0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
182 tayangan13 halaman

Teori Asam Basa dan Sifat Larutan

Dokumen tersebut membahas tentang larutan asam basa, teori asam basa menurut para ahli seperti Arrhenius, Bronsted-Lowry, dan Lewis, serta sifat asam basa dan derajat keasaman (pH) suatu larutan. Secara khusus membahas tentang definisi asam dan basa, ciri-ciri masing-masing, contoh senyawa asam dan basa, perbedaan ketiga teori tersebut, serta penggunaan indikator untuk menentukan sifat as

Diunggah oleh

Adinansyah Rafly
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
182 tayangan13 halaman

Teori Asam Basa dan Sifat Larutan

Dokumen tersebut membahas tentang larutan asam basa, teori asam basa menurut para ahli seperti Arrhenius, Bronsted-Lowry, dan Lewis, serta sifat asam basa dan derajat keasaman (pH) suatu larutan. Secara khusus membahas tentang definisi asam dan basa, ciri-ciri masing-masing, contoh senyawa asam dan basa, perbedaan ketiga teori tersebut, serta penggunaan indikator untuk menentukan sifat as

Diunggah oleh

Adinansyah Rafly
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB 1

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Air murni tidak mempunyai rasa, baud an warna. Bila mengandung zat
tertentu, air dapat terasa asam, pahit, asin dan sebagainya. Air yang mengandung zat
lain dapat pula menjadi berwarna. Kita ketahui bahwa cairan yang berasa asam di
sebut karutan asam, yang terasa asin disebut larutan garam, sedangkan yang terasa
licin dan pahit di sebut larutan basa. Di ingatkan, jangan menccipi larutan untuk
mengetahui rasanya, sebab berbahaya. Cara yang baik adalah mencelupkan kertas
lakmus, karena lakmus dalam larutan asam berwarna merah, dan dalam basa
berwarna putih.

Sifat asam dan basa larutan tidak hanya terdapat dalam larutan air, tetapi juga
dalam larutan lain seperti amoniak, eter, dan benzene, akibatnya, cukup sulit
mengetahui sifat asam dan basa larutan yang [Link] sebab itu, asam dan
basa dapat dijelaskan dengan teori yang disebut teori asam basa, yaitu yang di
kemukakan oleh Arrhenius, Bronsted-lowry, dan Lewis.

B. Rumusan Masalah

1. Apa yang dimaksud dengan larutan asam basa ?


2. Jelaskan teori tentang asam basa menurut para ahli ?
3. Bagaimana sifat asam basa dan derajat keasaman (pH) ?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui larutan yang bersifat asam, basa, dan netral.
2. Untuk mengetahui perbedaan teori asam basa menurut Arrhenius, Bronsted-
Lowry, dan teori asam basa menurut Lewis.
3. Untuk mengetahui perbedaan derajat keasaman larutan yang bersifat asam,
basa, dan netral dengan cara mengujinya menggunakan indikator buatan dan
alami.

1
D. Manfaat

Kita dapat mengetahui larutan yang bersifat asam, basa, dan netral yang ada
di lingkungan sekitar. Selain itu, kita juga dapat mengetahui perbedaan dari ketiga
teori asam basa menurut para ahli yang telah disebutkan di atas. Serta kita dapat
menentukan derajat keasaman atau kebasaan suatu larutan dengan menggunakan
indikator buatan maupun alami yang tersedia di lingkungan sekitar.

2
BAB 2
PEMBAHASAN
A. Landasan Teori
Asam dan basa sudah dikenal sejak zaman dulu. Istilah asam (acid) berasal
dari bahasa Latin acetum yang berarti cuka. Asam sering dikenali sebagai zat
berbahaya dan korosif. Hal ini benar untuk beberapa jenis asam yang digunakan di
laboratorium, seperti asam sulfat dan asam klorida. Tetapi asam yang tidak
berbahaya juga banyak ditemui dalam kehidupan sehari – hari. Misalnya pada cuka
dan buah – buahan. Secara umum, asam dapat dikenali dari bau dan rasanya yang
tajam/asam. Cuka mengandung asam asetat, dan asam tanak dari kulit pohon
digunakan untuk menyamak kulit. Asam mineral yang lebih kuat telah dibuat sejak
abad pertengahan, salah satunya adalah aqua forti (asam nitrat) yang digunakan oleh
para peneliti untuk memisahkan emas dan perak.
Istilah basa (alkali) berasal dari bahasa Arab yang berarti abu. Basa
digunakan dalam pembuatan sabun. Juga sudah lama diketahui bahwa asam dan basa
saling menetralkan. Seperti halnya asam, basa juga sering digunakan dalam
kehidupan sehari – hari. Misalnya dalam pasta gigi, deterjen, atau cairan pembersih.
Basa bersifat licin dan rasanya pahit. Bila diteteskan pada kertas litmus, asam akan
memberikan warna merah dan basa akan memberikan warna biru.
1. Asam

