Laporan Keperawatan Asma Anak
Laporan Keperawatan Asma Anak
Disusun Oleh :
Helmi (20140011007)
Dosen Pembimbing :
Ns. Citra Suraya , [Link], [Link], [Link]
A. DEFINISI
Asma adalah suatu penyakit dengan ciri meningkatnya respon trakhea dan bronkhus
terhadap berbagai rangsangan dengan manifestasi adanya penyempitan jalan nafas yang luas
dan derajatnya dapat berubahubah secara spontan maupun sebagai hasil pengobatan
(Muttaqien, 2018).
Asma adalah suatu keadaan dimana saluran nafas mengalami penyempitan karena
hiperaktivitas pada rangsangan tertentu, yang mengakibatkan peradangan, penyempitan ini
bersifat sementara (Wahid & Suprapto, 2013).
Asma merupakan salah satu penyakit saluran pernafasan yang banyak dijumpai pada
anak-anak maupun dewasa. Menurut global initiative for asthma (GINA) tahun 2015, asma
didefinisikan sebagai “ suatu penyakit yang heterogen, yang dikarakteristik oleh adanya
inflamasi kronis pada saluran pernafasan. Hal ini ditentukan oleh adanya riwayat gejala
gangguan pernafasan seperti mengi, nafas terengahengah, dada terasa berat/tertekan, dan
batuk, yang bervariasi waktu dan intensitasnya, diikuti dengan keterbatasan aliran udara
ekspirasi yang bervariasi”, (Kementrian Kesehatan RI, 2017).
a. Organ Pernafasan
Menurut Andarmoyo (2012) Anatomi Fisiologi Pernafasan dibagi atas beberapa
bagian, antara lain :
1. Hidung = Naso =Nasal Merupakan saluran udara yang pertama, mempunyai dua
lubang yang disebut kavum nasi dan dipisahkan oleh sekat hidung yang disebut
septum nasi. Didalamnya terdapat bulu-bulu hidung yang berfungsi untuk
menyaring udara, debu dan kotoran yang masuk didalam lubang hidung. Fungsi
hidung, terdiri dari: a. Sebagai saluran pernafasan b. Sebagai penyaring udara yang
dialakukan oleh bulu-bulu hidung c. Menghangatkan udara pernafasan melalui
mukosa d. Membunuh kuman yang masuk melalui leukosit yang ada dalam selaput
lendir mukosa hidung.
2. Tekak = Faring Merupakan tempat persimpangan antara jalan pernafasan dan jalan
makanan. Terdapat di bawah dasar tulang tengkorak, dibelakang rongga hidung dan
mulut sebelah dalam ruas tulang leher. Hubungan faring dengan organ-organ lain;
ke atas berhubungan dengan rongga hidung, ke depan berhubungan dengan rongga
mulut, ke bawah depan berhubungan dengan laring, dan ke bawah belakang
berhubungan dengan esophagus. Rongga tekak dibagi dalam tiga bagian :
a) Bagian sebelah atas sama tingginya dengan koana disebut nasofaring.
b) Bagian tengah yang sama tingginya dengan itsmus fausium disebut dengan
orofaring
c) Bagian bawah sekali dinamakan laringofarin mengelilingi mulut, esofagus, dan
laring yang merupakan gerbang untuk sistem respiratorik.
3. Pangkal Tenggorokan (Faring) Merupakan saluran udara dan bertindak sebagai
pembentukan suara. Laring (kontak suara) menghubungkan faring dengan trakea.
Pada tenggorokan ini ada epiglotis yaitu katup kartilago tiroid. Saat menelanm
epiglotis secara otomatis menutupi mulut laring untuk mencegah masuknya
makanan dan cairan.
4. Batang Tenggorokan (Trakea) Trakea (pipa udara) adalah tuba dengan panjang 10
cm sampai 12 cm dan diameter 2,5 cm serta terletak di atas permukaan anterior
esofagus yang memisahkan trakhea menjadi bronkhus kiri dan kanan. Trakea
dilapisi epitelium fespiratorik (kolumnar bertingkat dan bersilia) yang mengandung
banyak sel goblet. Sel-sel bersilia ini berfungsi untuk mengelurkan benda-benda
asing yang masuk bersam-sama dengan udara saat bernafas.
