0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
37 tayangan46 halaman

Brand Image dan Trust di Fave Hotel Tuban

Proposal ini membahas pengaruh brand image dan trust terhadap niat beli (purchase intention) pelanggan dalam pemesanan kamar hotel pada masa pandemi Covid-19 di Fave Hotel Tuban. Brand image dan trust dihipotesis sebagai faktor yang mempengaruhi niat beli konsumen, sementara tujuan penelitian ini adalah menganalisis pengaruh kedua variabel tersebut terhadap niat beli pelanggan.

Diunggah oleh

Fernanda David
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
37 tayangan46 halaman

Brand Image dan Trust di Fave Hotel Tuban

Proposal ini membahas pengaruh brand image dan trust terhadap niat beli (purchase intention) pelanggan dalam pemesanan kamar hotel pada masa pandemi Covid-19 di Fave Hotel Tuban. Brand image dan trust dihipotesis sebagai faktor yang mempengaruhi niat beli konsumen, sementara tujuan penelitian ini adalah menganalisis pengaruh kedua variabel tersebut terhadap niat beli pelanggan.

Diunggah oleh

Fernanda David
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PENGARUH BRAND IMAGE DAN TRUST

TERHADAP PURCHASE INTENTION PEMESANAN


KAMAR PADA MASA PANDEMI COVID-19 DI FAVE
HOTEL TUBAN

PROPOSAL

Untuk Seminar
Proposal Dalam
Penulisan Skripsi

Diajukan Oleh:

ANANDA APRILIA MAHARANI


NIM. 17.60201.1.133

FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS BOJONEGORO
2021
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, segala puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat


Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, serta pertolongan-Nya,
sehingga penyusunan proposal skripsi dapat penulis selesaikan.

Dalam penulisan proposal skripsi ini masih banyak kekurangan dan


jauh dari kata sempurna. Semoga dapat diterima oleh Dosen Pembimbing dan
penulis mohon bimbingannya untuk dapat menyempurnakan proposal ini sehingga
bisa penulis gunakan sebagai bahan dasar dalam pembuatan skripsi yang berjudul
PENGARUH BRAND IMAGE DAN TRUST TERHADAP PURCHASE
INTENTION PEMESANAN KAMAR PADA MASA PANDEMI COVID-19 DI
FAVE HOTEL TUBAN.

Demikian yang dapat penulis sampaikan, kurang lebihnya penulis


mohon maaf yang sebesar besarnya dan atas perhatiannya penulis sampaikan
terima kasih.

Bojonegoro,15 Maret 2021

Penulis

ANANDA APRILIA MAHARANI


NIM. 17.60201.1.133

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL .......................................................................................... i


HALAMAN PERSETUJUAN ............................................................................. ii
KATA PENGANTAR......................................................................................... iii
DAFTAR ISI ...................................................................................................... iv
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar belakang masalah .......................................................................... 1
1.2. Perumusan masalah ................................................................................ 5
1.3. Tujuan penelitian ................................................................................... 5
1.4. Manfaat penelitian ................................................................................. 6
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Landasan Teori ...................................................................................... 8
2.2 Penelitian Terdahulu .............................................................................. 29
2.3 Kerangka Konseptual ............................................................................. 31
2.4 Hipotesis ............................................................................................... 32
BAB III METODE PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian ....................................................................................... 33
3.2 Ruang Lingkup/ Focus Penelitian............................................................. 33
3.3 Devinisi Operasional Variable dan Indikator Variable ............................... 34
3.4 Jenis Dan Sumber Data ........................................................................... 34
3.5 Lokasi Penelitian .................................................................................... 35
3.6 Populasi, dan Teknik Sampel ................................................................... 35
3.7 Metode Pengumpulan Data...................................................................... 37
3.8 Teknik Analisis Data............................................................................... 38
3.9 Tahapan-Tahapan Penelitian .................................................................... 42
DAFTARPUSTAKA

iii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Industri Perhotelan di Indonesia mengalami perkembangan yang sangat

menjanjikan seiring dengan berkembangnya e-commerce yang telah membawa

perubahan besar dalam perkembangan dunia bisnis online. Perkembangan

reservasi hotel secara online melalui media internet saat ini semakin banyak

diminati oleh para calon tamu hotel baik yang berasal dari luar negeri maupun

dari dalam negeri, karena reservasi online terbukti lebih efektif dan efisien. Hal

inilah yang menjadikan reservasi hotel secara online sebagai fenomena baru

yang menjanjikan dalam industri perhotelan (Carrol & Sileo, 2007)

Namun dengan adanya Pandemi covid-19 di Indonesia initentunya

berdampak pada semua sektorperekonomian terutama pada industripariwisata.

Dikutip dari CNN Indonesia, ketua umum PHRI yang menyatakan bahwa

bahwa Industri pariwisata khususnya di Indonesia sudah menjadi salah satu

sektor yang menjanjikan dalam peningkatan taraf hidup masyarakat dimana

sektor pariwisata menjadi sektor yang menjanjikan bagi peningkatan

perekonomian di Indonesia, karena memiliki banyak keunggulan serta menjadi

salah satu penyumbang peningkatan ekonomi terbesar untuk Indonesia

termasuk devisa bagi negara.

Dalam bisnis pariwisata dan perhotelan brand image merupakan

penentu yang mempengaruhi keputusan pembelian. Menurut Simonian (2012

1
dalam Lien et al., 2015), yang menyatakan bahawa brand image membawa

pengaruh pada perilaku konsumen dalam keputusan [Link]

sebuah trust merupakan salah satu dari faktor yang menentukan suksesnya

sebuah penyedia jasa (Kim, Xu & Gupta, 2012). Begitupula dengan Ling bin et

al., (2011 dalam Lien et al., 2015) faktor kepercayaan merupakan faktor yang

penting bagi konsumen yang akan mempengaruhi keputusan pembelian.

Niat beli konsumen dapat menjadi semakin tinggi apabila brand image

sebuah perusahaan terbentuk dengan baik. Brand image atau citra merek

merupakan representasi dari persepsi dan informasi serta pengalaman yang

didapatkan terhadap sebuah merek. Image positif yang dibentuk oleh

konsumen terhadap sebuah brand lebih memungkinkan konsumen untuk

melakukan sebuah pembelian (Wahyono, 2012).

Purchase Intentions pada reservasi hotel mengacu pada kemungkinan

untuk memakai layanan booking online sebelum memutuskan untuk benar

benar melakukan reservasi. Jika seorang konsumen sudah memiliki

pengalaman yang baik terhadap suatu merek, maka dari pengalaman inilah

akan menciptakan citra merek yang baik sehingga dapat menarik calon

pelanggan lainnya untuk menggunakan layanan online hotel booking sehingga

dapat menimbulkan purchase intentions dari para calon pelanggan lainnya

(Dinawan, 2010).

Brand Image adalah persepsi tentang merek yang merupakan refleski

dari memori konsumen terhadap suatu merek tertentu. Jadi citra merek pada

online hotel booking akan muncul ketika seorang konsumen pernah

menggunakan layanan booking online tersebut atau merasakan dari

2
pengalaman orang lain disekitarnya. Merek yang memiliki brand image yang

baik akan cenderung disarankan pelanggan kepada calon pelanggan lainnya

untuk menggunakan sebuah layanan yang mereka anggap baik (Ferrina Dewi,

2008: 165).

Trust merupakan salah satu fitur utama dari hubungan antara calon

pelanggan dengan penyedia layanan. Peran kepercayaan dalam sebuah

hubungan interaksi antara layanan online hotel booking dan calon pelanggan

menjadi subyek utama dalam kepentingan penelitian ini. Membangun

kepercayaan terhadap konsumen merupakan salah satu faktor penentu

keberhasilan dari sebuah penyedia layanan seperti reservasi hotel online (Kim,

2012). Karena seorang pelanggan tidak akan memiliki niat beli yang tinggi

serta tidak mungkin merekomendasikan pembeliannya jika tidak adanya

kepercayaan (Everard, 2006).

Brand image memiliki banyak manfaat bagi para pelaku usaha ketika

merek yang dibangun sudah berhasil menguasai pasar, akan timbul daya tarik

tersendiri di mata konsumen, perusahaan lebih mudah mendapatkan loyalitas

pelanggan, dapat menjadi peluang bagi perusahaan untuk menetapkan harga

jual yang tinggi, membuka peluang bagi perusahaan untuk mengembangkan

produknya serta menjadikan perusahaan memiliki value tersendiri, yang tidak

dimiliki oleh pesaingnya (BisnisUKM, 2011).

