0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
87 tayangan29 halaman

Rangkaian RL dan RC: Praktikum Listrik

Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui nilai reaktansi induktif (XL), reaktansi kapasitif (XC), induktansi induktor (L), dan kapasitas kapasitor (C) melalui pengukuran pada rangkaian RL dan RC baik untuk arus AC maupun DC. Praktikum ini juga mendeskripsikan proses kerja induktor dan kapasitor pada kedua jenis arus tersebut.

Diunggah oleh

Inanda Rizqillah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
87 tayangan29 halaman

Rangkaian RL dan RC: Praktikum Listrik

Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui nilai reaktansi induktif (XL), reaktansi kapasitif (XC), induktansi induktor (L), dan kapasitas kapasitor (C) melalui pengukuran pada rangkaian RL dan RC baik untuk arus AC maupun DC. Praktikum ini juga mendeskripsikan proses kerja induktor dan kapasitor pada kedua jenis arus tersebut.

Diunggah oleh

Inanda Rizqillah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

ABSTRAK

RANGKAIAN RL DAN RANGKAIAN RC

Sering sekali kita menjumpai alat-alat listrik yang biasa digunakan dalam kehidupan sehari-
hari. Biasanya ada pada tunning radio, amplifier, sisterm kontrol otomatis, dan sebagainya. Alat-
alat tersebut merupakan aplikasi dari rangkaian RL, RC, dan RLC. Rangkaian ini memuat
resistor, induktor, dan kapasitor. Tujuan dilakukannya praktikum ini adalah mengetahui dan
mempelajari proses kerja induktor dan kapasitor pada sumber tegangan AC dan DC. Selain itu
kita juga akan mengetahui reaktansi induktif ( X L) dan induktansi induktor (L) pada rangkaian RL
serta reaktansi kapasitif ( X C ) dan kapasitas kapasitor (C) pada rangkaian RC. Percobaan ini
dilakukan dengan cara merangkai resistor dan induktor pada arus AC dan DC. Serta merangkai
resistor dan kapasitor pada arus AC dan DC. Sehingga diperoleh hasil nilai reaktansi induktif ( X L
) pada arus AC dan DC memiliki nilai yang sebanding dengan tegangan pada induktor ( X L V L);
nilai reaktansi kapasitif ( X c) pada arus AC memiliki nilai yang sebanding dengan tegangan pada
kapasitor ( X C V C ); nilai reaktansi kapasitif ( X c) pada arus DC memiliki nilai tak terdefinisi (
X C =¿∞); nilai induktansi induktor (L) pada arus AC memiliki nilai yang sebanding dengan
reaktansi induktif ( X L) ( L X L ); nilai induktansi induktor (L) pada arus DC memiliki nilai tak
terdefinisi (L=¿∞); nilai kapasitas kapasitor (C) pada arus AC memiliki nilai berbanding terbalik

1
dengan reaktansi kapasitif ( X C ) (C ); nilai kapasitas kapasitor (C) pada arus DC tidak
XC
memiliki nilai (C=0); proses kerja induktor pada arus AC dan DC adalah membantu arus
menghantarkan listrik; proses kerja kapasitor pada arus AC adalah melewatkan arus listrik;
proses kerja kapasitor pada arus DC adalah menghambat arus listrik.

Kata kunci: reaktansi induktif, reaktansi kapasitif, induktansi induktor, kapasitas kapasitor
2
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sering sekali kita menjumpai alat-alat listrik yang biasa digunakan dalam kehidupan sehari-
hari. Biasanya ada pada tunning radio, amplifier, sisterm kontrol otomatis, dan sebagainya. Alat-
alat tersebut merupakan aplikasi dari rangkaian RL, RC, dan RLC. Rangkaian ini memuat
resistor, induktor, dan kapasitor. Dalam penggunaan rangkaian tersebut, kita dapat menggunakan
arus AC maupun DC. Arus AC merupakan arus yang memiliki perubahan terhadap waktu.
Sedangkan arus DC merupakan arus yang konstan terhadap waktu. Untuk menemukan hubungan
di antara istilah-istilah yang ada dalam sebuah rangkaian RLC pada arus AC dan DC, diperlukan
sebuah praktikum yang dapat membuktikannya.

Dengan melakukan praktikum yang berjudul Rangkaian RL dan RC ini kita dapat mengetahui
dan mempelajari proses kerja induktor dan kapasitor pada sumber tegangan AC dan DC. Selain
itu kita juga akan mengetahui reaktansi induktif ( X L) dan induktansi induktor (L) pada rangkaian
RL serta reaktansi kapasitif ( X C ) dan kapasitas kapasitor (C) pada rangkaian RC. Untuk itu kita
harus mempelajari lebih dalam tentang Rangkaian RL dan RC dengan cara mempraktekkannya
dalam percobaan ini.

B. Rumusan Masalah
1. Berapa nilai dari reaktansi induktif ( X L) dan reaktansi kapasitif ( X C )?
2. Berapa nilai dari induktansi induktif (L) dan kapasitas kapasitor (C)?
3. Bagaimana proses kerja induktor dan kapasitor pada sumber tegangan AC dan DC?
C. Tujuan
1. Menentukan nilai dari reaktansi induktif ( X L) dan reaktansi kapasitif ( X C )?
2. Menentukan nilai dari induktansi induktif (L) dan kapasitas kapasitor (C)?
3. Mendeskripsikan proses kerja induktor dan kapasitor pada sumber tegangan AC dan
DC?

