0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
67 tayangan12 halaman

Terapi Latihan untuk NSTEMI Killip IV

Riset 1 meneliti pengaruh terapi latihan terhadap pasien NSTEMI dan menemukan bahwa terapi latihan dapat meningkatkan tanda-tanda vital dan mengurangi sesak napas. Riset 2 menguji efektivitas latihan terarah pada pasien sindrom koroner akut untuk memperbaiki otot jantung dan menemukan peningkatan keaktifan otot jantung berdasarkan ukuran hemodinamik. Kedua penelitian mendukung manfaat lati

Diunggah oleh

Dn Tskmly
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
67 tayangan12 halaman

Terapi Latihan untuk NSTEMI Killip IV

Riset 1 meneliti pengaruh terapi latihan terhadap pasien NSTEMI dan menemukan bahwa terapi latihan dapat meningkatkan tanda-tanda vital dan mengurangi sesak napas. Riset 2 menguji efektivitas latihan terarah pada pasien sindrom koroner akut untuk memperbaiki otot jantung dan menemukan peningkatan keaktifan otot jantung berdasarkan ukuran hemodinamik. Kedua penelitian mendukung manfaat lati

Diunggah oleh

Dn Tskmly
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

UNIVERSITAS FALETEHAN

EVIDENCE BASED PRACTICE


PENGARUH TERAPI LATIHAN TERHADAP NON-ST ELEVATION
MYOCARDIAL INFRACTION

KEPERAWATAN GAWAT DARURAT

CIKHA DESCHIA TANTRI


5019031019

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
SERANG-BANTEN
TAHUN 2020

BAB I

PENDAHULUAN

Jantung adalah salah satu organ manusia yang berperan penting dalam sistem peredaran
darah yang berulang, jantung berasal dari kata Yunani yaitu cardia. Fungsi jantung
untuk memompa darah. Maka dengan adanya jantung, darah dapat dialirkan ke seluruh
tubuh melalui pembuluh darah, dan jika peredaran ini terganggu maka disebut sakit
jantung (Andre, 2012).

Berdasarkan data World Health Organization (WHO) bahwa penyakit jantung


merupakan penyebab kematian nomor satu di dunia dan 60% dari seluruh penyebab
kematian penyakit jantung adalah penyakit jantung iskemik dan sedikitnya 17,5 juta atau
setara dengan 30,0% kematian di seluruh dunia disebabkan oleh penyakit jantung.
Diperkirakan tahun 2030 bahwa 23,6 juta orang di dunia akan meninggal karena
penyakit cardiovaskular (WHO, 2008).

Penyakit jantung koroner di Indonesia pada tahun 2006 sampai dengan 2011 mengalami
peningkatan, dari data Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) Kementerian Kesehatan tahun
2007 diketahui bahwa, 31,9% kematian di Indonesia disebabkan oleh penyakit
kardiovaskular. Tingginya angka kematian di Indonesia akibat penyakit jantung koroner
(PJK) mencapai 26%. Hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga Nasional (SKRTN),
menunjukkan bahwa dalam 18 tahun terakhir angka tersebut cenderung mengalami
peningkatan. Pada tahun 1991, angka kematian akibat SKA adalah 16 %. kemudian di tahun
2001 angka tersebut melonjak menjadi 26,4 %, dan pada tahun 2009 meskipun terjadi
penurunan menjadi 23,8%, angka ini masih sangat tinggi. Diperkirakan angka ini akan terus
meningkat dan bisa mencapai 53,5 per 100.000 penduduk (Susiana C, Lantip R, Thianti S,
2006).

Sindrom Koroner Akut (SKA) atau penyakit kardiovaskular saat ini merupakan salah satu
penyebab utama dan pertama kematian dinegara maju dan berkembang, termasuk Indonesia
(Depkes,2006). SKA merupakan penumpukan plaque baik total maupun sebagian yang
disebabkan oleh terbentuknya bekuan darah yang menutup dinding pembuluh darah yang
sudah pecah, plaque ini mengurangi ruang gerak dari aliran darah. Hal ini tidak lepas dari
aktivitas otot jantung lapisan tengah dari jaringan otot yang tebal, dan bertanggung jawab
untuk kegiatan utama pemompaan ventrikel, indikator yang terlihat meliputi tekanan darah,
frekuensi nadi dan gambaran EKG (Hayes,S.C, et al, 1999).