Brand image yang baik dimata masyarakat tidak selamanya menuai

pemikiran positif bagi konsumen, sehingga jasa transportasi online tidak selalu

diterima baik oleh masyarakat Indonesia, terkadang banyak muncul berita atau

3
informasi yang menjatuhkan nama perusahaan jasa transportasi online sehingga

berujung pada citra negatif yang terbentuk dibenak konsumen.

Menurut Santoso (2014: 4) penerapan proses pemasaran yang baik dan

efektif dapat meningkatkan penjualan diberbagai bidang sektor bisnis. Seperti

yang terjadi pada industri perhotelan di Indonesia yang mengalami peningkatan

dalam jumlah pengunjung yang menginap baik dihotel bintang maupun hotel

non bintang, hal ini tidak bisa terlepas dari peranan penyedia layanan travel

agent

Dalam perhotelan brand image merupakan penentu yang

mempengaruhi keputusan pembelian. Brand image membawa pengaruh pada

perilaku konsumen dalam keputusan [Link] sebuah trust

merupakan salah satu dari faktor yang menentukan suksesnya sebuah

penyedia jasa. Sedangkan faktor kepercayaan merupakan faktor yang penting

bagi konsumen yang akan mempengaruhi keputusan pembelian. Begitu pula

pada Fave Hotel Tuban yang memerlukan brand image dan trust yang baik

untuk meningkatkan purchase intention pemesanan kamar pada masa pademi

covid-19.

Favehotel adalah jaringan hotel bintang 3 yang menawarkan

kenyamanan yang fungsional. Dengan desain yang minimalis dan modern,

interior hotel terlihat bersih dan eksklusif. Berada di Jalan Basuki Rahmad 215

- 217, Tuban, Favehotel Tuban menawarkan 105 kamar dengan 3 tipe yang

[Link] diberlakukannya kebijakan terkaitsocial distancing dan phisycal

distancing olehpemerintah pusat maupun daerah hotel tersebutmengalami sepi

kunjungan [Link] hotel mengambil kebijakan untukmenutup

4
sementara dan merumahkankaryawannya. Keputusan sulit ini diambil

olehmanajemen hotel demi dapat bertahan di masapandemi ini.

Berdasarkan uraian diatas penelitian ini didasari oleh variabel brand

image dan trust terhadap variabel purchase intentions sehingga penulis

melakukan penelitian ini dengan mengambil judul: PENGARUH BRAND

IMAGE DAN TRUST TERHADAP PURCHASE

INTENTIONPEMESANANKAMAR PADA MASA PANDEMI COVID-19

DI FAVE HOTEL TUBAN.

1.2 Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang diuraikan diatas, maka rumusan

masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Apakah brand image dan trust secara parsial berpengaruh terhadap

purchase intention pemesanan kamar pada masa pademi covid-19 di Fave

Hotel Tuban?

2. Apakah brand image dan trust secara simultan berpengaruh terhadap

purchase intention pemesanan kamar pada masa pademi covid-19 di Fave

Hotel Tuban?

1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah diatas maka tujuan dari penelitian ini

adalah sebagai berikut:

5
1. Untuk mengetahuipengaruh brand image dan trust secara parsial terhadap

purchase intention pemesanan kamar pada masa pademi covid-19 di Fave

Hotel Tuban.

2. Untuk mengetahuipengaruh brand image dan trust secara simultan terhadap

purchase intention pemesanan kamar pada masa pademi covid-19 di Fave

Hotel Tuban.

1.4 Manfaat Penelitian

Hasil dari penelitian ini diharapkan akan diperoleh beberapa manfaat

sebagai berikut:

a. Manfaat Teoritis :

1) Dalam lingkup keilmuan, penelitian ini bermanfaat untuk

pengembangan keilmuan dalam bidang manajemen pemasaran

khususnya mengenai niat beli konsumen yang melihat dari brand

imagedan trust.

2) Hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti diharapkan dapat

memberikan kontribusi yang baik kepada berbagai pihak yakni secara

akademis adalah agar penelitian ini diharapkan dapat menambah

wawasan, pengetahuan penulis dan menambah ilmu baik dalam teori

maupun praktek tentang pengaruh brand image, dan trust terhadap

purchase intention pemesanan hotel.

b. Manfaat Praktis :

1) Bagi penulis, sebagai wadah pengembangan kemampuan atau

pemahaman mengenai manfaat dari berbagai variabel yang sudah

6
diteliti agar dapat diterapkan dimasa yang akan datang serta penerapan

teori yang sudah diperoleh selama masa perkuliahan.

2) Bagi perusahaan, hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi

perusahaan yang menjadi objek penelitian dalam penentuan strategi

dan peningkatan mutu untuk kedepannya agar dapat bertahan dan

mampu bersaing seiring dengan perkembangan jaman

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Landasan Teori

2.1.1 Brand Image

1) Pengertian Brand Image

Image (Citra) adalah persepsi masyarakat terhadap perusahaan

atau produk. Image dipngaruhi oleh banyak faktor yang diluar kontrol

perusahaan. Pengertian image (citra) menurut (Kotler, 2009: 57) adalah

kepercayaan, ide, dan impressi seseorang terhadap sesuatu. Citra citra

merupakan kesan, impressi, perasaan atau persepsi yang ada pada

publik mengenai perusahaan, suatu obyek, orang atau lembaga.

Bagi perusahaan citra berarti persepsi masyarakat terhadap jati

diri perusahaan. Persepsi ini didasarkan pada apa yang masyarakat

ketahui atau kira tentang perusahaan yang bersangkutan. Oleh karena

itulah perusahaan yang sama belum tentu memiliki citra yang sama pula

7
dihadapan orang. Citra perusahaan menjadi salah satu pegangan bagi

konsumen dalam mengambil keputusan penting. Contoh: keputusan

untuk membeli suatu barang, keputusan untuk menentukan tempat

bermalam, keputusan untuk mengkonsumsi makanan dan minuman,

pengambilan kursus, sekolah, dan lain-lain. Citra yang baik akan

menimbulkan dampak positif bagi perusahaan, sedangkan citra yang

buruk melahirkan dampak negatif dan melemahkan kemampuan

perusahaan dalam persaingan.

Menurut (Supranto, 2011: 128) mengatakan “Citra merek ialah

apa yang konsumen pikir atau rasakan ketika mereka mendengar atau

melihat nama suatu merek atau pada intinya apa yang konsumen telah

pelajari tentang merek.”

Menurut (Rahman, 2010: 181) : “merek bisa memperkuat citra

diri dan persepsi orang lain terhadap pemakai/ pemiliknya.” Pengertian

brand image menurut (Keller, 2009: 47) :

1) Anggapan tentang merek yang direfleksikan konsumen yang

berpegang pada ingatan konsumen.

2) Cara orang berpikir tentang sebuah merek secara abstrak dalam

pemikiran mereka, sekalipun pada saat mereka memikirkannya,

mereka tidak berhadapan langsung dengan produk Membangun

brand image yang positif dapat dicapai dengan program marketing

yang kuat terhadap produk tersebut, yang unik dan memiliki

kelebihan yang ditonjolkan, yang membedakannya dengan produk

lain. Kombinasi yang baik dari elemen– elemen yang mendukung

8
(seperti yang telah dijelaskan sebelumnya) dapat menciptakan brand

image yang kuat bagi konsumen.

Citra yang efektif melakukan tiga hal menurut Kotler

(2009:338) yaitu:

1) Menetapkan karakter produk dan usulan nilai

2) Menyampaikan karakter itu dengan cara yang berbeda sehingga

tidak dikacaukan oleh karakter pesaing.

3) Memberikan kekuatan emosional yang lebih dari sekedar citra

mental.

Berdasarkan beberapa pengertian tentang brand image diatas

dapat disimpulkan bahwa brand image merupakan persepsi/ sinyal

yang ditimbulkan dari konsumen pengguna merek. Agar citra merek

berfungsimaka citra itu harus disampaikan melalui setiap sarana

komunikasi yang tersedia dan kontak merek.

Brand (merek) merupakan salah satu bagian terpenting dari

suatu produk. Merek dapat menjadi suatu nilai tambah bagi produk

baik itu produk yang berupa barang maupun jasa. Nilai tambah ini

sangat menguntungkan bagi produsen atau perusahaan. Karena itulah

perusahaan berusaha terus memperkenalkan merek yang dimilikinya

dari waktu ke waktu, terutama konsumen yang menjadi target

marketnya.

