100% menganggap dokumen ini bermanfaat (2 suara)
513 tayangan27 halaman

Asuhan Kebidanan pada Obesitas Remaja

Obesitas pada remaja merupakan masalah kesehatan yang semakin meningkat di Indonesia. Faktor gaya hidup tidak sehat seperti asupan makanan berkalori tinggi dan aktivitas fisik rendah berperan dalam peningkatan prevalensi obesitas. Gejala dan dampak obesitas pada remaja antara lain gangguan metabolisme, tekanan darah tinggi, dan resiko penyakit degeneratif lebih tinggi di kemudian hari. Penatalaksanaan obesitas pada
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
100% menganggap dokumen ini bermanfaat (2 suara)
513 tayangan27 halaman

Asuhan Kebidanan pada Obesitas Remaja

Obesitas pada remaja merupakan masalah kesehatan yang semakin meningkat di Indonesia. Faktor gaya hidup tidak sehat seperti asupan makanan berkalori tinggi dan aktivitas fisik rendah berperan dalam peningkatan prevalensi obesitas. Gejala dan dampak obesitas pada remaja antara lain gangguan metabolisme, tekanan darah tinggi, dan resiko penyakit degeneratif lebih tinggi di kemudian hari. Penatalaksanaan obesitas pada
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PENDAHULUAN

OBESITAS PADA REMAJA

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Praktik Asuhan Kebidanan Holistik pada


Remaja dan Pra Nikah

Oleh
YUNI KUSMIYATI
NIM P7024520046

PRODI PENDIDIKAN PROFESI KEBIDANAN


JURUSAN KEBIDANAN POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTERIAN
KESEHATAN YOGYAKARTA
TAHUN 2020
HALAMAN PENGESAHAN

LAPORAN PENDAHULUAN

“Asuhan Kebidanan Holistik pada Remaja dengan Obesitas”

Disusun Oleh

Yuni Kusmiyati
P7024520046

Menyetujui,

Pembimbing Akademik Pembimbing Klinik

Yani Widyastuti,SST.,[Link] Ika Agustina, SST

Mengetahui,
Ketua Program Studi Pendidikan Profesi Bidan

Hesty Widyasih, SST.,[Link]


NIP. 197910072005012004

ii
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, atas rahmat dan hidayah-Nya
sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan Laporan Pendahuluan terkait
Asuhan Kebidanan pada Remaja. Penulisan Laporan Pendahuluan ini dilakukan dalam
rangka memenuhi tugas praktik Asuhan Kebidanan Holistik pada Remaja dan Pra
Nikah Program Pendidikan Profesi Bidan Poltekkes Kemenkes Yogyakarta. Laporan ini
terwujud atas bimbingan, pengarahan dan bantuan dari berbagai pihak yang tidak bisa
penulis sebutkan satu persatu. Pada kesempatan ini kami juga mengucapkan terima
kasih kepada :
1. Bapak Joko Susilo, SKM., [Link]. selaku Direktur Poltekkes Kemenkes
Yogyakarta,
2. Ketua Jurusan Kebidanan dan jajaran yang telah memfasilitasi dalam
pelaksanaan kegiatan praktik profesi
3. Pembimbing Praktik Ibu Yani Widyastuti, SST.,[Link] dan Ibu Ika
Agustina,SST sebagai pembimbing lahan praktik.
4. Semua pihak yang telah membantu pada penyusunan laporan ini yang
tidak bisa saya sebutkan satu persatu.

Akhirnya tidak ada gading yang tak retak, Penulis menyadari masih banyak
kekurangan pada penulisan laporan pendahuluan ini, sehingga masukan
membangun kami harapkan untuk kesempurnaan laporan ini.

Yogyakarta, Agustus 2020

Penulis

iii
DAFTAR ISI

Halaman Judul ……………………………………………………………….. i


Halaman Pengesahan ………………………………………………………… ii
Kata Pengantar ……………………………………………………………….. iii
Daftar Isi……………………………………………………………………… iv

BAB I TINJAUAN TEORI

A. Remaja …………………………..……………….…………………... 1
B. Perubahan pada Remaja……………………………………………... 1
C. Obesitas…………………….………………………………………….. 2
D. Epidemiologi ………………...…………….………………………….. 3
E. Etiologi……………………………………….………………………... 4
F. Patofisiologi…………………………………………………………… 5
G. Pengukuran……………………………………………………………. 6
H. Dampak……………………………………………………………….. 7
I. Faktor Risiko…………………………………………………………. 10
J. Penatalaksanaan……………………………………………………… 13
BAB II TINJAUAN TEORI ASUHAN KEBIDANAN

A. Data Subjektif ……………………………………………………. 19


B. Data Objektif ……………………………………………….......... 20
C. Identifikasi Masalah atau Diagnosa………………………………. 21
D. Mengantisipasi Masalah Potensial……………………………….. 21
E. Menentukan Kebutuhan Segera………………………………….. 21
F. Menyusun Rencana Tindakan…………………………………… 21
G. Melakukan Pelaksanaan…………………………………………. 22
H. Evaluasi…………………………………………………………... 22

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................... 23

iv
BAB I
TINJAUAN TEORI
OBESITAS PADA REMAJA

A. Remaja
Remaja yang dalam bahasa Inggris sebagai adolescence dan dalam bahasa
Latin disebut adolescere yang berarti masa tumbuh dan berkembang untuk
mencapai kematangan mental, emsional, sosial, dan fisik. Masa remaja berada di
antara usia kanak-kanak dan dewas). Masa ini sangat penting untuk pertumbuhan
dan perkembangan seseorang sehingga keadaan gizi dan kesehatan pada masa
remaja sangat mempengaruhi masa dewasa kelak.
Menurut WHO, remaja adalah penduduk dalam rentang usia 10-19
tahun1, menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 25 tahun
2014, remaja adalah penduduk dalam rentang usia 10-18 tahun
dan menurut Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN) rentang
usia remaja adalah 10-24 tahun dan belum menikah.

B. Perubahan pada Remaja


Perubahan dari segi biologis dan fisiologis remaja adalah sebagai berikut.
1) Tinggi Badan Percepatan tumbuh anak perempuan terjadi lebih dulu
dibandingkan anak laki-laki, tetapi puncak percepatan tumbuh anak laki-laki
lebih tinggi dibandingkan anak perempuan. Sekitar 15-20% tinggi badan di
masa dewasa dicapai pada masa remaja.
2) Berat Badan Makanan yang dikonsumsi dan kalori yang dibakar setiap harinya
sangat mempengaruhi penambahan julah berat badan pada remaja. Sekitar 25-
50% berat badan ideal dewasa dicapai pada masa remaja.
3) Komposisi Tubuh Di masa prapubertas, proporsi jaringan lemak, otot, dan
massa tubuh tanpa lemak (lean body mass) antara anak laki-laki dan
perempuan adalah sama. Sedangkan pada masa pertumbuhan yang pesat,
proporsi penambahan jumlah otot lebih banyak daripada jaringan lemak dan
lean body mass pada anak laki-laki dibandingkan anak perempuan.

