PENGARUH BRAND IMAGE DAN TRUST
TERHADAP PURCHASE INTENTION PEMESANAN
KAMAR PADA MASA PANDEMI COVID-19 DI FAVE
HOTEL TUBAN
PROPOSAL
Untuk Seminar
Proposal Dalam
Penulisan Skripsi
Diajukan Oleh:
ANANDA APRILIA MAHARANI
NIM. 17.60201.1.133
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS BOJONEGORO
2021
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, segala puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat
Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, serta pertolongan-Nya,
sehingga penyusunan proposal skripsi dapat penulis selesaikan.
Dalam penulisan proposal skripsi ini masih banyak kekurangan dan
jauh dari kata sempurna. Semoga dapat diterima oleh Dosen Pembimbing dan
penulis mohon bimbingannya untuk dapat menyempurnakan proposal ini sehingga
bisa penulis gunakan sebagai bahan dasar dalam pembuatan skripsi yang berjudul
PENGARUH BRAND IMAGE DAN TRUST TERHADAP PURCHASE
INTENTION PEMESANAN KAMAR PADA MASA PANDEMI COVID-19 DI
FAVE HOTEL TUBAN.
Demikian yang dapat penulis sampaikan, kurang lebihnya penulis
mohon maaf yang sebesar besarnya dan atas perhatiannya penulis sampaikan
terima kasih.
Bojonegoro,15 Maret 2021
Penulis
ANANDA APRILIA MAHARANI
NIM. 17.60201.1.133
ii
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL .......................................................................................... i
HALAMAN PERSETUJUAN ............................................................................. ii
KATA PENGANTAR......................................................................................... iii
DAFTAR ISI ...................................................................................................... iv
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar belakang masalah .......................................................................... 1
1.2. Perumusan masalah ................................................................................ 5
1.3. Tujuan penelitian ................................................................................... 5
1.4. Manfaat penelitian ................................................................................. 6
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Landasan Teori ...................................................................................... 8
2.2 Penelitian Terdahulu .............................................................................. 29
2.3 Kerangka Konseptual ............................................................................. 31
2.4 Hipotesis ............................................................................................... 32
BAB III METODE PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian ....................................................................................... 33
3.2 Ruang Lingkup/ Focus Penelitian............................................................. 33
3.3 Devinisi Operasional Variable dan Indikator Variable ............................... 34
3.4 Jenis Dan Sumber Data ........................................................................... 34
3.5 Lokasi Penelitian .................................................................................... 35
3.6 Populasi, dan Teknik Sampel ................................................................... 35
3.7 Metode Pengumpulan Data...................................................................... 37
3.8 Teknik Analisis Data............................................................................... 38
3.9 Tahapan-Tahapan Penelitian .................................................................... 42
DAFTARPUSTAKA
iii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Industri Perhotelan di Indonesia mengalami perkembangan yang sangat
menjanjikan seiring dengan berkembangnya e-commerce yang telah membawa
perubahan besar dalam perkembangan dunia bisnis online. Perkembangan
reservasi hotel secara online melalui media internet saat ini semakin banyak
diminati oleh para calon tamu hotel baik yang berasal dari luar negeri maupun
dari dalam negeri, karena reservasi online terbukti lebih efektif dan efisien. Hal
inilah yang menjadikan reservasi hotel secara online sebagai fenomena baru
yang menjanjikan dalam industri perhotelan (Carrol & Sileo, 2007)
Namun dengan adanya Pandemi covid-19 di Indonesia initentunya
berdampak pada semua sektorperekonomian terutama pada industripariwisata.
Dikutip dari CNN Indonesia, ketua umum PHRI yang menyatakan bahwa
bahwa Industri pariwisata khususnya di Indonesia sudah menjadi salah satu
sektor yang menjanjikan dalam peningkatan taraf hidup masyarakat dimana
sektor pariwisata menjadi sektor yang menjanjikan bagi peningkatan
perekonomian di Indonesia, karena memiliki banyak keunggulan serta menjadi
salah satu penyumbang peningkatan ekonomi terbesar untuk Indonesia
termasuk devisa bagi negara.
Dalam bisnis pariwisata dan perhotelan brand image merupakan
penentu yang mempengaruhi keputusan pembelian. Menurut Simonian (2012
1
dalam Lien et al., 2015), yang menyatakan bahawa brand image membawa
pengaruh pada perilaku konsumen dalam keputusan [Link]
sebuah trust merupakan salah satu dari faktor yang menentukan suksesnya
sebuah penyedia jasa (Kim, Xu & Gupta, 2012). Begitupula dengan Ling bin et
al., (2011 dalam Lien et al., 2015) faktor kepercayaan merupakan faktor yang
penting bagi konsumen yang akan mempengaruhi keputusan pembelian.
Niat beli konsumen dapat menjadi semakin tinggi apabila brand image
sebuah perusahaan terbentuk dengan baik. Brand image atau citra merek
merupakan representasi dari persepsi dan informasi serta pengalaman yang
didapatkan terhadap sebuah merek. Image positif yang dibentuk oleh
konsumen terhadap sebuah brand lebih memungkinkan konsumen untuk
melakukan sebuah pembelian (Wahyono, 2012).
Purchase Intentions pada reservasi hotel mengacu pada kemungkinan
untuk memakai layanan booking online sebelum memutuskan untuk benar
benar melakukan reservasi. Jika seorang konsumen sudah memiliki
pengalaman yang baik terhadap suatu merek, maka dari pengalaman inilah
akan menciptakan citra merek yang baik sehingga dapat menarik calon
pelanggan lainnya untuk menggunakan layanan online hotel booking sehingga
dapat menimbulkan purchase intentions dari para calon pelanggan lainnya
(Dinawan, 2010).
Brand Image adalah persepsi tentang merek yang merupakan refleski
dari memori konsumen terhadap suatu merek tertentu. Jadi citra merek pada
online hotel booking akan muncul ketika seorang konsumen pernah
menggunakan layanan booking online tersebut atau merasakan dari
2
pengalaman orang lain disekitarnya. Merek yang memiliki brand image yang
baik akan cenderung disarankan pelanggan kepada calon pelanggan lainnya
untuk menggunakan sebuah layanan yang mereka anggap baik (Ferrina Dewi,
2008: 165).
Trust merupakan salah satu fitur utama dari hubungan antara calon
pelanggan dengan penyedia layanan. Peran kepercayaan dalam sebuah
hubungan interaksi antara layanan online hotel booking dan calon pelanggan
menjadi subyek utama dalam kepentingan penelitian ini. Membangun
kepercayaan terhadap konsumen merupakan salah satu faktor penentu
keberhasilan dari sebuah penyedia layanan seperti reservasi hotel online (Kim,
2012). Karena seorang pelanggan tidak akan memiliki niat beli yang tinggi
serta tidak mungkin merekomendasikan pembeliannya jika tidak adanya
kepercayaan (Everard, 2006).
Brand image memiliki banyak manfaat bagi para pelaku usaha ketika
merek yang dibangun sudah berhasil menguasai pasar, akan timbul daya tarik
tersendiri di mata konsumen, perusahaan lebih mudah mendapatkan loyalitas
pelanggan, dapat menjadi peluang bagi perusahaan untuk menetapkan harga
jual yang tinggi, membuka peluang bagi perusahaan untuk mengembangkan
produknya serta menjadikan perusahaan memiliki value tersendiri, yang tidak
dimiliki oleh pesaingnya (BisnisUKM, 2011).
Brand image yang baik dimata masyarakat tidak selamanya menuai
pemikiran positif bagi konsumen, sehingga jasa transportasi online tidak selalu
diterima baik oleh masyarakat Indonesia, terkadang banyak muncul berita atau
3
informasi yang menjatuhkan nama perusahaan jasa transportasi online sehingga
berujung pada citra negatif yang terbentuk dibenak konsumen.