Asam dalam ilmu kimia ialah senyawa kimia yang jika dilarutkan dalam air


akan menghasilkan sebuah larutan dengan pH lebih kecil dari 7. Dalam definisi
modern, asam yaitu suatu zat yang bisa memberi proton (ion H+) kepada zat lain
(yang disebut basa), atau bisa menerima pasangan elektron bebas dari suatu basa.

Ciri-ciri/sifat dari Asam adalah sebagai berikut :

 Dalam larutan akan terjadi sebuah reaksi ionisasi melepas ion H +


 Pada asam kuat, ionisasi, terjadi sempurna, sedangkan pada asam lemah,
hanya sebagian.
 Korosif, yakni bisa merusak logam
 Bisa membuat warna merah pada kertas lakmus
 Biasanya mempunyai rumus molekul yang diawali dengan H (hidrogen)

Contoh Asam :

3
 Asam asetat, terdapat pada larutan cuka
 Asam askorbat, terdapat pada jeruk, tomat, sayuran
 Asam sitrat, terdapat pada jeruk
 Asam borat, terdapat pada larutan pencuci mata
 Asam karbonat, terdapat pada minuman berkarbonasi

2. Basa

Basa ialah zat(senyawa) yang bisa beraksi dengan asam, menghasilkan


senyawa yang disebut garam. Sedangkan basa yaitu suatu zat-zat yang bisa
menetralkan asam. Secara kimia, asam dan basa saling berlawanan. Sifat basa
pada umumnya ditunjukkan dari rasa pahit dan licin.

Ciri-ciri/sifat dari basa adalah sebagai berikut :

 Dapat melepaskan ion OH- di dalam air.


 Senyawa basa terasa pahit
 Dapat membirukan lakmus merah
 Bersifat kaustik.

Contoh Basa :
 Aluminium hidroksida, terdapat pada sebuah deodoran, antasid
 Kalsium hidroksida, terdapat pada sebuah mortar dan plester
 Magnesium hidroksida, terdapat pada sebuah obat urus-urus, antasid
 Natrium hidroksida, terdapat pada sebuah bahan sabun mandi.

B. Teori Asam Basa Menurut Para Ahli

1. Teori Asam Basa Arrhenius

Istilah asam basa sudah dikenal oleh masyarakat ilmiah sejak dulu. Istilah
asam diberikan kepada zat yang rasanya asam, sedangkan basa untuk zat yang
rasanya pahit. Pada tahun 1777 masehi, Lavoisier menyatakan bahwa oksigen adalah
unsure utama dalam senyawa asam. Pada 1808, Humpry Davy menemukan
fenomena lain, yaitu HCL dalam air dapat bersifat asam, tetapi tidak mengandung
oksigen. Fakta ini memicu Arrhenius untuk mengajukan teori asam basa.

4
Menurut Arrhenius, asam adalah zat yang dapat melepaskan ion H+ di
dalam air sehingga konsentrasi ion H+ dalam air meningkat. Basa adalah zat yang
dapat melepaskan ion OH- di dalam air sehingga konsentrasi ion OH- dalam air
meningkat. Contoh senyawa asam menurut Arrhenius adalah HCL, HNO3, dan
H2SO4. Sedangkan contoh senyawa basa adalah NaOH, KOH, Ca(OH)2, dan
Al(OH)3.

2. Teori Asam Basa Bronsted-Lowry

Pada tahun 1923, dua orang ahli kimia bernama Johannes Nicolas
Bronsted dan Thomas Lowry dalam waktu yang bersamaan dan secara terpisah
merumuskan suatu teori asam basa yang kemudian dikenal sebagai teori asam basa
Bronsted-Lowry.