1
Penambahan massa tulang yang terjadi pada remaja sekitar 45% dan di akhir
dekade kedua kehidupan 90% massa tulang telah tercapai2.

C. Obesitas Remaja
Pengertian obesitas adalah penumpukan lemak yang berlebihan atau
abnormal yang dapat menggangu kesehatan3. Obesitas adalah kondisi yang
ditandai gangguan keseimbangan energi tubuh yaitu terjadi ketidakseimbangan
energi positif yang akhirnya disimpan dalam bentuk lemak di jaringan tubuh4
Obesitas adalah terjadinya penumpukan lemak dalam tubuh yang abnormal dalam
kurun waktu yang lama dan dikatakan obesitas bila nilai Z-scorenya >2SD
berdasarkan IMT/U umur 5-18 tahun 5.
Selain dapat didefinisikan berdasarkan hasil pengukurannya, pengertian
obesitas juga dapat dilihat dari penyebabnya. Obesitas merupakan hasil dari
ketidakseimbangan kalori yang bersifat kronis, dengan konsumsi kalori berlebihan
dibandingkan dengan pembakaran kalori per harinya6 Di samping itu, kondisi
kompleks yang dipengaruhi oleh interaksi-interaksi dari faktor genetik dan non-
genetik juga dapat diartikan sebagai obesitas7.

D. Epidemiologi
Negara-negara dengan pendapatan rendah dan menengah kini sedang
mengalami beban ganda atau double burden terkait dengan masalah penyakit. Di
satu sisi pemerintah sedang berjuang menghadapi penyakit infeksi dan kurang gizi
sedangkan di sisi lain faktor risiko dari penyakit tidak menular seperti obesitas
dan kelebihan berat badan mengalami peningkatan yang cepat1. Sudah biasa
kurang gizi dan obesitas ditemukan berdampingan dalam satu Negara,
Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menyatakan
prevalensi obesitas atau kegemukan pada orang dewasa di atas 18 tahun terus
meningkat dari tahun ke tahun sejak 2007. Berdasarkan hasil Riskesdas 2018
Badan Litbangkes Kementerian Kesehatan menunjukkan prevalensi obesitas
meningkat sejak tiga periode Riskesdas yaitu pada 2007 10,5 persen, 2013 14,8
persen, dan 2018 21,8 persen. Jumlah tersebut diambil dari hasil survei pada 300

2
ribu sampel rumah tangga di seluruh Indonesia yang dilakukan dalam Riskesdas.
Indikator obesitas pada dewasa yaitu pada orang dengan indeks massa tubuh
8
(IMT) di atas 27,0. Di mana IMT normal berada pada angka 18,5 sampai 22,9.
Peningkatan obesitas penduduk Indonesia ini juga diikuti dengan
peningkatan pola hidup tidak sehat yang dilakukan oleh masyarakat Indonesia.
Sejak tahun 2013 prevalensi merokok pada remaja usia 10-18 tahun terus
meningkat dari 7,2 persen (Riskesdas 2013) menjadi 8,8 persen (Survei Indikator
Kesehatan Nasional 2016) dan naik lagi menjadi 9,1 persen.8 Proporsi konsumsi
minuman beralkohol penduduk pun meningkat dari tiga persen menjadi 3,3
persen; dan selain itu ada 0,8 persen yang mengonsumsi alkohol berlebihan.
Proporsi aktivitas fisik kurang pada penduduk juga naik dari 26,1 persen menjadi
33,5 persen; dan proporsi konsumsi buah dan sayur kurang pada penduduk di atas
lima tahun masih 95,5 persen.8

Sumber: Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, 2013;262 9


Gambar 1. Prevalensi Gemuk dan Obesitas pada Remaja Usia 15-18 Menurut
Provinsi.

Remaja umur 16-18 tahun, prevalensi gemuk sebesar 7.3% dengan 5.7%
gemuk dan 1.6% obesitas. DKI Jakarta menjadi provinsi dengan prevalensi gemuk
tertinggi yaitu 4.2% dan prevalensi terendah pada Sulawesi Barat sebanyak 0.6%.
Pada rentang umur ini, terdapat 15 provinsi dengan prevalensi obesitas di atas

3
nasional antara lain Bangka Belitung, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, Banten,
Kalimantan Tengah, Papua, Jawa Timur, Kepulauan Riau, Gorontalo, DI
Yogyakarta, Bali, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, dan DKI Jakarta9
Dihitung berdasarkan IMT dan umur, kecenderungan status gizi remaja
umur 16-18 tahun pada 2010 dan 2013 terjadi peningkatan prevalensi gemuk dari
1.4% (2007) menjadi 7.3% (2013), sedangkan prevalensi kurus relatif sama tahun
2007 dan 2013 dan prevalensi sangat kurus naik 0.4%. 9

Sumber: Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, 2013;262 9


Gambar 2.. Status Gizi pada Remaja

E. Etiologi
Secara umum, obesitas disebabkan oleh interaksi kompleks dari faktor
(10, 11)
genetik, aktivitas fisik, konsumsi makanan, dan lingkungan . Faktor lain
yang berperan dalam terjadinya obesitas pada seseorang antara lain riwayat
obesitas, metabolisme, perilaku, sosial-budaya, dan status sosial- ekonomi juga
ikut andil di dalamnya6. Oleh sebab itu, penyebab obesitas dinilai sebagai
multikausal dan multidimensional karena bisa terjadi pada berbagai golongan
masyarakat12. Faktor lingkungan merupakan penyebab utama obesitas sedangkan
faktor genetik yang juga diyakini berperan penting dalam terjadinya obesitas,
tidak dapat menjelaskan terjadinya peningkatan prevalensi kegemukan dan
obesitas 12.
Ketidakseimbangan antara pola makan, perilaku makan, dan aktivitas fisik
merupakan pengaruh faktor lingkungan yang utama. Pola makan yang terkait