3
BAB II

DASAR TEORI

Resistor adalah komponen elektronika yang berfungsi untuk mengahambat atau


membatasi aliran yang mengalir dalam suatu rangkaian listrik. Reistor disimbolkan dengan huruf
R dan satuan ohm (Ω). Kapasitor adalah suatu alat yang dapat menyimpan energi di dalam medan
listrik. Kapasitor disimbolkan dengan huruf C dan satuan farad (F). Induktor adalah sebuah
sebuah komponen elektronika yang dapat menyimpan energi pada medan magnet yang di
timbulkan oleh arus listrik yang melintasinya. Induktor disimbulkan dengan huruf L dan satuan
henry (H). Jenis-jenis rangkaian listrik ada tiga yaitu seri, paralel, dan campuran. Rangkaian seri
adalah rangkaian yang disusun secara sejajar. Pada rangkaian seri, arus yang masuk pada
rangkaian akan sama pada setiap titik. Sedangkan nilai tegangan yang masuk tidak sma dengan
nilai tegangan pada masing-masing resistor.

Gambar 2.1 Rangkaian Seri

I total=I 1=I 2=I 3 (1)

V total=V 1 +V 2+ V 3 (2)

R total=R1 + R2 + R3 (3)

Rangkaian paralel adalah rangkaian listrik yang disusun secara berderet. Sehingga arus
yang masuk tidak sama dengan arus masing-masing resistor. Namun nilai tegangan pada rangkian
sama untuk masing-masing resistor.

4
Gambar 2.2 Rangkaian Paralel

I total=I 1 + I 2 + I 3 (4)

V total=V 1 +V 2+ V 3 (5)

1 1 1
R total= + + (6)
R 1 R2 R 3

Rangakaian campuran adalah rangkaian listrik yang merupakan gabungan dari rangkaian
seri dan paralel.

Gambar 2.3 Rangakian Campuran

Arus terdiri atas dua jenis, yaitu arus searah dan arus bolak-balik. Arus listrik
didefinisikan sebagai laju aliran muatan listrik melalui suatu luas penampang lintasan. Arus
searah (DC) merupakan arus yang mengalir dalam rangkaian yang memiliki arah yang sama
dimana arus tersebut konstan terhadap waktu. Sedangkan arus bolak-balik (AC) merupakan arus
yang mengubah arah setiap detiknya dan sinusoidal (Giancoli, 2001).

Menurut Mikrajuddin Abdullah arus searah adalah arus yang berubah-ubah secara
berganti pada suatu saat. Arus bolak-balik yang paling sederhana adalah arus sinusoidal. Oleh

5
karena itu jika dilakukan pengukuran arus AC menggunakan osiloskop maka akan diperoleh
tampilan kurva arus dan tegangan bolak-balik yang berbentuk mirip dengan gambar 2.4.

Gambar 2.4 Grafik Arus dan Tegangan pada Rangkaian AC

Gambar 2.5 Grafik Arus dan Tegangan pada Rangkaian DC

Sumber arus bolak-balik adalah generator yang prinsip kerjanya pada perputaran
kumparan dengan kecepatan sudut ω yang berada di dalam medan magnet. Sumber arus bolak-
balik tersebut menghasilkan tegangan sinusoidal berfrekuensi f. Apabila getaran tersebut
dihubungkan dengan suatu penghantar R dan menghasilkan tegangan maksimum sebesar Vmax.
Tegangan sinusoidal dapat dituliskan dengan bentuk persamaan tegangan sebagai waktu, yaitu

V =V max sin ωt (7)

V =V max sin 2 πft (8)

Keterangan:

V max : Tegangan maksimum listrik AC (V)

ω : Kecepatan sudut (rad/s)

t : Waktu (s)

Karena tegangan yang dihasilkan merupakan tegangan sinusoidal maka arus yang
dihasilkan sinusoidal akan mengikuti persamaan

I =I max sin ωt (9)


6
I =I max sin 2 πft (10)

Keterangan:

I max : Kuat arus pada rangkaian AC (A)

ω : Kecepatan sudut (rad/s)

t : Waktu (s)

Suatu rangkaian yang berisi resistor dan kapasitor disebut rangkaian RC. Semakin besar
kapasitansi sebuah kapasitor maka akan besar pula muatan yang dapat disimpan kapasitor
tersebut (Mikrajuddin, 2017). Jika sebuah kaparitor yang mampu menyimpan muatan Q ketika
dihubungkan dengan potensial V, maka kapasitas kapasitor tersebut dapat didefinisikan sebagai

Q
C= (11)
V

Keterangan:

C : Kapasitas kapasitor (F)

Q : Muatan listrik (C)

V : Tegangan (V)

Jika kapasitor dirangkai secara seri maka dapat diperoleh dengan persamaan

1 1 1 1 1
= + + +…+ (12)
C C 1 C 2 C3 Cn

Jika kapasitor dirangkai secara paralel, maka diperoleh persamaan


C=C 1+C 2 +C3 +…+ Cn (13)

Kapasitor memiliki hambatan yang disebut dengan reaktansi kapasitif ( X C ) yang memiliki
satuan ohm (Ω).
1
XC = (14)
ωC
1
XC= (15)
2 πfC
Keterangan:
XC : Reaktansi kapasitif (Ω)
ω : Kecepatan sudut (rad/s)
f : Frekuensi (Hz)
C : Kapasitas kapasitor (F)
7
Gambar 2.6 Rangkaian RC

Rangkaian yang berisi resistor dan induktor disebut rangkaian RL. Suatu induktor
memiliki induktansi. Jika suatu rangkaian terdapat induktor, maka rangkaian tersebut dapat
mencegah arus yang naik dan turun seketika. Rangkaian-rangkaian yang mengandung kumparan
atau solenoida dengan banyak lilitan memiliki induktansi yang besar. Kumparan atau solenoida
inilah yang disebut dengan induktor (Giancoli, 2001).

Jika solenoida tersebut dialiri arus searah maka beda potensial antara dua ujung solenoida
hampir nol karena beda potensial (tegangan) sama dengan perkalian arus dan hambatan
solenoida. Solenoida hanya berbentuk kawat konduktor sehingga hambatan listrik antara dua
ujung solenoida nol. Tetapi jika dialiri arus yang berubah-ubah tiap waktu (AC), maka sifat
solenoida akan berubah (Mikrajuddin, 2017).

