0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
284 tayangan15 halaman

Panduan Lengkap Diabetes Melitus

Laporan pendahuluan ini membahas tentang Dengue Haemorrhagic Fever (DHF) yang disusun oleh mahasiswa bernama BT 1901030. DHF adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus Dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. Gejala klinis DHF meliputi demam, nyeri otot dan sendi, gangguan perdarahan, dan gangguan sistemik lainnya.

Diunggah oleh

aba print
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
284 tayangan15 halaman

Panduan Lengkap Diabetes Melitus

Laporan pendahuluan ini membahas tentang Dengue Haemorrhagic Fever (DHF) yang disusun oleh mahasiswa bernama BT 1901030. DHF adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus Dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. Gejala klinis DHF meliputi demam, nyeri otot dan sendi, gangguan perdarahan, dan gangguan sistemik lainnya.

Diunggah oleh

aba print
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PENDAHULUAN

DENGUE HAEMORAGIC FIVER (DHF)

ST. NURPADILLAH

BT 1901030

2A

CI LAHAN CI INSTITUSI

AKADEMI KEPERAWATAN BATARI TOJA

WATAMPONE
2021
A. Konsep Medis Diabetes melitus

1. Definisi
Diabetes mellitus berasal dari kata diabetes yang berarti terus mengalir, dan mellitus yang
berarti manis. Kemudian istilah diabetes menjadi sebutan, karena sering minum dalam jumlah
banyak yang disusul dengan sering keluar kembali dalam jumlah yang banyak. Sebutan
mellitus disebabkan air kencing yang keluar manis mengandung gula. Sampai sekarang
penyakit ini disebut sebagai kencing manis atau diabetes mellitus (Fitri ayu rohma,2018).
Diabetes melitus adalah suatu penyakit kronik yang terjadi ketika tubuh tidak dapat
memproduksi cukup insulin atau tidak dapat menggunakan insulin (resistensi insulin), dan di
diagnosa melalui pengamatan kadar glukosa di dalam darah. Insulin merupakan hormon yang
dihasilkan oleh kalenjar pankreas yang berperan dalam memasukkan glukosa dari aliran
darah ke sel-sel tubuh untuk digunakan sebagai sumber energi (Fitri ayu rohma,2018).
Klasifikasi diabetes melitus (Amin huda nurarif,2016)
1) Klasifikasi klinis
a. DM
 Tipe 1 : IDDM
Disebabkan oleh destruksi sel beta pulau langerhans akibat proses autoimun.
 Tipe 2 : NIDDM
Disebabkan oleh kegagalan relatif sel beta dan resistensi insulin. Resistensi insulin
adalah turunnya kemampuan insulin untuk merangsang pengambilan glukosa oleh
jaringan perifer dan untuk menghambat produksi glukosa oleh hati.
 Tipe 2 dengan obesitas
b. Klasifikasi resiko statistik
a) Sebelumnya pernah menderita kelainan toleransi glukosa.
b) Berpotensi menderita kelainan glukosa
2. Etiologi
(Muthia varena,2019)
1) Diabetes melitus tergantung insulin (DM tipe 1)
a. Genetik
Umunya penderita diabetes tidak mewarisi diabetes type 1 namun mewarisi sebuah
predisposisis atau sebuah kecendurungan genetik kearah terjadinya diabetes type 1.
Kecendurungan genetik ini ditentukan pada individu yang memiliki type antigen HLA
