0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
140 tayangan10 halaman

Dasar-Dasar Komunikasi Terapeutik

Dokumen tersebut membahas tentang dasar-dasar komunikasi terapeutik dalam praktik keperawatan. Komunikasi terapeutik didefinisikan sebagai komunikasi interpersonal antara perawat dan pasien yang bertujuan untuk membantu mengatasi masalah pasien dan mencapai kesembuhan. Dokumen tersebut juga membahas tujuan, kegunaan, perbedaan dengan komunikasi sosial, dan faktor-faktor yang mempengaruhi komunikasi terapeutik.

Diunggah oleh

Asep Anggriawan
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
140 tayangan10 halaman

Dasar-Dasar Komunikasi Terapeutik

Dokumen tersebut membahas tentang dasar-dasar komunikasi terapeutik dalam praktik keperawatan. Komunikasi terapeutik didefinisikan sebagai komunikasi interpersonal antara perawat dan pasien yang bertujuan untuk membantu mengatasi masalah pasien dan mencapai kesembuhan. Dokumen tersebut juga membahas tujuan, kegunaan, perbedaan dengan komunikasi sosial, dan faktor-faktor yang mempengaruhi komunikasi terapeutik.

Diunggah oleh

Asep Anggriawan
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

TOPIK 2

DASAR-DASAR KOMUNIKASI TERAPEUTIK

TUJUAN PEMBELAJARAN
Setelah menyelesaikan Topik 2, diharapkan Anda mampu menganalisis masalah dengan dasar-
dasar komunikasi terapeutik secara akurat dalam praktik keperawatan. Setelah menyelesaikan
Topik 2, diharapkan Anda dapat:
1. Mendefinisikan komunikasi terapeutik,
2. Mengidentifikasi tujuan komunikasi terapeutik,
3. Menjelaskan kegunaan komunikasi terapeutik,
4. Memahami komunikasi sebagai elemen terapi,
5. Mengidentifikasi perbedaan komunikasi terapeutik dengan komunikasi sosial,
6. Menjelaskan faktor-faktor yang memengaruhi komunikasi terapeutik,
7. Menganalisis penggunaan diri secara terapeutik dan analisis diri perawat

URAIAN MATERI
1. Definisi Komunikasi Terapeutik
Hubungan terapeutik antara perawat klien adalah hubungan kerja sama yang ditandai
dengan tukar-menukar perilaku, perasaan, pikiran, dan pengalaman ketika membina hubungan
intim yang terapeutik (Stuart dan Sunden, 1987: 103), Indrawati (2003) mengatakan bahwa
komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang direncanakan secara sadar, bertujuan, dan
kegiatannya dipusatkan untuk kesembuhan pasien. Komunikasi terapeutik merupakan
komunikasi interpersonal dengan fokus adanya saling pengertian antarperawat dengan pasien.
Komunikasi ini adalah adanya saling membutuhkan antara perawat dan pasien sehingga dapat
dikategorikan dalam komunikasi pribadi antara perawat dan pasien, perawat membantu dan
pasien menerima bantuan (Indrawati, 2003).
Berdasarkan paparan tersebut, secara ringkas definisi komunikasi terapeutik sebagai
berikut.
Komunikasi terapeutik adalah komunikasi interpersonal antara perawat dan klien yang
dilakukan secara sadar ketika perawat dan klien saling memengaruhi dan memperoleh
pengalaman bersama yang bertujuan untuk membantu mengatasi masalah klien serta
memperbaiki pengalaman emosional klien yang pada akhirnya mencapai kesembuhan
klien.
2. Tujuan Komunikasi Terapeutik
Berdasarkan definisi komunikasi terapeutik, berikut ini tujuan dari komunikasi
terapeutik.
a. Membantu mengatasi masalah klien untuk mengurangi beban perasaan dan pikiran.
b. Membantu mengambil tindakan yang efektif untuk klien/pasien.
c. Memperbaiki pengalaman emosional klien.
d. Mencapai tingkat kesembuhan yang diharapkan.
Kualitas asuhan keperawatan yang diberikan kepada klien sangat dipengaruhi oleh
kualitas hubungan perawat-klien. Apabila perawat tidak memperhatikan hal ini, hubungan
perawat-klien tersebut bukanlah hubungan yang memberikan dampak terapeutik yang
mempercepat kesembuhan klien, tetapi hubungan sosial biasa.

