0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
251 tayangan14 halaman

Proses dan Jenis Pengelasan Fusi

Dokumen tersebut membahas beberapa jenis proses pengelasan busur listrik, yaitu: (1) Shield Metal Arc Welding (SMAW) yang menggunakan elektroda logam terbungkus, (2) Gas Metal Arc Welding (GMAW) yang menggunakan kawat logam sebagai elektroda dan perlindungan gas, (3) Flux Cored Arc Welding (FCAW) yang menggunakan kawat logam berisi fluks, dan (4) Gas Tungsten Arc Welding (GTAW) yang

Diunggah oleh

Bagas Wijdan Widodo
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
251 tayangan14 halaman

Proses dan Jenis Pengelasan Fusi

Dokumen tersebut membahas beberapa jenis proses pengelasan busur listrik, yaitu: (1) Shield Metal Arc Welding (SMAW) yang menggunakan elektroda logam terbungkus, (2) Gas Metal Arc Welding (GMAW) yang menggunakan kawat logam sebagai elektroda dan perlindungan gas, (3) Flux Cored Arc Welding (FCAW) yang menggunakan kawat logam berisi fluks, dan (4) Gas Tungsten Arc Welding (GTAW) yang

Diunggah oleh

Bagas Wijdan Widodo
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Fusion Welding

Proses fusion welding menggunakan panas untuk melelehkan logam dasar. Dalam banyak
operasi pengelasan, sebuah pengisi logam ditambahkan ke lelehan logam untuk memfasilitasi
proses dan memberikan kekuatan pada las-an.

Arc Welding (AW)


Arc welding mengacu pada sekelompok proses pengelasan di mana pemanasan
logam dicapai dengan busur listrik, seperti yang ditunjukkan pada gambar. Beberapa operasi
arc welding juga menerapkan tekanan selama proses dan memanfaatkan filler metal.

Gambar 1 Arc Welding

Jenis- jenis arc welding:

1. Shield Metal Arc Welding (SMAW)


Las elektroda terbungkus atau Shield Metal Arc Welding (SMAW) adalah cara
pengelasan yang banyak digunakan pada masa ini. Dalam cara pengelasan ini digunakan
kawat elektroda logam yang dibungkus dengan fluks. Dalam Gambar 2.6 dapat dilihat dengan
jelas bahwa busur listrik terbentuk diantara logam induk dan ujung elektroda. Karena panas
dari busur ini maka logam induk dan ujung elektroda tersebut mencair dan kemudian
membeku bersama (Wiryosumarto dan Okumura, 2000).

Proses pemindahan logam elektroda terjadi pada saat ujung elektroda mencair dan
membentuk butir-butir yang terbawa oleh arus busur listrik yang terjadi. Bila digunakan arus
listrik yang besar maka butiran logam cair yang terbawa menjadi sebaliknya bila arusnya
kecil maka butirannya menjadi besar (Wiryosumarto dan Okumura, 2000).

Gambar Skema Las SMAW.

Gambar Pemindahan Logam Cair.

Pola pemindahan logam cair seperti diterangkan diatas sangat mempengaruhi sifat
mampu las dari logam. Secara umum dapat dikatakan bahwa logam mempunyai sifat mampu
las tinggi bila pemindahan terjadi dengan butiran yang halus. Sedangakan pola pemindahan
cairan dipengaruhi oleh besar kecilnya arus seperti diterangkan diatas dan juga oleh
komposisi dari bahan fluks yang digunakan. Selama proses pengelasan bahan fluks yang
digunakan untuk membungkus elektroda mencair dan membentuk terak yang kemudian
menutupi logam cair yang terkumpul ditempat sambungan dan bekerja sebagai penghalang
oksidasi. Dalam beberapa fluks bahannya tidak dapat terbakar, tetapi berubah menjadi gas
yang juga menjadi pelindung dari logam cair terhadap oksidasi dan memantapkan busur
(Wiryosumarto dan Okumura, 2000). Didalam elektroda terbungkus fluks memegang peranan
penting karena fluks dapat bertindak sebagai berikut :