Induktor memiliki hambatan yang disebut dengan reaktansi induktif ( X L) yang memiliki
satuan ohm (Ω).

X L =ωL (16)

X L =2 πfL (17)

Keterangan:

XL : Reaktansi induktif (Ω)

ω : Kecepatan sudut (rad/s)

L : Induktansi induktor (H)

f : Frekuensi (Hz)

8
Gambar 2.7 Rangkaian RL

Rangkaian seri RLC yaitu rangkaian yang terdiri atas hambatan, induktor dan kapasitor
yang dihubungkan seri, kemudian dihubungkan dengan sumber tegangan AC. Telah diterangkan
bahwa pada rangkaian hambatan arus tegangan sefase, sedangkan pada induktor tegangan
mendahului arus, dan pada kapasitor arus mendahului tegangan.

Gambar 2.8 Rangkaian RLC

Besarnya tegangan jepit pada rangkaian seri RLC dapat dicari dengan menggunakan
diagram fasor sebagai berikut :

V R=I max R sin ωt=V max sin ωt (18)

V L=I max X L sin( ωt+ 90 °)=V max sin(ωt +90 ° ) (19)

V C =I max X C sin(ωt−90 °)=V max sin (ωt−90 ° ) (20)

Jika sudut ωt kita pilih sebagai sumbu x, maka diagram fasor untuk I, V R, V L, dan V C
dapat digambarkan dengan gambar diatas. Dan besarnya tegangan jepit pada rangkaian seri RLC
dapat dicari dengan menjumlahkan fasor dari V R, V L, dan V C menjadi :

V = √ V 2 R +(V L −V C )2 (21)

9
Keterangan:

V : Tegangan total/jepit susunan RLC (volt)

VR : Tegangan pada hambatan (volt)

VL : Tegangan pada induktor (volt)

VC : Tegangan pada kapasitor (volt)

Dari gambar diagram fasor terlihat bahwa antara tegangan dan arus terdapat beda sudut
fase sebesar θ yang dapat dinyatakan dengan :

V L −V C
tanθ= (22)
VR

Besarnya arus yang melewati rangkaian RLC adalah sama, sehingga besarnya tegangan
pada masing masing komponen R, L, dan C dapat dinyatakan : V R=I R , V L=I X L dan V C =I X C .

V = √ V 2 R +(V L −V C )2

V = √ I 2 R 2+(I 2 X L2−I 2 X C 2) (23)

V =I √ R 2+( X L2− X C 2) (24)

V
= R 2+( X L −X C )2
I √
(25)

V
Berdasarkan hukum Ohm bahwa =R, akan tetapi dalam rangkaian arus AC besaran
I

V
=Z yang disebut dengan impedansi rangkaian RLC yang disusun seri dinyatakan :
I

Z=√ R 2+(X L −X C )2 (26)

Keterangan:

Z : Impedansi rangkaian seri RLC (Ω)

R : Hambatan (Ω)

XL : Reaktansi induktif (Ω)

XC : Reaktansi kapasitif (Ω)

10
BAB III

METODE PERCOBAAN

A. Alat dan Bahan


1. Multimeter Digital 1 Buah
2. Multimeter Analog 1 Buah
3. Power Suplay 1 Buah
4. Tahanan Geser 1 Buah
5. Kabel Konektor 7 Buah
6. Papan Rangkaian RC dan RL 1 Buah
B. Rancangan Percobaan
1. Rangkaian RL Arus AC