Program rehabilitatif yang komprehensif diperlukan untuk mengembalikan kemampuan fisik


paska serangan serta mencegah terjadinya serangan ulang. Program rehabilitasi tersebut
meliputi perubahan gaya hidup yang antara lain meliputi pengaturan pola makan, manajemen
stress, latihan fisik. Pada dasarnya,program rehabilitasi pada penderita gangguan jantung
bertujuan untuk : (1) mengoptimalkan kapasitas fisik tubuh, (2) memberi penyuluhan pada
pasien dan keluarga dalam mencegah perburukan dan (3) membantu pasien untuk kembali
dapat beraktivitas fisik seperti sebelum mengalami gangguan jantung (Jolliffe, J. A, 2001).

Penderita penyakit jantung dapat kembali menjadi orang-orang yang produktif


dilingkungannya sehingga diperlukan pendekatan baru sebagai metode tambahan yang dapat
memperbaiki perawatan penderita “coronary prone”, penderita pasca infark miokard, dan
penderita pasca bedah pintas koroner. Program pengobatan tambahan ini dikenal dengan “
Cardiac Rehabilitation”. Hal ini tentu sangat sesuai dengan Sistem Kesehatan Nasional
(SKN) yang menyatakan bahwa upaya kesehatan harus mencakup aspek-aspek promotif,
preventif, kuratif, dan rehabilitative.
BAB II

TINJAUAN JURNAL

2.1 Argumen Riset 1


Nama peneliti : Kuswardani , Suci Amanati, Zainal Abidin
Tahun : 2017
Jurnal : Jurnal Fisioterapi dan Rehabilitasi (JFR) Vol. 1, No. 1, Tahun 2017
ISSN 2548-8716
Judul : Pengaruh Terapi Latihan terhadap Non-ST Elevation Myocardial
Infraction (NSTEM).
Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah pengaruh terapi latihan terhadap penderita Non-ST
Elevation Myocardial Infarction (NSTEMI) Killip IV di RSUD Tugurejo Semarang.

Metode Penelitian
Penelitian ini dilakukan di RSUD Tugurejo Semarang pada bulan oktober tahun
2013. Adapun tindakan terapi pada kasus Non-ST Elevation Myocardial Infarction
(NSTEMI) Killip IV berupa terapi latihan diantaranya breathing exercise, dan latihan
aktif.
Populasi penelitian ini adalah pasien penderita Non-ST Elevation Myocardial
Infarction (NSTEMI) Killip IV. Sampel penelitian ini menggunakan seluruh populasi,
yaitu sebanyak 8 orang dengan jenis kelamin laki-laki 5 orang dan 3 orang
perempuan.
Pengumpulan data didapat dari pemeriksaan tanda-tanda vital untuk mengetahui
kondisi pasien dan dapat melakukan terapi secara maksimal. Pengukuran tanda-tanda
vital yang diberikan berupa pemeriksaan Respiratory Rate(RR), Hard rate (HR), dan
tekanan darah. Untuk mengetahui derajat sesak, terapis menggunakan skala borg. Skala
Borg adalah skala yang berupa garis vertikal yang diberi nilai 0-10 dari setiap nilai
memiliki definisi verbal untuk membantu penderita menderajatkan intensitas sesak
dari derajat ringan sampai berat. Nilai tiap deskripsi verbal tersebut dibuat skor
sehingga aktivitas dan derajat sesak dapat dibandingkan antar individu. Skala ini
memiliki reproduktifitas yang baik pada individu yang sehat dan dapat diterapkan
untuk menentukan dyspnea pada penderita penyakit kardiopulmoner serta untuk
parameter statistik.
Analisa data berupa deskriptif kuantitatif, yaitu menjelaskan data kualitatif dan data
kuantitatif yang menggunakan uji t untuk membuktikan adanya pengaruh tiap-tiap
variabel. Variabel terikat berupa terapi latihan (deep breathing, gerak aktif anggota
gerak atas dan bawah), sedangkan variabel bebas berupa tanda-tanda vital dan
potensial tirah baring lama.