1) Mengahsilkan gas pelindung untuk mencegah masuknya udara dan membuat


busur stabil.
2) Memberikan bahan lain, seperti unsur pengurai oksida untuk memperhalus
struktur butiran pada logam las.
3) Menghasilkan lapisan terak diatas kolom yang mencair dan memadatkan las
untuk melindunginya dari oksigen dan nitrogen dalam udara, serta
memperlambat pendinginan.
2. Gas Metal Arc Welding (GMAW)
Pada proses GMAW (Gas Metal Arc Welding), elektrodanya adalah kawat menerus
dari 1 gulungan yang disalurkan melalui pemegang elektroda (alat yang berbentuk pistol).
Perlindungan dihasilkan seluruhnya dari gas atau campuran gas yang diberikan dari luar
(Fuadi, 2015).

Gambar Skema Las GMAW.

Mula-mula metode ini dipakai hanya dengan perlindungan gas mulia (tidak reaktif)
sehingga disebut MIG (Metal Inert Gas/gas logam mulia). Gas yang reaktif biasanya tidak
praktis, kecuali CO2 (karbon dioksida). Gas CO2, baik CO2 saja atau dalam campuran
dengan gas mulia, banyak digunakan dalam pengelasan baja (Fuadi, 2015).

Argon sebenarnya dapat digunakan sebagai gas pelindung untuk pengelasan semua
logam, namun, gas ini tidak dianjurkan untuk baja karena mahal serta kenyataan bahwa gas
pelindung dan campuran gas lain dapat digunakan. Untuk pengelasan baja karbon dan
beberapa baja paduan rendah baik (1) 75% argon dan 25% CO, ataupun (2) 100% CO2 lebih
dianjurkan. Untuk baja paduan rendah yang keliatannya (toughness), disarankan pemakaian
campuran dari 60-70% helium, 25- 30% argon, dan 4-5% C02 (Fuadi, 2015).
Selain melindungi logam yang meleleh dari atmosfir, gas pelindung mempunyai fungsi
sebagai berikut.
1) Mengontrol karakteristik busur nyala dan pernindahan logam.
2) Mempengaruhi penetrasi, lebar peleburan, dan bentuk daerah las.
3) Mempengaruhi kecepatan pengelasan.
4) Mengontrol peleburan berlebihan (undercutting).
Pencampuran gas mulia dan gas reaktif membuat busur nyala lebih stabil dan kotoran selama
pemindahan logam lebih sedikit. Pemakaian CO2 saja untuk pengelasan baja merupakan
prosedur termurah karena rendahnya biaya untuk gas pelindung, tingginya kecepatan
pengelasan, lebih baiknya penetrasi sambungan, dan baiknya sifat mekanis timbunan las.
Satu-satunya kerugian ialah pernakaian CO2 menimbulkan kekasaran dan kotoran yang
banyak (Fuadi, 2015).

3. Flux Cored Arc Welding (FCAW)


Pengelasan FCAW adalah Las busur listrik yang kawat lasnya terdapat fluk (pelindung
inti tengah). Las FCAW adalah kombinasi antara proses pengelasan GMAW, SMAW dan
SAW. Dalam pengelasan FCAW ini sumber energi menggunakan arus listrik DC atau AC
yang diambil dari pembangkit listrik atau melalui trafo dan atau rectifier.

Gambar Skema Las FCAW.

Pengelasan FCAW merupakan salah satu jenis las listrik yang proses kerjanya
memasok filler elektroda atau kawat las secara mekanis terus menerus ke dalam busur listrik.
Kawat las atau Elektroda yang digunakan untuk pengelasan FCAW terbuat dari logam tipis
yang digulung cylindrical kemudian dalamnya di isi dengan flux yang sesuai dengan
kegunaannya. Proses Pengelasan FCAW ini sebenarnya sama dengan pengelasan GMAW,
namun membedakan adalah kawat las atau elektrodanya yang berbentuk tubular yang berisi
fluks sedangkan GMAW berbentuk Solid.

