Laporan Praktikum Kimia Anorganik II
Pembuatan Garam Mohr
Tanggal Percobaan : Selasa, 23 Maret 2021
Kelas : Kimia 4C
Nama : Galuh Fathin Aulia (11190960000100)
Dosen : Nanda Saridewi, [Link]
Laboratorium Kimia
Pusat Laboratorium Terpadu
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
2019/2020
I. TUJUAN
a. Membuat garam mohr atau besi(II) ammonium sulfat
b. Menentukan banyaknya air kristal dalam garam mohr hasil percobaan.
II. TEORI
Logam Fe (besi) biasa ditemukan dalam bentuk mineral di alam. Ada 2 jenis
mineral besi yang penting, yaitu hematit (Fe2O3) dan magnetit (Fe3O4). Sementara garam
besi (II) yang terpenting adalah garam besi (II) sulfat. Garam ini dapat dibuat dengan
melarutkan besi dengan asam sulfat encer, kemudian larutan disaring, lalu diuapkan dan
mengkristal menjadi FeSO4.7H2O yang bewarna hijau. Dalam skala besar, garam ini dibuat
dengan cara mengoksidasi perlahan-lahan FeS dengan udara yang mengandung air. (Sri
Yadial dan Nanda, 2015)
Besi yang murni adalah logam berwarna putih-perak, yang kukuh dan liat. la
melebur pada 1535°C. Jarang terdapat besi komersial yang murni, biasanya besi
mengandung seumlah kecil karbida, silisida, fosfida dan sulfida dari besi, serta sedikit
grafit Zat-zat pencemar ini memainkan peranan penting dalam kekuatan struktur besi. Besi
dapat dimagnitkan. Asam klorida encer atau pckat dan asam sulfat encer melarutkan besi.
Pada lana dihasilkan garam-garam besi(II) dan gas hidrogen (Vogel, 1979).
Garam-garam besi (II) atau fero diturunkan dari besi (II) oksida, FeO dalam larutan.
Garam-garam ini mengandung kation Fe dan berwarna sedikit hijau. lon besi (II) dapat
mudah dioksidasikan menjadi besi (III). maka merupakan zat pereduksi yang kuat.
Semakin kurang asam larutan itu, semakin nyatalah efeknya dalam suasana netral atau basa
bahkan oksigen dari atmosfer akan mengoksidasikan ion besi (II). Maka larutan besi (II)
harus sedikit asam bila ingin disimpan untuk waktu yang agajk lama (Setiono., 1985)
Kristalisasi atau penghabluran ialah peristiwa pembentukan partikel-partikel zat
padat di dalam suatu fase homogeny. Kristalisasi daapt terjadi sebagai pembentukan
partikel padat di dalam uap, seperti dalam pembentukan salju; sebagai pembekuan
(solidification) di dalam lelehan cair. Kristalisasi juga merupakan proses pemisahan solid-
liquid, karena pada kristalisasi terjadi perpindahan massa solute dari larutan liquid ke
padatan murni pada fasa Kristal (Pinalia, 2011).
Dalam suatu larutan, apabila jumlah mol besi (II) sulfat dan ammonium sulfat sama,
dan masing - masing garam tesebut dilarutkan sampai jenuh dengan air panas, sedangkan
kedalam larutan bési (II) sulfat ditambahkan sedikit asam sulfat akhirnya kedua larutan
tersebut dicampurkan satu sama lain maka proses pendinginannya akan terbentuk kristal
monoklin yang berwarna hijau kebiru-binuan, garam ini adalah garam besi (II) ammonium
sulfat dengan rumus: (NH4)2Fe(SO4)2.6H2O. Senyawa ini lazim disebut dengan garam
mohr. Jika dibandingkan dengan garam besi (II) sulfat atau besi (II) klorida, maka kristal
garam Mohr lebih stabil diudara dan larutannya tak mudah dioksidasi oleh oksigen di
atmosfer. (Harjadi, W. 2011).
Garam yang mengandung ion ferri akuo, [Fe(H2O)6]3+ seperti Fe(CIO4)3.10H2O
adalah merah jambu pucat hampir putih, dan ion akuonya adalah merah lembayung pucat.
