67% menganggap dokumen ini bermanfaat (3 suara)
4K tayangan305 halaman

Nadella - Rizca

Diunggah oleh

arrayshar
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF atau baca online di Scribd
67% menganggap dokumen ini bermanfaat (3 suara)
4K tayangan305 halaman

Nadella - Rizca

Diunggah oleh

arrayshar
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF atau baca online di Scribd
Prolog alam ini, tahlilan seratus hari orangtua Nadella Me usai dilaksanakan. Gadis yang masih mengenakan kerudung itu, tampak murung dan sendu sedari tadi. “Nadel, ini ada yang mau ketemu.” Gadis itu menoleh dan menemukan salah satu Tantenya menghampirinya. “Siapa, Tan?” “Ayo ikut Tante ke depan.” Nadella mengangguk dan mulai berjalan mengikuti langkah sang Tante. Saat tiba di ruang tamu yang masih tampak ramai itu, dia mengernyitkan kening melihat sepasang orangtua di sana. “Sini, sayang. Ini Nadella, ya? Cantik sekali. Sini duduk di samping Bunda,” ujar salah satu orangtua itu dengan gembira. Nadella tersenyum kikuk, dan duduk di samping orang itu. “Nadella sekarang umur berapa?” jawab gadis itu “Cantik sekali, mirip sama Ibu kamu, ya.” Nadella hanya tersenyum malu mendapat pujian seperti itu. “Sudah punya pacar?” Gadis itu terkejut, dan menggeleng pelan. “Wah, kebetulan sekali.” Kali ini Nadella memandang ke arah wanita itu dengan bingung. Apanya yang kebetulan? “Kedatangan Bunda dan Ayah malam ini, selain ikut tahlilan, kami juga punya niatan khusus.” Nadella masih diam. Menunggu wanita itu menyelesaikan perkataannya. “Kami ingin melamar kamu, menjadi istri anak pertama kami.” Nadella terkejut. Matanya melotot, mulutnya sedikit terbuka karena syok. Dia dilamar? “Ttu anak Bunda. Elang! Sini, Nak!” Nadella mengikuti arah pandang wanita itu. Dan, gadis itu hanya mampu terdiam dengan jantung berdebar ketika lelaki bernama Elang itu memandangnya lurus. Itu, orang yang melamarnya? 2-Nadella Bab | Kenyataan Pahit alam ini, adalah malam pertama bagi Nadella untuk berbagi ranjang dengan lelaki asing, yang kini sudah berganti status menjadi suaminya. Di dalam kamar mandi hotel, gadis itu memandang kasihan kepada dirinya sendiri. Di usia yang baru menginjak dua puluh tahun, dia sudah harus menikah. Dia sudah menjadi istri seorang lelaki yang bahkan tidak dia cintai. Nadella juga tidak mengenal siapa suaminya itu. Yang dia tahu, suaminya itu adalah anak dari teman ayahnya. “Nadella, bisa cepat keluar? Aku juga mau mandi, udah lengket semua badannya!” teriakan di luar sana, membuat Nadella cepat-cepat mengenakan piama bergambar hello kitty miliknya. “Maaf Mas, lama,” ujarnya pelan, setelah membuka pintu kamar mandi. Sementara Elang, untuk sesaat dia termenung melihat penampilan istri kecilnya itu. Piama di saat malam pertama? Yang benar saja. Tapi, karena tidak ingin membuat gadis itu tidak nyaman, Elang memilih mengabaikannya. “Nggak apa-apa. Bisa minggir? Aku mau masuk,” ujar Elang sambil melemparkan senyuman tipis. Rizca -3 Nadella mengangguk cepat. Dia segera menyingkir dari depan pintu kamar mandi, membiarkan Elang menggunakan kamar mandi itu. Gadis itu benar-benar bingung apa yang harus dilakukan saat malam pertama. Jadi, setelah Elang memasuki kamar mandi, Nadella memilih duduk di ujung ranjang sambil memainkan jarinya. Beberapa menit kemudian, pintu kamar mandi terbuka, yang membuat Nadella menoleh ke arah sana. Gadis itu terdiam begitu melihat Elang keluar dari kamar mandi dengan menggunakan celana kain panjang, kaus hitam polos yang melekat di tubuhnya. Tangannya tidak tinggal diam, sibuk menggosok rambutnya yang basah menggunakan handuk kecil. Nadella menelan ludah melihatnya. Kenapa suaminya terlihat begitu tampan? “Kamu nunggu aku?” tanya Elang sambil berjalan menghampiri Nadella, dan duduk di samping gadis itu. Nadella hanya bisa mengangguk kaku sembari menunduk. Rasanya dia seperti terkena penyakit jantung. Berdetak cepat dan tidak terkendali. Apalagi, Nadella juga merasakan hawa panas di sekitarnya. Apa yang sedang terjadi? Apakah terjadi kebakaran di sekitar hotel ini? Elang tersenyum, sekali lagi mengamati pakaian yang dikenakan istrinya itu. Dia meringis pelan, apakah sekarang Elang sudah terlihat seperti pedofil? Menikahi gadis di bawah umur. Tunggu dulu, Nadella sudah tidak di bawah umur. Tapi, mengapa Elang melihat kalau gadis itu masih terlihat seperti anak kecil? “Ayo tidur.” Nadella segera menoleh cepat ke arah Elang. Gadis itu memelototkan matanya terkejut. Sedangkan Elang yang melihat ekspresi gadis itu, buru- buru menggeleng pelan. “Maksud aku istirahat, tidur yang 4-Nadella beneran. Nggak melakukan apa pun,” katanya yang membuat semburat merah muncul di pipi cubby Nadella. Elang tertegun melihatnya. Perlahan, tangannya menyentuh pipi Nadella, lalu mengusapnya pelan, yang membuat tubuh Nadella kaku. “Indah,” gumamnya pelan sambil semakin mendekatkan duduknya dengan Nadella. Sementara Nadella hanya bisa menunduk, gadis itu menghindari tatapan maut milik Elang. Tapi, tidak bisa dia pungkiri, rasa senang menguasai hatinya saat Elang terlihat mengagumi pipinya. Elang membawa dagu Nadella untuk menatapnya. Sesaat, tatapan keduanya bertemu. Mereka diam, saling mengunci tatapan satu sama lain. Sebelum Elang mendekatkan wajahnya secara perlahan ke wajah Nadella. Gadis itu sebenarnya takut, bahkan ketika bibir Elang hampir sampai di bibirnya, gadis itu menoleh, yang mengakibatkan bibir Elang hanya singgah di pipinya yang memerah. Elang kembali menarik wajah gadis itu agar menatapnya. “Jangan