4
dengan obesitas antara lain mengonsumsi makanan porsi besar atau melebihi
kebutuhan, makanan tinggi energi, tinggi lemak, tinggi karbohidrat sederhana dan
rendah serat. Perilaku makan yang tidak sehat meliputi tindakan memilih
makanan berupa junk food, makanan dalam kemasan, dan minuman ringan atau
soft drink. Sedangkan aktivitas fisik yang mengarah pada sedentary life style
akibat perubahan gaya hidup menjadi pencetus terjadinya obesitas, khususnya di
Indonesia. Kurangnya aktivitas fisik tersebut terjadi akibat semakin terbatasnya
lapangan untuk bermain dan kurangnya fasilitas untuk beraktivitas ditambah
dengan kemajuan teknologi seperti video game, playstation, televise dan
komputer yang menyebabkan, anak-anak khususnya, lebih bermain di dalam
rumah 12
Berkaitan dengan kompleksnya penyebab obesitas, dalam studinya,
McAllister dkk. (2009) menyebutkan bahwa terdapat sepuluh faktor lain yang
turut berkontribusi dalam menyebabkan obesitas selain etiologi yang telah
disebutkan di atas. Kesepuluh faktor tersebut meliputi infeksi, epigenetik, usia ibu
hamil, fertilitas atau kesehatan reproduksi, assortative mating, kurang tidur,
pharmaceutical iatrogenesis, intrauterin dan efek intergenerasi, serta berkurangnya
variabilitas suhu ambeien13.

F. Patofisiologi
Zat gizi makro dan mikro menghasilkan energi yang diperlukan oleh
tubuh. Asupan zat gizi makro yaitu karbohidrat, protein dan lemak bila di
konsumsi berlebihan dapat menyebabkan gangguan kesehatan. Asupan lemak
lebih banyak menghasilkan energi dibandingkan dengan karbohidrat atau protein.
Setelah makan, lemak dikirim kejaringan adiposa untuk disimpan sampai
dibutuhkan kembali sebagai energi. Oleh karena itu asupan lemak berlebih akan
lebih mudah menambah berat badan. Kelebihan asupan protein juga dapat diubah
menjadi lemak tubuh. Asupan protein yang melebihi kebutuhan tubuh, maka asam
amino akan melepas ikatan nitrogennya dan diubah melalui serangkaian reaksi
menjadi trigiserida. Kelebihan karbohidrat akan disimpan dalam bentuk glikogen

5
dan lemak. Glikogen akan disimpan didalam hati dan otot. Kemudian lemak akan
di simpan disekitar perut dan dibawah kulit 14.

G. Pengukuran
Metode yang paling umum dilakukan untuk mengukur obesitas adalah
Indeks Massa Tubuh (IMT) yang dihitung berdasarkan berat badan (dalam
kilogram) dibagi dengan kuadrat tinggi (dalam meter) Selain itu, IMT juga
disetujui secara internasional dalam melukiskan status gizi yang meliputi
kekurangan berat badan, berat badan normal, kelebihan berat badan, dan obesitas
pada orang dewasa sedangkan pada anak-anak menjadi lebih sulit karena faktor
15
umur, jenis kelamin, status pubertas, dan ras atau etnis . IMT merupakan cara
terbaik dalam mengukur prevalensi obesitas pada tingkat populasi. Meskipun
demikian, IMT bukan merupakan pengukuran secara langsung terhadap obesitas.
IMT tidak dapat membedakan antara massa dari lemak tubuh dan otot atau
distribusi lemak sehingga cara lain yang direkomendasikan adalah dengan
mengukur lingkar pinggang atau waist circumference. Pengukuran lingkar
pinggang juga dapat digunakan untuk risiko kesehatan. Oleh sebab itu, kedua cara
pengukuran tersebut dipakai bersamaan dalam menentukan status gizi
seseorang.10,13 Secara umum, WHO mendefinisikan IMT ≥ 25 sebagai kelebihan
berat badan dan IMT ≥ 30 sebagai obesitas3. Berikut adalah klasifikasi status gizi
menrut WHO.
Tabel 1. Klasifikasi Internasional Status Gizi Dewasa Berdasarkan IMT
Klasifikasi IMT
Underweight <18,50
Severe thinnes <16,00
Moderate thinness 16,00-16,99
Mild thinness 17,00-18,49
Normal range 18,50-24,99
Overweight ≥25,00
Pre-obese 25,00-29,99
Obese ≥30,00

6
Obese class I 30,00-34,99
Obese class II 35,00-39,99
Obese class III ≥40,00
Sumber : WHO,2015 diadaptasi dari WHO, 1995, WHO, 2000 and WHO 20043

Obesitas berdasarkan pengukuran lingkar pinggang didefinisikan apabila


>102 cm pada laki-laki dan >88 cm pada perempuan. Sedangkan menurut
National Institute for Health and Clinical Excellence (NICE) terdapat tiga
klasifikasi untuk pengukuran lingkar pinggang, antara lain untuk laki-laki rendah
<92 cm, tinggi adalah 92-102 cm dan sangat tinggi adalah >102 cm. Untuk
perempuan, lingkar pinggang rendah adalah <80 cm, tinggi adalah 80-88 cm dan
sangat tinggi adalah >88 cm (HSCI, 2014). NICE mengklasifikasikan IMT dan
lingkar pinggang dengan peningkatan risiko terjadinya penyakit seperti yang
tertera pada tabel berikut.
Tabel 2. Klasifikasi Hubungan antara IMT dan Lingkar Pinggang dengan Risiko
Kesehatan

IMT (kg/m2 ) Lingkar Pinggang


Rendah Tinggi Sangat Tinggi
Normal (18.5 sampai < Tidak Tidak Meningkatkan
25.0) meningkatkan meningkatkan risiko
risiko risiko
Kelebihan berat badan Tidak Meningkatkan Risiko tinggi
(25.0 sampai <30.0) meningkatkan risiko
risiko
Obesitas I (30.0 sampai Meningkatkan Risiko tinggi Risiko sangat
<35.0) risiko tinggi
Obesitas II (35.0 sampai Risiko sangat tinggi Risiko sangat tinggi Risiko sangat
<40) tinggi
Obesitas III (≥40.0) Risiko sangat tinggi Risiko sangat tinggi Risiko sangat
tinggi