Menurut Santoso (2014: 4) penerapan proses pemasaran yang baik dan
efektif dapat meningkatkan penjualan diberbagai bidang sektor bisnis. Seperti
yang terjadi pada industri perhotelan di Indonesia yang mengalami peningkatan
dalam jumlah pengunjung yang menginap baik dihotel bintang maupun hotel
non bintang, hal ini tidak bisa terlepas dari peranan penyedia layanan travel
agent
Dalam perhotelan brand image merupakan penentu yang
mempengaruhi keputusan pembelian. Brand image membawa pengaruh pada
perilaku konsumen dalam keputusan [Link] sebuah trust
merupakan salah satu dari faktor yang menentukan suksesnya sebuah
penyedia jasa. Sedangkan faktor kepercayaan merupakan faktor yang penting
bagi konsumen yang akan mempengaruhi keputusan pembelian. Begitu pula
pada Fave Hotel Tuban yang memerlukan brand image dan trust yang baik
untuk meningkatkan purchase intention pemesanan kamar pada masa pademi
covid-19.
Favehotel adalah jaringan hotel bintang 3 yang menawarkan
kenyamanan yang fungsional. Dengan desain yang minimalis dan modern,
interior hotel terlihat bersih dan eksklusif. Berada di Jalan Basuki Rahmad 215
- 217, Tuban, Favehotel Tuban menawarkan 105 kamar dengan 3 tipe yang
[Link] diberlakukannya kebijakan terkaitsocial distancing dan phisycal
distancing olehpemerintah pusat maupun daerah hotel tersebutmengalami sepi
kunjungan [Link] hotel mengambil kebijakan untukmenutup
4
sementara dan merumahkankaryawannya. Keputusan sulit ini diambil
olehmanajemen hotel demi dapat bertahan di masapandemi ini.
Berdasarkan uraian diatas penelitian ini didasari oleh variabel brand
image dan trust terhadap variabel purchase intentions sehingga penulis
melakukan penelitian ini dengan mengambil judul: PENGARUH BRAND
IMAGE DAN TRUST TERHADAP PURCHASE
INTENTIONPEMESANANKAMAR PADA MASA PANDEMI COVID-19
DI FAVE HOTEL TUBAN.
1.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang diuraikan diatas, maka rumusan
masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Apakah brand image dan trust secara parsial berpengaruh terhadap
purchase intention pemesanan kamar pada masa pademi covid-19 di Fave
Hotel Tuban?
2. Apakah brand image dan trust secara simultan berpengaruh terhadap
purchase intention pemesanan kamar pada masa pademi covid-19 di Fave
Hotel Tuban?
1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah diatas maka tujuan dari penelitian ini
adalah sebagai berikut:
5
1. Untuk mengetahuipengaruh brand image dan trust secara parsial terhadap
purchase intention pemesanan kamar pada masa pademi covid-19 di Fave
Hotel Tuban.
2. Untuk mengetahuipengaruh brand image dan trust secara simultan terhadap
purchase intention pemesanan kamar pada masa pademi covid-19 di Fave
Hotel Tuban.
1.4 Manfaat Penelitian
Hasil dari penelitian ini diharapkan akan diperoleh beberapa manfaat
sebagai berikut:
a. Manfaat Teoritis :
1) Dalam lingkup keilmuan, penelitian ini bermanfaat untuk
pengembangan keilmuan dalam bidang manajemen pemasaran
khususnya mengenai niat beli konsumen yang melihat dari brand
imagedan trust.
2) Hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti diharapkan dapat
memberikan kontribusi yang baik kepada berbagai pihak yakni secara
akademis adalah agar penelitian ini diharapkan dapat menambah
wawasan, pengetahuan penulis dan menambah ilmu baik dalam teori
maupun praktek tentang pengaruh brand image, dan trust terhadap
purchase intention pemesanan hotel.
b. Manfaat Praktis :
1) Bagi penulis, sebagai wadah pengembangan kemampuan atau
pemahaman mengenai manfaat dari berbagai variabel yang sudah
6
diteliti agar dapat diterapkan dimasa yang akan datang serta penerapan
teori yang sudah diperoleh selama masa perkuliahan.
2) Bagi perusahaan, hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi
perusahaan yang menjadi objek penelitian dalam penentuan strategi
dan peningkatan mutu untuk kedepannya agar dapat bertahan dan
mampu bersaing seiring dengan perkembangan jaman
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Landasan Teori
2.1.1 Brand Image
1) Pengertian Brand Image
Image (Citra) adalah persepsi masyarakat terhadap perusahaan
atau produk. Image dipngaruhi oleh banyak faktor yang diluar kontrol
perusahaan. Pengertian image (citra) menurut (Kotler, 2009: 57) adalah
kepercayaan, ide, dan impressi seseorang terhadap sesuatu. Citra citra
merupakan kesan, impressi, perasaan atau persepsi yang ada pada
publik mengenai perusahaan, suatu obyek, orang atau lembaga.
Bagi perusahaan citra berarti persepsi masyarakat terhadap jati
diri perusahaan. Persepsi ini didasarkan pada apa yang masyarakat
ketahui atau kira tentang perusahaan yang bersangkutan. Oleh karena
itulah perusahaan yang sama belum tentu memiliki citra yang sama pula
7
dihadapan orang. Citra perusahaan menjadi salah satu pegangan bagi
konsumen dalam mengambil keputusan penting. Contoh: keputusan
untuk membeli suatu barang, keputusan untuk menentukan tempat
bermalam, keputusan untuk mengkonsumsi makanan dan minuman,
pengambilan kursus, sekolah, dan lain-lain. Citra yang baik akan
menimbulkan dampak positif bagi perusahaan, sedangkan citra yang
buruk melahirkan dampak negatif dan melemahkan kemampuan
perusahaan dalam persaingan.
Menurut (Supranto, 2011: 128) mengatakan “Citra merek ialah
apa yang konsumen pikir atau rasakan ketika mereka mendengar atau
melihat nama suatu merek atau pada intinya apa yang konsumen telah
pelajari tentang merek.”
Menurut (Rahman, 2010: 181) : “merek bisa memperkuat citra
diri dan persepsi orang lain terhadap pemakai/ pemiliknya.” Pengertian
brand image menurut (Keller, 2009: 47) :
1) Anggapan tentang merek yang direfleksikan konsumen yang
berpegang pada ingatan konsumen.
2) Cara orang berpikir tentang sebuah merek secara abstrak dalam
pemikiran mereka, sekalipun pada saat mereka memikirkannya,
mereka tidak berhadapan langsung dengan produk Membangun
brand image yang positif dapat dicapai dengan program marketing
yang kuat terhadap produk tersebut, yang unik dan memiliki
kelebihan yang ditonjolkan, yang membedakannya dengan produk
lain. Kombinasi yang baik dari elemen– elemen yang mendukung
8
(seperti yang telah dijelaskan sebelumnya) dapat menciptakan brand
image yang kuat bagi konsumen.
Citra yang efektif melakukan tiga hal menurut Kotler
(2009:338) yaitu:
1) Menetapkan karakter produk dan usulan nilai
2) Menyampaikan karakter itu dengan cara yang berbeda sehingga
tidak dikacaukan oleh karakter pesaing.
3) Memberikan kekuatan emosional yang lebih dari sekedar citra
mental.
Berdasarkan beberapa pengertian tentang brand image diatas
dapat disimpulkan bahwa brand image merupakan persepsi/ sinyal
yang ditimbulkan dari konsumen pengguna merek. Agar citra merek
berfungsimaka citra itu harus disampaikan melalui setiap sarana
komunikasi yang tersedia dan kontak merek.
Brand (merek) merupakan salah satu bagian terpenting dari
suatu produk. Merek dapat menjadi suatu nilai tambah bagi produk
baik itu produk yang berupa barang maupun jasa. Nilai tambah ini
sangat menguntungkan bagi produsen atau perusahaan. Karena itulah
perusahaan berusaha terus memperkenalkan merek yang dimilikinya
dari waktu ke waktu, terutama konsumen yang menjadi target
marketnya.
2) Faktor-Faktor Brand Image
Menurut (Kotler, 2009:575-576) menyatakan bahwa ada enam
yang mempengaruhi citra merek yaitu :
9
(1) Atribut Sebuah merek menyampaikan atribut-atribut tertentu,
misalnya; Mercedes mengisnyaratkan mahal, tapi tahan lama,
berkualitas, nilai jual kembali yang tinggi, cepat, dan sebagainya
(2) Manfaat Merek bukanlah sekedar sekumpulan atribut, karena yang
dibeli konsumen adalah manfaat, bukan atribut. Misalnya atribut
mobil mahal dapat diterjemahkan kedalam manfaat emosional.