2) Faktor-Faktor Brand Image

Menurut (Kotler, 2009:575-576) menyatakan bahwa ada enam

yang mempengaruhi citra merek yaitu :

9
(1) Atribut Sebuah merek menyampaikan atribut-atribut tertentu,

misalnya; Mercedes mengisnyaratkan mahal, tapi tahan lama,

berkualitas, nilai jual kembali yang tinggi, cepat, dan sebagainya

(2) Manfaat Merek bukanlah sekedar sekumpulan atribut, karena yang

dibeli konsumen adalah manfaat, bukan atribut. Misalnya atribut

mobil mahal dapat diterjemahkan kedalam manfaat emosional.

(3) Nilai-nilai Merek juga menyatakn nilai-nilai produsennya.

Contohnya Mercedes berarti kinerja tinggi, keamanan, partise, dan

sebagainya.

(4) Budaya Merek juga mungkin mencerminkan budaya tertentu.

Mercedes mencerminkan budaya jerman, yaitu terorganisasi rapi,

efesiensi, dan berkwalitas tinggi.

(5) Kepribadian Merek juga dapat memproyeksikan kepribadian

tertentu terhadap suatu produk

(6) Pemakaian Merek memberikan kesan mengenai jenis konsumen

yang membeli atau menggunakan produknya.

3) Indikator Brand Image

Meski brand image akan selalu mencari kekuatan sumbersumber

baru yang potensial dari merk, namun prioritas utama tetaplah

melindungi dan mempertahankan pelanggan yang telah ada. Secara

ideal, sumber-sumber kunci dari citra merk akan menjadi nilai yang

berkelanjutan dan abadi. Namun hal tersebut tidaklah mudah, oleh

karena nilai-nilai tersebut dapat dengan mudah dilupakan selama

pemasar mencoba untuk memperluas dari merk mereka dan menambah

10
produk baru yang berkaitan maupun yang sama sekali tidak berkaitan

dengan asosiasi merek tersebut.

Kesan merek (brand image) dibagi menjadi empat bagian

menurut Rangkuti (2009: 20) yaitu :

1) Citra pemakai

2) Kesan profesional

3) Kesan modern

4) Populer

Terdapat tiga tipe indikator citra merek menurut Rahman (2010:

181) yaitu :

1) Attribute brand yakni merek yang mampu mengomunikasikan

kepercayaan terhadap atribut fungsional produk

2) Aspirational brands yakni merek yang menyampaikan citra tentang

tipe orang yang membeli merek tersebut.

3) Experience brands yakni merek yang menyampaikan citra asosiasi

dan emosi bersama antara merek dan konsumen secara individu.

Faktor – faktor pendukung terbentuknya brand image menurut

(Keller, 2009: 49) adalah :

1). Favorability of brand association / Keunggulan asosiasi merek.

Salah satu faktor pembentuk brand image adalah keunggulan

produk, dimana produk tersebut unggul dalam persaingan. Contoh:

Oliver Footwear merupakan penghasil alas kaki terbesar di Australia.

Produknya adalah sepatu bot tinggi untuk tempur, sepatu tinggi

untuk pemadam kebakaran. Sepatu bot yang diproduksi awal tahun

11
1990-an ini sekarang menjadi salah satu model sepatu terbaik di

Australia. Kelebihan sepatu ini adalah kualitas yang unggul baik

dalam hal model maupun kenyamanan pada saat di pakai. Sepatu ini

berusaha untuk terus mempertahankan “gaya gagah dan watak

sederhana“. Karena keunggulan kualitas (model dan kenyamanan)

dan ciri khas itulah yang menyebabkan sepatu inimempunyai daya

tarik tersendiri bagi kalangan orang muda, usahawan Barat kaya

serta para wanita.

2). Strength of brand association/familiarity of brand association /

Kekuatan asosiasi merek

Contoh membangun kepopuleran merek dengan strategi

komunikasi melalui periklanan: Hotel Shangri-la sebagai hotel

bintang lima yang berhasil menampilkan diri sebagai merek hotel

yang berkualitas di wilayahnya pada tahun 1990-an. Strategi yang

digunakan adalah dengan melakukan kampanye iklan dengan slogan

“Kemana lagi kecuali ke Shangri-La ?”. Kewajiban mendasar bagi

pemilik merek untuk dapat mengungkapkan, mensosialisasikan jiwa/

kepribadian tersebut dalam satu bentuk iklan, ataupun bentuk

kegiatan promosi dan pemasaran lainnya. Hal itulah yang akan terus

menerus menjadi penghubung antara produk/merek dengan

konsumen. Dengan demikian merek tersebut akan cepat dikenal dan

akan tetap terjaga ditengah–tengah maraknya

[Link] popularitas sebuah merek menjadi merek

yang terkenal tidaklah mudah.

12
3). Uniqueness of brand association / Keunikan asosiasi merek

Merupakan keunikan–keunikan yang di miliki oleh produk

tersebut. Sebagai salah satu contoh adalah usaha Negara Singapura

yang dimulai pada tahun 1970-an, di mana Negara ini berusaha

serius terlibat dalam dunia pariwisata. Pada tahun itu, Singapura

sadar akan keberadaannya yang tidak memiliki kekuatan besar untuk

meningkatkan pertumbuhan sektor pariwisata.

2.1.2 Trust

Trust merupakan pondasi dari bisnis. Suatu transaksi bisnis

antara dua pihak atau lebih akan terjadi apabila masing-masing saling

mempercayai. Kepercayaan (trust) tidak begitu saja dapat diakui oleh

pihak lain / mitra bisnis, melainkan harus dibangun mulai dari awal dan

dapat dibuktikan. Trust telah dipertimbangkan sebagai katalis dalam

berbagai transaksi antara penjual dan pembeli agar kepuasan konsumen

dapat terwujud sesuai dengan yang diharapkan (Yousafzai et al., 2013).

Membangun kepercayaan dalam hubungan jangka panjang

dengan nasabah adalah suatu faktor yang penting untuk

menciptakanloyalitas nasabah. Menurut Prasaranphanich dalam Riska

(2012), ketika konsumen mempercayai sebuah bank , mereka akan lebih

suka melakukan pembelian ulang dan membagi informasi pribadi yang

berharga kepada bank tersebut.

Riska (2012) mendefinisikan trust sebagai keyakinan dalam

bertraksaksi antara individu satu dengan individu yang lain atas

kerelaan masing-masing. Berdasarkan pengertian tersebut bahwa

13
kepercayaan harus didasarkan pada dimensi kerelaan. Kerelaan

merupakan hasi sebauah keyakinan apa yang dilakukan adalah sesuatu

yang benar dan dapat menguntungkan. Ketika satu pihak mempunyai

keyakinan (confidence) bahwa pihak lain yang terlibat dalam

pertukaran mempunyai reliabilitas dan integritas, maka dapat dikatakan

ada trust.

Sedangkan Rofiq (2014), mendefinisikan trust adalah

kepercayaan seseorang terhadap orang lain yang telah melakukan

transaksi yang didasarkan pada suatu keyakinan, bahwa orang yang

dipercayai memiliki segala kewajibannya dengan baik dan sesuai yang

diharapkan. Kepercayaan konsumen menurut Mowen (2013:312)

adalah seluruh pengetahuan konsumen dan semua kesimpulan yang

dibuat konsumen tentang objek, atribut, dan manfaatnya.

Atribut (atributtes) adalah ciri-ciri yang dimiliki atau tidak

dimiliki suatu produk. Terdapat dua jenis atribut yaitu intrisik dan

ekstrisik. Atribut intrisik yaitu sifat atau ciri-ciri yang berhubungan

dengan fist aktual produk. Atribut Ekstrisik adalah ciri-ciri produk yang

dilihat dari ekternal produk. Bank harus menyadari bahwa kepercayaan

terhadap ciri-ciri produk/jasa, serta manfaat menunjukkan persepsi

konsumen, dan umumnya kepercayaan konsumen satu berbeda dengan

konsumen lainnya.

Mereka juga harus mengingat bahwa kepercayaan mereka

sendiri terhadap sebuah merek tertentu berbeda dari target pasar.