Multimeter
Digital

Resistor

Induktor

Tahanan
Geser
Power
Suplay

Gambar 3.2.1 rangkaian RL

Gambar 3.2.2 rangkaian RL arus AC


11
2. Rangkaian RL Arus DC

Gambar 3.2.3 rangkaian RL arus DC

3. Rangkaian RC Arus AC

Resistor
Multimeter
Digital Kapasitor

Tahanan
Geser

Power
Suplay

Gambar 3.2.4 rangkaian RC

Gambar 3.2.5 rangkaian RC arus AC


12
4. Rangkaian RC Arus DC

Gambar 3.2.6 rangkaian RC arus DC


C. Variabel Percobaan
1. Rangkaian RL Arus AC
Variabel Kontrol : Tegangan input (V ¿) pada power suplay, frekuensi, hambatan
geser,
induktansi induktor
DOV Kontrol : Tegangan input pada power suplay dikontrol dan diukur
menggunakan multimeter digital sebesar 3,260V±0,0005.
Frekuensi dikontrol dan diukur menggunakan multimeter digital
sebesar 49,985Hz±0,0005. Hambatan geser dikontrol dan diukur
menggunakan multimeter analog sebesar 10Ω± 0,5. Induktansi
induktor dikontrol sebesar 8,2mH.
Variabel Manipulasi : Resistor
DOV Manipulasi : Nilai resistor dimanipulasi sebanyak 3 kali perubahan
Variabel Respon : Tegangan induktor (V L), arus (I), reaktansi induktif ( X L),
induktansi
induktif (L)
DOV Respon : Tegangan dan arus diukur menggunakan multimeter digital pada
rangkaian tepat berada di bagian induktor. Sedangkan reaktansi
induktif dan induktansi induktif dihitung dari perhitungan nilai-
nilai
yang diperoleh saat praktikum
2. Rangkaian RL Arus DC
Variabel Kontrol : Tegangan input pada power suplay, frekuensi, hambatan geser,
induktansi induktor
DOV Kontrol : Tegangan input pada power suplay dikontrol dan diukur
menggunakan multimeter digital sebesar 3,062V±0,0005.
Frekuensi dikontrol dan diukur menggunakan multimeter digital
13
sebesar 0Hz±0,5. Hambatan geser dikontrol dan diukur
menggunakan multimeter analog sebesar 10Ω± 0,5. Induktansi
induktor dikontrol sebesar 8,2mH.
Variabel Manipulasi : Resistor
DOV Manipulasi : Nilai resistor dimanipulasi sebanyak 3 kali perubahan
Variabel Respon : Tegangan induktor (V L), arus (I), reaktansi induktif ( X L),
induktansi
induktif (L)
DOV Respon : Tegangan dan arus diukur menggunakan multimeter digital pada
rangkaian tepat berada di bagian induktor. Sedangkan reaktansi
induktif dan induktansi induktif dihitung dari perhitungan nilai-
nilai yang diperoleh saat praktikum
3. Rangkaian RC Arus AC
Variabel Kontrol : Tegangan input pada power suplay, frekuensi, hambatan geser,
kapasitas kapasitor
DOV Kontrol : Tegangan pada power suplay dikontrol dan diukur menggunakan
multimeter digital sebesar 3,062V±0,0005. Frekuensi dikontrol dan
diukur menggunakan multimeter digital sebesar 0Hz±0,5.
Hambatan geser dikontrol dan diukur menggunakan multimeter
analog sebesar 10Ω± 0,5. Kapasitas kapasitor dikontrol sebesar
100µF.
Variabel Manipulasi : Resistor
DOV Manipulasi : Nilai resistor dimanipulasi sebanyak 3 kali perubahan
Variabel Respon :Tegangan kapasitor (V C ), arus (I), reaktansi kapasitif ( X C ),
kapasitas kapasitor (C)
DOV Respon : Tegangan dan arus diukur menggunakan multimeter digital pada
rangkaian tepat berada di bagian kapasitor. Sedangkan reaktansi
kapasitif dan kapasitas kapasitor dihitung dari perhitungan nilai-
nilai
yang diperoleh saat praktikum
4. Rangkaian RC Arus DC
Variabel Kontrol : Tegangan pada power suplay, frekuensi, hambatan geser,
kapasitas kapasitor
DOV Kontrol : Tegangan pada power suplay dikontrol dan diukur menggunakan
multimeter digital sebesar 3,260V±0,0005. Frekuensi dikontrol dan
diukur menggunakan multimeter digital sebesar 49,985Hz±0,0005.
Hambatan geser dikontrol dan diukur menggunakan multimeter
analog sebesar 10Ω± 0,5. Kapasitas kapasitor dikontrol sebesar
100µF.

14
Variabel Manipulasi : Resistor
DOV Manipulasi : Nilai resistor dimanipulasi sebanyak 3 kali perubahan
Variabel Respon :Tegangan kapasitor (V C ), arus (I), reaktansi kapasitif ( X C ),
kapasitas kapasitor (C)
DOV Respon : Tegangan dan arus diukur menggunakan multimeter digital pada
rangkaian tepat berada di bagian kapasitor. Sedangkan reaktansi
kapasitif dan kapasitas kapasitor dihitung dari perhitungan nilai-
nilai yang diperoleh saat praktikum
D. Langkah Percobaan
1. Rangkaian RL Arus AC
1) Siapkan alat dan bahan
2) Rangkai komponen seperti pada gambar 3.2.2
3) Atur power suplay pada posisi AC ukur tegangan dan frekuensi
4) Ukur tegangan pada induktor dan kuat arus
5) Hitung besar reaktansi induktif ( X L) dan induktansi induktif (L)
6) Ulangi langkah 1 sampai 5 untuk nilai resistor yang berbeda
2. Rangkaian RL Arus DC
1) Siapkan alat dan bahan
2) Rangkai komponen seperti pada gambar 3.2.3
3) Atur power suplay pada posisi DC ukur tegangan dan frekuensi
4) Ukur tegangan pada induktor dan kuat arus
5) Hitung besar reaktansi induktif ( X L) dan induktansi induktif (L)
6) Ulangi langkah 1 sampai 5 untuk nilai resistor yang berbeda
3. Rangkaian RC Arus AC
1) Siapkan alat dan bahan
2) Rangkai komponen seperti pada gambar 3.2.5
3) Atur power suplay pada posisi AC ukur tegangan dan frekuensi
4) Ukur tegangan pada induktor dan kuat arus
5) Hitung besar reaktansi kapasitif ( X C ) dan kapasitas kapasitor (C)
6) Ulangi langkah 1 sampai 5 untuk nilai resistor yang berbeda
4. Rangkaian RC Arus DC
1) Siapkan alat dan bahan
2) Rangkai komponen seperti pada gambar 3.2.6
3) Atur power suplay pada posisi DC ukur tegangan dan frekuensi
4) Ukur tegangan pada induktor dan kuat arus
5) Hitung besar reaktansi kapasitif ( X C ) dan kapasitas kapasitor (C)
6) Ulangi langkah 1 sampai 5 untuk nilai resistor yang berbeda

15
BAB IV

DATA DAN ANALISIS

A. Analisis dan Pembahasan


Percobaan 1 Rangkaian RL Arus AC

Pada saat dilakukan percobaan dengan arus AC, diperoleh tegangan input (V ¿) pada power
suplay sebesar 3,260V±0,0005 dengan taraf ketelitian 99,98%. Kemudian diukur pula besar
frekuensi pada power suplay dengan arus AC, dan didapatkan frekuensi sebesar 49,985Hz±
0,0005 dengan taraf ketelitian 98,99%. Setelah itu power suplay dirangkai dengan tahanan geser,
induktor, dan resistor secara seri. Resistor yang digunakan sebelumnya diukur menggunakan
multimeter dan didapatkan nilai hambatan masing-masing sebesar (10±0,05)Ω, (33±0,05)Ω, dan
(94,7±0,05)Ω.

Pada percobaan ini didapatkan hasil pengukuran dan perhitungan. Pada hasil pengukuran
didapatkan tegangan pada induktor dan kuat arus listrik yang mengalir, sedangkan pada hasil
perhitungan didapatkan reaktansi induktif dan induktansi induktif.