5. Cabang Tenggorokan (Bronkhus) Merupakan kelanjutan dari trakhea, yang terdiri
dari dua bagian bronkhus kana dan kiri. Bronkus kanan berukuran lebih pendek,
lebih tebal, dan lebih lurus dibandingkan bronkus primer sehingga memungkinkan
objek asing yang masuk ke dalam trakea akan ditempatkan dalam bronkus kanan.
Sedangkan bronkus kiri lebih panjang dan lebih ramping, bronkus bercabang lagi
menjadi bagianbagian yang lebih kecil lagi yang disebut bronkhiolus (bronkhioli).
6. Paru-paru Paru-paru merupan sebuah alat tubuh yang sebagian besar terdiri dari
gelembung-gelembung (gelembung hawa = alveoli). Pembagian paru-paru :
a) Paru kanan: terdiri dari 3 lobus, lobus pulmo dekstra superior, lobus media dan
lobus inferior. Masing-masing lobus ini masih terbagi lagi menjadi belahan-
belahan kecil yang disebut segtment. Paru-paru kanan memiliki 10 segment, 5
buah pada lobus superior, 2 buah pada lobus medialis, dan 3 buah pada lobus
inferior.
b) Paru kiri: terdiri atas 2 lobus, lobus pulmo sinistra superior, dan lobus inferior.
Paru-paru kiri memiliki 10 segment, 5 buah pada lobus superior, dan 5 buah
pada lobus inferior.
C. ETIOLOGI
Sampai saat ini etiologi dari Asma Bronkhial belum diketahui. Suatu hal yang
yang menonjol pada penderita Asma adalah fenomena hiperaktivitas bronkus. Bronkus
penderita asma sangat peka terhadap rangsangan imunologi maupun non imunologi.
Adapun rangsangan atau faktor pencetus yang sering menimbulkan Asma adalah:
1. Faktor ekstrinsik (alergik) : reaksi alergik yang disebabkan oleh alergen atau alergen
yang dikenal seperti debu, serbuk-serbuk, bulubulu binatang.
2. Faktor intrinsik(non-alergik) : tidak berhubungan dengan alergen, seperti common
cold, infeksi traktus respiratorius, latihan, emosi, dan polutan lingkungan dapat
mencetuskan serangan.
3. Asma gabungan Bentuk asma yang paling umum. Asma ini mempunyai karakteristik
dari bentuk alergik dan non-alergik. Ada beberapa hal yang merupakan faktor
predisposisi dan presipitasi timbulnya serangan Asma Bronkhial yaitu :
a) Faktor predisposisi
Genetik Faktor yang diturunkan adalah bakat alerginya, meskipun belum
diketahui bagaimana cara penurunannya yang jelas. Penderita dengan penyakit
alergi biasanya mempunyai keluarga dekat juga menderita penyakit alergi.
Karena adanya bakat alergi ini, penderita sangat mudah terkena penyakit Asma
Bronkhial jika terpapar dengan faktor pencetus. Selain itu hipersensitivitas
saluran pernapasannya juga bisa diturunkan.
b) Faktor presipitasi
1) Alergen Dimana alergen dapat dibagi menjadi 3 jenis, yaitu :
(a) Inhalan : yang masuk melalui saluran pernapasan Contoh : debu, bulu
binatang, serbuk bunga, spora jamur, bakteri dan polusi
(b) Ingestan : yang masuk melalui mulut Contoh : makanan dan obat-obatan
(c) Kontaktan : yang masuk melalui kontak dengan kulit Contoh :
perhiasan, logam dan jam tangan.
2) Perubahan cuaca Cuaca lembab dan hawa pegunungan yang dingin sering
mempengaruhi Asma. Atmosfir yang mendadak dingin merupakan faktor
pemicu terjadinya serangan Asma. Kadangkadang serangan berhubungan
dengan musim, seperti musim hujan, musim kemarau.
3) Stres Stres atau gangguan emosi dapat menjadi pencetus serangan Asma,
selain itu juga bisa memperberat serangan Asma yang sudah ada. Disamping
gejala Asma yang timbul harus segera diobati penderita Asma yang
mengalami stres atau gangguan emosi perlu diberi nasehat untuk
menyelesaikan masalah pribadinya. Karena jika stresnya belum diatasi maka
gejala belum bisa diobati.