Kecuali bila larutan Fe3+ cukup kuat keasamannya , terjadi hidrolisis dan umumnya lanutan
menjadi kuning karena pembentukan spesies hidrokso yang mempunyai pota perpindahan
muatan dalam ultraviolet dan berakhir ke daerah tampak (Ismail, 2012)
III. ALAT DAN BAHAN
a. Alat:
• Gelas kimia 250 mL
• Gelas ukur 10 dan 50 mL
• Erlenmeyer 250 mL
• Corong
• Pipet tetes
• Batang pengaduk
b. Bahan:
• Serbuk besi 5g
• Asam sulfat 56 % 300 mL
• Ammonia pekat
• Akuades
• Tisu
• Alumunium foil
• Kertas saring
IV. PROSEDUR KERJA
a. Pembuatan larutan A
Dimasukkan 5 g serbuk besi
kedalam gelas kimia
Ditambahkan H2SO4 96% sebanyak
150 mL, kemudian diaduk-aduk
Dipanaskan sambil diaduk-aduk
hingga larut
Disaring dalam keadaan panas,
menggunakan kertas saring yang di
masukkan ke dalam erlemeyer
Diambil filtratnya
b. Pembuatan larutan B
Diambil 10 mL ammonia, lalu
dimasukkan ke dalam gelas kimia
Ditambahkan H2SO4 96% sebanyak
150 mL, kemudian diaduk
c. Larutan A dicampur dengan larutan B
Larutan A dicampurkan dengan
larutan B, lalu diaduk
Dipanaskan hingga volume
setengah dari volume sebelumnya
Didinginkan diamati pembentukkan
kristalnya
Disaring larutan yang telah
terbentuk kristal
Ditentukan rendemen kristal yang
terbentuk
V. HASIL DAN PEMBAHASAN
Tabel Hasil Pengamatan
Perlakuan Pengamatan
Larutan A
• 5g serbuk besi + 150mL H2SO4 96%, diaduk • FeSO4(aq) +H2(g), serbuk besi sedikit larut
• Dipanaskan • Serbuk besi larut, larutan abu kehitaman
• Disaring • Diambil filtratnya
Larutan B
• 10 ml ammonia + 150mL H2SO4 96%, diaduk • (NH4)2SO4(aq), Larutan tercampur
Larutan A + Larutan B
• FeSO4(aq) + (NH4)2SO4(aq) • (NH4)2FeSO4.6H2O(s)
• Dipanskan • Larutan jenuh berwarna hijau kebiruan
• Didinginkan • Terbentuk kristal halus
• Disaring • Kristal garam mohr
Pada percobaan ini dilakukan pembuatan garam mohr yang merupakan salah satu
garam besi (II) yang dibuat dengan garam sulfat dari logam alkali, dimana dapat
membentuk garam rangkap. Garam mohr juga merupakan senyawa kompleks besi dengan
ligan ammonium dan sulfat. Pembuatan garam mohr dapat dilakukan dengan
mencampurkan Besi (II) Sulfat dengan Amonium Sulfat. Garam mohr tak lain adalah
garam rangkap dengan rumus molkekul (NH4)2FeSO4.6H2O. (Aziz, 2007)
Langkah awal yang dilakukan yaitu membuat larutan A dengan cara melarutkan 5
gram serbuk besi ke dalam H2SO4 96% sebanyak 150 mL fungsi dari H2SO4 adalah sebagai
pelarut yang mengandung proton yang dapat diionkan dan bersifat asam kuat atau lemah.
Kemudian larutan diaduk untuk mempercepat proses pelarutan sehingga serbuk besi yang
berwarna abu-abu kehitaman akan larut sedikit demisedikit. Setelah itu larutan dipanaskan
sampai serbuk besi larut, sehingga larutan berubah menjadi biru bening. Selain untuk
mempercepat pelarutan, pemanasan juga berfungsi untuk menghilangkan gas H2 dan
mempercepat pembentukan ion Fe2+ yang ditandai dengan terbentuknya hablur berwarna
biru kehijauan. Kemudian larutan tersebut disaring dalam keadaan panas dengan
mengunakan kertas saring yang di masukkan ke dalam erlenmeyer, tujuan dari penyaringan
dalam keadaan panas untuk menghindari terbentuknya kristal pada suhu yang rendah
sehingga dihasilkan filtrat yang merupakan garam besi (II) sulfat, dengan persamaan
reaksi:
Fe2+(s) + H2SO4(aq) → FeSO4(aq) +H2(g)
Selanjutnya yaitu pembuatan larutan B yang merupakan larutan ammonium sulfat.
Larutan ini dibuat dengan prinsip reaksi penetralan asam basa, dimana 10 ml ammonia
(NH3) sebagai basa ditambahkan dengan 150 ml asam sulfat (H2SO4) sebagai asam.