7
H. Dampak Obesitas
Penumpukan lemak berlebih pada orang dengan obesitas menyebabkan
berbagai komplikasi terhadap kesehatan. Oleh sebab itu, kelebihan berat badan
atau obesitas di rentang usia 14-19 tahun berkaitan dengan meningkatnya
mortalitas di masa dewasa akibat penyakit-penyakit sistemik15. WHO
menyebutkan bahwa kondisi kelebihan berat badan dan obesitas lebih erat
hubungannya dengan mortalitas di dunia dibandingkan dengan kondisi
kekurangan berat badan1. Selain itu, meningkatnya risiko penyakit metabolik dan
degeneratif juga menjadi komplikasi jangka panjang pada anak dengan
kegemukan dan obesitas. Beberapa komplikasi yang dapat terjadi di masa dewasa
dari seorang anak yang obesitas antara lain penyakit kardiovaskuler15 diabetes
mellitus, kanker, osteoarthritis, hipertensi, dislipidemia, resistensi insulin fatty
liver disease, komplikasi psikososial, gangguan paru seperti obstructive sleep
apnoea dan reactive airway disease 10,15
Masalah nutrisi lain yang menjadi komplikasi obesitas adalah defisiensi
vitamin D dan zat besi. Defisiensi zat besi tersebut berkaitan dengan tingginya
lemak pada obesitas yang menyebabkan produksi sitokin proinflamasi meningkat
yang diikuti dengan pelepasan hepsidin, sebuah hormon peptida yang dihasilkan
oleh hati dan adiposity, sehingga menurunkan penyerapan zat besi pada usus
Selain itu, obesitas pada anak juga berakibat buruk terhadap perkembangan
psikologis, sosial, dan perilaku anak seperti masalah terkait bentuk tubuh, harga
diri, isolasi sosial dan diskriminasi, depresi, hingga penurunan kualitas hidup 10,15.
Obesitas yang terjadi pada masa remaja ini perlu mendapatkan perhatian,
sebab obesitas yang timbul pada waktu anak dan remaja bila kemudian berlanjut
hingga dewasa akan sulit di atasi. Beberapa dampak yang terjadi dalam jangka
panjang diantaranya adalah sebagai berikut 16:
a. Sindrom resistensi insulin
Kegemukan sekitar perut, terutama yang bertipe buah apel, umumnya
mengalami penurunan jumlah insulin dalam darah. Akibatnya hal tersebut
memicu anak terserang Diabetus Millitus tipe 2. Penderita DM tipe 2 selain
memiliki kadar glukosa yang tinggi, juga memiliki kadar insulin yang tinggi

8
atau normal. Keadaan inilah yang disebut sindrom resistensi insulin atau
sindrom X.
b. Tekanan Darah Tinggi
Obesitas adalah salah satu penyebab utama yang mempengaruhi tekanan darah.
Sekitar 20-30% anak yang kegemukan mengalami hipertensi. Dikatakan hipertensi
jika mengalami tekanan darah tinggi yaitu systole lebih besar dari 140 mmHg, dan
diastole lebih besar dari 90 mmHg.
c. Penyakit Jantung Koroner
Penyakit yang terjadi akibat penyempitan pembuluh darah [Link]
terkena penyakit jantung koroner semakin meningkat seiring dnegan
perubahan terjadinya penambahan berat badan yang berlebihan. Penyakit
jantung koroner tidak selalu akibat kegemukan, tetapi diperburuk oleh faktor
risiko lain yang terjadi pada masa kanakkanak seperti hipertensi, kolesterol
tinggi dan diabetes.
d. Gangguan pernafasan
Gambbuan pernapasan seperti asma, nafas pendek, menggorok saat tidur dan
tidur apnue (terhentinya pernafasan untuk sementara waktu ketika sedang
tidur). Hal ini disebabkan karena penimbunan lemak yang berlebihan di
bawah diagragma dalam dinding dada yang menekankan paru-paru
e. Gangguan tulang persendian
Beban tubuh anak yang terlalu berat mengakibatkan gangguan ortopedi dan
gangguan lain yang sering dirasakan adalah nyeri punggung bawah dan nyeri
akibat radang sendi.

I. Faktor Risiko
Faktor risiko obesitas dipengaruhi oleh banyak faktor. Sebagian besar
faktor risiko obesitas yaitu jenis kelamin, faktor genetik dan faktor lingkungan,
antara lain aktivitas fisik, asupan makan, sosial [Link] bawah ini adalah
faktor – faktor risiko terjadinya obesitas :

9
a. Keturunan
Faktor keturunan juga dapat mempengaruhi pembentukan lemak tubuh.
Seseorang mempunyai faktor keturunan yang cenderung membangun lemak tubuh
lebih banyak dibandingkan orang lain. Bawaan sifat metabolisme ini
menunjukkan adanya gen bawaan pada kode untuk enzim lipoprotein lipase (LPL)
yang lebih efektif. Enzim ini memiliki suatu peranan penting dalam proses
mempercepat penambahan berat badan karena enzim ini bertugas mengontrol
kecepatan trigiserida dalam darah yang dipecah-pecah menjadi asam lemak dan
disalurkan ke sel-sel tubuh untuk di simpan sehingga lama kelamaan
menyebabkan penambahan berat badan. Parental fatness merupakan faktor
keturunan yang berperan besar. Jika kedua orang tua obesitas, 80% anaknya akan
menderita obesitas, namun jika salah satu orang tuanya obesitas maka kejadian
obesitas 40% dan bila kedua orang tuanya tidak obesitas maka prevalensinya
menjadi 14%[Link] faktor keturunan orang tua menderita obesitas
mempengaruhi kejadian obesitas pada anak. Faktor keturunan akan menentukan
jumlah unsur sel lemak dalam lemak yang melebihi ukuran normal, sehingga
secara otomatis akan diturunkan kepada bayi selama kandungan. Sel lemak pada
kemudian hari akan menjadi tempat penyimpanan kelebihan lemak atau ukuran
sel lemak akan mengecil tetepi masih tetap berada di tempatnya18
b. Konsumsi Makan
Konsumsi makan adalah semua jenis makanan dan minuman yang
dikonsumsi setiap hari. Secara biologis makanan berfungsi memenuhi kebutuhan
energi, zat gizi dan komponen kimiawi yang dibutuhkan tubuh yaitu karbohidrat,
protein, lemak, vitamin, dan mineral. Metabolisme zat gizi yang terjadi di dalam
tubuh berperan menghasilkan energi, membangun sel, dan memelihara
keseimbangan elektrolit dan sistem daya tahan tubuh. Konsumsi makanan
berpengaruh terhadap status gizi seseorang. Status gizi yang optimal apabila tubuh
memperoleh cukup zat – zat gizi yang dapat digunakan secara [Link]
muncul pada usia remaja cenderung berlanjut ke dewasa dan lansia 19
1) Konsumsi Karbohidrat. Karbohidrat merupakan zat makanan yang paling
cepat mensuplai energi sebagai bahan bakar tubuh, terutama saat kondisi