14
Kepercayaan yang dikatakanmewakili asosiasi yang konsumen bentuk

di antara objek, atribut, dan manfaat, didasarkan atas proses

pembelajaran kognitif. Seseorang membentuk tiga jenis kepercayaan

(Mowen, 2013:321) :

1. Kepercayaan atribut objek Pengetahuan tentang sebuah objek

memiliki atribut khusus yang disebut kepercayaan atribut objek.

Kepercayaan atribut-objek menghubungkan sebuah atribut dengan

objek, seperti seseorang, barang, atau jasa.

2. Kepercayaan atribut manfaat Kepercayaan atribut manfaat

merupakan persepsi konsumen tentang seberapa jauh sebuah atribut

tertentu menghasilkan atau memberikan manfaat tertentu. Seseorang

mencari produk dan jasa yang akan menyelesaikan masalah-masalah

mereka dan memenuhi kebutuhan mereka.

3. Kepercayaan objek manfaat Kepercayaan objek manfaat merupakan

persepsi konsumen tentang seberapa jauh produk atau jasa tertentu

yang akan memberikan manfaat tertentu.

Mowen (2013:322) menyatakan bahwa kepercayaan yang

membentuk sikap dan perilaku akan menghasilakn suatu tindakan nyata

yaitu kepercayaan kepada suatu objek secara bertahap. Tahap pertama

konsumen membentuk kepercayaan terhadap produk dan jasa,

kemudian kepercayaan membentuk sikap terhadap produk dan

selanjutnya konsumen berlaku dalam bentuk pembelian ulang atau

minat beli.

15
Dilihat dari sisi marketing perkembangan kepercayaan

merupakan komponen yang penting untuk menentukan strategi

marketing dengan tujuan untuk mengarahkan penciptaan hubungan

nasabah dengan perusahaan secara jangka panjang. Atribut (atributtes)

adalah ciri-ciri yang dimiliki atau tidak dimiliki suatu produk. Terdapat

dua jenis atribut yaitu intrisik dan ekstrisik.

Atribut instrisik yaitu sifat atau ciri-ciri yang berhubungan

dengan fist aktual produk. Atribut Ekstrisik adalah ciri-ciri produk yang

dilihat adari ekternal produk. Bank harus menyadari bahwa

kepercayaan terhadap ciri-ciri produk/jasa, serta manfaat menunjukkan

persepsi konsumen, dan umumnya kepercayaan konsumen satu berbeda

dengan konsumen lainnya.

Bank harus menyadari bahwa kepercayaan terhadap objek,

atribut, dan manfaat menunjukkan persepsi konsumen, dan karena itu,

umumnya kepercayaan seseorang konsumen berbeda dengan konsumen

lainnya. Mereka juga harus mengingat bahwa kepercayaan mereka

sendiri terhadap sebuah merek tertentu sangat berbeda dari pasar target.

Kepercayaan yang dikatakan mewakili asosiasi yang konsumen bentuk

di antara objek, atribut, dan manfaat, didasarkan atas proses

pembelajaran kognitif.

Nursatyo (2013) yang termasuk variabel kepercayaan yaitu :

1. Kredibilitas, terkait dengan kemampuan perusahaan untuk

memenuhi semua kewajibannya, perusahaan yang berhasil

16
memenuhi semua kewajibannya seharusnya akan menimbulkan

kemauan membeli untuk melanjutkan hubungannya.

2. Kepedulian, terkait dengan kemauan perusahaan untuk

mempedulikan nasib konsumen.

3. Dapat diandalkan, menimbulkan kemauan konsumen

untuk mengandalkan.

Menurut Ramadania (2013:39), adapun indikator Kepercayaan

adalah sebagai berikut :

1) Reputasi yang dimiliki produk

2) Keamanan dan kenyamanan dalam menggunakan produk

3) Jaminan atas resiko keuangan

4) Manfaat kredit bagi nasabah

2.1.3 Purchase Intention (Minat Beli)

Menurut Simamora (2004) minat adalah sesuatu yang pribadi

dan berhubungan dengan sikap. Individu yang berminat terhadap suatu

obyek akan mempunyai kekuatan atau dorongan untuk melakukan

serangkaian tingkah laku untuk mendekati atau mendapatkan objek

tersebut.

Menurut Riyandika (2013), minat adalah sebuah rencana atau

sepertinya seseorang akan berperilaku di situasi tertentu dengan cara

tertentu baik seseorang akan melakukannya atau tidak. Selain itu,

Riyandika menambahkan bahwa di dalam minat terdapat empat elemen

17
yang berbeda, yaitu perilaku, obyek dimana perilaku ditujukan, situasi

dimana perilaku dilakukan, dan waktu dimana perilaku dilakukan.

Sutriono (2008) menyebutkan bahwa minat (intention) adalah

sebuah rencana untuk terlibat dalam suatu perilaku khusus guna

mencapai tujuan. Menurut Sutriono minat beli adalah perilaku yang

muncul sebagai respon terhadap obyek, atau juga pembelian ulang.

Selain itu, juga menambahkan bahwa minat beli adalah tahap terakhir

dari suatu proses keputusan pebelian yang kompleks. Proses ini dimulai

dari munculnya kebutuhan akan suatu produk atau merek (need arousal)

dilanjutkan dengan pemrosesan informasi oleh konsumen (Consumer

Information Processing). Selanjutnya konsumen akan mengevaluasi

produk atau merek tersebut. Hasil evaluasi ini yang akhirnya

memunculkan niat atau intensi untuk membeli sebelum akhirnya

konsumen benar-benar melakukan pembelian.

Schiffman dan Kanuk (2007), menjelaskan bahwa pengaruh

eksternal, kesadaran akan kebutuhan, pengenalan produk dan evaluasi

alternatif adalah hal yang dapat menimbulkan minat beli konsumen.

Pengaruh eksternal ini terdiri dari faktor sosial, usaha pemasaran, dan

faktor sosial budaya. Selain itu, mereka juga menjelaskan bahwa

indikator-indikator minat beli dijelaskan oleh beberapa komponen

yaitu:

1. Tertarik untuk mencari informasi tentang produk

Konsumen yang terangsang kebutuhannya akan terdorong

untuk mencari informasi yang lebih banyak. Kotler dan Keller

18
(2009) membagi level rangsangan atau stimulan kebutuhan

konsumen ini dalam dua level yaitu yang pertama adalah pencarian

informasi yang lebih ringan atau penguatan perhatian. Pada level

ini, orang hanya sekedar lebih peka terhadap informasi produk.

Sedangkan level kedua adalah level aktif mencari informasi yaitu

dengan mencari bahan bacaan, bertanya pada teman, atau

mengunjungi toko untuk mempelajari produk tertentu.

2. Mempertimbangkan untuk membeli

Melalui pengumpulan informasi, konsumen mempelajari

merek-merek yang bersaing serta fitur merek tersebut. Melakukan

evaluasi terhadap pilihanpilihan dan mulai mempertimbangkan

untuk membeli produk.

3. Tertarik untuk mencoba

Setelah konsumen berusaha memenuhi kebutuhan,

mempelajari merekmerek yang bersaing serta fitur merek tersebut,

konsumen akan mencari manfaat tertentu dari solusi produk dan

melakukan evaluasi terhadap produk-produk tersebut. Evaluasi ini

dianggap sebagai proses yang berorientasi kognitif.

Maksudnya adalah konsumen dianggap menilai suatu produk

secara sangat sadar dan rasional hingga mengakibatkan ketertarikan

untuk mencoba.

4. Ingin mengetahui produk

Setelah memiliki ketertarikan untuk mecoba suatu produk,

konsumen akan memiliki keinginan untuk mengetahui produk.

19
Konsumen akan memandang produk sebagai sekumpulan atribut

dengan kemampuan yang berbeda-beda dalam memberikan manfaat

yang digunakan untuk memuaskan kebutuhan.

5. Ingin memiliki produk

Para konsumen akan memberikan perhatian besar pada

atribut yang memberikan manfaat yang dicarinya. Dan akhirnya

konsumen akan mengambil sikap (keputusan, preferensi) terhadap

produk melalui evaluasi atribut dan membentuk niat untuk membeli

atau memiliki produk yang disukai.

2.1.4 Pemesanan (Reservasi)

Pemesanan dalam bahasa Inggris adalah Reservation yang

berasal dari kata “to reserve” yaitu menyediakan atau mempersiapkan

tempat sebelumnya. Sedangkan reservation yaitu pemesanan suatu

tempat fasilitas.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2019), definisi

reservasi adalah proses, pembuatan, atau cara memesan (tempat,

barang, dsb) kepada orang lain.