Kemudian diaduk hingga tercampur. Reaksi yang terjadi:
2NH3(aq) + H2SO4(aq) → (NH4)2SO4(aq)
Langkah berikutnya untuk pembentukan kristal garam mohr, dicampurkan larutan
A dan larutan B lalu diaduk hingga tercampur. Setelah itu, larutan tersebut dijenuhkan
dengan cara dipanaskan hingga volume larutan setengah dari volume sebelumnya.
Kemudian larutan tersebut didinginkan agar terbentuk kristal yang lebih halus. Setelah
didinginkan, dilakukan penyaringan sehingga diperoleh kristal garam mohr yang
terbentuk. Bentuk kristal garam mohr adalah monoklin dengan warna hijau kebiruan
karena adanya Fe dengan (NH4)2SO4 yang membentuk senyawa kompleks dimana Fe
mengikat ligan NH4 dan SO4. Reaksi yang terjadi yaitu:
FeSO4(aq) + (NH4)2SO4(aq) → (NH4)2FeSO4.6H2O(s)
Proses pembuatan garam mohr menggunakan metode kristalisasi, dimana proses
pembentukan kristal dari larutannya dan kristal yang dihasilkan dapat dipisahkan secara
mekanik. Kristalisasi merupakan peristiwa pembentukan partikel-partikel zat padat dalam
suatu fase homogen. Kristalisasi dari larutan dapat terjadi jika padatan terlarut dalam
keadaan berlebih (di luar kesetimbangan), maka sistem akan mencapai kesetimbangan
dengan cara mengkristalkan padatan terlarut. (Brown, 1978)
VI. KESIMPULAN
Dari percobaan pembuatan garam mohr dapat disimpulkan bahwa pembuatan
garam mohr dapat dilakukan dengan proses kristalisasi, dimana larutan FeSO4 direaksikan
dengan larutan (NH4)2SO4 yang dipanaskan kemudian didinginkan untuk membentuk
kristal garam mohr yang berwarna hijau. Garam mohr merupakan senyawa kompleks
dimana Fe mengikat ligan NH4 dan SO4. Dengan rumus molekul (NH4)2Fe(SO4)2.6H2O
VII. DAFTAR PUSTAKA
Chalid, S. Y., & Dewi, N. S. (2020). Pedoman Praktikum Kima Organik I. Jakarta: UIN
Syarif Hidayatullah.
Harjadi, W. 2011. Ilmu Kimia Analitik Dasar. Jakarta: Erlangga.
Ismail. 2012. Proses Pembuatan Garam Mohr. Jakarta
Pinalisa, A. 2011. Kristalisasi Amonium Perklorat dengan Sistem Pendingin Terkontrol
Untuk Menghasilkan Kristal. Jurnal Teknologi Dirgantara
Underwood, 2002. Analisis Kimia Kuantitaif. Jakarta: Erlangga.
Vogel, 1979. Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semimakro. Jakarta: PT Kaiman
Media Pustaka.
VIII. LAMPIRAN
Pertanyaan pra praktikum
1. Apa yang dimaksud dengan garam mohr?
Jawab: Garam Mohr merupakan garam rangkap yang terdiri dari garam besi (II) sulfat
dan garam amonium sulfat berbentuk kristal monoklin dan hijau kebiru-biruan. Dengan
rumus molekul (NH4)2FeSO4.6H2O
2. Sebutkan aplikasi dari garam mohr?
Jawab: Garam mohr dapat diaplikasikan untuk membuat larutan baku Fe2+ bagi analisis
volumetri, sebagai zat pengkalibrasi dalam pengukuran magnetic, dan untuk
meramalkan urutan daya mengoksidasi oksidator K2Cr2O7, KMnO4 dan KBrO3
(dengan konsentrasi yang sama ~ 0,1 N) terhadap ion Fe2+.
3. Apa yang dimaksud dengan air kristal?
Jawab: Air kristal atau air hidrasi merupakan air yang terdapat di dalam kristal. Air
sering kali diperlukan dalam pembentukan kristal. Dalam beberapa konteks, air kristal
adalah berat total air dalam suatu senyawa pada temperatur tertentu dan berada pada
rasio stoikiometri tertentu.