(3) Nilai-nilai Merek juga menyatakn nilai-nilai produsennya.
Contohnya Mercedes berarti kinerja tinggi, keamanan, partise, dan
sebagainya.
(4) Budaya Merek juga mungkin mencerminkan budaya tertentu.
Mercedes mencerminkan budaya jerman, yaitu terorganisasi rapi,
efesiensi, dan berkwalitas tinggi.
(5) Kepribadian Merek juga dapat memproyeksikan kepribadian
tertentu terhadap suatu produk
(6) Pemakaian Merek memberikan kesan mengenai jenis konsumen
yang membeli atau menggunakan produknya.
3) Indikator Brand Image
Meski brand image akan selalu mencari kekuatan sumbersumber
baru yang potensial dari merk, namun prioritas utama tetaplah
melindungi dan mempertahankan pelanggan yang telah ada. Secara
ideal, sumber-sumber kunci dari citra merk akan menjadi nilai yang
berkelanjutan dan abadi. Namun hal tersebut tidaklah mudah, oleh
karena nilai-nilai tersebut dapat dengan mudah dilupakan selama
pemasar mencoba untuk memperluas dari merk mereka dan menambah
10
produk baru yang berkaitan maupun yang sama sekali tidak berkaitan
dengan asosiasi merek tersebut.
Kesan merek (brand image) dibagi menjadi empat bagian
menurut Rangkuti (2009: 20) yaitu :
1) Citra pemakai
2) Kesan profesional
3) Kesan modern
4) Populer
Terdapat tiga tipe indikator citra merek menurut Rahman (2010:
181) yaitu :
1) Attribute brand yakni merek yang mampu mengomunikasikan
kepercayaan terhadap atribut fungsional produk
2) Aspirational brands yakni merek yang menyampaikan citra tentang
tipe orang yang membeli merek tersebut.
3) Experience brands yakni merek yang menyampaikan citra asosiasi
dan emosi bersama antara merek dan konsumen secara individu.
Faktor – faktor pendukung terbentuknya brand image menurut
(Keller, 2009: 49) adalah :
1). Favorability of brand association / Keunggulan asosiasi merek.
Salah satu faktor pembentuk brand image adalah keunggulan
produk, dimana produk tersebut unggul dalam persaingan. Contoh:
Oliver Footwear merupakan penghasil alas kaki terbesar di Australia.
Produknya adalah sepatu bot tinggi untuk tempur, sepatu tinggi
untuk pemadam kebakaran. Sepatu bot yang diproduksi awal tahun
11
1990-an ini sekarang menjadi salah satu model sepatu terbaik di
Australia. Kelebihan sepatu ini adalah kualitas yang unggul baik
dalam hal model maupun kenyamanan pada saat di pakai. Sepatu ini
berusaha untuk terus mempertahankan “gaya gagah dan watak
sederhana“. Karena keunggulan kualitas (model dan kenyamanan)
dan ciri khas itulah yang menyebabkan sepatu inimempunyai daya
tarik tersendiri bagi kalangan orang muda, usahawan Barat kaya
serta para wanita.
2). Strength of brand association/familiarity of brand association /
Kekuatan asosiasi merek
Contoh membangun kepopuleran merek dengan strategi
komunikasi melalui periklanan: Hotel Shangri-la sebagai hotel
bintang lima yang berhasil menampilkan diri sebagai merek hotel
yang berkualitas di wilayahnya pada tahun 1990-an. Strategi yang
digunakan adalah dengan melakukan kampanye iklan dengan slogan
“Kemana lagi kecuali ke Shangri-La ?”. Kewajiban mendasar bagi
pemilik merek untuk dapat mengungkapkan, mensosialisasikan jiwa/
kepribadian tersebut dalam satu bentuk iklan, ataupun bentuk
kegiatan promosi dan pemasaran lainnya. Hal itulah yang akan terus
menerus menjadi penghubung antara produk/merek dengan
konsumen. Dengan demikian merek tersebut akan cepat dikenal dan
akan tetap terjaga ditengah–tengah maraknya
[Link] popularitas sebuah merek menjadi merek
yang terkenal tidaklah mudah.
12
3). Uniqueness of brand association / Keunikan asosiasi merek
Merupakan keunikan–keunikan yang di miliki oleh produk
tersebut. Sebagai salah satu contoh adalah usaha Negara Singapura
yang dimulai pada tahun 1970-an, di mana Negara ini berusaha
serius terlibat dalam dunia pariwisata. Pada tahun itu, Singapura
sadar akan keberadaannya yang tidak memiliki kekuatan besar untuk
meningkatkan pertumbuhan sektor pariwisata.
2.1.2 Trust
Trust merupakan pondasi dari bisnis. Suatu transaksi bisnis
antara dua pihak atau lebih akan terjadi apabila masing-masing saling
mempercayai. Kepercayaan (trust) tidak begitu saja dapat diakui oleh
pihak lain / mitra bisnis, melainkan harus dibangun mulai dari awal dan
dapat dibuktikan. Trust telah dipertimbangkan sebagai katalis dalam
berbagai transaksi antara penjual dan pembeli agar kepuasan konsumen
dapat terwujud sesuai dengan yang diharapkan (Yousafzai et al., 2013).
Membangun kepercayaan dalam hubungan jangka panjang
dengan nasabah adalah suatu faktor yang penting untuk
menciptakanloyalitas nasabah. Menurut Prasaranphanich dalam Riska
(2012), ketika konsumen mempercayai sebuah bank , mereka akan lebih
suka melakukan pembelian ulang dan membagi informasi pribadi yang
berharga kepada bank tersebut.
Riska (2012) mendefinisikan trust sebagai keyakinan dalam
bertraksaksi antara individu satu dengan individu yang lain atas
kerelaan masing-masing. Berdasarkan pengertian tersebut bahwa
13
kepercayaan harus didasarkan pada dimensi kerelaan. Kerelaan
merupakan hasi sebauah keyakinan apa yang dilakukan adalah sesuatu
yang benar dan dapat menguntungkan. Ketika satu pihak mempunyai
keyakinan (confidence) bahwa pihak lain yang terlibat dalam
pertukaran mempunyai reliabilitas dan integritas, maka dapat dikatakan
ada trust.
Sedangkan Rofiq (2014), mendefinisikan trust adalah
kepercayaan seseorang terhadap orang lain yang telah melakukan
transaksi yang didasarkan pada suatu keyakinan, bahwa orang yang
dipercayai memiliki segala kewajibannya dengan baik dan sesuai yang
diharapkan. Kepercayaan konsumen menurut Mowen (2013:312)
adalah seluruh pengetahuan konsumen dan semua kesimpulan yang
dibuat konsumen tentang objek, atribut, dan manfaatnya.
Atribut (atributtes) adalah ciri-ciri yang dimiliki atau tidak
dimiliki suatu produk. Terdapat dua jenis atribut yaitu intrisik dan
ekstrisik. Atribut intrisik yaitu sifat atau ciri-ciri yang berhubungan
dengan fist aktual produk. Atribut Ekstrisik adalah ciri-ciri produk yang
dilihat dari ekternal produk. Bank harus menyadari bahwa kepercayaan
terhadap ciri-ciri produk/jasa, serta manfaat menunjukkan persepsi
konsumen, dan umumnya kepercayaan konsumen satu berbeda dengan
konsumen lainnya.
Mereka juga harus mengingat bahwa kepercayaan mereka
sendiri terhadap sebuah merek tertentu berbeda dari target pasar.
14
Kepercayaan yang dikatakanmewakili asosiasi yang konsumen bentuk
di antara objek, atribut, dan manfaat, didasarkan atas proses
pembelajaran kognitif. Seseorang membentuk tiga jenis kepercayaan
(Mowen, 2013:321) :
1. Kepercayaan atribut objek Pengetahuan tentang sebuah objek
memiliki atribut khusus yang disebut kepercayaan atribut objek.
Kepercayaan atribut-objek menghubungkan sebuah atribut dengan
objek, seperti seseorang, barang, atau jasa.
2. Kepercayaan atribut manfaat Kepercayaan atribut manfaat
merupakan persepsi konsumen tentang seberapa jauh sebuah atribut
tertentu menghasilkan atau memberikan manfaat tertentu. Seseorang
mencari produk dan jasa yang akan menyelesaikan masalah-masalah
mereka dan memenuhi kebutuhan mereka.
