BAB II
LANDASAN TEORI
A. Tinjauan Tentang Kompetensi
1. Pengertian Kompetensi
Dalam kamus besar bahasa Indonesia, kompetensi merupakan
kewenangan (kekuasaan) untuk menentukan atau memutuskan sesuatu
hal. Berdasarkan pada arti etimologi kompetensi diartikan sebagai
kemampuan yang harus dimiliki seorang atau setiap pekerja untuk dapat
melaksanakan suatu pekerjaan dengan dilandasi oleh pengetahuan,
keterampilan dan sikap kerja. Menurut Edy sutrisno, suatu kemampuan
yang dilandasi oleh keterampilan dan pengetahuan yang didukung oleh
sikap kerja serta penerapan dalam melaksanakan tugas dan pekerjaan di
tempat kerja yang mengacu persyaratan kerja yang ditetapkan.1
Wibowo mengemukakan kompetensi adalah suatu kemampuan
untuk melaksanakan atau melakukan suatu pekerjaan yang dilandasi atas
keterampilan dan pengetahuan serta didukung oleh sikap kerja yang
dituntut oleh pekerjaan tersebut.2 Pengertian kompetensi dalam
organisasi publik maupun privat sangat diperlukan terutama untuk
menjawab tuntutan organisasi, dimana adanya perubahan yang sangat
cepat, perkembangan masalah yang sangat kompleks dan dinamis serta
ketidakpastian masa depan dalam tatanan kehidupan masyarakat.
1
Sutrisno, Manajemen Sumber Daya Manusia, (Jakarta: Kencana,2009), hal 203
2
Wibowo. Manajemen Kinerja, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada 2009). hal 324
18
19
Dalam peraturan pemerintah N0. 101 Tahun 2000, kompetensi
diartikan sebagai kemampuan dan karakteristik yang dimiliki oleh seorang
pegawai negeri sipil berupa pengetahuan, sikap perilaku, yang diperlukan
dalam tugas dan jabatanya (pasal 3).3
Maka dapat disimpulkan pengertian di atas bahwa kompetensi yang
dibutuhkan saat ini adalah pegawai yang memiliki karakteristik kerja yang
unggul, mampu beradaptasi saat situasi dan kondisi menuntut kemampuan diri
dan kualitas kerja yang diharapkan untuk mengembangkan dirinya agar dapat
bekerja secara mandiri handal dan memiliki kualitas.
2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kompetensi
Menurut Zwell kompetensi seseorang dapat dipengaruhi oleh beberapa
faktor antara lain:4
a. Keyakinan dan nilai-nilai
Perilaku seseorang sangat dipengaruhi oleh keyakinannya terhadap
dirinya sendiri dan orang lain. Bila orang percaya akan kemampuannya
dalam melakukan sesuatu, maka hal tersebut akan bisa dikerjakan dengan
lebih mudah.
b. Karakteristik kepribadian
Kepribadian bukanlah sesuatu yang tidak dapat diubah, kepribadian
seseorang akan mempengaruhi cara-cara orang tersebut dalam
3
Republik Indonesia, Undang-Undang Dasar 1945, PP N0 101 Tahun 2000, Pasal 3
4
Wibowo. Manajemen Kinerja. Edisi Kedua. (Jakarta : PT. Raja Grafindo. Persada. 2007).
hal 126
20
menyelesaikan permasalahan dalam kehidupan ini, dan hal ini akan
membuat orang tersebut lebih kompeten. Seseorang akan merespon serta
mampu beradaptasi dengan lingkungan dan kekuatan sekitarnya, yang akan
menambah kompetensi seseorang.
c. Motivasi
Motivasi adalah dorongan yang membuat seseorang mampu untuk
melakukan sesuatu. Daya dorong yang lebih bersifat psikologis membuat
bertambahnya kekuatan fisik, sehingga akan mempermudah dalam aktivitas
kerja, yang menambah tingkat kompetensi seseorang. Dorongan atau
motivasi yang diberikan atasan kepada bawahan juga berpengaruh baik
terhadap kinerja staf.
d. Isu Emosional Kondisi
Emosional seseorang akan berpengaruh dalam setiap
penampilannya, termasuk dalam penampilan kerjanya. Rasa percaya diri
membuat orang akan dapat melakukan suatu pekerjaan dengan lebih baik,
begitu juga sebaliknya, gangguan emosional seperti rasa takut dan malu
juga bisa menurunkan performance/penampilan kerja seseorang, sehingga
kompetensinya akan menurun.
e. Kemampuan Intelektual
Kompetensi dipengaruhi oleh pemikiran intelektual, kognitif,
analitis dan kemampuan konseptual. Tingkat intelektual dipengaruhi oleh
pengalaman, proses pembelajaran yang sudah tentu pula kemampuan
intelektual seseorang akan meningkatkan kompetensinya.
21
f. Budaya organisasi
Budaya organisasi berpengaruh pada kompetensi seseorang dalam
berbagai kegiatan, karena budaya organisasi mempengaruhi kinerja,
hubungan antar pegawai, motivasi kerja dan kesemuanya itu akan
berpengaruh pada kompetensi orang tersebut.
3. Indikator Penilaian Kompetensi
Menurut Gordon (1988) Indikator penilaian kompetensi mengacu
kepada standar kompetensi jabatan karyawan yang mempertimbangkan bahwa
dalam menjamin pemahaman tentang kompetensi yang dimilikinya maka
diperlukan standar kompetensi meliputi: pengetahuan, keterampilan, dan
sikap, ketiga elemen tersebut diyakini mempengaruhi kinerja karyawan yang
akan diuraikan berikut ini:5
a. Pengetahuan (Knowledge)
Pengetahuan adalah kemampuan yang dimiliki oleh seseorang individu
sumber daya manusia berdasarkan jenjang pendidikan yang dimiliki, dan
disiplin ilmu yang ditekuni, yang membentuk suatu wawasan pengetahuan
yang komprehensif dalam membentuk sikap dan karakter dalam mencapai
tujuan organisasi.
5
Nadir, Pengaruh Kompetensi, Gaya Kepemimpinan, Dan Motivasi Terhadap Kinerja
Pegawai Pada Dinas Perhubungan Kabupaten Bantaeng Journal Of Management, Volume 1 No. 2
hal,4-5
22
b. Pemahaman (Understanding)
Yaitu kedalaman kognitif, dan afektif yang dimiliki individu.
Misalnya, seorang pegawai dalam melaksanakan pembelajaran harus
mempunyai pemahaman yang baik tentang karakteristik dan kondisi kerja
secara efektif dan efisien.
c. Kemampuan (skill)
Ialah sesuatu yang dimiliki oleh individu untuk melaksanakan tugas
pekerjaan yang dibebankan kepadanya. Misalnya, kemampuan pegawai
dalam memilih metode kerja yang dianggap lebih efektif dan efisien.
d. Ketrampilan
Keterampilan adalah suatu upaya untuk meningkatkan kinerja.
Keterampilan diadakan sebagai suatu kegiatan penyelenggaraan yang
terjadwal dan memiliki materi pembelajaran atas kegiatan keterampilan
yang dilakukan oleh suatu organisasi. Keterampilan pada dasarnya suatu
pengertian yang tidak dapat dipisahkan sebagai suatu keterkaitan yang
saling mendukung, biasanya kegiatan pendidikan dan latihan juga diartikan
sebagai kegiatan penataan, yang bertujuan untuk meningkatkan potensi
pengetahuan, keahlian dan penguasaan dalam praktek suatu kegiatan
pelaksanaan tugas dan fungsi dari suatu unit kerja.
23
e. Sikap (Sifat-Sifat Pribadi)
Sikap adalah seseorang yang dapat merencanakan pekerjaan yang
akan dilaksanakan mampu mengembangkan dan melaksanakan pekerjaan
sesuai rencana yang disusun dengan penuh tanggung jawab, menyusun
laporan dari pekerjaan yang dihasilkan, mampu melakukan pengembangan
diri, disiplin dan mandiri. Selanjutnya menurut sifat-sifat pribadi (personal
attributes) merupakan karakteristik dan kualitas seseorang yang dibawa ke
tempat kerja seperti kejujuran, empati, stamina, dan lain-lain.
f. Minat (interest)
Kecenderungan seseorang untuk melakukan suatu perbuatan.
Misalnya, melakukan suatu aktivitas kerja.
Sumber daya manusia dapat tetap bertahan karena mereka memiliki
kompetensi manajerial, yaitu kemampuan dalam merumuskan visi dan strategi
sebuah organisasi serta kemampuan dalam memperoleh dan mengarahkan
sumber daya manusia dengan mewujudkan visi dan menetapkan sasaran
strategis organisasi maupun perusahaan. Dalam operasional, kompetensi
tersebut membuat sumber daya manusia mampu menggali potensi
sumberdaya manusia lain yang dimiliki sebuah instansi organisasi maupun
perusahaan, dimana dapat meningkatkan produktivitas hasil yang optimum
bagi sebuah organisasi ataupun perusahaan.
4. Manfaat Penggunaan Kompetensi
24
Konsep kompetensi dalam berbagai aspek sumber daya manusia sudah
banyak digunakan oleh perusahaan-perusahaan dengan berbagai alasan,
yaitu:6
a. Memperjelas standar kerja dan harapan yang ingin dicapai.