Hasil Penelitian
Pemeriksaan vital sign dilakukan sebelum tindakan terapi dan sesudah terapi. Untuk
mengetahui hasil vital sign sebelum dan sesudah terapi pada tabel 1 dan 2
(pertemuan pertama).
Penelitian yang dilakukan pada penderita Non-ST Elevation Myocardial Infarction
(NSTEMI) Killip IV di RSUD Tugurejo Semarang dengan 8 orang sampel, diberikan
terapi latihan untuk mengatasi problematik berupa penurunan tanda-tanda
vital(tekanan darah, denyut nadi dan pernapasan) dan tirah baring lama. Hasil
pemeriksaan ditunjukkan pada tabel 1 dan 2.
Hal ini berarti HR sebelum dan sesudah tindakan (terapi latihan) tidak sama, yang
artinya terapi latihan memberikan pengaruh terhadap HR(nadi). Pengaruh ini dapat
juga dilihat pada Tabel 3 yang menunjukkan pengaruh positif berupa peningkatan
pada Hard Rate (HR), yaitu dari skala (sebelum tindakan) sebesar 70,88 menjadi
skala (setelah tindakan) sebesar 75,63 yang berarti HR sudah meningkat. Serta ada
penurunan pada Respiratory Rate (RR), yaitu dari skala (sebelum tindakan) sebesar
22,63 menjadi skala (setelah tindakan) sebesar 19,75 yang berarti RR sudah meningkat.
Dan adanya peningkatan PR, yaitu dari skala (sebelum tindakan) sebesar 69,50
menjadi skala (setelah tindakan) sebesar 74,88 yang berarti PR sudah meningkat.
Tabel 4 menunjukkan adanya pengaruh terapi latihan (breathing exercise, dan latihan
aktif) terhadap penderita Non-ST Elevation Myocardial Infarction (NSTEMI)

Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan maka dapat disimpulkan bahwa terapi
latihan dapat mengurangi derajat sesak napas, spasme otot pernapasan pada
penderita Non-ST Elevation Myocardial Infarction (NSTEMI) Killip IV.
Berdasarkan simpulan penelitian, disarankan beberapa hal yang berkaitan dengan
pengaruh terapi latihan pada Non-ST Elevation Myocardial Infarction (NSTEMI) Killip
IV :
a. Karena pentingnya kesembuhan pasien pada Non-ST Elevation Myocardial
Infarction (NSTEMI) Killip IV, disarankan untuk melakukan terapi dengan rutin
dan latihan sesuai dengan yang diajarkan terapis, dan menjauhi hal-hal yang
menimbulkan kekambuhan.
b. Karena pentingnya penanganan terhadap penderita Non-ST Elevation Myocardial
Infarction (NSTEMI) Killip IV, disarankan melakukan penelitian lanjutan untuk
mengetahui pengaruh terapi latihan maupun dengan modalitas lain.

2.2 Argumen Riset 1


Nama peneliti : Fatin Lailatul Badriyah
Tahun : 2017
Jurnal : Jurnal Keperawatan Ilmiah Vol. 12, No. 1, Tahun 2017 Judul
Judul : Efektifitas Latihan Terarah Penderita Post Sindrom Koroner Akut
Upaya Memperbaiki Otot Jantung Di Rs Siti Khodijah Sepanjang
Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah latihan terarah penderita post sindrom koroner akut
dalam memperbaiki otot jantung di poli jantung rumah sakit siti khodijah sepanjang
sidoarjo.