3. Kepercayaan objek manfaat Kepercayaan objek manfaat merupakan
persepsi konsumen tentang seberapa jauh produk atau jasa tertentu
yang akan memberikan manfaat tertentu.
Mowen (2013:322) menyatakan bahwa kepercayaan yang
membentuk sikap dan perilaku akan menghasilakn suatu tindakan nyata
yaitu kepercayaan kepada suatu objek secara bertahap. Tahap pertama
konsumen membentuk kepercayaan terhadap produk dan jasa,
kemudian kepercayaan membentuk sikap terhadap produk dan
selanjutnya konsumen berlaku dalam bentuk pembelian ulang atau
minat beli.
15
Dilihat dari sisi marketing perkembangan kepercayaan
merupakan komponen yang penting untuk menentukan strategi
marketing dengan tujuan untuk mengarahkan penciptaan hubungan
nasabah dengan perusahaan secara jangka panjang. Atribut (atributtes)
adalah ciri-ciri yang dimiliki atau tidak dimiliki suatu produk. Terdapat
dua jenis atribut yaitu intrisik dan ekstrisik.
Atribut instrisik yaitu sifat atau ciri-ciri yang berhubungan
dengan fist aktual produk. Atribut Ekstrisik adalah ciri-ciri produk yang
dilihat adari ekternal produk. Bank harus menyadari bahwa
kepercayaan terhadap ciri-ciri produk/jasa, serta manfaat menunjukkan
persepsi konsumen, dan umumnya kepercayaan konsumen satu berbeda
dengan konsumen lainnya.
Bank harus menyadari bahwa kepercayaan terhadap objek,
atribut, dan manfaat menunjukkan persepsi konsumen, dan karena itu,
umumnya kepercayaan seseorang konsumen berbeda dengan konsumen
lainnya. Mereka juga harus mengingat bahwa kepercayaan mereka
sendiri terhadap sebuah merek tertentu sangat berbeda dari pasar target.
Kepercayaan yang dikatakan mewakili asosiasi yang konsumen bentuk
di antara objek, atribut, dan manfaat, didasarkan atas proses
pembelajaran kognitif.
Nursatyo (2013) yang termasuk variabel kepercayaan yaitu :
1. Kredibilitas, terkait dengan kemampuan perusahaan untuk
memenuhi semua kewajibannya, perusahaan yang berhasil
16
memenuhi semua kewajibannya seharusnya akan menimbulkan
kemauan membeli untuk melanjutkan hubungannya.
2. Kepedulian, terkait dengan kemauan perusahaan untuk
mempedulikan nasib konsumen.
3. Dapat diandalkan, menimbulkan kemauan konsumen
untuk mengandalkan.
Menurut Ramadania (2013:39), adapun indikator Kepercayaan
adalah sebagai berikut :
1) Reputasi yang dimiliki produk
2) Keamanan dan kenyamanan dalam menggunakan produk
3) Jaminan atas resiko keuangan
4) Manfaat kredit bagi nasabah
2.1.3 Purchase Intention (Minat Beli)
Menurut Simamora (2004) minat adalah sesuatu yang pribadi
dan berhubungan dengan sikap. Individu yang berminat terhadap suatu
obyek akan mempunyai kekuatan atau dorongan untuk melakukan
serangkaian tingkah laku untuk mendekati atau mendapatkan objek
tersebut.
Menurut Riyandika (2013), minat adalah sebuah rencana atau
sepertinya seseorang akan berperilaku di situasi tertentu dengan cara
tertentu baik seseorang akan melakukannya atau tidak. Selain itu,
Riyandika menambahkan bahwa di dalam minat terdapat empat elemen
17
yang berbeda, yaitu perilaku, obyek dimana perilaku ditujukan, situasi
dimana perilaku dilakukan, dan waktu dimana perilaku dilakukan.
Sutriono (2008) menyebutkan bahwa minat (intention) adalah
sebuah rencana untuk terlibat dalam suatu perilaku khusus guna
mencapai tujuan. Menurut Sutriono minat beli adalah perilaku yang
muncul sebagai respon terhadap obyek, atau juga pembelian ulang.
Selain itu, juga menambahkan bahwa minat beli adalah tahap terakhir
dari suatu proses keputusan pebelian yang kompleks. Proses ini dimulai
dari munculnya kebutuhan akan suatu produk atau merek (need arousal)
dilanjutkan dengan pemrosesan informasi oleh konsumen (Consumer
Information Processing). Selanjutnya konsumen akan mengevaluasi
produk atau merek tersebut. Hasil evaluasi ini yang akhirnya
memunculkan niat atau intensi untuk membeli sebelum akhirnya
konsumen benar-benar melakukan pembelian.
Schiffman dan Kanuk (2007), menjelaskan bahwa pengaruh
eksternal, kesadaran akan kebutuhan, pengenalan produk dan evaluasi
alternatif adalah hal yang dapat menimbulkan minat beli konsumen.
Pengaruh eksternal ini terdiri dari faktor sosial, usaha pemasaran, dan
faktor sosial budaya. Selain itu, mereka juga menjelaskan bahwa
indikator-indikator minat beli dijelaskan oleh beberapa komponen
yaitu:
1. Tertarik untuk mencari informasi tentang produk
Konsumen yang terangsang kebutuhannya akan terdorong
untuk mencari informasi yang lebih banyak. Kotler dan Keller
18
(2009) membagi level rangsangan atau stimulan kebutuhan
konsumen ini dalam dua level yaitu yang pertama adalah pencarian
informasi yang lebih ringan atau penguatan perhatian. Pada level
ini, orang hanya sekedar lebih peka terhadap informasi produk.
Sedangkan level kedua adalah level aktif mencari informasi yaitu
dengan mencari bahan bacaan, bertanya pada teman, atau
mengunjungi toko untuk mempelajari produk tertentu.
2. Mempertimbangkan untuk membeli
Melalui pengumpulan informasi, konsumen mempelajari
merek-merek yang bersaing serta fitur merek tersebut. Melakukan
evaluasi terhadap pilihanpilihan dan mulai mempertimbangkan
untuk membeli produk.
3. Tertarik untuk mencoba
Setelah konsumen berusaha memenuhi kebutuhan,
mempelajari merekmerek yang bersaing serta fitur merek tersebut,
konsumen akan mencari manfaat tertentu dari solusi produk dan
melakukan evaluasi terhadap produk-produk tersebut. Evaluasi ini
dianggap sebagai proses yang berorientasi kognitif.
Maksudnya adalah konsumen dianggap menilai suatu produk
secara sangat sadar dan rasional hingga mengakibatkan ketertarikan
untuk mencoba.
4. Ingin mengetahui produk
Setelah memiliki ketertarikan untuk mecoba suatu produk,
konsumen akan memiliki keinginan untuk mengetahui produk.
19
Konsumen akan memandang produk sebagai sekumpulan atribut
dengan kemampuan yang berbeda-beda dalam memberikan manfaat
yang digunakan untuk memuaskan kebutuhan.
5. Ingin memiliki produk
Para konsumen akan memberikan perhatian besar pada
atribut yang memberikan manfaat yang dicarinya. Dan akhirnya
konsumen akan mengambil sikap (keputusan, preferensi) terhadap
produk melalui evaluasi atribut dan membentuk niat untuk membeli
atau memiliki produk yang disukai.
2.1.4 Pemesanan (Reservasi)
Pemesanan dalam bahasa Inggris adalah Reservation yang
berasal dari kata “to reserve” yaitu menyediakan atau mempersiapkan
tempat sebelumnya. Sedangkan reservation yaitu pemesanan suatu
tempat fasilitas.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2019), definisi
reservasi adalah proses, pembuatan, atau cara memesan (tempat,
barang, dsb) kepada orang lain.
Berbicara mengenai reservasi (pemesanan kamar), terlebih
dahulu kita perlu mengetahui defenisi dari reservasi itu sendiri.
Reservasi adalah suatu permintaan untuk memperoleh sejumlah kamar
yang dilakukan beberapa waktu sebelumnya melalui berbagai sumber
dengan menggunakan berbagai cara pemesanan untuk memastikan
bahwa tamu akan memperoleh kamar tersebut pada waktu
20
kedatangannya atau check-in.