10
tubuh lapar. Setelah makanan yang mengandung karbohidrat dikonsumsi,
karbohidrat akan segeara dioksidasi untuk memenuhi kebutuhan energi (Adi,
2017). Karbohidrat akan menyumbang 4 kalori di dalam makanan.
Mengkonsumsi karbohidrat dalam jumlah yang berlebih dapat menyebabkan
faktor risiko obesitas. Konsumsi obesitas melebihi kecukupan akan disimpan
dalam tubuh berbentuk lemak atau jaringan lain yang akan menimbulkan
masalah kesehatan.
2) Konsumsi Lemak
Lemak dalam tubuh yaitu lipoprotein (mengandung trigiserida, fosfolipid, dan
kolestreol) yang berhubungan dengan protein. Lemak akan menghasilkan
kalori tertinggi dibandingkan dengan zat gizi makro lainnya yaitu sebesar 9
kalori didalam makanan. Sumber utama lemak adalah minyak tumbuh-
tumbuhan (minyak kelapa, kelapa sawit, kacang tanah, kacang kedelai, jagung
dan sebagainya)[Link] lebih banyak menghasilkan energi dibandingkan
dengan karbohidrat atau [Link] makan, lemak dikirim kejaringan
adiposa untuk disimpan sampai dibutuhkan kembali sebagai energi. Oleh
karena itu konsumsi lemak berlebih akan lebih mudah menambah berat
badan14.
3) Konsumsi Protein
Protein merupakan salah satu zat gizi makro yang penting bagi tubuh selain
karbohidrat dan [Link] selain berguna sebagai sumber energi, protein
juga dapat berfungsi untuk memelihara sel-sel didalam tubuh pada masa
[Link] yang tinggi protein biasanya memiliki lemak yang
21
tinggi pula sehingga dapat menyebabkan obesitas . Protein akan
menyumbang energi sebesar 4 kalori didalam [Link] asupan
protein juga dapat diubah menjadi lemak [Link] protein yang
melebihi kebutuhan tubuh, maka asam amino akan melepas ikatan nitrogennya
dan diubah melalui serangkaian reaksi menjadi trigiserida14.

11
c. Sosial Ekonomi
Faktor ekonomi yang cukup dominan dalam konsumsi pangan adalah
pendapatan keluarga dan harga pangan. Meningkatnya pendapatan akan
meningkatkan peluang untuk membeli pangan dengan kualitas dan kuantitas yang
lebih baik, sebaliknya penurunan pendapatan keluarga akan menyebabkan
menurunnya daya beli pangan baik secara kualitas maupun kuantitas.
Meningkatnya taraf hidup (kesejahteraan) masyarakat, pengaruh promosi iklan,
serta kemudahan informasi, dapat menyebabkan perubahan gaya hidup dan
timbulnya kebutuhan psikogenik baru dikalangan masyarakat ekonomi menengah
ke atas. Tingginya pendapatan yang tidak diimbangi dengan pengetahuan gizi
yang cukup, akan menyebabkan seseorang menjadi sangat konsumtif dalam pola
makannya sehari – hari, sehingga pemilihan suatu bahan makanan lebih
22
didasarkan pada pertimbangan selera dibandingkan dari aspek gizi . Pemilihan
bahan makanan yang salah akan menyebabkan kurangnya asupan buah sayur
sehari-hari. Mengkonsumsi buah sayur merupakan upaya yang dapat mencegah
terjadinya kejadian obesitas, karena dapat mengurangi rasa lapar tetapi tidak
menimbulkan lemak. Konsumsi sayur dan buah adalah bagian dari stategi dalam
mengontrol kegemukan dan obesitas. Penelitian Drapeau 2004 menyatakan bahwa
konsumsi makanan tinggi serat, seperti konsumsi buah-buahan dan sayuran
berhubungan dapat mencegah kenaikan berat badan23.
d. Jenis Kelamin
Kebutuhan zat gizi antara laki-laki dan perempuan berbeda. Perbedaan ini
disebabkan karena jaringan penyusun tubuh dan aktivitasnya. Jaringan lemak pada
perempuan cenderung lebih tinggi dari pada laki-laki. Sedangkan laki-laki
cenderung lebih banyak memiliki jaringan otot. Hal ini menyebabkan lean body
mass laki-laki menjadi lebih tinggi dari pada perempuan22 Obesitas lebih banyak
ditemukan pada wanita dibandingkan dengan laki – laki disebabkan proporsi
lemak tubuh pada wanita lebih tinggi dan banyak tersimpan di daerah panggul
dibandingkan pria yang tersimpan di perut. Perempuan lebih cenderung
mengalami peningkatan penyimpanan lemak. Hasil penelitian menunjukkan

12
bahwa kecenderungan perempuan terhadap asupan makan sumber karbohidrat
yang lebih banyak sebelum masa pubertas, sementara kecenderungan laki-laki
mengkonsumsi makanan kaya protein. Kebutuhan zat gizi anak laki – laki berbeda
dengan anak perempuan dan biasanya lebih tinggi karena anak laki-laki memiliki
aktivitas fisik yang lebih tinggi.
e. Aktivitas Fisik
Aktivitas fisik adalah pergerakan tubuh dihasilkan oleh otot rangka yang
mengeluarkan [Link] energi bervariasi tergantung tingkat aktivitas
fisik dan pekerjaan yang [Link] fisik berguna untuk melancarkan
peredaran darah dan membakar [Link] fisik akan membakar energi yang
masuk, sehingga jika asupan kalori berlebih serta kurangnya aktivitas fisik yang
dilakukan akan menyebabkan tubuh mengalami kegemukan. Aktivitas fisik dapat
menurunkan risiko hipertensi, penyakit jantung koroner, stroke, diabetes24. Hasil
penelitian Suryaputra dan Nadhiroh, 2012 terdapat perbedaan yang bermakna pula
pada aktivitas fisik remaja obesitas dengan non obesitas, dimana sebagian besar
anak yang obesitas hanya memiliki aktivitas ringan.25

J. Penatalaksanaan Remaja Obesitas


a. Konsumsi Buah dan Sayur
Kecukupan asupan serat kini dianjurkan semakin tinggi, mengingat
banyak manfaat yang menguntungkan untuk kesehatan tubuh. Asupan serat
dibutuhkan oleh tubuh sebesar 25 gr/hari. Apabila asupan serat rendah, maka
dapat menyebabkan obesitas yang berdampak terhadap peningkatan tekanan darah
dan penyakit degeneratif. Asupan serat yang rendah dapat meyebabkan gizi lebih,
karena cenderung mengkonsumsi makanan tinggi lemak yang lebih mudah
dicerna dibandingkan serat. Kurang konsumsi buah sayur dapat meningkatkan
risiko kegemukan pada seseorang, karena konsumsi buah sayur yang cukup akan
menyediakan serat yang dapat mencegah terjadinya kegemukan26