(Human Leucocyte Antigen) tertentu. HLA ialah kumpulan gen yang bertanggung
jawab atas antigen tranplantasi & proses imunnya.
b. Imunologi
Pada diabetes type 1terdapat fakta adanya sebuah respon [Link] adalah respon
abdomal dimana antibodi terarah pada jaringan normal tubuh secara bereaksi terhadap
jaringan tersebut yang dianggapnya sebagai jaringan asing.
c. Lingkungan
Virus atau toksin tertentu dapat memicu proses otoimun yang menimbulkan destruksi
selbeta.
2) Diabetes melitus tidak tergantung insulin (DM tipe 2)
Mekanisme yang tepat yang menyebabkan resistensi insulin dan gangguan sekresi
insulin pada diabetes tipe II masih belum diketahui. Faktor genetik memegang
peranan dalam proses terjadinya resistensi insulin.
Faktor-faktor resiko :
a. Usia (resistensi insulin cenderung meningkat pada usia di atas 65 tahun.
b. Obesitas
c. Riwayat keluarga
3. Patofisiologi
Pada diabetes tipe satu terdapat ketidakmampuan untuk menghasilkan insulin karena sel-
sel beta pankreas telah dihancurkan oleh proses autoimun. Hiperglikemia puasa terjadi akibat
produksi glukosa yang tidak terukur oleh hati. Di samping itu glukosa yang berasal dari
makanan tidak dapat disimpan dalam hati meskipun tetap berada dalam darah dan
menimbulkan hiperglikemia prosprandial (sesudah makan). Jika konsentrasi glukosa dalam
darah cukup tinggi maka ginjal tidak dapat menyerap kembali semua glukosa yang tersaring
keluar, akibatnya glukosa tersebut muncul dalam urin (glikosuria). Ketika glukosa yang
berlebihan di eksresikan ke dalam urin, eksresi ini akan disertai pengeluaran cairan dan
elektrolit yang berlebihan. Keadaan ini dinamakan diuresis osmotik. Sebagai akibat dari
kehilangan cairan berlebihan, pasien akan mengalami peningkatan dalam berkemih (poliuria)
dan rasa haus (polidipsia) (Samita, 2018).
Difisiensi insulin juga akan menganggu metabolisme protein dan lemak yang
menyebabkan penurunan berat badan. Pasien dapat mengalami peningkatan selera makan
(polifagia), akibat menurunnya simpanan kalori. Gejala lainnya mencakup kelelahan dan
kelemahan. Dalam keadaan normal insulin mengendalikan glikogenolisis (pemecahan
glukosa yang disimpan) dan glukoneogenesis (pembentukan glukosa baru dari asam-asam
amino 49 dan substansi lain). Namun pada penderita defisiensi insulin, proses ini kan terjadi
tanpa hambatan dan lebih lanjut akan turut menimbulkan hiperglikemia. Disamping itu akan
terjadi pemecahan lemak yang mengakibatkan peningkatan produksi badan keton yang
merupakan produk samping pemecahan lemak. Badan keton merupakan asam yang
menganggu keseimbangan asam basa tubuh apabila jumlahnya berlebihan. Ketoasidosis yang
disebabkannya dapat menyebabkan tanda-tanda dan gejala seperti nyeri abdomen, mual,
muntah, hiperventilasi, nafas berbau aseton dan bila tidak ditangani akan menimbulkan
penurunan kesadaran, koma bahkan kematian. Pemberian insulin bersama cairan dan
elektrolit sesuai kebutuhan akan memperbaiki dengan cepat kelainan metabolik tersebut dan