Dalam hal ini, model kompetensi akan mampu menjawab dua
pertanyaan mendasar, keterampilan, pengetahuan dan karakteristik apa
saja yang dibutuhkan dalam pekerjaan, perilaku apa saja yang berpengaruh
langsung dengan prestasi kerja . kedua hal tersebut akan banyak
membantu dalam mengurangi pengambilan keputusan-keputusan secara
subjektif dalam bidang sumber daya manusia.
b. Alat Seleksi Karyawan
Penggunaan kompetensi standar sebagai alat seleksi dapat membantu
organisasi untuk memilih calon karyawan yang terbaik.
c. Memaksimalkan Produktivitas
Tuntutan untuk menjadikan suatu organisasi “reamping”
mengharuskan kita untuk mencari karyawan yang dapat dikembangkan
secara terarah untuk menutupi kesenjangan dalam keterampilan sehingga
mampu untuk di mobilisasikan secara vertikal maupun horizontal.
d. Memudahkan adaptasi dalam perubahan
6
Agustitin Setyobudi , [Link] Diakses 18 Maret 2020
25
Dalam era perubahan yang sangat cepat, sifat dari suatu pekerjaan
sangat cepat berubah dan kebutuhan akan kemampuan baru terus
meningkat. Model kompetensi ini memberikan sarana untuk menetapkan
keterampilan apa saja yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan yang
selalu berubah ini.
B. Tinjauan Tentang Motivasi Kerja
1. Pengertian Motivasi
Menurut Edy Motivasi adalah suatu faktor yang mendorong seseorang
untuk melakukan suatu aktivitas tertentu, oleh karena itu motivasi seringkali
diartikan pula sebagai faktor pendorong perilaku seseorang.7 Motivasi
mempersoalkan bagaimana cara mendorong gairah kerja bawahan agar mereka
mau bekerja keras memberikan semua kemampuan dan keterampilan untuk
mewujudkan tujuan perusahaan menurut Hasibuan (1999). Dimana Motif
seringkali disamakan dengan dorongan. Dorongan atau tenaga tersebut
merupakan gerak jiwa dan jasmani untuk berbuat, sehingga motif tersebut
merupakan driving force yang menggerakan manusia untuk bertingkah laku dan
perbuatan untuk melakukan tujuan tertentu.8
Menurut Malayu S.P Hasibuan motivasi adalah pemberian daya
penggerak yang menciptakan kegairahan kerja seseorang agar mereka mau
7
Edy Sutrisno, Manajemen Sumber Daya Manusia, (Jakarta, Kharisma Putra Utama:2009),
hal 109
8
Edy Sutrisno, Ibid, hal 110.
26
bekerja sama. bekerja efektif, dan terintegrasi dengan segala daya upayanya
untuk mencapai kepuasan.9
Motivasi adalah serangkaian sikap dan nilai-nilai yang mempengaruhi
individu untuk mencapai hal yang spesifik sesuai dengan tujuan individu. Sikap
dan nilai tersebut merupakan sesuatu yang invisible yang memberikan kekuatan
yang mendorong individu untuk bertingkah laku dalam mencapai tujuan.
dorongan tersebut terdiri dari dua komponen, yaitu arah perilaku kerja ( kerja
untuk mencapai tujuan) dan kekuatan perilaku ( seberapa kuat usaha individu
dalam bekerja).10
Dari definisi yang telah dipaparkan tersebut, maka motivasi dapat
dipahami bahwa motivasi merupakan dorongan untuk bertindak terhadap
serangkaian proses perilaku manusia dengan mempertimbangkan arah,
intensitas, dan ketekunan untuk mencapai tujuan.
2. Teori-teori Motivasi Kerja
a. Motivasi kerja dalam Islam menurut Muwafik Saleh yaitu :11
1) Niat baik dan benar ( mengharap ridha Allah SWT).
Niat inilah yang menentukan arah pekerjaan, jika niat bekerja hanya
ingin mendapatkan gaji maka hanya itulah yang akan didapat. Jika niat
bekerja sekaligus untuk menambah simpanan akhirat, menambah harta
9
Malayu S.P Hasibuan, Manajemen Sumber Daya Manusia, (Jakarta: PT Bumi Aksara. 2007
) hal. 143
10
Veithzal Rivai, Ella Jauvani Sagala, Manajemen Sumber Daya Manusia untuk
Perusahaan, (Jakarta: Rajawali Pers.2013), hal 837
11
Asra Putri Mustika, Pengaruh Motivasi Kerja Dan Disiplin Kerja Terhadap Kinerja Asn
Ditinjau Dari Perspektif Etos Kerja Islam (Studi Pada Kantor Kecamatan Kebun Tebu Kabupaten
Lampung Barat), (Skripsi : Http://[Link]), Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Islam
,Universitas Islam Negeri ( Uin ) Raden Intan Lampung , 2017. hal. 27
27
halal, serta menafkahi keluarga, tentu akan mendapat sebagaimana yang
di niatkan.
2) Takwa dalam bekerja
Taat melaksana kan perintahnya dan menjauhi barangannya.
Orang yang bertakwa dalam bekerja adalah orang yang mampu
bertanggung jawab terhadap segala tugas yang diamanahkan.
3) Ikhlas dalam bekerja
Ikhlas adalah syarat kunci diterimanya amal perbuatan manusia
disisi Allah SWT, suatu kegiatan atau aktivitas termasuk kerja jika
dilakukan dengan ikhlas maka akan mendatangkan rahmat dari Allah
SWT.12
Islam menjadikan kerja sebagai tuntutan fardu atas semua
umatnya selaras dengan dasar persamaan yang di isytiharkan oleh Islam
bagi menghapus kan sistem yang membeda-bedakan manusia
mengikut derajat dalam firman Allah SWT dalam QS At-Taubah 105;
ّ َوقُ ِل ا ْع َملُىْ ا فَ َسيَ َزي ه
ِ ّللاُ َع َملَ ُك ْم َو َرسُىْ لُهٗ َو ْال ُم ْؤ ِمىُىْ نَ ۗ َو َستُ َز ُّدوْ نَ اِ هلً هعلِ ِم ْال َغ ْي
ب َوال َّشهَب َد ِة فَيُىَبِّئُ ُك ْم بِ َمب
ُك ْىتُ ْم تَ ْع َملُىْ نَ ۚ ﴿التىبت: ۱۰۵﴾
Artinya : Dan katakan lah, bekerja lah kamu, maka Allah dan
Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan
kamu akan di kembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang
ghaib dan yang nyata, lalu diberikan-Nya kepada kamu apa yang telah
kamu kerjakan.13
12
Ibid, hal 35
13
Departemen Agama RI, Al-Hikmah, Al-Qur’an dan Terjemahnya, ( Bandung: CV
Diponegoro, 2010), hal. 203.
28
Menurut tafsir Ibnu Katsir ayat di atas menjelaskan tentang
wajibnya kerja kepada umat muslim, bahkan dalam QS At-taubah: 105 di
sebutkan “Bekerjalah kamu maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang
mukmin akan melihat pekerjaanmu itu”. Ayat tersebut mewajibkan
bekerja bahkan bekerja di hukum fardu.
b. Teori Abraham H. Maslow Teori Hierarki (Teori Kebutuhan)
Mengemukakan kebutuhan manusia itu dapat diklasifikasikan ke
dalam lima hierarki kebutuhan, sebagai berikut:
1) Kebutuhan fisiologikal (physiological needs), seperti : rasa lapar,
haus, istirahat dan seks. rasa aman (safety needs), tidak dalam arti fisik
semata, akan tetapi juga mental, psikologikal dan intelektual.
2) Kebutuhan akan kasih sayang (love needs).
3) Kebutuhan akan harga diri (esteem needs), yang pada umumnya
tercermin dalam berbagai simbol-simbol status
4) Aktualisasi diri (self actualization), dalam arti tersedianya kesempatan
bagi seseorang untuk mengembangkan potensi yang terdapat dalam
dirinya sehingga berubah menjadi kemampuan nyata.
b. Teori Herzberg
Teori ini mengatakan ada 2 faktor yang mempengaruhi seseorang
dalam bertugas pekerjaanya yaitu faktor intrinsik dan ekstrinsik.
1) Faktor intrinsik seperti prestasi, penghargaan, tanggung jawab,
kesempatan untuk maju, pekerjaan itu sendiri.
29
2) Faktor ekstrinsik seperti kondisi kerja, hubungan interpersonal,
kebijakan dan administrasi perusahaan, pengawasan, gaji, keamanan
kerja
c. Teori Mccleland
Mengatakan bahwa teori berfokus pada tiga kebutuhan, pencapaian,
dan hubungan. Hal-hal tersebut didefinisikan sebagai berikut:
1) Kebutuhan pencapaian (need for achievement)
Dorongan untuk melebihi mencapai standar-standar, berusaha keras
untuk berhasil.
2) Kebutuhan kekuatan (need for power)
Kebutuhan untuk membuat individu lain berperilaku sedemikian
rupa sehingga mereka tidak akan berperilaku sebaliknya.
3) Kebutuhan hubungan (need for affiliation)
keinginan untuk menjalin suatu hubungan antar personal yang
ramah dan akrab.14
3. Fakto-faktor mempengaruhi motivasi kerja
Motivasi sebagai proses dalam diri seseorang akan dipengaruhi oleh
beberapa faktor. Faktor-Faktor tersebut dapat dibedakan atas:
a. Faktor eksternal yang mempengaruhi motivasi kerja :
14
Stephen [Link] dan Timothy A. judge, Perilaku Organisasi Organizational Behavior,
(Jakarta: Salemba Empat, 2009), hal. 230.