3. Kegunaan Komunikasi Terapeutik


a. Merupakan sarana terbina hubungan yang baik antara pasien dan tenaga kesehatan.
b. Mengetahui perubahan perilaku yang terjadi pada individu atau pasien.
c. Mengetahui keberhasilan tindakan kesehatan yang telah dilakukan.
d. Sebagai tolok ukur kepuasan pasien.
e. Sebagai tolok ukur komplain tindakan dan rehabilitasi.

4. Komunikasi sebagai Elemen Terapi


Apakah Anda mengetahui bahwa komunikasi yang kita lakukan sebagai perawat dapat
memberikan efek terapi (efek penyembuhan) bagi klien?
Komunikasi sebagai elemen terapi mempunyai makna bahwa komunikasi yang
dilakukan oleh perawat adalah mempunyai tujuan terapi atau memberikan efek penyembuhan
buat klien. Komunikasi adalah salah satu alat yang paling esensial bagi perawat. Dengan
komunikasi (verbal ataupun nonverbal), perawat dapat memberikan kesembuhan buat klien.
Senyum perawat, kesabaran, kelembutan, kata-kata yang tegas dan menyejukkan atau kata-
kata yang disampaikan dengan jelas dapat mempengaruhi perilaku klien untuk berbuat lebih
baik dalam rangka meningkatkan derajat kesehatannya.
Pernahkah Anda melihat seorang perawat jiwa melakukan komunikasi dengan pasien
untuk mengubah atau memperbaiki perilakunya yang menyimpang? Lakukanlah pengamatan
pada perawat jiwa yang sedang berinteraksi dengan pasien!
Komunikasi sebagai elemen terapi sangat nyata sekali dilakukan dalam perawatan pada
pasien yang mengalami masalah psikososial atau mengalami gangguan jiwa. Untuk
mengubah dan membantu proses adaptasi pasien gangguan jiwa, satu-satunya alat kerja
yang efektif untuk mencapai kesembuhan pasien adalah komunikasi yang dilakukan
perawat. Komunikasi yang dilakukan perawat, baik verbal maupun nonverbal, dapat
memberikan kesembuhan buat klien.

5. Perbedaan Komunikasi Terapeutik dan Komunikasi Sosial


Komunikasi terapeutik berbeda secara spesifik dengan komunikasi sosial. Komunikasi
terapeutik dalam konteks hubungan saling membantu (the helping relationship) menurut
Taylor, Lillis, dan LeMone (1989) adalah hubungan saling membantu antara perawat-klien
yang berfokus pada hubungan untuk memberikan bantuan yang dilakukan oleh perawat kepada
klien yang membutuhkan pencapaian tujuan. Dalam hubungan saling membantu ini, perawat
berperan sebagai orang yang membantu dan klien adalah orang yang dibantu, sedangkan sifat
hubungan adalah hubungan timbal balik dalam rangka mencapai tujuan klien.
Tujuan hubungan saling membantu (helping relationship), menurut Taylor, Lillis, dan
LeMone (1989), adalah memenuhi kebutuhan klien dan meningkatkan kemandirian, perasaan
berharga, dan kesejahteraan. Sementara itu, Stuart dan Laraia (1998) mengidentifikasi tujuan
helping relationship sebagai berikut
a. Memperoleh realisasi diri (self realization), penerimaan diri (self acceptance), dan
meningkatkan tanggung jawab diri (self respect).
b. Memperjelas identitas personal (personal identity) dan meningkatkan integritas personal
(personal integration).
c. Meningkatkan keintiman (intimate), saling ketergantungan (interdependent), serta
hubungan interpersonal (interpersonal relationship) dengan kemampuan memberi dan
menerima penuh kasih sayang.
d. Meningkatkan fungsi kehidupan dan kepuasan serta pencapaian tujuan personal secara
realistis.
Dengan demikian, dapat dijelaskan bahwa hubungan terapeutik berbeda dengan
hubungan sosial. Komunikasi terapeutik juga berbeda dengan komunikasi sosial. Tabel di
bawah ini menjelaskan perbedaan tersebut.
Perbedaan Hubungan Terapeutik dan Hubungan Sosial (Stuart &dan Laraia, 1998)
Hubungan Terapeutik Hubungan Sosial
1. Terjadi untuk tujuan yang spesifik. 1. Terjadi secara spontan/tidak
2. Orang terlibat jelas spesifik direncanakan secara spesifik.
(perawat/terapis dan klien). 2. Orang yang terlibat bebas.
3. Perawat-klien memberikan informasi yang 3. Informasi yang disampaikan hampir
berbeda. sama antara pihak-pihak yang terlibat.
4. Dibangun atas dasar untuk memenuhi 4. Dibangun atas dasar kebutuhan
kebutuhan klien. bersama (semua pihak yang terlibat).