Bagian reservasi merupakan salah satu bagian yang terpenting
pada kantor depan hotel, sebab tinggi rendahnya pemesanan kamar
atas kamar-kamar hotel tergantung pada bagian ini. Hal ini disebabkan
pihak hotel tidak mengharapkan jumlah tamu yang
sebanyakbanyaknya dari tamu yang walk-in. Tindakan menerima
reservasi dinamakan sebagai tindakan menjual kamar, dimana sebelum
tamu datang atau tiba di hotel maka tamu terlebih dahulu harus
melakukan reservasi guna mendapatkan kepastian akan tersedianya
kamar. Pemesanan kamar dapat dilakukan tamu beberapa hari atau
beberapa minggu sebelumnya.
Reservasi adalah sebuah proses perjanjian berupa pemesanan
sebuah produk baik barang maupun jasa dimana pada saat itu telah
terdapat kesepahaman antara konsumen dengan produsen mengenai
produk tersebut namun belum ditutup oleh sebuah transaksi jual – beli.
Pada saat reservasi berlangsung biasanya ditandai dengan adanya
proses tukar menukar informasi antara konsumen dan produsen agar
kesepahaman mengenai produk dapat terwujud.
Di era globalisasi sekarang ini, perkembangan teknologi pun
semakin pesat, sehingga pihak hotel dapat memberikan pelayanan yang
lebih cepat dan tepat kepada tamu hotel. Saat ini pemesanan kamar
tidak perlu dilakukan sendiri oleh tamu yang akan menginap, tetapi
dapat dilakukan dengan bantuan pihak kedua ataupun pihak ketiga.
21
2.1.5 Hotel
1) Pengertian Hotel
Hotel memilki pengertian atau definisi yang berbeda-beda.
Berikut ini adalah beberapa pengertian hotel:
Menurut Hotel Proprietors dalam Sulistiyono (2008), hotel
adalah suatu perusahaan yang dikelola oleh pemiliknya dengan
menyediakan pelayanan makanan, minuman, dan fasilitas kamar untuk
tidur kepada orang-orang yang sedang melakukan perjalanan dan
mampu membayar dengan jumlah yang wajar sesuai dengan pelayanan
yang diterima tanpa adanya perjanjian khusus.
Menurut AHMA (American Hotel and Motel Associations)
dalam Budi (2010), hotel adalah suatu tempat dimana disediakan
penginapan, makanan, dan minuman, serta pelayanan lainnya, untuk
disewakan bagi para tamu atau orang– orang yang tinggal untuk
sementara waktu.
Menurut Departemen Pendidikan Nasional, hotel didefinisikan
sebagai bangunan berkamar banyak yang disewakan sebagai tempat
untuk menginap dan tempat makan orang yang sedang dalam
perjalanan, atau bentuk akomodasi yang dikelola secara komersial.
Sedangkan menurut Wiyasha (2010:5), hotel merupakan usaha
yang mencari laba sebagai hasil akhir aktivitas bisnisnya.
Hotel merupakan bagian dari industri kepariwisataan. Hotel
merupakan sarana akomodasi yang lengkap sebagai penunjang
kepariwisataan. Dikatakan penyedia akomodasi terlengkap karena
22
hotel memiliki banyak fasilitas penunjang seperti ketersediaan kamar
sebagai tempat istirahat, restoran, ruang pertemuan bussiness center,
hingga fasilitas hiburan seperti kolam renang, pusat kebugaran, spa,
dan sebagainya. Adapun fasilitas yang dimililiki hotel biasanya yaitu
Jasa penginapan, Pelayanan makan dan minum, Jasa laundry, Jasa
penggunaan perabot dan lainnya, dan Jasa menyediakan kebutuhan
bagi wisatawan yang bermalam di hotel.
2) Klasifikasi Hotel
Setiap hotel memiliki fasilitas yang berbeda beda sesuai dengan
klasifikasinya. Menurut Wiyasha (2010:5), pengklasifikasian hotel
bertujuan untuk menciptakan persaingan bisinis yang sehat,
memberikan panduan bagi tamu tentang harga dan fasilitas serta
layanan yang diberikan oleh hotel pada klasifikasi tertentu,
memberikan panduan bagi para pemilik modal jika hendak berbisnis
pada satu klasifikasi hotel.
Menurut Bagyono (2012:73), pengklasifikasian hotel di
Indonesia dilakukan dengan peninjauan setiap tiga tahun sekali yang
dilakukan oleh PHRI dengan mempertimbangkan beberapa aspek,
mulai dari kamar, fasilitas dan peralatan yang disediakan, model sistem
pengelolaan, bermotto pelayanan.
Dengan mempertimbangkan aspek-aspek tersebut maka hotel
dibagi menjadi 5 tingkatan. Berikut klasikikasi hotel berdasarkan
bintang:
(1) Hotel Bintang 1
23
Hotel bintang satu merupakan jenis hotel yang tergolong
kecil karena dikelola oleh pemiliknya langsung. Biasanya terletak
di kawasan yang ramai dan memiliki transportasi umum yang dekat
serta hiburan dengan harga yang masuk akal. Adapun
kriterianya:
a. Jumlah kamar standar, minimum 15 kamar
b. Kamar mandi di dalam
c. Luas kamar standar minimum 20m2
(2) Hotel Bintang 2
Hotel bintang 2 biasanya terletak dilokasi yang mudah
dicapai, artinya akses menuju lokasi hotel tersebut sangat mudah.
Bangunannya terawat, bersih dan rapi, serta lokasinya bebas polusi.
Adapun kriterianya:
a. Jumlah kamar standar, minimum 20 kamar
b. Kamar suite minimum 1 kamar
c. Kamar mandi di dalam
d. Kamar memiliki telepon dan televisi
e. Luas kamar standar, minimum 22m2
f. Luas kamar suite minimum 44m2
g. Pintu kamar dilengkapi pengaman
h. Harus ada Lobby
i. Tata udara dengan AC/ventilasi
j. Kapasitas penerangan minimum 150 lux
k. Terdapat sarana olahraga dan rekreasi
24
l. Ruangan dilengkapi dengan tata udara dengan pengatur udara
[Link] bar.
(3) Hotel Bintang 3
Hotel bintang 3 biasanya terletak dekat dengan tol, pusat
bisnis dan daerah perbelanjaan, dengan menawarkan pelayanan
terbaik, kamar yang luas dan lobby yang penuh dekorasi. Para
karyawan hotel yang bertugas terlihat rapi dan profesional. Berikut
kriterianya:
a. Jumlah kamar standar, minimum 30 kamar
b. Terdapat minimum 2 kamar suite
c. Kamar mandi di dalam
d. Luas kamar standar, minimum 24 m2
e. Luas kamar suite, minimum 48m2
f. Memiliki sarana rekreasi dan olahraga
g. Kamar dilengkapi dengan pengatur udara mekanik (AC)
h. Tersedia restoran yang menawarkan hidangan diatas rata-rata
pada saat sarapan makan siang dan makan malam
i. Memiliki valet parking
(4) Hotel Bintang 4
Hotel bintang 4 sudah termasuk hotel yang cukup berkelas
dengan para karyawan dan staff yang lebih professional dalam
melayani tamu. Mereka juga dibekali informasi mengenai
pariwisata di sekitar hotel. Hotel ini memiliki bangunan yang
cukup besar dekat dengan pusat perbelanjaan, restoran dan hiburan.
25
Berikut kriterianya:
a. Jumlah kamar standar minimum 50 kamar
b. Memiliki minimum 3 kamar suite
c. Kamar mandi di dalam
d. Luas kamar standar, minimum 24m2
e. Luas kamar suite, minimum 48m2
f. Memiliki lobby dengan luar minimum 100m2
g. Memiliki bar
h. Memiliki sarana rekreasi dan olahraga
i. Kamar mandi dilengkapi dengan instalasi air panas/dingin
j. Memiliki toilet umum
(5) Hotel Bintang 5
Hotel bintang 5 merupakan hotel yang mewah dengan barbagai
fasilitas tambahan serta pelayanan multibahasa yang tersedia. Hotel
bintang 5 memegang prinsip bahwa tamu sangat penting sehingga
ketika tamu datang disambut dipintu masuk hotel, diberikan
welcome drink dan ketika dikamar diberikan daftar anggur yang
bisa dipilih. Adapun kriterianya:
a. Jumlah kamar standar, minimum 100 kamar
b. Terdapat minimum 4 kamar suite
c. Memiliki kamar mandi didalam
d. Luas kamar standar minimum 26m2
e. Luas kamar suite minimum 52m2
f. Tempat tidur dan perabot didalam kamar kualitas no 1
26
g. Terdapat restoran dengan pelayanan antar ke kamar selama 24
jam
h. Terdapat pusat kebugaran, valet parking, dan service dari
concierge dengan pengalaman matang.