Gambar 4.1.1 Hubungan antara hambatan dan tegangan pada induktor

Pada gambar 4.1.1 terlihat bahwa semakin besar hambatan maka tegangan pada induktor
akan semakin kecil. Hal ini tidak sesuai dengan hukum ohm yang menyatakan bahwa V=IR. Pada
percobaan ini didapatkan bahwa ketika besar hambatan 10Ω, maka nilai tegangan pada rangkaian
tersebut sebesar 1,375V±0,0005 dengan taraf ketelitian 99,963%. Kemudian pada saat besar
hambatan 33Ω, maka nilai tegangan pada rangkaian tersebut sebesar 0,633V±0,0005 dengan
taraf ketelitan 99,921%. Dan pada saat besar hambatan 94,7Ω, maka nilai tegangan pada
rangkaian tersebut sebesar 0,256V±0,0005 dengan taraf ketelitian 99,805%.

16
Gambar 4.1.2 Hubungan antara hambatan dengan kuat arus

Setelah didapatkan pengukuran tegangan, selanjutnya juga didapatkan hasil pengukuran kuat
arus listrik yang mengalir. Pada gambar 4.1.2 didapatkan hasil bahwa nilai kuat arus yang
mengalir konstan atau tetap. Hal ini sesuai dengan teori jika suatu rangkaian dipasang secara seri
maka besar kuat arus pada rangkaian tesebut akan konstan. Pada percobaan ini didapatkan nilai
kuat arus sebesar 0,07mA±0,005. Setelah didapatkan hasil pengukuran tegangan dan kuat arus,
selanjutnya menentukan nilai reaktansi induktif dan induktansi induktif dengan cara perhitungan.

Gambar 4.1.3 Hubungan antara hambatan dengan reaktansi induktif

Berdasarkan hasil pengukuran tegangan dan kuat arus maka akan didapatkan reaktansi
induktif. Dengan memberlakukan hukum ohm nilai induktor pada rangkaian ini sama seperti nilai

VL
hambatan. Dimana X L sebagai R, sehingga X L= . Pada gambar 4.1.3 didapatkan bahwa
I
semakin besar nilai hambatan maka reaktansi induktif semakin kecil. Jika dihubungkan dengan
hasil percobaan sebelumnya dengan resistor sebesar 10Ω, maka besar tegangan induktif adalah
1,375V dan kuat arus adalah 0,07mA, sehingga nilai reaktansi induktif pada rangkaian tersebut

17
sebesar 19,64Ω±0,005 dengan taraf ketelitian 99,975%. Pada saat besar hambatan 33Ω, maka
besar tegangan induktif adalah 0,633V dan kuat arus adalah 0,07mA, sehingga didapatkan nilai
reaktansi induktif pada rangkaian tersebut sebesar 9,04Ω±0,005 dengan taraf ketelitian 99,945%.
Dan pada saat besar hambatan 94,7Ω, maka besar tegangan induktif adalah 0,256V dan kuat arus
adalah 0,07mA, sehingga didapatkan nilai reaktansi induktif pada rangkaian tersebut sebesar
8,00Ω±0,005 dengan taraf ketelitian 99,937%.

Gambar 4.1.4 Hubungan antara hambatan dan induktansi induktif

Setelah didapatkan hasil perhitungan reaktansi induktif, maka akan diperoleh induktansi

XL
induktor sesuai dengan rumus (17). Dimana L= . Ketika nilai reaktansi induktif adalah
2 πf
19,64Ω maka hasil perhitungan nilai induktansi induktif adalah 0,06H±0,005 dengan taraf
ketelitian 91,67%. Pada saat nilai reaktansi induktif adalah 9,04Ω maka hasil perhitungan nilai
induktansi induktif adalah 0,03H±0,005 dengan taraf ketelitian 83,34. Dan pada saat nilai
reaktansi induktif adalah 8,00Ω maka hasil perhitungan nilai kunduktasi konduktif adalah 0,02H±
0,005 dengan taraf ketelitian 75%. Sesuai dengan gambar 4.1.4 jika nilai hambatan semakin besar
maka nilai induktansi induktif pada rangkaian tersebut akan semakin kecil. Dan jika dihubungkan
dengan perhitungan reaktansi indiktif pada percobaan sebelumnya, maka nilai induktansi induktif
sebanding dengan nilai reaktansi induktif.

Percobaan 2 Rangkaian RC Arus AC

Pada percobaan ini didapatkan hasil pengukuran dan perhitungan sama seperti pada
percobaan 1 diatas. Hanya saja pada percobaan ke-2 digunakan rangkaian RC. Sehingga pada
hasil pengukuran didapatkan tegangan pada induktor dan kuat arus listrik yang mengalir,
sedangkan pada hasil perhitungan didapatkan reaktansi kapasitif dan kapasitas kapasitor.

18
Gambar 4.2.1 Hubungan antara hambatan dan tegangan pada kapasitor

Pada gambar 4.2.1 terlihat bahwa semakin besar hambatan maka tegangan pada kapasitor
akan semakin kecil. Hal ini tidak sesuai dengan hukum ohm yang menyatakan bahwa V=IR. Pada
percobaan ini didapatkan bahwa ketika besar hambatan 10Ω, maka nilai tegangan pada rangkaian
tersebut sebesar 3,056V±0,0005 dengan taraf ketelitian 99,984%. Kemudian pada saat besar
hambatan 33Ω, maka nilai tegangan pada rangkaian tersebut sebesar 2,404V±0,0005 dengan
taraf ketelitan 99,979%. Dan pada saat besar hambatan 94,7Ω, maka nilai tegangan pada
rangkaian tersebut sebesar 1,261V±0,0005 dengan taraf ketelitian 99,96%.