takut, aku nggak akan menyakiti kamu,” bisiknya pelan sembari mengusap bibir Nadella lembut. Sementara Nadella, dia diam dengan pandangan yang terus mengarah kepada Elang yang terlihat sungguh-sungguh mengatakan itu. Walau terkejut, Nadella tetap menyambut ketika bibir Elang singgah di bibirnya. Kenyataannya, istirahat dan ‘hanya tidur’ yang dikatakan oleh Elang tadi, hanyalah omong kosong belaka. Mereka bahkan tidak istirahat sampai subuh menjelang. Elang tidak berhenti, sampai ketika Nadella terlihat akan kehilangan kesadarannya, lelaki itu baru _ berhenti. Menyelimuti tubuh polos mereka berdua, lalu tertidur ketika pagi menjelang. ek Rizca -5 Nadella mengerjab pelan ketika merasa cahaya terang terus menerus menyinarinya. Gadis itu membuka matanya perlahan, matahari terlihat sudah lebih tinggi dari pagi biasanya. Gadis itu menoleh ke arah sisi kanannya. Kosong. Nadella ingat apa yang terjadi semalam. Dia dan Elang melakukannya. Mereka melakukan hubungan suami istri. Pipinya merona saat mengingat begitu Elang memuji setiap inchi tubuhnya kemarin malam. Astaga. Ini adalah pengalaman pertamanya, dan Elang benar-benar memperlakukannya dengan baik dan lembut. Tapi, yang menjadi pertanyaan sekarang. Di mana lelaki itu? Hendak bangkit duduk, tapi nyeri di bagian bawah tubuhnya, membuat gadis itu memilih terus berbaring. “Mas Elang,” panggilnya dengan nada yang sedikit dikeraskan. Sudah beberapa kali memanggil, tapi Elang tak kunjung muncul. Nadella hendak kembali memanggil nama Elang. Tapi, suara pintu yang terbuka, membuat gadis itu buru-buru menutup matanya kembali. Berpura-pura tidur. Dia masih cukup malu untuk bertatap langsung dengan suaminya itu. “Tenang aja, dia masih tidur.” Terdengar derap langkah yang mengarah ke arah jendela, suara membuka pintu balkon terdengar, dan sepertinya Elang tengah berada di luar balkon sekarang. “Lo tahu, Dri. Gue nikahin dia karena Ayah Bunda yang nyuruh.” Nadella meremas erat guling di balik selimut yang dia kenakan. Apakah sekarang Elang tengah membicarakannya? Ya. Nadella tahu Elang menikahinya karena mertuanya. Mereka menikah karena keterpaksaan. Tapi, bukankah mereka sudah melakukan itu semalam? Apakah tidak ada rasa yang timbul sedikit pun di hati Elang? Bahkan, Nadella merasa jika 6 Nadella dia sudah mencintai suaminya itu kemarin malam. Kenapa Elang tidak? “Ya. Gue harus perlakukan dia dengan baik, supaya Ayah gue nggak banyak omong.” Nadella tahu ini terpaksa. Tapi, haruskah Elang mengatakan itu kepada seseorang lewat telepon? Tidak bisakah hal itu menjadi rahasia mereka saja? “Ayolah, walau udah dua puluh tahun, dia masih kayak anak kecil. Makanya, lo datang ke nikahan gue semalam. Sok sibuk, sih, lo!” Gadis itu masih berpura-pura tidur, tapi tangannya benar- benar menggenggam erat guling di dalam selimut. Setidaknya untuk menahan kekecewaannya terhadap Elang, suaminya. “Malam pertama? Yah, jelas udah. Oke, di bagian ini gue nggak akan munafik. Dia kelihatan menarik. Lagipula, kita udah suami istri. Ditambah kita lagi berdua aja di dalam sebuah kamar. Menurut lo, apa yang ada di pikiran lelaki dewasa kayak gue?” Jadi, semalam hanya masalah nafsu saja? Elang melakukannya karena lelaki itu tidak bisa menahan dirinya. Nadella tersenyum miris. Kenapa dia sempat berbesar kepala kemarin? Dia pikir, lelaki itu melakukannya karena rasa itu hadir, meski sedikit di antara mereka. Tapi, ternyata dia salah. “Cinta? Ayolah, kita lelaki dewasa yang udah kepala tiga. Lo masih bahas cinta sama gue?” Nadella mendengar kekehan Elang. “Gue belum cinta sama Nadella, dan gue juga nggak yakin, apakah gue bisa mencintai dia?” Rasanya hancur. Harga dirinya terasa jatuh ke dasar bumi. Kalau Elang belum mencintainya, tidak apa. Nadella akan paham masalah itu. Tapi, tidak yakin mencintainya? Rizca -7 Bagaimana bisa lelaki itu mengatakan begitu, sementara mereka sudah menghabiskan malam berdua? “Sialan, lo! Udah, gue tutup. Gue mau bangunin Nadella dulu.” Mendengar itu, Nadella segera berusaha berakting tidur senatural mungkin, agar Elang tidak curiga. Genggaman di gulingnya pun, sudah dia kendurkan. Dia tidak boleh membuat Elang curiga. Usapan di kepalanya, membuat Nadella terusik pelan. Apalagi, di saat dia merasa Elang menjatuhkan kecupan di keningnya lembut, membuat Nadella ingin menangis seketika. “Nadella sayang, bangun. Ini udah jam sepuluh lebih,” bisiknya lembut. Gadis itu menggumam pelan, sebelum membuka matanya perlahan. Hal pertama yang dia lihat adalah wajah Elang yang tengah tersenyum ke arahnya. Tangan lelaki itu tidak berhenti mengusap rambutnya. “Aku udah bawain sarapan. Kamu mandi, terus kita sarapan bareng. Aku bilang sama Ayah dan Bunda, kalau kamu lagi nggak enak badan, dan mereka percaya.” Lelaki itu terkekeh pelan, yang membuat Nadella ikut tersenyum. Bukankah menyakitkan? Diperlakukan secara lembut, tapi kita tahu kalau itu hanya sebuah keterpaksaan? 