Menurut teori Bronsted-Lowry, asam adalah spesi yang memberikan


proton (donor proton), sedangkan basa adalah spesi yang menerima proton (akseptor
proton). Konsep asam basa Bronsted-Lowry dapat mengatasi kelemahan teori asam
basa Arrhenius. Berikut ini merupakan kelebihan teori asam basa Bronsted-Lowry.

 Konsep asam basa Bronsted-Lowry tidak terbatas dalam pelarut air, tetapi
juga menjelaskan reaksi asam basa dalam pelarut lain atau bahkan reaksi
tanpa pelarut.
 Asam basa Bronsted-Lowry tidak hanya berupa molekul, tetapi jufa dapat
berupa kation dan anion. Konsep asam basa Bronsted-Lowry dapat
menjelaskan sifat asam NH4Cl. Dalam NH4Cl, yang bersifat asam adalah ion
NH4+ karena dalam air melepas proton.

Suatu asam setelah melepas satu proton akan membentuk spesi yang disebut
basa konjugasi dari asam tersebut. Sedangkan basa yang telah menerima
proton menjadi asam konjugasi.

3. Teori Asam Basa Lewis

Pada tahun yang sama dengan munculnya teori asam basa Bronsted-Lowry,
Gilbert N. Lewis mengemukakan definisi asam basa berkaitan dengan struktur
electron dalam pembentukan ikatan kovalen antara asam dan basa. Menurut Lewis,
asam adalah spesi yang mampu menerima pasangan electron (akseptor electron),
sedangkan basa adalah spesi yang dapat memberikan sepasang electron (donor
elektron).

5
Teori asam basa Lewis memiliki cakupan yang lebih luas dibandingkan teori
asam basa Arrhenius maupun Bronsted-Lowry. Berikut ini merupakan kelebihan
yang dimiliki oleh teori asam basa Lewis.

 Teori Lewis dapat menjelaskan reaksi asam basa yang berlangsung dalam
pelarut air, pelarut bukan air, dan tanpa pelarut sama sekali.
 Teori asam basa Lewis dapat menjelaskan reaksi asma baa yang tidak
melibatkan transfer proton (H+), seperti reaksi BF3 dan NH3.
 Teori Lewis juga dapat menjelaskan reaksi-reaksi seperti pembentukan ion
kompleks dan reaksi-reaksi dalam kimia organic sebagai reaksi asam basa.

C. Sifat Asam Basa dan Derajat Keasaman (pH)

Suatu senyawa dapat diketahui bersifat asam atau basa dengan


menggunakan indikator. Indikator adalah asam organik lemah atau basa organik
lemah yang dapat berubah warna pada rentang harga pH tertentu (James E. Brady,
2012). Indikator asam basa dapat digunakan untuk menentukan sifat keasaman atau
kebasaan suatu larutan. Larutan asam mempunyai pH < 7, larutan netral mempunyai
pH = 7, dan larutan basa mempunyai pH > 7.

Terdapat dua jenis indikatornyang digunakan untuk mengidentifikasi larutan


asam dan basa, yaitu indikator buatan dan indicator alami. Indikator buatan adalah
indikator siap pakai yang sudah dibuat di laboratorium atau pabrik alat-alat kimia.
Sedangkan indicator alami adalah indicator yang terdapat di alam bebas yang dapat
digunakan untuk menentukan sifat asam, basa, dan garam suatu zat.

1) Indikator Buatan

Indikator buatan yang sering digunakan untuk mengidentifikasi asam


basa adalah kertas lakmus dan indikator universal. Apabila kertas lakmus biru
dicelupkan ke suatu larutan dan warnaya berubah menjadi merah, maka larutan
tersebut bersifat asam. Dan jika kertas lakmus merah dicelupkan ke suatu larutan dan
warnanya berubah menjadi biru, maka larutan tersebut bersifat basa. Suatu larutan
dikatakan netral apabila kertas lakmus yang dicelupkan baik merah ataupun biru
tidak berubah warna.

6
Indikator universal merupakan campuran berbagai indicator yang
dapat menunjukkan pH suatu larutan dari perubahan warnanya. Indikator universal
sangat praktis digunakan untuk menunjukkan warna tertentu untuk nilai pH tertentu.
Indikator ini pun dapat dibuat dalam bentuk lembaran kertas yang efisien. Selain
kertas lakmus dan indicator universal, penentuan asam basa juga dapat dilakukan
dengan menambahkan beberapa larutan indikator, misalnya phenolphthalein (PP),
bromothymol blue (BTB) , methyl red, methyl orange, dan thymolphthalein.