Berbicara mengenai reservasi (pemesanan kamar), terlebih

dahulu kita perlu mengetahui defenisi dari reservasi itu sendiri.

Reservasi adalah suatu permintaan untuk memperoleh sejumlah kamar

yang dilakukan beberapa waktu sebelumnya melalui berbagai sumber

dengan menggunakan berbagai cara pemesanan untuk memastikan

bahwa tamu akan memperoleh kamar tersebut pada waktu

20
kedatangannya atau check-in.
Bagian reservasi merupakan salah satu bagian yang terpenting

pada kantor depan hotel, sebab tinggi rendahnya pemesanan kamar

atas kamar-kamar hotel tergantung pada bagian ini. Hal ini disebabkan

pihak hotel tidak mengharapkan jumlah tamu yang

sebanyakbanyaknya dari tamu yang walk-in. Tindakan menerima

reservasi dinamakan sebagai tindakan menjual kamar, dimana sebelum

tamu datang atau tiba di hotel maka tamu terlebih dahulu harus

melakukan reservasi guna mendapatkan kepastian akan tersedianya

kamar. Pemesanan kamar dapat dilakukan tamu beberapa hari atau

beberapa minggu sebelumnya.

Reservasi adalah sebuah proses perjanjian berupa pemesanan

sebuah produk baik barang maupun jasa dimana pada saat itu telah

terdapat kesepahaman antara konsumen dengan produsen mengenai

produk tersebut namun belum ditutup oleh sebuah transaksi jual – beli.

Pada saat reservasi berlangsung biasanya ditandai dengan adanya

proses tukar menukar informasi antara konsumen dan produsen agar

kesepahaman mengenai produk dapat terwujud.

Di era globalisasi sekarang ini, perkembangan teknologi pun

semakin pesat, sehingga pihak hotel dapat memberikan pelayanan yang

lebih cepat dan tepat kepada tamu hotel. Saat ini pemesanan kamar

tidak perlu dilakukan sendiri oleh tamu yang akan menginap, tetapi

dapat dilakukan dengan bantuan pihak kedua ataupun pihak ketiga.

21
2.1.5 Hotel

1) Pengertian Hotel

Hotel memilki pengertian atau definisi yang berbeda-beda.

Berikut ini adalah beberapa pengertian hotel:

Menurut Hotel Proprietors dalam Sulistiyono (2008), hotel

adalah suatu perusahaan yang dikelola oleh pemiliknya dengan

menyediakan pelayanan makanan, minuman, dan fasilitas kamar untuk

tidur kepada orang-orang yang sedang melakukan perjalanan dan

mampu membayar dengan jumlah yang wajar sesuai dengan pelayanan

yang diterima tanpa adanya perjanjian khusus.

Menurut AHMA (American Hotel and Motel Associations)

dalam Budi (2010), hotel adalah suatu tempat dimana disediakan

penginapan, makanan, dan minuman, serta pelayanan lainnya, untuk

disewakan bagi para tamu atau orang– orang yang tinggal untuk

sementara waktu.

Menurut Departemen Pendidikan Nasional, hotel didefinisikan

sebagai bangunan berkamar banyak yang disewakan sebagai tempat

untuk menginap dan tempat makan orang yang sedang dalam

perjalanan, atau bentuk akomodasi yang dikelola secara komersial.

Sedangkan menurut Wiyasha (2010:5), hotel merupakan usaha

yang mencari laba sebagai hasil akhir aktivitas bisnisnya.

Hotel merupakan bagian dari industri kepariwisataan. Hotel

merupakan sarana akomodasi yang lengkap sebagai penunjang

kepariwisataan. Dikatakan penyedia akomodasi terlengkap karena

22
hotel memiliki banyak fasilitas penunjang seperti ketersediaan kamar

sebagai tempat istirahat, restoran, ruang pertemuan bussiness center,

hingga fasilitas hiburan seperti kolam renang, pusat kebugaran, spa,

dan sebagainya. Adapun fasilitas yang dimililiki hotel biasanya yaitu

Jasa penginapan, Pelayanan makan dan minum, Jasa laundry, Jasa

penggunaan perabot dan lainnya, dan Jasa menyediakan kebutuhan

bagi wisatawan yang bermalam di hotel.

2) Klasifikasi Hotel

Setiap hotel memiliki fasilitas yang berbeda beda sesuai dengan

klasifikasinya. Menurut Wiyasha (2010:5), pengklasifikasian hotel

bertujuan untuk menciptakan persaingan bisinis yang sehat,

memberikan panduan bagi tamu tentang harga dan fasilitas serta

layanan yang diberikan oleh hotel pada klasifikasi tertentu,

memberikan panduan bagi para pemilik modal jika hendak berbisnis

pada satu klasifikasi hotel.

Menurut Bagyono (2012:73), pengklasifikasian hotel di

Indonesia dilakukan dengan peninjauan setiap tiga tahun sekali yang

dilakukan oleh PHRI dengan mempertimbangkan beberapa aspek,

mulai dari kamar, fasilitas dan peralatan yang disediakan, model sistem

pengelolaan, bermotto pelayanan.

Dengan mempertimbangkan aspek-aspek tersebut maka hotel

dibagi menjadi 5 tingkatan. Berikut klasikikasi hotel berdasarkan

bintang:

(1) Hotel Bintang 1

23
Hotel bintang satu merupakan jenis hotel yang tergolong

kecil karena dikelola oleh pemiliknya langsung. Biasanya terletak

di kawasan yang ramai dan memiliki transportasi umum yang dekat

serta hiburan dengan harga yang masuk akal. Adapun

kriterianya:

a. Jumlah kamar standar, minimum 15 kamar

b. Kamar mandi di dalam

c. Luas kamar standar minimum 20m2

(2) Hotel Bintang 2

Hotel bintang 2 biasanya terletak dilokasi yang mudah

dicapai, artinya akses menuju lokasi hotel tersebut sangat mudah.

Bangunannya terawat, bersih dan rapi, serta lokasinya bebas polusi.

Adapun kriterianya:

a. Jumlah kamar standar, minimum 20 kamar

b. Kamar suite minimum 1 kamar

c. Kamar mandi di dalam

d. Kamar memiliki telepon dan televisi

e. Luas kamar standar, minimum 22m2

f. Luas kamar suite minimum 44m2

g. Pintu kamar dilengkapi pengaman

h. Harus ada Lobby

i. Tata udara dengan AC/ventilasi

j. Kapasitas penerangan minimum 150 lux

k. Terdapat sarana olahraga dan rekreasi

24
l. Ruangan dilengkapi dengan tata udara dengan pengatur udara

[Link] bar.

(3) Hotel Bintang 3

Hotel bintang 3 biasanya terletak dekat dengan tol, pusat

bisnis dan daerah perbelanjaan, dengan menawarkan pelayanan

terbaik, kamar yang luas dan lobby yang penuh dekorasi. Para

karyawan hotel yang bertugas terlihat rapi dan profesional. Berikut

kriterianya:

a. Jumlah kamar standar, minimum 30 kamar

b. Terdapat minimum 2 kamar suite

c. Kamar mandi di dalam

d. Luas kamar standar, minimum 24 m2

e. Luas kamar suite, minimum 48m2

f. Memiliki sarana rekreasi dan olahraga

g. Kamar dilengkapi dengan pengatur udara mekanik (AC)

h. Tersedia restoran yang menawarkan hidangan diatas rata-rata

pada saat sarapan makan siang dan makan malam

i. Memiliki valet parking

(4) Hotel Bintang 4

Hotel bintang 4 sudah termasuk hotel yang cukup berkelas

dengan para karyawan dan staff yang lebih professional dalam

melayani tamu. Mereka juga dibekali informasi mengenai

pariwisata di sekitar hotel. Hotel ini memiliki bangunan yang

cukup besar dekat dengan pusat perbelanjaan, restoran dan hiburan.