8-Nadella Bab 2 Kebesaran Hati Nadella membawa Nadella ke rumah yang baru kali ini gadis itu kunjungi. Dia turun dari dari mobil, dan memandangi rumah di depannya ini. Tidak terlalu besar dan mewah, tapi sederhana dan terlihat sangat nyaman untuk ditinggali. S= menghabiskan waktu di hotel, Elang “Ayo masuk,” ajak Elang setelah mengambil koper mereka di bagasi mobil. Nadella tersenyum dan mengangguk. Dia mengikuti Jangkah Elang memasuki rumah itu. “Rumahnya nggak sebesar rumah Ayah. Maaf, ya,” katanya setelah mereka berada di ruang tamu. Nadella menggeleng. “Ini udah cukup, kok, Mas,” balasnya. Ya. Gadis itu masih tahu diri. Elang terpaksa menikah dengannya. Tapi, lelaki itu sudah menyiapkan rumah untuk mereka. Bukankah ini memang sudah lebih dari cukup? “Mau lihat kamar kita?” tanya Elang sambil melemparkan senyuman menggoda kepada Nadella. Gadis itu mau tak mau ikut tersenyum membalas Elang. Dia mengangguk. Elang tersenyum lebar, meraih tangan Nadella, dan membawanya berjalan menuju kamar yang ada di ruang tengah. Rizca -9 “Ini kamar kita,” kata Elang setelah mereka berada di dalam kamar. Nadella berjalan ke arah jendela besar di sisi kamar. Jendela itu menghadap langsung ke taman kecil di samping rumah. Ada sebuah ayunan di bawah pohon besar di sana. Terlihat sangat nyaman. “Aku bangun rumah ini pakai uang aku sendiri,” ujar Elang sambil melingkari tubuh Nadella dengan pelukannya. “Ayah sama Bunda sempat bilang mau bantu. Tapi, aku nolak. Aku pikir, aku mau buat bangga istriku karena aku berhasil membangun rumah sendiri. Hasil jerih payah aku sendiri.” Nadella tersenyum miris tanpa sepengetahuan Elang. Lelaki itu berhasil membuat rumah dengan uangnya sendiri. Tapi, kini malah harus menikah dengan gadis yang tidak dia cintai. Nadella memberanikan mengusap pelan tangan Elang di perutnya. “Makasih, Mas. Maaf kalau aku merepotkan,” ujarnya pelan. Elang terkekeh dan menggeleng pelan. Dia membalikkan tubuh Nadella ke arahnya. Tangannya mengusap lembut pipi gadis itu. “Kamu nggak merepotkan. Asal nurut sama aku, itu udah sangat membantu,” ujarnya. Nadella tersenyum, dan mengangguk. Ya. Memangnya apa lagi yang bisa dia lakukan selain menurut? Elang sudah mau menikahinya. Dia masih tahu terima kasih. Elang ikut tersenyum, dia mendekatkan wajahnya ke arah wajah Nadella yang membuat gadis itu memejamkan kedua matanya. Saat bibir keduanya hampir menempel, dering telepon milik Elang membuat keduanya saling menatap. Sesaat kemudian, kekehan meluncur dari kedua mulut mereka. Elang menjauhkan dirinya dari Nadella. “Sebentar, ya,” ujarnya sambil meraih ponsel, dan mengangkat panggilan suara di sana. 10 -Nadella Setelah mengangkat telepon, Elang berjalan ke arah Nadella yang duduk di ranjang, tengah menantinya. “Tadi yang telepon dari rumah sakit. Ada pasien darurat. Aku diminta ke sana sekarang. Kamu nggak apa-apa?” Lelaki itu terlihat bersalah kepada Nadella. “Tya. Nggak apa-apa. Itu kan udah tugasnya Mas Elang.” Nadella berucap sambil tersenyum. Apa Nadella sudah mengatakan kalau Elang adalah seorang dokter bedah di salah satu rumah sakit terbaik di Jakarta? Elang membawa Nadella ke dalam pelukannya. Dia memberikan kecupan di kepala gadis itu. “Maaf, ya. Seharusnya kita masih saling mengenal dan menghabiskan waktu berdua. Tapi, aku harus ke rumah sakit.” Nadella memberanikan diri membalas pelukan Elang. Jika memang Elang tengah berpura-pura, maka biarkan Nadella menikmati ini. “Nggak apa-apa, Mas. Masih ada banyak waktu,” ujarnya. Elang melepas pelukannya. “Yaudah, antar aku ke depan, yuk.” Nadella mengangguk, dan keduanya berjalan sampai di teras rumah. Elang kembali menatap ke arah Nadella. “Kayaknya aku bakal pulang sore. Kamu nanti pesan aja buat makan siang. Malamnya, kita keluar aja.” “Tya, Mas.” Elang kembali membawa Nadella ke dalam pelukannya, setelahnya lelaki itu menjauhkan tubuhnya, dan mengecup pelan bibir gadis itu. “Aku pergi dulu,” katanya setelah Nadella mengecup Jembut punggung tangannya. Nadella terus tersenyum sampai mobil yang dikendarai Elang menghilang dari pandangannya. Gadis itu mengembuskan napas pelan setelah kepergian lelaki itu. Rizca - 11 “Bagus, Nadel. Kamu melakukan peran kamu dengan baik hari ini,” gumamnya sambil berjalan memasuki rumah. see Sore menjelang malam, Nadella memilih keluar rumah untuk membeli makanan. Siang tadi dia belum sempat memakan apa pun, karena sibuk membersihkan rumah. Nadella keluar rumah hanya dengan memakai celana kain berwarna hitam dengan panjang mencapai lutut, dan kaus polos berwarna orange. Dia memilih ke salah satu kedai sate pinggir jalan yang terlihat sangat ramai tadi. Gadis itu memasuki kedai, dan memesan seporsi sate dan lontong untuk dibawa pulang. Saat sedang menunggu pesanannya, Nadella melihat sekitar empat orang sedang berjalan masuk, dan duduk membelakangi Nadella. Dia tahu siapa salah satu di antara empat orang itu. Dia adalah lelaki yang baru saja berstatus sebagai suaminya. Elang Wiratama. Sepertinya lelaki itu tidak menyadari keberadaannya. “Jadi, gimana sama istri lo?” Nadella bisa mendengar dengan jelas pembicaraan mereka, karena kursi mereka berada di depannya. “Kalau Elang bahagia, dia pasti masih ada di kamar sama istrinya, bukannya malah nongkrong nggak jelas sama kita- kita,” ujar teman Elang yang wajahnya menghadap ke arah Nadella. Lalu, setelah mengatakan itu keempat orang di sana terkekeh pelan. Nadella lebih memilih menunduk. Jadi, panggilan telepon tadi bukan dari rumah sakit, melainkan dari teman-teman lelaki itu? “Tapi, sebenarnya gue heran sama lo, Lang. Punya istri yang lebih muda sepuluh tahun itu, bukannya senang, ya? Masih kelihatan cantik dan fresh terus. Kenapa lo malah kelihatan nggak bahagia gini?” Lelaki pertama yang bertanya, 12-Nadella kembali mengeluarkan suaranya. Dia duduk di samping Elang, keduanya membelakangi Nadella. “Bukan nggak bahagia. Tapi, Nadella masih cukup asing buat gue. Perkanalan kita cukup singkat. Gue masih agak kurang nyaman sama dia.” Jadi, begitu? Nadella seharusnya sudah tahu itu. Tapi, mendengar secara langsung Elang mengatakan itu, kenapa rasanya sangat