6. Faktor-faktor yang Memengaruhi Komunikasi Terapeutik


Berhasilnya pencapaian tujuan dari suatu komunikasi sangat tergantung dari faktor-
faktor memengaruhi sebagai berikut.
a. Spesifikasi tujuan komunikasi
Komunikasi akan berhasil jika tujuan telah direncanakan dengan jelas. Misalnya,
tujuan komunikasi adalah mengubah perilaku klien, maka komunikasi diarahkan untuk
mengubah perilaku dari yang malaadaptif ke adaptif.
b. Lingkungan nyaman
Maksud lingkungan nyaman adalah lingkungan yang kondusif untuk terjalinnya
hubungan dan komunikasi antara pihak-pihak yang terlibat. Lingkungan yang tenang/tidak
gaduh atau lingkungan yang sejuk/tidak panas adalah lingkungan yang nyaman untuk
berkomunikasi. Lingkungan yang dapat melindungi privasi akan memungkinkan
komunikan dan komunikator saling terbuka dan bebas untuk mencapai tujuan.
c. Privasi (terpeliharanya privasi kedua belah pihak)
Kemampuan komunikator dan komunikan untuk menyimpan privasi masingmasing
lawan bicara serta dapat menumbuhkan hubungan saling percaya yang menjadi kunci
efektivitas komunikasi.
d. Percaya diri
Kepercayaan diri masing-masing komunikator dan komunikan dalam komunikasi
dapat menstimulasi keberanian untuk menyampaikan pendapat sehingga komunikasi
efektif.
e. Berfokus kepada klien
Komunikasi terapeutik dapat mencapai tujuan jika komunikasi diarahkan dan
berfokus pada apa yang dibutuhkan klien. Segala upaya yang dilakukan perawat adalah
memenuhi kebutuhan klien.
f. Stimulus yang optimal
Stimulus yang optimal adalah penggunaan dan pemilihan komunikasi yang tepat
sebagai stimulus untuk tercapainya komunikasi terapeutik.
g. Mempertahankan jarak personal
Jarak komunikasi yang nyaman untuk terjalinnya komunikasi yang efektif harus
diperhatikan perawat. Jarak untuk terjalinnya komunikasi terapeutik adalah satu lengan (±
40 cm). Jarak komunikasi ini berbeda-beda tergantung pada keyakinan (agama), budaya,
dan strata sosial.