4) Lingkungan kerja Mempunyai hubungan langsung dengan sebab terjadinya
serangan Asma. Hal ini berkaitan dengan dimana dia bekerja. Misalnya
orang yang bekerja di laboratorium hewan, industri tekstil, pabrik asbes,
polisi lalu lintas. Gejala ini membaik pada waktu libur atau cuti.
5) Olah raga atau aktifitas jasmani Sebagian besar penderita Asma akan
mendapat serangan jika melakukan aktifitas jasmani atau olah raga yang
berat. Lari cepat paling mudah menimbulkan serangan Asma. Serangan
asma karena aktifitas biasanya terjadi segera setelah selesai aktifitas
tersebut.
E. KOMPLIKASI
Bila serangan asma sering terjadi dan telah berlangsung lama, maka akan terjadi
emfisema dan mengakibatkan perubahan bentuk toraks, yaitu toraks menbungkuk ke
depan dan memanjang. Pada foto rontgen toraks terlihat diafragma letaknya rendah,
gambaran jantung menyempit, corakan hilus kiri dan kanan bertambah. Pada asma kronik
dan berat dapat terjadi bentuk dada burung dara dan tampak sulkus Harrison. Bila sekret
banyak dan kental, salah satu bronkus dapat tersumbat sehingga dapat terjadi atelektasis
pada lobus.
Segmen yang sesuai. Mediastinum tertarik ke arah atelektasis. Bila atelektasis
berlangsung lama dapat berubah menjadi bronkietasis, dan bila ada infeksi akan terjadi
bronkopneumonia. Serangan asma yang terus menerus dan berlangsung beberapa hari
serta berat dan tidak dapat diatasi dengan obat-obat yang biasa disebut status asmatikus.
Bila tidak ditolong dengan semestinya dapat menyebabkan kematian, kegagalan
pernafasan dan kegagalan jantung. Komplikasi menurut Wijaya & Putri (2014) yaitu :
1. Pneumothorak
2. Pneumomediastium dan emfisema sub kutis
3. Atelektasis
4. Aspirasi
5. Kegagalan jantung/ gangguan irama jantung
6. Sumbatan saluran nafas yang meluas / gagal nafas Asidosis
F. PATOFISIOLOGI
Pada dua dekade yang lalu, penyakit asma dianggap merupakan penyakit yang
disebabkan karena adanya penyempitan bronkus saja, sehingga terapi utama pada saat itu
adalah suatu bronkodilator, seperti betaegonis dan golongan metil ksantin saja. Namun,
para ahli mengemukakan konsep baru ayng kemudian digunakan hingga kini, yaitu
bahwa asma merupakan penyakit inflamasi pada saluran pernafasan, yang ditandai
dengan bronkokonstriksi, inflamasi, dan respon yang berlebihan terhadap rangsangan
(hyperresponsiveness). Selain itu juga terdapat penghambatan terhadap aliran udara dan
penurunan kecepatan aliran udara akibat penyempitan bronkus.
Akibatnya terjadi hiperinflasi distal, perubahan mekanis paruparu, dan
meningkatnya kesulitan bernafasan. Selain itu juga dapat terjadipeningkatan sekresi
mukus yang berlebihan (Zullies, 2016). Secara klasik, asma dibagidalam dua kategori
berdasarkan faktor pemicunya, yaitu asma ekstrinsik atau alergi dan asma intrinsik atau
idiosinkratik. Asma ekstrinsik mengacu pada asma yang disebabkan karena menghirup
alergen, yang biasanya terjadi pada anak-anak yang memiliki keluarga dan riwayat
penyakit alergi (baik eksim, utikaria atau hay fever).
Asma instrinsik mengacu pada asma yang disebabkan oleh karena faktor-faktordi
luar mekanisme imunitas, dan umumnya dijumpai pada orang dewasa. Disebut juga asma
non alergik, di mana pasien tidak memiliki riwayat alergi. Beberapa faktor yang dapat
memicu terjadinya asma antara lain : udara dingin, obat-obatan, stress, dan olahraga.