mengatasi gejala hiperglikemi serta ketoasidosis. Diet dan latihan disertai pemantauan kadar
gula darah yang sering merupakan komponen terapi yang penting (Samita, 2018)
Diabetes tipe 2 merupakan suatu kelainan metabolik dengan karakteristik utama adalah
terjadinya hiperglikemik kronik. Meskipun pola pewarisannya belum jelas, faktor genetik
dikatakan memiliki peranan yang sangat penting dalam munculnya Diabetes Melitus Tipe 2.
Faktor genetik ini akan berinteraksi dengan faktor-faktor lingkungan seperti gaya hidup,
obesitas, rendahnya aktivitas fisik, diet, dan tingginya kadar asam lemak bebas. Mekanisme
terjadinya Diabetes Melitus Tipe 2 umumnya disebabkan karena resistensi insulin dan
gangguan sekresi insulin. Normalnya insulin akan terikat dengan reseptor khusus pada
permukaan sel. Sebagai akibat terikatnya insulin dengan reseptor tersebut, terjadi suatu
rangkaian reaksi dalam metabolismeglukosa didalam sel (Nadhia ariyani,2019).
Resistensi insulin pada Diabetes Melitus tipe 2 disertai dengan penurunan reaksi intrasel
ini. Dengan demikian insulin menjadi tidak efektif untuk menstimulasi pengambilan glukosa
oleh jaringan. Untuk mengatasi resistensiinsulin dan mencegah terbentuknya glukosa dalam
darah, harus terjadi peningkatan jumlah insulin yang disekresikan. Pada penderita
toleransiglukosa terganggu, keadaan ini terjadi akibat sekresi insulin yang berlebihan dan
kadar glukosa akan dipertahankan pada tingkat yang normal atau sedikit meningkat. Namun
demikian, jika sel-sel beta tidak mampu mengimbangi peningkatan kebutuhan akan insulin,
maka kadar glukosa akan meningkat dan terjadi Diabetes Melitus Tipe 2. Meskipun terjadi
gangguan sekresi insulin yang merupakan ciri khas Diabetes Melitus Tipe 2, namun masih
terdapat insulin dengan jumlah yang adekuat untuk mencegah pemecahan lemak dan
produksi badan keton yang menyertainya. Karena itu, Ketoasidosis Diabetik tidak terjadi
pada Diabetes Melitus Tipe 2 (Nadhia ariyani,2019).
Meskipun demikian, Diabetes Melitus Tipe 2 yang tidak terkontrol akan menimbulkan
masalah akut lainnya seperti sindrom Hiperglikemik Hiperosmolar Non Ketotik (HHNK).
Akibat intoleransi glukosa yang berlangsung lambat (selama bertahun-tahun) dan progresif,
maka awitan Diabetes Melitus Tipe 2 dapat berjalan tanpa terdeteksi. Jika gejalanya dialami
pasien, gejala tersebut sering bersifat ringan, seperti : kelelahan, iritabilitas, poliuria,
polidipsia, luka pada kulit yang lama-lama sembuh, infeksi vagina atau pandangan kabur
(jika kadar glukosanya sangat tinggi). Salah satu konsekuensi tidak terdeteksinya penyakit
Diabetes Melitus selama bertahun-tahun adalah terjadinya komplikasi diabetes Melitus
jangka panjang (misalnya, kelainan mata, Neuropati Perifer, kelainan Vaskuler Perifer)
mungkin sudah terjadi sebelum diagnosis ditegakkan (Nadhia ariyani,2019).
4. Tanda dan gejala
Tanda dan gejala DM dikaitkan dengan konsekuensi metabolic defisiensi insulin (Amin
huda nurarif,2016)
a. Kadar glukosa puasa tidak normal