25
Berikut kriterianya:

a. Jumlah kamar standar minimum 50 kamar

b. Memiliki minimum 3 kamar suite

c. Kamar mandi di dalam

d. Luas kamar standar, minimum 24m2

e. Luas kamar suite, minimum 48m2

f. Memiliki lobby dengan luar minimum 100m2

g. Memiliki bar

h. Memiliki sarana rekreasi dan olahraga

i. Kamar mandi dilengkapi dengan instalasi air panas/dingin

j. Memiliki toilet umum

(5) Hotel Bintang 5

Hotel bintang 5 merupakan hotel yang mewah dengan barbagai

fasilitas tambahan serta pelayanan multibahasa yang tersedia. Hotel

bintang 5 memegang prinsip bahwa tamu sangat penting sehingga

ketika tamu datang disambut dipintu masuk hotel, diberikan

welcome drink dan ketika dikamar diberikan daftar anggur yang

bisa dipilih. Adapun kriterianya:

a. Jumlah kamar standar, minimum 100 kamar

b. Terdapat minimum 4 kamar suite

c. Memiliki kamar mandi didalam

d. Luas kamar standar minimum 26m2

e. Luas kamar suite minimum 52m2


f. Tempat tidur dan perabot didalam kamar kualitas no 1

26
g. Terdapat restoran dengan pelayanan antar ke kamar selama 24

jam

h. Terdapat pusat kebugaran, valet parking, dan service dari

concierge dengan pengalaman matang.

Industri perhotelan dapat dibagi ke dalam 2 segmentasi,

yakni commercial dan leissure. Keduanya biasa disebut

commercial hotel dan resort hotel. Segmentasi dari commercial

hotel itu sendiri digunakan untuk tujuan bisnis, sedangkan resort

hotel digunakan untuk kegiatan perjalanan wisata yang tujuannya

hanya untuk jalan-jalan. Namun, sekarang banyak hotel-hotel yang

menggabungkan antara keduanya supaya sesuai dengan kebutuhan

masing-masing konsumen. Hotel dikelompokkan dalam beberapa

kategori yaitu berdasarkan kelas, plan, ukuran, lokasi, area, maksud

kunjungan tamu, lamanya tamu menginap, aspek bentu bangunan

dan wujud fisik.

Menurut Munandar (2013), klasifikasi hotel berdasarkan

maksud kunjungan selama menginap, adalah sebagai berikut:

1. Business hotel. Hotel yang tamunya sebagain besar berbisnis, di

sini biasanya menyediakan ruang-ruang meeting dan konvensi.

2. Resort/Tourism Hotel. Hotel yang kebanyakan tamunya adalah

para wisatawan, baik domestik maupun manca negara.

3. Casino hotel adalah hotel yang sebagian tempatnya berfungsi

sebagai tempat untuk kegiatan berjudi.

27
4. Pilgrim hotel. Hotel yang sebagian tempatnya berfungsi sebagai

fasilitas beribadah. Seperti hotel-hotel di Arab (pada saat musim

haji) dan Lourdes di Perancis.

5. Cure Hotel adalah hotel yang tamu-tamunya adalah tamu yang

sedang dalam proses pengobatan atau penyembuhan dari suatu

penyakit.

2.2 Penelitian Terdahulu

Berdasarkan penelitian yang telah ada, penulis, mengutip informasi

dari beberapa penelitian terdahulu yang berkaitan penelitian ini, antara lain :

Andrianto Hendra Noky (2013) “Pengaruh Kualitas Produk, Citra

Merek, Harga dan Promosi terhadap Keputusan Pembelian Mobil Jevis MPV

Merek Toyota Kijang Inova di Semarang”. Rumusan masalah antara lain :

apakah kualitas produk berpengaruh terhadap keputusan pembelian, apakah

citra merek berpengaruh terhadap keputusan pembelian, apakah harga

berpegaruh terhadap keputusan pembelian, apakah promosi berpengaruh

terhadap keputusan pembelian. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan

metode kuantitatif. Hasil dari penelitian ini kualitas produk berpengaruh

positif signifikan terhadap keputusan pembelian, harga berpegaruh positif

signifikan terhadap keputusan pembelian, Promosi berpengaruh positif

signifikan terhadap keputusan pembelian.

Restu Setiawan. (2017). Pengaruh Brand Image Dan Promosi

Terhadap Keputusan Nasabah Memilih Produk Asuransi Syariah (Studi Pada

28
PT. Asuransi Jiwa Syariah Al-Amin Kantor Cabang Lampung). Penelitian ini

menggunakan metode kuantitatif. Sumber data berupa data primer dan data

sekunder. Data primer diperoleh dari hasil observasi dan penyebaran kuesioner.

Data diberikan kepada 100 nasabah yang menggunakan asuransi jiwa syariah.

Untuk proses analisis data menggunakan analisis regresi berganda. Berdasarkan

hasil penelitian pada taraf signifikan 5% menunjukan bahwa bahwa brand image

berpengaruh positif signifikan terhadap keputusan pembelian produk. Hal ini

dibuktikan dengan nilai thitung lebih besar dari ttabel (4,252 >1,984), promosi

berpengaruh positif signifikan terhadap keputusan pembelian produk. Hal ini

dibuktikan dengan nilai thitung lebih besar dari ttabel (6,496 > 1,984), dan brand

image dan promosi sama-sama berpengaruh positif signifikan terhadap keputusan

pembelian produk. Hal ini dibuktikan dengan nilai thitung lebih besar dari ttabel

(345,357 > 3,942) artinya semakin baik brand image dan promosi maka dapat

meningkatkan keputusan pembelian produk.

A. Khaerani, and A. E. Prihatini, (2020). "Pengaruh Promosi Dan

Brand Image Terhadap Keputusan Pembelian Pada Layanan Traveloka.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh promosi dan brand image

terhadap keputusan pembelian pada situs Traveloka. Tipe penelitian adalah

explanatory research dan pengambilan sampel menggunakan teknik

nonprobability sampling, metode purposive sampling. Pengumpulan data

menggunakan google form. Sampel yang digunakan sebanyak 100 responden

yang menggunakan layanan Traveloka. Penelitian ini menggunakan metode

analisis regresi. Hasil penelitian ini menunjukkan variabel promosi dan brand

image berpengaruh terhadap keputusan pembelian pada situs Traveloka.

29
Traveloka harus meningkatkan kualitas promosinya dengan meningkatkan

frekuensi serta publikasi, membuat promosi penjualan lebih menarik, serta

memperbanyak ragam media dalam mempublikasikan kegiatan perusahaan.

Kemudian untuk meningkatkan persepsi konsumen, perusahaan harus

menjaga nama baik, meningkatkan profesionalitas customer service, serta

lebih memerhatikan tanggung jawab perusahanan.

2.3 Kerangka Konseptual

Supranto (2011:128) mengatakan “Citra merek ialah apa yang

konsumen pikir atau rasakan ketika mereka mendengar atau melihat nama

suatu merek atau pada intinya apa yang konsumen telah pelajari tentang

merek.

Marius (2011:67 ) mengemukakan : ”Memutuskan berarti sering

merujuk tentang pemilihan antara obyek (barang, merek, toko/tempat

berbelanja), konsumen sebenarnya memilih antara alternatif perilaku

berkenaan dengan obyek tersebut.” Pengaruh brand image dan kualitas produk

terhadap keputusan pembelian konsumen dapat dilihat pada gambar kerangka

konseptual penelitian sebagai berikut :

30
Fave Hotel Tuban

Brand Image Trust

Purchase
IntentionPemesanan Kamar

Bagan 2.1 Kerangka Konseptual

2.4 Hipotesis

Roheity (2007:35) mengemukakan “Hipotesis adalah dugaan atau

jawaban sementara atas rumusan masalah yang harus di uji kembali

kebenarannya menggunakan alat statistik”.

Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap masalah penelitian,

oleh karena itu rumusan masalah penelitian biasanya disusun dalam bentuk

kalimat pertanyaan. Dikatakan sementara, karena jawaban yang diberikan baru

di dasarkan pada teori yang relevan, belum didasarkan pada faktafakta empiris

yang di peroleh melalui pengumpulan data. Jadi hipotesis juga dapat

dinyatakan sebagai jawaban teoritis terhadap rumusan masalah penelitian,

belum jawaban empirik.

Berdasarkan batasan dan rumusan masalah, maka dibuat hipotesis

penelitian sebagai berikut:

31
2. Diduga brand image dan trust berpengaruh positif signifikanterhadap

purchase intention pemesanan kamar pada masa pademi covid-19 di Fave

Hotel Tuban.

3. Diduga brand image berpengaruh dominan terhadap purchase intention

pemesanan kamar pada masa pademi covid-19 di Fave Hotel

Tuban.