Metode Penelitian
Penelitian ini memberikan perlakukan dengan pendekatan subyek secara individual
diklinik, Perlakuan diberikan dalam latihan terarah pada subyek. Efek perlakuan diamati
dengan menggunakan satuan anlisis keaktifan otot jantung individu dengan indikator
hemodinamik ukuran tekanan darah, frekuensi nadi dan gambaran EKG.
Rancangan penelitian ini menggunakan rancangan Non-Equivalent Control Group dengan
ada kelompok pembanding (kontrol), kelompok ini tidak diberikan latihan fisik terarah,
tetapi pada kelompok perlakuan diberi latihan terarahsesuai [Link] tahap awal
semua sample dilakukan pemeriksaan (Tensi, Nadi dan rekam EKG) (01) kemudian
kelompok intervensi diberikan latihan terarahsesuai modul (X). Pada kelompok kontrol
hanya diberikan obat. Setelah diberi perlakuan, semua sample dilakukan lagipemeriksaan
(Tensi, Nadi, dan rekam EKG) (02). Responden kelompok perlakuan diteliti pada waktu
dirumah dan kelompok pembanding/kontrol diteliti di Poli Jantung Rumah Sakit Siti
Khodijah Sidoarjo.
Hasil Penelitian
Pada analisis bivariat peneliti menggunakan dua pendekatan uji statistik, pendekatan
pertama dengan uji Wilcoxon test, bertujuan untuk mengetahui pengaruhlatihan
terarahsebelum dilakukan latihan terarahdan setelah diberikan latihan terarah(pre dan post
test), terhadap tensi, nadi dan gambaran EKG pasien post SKA, baik kelompok intervensi
maupun kelompok kontrol. Pada pendekatan kedua adalah dengan menggunakan uji
Mann WhitneyTest, bertujuan untuk mengetahui intervensi latihan terarahterhadap tensi,
nadi dan gambaran EKG pasien post SKA pada kelompok intervensi dan kelompok
kontrol secara bersama-sama.
Tabel 4.1 uji statistik dengan wilcoxon tets, menggambarkan hasil analisis bivariat
pengaruh latihan terarahterhadap tensi pasien post SKA, dengan penjelasan sebagai
berikut; sebelum dilakukan latihan fisik terarah, jumlah responden dengan tensi abnormal
pada kelompok intervensi (pre test kelompok intervensi) sebanyak 12 orang (37,5%) dan
jumlah responden dengan tensi normal sebanyak 20 orang (62,5%).
Pada kelompok kontrol (pre test kelompok kontrol), jumlah responden dengan tensi
abnormal sebanyak 15 orang (46,9%) dan responden dengan tensi normal sebanyak
17orang (53,1%). Setelah dilakukan intervensi latihan terarahpada kelompok intervensi
(post test kelompok intervensi), jumlah responden dengan tensi abnormal 1 orang (3,1%)
dan responden dengan tensi normal berjumlah 31 orang (96,9%). Sedangkan pada
kelompok kontrol, setelah empat minggu dievaluasi (post test kelompok kontrol), jumlah
responden dengan tensi abnormal menjadi normal sebanyak 19 orang (61,29%), pada
kelompok kontrol tidak dijumpai adanya perubahan (pre dan post intervensi) dari
responden dengan tensi abnormal keresponden yang tensi normal. Hasil uji statistik
menggunakan chi square test diperoleh nilai P-Value 0,001 < (p- <0,05), artinya latihan
terarah berpengaruh terhadap tensi pasien post sindrom koroner akut.
Hasil analisis variabel latihan terarah terhadap nadi pasien post SKA, dapat dijelaskan
sebagai berikut; sebelum dilakukan latihan fisik terarah, jumlah dengan nadi abnormal
pada kelompok intervensi (pre test kelompok intervensi) sebanyak 0 (0,00%) dan
responden dengan nadi normal sebanyak 32 orang (100%). Pada kelompok kontrol (pre
test kelompok kontrol), jumlah responden dengan nadi abnormal sebanyak 2 orang
(6,3%) dan responden dengan nadi normal sebanyak 30 orang (93,7%). Setelah dilakukan
intervensi latihan terarahpada kelompok intervensi (post test kelompok intervensi),
jumlah responden dengan nadi abnormal 0 (0,00%) dan responden dengan nadi normal
berjumlah 32 orang (100%), lain halnya pada kelompok kontrol, setelah empat minggu
dievaluasi (post test kelompok kontrol), jumlah responden dengan nadi abnormal
sebanyak 3 orang (9,4%) dan responden dengan nadi normal berjumlah 29 orang
(90,6%).
Dari uraian tersebut menunjukkan bahwa pada kelompok intervensi tidak terdapat
perubahan (pre ke post intervensi) dari jumlah responen dengan nadi abnormal menjadi
normal, sedangkan pada kelompok kontrol dijumpai adanya perubahan (pre dan
post) dari responden dengan nadi abnormal sebanyak 2 orang (6,3%) menjadi 3
orang (6,4%), dan responden dengan nadi normal sebelumnya sebanyak 30 orang
(93,7%) menjadi 29 orang (90,6%). Hasil uji statistik menggunakanchi square
testdiperoleh nilai P-Value1,000 > (p-<0,05), artiny alatihan Terarah tidak merubah
frekuensi nadi pasien post sindrom koroner [Link] variabel pengaruh latihan
terarah terhadap gambaran EKG pasien post SKA, dapat dijelaskan sebagai berikut;
sebelum dilakukan latihan terarah, jumlahresponden dengan gambaran EKG
abnormal pada kelompok intervensi (pre testkelompok intervensi) sebanyak 29 orang
(90,6%) dan responden dengan EKG normal sebanyak 3 orang (9,4%).
Pada kelompok kontrol (pre test kelompok kontrol), jumlah responden dengan
gambaran EKG abnormal sebanyak 30 orang (93,7%) dan responden dengan EKG
normal sebanyak 2 orang (6,3%).
Setelah dilakukan intervensi latihan terarahpada kelompok intervensi (post test
kelompok intervensi), jumlah responden dengan gambaran EKG abnormal sebanyak 1
orang (3,4%) dan responden dengan EKG normal berjumlah 31 orang (96,6%).
Adapun pada kelompok kontrol, setelah empat minggu dievaluasi (post test
kelompok kontrol), jumlah responden dengan gambaran EKG abnormal sebanyak 22
orang (68,8%) dan responden dengan EKG normal berjumlah 10 orang (31,2%).