b. Hiperglikemia berat berakibat glukosuria yang akan menjadi dieresis osmotic yang
meningkatkan pengeluaran urin (poliuria) dan timbul rasa haus (polidipsia)
c. Rasa lapar yang semakin besar (polifagia), BB berkurang
d. Gejala lain yang dikeluhkan adalah kesemutan, gatal, mata kabur, impotensi,
peruritas vulva.
5. Komplikasi
Komplikasi diabetes melitus dapat diklasifikasikan menjadi komplikasi akut dan komplikasi
kronis (Asri nurul falah,2017).
1) Komplikasi akut
a. Hipoglikemia
merupakan rendahnya kadar gula dalam darah yaitu kurang dari 70 mg/dL. Keadaan
ini dapat terjadi akibat pemberian insulin atau preparat oral yang berlebihan,
konsumsi makanan yang terlalu sedikit atau karena aktivitas fisik yang berat.
b. Hiperglikemia
adalah peningkatan kadar gula dalam darah yaitu lebih dari 200 mg/dL. Jika kadar
gula darah makin lama makin meningkat dan tidak terkontrol akan mengakibatkan
ketoasidosis.
c. Diabetik ketoasidosis adalah tidak adanya atau kurangnya jumlah insulin yang
dihasilkan.
2) Komplikasi kronis
a. Makrovaskuler (pembuluh darah besar)
Pada penyandang DM akan mengalami perubahan akibat aterosklerosis, trombosit, sel
darah merah, faktor pembekuan yang tidak normal dan perubahan pada dinding arteri.
Aterosklerosis sering terjadi pada DMTII/NIDDM. Komplikasi makrovaskuler adalah
penyakit arteri koroner, penyakit vaskular serebral dan penyakit vaskular perifer.
b. Mikrovaskuler (pebuluh darah kecil)
yang mengenai retinopati diabetik, nefropati diabetik dan neuropati diabetik.
Perubahan-perubahan mikrovaskuler yang ditandai dengan penebalan dan kerusakan
membran diantara jaringan dan pembuluh darah sekitar. Terjadi pada klien dengan
DMTI/IDDM yang diantaranya terjadi :
a) Retinopati
Retinopati adalah adanya perubahan dalam retina karena berkurangnya aliran darah
dalam retina, sehingga akan menyebabkan iskemik retina. Perubahan ini dapat
mengakibatkan gangguan dalam penglihatan.
b) Nefropati
Nefropati adalah penyakit ginjal yang ditandai dengan adanya albumin dalam urine,
hipertensi.
c. Neuropati
Neuropati adalah penyakit pada sistem saraf perifer dan sistem saraf otonom.
Neuropati disebabkan karena adanya penebalan pada dinding pembuluh darah yang
menekan saraf, sehingga akan menyebabkan penurunan nutrien. Perubahan metabolik
mengakibatkan fungsi sensorik dan motorik saraf menurun kehilangan sensori
mengakibatkan penurunan persepsi nyeri.
3) Rentan infeksi seperti tuberculosis paru, gingivitis, dan infeksi saluran kemih.
4) Kaki diabetic
adalah kelainan tungkai kaki bawah akibat diabetes melitus yang tidak terkendali.
Kaki diabetes melitus dapat disebabkan kerena hilangnya sensori pada kaki yang
mengakibatkan trauma dan potensial untuk ulkus. Perubahan makrovaskular dan
mikrovaskular dapat mengakibatkan iskemia jaringan dan sepsis sehingga akan
menyebabkan gangren dan beresiko terhadap tindakan amputasi.
6. Pemeriksaan diagnostic
1) Kadar glukosa darah
Tabel kadar glukosa darah sewaktu dan puasa dengan metode enzimatik sebagai patokan
penyaring :