30
1) Lingkungan kerja yang menyenangkan. Adalah keseluruhan sarana dan
prasarana kerja yang ada di sekitar karyawan yang sedang melakukan
pekerjaan yang dapat mempengaruhi pelaksanaan pekerjaan itu sendiri.
1) Kompensasi yang memadai. Kompensasi merupakan sumber
penghasilan utama bagi karyawan untuk menghidupi diri beserta
keluarganya. Kompensasi yang memadai merupakan motivasi yang
paling ampuh bagi perusahaan untuk mendorong para karyawan bekerja
dengan baik.
2) Supervisi yang baik. Fungsi supervisi dalam suatu pekerjaan adalah
memberikan pengarahan, bimbingan kerja kepada karyawan, agar
mereka dapat melaksanakan pekerjaan dengan baik tanpa membuat
kesalahan.
3) Adanya penghargaan atas prestasi. Setiap orang akan mau bekerja mati-
matian mengorbankan pada dirinya untuk perusahaan, agar dapat meraih
penghargaan atas prestasi dan jaminan karir yang jelas di dalam
perusahaan.
4) Status dan tanggung jawab. Status dan kedudukan dalam jabatan
tertentu merupakan dambaan setiap karyawan dalam bekerja di
perusahaan.
5) Peraturan yang berlaku. Bagi perusahaan yang besar biasanya sudah
ditetapkan sistem dan prosedur kerja yang harus dipatuhi oleh semua
karyawan.
31
c. Faktor internal yang mempengaruhi pemberian motivasi pada seseorang
antara lain:
1) Keinginan untuk dapat hidup.
Merupakan kebutuhan setiap manusia yang hidup dimuka bumi
ini. Untuk mempertahankan hidup ini orang mau mengerjakan apa saja,
apakah pekerjaan hidup itu baik atau jelek, apakah halal atau haram dan
sebagainya.
2) Keinginan untuk dapat memiliki.
Keinginan untuk dapat memiliki benda dapat mendorong
seseorang untuk mau melakukan pekerjaan. Hal ini banyak kita alami
dalam kehidupan kita sehari-hari, bahwa keinginan yang keras untuk
dapat mendorong orang untuk mau bekerja sama.
3) Keinginan untuk memperoleh penghargaan
Seseorang mau bekerja disebabkan adanya keinginan untuk
diakui, dihormati oleh orang lain. Untuk memperoleh status sosial yang
lebih tinggi, orang mau mengeluarkan uangnya, untuk memperoleh uang
itu pun ia harus bekerja keras. Jadi harga diri, nama baik, kehormatan
yang ingin dimiliki itu harus diperankan sendiri, mungkin dengan bekerja
keras memperbaiki nasib, mencari rejeki, sebab status untuk diakui
sebagai orang terhormat tidak mungkin diperoleh bila yang bersangkutan
termasuk pemalas, tidak mau bekerja dan sebagaimana.
4) Keinginan untuk Pengakuan
32
Keinginan untuk memperoleh pengakuan meliputi hal-hal: adanya
penghargaan terhadap prestasi, adanya hubungan kerja yang harmonis
dan kompak, pimpinan yang adil dan bijaksana, dan perusahaan tempat
bekerja dihargai oleh masyarakat. 15
4. Tujuan Motivasi
Tujuan motivasi menurut Malayu S.P Hasibuan tujuan motivasi adalah
sebagai berikut:
a. Meningkatkan moral dan kepuasan kerja pegawai
b. Meningkatkan produktivitas kerja pegawai
c. Mempertahankan kestabilan karyawan perusahaan
d. Meningkatkan disiplin pegawai perusahaan
e. Mengefektifkan pengadaan pegawai
f. Menciptakan suasana dan hubungan kerja yang baik
g. Meningkatkan kesejahteraan pegawai.16
C. Tinjauan Tentang Gaya Kepemimpinan
1) Pengertian Kepemimpinan
Konsep “pemimpin” berasal dari kata asing “leader” dan
“kepemimpinan” dari “leadership”. Pemimpin adalah orang yang paling
berorientasi hasil didunia, dan kepastian dengan hasil yang hanya positif jika
seseorang mengetahui apa yang diinginkan. Kepemimpinan merupakan
15
Clara Tampubolon, Faktor-Faktor Motivasi, Jurnal Motivasi Kerja, Mei 2016, hal.23
16
Malayu S.P Hasibuan, Ibid, hal.146
33
kemampuan dan kesiapan yang dimiliki seseorang untuk dapat
mempengaruhi, mendorong, menggerakan untuk berbuat sesuatu dalam
mencapai tujuan bersama. Kuncinya dalam membangun suatu tim yang kuat
dan adaptif peran leadership sangat menentukan efektifitas tim.17
Menurut Kartono menyatakan pemimpin adalah seorang pribadi yang
memiliki prioritas tertentu, sehingga dia memiliki kewajiban dan kekuasaan
untuk menggerakan orang lain melakukan usaha bersama guna mencapai
sasaran tertentu.18 .
Dilihat dari segi ajaran islam berarti kepemimpinan merupakan
kegiatan menuntun, membimbing, memandu dan menunjukkan jalan yang
diridhai Allah SWT. Kegiatan itu bermaksud untuk menumbuhkembangkan
kemampuan mengerjakannya sendiri di lingkungan orang-orang yang
dipimpin, dalam usahanya mencapai ridha Allah SWT selama kehidupannya
di dunia dan akhirat kelak. Sebagaimana firman Allah SWT:
َّ َل أَ ۡن هَ َد هىىَب
ٱّلِل َ ۡٱل َحمۡ ُد ِ َّّلِلِ ٱلَّ ِذي هَد هَىىَب لِ ههَ َذا َو َمب ُكىَّب لِىَ ۡهتَ ِد
ٓ َ ي لَ ۡى
( األعزاف: ۴۳)
"Segala pujian untuk Allah yang telah memimpin kami untuk
mendapatkan syurga ini, tidaklah kami akan menemui jalan ini, sekiranya
Allah tidak memimpin kami.”19 (Al-A’raaf 43)
Firman tersebut dengan jelas mengatakan bahawa untuk mencapai
jalan diridloi Allah SWT diperlukan para pemimpin yang menjalankan
17
Hetty Ismaniar, Manajemen Unit Kerja, (Yogyakarta: Deepublish, 2015), hal. 49.
18
Suwanto dan Donni Juni Priansa, Manajemen SDM dalam Organisasi Publik dan Bisnis,
(Bandung: Alfabeta, 2011), hal. 140
19
KEMENAG RI, Al-qur’an dan Terjemahannya, (Bandung: PT. Sygma Examedia
Arkanleema,2011) hal. 155
34
kepemimpinan berdasarkan petunjuk-petunjuk-Nya. Tanpa petunjuk Allah
SWT yang diwujudkan melalui tuntunan dan bimbingan para pemimpin yang
beriman, maka manusia tidak mungkin mencapai syurga.
Dari beberapa definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa keberhasilan
atau kegagalan kepemimpinan dalam suatu organisasi sebagian besar
ditentukan oleh pemimpin dan kepemimpinannya. Hal ini menunjukkan
bahwa posisi kepemimpinan dalam suatu organisasi sangat penting.
Keberhasilan atau kegagalan tersebut tergantung seorang pemimpin dapat
mendorong, mempengaruhi, mendorong, dan mengarahkan pegawai dengan
menggunakan kekuasaan yang diperoleh agar dapat melaksanakan tugas
pokok, fungsi dan tanggung jawabnya untuk meraih visi tujuan keberhasil
organisasinya.20
2) Teori Kepemimpinan
Teori kepemimpinan menurut Umam (dalam Tohardi, 2002)
merupakan teori yang berusaha untuk menerangkan cara pemimpin dan
kelompok yang memimpin berperilaku dalam berbagai struktur
kepemimpinan, budaya, lingkungan. Secara garis besar teori kepemimpinan
dibagi tiga aspek yaitu:
a. Teori sifat (trait theory)
Teori sifat ini bahwa seseorang yang dilahirkan sebagai pemimpin
karena memiliki sifat-sifat sebagai pemimpin. Namun pandangan teori ini
20
Nur Dwi Pujiyanto, Dyah Retno Puspita, Bambang Tri Harsanto Magister Ilmu
Administrasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jenderal Soedirman, Jurnal
Masyarakat, Kebudayaan dan Politik Vol. 30, No. 3, 2017, hal. 278-289
35
juga tidak memungkiri bahwa sifat-sifat kepemimpinan tidak seluruhnya
dilahirkan, tetapi juga dicapai melalui pendidikan dan pengalaman. Para
penganut teori sifat ini berusaha menggeneralisasi sifat-sifat umum yang
dimiliki oleh pemimpin, seperti fisik, mental, dan kepribadian. Dengan
asumsi pemikiran, bahwa keberhasilan seseorang sebagai pemimpin
ditentukan oleh kualitas sifat atau karakteristik tertentu yang dimiliki dalam
diri pemimpin tersebut, baik berhubungan dengan fisik, mental, psikologis,
personalitas, dan intelektualitas. Adapun sifat yang dimiliki oleh seorang
pemimpin yang sukses yaitu jujur, taqwa, disiplin, berorientasi tinggi,
tegas, adil, berwawasan luas, komunikatif dan tanggung jawab.
b. Teori perilaku (behavior theory)
Teori perilaku ini dilandasi pemikiran, bahwa kepemimpinan
merupakan interaksi antara pemimpin dengan pengikut, dan dalam
interaksi tersebut pengikutlah yang menganalisis dan mempersepsikan
apakah menerima atau menolak kepemimpinanya.