7. Penggunaan Diri secara Terapeutik dan Analisis diri Perawat


Dalam melaksanakan asuhan keperawatan, diri perawat adalah alat yang terapeutik untuk
penyembuhan klien. Sebagai alat, perawat harus mampu menggunakan dirinya secara
terapeutik. Cara menggunakan diri secara terapeutik (bagi perawat), yaitu mengembangkan
kesadaran diri (developing self awareness), mengembangkan kepercayaan (developing trust),
menghindari pengulangan (avoiding stereotypes), dan tidak menghakimi (becoming
nonjudgmental) (Chitty, 1997).
Sebagai seorang perawat, Anda harus selalu meningkatkan kualitas diri supaya terapeutik
untuk diri sendiri dan orang lain dengan menganalisis diri. Cara melakukan analisis diri adalah
melakukan evaluasi kesadaran diri (self awareness) dan pengungkapan diri, mengklarifikasi
nilai, mengeksplorasi perasaan, perawat sebagai role model, mengutamakan kepentingan orang
lain, bersikap etis, dan bertanggung jawab. Berikut uraian masing-masing cara menganalisis
diri perawat.

a. Kesadaran diri (self awareness) dan pengungkapan diri


Cara meningkatkan kesadaran diri dapat menggunakan johary window yang terdiri atas
empat kuadran dan menggambarkan kualitas diri seperti pada Gambar 1.3. Ada dua aspek self
yang harus dilakukan perawat, yaitu kesadaran diri dan pengungkapan diri.
Perawat dapat menggunakan joharry window untuk meningkatkan kesadaran diri mereka
seperti pada Gambar 1.3 berikut.
1) Quadrant I disebut daerah terbuka (diketahui oleh diri sendiri dan orang lain)
Daerah ini berisikan semua informasi diri kita, perilaku, sikap, perbuatan, keinginan,
motivasi, gagasan, dan lain-lain yang diketahui oleh diri sendiri ataupun orang lain.
Besarnya daerah terbuka berbeda-beda untuk tiap-tiap orang. Semakin luas daerah terbuka
semakin tinggi kesadaran diri kita dan berarti semakin baik komunikasi kita. Sebaliknya,
semakin sempit daerah terbuka semakin rendah kesadaran diri kita dan berarti semakin
buruk komunikasi kita.

2) Quadrant II disebut daerah buta (hanya diketahui oleh orang lain)


Daerah ini berisikan semua informasi diri kita, perilaku, sikap, perbuatan, keinginan,
motivasi, gagasan, dan lain-lain yang hanya diketahui orang lain dan kita sendiri tidak
mengetahuinya. Bentuk perilaku dalam diagram ini sebagian besar adalah perilaku yang
tidak kita sadari atau pengalaman terpendam yang muncul dan teramati oleh orang lain.
Setiap orang harus berusaha mengurangi daerah buta ini supaya dapat memperluas
kesadaran dirinya dan supaya komunikasinya baik.

3) Quadrant III disebut daerah tertutup/rahasia (hanya diketahui oleh diri sendiri)
Daerah ini berisikan semua informasi diri kita, perilaku, sikap, perbuatan, keinginan,
motivasi, gagasan, dan lain-lain yang hanya diketahui kita sendiri, sedangkan orang lain
tidak mengetahuinya. Individu cenderung menyimpan atau merahasiakan segala sesuatu
yang ada pada dirinya dan tidak terbuka pada orang lain. Mereka terlalu tertutup dan tidak
mengomunikasikan apa yang dia ketahui kepada orang lain.
4) Quadrant IV disebut daerah gelap/tidak dikenal (tidak diketahui, baik oleh diri maupun
orang lain).
Daerah ini berisikan hal-hal yang tidak diketahui, baik oleh diri sendiri maupun orang lain.
Daerah gelap ini bisa kita buka dengan cara mengenal dan mengamati apa yang ada pada
diri dan sekitar kita, melalui interaksi terbuka, jujur, empati, dan saling percaya. Kita harus
mempelajari halhal yang belum kita ketahui ataupun belum diketahui oleh orang lain.

DeVito (1997) menjelaskan bahwa untuk meningkat kesadaran diri dapat dilakukan
dengan cara berikut.
a) Dialog dengan diri sendiri, melakukan komunikasi intrapersonal dengan diri sendiri untuk
mengenal aspek-aspek diri.
b) Mendengarkan pendapat orang lain tentang diri kita.
c) Mengurangi daerah buta dengan terus belajar dari lingkungan sekitar kita.
d) Amatilah diri Anda dari pandangan yang berbeda/dari sumber yang berbeda.
e) Memperluas daerah terbuka dengan terus-menerus menjalin komunikasi dan interaksi
dengan orang lain.