Industri perhotelan dapat dibagi ke dalam 2 segmentasi,
yakni commercial dan leissure. Keduanya biasa disebut
commercial hotel dan resort hotel. Segmentasi dari commercial
hotel itu sendiri digunakan untuk tujuan bisnis, sedangkan resort
hotel digunakan untuk kegiatan perjalanan wisata yang tujuannya
hanya untuk jalan-jalan. Namun, sekarang banyak hotel-hotel yang
menggabungkan antara keduanya supaya sesuai dengan kebutuhan
masing-masing konsumen. Hotel dikelompokkan dalam beberapa
kategori yaitu berdasarkan kelas, plan, ukuran, lokasi, area, maksud
kunjungan tamu, lamanya tamu menginap, aspek bentu bangunan
dan wujud fisik.
Menurut Munandar (2013), klasifikasi hotel berdasarkan
maksud kunjungan selama menginap, adalah sebagai berikut:
1. Business hotel. Hotel yang tamunya sebagain besar berbisnis, di
sini biasanya menyediakan ruang-ruang meeting dan konvensi.
2. Resort/Tourism Hotel. Hotel yang kebanyakan tamunya adalah
para wisatawan, baik domestik maupun manca negara.
3. Casino hotel adalah hotel yang sebagian tempatnya berfungsi
sebagai tempat untuk kegiatan berjudi.
27
4. Pilgrim hotel. Hotel yang sebagian tempatnya berfungsi sebagai
fasilitas beribadah. Seperti hotel-hotel di Arab (pada saat musim
haji) dan Lourdes di Perancis.
5. Cure Hotel adalah hotel yang tamu-tamunya adalah tamu yang
sedang dalam proses pengobatan atau penyembuhan dari suatu
penyakit.
2.2 Penelitian Terdahulu
Berdasarkan penelitian yang telah ada, penulis, mengutip informasi
dari beberapa penelitian terdahulu yang berkaitan penelitian ini, antara lain :
Andrianto Hendra Noky (2013) “Pengaruh Kualitas Produk, Citra
Merek, Harga dan Promosi terhadap Keputusan Pembelian Mobil Jevis MPV
Merek Toyota Kijang Inova di Semarang”. Rumusan masalah antara lain :
apakah kualitas produk berpengaruh terhadap keputusan pembelian, apakah
citra merek berpengaruh terhadap keputusan pembelian, apakah harga
berpegaruh terhadap keputusan pembelian, apakah promosi berpengaruh
terhadap keputusan pembelian. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan
metode kuantitatif. Hasil dari penelitian ini kualitas produk berpengaruh
positif signifikan terhadap keputusan pembelian, harga berpegaruh positif
signifikan terhadap keputusan pembelian, Promosi berpengaruh positif
signifikan terhadap keputusan pembelian.
Restu Setiawan. (2017). Pengaruh Brand Image Dan Promosi
Terhadap Keputusan Nasabah Memilih Produk Asuransi Syariah (Studi Pada
28
PT. Asuransi Jiwa Syariah Al-Amin Kantor Cabang Lampung). Penelitian ini
menggunakan metode kuantitatif. Sumber data berupa data primer dan data
sekunder. Data primer diperoleh dari hasil observasi dan penyebaran kuesioner.
Data diberikan kepada 100 nasabah yang menggunakan asuransi jiwa syariah.
Untuk proses analisis data menggunakan analisis regresi berganda. Berdasarkan
hasil penelitian pada taraf signifikan 5% menunjukan bahwa bahwa brand image
berpengaruh positif signifikan terhadap keputusan pembelian produk. Hal ini
dibuktikan dengan nilai thitung lebih besar dari ttabel (4,252 >1,984), promosi
berpengaruh positif signifikan terhadap keputusan pembelian produk. Hal ini
dibuktikan dengan nilai thitung lebih besar dari ttabel (6,496 > 1,984), dan brand
image dan promosi sama-sama berpengaruh positif signifikan terhadap keputusan
pembelian produk. Hal ini dibuktikan dengan nilai thitung lebih besar dari ttabel
(345,357 > 3,942) artinya semakin baik brand image dan promosi maka dapat
meningkatkan keputusan pembelian produk.
A. Khaerani, and A. E. Prihatini, (2020). "Pengaruh Promosi Dan
Brand Image Terhadap Keputusan Pembelian Pada Layanan Traveloka.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh promosi dan brand image
terhadap keputusan pembelian pada situs Traveloka. Tipe penelitian adalah
explanatory research dan pengambilan sampel menggunakan teknik
nonprobability sampling, metode purposive sampling. Pengumpulan data
menggunakan google form. Sampel yang digunakan sebanyak 100 responden
yang menggunakan layanan Traveloka. Penelitian ini menggunakan metode
analisis regresi. Hasil penelitian ini menunjukkan variabel promosi dan brand
image berpengaruh terhadap keputusan pembelian pada situs Traveloka.
29
Traveloka harus meningkatkan kualitas promosinya dengan meningkatkan
frekuensi serta publikasi, membuat promosi penjualan lebih menarik, serta
memperbanyak ragam media dalam mempublikasikan kegiatan perusahaan.
Kemudian untuk meningkatkan persepsi konsumen, perusahaan harus
menjaga nama baik, meningkatkan profesionalitas customer service, serta
lebih memerhatikan tanggung jawab perusahanan.
2.3 Kerangka Konseptual
Supranto (2011:128) mengatakan “Citra merek ialah apa yang
konsumen pikir atau rasakan ketika mereka mendengar atau melihat nama
suatu merek atau pada intinya apa yang konsumen telah pelajari tentang
merek.
Marius (2011:67 ) mengemukakan : ”Memutuskan berarti sering
merujuk tentang pemilihan antara obyek (barang, merek, toko/tempat
berbelanja), konsumen sebenarnya memilih antara alternatif perilaku
berkenaan dengan obyek tersebut.” Pengaruh brand image dan kualitas produk
terhadap keputusan pembelian konsumen dapat dilihat pada gambar kerangka
konseptual penelitian sebagai berikut :
30
Fave Hotel Tuban
Brand Image Trust
Purchase
IntentionPemesanan Kamar
Bagan 2.1 Kerangka Konseptual
2.4 Hipotesis
Roheity (2007:35) mengemukakan “Hipotesis adalah dugaan atau
jawaban sementara atas rumusan masalah yang harus di uji kembali
kebenarannya menggunakan alat statistik”.
Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap masalah penelitian,
oleh karena itu rumusan masalah penelitian biasanya disusun dalam bentuk
kalimat pertanyaan. Dikatakan sementara, karena jawaban yang diberikan baru
di dasarkan pada teori yang relevan, belum didasarkan pada faktafakta empiris
yang di peroleh melalui pengumpulan data. Jadi hipotesis juga dapat
dinyatakan sebagai jawaban teoritis terhadap rumusan masalah penelitian,
belum jawaban empirik.
Berdasarkan batasan dan rumusan masalah, maka dibuat hipotesis
penelitian sebagai berikut:
31
2. Diduga brand image dan trust berpengaruh positif signifikanterhadap
purchase intention pemesanan kamar pada masa pademi covid-19 di Fave
Hotel Tuban.
3. Diduga brand image berpengaruh dominan terhadap purchase intention
pemesanan kamar pada masa pademi covid-19 di Fave Hotel
Tuban.
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian
kuantitatif. Metode penelitian kuantitatif merupakan salah satu jenis penelitian
yang spesifikasinya adalah sistematis, terencana dan terstruktur dengan jelas
sejak awal hingga pembuatan desain penelitiannya. Metode penelitian
kuantitatif, sebagaimana dikemukakan oleh Sugiyono (2011: 8) yaitu :
“Metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat positivisme, digunakan
untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu, pengumpulan data
menggunakan instrumen penelitian, analisis data bersifat kuantitatif/statistik,
dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan”.