Menurut Edy pendekatan teori perilaku menghasilkan dua orientasi,
yaitu perilaku yang berorientasi pada tugas disebut pemimpin otokratik,
sedangkan perilaku kepemimpinan yang berorientasi pada hubungan
manusia menampilkan gaya demokratis atau partisipatif.
c. Teori kepemimpinan situasional (situational theory)
Teori ini mencoba mengembangkan kepemimpinan sesuai dengan
situasi dan kebutuhan. Dalam pandangan ini, hanya pemimpin yang
mengetahui situasi dan kebutuhan organisasi yang dapat menjadi pemimpin
36
yang efektif. Seorang pemimpin yang efektif dalam teori ini harus bisa
memahami dinamika situasi dan menyesuaikan kemampuannya dengan
dinamika situasi yang ada. Empat dimensi situasi yakni kemampuan
manajerial, karakter organisasi, karakter pekerjaan dan karakter pekerja.
Keempatnya secara dinamis akan memberikan pengaruh terhadap
efektivitas kepemimpinan seseorang. Dalam situasi ini pemimpin yang
efektif karena pengaruh motivasi mereka yang positif, kemampuan untuk
melaksanakan, dan kepuasan pengikutnya.21
3) Macam – macam Gaya Kepemimpinan22
Gaya kepemimpinan menurut Tohardi, pendekatan perilaku
berlandaskan pemikiran bahwa keberhasilan atau kegagalan pemimpin
ditentukan oleh gaya bersikap dan bertindak seorang pemimpin yang
bersangkutan, adapun gaya kepemimpinan sebagai berikut:
a. Gaya Demokratis
Pemimpin yang suka mendorong anggota untuk menentukan
kebijakan mereka sendiri, memberi kebebasan untuk memulai tugas,
mengembangkan inisiatif, memelihara komunikasi yang luas.
b. Gaya Autokratik
Pemimpin yang berorientasi pada tugas, menentukan kebijakan
sendiri untuk anggota atau bawahan, memberi tugas secara instruktif,
21
Khaerul Umam, Perilaku Organisasi, (Bandung: Pustaka Setia,2010). hal 276
22
Edy Sutrisno, Ibid , hal. 222
37
mengendalikan secara ketat pelaksanakan tugas keterbatasan interaksi
sesama rekan kerja, dan tidak mengembangkan inisiatif anggota.
c. Gaya Edukatif
Pemimpin yang suka melakukan pengembangan bawahan
dengan cara memberikan pendidikan dan ketrampilan kepada bawahan,
sehingga bawahan menjadi memilki wawasan dan pengalaman yang
lebih baik dari hari ke hari.
d. Gaya Persuasif
Gaya memimpin dengan menggunakan pendekatan yang
menagarah perasaan, pikiran, atau dengan kata lain dengan melakukan
ajakan atau bujukan.
e. Gaya Refresif
Gaya kepemimpinan dengan cara memberikan tekanan-tekanan,
ancaman-ancaman, sehingga bawahan merasa ketakutan.
f. Gaya partisipatif yaitu gaya kepemimpinan dimakan memberikan
kemampuan kepada bawahan untuk itu secara aktif baik mental,
spiritual, fisik, maupun materil dalam kiprahnya di organisasi.
g. Gaya investigasif yaitu pemimpin yang selalu melakukan penelitian
yang disertai dengan rasa penuh kecurigaan terhadap bawahanya
sehingga menimbulkan yang menyebabkan kreativitisa, inovasi, serta
inisiatif dari bawahan kurang berkembang, karena bawahan takut
melakukan kesalahan-kesalahan.
38
h. Gaya inovatif yaitu pemimpin yang selalu berusaha dengan keras
untuk mewujudkan usaha-usaha pembaruan di dalam segala bidang,
baik bidang politik, ekonomi, sosial, budaya, atau setiap produk
terkait dengan kebutuhan manusia.
i. Gaya inspektif yaitu pemimpin yang suka melakukan acara-acara
yang sifatnya protokoler, kepemimpinan dengan gaya inspektif
menuntut penghormatan bawahan, pemimpin yang senang apabila
dihormati.
j. Gaya Kepemimpinan Laissez-faire
Pemimpin akan memberikan bawahan kebebasan penuh dalam
mengambil keputusan yang berkaitan dengan tugas yang
dikerjakannya dan tentunya dengan batas waktu yang telah ditentukan
oleh manajer mereka. Para manager akan memberikan pendapat dan
bimbingan ataupun sumber daya lainnya jika diperlukan.
4) Tugas Kepemimpinan
Tugas Kepemimpinan menurut Edy Sutrisno tugas-tugas
kepemimpinan cukup banyak. namun dalam hal ini akan diuraikan
beberapa tugas-tugas penting saja, antara lain:
a. Sebagai konselor, merupakan tugas seorang pemimpin dalam suatu
unit kerja, dengan membantu atau menolong SDM untuk mengatasi
masalah yang dihadapinya dalam melakukan tugas yang dibebankan
kepadanya.
39
b. Mengambil keputusan, merupakan satu-satunya hal yang
membedakan seorang pemimpin. Oleh sebab itu, keberhasilan
seorang pemimpin sangat ditentukan oleh ketrampilan mengambil
keputusan di saat amat kritis.
c. Mendelegasikan Wewenang. Pendelegasian disebut juga pelimpahan.
Seorang pemimpin tidak mungkin dapat mengerjakan sendiri seluruh
pekerjaannya.. pendelegasian diperlukan agar jalannya organisasi
tidak mengalami kemacetan , dan terhindar dari bau birokrasi.
d. Sebagai Instruktur. Instruktur yang baik akan mempunyai peran
sebagai guru yang bijaksana, yang memungkinkan setiap bawahan
semakin lama semakin pintar dan profesional dalam tugasnya23
5) Dimensi Indikator Gaya Kepemimpinan
Dalam teori gaya kepemimpinan. Bahwa kepemimpinan ditentukan
dengan berdasarkan dua dimensi utama yaitu: Consideration Dimension
Atau dimensi perhatian terhadap bawahan dan Initiating Structure
Dimension Atau perhatian terhadap tugas.24
Dimensi pertama, adalah Consideration Dimension atau dimensi
perhatian terhadap bawahan yaitu tinggi rendahnya pemimpin bertindak
dan berperilaku dengan pola yang bersahabat dan mendukung,
23
Edy Sutrisno, Manajemen Sumber Daya Manusia, (Jakarta: Kharisma Putra Utama, 2009),
hal. 228
24
Wirawan, Kepemimpinan: Teori, Psikologi, Perilaku Organisasi, Aplikasi dan Penelitian,
(Jakarta: Rajawali Pers, 2014), hal. 35
40
menunjukkan perhatian terhadap bawahannya dan memperhatikan
kesejahteraannya, indikator perilaku kepemimpinan dalam dimensi ini
antara lain:
1) Membantu bawahan dalam menyelesaikan tugasnya.
2) Menyediakan waktu untuk mendengarkan dan mendiskusikan
problem dan keluhan yang dihadapi bawahan.
3) Menerima saran bawahan
4) Memperlakukan semua bawahan dengan cara yang sama
5) Memperhatikan kesejahteraan bawahan.
Dimensi kedua, adalah initiating Structure Dimension atau
perhatian terhadap tugas yaitu tinggi rendahnya pemimpin mendefinisikan
dan restrukturisasi dan menentukan peran bawahannya dalam mencapai
tujuan yang telah ditetapkan. Indikator perilaku pemimpin dalam dimensi
ini antara lain:
1) Mengkritik dan marah terhadap bawahannya yang malas dan
berkinerja rendah
2) Memberi tugas kepada bawahannya secara rinci
3) Mengingatkan bawahan untuk mengikuti prosedur standar kerja dan
standar kinerja
4) Mengkoordinasi dan mensupervisi bawahan secara ketat
5) Menentukan target keluaran.
6)
D. Tinjauan Tentang Kinerja Pegawai
41
1) Pengertian Kinerja Pegawai
Kinerja adalah seluruh hasil yang diproduksi pada fungsi pekerjaan atau
aktivitas khusus selama periode khusus. Kinerja keseluruhan pada pekerjaan
adalah sama dengan jumlah atau rata-rata kinerja pada fungsi pekerjaan yang
penting. Fungsi yang berkaitan dengan pekerjaan tersebut akan dilakukan dan
tidak dilakukan dengan karakteristik kinerja individu.25
Lijan Poltak Sinambela mengemukakan bahwa kinerja pegawai
didefinisikan sebagai kemampuan pegawai dalam melakukan sesuatu keahlian
tertentu. Kinerja pegawai sangatlah perlu, sebab dengan kinerja akan diketahui
seberapa jauh kemampuan pegawai dalam melaksanakan tugas yang
dibebankan kepadanya.26
Kinerja pegawai didefinisikan sebagai kemampuan pegawai dalam
melakukan sesuatu keahlian tertentu. Kinerja pegawai sangatlah perlu, karena
dengan adanya kinerja dapat mengetahui seberapa jauh kemampuan pegawai
dalam melakukan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya. Dalam hal ini,
kinerja pegawai harus diperhatikan dan perlu adanya penilaian terhadap
karyawan untuk dijadikan acuan dalam menjalankan tanggung jawabnya.