Selain menggunakan joharry window untuk meningkatkan kesadaran diri, DeVito (1998)
menjelaskan bahwa perawat juga dapat melakukan pengungkapan dirinya. Dengan cara ini,
perawat dilatih untuk jujur dalam mengungkapkan siapa dirinya.
Berikut cara pengungkapan diri yang dapat dilakukan oleh perawat.
a) Ungkapan informasi tentang diri kita sendiri yang biasa kita sembunyikan.
b) Ungkapan hal-hal yang menyangkut diri kita yang tidak disadari.
c) Ungkapan hal-hal yang sebelumnya tidak diketahui orang lain.
d) Ungkapan informasi tentang diri kita: pikiran, perasaan, dan perilaku.
e) Ungkapan informasi yang biasa dan secara aktif disembunyikan.
f) Libatkan minimal satu orang untuk lebih banyak mengungkapkan diri kita (perawat), baik
tentang kebaikan, kejelekan, kelebihan, maupun kekurangan.

b. Klarifikasi nilai (clarification of value )


Perawat melakukan klarifikasi terhadap nilai-nilai yang diyakini yang mendasari sikap
dan tingkah lakunya, misalnya nilai kebersamaan, kekeluargaan, religi, kebersihan, keindahan,
dan lain-lain.
Tugas
1) Lakukan identifikasi nilai-nilai yang Anda yakini yang membentuk sikap dan sebagai
dasar tingkah laku anda saat ini.
2) Lakukanlah klarifikasi terhadap nilai-nilai tersebut, apakah ada yang bertentangan
dengan kesehatan.

c. Eksplorasi perasaan (feeling exploration)


Perawat harus mampu mengekspresikan perasaan secara jujur. Hal ini penting dalam
rangka meningkatkan kesadaran kita terhadap perasaan yang disadari atau tidak yang dapat
berpengaruh terhadap keberhasilan hubungan dengan klien.
Tugas
1) Identifikasi perasan positif atau negatif.
2) Berikan penguatan pada perasaan yang positif dan gunakan secara efektif.
3) Pikirkan bagaimana cara mengeliminasi perasaan negatif.

d. Perawat sebagai model peran (nurses as role model)


Perawat sebagai role model maksudnya adalah perawat harus menjadi contoh yang baik
bagi klien. Perawat dengan nilai-nilai yang dimilikinya harus bersikap dan bertingkah laku
yang dapat dicontoh secara baik oleh klien. Peran ini harus disadari oleh perawat sehingga
perawat harus selalu mengontrol perilakunya.

e. Berorientasi untuk kepentingan orang lain (altruism)


Perawat harus berorientasi untuk kepentingan orang lain, bukan dirinya sendiri. Perawat
dapat meningkatkan kesadaran diri secara terus-menerus untuk menyelami masalah klien dan
berpikir untuk selalu berbuat baik kepada klien. Segala aktivitas yang dilakukan perawat adalah
kepentingan kesembuhan klien atau mencapai tujuan yang diinginkan klien.

f. Ethic dan responsibility


Perawat harus mengedepankan nilai-nilai dan etika yang disadarinya serta menunjukkan
tanggung jawab yang tinggi.