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian

kuantitatif. Metode penelitian kuantitatif merupakan salah satu jenis penelitian

yang spesifikasinya adalah sistematis, terencana dan terstruktur dengan jelas

sejak awal hingga pembuatan desain penelitiannya. Metode penelitian

kuantitatif, sebagaimana dikemukakan oleh Sugiyono (2011: 8) yaitu :

“Metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat positivisme, digunakan

untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu, pengumpulan data

menggunakan instrumen penelitian, analisis data bersifat kuantitatif/statistik,

dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan”.

3.2 Ruang Lingkup/ Focus Penelitian

Fokus penelitian dalam menurut Burhan Bungin (2013:76) adalah

fokus penelitian atau pokok asal yang hendak diteliti, mengandung penjelasan

mengenai dimensi dimensi apa yang menjadi pusat penelitian dan hal yang

kelak dibahas secara mendalam dan tuntas.

32
Fokus penelitian merupakan pemusatan konsentrasi terhadap tujuan

penelitian yang sedang [Link] lingkup penelitian ini adalah pada

variable independen yaitu brand image dan trust. Sedangkan variable

dependen yaitu purchase intention pemesanan kamar.

3.3 Definisi Operasional Variable Dan Indikator Variable Penelitian

Operasional variabel dibutuhkan dalam penyusunan kuesioner agar

menjadi lebih terstruktur dan sistematis, sehingga dapat mendeskripsikan

masalah penelitian yang ingin diketahui. Dalam penelitian ini, terdapat dua

jenis variabel yang digunakan yaitu variabel bebas (independen) dan variabel

terikat (dependen).

1) Variabel Bebas (Independen)

(1) Brand Image (X1)

(2) Trust (X2)

2) Variabel Terikat (Dependen)

Purchase intention pemesanan kamar (Y)

3.4 Jenis Dan Sumber Data

Penelitian ini berjenis kuantitatif yang dikaren akan menggunakan

angka, mulai dari pengumpulan data, penafsiran terhadap data tersebut, serta

penampilan dari hasilnya (Arikunto, 2006:12). Sumber data penelitian ini

dibedakan menjadi dua macam, yaitu :

1. Data primer

33
Menurut Malhotra (2009), data primer merupakan data yang

didapatkan untuk memenuhi tujuan khusus yang nantinya menjawab

masalah dalam penelitian. Data primer juga merupakan sumber data yang

diperoleh secara langsung dari sumber asli atau pertama (Sugiyono, 2008).

Data primer yang digunakan dalam penelitian ini, untuk analisis berupa

metode survei melalui distribusi kuesioner dengan beberapa responden

yang dianggap mewakili sampel yang sudah ditetapkan dari populasi

penelitian.

2. Data sekunder

Menurut Malhotra (2009), data sekunder merupakan data yang

dikumpulkan dan didapatkan untuk tujuan yang lain, diluar tujuan khusus

untuk menjawab masalah utama penelitian. Sumber data sekunder

diperoleh secara tidak langsung dari sumber asli. Data dapat diperoleh dari

sumber bacaan yang berasal dari buku, jurnal ilmiah, laporan penelitian

terdahulu, data di internet dan berbagaidata lainnya yang berhubungan

dengan penelitian. Data sekunder yang digunakan untuk mendukung

penelitian ini adalah data kajian penelitian terdahulu.

3.5 Lokasi Penelitian

Nasution (2003:43) lokasi penelitian menunjukkan pada pengertian tempat

atau lokasi sosial penelitian yang dicirikan oleh adanya unsur yaitu pelaku,

tempat, dan kegiatan yang dapat di [Link] yang menjadi lokasi

penelitian adalah Fave Hotel Tuban Jl. Basuki Rahmad No.215-21

Kabupaten Tuban.

34
3.6 Populasi Dan Teknik Sampel

1. Populasi

Menurut Malhotra (2009), populasi merupakan rangkaian elemen

yang memiliki berbagai macam gabungan karakteristik yang serupa yang

mencakup keseluruhan semesta untuk kepentingan masalah penelitian.

Populasi juga merupakan kelompok yang terdiri dari keseluruhan orang,

kejadian dan objek penelitian yang dirasa menarik sehingga membuat

peneliti ingin menjadikannya kedalam sebuah penelitian (Sekaran, 2003).

Dalam penelitian ini, populasi yang digunakan adalah pengunjung Fave

Hotel Tuban.

2. Sampel

Sampel merupakan elemen dalam populasi yang terdiri dari

subkelompok yang ditunjuk agar dapat berpartisipasi dalam sebuah

penelitian (Malhotra, 2009). Semakin besar jumlah sampel yang diberikan

maka akan menghasilkan data yang stabil. Sampel dalam penelitian ini

adalah pengunjung Fave Hotel Tuban.

Penulis menggunakan rumus Slovin dalam perhitungan sampel

dengan tingkat kesalahan sebesar 5%, berikut rumus Slovin yang

dikemukakan oleh Husein Umar (2013, hlm. 78) :

n = N
1+ N(e)2

Dimana:
n = Ukuran sampel N = Ukuran populasi e

= Batas toleransi kesalahan (error tolerace)

35
Berdasarkan penjelasan di atas, maka dengan menggunakan rumus

Slovin, ukuran sampel dapat dihitung sebagai berikut:

n= N = 68 = 68 = 58,11 = 58 orang
2 2
1+ N(e) 1+68(5%) 1,17

3. Teknik Sampling

Teknik sampling merupakan teknik yang digunakan untuk

mengambil sampel pada penelitian (Sugiyono, 2014), teknik sampling

terbagi menjadi dua jenis yaitu probability sampling dan non-probability

sampling. Pada penelitian ini digunakan teknik non-probability sampling

dengan pendekatan judgemental sampling yang merupakan teknik

penentuan sampel dengan beberapa pertimbangan. Peneliti mengumpulkan

data melalui responden yang dirasa telah memenuhi kriteria pengisian

kuesioner dan pertimbangan beberapa aspek.

3.7 Teknik Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini peneliti menggunakan metode-metode berikut:

1. Metode Dokumentasi

Dokumentasi menurut Sugiyono (2015: 329) adalah suatu cara

yang digunakan untuk memperoleh data dan informasi dalam bentuk buku,

arsip, dokumen, tulisan angka dan gambar yang berupa laporan serta

keterangan yang dapat mendukung penelitian. Dokumentasi digunakan

untuk mengumpulkan data kemudian ditelaah. Dokumentasi yang

36
digunakan dalam penelitian ini meliputi profil Fave Hotel Tuban, serta

data jumlah tamu.

2. Metode Kuesioner

Kuesioner adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan

cara memberi seperangkat pertanyaan tertulis kepada responden untuk

dijawabnya, dapat diberikan secara langsung atau melalui pos atau

internet. Jenis angket ada dua, yaitu tertutup dan terbuka. Kuesioner yang

digunakan dalam hal ini adalah kuesioner tertutup yakni kuesioner yang

sudah disediakan jawabannya, sehingga responden tinggal memilih dan

menjawab secara langsung.(Sugiyono, 2008: 142). Kuesioner ini ditujukan

kepada pengunjung Fave Hotel Tuban yang dijadikan sebagai responden

atau sampel.

3.8 Teknik Analisa Data

Analisis data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah analisis

kuantitatif. Analisis kuantitatif adalah analisis pada data-data yang dapat

dihitung atau diangkakan dengan pengukuran-pengukuran statistic.

Pengukuran dilakukan dengan menyusun indicator masing-masing variable

yang telah dirumuskan dalam item-item pertanyaan dan skor atau nilai pada

jawaban pertanyaan. Pengolahan data-data secara statistik tersebut

dimaksudkan untuk dapat melakukan pengujian terhadap hipotesis yang telah

dirumuskan sebelumnya.

37
Teknik analisis yang penulis pergunakan untuk mengolah data yang

dikumpulkan dari penelitian sesuai dengan sifat dan jenis yang ada, yaitu

sebagai berikut:

a. Uji Validitas

Uji validitas dilakukan untuk mengetahui apakah alat ukur yang

telah disusun benar-benar mampu mengukur apa yang harus diukur. Uji

validitas digunakan untuk menguji seberapa cermat suatu alat ukur dalam

melakukan fungsi ukurannya. Pengujian validitas tiap butir digunakan

analisis item, yaitu mengkorelasikan skor tiap butir dengan skor total yang

merupakan jumlah tiap skor butir (corrected item total correlation) yang

penyelesaiannya dilakukan dengan menggunakan program SPSS.