menyakitkan? Nadella memandang ke arah mereka kembali. Pandangannya tidak sengaja bertubrukan dengan pandangan salah satu teman Elang yang sejak tadi diam. Sesaat kemudian, Nadella memilih membuang pandangannya. “Atas nama Nadella!” seruan keras dari arah kasir itu, membuat Nadella segera bangkit berdiri. Sedangkan Elang yang tadi tengah meminum air putih, tersedak. Dia segera menoleh ke belakang. Badannya kaku saat melihat Nadella yang berdiri beberapa langkah di belakangnya. “Nadella,” panggilnya lirih, yang membuat teman- temannya ikut terkejut. Pada saat pernikahan Elang dilaksanakan, teman-teman Jelaki itu memang tidak bisa hadir. Mereka memiliki kesibukan masing-masing karena profesi mereka sebagai seorang dokter. Nadella hanya bisa menampilkan senyuman tipisnya. Dia berjalan ke arah kasir dan membayar pesanannya. Sedangkan Elang masih mematung di tempatnya. Sial. Kenapa semuanya harus seperti ini? Elang tidak ingin ada drama di awal pernikahannya. “Nadel, kamu ke sini naik apa?” tanya Elang saat Nadella hendak berjalan keluar kedai. “Jalan kaki, Mas,” jawab gadis itu masih dengan memperlihatkan senyumannya. “Kalau gitu bareng mas aja.” Rizca - 13 Gadis itu buru-buru menggeleng. “Mas Elang kan belum makan. Lagi pula, ini aku beli cuman seporsi aja,” ujarnya. Elang menggeleng. “Nggak apa-apa. Aku udah kenyang.” Dia beralih kepada teman-temannya yang masih memandang tidak enak kepada Nadella. “Gue duluan,” ujarnya yang dijawab anggukan oleh ketiganya. “Ayo,” ajak Elang sambil meraih tangan Nadella. Gadis itu menurut, saat melewati ketiga teman Elang, gadis itu bahkan masih menyempatkan mengangguk sopan kepada mereka. Setelah kepergian Nadella dan Elang, Andrian yang duduk di samping Elang mengembuskan napasnya kasar. “Sial! Gue merasa nggak enak sama gadis tadi,” katanya. Elo yang duduk di depannya mengangguk. “Gue juga. Apalagi, pas lihat wajahnya secara langsung. Shit! Dia masih kecil, man!” Syam, yang sedari tadi hanya menjadi pendengar akhirnya mulai berucap. “Makanya, punya mulut dijaga. Kalau udah kejadian kayak tadi, Elang juga yang bakal kena.” soko Sementara itu, Elang sesekali melirik ke arah Nadella yang duduk diam di sampingnya. Belum ada pembicaraan yang keluar dari mulut gadis itu sejak tadi. Bahkan sampai mobil yang mereka tumpangi sampai di rumah mereka, gadis itu masih saja diam. “Nadel,” panggil Elang saat Nadella hendak berjalan ke arah dapur. “ya?” Elang menghela napas pelan. Dia berjalan ke arah Nadella, meraih keresek berisi sate yang gadis itu beli, lalu meletakkannya di meja didekatnya. 14 -Nadella “Kamu harusnya marah. Kamu harusnya bentak-bentak aku. Tadi itu, aku keterlaluan banget, kan?” tanyanya sambil menampilkan ekspresi bersalah. Nadella kembali mengukir senyuman tipis. “Aku ngerti, kok, Mas,” jawabnya pelan. “Pernikahan kita memang diawali tanpa cinta. Aku paham itu. Jujur, aku juga merasa bersalah sama Mas Elang. Mas bangun rumah dengan hasil jerih payah Mas sendiri, tapi malah harus menikahi gadis yang nggak Mas Elang cinta.” Dia terkekeh pelan. Elang tertegun mendengarnya. Dia merasa tertampar. Tidak percaya gadis berumur dua puluh tahun, bisa berpikir sedewasa ini. Ada apa dengan dirinya tadi? Mendadak Elang menyesal telah berkata seperti tadi! “Aku paham perasaannya Mas Elang. Tapi, aku boleh minta satu hal?” tanya Nadella sambil memandang Elang penuh harap. Elang mengangguk. “Katakan.” “Apa pun yang terjadi, apa pun yang Mas Elang rasakan. Mas hanya perlu jujur sama aku. Aku akan berusaha memaklumi segalanya,” ujarnya dengan tulus. Elang memandang Nadella lurus, sebelum lelaki itu memilih mengangguk. Tanpa suara, lelaki itu membawa tubuh Nadella ke dalam pelukannya. Elang meletakkan kepalanya di lekuk leher gadis itu. Menghirup aroma buah dari rambut istrinya. Rasanya menenangkan. Mungkin, dia harus belajar menerima Nadella sebagai istrinya. Kalau Nadella bisa bersikap dewasa, dan menerima pernikahan ini dengan lapang dada? Kenapa dia tidak bisa? Padahal, umur istrinya itu jauh lebih muda darinya. Rizca - 15 Bab 3 Kembali Terluka Elang dan Nadella semakin dekat. Meski tidak ada kata cinta yang terucap di bibir keduanya, mereka terlihat menikmati keadaan yang mereka rasakan saat ini. S etelah kejadian di kedai sate waktu itu, hubungan Nadella, gadis itu hampir saja lupa kalau Elang menikahinya karena sebuah keterpaksaan. Hampir saja dirinya terbuai dengan perlakuan manis yang Elang berikan kepadanya. Contohnya adalah hari itu. Di saat Nadella bangun pagi dan ingin membuatkan sarapan untuk Elang. Tapi, karena selama hidupnya dia tidak pernah memasak, yang terjadi malah Nadella yang hampir membakar dapur milik Elang. Tapi, lelaki itu tidak marah. Dia malah tersenyum, dan menanyakan keadaannya. Itu bukan hal wajar, bukan? “Pagi.” Nadella menoleh ke arah samping, di mana sang suami tengah memeluknya dari belakang, dan menempelkan dagunya di bahu Nadella. “Pagi,” balas Nadella sambil tersenyum. “Buat apa?” “Kopi buat Mas Elang.” Elang tersenyum lalu melepaskan pelukannya di tubuh Nadella. “Kita ke : rumah Ayah sama Bunda, yuk. Mereka bilang kita harus ke sana hari ini.” 16 -Nadella “Memangnya Mas Elang nggak kerja?” tanya Nadella sambil menyerahkan kopi buatannya kepada Elang. “Kamu lupa hari ini minggu? Aku libur, sayang,” jawab Elang sambil menyesap kopinya. Sementara Nadella yang mendengar panggilan sayang dari Elang, mengulum senyum dengan pipi yang merona. “Kamu siap-siap sana. Kita sarapan di sana aja.” Nadella mengangguk dan hendak berjalan ke