RANGKUMAN
1) Komunikasi terapeutik adalah komunikasi interpersonal antara perawat dan klien yang
dilakukan secara sadar ketika perawat dan klien saling memengaruhi dan memperoleh
pengalaman bersama yang bertujuan untuk membantu mengatasi masalah klien serta
memperbaiki pengalaman emosional klien yang pada akhirnya untuk mencapai
kesembuhan klien.
2) Tujuan komunikasi terapeutik sebagai berikut.
a) Membantu mengatasi masalah klien untuk mengurangi beban perasaan dan pikiran.
b) Membantu mengambil tindakan yang efektif untuk klien/pasien.
c) Memperbaiki pengalaman emosional klien.
d) Mencapai tingkat kesembuhan yang diharapkan.
3) Kegunaan komunikasi terapeutik sebagai berikut.
a) Merupakan sarana terbina hubungan yang baik antara pasien dan tenaga kesehatan.
b) Mengetahui perubahan perilaku yang terjadi pada individu atau pasien.
c) Mengetahui keberhasilan tindakan kesehatan yang telah dilakukan.
d) Sebagai tolok ukur kepuasan pasien.
e) Sebagai tolok ukur komplain tindakan dan rehabilitasi.
4) Komunikasi sebagai elemen terapi mempunyai makna bahwa komunikasi yang
dilakukan oleh perawat adalah mempunyai tujuan terapi atau memberikan efek
penyembuhan buat klien. Dengan komunikasi (verbal maupun nonverbal), perawat dapat
memberikan kesembuhan buat klien.
5) Perbedaan komunikasi terapeutik dengan komunikasi sosial Komunikasi terapeutik
adalah komunikasi yang mempunyai tujuan spesifik, dilakukan berdasarkan rencana
secara spesifik, dilakukan oleh orang-orang yang spesifik, terjadi sharing informasi yang
berbeda dan dibangun atas dasar untuk memenuhi kebutuhan klien. Komunikasi sosial
adalah komunikasi yang dilakukan untuk tujuan yang bersifat umum, tidak direncanakan
secara spesifik (terjadi secara spontan), dilakukan oleh siapa saja (masyarakat umum)
yang mempunyai minat yang sama, informasi yang disampaikan hampir sama antara
pihak-pihak yang terlibat, serta dibangun atas dasar kebutuhan bersama semua pihak
yang terlibat komunikasi.
6) Faktor-faktor yang memengaruhi komunikasi terapeutik adalah spesifikasi tujuan
komunikasi, lingkungan nyaman, privasi (terpeliharanya privasi kedua belah pihak),
percaya diri, berfokus kepada klien, stimulus yang optimal, dan mempertahankan jarak
personal.
7) Cara menggunakan diri secara terapeutik (bagi perawat), yaitu mengembangkan
kesadaran diri (developing self awareness), mengembangkan kepercayaan (developing
trust), menghindari pengulangan (avoiding stereotypes), dan tidak menghakimi
(becoming nonjudgmental); sedangkan cara melakukan analisis diri adalah melakukan
evaluasi kesadaran diri (self awareness) dan pengungkapan diri, mengklarifikasi nilai,
eksplorasi perasaan, perawat sebagai role model, mengutamakan kepentingan orang lain,
bersikap etis, dan bertanggung jawab.

TUGAS/LATIHAN
Untuk memperdalam pemahaman Anda mengenai materi pada Topik 2, kerjakan latihan
berikut!
1. Jelaskan apa yang dimaksud komunikasi terapeutik!
2. Sebutkan empat tujuan komunikasi terapeutik!
3. Sebutkan lima kegunaan komunikasi terapeutik!
4. Jelaskan apa yang dimaksud komunikasi sebagai elemen terapi!
5. Sebutkan minimal tiga perbedaan komunikasi terapeutik dengan komunikasi sosial!
6. Jelaskan faktor-faktor yang memengaruhi komunikasi terapeutik!
7. Bagaimana cara menggunakan diri secara terapeutik?

DAFTAR PUSTAKA
Anjaswari, T. (n.d). Modul Bahan Ajar Cetak Keperawatan: Komunikasi dalam Keperawatan.
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia.
Muhith, A., & Siyoto, S. (2018) Aplikasi Komunikasi Terapeutik Nursing & Health. Penerbit
Andi : Jakarta
Stuart, G.W. (2017). Principles and practice of psychiatric nursing. St. Louis: Mosby Year
Book

Common questions

Didukung oleh AI

Faktor-faktor yang mempengaruhi efektivitas komunikasi terapeutik mencakup spesifikasi tujuan komunikasi, lingkungan yang nyaman, terpeliharanya privasi, kepercayaan diri, fokus pada kebutuhan klien, penggunaan stimulus yang optimal, dan mempertahankan jarak personal yang tepat .