3.2 Ruang Lingkup/ Focus Penelitian
Fokus penelitian dalam menurut Burhan Bungin (2013:76) adalah
fokus penelitian atau pokok asal yang hendak diteliti, mengandung penjelasan
mengenai dimensi dimensi apa yang menjadi pusat penelitian dan hal yang
kelak dibahas secara mendalam dan tuntas.
32
Fokus penelitian merupakan pemusatan konsentrasi terhadap tujuan
penelitian yang sedang [Link] lingkup penelitian ini adalah pada
variable independen yaitu brand image dan trust. Sedangkan variable
dependen yaitu purchase intention pemesanan kamar.
3.3 Definisi Operasional Variable Dan Indikator Variable Penelitian
Operasional variabel dibutuhkan dalam penyusunan kuesioner agar
menjadi lebih terstruktur dan sistematis, sehingga dapat mendeskripsikan
masalah penelitian yang ingin diketahui. Dalam penelitian ini, terdapat dua
jenis variabel yang digunakan yaitu variabel bebas (independen) dan variabel
terikat (dependen).
1) Variabel Bebas (Independen)
(1) Brand Image (X1)
(2) Trust (X2)
2) Variabel Terikat (Dependen)
Purchase intention pemesanan kamar (Y)
3.4 Jenis Dan Sumber Data
Penelitian ini berjenis kuantitatif yang dikaren akan menggunakan
angka, mulai dari pengumpulan data, penafsiran terhadap data tersebut, serta
penampilan dari hasilnya (Arikunto, 2006:12). Sumber data penelitian ini
dibedakan menjadi dua macam, yaitu :
1. Data primer
33
Menurut Malhotra (2009), data primer merupakan data yang
didapatkan untuk memenuhi tujuan khusus yang nantinya menjawab
masalah dalam penelitian. Data primer juga merupakan sumber data yang
diperoleh secara langsung dari sumber asli atau pertama (Sugiyono, 2008).
Data primer yang digunakan dalam penelitian ini, untuk analisis berupa
metode survei melalui distribusi kuesioner dengan beberapa responden
yang dianggap mewakili sampel yang sudah ditetapkan dari populasi
penelitian.
2. Data sekunder
Menurut Malhotra (2009), data sekunder merupakan data yang
dikumpulkan dan didapatkan untuk tujuan yang lain, diluar tujuan khusus
untuk menjawab masalah utama penelitian. Sumber data sekunder
diperoleh secara tidak langsung dari sumber asli. Data dapat diperoleh dari
sumber bacaan yang berasal dari buku, jurnal ilmiah, laporan penelitian
terdahulu, data di internet dan berbagaidata lainnya yang berhubungan
dengan penelitian. Data sekunder yang digunakan untuk mendukung
penelitian ini adalah data kajian penelitian terdahulu.
3.5 Lokasi Penelitian
Nasution (2003:43) lokasi penelitian menunjukkan pada pengertian tempat
atau lokasi sosial penelitian yang dicirikan oleh adanya unsur yaitu pelaku,
tempat, dan kegiatan yang dapat di [Link] yang menjadi lokasi
penelitian adalah Fave Hotel Tuban Jl. Basuki Rahmad No.215-21
Kabupaten Tuban.
34
3.6 Populasi Dan Teknik Sampel
1. Populasi
Menurut Malhotra (2009), populasi merupakan rangkaian elemen
yang memiliki berbagai macam gabungan karakteristik yang serupa yang
mencakup keseluruhan semesta untuk kepentingan masalah penelitian.
Populasi juga merupakan kelompok yang terdiri dari keseluruhan orang,
kejadian dan objek penelitian yang dirasa menarik sehingga membuat
peneliti ingin menjadikannya kedalam sebuah penelitian (Sekaran, 2003).
Dalam penelitian ini, populasi yang digunakan adalah pengunjung Fave
Hotel Tuban.
2. Sampel
Sampel merupakan elemen dalam populasi yang terdiri dari
subkelompok yang ditunjuk agar dapat berpartisipasi dalam sebuah
penelitian (Malhotra, 2009). Semakin besar jumlah sampel yang diberikan
maka akan menghasilkan data yang stabil. Sampel dalam penelitian ini
adalah pengunjung Fave Hotel Tuban.
Penulis menggunakan rumus Slovin dalam perhitungan sampel
dengan tingkat kesalahan sebesar 5%, berikut rumus Slovin yang
dikemukakan oleh Husein Umar (2013, hlm. 78) :
n = N
1+ N(e)2
Dimana:
n = Ukuran sampel N = Ukuran populasi e
= Batas toleransi kesalahan (error tolerace)
35
Berdasarkan penjelasan di atas, maka dengan menggunakan rumus
Slovin, ukuran sampel dapat dihitung sebagai berikut:
n= N = 68 = 68 = 58,11 = 58 orang
2 2
1+ N(e) 1+68(5%) 1,17
3. Teknik Sampling
Teknik sampling merupakan teknik yang digunakan untuk
mengambil sampel pada penelitian (Sugiyono, 2014), teknik sampling
terbagi menjadi dua jenis yaitu probability sampling dan non-probability
sampling. Pada penelitian ini digunakan teknik non-probability sampling
dengan pendekatan judgemental sampling yang merupakan teknik
penentuan sampel dengan beberapa pertimbangan. Peneliti mengumpulkan
data melalui responden yang dirasa telah memenuhi kriteria pengisian
kuesioner dan pertimbangan beberapa aspek.
3.7 Teknik Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini peneliti menggunakan metode-metode berikut:
1. Metode Dokumentasi
Dokumentasi menurut Sugiyono (2015: 329) adalah suatu cara
yang digunakan untuk memperoleh data dan informasi dalam bentuk buku,
arsip, dokumen, tulisan angka dan gambar yang berupa laporan serta
keterangan yang dapat mendukung penelitian. Dokumentasi digunakan
untuk mengumpulkan data kemudian ditelaah. Dokumentasi yang
36
digunakan dalam penelitian ini meliputi profil Fave Hotel Tuban, serta
data jumlah tamu.
2. Metode Kuesioner
Kuesioner adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan
cara memberi seperangkat pertanyaan tertulis kepada responden untuk
dijawabnya, dapat diberikan secara langsung atau melalui pos atau
internet. Jenis angket ada dua, yaitu tertutup dan terbuka. Kuesioner yang
digunakan dalam hal ini adalah kuesioner tertutup yakni kuesioner yang
sudah disediakan jawabannya, sehingga responden tinggal memilih dan
menjawab secara langsung.(Sugiyono, 2008: 142). Kuesioner ini ditujukan
kepada pengunjung Fave Hotel Tuban yang dijadikan sebagai responden
atau sampel.
3.8 Teknik Analisa Data
Analisis data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah analisis
kuantitatif. Analisis kuantitatif adalah analisis pada data-data yang dapat
dihitung atau diangkakan dengan pengukuran-pengukuran statistic.
Pengukuran dilakukan dengan menyusun indicator masing-masing variable
yang telah dirumuskan dalam item-item pertanyaan dan skor atau nilai pada
jawaban pertanyaan. Pengolahan data-data secara statistik tersebut
dimaksudkan untuk dapat melakukan pengujian terhadap hipotesis yang telah
dirumuskan sebelumnya.
37
Teknik analisis yang penulis pergunakan untuk mengolah data yang
dikumpulkan dari penelitian sesuai dengan sifat dan jenis yang ada, yaitu
sebagai berikut:
a. Uji Validitas
Uji validitas dilakukan untuk mengetahui apakah alat ukur yang
telah disusun benar-benar mampu mengukur apa yang harus diukur. Uji
validitas digunakan untuk menguji seberapa cermat suatu alat ukur dalam
melakukan fungsi ukurannya. Pengujian validitas tiap butir digunakan
analisis item, yaitu mengkorelasikan skor tiap butir dengan skor total yang
merupakan jumlah tiap skor butir (corrected item total correlation) yang
penyelesaiannya dilakukan dengan menggunakan program SPSS.