Khusus untuk asma yang dipicu oleh olahraga. Khusus untuk asma yang dipicu oleh
olahraga dikenal dengan istilah (Zullies, 2016).
Seperti yang telah dikatakan diatas, asma adalah penyakit inflamasi saluran napas.
Meskipun ada berbagai cara untuk menimbulkan suatu respons inflamasi, baik pada asma
ekstrinik maupun instrinsik, tetapi karakteristik inflamasi pada asma umunya sama, yaitu
terjadinya infiltrasi eosinofil dan limfosit serta terjadi pengelupasan sel-sel epitelial pada
saluran nafas dan dan peningkatan permeabilitas mukosa. Kejadian ini bahkan dapat
dijumpai juga pada penderita asma yang ringan. Pada pasien yang meninggal karena
serangan asma , secara histologis terlihat adana sumbatan (plugs) yang terdiri dari mukus
glikoprotein dan eksudat protein plasma yang memperangkap debris yang berisi se-sel
epitelial yang terkelupas dan sel-sel inflamasi. Selain itu terlihat adanya penebalan
lapisan subepitelial saluran nafas.
Respons inflamasi ini terjadi hampir di sepanjang saluran napas, dan trakea
samapi ujung bronkiolus. Juga terjadi hiperplasia dari kelenjar-kelenjar sel goblet yang
menyebabkan hiperserkesi mukus yang kemudian turut menyumbat saluran napas
(Zullies, 2016) Penyakit asma melibatkan interaksi yang kompleks antara sel-sel
inflamasi, mediator inflamasi, dan jaringan pada saluran napas. Sel-sel inflamasi utama
yang turut berkontribusi pada rangkaian kejadian pada serangan asma antara lain adalah
sel mast, limfosit, dan eosinofil, sedangkan mediator inflamasi utama yang terlibat dalam
asma adalah histamin, leukotrein, faktor kemotaktik eosinofil dan beberapa sitokin yaitu :
interleukin (Zullies, 2016).
Pada asma alergi atau atopik, bronkospasme terjadi akibat dari meningkatnya
responsivitas otot polos bronkus terhadap adanya rangsangan dari luar, yang disebut
alergen. Rangsangan ini kemudian akan memicu pelepasan berbagai senyawa endogen
dari sel mast yang merupakan mediator inflamasi, yaitu histamin, leukotrien, dan faktor
kemotaktik eosinofil. Histamin dan leukotrien merupakan bronkokonstriktor yang poten,
sedangkan faktorkemotaktik eosinofil bekerja menarik secara kimiawi sel-sel eosinofil
menuju tempat terjadinya peradangan yaitu di bronkus (Zullies, 2016)
G. PATHWAY
Respon alergi/
Hipereaktivitas Spasme Otot
bronchus
Obstruksi saluran
Peningkatan kebutuhan
Status Asmatikus
oksigen
Hiperventilasi Mk : Gangguan
Pertukaran Gas
MK : Pola Nafas
Tidak Efektif
H. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Menurut Ngastiyah (2013), ada beberapa pemeriksaan diagnostik bagi para penderita
asma, antara lain :
1. Uji faal paru Uji faal paru dikerjakan untuk menentukan derajat obstruksi, menilai hasil
provokasi bronkus, menilai hasil pengobatan dan mengikuti perjalanan penyakit. Alat
yang digunakan untuk uji faal paru adalah peak flow meter, caranya anak disuruh
meniup flow meter beberapa kali (sebelumnya menarik napas dalam melalui mulut
kemudian menghembuskan dengan kuat) dan dicatat hasil.
2. Foto toraks Foto toraks dilakukan terutama pada anak yang baru berkunjung pertama
kali di poliklinik, untuk menyingkirkan kemungkinan ada penyakit lain. Pada pasien
asma yang telah kronik akan terlihat jelas adanya kelainan berupa hiperinflasi dan
atelektasis.
3. Pemeriksaan darah Hasilnya akan terdapat eosinofilia pada darah tepi dan sekret hidung.
Bila tidak eosinofilia kemungkinan bukan asma. Selain itu juga, dilakukan uji tuberkulin
dan uji kulit dengan menggunakan alergen.