Untuk mengoptimalkan peran komunikasi dalam meningkatkan proses adaptasi pasien dengan gangguan jiwa, perawat dapat menggunakan komunikasi verbal dan nonverbal secara efektif untuk mempengaruhi perilaku positif pasien, menciptakan lingkungan yang mendukung privasi dan kenyamanan, serta membangun kepercayaan melalui konsistensi dan empati. Pendekatan ini harus dirancang untuk memenuhi kebutuhan khusus pasien dan membantu proses adaptasi mereka dalam situasi yang menantang .

Perawat dapat menggunakan komunikasi sebagai elemen terapi dengan memberikan interaksi yang memiliki tujuan penyembuhan, baik melalui komunikasi verbal maupun nonverbal. Hal-hal kecil seperti senyum, kesabaran, atau kata-kata menyejukkan dapat mempengaruhi perilaku klien untuk meningkatkan kesehatannya. Dalam konteks pasien dengan masalah psikososial atau gangguan jiwa, komunikasi yang efektif bisa menjadi alat yang paling berharga dalam membantu proses adaptasi .

Pengembangan kesadaran diri penting bagi perawat karena memungkinkan perawat untuk berkomunikasi secara lebih efektif dan terapeutik. Dengan memahami diri sendiri, perilaku, dan sikap mereka, perawat dapat menghindari stereotip, bertindak nonjudgmental, dan membangun hubungan saling percaya dengan klien, yang merupakan intisari komunikasi terapeutik yang efektif .

Komunikasi terapeutik memiliki tujuan spesifik dan dilakukan berdasarkan rencana yang jelas dengan orang-orang yang terlibat secara khusus (seperti perawat dan klien) untuk memenuhi kebutuhan klien. Sebaliknya, komunikasi sosial terjadi secara spontan, tidak direncanakan, dilakukan oleh siapa saja, dan didasarkan pada kebutuhan bersama. Perawat-klien dalam komunikasi terapeutik berbagi informasi yang berbeda, sedangkan dalam komunikasi sosial informasi yang disampaikan hampir sama antara pihak yang terlibat .

Perawat dapat menggunakan diri mereka secara terapeutik dengan mengembangkan kesadaran diri dan kepercayaan, menghindari pengulangan stereotip, dan bersikap nonjudgmental. Mereka harus terus menganalisis diri dengan klarifikasi nilai, eksplorasi perasaan, dan memposisikan diri sebagai contoh yang baik bagi klien, serta mengutamakan kepentingan orang lain dan berorientasi pada etika dan tanggung jawab .

Cara meningkatkan kesadaran diri menurut konsep johari window meliputi memperluas Quadrant I (daerah terbuka) dengan meningkatkan informasi yang diketahui oleh diri sendiri dan orang lain, serta mengurangi Quadrant II (daerah buta) dan Quadrant III (daerah tertutup) dengan mendengarkan pendapat orang lain dan terbuka dalam komunikasi. Pada Quadrant IV (daerah gelap), individu harus belajar mengenai diri dan lingkungannya melalui interaksi terbuka, jujur, dan empati .

Privasi penting dalam komunikasi terapeutik karena dapat menumbuhkan hubungan saling percaya antara komunikator dan komunikan, yang merupakan kunci efektivitas komunikasi. Ketika privasi terjaga, kedua belah pihak dapat saling terbuka dan bebas dalam mencapai tujuan komunikasi .

Komunikasi terapeutik berguna sebagai sarana membina hubungan baik antara pasien dan tenaga kesehatan, mengetahui perubahan perilaku individu atau pasien, mengukur keberhasilan tindakan kesehatan dan kepuasan pasien, serta sebagai tolok ukur komplain tindakan dan rehabilitasi .

Tujuan dari komunikasi terapeutik dalam keperawatan meliputi membantu mengatasi masalah klien untuk mengurangi beban perasaan dan pikiran, membantu mengambil tindakan yang efektif untuk klien, memperbaiki pengalaman emosional klien, dan mencapai tingkat kesembuhan yang diharapkan .

Anda mungkin juga menyukai