Berdasarkan metode pelindung, Pengelasan FCAW dapat dibedakan menjadi 2, yaitu:


1) Self shielding FCAW (Pelindungan sendiri), yaitu merupakan proses melindungi
logam las yang mencair dengan menggunakan gas dari hasil penguapan atau reaksi
dari inti fluks.
2) Gas shielding FCAW (perlindungan gas) adalah perlindungan dengan dual gas, yaitu
melindungi logam las yang mencair dengan menggunakan gas sendiri juga ditambah
gas pelindung yang berasal dari luar sistem.

Dua metode di atas sama-sama menghasilkan terak las yang berasal dari flux dalam kawat
las yang berfungsi untuk melindungi logam las saat proses pembekuan. Namun, perbedaan
metode di atas terletak pada tambahan sistem pemasok gas dan welding torch (welding gun)
yang digunakan.
Pengelasan FCAW berdasarkan cara pengoperasiannya dibedakan menjadi 2, yaitu:
1) Otomatis (machine automatic).
2) Semi otomatis (semi automatic).

Sifat-sifat utama (Principal features) yang dimiliki FCAW dalam proses pengelasan:
1) FCAW mempunyai sifat metalurgi las yang bisa dikontrol dengan pemilihan fluks.
2) Las FCAW mempunyai produktivitas yang tinggi, karena dapat pasokan elektroda las
yang kontinu.
3) Saat pembentukan manik atau rigi-rigi las yang cair dapat dilindungi oleh slag yang
tebal.

Pengelasan FCAW umumnya menggunakan gas CO2 atau campuran CO2 dengan Argon
sebagai gas pelindung. Tetapi untuk menghindari logam las terkontaminasi udara luar atau
menghindari porosity maka harus dilakukan pemilihan fluks yang mempunyai sifat pengikat
oxygen atau deoxydizer.

Aplikasi atau Penggunaan utama Pengelasan FCAW:


1) Baja karbon (carbon steel).
2) Pengerasan & pelapisan permukaan (Steel hard facing and cladding).
3) Baja tahan karat (Stainless steel).
4) Besi tuang (Cast Iron).
5) Baja karbon Alloy rendah (Low alloy carbon steel).
6) Las titik baja tipis (Sheet steel spot welding).

4. Las GTAW (Gas Tungsten Arc Welding)


Pada pengelasan dengan proses GTAW, panas dihasilkan dari busur yang terbentuk
dalam perlindungan inert gas (gas mulia) antara elektroda tidak terumpan dengan benda
kerja. GTAW mencairkan daerah benda kerja di bawah busur tanpa elektroda tungsten itu
sendiri ikut meleleh. Proses ini bisa dikerjakan secara manual atau otomatis. GTAW disebut
juga dengan Heliarc yaitu istilah yang berasal dari merek dagang Linde Company atau TIG
(Tungsten Inert Gas). Filler metal ditambahkan ke dalam daerah las dengan cara
mengumpankan sebatang kawat polos. Teknik pengelasan sama dengan yang dipakai pada
Oxyfuel Gas Welding atau OAW, tetapi busur dan kawah las GTAW dilindungi dari pengaruh
atmosfir oleh selimut inert gas, biasanya argon, helium atau campuran keduanya. Inert gas
disemburkan dari torch dan daerah-daerah disekitar elektroda tungsten. Hasil pengelasan
dengan proses GTAW mempunyai permukaan halus, tanpa slag dan kandungan hidrogen
rendah.

Gambar Mesin Las GTAW


Jenis lain proses GTAW adalah pulsed GTAW, dengan menggunakan sumber listrik
yang membuat arus pengelasan pulsasi. Hal ini membuat arus rataratamenjadi lebih tinggi
untuk mendapatkan penetrasi dan kontrol kawah las yanglebih baik, terutama untuk
pengelasan root pass. Pulsed GTAW terutamabermanfaat untuk pengelasan pipa posisi-posisi
sulit pada stainless steel dan non-ferrous material seperti paduan nikel.
GTAW sudah diaplikasikan juga untuk pengelasan otomatis. Otomatisasi proses ini
membutuhkan sumber listrik dan pengontrolan terprogram, system pengumpanan kawat dan
mesin pemandu gerak. Salah satu jenis pengelasan otomatis ini adalah Bore Welding (las
orbit).
Proses las orbit juga sudah digunakan untuk membuat las sekat pada tubeto-
tubesheet bermutu tinggi dan las tumpul pada pipa-pipa heat exchanger seperti
pada Gambar.