Sementara itu kinerja menurut Islam merupakan bentuk atau cara
individu dalam mengaktualisasikan diri. Kinerja merupakan bentuk nyata dari
nilai, kepercayaan, dan pemahaman yang dianut serta dilandasi prinsip-prinsip
25
Rafik Issa Beekun, Etika Bisnis Islam, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004), hal. 98
26
Lijan Poltak Sinambela, Kinerja Pegawai, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2012), hal 136
42
moral yang kuat dan dapat menjadi motivasi untuk melahirkan karya bermutu.27
Kinerja dalam Islam bukanlah semata-mata merujuk kepada mencari rezeki
untuk menghidupi diri dan keluarga dengan menghabiskan waktu siang maupun
malam, dari pagi hingga sore, terus menerus tak kenal lelah, tetapi kerja
mencakupi segala bentuk amalan atau pekerjaan yang mempunyai unsur
kebaikan dan keberkahan bagi diri, keluarga dan masyarakat sekelilingnya serta
negara. Dalam Al-Quran yang menjelaskan tentang kinerja dalam Islam,
sebagaimana dalam Surat Al-Qashash ayat 77
َك ِمهَ ال ُّد ْويَب َواَحْ ِس ْه َك َمبٓ اَحْ َسه َ اَل ِخ َزةَ َو ََل تَ ْى
ِ َس و
َ َص ْيب ّ َوا ْبتَ ِغ فِ ْي َمبٓ ها هتىكَ ه
ّللاُ ال َّدا َر ْ ه
ّ ض ۗاِ َّن ه
َّللاَ ََل ي ُِحبُّ ْال ُم ْف ِس ِد ْيه ِ ْك َو ََل تَب ِْغ ْالفَ َسب َد فًِ ْاَلَر ّه
َ ّللاُ اِلَ ْي
۷۷﴾﴿القصص:
Artinya : Dan carilah pada apa yang telah dianugerah kan Allah
kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan
bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang
lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu
berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-
orang yang berbuat kerusakan.28
Menurut tafsir Ibnu Katsir Berdasarkan ayat di atas, Islam mengajarkan
bahwa umat Islam harus giat mencari rezeki dalam hal mencapai kebutuhan
hidup dunia yaitu sehari-hari namun tetap dengan tidak meninggalkan perintah-
perintah allah untuk mendapatkan kebahagian di akhirat, demikianlah ajaran
27
Maharani. (Skripsi, [Link] ), Fakultas Ekonomi Dan Bisnis,
Univrsitas Islam Negeri (UIN) Raden Intan Lampung, 2017. hal. 12
28
Bagus Muhammad Ramadhan, Etos Kerja Islami Pada Kinerja Bisnis Pedagang Muslim
Pasar Besar Kota Madiun, Ekonomi Islam-Fakultas Ekonomi dan Bisnis-Universitas Airlangga, Jurnal
JESTT, Vol. 2 No. 4, 2015. hal. 277.
43
Islam begitu indahnya manusia dituntut kerja bekerja dengan sungguh- sungguh
bukan hanya demi kebutuhan hidup namun bekerja digunakan sebagai upaya
mencapai keridhaan Allah SWT.
Dengan bekerja, artinya manusia telah menjalankan salah satu fungsi
kekhalifahannya di muka bumi dan dalam Islam, manusia bekerja/berusaha
dengan cara batil yang juga dijelaskan dalam Al Qur’an surah An-Nisa : 29
sebagai berikut :
ِ َهيٓبَيُّهَب الَّ ِذ ْيهَ ها َمىُىْ ا ََل تَأْ ُكلُ ْٓىا اَ ْم َىالَ ُك ْم بَ ْيىَ ُك ْم بِ ْبلب
ٓ َّ ِبط ِل ا
َل اَ ْن تَ ُكىْ نَ تِ َجب َرةً ع َْه
ّ اض ِّم ْى ُك ْم ۗ َو ََل تَ ْقتُلُ ْٓىا اَ ْوفُ َس ُك ْم ۗ اِ َّن ه
۲۹﴾ ﴿الىسبء:ّللاَ َكبنَ ِب ُك ْم َر ِح ْي ًمب ٍ تَ َز
Artinya : Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling
memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan
perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan
janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha
Penyayang kepadamu.29
Ayat-ayat di atas menjelaskan bahwa tujuan seorang muslim bekerja
adalah untuk mencari keridhaan Allah SWT dan mendapatkan keutamaan
(kualitas dan hikmah) dari hasil yang diperoleh. Kalau kedua hal itu telah
menjadi landasan kerja seseorang, maka akan tercipta kinerja yang baik.
2) Tolak Ukur Keberhasilan Kinerja
Menurut Rusdy A. Rifai tolak ukur kinerja dijabarkan adalah sebagai
berikut:
a. Kuantitas
29
QS. An-Nisa (4) ayat 29. Diakses melalui [Link] tanggal 23 Februari 2020
pukul 19.04 WIB
44
Seberapa banyak target kerja logis yang ingin dicapai dibandingkan dengan
kuantitas aktual.
b. Kualitas
Seberapa baik mutu hasil kerja yang ingin dicapai dibandingkan dengan
realisasi
c. Biaya
Berapa biaya alokasi yang diperlukan hingga target sasaran dapat dicapai
d. Waktu yang diperlukan
Berapa lama waktu yang ditempuh agar sasaran kerja dapat dicapai.
e. Keselamatan Kerja
Keselamatan kerja yang harus diperhatikan oleh pegawai30
3) Faktor-faktor yang mempengaruhi Kinerja
faktor - faktor yang mempengaruhi kinerja individu tenaga kerja yaitu:31
a. Kemampuan mereka
b. Motivasi
c. Dukungan yang diterima
d. Keberadaan pekerjaan yang mereka lakukan
e. Hubungan mereka dengan perusahaan
f. Faktor lingkungan organisasi
4) Dimensi Indikator Kinerja
30
Rusdy A. Rifai, Jurnal Pengaruh Motivasi dan Kompetensi terhadap Kinerja Pegawai
Dinas Kehutanan Kabupaten Muara Enim, 2010, hal. 144
31
Rismawati, Mattalatta, Evaluasi Kinerja: Penilaian Kinerja Atas Dasar Prestasi Kerja
Berorientasi Ke Depan, (Makassar: Celebes Media Perkasa, 2018), hal. 3
45
Menurut Wirawan menjelaskan bahwa dimensi indikator kinerja adalah
kualitas-kualitas atau suatu pekerjaan atau aktivitas-aktivitas yang terjadi di
tempat kerja yang konduktif terhadap pengukuran. Dimensi pekerjaan
menyediakan alat untuk melukiskan keseluruhan cakupan aktivitas kerja. 32 Dari
teori yang dijabarkan mengenai definisi kinerja, penulis menggunakan dimensi
sebagai bahan acuan untuk mengisi data operasional variabel dari sedarmayanti
yang meliputi dimensi indikator sebagai berikut:33
a. Quality of work (Kualitas pekerjaan)
Kualitas kerja diukur dari Mutu karyawan atau pegawai dalam hal
melaksanakan tugas yaitu meliputi pemahaman, keterampilan, kesesuaian,
kerapihan, dan kelengkapan. Indikator dari dimensi ini adalah :
1) Hasil kerja yang diperoleh
2) Kesesuaian hasil kerja dengan tujuan organisasi
3) Manfaat hasil kerja
b. Quantity of work (kuantitas pekerjaan)
Jumlah hasil kerja yang didapat dalam suatu periode waktu yang
ditentukan. Kuantitas hasil pekerjaan tidak hanya meliputi jumlah pekerjaan
yang ditugaskan tetapi juga perlu diperhitungkan pekerjaan ekstra atau
pekerjaan mendesak. Indikator dimensi ini:
1) Efektivitas dan efisiensi kerja
2) Penggunaan biaya terhadap hasil output kerja
32
Wirawan, Evaluasi Kinerja Sumber Daya Manusia : Teori dan Aplikasi Penelitian,
(Jakarta: Salemba Empat,2012), hal. 53
33
Sedarmayanti, ibid. hal. 51
46
c. Promptness (Ketepatan waktu)
Pengukuran ketepatan waktu adalah jenis khusus dari pengukuran
kuantitatif untuk menentukan ketepatan waktu penyelesaian suatu kegiatan.
