0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
9 tayangan3 halaman

Perlindungan HAM dan Pluralisme Agama

sosial

Diunggah oleh

muhammad marzuki
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
9 tayangan3 halaman

Perlindungan HAM dan Pluralisme Agama

sosial

Diunggah oleh

muhammad marzuki
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

HAM

Perlindungan HAM dalam Kerangka Hukum Internasional


HAM adalah hak yang dimiliki setiap orang yang dibawa sejak lahir ke dunia, hak itu
sifatnya universal sebab dipunyai tanpa adanya perbedaan kelamin, ras, budaya, suku, agama
maupun sebagainya, pengertian HAM ini adalah menurut Miriam Budiarjo. Sedangkan
menurut Prof. Koentjoro Poerbopranoto, HAM adalah suatu hak yang sifatnya asasi atau
mendasar, hak-hak yang dimiliki setiap manusia berdasarkan kodratnya yang pada dasarnya
tidak akan bisa dipisahkan sehingga bersifat suci.
Menurut Kevin Boyle dan David Beetham, HAM adalah hak-hak individual dan
berasal dari berbagai kebutuhan serta kapasitas-kapasitas manusia. Menurut Leah Kevin,
konsepsi tentang hak-hak asasi manusia mempunyai dua makna dasar, yang pertama adalah
bahwa hak-hak hakiki dan tak terpisahkan menjadi hak seseorang hanya karena ia merupakan
manusia, hak-hak itu merupakan hak-hak moral yang berasal dari keberadaannya sebagai
manusia dari setiap umat manusia, makna kedua dari hak-hak asasi manusia ialah hak-hak
hukum, baik secara internasional atau nasional.
Pengertian HAM (Hak Asasi Manusia) juga diatur dalam UU No. 39 Tahun 1999,
menurut UU No. 39 Tahun 1999, HAM adalah seperangkat hak yang melekat pada diri
manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan YME, dimana hak tersebut merupakan anugerah
yang wajib dilindungi dan dihargai oleh setiap manusia guna melindungi harkat serta
martabat setiap manusia.
Banyak teori yang berkaitan dengan HAM, diantaranya adalah teori hak-hak alami
atau natural rights yang berpandangan bahwa HAM adalah hak yang dimiliki oleh seluruh
manusia pada segala waktu dan tempat, teori positivis atau positivist theory yang
berpandangan bahwa hak harus dituliskan dalam hukum yang riil, teori relativis kultural atau
cultural relativist theory yang merupakan anti-tesis dari teori hak alami, karena berpandangan
bahwa hak yang bersifat universal merupakan pelanggaran terhadap dimensi kultural yang
lain atau imperialisme kultural, dan yang terakhir adalah doktrin marxis atau marxist doctrine
and human rights yang menolak natural rights karena beranggapan bahwa negara atau sifat
kolektif yang menjadi sumber segala hak.
Ada beberapa instrumen yuridik untuk melindungi HAM, hal ini sangat diperlukan
agar dapat memberikan kepastian hukum dalam melaksanakan penegakan HAM, instrumen
yuridik tersebut diantaranya adalah, Magna Charta 1215, Bill of Right 1698, Declaration des
droits de l’homme et du citoyen 1789, dan Declaration of Independence.
Magna Charta 1215 merupakan dokumen yang mencatat beberapa hak yang diberikan
oleh Raja John dari Inggris kepada beberapa bangsawan bawahannya atas tuntutan mereka,
Magna Charta membatasi kekuasaan Raja John pada saat itu. Bill of Rights 1698 merupakan
undang-undang yang diterima oleh parlemen Inggris setelah terjadi perlawanan terhadap Raja
James II dalam revolusi tidak berdarah atau biasa disebut dengan The Glorious Revolution of
1688.
Declaration des droits de l’homme et du citoyen 1789 merupakan naskah yang
dicetuskan pada permulaan adanya Revolusi Perancis sebagai perlawanan terhadap rezim
yang lama.
Declaration of Independence adalah naskah yang disusun oleh rakyat Amerika pada
1789 dan menjadi bagian dari konstitusi Amerika pada 1791.
Terwujudnya perlindugan HAM modern salah satu pencetusnya adalah Presiden Amerika
Serikat, Franklin D. Roosevelt melalui empat hak yang dirumuskannya, yaitu adalah,
kebebasan untuk berbicara dan menyatakan pendapat (freedom of speech), kebebasan
