prosedur yang menjamin
ketidaksesuaian, kecelakaan dan situasi yang membahayakan,
dilaporkan pada perusahaan, diselidiki dan dianalisa dengan
maksud untuk meningkatkan keselamtan dan pencegahan
pencemaran.
2) Perusahaan harus membuat prosedur untuk menerapkan
tindakan perbaikan.
k. Elemen 10 – Pemeliharaan kapal dan peralatannya
1) Perusahaan harus membuat prosedur untuk menjamin bahwa
kapal dipelihara sesuai dengan ketentuan peraturan yang
berlaku.
2) Untuk memenuhi persyaratan tersebut perusahaan harus
melakukan inspeksi dalam jangka waktu yang tepat,
melaporkan ketidaksesuaian dan penyebabnya, tindakan
korelasi yang memadai sudah dilakukan dengan catatan dari
tindakan tersebut disimpan.
l. Elemen 11 – Dokumentasi
1) Perusahaan harus membuat prosedur untuk mengawasi seluruh
dokumen dan data-data yang berkaitan dengan SMS.
2) Perusahaan harus menjamin bahwa dokumen yang masih
berlaku tersedia pada tempatnya masing-masing, perubahan
pada dokumen diperiksa dan disahkan oleh petugas yang
berwenang dan dokumen yang kadaluarsa segera dikeluarkan.
3) Dokumen harus disimpan dalam bentuk yang dianggap efektif
oleh perusahaan, setiap kapal harus membawa serta seluruh
dokumen mengenai kapal tersebut.
m. Elemen 12 – Verifikasi, pemeriksaan dan penilaian ulang dari
perusahaan.
1) Perusahaan harus melakukan audit intern.
2) Perusahaan harus secara berkala mengevaluasi efisiensi dari
SMK dan bila perlu memeriksa ulang SMK sesuai dengan
prosedur yang telah ditetapkan oleh perusahaan.
3) Pelaksanaan audit dan tindakan koreksi
4) Personil yang melaksanakan audit harus independen.
5) Hasil audit dari pemeriksan ulang, harus dimintakan
perhatian pada seluruh personil yang bertanggung jawab.
6) Personil atau manajemen yang bertanggung jawab atas
bidangnya harus segera mengambil tindakan terhadap
ketidaksesuaian yang diketemukan
n. Elemen 13 – Sertifikasi, verifikasi , dan pengawasan
1) Kapal harus dioperasikan oleh perusahaan yang memiliki
DOC yang relevan atas kapal tersebut.
2) DOC diterbitkan untuk perusahaan dan memenuhi ISM
CODE, dikeluarkan oleh pemerintah.
3) Copy DOC ditempatkan diatas kapal.
4) SMC diterbitkan untuk kapal oleh pemerintah.
5) Pemeriksaan secara berkala SMC oleh pemerintahan atau
organisasi yang ditunjuk.

o. Elemen 14 – Sertifikasi sementara


1) DOC sementara diterbitkan oleh pemerintah negara bendera
untuk perusahaan yang baru melaksanakan ISM Code atau
yang telah melakasanakannya dengan masa berlaku 12
bulan,maupun yang menambah jumlah kapal dengan jenis
[Link] sementara harus ada di kapal dan tidak harus
disahkan.
2) SMC sementara diterbitkan oleh pemerintah negara bendera
atau pemerintah negara lain yang diminta, bagi kapal yang
baru dibeli, perusahaan baru menerima tanggung jawab
terhadap pengoperasian kapal serta berganti bendera. SMC
sementara diberikan dengan masa berlaku tidak lebih dari 6
bulan.
3) Pemerintah negara bendera atau negara lain yang diminta
dalam keadaan khusus dapat memperpanjang masa
berlakunya SMC sementara untuk waktu tidak lebih dari 6
bulan.
4) SMC sementara diterbitkan setelah dilaksanakan verifikasi
bahwa:
a) DOC yang telah diberikan relevan denga kapal yang akan
diberi SMC
b) SMS telah dibuat oleh perusahaan untuk kapal terkait.
c) Perusahaan telah mermbuat rencana audit kapal terkait
dalam waktu 3 bulan.
d) Nakhoda dan para perwira telah memahami sistem
manajemen keselamatan kapal dan pelaksanaannya.
e) Petunjuk-petunjuk penting telah diberikan sebelum kapal
berlayar.
f) Petunjuk-petunjuk maupun informasi mengenai SMS
diberikan dalam bahasa praktis, sederhana dan mudah
dimengerti oleh awak kapal.
p. Elemen 15 - Verifikasi
Setiap verifikasi terhadap ketentuan-ketentuan ISM Code
dilaksanakan sesuai prosedur yang diterima oleh pemerintah
dengan mengikuti acuan dari IMO.
q. Elemen 16 – Format sertifikat
DOC, SMC, DOC sementara, SMC sementara harus dibuat
dengan bentuk sesuai dengan model sebagaimana ditunjukkan
dalam [Link] bahasa yang digunakan bukan bahasa
Inggris atau bahasa Perancis maka harus diterjemahkan ke
dalam salah satu bahasa tersebut. Sebagai tambahan
persyaratan pada elemen 13 jenis kapal yang disebutdalam
DOC dan di dalam DOC sementara dapat dikukuhkan untuk
menunjukkan batas-batas pengoperasian kapal-kapal diuraikan
dalam system manajemen keselamatan.