Butir-butir instrumen dianggap valid apabila koefisien korelasi (r

hitung) > r kritis (0,30) (Sugiyono dan Wibowo : 2014). Dengan penilaian:

1. Nilai r = +1 atau mendekati 1, maka korelasi antara X dan Y dikatakan

positif dan sangat kuat sekali.

2. Nilai r = -1 atau mendekati -1, maka korelasi antara X dan Y dikatakan

kuat dan negatif.

3. Nilai r = 0 atau mendekati 0, maka hubungan antara kedua variabel

sangat lemah atau tidak ada hubungan sama sekali.

b. Uji Reliabilitas (Test of Reliabilitas)

Uji reliabilitas bertujuan untuk mengetahui apakah alat pengumpul

data pada dasarnya menunjukkan tingkat ketepatan, keakuratan kestabilan

atau konsistensi alat tersebut dalam mengunkapkan gejala-gejala tertentu

dari sekelompok individu, walaupun dilakukan pada waktu yang berbeda.

38
Uji reliabilitas dilakukan terhadap pertanyaan yang telah valid. Rumus

yang dipakai adalah untuk menguji reliabilitas dalam penelitian adalah

Cronbach’ Alpha yang penyelesaianya dilakukan dengan membandingkan

antara ralpha dan rtabel .

Secara umum keandalan dalam kisaran 0,00 s/d 0,20 kurang baik, >

0,20 s/d 0,40 agak baik, > 0,40 s/d 0,60 cukup baik, > 0,60 s/d 0,80 baik,

serta dalam kisaran > 0,80 s/d 1.00 dianggap sanggap baik. (Santoso,

2011:227).

c. Uji Asumsi Klasik

1) Analisa Regresi Berganda

Yaitu untuk mengukur seberapa jauh pengaruh brand image, dan

trust terhadap pemesanan hoteldengan analisa yang digunakan analisa

regresi linear berganda dengan menggunakan aplikasi SPSS maka dapat

dirumuskan sebagai berikut: Y = a + b1 . x1 + b2 . x2+e

Dimana:

Y = pemesanan hotel a =

Bilangan Konstanta b1 =

Koefisien regresi brand image b2

= Koefisien regresi trust x1 =

brand image x2 = trust e = eror

2) Analisa Korelasi
Korelasi itu berarti hubungan, begitu pula analisis korelasi yaitu

suatu analisis yang digunakan untuk melihat hubungan antara dua variabel.

Nugroho (2015), uji korelasi tidak membedakan jenis variabel (tidak ada

variabel dependent maupun independent). Digunakan untuk mengetahui

39
keeratan hubungan antara x1 x2 dengan y yang bisa ditentukan dengan

klasifikasi koefisien korelasi yang digunakan dimana nilai korelasi dapat

dikelompokkan dalam Nugroho (2015) sebagai berikut : 0,41 s/d 0,70

korelasi keeratan kuat, 0,71 s/d 0,90 sangat kuat dan 0,91 s/d 0,99 sangat

kuat sekali dan jika 1 berarti sempurna. Nilai koefisien korelasi diperoleh

melalui pengolahan data hasil kuisioner dengan menggunakan program

SPSS.

3) Uji T –test

Uji statistik T pada dasarnya menunjukkan seberapa jauh pengaruh

satu variable penjelas secara individual dalam menerangkan variasi

variabel terikat. Langkah-langkah uji hipotesis

H0 : ts < 0 : Brand image dan trust secara parsial tidak berpengaruh

positif signifikanterhadap purchase intention pemesanan kamar

pada masa pademi covid-19 di Fave Hotel Tuban.

H1 : ts > 0 : Brand image dan trust secara parsial berpengaruh positif

signifikanterhadap purchase intention pemesanan kamar pada

masa pademi covid-19 di Fave Hotel Tuban

Kriteria Keputusannya adalah :

a) Jika t hitung > t table, dan sig < 0,05 maka H0 ditolak dan Ha diterima.

b) Jika t hitung < t table, dan sig > 0,05 maka H0 diterima dan Ha ditolak.
c) Taraf signifikan = 5 %

d) Derajat kebebasan (df) = n – 3

4) Uji F

Uji F digunakan untuk menentukan apakah secara serentak variabel

independen mampu menjelaskan variabel dependen dengan baik atau

40
apakah variabel independen mempunyai pengaruh yang signifikan

terhadap variabel dependen secara bersama-sama.

Kriteria Pengujian:

 Apabila nilai F hitung < F tabel, maka Ho diterima. Artinya semua

koefisien regresi secara bersama-sama tidak signifikan pada taraf

signifikansi 5%

 Apabila nilai F hitung > F tabel, maka Ho ditolak. Artinya semua

koefisien regresi secara bersama-sama signifikan pada taraf

signifikansi 5%.

3.9 Tahapan-Tahapan Penelitian

Tahapan-tahapan penelitian diuraikan secara rinci sebagai berikut :

1) Studi Pendahuluan

Pada tahap ini dilakukan studi literature dan studi lapangan. Studi

literature dilakukan untuk mengkaji dan mengetahui secara teoritis metode

yang dipakai dalam metode pemecahan masalah.

2) Perumusan Masalah
Pada tahap selanjutnya dilakukan perumusan masalah yang terjadi pada

objek penelitian sekaligus merumuskan tujuan penelitian. Hasil perumusan

masalah ini sekaligus dijadikan tujuan dalam penelitian yang dilakukan.

3) Pengumpulan Data dan Pengolahan Data

Pada tahap yang ketiga dilakukan pengumpulan data – data yang

diperlukan sebagai bahan untuk memecahkan masalah yang telah

dirumuskan pada tahap kedua. Setelah data terkumpul, dilakukan

41
pengolahan data yang akan digunakan pada tahap analisis. Pada proses

analisis dikaji data – data yang ada menggunakan metode yang telah

peneliti pelajari pada tahap awal.

4) Analisis

Pada tahap ini dilakukan analisa dan peringkat hasil pembahasan masalah.

Dari hasil pengolahan data pada tahap sebelumnya akan digunakan

sebagai bahan analisis lebih lanjut guna mendapatkan pemecahan masalah.

5) Kesimpulan

Pada tahap ini, peneliti melakukan penyimpulan terhadap hasil penelitian

yang telah dilakukan berdasarkan hasil pengolahan data menggunakan.

Kesimpulan ini berupa pernyataan yang diambil dari perhitungan yang

dihasilkan dengan metode penelitian.

6) Saran

Sebagai tindak lanjut dari hasil pernyataan kesimpulan, peneliti

merumuskan saran – saran berkaitan dengan proses yang berjalan pada

objek penelitian agar sekiranya dapat memberikan hasil yang lebih baik di

masa mendatang.

DAFTAR PUSTAKA

Agung Nugroho, (2015) Pengaruh Reward dan Punishment Terhadap Kinerja.


Karyawan
PT Business Training and Empowering

Wibowo, 2014. Manajemen Kinerja, Edisi keempat, Rajawali Pers, Jakarta.

Sugiyono (2015). Metode Penelitian Kombinasi (Mix Methods). Bandung: Alfabeta

Arikunto, Suharsimi. (2012). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta:


Rineka Cipta

42
Malhotra, N.K., 2009, Riset Pemasaran, Edisi keempat, Jilid 1, PT Indeks, Jakarta.

Sekaran, Uma, 2000, Research Methods for Business: A Skill Building Approach;
third.

Nasution (2003). Metode Penelitian Naturalistik Kualitatif. Bandung: Tarsito.

Bungin, Burhan. 2013. Metode penelitian sosial & ekonomi: format-format kuantitatif
dan kualitatif untuk studi sosiologi, kebijakan,

Kotler, K.(2009). Manajemen Pemasaran [Link] ketiga belas. Jakarta: Erlangga

Supranto, J. 2011. Pengukuran Tingkat Kepuasan Pelanggan Untuk Menaikkan.


Pangsa Pasar, Cetakan keempat, Penerbit PT Rineka Cipta

Abdul, Rahman. 2010. Panduan Pelaksanaan Adminitrasi Pajak:Untuk Karyawan,.


Pelaku Bisnis Dan Perusahaan. Bandung: Nuansa.

Keller. 2009. Manajemen Pemasaran. Jilid I. Edisi ke 13 Jakarta: Erlangga

Rangkuti, Freddy (2009). Strategi Promosi yang Kreatif dan Analisis Kasus.
Integrated Marketing. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.

43

Anda mungkin juga menyukai