Gambar Pengelasan tube-to-tubesheet


Butt weld pada pipa tebal diameter besar pada pembangkit tenaga listrik, merupakan
keberhasilan lain dari aplikasi GTAW otomatis. GTAW menggunakan pengumpanan kawat
otomatis disebut juga dengan cold wire TIG. Jenis lain dari pengelasan GTAW otomatis
disebut hot wire TIG, yang dikembangkan untuk menyaingi yang lain dengan laju deposit
lebih tinggi. Pada hot wire TIG, kawat las mendapat tahanan panas yang berasal dari arus AC
tegangan rendah untuk memperbesar laju pengisian.

Keuntungan GTAW
Keuntungan dari pengelasan GTAW antara lain:
a. Dapat mengelas hampir seluruh jenis logam, termasuk mengelas dua jenis
logam yang berbeda (dissimilar).
b. Kecepatan pengumpanan logam pengisi dapat diatur terlepas dari besarnya
arus listrik sehingga penetrasi ke dalam logam induk dapat diatur semaunya.
c. Menghasilkan kualitas yang baik di daerah las, seperti pada gambar

Gambar 2.12 Rootpass dengan GTAW


d. Dapat digunakan dengan atau tanpa logam pengisi (filler). Pengelasan GTAW
tanpa menggunakan logam pengisi biasanya digunakan untuk mengelas pelat
yang sangat tipis.
e. Kecepatan gerak yang lebih rendah dibandingkan dengan SMAW akan
memudahkan pengamatan sehingga lebih mudah dalam mengendalikan logam
las selama pengisian dan penyatuan.

Kelemahan GTAW
Kelemahan proses las GTAW antara lain:
a. Pengisian logam lebih rendah dibandingkan dengan proses las lain umpamanya
SMAW (Shield Metal Arc Welding).
b. GTAW butuh kontrol kelurusan sambungan yang lebih ketat, untuk menghasilkan
pengelasan bermutu tinggi pada pengelasan dari arah satu sisi.
c. GTAW harus dilindungi secara berhati-hati dari kecepatan udara di atas 5 mph untuk
mempertahankan perlindungan inert gas di atas kawah las.
d. Biaya operasi yang tinggi dibandingkan las GMAW (Gas Metal Arc Welding)
misalnya pada kasus pengelasan pelat tipis kurang lebih 9,5 mm.

Aplikasi GTAW
GTAW mempunyai keunggulan pada pengelasan pipa-pipa tipis dan tubing stainless
steel diameter kecil, paduan nikel, paduan tembaga dan aluminum. Pada pengelasan pipa
dinding tebal, GTAW sering kali dipakai pada root pass untuk pengelasan yang
membutuhkan kualitas tinggi, seperti pada pipa-pipa tekanan dan temperatur tinggi, dan pipa-
pipa belokan pada dapur pemanas. GTAW juga digunakan pada root pass apabila
membutuhkan permukaan dalam yang licin, seperti pada pipa-pipa dalam acid service.
Karena ada perlindungan inert gas terhadap pengelasan dan mudah dalam mengontrol proses
las, membuat GTAW sering kali digunakan pada logam-logam reaktif seperti titanium dan
magnesium.
Pada pipa-pipa tipis, 0,125 inci atau kurang, bisa digunakan sambungan berbentuk
persegi dan rapat. Root pass dikerjakan tanpa menambahkan filler metal (disebut dengan
autogenous weld). Pada pipa-pipa tebal, bagian ujung sambungan mesti dibevel, diluruskan
dan diberi celah (disebut dengan bukaan akar), kemudian ditambahkan filler metal selama
pengelasan root pass. Sebagai pengganti filler metal, bisa juga disisipkan consumable insert
(ring penahan) ke dalam sambungan, yang nantinya bersatu dengan root (sebagai filler metal
tambahan). Pengelasan dengan consumable insert membutuhkan kontrol kelurusan
sambungan yang teliti.
Resistance Welding (RW).
Resistensi welding mencapai perpaduan menggunakan panas dari listrik ke aliran arus
yang lewat antara permukaan yang terikat erat dari dua bagian yang disatukan dalam tekanan.
Beberapa keuntungan metode ini yaitu tidak diperlukan consumable electrode, gas
pelindung, dan flux.
Persamaan yang berlaku untuk metode ini yaitu :