4. Tes Fungsi Paru Menunjukkan adanya obstruksi jalan napas reversible, cara tepat
diagnosis asma adalah melihat respon pengobatan dengan bronkodilator. Pemeriksaan
spirometri dilakukan sebelum atau sesudah pemberian aerosol bronkodilator (inhaler
atau nebulizer), peningkatan FEV1 atau FCV sebanyak lebih dari 20% menunjukkan
diagnosis asma. Dalam spirometry akan mendeteksi: a) Penurunan forced expiratory
volume (FEV) b) Penurunan paek expiratory flow rate (PEFR) c) Kehilangan forced
vital capacity (FVC) d) Kehilangan inspiratory capacity (IC) (Wahid & Suprapto, 2013).
5. Pemeriksaan Radiologi Pada waktu serangan menunjukkan gambaran hiperinflamasi
paru yakni radiolusen yang bertambah dan peleburan rongga intercostalis, serta
diagfragma yang menurun. Pada penderita dengan komplikasi terdapat gambaran sebagai
berikut:
a) Bila disertai dengan bronchitis, maka bercak-bercak di hilus akan bertambah
b) Bila ada empisema (COPD), gambaran radiolusen semakin bertambah
c) Bila terdapat komplikasi, maka terdapat gambaran infiltrase paru.
d) Dapat menimbulkan gambaran atelektasis paru
e) Bila terjadi pneumonia gambarannya adalah radiolusen pada paru.
6. Pemeriksaan Tes Kulit Dilakukan untuk mencari faktor alergen yang dapat bereaksi
positif pada asma secara spesifik
7. Elektrokardiografi
a) Terjadi right axis deviation
b) Adanya hipertropo otot jantung Right Bundle Branch Bock
c) Tanda hipoksemia yaitu sinus takikardi, SVES, VES, atau terjadi depresi segmen ST
negatif
8. Scanning paru Melalui inhilasi dapat dipelajari bahwa redistribusi udara selama serangan
asma tidak menyeluruh pada paru-paru (Wahid & Suprapto, 2013).
I. PENATALAKSANAAN
Adapun penatalaksanaan yang dapat dilakukan untuk pasien asma yaitu :
a. Prinsip umum dalam pengobatan asma :
1) Menghilangkan obstruksi jalan napas
2) Menghindari faktor yang bisa menimbulkan serangan asma.
3) Menjelaskan kepada penderita dan keluarga mengenai penyakit asma dan
pengobatannya.
b. Pengobatan pada asma
1) Pengobatan farmakologi
a) Bronkodilator : obat yang melebarkan saluran napas. Terbagi menjadi dua
golongan, yaitu :
(1) Adrenergik (Adrenalin dan Efedrin), misalnya terbutalin/bricasama.
(2) Santin/teofilin (Aminofilin)
b) Kromalin Bukan bronkhodilator tetapi obat pencegah seranga asma pada
penderita anak. Kromalin biasanya diberikan bersama obat anti asma dan
efeknya baru terlihat setelah satu bulan.
c) Ketolifen Mempunyai efek pencegahan terhadap asma dan diberikan dalam
dosis dua kali 1mg/hari. Keuntungannya adalah obat diberikan secara oral.
d) Kortikosteroid hidrokortison 100-200 mg jika tidak ada respon maka segera
penderita diberi steroid oral.
2) Pengobatan non farmakologi
a) Memberikan penyuluhan
b) Menghindari faktor pencetus
c) Pemberian cairan
d) Fisioterapi napas (senam asma)
e) Pemberian oksigen jika perlu (Wahid & Suprapto, 2013)
3) Pengobatan selama status asmathikus
a) Infus D5:RL = 1 : 3 tiap 24 jam
b) Pemberian oksigen nasal kanul 4 L permenit
c) Aminophilin bolus 5mg/ KgBB diberikan pelan-pelan selama 20 menit
dilanjutkan drip RL atau D5 mentenence (20 tpm) dengan dosis 20 mg/kg bb
per 24 jam
d) Terbutalin 0.25 mg per 6 jam secara sub kutan
e) Dexametason 10-2- mg per 6 jam secara IV
f) Antibiotik spektrum luas (Padila, 2013)
B. Konsep Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian Menurut Nuraruf & Kusuma (2015), meliputi :
a. Biodata Identitas pasien berisikan nama pasien, tempat tanggal lahir, jenis
kelamin, tanggal masuk sakit, rekam medis.