Gambar 4.2.2 Hubungan antara hambatan dengan kuat arus

Setelah didapatkan pengukuran tegangan, selanjutnya juga didapatkan hasil pengukuran kuat
arus listrik yang mengalir. Pada gambar 4.2.2 didapatkan hasil bahwa nilai kuat arus yang
mengalir konstan atau tetap. Hal ini sesuai dengan teori jika suatu rangkaian dipasang secara seri
maka besar kuat arus pada rangkaian tesebut akan konstan. Pada percobaan ini didapatkan nilai
kuat arus sebesar 0,25mA±0,005. Setelah didapatkan hasil pengukuran tegangan dan kuat arus,
selanjutnya menentukan nilai reaktansi kapasitif dan kapasitas kapasitor dengan cara perhitungan.

19
Gambar 4.2.3 Hubungan antara hambatan dengan reaktansi kapasitif

Berdasarkan hasil pengukuran tegangan dan kuat arus maka akan didapatkan reaktansi
kapasitif. Dengan memberlakukan hukum ohm nilai kapasitor pada rangkaian ini sama seperti

VC
nilai hambatan. Dimana X C sebagai R, sehingga X C = . Pada gambar 4.2.3 didapatkan bahwa
I
semakin besar nilai hambatan maka reaktansi kapasitif semakin kecil. Jika dihubungkan dengan
hasil percobaan sebelumnya dengan resistor sebesar 10Ω, maka besar tegangan kapasitor adalah
3,056V dan kuat arus adalah 0,25mA, sehingga nilai reaktansi kapasitif pada rangkaian tersebut
sebesar 12,224Ω±0,0005 dengan taraf ketelitian 99,996%. Pada saat besar hambatan 33Ω, maka
besar tegangan kapasitif adalah 2,404V dan kuat arus adalah 0,25mA, sehingga didapatkan nilai
reaktansi kapasitif pada rangkaian tersebut sebesar 9,616Ω±0,0005 dengan taraf ketelitian
99,995%. Dan pada saat besar hambatan 94,7Ω, maka besar tegangan kapasitif adalah 1,216V
dan kuat arus adalah 0,25mA, sehingga didapatkan nilai reaktansi kapasitif pada rangkaian
tersebut sebesar 5,254Ω±0,0005 dengan taraf ketelitian 99,990%.

Gambar 4.2.4 Hubungan antara hambatan dan kapasitas kapasitor

20
Setelah didapatkan hasil perhitungan reaktansi kapasitif, maka akan diperoleh kapasitas

1
kapasitor sesuai dengan rumus (15). Dimana C= . Ketika nilai reaktansi kapasitif adalah
2 πf X C
12,224Ω maka hasil perhitungan nilai kapasitas kapasitor adalah 0,00026F± 5× 10−6 dengan taraf
ketelitian 98,04%. Pada saat nilai reaktansi kapasitif adalah 9,616Ω maka hasil perhitungan nilai
kapasitas kapasitor adalah 0,00033F± 5× 10−6 dengan taraf ketelitian 98,49%. Dan pada saat nilai
reaktansi kapasitif adalah 5,254Ω maka hasil perhitungan nilai kapasitas kapasitor adalah
0,00061F± 5× 10−6 dengan taraf ketelitian 99,18%. Sesuai dengan gambar 4.2.4 jika nilai
hambatan semakin besar maka nilai kapasitas kapasitor pada rangkaian tersebut akan semakin
besar pula. Dan jika dihubungkan dengan perhitungan reaktansi kapasitif pada percobaan
sebelumnya, maka nilai kapasitas kapasitor berbanding terbalik dengan nilai reaktansi kapasitif.

Percobaan 3 Rangkaian RL Arus DC

Pada saat dilakukan percobaan dengan arus DC, diperoleh tegangan input (V ¿) pada power
suplay sebesar 3,062V±0,0005 dengan taraf ketelitian 99,984%. Kemudian diukur pula besar
frekuensi pada power suplay dengan arus DC, dan didapatkan frekuensi sebesar 0Hz. Hal ini
disebabkan karena pada arus DC tidak terjadi perubahan arus terhadap waktu, sehingga frekuensi
yang dihasilkan pada arus tersebut adalah 0Hz. Setelah itu power suplay dirangkai dengan
tahanan geser, induktor, dan resistor secara seri. Resistor yang digunakan sebelumnya diukur
menggunakan multimeter dan didapatkan nilai hambatan masing-masing sebesar (10±0,05)Ω, (33
±0,05)Ω, dan (94,7±0,05)Ω.

Pada percobaan ini didapatkan hasil pengukuran dan perhitungan. Pada hasil pengukuran
didapatkan tegangan pada induktor dan kuat arus listrik yang mengalir, sedangkan pada hasil
perhitungan didapatkan reaktansi induktif dan induktansi induktif. Percobaan ini sama seperti
percobaan 1, hanya saja yang membedakan adalah jenis arus yang digunakan.

Gambar 4.3.1 Hubungan antara hambatan dan tegangan pada induktor

21
Pada gambar 4.3.1 terlihat bahwa semakin besar hambatan maka tegangan pada induktor
akan semakin kecil. Hal ini tidak sesuai dengan hukum ohm yang menyatakan bahwa V=IR. Pada
percobaan ini didapatkan bahwa ketika besar hambatan 10Ω, maka nilai tegangan pada rangkaian
tersebut sebesar 0,879V±0,0005 dengan taraf ketelitian 99,943%. Kemudian pada saat besar
hambatan 33Ω, maka nilai tegangan pada rangkaian tersebut sebesar 0,423V±0,0005 dengan
taraf ketelitan 99,882%. Dan pada saat besar hambatan 94,7Ω, maka nilai tegangan pada
rangkaian tersebut sebesar 0,174V±0,0005 dengan taraf ketelitian 99,713%.