H= I2RtK

Dimana, H = panas yang dihasilkan (W/s), I = Arus (A), Tahanan(Ohm), t = Waktu


aliran arus (s), K = kontanta. Resistansi ini didapatkan dari tahanan electrode, hambatan
kontak antara electrode dengan benda kerja, hambatan pada bagian yang dilas, hambatan
kontak benda kerja dengan sambungan.
Kenaikan temperature sambungkan tergantung pada panas spesifik dan konduktivitas
termal. Contoh aluminum dan tembaga mempunyai konduktifitas termal yang tinggi
sehinggan memerlukan konsentrasi panas yang tinggi.
Kekuatan sambungan metode ini tergantung pada kekerasan pada permukaan benda
kerja, dan kebersihan permukaannya. Sehingga lapisan minyak, cat, lapisan oksida, dan
pengotor lainnya dibersihkan terlebih dahulu.

Jenis-jenis Resistance Welding:

1. Resistance Spot Welding (RSW)


Pada proses ini dua benda kerja padat yang saling berlawanan arah disambungkan
dengan electrode silinder. Tahanannya menghasilkan titik las. Pada titik las tersebut (weld
nugget) ikatannya harus kuat. Oleh karena itu, tekanan diberikan sampai arus berhenti dan
lasan menjadi padat. Diameter spot welding biasanya 6 – 10 mm. Pada permukaan spot
welding tersebut mengalami sedikit indentasi kotoran hitam.

Tahapan proses menurut gambar di atas yaitu sebagai berikut:

 Benda kerja diletakkan di antara dua elektroda yang terbuka.


 Elektroda menekan benda kerja.
 Waktu pengelasan di mana arus listrik menyala.
 Arus dimatikan namun penekanan dengan elektroda tetap dilakukan (ditahan
sebentar).
 Elektroda dibuka dan benda kerja dapat dikeluarkan.

Untuk menguji kekuatan spot welding dapa dilakukan berbagai cara di antaranya
dengan tegangan geser dan tarik, tegangan tarik menyilang, torsi, dan mengupas (peel).

2. Resistance Seam Welding


Modifikasi dari spot welding, dimana electrodenya digantikan dengan roller sehingga
hasil lasannya seragam. Supply yang digunakan AC. Hasil lasannya kedap udara sehingga
sering digunakan untuk tangki oli, peredam suara mobil, dan yang lainnya.
3. High frequency resistance welding
Mirip dengan seam welding yaitu menggunakan roller tetapi arus yang digunakan
dalam frekuensi yang tinggi. Aplikasi metode ini adalah untuk material yang menerapkan las
tumpul (butt weld).