3. STCW 1978 , Amandemen 2010.


Pada 25 juni 2010, Organisation Maritime International (IMO) serta
stakeholder lainnya dalam dunia industri pelayaran dan pengawakan global
secara resmi meratifikasi apa yang disebut sebagai "Amendemen Manila"
terhadap konvensi standar pelatihan untuk sertifikasi dan tugas jaga bagi pelaut
(STCW) dan aturan terkait, Amandemen tersebut bertujuan untuk membuat
STCW selalu mengikuti perkembangan jaman sejak pembuatan dan penerapan
awalnya pada tahun 1978, dan amandemen selanjutnya pada tahun 1995.

a. Mulai berlakunya
Amandemen Konvensi STCW akan diterapkan melalui
prosedur penerimaan dengan pemahaman yang telah disepakati
yang mengisyaratkan bahwa perubahan tersebut sudah harus
diterima paling lambat 1 juli 2011 kecuali bila lebih dari 50% dari
pada pihak terkait STCW menolak perubahan yang demikian.
Sebagai hasilnya Amandemen STCW ditetapkan mulai berlaku
pada tanggal 1 Januari 2012.
b. Tujuan Amandemen STCW 2010 Hal-hal berikut menguraikan
perbaikan-perbaikan kunci yang yang diwujudkan melalui
amandemen baru yaitu:
1) Sertifikat kompetensi dan endorsement-nya hanya
boleh dikeluarkan oleh pemerintah-sehingga
mengurangi kemungkinan pemalsuan sertifikat
kompetensi.
2) Pelaut yang telah melalui pemeriksaan kesehatan
sesuai standar medis umum untuk pelaut dari satu
negara dapat berlaku dikapal yang berasal dari
negara lain tanpa menjalani pemeriksaan medis
ulang.
3) Persaratan refalidasi sertifikat dirasionalisasi untuk
kepentingan pelaut
4) Pengenalan metodologi pelatihan modern seperti
pembelajaran jarak jauh dan pembelajaran berbasis
Web.
5) Jam istirahat pagi pelaut dikapal diselaraskan
dengan Maritime Labor Convention ILO atau MLC
(konvensi Buruh Maritim ILO) 2016, dengan
maksud untuk mengurangi kelelahan.
6) Memperkenalkan persyaratan-persyaratan tambahan
untuk menghindari alkohol dan penyalahgunaan zat
terlarang.
7) Kompetensi dan kurikulum baru harus terus
diperbaharui mengikuti perkembangan teknologi
modern dan kebutuhan riil dilapangan.
8) Pelatihan penyegaran dibahas dengan layak dalam
konvensi.

c. Beberapa hal pokok terkait amandemen STCW 2010.


1) STCW Bab I, Ketentuan Umum
a) Peraturan I / 2 : Hanya pemerintah yang dapat
mengeluarkan Certificate Of Competency (COP) dan
menyediakan data base elektronik untuk verifikasi
keaslian sertifikat.
b) Peraturan I / 3 : persaratan Near Coastal Voyage dibuat
lebih jelas, termasuk principal yang mengatur pelayaran
dan melakukan "Kegiatan Usaha" dengan pihak yang
terkait (negara bendera dan negara pantai).
c) Peraturan I / 4 : Penilayan/pemeriksaan Port State
Control (PSC) terhadap pelaut yang melaksanakan tugas
jaga dan standar keamanan "Harus memenuhi standar
keamanan" dalam daftar
d) Peraturan I / 6 : Pedoman e-learning (Pembelajaran
elektronik).
e) Peraturan I / 11 : persaratan revalidasi dibuat lebih
rasional dan termasuk persaratan revalidasi atas
endorsement sertifikat kapal tanker.
f) Peraturan I / 14 : Perusahaan bertanggung jawab atas
pelatihan penyegaran pelaut di kapal mereka.