arah kamar, tapi Elang lebih dulu menahannya. “Dandannya biasa aja, nggak usah terlalu cantik.” Kening Nadella mengerut. “Emangnya kenapa nggak boleh dandan cantik?” “Ya cantiknya buat aku aja, jangan dibagi ke yang lain.” Pipi Nadella semakin merona mendengarnya, dia melepaskan cekalan tangan Elang, dan kembali meneruskan langkahnya. Sementara Elang terkekeh pelan melihatnya. Menggoda Nadella adalah hiburan tersendiri untuknya sekarang. ek Di sinilah Nadella dan Elang berada sekarang. Di rumah kedua orangtua lelaki itu. Ternyata mereka tengah merayakan syukuran untuk adik bungsu Elang yang diterima di universitas pilihannya. Elang hanya mempunyai satu saudara. Namanya Nando, baru lulus sekolah. Usianya hanya terpaut satu tahun di bawah Nadella. Dan kini, karena Nadella tidak bisa membantu di bagian dapur, gadis itu bertugas menjaga Angel, anak salah satu sepupu Elang yang baru berusia dua tahun. Sementara Elang sedang berada di ruang kerja bersama Ayahnya. “Ttu biskuitnya Angel.” Rizca -17 Nadella mendongak, dan menemukan Nando yang tengah meletakkan kotak biskuit di depan Nadella, lalu duduk di depan gadis itu. “Makasih,” jawab Nadella sambil mengeluarkan biskuit itu, lalu memberikannya kepada Angel yang berada di pangkuannya. “Kita pernah ketemu sebelum ini, kan?” Pertanyaan yang Nando lontarkan, membuat Nadella menoleh heran ke arah lelaki itu. “Tya. Di pernikahan aku sama Mas Elang. Kamu kan lihat aku di sana,” ujarnya polos, yang membuat Nando berdecak. “Semua juga tahu. Maksud gue, sebelum lo nikah sama Mas Elang. Kita udah pernah ketemu, kan?” Nadella memerhatikan Nando dengan seksama, mencoba mengingat, tapi dia tidak menemukan ingatan apa pun tentang adik iparnya itu. “Nggak pernah. Memangnya kamu pernah lihat aku di mana?” “Lo alumni SMA sebelas, kan?” Nadella mengangguk. “Pernah ke SMA Garuda sebagai perwakilan OSIS?” Nadella kembali mengangguk dengan semangat. “Kamu tahu dari mana?” Nando mendengus mendengarnya. “Gue alumni SMA Garuda. Gue juga lihat lo waktu lo datang sebagai perwakilan OSIS.” Nadella berdecak kagum. “Ingatan kamu keren banget. Padahal itu udah lama. Kalau nggak salah waktu aku masih kelas dua. Tapi, kamu ingat,” ujarnya sambil tersenyum. Nando hanya mengendikkan bahu, lalu mengeluarkan ponsel dari saku celana pendeknya, dan memainkannya. 18 -Nadella Nadella masih tersenyum ketika melihat Nando yang masih mengingatnya, sampai kemudian Elang datang menghampirinya, dan ikut duduk lesehan bersamanya. “Angel rewel, nggak?” “Enggak, kok, Mas. Dia lucu. Di kasih makan biskuit udah diam,” jawab Nadella sambil tersenyum. Elang ikut tersenyum, tangannya tergerak merapikan rambut Nadella yang sedikit berantakan. “Kamu udah sarapan?” “Belum. Mas Elang udah sarapan?” “Belum juga. Kamu ambilin makan sana, biar Angel aku yang jaga.” Nadella mengangguk, dan memberikan Angel kepada Elang, lalu ketika gadis itu hendak bangkit berdiri, Elang menahannya. “Makannya sepiring berdua aja.” “Kenapa?” tanya Nadella heran. “Aku malas makan banyak sepagi ini.” Gadis itu akhirnya mengangguk, dan bangkit berdiri. Sebelum melangkah, dia menoleh ke arah Nando yang juga tengah menatapnya. “Kamu mau aku ambilin sarapan juga?” tanyanya. Elang ikut menoleh ke arah Nando, menunggu jawaban adiknya itu. Lalu, saat Nando menggeleng, Nadella kembali meneruskan langkahnya. “Mas,” panggil Nando ketika Nadella tidak ada di antara mereka. “Hmm,” Elang hanya menjawab seadanya karena kini dia sibuk bermain dengan Angel. “Lo mendadak jadi bucin setelah nikah, ya?” Rizca -19 Kali ini Elang menoleh ke arah sang adik. “Bucin?” ulangnya. Nando mengangguk. “Iya. Makan sepiring berdua, kayak nggak ada nasi aja lo.” Setelahnya, lelaki itu bangkit berdiri dan meninggalkan kakaknya yang terlihat bingung dengan perkataannya. Lalu saat Nadella kembali dengan membawa sepiring nasi beserta minumnya, Elang segera bertanya. “Bucin itu apa?” Nadella menoleh heran ke arah suaminya. “Budak cinta,” jawabnya. Elang tersenyum tidak menyangka. Dia melihat ke arah Nando yang masih berada di pintu sambil memandangnya dengan eskpresi mengejek. “Sial, si Nando!” “Mas!” Nadella berseru keras. “Ada Angel,” katanya. Elang mengembuskan napasnya pelan, dan kembali melihat ke arah Angel yang juga tengah menatapnya. ey Gie lahat “Tuh, kan,” kata Nadella begitu mendengar Angel berucap dengan lucunya sambil menepuk-nepuk karpet di bawahnya. Elang meringis melihatnya, dia menatap ke arah Nadella yang menatapnya kesal. “Maaf, kelepasan,” ujarnya. sock Menjelang sore, teman-teman Nando mulai berdatangan. Nadella kini tengah membantu menyiapkan makanan yang akan dihidangkan. “Nadella.” “Tya, Bunda?” 20 -Nadella “Tolong panggilkan Ayah di ruang kerjanya. Bilang kalau temannya si Nando udah datang.” “Tya.” Gadis itu mengangguk, lalu berjalan ke arah ruang kerja mertuanya yang berada di lantai dua. Saat sampai di depan pintu ruang kerja tidak tertutup dengan sempurna itu. Nadella menatap bingung. Hendak bersuara untuk memanggil, tapi terhenti ketika sebuah suara terdengar lebih dulu. “Elang nggak bisa, Yah!” “Kenapa, Lang? Nadella istri kamu. Kenapa kamu nggak bisa membawa dia datang ke pesta pernikahan sepupu kamu?!” Nadella diam mendengarnya. Jadi, ini kembali tentangnya? “Yah, Ayah tahu sendiri gimana keponakannya Ayah itu. Lagi pula, Nadella hanya lulusan SMA. Tidak ada yang bisa dibanggakan dari dia. Elang harus bersikap bagaimana kalau membawa Nadella ke pesta itu besok?” Nadella diam dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Ada