beragama (freedom of religion), kebebasan dari ketakutan (freedom from fear), dan
kebebasan dari kemeralatan (freedom from want).
PBB adalah organisasi internasional yang memberi kontribusi besar bagi
pembentungan perlindungan HAM internasional modern, dokumen yang dihasilkan oleh PBB
adalah Universal Declaration of Human Rights atau UDHR yang disahkan dan ditetapkan
pada 10 Desember 1948. UDHR mengatur mengenai hak-hak yang harus dilindungi.
Pada tahun 1966, disahkannya International Convention on Civil and Political Rights
(ICCPR) dan International Convention on Economic, Social, and Cultural Rights (ICESCR).
Kedunya memiiki kekuatan mengikat terhadap negara-negara anggota PBB.
ICCPR diantaranya mengatur tentang, hak untuk hidup, pelarangan penyiksaan,
kedudukan yang sama dalam hukum, kebebasan berpikir dan beragama, kebebasan
berkumpul, dan kebebasan berekspresi. Sedangkan dalam ICESCR diantaranya mengatur
tentang, hak untuk bekerja, hak untuk mendapatkan pendidikan, hak untuk mendapatkan
lingkungan kerja yang baik,hak untuk mendapatkan jaminan sosial, dan hak untuk
bersindikat.
Muncul instrumen hukum yang lahir setelah ICCPR dan ICESCR yang substansinya
mengatur tentang berbagai hal, yaitu adalah, Convention on the Prevention and Punishment
of the Crime of Genocide, Convention relating to the Status of Refugees, International
Convention on the Elimination of All Forms of Racial Discrimination, dan Convention on the
Elimination of Discrimination against Women
PLURALISME
Alquran, pluralitas, dan pluralisme
Pluralitas masyarakat tampak pada kemajemukan ras, bangsa, dan etnis. Masing-
masing kelompok ras, bangsa, dan etnis tadi memiliki warna kulit, rambut, dan ciri-ciri fisik
yang berbeda satu sama lain. Ada yang berkulit putih dan berambut pirang, ada yang berkulit
kuning dan berambut hitam lurus, ada yang berkulit hitam dan berambut keriting, dan ada
pula yang berkulit sawo matang dan berambut hitam. Ada yang berbahasa Arab, Persia,
Urdu, Turki, Indonesia, Inggris, Jerman, Rusia, Cina, dan Perncis dll. Pluralitas bangsa dan
etnis ini sudah merupakan “sunnatullah” sebagaimana difirmankan oleh Allah dalam
Alquran, “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan langit dan
bumi dan aneka ragam bahasamu dan warna kulitmu. Sungguh, dalam keragaman yang
demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui.” (QS ar-
Rum: 22).
Masing-masing bangsa dan etnis mempunyai adat istiadat, tradisi, seni, bahasa, dan
budaya sendiri-sendiri yang berbeda satu sama lain. Pluralitas masyarakat dan budayanya
memang dikehendaki oleh Allah dengan maksud agar kelompok-kelompok masyarakat yang
hidup berbangsa-bangsa dan bersuku-suku itu bisa saling mengenal satu sama lain.
Pluralitas dan pluralisme terlihat pula pada kemajemukan dan keberagaman agama
yang dianut oleh masing-masing komunitas agama di dunia ini. Ada yang menganut Islam,
Kristen, Yahudi, Hindu, Buddha, Konghucu, dll. Saya tidak melihat ada yang salah dengan
pluralisme agama.
Pluralitas agama dan pluralisme agama tidak perlu dikhawatirkan dan tidak perlu
dipersalahkan. Sifat beragam, keadaan atau fakta yang bercorak beragam, dan pandangan
atau paham tentang keberagamaan dalam kehidupan keagamaan sudah menjadi realitas sosial
yang hidup, ada, dan berkembang di tengah-tengah masyarakat manusia.
Menurut saya, umat Islam boleh, bisa, dan tidak masalah menerima pluralisme agama
dalam arti umat Islam menghormati, menghargai, dan mengakui keberadaan dan
kemajemukan (bukan “kebenaran”) agama-agama di luar Islam. Sedangkan “kebenaran”
agama-agama di luar Islam diserahkan kepada klaim teologis para penganut agama yang
bersangkutan.
Dalam konteks ini perlu diperhatikan, suatu hal yang tidak boleh dilakukan dan harus
dihindari adalah sinkretisme agama yang memandang semua agama adalah sama atau
mencampuradukkan elemen-elemen ajaran dari berbagai agama menjadi agama baru.

Anda mungkin juga menyukai