2) STCW Bab II, Level dukungan


Bab II adalah bagian department deck, perubahan utama
dalam bab II adalah penambahan pelaut trampil (Able Seafarers
atau AB) Deck Rating. ini terpisah dari rating yang
melaksanakan tugas jaga Navigasi (Rating forming Port Of a
Navigational Watch).
Berdasarkan persyaratan untuk kerja dikapal, penting bagi
pelaut untuk mendapatkan kualifikasi tugas jaga Navigasi sebisa
mungkin pada awal sekali dari karir mereka. Pelaut tidak secara
otomatis mendapat kualifikasi AB sampai kualifikasi tugas jaga
Navigasi telah dipenuhi dan lisensi tersebut harus mendapatkan
sertifikat pengukuhan (Endorsement) AB, ini akan
membutuhkan pelatihan dan pengujian serta akan menjadi pasal
baru yang disebut A-II / 5.

3) STCW Bab II, Level Operasional dan Manajemen


Untuk Electronic Chart Display And information System
atau ECDIS (Peta dan sistem informasi electrik) perlu pelatihan
bagi semua perwira dek untuk semua kapal yang dilengkapi
ECDIS. Pelatihan ECDIS sama seperti pelatihan ARPA ataupun
GMDSS, dimana ada pembatasan dalam STCW yaitu seorang
tidak boleh bekerja dikapal dengan perlengkapan tersebut jika ia
tidak memiliki sertifikat ECDIS.
Pada 2012 hampir semua kapal dengan bobot mati lebih
dari 200 ton akan diatur dibawah hukum yang terpisah untuk
memiliki peralatan ECDIS. Secara otomatis, setiap perwira
Deck dikapal berbobot lebih dari 200 ton akan membutuhkan
peralatan ECDIS. Akan ada dua tingkat ECDIS, yakni
operasional dan manajemen dengan tanggung jawab yang
berbeda dari masing-masingnya. Manajemen SDM yang
bertugas di anjungan kapal, pelatihan tim kerja dan
kepemimpinan akan diwajibkan baik ditingkat operasional
maupun management.
4) STCW Bab III, Mesin
Perubahan utama dalam bab III adalah penambahan pelaut
tampil bagian mesin (Engine Rating), ini terpisah dari rating
yang melaksanakan tugas jaga mesin. Banyak negara hanya
memiliki level rating yang melaksanakan tugas jaga (Rating
Forming Port Of a Engine Watch RFPEW) dan untuk pelaut
terampil pemula dibagian mesin disyaratkan memiliki sertifikat
RFPEW sesuai ketentuan STCW ini akan membutuhkan
pelatihan dan pengujian dan akan menjadi pasal baru yang
disebut A-III/5. Pasal A-III/1 akan diformat ulang, anda tidak
lagi perlu melakukan pelatihan selama 30 bulan di kamar mesin
yang disetujui, kata-katanya sekarang akan lebih disinkronkan
dengan departmen dek dan berbunyi tiga tahun masa kerja dilaut
dengan satu tahun gabungan keterampilan bengkel dan enam
bula juga mesin (Engine Room Watchstanding).
Perwira teknik elektro (Electro technical Officer ETO) dan
bawahan Teknik Elektro (Electro Technical Rating ETR) akan
ditambahkan. Manajemen SDM di kamar mesin, Pelatihan jam
kerja dan pelatihan kepeminpinan akan diwajibkan baik
ditingkat operasional maupun manajemen.
5) STCW Bab V, Tanker dan kapal tanker
Sekarang akan ada tiga katagori awak kapal tanker pada kapal
tanker, yaitu :
a) Awak kapal tanker minyak
b) Awak kapal tanker kimia
c) Awak kapal tanker gas cair
Selain itu setiap katagori awak kapal tanker akan dipisahkan atas
dua tingkat yaitu:
a) Dasar (Saat ini disebut asisten)
b) Lanjutan (Saat ini disebut penanggung jawab PIC)
Yang akan menjadi perubahan besar adalah pemisahan
bahan kimia dari minyak dan masing-masing memerlukan
persaratan tersendiri untuk di awaki pada setiap jenis kapal dan
pelatihan khusus untuk masing-masingnya. Selain itu, akan ada
kursus pemadaman api di kapal tanker, meskipun beberapa pihak
memperbolehkan program pemadaman api dasar untuk menutupi
persaratan ini.
Kapal penumpang akan ada konsolidasi aturan untuk kapal
penumpang. Offshore Supply Vessel (OSV kapal Offshore Supply,
Dynamics Positioning (DP) vessel dengan kendali posisi dinamis
dan kapal beroprasi diperairan yang tertutupi es. Akan ada pasal
baru yang memuat panduan terkait lisensi khusus atau persaratan
pelatihan untuk OSV, DPV dan kapal yang beroprasi diperairan
yang tertutupi es.
6) STCW Bab IV, Isu lingkungan laut
Amandemen akan mencakup penambahan isu kesadaran
lingkungan laut dalam kursus keselamatan pribadi dan tanggung