2) Indikator Alami

Selain menggunakan indicator buatan, suatu larutan juga dapat


ditentukan sifat asam dan basanya menggunakan indikator alami. Contoh indicator
alami yaitu bunga kembang sepatu, bunga hydrangea, kol merah, kunyit dan
beberapa jenis tumbuhan lainnya. Indikator asam basa yang baik adalah zat warna
yang memberi warna berbedadalam larutan asam dan larutan basa.

Berikut ini merupakan perubahan warna yang terjadi pada indikator


alami jika dimasukkan dalam suatu larutan asam dan basa.

a. Indkator asam basa dari bunga kembang sepatu, ketika di dalam larutan asam
akan memberikan warna merah, di dalam larutan basa akan memberikan
warna hijau, dan pada larutan netral tidak berwarna.
b. Indikator asam basa dari bunga hydrangea akan memberikan warna biru
ketika di dalam larutan asam, di dalam larutan basa akan memberikan warna
merah jambu, dan pada larutan netral tidak berwarna.
c. Indikator asam basa dari kol merah akan berubah warna menjadi merah muda
bila diceluplan ke dalam larutan asam, menjadi hijau dalam larutan basa, dan
tidak berwarna pada larutan netral.
d. Indikator asam basa dari kunyit, akan memberikan warna kuning tua ketika
dilarutkan dalam larutan asam, memberikan warna jingga di dalam larutan
basa, dan memberikan warna kuning terang pada larutan netral.

7
BAB 3

HASIL DAN PENGAMATAN

A. Tempat dan Waktu Praktikum

 Tempat : Laboratorium Ipa SMAN 1 Latambaga


 Waktu : 18 Januari 2019

B. Alat dan Bahan

1) Alat :

 Tabung reaksi
 Rak tabung reaksi
 Mortar
 Erlenmeyer
 Gelas beaker
 Batang pengaduk
 Plat tetes/cawan porseline
 Tissue
 Alat tulis

2) Bahan :

 Deterjen
 Sabun cair
 Glukosa
 Abu gosok
 Asam cuka
 Jeruk nipis
 Vitamin C (tablet)
 Air mineral
 Kertas lakmus merah dan biru

8
C. Prosedur Kerja

1) Menyiapkan alat dan bahan.


2) Memasukkan bahan yang akan diuji ke dalam tabung reaksi. Takaran
secukupnya saja.
3) Apabila bahan masih berbentuk padatan, seperti vitamin C maka terlebih
dahulu dihaluskan menggunakan mortar.
4) Setelah semua bahan dimasukkan ke dalam tabung reaksi, menambahkan air
mineral dengan perbandingan 1;1.
5) Mengguncang-guncangkan tabung reaksi dengan cara menggenggam dan ibu
jari menutup bagian atasnya. Hal ini bertujuan supaya bahan dan air di
dalamnya tercampuraduk membentuk larutan.
6) Menuangkan larutan yang telah jadi ke plat tetes. Tempat setiap larutan
berbeda-beda dan jumlah keseluruhan larutan ada tujuh.
7) Mencelupkan kertas lakmus ke setiap larutan.
8) Mengamati perubahan warna yang terjadi pada kertas lakmus
9) Mencatat hasil pengamatan dengan alat tulis.
10) Membersihkan alat-alat yang telah digunakan dan dirapikan atau
dikembalikan ke tempat semula.

D. Data Hasil Pengamatan

Larutan Yang Lakmus Lakmus Sifat


No pH
Diuji Merah Biru Larutan
1. Deterjen Biru Biru Basa pH >7
2. Sabun cair Biru Biru Basa pH >7
3. Jeruk nipis Merah Merah Asam pH< 7
4. Asam cuka Merah Merah Asam pH< 7
5. Glukosa Merah Biru Netral pH = 7
6. Abu gosok Merah Biru Netral pH = 7
7. Vitamin C Merah Merah Asam pH< 7

E. Analisis Data Pengamatan

9
Dari beberapa data yang disajikan di atas, dapat kita analisis proses yang
terjadi dan tergolong ke dalam larutan apa beberapa sampel di atas.