sesuatu dalam tubuhnya yang terasa diremas. Rasanya sangat menyakitkan. Dia juga tidak mau berakhir seperti ini. Tapi, kenapa Elang begitu tega terhadapnya? “Elang! Jaga bicara kamu! Dia itu istri kamu sekarang. Kenapa kamu terkesan malu membawanya ke pesta pernikahan sepupu kamu sendiri?!” “Yah, tolong! Elang sudah mau menuruti permintaan Ayah untuk menikahi Nadella. Dan sekarang, Elang mohon. Biarkan Elang mengurusi rumah tangga Elang sendiri.” Nadella menghapus air matanya, dia membalikkan badan, hendak turun ke lantai bawah. Tapi, seseorang yang berdiri di ujung tangga itu membuatnya terkejut. Dia adalah Nando. Nadella yakin adik iparnya itu mendengar semuanya, karena suara sang mertua dan Elang sangat keras. Nando Rizca - 21 berjalan menghampirinya dengan eskpresi lurus. Nadella hendak melewatinya, tapi Nando menahannya. “Kenapa lo diam aja?” Nadella melepaskan tangan Nando di lengannya. “Aku nggak apa-apa,” katanya pelan. Nando berdecak sinis. “Mana ada orang yang baik-baik aja, di saat harga dirinya diinjak-injak gitu aja?!” “Nando,” panggilnya pelan. “Aku mohon sama kamu, anggap semua ini nggak pernah terjadi. Anggap kamu nggak pernah mendengar hal itu. Aku cukup tahu diri, kok. Mas Elang menikahi aku karena keterpaksaan. Aku nggak mau terus menerus membebani dia.” Nadella mencoba mengukir senyumannya kepada Nando. “Dan, aku sangat berterima kasih, kalau kamu mau melakukan itu.” Setelahnya, Nadella berjalan menuruni tangga. Sementara Nando diam dengan rahang mengetat. Dia tidak percaya kalau kakak yang selama ini menjadi panutannya, mampu berkata sekasar itu, dan bersikap sekurang ajar itu. Nando kecewa dengan Elang. 22 Nadella Bab 4 Pembelaan Elang ando diam di tempat dia duduk. Pandangannya Newest Nadella yang tengah sibuk membantu sang bunda di dapur. Teman- temannya sudah banyak yang berdatangan. Tapi, entah kenapa acara ini tidak semenarik bayangannya. Pikiran Nando tersita dengan kejadian yang baru saja dia ketahui. Kebrengsengkan sang kakak. “Ini minumnya,” kata Nadella sambil menyajikan minuman di depan meja Nando dan teman-temannya. “Makasih,” jawab teman-teman Nando serentak. “Siapa, Ndo? Gue kayak pernah ketemu, tapi nggak tahu di mana,” ujar salah satu teman Nando. “Kakak ipar gue.” Setelah menjawab pertanyaan temannya dengan singkat, lelaki itu berdiri dan berjalan ke arah Nadella yang kebetulan tengah berada di dapur sendiri. “Tkut gue,” katanya sambil menarik tangan Nadella menuju ke samping rumah, ke taman yang berada di samping kolam renang. “Ada apa?” tanya Nadella sambil menyamai langkah Nando dengan tergesa. Rizca - 23 “Gimana bisa lo bersikap seolah nggak terjadi apa-apa?” tanyanya setelah mereka berada di bawah pohon yang cukup rindang. Nadella memandang Nando lurus. “Aku udah bicara ini sama kamu tadi, Nando. Jangan diperpanjang lagi, ya. Anggap kamu nggak pernah dengar itu,” jawabnya. “Gimana bisa gue pura-pura nggak dengar itu?!” sentaknya marah. Lelaki itu mengembuskan napasnya kasar. “Gue dengar pakai telinga gue sendiri. Gimana bisa gue pura- pura nggak tahu kalau pernikahan kakak gue nggak lagi baik- baik aja?!” Nadella menghela napas pelan, dan menunduk. Gadis itu hendak menjawab, sebelum sebuah dehaman membuat keduanya menoleh ke belakang. Nando yang melihat Elang berjalan ke arahnya, melepaskan tangannya dan tangan Nadella yang sedari tadi masih saling bertautan. “Kalian ngapain?” tanya Elang. “Kita berdua ngobrol masalah sekolah dulu. Ternyata sebelum ini, Nadel sama Nando pernah-” “Nadella mau kuliah,” sela Nando cepat. Elang dan Nadella menatap Nando dengan terkejut. Apalagi, Elang. Lelaki itu menatap bergantian kepada Nando dan Nadella. “Dia bilang sama gue. Kalau dia mau kuliah.” Setelah mengatakan itu, tanpa rasa bersalah, Nando malah berjalan memasuki rumah. Meninggalkan Nadella yang gelisah di tempat dia berdiri. Elang berjalan mendekat ke arah Nadella. “Benar apa yang dikatakan Nando?” tanyanya memastikan.. Nadella diam. Dia memandang ke arah Elang dengan bingung. Dia memang sangat ingin kembali menempuh pendidikan. Tapi, kalau Elang tidak memberikannya izin, maka dia tidak akan memaksa. Apalagi, mengingat keadaan mereka sekarang. Lagi. Nadella cukup tahu diri. 24 Nadella Nadella tersenyum tipis, dan menggeleng. “Enggak, kok, Mas.” “Benar?” tanya Elang sembari menatap istrinya dengan pandangan menyelidik. “Tya. Lagipula, Nadel udah jadi istrinya Mas. Nadel cuman mau jadi istri yang berguna aja, yang nggak malu- maluin Mas Elang.” Elang ikut terdiam. Matanya saling memandang dengan mata indah milik Nadella. Perkataan Nadella mampu membungkamnya. Lelaki itu akhirnya mengangguk dan mengukir senyuman tipis. “Kita masuk ke dalam dulu, ya. Kita bicarakan ini di rumah.” Tangannya terulur ke arah Nadella. Gadis itu membalas senyuman Elang. Tangannya meraih tangan Elang. Keduanya berjalan masuk kembali ke dalam rumah dengan tangan yang saling menggenggam. Nando memerhatikan itu sedari tadi. Dia menggeleng pelan melihat sikap yang Nadella tunjukkan. “Lo terlalu sempurna menjalankan peran lo, Nadella,” gumamnya pelan. se Siang ini, Elang tengah berada di kantin rumah sakit. Ini memang sudah lewat jam makan siang. Bahkan sudah menjelang sore, tapi dia memang belum mengisi perutnya. “Capek banget gue, dari tadi pasien nggak berhenti.” Elo duduk di hadapan Elang sambil meminum cola dingin di tangannya. “Kenapa lo?” tanyanya ketika melihat Elang yang tampak tidak bersemangat. “Nadella kayaknya mau kuliah.” “Tstri lo?” tanya Elo memastikan. “Ya” Rizca - 25 “Terus, masalahnya di mana? Jangan bilang kalau lo nggak sanggup biayain Nadella kuliah? Kalau kayak gitu, ngapain lo kawinin anak orang.” “Sial.” Elang mengumpat kesal. “Lo ngeremehin gue?” Dia mendengus kesal. “Bukan itu masalahnya.” “Terus? Bentar-bentar, Syam! Sini!” teriaknya sambil melambaikan tangan ke arah Syam yang baru saja memasuki kantin. Syam duduk di samping Elo. “Kenapa si Elang?” tanyanya kepada Elo. “Lagi bingung soalnya istrinya yang minta kuliah.” Kening Syam mengerut. “Gadis yang kita temui di kedai sate?” “Tyalah. Emang lo pikir Elang punya istri berapa?” tanya Elo sambil terkekeh pelan, yang membuat Elang mendengus mendengarnya. “Bingungnya di mana?” tanya Syam sambil memandang ke arah Elang. “Nggak tahu juga. Gue cuman bingung,” jawab Elang terdengar tidak jelas. “Gue nggak paham mau lo sebenarnya apa, Lang. Tapi, kalau dari cerita lo selama beberapa hari lalu. Bukannya lo malu bawa dia ke nikahan sepupu lo, karena dia cuman lulusan SMA? Terus, giliran sekarang dia minta kuliah. Kenapa lo jadi ragu?” Syam memandang Elang serius. “Kalau lo merasa berat kuliahin dia. Biar gue aja yang kuliahin dia, tapi syaratnya dia harus jadi istri gue.” Syam kembali berucap. Elang memandang tidak suka ke arah Syam, sedangkan Elo hanya tertawa mendengarnya. “Lo emang paling bisa buat Elang ngamuk,” ujar Elo sambil menepuk pelan bahu Syam. 26 -Nadella Syam mengangkat bahunya, sambil tersenyum kecil. Dia meraih cola milik Elo, lalu meminumnya. Elang berdecak dengan keras, membuat Syam kembali memandang ke arah temannya itu. “Gue nggak suka sama omongan lo kali ini,” katanya sambil memandang Syam serius. “Gue becanda.” “Tapi, itu sama sekali nggak lucu.” Elo berdeham melihat keduanya. “Lang, si Syam cuman bercanda. Santai aja lagi.” Elang mengalihkan pandangannya ke arah Elo. “Kalau gue bilang mau ngerebut Natalie dari lo. Apa lo akan bersikap santai?” Natalie adalah tunangan Elo yang sedang berkuliah di German. Mereka melakukan hubungan LDR selama hampir dua tahun, dan masih baik-baik saja hingga sekarang. “Beda kasus, Lang. Gue cinta sama Natalie, jelas gue marah. Tapi, lo kan nggak cinta sama istri lo. Jadi, nggak ada alasan buat lo marah, kan?” Elang diam mendengarnya. Dia mendengus kesal. Lalu berdiri dari duduknya, dan berjalan meninggalkan kedua sahabatnya itu. Sial. Dia merasa sangat marah hanya karena mendengar perkataan kedua orang itu. ae Malam ini, Elang sudah berada di mobil bersama Nadella, yang akan membawa ke pesta pernikahan salah satu sepupunya. Gadis itu sudah tampil cantik dan terlihat sederhana dengan gaun berwarna peach yang dia kenakan. Elang melirik ke arah Nadella yang lebih diam sedari tadi. Tangan Elang singgah di tangan Nadella yang ada di pangkuan gadis itu, yang membuat gadis itu menoleh. “Kenapa, hmm?” tanya Elang lembut. Rizca - 27 Nadella menggeleng dan tersenyum. Sejujurnya, saat Elang mengajaknya ke pesta, secara otomatis pikiran Nadella Kembali saat dia mendengar percakapan antara Elang dan sang ayah. Elang malu membawanya ke pesta. “Beneran nggak apa-apa? Kok, diam aja?” “Beneran,” kata Nadella sembari ikut menggenggam tangan Elang yang ada di pangkuannya. Elang akhirnya ikut tersenyum, dan membawa genggaman tangannya dan tangan Nadella ke bibirnya, lalu mengecupnya lembut. “Beres pesta, kita jalan, yuk,” ajaknya. “Ke mana?” “Ke mana aja. Ke taman gitu juga boleh. Mau?” Nadella mengangguk. “Asal sama Mas, Nadel mau diajak ke mana aja.” Gadis itu tertawa yang membuat Elang ikut tertawa. soko Nadella benar-benar merasa tidak nyaman berada di pesta pernikahan yang cukup mewah ini. Bukan berarti pesta pernikahan Nadella saat itu tidak mewah, hanya saja menurut Nadella pesta kali ini agak sedikit berlebihan. “Sayang, aku ke sana dulu, ya. Mau nyapa teman lama dulu,” ujar Elang sembari menunjuk segerombolan lelaki tidak jauh dari tempat Nadella duduk. Nadella mengangguk. “Jangan lama-lama,” katanya yang membuat Elang tersenyum dan mengusap kepalanya. Sepeninggal Elang, Nadella hanya mampu menunduk dan memainkan jari-jemarinya. Gadis itu mendongak ketika melihat tiga orang duduk di meja yang sama dengannya. “Kita sepupunya Elang.” 28 -Nadella Nadella mengangguk dan tersenyum tipis. “Lo sama Elang kenal di mana sebelum nikah?” Nadella menatapnya bingung, tapi tetap memilih menjawab. “Di tahlilan almarhum orangtuaku.” “Kalian dijodohin?” “Tya,” jawab Nadella pelan. “Lo lulusan apa?” “SMA.” “Cuman SMA?!” Ketiga orang itu terhenyak di tempatnya. Sesaat kemudian, ekspresi merendahkan sudah mereka berikan kepada Nadella. “Gimana bisa Elang mau nikahin cewek yang cuman tamatan SMA?” Nadella hanya bisa menunduk. Tangannya_saling menggenggam dengan erat. Memangnya ada yang salah dengan lulusan SMA? Kalau Nadella diizinkan, dia juga mau menempuh pendidikan kembali. Tapi, keadaan saat itu tidak memungkinkan. Jadi, Nadella tidak mau memaksa kedua orangtuanya. “Kerja apa lo sekarang?” Nadella hanya bisa menggeleng mendengarnya. Ketiga orang itu semakin menatap Nadella dengan ekspresi merendah. "Udah cuman lulusan SMA, nggak kerja. Jadi, sekarang lo bisanya cuman bergantung ke Elang?” Mereka tertawa secara bersamaan. “C’mon Nadella! Ini 2020, dan lo cuman bergantung ke suami lo?” Kedua mata Nadella sudah memerah, dia sudah ingin menangis. Sebelum sebuah suara terdengar di telinganya. “Apa masalahnya dengan hanya bergantung ke suaminya?” Elang sudah berdiri di samping tempat Nadella duduk. “Gue siap, kok, kalau Nadella bergantung selamanya sama gue.” Elang