4. Resistance projection welding


Lembaran logam yang akan dilas, ditekan terlebih dahulu dengan mesin pons, sehingga
terjadinya proyeksi dari dalam logam. Proyeksi tersebut merupakan titik-titik dimana akan
dilakukannya sambungan las sehingga cara ini dapat dilakukan beberapa sambungan las
sekaligus. Kelebihannya penampilan bagus, umur electrode panjang, pemeliharaan electrode
mudah, dan hemat biaya.
5. Flash welding
Flash welding sering disebut flash butt welding (sambungan tumpu). Benda kerja
dijepit dalam mesin dan bagian-bagian yang akan disambung disatukan dengan tekanan
serendah mungkin sehingga masih terdapat celah di antara kedua permukaan kontaknya.
Kemudian menggunakan tegangan listrik sehingga timbul loncatan api di antara permukaan
kontaknya akibatnya temperature menjadi naik hingga mencapai temperature tempa.
Oxyfuel Gas Welding (OFW)
Proses penggabungan ini menggunakan gas Oxyfuel, seperti campuran oksigen dan
asetilena, untuk menghasilkan nyala api panas untuk melelehkan logam dasar dan logam
pengisi. Api disini bertindak sebagai sumber panas yang mampu melelehkan benda kerja
sehingga benda kerja akan tersambung. Gas yang digunakan pada proses ini adalah asetilena
sehingga proses ini sering dikenal dengan oxyacetylene gas welding atau las karbit.

Reaksi kimia yang terjadi pada proses ini yaitu sebagai berikut :
a. Reaksi primer
C2H2 + O2 -> 2CO + H2 + Heat
Panas yang dihasilkan pada reaksi ini yaitu sepertiga dari panas total

b. Reaksi sekunder
2CO + H2 + 1,5H2O -> 2CO2 + H2O + Heat
Panas yang dihasilkan pada reaksi ini yaitu dua pertiga dari panas total

Ada 3 jenis api yang muncul pada proses ini yaitu neutral flame, oxidizing flame, dan
carburizing flame. Neutral flame terjadi saat perbandingan gas asetilen dengan oksigen
sekitar 1:1. Oxidizing flame terjadi saat komposisi oksigen lebih banyak dibandingkan gas
asetilen atau dikenal dengan pembakaran miskin. Sedangkan carburizing flame merupakan
pembakaran kaya yaitu perbandingan gas asetile lebih banyak dibandingkan oksigen.

Gambar Neutral flame

Logam pengisi proses ini diberikan logam tambahan berbentuk batang saat proses las
berlangsung. Logam pengisi sering disebut filler rod. Logam pengisinya juga dilapisi dengan
flux. Fungsi flux ini untuk memperlambat proses oksidasi, menghilangkan oksida pada
permukaan benda kerja, dan membuat shielding gas (gas pelindung) sehingga terlindung dari
zat lingkungan sekitar. Keuntungan proses ini diantaranya portable, serbaguna, dan low cost.
(a) Tampak luar
dari obor

oxyacetylene.

(b) Cross-section pada obor digunakan pada oxyacetylene welding. Katup


acetylene dibuka dahulu; gas menyala karna percikan api; lalu katup
oksigen dibuka dan menyalakan api.

(c) Peralatan dasar oxyfuel-gas welding. Untuk memastikan penggunaan,


semua saluran acytelen terletak pada tangan kiri sedangkan saluran
oksigen pada tangan kanan. Regulator oksigen biasanya berwarna hijau
sedangkan acytelene merah

Aplikasi dan Peralatan oxygas welding


Dapat digunakan untuk material logam maupun nonlogam. Peralatan yang digunakan
di antaranya welding torch yang dihubungkan dengan tabung gas oksigen dan tabung gas
bahan bakar biasanya gas asetilen.

Salah satu metode lain dari oxyfuel gas welding yaitu pressure-gas welding. Metode
ini prinsipnya menekan torch oleh 2 benda kerja di kedua belah sisi sehingga kedua benda
tersebut tersambung. 
Daftar Pustaka
Fuadi, S. 2015, Metode-metode Pengelasan. [Link] diakses pada
Tanggal 12 Mei 2019
Groover, Mikell. 2010. Fundamentals of Modern Manufacturing. United States of America.
John Wiley & Sons
Kalpakjian, Serope & Schmid, Steven R. 2013 Manufacturing Engineering & Technology.
London. Pearsons Education
Wiryosumarto, Harsono & Okumura, Toshie. 2000. Teknologi Pengelasan Logam. Jakarta.
PT Pradnya Paramita

Anda mungkin juga menyukai