Kadar Glukosa Darah Sewaktu (mg/dl)


Kadar Glukosa Darah Sewaktu DM Belum pasti DM
Plasma vena >200 100-200
Darah kapiler >200 80-100
Kadar Glukosa Darah Puasa (mg/dl)
Kadar Glukosa Darah Puasa DM Belum pasti DM
Plasma vena >120 110-120
Darah kapiler >110 90-110
1) Kriteria diagnostic WHO untuk diabetes melitus pada sedikitnya 2 kali pemeriksaan :

a) Glukosa plasma sewaktu >200 mg/dl (11,1 mmol/L)

b) Glukosa plasma puasa >140 mg/dl (7,8 mmol/L)

c) Glukosa plasma dari sampel yang diambil 2 jam kemudian sesudah mengkonsumsi 75
gr karbohidrat (2 jam post prandia (pp) >200 mg/dll).
1) Tes laboratorium DM
Jenis tes pada pasien DM dapat berupa tes saring, tesdiagnostik, tes pemantauan terapi
dan tes untuk mendeteksi komplikasi.
2) Tes saring
Tes saring pada DM adalah :
a) GDP, GDS
b) Tes Glukosa Urin
c) Tes konvensional (metode reduksi/benedict)
d) Tes carik celup (meotde glucose oxidase/hexokinase)
3) Tes diagnostik
Tes-tes diagnostik pada DM adalah GDP, GDS, GD2P (Glukoa Darah 2 jam Post
Prandial), Glukosa jam ke-2 TTGO
4) Tes monitoring terapi
a) GDP : plasma vena, darah kapiler
b) GD2 PP : plasma vena
c) A1c : darah cena, darah kapiler
5) Tes untuk mendeteksi komplikasi
a) Mikroalbuminuria : urin
b) Ureum, kreatinin, asam urat
c) Kolesterol total : plasma vena (puasa)
d) Kolesterol LDL : plasma vena (puasa)
e) Kolesterol HDL : plasma vena (puasa)
f) Trigliserida : plasma darah (vena)
7. Penatalaksanaan medis
Insulin pada DM tipe 2 diperlukan pada keadaan
a) Penurunan berat badan yang cepat
b) Hiperglikemia berat yang disertai ketosis
c) Ketoasidosis diabetik (KAD) atau hiperglikemia hiperosmolar non ketotik (HNOK)
d) Hiperglikemia dengan asidosis laktat
e) Gagal dengan kombinasi OHO dosis optimal
f) Stres berat (infeksi sistemik, operasi besar, IMA, stroke)
g) Kehamilan dengan DM/diabetes melitus gestasional yang tidak terkendali dengan
perencanaan makanan.
h) Gangguan fungsi ginjal atau hati yang berat
i) Kontraindikasi dan atau alergi terhadap OHO

B. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN DIABETES MELITUS


1. PENGKAJIAN
Pengkajian merupakan langakah utama dan dasar utama dari proses keperawatan
yang mempunyai dua kegiatan pokok yaitu:
a. Pengumpulan data
Pengumpulan data yang akurat dan sistematis akan memmbantu menentukan status
kesehatan dan pola pertahanan penderita, mengidentifikasikan, kekuatan dan
kebutuhan penderita yang dapat di peroleh melalui anamese, pemeriksaan fisik,
pemeriksaan laboratorium serta pemeriksaan penunjangan lainnya.
b. Identitas meliputi : nama, umur, jenis kelamin, agama, pendidikan pekerjaan, alamat,
status perkawinan, susku bangsa, nomor register, tanggal masuk rumah sakit dan
diagnosa medis.
c. Keluhan utama: adanya rasa kesemutan pada kaki/tungkai bawah, rasa raba yang
menurun, adanya luka yang tidak sembuh dan berbau, adaya nyeri pada luka.
d. Riwayat kesehatan sekarang: berisi tentang kapan terjadinya luka, penyebab
terjadinya luka serta upaya yang telah dilakukan oleh penderita untuk mengatasinya.
e. Riwayat kesehatan dahulu: Adanya riwayat penyakit dm atau penyaki-penyakit lain
yang ada kaitannya denagn defisiensi insulin misalnya penyakit pankreas. Adanya
riwayat penyakit janung, obesitas, maupun anterosklerosis, tindakan medis yang
pernah didapat maupun obat-obatan yang biasa digunakan oleh penderita
f. Riwayat kesehatan keluarga: dari genogram keluarga biasanya terdapat salah satu
anggota keluarga yang juga menderita dm atau penyakit keturunan yang dapat
menyebabkan terjadinya defisiensi insulin misal hipertensi, jantung.
g. Riwayat psikososial: Meliputi informasi mengenai perilaku, perasaan dan emosi yang
dialai penderita sehubungan denagn penyakitnya serta tanggapan keluarga terhadap
penyakit penderita.
Hal yang perlu dikaji pada klien dengan diabetes melitus :