Efisiensi merupakan suatu ukuran dalam membandingkan rencana
penggunaan masukan dengan penggunaan yang direalisasikan atau perkataan
lain penggunaan yang sebenarnya. Kita sudah memahami tentang pengertian
efisiensi waktu dan juga berbagai kekosongan yang akan menjadikan
rendahnya efisiensi waktu baik untuk dimanfaatkan di dunia dan akhirat.34
Indikator dari dimensi ini:
1) Penataan rencana kerja
2) Ketepatan rencana kerja dengan hasil kerja
3) Ketepatan waktu dalam melaksanakan tugas
d. Capability (kemampuan)
Kemampuan seorang pekerja dalam menyelesaikan pekerjaan dengan
apa yang diharapkan dan dapat menyelesaikan pekerjaan dengan praktis dan
rapi. Indikator ini adalah:
1) Kemampuan yang dimiliki
2) Keterampilan yang dimiliki
3) Kemampuan memanfaatkan sumber daya yang dimiliki
34
Umi Masitahsari, Jurnal Analisis Kinerja Pegawai di Puskesmas Jongaya Makassar, 2015.
hal. 13
47
e. Ide (Initiative)
Mampu memberikan ide-ide gagasan untuk menunjang tercapainya
tujuan organisasinya dan mampu memanfaatkan waktu luang.
1) Pemberian ide gagasan dalam berorganisasi
2) Tindakan yang dilakukan untuk menyelesaikan permasalahan
yang dihadapi
f. Kerjasama
Kemampuan seorang pegawai untuk bekerja bersama-sama dengan
orang lain dalam menyelesaikan suatu tugas yang ditentukan, sehingga
mencapai daya guna dan hasil guna yang sebesar-besarnya. Kesediaan
pegawai dalam berpartisipasi dan bekerjasama dengan pegawai lain secara
vertikal dan horizontal didalam maupun diluar pekerjaan sehingga hasil
pekerjaan akan meningkat. Indikator dari dimensi ini:
1) Komunikasi internal (kedalam) organisasi
2) Komunikasi eksternal (keluar) organisasi
3) Relasi dan kerjasama dalam melaksanakan tugas
5) Penilaian Kinerja Pegawai Negeri Sipil
Dalam melaksanakan ketentuan Pasal 78 Undang-Undang Nomor 5
Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara, Penilaian kinerja pegawai Negeri
Sipil sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah PP No. 30 Tahun 2019
memiliki pengertian bahwa bertujuan untuk menjamin objektivitas pembinaan
48
PNS yang didasarkan pada sistem prestasi dan sistem karier. Penilaian
dilakukan berdasarkan perencanaan kinerja pada tingkat individu dan tingkat
unit atau organisasi, dengan memperhatikan target, capaian, hasil, dan manfaat
yang dicapai, serta perilaku PNS.35
Penilaian Kinerja Pegawai Negeri Sipil dilakukan berdasarkan prinsip :
a. Objektif
Yang dimaksud dengan "objektif' adalah penilaian terhadap
pencapaian kinerja sesuai dengan keadaan yang sebenarnya tanpa
dipengaruhi oleh pandangan atau penilaian subjektif pribadi dari pejabat
penilai kinerja PNS
b. Terukur
Yang dimaksud dengan "terukur" adalah penilaian kinerja yang
dapat diukur secara kuantitatif dan kualitatif.
c. Akuntabel
Yang dimaksud dengan "akuntabel" adalah seluruh hasil penilaian
kinerja harus dapat dipertanggungjawabkan kepada pejabat yang
berwenang.
d. Partisipatif
35
Republik Indonesia, Undang-undang Dasar 1945, BAB I, Pasal 1-2, Tentang Aparatur
Sipil Negara.
49
Yang dimaksud dengan "partisipatif' adalah seluruh proses Penilaian
Kinerja dengan melibatkan secara aktif antara pejabat penilai kinerja PNS
dengan PNS yang dinilai.
e. Transparan
Yang dimaksud dengan "transparan" adalah seluruh proses dan
hasil penilaian prestasi kerja bersifat terbuka dan tidak bersifat rahasia.
Penilaian kinerja merupakan suatu proses rangkaian dalam Sistem
Manajemen Kinerja PNS, berawal dari penyusunan perencanaan kinerja yang
merupakan proses penyusunan Sasaran Kinerja Pegawai selanjutnya disingkat
SKP. Pelaksanaan pengukuran SKP dilakukan dengan cara membandingkan
antara Realisasi kinerja dengan Target yang telah ditetapkan. Kemudian
dilakukan penilaian kinerja yang merupakan gabungan antara penilaian SKP
dan penilaian Perilaku Kerja dengan menggunakan data hasil pengukuran
kinerja. Dalam melakukan penilaian dilakukan analisis terhadap hambatan
pelaksanaan pekerjaan untuk mendapatkan umpan balik serta menyusun
rekomendasi perbaikan dan menetapkan hasil penilaian.
Adapun bobot penilain prestasi kerja PNS sebagai berikut:
Prestasi Kerja = SKP (60%) + Perilaku kerja
Aspek yang dinilai dalam perilaku kerja yang orientasinya pelayanan,
integritas, komitmen, disiplin, kerjasama, kepemimpinan. Penilaian Perilaku
50
Kerja dilakukan melalui pengamatan oleh pejabat penilai terhadap PNS yang
dinilai, penilaian perilaku kerja dapat mempertimbangkan masukan dari
pejabat penilaian setingkat di lingkungan unit kerja masing-masing. Berikut
mekanisme penilaian kinerja PNS disajikan dalam gambar (gambar terlampir
di bawah):
Gambar 2.1
Mekanisme Penilaian Kinerja PNS
51
Gambar 2.2
Proses Penyusunan SKP PNS
6) Tujuan Penilaian Kinerja
Bagi sebuah instansi maupun perusahaan penilaian kinerja memiliki
manfaat antara lain :36
a. Evaluasi antar individu dalam organisasi
Penilaian bertujuan untuk menilai kinerja setiap individu dalam
organisasi. Tujuannya agar dapat memberi manfaat dalam menentukan
jumlah dan jenis kompensasi yang merupakan hak individu dalam
organisasi, dan sebagai dasar dalam memutuskan pemindahan pekerjaan
36
Wilson Bangun, Manajemen Sumber Daya Manusia, (Jakarta : Erlangga, 2012),
hal. 232
52
pada posisi yang tepat, promosi pekerjaan, mutasi atau demosi sampai
tindakan pemberhentian.
b. Pengembangan individu dalam setiap organisasi
Setiap individu dalam organisasi dinilai kinerjanya, bagi pegawai
yang memiliki kinerja rendah perlu dilakukan pengembangan baik melalui
pendidikan maupun pelatihan.
c. Pemeliharaan sistem
Berbagai sistem yang ada diorganisasi, setiap subsistem yang ada
saling berkaitan antara satu subsistem dengan subsistem lainnya. Oleh
karena itu sistem dalam organisasi perlu dijaga dengan baik, tujuannya agar
memberikan berbagai manfaat diantaranya:
1) Pengembangan perusahaan dari individu
2) Evaluasi pencapaian tujuan oleh individu atau tim
3) Perencanaan sumber daya manusia
4) Penentuan dan identifikasi
5) Audit atas sistem manusia
d. Dokumentasi
Penilaian kinerja akan memberi manfaat sebagai dasar tindak lanjut
dalam posisi pekerjaan karyawan di masa akan datang, manfaat penilaian
kinerja berkaitan dengan keputusan keputusan manajemen sumber daya
manusia, pemenuhan secara legal manajemen sumber daya manusia dan
kriteria untuk menguji validitas.
53
E. Penelitian Terdahulu
Salah satu yang dijadikan sebagai acuan dalam melakukan suatu penelitian
yang menjadikan penulis untuk dapat memperluas teori yang digunakan dalam
mengkaji penelitian yang hendak dilakukannya adalah maksud dari penelitian
terdahulu. Dalam hal ini, penulis akan menguraikan penelitian sebelumnya untuk
dijadikan acuan sebagai pendukung dari penelitian ini.
Menurut Rusdy A. Rifai tahun 2010.37 Dengan judul penelitian Pengaruh
Motivasi dan Kompetensi terhadap kinerja pegawai dinas kehutanan kabupaten
muara enim. Dalam penelitiannya metode penelitian dengan pendekatan
kuantitatif. Penelitian dilakukan pada Dinas Kehutanan Kabupaten Muara Enim.
Adapun jumlah pegawai yang menjadi populasi dalam penelitian ini berjumlah
52 orang. hasil dari penelitian terdapat pengaruh signifikan motivasi dan
kompetensi, secara bersama-sama maupun secara parsial terhadap kinerja
pegawai pada dinas kehutanan kabupaten muara enim.
Persamaan antara penelitian di atas dengan penelitian sekarang terletak
pada fokus penelitiannya yaitu tentang kinerja pegawai. Sedangkan
perbedaannya yaitu terdapat pada variabel bebas.
Penelitian oleh Septian Nur Hidayati, 2016.38 Dengan judul penelitian
pengaruh gaya kepemimpinan dan kompetensi terhadap kinerja pegawai (studi
37
Rusdy A. Rifai, Pengaruh Motivasi dan Kompetensi terhadap Kinerja Pegawai Dinas
Kehutanan Kabupaten Muara Enim, Universitas Muhammadiyah Palembang. 2010
38
Septian Nur Hidayati, Pengaruh Gaya kepemimpinan dan Kompetensi terhadap Kinerja
pegawai (Studi Kasus Terhadap Pegawai Negeri Sipil Biro Kepegawaian Kementerian Agama RI),
Skripsi Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Universitas Islam Negeri Syarif
Hidayatullah Jakarta. 2016.
54
kasus terhadap pegawai negeri sipil biro kepegawaian kementerian agama RI),
dalam penelitian ini menggunakan metode analisis pendekatan kuantitatif.