menunduk menatap Nadella yang juga tengah menatapnya. Tangan Elang singgah di kepala istrinya itu, dan Rizca - 29 mengusapnya pelan. “Dia istri gue, yang berarti hidup dia adalah tanggung jawab gue.” Elang kembali menatap ke arah para sepupunya itu. “Dan, orang asing nggak perlu sibuk mengurusi kehidupan kami.” 30 -Nadella Bab o Gengsi etelah ‘pembicaraan’ dengan para sepupunya itu, Elang segera mengajak Nadella pergi dari pesta itu. Bahkan, tanpa pamit lebih dulu kepada pemilik pesta. Dia sudah telanjur kesal. Elang mungkin belum memberikan hatinya kepada istrinya, Nadella. Tapi, siapa yang tidak kesal ketika mendengar istri kita dihina oleh orang lain? Lagipula, selama kurang lebih satu bulan ini, Elang tidak merasa keberatan dengan Nadella yang terus bergantung kepadanya. Elang menikmati masa-masa pengenalan mereka. “Nadella.” “Hmm?” Elang mengembuskan napas pelan. Semenjak keluar dari pesta tadi, Nadella seperti kehilangan fokusnya. Semua pasti karena sepupu sialnya. “Kita langsung pulang aja,” kata Elang yang = membuat Nadella mengerutkan kening. “Tadi, kata Mas kita jalan-jalan dulu?” “Enggak, mas berubah pikiran. Kita pulang aja.” Dan, tidak ada bantahan dari Nadella. Rizca - 31 Setelahnya, beberapa menit perjalanan sampai mobil mereka tiba di pekarangan rumah, tidak ada pembicaraan lagi di antara Elang dan Nadella. Nadella langsung masuk ke dalam kamar mereka. Sedang, Elang memilih melipir ke dapur sebentar untuk mengambil air minum. “Halo, Nando.” Sembari meminum air, Elang juga memilih menghubungi Nando. “Kenapa, Mas?” “Besok pagi lo ke rumah.” “Ngapain?” “Tolong antar Nadella ke kampus lo.” “Mau apa?” “Bantuin Nadella ambil formulis dan sebagainya. Dia akan daftar kuliah di tempat lo.” Ya. Elang sudah memutuskan. Menguliahkan Nadella bukan karena omongan para sepupunya. Hanya saja, ini demi kepentingan istrinya itu. Elang tidak mau Nadella dihina hanya karena lulusan SMA. Elang tidak masalah dengan apa pun status Nadella. Tapi, Elang tidak bisa diam saja ketika mendengar dan melihat Nadella dihina begitu saja. “Jadi, lo mau kuliahin Nadella?” “Iya. Besok lo langsung ke rumah. Gue tutup. Thank’s, Ndo.” Elang menutup sambungan telepon. Dan, segera berjalan menuju kamarnya di lantai dua. Elang masuk ke dalam kamar bertepatan dengan Nadella yang keluar dari kamar mandi. Gadis yang sudah mengenakan gaun terusan berwarna putih itu, tersenyum menatap Elang. “Mas mau mandi?” Elang meraih tangan Nadella, dan membawa gadis itu duduk di ranjang. “Mas mau bicara.” 32 Nadella Nadella mengangguk. “Bicara apa?” “Kamu boleh sedih, sayang. Kalau mau nangis, juga boleh. Jangan dipendam sendiri. Mas di sini, mas punya kamu. Kamu sekarang nggak sendiri, ada mas di sni. Tempat kamu untuk meluapkan segalanya.” Nadella mengerjab beberapa saat, sebelum bibirnya mencebik dan langsung berhambur ke dalam pelukan Elang. Sejujurnya, dia sudah ingin menangis sejak tadi. Dia tidak terima dengan perkataan sepupu Elang. Tapi, Nadella juga tidak bisa melawan karena yang mereka katakan benar. Elang balas memeluk Nadella, sembari mengusap lembut punggung istrinya itu. “Besok, kamu pergi sama Nando, ya.” Nadella yang mulai berhenti menangis, menatap Elang dengan mata merahnya. “Ke mana?” tanyanya dengan suara serak. Elang tersenyum dan mengusap lembut pipi Nadella. “Ke tempat kuliahnya Nando. Kamu akan daftar kuliah di sana.” Nadella tampak terkejut. “Mas, kasih izin Nadel kuliah?” “Tya. Yang perlu kamu ingat, mas melakukan ini bukan karena siapa pun. Bukan karena mas malu punya istri lulusan SMA. Semua ini mas lakukan untuk kamu. Mas tahu kamu masih ingin menempuh pendidikan. Mas tahu kamu pintar. Maka dari itu, kamu harus lanjut kuliah. Buktikan, istrinya mas ini nggak serendah omongan orang.” Tangan Elang tidak berhenti mengusap rambut Nadella. Nadella tersenyum dan kembali memeluk Elang. “Terima kasih, Mas. Terima kasih. Nadel janji akan belajar yang bener.” Elang tertawa dan mengangguk. Dia mengecup pelan kepala istrinya itu. “Janji nggak boleh sedih-sedih lagi.” “Iya.” Rizca - 33 Hubungan Nadella dan Elang semakin membaik. Elang semakin memerhatikan istri kecilnya itu. Dia bahkan sudah jarang ikut kumpul bersama teman-temannya. Lebih senang menghabiskan waktu berdua dengan Nadella. Satu hal yang Elang tahu, ternyata menikah itu menyenangkan. Tidak seburuk pikirannya dulu. “Lang, makan siang bareng, yuk. Ada restoran baru dekat rumah sakit,” ujar Andrian ketika dia berpapasan dengan Elang yang akan melakukan kunjungan. “Gue udah janji mau makan siang bareng Nadella.” Dan, spontan saja Andrian menampilkan ekspresi mengejeknya kepada Elang. “Kenapa?” tanya Elang bingung. Andrian tertawa dan menggeleng. “Yaudah, gabung aja sekalian. Kita-kita nggak pernah lo ajak makan bareng sama Nadella.” Elang tampak berpikir. Sebenarnya dia tidak suka mengajak Nadella bergabung dengan teman-temannya. Karena, Elang bisa menebak kalau yang terjadi nanti, para teman bangsatnya itu pasti akan mengejeknya habis-habisan. “Gimana, Lang?” Elang mengembuskan napas pelan, dan mengangguk. “Yaudah, lo semua duluan aja ke tempatnya. Gue sama Nadella nanti nyusul.” Andrian mengangguk puas. “Oke.” Lelaki itu berjalan menjauh dengan senang. ek Dan, di sinilah mereka berada sekarang. Tengah makan siang bersama di salah satu restoran yang direkomendasikan Andrian tadi. Sebenarnya, sejak saat pertama Elang membawa Nadella bergabung dengan mereka, ketiga teman Elang sempat termenung beberapa saat. 34 Nadella

Anda mungkin juga menyukai