1.  Aktivitas dan istirahat : Kelemahan, susah berjalan/bergerak, kram otot, gangguan


istirahat dan tidur, tachicardi/tachipnea pada waktu melakukan aktivitas dan koma
2. Sirkulasi
Riwayat hipertensi, penyakit jantung seperti IMA, nyeri, kesemutan pada ekstremitas
bawah, luka yang sukar sembuh, kulit kering, merah, dan bola mata cekung.
3. Eliminasi
Poliuri,nocturi, nyeri, rasa terbakar, diare, perut kembung dan pucat.
4. Nutrisi
Nausea, vomitus, berat badan menurun, turgor kulit jelek, mual/muntah.
5. Neurosensori
Sakit kepala, menyatakan seperti mau muntah, kesemutan, lemah otot, disorientasi,
letargi, koma dan bingung.
6. Kardiovaskuler
Takikardia / nadi menurun atau tidak ada perubahan TD Postural, hipertensi
dysritmia, krekel, DVJ (GJK)
7. Nyeri
Pembengkakan perut, meringis.
8. Respirasi
Tachipnea, kussmaul, ronchi, wheezing dan sesak nafas.
9. Keamanan
Kulit rusak, lesi/ulkus, menurunnya kekuatan umum.
10. Seksualitas
Adanya peradangan pada daerah vagina, serta orgasme menurun dan terjadi impoten
pada pria.
11. Muskuloskeletal
Tonus otot menurun, penurunan kekuatan otot, ulkus pada kaki, refleks tendon
menurun kesemutan/ rasa berat pada tangkai
2. DIAGNOSIS KEPERAWATAN
Diagnosa keperawatan pada pasien dengan Diabetes mellitus adalah :
a. Ketidakstabilan gula darah b.d resistensi insulin
Gejala dan Tanda Mayor
Ds:
- Mengantuk
- pusing
Do:
- Gangguan koordinasi
- Kadar glukosa dalam darah/ urin rendah
Gejala dan Tanda Minor
Ds:
- Palpitasi
- Mengeluh lapar
Do:
- Gemetar
- Perilaku aneh
- Kesadaran menurun
- Sulit bicara
- Berkeringat
b. Defisit nutrisi berhubungan dengan ketidakcukupan insulin, penurunan masukan
oral : anoreksia, mual, lambung penuh, nyeri abdomen, perubahan kesadaran :
status hipermetabolisme, pelepasan hormon stress.
 Gejala dan Tanda Mayor
Ds:
- (tidak tersedia)
Do:
- Berat badan menurun minimal 10% di bawah rentang ideal
 Gejala dan Tanda Minor
Ds:
- Klien mengatakan cepat kenyang setelah makan
- Klien mengatakan kram/nyeri abdomen
- Klien mengatakan nafsu makan menurun
Do:
- Bising usus hiperaktif
- Otot pengunyah lemah
- Membran mukosa pucat
- Sariawan
- Serum albumin turun
- Rambut rokok berlebihan
- Diare
c. Risiko infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan perifer,
perubahan sirkulasi, kadar gula darah yang tinggi, prosedur invasif dan kerusakan
kulit.
d. Nyeri Akut berhubungan dengan Agen cedera fisik
 Gejala dan Tanda Mayor
Ds:
- Klien Mengeluh nyeri
Do:
- Tampak meringis
- Bersikap protektif (mis. Waspada, posisi menghibdari nyeri)
- Gelisah
- Frekuensi nadi meningkat
- Sulit tidur
 Gejala dan Tanda Minor
Ds:
- (tidak tersedia)
Do:
- Tekanan darah meningkat
- Pola nafas berubah
- Nafsu makan berubah
- Proses berfikir terganggu
- Menarik diri
- Berfokus pada diri sendiri
- Diaforesis
e. Perfusi Perifer Tidak Efektif berhubungan dengan Hiperglikemia
 Gejala dan Tanda Mayor
Ds:
- (tidak tersedia)
Do:
- Pengisian kapiler >3 detik
- Nadi perifer menurun atau tidak teraba
- Akral teraba dingin
- Warna kulit pucat
- Turgor kulit menurun
 Gejala dan Tanda Minor
Ds:
- Parastesia
- Klien mengatakan nyeri ekstremitas (klaudikasi intermiten)
Do:
- Edema
- Penyembuhan luka lambat
- Indeks ankle-brachial <0,90
- Bruit femoral
f. Resiko cedera berhubungan dengan penurunan tingkat kesadaran
g. Gangguan integrasi kulit berhubungan dengan perubahan sirkulasi
 Gejala dan Tanda Mayor
Ds:
- (tidak tersedia)
Do:
- Kerusakan jaringan dan/atau lapisan kulit
 Gejala dan Tanda Minor
Ds:
- (tidak tersedia)
Do:
- Nyeri
- Pendarahan
- Kemerahan
- Hematoma