Sampel yang digunakan 58 responden pegawai negeri sipil sebagai sampel
penelitian. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa hasil variabel gaya
kepemimpinan dan kompetensi berpengaruh signifikan maupun parsial dan hasil
uji simultan berpengaruh signifikan dengan kinerja pegawai Biro kepegawaian
Kementerian Agama RI dengan F-hitung sebesar 76,133.
Persamaan dalam penelitian ini terletak pada variabel independen yaitu
gaya kepemimpinan dan kompetensi. Sedangkan perbedaan penelitian sekarang
menggunakan variabel kompetensi, motivasi kerja dan gaya kepemimpinan.
Menurut Goverd Adler Clinton Rompasˡ Bernhard Tewal² Lucky
Dotulong³ 2018.39 Dengan judul penelitian pengaruh gaya kepemimpinan,
pengawasan, dan disiplin kerja terhadap kinerja pegawai pada dinas perhubungan
kabupaten minahasa tenggara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gaya
kepemimpinan, pengawasan dan disiplin kerja secara simultan berpengaruh
terhadap kinerja pegawai. Secara parsial gaya kepemimpinan tidak berpengaruh
terhadap kinerja pegawai.
Persamaan dalam penelitian terdapat pada variabel independen gaya
kepemimpinan sedangkan perbedaan dalam penelitian sekarang terdapat pada
variabel independen kompetensi dan motivasi kerja.
39
Goverd Adler Clinton Rompasˡ Bernhard Tewal² Lucky Dotulong³, Pengaruh Gaya
Kepemimpinan, Pengawasan, Dan Disiplin Kerja Terhadap Kinerja Pegawai Pada Dinas
Perhubungan Kabupaten Minahasa Tenggara, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Jurusan Manajemen
Universitas Sam Ratulangi, 2018.
55
Menurut Roizatul Hasanah 2019,40 dengan judul penelitian pengaruh etos
kerja, gaya kepemimpinan, dan disiplin kerja terhadap kinerja pegawai di dinas
koperasi dan usaha mikro kabupaten Kediri, metode analisis menggunakan
analisis regresi linier berganda dengan hasil variabel etos kerja dan disiplin kerja
berpengaruh signifikan sedangkan gaya kepemimpinan tidak berpengaruh
signifikan. Secara simultan ketiga variabel independen berpengaruh signifikan.
Persamaan dari penelitian di atas terdapat pada metode analisis asosiatif
dengan pendekatan kuantitatif dan variabel independen yaitu gaya
kepemimpinan, sedangkan perbedaan dari peneliti sebelumnya terdapat pada
jumlah sampel, variabel independen dan obyek penelitian.
Menurut penelitian oleh Kadek Ayu Dwiyanti, Komang Krisna Heryanda
, Gede Putu Agus Jana Susila, 2019.41 Dengan judul penelitian pengaruh
kompetensi dan motivasi kerja terhadap kinerja karyawan pada PD. BPR Bank
Buleleng. Penelitian ini dilakukan dengan metode penelitian kuantitatif, dimana
hasil penelitian variabel Motivasi kerja berpengaruh positif terhadap kinerja
karyawan.
Penelitian yang dilakukan oleh Kadek Ayu Dwiyanti dkk, bertujuan untuk
memperoleh temuan eksplanatif yang teruji tentang pengaruh variabel
kompetensi dan motivasi kerja terhadap kinerja karyawan pada PD. BPR Bank
40
Roizatul Hasanah, Pengaruh etos kerja, gaya kepemimpinan, dan disiplin kerja terhadap
kinerja pegawai di dinas koperasi dan usaha mikro kabupaten Kediri, Skripsi, Jurusan Ekonomi
Syariah, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, Institut Agama Islam Negeri Tulungagung, 2019
41
Kadek Ayu Dwiyanti Komang Krisna Heryanda , Gede Putu Agus Jana Susila, Pengaruh
Kompetensi Dan Motivasi Kerja Terhadap Kinerja Karyawan Pada PD. BPR Bank Buleleng, Fakultas
Ekonomi, Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja. Jurnal, Vol.5 No.2., 2019
56
Buleleng. Persamaan penelitian sekarang terletak pada metode penelitian
kuantitatif dengan variabel bebas kompetensi dan motivasi kerja sedangkan
perbedaan dari penelitian ini terletak pada fokus penelitiannya dan obyek
penelitian.
Penelitian yang dilakukan oleh Gunawan 2015.42 Dengan judul penelitian
pengaruh kompetensi terhadap kinerja pegawai dan motivasi sebagai variabel
intervening pada kantor UPT pendapatan wilayah palu. Dengan hasil penelitian
diketahui variabel kompetensi dan motivasi berpengaruh secara langsung
terhadap kinerja pegawai UPTD pendapatan Wilayah Palu.
Persamaan dalam penelitian ini terletak pada variabel bebas yaitu
menggunakan kompetensi dan [Link] perbedaan menggunakan
variabel dependen kinerja.
Penelitian oleh Agus Jamaludin 2017.43 Dengan judul penelitian pengaruh
gaya kepemimpinan terhadap kinerja karyawan pada [Link] Indah Citra
Garment Jakarta. Metode yang digunakan dalam penelitian dengan pendekatan
kuantitatif, diperoleh hasil pengujian variabel (bebas) gaya kepemimpinan
berpengaruh signifikansi terhadap kinerja karyawan.
42
Gunawan, Pengaruh Kompetensi Terhadap Kinerja Pegawai Dan Motivasi Sebagai
Variabel Intervening Pada Kantor UPTD Pendapatan Wilayah Palu. Universitas Tadulako Palu,
Jurnal katalogis Vol. 3 No. 1, 2015
43
Agus Jamaludin, Pengaruh Gaya Kepemimpinan Terhadap Kinerja Karyawan Pada
[Link] Indah Citra Garment Jakarta. Journal of Applied Business and Economics Vol. 3 No. 3
2017).
57
Persamaan dalam penelitian ini terletak pada variabel bebas yaitu
menggunakan gaya kepemimpinan. sedangkan perbedaan penelitian sekarang
menggunakan variabel bebas kompetensi (X1) dan motivasi kerja (X2).
Penelitian oleh Yoga Kusuma Wardhana, 2014.44 Dengan judul penelitian
pengaruh gaya kepemimpinan, motivasi dan disiplin kerja terhadap kinerja (Studi
kasus pada kantor kecamatan cisauk kabupaten Tanggerang), penelitian ini
penelitian metode kuantitatif dengan analisis regresi linier. Dengan sampel 40
responden. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa variabel gaya
kepemimpinan, motivasi dan disiplin kerja berpengaruh signifikan terhadap
kinerja pegawai. Sedangkan secara parsial variabel motivasi tidak berpengaruh
secara signifikan terhadap kinerja pegawai sedangkan variabel gaya
kepemimpinan dan disiplin kerja berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja
pegawai.
Persamaan dalam penelitian sekarang terletak pada variabel bebas yaitu
gaya kepemimpinan dan motivasi sedangkan perbedaan terletak pada sampel
peneliti dan objek penelitian.
44
Yoga Kusuma Wardhana, Pengaruh Gaya Kepemimpinan, Motivasi dan disiplin Kerja
terhadap Kinerja (Studi Kasus Pada kantor Kecamatan Cisauk Kabupaten Tangerang), Skripsi
Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi dan bisnis Islam, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah
Jakarta, 2014.
58
F. Kerangka Konseptual
Kerangka berfikir digunakan untuk menggambarkan hipotesis penelitian
pada bagian sebelumnya. Variabel yang digunakan oleh peneliti sebanyak 3
variabel independen yang terdiri dari Kompetensi (X1), Motivasi Kerja (X2),
Gaya Kepemimpinan (X3), sedangkan pada variabel dependen yang digunakan
adalah Kinerja Pegawai di Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa
kabupaten Blitar (Y).
Kompetensi
(X1)
Motivasi Kerja Kinerja Pegawai
(X2) (Y)
Gaya
Kepemimpinan
(X3)
Dengan kerangka konseptual di atas maka peneliti akan menjelaskan
ketiga variabel independen tersebut antara lain Kompetensi motivasi kerja dan
gaya kepemimpinan yang dialami pegawai dalam sebuah organisasi ataupun
perusahaan mempunyai pengaruh terhadap kinerja pegawai bisa berpengaruh
signifikan atau juga tidak berpengaruh signifikan.
59
G. Hipotesis Penelitian
Hipotesis merupakan jawaban sementara yang kebenarannya masih
harus diuji atau rangkuman simpulan teoritis yang diperoleh dari tinjauan
pustaka.45 Sehingga dapat disimpulkan hipotesis adalah sebuah jawaban
memprediksi situasi yang akan diamati atau dugaan sementara terhadap
permasalahan penelitian.
1) H1 : Kompetensi berpengaruh signifikan terhadap kinerja pegawai di
dinas PMD kabupaten Blitar
2) H2 : Motivasi Kerja berpengaruh signifikan terhadap kinerja pegawai di
dinas PMD kabupaten Blitar
3) H3 : Gaya Kepemimpinan berpengaruh signifikan terhadap kinerja
pegawai di dinas PMD kabupaten Blitar
4) H4 : Kompetensi, Motivasi kerja, dan Gaya Kepemimpinan, berpengaruh
signifikan terhadap kinerja pegawai di Dinas PMD Kabupaten Blitar.
