Nama : Enda Rahayu
Nim. : C1AA19033
Kelas: 2A sarjana keperawatan
TUGAS LAPORAN MANDIRI PATIENT SAFETY
Definisi EBP dan peningkatan patient safety
Evidence Based Practice (EBP) keperawatan adalah proses untuk menentukan, menilai, dan
mengaplikasikan bukti ilmiah terbaik dari literature keperawatan maupun medis untuk
meningkatkan kualitas pelayanan pasien. Dengan kata lain, EBP merupakan salah satu langkah
empiris untuk mengetahui lebih lanjut apakah suatu penelitian dapat diimplementasikan pada
lahan praktek yang berfokus pada metode dengan critical thinking dan menggunakan data dan
penelitian yang tersedia secara maksimal.
EBP (Evidence Based Practice) merupakan suatu kegiatan dimana dilakukan penelitian atau riset
tentang suatu studi. Dalam mengevaluasi kemajuan dalam keselamatan pasien dibutuhkan
pengukuran keselamatan pasien meliputi dua tindakan keseimbangan :
1. Menyeimbangkan keinginan terhadap suatu pengukuran yang bersifat lebih global, maskipun
lebih bias tentang keselamatan pengukuran yang lebih fokus tetapi biasnya lebih sedikit ( kuat ).
Suatu pengukuran global yang dapat di terapkan untuk semua pasien ( misalnya moltalitas
dirumah sakit ) memiliki bias yang exstrem karena tidak adaekuatnya penyesuaian tehadap resiko
dan kurangnya pertimbangan terhadap preferensi pasien pengukuran yang spesifik ( misalnya
infeksi aliran vena sentral bersifat sangat kuat tetapi pengukuran ini hanya menargetkan
sekelompok kecil pasien. Banyak pengukuran spesifik di perlukan untuk mencangkup keseluruhan
populasi pasien
2. Meneruskan keseimbangan antara pengukuran yang baik ( valid dan andal ) yang
memungkinkan untuk di lakukan mengingaat sumber daya yang terbatas. Penggunaan sumber
data yang relatif mudah dan tidak mahal,misalnya data administratif untuk pengukuran seperti
tronbosif vena dalam, merupakan pengukuran yang dapat di terapkan tetapi memiliki korelasi
yang buruk dengan data kajian rekam medis untuk mengatasi hal ini maka penting untuk :
- Mengurangi kuantitas namun bukan kualitas data
Mempertimbangkan validitas suatu pengukuran pada dua tingkat :
- Dominan keselamatan pasien : jika hal ini merupakan suatu hasil, apakah akan mewakili aspek
penting dari mutu dan apakah salah satu dari variasi pada praktik di antara organisasi atau
intervensi yang meningkatkan hasil menunjukkan hal ini secara umum dapat di cegah jika ini
adalah suatu penilaian
proses, apakah bukti menunjukkan intervensi akan memperbaiki hasil.
- Tujuan EBP
Tujuan utama di implementasikannya evidance based practice di dalam praktek
keperawatan adalah untuk meningkatkan kualitas perawatan dan memberikan hasil yang terbaik
dari asuhan keperawatan yang diberikan. Selain itu juga, dengan dimaksimalkannya kualitas
perawatan tingkat kesembuhan pasien bisa lebih cepat dan lama perawatan bisa lebih pendek
serta biaya perawatan bisa ditekan (Madarshahian et al., 2012).
-Langkah-Langkah Dalam Proses Evidance Based Practice
1. Menumbuhkan semangat penyelidikan (inquiry)
2. Mengajukan pertanyaan PICO(T) question
3. Mencari bukti-bukti terbaik
4. Melakukan penilaian (appraisal) terhadap bukti-bukti yang ditemukan
5. Mengintegrasikan bukti dengan keahlian klinis dan pilihan pasien untuk membuat
keputusan klinis terbaik
6. Evaluasi hasil dari perubahan praktek setelah penerapan EBP
7. Menyebarluaskan hasil (disseminate outcome)
- Tantangan Terhadap Riset Keselamatan Pasien
Tantangan berikut perlu diatasi untuk menerapkan suatu riset yang elektif dan
kerangka kerja peningkatan mutu yang meliputi :
1. Membangun kapasitas : satu-satunya cara untuk membangun momentum pada bidang riset
keselamatan adalah dengan memberikan pendidikan formal tentang metode riset, pengajaran,
dan pengalaman riset terstruktur kepada tenaga kesehatan . tenaga kesehatan juga disarankan
untuk mendapatkan gelar master atau doktoral pada bidang kerjanya. Karena terbatasnya waktu,
maka untuk tahap awal dapat dilakukan pelatihan (workshop) selama seminggu untuk membantu
memahami konsep. Keterampilan evaluasi dapat diperoleh dengan berpartisipasi pada kursus
yang lebih panjang. Untuk memberikan panduan yang sama untuk pelatihan pada riset
keselamatan pasien, maka WHO telah menyusun panduan untuk memberikan pengajaran di
seluruh dunia dengan cara / format yang terstandardisasi.
2. Menciptakan infrastruktur : suatu kebijakan perlu disusun untuk memastikan adanya
pertukaran informasi antara klinisi dan penyusun metode. Satu cara untuk melakukan hal ini
adalah dengan mengadakan pertemuan multidisiplin untuk membahas disiplin kerja klinis dan
riset kuantitatif secara bersamaan.
3. Mengevaluasi rasio biaya-manfaat untuk upaya peningkatan mutu : peneliti perlu memiliki
kemampuan untuk menjelaskan rasio biaya-manfaat dari intervensi, misalnya mempekerjakan
staf baru atau membeli peralatan baru, agar para pemimpin.
-peningkatan patient safety
Meningkatkan patient safety tidak hanya menguntungkan pasien, melainkan
perawat juga yang terhidar dari tanggung gugat atas masalah yang terjadi pada pasien maupun
kerja perawat yang semakin efektif. Sehingga peningkatan pengetahuan maupun kemampuan
perawat dalam melaksanakan patient safety harus selalu ditingkatkan secara berkala dan
kontinyu.