3. INTERVENSI KEPERAWATAN
Intervensi keperawatan adalah panduan untuk perilaku spesifik yang di harapkan dari
klien, dan atau/ tindakan yang harus dilakukan oleh perawat. Intervensi di lakukan
untuk membantu klien mencapai hasil yang di harapkan.
1) Nyeri Akut berhubungan dengan Agen cedera fisik
Manajemen nyeri

Observasi
 Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, insetitas nyeri
 Identifikasi skala nyeri
 Identifikasi faktor yang memperberat dan memperingan nyeri
 Monitor efek samping penggunaan analgetik

Teraupetik
 Berikan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi nyeri ( mis. TENS,
Hipnosis, akupresur, terapi musik, biofeedback, terapi pijat, aromaterpi, teknis
imajinasi terbimbing, kompres hangat/dingin, terapi bermain.
 Fasilititasi istirahat dan tidur
 Pertimbangkan jenis dan sumber nyeri dalam pemilihan strategi meredakan
nyeri
Edukasi
 Jelaskan strategi meredakan nyeri
 Anjurkan menggunakan analgetik secara tepat
 Ajarkan teknik nonfarmalogis untuk mengurangi nyeri
Kolaborasi
 Kolaborasi pemberian analgetik
2) Ketidakstabilan gula darah b.d resistensi insulin
Manajemen hiperglikemia
Observasi
 Identifikasi kemungkinan penyebab hiperglikemia
 Monitor tanda dan gejala hiperglikemia
Terapeutik
 Berikan asupan cairan oral
Edukasi
 Ajurkan kepatuhan terhadap diet dan olah raga
Kolaborasi
 Kolaborasi pemberian insulin
3) Defisit nutrisi berhubungan dengan ketidakcukupan insulin, penurunan masukan oral :
anoreksia, mual, lambung penuh, nyeri abdomen, perubahan kesadaran : status
hipermetabolisme, pelepasan hormon stress.
Manajemen nutrisi

Observasi
 Identifikasi status nutrisi
 Monitor asupan makan
 Monitor berat badan

Teraupetik
 Fasilitasi pedoman diet
Edukasi
 Anjurkan posisi duduk
 Anjurkan diet yang di programkan
Kolaborasi
 Kolaborasi pemberian medikasi sebelum makan (mis. Pereda nyeri, antiemetik
 Kolaborasi dengan ahli gizi unuk menentukan jumlah kalori dan jenis nutrien
yang di butuhkan, jika perlu
4. IMPLEMENTASI
Implementasi adalah tahap pelaksananan terhadap rencana tindakan keperawatanyang
telah ditetapkan untuk perawat bersama pasien. Implementasi dilaksanakan sesuaidengan
rencana setelah dilakukan validasi, disamping itu juga dibutuhkan keterampilan interpersonal,
intelektual, teknikal yang dilakukan dengan cermat dan efisien pada situasiyang tepat
dengan selalu memperhatikan keamanan fisik dan psikologis. Setelah selesai implementasi,
dilakukan dokumentasi yang meliputi intervensi yang sudah dilakukan dan bagaimana respon
pasien.
5. EVALUASI
Evaluasi merupakan tahap terakhir dari proses keperawatan. Kegiatan evaluasi ini adalah
membandingkan hasil yang telah dicapai setelah implementasi keperawatandengan tujuan
yang diharapkan dalam perencanaan.
DAFTAR PUSTAKA

Fitri Ayu Rohma . 2018 . Asuhan Keperawatan Diabetes Melitus


Amin Huda Nuraif . 2016. Buku Asuhan Keperawatan Praktis
Muthia Varena . 2019 . Asuhan Keperawatan Diabetes Melitus

Anda mungkin juga menyukai