1) Larutan deterjen yang berbahan dasar alkil benzene sulfonat (ABS)


merupakan larutan yang bersifat basa. Karena ketka dicelupkan kertas lakmus
merah maka kertas lakmus tersebut akan berubah warna menjadi biru. Hal ini
sesuai dengan cirri-ciri basa yaitu dapat membirukan lakmus merah.
2) Sifat dari larutan sabun cair sama dengan larutan deterjen, yaitu bersifat basa.
Hal ini dapat kita lihat ketika lakmus merah yang berubah menjadi biru pada
saat dicelupkan ke larutan sabun cair.
3) Jeruk nipis atau Citrus aurantifolia merupakan larutan yang bersifat asam.
Tidak perlu menguji dengan kertas lakmus, kita dapat mengetahui bahwa
jeruk nipis bersifat asam dengan mencicipinya. Karena jeruk nipis bersifat
asam jadi ketika di larutkan dalam air dapat melepaskan ion H+.
4) Asam cuka atau asam asetat tergolong ke dalam larutan yang bersifat asam.
Hal ini ditandai dengan perubahan warna pada lakmus biru menjadi merah
ketika dicelupkan ke dalamnya.
5) Glukosa merupakan gula dengan rantai tunggal atau monosakarida yang
mempunyai rumus molekul C6H12O6. Pada saat kertas lakmus dicelupakan ke
larutan glukosa baik itu lakmus merah maupun biru tidak terjadi perubahan
warna. Dari sini dapat kita pastikan bahwa larutan glukosa bersifat netral.
6) Abu gosok merupakan limbah pembakaran atau abu dari tumbuhan, biasanya
berasal dari sekam padi. Abu gosok sama dengan glukosa yaitu bersifat
netral. Karena abu gosok dan glukosa bersifat netral, maka pH nya sama
dengan tujuh.
7) Kemudian yang terakhir adalah vitamin C. Vitamin C adalah salah satu jenis
vitamin yang larut dalam air dan memiliki peranan penting dalam menangkal
berbagai penyakit. Larutan vitamin C memiliki sifat asam, karena ketika
dicelupakan lakmus biru dapat berubah warna menjadi merah. Derajat
keasaman dari larutan vitamin C lebih kecil dari tujuh sehingga tergolong ke
dalam larutan yang bersifat asam.

BAB 4

10
PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan percobaan tersebut, kami menarik beberapa kesimpulan yaitu


kita dapat menentukan larutan yang bersifat asam, basa, dan netral dengan
menggunakan kertas lakmus. Kertas lakmus dicelupan ke larutan yang akan diuji
kemudian melihat perubahan warna yang terjadi. Apabila kertas lakmus merah
berubah menjadi biru, maka sifat dari larutan tersebut adalah basa. Sementara itu,
larutan yang bersifat asam akan merubah kertas lakmus biru menjadi merah. Akan
tetapi, apabila kertas lakmus tidak mengalami perubahan warna, maka dapat
dipastikan larutan tersebut bersifat netral.

B. Saran

Adapun saran dari kami kepada pembaca agar kiranya memanfaatkan


laporan lengkap ini sebagai media untuk menambah wawasan dalam mata pelajaran
kimia tentang Kesetimbangan Asam Basa. Selain itu, kami juga berharap kritik dan
saran yang bersifat membangun laporan percobaan larutan yang bersifat asam, basa,
dan netral ini agar kedepannya dapat lebih baik lagi.

DAFTAR PUSTAKA

11
 Umiyati, Nurhalimah. 2016. Kimia untuk SMA dan MA kelas XI. CV
Mediatama. Surakarta.
 [Link]
praktkum-kimia-tentang-pengujian-asam-basa-menggunakan-kertas-lakmus/
 [Link]
garam-serta-contoh/
 [Link]

LAMPIRAN

12
Ket : Alat dan bahan yang digunakan dalam percobaan menentukan larutan yang

bersifat asam, basa, dan netral.

Ket : Gambar di atas merupakan proses percobaan untuk menentukan sifat suatu

Larutan yaitu dengan cara mencelupkan indicator buatan berupa kertas lakmus.

Ket : Hasil akhir dari proses percobaan yang melibatkan beberapa larutan. Dan bisa

kita lihat bahwasanya ada dua kertas lakmus yang mengalami perubahan

warna dan itu merupakan larutan deterjen dan sabun cair.

13

Anda mungkin juga menyukai