H. Gambaran Obyek Penelitian
1. Profil Lembaga
Nama lembaga : Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa dan
Kabupaten Blitar
Alamat : Jl. Nias No. 2, Sananwetan, Kota Blitar
Telepon : (0342) 801130
45
Nanang Martono, Metode Penelitian Kuantitatif: Analisis Isi dan analisis Data sekunder,
(Jakarta: Rajawali Pers,2014) hal. 114
60
Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kabupaten Blitar
merupakan unsur pelaksana urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan
daerah di bidang pemberdayaan masyarakat dan desa serta tugas pembantuan
dan dipimpin oleh seorang Kepala Dinas yang berkedudukan di bawah dan
bertanggung jawab kepada Bupati melalui Sekretaris Daerah.
Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kabupaten Blitar dibentuk
berdasarkan Perda kabupaten Blitar No. 10 Tahun 2016 tentang Kedudukan,
Susunan Organisasi, Uraian Tugas dan Fungsi serta Tata Kerja Dinas
Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kabupaten Blitar.
2. Visi – Misi Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kabupaten
Blitar
Berpedoman pada visi Bupati dan Wakil Bupati Blitar, maka dinas
Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kabupaten Blitar memiliki Visi dan
Misi sebagai berikut :
Visi :
Menuju Kabupaten Blitar Lebih Sejahtera, Maju dan Berdaya Saing
Misi :
Dengan mewujudkan visi Bupati dan wakil Bupati tersebut maka
Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kabupaten Blitar
berpartisipasi secara proaktif pada misi ke-6 yaitu Meningkatkan
pembangunan berbasis desa dan kawasan perdesaan melalui
optimalisasi penyelenggaraan pemerintah desa, pembangunan,
61
pembinaan kemasyarakatan dan pemberdayaan masyarakat desa.
Tujuan dari Misi ke 6 (keenam), adalah meningkatkan kesejahteraan
masyarakat desa, dengan sasaran:
1. Meningkatkan kualitas penyelenggaraan pemerintahan desa dan
2. Meningkatnya pemberdayaan masyarakat desa dalam
pembangunan desa secara partisipatif.
3. Tujuan dan Fungsi Pokok
Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kabupaten Blitar
merupakan unsur pelaksanaan urusan pemerintahan yang menjadi
kewenangan daerah di bidang pemberdayaan masyarakat dan desa serta tugas
pembantuan. Adapun tujuan pokok dan fungsi dari masing-masing struktur
organisasi di Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa, adalah sebagai
berikut.
a. Kepala Dinas
Kepala Dinas sebagaimana mempunyai tugas pokok membantu
Bupati memimpin dan melaksanakan sebagian urusan pemerintahan
yang menjadi kewenangan daerah di bidang pemberdayaan masyarakat
dan desa yang meliputi pemerintahan desa, pembangunan desa, serta
kelembagaan masyarakat.
b. Bidang Sekretariat, membawahi :
1) Sub Bagian Penyusunan Program dan Keuangan.
62
2) Sub Bagian Umum dan Kepegawaian.
c. Bidang Pemerintahan Desa, membawahi :
1) Seksi Administrasi Pemerintah Desa.
2) Seksi Keuangan dan Aset Desa.
3) Seksi Data dan sistem Informasi Desa.
d. Bidang Pembangunan Desa, membawahi :
1) Seksi Kerjasama Desa dan Pembangunan Kawasan Perdesaan.
2) Seksi Perkembangan Desa dan Teknologi Tepat Guna (TTG).
3) Seksi Pemberdayaan Lembaga Ekonomi Desa dan Usaha Ekonomi
Masyarakat.
e. Bidang Kelembagaan Masyarakat dan Desa, membawahi:
1) Seksi Pemberdayaan Lembaga Kemasyarakatan.
2) Seksi Pendampingan Masyarakat.
3) Seksi Pelestarian Adat, dan Pengembangan Nilai Sosial Budaya
Masyarakat.46
46
Buku Renja-Renstra Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa Blitar 2020.
63
4. Struktur Organisasi Dinas PMD Kabupaten Blitar
Kepala Dinas
Sekretariat
sub bagian Sub bagian
penyusunan dan umum dan
pemograman kepegawaian
Bidang Bidang Bidang kelembagaan
Pemerintahan Desa Pembangunan Desa Masyarakat
Seksi Seksi Seksi
Administrasi Kerjasama Dan Pemberdayaan
Pemerintahan Desa Pembagunan Perdesaan Lembaga
Kemasyarakatan
Seksi Seksi Seksi
Keuangan dan aset Perkembangan Desa Perkembangan Desa
dan Teknologi (TTG) dan Teknologi (TTG)
Seksi Seksi Seksi
Data dan Sistem Pemberdayaan Pelestarian adat dan
Informasi Lembaga Ekonomi pengembangan nilai
Desa dan Usaha social budaya
ekonomi masyarkat masyarakat
UPTD
64
5. Temuan Penelitian
Sebelum melakukan analisis penelitian, peneliti akan menjelaskan
variabel – variabel yang diteliti. Seperti pada bab sebelumnya bahwa
variabel yang diteliti adalah sebagai berikut:
a. Kompetensi
Kompetensi merupakan suatu kemampuan untuk melaksanakan atau
melakukan suatu pekerjaan atau tugas yang dilandasi atas keterampilan dan
pengetahuan serta didukung oleh sikap kerja yang dituntut oleh pekerjaan
tersebut. Dengan setiap pegawai yang memiliki kompetensi yang baik maka
dia akan berpotensi memiliki kualitas kinerja yang dapat mempengaruhi
besaran produktivitas organisasi.
b. Motivasi Kerja
Motivasi merupakan proses psikis yang mendorong seseorang untuk
melakukan sesuatu. Motivasi pada pegawai di Dinas PMD Kabupaten Blitar
ini dilakukan oleh pemimpin dan para pegawai itu sendiri setiap harinya
dalam mendorong semangat dan mencapai hasil sesuai dengan tuntutan.
c. Gaya Kepemimpinan
Kemampuan dan kesiapan seseorang untuk dapat mempengaruhi,
mendorong, menggerakan bawahan untuk berbuat sesuatu dalam mencapai
tujuan bersama. Kepala Dinas PMD Kabupaten Blitar menerapkan gaya
kepemimpinan yang demokratis memberikan kebebasan kepada bawahan
dalam menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan tuntutan organisasi.
d. Kinerja Pegawai
65
Selama ini banyak instansi pemerintah yang belum mempunyai
pegawai dengan kompetensi yang memadai, ini dibuktikan dengan
rendahnya produktivitas pegawai dan sulitnya mengukur kinerja pegawai.
Kinerja pegawai sendiri terbentuk dengan adanya kompetensi, motivasi kerja
dan gaya kepemimpinan yang dimiliki setiap pegawai. Suatu organisasi
akan berjalan berhasil jika kinerja pegawai SDM memiliki profesionalitas
kerja. Setelah melakukan observasi terhadap kinerja pegawai di Dinas PMD
Kabupaten Blitar, melihat hasil kerja masih rendah dibuktikan dengan
melihat hasil output Rencana Strategis (Renstra) ataupun Rencana Kerja
(Renja).
Berikut adalah Rencana kerja (Renja) Target Sasaran Rencana
Strategis (Renstra) OPD Dinas PMD kabupaten Blitar Tahun 2018-2021;
66
Tabel 2.1
Target Sasaran Rencana Strategis (Renstra) OPD
Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kabupaten Blitar
Tahun 2018-2021
Sasaran RPJMD Kabupaten Blitar
Meningkatnya Kualitas Pembangunan Desa
Sasaran OPD Dinas PMD Kabupaten Blitar
Terwujudnya Terwujudnya
Terwujudnya
Meningkatkan Kapasitas Partisipasi
Pemerintahan
Perkembangan Lembaga Masyarakat Desa
Desa Yang
Desa Ekonomi Dalam
Berkinerja Baik
Pedesaan Pembangunan
Indikator Program Sasaran
Pengembangan
Pengembangan Peningkatan Peningkatan
Lembaga
Desa Dan Kapasitas Partisipasi
Ekonomi
Kawasan Pemerintahan Lembaga
Kawasan
Perdesaan Desa Masyarakat Desa
Perdesaan
Target Sasaran OPD Dinas PMD Kabupaten Blitar
Tahun 2018 Tahun 2019 Tahun 2020 Tahun 2021
70% 75% 80% 85%
15% 20% 25% 25%
75% 80% 85% 85%
70% 75% 80% 85%
Total pagu (Anggaran Biaya)
13,535,530,000 14,100,114,883 14,141,456,576 15,411,876,492
Sumber: Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kabupaten Blitar
Dalam data di atas bahwa dapat diketahui setiap tahunnya anggaran
target OPD mengalami kenaikan pagu / biaya anggaran. Dengan besarnya pagu /
67
anggaran yang dikeluarkan oleh pemerintah daerah harus diimbangi dengan hasil
output pencapaian kinerja OPD Dinas PMD Kabupaten Blitar,
dengan hasil persentase yang setiap tahun hanya meningkat sebesar 5 %, , Untuk itu
pegawai atau biasa disebut dengan Aparatur Sipil Negara di Dinas PMD Kabupaten
Blitar diharapkan tidak menyalahkan tugas wewenang sebagai pejabat dan harus
mewujudkan hasil nyata, tingkat pencapaian tujuan dan sasaran strategis yang
ditetapkan pemerintah daerah setempat.