Gambar 4.3.2 Hubungan antara hambatan dengan kuat arus

Setelah didapatkan pengukuran tegangan, selanjutnya juga didapatkan hasil pengukuran kuat
arus listrik yang mengalir. Pada gambar 4.1.2 didapatkan hasil bahwa nilai kuat arus yang
mengalir konstan atau tetap. Hal ini sesuai dengan teori jika suatu rangkaian dipasang secara seri
maka besar kuat arus pada rangkaian tesebut akan konstan. Pada percobaan ini didapatkan nilai
kuat arus sebesar 0,18mA±0,005. Setelah didapatkan hasil pengukuran tegangan dan kuat arus,
selanjutnya menentukan nilai reaktansi induktif dan induktansi induktif dengan cara perhitungan.

Gambar 4.3.3 Hubungan antara hambatan dengan reaktansi induktif

22
Berdasarkan hasil pengukuran tegangan dan kuat arus maka akan didapatkan reaktansi
induktif. Dengan memberlakukan hukum ohm nilai induktor pada rangkaian ini sama seperti nilai

VL
hambatan. Dimana X L sebagai R, sehingga X L= . Pada gambar 4.3.3 didapatkan bahwa
I
semakin besar nilai hambatan maka reaktansi induktif semakin kecil. Jika dihubungkan dengan
hasil percobaan sebelumnya dengan resistor sebesar 10Ω, maka besar tegangan induktif adalah
0,879V dan kuat arus adalah 0,18mA, sehingga nilai reaktansi induktif pada rangkaian tersebut
sebesar 4,88Ω±0,005 dengan taraf ketelitian 99,898%. Pada saat besar hambatan 33Ω, maka
besar tegangan induktif adalah 0,423V dan kuat arus adalah 0,18mA, sehingga didapatkan nilai
reaktansi induktif pada rangkaian tersebut sebesar 2,35Ω±0,005 dengan taraf ketelitian 99,788%.
Dan pada saat besar hambatan 94,7Ω, maka besar tegangan induktif adalah 0,174V dan kuat arus
adalah 0,18mA, sehingga didapatkan nilai reaktansi induktif pada rangkaian tersebut sebesar
0,97Ω±0,005 dengan taraf ketelitian 99,485%.

Setelah didapatkan hasil perhitungan reaktansi induktif, maka akan diperoleh induktansi

XL
induktor sesuai dengan rumus (17). Dimana L= . Karena arus yang mengalir pada rangkaian
2 πf
tersebut adalah arus DC dan frekuensi yang dihasilkan 0Hz, maka nilai induktansi induktif pada
arus DC adalah tak terdefinisi (∞).

Percobaan 4 Rangkaian RC Arus DC

Pada percobaan ini didapatkan hasil pengukuran dan perhitungan sama seperti pada
percobaan 3 diatas. Hanya saja pada percobaan ke-4 digunakan rangkaian RC. Sehingga pada
hasil pengukuran didapatkan tegangan pada induktor dan kuat arus listrik yang mengalir,
sedangkan pada hasil perhitungan didapatkan reaktansi kapasitif dan kapasitas kapasitor.

Gambar 4.4.1 Hubungan antara hambatan dan tegangan pada kapasitor

23
Pada gambar 4.4.1 terlihat bahwa semakin besar hambatan maka tegangan pada kapasitor
akan semakin kecil. Hal ini tidak sesuai dengan hukum ohm yang menyatakan bahwa V=IR. Pada
percobaan ini didapatkan bahwa ketika besar hambatan 10Ω, maka nilai tegangan pada rangkaian
tersebut sebesar 3,253V±0,0005 dengan taraf ketelitian 99,985%. Kemudian pada saat besar
hambatan 33Ω, maka nilai tegangan pada rangkaian tersebut sebesar 3,060V±0,0005 dengan
taraf ketelitan 99,985%. Dan pada saat besar hambatan 94,7Ω, maka nilai tegangan pada
rangkaian tersebut sebesar 3,057V±0,0005 dengan taraf ketelitian 99,985%.

Setelah didapatkan pengukuran tegangan, selanjutnya juga didapatkan hasil pengukuran kuat
arus listrik yang mengalir. Menurut karakteristik dari kapasitor, jika kapasitor dialiri tegangan
DC maka kapasitor tersebut akan menjadi hambatan yang sangat besar. Jika hambatan pada
sebuah rangkaian sangat besar maka arus tidak dapat mengalir pada rangkaian tersebut. Sehingga
pada percobaan ini nilai arus yang mengalir adalah 0mA.

Berdasarkan hasil pengukuran tegangan dan kuat arus maka akan didapatkan reaktansi
kapasitif. Dengan memberlakukan hukum ohm nilai kapasitor pada rangkaian ini sama seperti

VC
nilai hambatan. Dimana X C sebagai R, sehingga X C = . Tetapi pada saat pengukuran, tidak
I
ada arus listrik yang melewati kapasitor tersebut sehingga nilai reaktansi yang dihasilkan tidak
terdefinisi (∞). Kemudian pada perhitungan kapasitas kapasitor pada rangkaian RC arus DC, nilai
kapasitas kapasitor sebesar 0F. Hal ini dikarenakan karakteristik dari kapasitor pada arus DC
adalah menahan arus tersebut.

B. Pertanyaan dan Jawaban


1) Bagaimana kuat arus listrik yang melewati kapasitor dan resistor pada rangkaian RC?

Jawaban: besar kuat arus yang melewati kapasitor dan resistor pada rangkaian RC adalah
konstan. Tetapi pada saat jenis sumber arus tersebut adalah arus AC, kuat arus yang
mengalir pada kumparan memiliki nilai. Sedangkan pada saat jenis sumber arus
tersebut adalah DC, kuat arus pada kumparan tidak memiliki nilai atau 0. Hal ini
disebabkan karena jika dialiri arus DC maka arus akan diserap oleh kapasitor sehingga
mencapai tegangan maksimum power supply (Full Charge), dan karena dihalangi oleh
lapisan isolasi yang bersifat non konduktif, arus DC tidak akan pernah tembus
mengalir pada kapasitor sehingga nilai arus yang melewati kapasitor 0. Dan ketika
kapasitor dialiri arus AC maka lapisan isolasi dapat ditembus oleh perubahan elektron
dari sinyal AC, sehingga terdapat nilai kuat arus yang melewati kapasitor.