13
Tabel 3. Kadar Serat Pangan dalam Sayuran dan Buah buahan
Jenis Sayuran / Jumlah serat per Jenis Sayuran / Jumlah serat per
Buah-buahan 100 gram Buah-buahan 100 gram
Sayuran
Wortel rebus 3,3 Daun papaya 2,1
Kangkung 3,1 Daun singkong 1,2
Brokoli rebus 2,9 Asparagus 0,6
Labu 2,7 Jamur 1,2
Jagung Manis 2,8 Terong 0,1
Kembang Kol 2,2 Buncis 3,2
Daun bayam 2,2 Nangka muda 1,4
Kentang rebus 1,8 Daun kelor 2,0
Kubis rebus 1,7 Sawi 2,0
Tomat 1,1 Brokoli 20,5
Touge 0,7 Kacang Panjang 3,2
Buah
Alpukat 1,4 Nanas 0,4
Anggur 1,7 Pepaya 0,7
Apel 0,7 Pisang 0,6
Belimbing 0,9 Semangka 0,5
Jambu biji 5,6 Sirsak 0,2
Jeruk Bali 0,4 Srikaya 0,7
Jeruk Sitrun 2,0 Strawberry 6,5
Mangga 0,4 Pear 3,0
Melon 0,3
Sumber : Food Facts Asia (1999), Nainggolan O dan Adimunca C (2005)27
Buah – buahan dan sayuran adalah sumber serat serta makanan yang
paling mudah dijumpai dalam menu masyarakat. Buah sayur berfungsi sebagai
pembawa lemak dan kolesterol ke luar tubuh, melancarkan defekasi, mengandung
flavonoid sebagai penghalang zat potensial penyebab kanker, antivirus, antialergi
dan antiperadangan, mengandung enzim yang penting bagi sistem saluran
pencernaan dan penyerapan gizi, mengandung potasium tinggi untuk mencegah

14
hipertensi dan menjaga kesehatan pembuluh darah jantung. Menurut WHO, 2003
masyarakat yang kurang mengkonsumsi buah dan sayur akan memiliki risiko
yang lebih tinggi untuk terkena penyakit degeneratif seperti obesitas, PJK
(Penyakit Jantung Koroner), diabetes, hipertensi, kanker usus besar dan lain-lain.
Mengkonsumsi buah sayur merupakan upaya yang dapat mencegah
terjadinya kejadian obesitas, karena di dalam buah sayur terdapat serat yang dapat
mengurangi rasa lapar tetapi tidak menimbulkan kelebihan lemak dan
[Link] larut air seperti pektin serta beberapa jenis hemiselulosa
mempunyai kemampuan menahan air dan dapat membentuk cairan kental dalam
saluran pencernaan. Makanan yang kaya akan serat, dicerna lebih lama dalam
lambung, kemudian serat tersebut akan menarik air dan akan memberikan rasa
kenyang lebih lama sehingga akan mencegah makan berlebihan. Makanan yang
mengandung serat kasar lebih tinggi biasanya akan mengandung kalori rendah,
28
kadar gula dan lemak yang dapat membantu mengurangi terjadinya obesitas .
Hasil penelitian Sari, 2012 menyatakan bahwa sebanyak 8,9% remaja yang tidak
konsumsi buah sayur memiliki status gizi lebih dan 9,4% remaja yang sering
mengkonsumsi buah sayur memiliki status gizi lebih dapat disimpulkan tidak ada
hubungan yang signifikan antara konsumsi buah sayur dengan status gizi remaja.
Hasil penelitian Kusteviani, 2015 menunjukkan terdapat hubungan antara perilaku
konsumsi sayur dan atau buah dengan obesitas abdominal pada usia produktif (15-
64 tahun) di Kota Surabaya.

b. Aktivitas Fisik
Aktivitas fisik merupakan gerakan tubuh untuk melakukan kegiatan yang
dilakukan saat bekerja, bermain, berolahraga dll yang membutuhkan pengeluaran
energi yang dihasilkan oleh otot [Link]/FAO 2003 menyatakan bahwa
aktivitas fisik adalah variabel utama setelah angka metabolisme basal dalam
perhitungan pengeluaran energi. Besarnya aktivitas fisik yang dilakukan
seseorang selama 24 jam dinyatakan dalam Physical Activity Level (PAL). Salah
satu target dalam modifikasi gaya hidup pada obesitas adalah meningkatan
aktivitas fisik. Aktivitas fisik yang dilakukan secara teratur dan dalam jumlah

15
yang cukup dalam sehari dapat mengontrol berat badan, meningkatkan kesehatan
dan kebugaran sehingga dapat mengurasi risiko bebagai penyakit.
PAL merupakan besarnya energi yang dikeluarkan (kkal) per kilogram
berat badan dalam 24 jam. PAL ditentukan dengan rumus sebagai berikut
FAO/WHO/UNU (2001).
𝑃𝐴𝐿 = ∑(𝑃𝐴𝑅 𝑥 𝑎𝑙𝑜𝑘𝑎𝑠𝑖 𝑤𝑎𝑘𝑡𝑢 𝑡𝑖𝑎𝑝 𝑎𝑘𝑡𝑖𝑣𝑖𝑡𝑎𝑠)/ 24 𝑗𝑎m
Keterangan:
PAL : Physical activity level (tingkat aktivitasfisik)
PAR: Physical activity ratio (jumlah energi yang dikeluarkan untuk tiap jenis
aktivitas per satuan waktu tertentu)
Kategori tingkat aktivitas fisik berdasarkan nilai PAL Kategori Nlai PAL Ringan
(sedentary lifestyle) 1.40 – 1.69, Berat (vigorous or vigorously active lifestyle)
1.70 – 2.40 (FAO/WHO/UNU (2001)
Rendahnya aktifitas merupakan faktor yang meningkatkan kegemukan (Vertikal,
2012).Aktivitas fisik berperan penting dalam pengeluaran energi sehingga dapat
mencegah munculnya gizi [Link] energi tersebut merupakan akibat
dari penggunaan energi untuk aktivitas fisik itu sendiri maupun hubungannya
dengan metabolisme basal. Kaitannya dengan metabolisme basal dijelaskan
bahwa aktivitas fisik berperan dalam memelihara dan membentuk massa otot.
Massa otot ini akan mempengaruhi metabolisme basal dimana jumlah massa otot
akan meningkatkan angka metabolisme basal. Dengan meningkatnya angka
metabolisme basal maka pengeluaran energi semakin besar sehingga dapat
membakar sel lemak dalam [Link] itu, dijelaskan pula bahwa seseorang
yang aktif mempunyai angka metabolisme basal 5-10% lebih tinggi dibandingkan
dengan orang yang tidak aktif .
Jenis aktifitas dalam pelaksanaannya harus memperhatikan frekuensi,
durasi dan intensitas serta di sesuaikan dengan umur dan kondisi fisik
[Link] seseorang umumnya tergolong menjadi 3 kategori yaitu
ringan, sedang, [Link] berat aktivitas yang dikeluarkan maka semakin
besar energi yang diperlukan. Kemajuan teknologi seperti televisi, komputer dan
internet juga mengakibatkan anak menjadi malas bergerak. Anak – anak lebih tertarik