Kesimpulan
Latihan terarahmemiliki pengaruh yang signifikan terhadap fungsi otot jantung
berdasarkan hasilpemeriksaan tekanan darah dan gambaran EKG. Dimana signifikansi
yang paling besar adalah terhadap gambaran EKG dibandingkan tekanan darah.
2.3 Argumen Riset 1
Nama peneliti : Fatin Lailatul Badriyah, Sri Kadarsih, Yuni Permatasari
Tahun : 2014
Jurnal : Jurnal Nursing Practices Vol. 1, No. 1, Tahun 2014
Judul : Latihan Fisik Terarah Penderita Post Sindrom Koroner Akut
dalam Memperbaiki Otot Jantung
Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah latihan fisik terarah penderita post sindrom koroner aku
dalam memperbaiki otot jantung di poli jantung rumah sakit siti khodijah sepanjang
sidoarjo.

Metode Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimental yaitu penelitian yang dikenakan
pada masyarakat sebagai kesatuan himpunan subjek. Penelitian ini memberikan
perlakukan dengan pendekatan subyek secara individual di klinik, Perlakuan diberikan
dalam latihan fisik erarah pada subyek. Efek perlakuan diamati
dengan menggunakan satuan anlisis keaktifan
otot jantung individu dengan indikator
hemodinamik ukuran tekanan darah, frekuensi nadi dan gambaran EKG.
Rancangan penelitian ini menggu-nakan rancangan Non- Equivalent Control Group
dengan ada kelompok pemba nding (kontrol), kelompok ini tidak diberikan latihan fi sik
terarah, tetapi pada kelompok perlakuan diberi latihan fisik terarah sesuai modul. Pada
tahap awal semua sample dilakukan pe meriksaan (Tensi, Nadi dan rekam EKG) (01)
kemudian kelompok intervensi diberikan latihan fi sik terarah sesuai modul (X).
Pada kelompok kontrol hanya diberikan obat. Setelah diberi perlakuan, semua sample
dilakukan lagi pemeriksaan (Tensi,Nadi, dan rekam EKG) (02). Responden kelompok
perlakuan diteliti pada waktu dirumah dan kelompok pembanding/kontrol diteliti di poli
jantung rumah sakit siti.

Hasil Penelitian
Analisis multivariat dalam penelitian ini untuk mengetahui hubungan lebih dari satu
variabel dependen deng an variabel independen, serta variabel dependen mana yang
paling dipengaruhi oleh variabel independen. Variabel independen pada penelitian ini
adalah latihan fisik terarah, sedangkan variabel dependennya adalah tekanan darah
(tensi) dan gambaran kelistrikan jantung (EKG). Analisis multivariat pada penelitian ini ha
nya dilakukan terhadap variabel tensi dan EKG, karena untuk melanjutkan uji bivariat ke
uji multivariat salah satu syaratnya adalah signifikansi uji tes tidak > dari 0,25.
Dengan kriteria tersebut variabel yang memenuhi syarat untuk analisis multivariat adalah
variabel tensi dan gambaran EKG, yang masing-masing memiliki nilai signifikansi p-
Value 0,005 dan 0,000.

Kesimpulan
Latihan fi sik terarah memiliki pengaruh yang signi fi kan terhadap fungsi otot jantung
berdasarkan hasil pemer iksaan tekanan darah dan gambaran EKG. Dimana signifi kansi
yang paling besar adalah terhadap gambaran EKG dibandingkan tekanan darah.
BAB III

ANALISIS DAN SIMPULAN

3.1 Kesimpulan dari analisa 5 jurnal


Dari ke 5 jurnal terapi latihan dapat mengurangi derajat sesak napas, spasme otot
pernapasan pada penderita Non-ST Elevation Myocardial Infarction (NSTEMI)
Latihan terarah memiliki pengaruh yang signifikan terhadap fungsi otot jantung
berdasarkan hasilpemeriksaan tekanan darah dan gambaran EKG. Dimana signifikansi
yang paling besar adalah terhadap gambaran EKG dibandingkan tekanan darah.

Anda mungkin juga menyukai