2) Bagaimana kuat arus yang melewati kumparan dan resistor pada rangkaian RL?

Jawaban: kuat arus yang mengalir melewati kumparan memiliki nilai yang konstan. Fungsi
kumparan dalam sebuah rangkaian listrik digunakan untuk membantu arus

24
menghantarkan listrik. Sehingga jika pada arus AC dan DC arus yang melewati
induktor dapat diketahui besar nilainya.

3) Apa yang dimaksud dengan reaktansi induktif dan reaktansi kapasitif?

Jawaban: reaktansi induktif merupakan nilai hambatan yang disebabkan oleh adanya gaya gerak
listrik induksi dari suatu induktor yang di rangkai pada rangkaian listrik arus bolak-
balik. Sedangkan reaktansi kapasitif merupakan nilai hambatan yang timbul akibat
adanya suatu kapasitor pada rangkaian listrik arus bolak-balik.

4) Bagaimana cara mengukur reaktansi induktif dan reaktansi kapasitif?

Jawaban: reaktansi induktif dan kapasitif dapat dihitung dengan menggunakan persamaan
hukum ohm. Dimana hambatan (R) tersebut diubah dengan reaktansi.

 Reaktansi Induktif
V L=I X L (27)
VL
X L= (28)
I
 Reaktansi Kapasitif
V C =I X C (29)
VC
XC= (30)
I
5) Bagaimana cara mengukur besarnya induktasi induktor(L) dan kapasitas kapasitor (C)?

Jawaban:

 Untuk mengetahui nilai induktansi induktor dapat dilakukan dengan mengunakan


persamaan berikut :
X L =ωL=2 πfL (31)

XL
L= (32)
2 πf

Keterangan:

XL : Reaktansi induktif (Ω)

ω : Kecepatan sudut (rad/s)

L : Induktansi induktor (H)

f : Frekuensi (Hz)

25
 Untuk mengetahui nilai kapasitas kapasitor dapat dilakukan dengan menggunakan
persamaan berupa :

1 1
XC = = (33)
ωC 2 πfC
1
C= (34)
X C 2 πf

Keterangan:
XC : Reaktansi kapasitif (Ω)
ω : Kecepatan sudut (rad/s)
f : Frekuensi (Hz)
C : Kapasitas kapasitor (F)

6) Pada lampu neon terdapat komponen kapasitor yang berfungsi sebagai penghemat daya
listrik. Bagaimana sistem kerja dari kapasitor tersebut sehingga dapat menghemat
penggunaan daya listrik untuk menyalakan lampu neon?
Jawaban: pertama-tama kapasitor dipasang paralel dengan rangkaian beban. Bila rangkaian itu
diberi tegangan maka elektron akan mengalir masuk ke kapasitor. Pada saat kapasitor
penuh dengan muatan elektron maka tegangan akan berubah. Kemudian elektron akan
ke luar dari kapasitor dan mengalir ke dalam rangkaian yang memerlukannya, dengan
demikian pada saat itu kapasitor membangkitkan daya reaktif. Bila tegangan yang
berubah itu kembali normal maka kapasitor akan menyimpan kembali elektron. Pada
saat kapasitor mengeluarkan elektron berarti sama juga kapasitor menyuplai daya
reaktif ke beban. Karena beban bersifat induktif/+ sedangkan daya reaktif bersifat
kapasitif/- , akibatnya daya reaktif yang berlaku menjadi kecil. Intinya kapasitor dapat
mengurangi lonjakan/hentakan daya listrik, karena kapasitor dapat menyimpan suatu
daya listrik.

26
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan

Dari hasil percobaan yang sudah dilakukan dapat disimpulkan bahwa :

1. Nilai reaktansi induktif ( X L) pada arus AC dan DC memiliki nilai yang sebanding dengan
tegangan pada induktor
XL V L
2. Nilai reaktansi kapasitif ( X c) pada arus AC memiliki nilai yang sebanding dengan
tegangan pada kapasitor
XC V C
3. Nilai reaktansi kapasitif ( X c) pada arus DC memiliki nilai tak terdefinisi
X C =¿∞
4. Nilai induktansi induktor (L) pada arus AC memiliki nilai yang sebanding dengan
reaktansi induktif ( X L)
L XL
5. Nilai induktansi induktor (L) pada arus DC memiliki nilai tak terdefinisi
L=¿∞
6. Nilai kapasitas kapasitor (C) pada arus AC memiliki nilai berbanding terbalik dengan
reaktansi kapasitif ( X C )
1
C
XC
7. Nilai kapasitas kapasitor (C) pada arus DC tidak memiliki nilai
C=0
8. Proses kerja induktor pada arus AC dan DC adalah membantu arus menghantarkan listrik.
9. Proses kerja kapasitor pada arus AC adalah melewatkan arus listrik.
10. Proses kerja kapasitor pada arus DC adalah menghambat arus listrik.
B. Saran
1. Hendaknya pratikan memahami konsep percobaan yang akan dilakukan
2. Hendaknya praktikan lebih menguasai langkah-langkah percobaan dan materi yang diberi
3. Hendaknya praktikan lebih teliti dalam melakukan pengukuran dan perhitungan

27
DAFTAR PUSTAKA

Giancoli, Dougles. 2001. Fisika Edisi Kelima Jilid 2. Jakarta : Erlangga

Mikrajudi, Abdullah. 2016. Fisika Dasar 1I. Bandung: Institut Negeri Bogor

Tim Fisika Dasar.2018. Buku Panduan Praktikum Fisika Dasar 2. Surabaya: Universitas Negeri
Surabaya

28
LAMPIRAN

29

Anda mungkin juga menyukai