16
untuk menghabiskan sebagian besar waktunya dengan melakukan aktivitas pasif,
antara lain bermain video game, game online berinternet dan menonton acara
televisi yang setiap hari anak menghabiskan waktu sekitar 3 jam untuk menonton
siaran televisi. Berbagai aktivitas pasif tersebut tidak membutuhkan banyak
[Link], mereka pun berisiko mengalami obesitas16.
Hasil penelitian Anggraeni, 2008 anak obesitas (60%) yang menghabiskan
waktu lebih dari 8 jam untuk tidur dalam sehari terdapat hubungan yang
signifikan antara lamanya waktu yang dihabiskan tidur dalam sehari dengan status
gizi obesitas. Serta adanya hubungan dengan lamanya menonton tv ≥ 2 jam
(69,7%) dengan status gizi obesitas. Hasil penelitian Wulandari, dkk 2016
menyatakan adanya hubungan antara aktivitas fisik ringan (81,8%) dengan
obesitas pada remaja di SMA Negeri 4 Kendari. Hasil penelitian mengenai
aktivitas fisik yang dilakukan oleh remaja obesitas dengan tidak obesitas
menunjukkan sebagian besar reponden melakukan aktivitas ringan, terutama
untuk remaja yang status gizi obesitas. Hasil penelitian Saragih, 2015 menyatakan
sebagian besar remaja yang gemuk dan normal melakukan aktivitas fisik yang
sedang (81,5%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kejadian gizi lebih pada
remaja yang tingkat aktivitasnya sedang-berat (53%) lebih besar dari pada remaja
yang aktivitasnya ringan (47%).30

17
BAB II
TINJAUAN TEORI ASUHAN KEBIDANAN REMAJA DENGAN
OBESITAS

A. Data Subjektif
1. Biodata Remaja dan Orangtua
Nama : Nama perlu ditanyakan agar tidak keliru bila ada
kesamaan nama dengan klien lain.
Umur : Untuk mengetahui klasifikasi usia remaja
Pendidikan : Pendidikan mempengaruhi tingkat pengetahuan dan
beban akademik remaja dan pengetahuan orangtua
Pekerjaan : Untuk mengetahui aktivitas sehari hari remaja dan
juga sosial ekonomi orangtua
Alamat : Untuk mengetahui karakteristik geografis remaja
berasal

2. Keluhan Utama
Apa yang dirasakan remaja pada saat ini, baik keluhan fisik, psikis
maupun sosial..
3. Riwayat Menstruasi
Untuk mengetahui riwayat obstetric remaja sebagai akibat dari obesitas.
4. Riwayat Kesehatan Remaja
Untuk mengetahui riwayat penyakit yang bisa berdampak pada obesitas
atau penyakit yang terjadi sebagai dampak dari obesitas
5. Riwayat Kesehatan Keluarga.
Ditanyakan mengenai latar belakang kesehatan keluarga terutama penyakit
keturunan seperti DM atau ada keluarga yang juga menderita obesitas
6. Pola Kebiasaan
a) Nutrisi :
Makanan perlu dikaji terutama konsumsi serat (Buah dan sayur) dan
juga perilaku pemenuhan kebutuhan nutrisi yang memicu terjadinya
obesitas.

19
b) Personal Hygiene :
Menjaga kebersihan tubuh akibat metabolism dan kemungkinan
keringat berlebih dan lembab yang terjadi pada remaja obesitas.
c) Eliminasi :
BAK hendaknya 3-4x/hari berwarna kuning jernih tidak terdapat
endapan ataupun [Link] 1x/hari konsistensi lembek dan berwarna
khas.
d) Istirahat :
Ibu minimal tidur malam selama 6 jam hal ini bermanfaat untuk
menjaga kesehatan dan metabolism remaja.
e) Aktivitas
Aktifitas merupakan salah satu faktor yang menyababkan timbulnya
masalah obesitas terutama kurangnya olahraga pada remaja.

B. Data Objektif
1. Pemeriksaan umum
Keadaan umum : Perlu dikaji untuk melihat tampilan umum remaja
Kesadaran : Composmentis
Tensi normal : 90 / 60 mmHg – 140 / 90 mmHg
Nadi normal : 80 – 100x / menit
Suhu normal : 36,5 o C – 37 o C
Nafas normal : 18 – 25x / menit
[Link] Antopmetri
Berat badan
Tinggi badan
Lingkar lengan
3. Pemeriksaan Fisik Khusus
a) Kepala
Untuk mengetahui kebersihan kulit kepala, kerontokan rambut, tebal dan
panjang rambut beserta warna rambut untuk melihat nutrisnya.
b) Muka

20
Untuk mengetahui adakah odem, pucat atau tidak.
c) Mata
Untuk mengetahui adakah konjungtiva anemis dan sklera ikterus.
d) Telinga
Untuk mengetahui fungsi pendengaran adakah serumen ataupun sekret
yang keluar dari telinga.
e) Hidung
Untuk mengetahui adakah polip,secret dan pernapasan cuping hidung.
f) Mulut dan Gigi
Mulut : Mengetahui kelembaban bibir adakah sariawan.
Gigi : Mengetahui adakah gigi yang berlubang dan karies.
g) Leher
Mengetahui adakah pembesaran kelenjar tyroid atau vena jugolaris.
h) Ketiak
Mengetahui adakah pembesaran kelenjar getah bening.
i) Abdomen
Untuk mengetahui lingkar pinggang
j) Ekstremitas
Atas : Mengetahui adakah varises, odem ataupun cacat,
Bawah :Mengetahui adakah varises,odem ataupun cacat.