Pertanyaan post praktikum
1. Apa tujuan penambahan asam sulfat pada filtrate?
Jawab: penambahan beberapa tetes asam sulfat setelah penyaringan (pada filtrat)
ditujukan agar larutan bersifat agak sedikit asam , karena dalam suasana netral atau
basa, ion Fe2+ sangat mudah dioksidasi oleh oksigen dari udara menjadi ion Fe3+ yang
mana akan mengganggu proses reaksi
2. Tulis semua reaksi pada percobaan ini?
Jawab:
Fe2+(s) + H2SO4(aq) → FeSO4(aq) +H2(g)
2NH3(aq) + H2SO4(aq) → (NH4)2SO4(aq)
FeSO4(aq) + (NH4)2SO4(aq) → (NH4)2FeSO4.6H2O(s) (garam mohr)
3. Bagaimana cara menentukan kemurnian kristal yang didapat?
Jawab: Dengan cara menggunakan perhitungan stoikiometri (mula-mula, reaksi, sisa)
sehingga diperoleh massa teoritisnya, yang kemudian dibandingkan dengan massa
percobaan yang diperoleh. Persamaan rumusnya sebagai berikut:
𝑀𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑝𝑒𝑟𝑐𝑜𝑏𝑎𝑎𝑛
Rendemen (%) = 𝑥 100%
𝑀𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑡𝑒𝑜𝑟𝑖𝑡𝑖𝑠
Pada percobaan ini tidak diketahui data massa pada percobaan, sehingga rendemen
percobaan ini tidak dapat dihitung.
MSDS
a. Besi (Fe)
• Fase : solid
• Titik lebur : 1583 oC
• Titik didih : 2862 oC
• Kepadatan : 7.874 g/cm3
• Kalor peleburan : 13,81 kJ/mol
• Kalor penguapan : 340 kJ/mol
Pernyataan bahaya
• Dapat menyebabkan iritasi mata
• Dapat meneybabkan iritasi kulit
• Menyebabkan iritasi saluran pernapasan dan pencernaan
Pertolongan pertama
• Kulit : segera basuh kulit dengan air paling sedikit 15 menit saat membersihkan
pakaian dan sepatu yang terkontaminasi.
• Mata : basuh dengan air selama paling sedikit 15 menit, buka tutup pelupuk
mata beberapa kali.
• Inhalasi : segera pindah ke udara segar. Jika tidak bisa bernapas, berikan
pernapasan buatan, jika masih sulit bernapas, berikan oksigen.
• Tertelan : jangan dimuntahkan, dapatkan bantuan medis jika terjadi gejala
iritasi
b. Asam Sulfat (H2SO4)
• Massa molar : 98,08 g/mol
• Penampilan : cairan tidak berwarna
• Densitas : 1,84 g/cm3
• Titik lebur : 10 oC
• Titik didih : 337 oC
• Kelarutan : larut dalam air
Pernyataan bahaya
• Menyebabkan iritasi dan reaksi alergi pada kulit
• Iritasi saluran pernafasan jika terhirup dan sangat menyengat
• Iritasi saluran pencernaan jika tertelab
• Dapat menyebabkan kerusakan mata
Pertolongan pertama
• Saran umum : panggil dokter
• Kulit : bila terjadi kontak, segera basuh kulit dengan air paling sedikit 15 menit
saat membersihkan pakaian dan sepatu yang terkontaminasi
• Mata : basuh dengan air selama paling sedikit 15 menit, buka tutup pelupuk
mata beberapa kali.
• Pernapasan : segera cari udara segar. Jika sulit bernapas, berikan
pernapasan buatan
• Tertelan : berikan beberapa gelas susu atau air. Akan terjaadi beberapa kali
muntah, tapi jangan di paksakan
c. Ammonia (NH3)
• Massa molar : 17,0306 g/mol
• Penampilan : tak berwarna, berbau tajam
• Massa jenis : 0,6942 g/L
• Titik lebur : -77,37 oC
• Titik didih : -33,34 oC
• Kelarutan : larut dalam air 89,9 g/100 mL (0 oC)
Pernyataan bahaya
• Menyebabkan iritasi mata dan kulit
• Menyebabkan iritasi saluran pernapasan
• Menyebabkan iritasi saluran pencernaan
• Menyebabkan defresi, keracunan jika tertelan
Pertolongan pertama
• Bila terkena mata, basuh dengan air selama 15 menit
• Bila terkena kulit bilas dengan air yang banyak tinggalkan pakaian yang
terkontaminasi
• Bila terhirup segera cari udara segar, jika masih sulit bernafas beri nafas buatan
• Bila tertelan beri minu air/susu, jangan memasukan sesuatu kemulut orang yang
pingsan