b. Keluhan utama Keluhan utama yang timbul pada klien dengan asma adalah
dispnea (sampai bisa berhari-hari atau berbulan-bulan), batuk, dan mengi (pada
beberapa kasus lebih banyak paroksimal).
c. Riwayat Kesehatan Dahulu Terdapat data yang menyatakan adanya faktor
prediposisi timbulnya penyakit ini, di antaranya adalah riwayat alergi dan riwayat
penyakit saluran nafas bagian bawah (rhinitis, utikaria, dan eskrim).
d. Riwayat Kesehatan Keluarga Klien dengan asma sering kali didapatkan adanya
riwayat penyakit turunan, tetapi pada beberapa klien lainnya tidak ditemukan
adanya penyakit yang sama pada anggota keluarganya.
e. Pemeriksaan fisik
1) Inspeksi
(a) Pemeriksaan dada dimulai dari torak posterior, klien pada posisi duduk
(b) Dada diobservasi
(c) Tindakan dilakukan dari atas (apeks) sampai kebawah
(d) Inspeksi torak posterior, meliputi warna kulit dan kondisinya, skar, lesi,
massa, dan gangguan tulang belakang, seperti kifosis, skoliosis, dan
lordosis.
(e) Catat jumlah, irama, kedalaman pernapasan, dan kesimetrisan pergerakkan
dada.
(f) Observasi tipe pernapasan, seperti pernapasan hidung pernapasan
diafragma, dan penggunaan otot bantu pernapasan.
(g) Saat mengobservasi respirasi, catat durasi dari fase inspirasi dan fase
eksifirasi. Rasio pada fase ini normalnya 1:2. Fase ekspirasi yang
memanjang menunjukkan adanya obstruksi pada jalan napas dan sering
ditemukan pada klien Chronic Airflow Limitation (CAL) / Chornic
obstructive Pulmonary Diseases (COPD)
(h) Kelainan pada bentuk dada
(i) Observasi kesimetrisan pergerakkan dada. Gangguan pergerakan atau
tidak adekuatnya ekspansi dada mengindikasikan penyakit pada paru atau
pleura
(j) Observasi trakea abnormal ruang interkostal selama inspirasi, yang dapat
mengindikasikan obstruksi jalan nafas.
2) Palpasi Dilakukan untuk mengkaji kesimetrisan pergerakan dada dan
mengobservasi abnormalitas, mengidentifikasikan keadaan kulit, dan
mengetahui vocal/ tactile premitus (vibrasi)
3) Palpasi toraks untuk mengetahui abnormalitas yang terkaji saat inspeksi
seperti : massa, lesi, bengkak.
4) Vocal premitus, yaitu gerakan dinding dada yang dihasilkan ketika
berbicara(Nuraruf & Kusuma, 2015).
5) Perkusi Suara perkusi normal :
(a) Resonan (sonor) : bergaung, nada rendah. Dihasilkan pada jaringan paru
normal.
(b) Dullnes : bunyi yang pendek serta lemah, ditemukan diatas bagian jantung,
mamae, dan hati
(c) Timpani : musical, bernada tinggi dihasilkan di atas perut yang berisi
udara
(d) Hipersonan (hipersonor) : berngaung lebih rendah dibandingkan dengan
resonan dan timbul pada bagian paru yang berisi darah.
(e) Flatness : sangat dullnes. Oleh karena itu, nadanya lebih tinggi. Dapat
terdengar pada perkusi daerah hati, di mana areanya seluruhnya berisi
jaringan. (Nuraruf & Kusuma, 2015).
6) Auskultasi
(a) Merupakan pengkajian yang sangat bermakna, mencakup mendengarkan
bunyi nafas normal, bunyi nafas tambahan (abnormal).
(b) Suara nafas abnormal dihasilkan dari getaran udara ketika melalui jalan
nafas dari laring ke alveoli, dengan sifat bersih.
(c) Suara nafas normal meliputi bronkial, bronkovesikular dan vesikular.
(d) Suara nafas tambahan meliputi wheezing : peural friction rub, dan
crackles.(Nuraruf & Kusuma, 2015)