C. Mengantisipasi Masalah Potensial


Masalah yang dapat timbul dari diagnosa dan sebagai bidan harus
mempertimbangkan upaya pencegahan.
D. Menentukan Kebutuhan Segera
Kebutuhan yang segera diberikan adalah : Kolaborasi dengan ahli gizi dan
laboran apabila maslah dibutuhkan pemeriksaan yang lebih lanjut dan
komprehensif.
E. Menyusun Rencana Tindakan
Tindakan yang bisa diberikan antara lain :
Bidan dapat memberikan nasehat kepadaremaja , diantaranya :

21
1. Konsumsi serat sesuai kebutuhan minimal 25 gr/hari
2. Mengurangi konsumsi makanan berlemah dan mengandung gula
3. Olahraga minimal 3 kali/minggu minimal selama 30 menit
4. Istirahat tidur cukup minimal 6 jam
5. Banyak minum air putih 1,5-2 liter/hari
6. Pemeriksaan laboratorium untuk melihat kadar gula dan vital sign
secara teratur setiap bulan
7. Dukungan psikologis terhadap bullying remaja obesitas
8. Tetap produktif dan berprestasi secara akademis
.
F. Melakukan Penatalaksanaan
Perencanaan yang sudah disusun dilaksanakan sesuai dengan kompetensi
dan kewenangan Bidan..
G. Evaluasi
Langkah ini sebagai evaluasi asuhan yang sudah diberikan kepada remaja
dan tindak lanjut yang diambil Bidan.

22
DAFTAR PUSTAKA
1. WHO.2014 Adolescent health in the South-East Asia Region.
[Link] text
=WHO%20defines%20'Adolescents'%20as%20individuals,age%20range
%2010%2D24%20years.
2. Ikatan Dokter Anak Indonesia. 2014. Obesitas pada anak.
[Link]
3. WHO. 2017. Obesity. [Link]
4. Nelm. M,. Kathryn S., Keren L., Sara Long R., 2011. Nutrition therapy
and [Link] Edition USA. Wadwordth.p.238-255
5. Kemenkes RI. 2010. Standar antropomertri penlilaian status gizi anak.
Jakarta
6. Pulgaron, Elisabeth R.2013. Childhood Obesity: A Review of Increased
Risk for Physicaland Psychological Comorbidities. Clinical Therapeutics,
35(1),pp.18 -32
7. Han, Zheb., dkk. 2011. Maternal Underweight and The Risk of Preterm
Birth and Low Birth Weight: a Sustematic and Meta Analyses.
International Journal of Epidemiology 2011;40:65-101
8. Badan Litbangkes. Riset Kesehatan Dasar 2018. Badan Litbangkes
9. Badan Litbangkes. Riset Kesehatan Dasar 2013. Badan Litbangkes
10. Biro FM, Wien M. Childhood obesity and adult morbidities. The
American Journal of Clinical Nutrition, Volume 91, Issue 5, May 2010,
Pages 1499S–1505S, [Link]
11. Swaran P. Singh, DM, Catherine Winsper, PhD, Dieter Wolke, PhD, Alex
Bryson, [Link] Mobility and Prospective Pathways to Psychotic-like
Symptoms in Early Adolescence: A Prospective Birth Cohort Study.
Journal of the American Academy of Child & Adolescent Psychiatry,
2014, 53 (5):518-527
12. Sartika, RAD [Link] Risiko Obesitas Pada Anak 5-15 Tahun di
[Link], Kesehatan , Vol. 15, No. 1, Juni 2011 : 37-43
13. McAllister EJ. [Link] Putative Contributors to the Obesity Epidemic.
Crit Rev Food Sci Nutr. 2009 November ; 49(10): 868–913.
doi:10.1080/10408390903372599
14. Kharismawati R. 2010. Hubungan Tingkat Asupan Energi, Protein,
Lemak, Kharbohidrat, dan Serat dengan Status Obesitas Pada Siswa SD.
[Skripsi]. Program Studi Ilmu Gizi. Semarang. UNDIP
15. Haines J, Sztainer DM, Wall M, Story M. 2007. Personal, Behavioral, and
Environmental Risk and Protective Factors for Adolescent Overweight.
Int. J. Obes. 15:2748-2760.
16. Damayanti, AD. 2008. Cara Pintar Mengatasi Kegemukan Anak. Jakarta
:Curvaksara
17. Prasetyaningrum Y I, Kertia Nyoman, Gunawan I Made Alit. 2016. Status
Ketersediaan Makanan dan Status Gizi Ibu Sebagai Faktor Risiko
Kegemukan Pada Anak. Jurnal Gizi Klinik Indonesia. Vol. 13 No. 2 –
Oktober 2016 (75-81). ISSN 1693-900X, ISSN 2502-4140. Universitas
Gajah Mada. Yogyakarta

23
18. Henuhili, Victoria. 2010. Gen – gen Penyebab Obesitas dan Hubungannya
Dengan Perilaku Makan. [Skripsi]. Fakultas MIPa. Universitas Negeri
Yogyakarta
19. Almatsier, S. 2009. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta: PT Gramedia
Pustaka Utama.
20. Praditasari JA &Sumarmi S. Fat Intake, Physical Activity and Obesity
among Adolescent Girls in SMP Bina Insani Surabaya. Media Gizi
Indonesia, Vol. 13, No. 2 Juli–Desember 2018: hlm. 117–122
21. Hardinsyah dan Supariasa, Dewa Nyoman [Ed]. Ilmu Gizi Teori &
[Link]
22. Sulistyoningsih H. 2011. Gizi untuk kesehatan ibu dan [Link]
Graha Ilmu
23. Drapeau V. 2004. Modifications in foodgroup consumption are related to
longterm body-weight changes. Am J Clin Nutr.80:29-37
24. Widiantini W & Tafal Z. [Link] fisik, stress dan obesitas pada
Pegawai Negeri Sipil. Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional. 8(7)
25. Suryaputra & Nadhiroh. 2012. Perbedaan pola makan dan aktivitas fisik
antara remaja obesitas dengan non obesitas. Makara, Kesehatan, 16 (1)
26. Irfan BB & Hendrayati. 2012. Pola konsumsi sayur, buah dan aktivitas
sedentari mahasiswa obesitas di Universitas Hasanuddin. Studi Ilmu Gizi
Fakultas Kesehatan Masyarakat Univesitas Hasanuddin
27. Nainggolan O & Adimunca C. 2005. Diet sehat dengan serat. Cermin
Dunia Kedokteran, Departemen Kesehatan RI,Jakarta
28. Santoso A. 2011. Serat pangan (dietary fiber) dan manfaatnya bagi
kesehatan. Magistra.
29. Wiardani NK. 2017. Penatalaksanaan Diet Obesitas. Ilmu Gizi Teori dan
Aplikasi. ECG: Jakarta.
30. Aini SN. 2013. Faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian gizi lebih
pada remaja di perkotaan. Unnes Journal of Public Health. ISSN 2252-
6781.

24

Anda mungkin juga menyukai