jawab sosial (Personal Safety & Social Responsibilities PSSR)
yang dilaksanakan sebagai bagian dari pelatihan keselamatan
Dasar (Basic Safety Training) serta tingkat operasional yang
memperhatikan kelestarian lingkungan laut pada setiap
tingkatan sertifikasi sesuai STCW Code A-II / 1 dan A-III / 1.
7) Pelatihan Keselamatan Dasar BST
Cakupan PSSR akan ditambahkan beberapa subyek sebagai
berikut
a) Komunikasi
b) Pengendalian kelelahan
c) Tim kerja
Subyek tambahan ini akan membuat modul PSSR lebih
panjang tapi harus kurang dari satu hari panjangnya tetap saja,
ini akan memperpanjang program pelatihan keselamatan dasar
dari yang biasanya 5 hari menjadi setidaknya 5,5 hari.
8) Pelatihan Penyegaran untuk Keselamatan
Salah satu elemen kunci dari amandemen STCW 2010
tampaknya adalah penghapusan celah yang berkaitan dengan
pelatihan penyegaran, Kode (aturan) STCW, yang kabur di area
ini menyebabkan bayak negara memilih untuk menafsirkan
persaratan "dalam waktu lima tahun" secara longgar, telah
diputuskan bahwa program tertentu yang dapat mempengaruhi
keselamatan dan kelangsungan hidup awak kapal dan
penumpang mewajibkan latihan penyegaran pengendalian
keadaan darurat atau keselamatan dilaksanakan secara berkala.
Latihan penyegaran keselamatan akan memerlukan latihan
penyegaran setiap lima tahun dan program pelatihannya dapat
diperpendek dari panjang durasi pelatihan aslinya. Latihan
penyegaran dengan metode yang disetujui (di kelas atau kapal
belum ditentukan) adalah:
a) Proficiency In Survival Craft And Rescue Boats (SCRB)
b) Advance Firefighting (AFF)
c) Basic Safety Training (BST)
d) Fast Rescue Training
e) Medical Training
9) Pelatihan keamanan
Amandemen akan mencakup tiga tingkat pelatihan keamanan
a) Tingkat satu Kesadaran keamanan (Semua anggota
crew).
b) Tingkat dua Petugas keamanan.
c) Tingkat tiga Ship security officer (Perwira keamanan
kapal) - ISPS Code
pelatihan ahli pembajakan juga akan ditambahkan pada
setiap tingkat.
10) STCW Bab VIII, Tugas jaga
Bagian aturan STCW ini akan diselaraskan dengan ILO
MLC. ILO MLC telah ditandatangani pada tahun 2006 dan
dibuat sebagai aturan baru yang mengatur baru yang mengatur
hak para pelaut sehingga akan ada standar minimum global
tentang bagaimana pelaut diperlakukan.
11) Harmunisasi dengan IMO MLC
Ketika IMO (International Maritime Organization)
melakukan pengawasan atas sertifikasi berdasarkan konvensi
STCW, ILO melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan
konvensi MLC. ketika ILO yang mengadopsi "Seafarers Bill Of
Rihts: (Hakhak dasar pelaut) bagi para pelaut di dunia. Semua
pihak pemerintah, pelaut dan pemilik kapal memuji standar
kerja baru ini sebagai perkembangan penting bagi sektor
industri dunia yang paling terglobalisasi.
IMO telah mengambil langkah penting untuk membangun
perlindungan dibidang keselamatan, sertifikasi dan polusi, tetapi
sektor ini dibanjiri dengan berbagai standar ketenaga kerjaan
internasional sejak lebih dari delapan dekade terakhir. ILO MLC
2006 memodernisasi standar-satandar ini untuk:
1. Konsolidasi dan memperbaharui lebih dari 60
konvensi ILO dan rekomendasi-rekomendasinya
yang telah dibuat sebelumnya.
2. Menetapkan persyaratan minimum bagi pelaut untuk
bekerja sebuah kapal.
d) Menangani kondisi kerja, akomodasi, fasilitas
rekreasi, makanan dan katering, perlindungan
kesehatan, perawatan medis, perlindungan
kesejahteraan dan jaminan sosial.
e) Mempromosikan kepatuhan bagi operator dan
pemilik kapal dengan memberikan fleksibilitas yang
cukup pada pemerintah untuk menerapkan
persyaratan dalam cara yang terbaik sesuaikan
dengan undang-undang nasional masing-masing
negara.
f) Memperkuat mikanisme penegakan atau
pelaksanaan pada semua tingkatan, termasuk
ketentuan untuk prosedur keluhan yang tersedia
pelaut, pengawasan yang dilakukan oleh para
pemilik kapal dan nakhoda terhadap kondisi kapal-
kapal mereka, yurisdiksi negara bendera dan kontrol
atas kapal mereka, dan inspeksi negara pelabuhan
pada kapal asing.

Anda mungkin juga menyukai