Butir-butir instrumen dianggap valid apabila koefisien korelasi (r
hitung) > r kritis (0,30) (Sugiyono dan Wibowo : 2014). Dengan penilaian:
1. Nilai r = +1 atau mendekati 1, maka korelasi antara X dan Y dikatakan
positif dan sangat kuat sekali.
2. Nilai r = -1 atau mendekati -1, maka korelasi antara X dan Y dikatakan
kuat dan negatif.
3. Nilai r = 0 atau mendekati 0, maka hubungan antara kedua variabel
sangat lemah atau tidak ada hubungan sama sekali.
b. Uji Reliabilitas (Test of Reliabilitas)
Uji reliabilitas bertujuan untuk mengetahui apakah alat pengumpul
data pada dasarnya menunjukkan tingkat ketepatan, keakuratan kestabilan
atau konsistensi alat tersebut dalam mengunkapkan gejala-gejala tertentu
dari sekelompok individu, walaupun dilakukan pada waktu yang berbeda.
38
Uji reliabilitas dilakukan terhadap pertanyaan yang telah valid. Rumus
yang dipakai adalah untuk menguji reliabilitas dalam penelitian adalah
Cronbach’ Alpha yang penyelesaianya dilakukan dengan membandingkan
antara ralpha dan rtabel .
Secara umum keandalan dalam kisaran 0,00 s/d 0,20 kurang baik, >
0,20 s/d 0,40 agak baik, > 0,40 s/d 0,60 cukup baik, > 0,60 s/d 0,80 baik,
serta dalam kisaran > 0,80 s/d 1.00 dianggap sanggap baik. (Santoso,
2011:227).
c. Uji Asumsi Klasik
1) Analisa Regresi Berganda
Yaitu untuk mengukur seberapa jauh pengaruh brand image, dan
trust terhadap pemesanan hoteldengan analisa yang digunakan analisa
regresi linear berganda dengan menggunakan aplikasi SPSS maka dapat
dirumuskan sebagai berikut: Y = a + b1 . x1 + b2 . x2+e
Dimana:
Y = pemesanan hotel a =
Bilangan Konstanta b1 =
Koefisien regresi brand image b2
= Koefisien regresi trust x1 =
brand image x2 = trust e = eror
2) Analisa Korelasi
Korelasi itu berarti hubungan, begitu pula analisis korelasi yaitu
suatu analisis yang digunakan untuk melihat hubungan antara dua variabel.
Nugroho (2015), uji korelasi tidak membedakan jenis variabel (tidak ada
variabel dependent maupun independent). Digunakan untuk mengetahui
39
keeratan hubungan antara x1 x2 dengan y yang bisa ditentukan dengan
klasifikasi koefisien korelasi yang digunakan dimana nilai korelasi dapat
dikelompokkan dalam Nugroho (2015) sebagai berikut : 0,41 s/d 0,70
korelasi keeratan kuat, 0,71 s/d 0,90 sangat kuat dan 0,91 s/d 0,99 sangat
kuat sekali dan jika 1 berarti sempurna. Nilai koefisien korelasi diperoleh
melalui pengolahan data hasil kuisioner dengan menggunakan program
SPSS.
3) Uji T –test
Uji statistik T pada dasarnya menunjukkan seberapa jauh pengaruh
satu variable penjelas secara individual dalam menerangkan variasi
variabel terikat. Langkah-langkah uji hipotesis
H0 : ts < 0 : Brand image dan trust secara parsial tidak berpengaruh
positif signifikanterhadap purchase intention pemesanan kamar
pada masa pademi covid-19 di Fave Hotel Tuban.
H1 : ts > 0 : Brand image dan trust secara parsial berpengaruh positif
signifikanterhadap purchase intention pemesanan kamar pada
masa pademi covid-19 di Fave Hotel Tuban
Kriteria Keputusannya adalah :
a) Jika t hitung > t table, dan sig < 0,05 maka H0 ditolak dan Ha diterima.
b) Jika t hitung < t table, dan sig > 0,05 maka H0 diterima dan Ha ditolak.
c) Taraf signifikan = 5 %
d) Derajat kebebasan (df) = n – 3
4) Uji F
Uji F digunakan untuk menentukan apakah secara serentak variabel
independen mampu menjelaskan variabel dependen dengan baik atau
40
apakah variabel independen mempunyai pengaruh yang signifikan
terhadap variabel dependen secara bersama-sama.
Kriteria Pengujian:
Apabila nilai F hitung < F tabel, maka Ho diterima. Artinya semua
koefisien regresi secara bersama-sama tidak signifikan pada taraf
signifikansi 5%
Apabila nilai F hitung > F tabel, maka Ho ditolak. Artinya semua
koefisien regresi secara bersama-sama signifikan pada taraf
signifikansi 5%.
3.9 Tahapan-Tahapan Penelitian
Tahapan-tahapan penelitian diuraikan secara rinci sebagai berikut :
1) Studi Pendahuluan
Pada tahap ini dilakukan studi literature dan studi lapangan. Studi
literature dilakukan untuk mengkaji dan mengetahui secara teoritis metode
yang dipakai dalam metode pemecahan masalah.
2) Perumusan Masalah
Pada tahap selanjutnya dilakukan perumusan masalah yang terjadi pada
objek penelitian sekaligus merumuskan tujuan penelitian. Hasil perumusan
masalah ini sekaligus dijadikan tujuan dalam penelitian yang dilakukan.
3) Pengumpulan Data dan Pengolahan Data
Pada tahap yang ketiga dilakukan pengumpulan data – data yang
diperlukan sebagai bahan untuk memecahkan masalah yang telah
dirumuskan pada tahap kedua. Setelah data terkumpul, dilakukan
41
pengolahan data yang akan digunakan pada tahap analisis. Pada proses
analisis dikaji data – data yang ada menggunakan metode yang telah
peneliti pelajari pada tahap awal.
4) Analisis
Pada tahap ini dilakukan analisa dan peringkat hasil pembahasan masalah.
Dari hasil pengolahan data pada tahap sebelumnya akan digunakan
sebagai bahan analisis lebih lanjut guna mendapatkan pemecahan masalah.
5) Kesimpulan
Pada tahap ini, peneliti melakukan penyimpulan terhadap hasil penelitian
yang telah dilakukan berdasarkan hasil pengolahan data menggunakan.
Kesimpulan ini berupa pernyataan yang diambil dari perhitungan yang
dihasilkan dengan metode penelitian.
6) Saran
Sebagai tindak lanjut dari hasil pernyataan kesimpulan, peneliti
merumuskan saran – saran berkaitan dengan proses yang berjalan pada
objek penelitian agar sekiranya dapat memberikan hasil yang lebih baik di
masa mendatang.
DAFTAR PUSTAKA
Agung Nugroho, (2015) Pengaruh Reward dan Punishment Terhadap Kinerja.
Karyawan
PT Business Training and Empowering
Wibowo, 2014. Manajemen Kinerja, Edisi keempat, Rajawali Pers, Jakarta.
Sugiyono (2015). Metode Penelitian Kombinasi (Mix Methods). Bandung: Alfabeta
Arikunto, Suharsimi. (2012). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta:
Rineka Cipta
42
Malhotra, N.K., 2009, Riset Pemasaran, Edisi keempat, Jilid 1, PT Indeks, Jakarta.
Sekaran, Uma, 2000, Research Methods for Business: A Skill Building Approach;
third.
Nasution (2003). Metode Penelitian Naturalistik Kualitatif. Bandung: Tarsito.
Bungin, Burhan. 2013. Metode penelitian sosial & ekonomi: format-format kuantitatif
dan kualitatif untuk studi sosiologi, kebijakan,
Kotler, K.(2009). Manajemen Pemasaran [Link] ketiga belas. Jakarta: Erlangga
Supranto, J. 2011. Pengukuran Tingkat Kepuasan Pelanggan Untuk Menaikkan.
Pangsa Pasar, Cetakan keempat, Penerbit PT Rineka Cipta
Abdul, Rahman. 2010. Panduan Pelaksanaan Adminitrasi Pajak:Untuk Karyawan,.
Pelaku Bisnis Dan Perusahaan. Bandung: Nuansa.
Keller. 2009. Manajemen Pemasaran. Jilid I. Edisi ke 13 Jakarta: Erlangga
Rangkuti, Freddy (2009). Strategi Promosi yang Kreatif dan Analisis Kasus.
Integrated Marketing. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.
43